Sabtu, 06 Mei 2017

Ibu Tiri yang Seksi



Sudah dua tahun sejak kepergian ibunya karena kecelakaan mobil. Sekarang Ivan hanya hidup dengan ayahnya, Priambodo. Dulu saat masih ada ibunya, ia tinggal di Jakarta. Tapi, saat ibunya meninggal, ia pindah ke Surabaya karena ayahnya mempunyai perusahaan lagi disana.
Ivan sangat sedih saat melihat ayahnya menjadi sering tidak makan gara-gara rindu dengan ibunya. Karena itulah, saat ayahnya bilang kalau akan menikah lagi, dia tidak keberatan. Apalagi, kata ayahnya, ibu tirinya nanti masih muda, sekitar 25 tahun, tidak terpaut jauh dengan Ivan yang masih 20 tahun. Orangnya juga cantik dan baik, Ivan pasti suka. Ivan jadi teringat dengan ibunya.
“Hei, Van!” teriak Limin, membuat Ivan sadar dari lamunan. “Kau ini memikirkan apa sih?” tanya sahabatnya ini. Ivan hanya diam saja. ”Masih memikirkan ibumu? Sudahlah, dia sudah tenang di atas sana.” ucap Limin sambil menepuk bahu sang sahabat.
“Tidak,” jawab Ivan sambil tersenyum tipis. Lalu pergi ke kelas bersama Limin lewat lapangan. Sampai di kelas, mereka duduk di tempat biasanya dan memulai pelajaran.


***

Jam 4 sore,  pelajaran Ivan selesai. Hari-hari biasa, setiap pulang dari sekolah, dia akan mampir ke suatu tempat untuk berkumpul dengan teman-teman lainnya. Tapi hari ini, Ivan memilih untuk langsung pulang karena akan ada ibu baru di rumahnya.
Van, kamu gak mampir dulu ke tempat si Jaka?” tanya Limin.
Enggak ah, aku ingin pulang saja.” ucap Ivan sambil memakai helm.
”Ya sudah, aku duluan.” ucap Limin lalu pergi.
Begitu Limin pergi, Ivan langsung beranjak pulang. Sampai di rumah, pintu sudah dibuka oleh seseorang dari dalam. “Hmm, kamu pasti Ivan?” ucap perempuan itu, senyum terkembang di bibirnya yang tipis.
”Mm, ya… kamu siapa?” tanya Ivan balik. Perempuan itu sangat cantik, secantik bidadari.
“Ahh, kamu sudah pulang, Van. Kenalkan, ini ibu barumu.” ucap Priambodo yang sedang duduk di sofa sambil menonton teve.
Apa kabar, Van. Aku ibu barumu.” ucap perempuan yang ternyata bernama Echa itu sambil menyalaminya.
Ivan melihat Echa dengan bingung. Dia bingung karena melihat Echa yang masih sangat muda.
”Kenapa, Van? Apa kamu nggak suka kalau aku jadi ibu barumu?” tanya Echa dengan wajah sedih.
E-enggak.. hanya saja, kamu begitu muda. Aku jadi bingung.” ucap Ivan.
”Oh, hahaha.. aku memang awet muda, padahal umurku sudah 25 tahun.” ucap Echa. Dia bisa mengerti, Ivan pasti menyangka umurnya masih belasan.
“Ohh, kalau begitu, aku duluan ke atas saja.” ucap Ivan untuk menutupi kegugupannya. Tak menyangka kalau ibu tirinya akan begini cantik dan seksi.
“Tidak makan dulu, Van?” tanya Echa khawatir.
Enggak, aku sudah makan.” ucap Ivan tanpa menoleh ke arah Echa.
“Hmm.. sepertinya, dia tidak menyukaiku.” ucap Echa sedih.
”Tak apa, beri dia waktu. Mungkin dia masih merindukan ibunya.” ucap Priambodo sambil mengelus pelan bokong bulat Echa.
Echa menolak dengan halus saat merasakan jemari sang suami mulai bermain-main di atas gundukan kemaluannya. ”Jangan, Sayang. Aku harus memasak.” dia menepisnya dan segera berlalu menuju dapur.
Priambodo menghela nafas, memandangi tonjolan burungnya yang sudah mengeras kencang. Dia sudah sangat bernafsu sekarang. Inginnya setelah tiba di rumah, dia langsung menyetubuhi Echa, tapi Echa malah ingin kenalan dulu dengan Ivan. Dan sekarang, wanita cantik itu malah sibuk memasak. Hah, dasar apes! 
Tak kuat menahan birahi, Priambodo menyusul sang istri ke dapur. ”Masak apa?” tanyanya.
“Ini, sop sama udang goreng,” Echa mengusap keringat yang mulai menetes di dahinya. Tangannya yang lentik sudah kelihatan belepotan oleh berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau dia tidak pernah kerja sekeras ini.
”Jangan dipaksakan, sayang. Kita bisa beli makan di luar.” Tak berkedip Priambodo memandangi tubuh langsing Echa yang hanya dibalut daster putih tipis, tidak ketat memang, tapi cukup mencetak bentuk pantat dan pinggulnya yang besar. Garis celana dalam Echa juga kelihatan kalau wanita itu sedang membungkukkan badannya.
“Ah, seksi sekali.” pikir Priambodo kotor, makin tak tahan.
Saat itulah, tiba-tiba kran air di cucian piring copot dari tempatnya. Otomatis airnya langsung menyembur dengan derasnya mengenai tubuh Echa yang kebetulan ada di depannya.
“Auw! Aduh.. tolong aku. Gimana ini?!” teriaknya dengan panik, tangannya berusaha menutupi saluran air yang menyembur deras. Sekejap saja, daster Echa yang tipis sudah basah kuyup, memperlihatkan pantat dan payudaranya yang cukup besar. Garis celana dalamnya juga terlihat lebih jelas.
Dengan tergesa-gesa, tanpa berpikir, Priambodo segera mendekat dan membantu Echa memegangi saluran air itu. Akibatnya, posisi tubuhnya jadi seperti memeluk tubuh Echa dari belakang. Kontolnya yang masih ngaceng tepat mengenai belahan pantat istrinya yang sekal. Keadaan ini membuat nafsu Priambodo jadi bangkit lagi. Bahkan sekarang jadi lebih liar.
”Aduh, gimana ini?” tanya Echa tanpa bisa bergerak.
“Duh gimana ya, aku juga bingung.” Priambodo mengulur waktu. Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolnya, dia jadi tidak bisa menahan gairahnya lagi. Pelan-pelan Priambodo melepas satu tangannya dan tanpa sepengetahuan Echa, mulai mencopot celana berikut CD-nya. Memang agak susah, tapi akhirnya dia berhasi. Dan dengan tetap pada posisi semula, kini bagian bawah tubuh Priambodo sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Penisnya yang tidak begitu besar terlihat tegak menantang.
“Pegang dulu, kucarikan penutup.” Kini niatnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Kalau Echa masih menolaknya, dia akan memaksa. Memerkosanya juga kalau memang perlu.
Pelan-pelan Priambodo melepas pegangannya di kran air dan... dengan
secepat kilat menyingkap daster Echa ke atas, kemudian secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalam gadis cantik itu yang entah warnanya apa. Karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamarkan.
“Eh.. apa-apan ini?!” Echa menjerit, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena sibuk memegangi kran air. ”Auw! Ahhhh...” dia merintih saat Priambodo mulai jongkok dan menyibakkan pantatnya yang besar untuk mencari liang senggamanya. Laki-laki itu mendekatkan kepalanya, menjulurkan lidah, dan segera menjilatinya saat sudah mencapai lubang vagina Echa yang masih perawan.
“Auwchh.. ahh..” jilatan sang suami membuat Echa bergetar tanpa bisa beranjak dari tempatnya semula. Kalau bergerak, air pasti akan menyembur lagi. Echa tidak mau membuat dapur ini jadi kotor.
Lidah Priambodo semakin leluasa merasakan aroma vagina sang istri. Semakin ke dalam, semakin keras juga teriakan Echa. Sekarang, sudah tidak ada lagi penolakan darinya, yang ada kepala Echa mulai menggeleng-geleng tak karuan. Terlihat sangat menikmati sekali jilatan Priambodo pada lubang vaginanya.
Priambodo sendiri terus menggerakkan lidahnya, mencari klitoris Echa yang amat mungil, memang agak sulit, tapi setelah didapat, dia segera menghisapnya habis. Dua jarinya juga ikut menusuk masuk, tapi segera ia tarik kembali karena tidak ingin memecah keperawanan Echa pakai jari. Ia ingin menggunakan penisnya untuk membelah ’duren’ itu!
Saat jumlah lendir yang keluar dari liang senggama Echa sudah tak terkira, Priambodo segera berdiri. Ia siapkan senjatanya yang sudah mengacung keras. Dengan dua tangan, dia coba menyibakkan kedua belahan pantat sang istri sambil mendekatkan batang kontolnya ke vagina Echa yang terlihat merah menyala. Priambodo mendorongnya sedikit demi sedikit. Begitu sudah betul-betul tepat di mulut rahim wanita cantik itu, tanpa ba-bi-bu, langsung dilesakkannya dengan kasar.
Jlebb!
Meleot! Tidak bisa masuk.
Didorongnya lagi. Sama. Juga meleyot!
Dicoba berkali-kali juga sama, penis Priambodo tidak bisa menembus lubang senggama Echa. Jangankan batangnya, kepalanya saja tidak bisa masuk. Priambodo jadi frustasi. Apa ada yang salah ya? Apa batangnya kurang keras? Padahal dia sudah sangat bernafsu sekali saat ini.
“Ayo, Sayang! Aku sudah siap!” Echa menggerak-gerakkan pinggulnya, meminta Priambodo agar segera memasuki dirinya. Tapi apa daya, laki-laki itu tidak bisa melakukannya.
Bahkan saat dicoba untuk yang ke sekian kalinya, bukan batangnya yang masuk, malah spermanya yang moncrot duluan. Priambodo ejakulasi. Bergesekan dengan bibir vagina Echa saja sudah membuat dia orgasme!
”Maafkan aku, Sayang.” Priambodo berkata penuh sesal. Sperma masih menetes-netes dari ujung penisnya yang mulai mengkerut.
”Tidak apa-apa, Echa membenahi lagi bajunya. Membiarkan air dari kran menyembur membasahi lantai dapur. ”Mungkin nanti malam.”
”Iya, tadi aku terlalu bernafsu.” kata Priambodo malu.

***

Tapi malamnya, hal yang sama tetap terjadi. Priambodo gagal memperawani Echa. Alih-alih menyetubuhi istrinya yang cantik itu, melihat tubuh Echa yang telanjang saja sudah membuatnya orgasme. Apalagi dibelai dan dikocok, dia benar-benar tak tahan.
Itulah kenapa, sampai seminggu setelah perkawinan mereka, Echa masih perawan. Echa jadi uring-uringan karenanya. Dia yang sudah sangat ingin merasakan indahnya malam pertama, malah tidak bisa mendapatkannya dari sang suami.
”Aku juga tidak ingin begini, Sayang.” Priambodo mencoba merayu. Penisnya mulai meringkuk setelah pertempuran yang tidak sampai 1 menit. Benar-benar payah!
”...” tidak menjawab, Echa berlalu meninggalkan kamar pengantinnya.
”Kamu mau kemana, sayang?” Priambodo ingin menyusulnya, tapi dia sudah keburu ambruk kembali ke ranjang, kelelahan.
Echa berjalan pelan melalui lorong ruang tengah. Tubuhnya yang telanjang cuma ia balut baju tidur tipis. Gadis itu haus, ia ingin pergi ke dapur untuk minum. Saat itulah, di depan kamar mandi, Echa melihat Ivan yang sedang kencing berdiri tanpa menutup pintu. Yang membuatnya tertegun adalah kemaluan bocah lelaki itu. Luar biasa besar, juga panjang. Padahal benda itu masih belum ngaceng benar, masih agak lembek dan menggantung. Kalau ’tidurnya’ saja seperti, apalagi ’bangunnya’... Echa kesulitan menelan ludah membayangkannya.
Dia masih termangu saat Ivan menengok keluar dan tersenyum melihatnya yang sedang mengamati. Seperti disengaja, Ivan malah menggoyang-goyangkan penisnya, seperti ingin memamerkannya.
Echa yang merasa kepergok, segera melengos cepat. Dia malu dikira sengaja  melihat. Buru-buru dia mengambil segelas air dan kembali ke kamar. Setelah menegaknya separuh, Echa berusaha untuk kembali tidur. Tapi... pikirannya terus melayang-layang. Terbayang penis Ivan yang besar dan panjang. Dia jadi resah, perasaannya gelisah. Echa tak mampu menghilangkan ingatannya pada apa yang baru saja disaksikannya. Bayangan akan seandainya kemaluan besar itu menembus vaginanya terus mengejar pikirannya. Jantung Echa berdegup kencang dan cepat. Dia terangsang! Ahhhh...

***

Pagi harinya, Echa terbangun oleh jilatan Priambodo pada payudaranya. Sebenarnya dia malas untuk melayani laki-laki itu, takut kecewa dan tidak terpuaskan seperti biasanya. Tapi, karena diserang terus-menerus, Echa akhirnya tak tahan juga. Dia bangun dan dilayaninya nafsu sang suami. Didorongnya Priambodo hingga telentang di ranjang, lalu dengan penuh nafsu, dikulumnya penis laki-laki itu.
Priambodo menggeram dan menyemburkan spermanya, padahal baru juga 5 jilatan. Dia benar-benar payah. Menyumpah-nyumpah, Echa meludahkan sperma yang masuk ke dalam mulutnya.
Sayang...” gadis itu merajuk, meminta Priambodo agar bisa bertahan sedikit lebih lama. ”Aku kan juga pengen enak.” katanya.
Priambodo tertawa dan mengecup mesra pipi mulus Echa, ”Aku harus ke kantor,” laki-laki itu lalu beranjak pergi ke kamar mandi, meninggalkan Echa di ranjang sendirian, merenungi gairahnya yang menggantung tak karuan.

***

Di meja makan, saat sarapan, Echa dan Ivan tidak saling berbicara. Mereka sama-sama sungkan dengan peristiwa tadi malam. Echa bisa menebak kalau Ivan juga tidak bisa tidur semalam, terlihat dari kantung matanya yang tampak tebal. Apakah dia membayangkanku? batin Echa.
Itu bisa saja karena sampai sekarang, Ivan masih saja memanggil Echa dengan sebutan ’tante’, bukan ’mama’ apalagi ’ibu’. Echa jadi sangat sedih karena Ivan tidak menganggapnya sebagai ibunya sendiri, tapi juga gembira karena dengan begitu, terbuka kesempatan untuk ’menggoda’ bocah itu. Apalagi Echa melihat, Ivan memandangnya tidak dengan hormat,  tapi dengan nafsu. Nafsu seorang remaja pada wanita dewasa.

***

Rumah sepi. Priambodo kerja, sedang Ivan ke sekolah. Untuk mengisi waktu, Echa memutuskan untuk bersih-bersih rumah saja. Sasaran pertamanya adalah kamar Ivan, ruangan paling acak-acakan di rumah ini.
Dipungutinya kertas yang berserakan. Juga kaos dan celana yang menumpuk jadi satu di keranjang. Echa berniat untuk mencucinya. Saat itulah, saat memegang kain segitiga berwarna merah –celana dalam Ivan– dirasakannya ada cairan yang sedikit lengket. Echa memperhatikannya lebih telita lagi: bening, lengket dan sedikit amis. Itu sperma! Echa memegang sperma Ivan! Tidak salah lagi.
”Aaah...” menjerit, Echa melempar celana dalam itu jauh-jauh. Badannya gemetar, sementara kepalanya mulai pusing.
Kapan Ivan mengeluarkan sperma itu? Apakah tadi malam, setelah Ivan bertemu dengan dirinya di dapur? Sepertinya begitu. Karena sperma itu sudah agak kering sekarang. Berarti...
Echa kaget, sekaligus senang. Ivan birahi pada dirinya. Itu sudah pasti.

***

Seperti malam-malam sebelumnya, Priambodo juga mencoba untuk memperawani Echa malam ini. Dibukanya BH gadis cantik itu hingga tertampanglah dua gundukan punya Echa yang cukup besar dan kenyal. Juga celana dalamnya hingga Echa full telanjang sekarang. Penuh nafsu, Priambodo segera mengemut dan menjilat payudara sang istri.
”Ahhh…” Echa merintih dan menggelinjang. Apalagi sambil menjilat, Priambodo juga mengusap-usapkan 3 jarinya ke bibir vagina Echa yang terasa sudah mulai basah.
”Aahh.. berhenti.. geliii...” ucap Echa sambil mencengkramkan tangannya keras-keras ke penis Priambodo yang mungil. Beda sekali dengan punya anaknya, batin Echa dalam hati.
Priambodo terus mengusap-usap vagina itu hingga ia akhirnya tak tahan. ”Hisap, Sayang!” disuruhnya Echa untuk mengulum penisnya sebentar. ”S-sudah, nanti aku tak tahan.” dia tak mau orgasme duluan di bibir manis sang istri.
Echa segera mengangkangkan kakinya lebar-lebar, siap menerima tusukan sang suami. Priambodo menyiapkan penisnya dan... menusuk!
Gagal! Penisnya tidak mau masuk. Vagina Echa seperti tertutup, menolaknya.
”Coba lagi, Sayang.” Echa meminta. Dia membuka kakinya lebih lebar.
Priambodo mendorong lagi, lebih keras dan kuat. Jlebbb!! Ahh, ujungnya sudah menempel. Tepat di mulut liang senggama Echa. Rasanya begitu hangat dan nikmat. Hingga tak lama... Croot! Croot! Croott! Belum sempat Priambodo menggoyang tubuhnya, spermanya sudah menyemprot duluan.
”Ahh,” Echa mengeluh kecewa. Dia segera menyelubungi tubuhnya dengan selimut dan tidur dengan membelakangi sang suami.

***

Hari masih gelap ketika Ivan bangun pagi itu. Tidak biasanya dia bangun sepagi ini kalau tidak karena kebelet pipis. Dia segera pergi ke kamar mandi. Tapi sampai disana, ternyata sudah ada orang. Echa, ibu tirinya, sedang mandi.
Ivan berdiri diam tanpa suara di depan kamar mandi, mendengar suara air jatuh di lantai dari dalam sana. Dia tahu Echa sedang mengguyur tubuhnya yang telanjang sekarang, menyabuni lekuk tubuh yang aduhai itu, payudaranya... selangkangannya... uhh, Ivan jadi tak tahan.
Pelan-pelan, ia melangkah untuk mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna. Mungkin Echa tidak menyangka kalau Ivan akan bangun sepagi ini sehingga seperti biasa, dia tidak rapat menutup pintu. Jantung Ivan berdegup begitu kencang ketika matanya mulai melihat jelas ke dalam kamar mandi.
Ya Tuhan... dia nyaris tak percaya dengan penglihatannya. Menyamping dari arahnya, tubuh Echa telanjang bulat, dengan payudara yang tumbuh besar bergayut indah. Air membasahi kulit dewasanya, membuatnya terlihat segar dan... ahh, pantatnya begitu padat.
Echa bersenandung lirih, tak menyadari sang anak tiri sedang memperhatikan seluruh gerakannya, menatap setiap lekuk daging tubuhnya. Kemaluan Ivan tegang bukan main, mengeras berdenyut-denyut kencang. Di dalam sana, Echa tengah menelusuri tubuh mulusnya dengan sabun. Ivan terpaksa harus menelan ludah  berulang-ulang saat melihat sang ibu tiri yang masih sangat muda itu menyabuni payudaranya. Bagaikan nonton film 3D, Ivan seperti bisa merasakan betapa kenyalnya dua bukit daging itu.
Dan dia makin terbelalak saat Echa berbalik hendak menyimpan sabun. Terlihat di selangkangan perempuan itu, bulu-bulu halus yang tumbuh rapi di atas kemaluan yang merah merekah, benar-benar menyempurnakan apa yang sudah ia lihat sebelumnya. Apalagi saat Echa tiba-tiba menungging untuk mengambil sikat gigi yang jatuh di lantai. Daging kemaluannya terlihat menyembul dari sela-sela pantatnya yang bulat.
Ivan terhenyak. Dia sudah tak dapat menahan diri lagi. Dicengkeramnya batang kemaluannya yang sudah mengeras kencang, dan... ”Aaghhhh!” dikocoknya dengan penuh nafsu.
Di dalam, Echa sudah selesai mandi dan kini tengah mengeringkan tubuh mulusnya dengan handuk. Ivan berkejaran dengan waktu. Dia harus cepat. Untungnya, beberapa detik kemudian, dia sudah ejakulasi. Seluruh hasrat dan nafsunya meledak di pagi yang dingin itu, spermanya menyemprot begitu banyak di pintu kamar mandi.
Selesai memakai baju, Echa segera keluar dari kamar mandi. Di depan pintu, dia hampir jatuh karena terpeleset cairan aneh. ”Apa ini?” Echa memungutnya dan membauinya. Sperma, batinnya dalam hati. Tapi sperma siapa?
Echa tidak tahu, kalau tak jauh dari situ, Ivan tengah sembunyi sambil berusaha mengatur nafasnya yang memburu...

***

Pulang sekolah, Ivan nonton teve sendirian. Dia teringat saat di sekolah tadi, dia tidak bisa konsentrasi selama jam pelajaran berlangsung. Bayangan tubuh mulus Echa terus menganggu pikirannya. Membuatnya jadi melamun dan akhirnya dihukum oleh guru.
Begitu juga dengan saat makan malam. Ketika Echa menawarinya, ”Kamu mau dada atau paha?” Ivan malah membayangkan dada Echa yang bulat dan pahanya yang putih mulus. Uhh, sungguh terlalu.
“Ah, aku haus, mungkin ada es di kulkas.” ucap Ivan lalu beranjak ke dapur.”Ah, ini dia.” dia mengambil segelas sirup dan langsung ingin beranjak ke ruang tengah lagi.
Saat itulah, “Oohh.. Aahh.. Eeumm…m-masukiinn, Sayang…” terdengar suara desahan dari kamar ayahnya, membuat Ivan menghentikan langkahnya. Mengendap-endap, dia berbelok ke kamar itu dan mengintip.
”Wew!” Ivan shock melihat apa yang ada di dalam sana, ayah dan ibu tirinya sedang bermain seks. Mata Ivan seketika melotot melihat apa yang mereka lakukan. Ia merasakan penisnya mulai menegang.
Ingin menikmati momen itu lebih nikmat, Ivan membuka celananya dan mulai mengocok-ngocok penisnya. Di dalam, dilihatnya Priambodo, sang ayah, berusaha berkali-kali memasukkan penisnya ke lubang senggama Echa yang merah membara, tapi tidak pernah berhasil.
”Kurang keras,” Ivan mengomentari penis ayahnya yang tampak kecil dan lembek. ”Tidak akan pernah bisa masuk kalau seperti itu.” tambahnya lagi sambil mengocok penisnya semakin cepat.
Ivan tak peduli meski permainan ayah dan ibu tirinya tidak hot sama sekali, yang penting ia bisa melihat tubuh mulus Echa dan menggunakan tubuh itu sebagai fantasi onaninya.
Lima menit kemudian, “Aahh.. aku keluar...” desah Ivan saat cairannya menyembur keluar. Dia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengambil tisu dan membersihkan spermanya yang berceceran di lantai. Ivan tidak tahu kalau saat itu ada sepasang mata yang mengamati tingkah lakunya dari dalam kamar.

***

Sekitar pukul 5 sore, sesuai dengan kebiasaan harian, setelah beres-beres rumah, Echa mandi. Baru saja mengguyur badannya, selintas ia melihat kelebatan bayangan di celah pintu kamar mandi yang retak kecil. Rasanya seperti ada yang mengintip. Siapa ya? Kalo suaminya, bukankah  lebih baik kalau langsung masuk saja. Apakah... Echa terhenyak. Ivan! Pasti Ivan yang sekarang sedang berdiri di depan pintu itu.
Tapi anehnya, meski tahu kalau anak tirinya sedang mengintip, ia tidak bisa marah. Echa malah meneruskan mandinya. Dan cenderung ingin memamerkan tubuhnya. Bukankah Ivan sudah melihatnya telanjang tadi siang, apa bedanya ditambah yang sekarang? Beraksi bak model, Echa meliuk-liukkan tubuhnya, memberi Ivan pemandangan yang tidak akan dilupakan pemuda itu seumur hidupnya.
Saat menyabuni payudaranya, Echa menghadap pintu. Begitu juga saat ia membersihkan lubang vaginanya, Echa membiarkan Ivan menikmatinya.
Selesai mandi, Echa melihat anak tirinya itu sedang duduk membaca majalah, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi muka Ivan sudah memerah bak kepiting rebus. Terkikik kegelian, Echa meneruskan langkahnya ke kamar. Di depan cermin, ia menyisir rambut hitamnya yang lembut. Lagi-lagi Echa merasa ada yang memperhatikannya dari balik pintu yang memang sengaja tidak ia tutup. Makin nakal, Echa membuka lilitan handuknya dan membiarkan Ivan memandangi tubuh telanjangnya sepuasnya.
Ada sedikit kepuasan di hatinya melihat Ivan yang terus mengintip tak bosan-bosan. Berarti anak itu suka pada dirinya. Ekspresi Ivan yang terbengong-bengong di balik pintu bisa ia lihat dari cermin. Echa tersenyum bahagia.
Selesai ganti baju, ia tidak menemukan Ivan di ruang tengah. Penasaran kemana pemuda itu pergi, Echa mencari ke kamar. Mungkin Ivan sedang main computer seperti biasa. Di luar pintu kamar, Echa mendengar suara menderit-derit berulang-ulang. Dia jadi ingin tahu. Dibukanya pintu yang tidak terkunci itu perlahan-lahan. Melalui celah sempit, Echa mengintip.
”Oh, Tuhan,” dia memekik tertahan. Di dalam, dilihatnya Ivan sedang duduk di depan komputer. Celana panjangnya telah turun dan teronggok di lantai. Celana dalamnya juga tak tampak lagi. Ivan telanjang!
Mata pemuda itu tertutup rapat, nafasnya berat, dengan kaki membuka, dan tangannya mencengkeram erat batang kemaluannya yang tegak berdiri. Suara berderit terdengar karena irama tangan Ivan yang mengocok batang keras itu cepat-cepat.
Selain milik Priambodo, Echa tidak pernah melihat lelaki telanjang secara langsung. Dan tiba-tiba sekarang ia melihat pemuda ABG yang sedang terangsang berat. Batang tegang Ivan yang keras itu tampak panjang, kira-kira 12-13 cm dan berukuran langsing, bentuknya agak melengkung sedikit, dengan warna kulit yang tampak kemerahan karena Ivan berkulit putih. Kedua kantung telurnya tampak bersih dan tidak berambut. Ada sedikit rambut halus dan jarang di daerah pubicnya. Echa bisa melihat kepala batang Ivan berlumuran dengan air precum bening dan tampak merah mengkilat.
Dari tempatnya mengintip, Echa bisa melihat sedikit pada layar computer, ada gambar seorang perempuan yang sudah dewasa (ibu-ibu) sedang melakukan oral sex mengisap penis pemuda lajang. Echa heran, kenapa Ivan onani dengan melihat perempuan dewasa dan bukannya perempuan muda. Saat itulah terbuka pikiran Echa; selama ini Ivan tidak menyukai anak perempuan SMA karena dia lebih mengagumi perempuan dewasa. Itulah sebabnya dia sangat memperhatikan Echa, ibu tirinya yang masih perawan!
Terdengar oleh Echa, Ivan menggumam sambil terus meremas dan mengocok-ngocok batangnya. Walau tidak jelas apa yang dibisikkan oleh bocah itu, tapi sepertinya Ivan menggumam, “Auh... tante, jilat terus, tante! Remas dan jilat, tante. Hisap sampai Ivan keluar!”
Echa merasa kurang pasti, tapi dia melihat pinggul Ivan mulai bergerak naik turun di atas bangku yang ia duduki. Sebagai wanita dewasa yang sudah bernah berhubungan badan, Echa tahu kalau Ivan sudah hampir memuncratkan air maninya. Echa merasa sedikit tidak enak hati mengintip semacam ini, tapi ia tidak sanggup untuk mengalihkan pandangan matanya. Echa bahkan merasa daerah kemaluan di antara kedua pahanya mulai berkedut-kedut dan rasa gatal mulai muncul di daerah itu. Echa yakin, ada kebasahan disana.
Ivan mulai terdengar mengerang keras. bocah itu terus onani dan berfantasi dengan bebas tanpa pernah menyangka kalau Echa sedang menontonnya. Erangannya terdengar semakin jelas, “Ya, ya, tante... hisap air maniku, tante... hisap kepala kontolku... hisap airnya… ahh…” Sambil mengerang demikian, tiba-tiba sperma Ivan muncrat dan memancar deras ke atas. Pancuran itu naik hingga mengenai muka dan dada Ivan. Seumur-umur, Echa belum pernah melihat semprotan air mani yang demikian kencang.
Menyaksikannya membuat Echa jadi panas dingin, kepalanya jadi terasa mengambang, sementara vaginanya terus berdenyut-denyut untuk memberinya rasa gatal yang amat nikmat. Echa juga merasa bagian dalam lubang kenikmatannya mulai mengembun, makin menambah kebasahannya yang sudah sangat parah.
Tak kuasa menahan birahi, tanpa sadar jari-jari Echa sudah menyelinap masuk ke balik celana dalamnya. Dia mulai membelai-belai lipatan bibir bawahnya, menyebarkan kebasahannya yang sudah sangat lengket ke arah klitorisnya. Benda itu sudah terasa sangat gatal dan sensitif. Echa segera menggaruknya. Sambil jari tengah menggosok-gosok dan menekan celah bibir vaginanya, jempol Echa ikut mengusap-usap tonjolan klitorisnya.
Birahinya jadi tak terbendung lagi. Kegatalan itu terus memuncak, menimbulkan kenikmatan yang amat sangat di bagian dalam lubang vaginanya. Echa terus onani sambil memandangi Ivan yang masih asyik mengocok batang penisnya. Bau air mani terasa kuat menguar dari kamar bocah itu. Puncak kenikmatan hampir diraih oleh Echa. Ia harus menutup mulutnya dengan tangan kalau tidak mau erangan dan desisannya didengar oleh Ivan.
Satu detik kemudian, ledakan nikmat itu melanda. Badan Echa terkejang-kejang kaku sejenak menikmati terpaan rasa nikmat yang bersumber dari dalam liang vaginanya. Rasa itu menyebar cepat ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa nyaman di hatinya. Terasa cairan bening merembes keluar dari celah celana dalamnya. Ah, sungguh kenikmatan yang sangat luar biasa.
Setelah merapikan bajunya, Echa buru-buru pergi meninggalkan tempat itu. Ia masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintunya. Berdiri di balik pintu, Echa berusaha untuk menenangkan diri. Wajah cantiknya tampak pucat. Begitu juga dengan deru nafasnya, masih terasa berat dan memburu. di bawah, terasa pangkal pahanya masih sedikit lengket akibat cairan vaginanya yang sudah mulai mengering.

***

Esok paginya, Priambodo sudah pergi bekerja saat Echa pergi ke kamar Ivan untuk membangunkan bocah itu. Hari ini Ivan memang dapat jadwal sekolah agak siang.
“Ivan-ahh... bangunlah!” ucap Echa saat membuka pintu kamar Ivan. ”Waktunya se...” dia terkejut begitu melihat tubuh Ivan yang tidur telanjang di atas ranjang, bocah itu hanya memakai celana pendek selutut. Echa makin kaget saat mendapati tonjolan besar yang ada di celana Ivan.
Echa jadi memikirkan yang tidak-tidak, terutama peristiwa kemarin. Tanpa sadar, vaginanya jadi basah dan lengket. Menghela nafas, Echa akhirnya mendekat dan jongkok di depan tonjolan besar di celana Ivan. Dia elus perlahan ujung tonjolan itu. Saat melihat Ivan tidak bereaksi, Echa memberanikan diri untuk membukanya. Penis Ivan langsung meloncat keluar, sangat besar dan panjang sekali. Lebih besar dari punya Priambodo.
Echa tersenyum dan membatin dalam hati, ”Ah, pasti akan nikmat sekali saat masuk ke dalam vaginaku.” Dia mulai mengelus-elus selangkangannya sambil terus memandangi batang coklat panjang itu. Penis Ivan begitu menggoda, Echa ingin mencobanya, tak peduli meski Ivan adalah anak tirinya sendiri. Dia mulai meremas-remas benda itu, menggenggamnya begitu erat dan mesra.
”Eunhh... hhuuhh...” desah Ivan dalam tidurnya, mungkin dia menganggap perlakuan Echa itu seperti mimpi.
Makin berani, Echa meremas-remas penis Ivan semakin kuat.
”Aahh... hhehhh... eummhh...” desah Ivan lagi, semakin terdengar keras juga.
Echa mulai mengocok-ngocoknya pelan, membuat Ivan jadi mengeluarkan desahan seksinya, ”Hhooahh... ohh… euhhh...”
Echa mengocok semakin cepat, dan kali ini mau tak mau membuat Ivan jadi terbangun. Echa lekas menghentikan kegiatannya, sementara Ivan sangat kaget dengan apa yang ia lihat; Echa, ibu tirinya yang seksi, sekarang sedang memegangi penisnya dan mengocoknya lembut, persis seperti apa yang ia bayangkan selama ini.
T-tante? A-apa yang tante la-lakukan... hhaa?” tanya Ivan dengan desahan tertahan.
“Aku hanya ingin bermain denganmu,” jawab Echa santai dan langsung mengemut penis Ivan.
“Ahh… hoohh... b-berhenti...” desah Ivan sambil meremas kasurnya.
Echa tidak menghiraukan perintah itu, dia terus menjilat dan mengulum penis Ivan penuh nafsu. Sedikit lagi dia pasti akan terangsang, pikir Echa.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian. “Aahh… ohh... enaknya... eumm...” erang Ivan tak jelas saat Echa memaju-mundurkan mulutnya semakin cepat. Tak tahan, diapun bangkit dan langsung menyerang Echa. Ivan menyergap dan menciumi vivir tipis Echa bertubi-tubi, dia juga meremas-remas payudara ibu tirinya itu.
”Eeunhh... pelan-pelan, Vanhh!” desah Echa tertahan.
“Siapa suruh membuatku bernafsu?” ucap Ivan dan langsung mencium mulut Echa sekali lagi. Dibukanya mulut perempuan cantik itu dan dimasukkan lidahnya ke dalam mulut Echa. Dengan cepat lidah mereka saling membelit dan seakan sedang menari saat bertarung untuk memperebutkan air liur.
Ivan menjilat bibir Echa, lalu dibukanya baju ibu tirinya itu, diremasnya payudara Echa yang bulat padat dengan lembut. ”Eeuhh... ohhh... ahhh...” desah Echa tak karuan.
Tangan Ivan maju ke punggung Echa, dirabanya pengait bra wanita cantik itu, dan ketemu. Dengan satu hentakan keras, bra itu terlepas. Ivan meninggalkan mulut Echa dan ganti menjilati payudara Echa yang putih  mulus. Dimulai dari yang kanan, sambil menghisap dan menggigiti putingnya, Ivan meremas-remas gundukan yang sebelah kiri. Begitu pula sebaliknya, kedua daging kembar itu tak luput dari serbuan tangan dan lidah Ivan,  membuat Echa jadi mendesah-desah keenakan karenanya.
“Oohh... ahhh... Ivan, teruus!” desah Echa tak karuan, matanya sudah terpejam, sementara tubuhnya menggelinjang kuat kesana-kemari.
Ivan terus menjilat puting Echa, diemutnya benda mungil kemerahan itu dengan rakus dan dihisap-hisapnya kuat-kuat.
“Ahhh... ohhh… lebih keras, Van… aku suka!” desah Echa sambil menekan kepala Ivan ke arah belahan buah dadanya.
Ivan terus menjilat payudara Echa, dia seperti kesetanan. Memang ini yang ia inginkan dari dulu, dan begitu mendapatkannya, Ivan tidak akan melepaskannya dengan mudah. Ia akan menikmatinya hingga capek dan puas.
Sepuluh menit berlalu. Setelah payudara Echa berubah warna menjadi kemerahan akibat cupangannya, barulah Ivan turun ke bawah. Dielusnya vagina Echa dari luar celana dalamnya. “Eeum... ohhh... ahhh...” desah Echa kegelian.
Ivan segera membuka cd berenda merah itu hingga tertampanglah vagina Echa yang putih bersih dengan sedikit bulu halus menghias di bagian atasnya. Ivan jadi bengong sebentar melihat pemandangan indah itu. Setelah tersadar, barulah dia memasukkan satu jarinya kesana, lalu mulai menjelajahi liang vagina Echa dengan lembut.
“Aahh... hmmm... geli, Van!” desah Echa semakin keras saat Ivan mulai mengocok liang vaginanya menggunakan dua jari. Malah bukan saja mengocok, kini Ivan juga menunduk untuk menjilat dan membasahi benda itu dengan mengemut klitorisnya penuh nafsu. Perbuatannya itu membuat Echa jadi berteriak kesetanan.
”Ivan… ahhh... aku... a-aku keluuaarrgghhhhhhh!!!!” desah Echa kencang saat cairan kenikmatannya menyembur keluar.
Sementara wanita itu menikmati orgasmenya, Ivan segera menyiapkan penisnya, ia siap untuk menyetubuhi Echa, tapi masih bingung bagaimana melakukannya, padahal dia sudah pernah menonton film bokep.
“Kenapa hanya dilihat, cepat masukkan!!” ujar Echa tak sabar. Dia segera memegang penis Ivan dan membimbingnya untuk memasuki liang kemaluannya. ”Aarrgghh…” desah mereka bersamaan saat alat kelamin mereka bertemu dan saling bertaut.
Tidak seperti Priambodo, dengan sekali dorong, Ivan bisa menerobos selaput dara Echa. Ia berhasil memperawani ibu tirinya sendiri! Echa merintih saat cairan merah merembes dari liang vaginanya, tapi ia sama sekali tidak mengeluh. Justru ini yang ia cari selama perkawinannya dengan Priambodo. Dan ternyata, Ivan lah yang bisa memberikannya.
Echa menahan nafas saat Ivan mulai menggenjot tubuhnya. ”Ahhh... lebih cepat, Van... euumm… enak!” desah Echa seksi, membuat Ivan makin mempercepat gerakannya. Bocah itu juga merasa nikmat, sama sekali tidak menyangka bisa menyetubuhi ibu tirinya yang cantik dan seksi ini.
”Aahh... Van, goyang terus… tusuk lebih dalam… lebih kuat… ahhh...” erang Echa semakin tak jelas.
Gerakan Ivan menjadi semakin cepat, sampai kasurnya juga ikut bergerak-gerak karena gaya permainan mereka. Ivan terus memaju-mundurkan pinggulnya, sementara Echa ikut memutar-mutar bokongnya untuk mengimbangi goyangan bocah itu.
“Ahhh... ahhh… ahhh... sempit sekali…” erang Ivan keenakan. Sambil terus menggoyang, ia juga tak lupa menciumi dan meremas-remas payudara Echa yang bulat seksi.
”Penismu juga sangat nikmat, Van...” erang Echa tak mau kalah.
Mereka terus berada dalam posisi seperti itu, hingga Echa merintih tak lama kemudian, ”Ivan... aku keluar!!” desahnya dengan tubuh kelojotan dan terkejang-kejang ebberapa kali.
“Aku juga, ahhh…” sahut Ivan dan, crrott... croott... croot... cairan mereka saling menyemprot untuk bercampur dan meleleh menjadi satu.
”Aahhhhhhhh...!!!” teriak Echa penuh kepuasan. Setelah menunggu selama ini, akhirnya ia merasakan juga nikmatnya persetubuhan.
Terima kasih, Van, kamu sudah memuaskanku...” ucap Echa tulus.
”Tidak, akulah yang harus berterima kasih… Ibu!” ucap Ivan dengan tersenyum lebar.
Mendengar itu, Echa jadi ikut tersenyum. Ia lalu bangun dan memeluk Ivan. “Akhirnya kamu memanggilku ’ibu’ juga.” ucap Echa senang.
Ivan membalas pelukan perempuan cantik itu. “Ibu...” panggilnya.
”Hemm… apa?” tanya Echa.
”Aku lapar.” ucap Ivan lucu.
“Sekarang mandi lah. Ibu akan menyiapkan sarapan.” ucap Echa dan berdiri. Dia mau keluar dari kamar tapi tangannya ditahan oleh Ivan.
Mandi sama ibu!” ucap Ivan manja.
Echa hanya tersenyum melihat tingkah laku anak tirinya. ”Dasar kamu ini.” ucapnya sambil tersenyum nakal dan meremas penis Ivan yang masih melemas.

***

Malam harinya…

Dengan satu tusukan keras, Priambodo mendorong penisnya dan… berhasil!! Ia sukses memperawani Echa, istri barunya. Tapi kok...
”Kenapa kamu tidak berteriak?” tanya Priambodo heran. Echa hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Dan keheranan Priambodo semakin menjadi-jadi saat memandang bagian bawah tubuh Echa.
”DARAH! MANA DARAH? KENAPA KAMU TIDAK BERDARAH?” teriak Priambodo frustasi.
Di dalam kamarnya, Ivan mendengar teriakan itu sambil tertawa. ”Dasar laki-laki bodoh!!” umpatnya untuk sang ayah.

1 komentar:

  1. Suka sama model genre seperti ini bro. Ada niat buat bikin sekuelnya kah. Mudah-mudahan ya..

    BalasHapus