Senin, 01 Mei 2017

Hamili Istriku



“Itulah sebabnya aku ingin meminta tolong kepada Darius agar mau membantu menghamili istriku.”
Kata-kata itu, sebagaimana yang diucapkan oleh sahabat kami, Dimas Seto, menggantung di udara selama beberapa detik. Kupikir aku baru menyadari artinya tak lama sebelum Donna, karena aku bisa melihat perubahan ekspresi di wajahnya yang cantik. Istriku itu tampak shock saat aku menatapnya.
Di seberang meja, duduk di sebelah kanan Donna, adalah istri Dimas sekaligus sahabat Donna, Dhini Aminarti. Saat kulihat Donna masih menatap terkejut, aku juga melirik Dhini yang menatap meja karena malu, tidak ingin membuat kontak mata dengan siapa pun.
Aku adalah orang pertama yang berbicara. “J-jangan bercanda,” kataku pada Dimas. “Pasti bukan itu kan maksudmu,"

“Aku serius!” Dimas membungkuk untuk menaruh sikunya di atas meja, lalu berhenti dan menatap Dhini. “Istriku akan bisa hamil secara alami bila ia berhubungan seks dengan pria lain, dan... maafkan kalau aku berbicara terus terang, tapi Dhini dan aku telah membicarakan hal ini panjang lebar dan kami memutuskan... orang yang tepat itu adalah kamu, Darius.”
Aku duduk kembali dan mendengar Donna menghela napas berat, lalu kemudian berkata, “Hmm,” Kata pendek itu sudah cukup menyimpulkan bagaimana ia bereaksi.
Ketika Dimas mengundangku untuk makan malam, aku tidak pernah mengharapkan akan terjadi hal seperti ini. Aku dan Dimas telah berteman lama, begitu juga dengan istri-istri kami. Kami sudah sering makan bareng, karena itulah aku sama sekali tidak curiga ketika sore kemarin ia menelepon, mengajakku untuk makan malam di rumahnya.
Tidak ingin menolak, aku pun menitipkan anak-anak kepada pengasuh dan berangkat berdua bersama Donna, perempuan cantik yang sudah kunikahi selama tujuh tahun dan sudah memberiku tiga orang anak yang lucu-lucu.
Putra pertama kami, Lionel Nathan Sinathrya, lahir 6 bulan setelah pernikahan kami. Banyak media memberitakan kalau Donna sudah hamil duluan saat kami menikah. Dengan tegas aku membantah, menyatakan kalau Lionel sudah cukup umur untuk dilahirkanpadahal dalam hati membenarkan hal tersebut.
Diego Andres Sinathrya, lahir dua tahun kemudian. Berita yang disambut dengan sukacita oleh semua orang yang kami kenal, termasuk Dhini dan Dimas Seto, karena bertepatan di tahun itu juga mereka menikah. Di pesta pernikahan, Donna membawa Diego dan menyatakan kepada Dhini, “2 – 0, ayo susul kalau bisa,” Dhini hanya tertawa saja menanggapi.
Di tahun 2011, istriku melahirkan lagi. Kali ini perempuan, kuberi nama Quinesha Sabrina Sinathrya. Dhini datang berkunjung ke rumah sakit dan menyatakan kalau sudah mencoba segala cara untuk hamil, tapi tidak berhasil. Di usia pernikahan mereka yang menginjak 2 tahun, sepertinya itu sangat sulit. Dan seiring berjalannya waktu itu, mulai jelas bagi kami bahwa Dhini mulai merasa frustasi. Ia terlihat marah-marah, entah kepada siapa.
“Ceritakan masalahmu,” kata Donna pada suatu hari sambil menyusui Sabrina.
Dengan terbuka Dhini mencurahkan pikirannya. Mereka sudah pergi ke dokter, dari hasil uji lab, tampaknya masalah ada di Dimas yang ternyata memiliki jumlah sperma rendah sehingga membuat pembuahan secara normal sangat mustahil untuk dilakukan. Sedangkan Dhini sendiri dinyatakan subur sempurna, mungkin itulah yang membuatnya marah-marah; Dimas tidak bisa bertindak sebagai lelaki yang sebenarnya!
Setelah diagnosis tersebut, langkah mereka berikutnya adalah mencoba donor sperma melalui program bayi tabung. Dalam dua tahun terakhir, mereka telah melalui proses itu dua kali, tapi tidak ada hasil sama sekali.
“Kenapa tidak mencoba lagi? Siapa tahu kali ini lebih beruntung,” saran Donna.
“Prosesnya yang melelahkan membuat Dhini stress, hasilnya tidak akan maksimal. Karena itulah dokter menyarankan agar kami bersabar menempuh jalan normal, ya sambil banyak berdoa tentunya,” kali ini Dimas yang menjawab, sambil dari tadi matanya melirik malu-malu pada bongkahan payudara Donna yang sedang dihisap lembut oleh Sabrina.
“Aku hanya ingin hamil, tapi kenapa sangat sulit sekali?” lirih Dhini bersedih.
Donna segera mencondongkan tubuh ke depan untuk meremas tangan gadis itu. “Jangan berputus asa, terus berusahalah.”
“Mbak bisa dengan mudah memiliki bayi, sedangkan aku...” pandangan Dhini menerawang.
“Bagaimana kalau adopsi saja?” usulku.
Dimas menggeleng, “Tidak! Kami ingin bayi kami sendiri. Sebenarnya istriku bisa saja hamil, tapi...” ucapnya tertahan.
“Kenapa?” kejar Donna. Sabrina sudah tertidur sekarang, jadi lekas ia meletakkannya di pangkuan dan memasukkan kembali bulatan payudaranya yang sangat mengkal dan indah agar tidak terus menerus menjadi santapan mata Dimas.
“Masalahnya ada padaku,” Dimas meringis karena malu. “Kalau merujuk apa kata dokter, Dhini pasti bisa hamil kalau berhubungan seks dengan seorang pria jantan yang memiliki jumlah sperma sempurna. Kami berdua telah membicarakan hal ini panjang lebar, dan memang sepertinya hanya itulah satu-satunya jalan.”
“Jangan ngawur,” Donna memotong. “Kamu yakin mau memberikan istrimu pada laki-laki lain?”
Dimas menatap Donna dan kemudian padaku, menilai reaksi kami berdua. Tapi setelah Donna berucap demikian, ia pun lekas menggeleng. “Tentu saja tidak! Itu sangat berbahaya.”
“Ya, siapa tahu pria itu membawa suatu penyakit, AIDS misalnya,” dukungku sambil menatap Dimas penuh harap.
Dhini yang sepertinya tahu apa yang ada di dalam kepalaku, segera pergi ke depan karena malu. Beberapa helai rambutnya yang hitam jatuh ke depan menutupi wajahnya yang cantik, yang perlahan berubah menjadi merah merona seperti semangka.
Dimas mengangguk, “Tapi aku sudah memutuskan, Dhini bisa saja berhubungan dengan orang yang aku kenal, yang aku percaya kepadanya, yang sehat, dan yang terpenting; kejantanannya tidak diragukan lagi.” Dia berhenti sejenak, kemudian menyampaikan kata-kata itu, “Itulah sebabnya aku ingin kamu agar membantu menghamili Dhini.” Dimas menunjuk padaku.
Setelah reaksi terkejut awal dan pertukaran percakapan seperti yang diceritakan sebelumnya, Donna berbalik untuk menatap Dhini dan berkata sengit, “Biar kuperjelas... kamu ingin aku menyetujui Darius agar menidurimu, mengisi tubuhmu dengan spermanya, dan dengan begitu kamu akan hamil. Benar begitu?”
Dhini masih belum mengangkat matanya. Aku bisa melihat tubuhnya sedikit gemetar, seolah-olah dia berada di ambang tangis. Dan Dhini menjawab tanpa melihat Donna. “M-maafkan aku, Mbak. Tidak seharusnya aku melakukan ini. Aku tahu ini tidak benar dan bisa menghancurkan persahabatan kita, tapi...”
Dimas memotong. “Tidak, memang itu yang aku minta. Kalian berdua adalah teman terbaikku, dan percayalah, pemikiran Dhini akan tidur dengan laki-laki lain membuatku merasa terpuruk. Tapi kami sangat perlu untuk melakukannya, kami tidak tahu harus berbuat apa lagi.”
Ada keheningan setelah itu. Aku tidak tahu harus berkata apa, bahkan aku juga bingung bagaimana menangani situasi yang serba canggung ini. Semua terasa tidak nyaman. Aku menatap Donna, perempuan cantik berusia 32 tahun, ibu dari tiga anak-anakku. Ada ekspresi bingung di wajahnya yang jelita, ia yang biasanya tenang kini nampak sedikit gusar. Payudaranya yang cukup besar bergerak turun naik saat ia bernapas pendek-pendek.
Aku kemudian melihat Dhini. Meskipun mereka sedekat saudara, dua perempuan itu sangat berbeda secara fisik. Kalau Donna sedikit pendek dan agak gemuk, Dhini tinggi langsing dengan payudara kecil dan pinggul bulat yang terlihat sangat nakal. Rambutnya hitam sebahu, matanya cokelat eksotis, beda dengan Donna yang bermata hitam jernih. Namun mereka sama-sama cantik, meski payudara dan tubuh Donna telah menjadi sedikit berisi akibat dari melahirkan tiga orang anak.
Dhini melirik ke arahku, dan menemukanku sedang menatapnya. Wajahnya langsung memerah karena malu dan ia pun cepat-cepat menunduk lagi.


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar