Rabu, 05 April 2017

Kisah di Sebuah Pondok Pesantren



Terdengar suara ayam dari pekarangan bagian belakang sebuah pondok pesantren—At-Taqwa namanya—yang mulai berkokok menandakan pagi mulai tiba. Disusul dengan suara adzan subuh dari masjid besar yang merupakan bagian dari bangunan pondok. Pondok pesantren itu berdiri di lereng sebuah bukit yang jauh dari pemukiman warga kampung Mojoasri.
Awalnya pondok pesantren ini hanyalah tempat untuk belajar mengaji yang berupa sebuah gubuk kecil yang dibangun oleh kyai Hasyim. Kyai Hasyim merupakan lelaki berusia 43 tahun dan mempunyai seorang istri serta dua orang anak yang semuanya perempuan.
Kyai Hasyim dulunya seorang napi akibat tuduhan kasus pelecehan seksual terhadap muridnya saat dirinya masih mengajar di sebuah sekolah islam. Karena kasus itu kyai Hasyim menjadi diusir dari tempat tinggalnya hingga dirinya merantau dan sampai ke kampung Mojoasri ini. Istrinya pergi entah kemana sambil membawa dua orang anak hasil dari pernikahan mereka. Tuduhan itu belakangan tidak terbukti karena kyai Hasyim ternyata sengaja difitnah oleh kepala sekolah tersebut yang tidak mau tahtanya akan digantikan oleh kyai Hasyim.

Karena semangat untuk menyebarkan ilmu agama masih besar, maka kyai Hasyim mulai mengajarkan ilmunya ke warga Mojoasri. Awalnya hanya anak kecil saja yang ia ajari. Namun seiring berjalannya waktu, semakin lama tempat itu menjadi semakin ramai, dan akhirnya berkembang menjadi pondok pesantren yang besar dan terkenal di sekitar wilayah desa.
Pondok pesantren itu juga sudah banyak melahirkan ustadz dan ustadzah handal yang sudah malang melintang di dunia tausyiah di negeri ini. Tapi, tak sedikit pula pondok pesantren itu menimbulkan beberapa skandal negatif.
Dari segi positif, pondok ini telah meraih banyak penghargaan dan prestasi hingga tingkat nasional. Kemampuan akademik dan pendidikan yang setara dengan SD, SMP, dan SMA bisa terbilang sangat apik dan kompeten. Tenaga pengajar yang ada sangat berkualitas, bahkan banyak dari lulusan perguruan tinggi islam yang ada di negeri ini.
Hasilnya tak sedikit pula santri dan santriwati yang berprestasi di bidang akademik hingga tausyiah. Oleh sebab itulah banyak orang tua yang sering menitipkan anaknya di pondok pesantren At-Taqwa sejak dini. Seiring semakin banyak anak didiknya yang ada di pondok mayoritas perempuan.
Dan dari segi negatifnya ternyata di balik prestasi dan penghargaan yang dicapai hingga membesarkan nama pondok itu, ada sebuah aib besar yang tersembunyi. Banyak santriwati dan ustadzah yang merelakan tubuh indah di balik pakaian serba tertutup yang selalu mereka kenakan untuk dinikmati oleh pimpinan pondok pesantren, yang tak lain adalah kyai Hasyim.
Bahkan akhir-akhir ini kyai Hasyim memberikan aturan baru terhadap anak didiknya yang ditujukan untuk santriwati, yaitu setelah mereka mengalami mens pertamanya mereka harus memberikan keperawanan mereka kepada kyai Hasyim.
Tentunya aturan ini tidak diketahui oleh para orang tua santriwati dan penduduk sekitar, bahkan para santri dan ustadz lelaki di dalam pondok pesantren juga tidak ada yang mengetahui. Ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun hingga menjadi sebuah kebiasaan.
Pondok pesantren yang harusnya membuat akhlak dan moral menjadi lebih baik, tapi disini menjadi sebuah lembah dosa dan maksiat tersembunyi.
Awal dari sebuah aib itu adalah saat kyai Hasyim yang sedang melakukan pemeriksaan di sekitar pondok pesantren untuk mencari sumber suara aneh yang selalu muncul setiap malam di saat para penghuni pondok sedang beristirahat. Kyai Hasyim mencari dan berhenti di depan sebuah gudang kosong yang digunakan untuk menyimpan alat-alat kepentingan pondok.
Di depan pintu gudang itu kyai Hasyim terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri apakah suara aneh itu benar adanya. Dan dugaannya benar, suara yang ia dengarkan itu berasal dari dalam gudang. Suara yang terdengar seperti desahan orang yang sedang berhubungan badan.

Sementara itu yang terjadi di dalam gudang...
Aaaaah aaaah aaah aaah... ssuudaah, ustaaadz! Ssssh.. berhentiiii! Aaaaaaahh aaah.. Sintaa gak mau!” erang seorang gadis cantik bernama Sinta yang sedang digenjot oleh ustadz Arif dengan posisi tengkurap.
Aaaah.. nikmati saja, sayaang! Uuuuuh, sempitnyaaa... ssssh, ini hadiah dari ustadz, jadi terima saja! Uuuuuhhh uuh ssssh..” celoteh ustadz Arif yang terus memompa vagina anak didiknya.
Yap, itu adalah Sinta, salah satu santriwati yang cantik dan berprestasi di pondok pesantren. Keseharian Sinta yang ceria dan santun membuat para kaum adam semakin terkesima oleh pesonanya. Apalagi dengan jilbab yang selalu menghiasi kepala, membuatnya semakin terlihat anggun. Banyak yang mengidolakan, bahkan banyak yang menjadikan Sinta sebagai bahan onani mereka.
Sedangkan ustadz Arif adalah ustadz yang beruntung karena bisa mengajar di pondok itu. Ia memang sejak awal sudah mengincar tubuh Sinta sebagai pemuas nafsunya. Latar belakang ustadz Arif yang dulunya sering menyetubuhi teman sekampusnya hingga dosen saat ia masih menimba ilmu.
Bahkan ada yang sampai hamil akibat perbuatan ustadz Arif. Dalam dunia seks, ustadz Arif sudah mempunyai banyak pengalaman. Dan setelah berada di dalam pondok pesantren yang merupakan pekerjaannya sekarang, ia rela tidak dibayar untuk dapat mengajar di sana.
Tujuannya adalah tubuh para santriwati dan ustadzah sebagai penggantinya. Dan sekarang Sinta yang menjadi mangsa pertamanya setelah sudah beberapa kali digenjot. Saat keluar dari kamar mandi, Sinta tanpa curiga langsung menuju gudang tempat dia menyerahkan tubuhnya untuk digenjot dimana ustadz Arif sudah menunggu dengan telanjang di dalam. Entah berapa kali Sinta orgasme malam ini setelah memeknya dihajar kontol ustadz Arif.
Memek kamu emang juara, sayaang! Aaaah.. bener-bener bikin ketagihan!” ujar ustadz Arif. Sementara Sinta hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang menjadi pemuas nafsu bejat ustadznya.
Jilbabnya mulai kusut dan basah akibat keringat. Pakaian Sinta sudah tidak tau lagi dimana setelah ustadz Arif melemparkannya menjauh. Dalam kondisi seperti itu Sinta tidak berdaya melawan keperkasaan sang ustadz. Toketnya terayun seirama hentakan sodokan uztadz Arif. Air matanya terus menetes hingga tak kuasa menahan perih.
Di saat sudah kehilangan harapan, tiba-tiba pintu gudang terbuka… brraaaaakkk!!!!
“SETAN LAKNAT! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” kyai Hasyim mendobrak pintu dan memergoki mereka sedang berdoggy ria.
Ustadz Arif pun terkejut melihat kyai Hasyim yang memergoki aksi bejatnya, lantas mencabut kontolnya yang terbenam dari dalam memek gadis jilbab itu. Sementara Sinta lemas terkulai kehabisan tenaga dan berusaha menutupi organ intimnya dari pandangan kyai Hasyim.
Kyai Hasyim yang marah membawa mereka ke ruang pimpinan pondok dan memberikan hukuman kepada ustadz Arif pergi dari pondok pesantren. Sementara Sinta yang menjadi korban dilindungi olehnya karena ia merupakan asset yang bisa dibanggakan.
Sejak kejadian itu hanya Sinta dan kyai Hasyim yang mengetahui malam bejat tersebut. Aib itu aman dirahasiakan oleh mereka berdua. Sinta yang merasa aman sejak selalu diawasi oleh kyai Hasyim kini merasa tenang, namun di sisi lain ia rindu akan kenikmatan saat memeknya dihujani tumbukan kontol ustadz Arif.
Sinta kini telah menjadi seseorang yang haus akan belaian lelaki. Dia telah berubah menjadi seorang yang binal dan nakal di lingkungan pondok. Sayang di kelas maupun di asrama hanya berisi kaum hawa, sulit baginya untuk merasakan kenikmatan yang memuaskan baginya.
Kyai Hasyim yang mengetahui perubahan santriwati kebanggaannya itu mulai menaruh curiga terhadap Sinta. Terlihat olehnya yang sering mendapat laporan dari ustadzah jika Sinta sering tidak fokus saat di kelas. Terlebih ia sering gelisah seakan sedang memikirkan sesuatu.
Kyai Hasyim pun berniat untuk mencari tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Sinta dengan memanggilnya untuk menghadap ke pimpinan. “Ada apa kok kyai manggil saya?” ucap Sinta saat dirinya sudah berada di ruang kyai Hasyim.
Kamu ini kenapa, nduk? Kok aku sering mendapat keluhan kalo kamu sering tidak fokus saat pelajaran. Ada masalah apa lagi?” tanya kyai Hasyim.
Ooooh.. enggak kok, pak kyai. Saya enggak kenapa-napa,” jawab Sinta yang sedikit terkejut.
Apa ada yang berbuat seperti dulu lagi kepada kamu, nduk?” tanya kyai Hasyim.
E-e-enggak, pak kyai. Gak ada yang berbuat itu ke saya,” jawabnya dengan sedikit gugup.
“Lantas apa yang bikin kamu tidak pernah focus? Cerita sama bapak, nduk. Bapak akan bantu kamu.” pak kyai terus merayu Sinta agar menceritakan masalahnya.
Pikiran Sinta pun semakin kalut karena terus didesak untuk menceritakan msalahnya. Dia dengan ragu dan malu berani untuk berterus terang kepada kyai Hasyim. Mmmmh.. saya sebenarnya.. mmmh… saya gini, pak.. mmmh..” jawabnya dengan ragu dan bingung.
Ada apa, nduk?” tanya pak kyai lagi.
Saya malu, pak kyai.. aduh,  gimana yaa..
Ya sudah cerita saja, pak kyai akan mendengarkan.” kata kyai Hasyim.
Jadi gini, pak kyai.. sebenernya saya kepingin digituin lagi, Pak! Ini saya gatel.” Jawab Sinta dengan polos sambil menunjuk ke arah memeknya.
Kyai Hasyim tentu terkejut mendengar perkataan santriwati kebanggaannya ini “Kamu ini ngomong apa, nduk? Itu dosa! Perbuatan setan!” kata kyai Hasyim.
Kyai Hasyim pun memberikan nasihat dan tausyiah kepada Sinta agar jangan memikirkan itu lagi. Selama hampir satu jam memberikan nasihat, tiba-tiba pikiran kyai Hasyim terbayang akan tubuh telanjang Sinta saat pertama ia memergokinya. Entah setan dari negeri mana yang mampu menggoyahkan hati kyai Hasyim.
Kamu coba duduk sebelah bapak sini, nduk.” kata kyai Hasyim.
Sinta pun berpindah ke sofa dan duduk di sebelah kyai Hasyim. Nafsu kyai Hasyim  memuncak setelah melihat gundukan daging di bagian dada Sinta. Dengan cepat dia membuka sarungnya dan mengeluarkan kontolnya yang masih lemas.
Ini, nduk, bapak kasih buat kamu. Tapi jangan bilang ke orang lain ya?kata kyai Hasyim sambil memainkan kontolnya.
I-iya, pak kyai. Saya gak akan bilang-bilang,” jawab Sinta sambil dengan sigap mulai memegangi kontol kyai Hasyim.
Kyai Hasyim yang sudah hampir 20 tahun tidak merasakan kenikmatan duniawi sejak ditinggal oleh istrinya akibat kasusnya terdahulu, kini merasakan kembali sentuhan gadis pada batang kontolnya. Terlebih gadis itu sebaya dengan anak SMA kelas dua. Mengingat Sinta yang masih sangat belia dan umurnya yang masih belasan tahun membuat kyai Hasyim semakin bernafsu.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai kyai di pondok yang ia pimpin. Terlebih Sinta sendiri juga menginginkan untuk digenjot olehnya. Kyai Hasyim sendiri tidak menyangka Sinta berubah menjadi binal.
Memek kamu beneran gatal, nduk?” tanya kyai Hasyim yang mulai meraba paha Sinta yang masih terbalut rok merah panjang.
Hmmmh.. i-iya, pak kyai.” jawab Sinta sambil merem melek menikmati setiap sentuhan pada kulit pahanya.
Kamu mau diapain, nduk, kalo gatel gitu memeknya?” pancing kyai Hasyim.
Dimasukin, pak.. mmmh!” jawab Sinta singkat.
Mau pakai apa masukinnya?” tanya kyai Hasyim lagi.
Pakai titit pak kyai.. mmmh, gelii paakh!” jawab Sinta ketika tangan kyai Hasyim semakin berani menyentuh memeknya dari luar pakaian.
“ini namanyan kontol, nduk, bukan titit. Kamu suka sama kontol, nduk?” tanya kyai Hasyim yang terus memancing birahi gadis jilbab di sampingnya. Sementara Sinta masih aktif terus memainkan kontol kyai Hasyim.
Mmmh.. sukaa, pak, dimasukin kontool.” jawab Sinta.
Kalo suka, cium dong kontol bapak!” kata kyai Hasyim.
Tanpa diperintah dua kali, Sinta menundukkan kepala dan mengarahkan kontol itu ke mulutnya. Awalnya dia hanya menciumi seluruh permukaan kontol kyai Hasyim dari ujung hingga pangkal. Kyai Hasyim menambah dengan menamparkan kontolnya ke wajah imut Sinta.
Emut kontol bapak, nduk.” kata kyai Hasyim dan langsung melesakkan kontolnya ke mulut Sinta. Uuuuuh.. anget banget mulut kamu, nduk! Aaaah..” desah kyai Hasyim yang kelonjotan kontolnya dilahap dengan rakus.
Seakan mendapatkan mainan yang lama tidak ia temukan, Sinta begitu bersemangat menyepong kontol kyai Hasyim. Sementara kyai Hasyim hanya pasrah menikmati servis mulut yang diberikan oleh gadis muda itu.
Pinter nyepong kontol ya kamu, nduk! Hmmmh, bapak sampai keenakan gini.. uuuh uuuh sssh.. iya, sedot gitu, nduk! Aaaaah..” celoteh kyai Hasyim.
Sinta pun tidak mempedulikan ocehan kyai Hasyim yang merasakan kenikmatan di kontolnya. Sambil menikmati batangnya yang keluar masuk di mulut Sinta, tangan kyai Hasyim tak tinggal diam. Ia mulai meraba punggung hingga pantat gadis itu. Bahkan sesekali tangannya meremas toket montok Sinta.
Setelah puas menggenjot mulut, kyai Hasyim lantas melepaskan semua pakaian anak didiknya hingga telanjang, hanya menyisakan jilbab putih di kepala Sinta. Kyai Hasyim terkejut melihat indahnya tubuh remaja yang cantik di hadapannya. Sinta hanya pasrah menantikan serangan yang akan dilancarkan oleh kyai Hasyim terhadap tubuh bugilnya.
Tanpa membuang waktu kyai Hasyim langsung mencium bibir Sinta dengan ganas dan disambut oleh si gadis. Tangan kyai Hasyim seakan tau apa tugasnya dengan langsung meremas toket Sinta yang besar dan putih mulus.
Mmmh mmmh mmmh mmmh..” desah Sinta tertahan.
Puas bertukar ludah, kini ciuman kyai Hasyim mulai menjalar ke permukaan wajah dan bahkan sampai ke leher Sinta yang putih dan jenjangdan masih terbalut jilbab. Bukan hanya ciuman, namun juga jilatan yang diberikan oleh Kyai Hasyim. Sinta kewalahan menerima serbuan laki-laki tua itu.
Setelah meninggalkan banyak bekas merah pada leher Sinta, kini ciuman sang kyai turun hingga ke toket. “Hmmmh.. gelii, paak! Uuuuh, terrruuuus! Enaak! Aaaah..” desah Sinta saat puttingnya dikulum dan ditarik-tarik oleh kyai Hasyim.
Aduh, ini susu besar banget! Bapak bisa muncrat ini kalo dijepit sama susu kamu, nduk! Mmmmh sssslllrp sssllrrp..” celoteh kyai Hasyim.
Sini, saya jepit kontol pak kyai pake susu.” tantang Sinta.
Mendengar itu kyai Hasyim lantas menempatkan kontolnya di belahan toket Sinta. Sinta pun menahan jepitan toketnya dengan kedua tangan, bahkan ekspresinya membuat kyai Hasyim semakin bersemangat menggenjot toket anak didiknya ini. Sesekali Sinta meludahi kontol Kyai Hasyim agar licin dan menambah kenikmatan bagi laki-laki pengasuh pondok itu.
Setelah puas, sasaran berikutnya adalah memek Sinta. Kyai Hasyim memposisikan gadis itu hingga menunging di atas sofa, dan tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu dia langsung menancapkan kontol panjang hitamnya ke memek si gadis.
Aaaaaaaah.. gede banget kontolnya! Aaaaah.. teruus, yang dalaam, paaak! Aaaah enaaak..” erang Sinta.
Mmmmmh.. memang enak memek kamu, nduk. Pantes si Arif ngincar kamu, uuuh..” desah kyai Hasyim. Dia terus menggenjot memek Sinta dengan kencang. Tangannya menjambak rambut Sinta yang tertutup jilbab seakan dia sedang menaiki kuda pacu.
Aaaah.. kontol bapak enaaak! S-saya, uuuuh.. sukaa, paak! Sssssh.. entot saya terus, paak! Ssssh.. hamili Sintaa! Uuuuh..
Sinta yang alim dan sopan telah berubah menjadi remaja yang binal, nakal dan haus akan kenikmatan seks. Sementara kyai Hasyim yang harusnya melindungi anak didiknya kini menjadi liar dalam menggenjot. Keringat mereka mengucur deras, menggambarkan betapa panas permainan yang mereka lakukan.
Sinta yang sudah menahan gelora birahi sejak lama, kini mencapai puncak kenikmatan yang sudah lama ia inginkan. Sssrrr sssssrrr ssssrrr ssssr..” Cairan cintanya menyembur menyirami kontol kyai Hasyim yang tertanam di lorong memeknya.
Aaaahh aaah.. saya sampai, paak! Aaahh capeek.. sssh, enaak bangeet..” desah Sinta sambil tergeletak tak berdaya kehabisan tenaga.
Bapak belum, nduk. Sekarang bapak mau entot kamu lagi,” kata kyai Hasyim yang kini menelentangkan tubuh Sinta di atas sofa dengan kontol yang masih tertancap di dalam memek. Itu membuat kyai Hasyim merasakan kenikmatan seakan seperti dipelintir.
Sinta hanya pasrah ketika memeknya kembali dihujani tumbukan kontol kyai Hasyim. Sementara tangan kyai Hasyim meremasi toketnya yang bergoyang-goyang mengikuti irama genjotan.
Yang keras, pak! Aaaaaah.. kontol bapak gede banget! Mmmmh, nikmat.. uuuuh!” erang Sinta.
Sekitar 10 menit menggenjot memek abg cantik itu, kemudian... “Crooot croooot crooot..” Sperma kyai Hasyim muncrat dengan deras ke rahim Sinta. Aaaaaaah.. bapak hamilin kamu, nduk! Uuuuh uuuh.. nih terima anak bapak!” celoteh kyai Hasyim.
Sinta merasakan ada yang sesuatu yang hangat meluncur di dalam belahan memeknya, dan saat kyai Hasyim mencabut kontolnya, diikuti oleh selarik sperma yang mengalir keluar.
Mereka beristirahat sejenak di ruangan dalam kondisi tetap telanjang bulat. Setelah tenaga mereka pulih, kyai Hasyim kembali menggenjot tubuh Sinta, dan entah berapa kali Sinta mencapai klimaks malam itu. Yang jelas dia sudah menemukan pelampiasan kembali saat memeknya menginginkan kontol.
Dirinya sempat pingsan meladeni nafsu kyai Hasyim. Dan setelah sadar ternyata memek, perut, toket, punggung, wajah, mulut hingga jilbabnya sudah berlumuran sperma kyai Hasyim.

Sementara itu..
Enggak! Ini nggak mungkin! Gak mungkin kyai melakukan itu!ucapnya dalam hati.
Di depan ruangan, tanpa disadari oleh kyai Hasyim maupun Sinta, ternyata ada seseorang yang sedang mengintip kegiatan mereka.

Siapakah yang mengintip itu? Bagaimana kelanjutan kisah Sinta setelah dientot oleh kyai Hasyim? Apakah kyai Hasyim mulai ketagihan dan mencari korban baru?

Tunggu di episode selanjutnya…

5 komentar:

  1. Hahaha...Unik gan,ditunggu kelanjutannya.

    BalasHapus
  2. saya suka, saya suka....banyakin cerita kayak gini

    BalasHapus
  3. aw aw aw aw,
    jgn lama-lama dong kelanjutannya?
    akan ada sex party kah?
    santriwati lain yg binal lg kah?
    ustad dan ustazah yg doyan ngentot?

    BalasHapus
  4. pesantren tuh harusnya korbannya lugu semua... perkosaan gitu... mantab suhu ... lanjutkan...

    BalasHapus
  5. Yang lugu, dibohongin pake dalil atau apa gitu. Wkwk

    BalasHapus