Selasa, 04 April 2017

Corollaries 3



Baxter Building masih persis seperti terakhir kali Tony lihat, sayangnya. Ia setengah berharap bangunan itu akan rusak atau bagaimana pasca kejadian portal kemarin, tapi tidaaaaakk… lagi-lagi gedungnya —Avenger Tower—  yang mengalami kerusakan. Lantai 40-60 masih tidak bisa dipakai akibat tertabrak Doombot yang dilempar Thor. Untung saja penjualan merchandise Avenger berjalan sangat lancar, sehingga bisa menutupi biaya perbaikan.
"Hey, Tony, Tasha." sapa Susan. Tony mengingatkan dirinya sendiri saat melihat payudara Susan yang memantul-mantul saat wanita itu berjalan, Dia istri Reed, Tony!
"Hey, Sue. Kemana yang lain? Sepertinya sepi." tanya Tony sambil melihat ke kanan dan kiri. Nope. Tidak ada tanda-tanda kehadiran yang lain. Biasanya Johnny datang dan membuat keributan.
"Reed di workshop, tentu saja. Ben sedang menemui Alicia, dan Johnny… entahlah, mungkin kencan." jawab Susan sambil mengantar Tony dan Tasha ke arah workshop di lantai teratas Baxter Building. Tony pernah beberapa kali ke sana, ia ingat workshop Reed Richards dipenuhi berbagai macam mesin dan —yang lain tidak percaya saat ia mengatakan ini— lebih berantakan dari workshop Tony.

"Kudengar mesinnya sudah hampir selesai." kata Tasha.
Susan terlihat gugup, "Err... yah, ada sedikit penyesuaian yang tidak bisa dilakukan tanpa bantuan Tony."
Tony melirik Tasha, tetapi melihat wanita itu masih terkendali, ia memfokuskan pandangannya pada mesin di tengah ruangan dan Reed Richards yang sedang membungkuk mengutak-atik mesin itu. Sang ilmuwan meraih peralatannya dari tempat yang agak jauh, tangannya memanjang kesana kemari.
"Oke, itu praktis sih, tapi agak creepy." Tony berkomentar, membuat Reed menyadari kedatangannya.
"Hei, Tony, Tasha." sapanya. Tasha mengangguk, sedangkan Tony berjalan lebih dekat, tidak sabar ingin ikut mengutak-atik mesin portal antardimensi itu. Susan dan Tasha tertawa kecil, melihat Tony dan Reed berdiskusi dengan antusias, mengucapkan jargon-jargon teknis yang tidak mereka mengerti, dan mengutak-atik mesin portal itu.
Susan menepuk pundak Tasha. "Aku perlu mengecek ulang data fisikmu. Ayo!" ia mengisyaratkan Tasha untuk mengikutinya ke pinggir ruangan, dimana terdapat alat lain. Tasha diminta duduk di sebuah kursi, kabel dipasangkan ke pergelangan tangan dan pelipisnya, sementara Susan mengoperasikan sejenis computer yang terhubung dengan kabel-kabel tersebut.
"Hmm… kau sempat mengatakan timeline duniamu lebih maju beberapa tahun daripada di sini." kata Susan.
"Ya, sekitar 8 tahun?" Tasha menjawab tak yakin.
"Well, keterangan itu mengurangi beberapa kemungkinan." Susan mengetikkan sesuatu ke dalam komputernya. "Yang menyulitkan kami menemukan dimensimu adalah pengaruh radiasi gamma yang ada di dalam darahmu. Tetapi kurasa perhitungan Reed sudah hampir selesai. Apalagi dengan bantuan Tony…"
"Fury menghubungiku." kata Reed setengah berbisik. "Bagian itu kurasa harus kita upgrade." katanya lagi sambil menunjuk salah satu bagian yang dipegang Tony.
"No shit, Reed. Bagaimana bisa kau membangun mesin portal antardimensi dengan ini?" Tony mengernyitkan dahi sambil membolak-balik pecahan mesin itu. "Ya, aku tahu." ia balik berbisik, tetapi lalu melirik ke arah Tasha sambil menunjuk ke arah telinganya sendiri. Prajurit super dengan pendengaran super.
Reed mengangguk, mengerti. "Masalahnya adalah aku masih belum bisa menentukan koordinatnya." Koordinat yang Fury minta, akan dimensi lain yang tidak ada penghuninya.
Tony mengeluarkan Starkphone-nya dan menyambungkannya ke mesin Reed. "JARVIS akan membantumu." katanya.
"Dan ini..." Reed memberikan sebuah alat yang berbentuk lingkaran, seperti sebuah kalung.
"Apa itu… choker?" tebak Tony.
"Ini adalah alat yang akan memindahkan Tasha ke dimensinya. Mau tidak mau harus dipasang di dekat kepala—dalam kasus ini di leher, untuk menemukan gelombang dari dimensi yang sama dengan gelombang otaknya. Dikendalikan dari komputerku." jelas Reed.
"Bagaimana dengan sumber energinya?" Tony bertanya sambil mengutak-atik choker tersebut, membuka casing-nya dengan hati-hati lalu... terdiam melihat apa yang ada di situ.
Pada dasarnya, chocker itu adalah bom nuklir mini dengan fitur tambahan.
Refleks ia melihat ke arah Reed dengan tatapan tidak percaya. "Fury siap untuk segala kemungkinan, huh?" ia berkata pada akhirnya. Reed mengangguk, wajahnya murung. Tony menggertakan gigi. "Dan yang membuatku kesal adalah ini memang diperlukan sebagai sumber energinya." Ia teringat kehadiran Tasha di ruangan. "Tidak banyak sumber energi yang bisa menyediakan cukup banyak untuk membuka portal antardimensi."
Tidak, sebenarnya Tony bisa membuat sumber energi itu, tetapi… Ya, kalau Tasha memang Asphalt Man, bom itu akan dibutuhkan. Dengan tangan gemetar, Tony mencengkeram pergelangan tangannya sendiri, mencoba meredam perasaan bersalah yang ia rasakan terhadap Tasha. Bagaimana dengan Tony di dimensi sana? Apa ia tega merenggut Tasha dari Tony?
"Tony?"
Tony terlonjak dari tempatnya bersila di lantai karena sentuhan tangan Tasha di bahunya. "Kau melamun, kenapa? Semua baik-baik saja?" tanya wanita berambut merah itu.
"Oh. Aku… aku baik-baik saja, Tash." Tony mengangguk, lalu menggunakan sebelah tangannya untuk menyeka wajah. "Kurasa aku butuh kopi."
"Ah, biar aku buatkan." kata Susan, yang langsung beranjak menuju pantry.
Tasha menggelengkan kepala melihat wanita berambut pirang itu, "Aneh rasanya melihat Susan begitu ramah padamu."
"Memangnya di dimensimu Susan membenciku?" tanya Tony.
Ekspresi wajah Tasha sejenak terlihat kosong, tanpa ada emosi di dalamnya. "Tidak lagi." jawabnya pendek. Perasaan Tony mendadak jadi tidak enak.
"Nah! Sepertinya kita sudah bisa mulai mengetes apakah mesin ini berfungsi atau tidak. Tasha, bisa tolong kenakan choker ini?" Reed menyerahkan choker itu ke tangan Tasha, yang diterima sambil tersenyum nakal ke arah Tony.
"Asal Tony membantuku memakainya." bisiknya.
Tony agak terkejut dengan permintaan itu, tetapi lalu balas tersenyum. "Aku tidak janji akan berkelakuan baik, Tash."
Tasha berjalan mendekat sampai ia berada di hadapan Tony, "Hmm… aku tidak keberatan kalau kau agak nakal." godanya sambil menyerahkan choker itu ke tangan Tony.
Reed mengeluarkan suara seperti tersedak, "Oh, please... jangan saling menggoda di sini."
Tasha menyeringai ke arah Reed. "Kenapa, dokter? Mau bergabung?"
"Awas saja kalau kau bilang 'iya', Reed." kata Susan, yang memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi empat cangkir kopi. "Sudah 2 hari ini kau tidak memberiku jatah. Kau terlalu sibuk dengan mesin itu.”
”Ah, maafkan aku, sayang.” seru Reed dengan penuh penyesalan.
”Kopi, boys! Tapi tentu saja itu bisa menunggu sampai setelah uji coba." lanjutnya setelah mencium sekilas pipi sang suami. ”Kutunggu nanti malam.” bisiknya.
Reed yang sudah siap di samping portal generator, mengangguk mengiyakan. ”Pasti, sayang.” Ia lalu berdehem, "Baiklah, cukup untuk basa-basinya. Aku sudah memasukkan koordinatnya. Ayo kita coba."
Tony mengalungkan lengannya untuk memasang choker di leher Tasha. Ibu jarinya membelai tengkuk wanita itu, setelah pengaitnya terpasang dengan kuat. Tasha tersenyum, tangannya menahan kedua tangan Tony di kedua sisi bahunya. Meraba semakin tinggi, sampai akhirnya ia menggenggam pergelangan tangan Tony di mana terdapat gelang untuk memanggil armor Iron Man.
Tasha mencondongkan tubuhnya ke depan untuk sekilas mengecup bibir Tony, lalu dalam satu gerakan ia menekan tombol di gelang Tony, yang membuatnya terlepas.
"Ap—"
Sebelum Tony sempat bereaksi, ia melempar gelang itu jauh-jauh ke sudut ruangan, meninju ulu hati Tony sampai ia berlutut kesakitan. Direnggutnya salah satu kabel listrik di lantai sampai terputus, dan ia menyentuhkan ujungnya ke tubuh Reed Richards. Sang ilmuwan tumbang diiringi jeritan sang istri.
Tasha menoleh ke arah Susan berdiri, hanya saja wanita itu sudah menggunakan kekuatannya untuk menghilang. Ia menyeringai. "Jangan berpikir bisa sembunyi dariku, Sue." Insting tajam Black Widow bisa mendengar bunyi langkah Susan, yang berusaha mengendap-endap di belakangnya.
Tanpa ragu, Tasha menangkap leher Susan dengan satu tangan dan memutus aliran nafasnya. Wanita itu meronta-ronta, tidak butuh waktu lama sampai Susan kehilangan kesadarannya. Melihat dia sudah tidak sadarkan diri, Tasha melempar tubuh lemas itu ke lantai.
"Dan sekarang…" ia kembali memfokuskan perhatiannya kepada Tony, yang kini sedang berusaha berdiri dari posisinya. Tasha ikut berlutut di hadapan Tony, sebelah tangan terulur untuk membelai rahang sang Iron Man. "Tinggal kau dan aku, sayang."

***

"Holy shit…" umpat Clint saat melihat foto-foto yang terpampang di layar computer itu. File yang dikirim oleh NYPD mengenai daftar korban menunjukkan bahwa semua korban memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama dengan Tony.
"Korban Asphalt Man tidak dipilih secara acak. Mungkin ia menganggap mereka semua Tony, dan saat ia menyadari bahwa mereka bukan Tony, ia menjadi emosi dan membunuhnya." Steve menambahkan.
"Ini…" Natasha tidak mampu berkata-kata. Teringat pembicaraannya dengan Tasha di gym, bagaimana wanita itu berkata ingin membawa Tony pergi. Perasaannya mendadak jadi sangat tidak enak. Bahkan saat Starkphone-nya berbunyi, ia langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Nat!" suara Bruce terdengar panik.
"Bagaimana hasil lab-nya, Bruce?" tanya Natasha.
"Aku dan JARVIS berhasil membalikkan proses mutasinya dengan algoritma yang dibuat Tony. Dan hasilnya… DNA yang kami dapat adalah DNA yang persis denganmu, Nat!"
Wajah Natasha semakin pucat. "Phil, apa… Tony masih berada di Baxter Building?"
Phil mengalihkan pandangannya dari layar computer, "Kurasa begitu. Aku akan mencari cara menghubungi Thor di Asgard."
Natasha mengangguk, "Ya, kita membutuhkan Thor."
"Tony tidak bisa dihubungi." ujar Steve. Kekhawatiran tersirat jelas di wajah yang biasanya terlihat dingin itu. "Dan…" sang Captain America memandangi Starkphone yang mendadak bergetar di tangannya. Wajah Nick Fury terpampang di layarnya. Panggilan masuk.
"Rogers." panggil laki-laki bermata satu itu. "Kenapa diantara semua Avengers, hanya teleponmu yang bisa dihubungi? Serahkan telepon ini pada Romanoff!" suara Nick Fury terdengar tidak sabar. Tanpa berkomentar, Natasha menerima telepon itu.
"Romanoff, kumpulkan yang lain. Ada Doombot di tengah kota dan aku tidak ingin ada kerusakan yang tidak perlu hanya karena kalian terlambat sampai di lokasi." seru Fury.
"Tapi, Sir, Tony—" Natasha ingin membantah.
"Doombot, Romanoff. Nyawa penduduk sipil terancam."
Dan KLIK! Telepon ditutup.
Natasha mengepalkan tangan erat-erat sampai buku jarinya memutih. Ia memasukkan code tertentu ke dalam Starkphone-nya, yang akan menotifikasi telepon genggam semua anggota Avengers.
"Avengers Assemble!"

***

Tony menepis tangan Tasha. "Ternyata memang kau." geramnya.
Wanita berambut merah itu tersenyum, tetapi sorot matanya terlihat dingin, membuat bulu kuduk Tony sampai berdiri.
"Tentu saja itu aku. Orang-orang itu menipuku… terlihat seperti dirimu, tetapi ternyata bukan…" Tasha berkata sambil berdiri, memberi jarak diantara mereka berdua.
Wajah Tony memucat, "Kau membunuh mereka karena mereka mirip denganku?"
Tasha kembali menyeringai. Tony berusaha berdiri dengan berpegangan pada meja. "Kenapa, Tash? Kau bukan orang yang bisa sembarangan membunuh orang lain."
Senyuman Tasha menghilang. Mata birunya mulai terlihat liar. "Kau tahu, Tony?" ia mengambil satu langkah maju, membuat Tony mundur untuk menjaga jarak. "Pukulan terakhir itu… tidak sempat kuhentikan. Aku membunuhmu, Tony."
"Apa?" mulut Tony ternganga.
"Aku membunuh Tony-ku." tangan Tasha mulai terlihat gemetar, pupilnya melebar. "Kau tahu apa yang kulakukan selanjutnya?"
Mata Tony menyapu ke seluruh workshop, mencoba menemukan gelangnya. Mendadak Tasha sudah berdiri tepat di hadapannya, dalam jangkauan tangan. "Aku menikahi mayatnya, untuk mengingatkan diriku akan dosa yang telah kulakukan." Tubuh Tasha mulai membengkak, "Selamanya aku akan mencintai Tony seorang… seorang…" gelembung-gelembung hitam bermunculan di tubuh si eks-Black Widow, dilengkapi dengan cakar baja yang menyeruak dari tangannya. "…yang kukecup adalah bibirmu yang dingin Tony…"
Tony mulai merasa panik, "Tunggu, Tash…"
"Tapi kecelakaan dengan portal itu terjadi, dan kau muncul dihadapanku. Hangat, hidup…" Tasha kembali mendekat, dan Tony tercekat saat menyadari ia sudah mundur sampai menabrak dinding.
"Kita… masih bisa membicarakan ini, Tash." Tony mengangkat kedua tangannya ke depan, "Bagaimana kalau kau tenangkan diri dulu." tambahnya.
Tangan hitam itu terulur ke arah Tony, yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak berjengit. "Tidak akan kulepas lagi… Tony-ku. Kau akan kembali bersamaku ke duniaku, dan kita akan sungguh-sungguh menikah di sana."
"Tony, kau bisa mendengarku? Tony!" suara Natasha terdengar melalui komunikator, dan rasa tegang di tubuh Tony berkurang sedikit. Ia harus memberitahu Natasha bahwa kecurigaan mereka memang benar.
"Oke, biar kuperjelas. Kau, Tasha, membunuh Tony di duniamu dalam perang sipil itu, lalu menikahi mayatnya, dan BOOM! Terlempar ke dimensi kami untuk membawaku ke dimensimu dan menjadikanku pengantin bulan Juni yang cantik. Itukah kenapa kau membawaku ke Baxter Building ini?" Tony memancing.
Tasha menyeringai. "Kau sedang bicara dengan siapa, Tony?"
"Shit!" Tony menunduk tepat waktu untuk mengelak dari pukulan monster itu. Dari komunikatornya ia bisa mendengar Natasha berseru, "Dia sudah berubah!" dan, "Doombot di belakangmu, Hawkeye!" kepada Avengers yang lain.
"Kalau kau berusaha melumpuhkanku, tidakkah itu akan menjadi kontra-produktif? Bukankah kau menginginkan tubuhku?" seru Tony.
Tasha, yang kini wujudnya sudah berubah menjadi hitam pekat, kembali mengayunkan pukulannya ke arah Tony, yang kembali berhasil dielakkan oleh sang genius. Walaupun ia tidak bisa menghentikan dirinya membentur meja komputer milik Dr. Reed.
"Aku menginginkanmu seutuhnya, aku tahu kau tidak akan menyerah tanpa perlawanan." kata Tasha.
"Itu akan manis sekali, seandainya kau tidak sedang berusaha menghajar Tony." suara Johnny Storm terdengar dari balkon, dan manusia api itu berputar di sekeliling Tasha, menciptakan semacam tornado api. Pengalihan perhatian itu membuat Tony berhasil menemukan gelangnya, dan serta merta meraihnya untuk memanggil armor Iron Man.
Tasha berhasil menemukan celah di tengah tornado api itu dan menepis Johnny sampai ia terbentur dinding. Dalam sekejap, api di tubuh Johnny padam, pemuda itu kembali ke wujud manusianya. Untunglah saat itu terjadi, tubuh Tony sudah terbungkus di dalam jubah besinya. "Kau, Johnny, mendapatkan satu gadget mahal dariku setelah semua ini selesai." Tony berkata.
Johnny terkekeh, "Plus pulsa gratis selama 1 tahun?"
Tasha si Monster meraung dengan keras, dan menyerbu.
"Jangan ngelunjak, anak muda." kata Tony, sebelum ia menembak Tasha dengan repulsor-nya. Tekanan dari benturan tubuh Tasha ditambah dorongan repulsor memunculkan sebuah lubang besar di dinding, membuat monster itu terjatuh ke bawah.
"Dia tidak akan mati hanya karena hal seperti ini." komentar Johnny.
Tony mengangguk, "Aku tahu." gumamnya sebelum terbang ke luar. "Guys, ada kiriman Asphalt Man a.k.a. Natasha Stark ke bawah dalam 3..2…1…"
"Fuck, Tony! Tidak bisa kah kau memperingatkan lebih cepat?" umpatan Clint menggelegar via komunikator.
Tony tertawa kecil. "Aku agak sibuk, Clint."
"Sibuk bermain dengan Johnny Storm?" nada suara Natasha terdengar setingkat lebih dingin.
"Hey! Dia menyelamatkan nyawaku tadi." sela Tony.
"Ssh, anak-anak! Kalau kalian sudah selesai bertengkar, ada pahlawan-berubah-monster dan Doombot di sini." Steve memperingatkan.
Tony meretas semua kamera CCTV di sekitar Baxter Building, dan melihat dengan jelas Tasha sudah bangkit. Tony melirik sekilas ke arah computer Reed Richards, lalu terbang keluar.
"JARVIS, ambil alih kendali portal generator. Choker itu masih ada di leher Tasha, kita akan membutuhkannya." Tony terbang rendah menuju tempat Tasha terjatuh. Wanita itu—eh, monster itu, Tony mengingatkan dirinya sendiri—mulai bangkit. Ia baru saja akan menyemburkan api ke arah Tasha saat belasan Doombot mendarat di sekeliling sang monster. Ujung bibir Tony terangkat. Sangat tipikal Doom, pikirnya, memancing di air keruh rupanya.
"Ikut bergabung dengan rombongan pesta, Victor?" Tony bertanya via loudspeaker, karena ia tahu pasti Doom sedang mengawasi entah dari mana. "Karena, kau tahu, tidak asyik kalau kau bersembunyi saja tanpa ikut bersenang-senang." tambahnya.
Dari tempatnya di atas bangunan tiga lantai dekat Baxter Building, Clint menembakkan anak panah berpeledak ke arah Tasha. Ledakan itu, sayangnya, tidak banyak menghentikan langkah si eks-Black Widow. "Cih. Setidaknya kasus pembunuhan itu terpecahkan." ia bergumam, sebelum melepaskan anak panah lain yang tepat mengenai salah satu Doombot.
"Yeah, tapi tetap saja ia masih belum ditaklukan." komentar Bruce melalui komunikatornya.
"Bruce? Kenapa kau belum menjadi Hulk?" Natasha bertanya, dan beberapa saat kemudian terdengar raungan keras dari sisi lain kota. "Baiklah, sekarang sudah. Phil! Ungsikan penduduk sipil di sekitar sini. Pastikan semua jalan kosong. Steve, kau tangani Doombot yang berada di darat. Tony! Kau dan aku akan memfokuskan serangan pada Asphalt Man. Clint, kau atasi Doombot yang berada di udara. Dan Hulk?" raungan Hulk kembali terdengar. "Smash!"
Kekacauan pun terjadi di mana-mana.
Penduduk sipil yang panik diungsikan oleh Phil ke luar parameter yang dijaga oleh SHIELD. Tasha, mereka menyadari, dapat bergerak dengan cepat untuk ukuran tubuhnya yang seperti itu. Ditambah komposisi tubuhnya yang cenderung cair, berapa kalipun pisau dan tembakan Black Widow melubangi tubuhnya, tubuh hitam pekat itu kembali ke bentuk semula.
"Nat, merunduk!" seru Tony.
Natasha menurunkan tubuhnya tepat saat Iron Man menembakkan laser sambil berputar, menghabisi tiga Doombot sekaligus. Laser itu memantul dari kaca gedung dan mengenai Asphalt Man, memutuskan lengan makhluk itu. Natasha tidak berusaha menyembunyikan keterkejutannya saat muncul Asphalt Man baru dari sisa lengan yang terputus itu.
"Bloody hell!" umpatnya.
"Pufft…" Tony menahan tawa mendengar umpatan Natasha, "Dari mana kau dapat kata-kata itu, Nat? Diajari mantan pacarmu yang orang Inggris?"
Pisau besar Natasha berdentang dengan keras saat beradu dengan cakar Asphalt Man. "Bukan saatnya… Tony. Kau bisa lihat aku sedang sibuk!" Black Widow mendorong Asphalt Man dengan pisaunya sampai makhluk itu terlempar. Tony menghantam tubuh yang baru mendarat itu dengan beberapa tembakan repulsor. Tetapi tentu saja, Asphalt Man yang asli (di kepalanya Tony menyebut makhluk ini dengan Asphalt Man 1.0) tidak begitu saja takluk oleh beberapa tembakan repulsor.
"Ugh, Asphalt Man yang baru ini mengingatkanku pada Gangreen Gang-nya Powerpuff Girls. Hanya saja warnanya hitam. Bisakah aku menyebutnya Gangblack Gang?" Clint melepas panah yang tersambung pada sebuah tali. Panah itu menancap pada salah satu Doombot yang sedang terbang, membuat Clint ikut terbawa. Sang pemanah itu melompat di atap gedung lain, berguling ke depan dua kali untuk mengurangi efek hantaman dengan atap beton. Begitu tubuhnya kembali stabil, Clint menekan salah satu tombol pada panahnya untuk meledakkan panah pada Doombot tadi.
"Kau sama sekali tidak punya selera, Barton. Ckckck…" komentar Steve, yang mendorong tubuhnya ke belakang untuk menghindari tembakan dari sebuah Doombot. Dengan cekatan tangan laki-laki itu meraih perisainya dan menghantamkannya ke sebuah Doombot yang tertinggal di belakang, kemudian melemparkannya untuk menebas segerombolan Doombot yang sudah melaju pergi. Lima kepala metal meledak sekaligus.
"Seharusnya kita menyebutnya Asphalt Man 2.0. Atau Junior." komentar Tony sambil kembali menembakkan laser ke arah Asphalt Man 1.0.
"Jangan memotong Asphalt Man, guys! Ia bisa membelah diri!" seruan Natasha dapat didengar oleh seluruh anggota tim.
"Yes, Miss!" seru Clint di sela-sela suara ledakan.
Hulk meratakan makhluk baru tadi ke tanah dengan memukulnya berulang kali menggunakan bus (untung Steve sudah berhasil mengungsikan seluruh penumpang sebelum Hulk meraih bus itu). Saat makhluk itu bangkit kembali, Tony tidak sengaja mengenainya dengan laser. Untungnya, Tony menyadari, hanya Asphalt Man yang asli yang bisa membelah diri menjadi makhluk baru. "Junior tidak bisa membelah diri, Nat! Kau boleh berterima kasih atas daya pengamatanku yang luar biasa ini nanti!"
"Shit-shit-shit... bagaimana bisa ada Gangblack Gang naik sampai ke sini?" Clint mengumpat saat melihat ada makhluk hitam muncul di atap gedung tempatnya berada.
"Junior, Clint! Panggil mereka Junior!" seru Tony yang terbang di samping kirinya.
Clint tidak menghiraukan karena ia sekarang sedang sibuk menghindari cakar metal yang diayukan dekat dengan wajahnya. Bersalto ke belakang, ia mengambil panah berpeledak, kemudian ia tembakkan ke arah makhluk itu. "Adios." Clint berkata sebelum bomnya meledak, menyisakan gumpalan-gumpalan hitam di mana-mana. "Ugh. Ada gumpalan hitam di rambutku." ia berseru jijik.
"Yeah-yeah, Legolas, kita tidak mau rambut indahmu kotor. Kami mengerti." kata Tony melalui komunikator. Clint menunduk saat Iron Man menembakkan senapan mesinnya ke Doombot yang berhasil menyelinap ke belakang sang pemanah. Robot itu meledak, menyisakan cipratan oli kehitaman di mana-mana, termasuk rambut Clint.
"Fuck you, Stark!" seru Clint saat Tony terbang menjauh sambil tertawa.
"Terima kasih atas tawarannya, Clint, but no, thanks." sahut Tony.
"Perasaanku saja atau Tasha membelah diri semakin banyak?" tanya Steve via komunikator. Ia kembali melemparkan perisainya, membuat salah satu Asphalt Man terbelah dan meleleh menjadi genangan hitam, lalu menghantam sebuah Doombot di kepala dengan ujung sikunya.
"Ia bisa membelah diri sesuai keinginan." kata Natasha sambil mencoba menguatkan tekad saat melihat ada lima Asphalt Man baru muncul. Dari gelang Widow's Bite-nya ia menembakkan sengatan listrik bertegangan tinggi pada sebuah Doombot yang terbang lewat di atas kepalanya, lalu disusul tendangan memutar dari bawah ke atas untuk menghajar kepala Asphalt Man yang asli, membuat makhluk itu terhuyung ke belakang.
"Kau selalu terlambat bereaksi pada uppercut dari sebelah kiri." Natasha bergumam, mengingat latih tanding mereka tadi pagi. Asphalt Man melompat mundur dengan cepat, dan membaur di antara para Asphalt Man pal—oke, Tony, Junior.
Sebuah Asphalt Man Junior dibanting dengan keras oleh Hulk sampai rata dengan tanah. Dengan mudah, makhluk hijau itu memisahkan para Doombot dari kepala, tangan dan kakinya. Hulk menangkap kaki sebuah Doombot yang sedang terbang, kemudian memukulkan robot itu pada si Junior.
"Kita harus segera menemukan yang asli." kata Tony, melihat bertambah banyaknya jumlah Junior. "Kurasa aku bisa memancingnya." ia melanjutkan sembari mendarat di tengah-tengah kekacauan itu. Membuka pelindung wajahnya agar Tasha bisa melihat wajahnya, sang Iron man menyapukan pandangannya ke sekeliling.
"Tasha!" ia berseru, mencoba menarik perhatian monster itu. Salah satu Junior mendekatinya, namun saat makhluk itu hanya menggeram dan bergerak lambat, Tony menyadari bahwa ini bukan yang asli. Sebuah tembakan repulsor blast menghancurkan makhluk itu.
"Toonyyyy…" suara serak itu membuat Tony menoleh ke belakang. Tasha bergerak mendekatinya, masih dalam wujud Asphalt-man, mencoba meraihnya. Mendadak Natasha menghalangi jalan sang monster, membuat Tasha meraung dengan keras.
Cakar dan pedang besar—entah darimana Natasha mendapatkannya- bergesekan dengan keras, menimbulkan suara metal bertemu metal yang tinggi melengking. Tony, sudah menutup kembali pelindung wajahnya, tidak terpengaruh. Tapi ia bisa mendengar keluhan Clint melalui komunikator.
Black Widow mengiris kepala Asphalt Man dengan pedang besarnya, namun makhluk itu bergerak cepat dan berhasil mengenai Natasha dengan cakarnya. Tiga guratan merah mengeluarkan banyak darah dari perut dan dada Natasha, membuat si Black Widow jatuh berlutut.
"Nat!" Tony menembakkan repulsor-nya untuk membuat makhluk itu menjauh dari Natasha. Ia terbang mendekat, mengecek luka perempuan itu. Tetapi Natasha hanya menepis tangannya, menyatakan bahwa ia baik-baik saja.
"Aku hanya ceroboh, Tony." ungkapnya. Tony tidak setuju dan ingin membawa Natasha ke tempat yang aman, tetapi beberapa (ekor? orang? buah?) Junior datang mendekati mereka untuk menyerang. Ia tidak memiliki pilihan selain bertahan di tempat dan menghancurkan makhluk itu satu per satu, Natasha di sisinya melemparkan puluhan pisau kecil layaknya anak panah yang memotong makhluk-makhluk itu.
Saat itulah, langit yang tadinya cerah, mulai bergemuruh. Tony menyeringai lebar. Akhirnya! "Thor! Serang dia!" Tony berseru sambil menunjuk pada Asphalt Man. Kilatan petir besar menyambar Asphalt Man, membuat gerakannya terhenti. Lapisan cairan hitam itu menipis di beberapa bagian, termasuk wajah.
"Tooonyyyy…" Tasha, dengan wajah yang sama persis dengan Natasha, mencoba meraih Tony, tetapi sang Iron Man cepat menghindar.
"Sorry, Aku bukan Tony-mu, Tash." ujarnya sambil menggelengkan kepala dengan sedih.
"TEMAN-TEMANKU! AKU DATANG UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN!" seru Thor, yang begitu mendarat langsung mengayunkan Mjolnir untuk menghantam tiga makhluk sekaligus.
"Tepat waktu, Thor!" Clint berteriak dari atap gedung yang berbeda dengan sebelumnya. Berteriak, karena Thor tidak sempat diberi komunikator.
Melihat dirinya terdesak, Tasha meraung keras. Gelembung-gelembung hitam kembali menutupi tubuhnya. Tetapi kali ini, ia menarik kembali semua Asphalt Man di sekitarnya untuk diserap. Ukuran tubuhnya menjadi semakin besar, dan Tony menyadari bahwa choker di leher Tasha tidak akan bertahan lama.
"Nat! Alihkan perhatiannya!" ia berseru sementara meretas computer Reed Richard yang mengendalikan portal generator. Ia melanjutkan kalkulasi koordinat dimensi kosong yang sudah dimulai oleh Reed, dan begitu mendapatkan koordinat, ia bersiap mengaktifkan mesinnya.
"Guys, menyingkir dari monster itu. Aku akan mengirimnya ke dimensi lain sebelum terlambat." seru Tony.
Melalui JARVIS, Tony menyalakan mesin itu. Tetapi portalnya tidak kunjung terbuka. Wajah Tony memucat, jangan-jangan… ia melihat ke arah puncak Baxter Building, dimana Johnny sedang mengejar Doom keluar dari laboratorium Reed, melalui lubang tempat Tasha jatuh tadi.
"Sial, Doom pasti merusak mesinnya!" ia mengumpat, lalu menembakkan repulsor pada jetcar yang dinaiki Doom. Pemimpin Latveria itupun menghilang bersama jetcar-nya yang jatuh entah di mana… untuk sekarang. Tony tidak akan kaget kalau Doom muncul lagi di hadapan mereka dalam waktu dekat.
Asphalt Man menabrak tubuh Tony sampai jatuh. Saat makhluk itu akan menusuk Tony dengan cakarnya, Tony mengaktifkan repulsor di tangan dan kakinya, membuat tubuhnya meluncur ke belakang. Saatnya rencana cadangan. "Tasha!" ia memanggil.
Makhluk itu meraung, marah karena Tony berhasil lolos. Tubuhnya masih terus membesar.
"Tasha!" panggil Tony untuk kedua kalinya. Tubuh Tasha berhenti berkembang, kini ia memfokuskan pandangannya pada Iron Man.
"Tooonyyyy?" ia memanggil dengan suara parau.
Iron Man melangkah mendekatinya, "Ya, ini aku, Tony. Kumohon hentikan semua ini, Tash. Aku... aku akan ikut denganmu."
"APA? Tony, apa yang kau lakukan?" Natasha memprotes, ia akan maju menghalangi Tony, tapi sang Iron Man mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Aku tahu apa yang kulakukan, Nat. Tetaplah di tempatmu." serunya.
"Aku tidak akan membiarkanmu membahayakan diri sendiri." Natasha memprotes.
Tony tertawa kecil mendengar ironi dalam kalimat itu, "Mau bagaimana lagi? Kita hidup sebagai superhero, Nat." Ia kembali memfokuskan perhatiannya pada Tasha, yang ukurannya sudah mulai mengecil.
"Kau… akan… ikuuut?" suara parau itu terdengar.
Tony membuka pelindung wajahnya dan mengangguk, agar Tasha percaya. "Yeah, aku akan ikut bersamamu." Tony melakukan setengah lusin langkah yang membawanya tepat di hadapan Tasha.
Wanita-setengah-monster itu mengulurkan tangannya, yang disambut oleh genggaman tangan berbalut armor milik Tony. "Toonyyy…" Tasha memanggil lagi. Tony tersenyum, lalu menutup pelindung wajahnya dan melesat ke angkasa, membawa Tasha bersamanya.
Tasha menyadari bahaya yang akan datang, mulai meronta di pelukan Tony. Tubuhnya mulai ditutupi lagi oleh gelembung-gelembung hitam, tetapi Tony tidak melepaskannya. "Tidakkah kau ingin bersamaku, Tash?" Tony bertanya, dan Tasha berhenti meronta.
"Tooonnyyyy…" panggilnya, jemari melingkar di pergelangan armor Tony.
Begitu mereka mencapai thermosphere, Tony mengejutkan Tasha dengan melemparnya ke atas. Rasanya waktu berjalan lambat, bagi Tony, saat ia melihat wajah terkejut Tash ketika tubuhnya melayang dan Tony tidak berada di pelukannya. Ia mengulurkan kedua tangan, mencoba meraih sang Iron Man, kembali ke tempatnya, di pelukan Tony seorang. Tony bergeming.
"Toooo… nyyy…" suara Tasha semakin parau, seiring dengan usahanya meraih Tony.
Tony memejamkan mata, dan memerintahkan JARVIS untuk mengaktifkan bom nuklir mini di leher Tasha. "Maaf, Tash, seperti yang kau bilang, kau bukanlah Natasha yang kumau."
Lidah Tony terasa pahit saat ia memacu armornya untuk terbang dalam kecepatan tinggi untuk menghindari ledakan. Saat ledakan itu akhirnya terjadi, Tony yang masih berada di udara terlempar oleh gelombang energi ledakan tersebut. Tubuhnya berputar beberapa kali di udara, sebelum gravitasi menarik armor ratusan kilogram itu melesat jatuh, menarik Tony di dalamnya. Tony sendiri, dalam keadaan kepala di bawah dan terjun bebas sekian ratus kilometer, tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya menatap nanar pada kembang api raksasa yang ia tahu membunuh Natasha Stark, pria yang sangat mencintai Tony Stark, walaupun tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengungkapkannya.
"...ny! Tony!" suara panik Natasha terdengar melalui komunikatornya. Tony memejamkan mata, ya, ini Natasha yang ia kenal dan ia cintai. Natasha-nya.
"Tony!" suara wanita itu kembali terdengar.
"JARVIS! Sekarang akan menjadi saat yang tepat untuk membuka sirip samping!" Tony menyalakan kembali armor Iron Man untuk memperlambat kecepatan jatuhnya. Ia berhasil mendarat dengan mulus tepat saat akan menghantam jalan raya. Natasha —tentu saja Natasha— merupakan orang pertama yang berlari ke arah Tony tanpa menghiraukan tiga guratan berdarah di perut dan dadanya. "Tony! Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Sebaik yang bisa diharapkan, Nat." dan hanya itu yang bisa Tony katakan. Bahkan di telinganya sendiri pun, ia tahu nada bicara itu tidak bisa dipercaya. Mendadak ia merasa sangat, sangat lelah. Tapi masih banyak yang harus mereka lakukan sebelum bisa pulang. Mencari korban yang terluka diantara reruntuhan, misalnya. Iron Man dengan sensor panasnya sangat dibutuhkan untuk pekerjaan macam ini.
Hampir dua jam kemudian, barulah sensor Tony tidak berhasil menemukan apa-apa lagi. Sampai di sini, sisanya bisa diserahkan kepada SHIELD. "Iron Man, out." ia berkata melalui komunikator, lalu terbang pulang ke Avenger Tower. Natasha —Black Widow hanya memandangi sosok Tony yang menjauh tanpa mengatakan apa-apa.
Steve menepuk bahunya, "Pergilah duluan, sayang. Kau sudah bisa menyerahkan sisanya pada kami di sini."
"MR. ROGERS BERKATA BENAR, TEMANKU! SAAT INI MAN OF IRON LEBIH MEMBUTUHKAN KEHADIRANMU DARI APAPUN JUGA!" Thor menimpali dengan volume suara yang rupanya tidak berkurang bahkan setelah lelah bertarung.
Natasha tersenyum lemah, tetapi mengangguk dan berjalan menuju helicarrier. Meninggalkan sisa-sisa kehancuran di belakangnya. "Black Widow, out."

***

Natasha tidak terburu-buru mencari Tony sesampainya ia di Avenger Tower. Ia tahu Tony butuh waktu untuk sendiri sebelum ia datang dan membicarakan… apapun yang akan mereka bicarakan nanti. Karena itu, Natasha menuju ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, barulah ia naik ke penthouse Tony. Begitu JARVIS membukakan pintu untuknya, Natasha langsung menuju pantry untuk membuat dua cangkir kopi. Pada salah satunya ia mencampurkan sedikit whiskey. Untuk Tony.
Natasha menemukan Tony duduk di sofa, menonton ulang Friends entah episode berapa dalam keadaan lampu dimatikan. Cahaya dari TV menyinari wajah Tony, membuat Natasha bisa melihat rambutnya yang sedikit basah setelah mandi serta T-shirt yang ia kenakan (bergambar perisai Captain America!), dan dari ekspresinya, Natasha tahu bahwa ia tidak benar-benar menonton. Tidak adanya botol minuman keras di sekitar Tony, Natasha mengakui, membuatnya sedikit terkejut.
Natasha berdiri di samping sofa, menunggu Tony menyadari keberadaannya. Saat pria itu akhirnya menengok, Natasha tersenyum kecil. "Kopi?" ia menawarkan.
Sambil menerima mug dengan tangan kiri,Tony menepuk sofa di sampingnya, mengisyaratkan Natasha untuk duduk. Si Black Widow duduk di samping Tony, dan keduanya terdiam sambil meminum kopi mereka.
"Kau memasukkan whiskey?" Tony bertanya setelah beberapa saat.
Natasha mengangguk, "Kupikir kau membutuhkannya."
"Benar sekali. JARVIS mengunci semua koleksi alkoholku."
"Aku tahu ada alasan kenapa aku menyukai JARVIS." kata Natasha, meneguk sisa kopi dalam gelasnya.
"Pujian anda membuat sirkuit saya terasa hangat, Miss." suara beraksen British itu menimpali melalui speaker yang terpasang di seluruh penjuru Avenger Tower.
"Pengkhianat." gerutu Tony, yang meletakkan mug kosongnya di atas meja.
"JARVIS hanya khawatir padamu. Protokol keselamatan dan apalah itu." kata Natasha.
Tony hanya mengangguk. Setelah terdiam beberapa saat, ia bertanya, "Bagaimana lukamu?"
"Tidak terlalu dalam, akan sembuh dalam beberapa jam."
Tony menhela nafas lega, lalu bertanya lagi, "Kalau keadaan Reed dan Sue?"
Natasha menoleh ke arah Tony, yang saat ini sedang melihat ke arahnya. "Aku tidak melihat langsung, tapi kudengar mereka baik-baik saja."
Tony mengangguk-angguk lagi, "Yang lain?"
"Semua sedang menuju ke sini, tapi mereka tidak akan mengganggumu malam ini."
Mendengar itu, Tony tertawa kecil, "Apa? Mereka takut melukai perasaanku? Aku baik-baik saja."
Natasha meraih tangan Tony, menggenggamnya erat. "Kuharap begitu."
Tony memandangi tautan tangan mereka, lalu ia melihat ke arah Natasha, yang disambut oleh sepasang mata biru memandanginya dengan tatapan lembut. Senyum wanita itu diterangi oleh cahaya televisi, dan mendadak Tony ingin bergelung di suatu tempat dan menghilang. Ia tidak pantas mendapatkan senyuman itu, pikirnya. Dengan tangannya sendiri ia sudah mengakhiri nyawa Tasha. Menipu perasaan wanita itu lalu membunuhnya.
Tetapi saat Natasha mengeratkan genggaman dan mengecup dahinya, Tony tidak lagi peduli. Tony Stark adalah orang yang egois, dan kalau Natasha bersedia ada di sampingnya, biarkanlah demikian. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Natasha, membuat wanita itu otomatis melingkarkan tangan di bahu Tony, sementara tangan yang tadi menggenggam tangan Tony, kini mengusap-usap punggungnya.
Dan kalau Natasha menyadari bahwa lehernya terasa basah, atau tubuh Tony yang gemetaran, ia tidak mengatakan apa-apa. Natasha hanya memeluknya erat-erat.

***

"Sudah mau pergi?" Natasha bertanya dari ambang pintu kamar Tony. Tubuhnya masih telanjang. Sang billionaire sedang merapikan jas yang akan ia pakai untuk kencan makan malam hari ini di depan cermin.
"Hmm. Sepuluh menit lagi Happy menjemputku." ia berbalik menghadap Natasha, "Bagaimana penampilanku?"
Natasha mengambil satu, dua langkah mendekati Tony. Jemarinya meraba hem jas Tony dan meluruskan lipatan yang kurang rapi. "Aku benci mengakui ini, tetapi kau memang terlihat tampan."
Ujung bibir Tony terangkat, "Cemburu?" tangannya membelai bulatan payudara Natasha dan meremasnya pelan.
"Sangat." ujar Natasha, sambil mencuri sebuah kecupan di bibir Tony. "Terlebih kalian akan pergi ke restoran dari daftar yang diberikan Phil padaku, untuk keperluan mengajakmu makan malam." tambahnya, agak merajuk.
"Kalau ini membuatmu merasa tenang, aku tidak akan mencium Pepper. Lagipula kencan ini cuma satu kali, hanya untuk memenuhi janjiku saja." jelas Tony.
Natasha mendengus, "Sama sekali tidak tenang. Aku mempercayaimu, tapi aku tidak percaya pada Pepper. Dia pasti akan mengajakmu untuk tidur."
"Hmm… repot juga…" Tony menggerakkan tangannya turun dari dada ke selangkangan Natasha, merasakan lipatan daging yang, hey! Sudah kembali basah. Tony Stark adalah pria brengsek yang sangat, sangat beruntung. "Kalau begitu, kau harus memberiku seks yang tidak akan bisa kulupakan, kalau-kalau Pepper berhasil mengajakku ke tempat tidur."
Natasha tertawa kecil, "Kamu tidak capek? Kita sudah melakukannya 3 kali hari ini." ia bergumam sambil melekatkan bibirnya di bibir Tony, melumatnya sampai nafas Tony kembali memburu.
”Pepper bisa menunggu,” dan sambil berkata, Tony kembali membopong tubuh mulus Natasha ke atas tempat tidur.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar