Rabu, 26 April 2017

Tutur Tinular 13



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Beberapa hari setelah kejadian itu, Rekyan Wuru dengan ditemani Kepala Desa Manguntur datang ke Kurawan. Mpu Hanggareksa menerima tamunya dengan ramah. Mereka pun membicarakan masalah Arya Dwipangga dan Nari Ratih. Tercapailah kata sepakat untuk menikahkan keduanya.
Pada saat hari yang telah ditentukan, kedua keluarga itu mempersiapkan segala sesuatu untuk melangsungkan upacara pernikahan. Pesta pernikahan antara Arya Dwipangga dan Nari Ratih cukup meriah. Pesta diselenggarakan di rumah Mpu Hanggareksa. Tampak pengantin pria duduk bersanding dengan pengantin wanita di pelaminan. Keduanya kelihatan bahagia.
Para tamu ikut bersukacita atas berlangsungnya pernikahan mereka. Baik yang datang dari Manguntur maupun dari desa lainnya. Mereka sibuk berbincang-bincang dengan teman duduknya sambil menikmati hidangan yang disediakan. Terdengar alunan gamelan yang ditabuh para niyaga yang menyemarakkan pesta pernikahan itu. Namun, di tengan keramaian itu tampak seorang lelaki mengerutkan dahinya saat seorang perempuan tua datang kepadanya.

Dengan berbisik lelaki itu mendekatkan bibirnya pada telinga perempuan tua itu. "Bi Rongkot."
"Ya, Gusti."
"Kau tidak melihat Kamandanu?"
"Tidak, Gusti. Tadi sore Angger Kamandanu hamba lihat membantu memasang janur dan hiasan kursi pengantin. Tapi setelah itu hamba tidak melihatnya lagi."
"'Ohh, anak itu apa maunya? Banyak tamu-tamu kenalanku menanyakannya, Bi. Dulu mereka mengenalnya waktu masih kecil, sekarang mereka ingin tahu sudah berapa besarnya. Huuh, di rumah banyak orang sibuk kok malah tidak ada. Nanti kalau kau melihatnya lagi suruh dia menemuiku, Bi."
"Ya, Gusti."
Lalu lelaki itu membalikkan tubuh dan kembali melayani para tamu yang semakin banyak hadir di rumahnya. Setiap saat dia mengulurkan tangannya menyambut ucapan selamat mereka. Tampak butir-butir keringat mengembun menghiasi dahi lelaki tua itu. Senyuman bahagia senantiasa tersungging di bibirnya.
Pesta kawin masih terus berlangsung sampai jauh malam. Sebagian tamu banyak yang turun ke gelanggang untuk menemani para pesinden menari. Di balik suasana gembira itu tampak seorang pemuda berjalan dengan gontai. Wajahnya kuyu, sesekali mendesah dan menghempaskan napasnya. Tampak kesal sekali. Kedua tangannya mengepal, sekali-kali memukul udara. Dia pandang langit yang bertaburan bintang. Bintang-bintang itu berkedip-kedip seolah-olah mengejeknya. Segumpal awan kelabu melintas seiring embusan angin. Bayang-bayang wajah seorang gadis cantik melintas di sana tersenyum menggodanya.
"Nari Ratih, akhirnya kau menjadi milik Kakang Dwipangga. Bagaimana dengan Arya Kamandanu ini?" bisiknya perlahan sambil tetap memandang ke arah awan kelabu yang melayang itu. Melayang terbang entah ke mana angin membawanya. Seperti cintanya yang melayang direnggut saudara tuanya.
Dengan perasaan tidak menentu pemuda itu terus berjalan semakin menjauhi rumahnya. Dia tidak tahu mau apa dan mau ke mana? Dia hanya ingin membuang jauh rasa pedih yang menggores hatinya. Ia ingin pergi seperti awan kelabu di langit malam yang terus berlalu, jauh dan akhirnya lenyap didera angin.
Belum puas dengan apa yang dilakukannya, pemuda itu kemudian melompat dan berlari sekencang-kencangnya. Tidak peduli semak belukar, tidak peduli duri rumput putri malu yang menggores dan mencabik kulitnya. Napasnya terengah-engah memburu. Pada saat di hadapannya terdapat sebuah pohon besar, serta merta ia mengepalkan tangan, menubruk dan meninju pohon tak berdosa itu bertubi-tubi sambil berteriak, mendengus dan melolong panjang.
Batang pohon besar itu bukannya menangis dan meronta karena memang itu tak mungkin, akan tetapi yang semakin terasa perih justru kedua tangannya yang kini robek, terluka dan berlumuran darah. Pemuda itu meraung dan menangis ter-guguk. Dari sela-sela jemarinya muncrat darah segar yang terus membasahi pergelangan tangan dan telapak tangannya. Ia tidak menghentikan tindakan bodohnya. Ia terus memukul dan meninju pohon itu.
Sampai pada suatu saat berkelebatlah sesosok bayangan hitam di tengah kepekatan malam. Bayangan itu tampak ringan sekali berkelebat menghampirinya dan segera merenggut kedua tangan pemuda itu yang sudah bermandikan darah segar. Pemuda itu kelelahan sekali dan kesakitan. Mata pemuda itu mendelik sekalipun pandangannya nanar oleh air mata yang terus mengalir deras.
"Oh, kau... kau datang lagi. Kau manusia bercadar hitam yang pernah kujumpai dulu."
"Jangan menyakiti diri sendiri!" kata orang bercadar hitam itu yang kini menghempaskan kedua tangan pemuda itu setelah ditarik ke semak-semak.
"Siapa kau orang bercadar hitam?"
Orang bercadar hitam itu tidak menjawab pertanyaan pemuda yang sedang gundah itu, sebaliknya menasihatinya, "Kasihan pohon itu. Dia tak punya salah apa-apa tapi harus merasakan pukulan bertubi-tubi. Tapi sebenarnya lebih kasihan buku-buku jari tanganmu itu, anak muda."
"Biar saja tanganku remuk, tetapi hatiku puas," jawabnya kesal dan seperti melenguh bagaikan lembu.
"Oh, jadi kau ingin mencari kepuasan? Nah, mari kutunjukkan dan kubantu! Daripada memukul pohon yang keras sekali, lebih baik pukullah aku!" tantang orang bercadar hitam itu sambil melompat beberapa tindak seperti tanpa beban.
"Baik! Aku akan memukulmu! Hiaaaaahh! Hiaaaaaahh!" pemuda itu langsung menerjang, dan kedua tangannya membabi buta ingin memukul orang bercadar hitam. Kedua tangannya membentur kedua tangan orang itu. Sungguh mati ia terkejut. Ia mundur beberapa langkah dan mengerutkan dahi sambil memelototkan matanya. Ia sungguh tak menduga dengan apa yang telah terjadi.
"Oh, tanganmu lebih keras dari pohon itu!" katanya sambil mendekap tangannya yang terasa perih dan sakit sekali.
"Tidak! Bukan tanganku yang keras, melainkan tanganmu yang terlalu lembek. Lagipula sadarkah kau, bahwa kedua tanganmu terluka parah? Hehehehe, mau coba lagi?" ejek orang bercadar itu kemudian melompat dan berkelebat lenyap ditelan kegelapan malam.
Pemuda itu bengong dan kembali mencoba mengingat-ingat peristiwa beberapa saat lamanya ketika ia pernah bertemu dengan orang itu. Ia memandang ke arah lenyapnya orang itu sambil bergumam, "Siapa manusia bercadar hitam itu? Dulu ia datang saat pikiranku sedang kalut setelah peristiwa Candi Walandit. Sekarang dia datang lagi juga pada saat pikiranku sedang kacau. Siapa dia sebenarnya dan apa maksudnya?"
Pemuda itu meraba kantong kulitnya. Mendesah kesal karena terkejut, "Oh, batu nirmalaku? Dia mencurinya, kurang ajar! Dasar pencuri busuk!" hardiknya sembari melompat dan menembus kegelapan malam menuju arah lenyapnya makhluk bercadar hitam yang telah mencuri batu nirmala kenang-kenangan dari kekasih hatinya.
Napasnya terengah-engah ketika pemuda itu menghentikan pengejarannya sebab ia tidak perlu susah-susah mencari orang bercadar hitam itu. Orang aneh itu tidak lari jauh, tetapi enak-enak duduk di atas sebongkah batu ketika mengetahui pengejarnya semakin dekat menghampirinya dengan napas semakin memburu. Bunyi kerosak mencekam sekali ketika pemuda itu menyeruakkan semak belukar dan bertolak pinggang menghardik orang aneh itu.
"Pencuri busuk! Kembalikan batu nirmalaku!"
"Mengapa kau marah-marah, anak muda?" jawabnya enteng dan sinis sekali.
"Kau telah mencuri batu nirmalaku."
"Oooo, benda ini yang kau maksudkan?" tanyanya lagi sambil menimang-nimang dan melempar-lemparkan batu nirmala itu ke udara dan menangkapnya lagi. Tawanya sangat menyakitkan pendengaran pemuda itu.
"Kembalikan batu nirmala itu. Cepat kembalikan!"
"Heheh... tidak semudah itu kau akan bisa memiliki benda ini, anak muda. Kecuali kau sanggup merebutnya dari tanganku. Hehehe!" Manusia bercadar hitam dan bertingkah laku aneh itu sangat menjengkelkan hati pemuda itu.
Pemuda itu sangat kesal dibuatnya tetapi tidak ada cara lain kecuali harus merebut benda itu dengan kekerasan. "Hee, orang bercadar! Kau jangan mempermainkan aku! Kembalikan batu nirmala itu!"
"Hehehe, anak muda! Kalau kau menginginkan benda ini, kau harus mau berkeringat lebih dulu. Tak ada hasil yang bisa diperoleh tanpa cucuran keringat."
"Apakah mencuri milik orang lain juga bisa diartikan cucuran keringat?"
"Hehehe! Kau cukup cerdas, anak muda Tapi bukan kecerdasan yang ingin kuketahui darimu, melainkan keberanian, ketekatan hati dan semangatmu."
"Untuk apa kau ingin tahu diriku?"
"Tentu saja untuk tetap memiliki batu nirmala yang indah ini. Hehehe!" orang bercadar hitam itu langsung melesat, lenyap dalam kegelapan.
"Heh, tunggu! Jangan lari kau! Sampai ke ujung dunia pun tak akan kubiarkan kau membawa batu nirmala itu!"
Pemuda itu langsung melompat mengikuti arah orang bercadar hitam yang kini menghilang lagi ditelan kegelapan. Orang bercadar hitam itu melesat bagaikan seekor tupai yang melompat dari atas batu ke tengah semak. Beberapa saat lamanya pemuda yang mengejarnya menjadi linglung. Menoleh ke sana kemari mencari arah kaburnya orang aneh itu. Napasnya terengah-engah, sesekali ia mengusap keringat yang bercucuran di dahi dan pelipisnya. Ia tidak peduli lagi luka pada buku-buku kedua tangannya yang kini darahnya sudah mulai mengering.
Malam terus surut dengan memamerkan kabut-kabutnya. Lolong anjing liar di kejauhan terdengar melengking dan menggaung ditingkahi suara burung hantu dan binatang-binatang liar lainnya. Hal itu membuat bulu roma pemuda itu bergidik. Pemuda itu terus melangkah menyusuri semak belukar tanpa mempedulikan duri-duri yang sering kali menggores dan mengoyak kulitnya.
"Oh, ke mana larinya orang itu tadi? Aku belum pernah menginjak tempat ini. Ini sudah terletak di bagian timur bukit Kurawan. Tempat ini menyeramkan sekali. Apakah manusia bercadar itu sengaja memancingku pergi kemari untuk kemudian membunuhku? Ah, persetan dengan orang itu. Siapa pun dia, betapa pun saktinya, aku harus merebut batu nirmala itu dari tangannya."
Pemuda itu kemudian mencoba melangkah lagi, melompat dan berlari terus menyusuri pinggang bukit Kurawan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon perdu. Dia tak peduli gelapnya malam yang hampir membutakan matanya. Kemudian ia sampai pada sebuah tempat yang benar-benar sangat menyeramkan. Tempat itu gelap gulita. Semua yang ada bagaikan hantu-hantu yang ingin menerkamnya. Ia mengerutkan dahinya dan menghentikan langkah sambil memperhatikan sebuah batu besar yang menyerupai payung raksasa.
Pemuda itu merunduk sambil berusaha menajamkan penglihatannya ke balik batu payung  yang menyerupai gua dengan batu-batu runcing menjulur dan bergelantungan di langit-langit gua atau pun hampir di setiap lorong tempat itu. Baru saja ia akan beranjak ketika mendadak muncul sebuah bayangan dari balik daun-daun pepohonan yang rimbun.
Bayangan itu langsung menyerangnya. "Hiaaaahh, hiaaahhhh!"
"Ohh, heiitt... kurang ajar!" pemuda itu terkejut dan bergerak secara reflek. Melompat dan melenting bagaikan burung srikatan untuk menghindari serangan lawannya. Ia berusaha mundur dan berlindung di balik semak belukar untuk mempersulit gerakan lawannya. "Hei, siapa kau? Mengapa menyerangku?"
Penyerang gelap itu tak mempedulikan pertanyaan pemuda itu. Orang itu terus menyerang dan berusaha mengalahkannya. Penyerang gelap itu bertopeng, tubuhnya lebih kekar daripada orang aneh bercadar hitam yang kini lenyap entah ke mana.
Karena diserang bertubi-tubi akhirnya pemuda itu memberikan perlawanan cukup imbang. Terjadilah duel seru di antara keduanya. Mereka saling menjotos, menendang dan berusaha mendaratkan pukulan-pukulannya. Tetapi ketika dua kali pukulan pemuda itu mendarat pada perut orang bertopeng, orang itu mundur beberapa tindak dan menghentikan serangannya. Pemuda itu tetap bersiaga penuh, tetap memasang kuda-kuda. Kedua tangannya mengepal keras dan napasnya terengah-engah saat melangkah beberapa tindak mendekati orang bertopeng di depannya.
"Kau siapa dan mengapa menyerangku? Kau pasti anak buah orang bercadar hitam itu."
"Hehehe, tentu saja Angger Kamandanu tidak mengenaliku lagi. Hehe!"
Mendengar namanya disebut, pemuda itu mengerutkan dahi dan berusaha mengingat-ingat nada suara orang itu. Ia berusaha keras mengingat-ingat, siapa sebetulnya orang itu. "Oh, suaramu... suaramu sepertinya kukenal dengan baik."
"Hehehe, mari, Angger! Guru sudah menunggu di dalam."
Pemuda itu, yang tak lain adalah Arya Kamandanu semakin penasaran pada orang-orang aneh yang dijumpainya. Lebih-lebih pada orang bertopeng di dekatnya yang kini menepuk-nepuk pundaknya sangat akrab dan mengajaknya melangkah bersama. Orang itu segera membuka topeng kulitnya dan tertawa berkepanjangan.
"Ohh, Paman Wirot!" ucapnya lirih setelah tahu siapa makhluk aneh yang kini mendahului melangkah masuk ke dalam goa di balik batu payung raksasa itu.
Arya Kamandanu diajak menyusuri lorong-lorong di dalam goa. Tempat itu benar-benar menyeramkan. Tanpa cahaya sedikit pun. Hanya suara tetes-tetes air dari langit-langit gua terdengar menggema. Sesekali jeritan kelelawar yang bertemu kawanannya, mencericit riuh karena terkejut. Paman Wirot yang sudah hapal benar dengan lekuk liku tempat itu bisa berjalan agak cepat sekalipun ia tampak hati-hati sekali jika tidak ingin terperosok pada lantai gua yang licin atau tak terantuk pada stalagtit dan stalagmit gua yang terdapat hampir di setiap sudut dan lorong gua itu.
Hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah tempat di mana kelihatan sangat nyaman. Ada sebuah batu pipih cukup lebar di ruangan itu. Sebuah obor minyak jarak tergantung di sisi gua. Menyala kuning kemerahan dengan asap hitam membekas pada dinding gua sekitarnya. Di atas batu pipih itulah tampak seorang lelaki tua berpakaian sangat sederhana duduk bersila tanpa memperhatikan kehadiran dua orang di depannya. Orang tua itu masih memejamkan mata.
Pada saat ia mengetahui bahwa Wirot dan Arya Kamandanu sudah duduk di hadapannya dengan bersila, perlahan-lahan pelupuk mata yang sudah mengeriput itu pun terbuka. Bibirnya mengulum senyuman sangat ramah. Mata itu sekalipun tersembunyi di balik pelupuk mata yang mengeriput dan cekung, namun sinar matanya jernih, tajam bersinar memantulkan cahaya obor jarak. Pantulan cahaya obor itu bergerak-gerak setiap kali mata lelaki tua itu mengerjap-ngerjap. Siapa pun yang melihat orang tua itu, pasti semua mengakui keagungan dan kebesaran jiwanya yang bening bagaikan permukaan telaga memantulkan cahaya rembulan di malam purnama.
Arya Kamandanu menghela napas ketika lelaki tua itu sudah dikenalinya dengan baik. Ia ikut tersenyum di balik kegetiran dan kepahitan hidupnya. "Oh, jadi orang bercadar hitam itu adalah Paman Ranubhaya?"
"Heheheh, kau kira siapa?" jawab lelaki itu dengan suara serak namun lebih jelas dibandingkan dengan suara orang bercadar hitam sebab lelaki tua itu sengaja melakukannya.
"Jadi, Paman juga yang dulu pernah menasihati saya waktu baru saja mengalami peristiwa di CandiWalandit?"
"Hehehheh, sudahlah, Kamandanu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin supaya kau tidak tercekam oleh peristiwa yang menyakitkan, lalu akhirnya kau menyia-nyiakan hidupmu sendiri." Lelaki tua itu menghela napas, menelan ludah dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sebelum akhirnya kembali memandang pemuda tampan di depannya yang kini berwajah sangat kusut. "Kamandanu." panggilnya.
"Ya, Paman."
"Apa kau tertarik pada olah kanuragan?"
"Eh, saya... saya tidak tahu apakah saya berbakat atau tidak untuk belajar ilmu kanuragan, Paman."
"Kau pernah belajar dari ayahmu?"
"Tidak banyak, Paman. Ayah hanya mengajari beberapa jenis pukulan. Kata Ayah, saya tidak perlu menjadi seorang jago berkelahi. Ayah lebih suka jika saya mewarisi keahliannya membuat senjata pusaka."
"Kau sendiri bagaimana?"
"Saya pribadi lebih tertarik mempelajari ilmu olah kanuragan, Paman. Tapi saya harus belajar pada siapa?"
"Bagaimana kalau kau belajar padaku?"
"Paman bersungguh-sungguh?"
"Kalau kau tertarik pada olah kanuragan, mulai besok malam kau datang ke tempat ini. Pengetahuan dan kemampuanku tidak banyak, tapi ada baiknya kau pelajari sebagai dasar berpijak."
"Baik, Paman."
Arya Kamandanu sangat gembira bahwa Mpu Ranubhaya mau mengajarinya ilmu olah kanuragan. Dia merasa mendapat penghiburan dan penyaluran, merasa mendapat wadah untuk menampung kesedihannya karena kehilangan gadis yang dicintainya. Maka sejak malam itu, begitu matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Arya Kamandanu bergegas meninggalkan rumahnya.

***

Malam merayap semakin larut, Arya Kamandanu sangat bahagia mendapatkan seorang guru yang sangat sabar dan pengertian. Ia duduk bersila ditemani Wirot, murid tunggal Mpu Ranubhaya yang setia. Mereka mendengarkan apa yang diucapkan lelaki tua itu dengan saksama. Bunyi kelelawar sesekali memamerkan jeritannya meningkahi suara tetes-tetes air yang jatuh dari langit-langit gua batu payung sebagai tempat pamujan Mpu Ranubhaya.
Lelaki itu memandang kedua muridnya lekat-lekat dengan tatapan sangat tajam. Perlahan sekali ia mengangguk-angguk setelah mengusap janggutnya. Suara lelaki tua itu menambah suasana magis dan seram di dalam gua yang hanya berpenerangan pelita.
"Dengar baik-baik, Kamandanu! Ilmu kanuragan pada dasarnya mempelajari segala sesuatu yang terdapat di dalam raga atau tubuh manusia. Karena itu yang pertama kali perlu dipersiapkan adalah tubuh manusia itu sendiri. Setelah tubuh siap barulah belajar kuda-kuda yang benar. Kuda-kuda artinya dalam keadaan siap siaga. Coba, pamanmu Wirot akan memberi contoh kuda-kuda yang bagus."
Wirot yang ikut mendengarkan pelajaran kanuragan segera bangkit, lalu berdiri dengan kedua lutut menekuk ke samping. Tangan menyilang di atas dada.
"Nah, itu kuda-kuda yang sudah banyak dikenal orang. Kuda-kuda erat kaitannya dengan jurus. Jurus adalah suatu rangkaian pukulan yang mengarah pada satu titik kelemahan lawan. Pamanmu Wirot akan memberikan contohnya."
Maka dengan lincah dan gesit Wirot melompat, menjotos dan memukul udara kosong dengan sesekali menghempaskan napas untuk menghentakkan seluruh tenaga simpanannya. Ia melompat ke samping, menerjang ke depan dan melentingkan tubuhnya seperti burung srikatan yang ingin menangkap nyamuk. Bibirnya mengatup rapat, kedua tangannya mengepal keras, kakinya selalu menghentak tanah setiap kali ia mengubah posisi kuda-kudanya. Sangat perkasa.
"Yah, cukup, Wirot! Sekarang kalian berdua bisa berlatih di halaman depan gua ini. Kukira tempatnya cukup lega untuk kalian berdua!"
Arya Kamandanu segera bangkit dan mengikuti langkah-langkah Wirot yang berjalan menuju halaman gua. Halaman gua itu cukup luas untuk berlatih beladiri. Mereka segera memasang kuda-kuda berhadapan satu dengan lainnya. Wirot yang lebih dulu memahami apa yang diajarkan gurunya tampak lebih gesit dan trengginas. Arya Kamandanu menirukan setiap gerak dan pukulan-pukulan berantai sebagai rangkaian jurus Naga Puspa. Mereka berlatih dan berusaha memusatkan hati dan pikiran sepenuhnya pada olah kanuragan.
Mereka tidak sadar jika Mpu Ranubhaya mengikuti setiap gerakan jurus-jurus yang telah diciptakannya. Lelaki tua itu tidak mau mengganggu, tidak mau memberikan komentar sebab ia berkeinginan kedua anak asuhnya itu bisa mengembangkan jurus-jurus Naga Puspa paling dasar yang telah diberikannya. Tampak keduanya bersimbah keringat. Mereka tidak menyadari jika telah berlatih habis-habisan.
Demikianlah, malam itu, dan malam-malam berikutnya, Arya Kamandanu sibuk berlatih olah kanuragan dengan ditemani Wirot. Setahap demi setahap akhirnya Arya Kamandanu mampu menyerap pelajaran ilmu pukulan dua belas jurus milik Mpu Ranubhaya.
Pada malam yang kedua puluh satu, Mpu Ranubhaya melihat mereka berlatih di halaman depan gua. Setelah beberapa saat lamanya mengamati, Mpu Ranubhaya berdiri dan bertepuk tangan memberi aba-aba supaya keduanya beristirahat. Wajah lelaki tua itu tampak berseri-seri karena kedua muridnya benar-benar mengalami kemajuan sangat pesat dalam berlatih olah kanuragan. Namun, ada sesuatu yang sangat mengganjal saat memperhatikan kedua muridnya itu. Lelaki tua itu pun melambaikan tangannya memberi aba-aba agar keduanya mendekat dan memperhatikannya. Ia pandang satu persatu bergantian.
"Cukup! Hentikan dulu latihan kalian. Mari masuk, aku akan bicara dengan kalian berdua."
Mpu Ranubhaya membalikkan badannya dan melangkah menuju dalam gua batu payung diikuti kedua muridnya. Wirot dan Arya Kamandanu saling berpandangan sejenak dan mengangkat bahu sambil mengangkat alis dan tersenyum simpul menahan geli. Mereka melangkah menuju dalam gua beriringan mengikuti jalan Mpu Ranubhaya. Suasana di dalam gua sungguh mencekam. Temaram sinar pelita yang tergantung di dinding gua tidak mampu memberikan penerangan yang cukup. Mereka kemudian duduk berhadap-hadapan di lantai gua yang kering.
"Bagus. Kau sudah menguasai dua belas jurus yang kuajarkan padamu, Kamandanu. Kau tahu nama jurus yang baru saja kau perlihatkan bersama Wirot?"
"Ehh, tidak, Paman. Saya tidak tahu namanya. Paman Wirot hanya mengatakan pukulan dua Belas jurus." jawab Arya Kamandanu sambil melirik ke arah Wirot
"Walaupun sudah lama Wirot mengenal dua belas jenis pukulan beruntun itu, dia pun belum tahu namanya."
"Guru tidak pernah memberi tahu namanya pada saya."
"Kalau kalian ingin tahu, dua belas jenis pukulan itu merupakan bagian pertama dari jurus Naga Puspa."
"Kedengarannya asing nama itu, Guru?" sahut Wirot dengan nada ingin tahu. Ia mengerutkan dahinya.
"Ya. Memang kedengarannya asing, karena hampir tak ada orang yang mengetahui rahasia ini. Bahkan aku tahu siapa saja yang mengenalnya," jelas lelaki tua itu pada muridnya.
"Tapi Guru pernah mengatakan bahwa jurus itu sangat terkenal di kalangan para pendekar," tukas Wirot.
"Ya, tapi mereka hanya mengenalnya dengan nama pukulan dua belas jurus."
"Mengapa hanya dua belas jurus, Paman?" tanya Arya Kamandanu.
"Sebenarnya jurus Naga Puspa terdiri dari tiga puluh lima jurus. Tiga puluh lima jurus ini dibagi menjadi tiga tahap pelajaran. Dua belas jurus yang pertama adalah tahap awal atau tahap pertama. Isinya hanya olah kanuragan dalam tata lahirnya saja. Bagaimana cara menendang dengan kaki kiri dan bergantian dengan kaki kanan, bagaimana cara menggunakan sikut, lutut kiri kanan, kepalan tangan, telapak kaki untuk menyerang ataupun bertahan. Wirot sudah mahir sekali menggunakan kedua belas jurus itu, walaupun kecepatan geraknya masih perlu ditambah lagi."
"Lalu tahap berikutnya, Paman?" tanya Arya Kamandanu.
"Tahap berikutnya merupakan pelajaran yang lebih berat dan rumit. Tahap kedua ini terdiri dari sebelas jurus yang memerlukan persyaratan istimewa bagi orang yang ingin menguasainya."
"Persyaratan apa, Guru?" tanyaWirot penasaran.
"Orang itu harus lebih dulu menguasai ilmu meringankan tubuh atau bisa juga disebut Aji Seipi Angin."
"Mengapa harus memerlukan persyaratan itu, Paman?" tanya Arya Kamandanu sambil mengubah posisi duduknya.
"Karena untuk memainkan sebelas jurus itu dibutuhkan kecepatan gerak seperti angin. Kecepatan gerak seperti itu tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa yang keberatan membawa tubuhnya sendiri."
"Bagaimana dengan Aji Seipi Angin itu, Paman? Apakah susah mempelajarinya?" tanya Arya Kamandanu penuh rasa ingin tahu.
"Dengan kemauan yang keras, tekad membaja, tak ada pelajaran yang susah di muka bumi ini. Untuk bisa menguasai Aji Seipi Angin dibutuhkan latihan pernapasan dan pemusatan pikiran. Ada satu cara yang sangat jitu untuk melatih kedua hal tersebut. Besok malam aku akan memberikan cara itu, untuk kalian coba latih dengan baik."
Setelah memberikan nasihat dan petuah secara panjang lebar, kedua murid itu diminta untuk membaringkan badan di lantai gua dengan mata terpejam. Mereka harus melakukan pernapasan dalam. Pernapasan dalam ialah menghirup udara melalui hidung. Setelah itu mereka harus menyimpan udara dengan beberapa kali hitungan. Kemudian mengembuskannya perlahan-lahan dikeluarkan melalui hidung tanpa mengeluarkan suara dengus dan desah. Hal itu harus dilakukannya berulang-ulang. Setiap kali mereka mengembuskan napas harus penuh ucapan syukur pada Yang Mahakuasa.

***

Malam berikutnya Arya Kamandanu datang agak telat dari malam-malam sebelumnya. Ini karena dia tanpa sengaja menyaksikan Nari Ratih yang sedang bercinta dengan suaminya di ruang tengah. Kamandanu yang berniat berangkat, menghentikan langkah saat baru membuka pintu sedikit. Dia sangat kaget melihat pergumulan di ruang tengah. Kamandanu yang tidak berniat untuk mengintip, jadi memiliki perasaan tidak menentu. Apalagi saat didengaranya suara desahan Nari Ratih yang begitu menggairahkan. Sepertinya gadis itu baru saja klimaks.
Karena penasaran, akhirnya Kamandanu mengintip lewat lubang pintu yang kebetulan kayunya agak retak sehingga dengan mudah dia bisa melihat ke ruang tengah karena lampu minyak masih dinyalakan. Terlihat Nari Ratih dan Arya Dwipangga masih terkapar di kursi meresapi sisa-sisa kenikmatan bersama. Terlihat Nari Ratih dengan kulit putih masih mengangkang dan dari kemaluannya ada lelehan sperma yang belum dibersihkan.
Di sebelahnya, terlihat tubuh gemuk tapi kekar milik Arya Dwipangga dengan burung sudah terkulai lemas. Kelihatan mereka masih mengatur napas, tetapi terlihat tangan Dwipangga mulai memainkan payudara Nari Ratih.
Nari Ratih kelihatan menikmatinya, dengan senyum ia mengangguk dan langsung menjilati penis sang suami. Burung yang tadinya lemas itu dengan cepat kembali berdiri dengan kokohnya. Kamandanu hanya bisa menelan ludah dan membayangkan seandainya penisnya juga merasakan perlakuan yang sama. Ah, pasti nikmat sekali rasanya.
Di dalam, terlihat Dwipangga kembali menindih tubuh montok Nari Ratih. Penisnya kembali amblas di kemaluan Nari Ratih yang sempit dan mulai menggoyang dengan binal seperti kesetanan. Dwipangga melakukannya sambil memainkan buah dada Nari Ratih, terlihat ia sangat kuat mengimbangi nafsu sang istri yang sedang hamil muda.
Menyaksikan itu, Kamandanu tidak tahan dan entah kapan ikut telanjang melepaskan celana. Ia mulai memainkan penisnya yang lebih besar dari punya Dwipangga. Dikocoknya benda panjang itu sambil membayangkan menyetubuhi Nari Ratih.
Di ruang tengah, terlihat tubuh Dwipangga mengejang saat klimaksnya kembali datang. Dia menumpahkan seluruh cairannya di lorong kewanitaan Nari Ratih, tidak membiarkan setetes pun tercurah keluar. Beberapa saat burung Dwipangga masih ditelan kewanitaan Nari Ratih.
Kamandanu mengira mereka akan selesai, tapi ternyata Dwipangga menyuruh Nari Ratih agar telentang. Kini mereka saling menjilati. Tanpa ragu dan jijik, Dwipangga menyantap kemaluan Nari Ratih yang masih basah oleh lendir, demikian juga sebaliknya.
Setelah mereka kembali siap, Dwipangga menyuruh Nari Ratih menungging dan langsung menusukkan penisnya dari arah belakang. Terlihat sodokan Dwipangga sangat kuat dengan berpegangan pada pinggul dan kadang memainkan payudara Nari Ratih yang menggantung bebas.
Kamandanu hanya bisa menyaksikan adegan itu dengan sambil mengocok penis, ia puaskan hasratnya menggunakan tangan.
Tidak beberapa lama, kembali Dwipangga menyemburkan sperma di kemaluan Nari Ratih. Sepasang suami istri itu terkapar di kursi dengan masih telanjang, mereka tertidur, tidak menyadari kalau Kamandanu sedang mengintip.
Bersamaan dengan itu, Kamandanu juga ikutan mengerang. Spermanya tumpah membasahi lantai tanah. Kasihan sekali dia, hanya bisa mengintip tanpa pernah bisa merasakan.
Masih terengah-engah, lekas Kamandanu membenahi celana dan beranjak menjauh. Tak seorang pun yang tahu ke mana ia pergi. Ayah dan kakaknya, Bibi Rongkot maupun Nari Ratih, tidak pernah tahu jika ia sering meninggalkan rumah bila malam hari tiba.
. Wirot dan Mpu Ranubhaya sudah menunggu di halaman depan gua. Kali ini malam terasa lebih menyeramkan. Dada Arya Kamandanu berdebar kencang ketika Mpu Ranubhaya menyuruhnya duduk di atas tumpukan jerami kering. Pemuda itu diminta untuk memusatkan hati dan pikiran agar bisa berlatih secara total.
Keduanya mengikuti seluruh perintah Mpu Ranubhaya yang berdiri tegak bagaikan patung. Hanya bibirnya yang tampak bergetar dan bergerak-gerak setiap memberi aba-aba pada kedua muridnya. Getaran-getaran suaranya bergema menggaung pada dinding-dinding karang di seputar gua batu payung. Suaranya agak serak dan parau namun penuh kewibawaan seorang yang memiliki karisma.
"Nah, kalian sudah siap?"
"Sudah, Guru."
"Sudah, Paman."
"Aji Seipi Angin ini dulu pernah diajarkan oleh almarhum guruku yang bernama Mpu Sasi. Beliau tidak pernah bepergian naik kuda atau kereta, tapi beliau selalu sampai di tempat yang dituju lebih awal dari teman-temannya. Hal itu karena beliau berjalan dengan menggunakan kemampuan ilmu tersebut. Kamandanu dan kau Wirot, tiga hari yang lalu aku menyuruh agar kalian tidak tidur barang sekejap mata pun. Apa kalian sudah mematuhinya?"
"Sudah, Paman."
"Sudah, Guru."
"Sekarang ini kalian tentu mengantuk sekali."
"Ehh, ya tentu saja, Paman. Tapi saya berusaha untuk tidak tidur walaupun mata rasanya seperti dibubuhi tumbukan cabe rawit saking pedasnya." jawab Arya Kamandanu sambil mengerjapkan matanya.
"Kalian tentu malas berlatih malam ini. Sungguh nyaman sekali rasanya untuk tidur dalam keadaan kantuk seperti ini. Nah, marilah ikut aku."
"Ke mana, Guru?" tanya Wirot penasaran.
"Ke tempat tidur," jawab Mpu Ranubhaya seraya membalikkan tubuhnya menuju suatu tempat. Langkah-langkahnya diikuti Wirot dan Arya Kamandanu yang sesekali saling berpandangan tak mengerti apa yang dikehendaki oleh gurunya yang dianggap aneh sekali.
Mereka menuju suatu tempat agak jauh di balik gua batu payung di mana selama ini mereka berlatih dan digembleng. Tempat itu sunyi sekali. Kegelapan menyelimuti tempat yang ditumbuhi oleh semak belukar dan bambu petung. Suara burung malam membuat bulu kuduk berdiri. Suaranya ditingkahi kepak sayap kelelawar dan jeritan suaranya yang mencericit bercengkerama dengan pasangannya. Di tempat itulah lelaki tua itu berhenti dan membalikkan tubuh memandang kedua muridnya yang sejak tadi hanya menunggu dengan diam.
"Bagi mereka yang tidak sedang belajar olah kanuragan, tempat tidur yang nyaman adalah sebuah kasur yang empuk, uang dipasang di atas ranjang kayu jati berukir. Tapi bagi mereka yang ingin menguasai ilmu Seipi Angin, tempat tidur yang paling baik adalah sebatang petung, yang tingginya melebihi pohon kelapa.”
"Ehh, maksud Guru?" tanya Wirot dengan dahi beranyam kerutan.
Tetapi lelaki tua itu tidak segera menjawab. Hanya desah napas dan kepalanya yang mengangguk-angguk. Bibirnya menyungging senyuman dan matanya menyipit. Pandangannya beralih pada sebatang pohon bambu petung yang sudah tua dan setinggi pohon kelapa.
"Maksudku pergunakanlah sebatang bambu ini untuk tidur malam ini. Hmmh, masih belum jelas? Kalian berdua naik ke atas pohon bambu ini, sampai ke ujungnya yang paling tinggi. Nah, peluklah batang pohon bambu itu sambil berusahalah untuk tidur di atas sana."
"Oh. Bagaimana... bagaimana itu mungkin, Guru?" tanya Wirot dengan nada cemas dan mohon pengertian.
Lelaki tua itu memandang Wirot sangat tajam. "Tak ada yang tak mungkin. Kalian coba saja dulu apa yang kukatakan ini. Kalau tak ingin jatuh, kalian tak boleh tidur terlalu lelap. Bagaimana, Kamandanu? Apalagi yang kau tunggu?"
"Ehh, b-baiklah, Paman. Saya akan menuruti perintah Paman Ranubhaya. Saya akan tidur di atas pucuk pohon bambu ini."
Kemudian tanpa ragu-ragu lagi Arya Kamandanu merayap menaiki sebatang bambu petung yang cukup besar. Ia memanjat bagai seekor monyet. Cepat dan trengginas. Kedua tangannya mencengkeram batang bambu, sedangkan kedua ujung jemari kakinya memanjat batang bambu itu jika tidak ingin terpeleset. Sebaliknya Wirot masih bimbang. Sejenak lamanya ia hanya diam mematung, terpaku memandang Arya Kamandanu yang sudah hampir mencapai pucuk petung. Terdengar suara kerusek dan kerosak setiap kali tubuh Arya Kamandanu menyentuh daun-daun bambu itu.
Ketika Arya Kamandanu sudah mencapai pucuk pohon petung itu, barulah Wirot perlahan-lahan memanjat pohon bambu petung itu. Berkali-kali ia berdecak kesal. Ia sama sekali belum mengerti apa yang dikehendaki Mpu Ranubhaya memintanya tidur di pucuk bambu. Untuk kesekian kalinya ia menganggap gurunya sangat aneh.
Pada pucuk pohon bambu petung itu, Arya Kamandanu mulai merasakan kantuk serta angin malam membuatnya cukup menggigil. Ia belum bisa memejamkan mata. Hatinya semakin cemas dan berdebar-debar ketika matanya terbuka dan memandang ke bawah. Tetapi ia berusaha untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya. Demikian halnya dengan apa yang dialami oleh Wirot. Jejaka tua itu tubuhnya sangat menggigil oleh kedinginan dan rasa cemas. Keringat dinginnya mengalir dan membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar ketakutan sekali ketika kembali memandang ke bawah.
"Ohh, tinggi juga batang bambu ini. Oh, kalau jatuh ke bawah sana bisa remuk tulang-tulangku Apa maksud Guru memberi pelajaran seperti ini? Jangan-jangan Guru hanya main-main. Soalnya aku tahu watak guruku. Di samping suka angin-anginan, dia juga senang bercanda, senang bermain-main."
Wirot menguap lebar karena kantuk menguasainya. Tapi ia tidak mungkin bisa tidur dengan cara seperti monyet di atas pohon. Ia juga merasakan kedua kakinya sudah kaku karena takut. Ia tak merasakan apa-apa lagi. Keringat dingin sudah membasahi pakaiannya. Ia makin cemas, takut dan khawatir jika jatuh. Ia ragu jika bisa bertahan di atas pohon sampai pagi. Ia mulai menggigil.
"Saya tidak sanggup. Saya, saya masih mau hidup." lirihnya. Wirot merasakan sesuatu yang hangat mulai mengalir, membasahi paha dan celananya. Sekujur tubuhnya benar-benar menggigil. Sedikit pun ia tidak bisa memicingkan matanya sekalipun perasaan mengantuk luar biasa menyerangnya. Bahkan ia tidak ada niat melanjutkan lakunya untuk mempelajari apa yang diajarkan gurunya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk turun. Ia tidak mempedulikan petunjuk gurunya yang kini tak ada di bawah. Wirot benar-benar semakin jengkel pada Mpu Ranubhaya. Napasnya terengah-engah saat kakinya menginjak tanah. Ia menghela napas sedalam-dalamnya kemudian dihempaskannya napas itu dengan menggelembungkan kedua pipinya. Kedua tangannya mengurut dada, kepalanya menggeleng-geleng dan rasa pening mulai merayapi keningnya. Jejaka tua itu sesaat memandang ke arah Arya Kamandanu yang kelihatan berusaha tidur di pucuk pohon bambu petung. Ia tersenyum karena pemuda itu pun kelihatan gelisah.
Wirot akhirnya melangkahkan kakinya menuju dalam gua setelah mengibas-ngibaskan pakaiannya yang berbau pesing. Ia yakin gurunya diam di dalam gua untuk bersemadi. Suasana di dalam gua batu payung itu sangat gelap gulita. Pelita minyak yang biasa tergantung di dinding sudut gua tidak menyala. Wirot yakin, bahwa gurunya sengaja mematikan pelita itu untuk mendukung suasana semadinya. Suara tetes-tetes air terdengar mengerikan dalam pendengaran Wirot.
Baru saja ia akan membaringkan tubuhnya pada sebuah lempengan batu pipih selebar meja yang terdapat dalam ruangan gua itu, ia sangat terkejut. Terdengar suara gurunya menegurnya, "Bagaimana, Wirot? Mengapa kau turun? Apakah kau sudah tidur terlelap di atas tempat tidurmu?"
"Ehh, ampun Guru. Saya tidak sanggup."
"Ahh, Wirot. Kau adalah satu-satunya muridku yang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri Sekarang kau tahu, mengapa aku tidak mewariskan ilmu yang lebih tinggi selain pukulan dua belas jurus."
"Mungkin, mungkin Guru menganggap saya kurang berbakat."
"Yah. Ilmu yang tinggi harus diimbangi dengan wadah yang memadai. Sebab kalau tidak, orang yang bersangkutan bisa menjadi korban ilmu tersebut. Ilmu tidak bisa dipaksakan. Di samping itu ilmu cocok-cocokan dengan orangnya."
"Ehh, maaf, Guru. Saya masih belum mengerti mengenai Aji Seipi Angin ini. Ehh, maksud saya, mengapa harus melalui tidur di atas pohon bambu segala? Apa hubungannya dengan meringankan tubuh?"
"Dengan kata lain, kau masih meragukan apa yang kukatakan? Nah, mari ikutlah aku. Kau nanti akan melihat sendiri, bagaimana ampuhnya kekuatan yang ditimbulkan dalam diri manusia, yang mampu mengatasi ujian berat di atas pucuk pohon bambu."
Kemudian lelaki tua itu bangkit tanpa memperhatikan lagi Wirot yang meringis karena risih dengan celananya yang basah kuyup oleh keringat dingin dan air kencing. Mpu Ranubhaya yang sudah terlatih dengan suasana kegelapan dalam gua itu melangkah dengan tenangnya. Ia lalu membawa Wirot ke tempat di mana Arya Kamandanu masih tergantung di atas pucuk pohon bambu. Dari bawah tampak Arya Kamandanu bagaikan seekor kalong yang besar, yang terperangkap jaring seorang pemburu.
Malam semakin mencekam. Gemerisik angin yang mendera daun-daun bambu terdengar bagaikan tangisan hantu-hantu malam. Wirot mengikuti gurunya ketika lelaki tua itu memandang ke pucuk bambu petung di mana Arya Kamandanu masih menggelantung di sana.
"Ohh, luar biasa Angger Kamandanu. Dia masih mampu bertahan di pucuk pohon bambu," gumam Mpu Ranubhaya seperti pada diri sendiri. Lalu ia memandang Wirot yang berdiri seperti tikus di depan kucing.
"Ketahuilah, Wirot! Anak Hanggareksa ini mempunyai bakat besar di dalam hal olah kanuragan."
"Saya khawatir dia nanti terjatuh, Guru. Saya sendiri merasakan betapa beratnya ujian ini. Kaki saya sampai kehilangan rasa, tangan-tangan saya seperti kejang!"
"Sudahlah, Wirot. Nanti akan kau saksikan sendiri sebuah tontonan keajaiban yang langka. Tapi kalau kau sekarang ingin tidur, tentu kau tak akan melihatnya."
Kemudian lelaki tua itu membisu seribu bahasa sambil memandang Arya Kamandanu yang menggelantung di pucuk pohon bambu. Wirot yang memandang pun merasa merinding bulu kuduknya karena ia sendiri tidak kuat menahan ujian yang sangat berat seperti itu. Terdengar kerusek dan kerosak binatang malam mendera dan menyibak dedaunan bambu disusul dengan suaranya yang menyayat mengerikan.
Hal itu mengejutkan Arya Kamandanu yang berusaha mati-matian memerangi kekejangan kaki dan tangannya. Tangan dan kakinya semutan dan benar-benar mati rasa. Ia pun merintih sambil perlahan membuka kelopak matanya. "Ohh, kakiku... kakiku sudah mengejang semuanya. Mengejang sampai ke jari-jari kaki. Ohh... apakah aku akan bisa lulus dari ujian berat ini? Bagaimana kalau aku sampai terlelap? Tentu tubuhku akan hancur berantakan di bawah sana."
Mata Arya Kamandanu sudah terasa berat dan pedih. Matanya ingin menutup saja. Berat sekali ia rasakan membuka kelopak mata. Ia menggigil dan tubuhnya gemetar. Bagaimanapun juga Arya Kamandanu mencoba untuk bertahan, akhirnya terlena juga. Seperti terkena panah Aji Sirep yang dahsyat, mendadak Arya Kamandanu merasa terlelap, dengan kelopak matanya tetap terbuka, tapi kedua belah tangannya terlepas. Tubuhnya terperosok seiring bunyi kerosak panjang. Tubuh pemuda itu melayang-layang di udara sebelum akhirnya terhempas dan tercampak di semak belukar dan tanaman liar.
Wirot matanya melotot penuh kecemasan lalu ia berlari menghampiri tubuh Arya Kamandanu yang tergeletak di semak-semak. Mulutnya setengah menganga sambil memekik memanggil Mpu Ranubhaya yang belum bergeming dari tempatnya berdiri. "Guru, Guru, bagaimana dengan Angger Kamandanu?!" serunya dengan suara parau karena cemas dan ketakutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar