Sabtu, 29 April 2017

Senggol Sana Senggol Sini 2



Semuanya diawali pada suatu malam, ketika aku baru menikah dengan Berta. Aku baru saja hendak pergi membaca buku di teras ketika seutas sms meluncur ke hapeku, dari Sonya. Aku buka sms itu.
“Selamat malam, Gun. Maaf mengganggu. Kamu bisa ke rumah sebentar?” Demikian pesan singkat itu.
Aku berpikir sesaat, dan kubalas. “Dengan senang hati, Mbak. Tunggu ya!” Selebihnya aku sibuk pencet-pencet keypad hape untuk memberitahu Berta yang belum pulang dari arisan kalau aku lagi pergi ke toko buku. Aku tidak ingin dia menyusulku ke rumah Sonya, biarlah ini menjadi rahasiaku.
Agak mengganggu pikiran ketika Sonya membuka pintu dengan raut wajah tidak secerah biasanya. Meski kelihatan senang dengan kehadiranku, senyumnya tidak terlalu riang.
“Ada apa, Mbak?” tanyaku. “Perlu sama aku?”

“Iya. Sebenarnya... aku perlu teman ngobrol.” Sonya menutup pintu yang membentang ke hamparan taman depan. Ia memberi isyarat padaku agar membantu menggeser sofa untuk menghadap ke jendela. Ia kemudian mengambil dua gelas jus tomat dan memberikan segelas padaku.
“Terima kasih sudah mau datang. Maaf kalau aku menganggu waktumu,” Sonya duduk di satu sisi sofa. Ia menepuk-nepuk bidang sofa yang kosong dan berkata, ”Duduklah di sini,”
Ragu-ragu aku duduk di sofa yang hanya cukup untuk berdua itu. Sonya terdiam sesaat. “Katakan padaku, Gun, apa arti cinta bagimu!” tiba-tiba dia bertanya.
Aku sedikit terkejut. Pertanyaan ini terasa agak aneh bagiku. “Ehm, aku kira persepsi tentang cinta di mana-mana sama saja. Cinta itu diikat oleh rasa, oleh nilai sosial, oleh hubungan timbal balik yang positif dengan pasangannya,” kataku.
Sonya menoleh, batal menyedot jus tomatnya. “Kalau cinta seorang perempuan yang sudah menikah?”
“Umumnya ikatan cinta perempuan pada suami kuat dan banyak perkawinan yang survive sampai salah satu meninggalkannya karena kematian. Tapi cinta dalam perkawinan bisa juga tak bertahan lama, karena kehadiran pihak ketiga dan sebab-sebab lain. Di mana-mana sama,” kataku. “Boleh tanya, mbak, kenapa ini kita angkat sebagai topik?” tanyaku.
“Maaf kalau topik ini membosankan,” Sonya bangkit dari duduknya, menaruh gelas di meja dan membuka hape. “Ingat ketika kapan hari kubilang gadis sekarang cantik-cantik?” tanyanya.
“Ya, aku ingat Mbak bilang itu.” kataku menoleh.
“Kemarilah sebentar! Lihat foto ini. Perempuan muda ini. Bagaimana menurutmu? Cantikkah dia?” Sonya menghadapkan layar hape ke wajahku. Dia menekan tombol geser, menunjukkan sejumlah foto seorang gadis dengan latar belakang tempat-tempat umum. Aku tak langsung menanggapi. Aku menatap foto-foto itu tanpa berkedip.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Sonya.
“Dia cantik… cantik sekali.” kataku jujur.
“Menurutku juga. Ia gadis luar biasa. Lihat parasnya. Lihat bentuk tubuhnya yang ramping menggoda. Lihat lekuk-lekuk badan dan senyumnya.”
“Boleh tahu siapa dia?” kataku.
“Namanya Trista, seorang mahasiswi jurusan Hukum. Aku sungguh kagum pada keelokan gadis ini,” Sonya meneguk jus tomatnya tanpa sedotan.
“Bagaimana Mbak bisa mendapatkan foto-fotonya?” aku bertanya.
“Dari orang suruhanku. Dia memotretnya diam-diam dan mengirimkannya padaku tadi pagi lewat WA,” kata Sonya.
“Memotretnya diam-diam?” ulangku.
“Ya, diam-diam. Sudah beberapa lama ini aku curiga dengan gerak-gerik Gilang. Kuminta seseorang untuk menguntitnya, dan inilah hasilnya, dia melihat Gilang dari kejauhan bersama gadis ini.”
“Suami mbak?” tanyaku.
“Iya. Dan lihat ini,” Sonya menggeser koleksi foto. Kali ini ke sebuah pemandangan dengan dua orang bergandengan mesra di lobi sebuah hotel. Foto itu tak terlalu jelas, tapi cukup terang untuk melihat wajah-wajahnya.
“Yang laki-laki itu Gilang. Yang perempuan itu Trista. Foto ini diambil tadi malam. Mereka menginap di hotel ini,” roman muka Sonya berubah sendu.
“Bukankah suami mbak pergi ke Bangkok?” tanyaku mirip orang bodoh.
“Gadis ini hebat,” Sonya tak langsung menjawab pertanyaanku, “Ia bisa menaklukkan Gilang. Bisa memalingkan cintanya dariku, bisa membuatnya berbohong!” Sonya mengusap hidungnya.
“Maaf, Mbak. Apakah benar-benar mereka menginap di hotel ini?” tanyaku.
“Ya, orang suruhanku tak mungkin bohong. Mereka check-in dengan nama Trista. Tadi pagi orangku telepon ke kamar mereka. Gilang yang terima.” Sonya kembali ke sofa di hadapan jendela dan tersandar lemas. Lama ia duduk dengan pandangan kosong ke luar jendela.
Aku menghampiri dan duduk di dekatnya. “Ini cobaan buat Mbak. Mbak harus kuat. Mbak pasti bisa melaluinya. Apakah suami mbak telepon kemarin-kemarin?”
“Ya, tadi malam dia telepon. Dia bilang dia ada di Bangkok. Kami mengobrol sebentar, aku bilang baru jalan-jalan cari baju dan belanja tomat.” Sonya memejamkan mata untuk menahan tangis, membuatku tak mampu berbicara kecuali memperhatikan dengan lekat. Peluh membanjir di dahinya.
Aku menjumput dua helai tisu di meja dan memberikannya kepada Sonya. Ia mengusap peluh di dahinya dengan gerakan mempesona.
“Kamu juga keringetan, Gun,” kata Sonya menunjuk dahiku.
Dia menjumput beberapa lembar tisu dan mulai mengusap keringat di dahiku dengan lembut. Aku mundur sedikit dan menahan napas, membiarkan tangannya bergerak lembit di seputaran dahi. Dekat sekali wajah itu ke wajahku. Perempuan ini lama-lama bisa membuatku gila. Sonya menatap mataku beberapa saat. Aku balik menatapnya. Ada pancaran kuat di mata itu; sepasang mata elang yang menyorot tajam. Tapi ia kemudian mundur beberapa langkah ketika ia mulai melihatku gugup.
“Oh, maaf, aku membuat kamu nggak nyaman… maaf!” Sonya mengusap hidung. Napasnya naik turun.
“Tidak apa-apa, Mbak. Nggak masalah,” Napasku tak kalah memburu.
“Kamu baik-baik saja?” Sonya terheran-heran.
Aku terdiam, menatapnya. Baju terusan batik bermotif bunga dengan warna terang itu ketat menempel indah di tubuh Sonya. Batik tanpa lengan itu, dan garis kain di dada yang rendah, menyembulkan kulit putih bersih sepasang lengan dan dada membusung yang menambah daya pikat tubuh itu.
Bagian bawah terusan batik yang melebar, setinggi lebih dari 15 centimeter di atas lutut, menyiratkan panorama yang sebaiknya tak perlu kututurkan. Semula aku mengira Sonya membeli dress batik yang salah ukuran alias terlalu pendek bagian bawahnya, tapi kemudian aku menyimpulkan, dress itu memang pas untuk menampilkan keindahan ragawinya dengan cara yang mencengangkan.
Sonya duduk di sofa, menyilangkan kaki, meneguk jus dingin. Sesekali ia menerawang sisa jus di gelas yang buram oleh lapisan dingin air es. Sepasang kaki indah dari singkapan kain batik yang longgar itu, dia memiliki kulit buah zaitun yang sangat sempurna, dan tubuh yang bahkan istriku pun menginginkannya.
“Satu pertanyaan, Gun. Aku minta pendapatmu,” kata Sonya, perlahan.
“Ya?”
“Bagaimana perasaanmu bila Trista itu istrimu?” Sonya menatapku, mempermainkan sisa jus di gelas.
Deg! Jantungku berhenti berdetak sesaat. Tak kuasa aku untuk segera menjawab. Pertanyaan Sonya ini sungguh membawa banyak makna. Ini permisalan, pertanyaan terselubung, ataukah pengujian?
“Bisa aku tanya sedikit soal asal mula hubungan suami mbak dengan gadis itu?” kataku, balik bertanya.
“Gadis itu bekerja sebagai SPG. Dalam suatu acara pameran tiga bulan lalu, Gilang berkenalan dengannya. Aku berada di sana juga saat itu, dan sempat pula mengobrol dengan Trista, sama sekali tak merasa curiga.”
Aku menyimak setiap perkataan Sonya dengan takzim.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Sonya kemudian.
“Yang mana?”
“Bagaimana perasaanmu kalau Trista itu istrimu?”
“Hatiku akan hancur, mungkin sehancur hati Mbak saat ini,” hanya itu jawaban yang tersedia.
“Kamu benar. Di dalam dadaku, ada yang remuk redam,” Sonya beringsut beberapa centimeter ke arahku. Aku menahan nafas untuk kesekian kalinya. Tidakkah ini terlalu dekat? Jika aku tak menahan kepalaku untuk tak condong ke depan, pipi perempuan itu pasti sudah bergesekan dengan pipiku.
“Mbak tahu, hatiku sedang bimbang saat ini,” entah kenapa tiba-tiba aku bicara begitu.
“Buat aku percaya kenapa begitu” kata Sonya tak jauh dari telingaku. Aku diam sesaat.
“Boleh aku memeluk tubuh Mbak, agar aku bisa merasakan hancurnya hati Mbak dan Mbak bisa percaya betapa bimbangnya hatiku?” Sungguh aku nekat mengatakan ini. Butuh keberanian yang luar biasa. Sonya sudah sedekat ini. Aku berharap ia tak akan langsung mendorong dan menamparku.
“Tadinya aku yang akan meminta begitu, ternyata kau mengatakan duluan. Sini, peluk aku erat-erat, Gun!” desisnya.
Tak perlu menunggu lama, aku segera melingkarkan lengan di pinggangnya. Sonya membalas dengan rengkuhan lebih erat. Pipi kirinya bergesek di pipi kananku.
Pelukan kami tak saling lepas. Dan Sonya sama sekali tidak menolak ketika dekapanku makin mengunci rapat tubuhnya, sampai kemudian ia merenggangkan sedikit rengkuhan itu dan menatapku dari jarak sangat dekat. Aku tak tahu bagaimana cara merespon tatapan perempuan cantik itu. Aku melihat bibir Sonya mengirimkan sinyal yang menggelora, dan mungkin penuh harap seperti yang aku harapkan.
Tiba-tiba saja aku bergerak dan mendaratkan kecupan mesra di bibirnya. Sonya memejamkan mata beberapa saat dan memberikan sambutan lembut dan hangat dengan rengkuhan manis lengannya yang melingkar di kepalaku. Lama kami saling melumat.
Tapi kemudian ia tiba-tiba mendorongku dan melepaskan pagutan itu. “Ooh… apa yang kita lakukan?” Sonya mundur beberapa tapak. Wajahnya bersemu dadu. Dadanya naik turun.
“Aku… aku... maafkan aku… maafkan aku, Mbak!”
Sonya tak bicara. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang tak bisa kutebak artinya.
“Gun… maaf, sebaiknya kamu pulang sekarang!” ia mendekap bibirnya sendiri, seolah baru menyadari apa yang baru saja terjadi bisa mengarah ke banyak hal yang mungkin bakal disesali.
Aku masih berdiri mematung. Sangat tak rela kehangatan itu tiba-tiba saja terenggut.
“Kumohon! Tinggalkan aku…” dia kembali memohon. Sonya berdiri di pojok ruangan masih dengan dada naik turun. Tampaknya ia sendiri tak tahu jawabannya kenapa kami melakukan itu.
“Iya, Mbak. Maaf!” Aku membuka pintu dan meninggalkan Sonya sendirian. Sudah menjadi prinsipku; tidak akan memaksa seorang wanita kalau memang ia tidak mau. Aku segera berjalan balik ke rumah. Hangat bibir Sonya tak segera pudar dari bibirku.
Namun ketika hendak membuka pintu pagar, hape di saku berdering. Dari Sonya. “Gun… kembalilah! Aku mau kita menyelesaikan apa yang kita mulai tadi!” suara Sonya bergetar di telepon.
Aku tak perlu merasa harus tahu apa yang ia maksud. Aku melesat kembali ke rumahnya. Ketika membuka pintu, Sonya langsung menarik tanganku dan mendekapku mesra, kemudian memagut bibirku penuh hasrat.
“Aku menyesal terlalu banyak pertimbangan beberapa menit lalu.” desah Sonya di sela-sela serbuannya. “Itu kamarku. Ranjangku! Bawa aku ke sana, Gun!”
“Dengan senang hati, Mbak! Asal Mbak tidak minta dibopong!” kataku.
Sonya sekali lagi menarik kuat lenganku mengikuti gerakannya menuju ranjang itu. Sambil menutup pintu kamar, ia mendesis, “Cumbulah aku. Puaskan hasratku, Gun! Kalau Gilang bisa melakukannya dengan perempuan lain, aku berharap bisa melakukannya denganmu!”
“Baik, Mbak. Tentu saja!”
Kukecup keningnya penuh rasa sayang. Lalu membungkuk untuk mencium bibirnya yang hangat, kupagut dengan lembut. Sonya menyambutnya dengan sepenuh hati. Bibir kami erat berpagutan, mata kami sama-sama terpejam seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling.
Aku bersimpuh di hadapan Sonya yang masih terduduk di ranjang, tanganku mulai membelai kulit pahanya yang tertutupi kain pendek. Kutengadahkan wajah sesaat, menatapnya. Lalu memegang kedua lutut Sonya serta menciuminya dengan lembut. Pelan-pelan roknya aku singkap hingga setengah bagian pahanya yang putih mulus kelihatan. Kusapukan lidahku ke sana, mulai dari lutut hingga paha bagian dalampenuh kesabaran, membuat Sonya mendesah dan mencengkeram kuat rambutku.
Ssshhh… Gun!!”
Paha bagian dalam yang hangat dan mulus itu membuatku sangat terangsang. Aku terus mengecupinya perlahan hingga menimbulkan bekas memerah walau tidak sampai memar. Kedua paha Sonya yang terbuka membuat celana dalam krem berenda yang ia kenakan terpampang jelas di hadapanku.
Boleh aku buka, Mbak?” pintaku sambil melihat ke arah wajahnya.
Tak ada jawaban, hanya anggukan tanda setuju.
Perlahan sambil terus mengusap paha, kucoba membuka celana dalam krem berenda itu. Setelah berhasil, kulemparkan ke pojok ruangan dan menatap indah memek Sonya yang rajin dicukur. Tanpa membuang waktu, kubuka lebar-lebar kedua pahanya, lalu menikmati belahan memek itu dengan sapuan lidah dan kecupan-kecupan ringan yang membuat Sonya mendesah-desah lirih tak karuan.
Memek Sonya yang basah membuatku semakin bernafsu. Tak segan-segan aku menjulurkan lidah ke dalam lubang yang lengket dan terasa asin itu. Namun dari semua bagian kemaluan Sonya, klitoris adalah yang menjadi favoritku. Biji mungil berwarna pink kecoklatan itu kuemut perlahan, mencoba untuk tidak membuat Sonya merasa sakit atau tidak nyaman.
”Sshhhh... Gun! Enak, Gun! Terushh... ohhh... a-aku... mau dapettt…” erangnya menggelinjang, disusul oleh orgasme pertamanya beberapa saat kemudian.
Mengetahui Sonya sudah mendapatkan orgasme, aku mengangkatnya berdiri, menelanjanginya, serta memeluknya dengan sepenuh hati sambil menciumi bibirnyadisertai permainan lidah yang menambah panas suasana dalam kamar. Tubuh kami begitu erat menyatu. Walau aku belum melepaskan semua pakaian, namun kehangatan dekapanku mampu membuat Sonya terbuai dan merasa nyaman.
“Ayo, Gun!” Tiba-tiba Sonya mendorongku hingga terjatuh telentang di atas ranjang.
Agak kaget pada mulanya, namun aku tak mau berkomentar mengetahui Sonya yang mencoba membuka celana yang kukenakan. Aku menikmati dengan berbaring pasrah. Kontol besarku yang mengacung tegak langsung digenggam tangan mungilnya. Sonya mengocoknya perlahan. Wajahnya tak berani menatapku, mungkin malu atau sungkan. Dia hanya menatap kontol besar milikku yang sudah tegak menegang, sambil terus mengocoknya naik-turun.
“Mbak panggilku mesra sambil mengusap lengannya. “Emut ya? Aku pingin diemut sama Mbak!”
I-iya, Gun.” jawab Sonya pelan dan malu sambil mulai melahap penisku,  mengulumi kepalanya yang gundul.
Dia tak berani langsung memasukkan semua ke dalam mulutnya, mungkin takut tersedak melihat betapa panjang ukuran batangku. Kepala penisku yang merah dan hangat bagaikan lollipop yang terasa asin pada bagian lubang kencingnya, Sonya menikmatinya dengan penuh perasaan sambil mendengarkan aku yang mendesah-desah kegelian plus kenikmatan.
“Mbak, sini memeknya. Kujilati juga!” erangku keenakan, ingin membalas perlakuannya.
Sambil tetap mengulum penisku, Sonya merubah posisi. Ia mengangkangi kepalaku, membiarkan lubang memeknya terpampang bebas di hadapanku. Memandangnya membuatku tak tahan untuk lekas menjilatinya. Segera kubenamkan mulutku ke sana, dan sambil menepuk-nepuk pantat bulat Sonya, dengan lahap aku mencucup klitoris serta bibir memeknya.
“Uuhhmm… Gun! Hmmm…” racau Sonya menikmati geli di memeknya, secara bersamaan dia terus berusaha mengulum penis besarku.
 Dari pantat, tanganku bergeser ke dada. Kuremas-remas bulatan payudaranya yang sejak tadi merangsang gairahku, kupilin-pilin putingnya yang mungil, sambil terus kunikmati kehangatan lubang memeknya.
“Gun… arrgghh…” Sonya menghentikan kulumannya. Dia mengerang saat cairan kenikmatan mengalir keluar dari celah memeknya dan sedikit terjilat olehku.
“Enak, Mbak?” Aku terus menggerakkan lidah, mencucup semua cairannya hingga bersih.
M-maaf, Guna-aku nggak tahan!” katanya malu-malu sambil merubah posisi, dia duduk di sebelahku yang masih terbaring telentang.
“Nggak apa-apa, Mbak. Aku malah suka!” Aku lalu beranjak duduk di tepian ranjang dan meminta Sonya berdiri membelakangiku.
“Hmm... kamu belum ya, Gun?” tanyanya saat melihat penisku yang masih mengacung keras.
“Mbak tadi sudah dua kali… memang lagi sange banget, ya?” Aku tersenyum menggodanya, membuat Sonya tersipu malu.
”Sudah ah, Gun! Ayo cepat masukkan!” pintanya lirih sambil mengarahkan lubang memeknya tepat ke ujung penisku. “Mmmm… aghh… pelan-pelan, Gun! Geli…” desah Sonya saat lubang memeknya mulai disesaki batang penisku.
Sonya menggoyangkan tubuhnya untuk mengaduk-aduk batangku di dalam lubang memeknya yang sempit dan hangat itu. Kupegangi pinggangnya untuk membantunya mengatur ritme. Dari belakang, aku tak mau membiarkan payudara Sonya bebas begitu saja. Aku meremasinya dengan kedua tangan, sedikit agak kasar karena terbawa suasana.
”Ssshhh... ahhh… arrggh… terusss, Mbaak… iyahhh…” erangku mengetahui Sonya ternyata cukup lihai dalam menggoyangkan tubuhnya.
Kami terus saling mendorong dan menghentak. Saat mendekati ejakulasi, kutarik tubuh Sonya sehingga penisku tercabut dari lubang memeknya. ”Ahhh... m-maaf, Mbak! Ehmm... a-aku hampir keluar!” kataku melihat Sonya yang agak kaget.
Kok kamu tahan, Gun?” tanya Sonya polos sambil tangannya kutarik untuk balik ke atas tempat tidur.
Gantian Mbak yang di atas. Aku masih pingin merasakan tubuh Mbak lebih lama lagi.” pintaku tulus.
Sonya tersenyum malu, namun segera menunggangi tubuhku. Dia arahkan lubang memeknya tepat di atas penisku yang masih mengacung tegak, menekannya, menyatukan kembali alat kelamin kami berdua. Kupegangi pinggulnya untuk membantunya mengatur ritme saat mulai menggoyangkan pantat. Penisku terasa diaduk-aduk oleh lubang kenikmatan yang sempit itu. Dengan posisi seperti ini, sesekali dinding rahim Sonya tertumbuk kepala penisku, membuatnya mengerang penuh kenikmatan.
Arrgghhh... ssshh... Gun… aggghh...” desahannya membuatku semakin bernafsu.
Sekarang aku sudah tidak memegangi pinggulnya, kubiarkan Sonya bergoyang dengan sendirinya. Aku lebih sibuk meremasi kedua payudara indahnya yang bergoyang-goyang liar di hadapanku.
”Arrggghhh… Mbaaka-aku mau keluarrr!” erangku tiba-tiba, disusul semprotan cairan hangat di dalam lubang memeknya.
Sonya sendiri kembali orgasme sambil menggigit bibirnya sendiri, dan mengerang, ”Arrgghhhh… a-aku juga, Guunn!” Tubuhnya ambruk menimpa tubuhku, yang segera kudekap erat. Tetesan cairan sperma terasa keluar dari lubang memeknya saat penisku mulai melembek kehilangan kekuatannya.
Kenapa keluar di dalam, Gun? Kalau aku nanti… uhmmm!” tanya Sonya yang langsung kujawab dengan melumat mulutnya rakus.
Kenapa Mbak juga nggak langsung cabut tadi?” tanyaku menggoda.
Sonya hanya terdiam saja. Kukecup lembut keningnya sambil kuusap keringat yang ada di wajahnya. Sonya jadi malu sendiri karena dia membiarkan aku menyemprotkan sperma di dalam lubang kemaluannya.
Aku terus menciuminya penuh rasa sayang sambil mengusap kepalanya, sebelum kemudian pamit pulang. "Sudah ya, Mbak. Nanti istriku mencari. Soal perselingkuhan Mas Gilang, Mbak nggak usah mikir terlalu dalam. Aku siap kok menggantikan selama dia nggak ada!” kataku yang sontak membuat Sonya terkejut dan langsung bangkit duduk.
Maksudmu, Gun?" tanyanya dengan mimik muka penasaran.
“Aku siap memuaskan Mbak di tempat tidur, kapanpun dan dimana pun!”
Sonya mendekapku dan mengangguk malu-malu.
Sejak itulah, setiap dia butuh, Sonya akan memberi kode agar aku masuk ke rumahnya yang sedang sepi. Aku tak dapat menolak karena aku juga kangen dengan belahan memeknya. Kami akan bercinta dan terus bercinta, tanpa pernah mengenal kata bosan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar