Rabu, 31 Mei 2017

Buku Harian Ibu

Tahlil ini terasa lama dan membosankan. Aku bolak-balik melirik jam. Harusnya tahlil sudah selesai. Heran aku, suka-sukanya orang-orang ini berlama-lama memanjatkan doa.
“Ayo kita buka surat wasiat Ibu,” aku langsung menghampiri ketiga kakakku begitu tetamu tahlil terakhir meninggalkan halaman rumah.
“Kita harus menunggu sampai tahlilan 40 hari wafatnya Ibu, bukan sekarang, Gus!” ujar Rista, kakak sulungku.
“Memangnya kenapa kalau sekarang. Sama saja!” kataku.
Rista memandang Tiara dan Vani, kedua kakakku yang lain.
“Ya sudahlah kalau begitu. Aku akan telepon pengacara. Pengacara harus ada saat kita membuka surat warisan itu,” ujar Tiara.
“Telepon saja. Tunggu apa lagi?” seruku tak sabar.

Namun pengacara baru bisa datang empat puluh lima menit kemudian. Sambil menunggu, aku duduk-duduk di teras karena aku perokok berat, sementara kakak-kakakku dan suami mereka ngobrol di ruang TV. Kulihat Bulek Is, adik kandung ibu, tengah menidurkan anaknya yang masih berusia 5 bulan. Karena suasana santai, perempuan berumur 29 tahun itu telah berganti pakaian menggunakan daster panjang dan jilbab tipis dengan warna senada. Suaminya tidak kelihatan.
Sudah sejak tadi siang Bulek Is menarik perhatianku. Selain bentuk tubuhnya yang memang sangat menantang, dia juga cantik sekali. Beruntung sekali Paklek Parjo yang bisa menyuntingnya. Penisku semakin berdenyut melihat pemandangan Bulek Is yang kini sedang menyusui bayinya. Payudara itu... amboi! Besar sekali, juga putih dan mulus. Kelihatannya juga sangat padat dan kencang.
Memperhatikannya membuatku jadi ingin buang air kecil, maka aku lekas pergi ke belakang. “Kamu mau kemana, Gus?” tanya Rista saat melihatku berdiri.
“Mau kencing,” jawabku ketus, masih dongkol dengan situasi ini.
“Masih ada anakku di kamar mandi,” jawab Tiara.
Aku membuang napas sejenak dan berkata, “Aku ke sungai,”
Di belakang rumahku memang ada mata air alami yang difungsikan untuk tempat mandi, mencuci pakaian, dan buang air kecil oleh para tetangga. Jaraknya lumayan dan medannya juga sulit, tapi aku nekat saja daripada bengong menunggu di sini.
"Ya udah sana, hati-hati gelap! Jalannya licin." kata Vani.
"Iya, aku tahu."
Aku baru akan beranjak meninggalkan teras saat sebuah panggilan menahan langkahku. "Eh, tunggu, Gus! Aku ikut. Sudah nahan juga dari tadi, hehe.” ujar Bulek Is mengagetkan, lalu berpaling pada suaminya. “Tidak apa-apa kan, mas, aku pergi sama Agus?”
Paklek Parjo memandangku sejenak, seperti ingin menguji kejujuranku. Kulemparkan senyum lugu kepadanya. “Iya, hati-hati. Teriak saja kalau ada apa-apa.” katanya kemudian.
Setelah menaruh si kecil di kamar, Bulek Is segera menghampiriku. “Ayo, Gus.” ajaknya sembari mencari sendalnya di depan rumah. Saat ia merunduk, dengan jelas aku bisa melihat bongkahan pantat kenyalnya yang dibalut daster tipis warna pink, juga sekaligus ceplakan celana dalamnya yang membayang jelas.
Deg! Apakah ini waktunya? Kok cepat sekali kau beri aku ujian yang berat ini, Ya Tuhan! batinku dalam hati.
“Gus, kok ngelamun gitu?" tanya Bulek Is yang mulai berjalan.
"Ah, nggak... Itu, lagi ngeliatin jalan ke sungai, ternyata gelap juga ya?” jawabku ngeles.
"Nggak ada lampunya...” terang Bulek Is. “Hayuk, masak kamu takut?"
Aku menggeleng dan kami pun berjalan beriringan. Seperti sudah ditebak, aku memposisikan diri berjalan di belakangnya, tak berkedip aku memperhatikan ayunan pinggul, pantat, dan paha mulus Bulek Is. Aduhai, indah sekali. Penisku tambah ngaceng sejadi-jadinya.
Di saat melangkah, di tengah jalan batu yang licin berembun, Bulek Is tiba-tiba terpeleset. Karena aku persis berada di belakangnya, maka aku dengan sigap menangkap tubuhnya... dan dengan jelas aku bisa melihat payudaranya yang terbalut beha hitam di balik lambaian jilbabnya yang tersingkap. Yang lebih membuatku kaget, dari selipan beha itu terpampang kedua putingnya yang sepertinya mengintip keluar.
God damned!
"Aduh! Maaf, Gus... licin sekali jalannya!" Bulek Is menggumam.
"Pelan-pelan aja, Bulek Is! Yuk sini aku bantu,"
Tanpa menunggu persetujuannya, tanganku secara otomatis meraih pinggulnya dan menggandengnya erat agar kami bisa berjalan berdampingan. Bulek Is memandang wajahku sejenak, ada kekagetan di sana. Tapi saat melihatku tersenyum, dia ikut tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Sesuai perkiraanku, dia pasti tidak akan menolak.
Kami kembali berjalan, dengan posisi Bulek Is berada agak sedikit di depan, sambil tanganku tetap melingkar di pinggulnya. Posisi itu membuat penis tegangku yang masih terbungkus celana pendek warna hitam bisa kugesekkan dengan bebas ke daster tipisnya yang berwarna pink, tepat di bagian pinggul.
Kami berjalan pelan sekali, langkah demi langkah, sambil terus kugesekkan penisku ke bongkahan pantatnya yang sebelah kanan. Sementara tangan kiriku menahan pinggulnya, terlihat seolah-olah benar-benar menahan agar dia tidak terpeleset lagi.
“Gus, jangan nakal ah!” bisiknya sambil mengerling.
Aku tahu itu hanya pura-pura, karena si setiap langkah, seperti mengerti dengan maksudku, Bulek Is malah turut menekan pantatnya. Batangku jadi makin tergesek nikmat. Jarak antara rumah ke sungai yang hanya 20 meter seperti terasa jauh sekali karena kami melangkah ‘sangat hati-hati’... atau lebih tepatnya, ‘saling menikmati’.
Sesampainya di tepi sungai, kami sedikit berpisah. Aku segera menurunkan celana dan penisku yang tegang sedari tadi langsung terbebas dari sangkarnya.  Bulek Is pura-pura tidak melihatnya padahal aku tahu dia sedang melirik sekarang. Aku tidak peduli, tapi aku baru sadar kalau tanganku masih pegang hape yang kufungsikan sebagai senter. Tanpa pikir panjang, kupanggil Bulek Is untuk memegangnya agar aku bisa buang air kecil dengan leluasa.
"Tolong ya, Bulek,” kataku sambil kuangsurkan benda kecil itu.
Bulek Is menerimanya sambil tersenyum, matanya lagi-lagi melirik ke arah selangkanganku. Tapi saat akan meraihnya, kembali ia terpeleset oleh licinnya tanah. Perempuan dengan dada 34B itu jatuh tepat ke arahku, dan aku reflek membuka tangan untuk menangkapnya.
BRUKKK...!!
Aku menangkapnya untuk kedua kali. Bedanya, kali ini posisi tubuhku agak membungkuk meski masih dalam posisi berdiri, dan tubuh kami saling berhadapan. Lebih parahnya lagi, penisku berada dalam posisi bebas dengan kepala Bulek Is berada di dadaku. Yang membuatku senang, sama sekali tidak ada reaksi penolakan darinya.
"Bulek nggak apa-apa?" tanyaku gugup. Dia diam saja. "Bulek kenapa?” tanyaku lagi sambil kuletakkan tanganku di wajahnya yang berjilbab.
“A-aku nggak apa-apa kok, Gus.” jawab Bulek Is dengan wajah masih menghadap ke bawah, lalu ia mendongak menatapku dan berbisik, “Penis kamu besar juga yah?"
Bagai disambar petir, aku begitu kaget mendengarnya! Sekaligus juga senang saat merasakan tangannya sudah memegangi penisku dan mulai meremas-remasnya dengan lembut. Perasaanku campur aduk antara khawatir dipergoki Paklek Parjo, tapi juga tak ingin kenikmatan ini berhenti.
"Masih mau pipis?” tanya Bulek Is sambil mengocok penisku maju mundur dengan perlahan.
"Ouhw... Bulek kok nakal sih!” aku mengerang. “Kalo aku bilang sudah nggak pingin pipis, emang Bulek mau apa?"
"Hihihi...” dia tertawa, manis sekali. “Mmm... matikan dulu hapemu, nanti aku kasih tahu.”
Segera ku-off-kan lampu flash kamera, lalu menunggu dengan harap-harap cemas apa yang akan Bulek Is berikan.
Sambil tetap memegangi penisku, Bulek Is berjalan pelan ke tepi sungai. Dia lalu menyingkap kain dasternya dan menurunkan celana dalamnya sampai batas lutut, kemudian berjongkok untuk pipis... “Sebentar ya, aku benar-benar kebelet,” katanya dengan wajah persis berada di depan penisku yang semakin menegang dahsyat.
“S-silakan, Bulek,” jawabku gemetar.
"Deketan sini, biar bisa sekalian." katanya lagi.
Dengan sigap aku melangkah maju hingga posisi batangku tepat menempel ke pipinya. Tangan Bulek Is tetap mengocok penisku dengan perlahan, namun dilakukan dengan genggaman yang cukup kuat. Di bawah, air seninya terdengar mulai mengalir.
"Kamu pasti pinter ngewe kalo kontolmu gede begini," desis Bulek Is sambil memandang nanar.
Aku tidak menduga bahasa seliar itu bisa keluar dari mulut kecil nan menggairahkan yang selama di depan keluargaku selalu mengeluarkan kalimat yang santun. Aku tidak mengira di balik sosok berjilbab ini tersimpan figur iblis wanita yang ganas dan bisa keluar di saat-saat tertentu... seperti yang terjadi padaku saat ini.
"Haha... kok Bulek bisa bilang gitu?" jawabku pura-pura.
“Mmmhh...” Bulek Is menempelkan bibirnya ke penisku. “Punya kamu lebih gede daripada punya Paklek, mmhh..."
Bulek Is yang masih dalam posisi berjongkok dengan celana dalam yang turun setengah, kini mulai menjilati ujung penisku dengan jilatan-jilatan kecil persis seperti yang aku inginkan! Jilatan-jilatan kecil dekat lubang penis yang menimbulkan sensasi ngilu-ngilu nikmat, begitu membangkitkan gairah.
Kemudian, dia mulai mengulum kepala penisku. Bibirnya berusaha menyesuaikan dengan lingkar batang pada ukuran mulutnya yang mungil, sambil kembali memainkan lidahnya di sekitar lubang kencing dan lingkaran kepala penisku. Perlahan, Bulek Is mulai menjelajahi penisku lebih dalam; lebih turun lagi dan semakin ke bawah.
“Enak, Gus?” tanyanya lirih. Mulutnya nampak penuh dan dia seperti kesulitan, saat berusaha menjangkau pangkal penisku. Tapi dia terus berusaha tanpa kenal kata menyerah.
Aku hanya bisa mengangguk ketika merasakan ujung penisku seperti menyentuh sesuatu, yang menurutku adalah ujung kerongkongannya. Kubantu dengan mendorong ke depan, dan Bulek Is langsung tersedak. Sambil terbatuk-batuk dia mengeluarkan penisku dari mulutnya, diikuti dengan air liurnya yang melimpah, tersambung antara penisku dan bibir mungilnya.
“Besar dan panjang, Gus!” bisik Bulek Is.
"Ohh... emut lagi dong, Bulek! Enak, aku suka!"
"Ssshh.. tapi sebagian saja ya, aku nggak kuat kalau semua!”
“Iya, nggak apa-apa, Bulek. Yang penting diemut!”
Aku pun memberanikan diri untuk lebih membungkuk. Sementara dia mulai menelan, kubelai kepalanya yang masih tertutup jilbab dengan tangan kiriku. Sementara tangan yang lain perlahan kususupkan ke balik dasternya untuk kemudian masuk ke balik beha... dan langsung kuremas gemas bulatan payudaranya yang terasa empuk dan kenyal.
“Oghh... Gus!” Bulek Is mengerang.
Jemari kananku semakin leluasa membelai dan meremas-remas dada kirinya, sementara penisku masih berada dalam kuluman bibir mungilnya. Dengan perlahan kuapit putingnya dengan telunjuk dan jari tengahku, lalu kupilin dengan sangat hati hati.
“Uuhh... kamu kayaknya sudah pinter mainin pentil, Gus. Eemmhhh.. sudah pernah ya sebelumnya?” tanyanya sambil terus maju mundur perlahan memainkan penisku di dalam mulutnya.
“Sudah belajar mulai dari SMP, Bulek.” jawabku jujur. “Bulek sendiri, suka yah ngemut kontol?"
"Iya... mphhrrr!!” Bulek Is mencucup rakus. “terutama yang gede kayak punyamu ini.”
“Hehe... tapi jangan lama-lama, Bulek. Nanti aku nggak tahan. Sekarang gantian ya!"
Matanya melihat ke mataku penuh tanda tanya dan melepas penisku dari bibir mungilnya. “Gantian gimana maksudmu? Emang kamu bis... mffff..!!"
Sebelum Bulek Is menyelesaikan kalimatnya, tanpa banyak cingcong langsung kukulum bibirnya sambil kuarahkan tubuh seksi dengan celana dalam yang sudah turun selutut itu untuk berdiri. Lalu perlahan kudorong mundur sampai dia bersandar di bebatuan tepi sungai.
Penisku kugesekkan sejajar dengan mulut vaginanya, sementara tangan kiriku membelai perlahan payudaranya yang kanan. Kancing dasternya kulepas dan bibir serta lidahku langsung berpindah ke kedua putingnya yang sudah benar-benar keras di balik beha. Saat kucucup, ada sedikit rasa manis. Rupanya ASI-nya bocor keluar.
“Enak, Bulek!” bisikku sambil terus menghisap rakus. Keduanya-duanya kucicipi, kujilat-jilat, kujepit di antara gigi dan lidah, sambil tanganku terus meremas-remas bulatannya yang terasa licin dan lembut.
“Aghh... jangan dihabiskan, Gus. Nanti anakku nggak kebagian!” rintihnya dengan tubuh menggelinjang.
“Mmhh.. kalau begitu ganti yang ini saja ya."
Seketika aku langsung berjongkok di depan vaginanya, dan mengarahkan dia untuk sedikit mengangkang. Bulek Is pun merendahkan tubuhnya agar bisa mengangkangi wajahku. Melihat pubis tanpa bulu dan vagina yang sudah dalam posisi terangsang merekah persis di depanku, mataku pun langsung gelap!
Tanpa membuang waktu, kuserang vagina basah itu bertubi-tubi dengan lidahku; mulai dari klitoris, sisi-sisi lubang vagina, hingga ke kedalaman lorongnya yang hangat dan gelap. Kuusahakan untuk memasukkan lidahku sejauh-jauhnya agar bisa kujelajahi semuanya. Bulek Is menaruh kedua tangannya di bahuku dan mulai mengerang, bahkan tangan kanannya mulai berubah posisi menjambak-jambak rambutku seolah-olah mengarahkan mulutku ke bagian vagina yang ia inginkan.
"Oohh.. emhh.. enak, Gus! Terus! Oughh.. jilat yang kuat! Memekku rasanya gatel banget! Sshh... ahhh..." Dia sudah tak mempedulikan lagi kata-kata jorok yang keluar dari mulutnya.
Aku tidak bisa menyahut karena mulutku terus sibuk menjilati liang vaginanya tanpa henti. Untuk menambah sensasi, sambil menjilat, kubasuh jemari tanganku dengan air yang mengalir di sungai dan setelah kuyakin bersih, segera kumasukkan dengan sangat perlahan ke dalam lorong vaginanya. Tidak cuma satu, tapi dua.
“Ouhh; Gus!” Bulek Is sedikit berjengit, tapi tidak menolak.
Aku terus menusuk, semakin lama semakin dalam, sampai jariku tenggelam sepenuhnya. Lalu kemudian mulai kukocok vagina yang baru dilewati bayi itu dengan sangat perlahan namun dengan kecepatan yang semakin meningkat. Saat kulirik ekspresinya, kulihat Bulek Is seperti sedang menahan sesuatu.
"Gimana rasanya, Bulek, enak?" tanyaku sambil terus mengocok.
"Mmmmh.. enak banget, Gus! Kamu pinter deh! Aagh.. teruskan!! Sshh.. aahh.. yah begitu! Mmhh,” Wajah cantiknya yang tertutup jilbab mengernyit, kentara kalau sudah tak kuat lagi.
Maka semakin kupercepat kocokanku pada vaginanya, dan makin kuperdalam lidahku menyentuh klitorisnya. Sampai akhirnya dia berucap, "Hmmh.. Gus, aku mau pipis niiih.. mhpphh.. mpphh...."
"Pipis aja, Bulek. Nggak apa-apa. Aku mau lihat."
Dengan desahan yang semakin meninggi serta pinggul bergoyang hebat, Bulek Is mengatupkan paha mulusnya untuk mencengkeram tanganku. Kuatir dia berteriak, aku pun berdiri dan melumat bibirnya yang setengah terbuka sambil kuteruskan mengocok.
Benar saja, dalam sekejap aku merasa telunjuk dan jari tengahku seperti dijepit sekuat tenaga, dan seperti ada sesuatu yang mendorong keluar! Secepatnya kulepas jemariku dari vaginanya, dan...
“SOOORRR... SRRRT.. SRRRT..” Semburan pertama sangat kuat dan kencang. Semburan kedua semakin berkurang. Dan semburan terhenti setelah yang ketiga!
Ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang perempuan orgasme dengan mata kepalaku sendiri! Biasanya cuma dari film-film. Selain itu, ini juga kali pertama aku membuat serang perempuan orgasme dalam hidupku!
“Hhh... hhh... hhh...” Napas Bulek Is tersengal-sengal, memburu layaknya seseorang yang terpuaskan! Ekspresi yang sungguh berbeda dengan ekspresi buatan yang banyak kulihat di film biru yang banyak tersimpan di hardisk notebook-ku.
Kakinya bergetar hebat hingga tangan kananku yang basah karena lendir kenikmatan dari vaginanya harus kualihkan untuk menopang agar ia tidak terjatuh; dan dengan perlahan kulepaskan lumatan mulutku yang menutup bibir mungilnya. Bulek Is masih mengeluarkan desahan lemah, keringat membasahi wajah dan dahinya, membuat penisku yang masih berada di luar celana semakin keras dan berkedut semakin kencang!
"Hhh.. aku lemes banget, Gus!” bisiknya dengan suara tersengal.
“Ekspresi Bulek bener-bener nafsuin. Puas sekali aku liatnya,”
“Puas? Tapi kamu kan belum?"
“Nggak apa-apa,” aku berbisik dengan nada menenangkan. “Kan masih 6 hari lagi aku di sini. Nanti-nanti juga bisa,"
"Tapi belum tentu kita nemukan waktu seperti ini lagi,"
"Tenang saja, Bulek. Setelah gelap, jarang ada orang yang ke sini. Besok bisa kita ulangi, pura-pura kencing seperti tadi.”
Aku kembali menciumnya, dan lidah kami kembali berpagutan satu sama lain. Bulek Is meraih batangku yang masih tegak berdiri, mengusap-usapnya mesra dan menggerakkan tangannya maju-mundur dengan perlahan.
"Oouh.. kamu memang nakal, Gus!”
“Tapi Bulek suka kan?” Kuremas-remas bulatan payudaranya yang terasa mengganjal di dadaku. Benda padat itu selalu membuatku terangsang. “Sudah lima belas menit kita di sini, sebaiknya kita balik sebelum ada yang curiga.”
“Lima menit lagi boleh ya?” rengeknya. “aku penasaran pengen dientot sama kontol kamu,”
"Aduh! Gimana ya, Bulek..." Aku sih sebenarnya mau-mau saja, tapi sebentar lagi pengacara tiba dan pasti semua orang menunggu kehadiran kami.
Tapi bukan Bulek Is namanya kalau tidak bisa menggodaku. Sambil menjilati telingaku dia berbisik, “Tenang saja, Gus. Nanti kamu bilang kalau aku jatuh di sungai. Nggak bohong juga kan, emang aku sempat jatuh tadi."
Benar apa yang dia katakan, dan sepertinya alasan itu masuk akal. Setelah mempertimbangkannya sejenak, kembali kupagut bibir mungilnya yang selama ini hanya bisa kufantasikan dalam coli-ku. Tangan kananku dengan ganas menurunkan kain dasternya ke bawah, dan menyelusup dengan kasar melalui helaian jilbab untuk meremas dada kirinya dengan kasar sambil memilin-milin putingnya yang kembali mengeras.
Tangan kiri Bulek Is semakin erat menggenggam penisku dan menggerakkannya maju-mundur. "Aaah.. ayo langsung saja, Gus. Biar cepat!” dia meminta.
Aku segera membalik posisi badannya dan menggesek-gesekkan penisku yang penuh oleh ludah kentalnya persis di tengah-tengah dua bongkahan padat kenyal yang dimiliki oleh ciptaan Tuhan yang satu ini. Kehangatan tubuhnya semakin menambah gairahku untuk mengeksekusinya saat itu juga. Kedua tanganku sudah sibuk menggerayangi kedua payudaranya yang menggantung indah, meremas dan memilin-milin putingnya dengan sangat keras.
Sepertinya Bulek Is adalah tipe wanita yang mudah sekali terangsang, karena dalam waktu singkat setelah squirt tadi, putingnya kembali menegang begitu menerima rangsangan yang kuberikan.
"Mmhh.. ayo, Gus! Aku sudah nggak sabar pengen dientotin sama kamu!” lirihnya manja.
"Iya, Bulek. Aku masukkan pelan-pelan ya,"
Perlahan kuarahkan penisku ke arah liang vaginanya, kubenamkan ujungnya yang tumpul sampai tenggelam seluruhnya. Baru setelah itu kutarik dan kuhentakkan dengan keras maju mundur, sambil kedua tanganku tetap bermain di kedua putingnya dan bibirku menjilati punggungnya yang putih mulus.
"Auhh... kamu pinter banget, Gus! A-aku nggak yakin... ughh... i-ini pengalaman pertamamu. Auwghh... p-pasti kamu sudah s-sering ya?”
Kembali tangan kiriku menutupi mulutnya, khawatir suaranya mengundang perhatian keluarga yang lain, dan tangan kananku pindah mengelus serta membelai-belai klitorisnya.
Walaupun sudah turun mesin sekali, sepertinya Bulek Is ini tipe yang rajin memelihara bagian kewanitaannya. Vaginanya benar-benar terasa sempit dan nikmat sekali untuk ukuran penisku. Tak bisa kubayangkan bagaimana saat perawan dulu, Paklek Parjo benar-benar beruntung mendapatkannya.
Kami terus berpacu dalam gairah. Aku memeluknya dari belakang, sementara Bulek Is melenting untuk mencium bibirku sambil kedua tangannya berada di pantatku, seolah membantuku untuk mempercepat irama hunjaman ke dalam rongga vaginanya.
"Euh.. euh.. euh.. hmmphh.. hmmphh.."
“Jangan keras-keras, Bulek, teriaknya." kataku berbisik.
Waktu terasa lama sekali malam itu. Kaosku yang terbalut jaket North Face hitam sudah banjir oleh keringat. Doggy style yang benar-benar sempurna; dilakukan outdoor, lengkap dengan risiko yang besar sekali jika ketahuan, dan sensasi yang luar biasa karena melakukannya dengan perempuan yang merupakan adik almarhumah ibu.
“Aku boleh keluar di dalam nggak, Bulek?" tanyaku saat merasa sebentar lagi akan muncrat.
“Terserah, di dalam juga nggak apa-apa,” jawabnya berbisik.
“Siap-siap, Bulek. Ini kugoyang lebih kasar biar cepat keluar. Mmh.. huuh.."
"Lakukan, Gus! Keluarkan semua di memekku. Ahh.. ahh..”
Irama hunjaman kupercepat. Napas kubiarkan tidak teratur.. Aku tidak lagi menahan diri mengontrol ejakulasiku. Tangan kiriku berpindah posisi untuk menjambak jilbabnya, mengarahkan bibir Bulek Is agar bisa kembali kupagut liar sementara tangan kananku meremas-remas bongkahan payudaranya yang terpantul-pantul indah.
“Ahh.. terus, Gus! Enak, Bulek suka dientotin sama kamu! Ayo keluarkan sekarang,"
"Hhh.. hhh.. sebentar lagi, Bulek. Sebentar lagi. Tinggal sedikit lagi. Aaarrgghhh... a-aku..."
SRRRTTT... SRRRTTT... SRRRTTT... SRRRTTT...
Sambil meremas puting kanannya dengan keras, kuhentakkan penisku yang menyemburkan sperma hangat ke seluruh liang vaginanya! Bulek Is menekan pinggulnya, menjepit penisku dengan kaku saat aku keluar, hingga aku seperti diurut-urut oleh kedutan-kedutan dari liang vaginanya, yang memaksaku untuk mengeluarkan seluruh spermaku sampai tuntas tak tersisa.
Malam ini, dengan adik ibuku, aku benar-benar mengalami sensasi ejakulasi yang belum pernah kualami seumur hidupku. Benar-benar liar iblis yang berada dalam tubuh kami berdua!
"Uuh.. hangat pejuh kamu, Gus. Aku nggak mengira kamu bisa hebat begini, suamiku kalah deh.”
“Bulek juga. Hhh.. hhh.. tubuh Bulek enak. Beruntung sekali Paklek Parjo bisa dapetin Bulek.”
Dia tersenyum dan menciumku. Sejenak kami terdiam, dan Bulek Is membalikkan tubuhnya menghadapku. Tangannya kembali mengocok-ngocok penisku yang mulai melemah dengan perlahan, dan setelah menggigit lidahku beberapa kali, dia melepas pagutannya dan menghela nafas panjang, lalu berjongkok dan kembali mengulum batang penisku untuk menyedot habis sisa-sisa sperma yang masih tersisa dengan bibir mungilnya yang sensual.
"Mmm.. makasih ya, Gus. Aku puas banget malam ini."
"Hhh.. hhh.. iya, sama-sama, Bulek! Tapi itu daster Bulek jadi belepotan sperma,”
"Hihihi.. nggak apa-apa, buat kenang-kenangan.”
Aku kembali menaikkan celana dalam dan celana pendekku, karena penisku sudah dibersihkan oleh Bulek Is. Sementara perempuan itu mengenakan kembali daster serta celana dalamnya, dia juga merapikan kembali jilbabnya yang sedikit acak-acakan.
Saat akan kembali, aku baru ingat. Segera aku mengambil lumpur sungai dan mengusapkannya ke bagian pantat Bulek Is. “Biar kelihatan kalau Bulek habis jatuh,” kataku.
Bulek Is tersenyum. "Cium lagi dong, Gus, sebelum kita balik ke rumah."
Aku kembali memagutnya, ganas. Lidah kami saling beradu dan Bulek Is menggigit lidahku beberapa kali. Penisku yang terbungkus celana pendek bersentuhan dengan selangkangannya.
"Ihh.. kamu itu! Masak sudah keras lagi," bisiknya lirih.
"Yah, namanya juga remaja, Bulek. Apalagi bila berduaan sama perempuan cantik macam Bulek."
"Gombal!” Dia melepaskan pelukan, lalu menggandeng tanganku. “Udah yuk, balik."
"Sini, Bulek,” Kusambar tubuh sintalnya dan kutaruh di punggungku. Sepanjang perjalanan ke rumah, aku menggendongnya agar skenario kami semakin meyakinkan. Beberapa meter sebelum teras rumah, terlihat dan kakak-kakakku sudah menunggu. Mobil pengacara juga sudah kulihat terparkir di halaman.
"Astaghfirullah... Bulek kenapa?” tanya Rista kaget.
"Tadi kepeleset, kakiku sakit sekali. Untung ada Agus yang nolongin!" jawab Bulek Is.
Aku diam saja dan kuturunkan Bulek Is dari gendongan. Paklek Parjo langsung
memapah istrinya yang masih bersandiwara dengan pura-pura berjalan agak pincang menuju ke kamar, sementara aku menghampiri kakak-kakakku yang sudah menunggu di ruang tamu. 
“Ayo, langsung saja,” kataku tanpa basa-basi.
Pengacara keluarga segera membuka surat wasiat bersegel. Setelah menunjukkan keaslian serta keautentikannya, dia mulai membaca. Bunyi surat wasiat itu cukup panjang. Tapi baiknya kukutip yang penting-penting saja. Ini bunyi surat wasiat ibu.

“UNTUK RISTA, Ibu wariskan rumah yang saat ini sedang kita tempati, lengkap beserta surat-suratnya. Rumah ini ibu wariskan pada Rista karena Ibu yakin Rista mampu menjaga kehangatan rumah dan kesejahteraan penghuninya dengan kasih sayang dan kelemah-lembutannya.”
“UNTUK TIARA, Ibu wariskan sebidang tanah di desa Mojorejo seluas 550 meter persegi, lengkap dengan surat-suratnya. Tiara layak Ibu warisi tanah ini karena ketekunannya bekerja, karena baktinya kepada keluarga dan karena cita-citanya untuk membangun masjid dan rumah yatim piatu di desa Mojorejo.”
“UNTUK VANI, Ibu wariskan deposito di Bank, yang merupakan harta peninggalan almarhum ayah senilai 240 juta rupiah, berikut bunganya. Vani berhak mendapatkan ini karena ketulusan hati dan karena menjadi satu-satunya anak Ibu yang punya waktu merawat Ibu sepenuh kalbu ketika Ibu dalam keadaan sakit parah.”
“UNTUK AGUS, Ibu wariskan sebotol asam karbol, untuk mencuci hatinya yang kotor, yang tak pernah berhenti mencaci-maki orang tua, memfitnah, menyindir, menimbulkan perseteruan di antara anggota keluarga, dan membiarkan dirinya berkarib dengan iblis.”

“Apa-apaan ini? Tidak masuk akal!” aku meradang dan mulai memelototi Rista, Tiara dan Vani yang mendapatkan bagian harta, sementara aku dilecehkan dengan warisan sebotol asam karbol.
“Sabar, Gus!” pengacara menenangkanku. “Ibumu juga menitipkan buku catatan ini; sebuah buku harian yang beliau tulis sendiri semasa hidupnya; mulai dari saat beliau belum menikah sampai menjelang wafatnya. Silakan dibaca. Ini asli tulisan tangan ibumu!”
Kuraih cepat buku kumal dari tangan pengacara yang sok pintar itu, dan kubaca. Benar itu tulisan Ibu. Ibu menulis buku hariannya dari halaman belakang ke depan. Jadi ketika kubuka halaman-halaman awal, aku mendapati catatan terakhir buku itu.

14 November 2015 : Aku tak kuat lagi. Penyakit ini sebentar lagi akan mengantarku menyusul ayah. Hari ini sudah kutulis surat wasiat untuk Rista, Tiara, Vani dan Agus, di hadapan pengacara, Norman Situmpul, SH. Surat wasiat baru boleh dibuka pada saat 40 hari peringatan wafatku.

Aku membaca cepat dan melewatkan bagian-bagian yang kurasa kurang penting.

10 Januari 2014 : Hati orangtua mana yang tak akan pedih mendapati anaknya mendamprat orangtua di hadapan banyak orang. Agus menyebutku ‘orangtua tak berguna, orangtua berotak lemot, orang tua suka pilih kasih’ ketika aku menolak memberinya uang. Aku tahu Agus perlu uang itu untuk menyusul pacarnya di Bali, seorang perempuan yang sudah bersuami. Sungguh tak rela aku membiarkan Agus mengejar-ngejar istri orang. Dan hari itu ia tetap pergi ke Bali, setelah menggadaikan motor yang kubelikan dua bulan sebelumnya.

12 Oktober 2013 : Agus membanting vas bunga tepat di hadapanku. Pecahan vas mengenai pipiku. Salahkah aku karena melarangnya pergi menginap dengan seorang teman perempuannya di luar kota? Hancur rasanya hatiku mendengar ia menyebutku ‘mak lampir banyak bacot’ ketika ia membanting vas bunga di lantai dan meninggalkan, aku, ibunya, menyeka luka di pipi karena pecahan porselin vas bunga.

17 Agustus 2012 : Untuk kesekian kalinya Agus mengata-ngatai aku dengan kata-kata yang sangat tidak pantas. Di hadapan sejumlah teman sekolahnya, ia bilang “ya, ibuku tuh, udah pikun, rada miring otaknya, suka nggak ngerti keinginan anak muda”.

1 Januari 2009 : Tahun baru, millennium baru. Namun terasa menyesakkan dada. Agus mulai menunjukkan tabiat aneh. Ia mulai suka membentak-bentak, dan sulit dikendalikan bila permintaannya tidak dipenuhi. Aku heran juga dari mana ia beroleh kata-kata kotor setiap kali ia marah. Apa yang terjadi dengan putra bungsuku?

Aku mendengus. Ini catatan harian menyebalkan. Enam puluh satu catatan berikutnya isinya memuji-muji kebaikan Rista, Tiara dan Vani dan sisanya catatan tentang aku yang sulit diatur, sulit menjaga sopan santun lisan, bermulut kotor dan menghambur-hamburkan uang ibu.
Dan aku mulai terpaku pada bagian akhir catatan ibu.

16 Maret 2005 : Agus demam hebat. Tubuhnya menggigil, matanya terbelalak ke atas. Aku kuatir sekali. Ayah sedang tugas ke Jakarta dan kakak-kakaknya tak ada di rumah. Aku memanggil taksi dan sendirian menggendong Agus ke rumah sakit dalam hujan deras. Di rumah sakit, dokter mengatakan beruntung aku segera membawa dia ke rumah sakit. Terlambat sedikit, aku bisa kehilangan anak ragilku yang tampan. Agus harus dirawat hampir sebulan di rumah sakit dan harus rajin berobat hari-hari berikutnya. Kata dokter, penyakit Agus memang perlu waktu penyembuhan yang lama. Dan aku tak pernah berhenti bedoa pada Yang Kuasa agar Agus, buah hatiku, sembuh.

28 Juli 2002 : Kubelikan Agus baju baru sebagai hadiah masuk SD. Celana berbahan kain halus yang saat itu teramat mahal. Ia lucu dan tampan sekali dalam baju itu. Tak pernah sebelumnya aku melihat ia sedemikian menggemaskan.

11 April 2001 : Sepeda untuk Agus; sebuah sepeda yang kuat dan kokoh, meski sebenarnya ayah bilang tak ada cukup uang untuk membeli sepeda semahal itu. Sepeda pertamanya! Aku sendiri yang mengajarinya belajar naik sepeda. Sungguh saat-saat yang menyenangkan.

19 Juli 2000 : Agus, putra ragilku masuk TK. Duh tampan sekali dia dalam seragam baru TK itu. Kupeluk ia sebelum masuk sekolah hari pertama. Ia anak kecil yang pemberani dengan senyum cerah mengembang di pipinya.

22 Desember 1995 : Hari Ibu, tapi hari yang sulit bagi dua orang ibu; aku dan Dasimah. Aku memergoki Dasimah, perempuan muda buruh cuci sedang meletakkan sesuatu di semak-semak dekat pembuangan sampah secara sembunyi-sembunyi. Tak percaya aku pada pandanganku. Ia meninggalkan bayi laki-laki mungil yang baru saja dilahirkan. Dasimah memeluk lututku memohon aku tidak melapor pada siapapun dan meminta aku merawat bayi itu. Dasimah tak mampu menghidupi bayi yang katanya tak jelas kemana bapaknya pergi.
Aku tak bisa segera memutuskan. Aku telah memiliki tiga anak perempuanku sendiri yakni Rista, Tiara dan Vani. Apakah suami dan anak-anakku bisa menerima kehadiran satu putra lagi yang bukan darah daging sendiri? Bayi mungil malang itu, sungguh tampan, seperti memandangku penuh harap, seperti menancapkan sinar bahwa akulah yang akan menjadi ibu yang mengantar hidupnya di masa depan.
Kukatakan pada Dasimah aku akan merawat bayi itu. Dasimah sendiri kemudian pergi entah kemana. Aku pulang dengan bayi mungil itu. Di luar dugaan, ayah, Rista, Tiara dan Vani menampakkan suka cita luar biasa atas kehadiran bayi itu. Aku memberinya nama Agus dan meminta ketiga anakku berjanji menatap Agus sebagai adik dan anggota keluarga baru, tak ada beda dan jeda dalam berbagi kasih sayang.

Sampai di titik ini aku membelalakkan mata, dan menutup mulut, tak percaya pada yang aku baca. Benarkah semua ini?
“Kenapa kalian tidak pernah mengatakan ini padaku? Kenapa tak ada yang bilang aku cuma anak pungut?” aku bertanya pada tiga kakakku, seingatku kata-kataku dibarengi getar bibir.
“Karena sejarah itu tidak perlu disampaikan pada siapapun,” kata Rista. “Kami bahkan tak pernah menganggap catatan tanggal 22 Desember 1995 sebagai catatan yang penting. Kami—kita—tak pernah kenal istilah anak pungut. Kamu bagian dari keluarga ini. Itu saja.”
Ada debar dahsyat di dadaku, seperti letupan bom berdaya ledak tinggi yang teredam sunyi. Aku menangis sesenggukan, kemudian menyambar sebotol cairan asam karbol di meja yang tadi dikeluarkan oleh pengacara dari tasnya.
“Maafkan aku, ibu. Engkau seorang yang mulia, dan aku adalah anak berhati iblis dan bermulut comberan. Betapa aku buta dan tuli kasih sayangmu. Betapa aku tak pernah belajar cara berterimakasih. Aku berdosa padamu, Ibu. Ampuni aku! Aku akan terima wasiat dan warisanmu, Ibu! Bahkan ketika Ibu harus pergi, masih juga ibu meninggalkan wasiat bijak untukku melalui percik-percik cinta dalam larutan karbol ini…”
Sejenak kemudian aku tak bisa menangis lagi. Tenagaku terkuras untuk menginsyafkan diri betapa bodohnya aku. Dan kemudian, lamat-lamat kudengar ketiga kakakku berteriak-teriak.
“Gus! Jangan… jangan minum karbol itu! Itu beracun…”
Tapi teriakan itu terlambat untuk mencegah meluncurnya sebotol karbol lewat tenggorok ke perutku. Aku hanya ingin Ibu tahu aku tak sekadar mencuci mulutku dengan karbol ini; aku harus menelannya untuk membersihkan iblis yang bersarang dalam diriku. Dan aku tak mendengar apa-apa lagi, selain suara lembut Ibu yang seperti tengah berbicara ketika memelukku sewaktu aku kecil dulu.
“Agus anak ibu… sudah kudengar permohonan maaf tulusmu. Hanya saja, harusnya kamu tak perlu menemui Ibu dengan cara seperti ini untuk memohon maaf. Kini kau tak bisa balik lagi ke dunia fana untuk menjadi Agus yang lebih indah… kini nyamankan dirimu dalam peluk Ibu. Ibu akan menebus kesalahan dan kegagalan membimbingmu untuk menjadi manusia berhati surga. Sekarang kita akan bersama selamanya. Tidurlah yang lelap dalam nina-bobo Ibu…”

1 komentar: