Sabtu, 15 April 2017

Pejantan tangguh



[REC]

Namaku Jaya, Jaya Satrya Mahardika, dan ini adalah pesan terakhirku…
Jika kalian menemukan rekaman ini, berarti saat itu aku sudah ‘aku’ yang dulu lagi… Aku sudah bukan Jaya yang kalian kenal lagi…
Inilah kisahku…

Jaya S. mempersembahkan :

Pejantan Tangguh

Saat ini aku berada dalam ruangan yang dipenuhi oleh asap rokok, aroma alkohol, dan hentakan irama house music. Cahaya laser ditembakkan ke bola-bola disko yang digantung di atas, memantulkan cahaya berkilauan ke seantero klub yang dipenuhi laki-laki, hanya ada laki-laki.

“Taeeeee Heeeeeeee…. Sexy Leiiideeeh!!!! Op! Op! Op! Op! Oppa Gangnam Style!!!”
Di atas panggung, lima cowok berotot yang ‘hanya’ mengenakan cawat Speedo ketat warna biru jingkrak-jingkrak seperti naik kuda. Tangan mereka diputar-putar ke udara seperti memutar laso, dan sontak disambut sorak sorai cowok-cowok kemayu yang histeris.
“Op! Op! Op! Op! Oppa Gangnam Style!!!
Bule-bule berjoget mengikuti irama Gangnam Style, sementara beberapa lainnya memojok dan saling berciuman dengan sesama jenis.
Namaku Jaya. Jika kalian menemukan rekaman ini, berarti saat itu aku sudah ‘aku’ yang dulu lagi… maka… izinkanlah aku mengatakan ini untuk terakhir kalinya… Aku Cinta Meki…!!!
Namun, “Udahlah, cyin, nggak usah munak gitu deh…” kata cowok yang sedang memegang pahaku.

***

Babak 1
Overture of The Lost One

#Jay’s Apartment

Semua drama ini berawal dari beberapa bulan yang lalu. Waktu itu hari minggu pagi. Udara masih dingin, dan ini adalah saat yang tepat untuk menikmati secangkir kopi hangat, tanpa gula, tanpa krimer. Pahit itu laki, kawan.
Sinar matahari menyusup dari sela gedung pencakar langit, masuk ke dalam ruang apartemenku. Sementara musik mengalun dari winamp, menemani pagiku menyelesaikan artikel untuk ditumpuk besok senin. Artikel? Ya, aku adalah redaksi di sebuah majalah Film di Jakarta. Itulah yang menyebabkan aku bisa kenal baik dengan selebritas seperti Olga Syahputra.
Ngomong-ngomong soal Olga, perlu kutekankan: aku bukan gay. Aku adalah pria maho... uhuk… maksudku macho. Aku ke Gym 3 kali seminggu untuk mendapatkan perut six pack ini. Aku tidak membaca Femina, aku lebih suka membaca Mens Health, apalagi covernya. Aktor favoritku Tora Sudiro, Surya Saputra, dan Rio Dewanto (Macho, kan?). Aku tidak suka film cengeng, aku suka film macho seperti The Expendables, posternya kupajang di kamar dan kupandangi setiap sebelum tidur. Sounds men enough?
“Tuhan… tolong aku… ku tak dapat menahan rasa di dadaku…”
“Umh… ada yang muter Chibi yaaaaaah…… unyu bangeeet…” seorang wanita menggeliat keluar dari selimut. “Good morning, Jaaaay…”
“Good morning, Luna.” sahutku tanpa menoleh, buru-buru menghapus lagu Dilema-Cherrybelle dari playlist.
Namanya Luna, Luna Maya… Ya, Luna Maya yang ‘itu’. Kenapa ia ada di tempat tidurku? Ceritanya panjang…
“Gila… kepalaku kayak mau pecah… semalem aku minum berapa banyak?” tanyanya.
“Cuma dua, kok…” aku menyeruput kopi, kemudian menunjuk dua botol Jack D’ kosong di depanku.
Luna terkikik. “Hihihi… banyak juga ya…” Ia tersenyum-senyum sambil mengucek matanya.
“Sekarang udah bisa senyum-senyum ya… padahal kemaren… Arieeeeel… Arieeeeel… kenapaaa… kenapaaaaaaa...” aku menirukan jeritan hangovernya semalam, lengkap dengan wajah mewek-mewek dan hidung kembang kempis, yang segera disambut dengan sebuah bantal melayang ke arahku.
“Ih! Ajaaaay! Jangan diingetin, na!” Luna bangkit dari tempat tidurnya. “Eh, Ngomong-ngomong, makasih, ya… udah mau nemenin semalam…” katanya sambil berjalan sempoyongan ke arahku. Dress putih sepaha yang dikenakan sejak malam tadi nampak acak-acakan seperti rambutnya. “Jay, bagi kopinya, ya.” ia berkata.
“Eet, dah!” aku melotot ke arahnya.
“Ugh, Pahit! kopinya nggak pake gula, ya? nggak enak, tahu!” Luna meletakkan cangkir.
“Krimer sama gula cuma buat bencong.” sahutku sambil memandangi cangkirku yang kini tinggal ampas.
“Whatever… Eh, pinjem kamar mandinya dong.” Luna menepuk pundakku, kemudian melenggang tanpa merasa berdosa. “Pinjam handuk juga!” tambahnya. Aku menghela nafas, Luna masih tidak berubah, selalu seenaknya saja.
Ya, aku mengenal Luna sewaktu SMA di Bali. Dia adalah teman sebangkuku waktu di kelas I. Semenjak saat itu aku dan Luna tidak bisa dipisahkan. Di mana ada Jaya, di situ pasti ada Luna. Di mana ada Luna, disitu pasti ada Jaya. Jay dan Luna, Batman dan Robin, Si Buta dan Kliwon, Tintin dan Snowy. Ya begitulah.
“Heeeeeeeee!!! Siapa yang Snowy! Siapa yang Kliwon!” teriak Luna dari dalam kamar mandi.
Banyak orang yang bilang aku itu cocok 100%, soulmate, jodoh sejatinya Luna, namun entah kenapa kami hanya berakhir sebagai sahabat.
Luna berkali-kali pacaran dan berganti pasangan, sampai terakhir kali bersama lelaki keparat bernama Nazriel Irham A.K.A Ariel Peteporn. I hate him so much, dia yang sudah bikin Luna seperti orang goblog semalam, minum bergelas-gelas Jack D’, cuma gara-gara Ariel jadian sama Momo.
“Sampai kapan sih, kamu mau gini? Terus aja manusia itu kamu pikirin.” kataku, saat Luna sudah selesai mandi, duduk santai di depan meja rias, mengeringkan rambutnya hanya dengan berbalut handuk.
“Entah deh…” jawabnya pendek.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, bingung dengan sifat wanita yang satu ini.
“He’s The One…” kata Luna dengan mata yang mengawang. “I love him so much.” katanya lagi, mantap.
Aku mendengus kesal. “Tolong ya, meskipun sama-sama berakhiran ‘ta’, tolong dibedakan antara ‘Cinta’ dengan ‘Buta’.” omelku.
Luna terkikik. “Memang susah ya… orang yang nggak pernah jatuh cinta, pasti nggak bakal paham.”
“Siapa yang nggak pernah jatuh cinta?” aku sewot.
“Siapa lagi.” Luna melirikku, tersenyum puas karena dengan cerdas telah memindahkan bola panas ke tanganku.
“Eh, jomblo itu pilihan, tahu!” aku membela diri.
“Termasuk pilihan untuk jadi jomblo abadi?”
“My standard is high, catet.” aku menekankan.
Luna terkekeh-kekeh, membuatku semakin sebal. “Jaya… Jaya…” Luna menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lama-lama aku curiga sama kamu…” Luna bangkit dan menatapku lekat, penuh arti “Kamu bukan… Gay… kan?”
“Of course, not!” balasku sengit. “I’m not a…” aku tidak menyelesaikan kalimatku, karena handuk penutup tubuh Luna tiba-tiba jatuh di lantai. Menampakkan tubuh telanjang yang segar sehabis mandi.
“Luna!” aku tersentak, tiba-tiba dipameri tubuh yang ramping dan berlekuk sempurna itu.
 “Apa aku ini kurang masuk standar-mu?” Luna berpose menantang di depanku, membusungkan payudaranya yang tidak besar, namun membulat padat seperti kepala kereta Shinkansen.
“Luna… udah deh... jangan cari gara-gara.” kataku.
Luna meraba-raba tatoo kupu-kupu-nya. “C’mon, Jay… masa cuma segitu responnya?” Luna berjalan mendekat sambil pura-pura menutupi kemaluannya yang tak berbulu.
Orang gila, kalau diladeni, bakal tambah senang, maka aku kembali mengerjakan artikelku di laptop. Reaksiku yang lempeng-lempeng saja membuat Luna mengernyit bingung, semakin penasaran ada laki-laki yang tidak mempan digodanya.
“Luna!” jeritku saat Luna nekat menempelkan payudaranya yang telanjang di lenganku, dan tangannya dilingkarkan di leherku.
“Aku udah lama nggak disentuh cowok nie…” kali ini Luna berbisik tepat di telingaku, hingga hembusan nafasnya membuatku bergidik geli.
Aku tak bernafas, tangan Luna bergerak turun, membelai tubuhku, menuju selangkanganku.
Tiba-tiba Luna mengernyit. “Jay… kamu… impoten… atau gay?”
Impoten atau gay? Benar-benar pilihan yang buruk.

***

#Unknown Location

Sontak tawa menyembur dari bibir seksi Olga. “Kalau ada cowok nggak ngaceng sama Luna Maya, sudah pasti sekong lah, jeng!” Sambil kembali bergoyang mengikuti irama Gangnam Style, dan Gogo Dancer yang semakin liar menggelinjang.
“Areumdawo… sarangseureowo!!! Keurae neo… hey!! keurae baro neo… hey!!” kepalanya goyang-goyang, bibirnya mendecap-decap, seperti ular kobra.
Aku menelan ludah, ingin membenarkan perkataan Olga, tapi hati kecilku masih berontak. Aku tahu, dari kecil memang ada yang salah denganku. Kalian boleh menertawakan aku. Namun aku juga sudah berusaha keras, tahu! Aku selalu berusaha menjadi cowok macho, menjadi laki-laki sejati.
Aku selalu menonton film-film aksi, meski selalu menelan ludah setiap melihat dada tokoh utama yang bidang. Aku selalu menonton film-film bokep, dan aku ngaceng, jelas aku tidak perlu ke klinik Tong Fang. Namun kini aku menyadari aku ngaceng bukan karena melihat Sasha Grey, namun karena melihat si Negro dengan kontol berurat.
Waktu itu aku benar-benar putus asa. Kalian tahu bagaimana perasaan waktu menyadari dirimu adalah gay? Rasanya seperti divonis kanker!
Sorry to say… Tapi tanpa mengurangi hormat bagi teman-teman LGBT, begitulah yang kurasakan.

***

#Jay’s Apartment

“Enggak papa, Ricky Martin, Elton John, Fredy Mercury juga gay.” hibur Luna sambil tiduran di tempat tidurku.
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum kecut.
“Bokap sudah tahu?” tanya Luna.
“Belum.” Sampai sekarang aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ayah tahu mengenai hal ini. Beliau pasti menangis. “Aku pasti nggak bakal diakuin anak lagi.” aku menghela nafas berat, menatap kosong pada langit-langit. “Semua pasti ninggalin aku.”
“Aku enggak kok, Jay.” sahut Luna. Aku melirik pada Luna yang membelai rambutku. “Aku selalu ada buat kamu, kan? Seperti kamu ada buat aku…” tambahnya.
Aku mencoba tersenyum. “Jay… dan Luna…”
“Batman dan robin… Tintin dan Snowy… Soulmate-mu…” dia meneruskan. Aku tak lagi bisa menjawab, hanya menumpahkan tangis yang kubendung bertahun-tahun ke dada mulus Luna.
Luna, bidadari ini yang membuat aku tetap bertahan. Tetap percaya apa itu hidup, apa itu mimpi. Aku nggak tahu, tapi bersamanya, aku merasa kuat. Aku merasa menemukan harapan. Luna membuat aku percaya, being gay is not the end of the world.
“Nggak apa-apa… nggak apa-apa…” bisiknya berulang-ulang sambil mengusapi kepalaku yang sesengukan, membuat segala penyangkalan yang bercokol selama bertahun-tahun, bermuara menjadi sebuah penerimaan.
May be it meant to be, batinku.

***

Semenjak saat itu, memang ada yang berubah denganku. Perlahan tapi pasti, aku tak lagi memaksakan diri bernafsu menonton Ameri Ichinose atau Sasha Grey. Sekarang aku lebih terbuka untuk menonton Twillight, Dream High, atau Gossip Girl sambil mengenakan krim malam sebelum tidur.
“Ping!” BB-ku berbunyi. BBM dari Luna Maya.
“Lagi apa??” tanyanya.
“Gy nonton The Moon That Embraces the Sun.” balasku.
“Spa yuk^^” sebuah BBM yang diakhiri smiley, seperti smiley yang tahu-tahu terbit dari bibirku.
“Yuu^^” –SEND.

***

#Puri Santi Spa, Sout Jakarta, soon after…

“Jaaaaaay…” Luna tersenyum cerah melihatku nampak di Lobby Day Spa di dekat Kemang. Semenjak saat itu kami lebih sering lagi jalan bareng, ke butik, ke salon, atau ke spa seperti saat ini.
“Hi, Luna… cieh, tas baru ya…” kataku sambil mendaratkan cipika-cipiki disertai pelukan ringan seperti ibu-ibu arisan.
“Hermes loh ini, jeng...” Luna memamerkan tasnya.
“Hermes KW pasti.”
“Ih, emang situ, cowok KW.” sahut Luna yang disambut gelak tawa kami berdua. Ya, Luna sudah bisa membuatku menerima diriku sendiri.
Bagaimana bisa mengharap orang lain menerimaku, kalau aku sendiri ‘menolak’ diriku. Bener nggak?
“Meni-Pedi dulu yah, cyin?” tanya Luna sambil membalik-balik daftar paket perawatan tubuh.
“Okeeeeh…” sahutku. Kali ini tak ada lagi yang namanya berpura-pura macho. Kali ini aku menikmati saja berbagai perawatan tubuh yang memanjakanku, menicure-pedicure, lulur, mandi susu, dan diakhiri dengan sauna.
“Panas ya…” kata Luna sambil mengibas kemben batik yang menutup sampai atas pahanya.
“Ya iyalah, jeng, namanya juga ruang sauna.” kataku sambil menyemprotkan air ke atas mesin sauna. Pssssshhh! Segera ruangan dipenuhi oleh uap air. Ruangan 3x4 yang terbuat dari kayu itu kontan bertambah-tambah-tambah panas. Membuat tubuh kami dibanjiri keringat, hingga kemben batik itu menapak jelas di tubuh Luna.
“Yah.. tambah panes, deh..” keluh Luna sambil mengibas-ngibas tangannya “Aduuuh…” keluhnya.
“Panas, tapi baik buat kulit loh… menghilangkan selulit.” jawabku.
Luna mengibas-ngibas tangannya lagi. “Masa? Aduuuh…. tapi panes gilak!” Luna mendecap-decap seperti kepedesan. “Gue lepas kemben sekalian… nggak papa ya..”
Aku belum menjawab, Luna sudah membuka kembennya tanpa ragu-ragu. Tubuhnya yang berlekuk indah mengkilat dibasahi butir-butir keringat, sepasang payudaranya yang membulat nampak merona merah muda. Aku menelan ludah melihat tatoo kupu-kupu yang biasanya hanya kulihat di bokepnya dengan Ariel.
Waktu itu aku sempat berpikir: mungkin aku bukan gay, mungkin aku lesbian. (wtf, pemikiran bodoh apa ini?)
Luna tersenyum sambil mendesis kepanasan, “Kenapa? Ngiler? Suddenly straight? Hihihi.”
“Eng-enggak…” aku mengalihkan pandangan ke arah lain, karena belahan meki Luna di antara pahanya itu tiba-tiba nampak begitu menggoda. Gawat, whats wrong with me?
Luna terkikik “Soalnya kalau kamu pura-pura gay, awas…” jari Luna menirukan gunting.
Aku tersenyum kecut sambil menelan ludah.
“Daripada bengong, olesin minyak zaitun, gih!” Luna menyodorkan sebuah botol bening, membuka tutupnya. “Biar kulit nggak kering, jeng…” imbuhnya saat meratakan minyak di kedua tangannya.
 Aku cuma bisa bergidik-gidik, saat jari Luna mengusapi dadaku yang dipenuhi dengan bulu. Geli sekali saat jari tangannya bergerak melingkar di sekeliling putingku.
“Lebat banget, deh..” Luna menarik-narik bulu dadaku, sambil terkikik-kikik.
Aku cuma nyengir sambil meratakan minyak zaitun di atas pundak Luna. Cairan kental itu meleleh pelan ke bawah, ke arah gundukan putih yang bersemu merah, membuatku ragu sejenak untuk menjelajah ke sana.
“Kenapa? Biasa aja kali… It’s a girl-girl thing, jeng…” Luna menggenggam tanganku, mengarahkannya ke arah toketnya yang kenyal. Telapak tanganku yang biasanya hanya memegang kontol –kontolku maksudnya- kini menggenggam benda menakjubkan yang kenyal, padat, dan… hangat…
“Kok, kamu masih aja jombli sih, Jay?” kata Luna sambil menuangkan minyak ke lenganku.
Aku terdiam, kata-kata itu tiba-tiba mengusikku, namun aku tetap sabar mengusapi dada Luna, meminyaki sisi dadanya sampai ketiaknya yang dicukur habis.
“Kan udah kucomblangin sama Ivan Gunawan, dan Olga. Atau kamu mau sama Nico, ehm… maksudku Nicholas Saputra? Kalau dia udah nggak single, Jay, dia udah sama Joko Anwar.”
 “Kan sudah kubilang, standarku tinggi. Yah, minimal Ariel, deh.” sahutku.
“Iiih! Temen makan temen!” Luna cemberut mendengarnya.
“Hehe..” aku tertawa.
“Memang sih, Ariel itu istimewa. Aku aja waktu putus sama Ariel, aku sampai sempet ‘belok’.”
“Wah, aku malah belum tahu! sama siapa?”
“Nikita Mirzani, eh tapi kamu jangan bilang-bilang ya.”
Aku mengangguk, bingung harus menjawab apa.
Luna berkata sambil mengusapi leherku dengan minyak. Saat ini, wajahku sangat dekat dengan wajahnya, hingga aku bisa melihat senyumnya yang sangat-sangat indah.
Mendadak aku merasakan ruangan itu bertambah panas, dan degub jantungku seperti bertambah satu. Aku menelan ludah, berkali-kali menelan ludah, saat menguleni toket Luna dengan minyak Zaitun, membuat sekujur toket yahud itu kini mengkilat. Menakjubkan… sungguh fantastis… Toket Luna Maya, yang selama ini hanya kulihat di bokepnya dengan Ariel kini dengan bebas kubelai dan kuremas-remas.
“Mmh..” Luna sesekali mendesis saat tanganku mengenai putingnya. Dan mendesis sekali lagi saat jari-jariku mengitari gunung kenyal, hingga pelan-pelan puting berwarna coklat muda itu pun berdiri.
“Hihihi… berdiri deh… mmh…” Luna tambah mendesis-desis saat aku sengaja membelai putingnya.
“Geli, kah?” aku bertanya.
Luna mengangguk sambil tersenyum. “Tapi, nggak papa… mh… its girl-girl… thing… mmh..” kata Luna sambil memejamkan matanya.
Aku mengernyit. “Are you sure its girl-gi…”
Luna menukas cepat. “Aku.. dulu… sama… Niki… juga… omh…”
Aku tak lagi menjawab, sibuk memberikan pijatan ringan pada sekujur toket Luna. Perlahan aku merasakan nafas Luna sedikit memburu, dan matanya mulai memejam. Luna memegang tanganku, membelesakkannya ke dalam dadanya lebih dalam, membuatku ingin meremas lebih dan lebih lagi.
“Ooooh… yaaah… gitu…” suara Luna terdengar sangat erotis, saat jariku iseng memelintir putingnya. Bibir Luna terbuka setengah, nafasnya makin memburu. “Jay… aaah!” Sesaat kemudian tubuhnya bergetar seperti menggigil, kemudian melemas dalam pelukanku. “Ters… Jeng… terus… its.. a girl… owh…” Luna bergerenyit, kakinya menendang-nendang.
Suhu udara bertambah panas, membuat tubuh kami dibanjiri keringat. Luna menggelinjang sambil mengerang dan mendesis, membiarkanku merangkulnya sambil meminyaki tubuh bagian depannya. Luna mendekap erat tangan kiriku, sedang tangan kananku digenggamnya, diarahkannya menuju sepasang pahanya yang membuka.
Jantungku berdebar cepat, paru-paruku panas oleh uap. Seharusnya tidak begini, seharusnya aku tidak tertarik lagi pada wanita, namun aku ingin segera membelai belahan Luna yang tanpa bulu di bawah situ.
“Nggak apa-apa… Jay… nggak papa…” Luna membimbing tanganku membelai selangkangannya. “Ssssh… ooooh…” Wajah Luna mengernyit ketika jariku membelai labia-nya. “Shh… oooh… ho-oh… gitu… sssshh..” Luna merem melek keenakan ketika jariku memijat-mijat labianya.
“Ooooh…. Ooooh….” Luna merangkul leherku, tanganku diarahkannya lebih dalam lagi. “Masukin… Jay… aku… udah lama nggak…. Oooooh!” Kakinya menendang saat jariku masuk ke dalam lubangnya. “Jayaaa… di sanaaaaa… ya, itu…”
Sumpah, cyin… atika bingung setengah mampus!
Aku hanya bisa menggaruk garuk liang Luna yang sudah becek dengan jariku, licin, hangat sekali. Setiap jariku keluar masuk, pinggul Luna ikut terangkat.
“Ooooh! Ooooh!” ia melolong-lolong. Dirangkulnya kepalaku, dibekapnya ke dalam toketnya.
“Mmmmmh….” aku megap-megap tidak bisa bernafas
“Issep, jeng… issep.” rintihnya.
Atika benar-benar bingung, cyin. Mahoan aja belum pernah, apalagi lesbongan. Atika cuma bisa menuruti perintah Luna, menghisap toketnya yang kenyal itu.
“Mmmmmhh… Ooooh…” Luna mengarahkan kepalaku ke arah putingnya, membekap kepalaku lebih kencang lagi. “Issep yang kenceng… oooh…” Luna menjerit histeris dan meronta ketika aku menggigit pelan putingnya.
“Lebih kenceng lagi… jeng… lebih kenceng…. Oooooooh!” Luna melotot ketika aku mengikuti instruksinya, mempercepat RPM kocokanku. “Jeeeng… hkkkkk….” suara Luna sekarang seperti hendak menangis, dijambaknya rambutku.
“Luna! Luna! Anjrit! Sakit tahu!” Namun Luna malah meronta lebih beringas, dicakarnya pundakku, digigitnya lenganku. “Anjrit! Sakit, nyet!”
“Aaaaaaaaaah” Luna bertambah Histeris. Ia meremas-remas payudaranya sendiri, pinggulnya bergerak liar, kakinya menendang kesana kemari hingga sprayer penyemprot air jatuh ke lantai. “Uummmmh... ooooo!!!” Luna berteriak tertahan. ia mendekapku erat, menggigit leherku sambil kejang-kejang.
“Hahh…. Hah… hah..” Luna terenggah lemas dengan mata terpejam, sambil sesekali pinggulnya mengedut saat jariku keluar masuk mekinya yang baru saja menyemprot.
Seumur-umur, aku belum pernah menyentuh wanita, dan sekalinya aku membuat wanita orgasme, dalam peranku sebagai… Gay? Absurd… benar-benar absurd…
“Gilak! Udah lama gue nggak Lesbian kayak gini!” katanya dengan mata memejam keenakan.
Lesbian? What the…
“Greeeek!” pintu dibuka, ibu-ibu tua terlongo melihat tanganku yang masih mencelup dalam meki Luna.
“Ah, maaf… maaf…” Luna panik dan segera menyambar kembennya. “Ketemu di Lobbby!” jeritnya sambil ngacir.
Sementara si ibu masih terlongo-longo, melihat tonjolan yang mencuat di antara pahaku.
Hah?!

***

Setelah mandi, aku berlari kecil menghampiri Luna yang tersenyum cerah di Lobby. Jika ini sebuah film, maka aku akan berlari dalam gerakan Slow Motion, sambil diiringi lagu-nya Whitney Houston.
Luna! aku bukan gay! Ternyata aku lesbian!! Uhuk… maksudku straight!
Tangan Luna merentang, menyergapku dengan pelukannya. “Jaaaay!!! Bertahun-tahun aku kenal kamu, belum pernah aku selega ini!”
“Aku juga, Lun! Aku juga legaaa!”
“Jay, kamu tahu? kamu itu orang yang paling aku sayang!” Luna menarik nafas dengan wajah yang berseri-seri. “dan… dari dulu aku paling takut kehilangan kamu karena hal-hal nggak penting!”
Firasatku buruk, tapi Luna tetap tersenyum cerah, secerah matahari pagi.
“Sekarang kita bisa gila-gilaan kaya tadi… terus aku bisa curhat… ngasih perhatian sepuasnya… tanpa takut…” Luna berkata antusias, matanya berbinar-binar. “kita saling jatuh cinta...”
Aku tidak mampu menjawab lagi.
“You are my Gay Best Friend.” Luna sumringah dan memelukku hangat, erat, seperti memeluk boneka beruang raksasa. Aku balas mendekapnya, membelai rambutnya -namun bukan sebagai laki-laki sejati.
Setan-setan Sekong membisikiku, bahwa jadi gay pun tak apa-apa... ehm… setidaknya pura-pura gay… asalkan bisa terus menemani bidadari seperti Luna.
Yeah, it’s okay to be gay…
Isn’t it?
What? No?

***

Babak 2
Thousand Miles to Paradise

“Para penumpang, sesaat lagi kita akan tiba di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, terdapat perbedaan waktu 1 jam lebih cepat daripada Jakarta... dear passenger...”
Aku tidak memperhatikan instruksi yang disampaikan dalam bahasa Inggris itu. Aku menoleh ke arah Jendela kecil di sebelah kiri. Langit demikian hitam dengan titik-titik kecil lampu yang berkerlip di bawah. Pesawat sedikit berguncang, dan aku merasakan telingaku semakin sulit mendengar, pertanda pesawat menurunkan ketinggiannya.
“Akhirnya kita balik juga ke Bali, ya…” kata Luna yang duduk di kananku.
“Iya…” aku menyahut pelan, sambil sesekali menelan ludah untuk menghilangkan denging di telinga.
Luna tersenyum dan menggenggam tanganku.
“Duh, gue udah nggak sabar pengen liat lumba-lumba. Nanti sempet mampir ke Lovina nggak, ya?” kata Olga yang duduk di kiriku, ikut menggenggam tanganku.

***

#Ngurah Rai Airport

Aku, Luna, dan Olga termasuk dalam rombongan undangan Bali International Movie Festival (BIMF #7) yang akan diadakan di Nusa Dua minggu ini. Aku datang bersama teman-teman media, sedang Luna dan Olga didaulat menjadi MC.
Aku mengambil koper yang bergerak beriringan di atas rel. Di sampingku Olga dan anak-anak SMASH nampak berisik, sibuk dengan penggemar mereka yang minta berfoto. Sementara di ujung sana Andika Kangen Band celingak-celinguk, takjub melihat ruang kedatangan yang dipenuhi ukiran khas Bali, mungkin kalau orang yang tidak kenal bisa menyangka dia porter.
Aku jadi berpikir, aneh sekali Festival Film Internasional harus menampilkan pengisi acara seperti SMASH dan Kangen Band. Dasar antek kapitalis, batinku.
“I miss those old days.” kata Luna sambil mengangkat kopernya sendiri.
“Maksudmu?” aku bertanya.
Luna menghela nafas panjang. “Lihat, nggak ada yang minta foto sama Luna Maya, kan?”
Aku membantu menaikkan kopernya ke atas troli. “Enak lagi, bisa santai nggak ada yang ngerusuhin. Tuh lihat, Andika aja nggak ada yang mintain foto.” Aku serius, buat apa foto sama Andika. Di pasar juga banyak muka kaya gitu.
“Ih, Ajay jahat! Masa aku disamain sama Andika.” Luna merajuk.
“Hehe..” aku cuma nyengir.
“Mungkin kamu ada benernya juga.” Luna mencoba tersenyum. “Aku sudah nggak secantik dulu lagi ya, Jay.”
“Memang ada kerut dan kantung mata yang kendur, sih.” aku membenarkan.
“Dasar, nggak sensitif!” Luna menyenggol lenganku.
“Tapi, menurutku ya… kamu yang sekarang lebih cantik, kok.” kataku sambil menggandeng tangannya. “More human…”
Luna terkekeh, namun matanya sedikit berkaca. “Jay, kenapa ya… di depanmu, aku selalu merasa menjadi manusia.” Luna menarik nafas. “… dan Ariel, cuma di depan kalian, I feel so human.”
Aku melengos, tidak begitu peduli pada kalimat terakhirnya. “Mas! Tolong dibantu dorong troli-nya!” jeritku pada seseorang, dan itu ternyata Andika.

Kami dijemput oleh panitia. Seharusnya aku naik mobil bareng anak-anak media, tapi karena permintaan Luna, aku boleh satu mobil dengannya, yang langsung disambut kasak-kusuk dan tampang mencurigakan dari teman-teman (terutama infotainment). Yah, sudah seminggu ini namaku disebut-sebut oleh Feny Rose, namun biarlah, daripada digosipin sama Olga atau Ivan Gunawan.

***

Suzuki APV yang mengangkut kami dari Bandara ke Hotel, merayap pelan di jalanan yang macet, penuh dengan kendaraan luar kota. Padahal baru satu tahun aku tidak pulang, tahu-tahu saja wajah pulau ini kini jadi berbeda. Kuta sudah sedemikian sesak, dan hotel-hotel baru bertumbuh pesat membuatku semakin terasing di tanah kelahiranku.
Mataku dan Luna tak hentinya berbinar memandangi setiap sudut kota yang pekat dengan aroma nostalgia. Sementara Olga yang duduk di kursi depan merasa dikacangin dan mengganti-ganti chanel radio. Tiba-tiba kami tersentak, “Ga, jangan diganti lagunya!” jerit Luna.
Kami berpandangan, dan saling tersenyum. Sebuah lagu mengalun, membekukan ruang, memutar waktu kembali ke masa SMA. “Inget lagu ini?” kata Luna.
“Ingeeet.” aku menjawab.
“Soundtrack ngapel kita.”
“Eh, emang kamu pernah kuapelin?”

Di ujung jalan itu
setahun kemarin, ku teringat
Kau menungguku
Bidadari belahan jiwaku

Entah berapa lama
Satu jam menanti, kutermenung
Kencan pertama hilang tak bertepi di anganku

Melangkah pergi Berteman sepi
Terbayang teduh matamu

Sayang, walau bulan tak bercahaya
Cintaku selalu dalam jiwa
Di lubuk hati terdalam

Sayang, jika memang kau sungguh sayang
Diriku takkan berpaling lagi
Ku peluk selamanya

“Eh, Jay! ntar malem kita mau kumpul-kumpul di Mixwell Bar, di Seminyak, lu ikut yah, cyin…” Ah, Olga merusak suasana saja.
“Kumpul apa, Ga?” aku bertanya,
“Udahlah, ikut aja! bareng ana-anak SMASH juga.” katanya lagi.
“Maaf ya, Jeng, tapi malem ini, Jaya gue yang boking.” potong Luna, sambil tersenyum penuh arti.

***

#Mixwell Bar, Seminyak

“Sebenernya lu gimana sih sama Luna, Jay?” tanya Olga.
“Nggak tahu, deh…” mataku menatap hampa pada seorang Diva Transgender yang kini naik panggung, menggantikan Gogo Dancer tadi.
Sang Diva mengenakan gaun panjang warna kurning dan hijau, dipadu sepatu berhak 10 cm. Rambutnya dipotong model Shaggy, dan di cat warna blonde. Wajahnya nampak cantik untuk ukuran cowok, di-make up tebal dengan bulu mata palsu yang mencuat tebal.
Musik mengalun, dan Sang Diva mulai mendendangkan lagu yang dapat membuat Whitney Houston menangis di alam baka.

***

#Westin Resort, Nusa Dua

Semenjak kejadian di Spa tempo hari, aku semakin yakin bahwa aku tidak sepenuhnya gay. Aku adalah ‘pejantan tangguh’, yang bisa diartikan ‘homo nanggung’ dalam bahasa Malaysia.
Luna berhasil menembus tembok tebal kota Sodom yang mengurungku bertahun-tahun. Mengeluarkan seorang bocah yang kebingungan dengan orientasi seksualnya.
Semenjak kejadian itu pula Luna jadi lebih terbuka terhadapku, jauh lebih terbuka dari sebelumnya. Awalnya cuma aku yang mencurahkan perhatian pada Luna, mendengarkan keluh kesahnya tentang Ariel. Namun setelah itu, hubungan ini kini berlangsung dua arah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa ada yang menerimaku apa adanya.
Saat Luna menghiburku, dadaku dipenuhi dengan perasaan hangat yang tidak bisa dijelaskan. Saat aku mendengar tawanya aku seperti melayang dalam ruang tanpa gaya berat. Dadaku dipenuhi oleh perasaan bahagia yang tak bisa digambarkan oleh lagu manapun.
Saat itu aku menyadari bahwa: aku jatuh cinta pada sahabatku.
Dan kini, aku memandangi wajah cantik Luna yang berjalan di sampingku di pinggir pantai di dekat Resor. Di belakangnya hanya ada laut yang membentang keperakan, serta langit malam yang keunguan. Sementara hamparan pasir putih merupa terigu, dihempas buih yang memecah di kaki-kakiku.
Luna berjingkatan menghindari ujung ombak yang mengejar mata kakinya. “Jay... tunggu…” Luna tertawa-tawa sambil memegangi tanganku.
“Sudah lama ya, nggak kaya gini.”
“Sudah berapa tahun, yah?”
“Umm..” mata Luna berputar-putar. “13?”
“14 deh kayanya, Pas tahun 98, kan? Waktu kita kelas I.”
Ombak berdebur pelan, memerangkap kami dalam ruang nostalgia.
“Waktu SMA aku naksir kamu, lho… “ kata Luna.
“Bohong.”
“Beneeer! aku kira kamunya yang jual mahal, eh ternyata sekong. Hehe…”
Namun permasalahannya Luna selalu menganggapku penyuka sesama jenis. Entahah, malam ini mungkin aku akan mengutarakan yang sebenarnya.
Luna merebahkan punggungnya di atas pasir. Aku menyusul berbaring di sebelahnya, memandangi bintang.
Perpaduan langit tak berawan dan suara ombak. Membuatku merasa tidak berada di bumi, kami seperti sepasang bayangan yang terombang ambing dalam samudera semesta.
“Luna, kamu itu bulan.” kataku, tak berkedip, memandangi bulan purnama di langit.
“Jaya, kamu itu gombal.” balas Luna, lempeng.
“Gombal itu rambutnya anak reggae itu, kan? Woyo woyo woyo…”
“Itu sih gimbal!” Luna terkikik-kikik dan menonjokku.
“Hehehe… aku serius ne...”
Luna menoleh ke arahku, bersandar pada pasir. Memandangi wajahku lekat dan erat.
“Kemarin hidupku gelap, tapi berkat kamu…” aku tidak menyelesaikan kalimatku, tahu-tahu Luna cekikikan sendiri.
“Hihihi… nggak ada kalimat yang lebih gombal, apa?” Luna menonjokku pelan. “Dialogmu kaya novel porno gagal terbit, tahu.” Luna menggeleng. “Lagian, aku nggak sesempurna itu, kali…”
Aku tak mejawab, membiarkan Luna kembali memandangi langit.
“Jay, tapi kamu tahu, kan? Nggak selamanya bulan itu purnama, ada kalanya dia nggak bersinar.”
“Aku tahu…”
“Aku nggak sesempurna itu, Jay...”
“Karena hidup nggak sempurna itu… kita saling melengkapi, kan?“
Kali ini Luna tidak menjawab. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
“Luna, eh… kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.” ia sibuk mengusapi matanya yang berkaca. “Ironis, aja…” Luna mencoba tersenyum. “Nggak apa-apa… lagian kamu…” Luna menelan ludah. “Gay, kan?”
Aku membeku. Aku ingin mengucapkan, I’m straight and I love you! Namun sekujur tubuhku membeku.
“So, my dear gay bestfriend, boleh aku minta peluk?” ia bertanya.
“B-boleh…” tanganku merentang ragu, menangkap tubuh Luna yang beringsut ke pelukanku.
“Hem…” Luna memperbaiki posisinya, kemudian mendekapku lebih erat lagi. “Hihihi…”
“Kenapa?
“Enak ya, dipeluk Ajay.” kata Luna sambil menempelkan kepalanya di dadaku, membiarkanku membelai rambutnya. Luna tersenyum dalam buaianku. dan aku tidak tahu kenapa senyum itu tahu-tahu menempel di bibirku. Sedetik pertama aku terkejut, namun dua detik selanjutnya aku membiarkan bibir Luna membelai pelan.
“Mmmmh…” nafas Luna yang harum menari di wajahku seiring bibirnya yang membelai bibirku. Bibir Luna begitu lembut, begitu hangat, bergerak dengan lincahnya membelai bibirku. Hangat, aku merasakan hagat yang memenuhi dadaku, membuatku membalas ciumannya itu dengan pagutan yang serupa. Aku menghisap bibir luna, menggigitnya pelan, membuat Luna tersentak.
Luna melepas ciumannya. Cahaya bulan jatuh di atas wajahnya yang tersenyum kepadaku.
“Ternyata… hihihi…”
Aku cuma nyengir.
“Kok ada ya, orang nggak jelas kayak kamu… jadi kamu gay? Atau…”
“Lesbian, kali…?” jawabku asal.
Luna terbahak, dan menonjok dadaku. “Gila, ya… that was a sweetest kiss I ever had, you know?”
“Really?”
Luna mengangguk, ia tersenyum -dan kali ini memejam, mengharap ciuman kedua mendarat di bibirnya. Ciuman yang kudaratkan lembut, dan segera disambutnya degan pagutan halus ke bibir bawahku.
“Mmmmmmhh….” suara lengguhan kami diselingi suara ombak, memenuhi dadaku dengan perasaan hangat hingga jantungku berdetak semakin kencang.
“Mmmmh…” Luna mendekap tubuhku lebih erat, dan mendesah pelan di sela ciumannya. “Sssshhh…”
Aroma parfum bercampur bau laut, menggolakkan naluri kelaki-lakian yang selama ini terkurung tembok kota Sodom. Naluri itu seperti binatang buas yang terkurung selama bertahun-tahun. Dan saat ini binatang buas itu terlepas, menggila, mencari mangsa!
Ciuman yang awalnya saling membelai lembut menjadi saling melumat. Luna menyapukan lidahnya ke bibirku, dan naluriku berkata aku harus menghisapnya.
“Mmmmh…” Lidah Luna menjulur ke dalam rongga mulutku, kuhisap tipis, sambil kubelai lembut dengan lidahku. Luna meraih tanganku, mengarahkannya ke buah dadanya.
Aku yang sekarang memiliki naluri untuk meremasnya pelan, membuat Luna merintih, hingga ciumannya terlepas. “Jaay… jangan keras, keras….” dia menggeleng, namun itu justru membuat lehernya nampak begitu menggoda.
“Slluuup…” tiba-tiba saja aku ingin menciumi leher mulus yang dipenuhi pasir itu. Kuhisap pelan, sambil sesekali kugigit. Membuat Luna berkelojotan dan mendekapi kepalaku sambil merintih.
Luna mendorong kepalaku ke bawah ke arah tulang selangka yang kini kujilati. “Ajay… ajayy… aaah… aaah….” membuatnya mendesah-desah, sementara dadanya turun naik dengan cepat. Aku melirik, kini dada itu nampak begitu menggoda, menyembul dari leher dasternya yang longgar.
“Jaaaay…. Hkkk…” Luna menutup bibirnya dengan punggung tangan, karena sekarang aku sedang sibuk melumati bongkahan kenyal, yang fantastis. Payudara Luna menyembul dari bra Hitam yang membungkus ketat sepasang daging lembut yang berwarna keperakan ditimpa cahanya bulan.
“Aaaaaah…” Luna meronta, berusaha mendorong kepalaku, namun itu justru membuat kami bergelut dan bergulingan di atas pasir. “Bentar! Bentar!” Luna yang terenggah mendorong tubuhku, menutup mulutnya kemudian tertawa terbahak. “Gilak kamu yaaaa!“ nafas Luna naik turun. “Dasar gay gadungaaaan!!!” Luna memukul-mukul dadaku histeris sambil tertawa.
Ombak berdebur mengiringi gelak tawa kami.
“Jadi waktu di SPA itu kamu pura-pura?”
“Enggak… sih… waktu itu… aku masih…”
“Jadi?”
“Well…”
“Dasar homo nanggung!”
“Ngaca dulu, kamu juga sama Nikita Mirzani.”
Luna tergelak dan menonjok lenganku. “Tapi tadi bener-bener hot, tauk! Mirip kaya Ariel!”
Aku menelan ludah, mendengar Luna menyebut-nyebut nama mantan pacarnya itu.
 “Sayang, ya… kok nggak dari dulu aja kamu…” Ombak berdebur lagi, mengamini ucapan Luna.
“Kenapa?”
“Nggak… nggak apa-apa…” Luna mencoba tersenyum. “Sekarang kita lihat kamu sejantan apa?”
“Hah?”
Belum sempat aku berpikir Luna sudah menindih tubuhku. Luna tersenyum, dan aku hanya bisa dengan senyum berlatar belakang langit malam yang penuh bintang.
“Luna, kamu mau apa?”
Pertanyaanku dibalas Luna dengan lumatan buas pada bibirku, yang kemudian bergerak pelan menyusuri leherku.Perlahan, nafasku mulai memberat, aku mencoba mengimbangi permainan Luna, dengan meremas payudaranya dari meraba- raba bongkahan pantatnya.
“Mmmh… Luna…” aku mencoba mendorong Luna, namun dengan lincah bibirnya berpindah melumat leherku. Lidah Luna yang menguas pelan di telingaku, membuat lumpuh seluruh ototku seketika.  “Ooooh….” aku mendekap kepala Luna yang mulai bergerak turun, menyibak kausku, dan menyerbu dadaku yang dipenuhi bulu.
“Luna… Luna… Oooh…” aku mengejang, meronta sejadi-jadinya, namun geli karena bibir sensual yang melumati putingku itu membuatku pasrah, dan mendekapi kepala Luna yang semakin bergerak ke bawah.
“Aaaa… aaah…” kepalaku mendangak-dangak, seperti kehabisan udara, karena bibir Luna mulai menyusur turun, menjilati sekujur perutku, menuju… “Oooooh!” ia menggigit perut bawahku!
Luna melirik ke arahku, dan tersenyum, nakal! binal! Sebelum menggigit pelan kejantananku dari luar celana “Hihihi…” Luna terkikik, diturunkannya kolorku dengan gigi dan bibirnya, “Oooooh!” aku melolong panjang.
Kejantananku yang dulu cuma bisa tidur, kini mengacung tegak. Luna tersenyum puas melihatnya. Jemarinya yang lentik, memainkan ujung kejantananku, seperti sedang memainkan ujung jamur. Aku menelan ludah, hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan yang ada di depanku.
Aku melirik ke arahnya, ia tersenyum. Nakal, binal. Sebelum mulai menciumi ujung kejantananku. Tahu-tahu saja batang kejantananku sudah amblas ke dalam mulutnya, ditelan oleh rongga yang hangat dan basah. Luna melumat, menghisap kejantananku ke dalam pusaran kenikmatan yang tiada bertepi.
Kepalanya maju mundur dengan cepat dan lidahnya bergetar hebat dan bibir sensualnya yang kenyal melumati batangku. Aku mengerang-erang sejadi-jadinya. Lidahnya yang mungil menjilati kejantananku dari ujung sampai pangkal, sambil tetap dikocoknya pelan dengan jarinya.
Tanganku mendekap kepala Luna, sambil menahan geli yang tak tertahan. Bibirku mengap-mengap ketika Luna menjilati pangkal kemaluaku, dan menghisap buah zakarku.
“Aaaaaaah.” tangan Luna mengurut batangku, sampai selangkangan. Aku mendekap kepala Luna, membelai rambutnya, Ia melirik dengan nakal ke arahku sebelum mengurut selangkanganku, membuat pinggulku terangkat-angkat oleh gelombang kenikmatan.
“Ooooh!” sekarang jemarinya lincah mengurut selangkangan sampai anusku.
“Luna! Luna! Aku sudah mau!” aku berteriak.
Aku hendak merasakan puncak, ketika seorang bule berjalan sempoyongan sambil menenteng botol bir.
“Lun! Ada orang!”
Luna dan aku buru-buru merapikan pakaian kami yang berantakan. Si Bule melenggang sempoyongan sambil bernyanyi tidak jelas. Nafsu birahi yang menggebu, berganti dengan perasaan waspada.
“Gawat.”
“Iya.”
“Khilaf.”
“Iya.”
“Kalau ada yang ngerekam gimana?”
Luna tergelak mendengar kalimat terakhirku. “Pindah yuk…”
Aku menelan ludah mendengarnya. “Di mana?”
Luna cuma tersenyum, melirik pada satu titik di kejauhan. Dan aku sudah bisa menebak ini akan menuju kemana. Dalam hati aku bersorak, aku adalah homo paling beruntung… maaf, mantan homo.

***

Dari tempat semula, kami berjalan agak jauh menuju beton pemecah ombak di ujung sana. Dari bibir pantai, barisan beton pemecah ombak itu menjorok 100 meter ke tengah laut. Sinar bulan yang benderang membantu kami melangkah di atas ratusan beton yang berbentuk silinder dan ditumpuk sedemikian rupa.
“Pelan-pelan.” kataku sambil menggandeng tangan Luna.
“Hehehe.., Makasih, Jay…”
Sepanjang perjalanan, aku terus berpikir. Inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku. Di ujung, kami duduk di sebuah beton berbentuk silinder. Memandangi Langit malam dan laut yang menghitam. Luna menyandarkan kepalanya di pundakku, menikmati orkestrasi ombak dan angin laut yang menerbangkan perasaan kami.
“Kok bisa ya, aku sama kamu.” kata Luna pelan di sela debur ombak.
“Nice guy finish last…”
“Apa? Gay?”
“Iya, ejek dah… nggak seneng ya, temen dah agak lurus.”
“Hehehe… iya… iya… maaf… kamu memang sahabatku…” Luna memelukku hangat.
Entah kenapa kata Sahabat ini mengganggu perasaanku.
“Jay… 14 tahun aku kenal kamu, dan aku merasa kamu itu bagian terbaik hidup aku.” Ombak berdebur, mengiringi jantungku yang makin berdebar mendengarnya. “Aku nggak tahu , aku bakal jadi apa kalau kamu nggak ada.” Luna mempererat dekapannya. “Waktu aku down gara-gara video bokep itu, kamu datang, kan? Kamu selalu ada buat aku.”
Aku membelai rambut Luna. “Kamu juga kok, Lun… aku nggak tahu aku bakal jadi apa kalau nggak ada kamu.”
“Kita saling melengkapi… ya…”
“Saling menggenapi…”
“Jay dan Luna…”
“Si Buta dan Kliwon…” tambahku.
Luna terkikik mendengar leluconku. “Kamu aja yang jadi Kliwon!” kemudian mencubitku.
“Soulmate…”
Luna tersenyum, dan ombak berdebur, membiaskan tirai tipis ke udara, seperti pengantar sebuah ciuman hangat yang mendarat pelan di bibirku.
Di dalam gelap kami saling membelai. Diantara debur ombak kami saling berpagut. Dan disela angin malam kami saling melucuti pakaian, hingga tinggal sepasang tubuh telanjang ditimpa cahaya bulan.
Luna duduk di beton pemecah ombak, membuka pahanya lebar-lebar. Sinar bulan yang memantul di air menimbulkan riak-riak garis pada tubuhnya yang indah.
“Mau diliatin aja? Buruan, digigit nyamuk, nie.”
“I-iya..” aku berdiri di antara dua paha Luna yang membuka, menekan ludah berkali-kali karena Luna membusungkan dadanya, hingga sepasang payudaranya nampak begitu menantang.
Aku menempatkan ujung kejantananku pada belahan vagina Luna. Dia membuka pahanya dan tersenyum. Matanya sedikit memejam ketika kejantananku menggesek pelan pada belahannya yang sudah licin mengkilap.
“Mmmhh…” Luna menggigit bibirnya ketika batangku meluncur di licin vaginanya. “Jay..” rintihnya pelan.
Aku mendorong lagi, namun berkali-kali kejantananku hanya meluncur-luncur di selangkangan Luna, membuatnya mendesis-desis, mungkin mengenai klitorisnya.
“Ssssh….” aku mendorong lagi, namun terpeleset lagi. Kejantananku hanya meluncur-luncur di antara lepitan daging yang sudah membecek.
“Masukin… hh… hh….”
“Susah… gelap… licin…”
“Hihi… biasanya kamu yang dimasukin, ya…”
“Eet, dah.”
“Hehe..” Luna meraih kejantananku, mengarahkannya ke dalam Vaginanya. Aku mendorong pinggulku, ujung kejantannku merasakan hangat yang misterius.
“Umh…” Luna menarik nafas panjang. “Hu-uh.. dorong, Jay… oooh…”
Aku menahan nafas, ketika kejantananku memasuki sebuah lorong yang sempit dan hangat. “Ummmmh…” aku melenguh pelan, karena dalam sekejap ada rasa geli dan merinding yang menyebar dari selangkangan sampai ujung rambutku.
“Jay… Gede, banget… uh.. Oh…” Luna meracap tidak jelas ketika kejantananku kini memenuhi liangnya. Nafasnya naik turun dengan cepat, membuat dadanya yang bundar nampak membusung-busung menggiurkan.
“Sempit… gilak…” aku pun setengah mampus menahan geli yang teramat sangat. Vagina Luna hangat dan sempit, dinding-dindingya seperti hidup dan memijat-mijat batangku. Aku menahan nafas, kejantananku menancap, namun aku si empunya bingung harus berbuat apalagi.
“Yah, udah nggak perjaka lagi, deh…” Luna tersenyum dengan wajah yang di mabuk birahi, cantik, sangat cantik.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, siapa yang tak mau perjakanya diambil Luna Maya. Luna pun tersenyum, tangannya merentang, menyambut tubuhku yang memeluknya, dan bibirku yang mengecup bibirnya.
Ombak menghempas beton dan karang, seperti gelombang birahi yang bergerak menggerakkan pinggulku maju dan mundur, yang bermula suatu gerakan tidak beraturan, namun berujung pada suatu gerakan saling memompa yang teratur, seperti arus laut.
“Ooooh… Mmmmmh…” Luna menggigit bibirku, saat kejantananku mengujam-hujamnya. Tangannya melingkar di punggungku, mendekapku pada kenyal dadanya.
“Mmmmh…” aku pun berusaha menahan nikmat dan hangat yang menjalar-jalar setiap kali kejantananku keluar masuk liang kenikmatan Luna.
“Ssssh…” tubuh telanjang kami saling menempel, dan pinggul kami saling menghentak dan menghenyak.
“Ooooh… Aaaaah! Aaaah! Aaaah!” jeritan kenikmatan kami ditimpali suara ombak yang berdebur menghempas beton dan karang.
“Luna.. Luna…” aku membenamkan kepala di pangkal lehernya, menghisap leher Luna, membuat Luna semakin erat mendekap dan menjambakiku. Udara malam sangat dingin, namun tubuh kami yang saling menyatu menimbulkan hangat yang meriap sampai ke jantung. Dan percumbuan kami semakin liar, semakin brutal.
Vagina Luna begitu sempit, begitu legit! Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahannya. “Luna! Aku udah hampir…”
“Uuh.. uhh.. tunggu sebentar, Jay!.. aku bentar lagi.. umh”
Aku sudah membayangkan berbagai macam hal menjijikkan agar aku tidak orgasme duluan, dan aku salah ketika aku membayangkan adegan bokep maho.
“Aaaaaaaah! Lunaaaaaa!!!” aku menjerit kencang. Luna segera mendorong tubuhku. Aku menggigil, mengejang dalam pelukan Luna. “Aaaah! Aaaah! Aaaah!” aku berteriak tertahan setiap pinggulku mengedut dan memuncratkan cairan kenikmatan yang membasahi perut dan dada Luna.
Luna terenggah, matanya sedikit memejam. Jelas sekali ia belum sampai puncak. Ah, aku jadi tak enak hati.
“Maaf ya… maklum nubi.. mantan homo lagi…” kataku.
Luna hanya bisa tersenyum, namun aku bisa melihat ada yang mengganjal dari senyum itu.
“Jay… kamu mau apa?” Luna mengernyit, karena aku tiba-tiba beringsut berlutut di antara kedua pahanya. “Jay, kamu mau ap… ooooh!” Luna tidak menyelesaikan kalimatnya karena aku keburu menciumi kewanitaannya yang tak berbulu itu.
“Jaaay…. Udah… nggak usaaah…” Luna mendorong kepalaku, namun aku tetap menjilati belahan Luna sampai klitorisnya, seperti yang kulihat di film-filmnya Sasha Grey dengan si Negro, ah jangan mengungkit masa lalu.
“Oooh.. hhh..” Luna menggelinjang, sambil menjambaki rambutku sementara tangan yang satunya menutupi mulutnya yang membuka. Ibu jari dan jari tengahku memijat dan menyibak bibir kewanitaan Luna, sementara telunjukku memainkan klitorisnya.
“Ooooh!” Luna semakin larut dalam badai birahi.
Lidahku mencoba menerobos masuk, menjilati setiap cairan cinta yang ada di situ. Tanganku yang satu lagi mengurut selangkangan Luna, lembut dari bawah ke atas. Membuat kepala Luna terangkat, kemudian terhempas. Terangkat, kemudian terhempas, dipermainkan gelombang birahi.
Gelombang birahi yang mengangkat pinggulnya dan menggerakkan tubuhnya ke segala penjuru.
“Ooooh!” Luna mulai mengejang, otot-otot tubuhnya mulai bergetar. Pahanya mendekap kepalaku, sebelum mengejang dan menyemburkan cairan asin ke dalam mulutku. Luna terengah di bawah cahaya bulan. Dadanya yang bundar tampak naik turun dengan cepat. Matanya setengah memejam di atas wajahnya yang sayu. Bibir indahnya membasah dan setengah membuka.
Bibir yang demikian basah, demikian menggoda untuk kukecup. Sementara ombak berdebur, memberkaskan air ke udara, mengiringi ciuman kami, mengakhiri sebuah babak dari percumbuan yang dahsyat.

***

Malam itu bulan bersinar penuh. Membuat garis pantai berkilau seperti perak. Aku dan Luna bergandengan tangan, kembali menuju hotel.
Malam itu langit terbuka luas, milyaran bintang berkelap-kelip dengan indah di tengah belantara semesta. Sedang kami seperti sepasang bayangan yang berjalan di tengah lautan bintang. Belum pernah aku melihat malam seterang ini, juga semsesta seindah ini.
“Makasih ya…” kata Luna.
Aku hanya membalasnya dengan senyum.
“Makasih untuk semuanya.” Luna mempererat genggamanku. “Yang tadi itu, anggap aja ucapan terima kasihku…”
Ombak berdebur mengiringi langkah kami, seperti jantungku yang tak henti berdebaran. Inilah saatnya.
“Makasih yah, Jay… berkat kamu… akhirnya aku bisa-”
“Luna, I’m In Love-” aku memotong ucapannya.
Mata Luna membeliak. “Apa?” ia nyaris tak percaya.
“I’m in Love…” aku mengulangi.
Mata Luna melotot, mulutnya membuka seperti mendengar ada maling jemuran. “Oh, My God… 14 tahun aku kenal Jaya, baru kali ini dia jatuh cinta…” Luna berlonjakan girang. “Makanya kamu mendadak Lurus giniiiiii hahahahaha…” Luna mendekapku erat, aku balas mendekapnya. “Sama siapa? Umm… Tapi yang pasti nggak sama aku, kan? Hihihihi…”
Tawaku seperti menguap, menyisakan sebuah cengar-cengir tak jelas.
“Oke, kalau belum cerita nggak apa… that’s still a good news!” Luna menepuk pundakku, bangga.
“Aku dari tadi cuma mau bilang… aku berterima kasiiiiiih sekali karena berkat kamu….” aku menahan nafas, sementara Luna menarik nafas panjang, karena sepertinya yang akan ia ucapkan benar-benar berat. “Berkat kamu, aku bisa balikan… sama Ariel…” Luna berbisik setengah berteriak.
Ombak menghempas. Mengamini ucapan Luna.
“M-maksudmu?”
“Aku balikan, sama Ariel!”
Laut menghempas keras, namun aku tidak bisa mendengar suara. Ombak seperti tak bergolak, angin tak bergerak, jantung tak berdetak, waktu membeku, membekapku dalam bisu yang panjang.
Aku tidak mampu mendengarnya lagi, bibir Luna yang asyik berceloteh seperti di-mute begitu saja.
“Jay… kamu… nggak papa? Kok diem?” Luna mengguncang badanku.
“Eng-engak… s-selamet… y-ya…”
“M-makasih… kamu yakin kamu nggak apa-apa?” Luna memegang dahiku.
“I-ya.. a-aku.. saking… senengnya… he.. he…”
“Makasih, Jay…” Luna memelukku erat, hangat, seperti pelukannya selama ini. Begitu hangat… Begitu nyaman…
Malam itu ombak tak henti berdeburan, seperti jantung kami tak henti berdebaran. Andaikata perasaan bisa diungkapkan tanpa ucapan, biarlah ia sampai melalui pelukan.
“Makasih ya, Jay.. kamu memang sahabatku… kamu memang…”
“Your gay bestfriend, aren’t I?”
Luna terkikik-kikik, namun aku bisa melihat matanya mulai membasah. “Duh, kok aku nangis gini ya…” Luna sekarang sibuk mengusapi pipinya.
“Kok nangis sih? kan udah balikan…” aku masih mencoba tersenyum.
“Aku, nggak tahu… aku.. hehe… tiba tiba pengen nangis aja… huk huk.. aku.. aneh, ya… huk.. huhu..” tangis Luna bercampur tawa.
Aku memeluknya erat, sangat erat. Sementara ombak tak henti berdeburan, silih berganti menyelingi isak Luna yang ia sendiri tak tahu kenapa.
“Nggak apa-apa… nggak usah bingung…” aku membelai rambutnya.
“Huk.. huk… kamu memang…”
“Yeah, i always will be your gay bestfriend…”
“Nggak! Kamu seharusnya bisa… lebih dari itu… huk… huk…” bisiknya diselingi isak.
“Nggak apa-apa… nggak apa-apa… nggak apa-apa.” kataku berulang-ulang, kepada Luna, kepada diriku sendiri. Tak apa… Mungkin sudah nasibku… May be, it meant to be…
Luna tidak menjawab, hanya mengangguk dan mengusapi pipinya yang tak henti-henti dibasahi air.
Ombak sampai di tepian, membelai kesepian, menghapus jejak Luna yang berjalan kian jauh. Belum pernah aku melihat malam segelap ini, juga semesta yang sesepi ini.

***

#Mixwell Bar, Seminyak

Suara Sang Diva menyayat hatiku, menutup kisah kasih tak sampai yang kuceritakan kepada Olga.
“Jadi cuma gara-gara itu, lu kemari?” wajah Olga tampak kecewa mendengarnya. “Bencong, memalukan Korps Pejantan Tangguh.”
Aku tidak menjawab, aneh sekali dikatai bencong oleh Olga Syahputra.
“Banyak orang gay pengin jadi straight, tapi lu straight cuma bisa pura-pura gay, pathetic.” Olga menggeleng-gelengkan kepalanya, menenggak segelas bir.
Wajahku memerah, saat itu aku merasa tidak lebih jantan dari Olga, atau siapapun di ruangan ini.
“Nyet, gue kasih tahu ya.” Olga mendorong dadaku. “Luna itu sahabat gue semenjak do’i masih jadi presenter di Dahsyat, dan sekarang lu ngecewain dia, lu udah nyakitin dia.”
“Nyakitin gimana? Dia kan sudah balikan sama Ariel!”
Olga menggeleng-gelengkan kepalanya, gusar. “Lu sendiri yang sudah milih buat jadi kayak gini.” kata Olga. Kalimat yang terus terngiang-ngiang di otakku.
Aku belum sempat menjawab karena beberapa cowok melangkah melambai di antara bule-bule yang saling berpelukan, berteriak norak ke arah kami.
“Nanti kita lanjutin, nyet.” Olga menyambut para candyboys: anak-anak SMASH, dan sugardaddy: Andika Kangen Band yang baru datang.

***

“Abang ganteng, kok galau sih?” Morgan berkata ramah.
“Enggak… nggak papa…” aku pura-pura tersenyum.
Aku sebagai orang baru, langsung menjadi pusat perhatian. Pertama cuma si Morgan yang ngobrol-ngobrol denganku. Lalu Bhisma, Rafael, sampai akhirnya aku dikelilingi oleh 7 orang anggota SM*SH.
Aku menatap putus asa ke arah Olga yang masih memberengut. Eh, Andika Kangen Band yang duduk di samping Olga malah ke-geer-an, mengira aku memanggilnya.
Habislah sudah.
Namaku Jaya, dan ini adalah pesan terakhirku. Jika kalian menemukan rekaman ini, berarti saat itu aku sudah ‘aku’ yang dulu lagi… maka…  izinkanlah aku mengatakan ini untuk terakhir kalinya…
Luna aku tahu, mungkin aku laki-laki paling tolol di seluruh dunia, laki-laki tolol yang pura-pura homo demi kamu, laki-laki tolol yang rela jadi straight demi kamu, tapi ada satu hal yang aku nggak pernah pura-pura, Luna aku sayang kamu, aku cinta kamu... Sampai akhir aku selalu mencintaimu…
If I could, I will always love you…
Tapi aku nggak tahu, apakah besok aku masih bisa mencintaimu, mencintai wanita…
[STOP]
Aku tidak bisa menyelesaikan pesanku, karena Andika sudah berdiri tepat di depanku. “Hai, kamu Top atau Bottom?” Andika Kangen Band duduk di sampingku, merangkulku.
Tak apa. Mungkin sudah nasibku. May be, it meant to be…
Bukan, Ini bukan nasib. Olga benar, aku yang memilih untuk seperti ini.
“Top atau bottom?” kata Andika lagi.
Dan kali ini aku harus memilih.

***


-Epilog-
Brand New Day

#Bali Sea, Lovina. 2 Days Later

[REC]
Kali ini aku bisa memandang dunia dengan perspektif yang berbeda. Hari ini tak ada keraguan lagi, dan tak ada lagi ‘gay/straight things’ yang memenuhi pikiranku, karena saat ini yang kulihat hanyalah langit yang membentang biru, juga gelombang yang bergulungan sepanjang mata memandang. Tanganku merentang di haluan, menghirupi aroma lautan dan sesuatu yang bernama: kebebasan.
“It’s a brand new day!!” jeritku.
“Brand new gay kali, bok!” balas Olga yang duduk di sampingku. Di atas perahu nelayan yang kami sewa, dan melaju perlahan memecah gelombang.

Aku tersenyum mendengarnya, juga ketika air memercik di udara, dan segera ditimpali riang teriakan Olga. “Ada lumba, cyin!” sambil buru-buru mengeluarkan kamera HP-nya.
Sepasang lumba-lumba berlompatan di sisi perahu. Jantan atau betina, siapa peduli? Mereka dengan riang berenang dan berlompatan, memercikkan air yang berkilau ditimpa matahari pagi.
Kemarin, tepat sesaat sebelum Andika mengecup bibirku, aku sampai pada pemahaman yang baru. Manusia: aku, kamu, kita, mereka diberi suatu kebebasan, kebebasan untuk melangkah, kebebasan untuk menentukan arah.
Olga telah menentukan arah, mengambil langkah untuk berani berwarna beda. Dan aku, akupun telah menentukan arahku.
“Terus akhirnya gimana? Kasihan tahu, si Andika kamu tinggalin tiba-tiba.” tanya Olga.
“Kemarin aku ngomong ke Luna!”
“Ngomong apa?”
“Semuanya! Kalau aku cinta dia! Aku sayang dia! Meskipun akhirnya…” aku tidak menyelesaikan kata-kataku, karena perahu berguncang keras dihempas ombak yang lumayan tinggi.
Manusia boleh menentukan arah, manusia bisa melangkah, tapi ada dinding tak kasat mata yang membentang di luar nalar manusia, sebuah konsep serbarumit yang bernama: takdir.

***

Perahu merapat di tepian, disambut sekelompok camar yang terbang rendah. Aku melompat turun, melangkahkan kakiku di antara ombak yang memecah di pasir yang berwarna kehitaman.
Pagi ini langit terbuka luas, dengan semarak sekawanan awan yang dipulas fajar yang berwarna keemasan. Sementara samudera membentang biru, seperti deburan perasaan yang demikian bergolak di dadaku: belum pernah aku melihat pagi seindah ini.
“Ada lumbanya?”
“Ada, cyin!” Olga berlonjakan ke arah orang yang menunggu kami datang, menunjukkan HP-nya.
“Yah, sayang gue nggak bisa ikut… abis gue suka mabok laut, sih.” ia menoleh ke arahku yang berjalan mendekat. Senyumnya merekah, lebih cerah dari matahari yang merona di langit pagi.
“Aku pikir kamu balik ke Jakarta.” kataku.
“Aku masih pengin di sini! Nemenin My Gay Best Friend!” katanya sambil tersenyum, indah, dan jauh lebih indah dari semua pemandangan itu.
“Hey! I’m not gay!”
Luna menggeleng-geleng sambil tersenyum. “Kok ada ya, orang tolol kayak kamu…”
“Iya… iya… mana ada orang tolol yang rela jadi straight demi kamu, kecuali aku.”
Ia terkikik mendengarnya, “Tolol, aku yang rela jadi cowok demi kamu.”
“Dasar nggak waras!”
“Dasar gay!”
“I said, I’m not gay!” aku terdiam sebentar “um … well ... almost.”
Kami terkikik-kikik berdua, berjalan di sepanjang garis pantai menuju Hotel tempat kami menginap. Aku memegang tangannya, dan Luna mempererat genggamannya padaku. “Kamu tahu, aku sayang kamu?” bisikku di telinganya, dan diamini oleh kaok camar yang melintas.
Luna mengangguk. “Aku juga sayang kamu, tahu…”
Ombak berdebur pelan, mengiringi dua langkah kecil yang disapu ombak, dua pasang mata yang saling pandang. Angin berhembus halus, mengiringi sebuah senyum merekah dari mungil bibir Luna, menyampaikan segenap perasaan tanpa kata-kata -seperti ombak- berdebur perlahan di jantung kami yang tak hentinya berdebaran.
Luna tiba-tiba melepaskan tangannya. Seorang cowok melambai dari kejauhan, Ariel.
“Rebut aku dari dia, kalau kamu memang laki-laki sejati.” Luna tersenyum, sebelum berlari ke dalam pelukan Ariel yang merentang menyambutnya.
Ok, that’s fine by me.
Namaku Jaya, dan aku adalah laki-laki sejati. Iya nggak cyin?
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar