Selasa, 11 April 2017

Desahan Tengah Malam 7



Hak Cipta © Tara Zagita

Mendadak, telepon berdering. Petugas resepsionis mengingatkan ckeck-out hampir tiba, lalu menanyakan apakah Hamsad mau melanjutkan sampai beberapa malam, atau cukup untuk hari itu saja? Karena Hamsad digelayut rasa penasaran dan tekad untuk menemukan potongan tangan itu menggebu-gebu, maka ia bermaksud memperpanjang waktu sampai besok siang.
"Sial! Benar-benar sulit menemukan potongan tangan itu!" gerutunya dengan nada kesal. "Ah, sebaiknya aku istirahat dulu. Semalaman aku tidak tidur. Siapa tahu setelah bangun tidur nanti aku menemukan gagasan yang lebih baik...!"
Hamsad menyuruh room-boy untuk membereskan kamarnya, sementara itu ia mandi, merendam diri di air hangat, yang mampu mengurangi rasa capeknya itu. Ketika ia merebahkan diri, benaknya terbayang kecantikan Kismi dan kehebatan wanita itu di atas ranjang. Alangkah luar biasa bangganya jika Hamsad bisa memperistri wanita cantik seperti Kismi. Alangkah bahagianya nanti jika ia telah hidup bersama Kismi. Angan-angannya pun mulai melambung tinggi, menciptakan sejuta keindahan yang ada pada khayalnya.

Berulangkah hatinya berucap tekad, "Aku harus memiliki dia! Aku harus memiliki Kismi. Aku sangat mencintainya...! " Lalu, ia pun tertidur.
Tak diduga ternyata Hamsad tertidur cukup lama. Ketika ia bangun, ia mendapatkan alam telah meremang, matahari senja tinggal seujung rambut dan memancarkan warna merah lembayung di perbatasan samudera. Debur ombak terdeng ar jelas, karena angin senja berhembus tanpa suara. Badannya segar dari segala kepenatan, apalagi ia telah meminum susu, telur mentah, madu dan lain sebagainya. Namun demikian, perutnya toh masih terasa lapar juga, sehingga ia memesan makanan untuk pengisi perutnya.
Sambil menikmati makanannya, Hamsad berpikir-pikir tentang potongan tangan Kismi. Tadi siang, semua tempat sudah diperiksanya. Kini tinggal bagian dinding dan lantai. Maka, seusai menyantap makanannya, Hamsad kembali beroperasi, memburu tangan Kismi. Setiap dinding diketuknya pelan-pelan, didengarkan suara ketukannya. Jika menggema, berarti tempat itu berongga. Besar kemungkinan di situlah tangan tersebut disembunyikan. Semua dinding diketuk. Rata. Dan, itu memakan waktu cukup lama, karena ia kerjakan dengan cermat dan hati-hati.
Sayang, hasilnya tidak memuaskan. Tidak ada dinding yang patut dicurigai. Tak ada rongga di dalam dinding tersebut. Bahkan dinding kamar mandi dan dapur pun telah diperiksanya, dan hasilnya nihil. Sekarang giliran lantai yang menjadi pusat perhatiannya. Saat itu, malam telah lama menebarkan kegelapan. Arlojinya menunjukkan pukul 8 lewat 15 menit.
Lantai kamar terbuat dari ubin marmer warna putih kebiru-biruan. Berukuran 40x40 cm tiap lempengan ubin. Dengan tekun Hamsad mengetuk-ngetuk setiap ubin, mencari ruangan di bawahnya. Dari lantai teras, masuk ke ruang tamu, masuk ke ruang tidur dan terus ke kamar mandi, tidak ada ubin yang menimbulkan gema jika diketuk. Berarti tidak ada bagian yang berongga.
Sejenak pintu diketuk. Hamsad terperanjat. Ia menggumam dalam hati, "Belum lewat tengah malam, mungkinkah Kismi datang?"
Oh, ternyata seorang pelayan restoran yang datang dan menyodorkan bon makanan yang dipesan Hamsad. Hempasan napas menandakan Hamsad mengalami kelegaan ketika mengetahui yang datang pelayan restoran itu. Ia segera memberikan selembar uang puluhan ribu tanpa kembali, dan pelayan itu pun pergi.
Ketika ia hendak kembali ke ruang belakang, meneruskan pekerjaannya yang menyita waktu itu, ia sedikit merasa heran. "Seingatku, pot besar itu kemarin ada di sudut sana, kenapa sekarang berada di sini, di dekat pintu? Siapa yang memindahkan?"
Kemudian, Hamsad tertawa sendiri dan menggumam, "Sial! Room-boy yang membereskan kamar sewaktu aku mandi siang tadi, pasti telah memindahkannya kemari. Dan... ah, pikiranku sekarang mudah curiga. Bukan kepada manusia, kepada benda pun punya kecurigaan! Gawat! Jangan-jangan aku menjadi sinting!" sambil menggumam begitu, ia melangkah ke belakang.
Sekarang, bagian dapur ia periksa lantainya. Satu demi satu diketuknya menggunakan gagang obeng besar yang ia ambil dari dalam mobilnya di garasi. Dan ternyata, salah satu dari ubin itu menimbulkan gema ketika diketuk. Hamsad mulai berdebar-debar. Apa yang dicarinya mulai menumbuhkan harapan. Kemudian, ia segera membongkar ubin tersebut dengan menggunakan obeng besar dan kunci pas dari dalam mobilnya. Kunci digunakan untuk memukul gagang obeng, sedangkan mata obeng sendiri berfungsi sebagai alat pemotong semen perekat sambungan ubin.
Lama juga membongkar satu lempeng ubin itu, karena semennya cukup keras. Kalau petugas motel mengetahui, pasti pekerjaan itu dilarang. Tetapi, Hamsad yang sudah telanjur penasaran itu tidak peduli dengan akibatnya. Ia tetap membongkar ubin itu dengan sabar, sekalipun sudah memakan waktu hampir satu jam lamanya.
Napas terhempas lega. Ubin sudah berhasil dibongkar. Kemudian, dengan hati-hati dan berdebar-debar, ia mengangkat ubin tersebut untuk dipindahkan ke sampingnya.
"Sial...!" cacinya dengan kesal. Di bawah ubin itu memang ada rongga, tanah kosong, tetapi di situ ada pipa saluran air yang agaknya pernah terpotong dan disambung lagi. Tidak ada tangan Kismi, tidak ada tanda-tanda lain. Hanya pipa saluran air dengan sambungannya.
"Uuuh...! Brengsek! Sudah capek-capek membongkar, berkeringat, gemetar, eh... isinya pipa air! Konyol!" gerutu Hamsad seraya meletakkan kembali ubin tersebut pada tempatnya, tanpa menutupnya dengan semen seperti semula.
Ia terpaksa mandi saat itu juga, karena selain tubuhnya berkeringat juga kotor karena tanah. Selesai mandi, ia membubuhkan parfum penyegar badan sambil matanya melirik ke arloji di meja. Oh, sudah pukul 10 malam lebih 50 menit?
"Aku harus bersiap menyambut kedatangan Kismi. Ia akan semakin mengagumiku jika aku berpakaian rapi dan menunggunya di ruang tamu!" kata Hamsad sendirian, seperti orang gila.
Susu, madu dan telur yang dicampur ginseng, segera ditenggaknya habis. Kemudian, ia duduk di meubel tamu, santai. Sekaleng bir tersedia di atas meja, depannya. Sebuah majalah milik Dian yang tertinggal di mobil bisa dijadikan bahan bacaan menunggu lewat tengah malam. Penat juga membuang waktu lama dengan duduk-duduk. Maka, Hamsad pun pindah tempat. Kali ini ia melonjorkan kaki di sofa dengan santai sambil meneruskan membaca majalah. Tetapi, pada saat majalahnya menyentuh daun tanaman dalam pot, Hamsad jadi terkejut.
"Aneh. Beberapa jam yang lalu pot ini ada di dekat pintu, kok sekarang ada di sini lagi? Siapa yang memindahkan?" Ia memperhatikan pot besar berisi tanaman sejenis palm yang daunnya mirip daun mangga.
Dahinya berkerut ketika memperhatikan tanaman tersebut. Jelas tadi ia sempat curiga, karena tanaman itu ada di dekat pintu. Sekarang ia semakin curiga, karena tanaman itu ada di sudut, dekat dengan sofa. Tangan Hamsad secara tak sadar mematahkan ujung daun tersebut. Dan, ia terbelalak kaget, karena yang keluar dari ujung daun itu bukan getah putih, melainkan getah merah. Ketika diciumnya, getah itu berbau amis darah.
Merinding seketika itu juga tubuh Hamsad. berdebar-debar hatinya, dan mulai gemetar jari-jemarinya. Satu daun ia patahkan lagi dari tangkainya. Klak...! "Astaga...?!" Hamsad nyaris memekik keras, karena tangkai daun itu mengucurkan getah merah yang berbau amis darah. Hamsad sempat terlonjak mundur dengan mata membelalak lebar.
Tetesan darah dari tempat bekas tangkai daun itu menjatuhi tanah di bawahnya. Dan, Hamsad terpaksa mengerutkan dahi tajam-tajam, mempertegas penglihatannya, karena tetesan darah itu jatuh pada sebuah benda yang mencuat dari kedalaman tanah pot. Rasa ingin tahunya bergumul dengan perasaan takut. Hamsad mendekatkan wajah, memperhatikan benda kecil itu.
"Astaga...?! In... ini.. ini ujung kuku...! " Hamsad mencoba mengorek tanah itu sedikit-sedikit, maka semakin berdebarlah ia, karena kini tampak jelas di ke dalaman tanah pot itu terdapat jari kelingking manusia yang berkuku panjang, tapi indah dan serasi.
"Ya, ampun...! Pasti di sini tangan Kismi ditanam oleh pembunuhnya...!" kata Hamsad dalam hati.
Maka, segera ia mengorek tanah dalam pot besar itu dengan ke dua tangannya. Makin dalam semakin jelas bentuknya. Sepotong tangan perempuan yang masih utuh, tanpa kebusukan. Di jari manisnya melingkar cincin berbatu putih kekuning-kuningan. Cincin Zippus. Mungkin karena cincin itulah maka tangan yang terkubur di dalam tanah pot itu tidak membusuk.
Hamsad menggali dengan kedua tangannya untuk mendapatkan tangan tersebut tanpa ada yang tertinggal. Napasnya memburu karena memendam rasa takut dan girang. Sampai akhirnya, ia berhasil menggali seluruhnya. Menatapnya sesaat, kemudian mengangkatnya pelan-pelan bekas potongan sebatas pergelangan tangan lebih sedikit itu, masih kelihatan berdarah segar.
"Benar. Tangan ini sama persis dengan tangan Kismi yang sering mengusap-usap," kata Hamsad pelan sambil memperhatikan telapak tangan yang menghadap ke muka.
Tapi, tiba-tiba tangan itu melesat cepat mencengkeram wajah Hamsad.
"Hah...!Aaah...!" Hamsad terpekik dan ketakutan seketika. Jantungnya nyaris berhenti berdetak ketika tangan itu bergerak cepat, mencengkeram wajahnya.
Dengan sekuat tenaga Hamsad berusaha melepaskan, menarik tangan itu dan membuangnya ke sembarang tempat. Napasnya terengah-engah. Wajahnya berdarah karena kuku yang mencengkeramnya. Gerakan potongan tangan Kismi yang di luar dugaan itu membuat Hamsad menjadi panik dan sangat tegang. Matanya membelalak lebar penuh rasa takut. Ia memandang potongan tangan yang tergeletak jatuh di sofa, dekat dengan majalah. Hamsad melangkah mundur perlahan-lahan mengitari meja.
Pada saat itu, ia melihat jelas jari tengah dan jari telunjuk tangan itu bergerak-gerak, bagai merayap. Kemudian, melompat ke meja kaca. Sekali lagi jantung Hamsad nyaris berhenti melihat gerakan tangan yang mengerikan itu. Ia bagai susah menelan air ludahnya sendiri. Kakinya gemetar dan keringat dinginnya mengucur seketika. Desakan rasa takut itu membuat Hamsad bergegas untuk melarikan diri. Ia segera melompat dan berlari ke arah pintu keluar.
Plokkk...! Tiba-tiba potongan tangan itu melesat dan menempel pada leher belakang Hamsad.
"Aaah... hah...! Hiiih...!" Hamsad meronta-ronta, berjingkrak-jingkrak ketakutan dengan tubuh semakin merinding. Kuku pada potongan tangan itu terasa menggores perih di kulit lehernya, seakan hendak mencekik dari belakang.
Dengan sekuat tenaga Hamsad menarik tangan itu dan membuangnya ke arah pintu. Namun, kali ini tangan tersebut tidak mau terlepas dari genggaman Hamsad. Tangan itu justru menggenggam tangan Hamsad kuat-kuat, bagai berpegangan. Celaka!
Hamsad mengibas-ngibaskan dengan gerakan cepat, tetapi tangan itu masih lengket pada tangan Hamsad. Lalu. dengan menggunakan tangan kanannya, Hamsad menarik punggung potongan tangan yang masih berlumur tanah itu. Ia berhasil, dan membuangnya ke arah pintu.
Plokkk...! Tangan itu jatuh ke lantai. Mata Hamsad masih mendelik memandanginya penuh rasa takut dan jijik. Potongan tangan itu bergerak-gerak jarinya, kemudian bagai sebuah mainan ia mampu melarikan diri dengan menggunakan jari-jemarinya itu. Hamsad segera melompat ke ruang tidur menghindari kejaran potongan tangan tersebut. Gerakannya begitu cepat, sehingga sewaktu Hamsad hendak haik ke atas ranjang, benda menjijikkan itu berhasil melompat dan mencengkeram betis Hamsad.
"Waaaow...!" Hamsad memekik ketakutan. Potongan tangan itu bagai menempel pada celana Hamsad, dan ketika hendak dipegang, ia bisa bergerak naik ke paha dengan cepat, lalu merambat merambat terus ke punggung.
Hamsad kebingungan untuk memegang potongan tangan itu. Ia berguling-gulingan sambil berteriak ketakutan. Potongan tangan itu tidak mau terlepas. Kini justru merayap sampai ke leher samping dan mencengkeram lagi.
"Setaaan...! Hhhah...!" Dengan menggunakan kedua tangan, Hamsad berhasil lagi menarik potongan tangan Kismi itu dan membuangnya ke arah dinding, bagai dibenturkan dengan keras.
Semakin panik Hamsad menghadapi hal itu, semakin ngeri ia melihat tangan tersebut tidak jatuh ke lantai, melainkan mampu merayap di dinding seperti seekor cicak. Darah bekas potongan tangan menetes ke sana-sini. Sungguh mengerikan. Jari-jemari tangan yang sebenarnya lentik dan indah itu kali ini bergerak-gerak lagi, bagai merayap di permukaan dinding. Hamsad buru-buru masuk ke kamar mandi, dan mengunci pintunya.
"Oh...! Oooh...!" Ia terengah-engah diteror potongan tangan bercincin Zippus itu. Napasnya nyaris habis, tenggorokannya kering, dan badannya lemas. Ia bersandar pada dinding di kamar mandi dalam ketegangan yang mencekam. Sekarang ia merasa aman. Potongan tangan itu tidak dapat masuk ke dalam kamar mandi. Tetapi, sampai kapan ia harus mendekam di kamar mandi?
Tiba-tiba pintu kamar mandi itu diketuk-ketuk dengan lembut. Hamsad tersentak kaget, berdiri dari jongkoknya, dan menjauhi pintu. Ia tidak berani membukakan, bahkan mendekati pintu pun ia tidak berani. Perasaan ngeri membuat jiwanya menjadi kerdil dan ingin menangis karena dongkolnya.
Tok, tok, tok...! Suara pintu diketuk.
Hamsad masih diam, makin tegang, makin menjauh. Ia berdiri di atas closet yang tertutup. Gemetar ketakutan.
"Hamsad...?! Haaam...?!"
"O, itu suara Kismi...!" katanya sambil menghempaskan napas lega. Berulang-ulang Hamsad menghempaskan napas, senang sekali, karena pemilik potongan tangan itu sudah datang. Itu berarti waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Hamsad segera turun dari closet. dan membuka pintu kamar mandi. "Hahhh...!"
Rupanya di luar kamar mandi tidak ada Kismi. Yang ada hanya potongan tangan itu. Dan benda tersebut segera melesat masuk, menerkam kejantanan Hamsad. Nyawa Hamsad bagai melayang ketika itu. Ia memekik kaget, kemudian mengerang kesakitan karena alat kejantanannya diterkam oleh potongan tangan yang ganas itu.
"Oh...! Oooh...! Aaaow...!" Hamsad terhuyung-huyung dengan badan membungkuk. Kedua tangannya memegangi potongan tangan Kismi yang makin lama terasa makin meremas alat kejantanannya itu.
Hamsad meringis kesakitan dengan badan membungkuk, dan kini limbung ke kiri, bersandar pada dinding di depan kamar mandi. Potongan tangan itu bagai sukar ditarik. Dan, apabila ia ditarik, terasa makin kuat cengkramannya. Hal itu membuat Hamsad semakin mengerang kesakitan dengan mata terpejam kuat-kuat.
"Hamsad...?!" sapa sebuah suara di ruang tamu.
"Kismiii...!" teriak Hamsad tertahan karena memendam rasa sakitnya.
Kismi muncul dari ruang tamu ke kamar mandi, dan ia melihat Hamsad kesakitan sambil memegangi alat kejantanannya. "Oh... kau...?!" Kismi terperanjat kaget dengan mulut terbengong.
"Aku menemukan... menemukan potongan tanganmu...! Tapi, tapi dia meremas... aouuuh...!" Hamsad semakin membungkuk dengan kaki merendah karena potongan tangan itu semakin menggenggam alat kejantanannya.
"Lepaskan! Jangan sakiti dia...! " bentak Kismi sambil memandang potongan tangannya.
Beberapa saat kemudian, potongan tangan itu pun mengendur. Hamsad buru-buru menariknya. Sempat terlihat olehnya jari-jemari potongan tangan itu bergerak-gerak, bagai sedang melemaskan otot-ototnya. Hamsad buru-buru melemparkannya, dan potongan tangan itu jatuh di lantai.
Kismi memandang potongan tangannya dengan senyum berseri. Ia buru-buru memeluk Hamsad dan menciuminya. "Oh... kau telah berhasil! Kau berhasil menemukannya, Hamsad...!"
Yang bisa dilakukan Hamsad hanya menyeringai merasakan sisa sakitnya. Tetapi, ia kemudian berkata, "Apa yang harus kulakukan?!"
"Lekas, bawa dia ke tempatku. Cari aku di ruang bawah, dan tempelkan potongan tangan itu pada jasadku, Hamsad...!"
"Aku tidak mau membawanya! Aku tidak mau mati dicekik olehnya, Kismi!"
"Jangan kuatir...!" kemudian Kismi mendekati potongan tangannya yang tergeletak telentang di ranjang. Ia berbicara dengan potongan tangan itu, "Jangan sakiti dia! Dia akan mempertemukan kita!"
jari-jemari yang tadinya diam, kini bergerak-gerak, seakan sebuah anggukan tanda patuh terhadap perintah Kismi. Lalu, Kismi mendekati Hamsad dan berkata, "Bawa mobilmu menuju rumahku. Di sana aku tinggal, di bekas rumah keluargaku yang sudah pindah ke Amsterdam. Ikutilah kunang-kunang, ke mana arahnya, ikuti saja. Nanti kau akan menemukan rumah di sebuah bukit. Rumah itu sudah tak terawat lagi, tapi di sanalah Fitri menyemayamkan aku di dalam kaca...!"
Setelah berkata demikian, Kismi mencium pipi Hamsad. Hamsad sendiri menunduk memperhatikan alat kejantanannya yang dikhawatirkan terluka. Ternyata tidak. Namun, ketika ia memandang ke depan, ternyata Kismi telah tiada.
"Kismiii...?! Kismiii...?!" Hamsad mencoba mencari Kismi, dan wanita yang hadir setiap tengah malam itu memang tidak ada lagi. Tetapi, Hamsad melihat seekor kunang-kunang terbang di sekitar pintu. Hamsad tak tahu persis, apakah kunang-kunang itu jelmaan dari roh Kismi atau bukan, tetapi ia membiarkan kunang-kunang itu keluar melalui celah sempit, dan Hamsad sendiri harus segera mengeluarkan mobil dari garasinya.
Mulanya ia ragu-ragu ketika hendak mengangkat potongan tangan. Tetapi, agaknya potongan tangan itu tidak seganas tadi. Maka, dibungkusnya potongan tangan itu dengan saputangan, kemudian ia pun keluar dari motel dengan mengendarai mobilnya.
Malam bercahaya purnama, sehingga gelap tak terlalu pekat. Kunang-kunang terbang di depan mobil. Gerakannya cepat, seirama dengan gerakan mobil. Sementara itu, saputangan pembungkus potongan tangan Kismi diletakkan di jok samping kiri. Perhatian Hamsad tertuju pada gerakan kunang-kunang penuntun jalan itu.
Ia tidak tahu kalau saputangan itu terbuka sendiri. Kemudian, jari-jemari potongan tangan bercincin itu bergerak-gerak. Kini tengkurap, dan merayap perlahan-lahan. Ciiit...! Mobil nyaris menabrak pohon, karena Hamsad terkejut setelah pahanya terasa dicubit oleh potongan tangan tersebut.
"Brengsek! Kulaporkan kau kepada Kismi kalau menggangguku terus!" geram Hamsad dengan jantung kembali berdebar-debar.
Potongan tangan itu mencolek-colek paha, bahkan kini menggelitik di pinggang Hamsad. Sesekali Hamsad terpekik dan badannya bergerak kegelian, membuat laju mobilnya menjadi limbung.
"Diam! Jangan ganggu aku!" bentak Hamsad memberanikan diri.
Potongan tangan itu melompat ke depan stiran mobil. Hamsad membiarkan, karena potongan tangan itu tidak membuat gerakan yang perlu dikuatirkan. Bahkan, ketika kunang-kunang membelok arah, jari telunjuk dari potongan tangan itu menuding ke arah kiri, seakan memberi tahu agar mobil harus membelok ke arah kiri. Demikian juga jika harus ke arah kanan, jari itu menunjuk arah kanan.
Kemudian, tibalah Hamsad di sebuah perbukitan. Jalanan menanjak, kanan-kirinya kebun teh. Melewati perkebunan itu, ada jalan persimpangan. Jari telunjuk potongan tangan itu menuding ke arah kanan, dan Hamsad membelokkan mobilnya ke kanan. Tak berapa lama, jari tangan itu mengembang semuanya, seakan menyuruh "Stop" pada mobil tersebut.
Cahaya purnama menampakkan sosok rumah kuno yang tinggal reruntuhannya . Menyeramkan sekali. Bentuk bangunannya jelas bangunan zaman Belanda. Bagian atapnya sudah rusak total, dan pada bagian halamannya telah banyak ditumbuhi tanaman liar, termasuk rumput ilalang. Kunang-kunang terbang memasuki rumah yang menyeramkan itu. Hamsad ragu-ragu. Ia berdiri di samping mobil sambil memegangi potongan tangan.
Tiba-tiba, potongan tangan itu bergerak maju sambil memegangi tangan Hamsad, seakan menariknya agar Hamsad segera memasuki rumah kuno tanpa penghuni itu. Langkah kaki Hamsad terasa gemetar. Ia memasuki rumah yang sunyi dan kotor itu. Cahaya pucat rembulan meneranginya. Bahkan ada lantai yang longsor ke bawah, menuju ruang bawah. Potongan tangan dan kunang-kunang menunjukkan jalan menuju lantai bawah, melalui tangga batu di balik sebuah dinding kamar.
Debar-debar di dalam dada Hamsad makin bergemuruh. Ia tetap mengikuti penunjuk jalannya yang setia. Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah peti kaca seukuran tubuh manusia. Hamsad terhenyak kaget ketika menegaskan penglihatannya, bahwa ternyata di dalam kotak kaca yang mirip akuarium itu terdapat tubuh Kismi yang terbaring dengan tangan kanan terpotong.
Kismi mengenakan gaun putih transparan yang sering dikenakan berkunjung ke kamar motel. Lebih terkejut lagi Hamsad setelah ruangan itu menjadi terang, ada cahaya api yang datang dari arah belakangnya. Ia buru-buru berpaling. Oh, ternyata Fitri memegangi obor sebagai penerangnya. Hamsad semakin gemetar, karena Fitri yang mampu menembus daun pintu bagaikan asap itu, kini terlihat jauh lebih tua. Usianya mungkin lebih dari 100 tahun. Kulitnya sangat keriput dengan rambut rontok berwarna putih.  
"Jangan takut, Tuan. Saya tidak akan berbuat jahat...! Lakukanlah apa yang harus Tuan lakukan," kata Fitri yang kini mempunyai sepasang mata cekung, jauh dari bayangan Hamsad saat menggumulinya tempo hari.
Kemudian, Hamsad membuka tutup kotak kaca itu dengan gemetar. Napasnya tertahan, sesekali tersendat-sendat. Pelan-pelan ia letakkan potongan tangan itu ke lengan kanan tubuh Kismi.
Suatu keajaiban membelalakkan mata Hamsad, sambungan pada potongan tangan dengan lengan Kismi itu membentuk satu cahaya hijau muda. Hijau kekuning-kuningan, mirip cahaya fosfor. Cahaya itu berpijar-pijar sejenak, kemudian redup. Dan, kini menjadi hilang sama sekali. Obor yang dibawa Fitri mendekat. Mereka memandang potongan tangan bercincin Zippus itu, dan ternyata pada sambungan tersebut tidak terlihat ada bekas luka sedikit pun.
"Ia telah pulih kembali , Tuan," bisik Fitri.
Hamsad terhentak lagi ketika mata Kismi yang terpejam itu terbuka, berkedip-kedip sejenak, kemudian tersenyum memandang Hamsad. "Jangan takut, Hamsad. Aku Kismi! Aku telah hidup kembali!" seraya Kismi mengusap-usap pergelangan tangannya yang semula buntung itu.
"Kau... kau benar-benar hidup...?!"
Kismi mengangguk, keluar dari kotak kaca, mendekati Hamsad, kemudian Hamsad meraba pelan-pelan wajah Kismi. Terasa hangat. Lalu, Kismi berkata lirih, "Kau berhak memiliki aku, Hamsad...!"
Mata Hamsad berkaca-kaca karena terharu, kemudian tanpa ragu lagi ia memeluk Kismi erat-erat, seakan tak ingin berpisah dengan Kismi selama-lamanya. Kismi pun menyambut pelukan itu dengan perasaan bahagia yang mengharu. Ia sempat meneteskan air mata, dan Hamsad mengusapnya sambil berkata, "Jangan teteskan air mata. Aku tak ingin kehilangan kau, walau hanya setetes air matamu. Aku tak ingin, Kismi...!"
"Ohhh, Hamsad...! Aku kagum pada tekadmu! Aku juga tidak ingin kehilangan kau...! Tapi..."
"Tapi, apa, Sayang?"
"Tapi ada satu risiko jika kau memperistri aku, Hamsad."
"Risiko apa?"
"Aku... aku tak akan mempunyai keturunan..." bisik Kismi dengan perasaan sedih.
Hamsad pun berkata lirih sambil menatapnya, "Aku tak mau peduli tentang itu, yang penting kau jadi milikku. Dan... dan kau tak boleh kehilangan apa-apa lagi, Kismi!"
Pelukan itu makin erat. Kemudian, Kismi berkata kepada Fitri, "Terima kasih, Fit. Dampingilah kami dari alammu...!"
Obor pun padam. Ruangan jadi gelap. Kismi berlari-lari membawa keluar Hamsad dari reruntuhan bekas rumahnya. Kemudian, Hamsad bermaksud membawa Kismi kembali ke motel untuk sementara waktu, sampai ditemukan tempat kontrakan yang layak bagi Kismi yang ternyata seorang ilmuwan berotak cerdas. Namun, ketika Kismi hendak naik ke dalam mobil Hamsad, ia jadi terhenti dengan wajah memanja.
"Kenapa...?" tanya Hamsad heran.
"Kiss me...!" katanya seraya menyodorkan pipi, dan Hamsad pun mengecup perlahan bibir itu sambil memeluk erat tubuhnya. "Miliki aku, Ham!" bisik Kismi saat Hamsad berusaha menjilati leher jenjangnya.
Sadar kalau wanita itu menikmatinya, sambil terus melumat, Hamsad segera menyusupkan tangan kanannya ke dalam belahan baju Kismi. Jemarinya meraba dengan lembut gundukan kecil yang berada di balik beha. "Ohh... Hamsad." Kismi mendesah pelan menikmati cumbuannya.
Bibir Hamsad yang sedari tadi mengecup-ngecup leher jenjangnya, kini kembali mengecup mesra bibirnya. Sesaat pandangan mereka beradu, lalu Kismi memejamkan matanya seolah-olah semakin memberikan keleluasaan bagi Hamsad untuk mencumbunya lebih jauh. Dengan jemari tangan masih tetap memilin-milin puting kanan dan kiri Kismi yang kini telah mulai mengeras, Hamsad perlahan mendorong tubuh Kismi hingga tersandar ke pintu mobil.
"Sshh... sshh..." gadis itu mendesis sambil mengatupkan bibirnya menahan rasa nikmat saat Hamsad terus melumat bibirnya penuh nafsu, hingga nafas mereka jadi terengah-engah.
Kini tangan Hamsad bergerak ke atas. Pelan ia mulai melepas satu persatu kancing baju Kismi, juga beha hitam berenda yang melingkupi tonjolan buah dadanya. Mata gadis itu menatapnya, sementara nafasnya terlihat semakin memburu. Saat semuanya sudah terlepas, payudara Kismi yang putih dan mulus pun langsung menyembul keluar. Dua tonjolan bukit indah itu seolah menantang Hamsad untuk mengecupinya. Tanpa membuang waktu, bibirnya pun segera menuju ke sana. Dengan menggunakan lidahnya Hamsad menjilati ujung-ujung puting Kismi bergantian kiri dan kanan.
”Aghh...” Kismi merundukkan kepala memandangi ulah laki-laki itu. Kini tangan Hamsad bergerak turun ke bawah, meraba-raba kedua kulit pahanya yang putih mulus. Tanpa kesulitan berarti, Hamsad berhasil menyibakkan kain dasternya. Kini tangan laki-laki itu bergerak lebih naik lagi hingga terhenti pada bukit pantat Kismi yang bulat sempurna.
"Hmm, G-string?" bisik Hamsad saat mengetahui jenis celana yang dipakai oleh Kismi. Begitu kecilnya celana itu hingga telapak tangan Hamsad bisa dengan bebas menyentuh bongkahan daging padat nan kenyal milik Kismi, sama sekali tak ada yang menghalangi.
”Uhh...” desah Kismi begitu tangan Hamsad beralih ke depan meraba-raba lembut paha mulusnya dan sesaat kemudian telah berada di sekitar bulu-bulu halus kewanitaannya. Tampak celana dalam gadis itu telah membasah oleh cairan nikmatnya, hal itu semakin memacu detak jantung Hamsad.
"Ohh... Hamsad, enak betul!" Kismi bergumam pelan manakala bibir Hamsad semakin bermain di bawah tubuhnya. Laki-laki itu mengecup pelan kulit pahanya sambil perlahan meremas-remas bongkahan pantatnya. Terdengar rintihan halus meluncur dari dalam mulut Kismi, apalagi saat kecupan Hamsad berubah menjadi lumatan halus yang bergerak naik ke atas menelusuri pangkal pahanya, menuju ke satu arah, ke celah kemaluannya yang sudah menganga terbuka dengan lingkaran kecil membasahi sekeliling celana dalamnya.
Ketika bibir Hamsad mencapai lubang kencingnya, kembali Kismi merintih, ”Auhh... hamsad!!” ia mendesis dan menggelinjang merasakan kuluman dan jilatan lidah Hamsad yang menyelip diantara kain g-stringnya. Lidah itu terus bergerak-gerak menyentuh belahan daging rahasi milik Kismi sambil sesekali menjentik-jentikkan kelentitnya yang terasa kaku. Kedua tangan Kismi bergerak meremas-remas rambut Hamsad dan rintihannya berubah menjadi erangan penuh kenikmatan.
Sambil tetap melumati lubang mungil itu, Hamsad membantu Kismi agar tetap berdiri bersandar di pintu mobil. Ia berjongkok di antara kaki gadis itu untuk menciumi lubang kemaluannya yang semakin membasah oleh air liurnya. Paha Kismi bergetar lembut ketika lidah Hamsad semakin menjalar memasuki liang senggamanya. Panas dan basah rasanya lidah itu, meninggalkan jejak sensasi sepanjang perjalanannya. Hamsad mendesah saat hidungnya mencium aroma harum cairan vagina.
Celana dalam Kismi kini telah merosot turun sampai ke lutut hingga terlihat jelas oleh Hamsad gundukan kewanitaannya yang indah, yang berwarna coklat muda kemerahan, kontras dengan warna kulit pahanya yang putih mulus. Kismi menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah Hamsad menusuk kesana, mencucuk-cucuk bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah laki-laki itu menelusuri lepitan-lepitan yang ada di situ, menambah basah segala yang memang telah basah. Terengah-engah, Kismi mencengkeram rambut Hamsad dengan satu tangan, perlahan menekan agar jilatannya bisa lebih terasa. Sementara tangan yang satunya meremas-remas payudaranya sendiri.
Dengan buas Hamsad segera menciuminya, ganas ia berusaha menyelipkan lidah ke sela-sela bibir kewanitaan Kismi yang mulai memerah. Dengan satu tangan ia menguak lebar-lebar bibir basah itu, memperlihatkan liang kemerahan mungil yang berdenyut-denyut cepat, juga sebuah tonjolan kecil di bagian atas yang telah mengeras. Hamsad menyapukan lidahnya kesana, perlahan sekali. Bisa ia rasakan lidahnya mulai menyentuh tonjolan kecil yang ada di sela-sela bibir kewanitaan Kismi. Rakus terus ia jilati bagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan ujung lidahnya, memutar-mutar sambil menggelincirkannya. Setiap kali ia mengecup, tonjolan itu terasa semakin menengang keras. Kismi juga semakin menjerit tertahan sambil mengelinjang-gelinjang liar penuh kenikmatan.
"Enak, Ham... ahh... terus!" gadis itu berteriak-teriak kecil sambil meremas dan menekan-nekan kepala Hamsad lebih dalam lagi ke arah kewanitaannya. Mungkin karena saking gelinya, ia sampai menggeliat mengangkat pantatnya, menyorongkan lebih banyak lagi kewanitaannya ke mulut Hamsad.
Tanpa kenal lelah Hamsad terus menghisap-hisap tonjolan mungil yang seperti bersembunyi di balik bungkus kenyalnya yang membasah itu. Tubuh Kismi berguncang di setiap hisapannya, sementara dari mulut gadis itu tak henti-henti keluar erangan dan desisan yang sungguh sangat membangkitkan gairah. Terlebih ketika satu jari Hamsad menerobos liang kewanitaannya, lalu mengurut-urut dinding atasnya, mengirimkan jutaan rasa geli bercampur nikmat ke seluruh tubuh gadis itu. Kedua kaki Kismi yang indah langsung terbuka lebar, terkuak sejauh-jauh mungkin, memberi keleluasaan bagi Hamsad untuk menjelajahi semua bagian kewanitaannya. Semuanya!
Maka iapun segera melakukannya. Hamsad kini tidak hanya menjilat, tapi juga menggigit pelan, memutar-mutarkan lidahnya di dalam liang panas yang membara itu, mendenguskan nafas hangat ke dalamnya, membuat Kismi terguncang-guncang merasakan nikmat yang tiada duanya. Dengan dua jari bermain-main di celah kewanitaan gadis itu, Hamsad menggelitik dan menggosok-gosoknya, menekan dan mengurut-urut kemaluan Kismi hingga cairan hangat yang sudah sejak tadi meleleh keluar, kini jadi semakin memenuhi seluruh rongganya, membasahi bibir dan dagu Hamsad yang masih terus menyusup penuh nikmat disana. Jari-jarinya yang terus bergerak keluar-masuk juga telah membasah, menimbulkan suara kecipak seksi di setiap hentakannya.
”Ahh... ahh...” Kismi menggelinjang, terlihat begitu tidak tahan. Kelihatannya puncak birahi akan segera melanda dirinya sebentar lagi. Matanya terpejam menikmati sensasi yang meletup-letup disana-sini. Mulai dari paha, pinggul, perut, dada, hingga ke kepala. Pokoknya semuanya!
Hingga akhirnya kewanitaan gadis itu berdenyut liar bagai memiliki kehidupan sendiri. Warnanya yang merah-basah kontras sekali dengan tubuh Kismi yang putih bak pualam. Dari dekat, denyutan benda itu jadi seperti degup jantung manusia. Begitu hidup dan melenakan. "Ooh... Hamsad, terus... ohh!!" Kismi mengerang dan menggelinjang, berbisik gelisah. Ia benar-benar mati angin, sama sekali tak berdaya.
"Aughh... ohh..." semenit kemudian, tubuhnya yang sintal tiba-tiba terhentak. Kismi mendesah panjang ketika merasakan puncak kenikmatannya yang pertama, sembari tangannya meremas kasar rambut kepala Hamsad.
Laki-laki itu bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Kismi menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Hamsad terpaksa harus memakai seluruh bahu bagian atasnya untuk menekan tubuh Kismi agar tak tergelincir jatuh. Begitu hebat puncak birahi melanda gadis itu, sampai hampir dua menit lamanya Kismi bagai sedang dilanda sakit ayan, terus menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, dan berikutnya hanya bisa terengah-engah. Setelah nafasnya kembali normal, Hamsad berdiri dan memeluknya.
"Hamsad, aku lemes. Kamu memang pintar luar bisaa." Kismi bergumam pelan. Sambil tersenyum, ia kemudian menurunkan tubuhnya dan berjongkok di depan selangkangan Hamsad. Kini ganti Hamsad yang berdiri bersandar di pintu mobil.
Dengan lembut tangan Kismi bergerak membuka ikatan celana laki-laki itu, kemudian resletingnya dan lalu menarik turun celana itu hingga kejantanan Hamsad yang sudah berdiri tegak langsung meloncat keluar. Benda itu tampak siap berperang dengan otot-otot kecil memenuhi sekujur batangnya yang telah benar-benar mengeras bagaikan batu. Kismi nampak gemas sekali saat menyaksikannya. Sambil sesekali mengelus-elus kejantanan itu dengan jemari lentiknya, ia juga menyusupkan jemarinya ke bawah untuk meraup dua bola yang bergelantungan di bawah sana.
"Auhh... sayang, teruskan! Teruskan!" Hamsad mendesah pelan. Kismi terus meremas-remas lembut batang kejantanannya, membelai mesra rambut hitam yang tumbuh tak beraturan di sekitarnya, sambil sesekali memijiti pelan bolanya.
"Ehm, ini yang selalu bikin aku kangen!" bisik Kismi gemas sambil menggeser posisinya semakin mendekat. Lalu tanpa basa-basi, ia tangkap kejantanan Hamsad dengan menggunakan mulutnya. Hap!
”Ahh...” Hamsad langsung tersentak kegelian, tapi segera pula tak berkutik ketika Kismi mulai mengulum dan menghisap. "Nikmat, Sayang... nikmat sekali... terus!!" ia mendesah-desah sambil meremasi rambut gadis itu saat Kismi menggigit lembut ujung penisnya.
Sambil tetap berdiri, Hamsad memperhatikan Kismi yang sekarang jadi seperti bayi yang kelaparan, berusaha memasukkan seluruh batang penisnya ke dalam mulutnya yang mungil. Ah, mana bisa, benda itu terlalu panjang. Terbukti, hanya sepertiga saja yang bisa masuk, namun itu pun juga sudah cukup memberikan kenikmatan maksimal bagi Hamsad. Dengan lidahnya yang gesit, Kismi menyentuh-nyentuh ujung kejantanan laki-laki itu. Setiap sentuhan lidahnya membuat Hamsad tersentak-sentak. Apalagi kemudian lidah itu menjilat-jilat berkeliling, membuat Hamsad jadi bergidik dan bergetar merasakan nikmat yang sungguh luar biasa. Sambil terus menghisap, Kismi juga meremas-remas lembut kantong menggantung yang ada di pangkal penis Hamsad. Pelan-pelan ia meremas, membuat Hamsad jadi seperti dilambungkan ke awang-awang.
”Ahh... ahh...” ia menggeliat-geliat saat merasakan tubuh bagian bawahnya seperti dipenuhi air yang mencari jalan keluar, bercampur geli yang menyebar ke seluruh tubuhnya, juga rasa gatal yang tidak akan hilang hanya dengan digaruk.
Kismi yang tahu kalau Hamsad sebentar lagi akan mencapai klimaks, segera memperkuat sedotannya. Penuh semangat ia memaju-mundurkan kepalanya hingga membuat kejantanan Hamsad keluar-masuk di dalam mulutnya dengan suara berdecap-decap. Hamsad sendiri memejamkan matanya kuat-kuat, nafasnya jadi menderu-deru seperti kerbau. Seluruh otot-otot di tubuhnya menegang, bersiap untuk menyentak keluar air bah panas yang sudah sejak tadi ia tahan-tahan. Tetapi... nanti dulu. Sebelum itu semua terjadi, Hamsad buru-buru menarik pinggulnya hingga hisapan Kismi jadi terlepas.
”Kenapa, Ham?” tanya Kismi heran bercampur terkejut, mengira Hamsad tidak suka dengan jilatannya.
Namun laki-laki itu tersenyum, ia tarik tubuh Kismi berdiri dengan kedua tangannya dan memeluknya mesra. ”Daripada di mulut, lebih baik aku keluarkan disini.” bisik Hamsad sambil menunjuk lubang kemaluan Kismi.
Gadis itu itu tersenyum, ”Kalau begitu lakukan, Ham. Aku sudah siap.” balasnya sambil merebahkan tubuh di atas kap mobil.
Hamsad segera mengarahkan kejantanannya ke arah gerbang kenikmatan wanita cantik itu. Sekali tusuk, kepala kejantanannya berhasil menyentuh bibir kewanitaan Kismi yang siap untuk didobrak. Kedua mata Kismi terbelalak sesaat dan kemudian meredup saat Hamsad mulai mendorong. Belahan pintu gerbangnya mulai terbuka sedikit. Kismi merintih, sementara Hamsad mendorong lagi, kali ini lebih bertenaga. Setengah dari kepala kejantanannya mulai menyelip masuk. Kismi mengimbangi dengan menggelinjangkan pinggulnya yang disambut oleh Hamsad dengan mendorong lebih jauh lagi. Perlahan-lahan kejantanannya melesak masuk, menerobos di antara celah pintu kewanitaan Kismi yang sudah mulai terbuka itu.
Dengan bergelayutan di pinggang Hamsad, Kismi menyilangkan kedua kakinya. Dengan begitu, lubangnya yang telah membasah oleh cairan nikmat segera menelan seluruh kejantanan Hamsad. "Ohh... Hamsad!" ia berteriak lirih seraya menggingit lembut pundak laki-laki itu.
Mereka terlihat begitu menikmatinya. Apalagi saat Hamsad mulai mengayun-ayunkan tubuhnya berusaha memasukkan lebih dalam lagi. "Terus, Ham... terus!" Kismi bergumam sambil meliuk-liukkan pinggangnya. Jepitan bibir kewanitaannya semakin menambah rasa nikmat itu, yang sesekali dibalas oleh Hamsad dengan mengulumi putingnya yang mengeras bagaikan kacang. Hamsad menjilatinya dengan penuh nafsu sampai membuat Kismi mencakari punggungnya karena saking gelinya.
Kini mereka mulai bergoyang berirama. Terasa oleh Hamsad bibir kewanitaan Kismi yang berdenyut-denyut kencang meremasi batang kejantanannya. Dari dalam benda itu meleleh cairan hangat yang semakin memperlancar gerakannya. Kismi memeluk lehernya, mengempit kepala Hamsad di dadanya yang membusung indah. Kedua kakinya yang panjang dan mulus kini melingkari erat pinggang laki-laki itu, membuat kejantanan Hamsad semakin terbenam dalam. Kejantanan itu terasa kenyal dan keras karena memang belum apa-apa. Hamsad belum mencapai klimaksnya, dan Kismi sangat berharap hal itu masih akan lama terjadi karena ia ingin menikmati permainan ini sepuas mungkin.
Dan tampaknya permohonannya itu akan terkabul karena setelah sepuluh menit, bukannya lemas, Hamsad malah mengajak untuk berganti posisi. Dengan kejantanan masih tertancap erat di dalam kewanitaan Kismi, Hamsad menurunkan tubuh gadis itu dari atas kap mobil dan ganti membalikkannya agar sedikit menungging. Kini Kismi berdiri membungkuk menghadap ke arah pintu mobil, membelakangi Hamsad yang masih menusukkan kejantanannya dari arah belakang dan mulai kembali menggoyangnya pelan dengan gerakan maju mundur perlahan-lahan. Tangan laki-laki itu juga meraih ke depan, meremas dan memijit-mijit payudara Kismi yang bergelantungan indah karena dorongan tubuhnya.
Dengan posisi seperti ini, Kismi merasakan kejantanan Hamsad semakin keras menggosok-gosok dinding kewanitaannya. Padahal dinding-dinding itu masih berdenyut bergelora akibat orgasmenya yang pertama. Akibatnya, dengan segera Kismi kembali mengerang-ngerang merasakan kegelian yang amat sangat, bahkan kali ini lebih kuat karena langsung terasa sampai ke tulang sumsumnya. Rasanya, kejantanan Hamsad jadi bertambah panjang saja, menelusup jauh ke dalam tubuhnya, membuat Kismi seperti dirogoh sampai ke ubun-ubunnya.
Sementara Hamsad yang merasakan kenikmatan baru, kini bisa meresapi betapa kewanitaan Kismi seperti hidup dan bergelora. Tidak pasif seperti seonggok daging mentah. Benda itu lebih kuat mencekal, lebih kenyal dan lebih nikmat rasanya daripada milik perempuan-perempuan lain yang pernah tidur dengannya. Nyaman sekali rasanya mengeluar-masukkan penis di liang yang padat kenyal itu. Betul-betul surga baginya.
Dengan penuh nafsu Hamsad terus menghimpit tubuh Kismi dari arah belakang sambil menciumi punggungnya yang putih bersih. Tangannya memeluk tubuh gadis itu sambil jemarinya memilin-milin lembut puting susu Kismi yang bulat memerah. Bagi Kismi, sentuhan-sentuhan itu adalah sentuhan maut. Begitu merangsang dan menggoda nafsu birahinya yang sedang bersiap menjemput orgasme keduanya.
"Auhh... Hamsad, enak sekali." ia mendesah lembut, lalu menggelinjang dan mengerang pelan. Pinggulnya bergoyang-goyang semakin kencang, sementara tangan kirinya berpeganganan pada kaca mobil.  "Ayo, Ham... lebih dalam lagi! Tekan lebih dalam! Ough..." Kismi mengerang-erang lembut sambil tangan kanannya memegang pantat Hamsad agar menusuk lebih kuat lagi.
Peluh di tubuh keduanya sudah bercucuran meski saat itu hawa pegunungan begitu dingin, namun panasnya bara api birahi yang berkobar sanggup menghangatkan arena cinta mereka yang berada di luar ruangan. Sesekali Hamsad menjilati peluh yang menetes di leher dan punggung mulus Kismi, sampai akhirnya ia mengerang pelan tak lama kemudian.
"Ohh... sayang, aku mau keluar!!" jeritnya ketika puncak kenikmatannya sudah hampir tiba.
"Keluarkan di dalam, Ham... tidak apa-apa, aku tidak mungkin hamil." Kismi ikut mendesah-desah penuh kenikmatan.
Hamsad semakin mempercepat gerakannya, nafas mereka semakin menderu sebelum akhirnya air cinta Hamsad meledak di dalam kewanitaan Kismi yang sempit dan legit. "Ohh... sayang, aku keluar." rintihnya.
Tiga detik kemudian, bersamaan dengan orgasme Hamsad yang masih mengucur deras, Kismi ikut berteriak keras. "Auughh... Ham, aku juga enak... aku... oohh!!" jeritnya keras sekali dengan kepala mendongak dan tubuh menggeliat-geliat liar, bahkan sampai hampir lepas dari rangkulan Hamsad.
Klimaks mereka datang dengan hampir bersamaan. Hamsad menggigit lembut leher Kismi sembari memeluk erat tubuh gadis itu, sementara kejantanannya masih tertanam erat di dalam lubang surgawi Kismi yang terus kembang-kempis. Tubuh gadis itu berguncang-guncang dan bergeletar hebat, erangannya kembali memenuhi malam yang sepi itu.
Kismi merasakan seluruh sendinya seperti mau copot akibat orgasmenya yang datang bertubi-tubi dan berkepanjangan. Ia merasa pegal sekaligus nikmat akibat terus-menerus meregang menerima gelitikan nikmat dari Hamsad. Pandangannya kabur karena keringat kini memenuhi seluruh dahi dan matanya, tetapi semua itu semakin menambah kenikmatannya. Memang ia merasa letih, tapi letih karena orgasme adalah letih yang sangat Kismi sukai. Inilah barangkali satu-satunya letih yang ia cari-cari!
Kismi merosot terjerembab, tertelungkup di tanah karena tak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri yang berguncang-guncang. Dengan suara Plop! Kejantanan Hamsad tercerabut dari liang kewanitaannya. Cairan cinta mereka berleleran di sela-sela paha, cepat-cepat Kismi menghapusnya dengan baju miliknya yang tergeletak di sebelahnya. Tubuh mulus Kismi yang telungkup tampak seksi sekali. Hamsad segera mengusap-usap buah pantatnya yang menonjol padat, seakan-akan sedang berusaha menenangkan wanita yang sedang terguncang oleh klimaks itu. Nafas mereka masih tersengal-sengal dengan tubuh sama-sama terkulai lemas bermandikan keringat.
”Ahh... nikmat dan melelahkan sekali permainan cinta kali ini.” gumam Kismi sambil membalikkan tubuhnya dengan lunglai. Dipandanginya Hamsad yang masih berlutut dengan kejatanannya yang mulai melemas pelan.
”Tapi kamu masih mau kan mengulanginya lagi?” goda laki-laki itu.
Kismi tersenyum, ”Kenapa tidak?”
Dan mereka pun kembali berpelukan.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar