Sabtu, 22 April 2017

Paradiso 11



Fragmen ??
Limbo

“Lama banget, aku udah nunggu kamu dari tadi.” kata Awan.
“Maaf-maaf... hehehe, kamu jadi menunggu lama.” Sheena tersenyum manis, menutup buku sketsanya.
Pemuda itu tiba-tiba muncul di sekrtariat jurnalistik, mengejutkan Sheena yang dari tadi sibuk menggambar komiknya.
Sheena nyengir, sambil membetulkan letak kacamata. “Bentar, ya... beres-beres dulu.”
“Huu... “Awan mendekat, membuka lembaran-lembaran buku sketsa yang dipenuhi gambar komik. Matanya sibuk meneliti gambar dan panel-panel sudah ditebalkan Sheena dengan tinta hitam. “Na, Gambarmu bagus banget, kamu memang hobby gambar ya?”
“Gambar komik, tepatnya.” Lalu Sheena sibuk berceloteh tentang judul-judul komik yang sebagian bahkan tidak diketahui Awan, “Wan, kamu suka komik apa?”
“Golden B-... eh, Conan... Detektif Conan bagus... hehe... "

“Kamu harus baca Adolf-nya Osamu Tezuka, gila keren abis.” Kemudian Sheena kembali berceloteh tentang teknik menggambar, “kalau komik jepang, biasanya kebanyakan pakai transisi aspek ke aspek, Wan...”
Awan cuma manggut-manggut pura-pura mengerti. “Wah, kalau ketemu sama dia, kujamin pasti nyambung obrolan kalian.”
“Siapa? Temenmu? Suka gambar juga? Kenalin, dong.”
“Nggak, ah... nanti kamu malah naksir dia lagi, hehe...”
“Wek, memangnya kenapa kalau aku naksir dia? Kita kan cuma temenan.” Aduh, goblog-nya... aku ngomong apa, sih?
“hehe... i-ya... ya... t-temen, yah... c-cuma temen... ya... he... hehe...” Awan menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal.
Sejenak keduanya sama-sama tersenyum garing, Sementara di luar, mendung yang menggantung sedari pagi perlahan menetas jadi gerimis tipis.

***

Sepasang remaja itu kini melangkah buru-buru, menghindari rintik gerimis yang perlahan turun membasahi halaman sekolah.
Sheena berjalan agak rikuh, salah tingkah karena Awan memayunginya dengan tangan. Meskipun tidak bisa mencegah kepalanya basah, tapi tak ayal Sheena senyum-senyum juga dibuatnya.
“Eh, Na... ntar malam kamu ada acara nggak?”
“Nggak ada, kenapa?”
“Sudah pernah nyobain parfait?” Awan tiba-tiba berkata saat mereka sampai di tempat parkir.
“Hah? Apaan tuh?”
Awan menjelaskan, dan Sheena hanya manggut-manggut.
“Belum, kalau Awan?”
“Belum juga, nanti nyobain yuk... kalau... kamu mau... “ Awan tersenyum, “dan kalau nggak hujan, he... hehe...” ia menambahkan.
Berdua aja? Is it a... date? Mata Sheena Remaja mendadak berbinar.

***

Malam itu Sheena kehilangan kata-katanya, ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri saat dibonceng melewati Jalanan Kuta yang macet dan dipenuhi wisatawan. Sheena melingkarkan lengannya di pinggang Awan, menikmati malam yang sepertinya diciptakan hanya untuk mereka berdua.
“Bilang ibumu, kita pulang agak malam ya.” Awan berkata, saat mereka sampai di sebuah Caffe di Jl. Legian yang dipenuhi bule.
“Siap, Bos!” Sheena tersenyum jenaka, menikmati pemadangan dari tempat duduk mereka yang terletak di dekat jalan.

***

Alunan musik Bossanova merdu mengalun di caffe bergaya italia itu saat Fruit Parfait dihidangkan.
“Enak!” Mata Sheena seketika berbinar, mengunyah dengan pipi penuh, lucu sekali, “eh, tapi aku dibayarin, kan?” Sheena nyengir polos.
Awan mengangguk dan tersenyum mencurigakan.
“Jangan bilang kamu nggak bawa uang.” Sheena mendelik, matanya menyelidik.
“B-bawa kok! S-siapa b-bilang, hehe..” Awan berkata, cepat-cepat menyuap sesendok es krim.
Sepanjang malam itu, mereka berdua berbincang-bincang tentang berbagai hal, namun Sheena menyadari ada yang aneh dengan Awan malam itu, berkali kali pemuda itu menghela nafas panjang, entah kenapa.
“Hujan.” Awan tiba-tiba berkata.
“Hah?”
“Hujan, nama belakangmu(2), artinya ‘Hujan’ kan?”

(2) Buat yang lupa, nama belakang Sheena ada di Fragmen 19: Requiem of The Broken Dream

“I-ya.” Sheena mengangguk cepat.
“Cocok ya, Awan dan Hujan.” Awan berkata, agak bergetar.
Oh my God... Oh my God... Sekarang nih... Awan mau nembak aku... aduuuh... aku jawab apa? Sheena mengerjap-ngerjap panik, “I-ya...”
“Hujan...”
“A-apa?”
Malam itu, Sheena tidak bisa melupakan senyum Awan, juga sepasang mata yang menatapnya teduh, seteduh kumpulan uap air di biru langit.
Awan menarik nafas panjang, “Hujan, boleh saya...”
Sheena menahan nafas, sebelum terdengar letupan kecil di kejauhan. Mendadak keduanya saling mengernyit, dan saling lirik ke sekeliling, ke arah bule-bule yang mengira ada kembang api.
“Kembang apinya bagu-s...” Awan tidak menyelesaikan kalimatnya...
Sheena tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya mendengarkan sebuah ledakan besar, lalu mendadak sekelilingnya terang benderang oleh warna merah menyala.
Dirinya seperti dihempas oleh tekanan maha raksasa, dan Awan hanya bisa memeluknya, melindunginya dari serpihan benda-benda yang berterbangan...
Kemudian pandangannya berubah putih, dan kian meredup...

***

Fragmen ???
Inferno

Sheena merasakan telinganya berdenging...
Sheena mengerjap-ngerjap bingung. Untuk sesaat ia tidak merasakan apapun selain panas membara serta perih di sekujur tubuhnya.
“Awan... Awan...” Sheena berkata lemah, namun ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri, hanya ada suara berdenging yang panjang.
Hingga beberapa detik, ia mulai bisa melihat api mengelilingi mereka, di sekelilingnya banyak tubuh-tubuh berdarah yang merangkak, mengerang minta tolong.
Sheena terbatuk-batuk, paru-parunya dipenuhi bau gosong dan anyir darah.
“Na... kamu... n-ggak apa... apa...?” Awan berkata, pemuda itu tergolek lemah, dengan dada berdarah dan nafas terengah...
Tangis Sheena memeecah saat melihat dada Awan tertembus pecahan besi. Darah segar memancar deras, bersama beberapa tulang rusuk yang menyeruak dari dalam. Terisak, Sheena mencoba menutup luka di dada Awan dengan tangannya, namun namun lengan kiri gadis itu-pun terluka, darah segar mengalir tanpa henti dari luka robek dan kulit yang terbakar...
Awan mengusap pipi Sheena yang berurai air mata, “Na... Hujan...” Awan terengah. “Aku...”
 Sheena hanya bisa memeluk Awan, erat... sampai perlahan tubuhnya juga terasa dingin, dan kesadarannya perlahan hilang...
Dari balik langit yang menyala merah, Sheena bisa dengan jelas melihat sesosok hitam membuka sayapnya lebar-lebar... malaikat maut, kah?
Sheena hanya merasa tubuhnya diangkat keluar dari kobaran api... saat ia mencoba membuka mata... ia mendapati bukan malaikat maut yang menarik tubuhnya...
dan Sheena mengenali wajah itu...

***

Dokter Jay, Pasien sudah sadar.” Sheena mendengar suara di antara gumanan-gumanan tidak jelas yang berdengung seperti suara tawon.
“S-saya… d-dimana…?” Sheena berkata, parau. Dirasakannya bibirnya kaku dan penuh asin darah. Kepalanya dibebat, dan lengan kanannya digips.
Kak Na... Kak Na... huk... huk....” Sesorang menangis di telinganya, Indira?
Sheena mengerjap-ngerjap, pandangannya masih gelap, dan ia hanya tahu bahwa matanya diperiksa dengan senter.
Vital Sign pasien sudah mulai normal....” kembali didengarnya gumaman-gumaman tidak jelas, berdengung dan bergaung-gaung, entah.
Butuh beberapa saat hingga perlahan Sheena semakin jelas melihat wajah orang di sekelilingnya...
“A-ava?” Sheena mengerang lemah, mendapati Ava duduk di sisi pembaringan, menggenggam erat tangannya bersama Indira. Ada Kadek yang berkali-kali menghela nafas prihatin, dan Bob juga -yang cuma mewek-mewek tidak jelas...
“Na... huk... huk... gue kira lu sudah... sudah... huk...” Bob menangis, sambil ditepuk-tepuk –ditenangkan Kadek dari belakang.
“Nggak apa-apa... sudah... nggak apa-apa...” Sheena mengusap-usap rambut Indira yang sesenggukan di dadanya.
“Permisi, maaf... Pasien mengalami trauma serius, tolong jangan diganggu dulu...” datang seorang pemuda berjas putih, menegur mereka.
Kepala Sheena masih pening, namun ia masih bisa mengenali wajah pemuda itu...
Wajah yang fotonya dulu terpasang di kamar Indira, dan ditangisi Indira selama sebulan penuh...
Dewa?

***

Indira cepat-cepat mengusap air matanya, tidak menyangka bertemu mantan kekasihnya di saat seperti ini, “De-Dewa... eh... um...”
“Kondisi pasien masih belum stabil.” Dewa cepat-cepat menukas, berkata dingin, membuat Indira sadar dengan posisi pemuda itu saat ini -bukan sebagai mantan pacarnya, tapi sebagai staf medis yang sedang bertugas.
Sebuah instruksi dari Supervisor-nya membuat Dewa kemudian menjelaskan kondisi medis Sheena kepada Ava dan yang lainnya.
“Dok... Kakak saya... nggak kenapa-kenapa kan? Nggak gegar otak kan?” Indira berkata, sambil menggigit-gigit bibir.
“Gegar otak ringan, tapi bisa pulih. Oh iya, saya belum dokter, masih ko-ass.” Dewa menjawab, namun nadanya seolah tanpa emosi.
“Gegar otak?” Kadek mengernyit.
“Ya, akibat pukulan benda tumpul.”
Indira sedikit cemas. “Parah?”
“Sedikit, lalu ada fraktur humerus.”
“Eng…”
“Patah tulang, lengan kanan.“ Dewa menjelaskan panjang lebar kondisi medis Sheena, sebelum akhirnya ia mohon diri. “Sebaiknya pasien dibiarkan istirahat, saya permisi dulu.”
Indira mengikuti sampai agak jauh, “Dok...”
“Ya?”
“Makasih... sudah merawat Kakak Saya.” Indira tersenyum, tulus.
Dewa tersenyum kecil, buru-buru berlalu.
People changes. Dewa berkata dalam hati, tanpa menoleh lagi.
Kadang kita menyadari sesuatu, justru di saat kita kehilangannya.

***

“Jangan pergi lagi, Na...” Ava berkata pelan, sambil mengusapi punggung tangan Sheena. Ava tak banyak bicara, tapi dari kebisuannya, Sheena tahu ada kerinduan yang tidak bisa disembunyikan.
Sheena tersenyum kecil, atau mungkin kita menemukan sesuatu, namun terlambat menyadari.

***

”Ormas Lokal Bentrok Dengan Kelompok Preman, Puluhan Luka-Luka.”
Meme Ratu...” Kadek menggeleng-geleng membaca headline di harian Bali Post mengenai bentrokan antara Ormas Lokal dengan Kelompok Preman yang melindungi bisnis ilegal yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini.
Kadek menghela nafas. Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, di mana Sheena ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri setelah mengalami kekerasan seksual. Selama beberapa hari itu, Ava, Indira, dan Kadek dibuat kalang kabut, sibuk bukan kepalang. Apalagi Ava, karena nomor teleponnya adalah nomor terakhir yang dihubungi Sheena, pemuda itu mau tak mau harus berurusan dengan yang berwajib -dimintai keterangan di kantor Polisi.
Namun Pagi ini, Kadek akhirnya bernafas lega, penyelidikan sepertinya mengalami titik cerah, dan ia bisa kembali pada rutinitasnya, menunggui Galeri Pak De di Jalan Tukad Campuhan, Ubud.
“Bruuum....”
Deru mobil Mini Cooper yang berhenti di depan galeri memecah keheningan. Tergopoh-gopoh Kadek melongok ke depan, melihat siapa yang datang.
“Lho, Tante? Tumben ke Galeri?”
Lucille tersenyum, melepas kacamata hitamnya, “Hi, Kadek.” ucap Lucille riang, “Ava mana?”
“Oh, dia lagi di rumah Sakit.”
“Oh, iya...” Lucille manggut-manggut,. “Muridnya Kak Gede yang satu lagi, kabarnya gimana? Sudah baikan?” Lucille berkata, matanya menyusuri dinding yang penuh lukisan.
“Sheena, maksud tante?”
“Ya, bagaimana kondisinya?”

***

“Kondisi pasien sudah membaik. Kalau sudah tidak ada masalah, sore nanti boleh pulang.” Dokter gendut setengah botak itu berkata sambil memperlihatkan hasil CT Scan kepala Sheena.
Sudah beberapa hari ini Sheena menjalani perawatan di RSUP Sanglah. Butuh beberapa hari bagi Sheena untuk memulihkan kondisinya. Selama itu, bergantian Ava, Bob, atau Indira menemaninya di rumah sakit.
Pagi ini, Bob dan Ava yang kebagian jadwal menunggui Sheena cuma bisa manggut-manggut, pura-pura mengerti mendengarkan penjelasan Si Dokter.
Dokter itu memperbaiki letak kacamatanya, dan menarik nafas panjang, “Jadi, Mas...”
“Ava, saya Ava, Dok.”
“Untuk korban yang mengalami... um...” Ia hendak mengatakan kekerasan seksual, tapi diurungkannya. “Ehem... Sebaiknya memang harus selalu ditemani, diberikan dukungan moral... jangan sampai... traumanya jadi lebih parah...”
Ava menghela nafas, mengusap-usap pundak Sheena, dan Bob juga melirik prihatin.
“Yang penting, nanti tolong dijaga baik-baik pacarnya, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.”
“I-iya, Dok... iya...” Ava nyengir ke arah Sheena yang membisu, dengan pipi bersemu seketika.

***

Fragmen 48
Unrequited Love #1

Siang itu, Sheena bersiap pulang, setelah Bob menyelesaikan masalah administrasi. Mendadak, Sheena terdiam lama saat disuruh menandatangani berkas dengan angka-angka yang tertera diatasnya.
“Bob...” Sheena berkata saat Dokter dan Perawat sudah keluar ruangan.
“Yo?”
“Aku... biaya rumah sakitnya... Aku nggak mau ngerepotin keluargaku... tapi jadinya malah ngerepotin kamu. Pasti kuganti, kok.” Sheena berkata, sambil berkali-kali menghela nafas, teringat angka-angka yang tertera di kertas tadi.
“Kalau mau bilang makasih, bilang sama Mas Brewok, tuh.”

***

Sementara itu...

Lucille mondar-mandir di antara deretan lukisan di Galeri, wajahnya yang cantik berkerut, mengernyit berkali-kali, meniti barisan lukisan dari ujung ke ujung. “Oh iya, Kadek, ngomong-ngomong lukisan Ava mana?”
“Oh, udah laku, Tante. Kemarin ditawar sama Bule dari Rusia.”
“Lho, saya pikir lukisan itu nggak dijual.”
“Awalnya niatnya Ava gitu, Tante... tapi...” Kadek menggaruk-garuk kepalanya.

***

Ava serba salah, melihat mata Sheena yang mendadak berkaca-kaca.
“Ava...”
“Iya, kemaren lukisanku...”
Sheena menarik ujung baju Ava, “Ava... kamu... nggak seharusnya...” Suaranya perlahan menghilang tertelan isak yang memenuhi kerongkongannya.
“Udah... nggak apa-apa...” Ava tersenyum lembut, mengusap-usap rambut Sheena yang kini sesenggukan di pelukannya.
“Ih, cengeng ih... tatoan kok cengeng.” ledek Bob, sambil mengacak-acak rambut Sheena.
“Huk... huk... he-he…” Sheena mengusap matanya yang berair, buru-buru nyengir. Cewek Tomboi itu kemudian cepat-cepat merogoh tas pakaiannya. “Ava, Aku memang nggak bakal bisa balas semua yang kamu lakukan buat aku, tapi setidaknya...”
“U-udah... s-sante aja lagi.”
Sheena meremas-remas roll film peninggalan Awan sambil melirik ke arah Ava yang tersenyum teduh.
“Ava, mana tanganmu?” Sheena meraih tangan Ava, membuka telapaknya. Diletakkannya roll film itu dan digeggamkan ke tangan pemuda yang masih nampak bingung.
“I-ini?”
Sheena nyengir, tersenyum manis, “Terserah mau dicuci cetak apa enggak, yang jelas itu buat kamu, oke?”
Bob terkekeh, “Itu fotonya Sheena waktu SMA. Cantik, feminim. Limited edition.” Bob menambahkan, setengah berpromosi, dan segera ditonjok Sheena.
Sheena tersenyum, dan perasaan Ava campur aduk diserahi barang itu, namun Ava balas tersenyum. Digenggamnya benda itu, erat-erat.
Sepuluh tahun aku melarikan diri dari masa lalu, sampai menjemput kematianku sendiri, dan belum pernah aku selega ini.
Dalam beberapa detik itu, waktu seperti dibekukan untuk mereka berdua. Dalam dunia tanpa ruang waktu, sepasang insan itu saling pandang, saling berharap...
“Makasih, Hujan...” Ava berkata, entah kenapa.
Sheena mendadak tertegun, sebelum sebuah suara lucu terdengar dari arah pintu, "Kak Na..."
Suara itu membuat Sheena akhirnya tersadar, bahwa ternyata Ava sama seperti orang itu -seperti kumpulan uap air di biru langit- melindunginya dari terik matahari, terlihat, tapi tak tersentuh.
"Kak Na Jegeeg!" Indira yang masih mengenakan seragam berlari menghambur, tersenyum lucu sambil membawa sekantung Roti Breadtalk yang dibelinya sepulang pelajaran tambahan siang ini. "Lho, udah mau pulang? Kirain ntar sore... yah... padahal Indira beliin makanan.”
Sheena nyengir, “Kata Dokter sudah boleh pulang.”
“Yakin sudah sembuh?” Indira mengusap-usap pipi Sheena yang membiru.
Sheena tersenyum, mengangguk, membiarkan Indira duduk di sampingnya.
“Kak Na jangan pergi lagi, ya...” ucap Indira pelan, sambil menggenggam tangan Sheena.
“Iya...”
“Jangan tinggalin Dira...”
“Iya, Dira Jegeg...”
“Janji?”
“Hu-uh.”
Indira terkikik, menggandeng tangan Sheena turun dari tempat tidur.
C’mon man... kita cabut.” kata Bob.
Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Sheena bisa melihat Indira berjalan riang sambil menggandeng Ava.
Senyum jenaka Indira saat menggandeng Ava, seperti spektrum cahaya yang berpendar di langit setelah hujan, memancarkan kilauan warna-warni yang mewarnai langit.
Sepanjang ingatannya, belum pernah Sheena melihat Indira sebahagia itu.
Dadanya terasa sakit, tapi Sheena tersenyum, entah kenapa hatinya turut bahagia melihat tawa Indira yang memeluk Ava seperti boneka beruang raksasa.
Siang ini hujan reda, menyisakan pelangi yang mengintip di balik langit.
Ava mungkin kamu bukan bab yang ditulis buat aku...
tapi nggak apa-apa, karena aku akan menemukan langitku....
Love shall set you free...

***

Fragmen 49
Unrequited Love #2

“Sayang sekali, kenapa harus dijual...” Lucille menggeleng-gelengkan kepala, tercenung lama melihat foto lukisan yang ada di iPhone-nya.
Bidadari dengan lengan kiri berdarah...
Ksatria dengan dada tertusuk pedang...
Iblis bertopeng menjulurkan tangan dari langit merah...
“Kadek.”
“I-iya, tante,”
“Kamu tahu Beethoven?”
“Tahu, tante. Yang tukang musik itu, kan?” Kadek menjawab sekenanya, karena pemuda itu tengah kerepotan memindahkan lukisan.
“Konon kabarnya, Bethoven mencipta musik dari suara-suara asing yang cuma dia yang bisa mendengarnya.”
“Oh.” Kadek manggut-manggut -tidak mengerti.
“Dalam Reiki, orang yang Cakra Ajna-nya terbuka, dipercaya bisa memiliki kemampuan seperti itu... bisa melihat masa depan, dan mendapatkan ilham dari alam lain... lukisan Ava adalah salah satu contoh seperti itu, lukisan dari dimensi lain...“
“Seperti Ki Soleh Pati?” Kadek berkata, lempeng.
Lucille tersenyum kecut, “Kadek, saya serius.”
“Krrrrriiiiiiiiing…”
“Krrrrriiiiiiiiiiiing…”
Telepon di ruang kerja Pak De berdering nyaring, menyela pembicaraan keduanya.
“Aduh, maaf... boleh minta tolong diangkat dulu, Tante!” Kadek berkata, masih kerepotan karena menggotong lukisan yang lumayan besar.
Lucille beranjak mendekat, mengangkat telepon tua yang masih menggunakan tombol putar, “Halo?”
Lho Lucille? Kok ada di galeri?
“Oh... eh... anu... ehm...” Lucille sontak gelagapan begitu mengetahui siapa yang menelepon. “Kak Gede mau bicara sama Kadek?”
Nggak... nggak usah, nggak terlalu penting juga... saya... um... Kamu apa kabar? Indira? Uhuk… ehm…
“Indira dan saya baik, Kak Gede sehat?” ucap Lucille dengan wajah yang mendadak penuh cahaya, “Di sana penyakitnya nggak kambuh lagi? Kak Gede nggak merokok lagi, kan?”
Ada jeda beberapa detik -Pak De tertawa di seberang sana- “Kamu masih seperti dulu, cerewet.
“K-kak Gede… a-apa sih... masih aja suka ngeledek.”
Kadek tertawa dalam hati, melihat Lucille yang tersipu-sipu dengan pandangan mengawang dan senyum yang merekah.
“Saya-“
“-Saya.”
Lucille tersenyum, “Apa, kak?”
Eng... nggak apa-apa, kamu dulu...”
“Kak Gede dulu...”
 Gek, dulu... uhuk..”
“Kak Gede dulu!”
Kadek cuma bisa geleng-geleng kepala, melihat dalam satu panggilan telepon saja wanita paruh baya itu seperti kembali menjelma menjadi gadis remaja.

***

“Saya... ” Pak De terdiam lama, sambil menimang-nimang cincin dalam kotak merah. “Nggak apa, nanti saja, kalau saya sampai di Bali... I miss you, bye... Pak De menutup teleponnya.
Penjaga toko itu menghela nafas lega saat Pak De mengakhiri panggilannya, “jadi yang mana, Monsieur?” ia berkata dalam Bahasa Inggris dengan dialek Perancis.
Pak De menunjuk sebuah kalung dari emas putih, dengan bentuk pelangi yang rumit pada bandulnya.
Ah, Oui... Oui... excellent choix.Ia mengacungkan jempol kepada Pak De. “Buat istri anda?”
Pour ma Fille, anak perempuan saya.” Pak De tersenyum cerah, membayangkan ekspresi Indira saat menerima kalung itu saat ulang tahunnya tanggal 15 nanti.
Indira sayang, mungkin cuma ini yang bisa Ajik kasih...
Maafin Ajik, nggak pernah bisa jadi bapak yang baik buat kamu...
et cette bague aussi... uhuk...” Pak De menyerahkan cincin yang dari tadi ditimangnya. “Merci... uhuk-uhuk...” sambil terbatuk-batuk, Maestro Tua itu menyerahkan kartu kreditnya kepada Penjaga Toko.
Nafas Pak De yang tadinya teratur, perlahan mulai memberat hingga terdengar suara "ngiik" panjang setiap ia menarik dan menghembuskan nafas. Berkali-kali Lelaki Tua itu terbatuk-batuk, dan buru-buru ditutupi dengan sapu tangan.
“Huk!! Uhuk! M-merci.” Pak De menerima bungkusan dengan tangan bergetar dan dada yang tersengal.
Melihat batuk Pak De yang tak berhenti-berhenti, Penjaga Toko itu tak ayal ikut khawatir.
Monsieur, anda tidak apa-apa?”
“Uhuk-uhuk... nggak apa-apa.” Pak De duduk bersandar pada etalase, sambil memegangi dadanya.
Monsieur, perlu saya panggilkan taksi?”
“Uhuk... uhuk... m-makasih... n-ggak usah... uhuk...” kata Pak De sambil menutupi mulutnya dengan sapu tangan yang kini penuh dengan bercak darah.

***

[Oktober, 2002]
10 Tahun yang lalu...

Malam itu, kabut pekat membungkus desa kecil di lereng Gunung. Hujan yang turun semenjak petang memayungi wajah-wajah yang menunduk murung seperti tanda kabung.
Keluarga Besar Pak De berkumpul di sana, menunggu dengan wajah tegang, mengelilingi seorang Laki-laki tua yang duduk tafakur di antara tumpukan sesaji yang ditumpuk rapi.
Seorang gadis kecil memeluk ayahnya rapat-rapat, berlindung dari gigit dingin dan takut yang menusuk tulang, karena sesosok yang komat-kamit di depannya itu sungguh membuatnya jerih.
Tangan Kakek Tua itu bergetar menggenggam dupa, bibirnya yang keriput bergerak-gerak menggumamkan kekidungan purba, seperti mencoba meretas batas antara fana dan kematian.
mari rasuk…
mari rasuk…
merasuk…
Kidung terus mengalun di antara rintik hujan yang tak henti menetes...
Sampai akhirnya di bait ke-8, gerakan Si Kakek mendadak terhenti, seperti juga alun kidungnya...
Untuk sesaat hanya ada keheningan dan wangi dupa yang memenuhi paru-paru. Sunyi diselang-selingi bunyi hujan yang terdengar sesekali, menitik di daun pisang yang merimbuni rumah tradisional Bali itu.
mari rasuk…
mari rasuk…
rasuk…
Guntur terdengar bergemuruh di langit malam, dan angin misterius tiba-tiba berhembus kencang, menghamburkan aroma dupa dan membuat cahaya obor bergoyang gelisah...
Tangan si Kakek tua mendadak bergerak dalam gerakan yang amat ganjil, seperti menari namun tidak juga menari, seolah-olah sekujur tubuhnya digerakkan oleh dalang tak terlihat.
Lampu minyak meredup saat Si Kakek kembali bergumam, namun kali ini beliau menyenandungkan lagu...
bila kau rindu
aku kan datang
segera…
“Ajik...” gadis kecil itu berbisik pelan, meremas tangan ayahnya. Ia hapal senandung itu, senandung yang selalu dinyanyikan ibunya untuk menemaninya tidur.
Que Sera, Sera… Whatever will be, will be…” dan itu suara ibunya yang keluar dari mulut si Kakek Tua!
“A-ajik... i-itu...” gadis kecil itu berkata pelan, meremas tangan ayahnya lebih erat lagi.
“Indira, My Angel is it you…?” Si Kakek tersenyum ke arah Indira, menatap hangat seperti tatapan ibu yang merindukan anaknya, tidak salah lagi...
“Ajik... itu... mama... itu... huk... huk…” Tangis Indira meledak, menyeruak bagai semburat badai kerinduan yang datang bergulung-gulung.
kau rindukan waktu yang pergi
datanglah kembali padaku…

***

Fragmen 50
Que Sera, Sera

[2012]

Bertahun-tahun berlalu, dan Indira tak pernah lagi mendengarkan lagu itu disenandungkan. Namun Sore ini, mendadak ia mendengar kembali suara ibunya, bernyanyi-nyayi riang dari ruang kerja Ayahnya.
Bergegas, Indira berlari menghambur ke muasal suara. Jantungnya berdegup kencang saat menyusuri lantai kayu vila itu.
Mama pulang...
Gadis itu terhenyak, menarik nafas dalam-dalam saat mendapati ibunya sedang asyik merapikan koleksi piringan hitam Ayahnya, bersenandung kecil, persis seperti dulu.

***

Lucille tak habis pikir, kenapa Indira mendadak mendekapnya dari belakang, wanita cantik itu hanya tertawa jenaka karena Indira bergerandul erat di punggungnya.
“Indira jegeeeeg... apaan sih?” Lucille terkikik, sambil mengutak-atik Gramaphone Pak De.
Indira nyengir, buru-buru mengusap matanya yang berkaca-kaca. “E-enggak apa-apa... hehehe...” Indira tersenyum, melihat wajah Lucille yang mirip dengan ibunya. “I-Indira bantu ya...”
Malam nanti Pak De tiba di Bali, dan sudah seharian itu Lucille sibuk memberesi rumah dan ruang kerja Pak De. Koleksi piringan hitam milik Sang Maestro dibersihkannya dari debu, Sprei tempat tidur di ganti dengan yang lembut dan harum. Tak Lupa, ayam betutu yang sedang dikukus di dapur siap menyambut kedatangan Pak De malam nanti.
Lucille tersenyum sendiri, pandangannya mengawang-awang di antara leretan foto tua yang dibingkai rapi.
“Ava mana?”
“Di dapur, lagi ngecek betutu-nya udah mateng atau belum.”
Lucille terkekeh, “Jangan lupa, sore ini dia dapat tugas, mewakili Kak Gede, Sangkep di Bale Banjar.”
"Lagunya bagus." Indira nyengir polos, melirik ke arah piringan hitam yang berputar pelan di atas Gramaphone, mengalunkan lagu lembut yang memenuhi ruangan itu dengan nostalgia.
"Ah, iya... lagu itu... Doris Day... Tante dan Kak Julia dulu sering sekali menyanyikan lagu ini."
Indira tersenyum kecil, gadis itu akhirnya tahu mengapa Ibunya suka sekali mendendangkan lagu itu untuknya. Dari jauh, ia memperhatikan Tante-nya itu bergerak lincah, melangkah riang di antara barang-barang antik sambil bersenandung kecil.
“Tante... Tante Lulu kok mirip banget sama Mama?” Indira berkata, sambil mengusap foto tua di mana dirinya dipangku Lucille dan Julia.
Senyum Lucille mendadak menghambar, namun cepat-cepat ia tersenyum lagi “Tante kan adiknya Kak Julia, kamu gimana, sih?”
“Hehehe... eh, iya... Tante Lucille... um... eh.. " Indira terdiam agak lama.. "Tante jadi mama-nya Indira aja...”
Lucille mendadak tertegun lama, sebelum mengalihkan wajahnya dari sepasang mata Indira yang menatapnya penuh harap.
Lagu mengalun pelan, mengisi keheningan.

***

[2002]

Lagu itu melantun pelan, mengiringi Indira yang menangis sesengukan.
“Mama… huk.. huk..” Indira memeluk tubuh Kakek tua yang disemayami arwah ibunya. Sesenggukan di pangkuannya.
Don’t cry, Indira… jangan nangis.”
Indira merasakan hangat dekapan ibunya. Dekapan yang sudah bertahun-tahun ia rasakan, dan mungkin tak akan pernah lagi ia rasakan.
“Raka... ada di sana?” Ayah Indira membuka suara.
“Ada, dia ada di sampingku.”
“Tubuh kalian... ada di… mana?”
Ibu Indira menggeleng lemah sambil tersenyum, “Tubuh hanyalah wadah, Sayang.”
Jawaban itu segera disambut tangis histeris semua orang yang ada di sana.
The time has come…
“Jangan pergi Mama… jangan pergi... huk... huk…”
Ibu Indira membelai lembut rambut anak itu, lembut, sangat lembut, seperti belaian yang belum sempat ia berikan, dan mungkin tak akan bisa diberikannya lagi...
Dalam sepersekian detik itu yang ada hanyalah kenangan yang berputar cepat: saat Indira diajari mengeja dan mewarna.
Juga saat Indira baru bisa berjalan, saat Gadis kecil itu melangkah tertatih, terkadang terhuyung, limbung menapaki dunia yang demikian raksasa.
Hanyalah sebuah wajah yang tersenyum tulus di kejauhan, yang menguatkan langkah-langkah kecil itu, untuk bisa menghambur ke dalam pelukan yang merentang menantinya.
Wanita itu tertawa bahagia, memeluk erat bidadari mungilnya yang tertawa jenaka. Berdua, mereka berbaring di rerumputan, memandangi angkasa luas dan awan yang menyembul seperti gula-gula kapas.

***

"Indira jegeg, jangan nakal, ya..."
"Jangan lupa buat PR..."
"Jangan ngelawan Ajik..." Julia berkata, mengusap-usap poni Indira, lembut.
Indira tak menjawab, hanya terus sesengukan dalam pangkuan ibunya.
"Mama sayang Indira... Jangan sedih terus..." Ragaku tiada, tapi aku terus bersamamu, sayangku... I love you, Indira… always..”
I love you, Mama! I love you!
"Que Sera, sera... whatever will be... will be... the future's not ours to see..
 que sera, sera... what will be... will..."
Not terakhir itu mengambang, tak dinyanyikan sempurna, karena tubuh Si Kakek mendadak lunglai, diikuti Indira yang memekik histeris.
Sekelumit kecil dari lingkar kehidupan tengah berlangsung. Kematian bukanlah akhir, ia merupakan sebuah mula dari sekian perlawatan panjang menuju suatu yang entah. Sebuah perjalanan menuju: Paradiso.

***

[2012]

"Mama... Mama... huk... huk..." Indira sesenggukan di dalam pelukan Lucille.
Dengan sabar, Lucille mengusap-usap kepala Indira, namun semakin Indira mengucapkan nama ibunya, semakin hatinya merasa pedih...
Aku sayang kamu Indira... tapi aku bukan Julia...
dan aku tidak mau menjadi bayang-bayang....
Tak ada yang lebih ceria dari malam itu, di mana tawa dan kebahagiaan berkumpul jadi satu. Barusan sekali Pak De sampai di Villa, dan segera disambut Kadek dan beberapa warga Desa yang menyempatkan diri mampir sepulang Sangkep di Bale Banjar.
Acara ngobrol-ngobrol santai, mendadak berubah menjadi pesta BBQ dadakan saat beberapa warga mulai datang menyumbang kelapa muda, dan sate lilit  mentah, menemani ayam betutu dan sambal Bali yang disajikan di atas meja, mengepul hangat dan menggoda selera.
Aroma sate lilit yang sedang dipanggang memenuhi udara, mengepul bersama asap panggangan sate ke seantero halaman Villa. Sang Maestro tertawa jumawa seperti biasa, dikelilingi warga yang bertanya keadaan di Prancis, dan Pameran yang sukses besar itu.
Malam ini Pak De nampak sehat, meski terbatuk beberapa kali. Di sampingnya Lucille berdiri tak beranjak, tangannya menempel erat di punggung Pak De. Tak ada yang tahu, bahwa diam-diam Lucille mengalirkan energi Reiki ke tubuh Sang Maestro, hingga lelaki itu sanggup berdiri dan tertawa terbahak-bahak seperti biasa.
Semua orang di tempat itu hanya tahu, bahwa Lucille tidak pernah secantik malam ini. Wanita yang biasanya berdandan ala Bohemian, kali ini mengenakan gaun panjang backless warna krem, berpadu serasi dengan Indira yang berdandan tak kalah cantiknya, seperti Ratu Peri dan Putri Bidadari.
“Tabik... tabik... nyelang margi... (Permisi... permisi... pinjam jalan...) Kadek bergerak terburu, membantu membawakan bergelas-gelas es kelapa dari dapur. Pemuda itu meruntuk kesal pada Ava yang malah ngobrol-ngobrol santai dengan Sheena sambil mengipas-ngipas sate lilit.
Dari kejauhan, Sheena sibuk memperhatikan Lucille dan Indira yang asyik bercanda di tengah taman tropis dan leretan bunga.
“Ava...”
“Apa?” Ava menyahut tanpa menoleh, sibuk membolak-balik daging yang setengah gosong.
“Indira cantik ya, tante Lucille juga.”
Ava memasang tampang palm face, “Ternyata...”
“A-apa.”
O.L.T.
“Apaan tuh?”
Obvious Lesbian Trait.
“Kampreeeet! Hahaha!” Sheena segera menonjok Ava, namun kesakitan sendiri, karena luka-lukanya belum pulih benar.
“Eh, orang sakit nggak usah merekak (Sok-sokan), haha...”
Kadek yang kebetulan lewat, mencomot sate lilit yang sedang dipanggang Ava. “Mantap, sudah bisa Bahasa Bali, sudah siap jadi Orang Bali, nih!” Kadek manggut-manggut bangga, menepuk pundak Ava yang masih terbalut busana khas Bali, sepulang sangkep Sore tadi.
Mendadak, tawa Ava menguap begitu saja, dan seketika itu juga air mukanya berubah mendung.
“Dek... Na... sebenernya aku bingung, nih... ciyus!”
Sheena dan Kadek menghela nafas, mengerti ke mana pembicaraan ini akan menuju. Keduanya melihat Ava, prihatin.
“Jangan gitu dong, kasihan Indira... kasihan Pak De... Indira sudah nggak punya ibu, nggak punya kakak, ditinggalin sama Dewa...” ucap Sheena.
Ava tak mejawab, melihat Indira, Lucille, dan Pak De yang tertawa bahagia di ujung sana.
“Indira kurang apalagi, coba? Cantik iya, dan kalau kamu nikah sama Indira, kamu bakal jadi pewaris galerinya Pak De!” Kadek berkata, menambahkan.
Agak lama Ava terdiam, sebelum akhirnya berkata, “Na, kadang aku pikir, apa sih kebahagiaan itu? Apa sih happy ending itu? Aku pikir sebuah dongeng nggak harus berakhir dengan Puteri atau Pangeran... cuma buat bisa mencapai akhir bahagia...”
“B-bukan itu... Aku... cuma... pengin... Indira bahagia....” bisik Sheena, pelan.
Ava menghela nafas berat, saat Indira melambai dan tersenyum ke arahnya. Cepat-cepat pemuda itu balas tersenyum, menyambut Indira yang menghambur ke arahnya.
“Kadek.. Kak Na... pinjam Ava-nya, yaa....” Indira berseru riang, sambil menggandeng Ava, memperkenalkannya pada para tamu.
You belong to me.

***

Fragmen 50
You Belong to Me

Lagu mengalun lamat-lamat dari Gramaphone dan Piringan hitam yang berputar malas. Sudah hampir jam sebelas, ketika piring-piring dan gelas mulai dibereskan dan beberapa tamu terakhir mengucap pamit pulang.
Lampu taman mulai diredupkan, menyisakan aroma pesta yang masih tercium sayup-sayup. Indira sedang berganti baju, sementara Ava, Kadek, Sheena dan beberapa pemuda desa masih sibuk membereskan sisa pesta.

Pak De berada di kamar kerjanya, memandangi ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu baca di atas meja. Maestro itu menghela nafas sambil berdehem sesekali. Tangannya sibuk mengetuk-ngetuk kotak kecil warna merah, sambil dimain-mainkan, diputar-putar seperti orang kerjaan.
Lelaki tua itu kadang tersenyum, kadang menarik nafas panjang, sebelum tersenyum lagi dengan pandangan yang melayang-layang di antara foto-foto tua, fotonya dengan Lucille dan Julia.
Pintu diketuk, “Kak.”
Cepat-cepat disimpannya kotak itu dalam laci kayu, sebelum memasang senyum kaku, salah tingkah melihat Lucille yang melangkah memasuki ruang yang dipenuhi patung, pernak-pernik, dan barang-barang antik.
Gek?” Pak De berucap pendek.
“Kak... gimana... batuknya masih kumat lagi?” Lucille bertanya, sedikit ragu.
Pak De tersenyum kecil, “Sedikit, tapi-“
“Besok kita ke Dokter, ya...” Lucille berkata, mengusap dada Pak De, mencoba merasakan apakah ada yang salah dengan tubuh lelaki tua itu.
Lucille menempelkan tangannya di dada Pak De, dan seketika itu juga lelaki tua itu merasakan hangat yang berputar-putar memenuhi paru-parunya. Energi kosmos berputar, bergetar hebat, merevitalisasi setiap sel-sel yang rusak. Pak De bernafas pelan, perlahan.
Pak De tak bersuara, namun Lucille bisa merasakan jantung laki-laki itu yang berdetak cepat, dan semakin cepat. Saat Lucille menunduk, segera mendapati sepasang mata yang menatapnya tulus. Pak De menggenggam telapak tangan Lucille, erat.
“Makasih...” bisik Pak De di telinga Lucille.
“Eng... um... enggak apa-apa.” Lucille menukas cepat, gelagapan dengan wajah tersipu.
Lagu mengalun lamat-lamat, pelan, mengiringi sepasang wajah yang saling mendekat.
Ciuman itu mendarat di dalam gelap, setengah di pipi, setengahnya lagi di bibir. Lucille menarik wajahnya, cepat beringsut dengan wajah bersemu merah, “Kak... ini... salah...” ucapnya pelan, buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. “S-saya...” Lucille hendak berbalik, namun sepasang lengan yang melingkar di perutnya menahan langkahnya untuk pergi lebih jauh lagi.
“Gek...” bisik Pak De lembut, hingga lucille merasakan nafas yang memburu, hangat berhembus di tengkuknya yang mulus dan dipenuhi bulu halus.
“I-iya...” Lucille tergagap-gagap, merasakan bibir lembut yang menempel di kulit lehernya.
Lucille membeku kaku, dengan jelas ia merasakan hangat tubuh Pak De membekapnya, juga jantung lelaki itu yang berdetak memburu. Ia hanya bisa memejam, membiarkan tubuhnya direngkuh dari belakang. Lengan Pak De melingkar erat, satu di atas perut Lucille, satu lagi di atas tulang selangkanya.
“Saya kangen kamu, Gek... sudah lama sekali...”

***

“Aku kangen.” tiba-tiba Ava berucap, tanpa ada hujan, tanpa ada angin, tanpa diiringi alunan biola ataupun harpa, yang ada hanya suara gesekan sapu lidi yang sibuk membersihkan remah-remah makanan.
“A-apa, sih!” Sheena protes keras, menonjok Ava, tapi pemuda itu cuma nyengir kecil tak berdosa.
“Dasar ge-er! Aku pikir, aku nggak bakal ketemu kamu lagi, tahu!” Ava menoyor Sheena dengan ujung sapu lidi. “Dasar bocah nekat.”
Sheena nyengir polos, menuang air ke atas bara hingga menimbulkan asap putih yang membumbung ke udara.
Dua orang itu tidak saling bicara, tapi masing-masing ingin sekali berkata...
Aku cuma berharap bisa bertemu, sekali lagi...

***

“Sepanjang perjalanan, saya cuma berharap bisa ketemu kamu dan Indira, sekali lagi.”
Sepasang bayangan itu bergoyang pelan, mengikuti irama lagu. Dua pasang kaki itu melangkah ragu, di atas lantai kayu.
“K-kak Gede ngomong apa, sih...”
Pak De menunduk, menempelkan keningnya di kening Lucille. Tangannya mengusap pelan wajah cantik yang serupa Mendiang Istrinya itu.
“Gek...” bisik Pak De, meraih dagu Lucille.
“Iya, Kak...” Lucille menengadah, hanya untuk mendapati bibirnya dipagut seiring lagu yang mengalun lembut.
Kerinduan yang bertahun-tahun dipendam Lucille, kini seperti air bah yang meruah. Dihisapnya bibir Pak De kuat-kuat, dan dibiarkannya tangan-tangan Pak De menjelajahi setiap lekuk tubuhnya, mengusap-usap punggungnya yang terbuka.
Bibir mereka saling berpagut, dan lidah keduanya saling bertaut. Nafas memburu kencang, seiring usapan dan remasan yang saling didaratkan.
“Mmmmh... hh... hh...”
Pak De menyingkap gaun Lucille, hingga payudaranya yang putih mulus menyembul keluar dan puting warna merah hatinya mengacung tegak. Lucille mendesah pelan, karena Pak De membelai dan mengusap-usap ujung putingnya yang penuh saraf-saraf sensitif.
“Aaaaah...” Lucille mengerang, otot-ototnya serasa lumpuh, hingga ia terhuyung ke atas meja kerja Pak De. “Kaaaak...” Lucille megap-megap, menjambak rambut Pak De yang tengah menggigit lehernya.
Pak De mendorong Lucille ke arah meja kerja, meremas payudara Lucille gemas, hingga gelagapan Lucille berpegangan pada tepi-tepinya, menyenggol beberapa barang.
Lampu baca berkelotak jatuh, padam. Ruangan gelap gulita.
Dengan gemas, Pak De menciumi dada Lucille, menggigit pelan gundukan kenyal halus itu.
“Oooh...” Lucille mengerang manja, merasakan bibir hangat yang dipenuhi brewok melumat payudaranya, geli, nikmat sekali. Lucille kembali mendesah, penuh gairah. Wanita itu membantu Pak De menurunkan gaunnya, dan dalam satu gerakan cepat, gaun Lucille sudah melorot, jatuh ke lantai, menampakkan tubuh molek yang berlekuk Indah, yang tinggal ditutupi celana dalam g-string warna hitam.
 Cahaya lampu taman mengintip malu-malu dari celah jendela, membentuk garis-garis putih di ruangan yang gelap gulita, menerangi payudaranya membulat indah, bergantung kencang dengan sepasang puting berwarna merah hati di ujung-ujungnya.
“Kak... aaaah...” Lucille pasrah saat payudaranya dilumat habis, dan kewanitaannya diusap-usap dan dibelai sedemikian rupa. Lucille memejam, memasrahkan setiap lekuk dan relung tubuhnya dijelajahi oleh Pak De, musik mengalun lembut mengiringi percumbuan itu.
Lucille mengerang, dia mendesah, menikmatinya.
Tahu-tahu Lucille sudah mendapati dirinya dihempas ke sofa panjang di ruangan itu. Celana dalamnya sudah tercampak entah kemana, seperti halnya pakaian Pak De yang sudah berserakan di lantai. Ruangan gelap dan remang-remang, Lucille hanya merasakan ada tubuh berbulu yang mencumbuinya penuh gairah.
Lucille menggigil, tubuhnya bergemetaran saat tungkainya dibuka lebar-lebar. Wanita ini menelan ludah, dan menggigit bibir berkali-kali. Wajahnya yang cantik nampak tersipu, merona merah muda dengan beberapa butir keringat yang membulir menggairahkan.
Pekerjaannya sebagai Tantric Instructor, seharusnya membuatnya terbiasa dengan semua ini, namun kali ini, kali ini...
“Gek, kamu kenapa...?” ucap Pak De lembut, bersimpuh di antara kedua paha Lucillle.
Sepasang mata yang menatapnya itu membuat sekujur tubuhnya seolah lumpuh, dan dirinya seperti kembali menjadi gadis 15 tahun yang menyerahkan kegadisannya pada laki-laki itu, 30 tahun yang lalu.
Lucille tersenyum kecil, menggeleng lemah dengan pipi yang semakin memerah. “Nggak apa-apa...” Lucille berbisik, nyaris tak terdengar. Wanita itu memejam, menghayati pelukan hangat yang membungkus tubuhnya, juga batang tegak yang bergerak pelan di belahan kewanitaannya yang merekah basah, mencari jalan masuk.
Lucille melingkarkan tangannya di leher Pak De, memasrahkan tubuh dan jiwanya pada laki-laki itu.
“Kak, pelan-pelan...” bisik Lucille, sambil menjengit pelan, merasakan batang kejantanan Pak De yang padat dan hangat, membelah masuk, menjelajahi dinding-dinding kewanitaannya, dan... “Ooooh...” tubuh Lucille menggigil nikmat, bersamaan dengan suara lengguhan Pak De yang tercekat, tertahan.
Tubuh Pak De yang gemuk berisi, menghimpit tubuh Lucille yang molek indah, tergolek pasrah di atas Sofa. Dada Pak De yang dipenuhi bulu, menggencet payudara Lucille yang bulat kenyal, menghenyaknya dalam pelukan erat. “Aaaah... hh... hh... hh...” Sepasang insan paruh baya itu saling dekap di dalam gelap, saling peluk dengan nafas terengah, menikmati sensasi dua tubuh yang berdifusi menjadi satu.
Perlu beberapa saat, sebelum Pak De mulai menggerakkan pinggulnya, naik turun. Sofa tua itu terdengar berderit, seiring ayunan pinggul Pak De yang bertambah cepat.
“Kak... aaah...” bibir Lucille yang basah sedikit membuka saat kejantanan Pak De datang menghentak. Dijambaknya rambut Pak De lembut, sambil mengerang pelan, menikmati kejantanan Pak De yang datang menghajar tanpa ampun.
“Gek... uuuh...” Pak De melenguh, menciumi leher Lucille yang basah oleh keringat.
“Oooh... oooh... ssssh...” Gigitan kecil dan remasan pada payudara Lucille yang diberikan Pak De membuat gelinjangan Lucille semakin menggila, dan persetubuhan itu semakin bergairah.
“Kaak... ke atas... dikit... aaah... aaaah... uuuuh...”
“Umh... gini...”
“Hu-uh...” Lucille mengangguk lemah, melingkarkan kaki-kakinya yang indah di pantat Pak De, pinggulnya ikut mengayun, berputar-putar, menyambut kedatangan kejantanan Pak De yang datang menghentak.
“Ooooh... oooh... ooooh!”
Percumbuan semakin liar. Birahi semakin dibakar, ditingkahi suara paha yang beradu dan desisan erotis, yang terdengar mistis. Piringan hitam terus berputar sebagai musik latar yang mengiri persetubuhan itu.

***

Indira hanya mendengarkan suara Gramaphone yang mengalun sayup-sayup dari kamar kerja ayahnya.
Indira tersenyum sambil memeluk boneka beruang raksasanya erat-erat. Untuk pertama kalinya ia merasa lengkap. Beberapa kali ayahnya dekat dengan seseorang, dari kurator Perancis, sampai kolektor eksentris, namun dirinya selalu bersitegang dengan Ayahnya.
Tetapi tidak Lucille, Bidadari itu begitu sempurna sebagai pengganti ibunya.
Indira tertidur sambil tersenyum, bermimpi tentang keluarga baru yang dikirim Tuhan untuknya: Lucille, Ava, dan Sheena.

***

Percumbuan pasangan paruh baya itu demikian bergairah. Tubuh mereka sudah dimakan usia, tapi birahi yang menggebu di dada keduanya tak pernah tua, muda dan menggelora...
“Ooooh...” Lucille memejam nikmat, menikmati ciuman Pak De yang mendarat, menciumi wajahnya yang merona.
Tubuh lucille yang lentur karena latihan yoga, membuatnya leluasa melekukkan tungkai-tungkainya, menyandarkannya di atas pundak Pak De. Posisi ini membuat ujung kejantanan Pak De menohok tepat pada pusat titik nikmat Lucille.
“Oooooh...” Lucille menjerit histeris, menggeleng-geleng heboh. Diremasnya ujung sofa kuat-kuat, karena nikmat yang datang kini beratus kali lipat. Kewanitaannya seperti dikorek-korek, digaruk, semakin liar semakin menggila.
Pak De terus memompa, sambil meremas dada Lucille yang kian membusung-busung.
“Aaaaah... aaah... aaah...” pinggul mengayun, dan nafas semakin memburu.
“Aaaah... aah... ah... ah...” teriakan erotis semakin kencang dengan interval yang makin lama semakin pendek.
“Aah... aah... aah... ah... ah... ah...” hingga akhirnya Lucille kehilangan suara. Wanita itu manatap sayu pada Pak De, bibirnya mengangga, kehilangan kata-kata, tapi yang terjadi berikutnya memang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata: Sekujur tubuh Lucille menggigil hebat, otot-ototnya mengejang, hingga tulang punggungnya melengkung nikmat, cepat-cepat ia meraih tengkuk Pak De, memeluknya erat.
Pak De meraih tulang punggung Lucille, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam lengkungan tubuhnya yang juga hendak mengejang.
Dua insan itu sama-sama mengejang, sambil saling memeluk mendaki puncak yang sama. Pinggul Pak De berkedut-kedut, bergerak liar, menghujam tubuh Lucille yang nampak kesakitan.
“Aaaaaah...” Lucille mengerang hebat, merasakan tubuhnya dipenuhi oleh cairan hangat yang meluber hingga membasahi kulit sofa.
Sampai beberapa kali erangan panjang, hingga akhirnya dua orang itu tergolek terengah dengan wajah memerah dan bersimbah peluh.
“Hah... hh... hh... hh...”
Lucille memejam, tersenyum bahagia, wajahnya yang cantik nampak kian merona, dan Pak De tahu tak ada wajah yang lebih mempesona selain wanita yang baru saja meraih puncak kenikmatannya.
Pak De mengusap wajah Lucille, lembut. Dikecupnya kening Lucille yang basah, hingga wanita itu terkikik manja.
Lama mereka bertatapan, dan Lucille membiarkan Pak De membelai rambutnya, mengusap pipinya. Lucille mendesah, menggelendot manja di dada lelaki itu.
“Gek…”
“Ya?” Lucille tersenyum, melihat Pak De yang mengusap wajahnya, tulus.
“Saya sayang kamu.”
“Saya... juga, Kak...” Lucille sumringah, mempererat pelukannya di dada Pak De.
“Kamu... mau... jadi...” Pak De menelan ludah. “Ibunya Indira...” Pak De berkata, setengah berbisik.
Lucille terhenyak lama, perlu beberapa detik untuk menyadari dirinya tidak sedang bermimpi.
Lucille tak menjawab, wanita itu kini sibuk mengusapi matanya yang entah kenapa tak berhenti meneteskan air mata.
Malam itu tubuh dan hatinya direngkuh dalam pelukan Pak De yang tak henti membelainya.
Kerinduannya tuntas sudah.

***

Sementara itu di luar sana. Tinggal Sheena dan Ava yang terjaga di antara malam yang semakin kelam.
Ada kerinduan yang sama seperti yang dialami Pak De dan Lucille, namun keduanya hanya bisa menatap dari kejauhan, tanpa boleh mengungkapkan.
Sheena melirik Ava yang asyik memainkan gitar Kadek yang tertinggal, sambil terus sibuk dengan buku Sketsanya.
“Satu bulan kita tetanggaan, tapi jarang banget ngobrol, ya.” ucap Ava tiba-tiba.
Sheena tidak menjawab, hanya nyengir kecil.
“Dan aku baru tahu dari Bob, kalau kamu juga dari Bali.”
“Yep.” Sheena menjawab singkat.
“Bohong, ah! aku nggak pernah lihat kamu ke Pura.”
Sheena nyengir kecut, “I did believe in God.”
Ava terkekeh mendengarnya. “Kadang aku nggak habis pikir, Tuhan itu satu, tapi kenapa ada banyak agama, membuat manusia berbeda, terpisah-pisah, dan nggak bisa bersatu.”
“Curcol.” Sheena berkomentar singkat, dan segera ditimpuk Ava dengan majalah kord gitar. Sheena menghindar sambil tergelak, sementara Ava memberengut, mendekat ke samping Sheena.
“Hujan.” Ava berkata sambil merunduk, memungut majalahnya.
Sheena tersentak, mendadak pinsil yang dipegangnya jatuh ke tanah, ke dekat Ava. “A-apa...” Sheena beringsut, memungut pensilnya yang terjatuh.
“Dan di Rumah Sakit, aku baru tahu, kalau nama belakangmu artinya Hujan.” Ava berucap polos saat keduanya berjongkok di lantai tanah.
Sheena menoleh, dan seketika itu juga Sheena terhenyak, mendapati lagi sepasang mata yang menatap teduh, seperti sekumpulan uap air di biru langit yang dulu menaunginya dari panas matahari.
Dalam riuh kesunyian malam, sepasang insan itu saling pandang. Keduanya mencoba mengorek-ngorek ingatan yang tersembunyi di lubuk terdalam Korteks Cerebri.
Ava, kenapa kamu mirip sekali dengannya...

***

"Don’t go... don’t go... eh... salah... don’t go... eh, salah lagi.” Ava garuk-garuk kepala, bingung.
Sudah sejak 30 menit yang lalu Ava mencoba memainkan salah satu lagu di Majalah Kord milik Kadek, namun sepertinya Kord atau Kunci Gitar yang mengiringi lagu tersebut terlalu sulit untuk dirinya. Berkali-kali Ava kesulitan menempatkan jari-jarinya di fret gitar bolong murahan itu, dan yang terdengar hanyalah suara fals, sember.
Sheena yang duduk di bale-bale tersenyum kecil melihat Ava yang seperti orang bego. “Ava, weton mu apa?” Sheena membuka suara.
“Selasa Pahing, memangnya kenapa?”
“Kamu nggak cocok jadi gitaris, cocoknya jadi pelukis.” ucap Sheena lempeng.
“Kampret! Kuncinya susah, tahu!” Ava melotot tidak terima.
Sheena terkikik kecil, “Kuncinya apa?”
“Bm6, G7+.” Ava memberengut, “ente bisa, Na?”
"Bm6, itu telunjuknya di senar tiga, fret pertama, trus yang jari tengah di B senar lima, nah, yang jari manis di sini," Sheena membantu Ava meletakkan jari manisnya menekan nada G di senar pertama.
Jreenggg...
"Kok masih fals?" Ava mengernyit bego.
"Senar enamnya nggak usah di genjreng!"
"Susah Ah, ini G7+ gimana lagi! aduuuh..."
“Mana, sini!” Cewek Tomboi beringsut mendekat ke sebelah kiri Ava, hingga bisa leluasa memegang neck gitar dengan tangan kirinya yang dipenuhi tato.
Sheena dan Ava duduk bersisian di bale kayu di bawah Gazebo, Sheena memegang Kord dengan jari-jari kirinya, sedang Ava duduk rapat di sebelah kanannya, memangku body gitar sambil sesekali melirik Sheena.
“Sekarang coba genjreng.”
“Eh, mau!” Ava membeliak girang saat gitarnya akhirnya bersuara merdu.
Sheena mengekeh, setengah bangga. “Lanjutannya apa?”
“Noh!” Ava menunjuk majalah Kord gitar, “Ente bisa, Na?”
“Gampang, Gan! Lanjut!”
Ava membunyikan gitar, dan Sheena memegang kunci. Berdua mereka bernyanyi, memenuhi udara malam Ubud dengan suara mereka -yang satu merdu, yang satu sumbang, namun itu semua membuat malam itu nampak sederhana, apa adanya.
"Sember."
"Biar." balas Ava sambil menyenggol Sheena, hingga mereka berdua saling bersenggolan sambil terikik-kikik. "Lanjut..."
Dont go changing, to try and please me... Tarik, gan!”
Don't go changing, to try and please me
You never let me down before...
Don't imagine you're too familiar
And I don't see you anymore...

***

Sementara itu, di dalam ruang kerja Pak De yang remang-remang. Sepasang tubuh telanjang saling berpelukan dengan tubuh lengket dipenuhi keringat sisa-sisa percintaan yang menggebu beberapa saat sebelumnya.
Lucille tergolek manja di dada Pak De yang dipenuhi bulu. Wanita itu tersenyum lucu, mencubit-cubit gemas perut Pak De yang membuncit.
Pak De terkekeh, “Beginilah, saya sudah nggak seperti dulu lagi. Saya sudah gendut, sakit-sakitan... uhuk.. uhuk... ” Laki-Laki tua itu terbatuk beberapa kali.
Lucille mengusap dada Pak De, dan seketika itu juga dada Sang Maestro diliputi oleh energi hangat yang nyaman.
“Saya nggak peduli Kak Gede sekarang seperti apa, saya nggak peduli Kak Gede gendut atau tua... Saya akan selalu ada buat Kak Gede..” Lucille tersenyum tulus, mengecup pipi Pak De yang dipenuhi jambang dan rambut halus.

Author : Jaya S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar