Rabu, 12 April 2017

Payung Hitam

Payung hitam, iya benda itu benar-benar membuatnya menarik; berjalan dengan payung hitam tersampir di bahu, sangat kontras dengan baju dan rok putihnya yang melambai. Walau hujan turun dengan derasnya, tapi cucuran airnya seolah enggan untuk menyentuh tubuhnya. Dengan lembutnya angin menyibakkan semua titik hujan yang akan membasahinya, mengantarkan langkah anggunnya menyusuri pedestrian jalan Braga.
Semua mata seolah terpana memandangnya, apalagi ketika matanya mengerling lalu dengan malu-malu dia menunduk. Wajah yang merona begitu jelas tergambar. Hingga akhirnya dia mempercepat langkah kakinya sambil lagi-lagi menunduk, menghindari tatapan liar yang kini seolah menelanjangi tubuhnya.
Akhirnya kaki itu membawanya pada sebuah pintu masuk mall yang cukup besar. Sambil menyibakkan rambutnya, dia mulai melipat payung hitamnya. Berdiri menunggu, sejenak dan terasa sangat sepi bagi dirinya. Kalau saja dia mau sekedar mengangkat wajahnya dan peduli dengan sekelilingnya, mungkin dia akan sadar kalau semua mata kini memandangnya.

Bagai berdiri di bawah spotlight, sosoknya begitu agung, mirip dengan Aprodhite, sekaligus tangguh dengan sifat Athena di dalamnya. Tapi ketika laki-laki dengan pakaian hitam-hitam itu menyapanya, hamparan sakura seolah merekah menghiasi wajahnya.
"Lama menunggu?" tanya laki-laki tersebut sambil memberikan lengannya.
Tersenyum, gadis itu mulai melingkarkan tangannya. "Tidak, baru saja sampai." gumamnya.
"Sultan!" laki-laki itu membisikkan namanya, "dan terus terang, kamu ternyata lebih mempesona daripada photo FB mu," lanjutnya.
"Karina," gumam perempuan tersebut sambil tertawa kecil.
Sultan kembali membisikkan sesuatu, "Sepertinya malam ini aku akan benar-benar bahagia," katanya sambil mencium rambut Karina, semerbak wangi parfume yang tidak biasa, wanginya seolah membuai Sultan ke dalam sebuah sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Tentu saja, aku bisa memberikan jaminan bahkan sakitnya mati tak akan kamu rasakan." gumam Karina yang mulai tergelak pelan.
Sultan tertawa, "Sebuah kalimat yang agak tidak biasa, keluar dari mulut gadis cantik sepertimu. Ungkapan yang aneh." gumam Sultan.
Lagi-lagi Karina hanya tergelak.
Berjalan berdua menyusuri pertokoan dan ramainya suasana. Sultan telah benar-benar jatuh hati pada gadis yang baru saja ditemuinya. Benaknya kembali melayang pada hari itu, dimana dia, dengan mata nakalnya seolah menemukan mangsa.
Seorang gadis yang dalam photonya saja begitu cantik. Walau Sultan sempat sangsi, mungkin saja photo itu palsu. Tapi kenyataan ketika akhirnya keduanya saling bertatapan langsung melalui cam, Sultan bisa yakin sepenuhnya kalau gadis polos itu akan jatuh dalam pelukannya.
Sultan menurunkan tangannya, lalu menggenggam jari jemari Karina, perlahan dia meremasnya, membuat wajah Karina lagi-lagi merona. "Oh, ingin aku memelukmu." gumam Sultan dengan tak sabaran.
"Nanti, aku masih ingin jalan-jalan." gumam Karina sambil menunduk.
Semakin malam, Sultan semakin berani, dia mulai memeluk Karina dari belakang, bahkan tidak sekali tangan nakalnya bergerak ke arah lain, mengelus dan sedikit meremas bokong gadis itu, membuat Karina terpekik. Tapi itulah Sultan, dia adalah pemangsa. Tak sedikit gadis yang jatuh dalam dekapannya kemudian dia buang begitu saja, tidak sedikit gadis yang datang padanya meminta pertanggung jawabannya. Dengan mudahnya Sultan mengelak, dan dengan kekuasaan ayahnya yang seorang pejabat tinggi pemerintahan pusat, dia selalu bisa lepas dari jerat hukum.
"Aku mulai bosan, bisa kita ke hotel sekarang?" gumam Karina.
Sultan tersenyum, walau dalam hatinya jelas dia tertawa penuh kemenangan. ”Gadis ini sepenuhnya milikku,” gumamnya dalam hati.
"Lebih baik ke apartemenku, letaknya di belakang sana." bisik Sultan sambil membelai pipi Karina.
Karina mengangguk, lalu dia kembali melingkarkan tangannya di lengan Sultan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sultan.
Akhirnya, keduanya tiba di depan pintu apartemen. Dengan cepat Sultan membuka kunci pintu lalu keduanya mulai masuk. Tangan Sultan langsung meraih tubuh Karina, memeluknya, dan bibirnya perlahan mulai menyusuri leher jenjang Karina. Tapi Karina dengan lembut mendorongnya, dia membawa tubuhnya untuk duduk di  kursi sambil menatap Sultan yang kini berdiri di depannya dengan senyum nakalnya.
"Santai saja, aku milikmu malam ini.” canda Karina sambil tertawa kecil.
Sultan duduk di sampingnya. Tangannya melingkar di punggung Karina, mengelus kedua payudara gadis itu yang montok dan kencang dari arah belakang, dan berbisik. "Maaf, aku pengen sekali nyium bibir kamu!"
Masih tetap tersenyum, Karina berpaling. Dan tanpa berkata apa-apa, wajahnya mendekat dan dengan tiba-tiba bibirnya mendarat di mulut Sultan. Belum hilang rasa kaget Sultan atas keagresifan gadis di depannya ini, Karina sudah mulai memainkan lidahnya, ia belit lidah Sultan dan menghisapnya rakus sambil mendesah dan mengerang. ”Hmhm... ahhh...”
Sultan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia pun berusaha mengimbangi keganasan bibir Karina dengan memeluk tubuh molek gadis itu semakin erat. Lidah dan bibir mereka terus saling melumat dan menghisap. Air liur mereka bercampur menjadi satu. Gesekan kedua payudara Karina di dada Sultan turut merangsang permainan mereka menuju area yang lebih panas lagi.
Sultan melepas ciumannya, dia kini bergerak menuju cuping telinga Karina. Digelitiknya lubang telinga gadis itu dengan ujung lidahnya. ”Hmmm... ahhh... ehhsss...” Karina langsung mendesis dan merintih kegelian. Apalagi saat ciuman Sultan beralih ke batang lehernya dan menjilat lembut disana, Karina makin mengerang tak karuan. ”Sultan, ahhhh... ughhh...” tubuhnya menggeliat, sementara matanya sudah terpejam rapat, tanda kalau birahi sudah menguasai tubuh mulusnya.
Tahu kalau serangannya berhasil, Sultan terus menjilati leher jenjang Karina, membuat beberapa cupang disana, sambil mulutnya pelan-pelan mulai turun ke daerah dada gadis itu. Tanpa membuka baju putih panjang yang dikenakan Karina, tangan Sultan bergerilya. Dia meremas-remas payudara Karina yang terasa sangat lembut dalam genggamannya, dan sepertinya gadis itu.... ya, Karina tidak memakai BH. Sultan dengan jelas bisa merasakan puting Karina yang mengganjal kaku di sela-sela ujung jarinya. Penasaran, Sultan pun menyibak baju gadis itu dan dan mengeluarkan kedua payudara yang ada di baliknya.
Wow! Pemandangan indah langsung tersaji di depan matanya. Payudara Karina terlihat sangat menawan; bulat, padat, cukup besar, dan sangat putih sekali, dengan puting mungil kemerahan yang kini sudah nampak kaku dan mengeras –mengacung tegak ke depan. Fantastis! Begitu mempesona dan sangat menggairahkan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Sultan segera menundukkan kepala dan mengulumnya dengan rakus.
Ia hisap putingnya kuat-kuat, bergantian kiri dan kanan, sambil tak henti-henti memijit dan meremas-remas bulatannya yang terasa begitu empuk dan kenyal. Sultan menyukainya. Begitu juga dengan Karina. Dirangsang seperti itu membuat ia semakin merintih dan menggelinjang kegelian. ”Ehsss... Sultan! Oughhh... ahhhh... ahhhh...” hanya itu yang bisa ia katakan sebagai pelampiasan rasa nikmatnya.
Merasa kurang nyaman bertindihan di sofa, Sultan membimbing Karina untuk beranjak menuju tempat tidur. Ia baringkan gadis itu disana setelah sebelumnya mencopoti baju putih panjang yang dikenakan oleh Karina. Wow! Mata Sultan tak berkedip menatap tubuh molek Karina yang kini telentang pasrah di depannya, terlihat begitu indah dan menggairahkan. Payudaranya yang begitu besar tampak tidak cocok dengan badan Karina yang ramping. Tapi Sultan menyukainya, benda itu nampak tidak turun sama sekali meski Karina sedang berbaring, tanda kalau payudara itu cukup padat dan kencang.
Di bawah perutnya, tepat di selangkangan gadis itu, Sultan tidak melihat satupun bulu. Vagina Karina begitu bersih dan licin, tanda kalau gadis itu rajin mencukurnya. Bentuknya agak tembem, dengan belahan yang masih tersembunyi. Karina rupanya masih malu-malu, ia berusaha menyembunyikan lubang vaginanya dengan mengatupkan pahanya erat-erat.
  Tak tahan dengan pemandangan indah yang ada di depannya, Sultan segera mencopoti bajunya sendiri. Dengan hanya bercelana dalam, ia melanjutkan aktivitasnya. Kembali ia menjilat dan mengulum puting payudara Karina, kiri dan kanan, mengulum dan menghisapnya dengan rakus. Sementara jari-jari tangannya pelan-pelan merayap menuju ke selangkangan gadis itu, dan mulai membelai serta memainkan bibir vagina Karina yang masih terasa agak sedikit kering.
”Ehhss... Sultan!” rengek Karina saat Sultan berhasil menemukan klitorisnya. Laki-laki itu menggeseknya dengan lembut, sambil ciumannya makin turun ke daerah pusar. Teriakan Karina menjadi kian melengking saat dua jari Sultan menusuk ke lubang vaginanya dan mengocok cepat disana, dibarengi dengan jilatan laki-laki itu di permukaan klitorisnya. ”Sultan! Auhhhh... ahhhh...  apa yang...”
Suasana menjadi kian tidak terkontrol. Karina yang merasa keenakan, sudah tidak bisa lagi menahan gairahnya. Iapun merengek dan meminta, ”Sultan, s-udah! Ahhhh... c-cepat lakukan! Ahsss… A-aku sudah t-tidak tahan l-lagi!!” erangannya sungguh tak terduga. Ternyata dibalik penampilannya yang kalem dan anggun, Karina adalah tipe wanita yang gampang panas.
Tersenyum mengiyakan, Sultan pun memelorotkan cd-nya ke bawah, lalu dilemparnya begitu saja ke lantai. Mata bulat Karina tak berkedip begitu menatap penis panjang Sultan yang sudah ngaceng keras sekali. Warnanya agak coklat kehitaman, dengan urat-urat kecil menghias melingkar-lingkar di sepanjang batangnya. Seperti juga vagina Karina, penis Sultan juga bersih tanpa bulu. Hanya ada kantung zakar yang menggantung membulat di bagian pangkalnya, selebihnya begitu jantan dan menggiurkan.
Sultan memberikan penisnya pada Karina yang masih berbaring telentang. “Emut ya?” dia meminta.
Karina tidak kuasa untuk menolak, jadi pelan ia membuka mulutnya dan mulai mengulumnya. Ia hisap penis yang terasa mentok sampai ke tenggorokannya itu pelan-pelan. Karina tidak ingin tersedak. Ia terus mengeyot dan melahapnya sampai Sultan menyuruh untuk berhenti.
”Sudah, Karin. Aku ingin mengeluarkan spermaku disini, bukan di mulutmu.” kata laki-laki itu sambil membelai pelan vagina basah milik Karina. Sultan menjilatnya lagi sebentar sebelum akhirnya memposisikan diri di atas tubuh Karina, bersiap untuk menyetubuhinya.
“Iya, cepat lakukan!! Aku juga sudah tidak tahan!!” rengek Karina saat Sultan asyik menatap dan mempermainkan lubang vaginanya, tangannya dengan nakal mengelus dan menguak belahannya, sesekali juga menekan dan membelai lembut klitorisnya, seperti mengukur kemampuan jepitannya.
”Iya, sayang. Sabar ya,” balas Sultan sambil mencium mesra bibir Karina. Ia melumatnya sebentar sambil mulai mendekatkan ujung penisnya ke lubang memek Karina yang semakin basah dan memerah. Lalu dengan sekali hentakan, sleeep!!! Meluncurlah penis besarnya, menusuk telak hingga ke dasar, menembusnya hingga tidak ada lagi yang tersisa.
”Auw! Ahhhh.... auoghhhh...” Karina menjerit keenakan, begitu juga dengan Sultan. Mereka terdiam sejenak, saling berpelukan dan berciuman. Kelamin mereka menempel erat, saling mengisi dan menerima. Sultan bisa merasakan betapa vagina Karina berkedut-kedut pelan, seperti memijat penisnya. Sementara Karina menutup mata, menikmati tusukan Sultan yang seakan memenuhi seluruh rongga vaginanya, bahkan hingga ke lorongnya yang terdalam.
Setelah terdiam beberapa detik, ”Hhhh... auw! Ahhh...” desis Karina saat Sultan mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan. Laki-laki itu mulai mengocok penisnya, menggoyangnya keluar masuk, menggesek dan membelai dinding-dinding vagina Karina yang hangat dan basah dengan sepenuh tekad dan tenaga. Karina mengimbangi dengan menggerakkan pinggulnya memutar, menyongsong setiap tusukan Sultan agar semakin cepat dan dalam.
Semakin lama, permainan mereka menjadi kian panas dan liar, bahkan cenderung brutal. Sudah tidak ada lagi rintihan manja dan malu-malu, yang ada adalah jeritan panjang dan nakal yang penuh gairah. Sultan menggerakkan penisnya semakin cepat, begitu cepatnya hingga buah dada Karina yang menggantung bebas jadi ikut bergoyang-goyang karenanya. Sultan segera memeganginya, menggunakannya sebagai penopang.
Karina yang tidak mau kalah, menggerakan pinggulnya semakin kuat. Perbuatannya itu membuat penis Sultan menusuk telak, mentok hingga menyentuh dinding vaginanya yang terdalam. Tapi bukannya menjerit kesakitan, Karina justru merintih keenakan, ia merasa tubuhnya seakan terbang ke awang-awang. Sungguh indah sekali.
 ”Mau yang lebih nikmat lagi?” tanya Sultan, yang disambut anggukan kepala oleh Karina. Gadis itu sudah pasrah sepenuhnya, menerima apapun yang akan dilakukan Sultan pada dirinya.
Merubah posisi, tanpa melepas tautan kelamin mereka, Sultan menyuruh Karina untuk menungging. Dengan posisi seperti itu, Sultan kembali mengocok lubang vagina Karina yang kini sudah semakin lebar dan memerah, dari arah belakang, sambil tangannya tak henti-henti memegangi payudara Karina yang menggantung indah di depan dadanya.
”Aghhh... ahhh... ssshhh... mmfffh...” Karina makin menceracau tak karuan.
Sultan sedikit menarik tubuhnya ke depan agar kepala penisnya dengan mudah menyentuh G-spot Karina. Perbuatannya itu membuat Karina  semakin tenggelam dalam arus birahi. Gadis itu meremas-remas sendiri kedua payudaranya, sambil sesekali menarik-narik putingnya dan dipilin-pilin ringan, lalu dilepas lagi. Begitu terus sepanjang Sultan menggenjot tubuhnya dari belakang.
”Aaah... ahhh... aaahh...” Kepala Karina oleng ke kanan dan ke kiri seperti orang kesurupan. Pinggulnya bergelinjang penuh kenikmatan. Sementara mulutnya tak henti meneriakkan rintihan dan desisan yang semakin membangkitkan gairah persetubuhan mereka.
Sultan terus menggerakkan pinggulnya, sambil tangannya tak ketinggalan meremas bokong besar milik Karina. Yang diserang tak sanggup menahan laju birahinya dan langsung melepasnya begitu Sultan menusukkan penisnya keras-keras. ”Sultan, aahhhh... aaargghhh!!!” Karina menjerit dan memegang erat-erat kedua sisi tempat tidur, pinggulnya ia hentakkan sekencang-kencangnya saat cairan cintanya menyenbur keluar.
”Aaagghhhh...” balas Sultan tak kalah keras. Rupanya denyutan vagina Karina  saat memancarkan cairan cintanya menyebabkan laki-laki itu kegelian, dan tanpa bisa ditahan lagi, mengantarnya ke puncak kenikmatan yang tertinggi. Bercampur dengan cairan Karina, Sultan menyemprotkan spermanya keras-keras, berulang kali, dan banyak sekali, hingga lorong vagina Karin jadi terasa begitu banjir dan penuh.
Mereka berdekapan mesra sampai tetes terakhir air mani Sultan mengalir keluar. Saat pelan-pelan Sultan mencabut penisnya, tampak cairan mereka yang sudah membaur mengalir pelan dari celah vagina Karina. Sambil berdiri, Sultan menyodorkan kontolnya yang sudah mulai melemas pada gadis itu, meminta untuk dikulum dan dihisap agar kembali bersih. Karina melalukannya dengan senang hati. Bahkan ia kelewat bersemangat hingga tanpa sadar, malah membuat Sultan kembali terangsang dan bergairah.
"Aku ingin istirahat dulu," gumam Karina sambil membelai penis besar Sultan yang kini sudah kembali berdiri tegak saat laki-laki itu meminta ronde yang kedua.
Sultan terus memaksa, tapi tangan Karina terangkat, menyuruh dia untuk berhenti. "Tunggu sebentar..." gumam Karina sambil tersenyum, kembali wajahnya merona. "bisakah kamu ambilkan payungku?" tanya gadis itu.
Kening Sultan berkerut, "Buat apa?" tanyanya dengan wajah bingung.
Karina menunduk, jari-jarinya mulai memainkan ujung buah dadanya. "Aku suka bermain dengan payungku..." gumamnya.
Walau tidak mengerti, tapi Sultan menurutinya. Kini dia berdiri sambil memegang payung hitam di tangannya. Walau bingung, tapi benak Sultan sudah membayangkan fantasi liar. Malam ini pasti akan sangat luar biasa! serunya dalam hati.
Karina tersenyum, tangan lembutnya perlahan membelai dada Sultan, bergerak terus ke bawah hingga ke perutnya. Sultan mendesah, sentuhan itu terasa begitu nikmat. "Untuk yang kedua, aku tidak suka cepat-cepat. Aku ingin mengamati terlebih dahulu, makan malamku harus sempurna." gumam Karina sambil mulai membelai penis besar Sultan.
"Apa yakinkan kau, kalau diriku sangat sempurna untuk kau nikmati." gumam Sultan dengan suara yang dibuat seromantis mungkin.
Karina terkikik geli, "Boleh juga," katanya dengan wajah kembali merona. Dia bergerak perlahan ke belakang tubuh Sultan, tangannya membelai punggung laki-laki itu, lalu ke bawah hingga ke pinggang, dan meremas bokong Sultan pelan. Sultan melenguh, menikmati apa yang terjadi.
"Hmm, aku mulai merasa lapar, sangat lapar..." gumam Karina, "Sepertinya kamu memang santapan yang nikmat." bisiknya di telinga Sultan.
Sultan menengadahkan kepala, menahan nafsu yang semakin menjerat hatinya. Walau egonya berontak ketika menyadari bahwa Karina kini memimpin langkahnya, karena biasanya Sultan lah yang selalu jadi pemimpin. Dialah yang selalu jadi bos dimana keinginannya harus selalu dituruti. Tapi kalimat Karina terdengar begitu indah di telinganya, walau aneh, tapi sensasinya tetap luar biasa. Hingga akhirnya dia mengalah, kini dia berpegang teguh pada prinsip mengalah untuk menang, akan lebih dasyat rasanya jika akhirnya dia bisa menaklukkan Karina malam ini.
"Tutup matamu..." gumam Karina, "aku akan mulai..." lanjutnya.
Sultan langsung menutup matanya saat belaian lembut tangan Karina terasa mengitari lehernya. Sekejap, hanya sekejap dan sangat cepat, ada sensasi aneh yang menjalari tubuh tegap Sultan. Membuka matanya perlahan sambil berusaha menoleh, tapi sulit ketika pandangannya tiba-tiba mulai tak menentu. Akhirnya, mulutnya hanya bisa menganga tanpa suara sedikitpun juga. Kepalanya perlahan melayang jatuh dan berdebam di atas karpet. Matanya melotot, berusaha untuk melihat apa yang telah terjadi, sayangnya semua sudah terlambat, kini pandangannya mulai meredup dan gelap.
Karina berdiri dengan pedang tipis di tangannya, sebuah pedang dengan gagang pegangan payung, sementara payungnya sendiri berada dalam tangan Sultan.
"Ah, terlalu mudah." gumam Karina, "aku pikir akan ada perlawanan..." lanjutnya sambil mulai kembali berjalan menuju kursi, meninggalkan tubuh Sultan yang perlahan Ambruk, bergetar tak karuan.
"Uh, nafsu makanku hilang..." gumam Karina sambil duduk dan mengelap pedang tipisnya, membersihkannya dari sisa darah yang hanya sedikit sekali menempel, dengan ujung sprei. "Kalian saja yang makan" katanya dengan sikap acuh tak acuh.
Pemandangan yang sangat mengerikan terjadi ketika Karina mulai menggeliat sambil membuka mulut lebar-lebar. Dari dalam tenggorokannya, merayap dengan perlahan laba-laba hitam berukuran kecil. Semakin lama semakin banyak, dan terus bertambah hingga tumpah ruah ke karpet kamar. Mereka berjalan pelan, sedikit tak beraturan, tapi tujuannya jelas: mengerubungi jasad Sultan.
"Tunggu, jangan sentuh kepalanya!" seru Karina, membuat beberapa laba-laba kecil itu langsung berhenti dan bergerak menjauhi kepala Sultan. Dengan kakinya, Karina menggeser kepala Sultan hingga wajah itu menghadap ke arahnya. "Oh, so sweet..." gumam Karina sambil mendekapkan tangan di dadanya yang terbuka.
Dan... cepat sekali lidah itu keluar, seperti seekor katak yang menangkap lalat. Lidah Karina memanjang dan membelit kepala Sultan. Lalu dalam satu tarikan, kepala Sultan pun langsung menghilang, masuk ke dalam tenggorokan Karina yang membesar selama sepersekian detik.
"Hmm, ternyata rasanya busuk..." gumam Karina sambil mengernyit, "Ah, tentu saja busuk, aku harusnya sudah memperkirakan. Dasar koruptor!!" katanya sambil menghela napas pendek.
Di karpet, jasad Sultan hilang tak berbekas. Tak ada lagi yang tersisa selain payung hitam yang kini tergeletak di lantai. Keberadaan Sultan seolah tak pernah ada di ruangan itu, hanya bajunya yang tergeletak tak karuan. Satu persatu laba-laba yang kini berukuran lima kali lipat dari semula, kembali masuk ke dalam mulut Karina.
Setelah merapikan rambutnya sambil bercermin, Karina bergumam. "Aku masih lapar.” Tubuhnya bergetar, wajahnya mengernyit sambil tangannya memegangi perutnya. ”Mudah-mudahan aku menemukan mangsa yang benar-benar enak." Karina mengedipkan mata sebentar ketika seekor laba-laba membayang dalam bola matanya, lalu kemudian menghilang. Dengan cepat dia mengambil payungnya, lalu memasukkan kembali pedangnya ke dalam gagang payung. Dengan cepat dia beranjak ke luar ruangan.
Langkahnya kembali membawanya menuju pintu depan mall, dimana seorang laki-laki tampak berdiri menunggu. "Sudah lama?" gumam Karina yang menyapanya dengan bisikan lembut.
Laki-laki itu terperangah kaget tapi akhirnya tersenyum, "Kamu ternyata sangat cantik..." gumamnya, dan Karina hanya bisa tersipu dengan pipi merona merah. "Mau kemana kita ?" tanya laki-laki tersebut, matanya seolah tak bisa lepas dari wajah Karina.
Karina berpikir sejenak, "Aku sudah tidak tahan, lapar..." gumamnya sambil kembali membelai perutnya, "Kita ke hotel," bisiknya dengan suara sedikit nakal.
Mata laki-laki itu membesar, rasa percaya dirinya semakin meningkat, apalagi ketika Karina melingkarkan tangannya di lengannya. "Aku akan memuaskan rasa laparmu," gumam laki-laki tersebut, membuat wajah Karina lagi-lagi merona.
"Mudah-mudahan benar begitu," bisik Karina sambil mendesah dan tersenyum kegirangan.

Laba-laba hitam melayang, jatuh perlahan di ujung lantai...
Dengan tali tipisnya dia bergoyang, memintal, naik dan naik...
Laba-laba hitam melayang, jatuh perlahan di ujung lantai...
Laba-laba hitam melayang...
Jatuh perlahan...
Di ujung jari tanganmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar