Jumat, 21 April 2017

Duka Tak Bertepi 1



Catatan : Ini adalah sekuel dari cerita berjudul Kenangan Hitam Masa Lalu.

Genap seribu hari pasca kematian Pak Camat. Suasana kompleks benar-benar berubah total. Peristiwa tragis dan dramatis itu pun sudah dilupakan. Termasuk Gatot yang semakin bahagia hidup bersama Aisyah serta balita kembar berumur tiga tahun. Aisyah masih tetap mengajar. Tiap hari Gatot mengantar jemput istrinya. Berkat modal yang dulu diberikan Aisyah, kini Gatot mampu membeli mobil baru. Toko klontong berubah jadi minimarket. Bengkel motor berkembang menjadi dealer besar. Dan Gatot tidak pernah bisa seratus persen melupakan Murti. Terlebih sekarang mereka menempati bekas rumah Pak Camat yang dibeli Aisyah. Rumah penuh kenangan bagi Gatot.
“Mas, tiba-tiba saja aku rindu Bu Murti.” kata Aisyah pada suatu hari.
“Aisyah, kita sama-sama merindukan dia. Entah di mana keberadaannya saat ini.” jawab Gatot.

“Bu Murti sengaja memutuskan hubungan dengan kita, Mas. Dia mengganti nomor HP.”
“Biarlah. Yang penting saat ini anak-anak kita, Aisyah. Aku kadang kasihan padamu.” Gatot memperhatikan bayi kembarnya yang nenen bergantian kepada Aisyah.
“Aisyah ikhlas, Mas. Mau gimana lagi kalau Galang dan Gilang sama-sama pengen nyusu.”
Gatot menghela napas dan membelai kepala mungil Aisyah yang dalam pandangannya semakin hari semakin tampak jelita. Dalam diam Gatot teringat pada wanita-wanita yang pernah singgah di kehidupannya pada masa lalu. Begitu banyak persamaan antara Aisyah dan Zulaikha, istri pertamanya. Mungkin Zulaikha sudah menikah lagi.
“Aisyah, coba lihat iklan di TV.” kata Gatot.
“Iya, aku sudah lihat kok. Kenapa, Mas?” tanya Aisyah.
“Bukankah itu Murti?”
“Mas Gatot ketinggalan gosip. Itu namanya Miranda, Mas. Kok bisa-bisanya Mas samakan Miranda dengan Bu Murti.”
Gatot termangu. Bintang iklan sabun mandi yang tayang di TV itu sangat mirip dengan Murti. Tetapi Aisyah bilang namanya Miranda. Ia mengenal Murti lebih dari siapapun. Jelas-jelas model iklan itu adalah Murti. Tahi lalat di punggung Murti sama persis dengan tahi lalat model bernama Miranda itu. Hanya sedikit orang yang tahu letak tahi lalat di punggung Murti. Ia termasuk salah satu dari empat orang yang hapal seluk beluk tubuh Murti.
“Kok malah ngelamun, Mas? Si Galang mulai bandel.”
“Serahkan padaku. Biar kuajak jalan-jalan sore.”
Gatot mengambil alih Galang dari gendongan Aisyah sementara Gilang masih betah menyusu. Hal itulah yang sering membuat Gatot iba karena tiap hari Aisyah harus menyusui kedua putra mereka secara bersamaan. Ia membawa Galang keluar rumah dan berjalan-jalan di sekitar kompleks. Banyak warga yang juga menghabiskan waktu sore dengan jalan-jalan. Gatot tidak lagi ditakuti. Tapi Gatot tetap disegani.
“Mana istrimu, Tot?” tanya seseorang yang sedang membetulkan pagar.
“Ada di rumah, Pak. Sibuk ngurus si Gilang.” jawab Gatot.
“Bapak lihat kalian betah menempati rumah Pak Camat. Tidak pernah terjadi apa-apa kan, Tot?”
“Tidak kok, Pak. Kami sekeluarga aman tinggal di sana. Kami tidak pernah berpikir macam-macam.”
“Bukannya begitu, Tot. Bagaimana pun Pak Camat kan bunuh diri di rumah itu.”
Gatot cuma manggut-manggut. Bukan hanya Pak RT yang berkata begitu. Mayoritas warga kompleks sering menanyakan hal-hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Ada yang bertanya apakah arwah Pak Camat masih gentayangan di sekitar rumah. Ada yang bilang pernah melihat penampakan sosok putih berseliweran di halaman rumah. Bahkan ada yang terang-terangan mengaku menyaksikan Pak Camat duduk di kursi teras.
Sebenarnya Gatot juga mengakui kehidupannya bersama Aisyah di rumah itu tidaklah seratus persen nyaman. Pada waktu-waktu tertentu memang terjadi keanehan. Terutama dulu semasa Galang dan Gilang masih berupa bayi merah, seringkali dua anak kembarnya itu tiba-tiba menangis keras. Menurut orang-orang sepuh, tangisan bayi mengandung arti bahwa sang bayi melihat sesuatu yang tak mampu dilihat oleh orang dewasa biasa.
Tapi ia dan Aisyah adalah orang yang beragama. Semua kejadian dan semua peristiwa adalah ciptaan Zat Yang Maha Kuasa. Manusia hanya menjalani hidup, sementara Tuhan yang menentukan kehidupan di seluruh semesta.
Sore mulai beranjak mendekati petang. Pancaran jingga merona di batas cakrawala senja. Remang membayang. Galang sudah tenang di gendongannya. Gatot memutuskan untuk kembali ke rumah.
Baru saja senja berakhir. Rembulan mulai muncul dibingkai angkasa bertabur bintang. Awal malam yang cerah. Tapi tak cukup mencerahkan suasana hati Aisyah. Sepanjang petang, wajah jelitanya bermuram durja. Tiada senyum apalagi tawa. Yang ada hanya guratan gelisah membayangi sorot mata lelah. Jelas ada masalah meski coba disamarkan. Perlahan dia menutup tirai jendela kamar. Lalu berjalan mondar-mandir sebelum kemudian duduk di tepi pembaringan.
Keraguan terus menyelimuti. Penyebabnya sepucuk surat undangan yang dia terima kemarin. Jika itu cuma undangan biasa tentu tak akan ada masalah. Tetapi surat itu datang dari seseorang yang luar biasa. Reihan, pria masa lalu yang kembali hadir di masa kini. Pria yang sempat singgah di relung hati jauh sebelum dirinya mengenal Gatot. Pria yang menemaninya melalui semua masa remaja dengan warna-warni cinta. Pria yang diam-diam masih sering ia hadirkan dalam mimpi. Dan sekarang ia tak perlu lagi bermimpi karena pria itu telah kembali ke kota ini.
“Penuhi undangannya, Aisyah. Dia ingin bertemu denganmu.” kata Gatot.
“Tapi aku punya suami. Aku tidak boleh membiarkan lelaki selain suamiku ingin bertatap muka denganku.” Aisyah membantah.
“Aisyah. Aku sangat percaya kamu istri terbaik bagiku. Aku memberimu ijin pergi bertemu si Reihan itu.”
“Bagaimana dengan anak-anak?”
“Aku bisa menjaga mereka. Pergilah, Aisyah.”
Aisyah bangkit berdiri. Gatot membantu istrinya berganti pakaian. Sungguh halus dan bening kulit yang tiap hari tersiram air wudhu itu. Wanita yang sangat sempurna. Gatot sadar Aisyah berada dalam dilema. Istrinya itu di satu sisi tak bisa menyembunyikan keinginan untuk bertemu Reihan dan di sisi lain ingin tetap menjadi istri yang tak ingin mengecewakan suami. Aisyah terlalu lama terkurung di dalam kehidupan rumah tangga. Aisyah nyaris tak pernah berada di dunia luar. Kini wanita yang masih muda itu ingin bertemu pria masa lalu. Gatot tak berniat menghalangi. Ia melepas kepergian Aisyah dengan ciuman kasih sayang.
Di permulaan malam, Aisyah larut dalam perjalanan yang penuh kenangan. Di sepanjang jalan banyak sekali jejak-jejak langkah dan jejak kisah yang tertinggal. Jalan ini adalah jalan yang sempat dijadikan jalur impian. Saling bergandengan tangan dan bersenda gurau penuh keceriaan. Semua saat masih ada Reihan yang mampu memberi warna kehidupan. Namun Reihan tak mampu menjaga warna itu tetap cemerlang.
Setelah tiga tahun menjalani jalinan, ia harus menerima kenyataan Reihan pergi dan menghilang tanpa pesan, tanpa pertanda, dan tanpa senyuman. Dan kini setelah delapan tahun menghilang, Reihan kembali pulang. Ada perasaan bersalah kepada Gatot. Ada perasaan berdosa karena sebagai istri tak seharusnya ia membiarkan lelaki lain bisa dengan mudah mengundangnya makan malam.
Tiba-tiba Aisyah memutar balik mobil. Tak boleh aku melakukan kebodohan ini, gumamnya dalam hati yang diliputi penyesalan. Aisyah tidak bisa menghapus perasaan bersalah dan berdosa yang membuatnya memutuskan untuk kembali pulang. Ia ingin cepat-cepat memeluk dan meminta maaf pada Gatot. Ia ingin segera menggendong dua buah hati yang sangat membutuhkan perhatian seorang ibu. Ya, dirinya adalah istri dari seorang suami dan ibu dari dua orang anak. Itulah kehidupannya saat ini.
“Mas! Mas Gatot! Buka pintunya!”
Gatot yang terkantuk-kantuk menunggui dua putranya sontak dikagetkan suara gedoran pintu yang membuatnya segera bergegas karena tahu siapa yang datang. Begitu pintu terbuka, sesosok tubuh mungil langsung menubruk dan memeluknya kuat-kuat. Gatot menarik napas lega dan membawa Aisyah ke dalam. Tangisan sang istri adalah nyanyian paling merdu yang bersenandung. Aisyah semakin luruh dan jatuh. Gatot menahan tubuh istrinya agar tidak sampai berlutut. Dengan lembut tapi bertenaga ia mengangkat Aisyah berdiri.
“Maafkan aku, Mas. Maafkan istrimu ini,” Aisyah masih sesenggukan, membuat Gatot tak urung ikut menangis haru dan bahagia.
“Akulah yang membuat kesalahan, Aisyah. Aku yang tidak mampu memberi kebahagiaan sepenuhnya padamu.”
“Aku bahagia, Mas. Tidak pantas aku membakar hati Mas Gatot.”
“Sudahlah, Aisyah. Kita semua punya masa lalu.”
Semua punya masa lalu. Gatot punya masa lalu. Aisyah punya masa lalu. Dan nyaris tak ada rahasia dalam kehidupan rumah tangga mereka. Satu-satunya rahasia yang sampai kini disembunyikan Gatot adalah peristiwa malam hitam itu. Semua ia lakukan karena terlanjur menyayangi Aisyah dan tak ingin Aisyah pergi dari kehidupannya. Jangan sampai Aisyah tahu siapa pembunuh ayah kandungnya.
Malam larut dalam kemelut. Segala beban yang menggelayut ikut hanyut dalam gelombang cinta yang meleburkan suami istri itu untuk mengisi malam dengan keintiman. Entah siapa yang memulai, mereka sudah berciuman dengan hangat. Aisyah merasakan bibir Gatot bergetar ketika menikmati bibir hangatnya.
"Ayo, Mas. Temani aku malam ini," Aisyah cukup kaget dengan ucapannya sendiri, sejak kapan ia jadi agresif seperti ini.
Mungkin karena pengaruh kepribadian Gatot yang menyenangkan hingga membuatnya jadi ingin membalas kebaikan laki-laki itu. Aisyah akhirnya tak peduli, yang penting ia bisa menikmati dingin malam ini dengan suami tercinta di rumah mereka yang sepi dan besar.
Gatot hanya menatapnya sambil tersenyum, lalu kembali melumat bibir tipis Aisyah. Ciuman mereka sangat panjang dan indah. Gatot menikmati betapa bibir Aisyah seperti melumer di mulutnya. Mereka saling menghisap dan memagut erat, dengan lidah saling bertaut tak terlepaskan. Sungguh ciuman yang sangat halus dan teramat nikmat.
Aisyah merasakan ada sesuatu yang mulai merambat di tubuhnya, disusul kemudian remasan halus di buah dadanya. Dia tahu itu adalah Gatot, jadi dia tidak menolak. Dibiarkan lelaki itu terus bermain-main di sana.
Gatot menggeser jilbab lebar yang menutupi leher Aisyah, lalu dia mendaratkan ciumannya ke sana. Dijilatinya leher jenjang sang istri dengan memainkan lidahnya dari atas ke bawah secara berulang-ulang. Aisyah suka dengan rangsangan seperti ini, sensasi gelinya membuatnya jadi cepat terangsang.
"Ahh..." hanya itu yang keluar dari mulut Aisyah.
Tangan Gatot kembali meremas-remas dada Aisyah yang masih ditutupi oleh gaun. Dan perempuan itu tak kuasa untuk tidak mendesah kala ciuman Gatot beralih ke pundaknya yang kini terbuka. Aisyah seperti melayang dibuatnya. Sungguh sangat romantis perlakuan Gatot kepadanya. Sebagai balasan, ia remas-remas rambut laki-laki penuh rasa sayang.
Puas menyerang bibir, leher dan pundak Aisyah, Gatot jadi makin berani. Dia angkat tubuh perempuan itu dan didudukkannya di pinggiran sofa. Diciumnya Aisyah sekali lagi sebelum kemudian tangannya mulai membuka gaun Aisyah secara perlahan-lahan. Diturunkannya resleting yang ada di bagian depan, sehinga dada Aisyah pun langsung terpampang jelas. Nampak bra perempuan itu seperti kekecilan menampung ukuran payudaranya yang membengkak lumayan besar karena berisi air susu.
Gatot juga mulai melepaskan semua bajunya hingga yang tersisa hanya celana dalam saja. Aisyah bergidik saat melihat penis suaminya yang membayang di balik celana dalam. Ukurannya begitu besar, juga panjang, hingga selalu sanggup memuaskan segala gairahnya.
Bayangan itu membuat Aisyah tak sadar kalau bra-nya kini sudah dilepas oleh Gatot. Sekarang dadanya benar-benar telanjang bulat. Ia bergidik begitu merasakan hembusan angin menerpa bulatan yang padat berisi tersebut. Ada perasaan bangga ketika mengetahui Gatot menatapnya takjub.
Aisyah dapat melihat laki-laki itu menelan air liurnya sendiri. Tak heran, karena payudara Aisyah memang berubah menjadi begitu besar, putih, dan mulus dengan bentuk sangat sempurna. Putingnya yang berwarna coklat kemerah-merahan semakin menambah kesintalan dada itu. Apalagi dengan air susu yang terus merembes keluar dari ujungnya, membuat semua orang jadi ingin menghisap dan menikmatinya. Begitu juga dengan Gatot.
"Indah sekali, Aisy," ujar Gatot kagum, setelah lama hanya memandangi saja.
Dia mulai meremas-remas lagi dada Aisyah untuk merasakan kelembutannya. Diremasnya benda kenyal itu. Dipelintirnya puting Aisyah dengan ujung jari, hingga membuat perempuan itu hanya bisa memejamkan mata karena begitu bernafsu. Napas Aisyah sudah memburu dan Gatot mulai merasakan bagian selangkangan istrinya juga mulai basah. Apalagi saat ibu jari dan telunjuknya memainkan puting Aisyah yang sudah semakin mengeras tajam.
”Ahh...” Aisyah melenguh ketika tiba-tiba remasan Gatot berhenti, dan berganti dengan sesuatu yang hangat di sekitar putingnya.
Aisyah membuka mata, tampak Gatot tengah asyik menjilat sambil sesekali menghisap-hisap rakus. Kontan tubuh Aisyah bergetar hebat menahan kenikmatannya. Ada sepercik perasaan liar yang menyerang. Dan Aisyah ingin lebih dari itu. Godaan itu begitu menggebu, hingga tanpa sadar tangan Aisyah memegangi kepala Gatot seolah-olah membantunya untuk memuaskan dahaga.
“Ayo, Aisy.” Gatot melepaskan kulumannya dan dia merebahkan tubuh montok Aisyah di tengah-tengah sofa. Dibukanya gaun perempuan cantik itu melewati pantat, dan hanya menyisakan celana dalam serta jilbab berwarna biru saja.
Paha mulus Aisyah segera menjadi santapan tangan-tangan nakal Gatot. Ia mengelusnya pelan, meresapi kehalusannya yang mulus bak pualam. Tangan kanan Gatot dengan lincah menyapu setiap bagian paha Aisyah, bahkan sampai ke pangkalnya. Ini membuat syaraf Aisyah semakin terangsang hebat. Ditambah tangan kiri Gatot yang mulai meremas lagi kedua belah payudaranya, membuat mata Aisyah kembali terpejam rapat dan bibirnya mendesah-desah penuh kenikmatan.
“Auw, Mas!!” Aisyah semakin melayang di awan saat dengan gemas Gatot menghisap kedua putingnya secara bergantian. Rangsangan yang ia terima benar-benar begitu dahsyat, hingga Aisyah jadi tak kuat lagi untuk menahan. Harus diakui, Gatot memang sangat pandai mengobarkan birahi perempuan. Jilatan demi jilatan lidahnya benar-benar membuat Aisyah terbakar hebat.
Perempuan itu membuka mata untuk melihat bagaimana Gatot menjelajahi setiap lekuk tubuhnya. Aisyah menjerit ketika tiba-tiba ia dikagetkan oleh sesuatu yang menyentuh selangkangannya, tepat di bagian liang vaginanya. Tanpa sadar Aisyah jadi mendesah panjang.
”Aughhh... ahh... ahh...”
Rupanya Gatot sudah membuka celana dalam Aisyah, satu-satunya kain penutup terakhir yang tersisa selain jilbab berwarna biru muda. Aisyah merasa sangat malu sekali bertelanjang bulat seperti itu. Tapi perasaan risih itu lekas ia tepis karena di depannya kini adalah Gatot, suami yang sangat ia cintai. Keinginan untuk mengabdi mengalahkan semuanya. Dengan ikhlas dibiarkannya Gatot mengelus-elus liang vaginanya yang sudah basah. Otot vagina Aisyah bergetar manakala sang sumi menggosok-gosokkan jarinya disana. Sementara itu, Gatot juga masih terus menjilati puting susu Aisyah yang sudah mengeras sebelum akhirnya dia pindah ke selangkangan perempuan cantik itu.
”Ahh...” Aisyah menarik napas dalam-dalam sewaktu lidah Gatot yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh liang vaginanya. Kontan ia bergetar hebat kala lidah itu tepat menyentuh bagian terindah dari tubuhnya. Aisyah bergelonjotan bagai kena setrum. Dan tanpa terasa bibirnya menjerit keras.
"Auw... arghhh!!" ia melolong, dan semakin menggila begitu jilatan Gatot kini naik ke biji klitorisnys. Aisyah tidak sadar mendesah lagi, dan tangannya langsung meremas-remas rambut Gatot, mencoba mengurangi 'penyiksaan' ini.
Gatot yang cukup mengerti keadaan Aisyah, menghentikan oralnya sejenak. Dilepaskannya biji klitoris Aisyah yang sudah membengkak parah, dan kembali menyerang dada sang istri. Sambil meremas-remas dan memilin-milin putingnya, Gatot juga mencium bibir, leher dan hidung Aisyah, lalu kembali lagi ke dada. Gatot sangat menyukai benda kenyal itu.
Sembari menyerang dada Aisyah, perlahan tangan Gatot kembali beralih ke vagina sang istri. Selangkangan Aisyah terasa semakin membanjir saja begitu jari-jarinya mengorek-ngorek lubang itu. Satu jari tangan Gatot masuk semakin dalam ke rongga memek Aisyah yang baru melahirkan, lalu ditariknya keluar-masuk secara lembut dan perlahan-lahan.
“Auwh... Mas!!” Aisyah menjerit. Sumpah ia begitu menyukai perlakuan sang suami.
Dan itu masih ditambah dengan Gatot yang sekarang kembali menunduk. Lagi-lagi liang senggama Aisyah menjadi persinggahan mulutnya. Bibir itu kadang menghisap dan kadang meniupkan angin sehingga menimbulkan sensasi luar biasa bagi Aisyah. Gatot benar-benar jago memainkan lidahnya, benar-benar bikin Aisyah merem-melek keenakan.
Tiada bosan-bosannya Gatot memelintir-lintir klitoris Aisyah memakai bibirnya. Aisyah jadi seperti kesetrum saking tidak tahannya, tapi Gatot malah terus-terusan melintirkacang mungil’ itu. Jilatannya menyapu tiap bagian vagina Aisyah. Sambil mengoral, tangan Gatot juga tak pernah berhenti meremas-remas paha dan pantat sang istri. Bahkan tangannya sesekali menjulur ke atas untuk kembali meremas-remas puting dada Aisyah yang semakin mencuat tegak.
“Ahh... Mas!! Augh... aku... ahh... ahh...” Aisyah sudah sangat keringetan, ini adalah oral terpanjang dan terindah yang pernah ia dapat dari Gatot. Ia sudah tidak tahu bagaimana harus menanggapi, yang jelas matanya sekarang menjadi buram, semuanya serasa berputar-putar.
Badan Aisyah lemas dan nafasnya semakin memburu. Ia benar-benar pusing. Terus Aisyah memejamkan mata, sampai akhirnya ia rasakan mulai ada lonjakan-lonjakan nikmat di badannya yang semok; mulai dari selangkangan, lalu naik ke pinggul, ke dada, hingga akhirnya membuatnya kejang-kejang tanpa bisa dikendalikan.
Perempuan itu orgasme.
“Aarrghhhhh...!!” desahan panjang meluncur dari bibir tipis Aisyah bersamaan dengan mengucurnya cairan cinta yang mengalir deras membasahi selangkangannya. Cairan bening itu membasahi mulut Gatot.
Gatot segera melepaskan hisapannya.  Dibukanya paha Aisyah lebar-lebar sehingga cairan itu mengalir dengan sendirinya, menetes ke bawah membasahi lantai.
“Ahh... hhh... hhh...” Aisyah terengah-engah menatap langit-langit kamar, sungguh nikmat sekali permainan Gatot di selangkangannya. Bodoh kalau ia sampai meninggalkan Gatot demi laki-laki lain.
Aisyah menatap sang suami, dilihatnya muka Gatot sudah sangat memerah. Pasti dia sudah sangat bernafsu sekali melihat kondisi tubuhnya sekarang. Dan satu yang pasti, Gatot sudah ingin merasakan jepitan vagina Aisyah di batang penisnya.
Tapi itu sepertinya harus ditunda karena tiba-tiba saja terdengar suara tangis bayi dari dalam kamar. Bayi mereka bangun. Gatot tersenyum kecewa, sementara Aisyah tampak bingung. Siapa yang harus ia dahulukan?
“Pergilah,” kata Gatot.
“Bagaimana dengan Mas?” malu-malu Aisyah memandangi batang penis Gatot yang sudah mengeras tajam.
“Aku tidak apa-apa, anak kita lebih membutuhkanmu.”
Tidak ingin dibantah lagi, Gatot segera berdiri untuk mengambilkan handuk bagi Aisyah. Ia juga memberi istrinya itu air putih untuk mengisi kerongkongan Aisyah yang terasa mengering akibat terus berteriak-teriak dari tadi.
Aisyah jadi makin kagum dibuatnya. Gatot sudah memberikan kenikmatan kepadanya, dan kini tidak memaksa untuk dilayani. Sungguh gentleman sikapnya. Aisyah jadi semakin menyukainya. Dalam hati ia berjanji akan membalas perlakuan Gatot dengan mengabdikan diri secara tulus dan murni, ikhlas dunia akhirat.

2 komentar:

  1. Ini cerita favorit gue min..thanks ya..kl bisa ada chapter ttg aisyah ma pria lain tau ma mertua gitcuu

    BalasHapus
  2. Siip sekuel yang kutunggu nongol juga coy

    BalasHapus