Jumat, 26 Mei 2017

Gara-Gara Nyasar



Kebanyakan bengong mengkhayalkan hal-hal nggak jelas, tahu-tahu Gani sudah ada di depan rumah Lisna. Di situ, dia kaget sendiri.
"Kok nyasar ke sini, nih?" Gani kelimpungan.
"Lisna nggak ada," ibu pacarnya menyambut.
"Eh, Ma-ma-ma-ling... eh, Mama Lisna..." Gani tergagap.
"Iya, ganteng. Apa kabar?"
"Ba-ba-ba-u, eh, baik, Mama Lisna."
"Pas lagi sepi ada kamu nih. Seneng deh. Hahaha..."
Gani celingak-celinguk. Serasa ada yang aneh, nih. Biasanya si ibu lembut, kenapa jadi aneh? Tercium bau alkohol. Mabok, nih.
"Kebanyakan minum ya, Mama Lisna?"
"Hehehe.. manggilnya jangan Mama Lisna dong kalo pas sepi-sepi..." matanya sayu, seperti ngantuk berat.

"Hah?"
"Iya. Panggil Beib, kek, apa kek..."
"Waduh. Masak Mama Lisna dipanggil Beib..."
"Beib-bek! Hahaha...."
Walah. Kenapa si Mama jadi selengekan gini, nih? Gani garuk-garuk kepala.
"Ooh.. ganteng, hati saya suntuk."
"Hah? Kenapa sih? Perang ama papanya Lisna, ya?" Gani menerka.
"Yah gitu deh. Abis gimana nggak perang? Aku kan jablay.. masak Cuma diajak membuat larutan cap kaki tiga sebulan sekali? Kadang dua bulan sekali... Bener kan kalau aku jablay?" katanya malah curhat. Mending kalo curhatnya soal yang ringan-ringan... mak! Ini malah ketidakharmonisan rumah tangga dia umbar saja.
Terus saja mama Lisna ngoceh kayak burung parkit.
Aduh kok jadi gini, nih? Gani mikir. Beneran nyasar nih perasaan Gani. Tapi gimana lagi? Masak mau kabur? Waduh... tangannya dipegang erat-erat pulak sama mama Lisna. Gimana nih?
Gani bingung....
"Mama Lisna, udah ya.. saya mau pamit dulu..."
"Eit, nggak bisa! Sebelum kamu kasih enak sama diriku, kamu jangan sekali-sekali berpikir untuk pulang!" kata Mama Lisna semakin ngelantur. Walah, beneran mabok nih orang.
"Ya udah, Tante.. eh mama Lisna. Eh, Tante. Tante saya papah yuk, ke dalem..."
"Oke ganteng, rangkullah diriku," katanya sambil merangkul Gani setengah nomplok.
Walah!
Awalnya, Gani beneran risih surisih. Gimana enggak? Lisna, anaknya yang 22 tahun, begitu bermartabat. Kuat kepribadiannya. Dan.. mungkin serasa sepadan jalan sama Gani. E... lha kok sekarang mamanya malah yang bermanja pada Gani.
Hmm.. tapi, melihat orang mabok yang masih rada bening itu... lama-lama namanya pemuda harapan bangsa.. Gani jadi terpikir ide nakal. Sambil memapah, Gani iseng menginspeksi bagian belakang.
Tpok!
"Aaah... gitu dong. Pijitan kamu enak.." kata si mama mabok.
Waduh. Bukannya marah, malah doyan nih si mama. Gani jadi blingsatan nggak puguh. Kesempatan dalam kesempitan terbentang di depan mata nih? Dengkulnya bergetar.
"Ganteng.. gendong aku ke ranjang, dooong!!!" pinta si mama tanpa diduga.
"Oh, iya-iya! Boleh!" Gani menyambut antusias.
Gubrak bener deh Gani waktu akhirnya membopong si mama semampai itu. Abis gimana? Dapet nepuk bemper belakang aja dengkulnya tremor.. eh, sekarang malah minta gendong.. ya gubrak deh urusannya.
"Kalo bopong ke loteng agak berat nih, Tante.. ke halaman belakang aja ya?"
"Hah! Di rerumputan? Aku bisa dirubung semut dong.." suara si mama makin ngelantur. Antara sadar, dan lap-lapan. Itu bikin Gani makin nekat.
Dibopongnya sang mantan model ke rerumputan di samping rumah. Di situ, dia sekalian memeriksa kamar pembantu, dan segenap pojok rumah. Untuk memastikan, beneran di rumah situ tidak ada siapa-siapa.
"Nggak usah kuatir, beneran cuma kita berdua kok, ganteng.. Si Inem pulang kampung. Nih, yang tinggal cuma dalemannya.” katanya sambil menjembreng ke muka Gani.. kain oranye dekil yang semula tersampir di jemuran.
Jledur! Jledur! Jledur! Jledur! Dada Gani serasa jadi seperti rombongon marching band yang penuh semangat.
Gile bener, dasar manusia berotak kadal. Nyari cewek belum becus, ibu-ibu dia sasar juga deh tuh jadinya.... Tadinya mau minta pamit, ujungnya bakalan jadi mau minta kempit nih tanda-tandanya... Ohlala. Ancur dunia persilatan.
Dalam keadaan normal, mama Lisna selalu bikin Gani kalah wibawa. Bahkan, untuk menatap matanya saja Gani seringkali sungkan. Okelah... beberapa kali memang ada kejadian slapstik tak terduga di rumah ini. Yah, walau muslim, mereka ini alirannya agak kelewat liberal sih. Tapi.. waduh. Ini beneran nggak nyangka.
Gani teringat lebaran tahun lalu. Waktu dia halal bihalal ke sini, waktu itu mama Lisna begitu rapihnya memakai baju muslimah yang mahal punya. Setiap yang datang, dia beri angpau dan nasehat-nasehat. Bahkan, nasehatnya selalu dengan menyitir ayat-ayat dari kitab suci.
"Lisna, kamu kalau gaul ama Gani atau ama cowok siapapun.. ati-ati ya. Biar pun Gani itu dasarnya baik, kalo kamu pancing-pancing, atau kamu kasih kesempatan.. bisa koslet juga dia..."
"Iya, Ma. Jangan kuatir.." waktu itu Lisna berkata begitu.
Gani menimpali. "Mama Lisna kok hapal hadits-hadits banyak sih?"
"Ya iyalah! Mamaku gitu loh! Emangnya kamu?" Lisna malah yang menjawab.
"Ssst. Lisna, kamu nggak boleh sombong," si mama menasehati lagi.
Gani mengibaskan mukanya. Seolah, yang tadi dia bopong ini sama sekali orang lain. Bukan yang lebaran itu. Bahkan.. seperti tidak ada hubungan saudara juga. Tapi.. nyatanya yang sekarang telentang di rerumputan itu memang mama Lisna!
"Kok bengong sih ganteng?" mama Lisna yang mabok merengek. Payudaranya yang kanan terasa menghenyak empuk.
Gani mengerjainya. Dia gesek-gesekkan lengan untuk menggodanya, dan ternyata godaan itu menimbulkan rasa hangat yang begitu menggairahkan. Cepat sekali puting mama Lisna menegang, dan seluruh bulatannya menjadi gatal-gatal geli. Gani terus menumbuknya sambil tangannya berusaha melebarkan kedua kaki jenjang mama Lisna yang masih mulus itu, lalu roknya di keataskan. Terpampanglah bagian dalamnya yang putih menyilaukan. Bukannya marah, si mama mabok malah cekikikan.
"Jangan tinggi-tinggi ya, nanti masuk angin! Hihihi..." katanya tersipu.
Ah.. Gani semakin tak tahan menahan gejolak batinnya yang semakin menggelora. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, jemari tangannya mulai membelai-belai dengan lembut bagian pangkalnya yang licin hangat.
"Kaki mama indah yaa..." begitu Gani berbisik, dan mama Lisna pun semakin tersipu.
Perempuan itu membimbing tangan Gani menuju ke arah daerah sensitifnya sambil membuka pangkal pahanya lebih lebar. Kini dengan mudah tangan kiri Gani mengelus-elus daerah kewanitaannya, yang tentu saja masih terbungkus celana dalam satin putih halus.
“Ahh...” mama Lisna mendesah dan menggigit pundak Gani ketika pemuda itu mulai menggunakan jari tengahnya, menelusup di antara celah kewanitaannya yang sudah mulai lembab itu.
Seperti memiliki mata, jari Gani tak pernah luput menemukan titik-titik rangsang di sela paha mama Lisna. Untuk hal yang satu ini, dia memang sudah sangat ahli. Jangankan tanpa melihat, sambil tidur pun rasanya ia selalu bisa merangsang perempuan.
“Augh...” mama Lisna merenggangkan kedua pahanya. Jemari Gani membuatnya kegelian, sekaligus juga ingin lebih geli lagi, dan bertambah gatal juga, bahkan kalau perlu sampai basah.
Dia mengerang dalam bisikan, merasakan cairan hangatnya yang mulai muncul di bawah sana. Pelan-pelan merayap turun, membasahi liang kewanitaannya, menimbulkan noda di celana dalam satin warna putih itu. Posisi berbaringnya kini sudah melengkung sehingga hampir tak bertumpu di tanah. Hanya sepertiga dari buah pantatnya yang menyangga tubuhnya. Kedua lututnya terangkat dan semakin terpisah, memberikan lebih banyak keleluasaan bagi tangan Gani yang cekatan.
“Uhh...” Pemuda itu mendesah merasakan lembutnya daerah pangkal paha mama Lisna, ia juga merasakan adanya bulu-bulu lembut yang menyeruak lembut dari balik celana dalam satin berenda yang membalut erat disana.
Gani semakin tak tahan, juga semakin berani menyelipkan jari tengahnya melalui belahan samping. Tujuannya jelas; bibir kewanitaan mama Lisna yang sudah lembab memerah.
"Ughh.." mama Lisna semakin mendesis sembari tangannya memegang erat pundak Gani saat pacar anaknya itu mengorek lelehan air wangi yang mengalir deras dari dalam lubang kewanitaannya.
Gani mengusap-usap cairan lembut itu dengan ujung jarinya. Mama Lisna tampak tampak sangat menikmati, dan perlahan mulai mendaki puncak orgasmenya. Gani meneruskan dengan menelusupkan tangan ke dalam celana dalam perempuan cantik itu. Hangat sekali di sana. Sudah basah pula. Dengan cepat jari tengah Gani menemukan tonjolan kecil-kenyal di lepitan atas kewanitaan mama Lisna.
Slep! Pelan ia mengelus.
“Auw!” Mama Lisna langsung  mengerang, menggeliat kecil, dan memejamkan matanya.
Sentuhan pertama di bagian itu selalu menimbulkan campuran rasa : enak dan mengejutkan. Seperti disengat lebah, tetapi tentu tidak sakit. Sengatan yang justru memberikan nikmat. Apalagi kemudian Gani memutar-mutar ujung jarinya di situ, perlahan saja, seperti sedang meraba-raba di dalam gelap.
“Ahh...” mama Lisna semakin merasakan rasa nikmat mulai merayapi tubuhnya.
Gani menarik jarinya yang belepotan cairan dan menciumnya. "Ahh... harum sekali!" bisiknya.
Namun mama Lisna yang tidak sabar, segera menarik lagi tangan itu dan diarahkan kembali ke daerah sensitifnya. Ia juga mencoba menurunkan celana dalamnya. Hanya sebatas lutut, namun itu sudah cukup membebaskan bibir kewanitaannya yang telah banjir bandang.
Gani kembali beraksi, tangannya semakin masuk ke dalam lubang kewanitaan mama Lisna. Ia sentuh pelan-pelan lipatan-lipatannya, sebelum jarinya menggelincir turun.
“Agh...” mama Lisna menggeliat, mengangkat pantatnya dan bergeser ke kanan, membuat jari tengah Gani jadi semakin masuk, menyelinap ke celah liang kewanitaannya yang tampak sempit. Licin sekali di bawah sana, hangat dan berdenyut pula.
“Ohh...” mama Lisna menggeliat lagi.
Jari nakal Gani seperti sedang menggoda dengan gelitikan-gelitikannya. Menimbulkan serbuan geli-nikmat yang memenuhi sekujur tubuhnya. Dengan cepat mama Lisna tenggelam dalam lautan birahi, sejenak ia lupa bahwa Gani adalah pacar anaknya sendiri.
"Ahh... enak sekali, sayang!!" dia menjerit pelan, sementara air wanginya mengalir semakin deras.
Kini jari tengah Gani telah terbenam seluruhnya, dan ia mulai menarik serta menusukkannya pelan-pelan, lembut... lembut sekali, berputar perlahan-lahan menyentuh dinding-dinding kewanitaan mama Lisna yang bergetar halus oleh desakan api birahi.
“Augh...” semakin merintih, perempuan itu lalu menggeliat merasakan jari-jari nakal Gani yang menyentuh bagian dalam kewanitaannya.
Apalagi saat pemuda itu membuka kancing atas bajunya, satu-persatu melepasnya hingga tak lama, buah dadanya yang bulat kencang telah terbuka sebagian. Lalu Gani membungkukan badannya sedikit, dan...
“Auwgh...” mama Lisna menggeliat kegelian ketika bibir basah pemuda itu mendarat di putingnya yang kecil mungil. Rasanya seperti disengat beribu kenikmatan saat Gani mulai mengulum dan menghisap, sehingga dia tak lagi hanya mengerang tetapi juga merintih.
Enak sekali, jika puting susu dimainin kayak gini! Pikir mama Lisna dalam hati. Ia pun memeluk bahu Gani, lalu mencium leher pacar anaknya itu saat cairan klimaksnya menyembur keluar.
Gani segera menarik lepas jari-jarinya. Dibiarkannya mama Lisna terkejang-kejang sendiri. Ia hanya terus merangkul tubuh perempuan itu dan menciuminya sedikit di bawah kuping.
Mama Lisna menggeliat kegelian, tangan kirinya balas memeluk dan semakin merapatkan tubuhnya ke arah Gani.
"Foto-foto boleh ya, Tante?" tanya Gani sambil memperhatikan mama Lisna yang masih terengah-engah.
"Boleh, Ganteng, saya kan peragawati profesional. Gimana? Ekspresiku cukup sensual, kan?" si mama tersenyum dan menyuguhkan semua sisi indah miliknya.
Gani segera memotret kemolekan yang sungguh sempurna tersebut. Tidak akan ada yang mengira kalau umur mama Lisna sudah hampir empat puluh. Perempuan itu menyingkap bajunya, memperlihatkan pusarnya yang membulat mungil. Ia juga meremasi kedua buah dadanya yang sintal itu, yang sudah terbuka sebagian.
Gklek! Gani menelan ludah menyaksikannya. Kulit tubuh mama Lisna tampak putih bersih, dengan dua buah gundukan dada yang sangat indah. Putingnya yang merah kecoklatan nampak mengintip jelas. Sambil terus memotret, Gani berusaha mengecupinya tanpa berusaha untuk membuka branya, dan mama Lisna pun mengelinjang-gelinjang geli bercampur nikmat.
“Ah, Gani!” ia merintih dengan bibir berusaha mendekat. Dengan cepat mulut mereka menyatu, saling cium dan saling melumati, sembari sesekali saling menghisap-hisap bergantian.
Gani merasakan desiran-desiran darahnya mengalir semakin cepat manakala melihat ekspresi pasrah mama Lisna dan mendengar rintihan nikmatnya yang semakin membuncah. Ia jadi lupa daratan.
"Nggak dapet anaknya, ngembat mamanya malah lebih dahsyat," desah Gani memburu.
"Eh, eh! Kamu mau apa?" si mama kaget begitu melihat Gani mulai membuka celana. Walau dia mabok, tapi kesadarannya bukannya hilang total.
"Ini, Tante... minta diperhatiin juga!" Gani memberikan penisnya yang sudah mengacung panjang
"Ohh!" si mama langsung terdiam, merona. Tak berkedip matanya menatap kejantanan Gani.
Tangan kecilnya yang semula lemas, telah berpindah untuk menggenggamnya. Dan tak lama sudah bergerak naik turun untuk membelainya. Mama Lisna meremas pelan, juga mengelus dan menelusur di sepanjang batang kejantanan Gani.
“Ehmm...” Gani memejamkan mata erat-erat, seakan memastikan bahwa ini adalah sebuah mimpi yang jadi nyata. Tubuhnya meregang merasakan jemari si mama melakukan sesuatu yang sangat menakjubkan, membuat seluruh daerah di bawah perutnya terasa tiga kali lebih besar dari biasanya.
"Ahh..." Gani mendesis pelan, sembari tangan kirinya mulai mencoba menggenggam buah dada mama Lisna. Terasa lembut dan empuk saat ia meremasnya, dan Gani melanjutkannya dengan senang hati.
Ia menggelinjang-gelinjang kegelian saat mama Lisna menciumi batangnya dengan ganas. "Ohh... Tante... enak sekali..." Gani mendengus-dengus penuh nikmat, apalagi ketika hampir seluruh kejantanannya telah berada di dalam mulut mama Lisna. Perempuan itu mengulum dan menghisapnya dengan rakus.
Srupp.. srupp.. srupp.. suara lidah si mama yang basah terus bergerak cepat. Sesekali dia juga mengusap-ngusap kantung bola Gani dan menggigitinya gemas kalau sudah tak tahan.
Dua sumber kenikmatan saling bertumbukan di tubuh Gani, menyebabkan badannya mulai bergetar hebat. Sebuah desakan gairah mulai terkumpul di tubuh bagian bawahnya, membuat kedua pahanya jadi terasa berat. Seluruh otot Gani seperti sedang bersiap-siap untuk meledak.
Tidak ingin keluar sia-sia, Gani segera menelentangkan tubuh montok sang mama di bawah tubuhnya. Walau pakaian masih serba lengkap, posisinya sudah siap tempur. Halangan sudah dikuak, tinggal jas-jus lokomotif memasuki stasiun. Sekali tomplok, hap!
Tangan Gani menangkap bagian dalam, sekali lagi menggelitik lubang mungil yang ada di selangkangan. Kaki mama Lisna menendang-nendang seperti bayi yang dikasih popok size S, tapi karena maboknya.. tendangannya tak terarah. Dan dalam sekejap kain tipis berendanya sudah dilempar Gani jauh-jauh.
Plok! Jatuhnya pas di atas cucian piring.
Ciuman Gani turun dari bibir menuju dagu mama Lisna yang kecil, dan semakin turun ke arah leher jenjangnya. Rakus Gani menjilat-jilat peluh harum yang mengalir deras di sana. Tubuh mama Lisna terasa meliuk-liuk di bawah tubuhnya, dan terasa ada tangan halus yang membimbing kejantanan Gani untuk masuk ke dalam celah mungil ketika ia berusaha melumat kedua puting mama Lisna yang telah mengeras tajam.
“Ininya dicopot, Tante,” Gani merenggut lepas tali bra si mama sehingga ia jadi semakin leluasa dalam mengecup dan menggigit lembut.
"Ohh... Sayang!!" mama Lisna merintih pelan ketika ujung kejantanan Gani mulai menembus lubangnya.
Dengan kedua tangan bertumpu di atas dada perempuan itu, Gani terus mendorong dan langsung menaik-turunkan tubuhnya begitu alat kelaminnya sudah masuk sempurna. Bisa ia rasakan gesekan-gesekan lembut bibir kewanitaan mama Lisna  pada batang nikmatnya. Sudah sejak dulu telah ia bayangkan rasanya akan teramat nikmat, dan ternyata memang sangat luar biasa. Kewanitaan yang menggelambir lembut menggesek-gesek pelan dan makin lama menjadi semakin cepat.. semakin cepat.
"Ohh.. Tante!" Gani mendengus pelan sembari kembali meremasi kedua buah dada mama Lisna yang montok indah dengan lembut.
Ia merasa geli bercampur nikmat ketika dinding kewanitaan si mama meremasi batang kejantanannya. Cairan nikmat yang semakin deras mengalir dari dalam celah mungil itu, melumasi gesekan alat kelamin mereka hingga menimbulkan suara-suara kecipak merdu, meningkahi desahan dan dengusan nafas keduanya.
Gani berusaha sekuat tenaga memperlama permainan cinta itu, namun tahu-tahu... Byur! Hujan deras tiba-tiba mengguyur.
Argh! Nanggung, lagi enak, di tengah hujan pun Gani nekat. Terus ia lanjutkan tusukannya, tak peduli dengan pakaian yang jadi basah semua.
"Hujan, Gani, hujan. Iiih..." mama Lisna merintih.
"Iya, mamaku sayang. Saya tahu.. kalo hujan jalanan licin. Justru yang licin-licin itulah yang saya cari," kata Gani sambil kembali menengkurapkan mama Lisna di rerumputan basah itu. Dalam sekejap tubuh putihnya tidak cuma basah kuyup, tapi juga berubah jadi coklat tanah dan terkupas seluruhnya siap disantap.
Mama Lisna pun terbungkuk lemas. Dengan segera Gani kembali mencoba menusukkan batang nikmatnya ke lubang kewanitaan perempuan itu dari arah belakang diantara sela-sela bongkahan pantatnya. Tapi...
Duar! Petir menggema. Gani kaget. Tapi meneruskan ancang-ancangnya. "Sekarang, atau tidak sama sekali. Oye!" Gani pun menghunus keris pusaka.
Tapi rupanya Tuhan tidak berkenan.
Duar! Berikutnya petir menyambar ujung atap, dan segumpal tembok runtuh, Gruduk, menimpa kepala Gani. Pemuda itu pun langsung tergeletak, pingsan!
Saat Gani membuka mata, dia ada di balai RW. Hari sudah gelap. Jam di dinding berdentang, dan lamat-lamat terdengar adzan. Adzan magrib atau isya nih? Gani loading.
"Hai, Gani. Kamu siuman!"
Di sekelilingnya ada Lisna, papa Lisna, dan dua orang hansip. Selang sebentar, muncul mama Lisna juga. Si tante masih memegangi kepalanya, tapi jelas sekali mabuknya sudah agak hilang. Bajunya juga daster kering yang normal.
"Sebetulnya, apa yang terjadi?" Lisna menatap curiga.
"Ya dia nyariin kamu. Terus hujan deres. Dia numpang neduh.. Eh, petir itu datang!" mama Lisna mengarang cerita.
"Hah! Numpang neduhnya kok di halaman belakang, sih?" tanya Lisna.
"Tauk deh tuh, tadi gimana ceritanya. Abis Mama kebanyakan minum sih. Pala juga masih pusing nih," Mama Lisna pun menyingkir pulang.
Gani pun cepat pamit pulang. Dia berjalan dengan terhuyung-huyung. Darah di dahinya sudah mengering. Hansip yang menawarkan mengantarkan ke dokter ditolaknya. Hujan sudah mereda. Sepanjang jalan Gani mikir.
Kejadian itu beneran sulit diterangkan. Lisna jadi curiga padanya. Tak tahu apa yang terjadi, tapi gadis itu menyimpulkan, Gani orang yang nggak bisa dipercaya. Dan sumber keapesan.
Setelah kejadian itu, Gani minta nasehat pada Kiai Mus. "Beneran Kiai, saya hampir tergoda ibu-ibu muda yang cantik." aku Gani.
"Perempuan lebih tua dari kamu gitu maksudnya?"
"Ya. Dia sudah punya suami.. tapi saat itu lagi mabok. Yang parah, anaknya adalah pacar saya. " kata Gani lagi.
"Sudahlah. Kamu nggak usah cerita detilnya sama saya."
"Beneran, Kiai. Terus... pas hampir enak... tinggal moncrotnya, Byur! Hujan turun. Jdar! Petir berturut-turut. Saya masih nggak insyaf juga.. eh, beneran, pas saya pengen masukin lagi, tinggal blus doang... tahu-tahu jdar lagi! Petirnya kena wuwungan rumah, dan pecahannya jdak! Bikin saya semaput. Serasa beneran itu serangan dari langit!"
"Ah! Kamu lebai..."
"Eh, beneran Kiai!"
"Ssst. Ya udah. Nggak usah banyak teori. Kalo kamu hampir kecemplung jurang kenistaan, ya bertobat. Gitu ajalah..."
Gani manggut-manggut. Tidak lama mendengar nasehat Kiai, dia pun pulang.
Sekarang, Lisna menjauh darinya. Gani serasa beneran balik ke titik nol. Sebelum sampai di rumahnya, dia mampir ke mart terdekat. Dan kebetulan disana ketemu sama mama Lisna, di pojokan tempat minuman yang sepi. Gani langsung menyapanya dan buru-buru minta maaf atas kejadian kemarin.
"Ya udahlah. Kita saling memaafkan. Tante juga salah. Mabok..." katanya keibuan.
"Beneran Tante nggak marah?"
"Beneran. Tante nggak marah. Syaratnya: jangan ulangi lagi bergila-gila sama Tante atau anak Tante. Keduanya: foto-foto yang kemarin kamu jepret, semuanya tolong dihapus!" katanya.
"Beres deh, Tan.." kalimat Gani tidak selesai. Dia rogoh-rogoh tasnya dengan panik.
"Ada apa, Gani?"
"Kamera saya hilang, Tante!!"
"Hah?!!! Waduh.. alamat nyebar di internet deh nih affair kita berdua..." mama Lisna pun lemas lunglai dan bledak! Dia pun semaput.
Nah, lho...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar