Jumat, 05 Mei 2017

Ketika Iblis Menguasai 12



Rul, kamu bisa tolong awasi rumah selama aku dan keluarga beribadah umroh—soalnya kalau masih bisa aku mau sekalian jalan-jalan keliling di sana sebelum pulang. Kan sekarang banyak kejahatan, jadi kamu tahulah apa yang bisa kamu kerjakan kalau ada maling atau rampok mau coba-coba masuk. Kamu tahu kan nomor kepala kepolisian di sini? Itu temanku sejak sekolah, jadi kamu bisa telpon dia biar pun sudah malam. Nanti kuberikan kamu imbalan ekstra untuk jasa menunggu rumah.
Demikian pak Sobri memberikan petunjuk kepada Arrul. Sebetulnya pak Sobri berniat mengajak Aida umroh, namun ia tak bisa begitu saja membawa wanita yang bukan istrinya, dan Aida biar bagaimanapun masih terikat pernikahan dengan ustadz Mamat. Selain itu kali ini ibunda pak Sobri juga ikut umroh, sebagai keinginannya terakhir mengingat usia semakin lanjut.  
Beres, paman. Saya akan jaga semua dan pertahankan bagaikan kepunyaan saya sendiri, apapun milik paman yang paling berharga!“ demikian jawab Arrul kegirangan ketika dipanggil pulang oleh pamannya, yang memberitahukan bahwa ia akan umroh dan absen selama lebih dari seminggu.

Waktunya tepat sekali karena saat itu masa dimana kuliah sedang sedikit, Arrul merasakan bagai mendapat hadiah undian lotere ratusan juta rupiah. Selama ini ia sudah ‘latihan dengan mnggakrap Wati—ibu pemilik kost, yang tetap mengira bahwa Arrul menyimpan foto bugilnya, padahal itu hanya ancaman gertak sambal saja. Apa yang tak diketahui oleh pak Sobri dan Aida ialah adanya hubungan persahabatan antara Arrul dengan pejantan lain yang juga pernah ikut diajak orgy mnggakrap Aida, yaitu Fadillah. 
Anak buah pak Sobri ini memiliki usaha warung kecil-kecilan dengan modal dari pak Sobri, sehingga tetap setia kepada majikannya. Dengan senang hati Fadillah membantu pak Sobri mematahkan pertahanan Aida (baca kisah Ketika Iblis Menguasai 6).
Persahabatan kedua orang itu dimulai ketika Arrul kebetulan membeli rokok beberapa bulan lalu. Saat itu Fadillah hampir menutup warungnya karena sudah petang, dan Aida baru saja keluar, pulang menuju rumahnya. Goyangan pinggul Aida yang montok mnggakirahkan di balik baju kurungnya itu menyebabkan Arrul melongo menelan ludah berkali-kali. Hal ini dilihat oleh Fadillah, dan memulai percakapan penuh dengan pikiran kotor mengenai Aidasehingga akhirnya terjalinlah persekutuan iblis untuk mengerjai Aida pada saat suaminya, ustadz Mamat, dan juga pak Sobri sedang äbsen.
Saat yang dinantikan itu masih berlangsung sekitar tiga minggu lagi, dan Arrul telah mengetahui betul bagaimana kebiasaan pamannya mendatangi kekasih gelapnya : Aida. Suami resmi Aida, yaitu Ustadz Mamat, telah terkuasai iblis, lebih banyak tak di rumah, melainkan melakukan perzinahan dengan murid-muridnya di madrasah yang terletak jauh dari desa.
Kedatangannya di rumah kebanyakan hanya diisi dengan hubungan seks seadanya bersama sang istri, karena pikirannya selalu berkisar di murid-muridnya yang jauh lebih muda, atau pernah pula selama bersetubuh dengan Aida, khayalannya adalah ketika memperkosa adik iparnyaAsmi Maharani (baca kisah ini di episode sebelumnya; Ketika Iblis Menguasai 8).
Dari Fadillah itu pula Arrul mengetahui bahwa celah bawah pintu samping di rumah Aida terlalu rnggakng. Kunci pintu rumah itu selalu berada di dalam lubang kuncinya, dan dengan sedikit memutar mendorong dari luarmisalnya dengan kawat yang dijual di warung Fadillah, maka kunci itu akan jatuh. Sebelumnya tentu saja melalui kernggakngan bawah pintu itu dapat dimasukkan dan diletakkan karton lebar di lantai di balik pintu, sehingga si kunci akan jatuh ke karton yang kemudian perlahan-lahan ditarik keluar.
Hanya dalam waktu beberapa menit maka pintu itu dapat dibuka dari luar tanpa merusaknya sama sekali. Hal ini belum pernah dilakukan sendiri oleh Fadillah, namun kali ini akan dicoba untuk dipraktekkanArrul yang akan melakukannya, sedangkan Fadillah akan mengajak ngobrol Aida lebih lama saat belanja di warungnya.
Perilaku Aida sendiri pun telah banyak berubah setelah ia menjadi simpanan pak Sobri. Semua rasa malu dan tata susila sebagaimana layaknya wanita dan istri shalihah telah digantikan dengan sikap lebih bebas terhadap lawan jenisnya. Hanya di waktu keluar belanja saja ia masih menutupi wajah dan kepalanya dengan hijab, sedangkan jika di rumah menerima tamu, apalagi pak Sobri, maka hijab itu selalu dilepaskan. Bahkan rambutnya yang tergerai panjang melebihi bahu selalu digerai, karena Aida mengetahui kegemaran pak Sobri terhadap wanita berambut panjang. Sedangkan rambut bawahnya telah dicukur dirawat rapih berbentuk segitiga kecil. Rambut bawah itu terlihat mengintip malu-malu di atas celana dalam yang berbentuk string mini—itu adalah keinginan dari pak Sobri yang membelikannya di kota.
Pak Sobri berangkat umroh di hari Senin pagi, seminggu sebelumnya ia sangat sibuk mengurus segala macam sehingga tak sempat berkunjung dan memberi nafkah batin kepada gula-gulanya. Di hari Sabtu dan Minggu, ustadz Mamat pulang. Namun agaknya reaksi-kimia biologis terhadap istrinya, Aida, sudah sedemikian meredup, sehingga hubungan badan mereka di dua malam itu hanya seadanya saja.  Ustadz Mamat hanya membayangkan menggeluti murid-muridnya di madrasah, sedangkan Aida sukar dipuaskan oleh suaminya sendiri setelah mengalami segala macam petualangan ranjang dengan pak Sobri yang memang kasar sadis namun amat jantan.
Akibatnya di hari Senin, setelah suaminya pergi ke madrasah di desa lain yang jauh, maka Aida masuk ke kamar mandi. Sambil mencuci pakaian dengan hanya memakai BH dan CD, ia pun melakukan masturbasi beberapa kali sebelum ia keluar menjemur pakaian di halaman belakang.
Setelah melakukan sholat tengah hari, sebagaimana biasa Aida kemudian mengunjungi seorang kenalan baiknya yang sedang sakit, dan letak rumah kenalan itu dekat dengan warung Fadillah.
Menjelang maghrib Aida pamit dari rumah kenalannya itu, kemudian pergi belanja beberapa keperluan pokok di warung Fadillah. Sengaja Fadillah melayani Aida dengan ogah-ogahan, dengan maksud mengulur waktu. Beberapa kali ia masuk ke dalam warung, dimana di situ telah menunggu Arrul, yang kemudian langsung bergegas menuju ke pinggiran desa, ke rumah Aida yang memang letaknya cukup terpencil dan tidak terlihat dari jalan desa.
Mendekati waktu maghrib, Aida baru selesai belanja di warung Fadillah. Ia langsung pulang ke rumah, melakukan ritual sebagaimana umumnya, kemudian sholat maghrib—dilanjut menikmati hidangan malam, sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.  Segar rasanya ia mandi di sore hari itu setelah membereskan rumah, mencuci, belanja dan melakukan tugas rutin. Aida membersihkan seluruh bagian tubuhnya, bahkan kali ini ia memakai air hangat dengan mencampur air panas dari dapur dan air dingin. Kali ini dipakainya pula sabun wangi ekstra yang baru dibelinya di warung tadi.
Semua busana kotornya ditukar, mulai dari BH, CD dan juga baju kurungnya dimasukkan ke ember yang esok hari baru akan dicuci. Setelah mandi, dengan tubuh masih terselubung handuk besar pemberian dari suaminya dulu, ia memasuki kamar tidur untuk mencari pakaian rumahan yang bersih di lemari pakaian. Kalau hanya sendiri di rumah dan sudah memasuki malam hari, maka Aida memakai baju kurung lebih ringan dan tipis. Bahkan setelah menjadi kekasih gelap pak Sobri, sering Aida memakai baju kurung yang tembus matadengan warna tidak lagi putih, melainkan merah jambu, kuning agak krem dan juga hijau muda.
Kali ini Aida agak ragu untuk memilih gaun tidur mana yang akan ia pakai, dilihatnya tubuhnya sendiri yang masih sangat mnggakirahkan lelaki itu. Dada membusung dan pantat menonjol seksi ke belakang, dengan senyum Aida menggoyang-goyangkan pantatnya bagaikan mengebor. Setelah menimbang-nimbang, diputuskannya kali ini akan memakai baju tidur berwarna merah jambu.
Pada saat itulah pintu kamar terbuka, dan muncullah dua wajah lelaki : yang satu dikenalnya, yang satu lagi asing. Aida langsung memekik, karena kedua lelaki itu bahkan sudah dalam keadaan telanjang bulat dengan rudal mengacung tegak!
Tolooooong! Mau apa kalian? Pak Fadillah kenapa bisa masuk ke rumah saya? Ayo keluar semua, nanti saya lapor dengan pak Sobri! Ayo keluar! Tolooooong!“ Aida bergerak mundur dan berusaha menutup pintu kamar tidurnya, namun kedua lelaki itu telah mnggaknjalkan kaki di situ.
Hehehe... kan neng tahu sendiri, rumah ini letaknya sangat terpencil, nyarinya aja pake mobil pak Sobri udah susah, apalagi nggak ada tetangga dekat, mana ada yang bisa denger teriakan neng? Mendingan ikut aja kita maen bertiga, ini ada jagoan dari kota, namanya Arrul.“ ujar Fadillah santai.
Iya, bu, itung-itung ngegantiin pak Sobri. Dia lagi pergi lama, jadi pasti ibu kesepian. Malem-malem gini dingin lagi, kita bikin jadi anget dan panas yuk! Pasti ibu demen,“ Arrul menambahkan, sambil matanya jelalatan turun naik menatap tubuh Aida begitu putih mulus menggairahkan.
Aida semakin ketakutan, terbayang kembali ketika tubuhnya digarap berdua oleh pak Sobri dan Fadillah. Selama ini Aida telah menerima nasibnya menjadi objek permainan pak Sobri, dan kekasih gelapnya itu berhasil dibujuk agar tak membagi tubuhnya kepada Fadillah yang memang terkenal haus akan wanita.
Dengan panik Aida mencari dimana kiranya ia dapat melarikan diri, namun semuanya telah terlambat karena dirinya telah terjebak masuk ke dalam kamar tidur. Tanpa menunggu banyak waktu lagi Arrul dan Fadillah beranjak maju untuk menyergap Aida dari kiri dan kanan, tak peduli akan rontaan dan hentakan kaki Aida yang menendang-nendang.
Dengan mudah kedua lelaki berbadan kekar itu mendorong Aida sehingga telentang di ranjang. Bagaikan serigala kelaparan mereka langsung ikut menghempaskan diri ke tempat tidur, lalu bergantian menindih tubuh yang sangat lembut itu. Akibat rontaannya, handuk yang membalut tubuh Aida terlepas, sehingga terlihatlah body semok putih mulus yang hanya tertutup BH dan CD. 
Ckckck... busyet nih badan, bisa menggoda semua orang, pantesan pak Sobri betah banget dan sering datang ke sini. Suami ibu bodoh banget, istri begini yahud kurang diberi nafkah. Tapi malam ini ibu bakalan dapet bonus banyak, hehehe...  Arrul mencekal kedua kaki Aida yang langsing, sementara Fadillah telah merejang kedua tangan Aida dan mulai menciumi mulutnya yang menggemaskan.
“Hngghh, fffpppmmffph, enngggggffff... ssshhhhggghh, erggghhhff...“ Aida merasakan perutnya mual karena bau ludah Fadillah, serta lidahnya yang menerobos masuk dan tercampur dengan air liurnya. Kini bau rokok dan ludah basi akibat Fadillah jarang menggosok gigi bercampur dan membasahi lidah Aida yang didesak dan dililit oleh lidah kasar pemerkosanya.
Cuppp, cuupppp, uuuuuh! Udah lama nggak ngerasain ludah perempuan alim. Susunya masih keluar kan ya, neng? Hehehe... bapak udah haus nih pengen banget nenen lagi.“ Fadillah rakus menciumi mulut Aida, sambil tangannya mulai meremas-remas kedua gundukan daging di dada perempuan cantik itu, tak peduli sang korban mencakar sejadi-jadinya.
Dari mulut, bibir Fadillah menjalar ke leher dan telinga Aida. Ia menghembuskan nafas hangatnya di situ, serta mencolok-colok liang telinga Aida menyebabkannya geli sehingga menggelinjang, apalagi di saat yang sama Arrul berbuat nakal dengan menjilat-jilat telapak kaki Aida.
Aaaaaah, ssssshh, ooooh... geli, lepasin! Udaah, jangan! Auw... udah, pak! Bangsat semuanya! Eeiiiiyyyhhh...
Bagaikan kesurupan, Aida menjerit-jerit kegelian dirangsang sedemikian ahli oleh dua orang pejantan. Fadillah kini berada di atas kepala Aida dan merejangnya, memberikan kesempatan bagi temannya untuk menggarap kaki, betis dan paha sang korban. Pelan ciuman dan jilatan Arrul merambat dan semakin mendekati selangkangan Aida.
Tenang, neng nikmati aja! Apa susahnya, kan udah sering dientot ama pak Sobri. Juga abang kan pernah ngejebol memek si neng, minum pejuh juga pasti udah sering. Mau berpura-pura gimana lagi? Ntar malah jadi pada sakit badannya. Ayo ikutan maen ama kita,“ Fadillah berusaha membujuk Aida yang tetap menggeliat meronta di dalam cengkeramannya.
Iya nih, ibu ngapain susah-susah melawan? Nggak ada gunanya! Mendingan sekarang rileks aja, ibu belom pernah ngisep barang saya kan? Pak Fadillah pasti mau cemek-cemek memek ibu, hehehe.“ Arrul menambahkan lagi celotehnya.
Aida tetap menggeleng-gelengkan kepala ketika dirasakannya kedua pria itu semakin ganas dengan aktivitas mereka, Arrul dan Fadillah agaknya berniat untuk bertukar tempat. Sebelum beranjak dari bawah tubuhnya, dengan gerakan sangat sigap dan tak terduga Arrul menarik CD kecil yang dipakai Aida—memelorotkannya ke bawah kaki yang terus berusaha menendang-nendang.
Dalam sedetik terekspos sudah belahan selangkangan Aida yang terlihat begitu menggiurkan setiap pejantan. Begitu sempurna lipatan paha yang beralih menjadi bukit Venus itu, tertutupi rambut sangat halus terpelihara dan tercukur rapih.
Ternyata benar bahwa kedua pemerkosa itu kini mengubah siasat dan kedudukan mereka; Arrul kini setengah duduk di atas perut datar Aida, menggeser sedikit ke arah bukit kembar yang teramat indah. Karena Fadillah masih merejang kedua pergelangan tangan Aida di atas kepala dan ditekan ke kasur, maka amat leluasa bagi Arrul untuk mengusap dan meremas-remas payudara yang menggemaskan itu. Apa yang belum terlalu lama ini dilatihnya di tubuh sang ibu kost, Kuntari Rianawati alias ibu Wati, kini dapat dipraktekkan di wanita idaman yang pernah diintipnya ketika ML : Aida, simpanan sang paman.
Dengan menundukkan kepalanya Arrul bergantian menciumi dan menjilati kedua puting Aida sehingga semakin mencuat ke atas, penuh rasa sayang dan gemas digigit-gigitnya pula.
Auuuuw, sakit! Ngilu! Jangan! Lepaskan ak—ummmmhhhhmmppffhh!!Tak banyak suara keluar dari mulut Aida yang membuka selebar-lebarnya karena merasa kesakitan begitu Fadillah menyumpalkan rudal kebanggaannya sejauh mungkin, menyebabkan ia tersedak.
Ooooooohh, emang nih mulut diciptakan buat nyepong! Neng pinter ya... iya, gitu terus! Duh gusti, nggak tahan lama diginiin sama bidadari! Abis ntar isi biji peler abang disedot si neng, aaaaaah!“ Fadillah merem melek keenakan, kedua tangannya tetap menekan nadi Aida di kasur, sedangkan rudalnya terbenam di rongga hangat mulut sang korban.
Hei, Rul, mau nyobain nggak nih disepong bini ustadz, ngerasain lidah bidadari nyapuin kepala tongkol loe? Biar belom dicuci juga pasti ntar bersih licin mengkilat di-servis!“ Fadillah semakin menjadi dengan ocehannya yang sangat merendahkan derajat Aida.
Arrul menyeringai mesum dan menggeser dirinya semakin naik ke atas, sehingga kemaluannya dapat terjepit dan tergosok-gosok di antara bukit kembar Aida. Akibatnya benda itu kini semakin terlihat membesar, mengangguk-angguk. Dengan aba-aba Fadillah yang kini ingin turun ke bagian badan Aida lainnya, maka Arrul membungkuk ke depan, mengambil alih mencekal nadi Aida di atas kepalanya dengan satu tangan. Kemudian dengan tangan satunya Arrul menyodorkan penisnya ke depan mulut Aida yang setelah dibebaskan dari sumpalan rudal Fadillah berusaha dirapatkan sekuat tenaga.
Pertahanan Aida ini hanya sebentar saja, karena Arrul menjepit hidung bangir Aida sehingga ia tak bisa bernafas lagi. Terpaksa Aida membuka sedikit mulutnya. Jari-jari tangan kasar Arrul dengan sadis mencekal janggut dan pipi Aida, ditekannya sekuat tenaga, sehingga terasa sangat sakit oleh Aida yang mau tak mau membuka mulutnya dan segera disumbat oleh Arrul.
Iya, emang bener banget pak Fadillah. Ini servis luar biasa! Terus gitu, bu! Duh halus banget nih lidah, mana anget lagi! Aaaaah...“ Arrul telah sepenuhnya dikuasai oleh iblis yang gembira melihat semua muslihatnya berhasil.
Aida hanya dapat mengalirkan air mata dan dengan suara teredam ia menangis terisak-isak meratapi nasib, namun semuanya tak menimbulkan rasa iba bagi kedua pejantan itu. Malah Fadillah kini telah bergerilya di bagian bawah tubuh Aida; tangannya yang masih sangat kuat walau usianya sudah setengah baya, memaksa merentangkan lutut paha Aida yang dirapatkan sekuat tenaga. Hanya sebentar Aida dapat mempertahankan pemandangan ke auratnya, perlahan-lahan namun pasti tenaganya dipatahkan.
Disertai seringai mesum si pemilik warung, muncul panorama selangkangan Aida yang sukar dicari tandingannya. Karena mengerahkan tenaga sejak melawan Arrul tadi, dan kini diulangi lagi untuk melawan Fadillah, maka ketika akhirnya dikalahkan, otot-otot paha, betis dan kaki mungil Aida kesemutan. Seolah mendapatkan bisikan dari sang iblis, Fadillah agaknya mengerti keadaan korbannya itu, dengan meraba mengusap-usap telapak kaki, betis dan paha Aida, maka rasa kesemutan itu semakin menjadi, semakin menyiksa Aida.
Euurrrgggh, ssssshhh, nggggrrrrhhh, rrrrrrnnnnngggh, aaauuuuuwwwffrrrg, sssshhhhh...“ Aida menggelinjang sejadi-jadinya, menggeserkan pinggulnya kesana sini ketika mulut kasar dan lidah Fadillah mendekati lipatan selangkangannya yang terasa ngilu karena terus menerus melawan tenaga kedua lelaki pemerkosanya.
Fadillah tak perduli dengan Aida yang sudah kewalahan dan menderita dalam cengkraman mereka. Bagaikan serigala kelaparan ia mendengus dan menciumi setiap jengkal, setiap milimeter kulit mulus Aida. Dari jari-jari mungil kaki, celah diantara jari kaki, telapak kaki, pergelangan kaki, betis, paha, semuanya diendus-endus, dicium dan dijilati sehingga basah kuyup oleh liur Fadillah yang bau menjijikkan, mengotori kembali tubuh mulus yang baru mandi itu. Bahkan Fadillah telah menyembunyikan wajahnya di tengah paha putih Aida, kumis dan janggutnya yang telah beberapa hari tak dicukur menggesek bagian yang begitu halus dan peka. Bagi Aida, itu seolah-olah kulitnya terkena sikat ijuk yang sangat kasar.
“Aaaaah, wangi amat nih paha! Putih lagi, emang selangkangan bidadari! Tembem belahan durennya, pasti manis air madunya ya, neng?“ celoteh Fadillah menambah rasa malu tak terkira bagi Aida. Apalagi ketika dirasakannya jari-jari nakal si pejantan mulai mengorek-ngorek celah kewanitaannya, mengutak-kutik di situ, menyebabkan cairan kewanitaannya kembali mengalir.
Hmmh, mana tuh biji jagungnya? Abang cariin ya, neng, ntar dicucup-cucup lama biar mekar, gede kayak biji melinjo, hehehe!Jari dan lidah Fadillah kini beraksi bersama melebarkan bibir kemaluan Aida ke samping, mengutik lipatan atasnya, sehingga akhirnya terlihat kelentit merah jambu yang begitu menggiurkan.
Ini dia yang abang cari dari tadi! Hmmmm, abang emut ya, neng, biar makin nonjol, biar tuh pantat makin goyang-goyang kayak ngebor di panggung!
Dengan bibir tebalnya Fadillah menjepit daging peka di pusat kenikmatan Aida, menyebabkan istri ustad Mamat itu semakin kewalahan dan sadar dirinya sedang dirangsang habis-habisan dan dipaksa untuk mencapai orgasme. Sebagai wanita dewasa yang sehat jasmani dan rohani, maka Aida tak dapat melawan meningkatnya gairah di tubuhnya yang dirangsang secara simultan oleh dua lelaki.
Rasa kesemutan di paha dan betisnya kini terganti oleh rasa hangat dan gairah karena ujung-ujung syaraf di kulitnya menerima dan menyerap setiap sentuhan, rabaan dan remasan, entah halus maupun kasar. Semuanya perlahan-lahan disalurkan melalui sumsum syaraf di tulang belakang, menjurus ke otak, berkumpul disitu, semakin lama semakin memuncak, membuat kepala Aida bagaikan terputar di angkasa. Sodokan penis di mulutnya yang begitu kasar tak dapat menghalangi gelombang demi gelombang kenikmatan dari klitorisnya.
“Ssshhhhh, eengggrrrgghh, ooouggghhhh!” Tubuh Aida yang sintal montok melengkung ke atas. Bukit kemaluannya terangkat melekat ke wajah Fadillah, seolah memohon agar rangsangan di kelentitnya tak berhenti, agar gigitan mesra di situ semakin ditingkatkan, dan semua permintaan istri ustadz Mamat itu dipenuhi oleh Fadillah.
Sekitar tiga menit kemudian barulah tubuh Aida kembali dari lengkungan orgasmenya, namun kini siksaan berikutnya telah menunggu. Fadillah sudah ingin menikmati tubuh bahenol Aida yang telah lama tak disetubuhinya, karena kebanyakan hanya dimonopoli oleh pak Sobri.
Arrul diberi aba-aba oleh Fadillah yang kini membalik tubuh mangsanya sehingga berubah menjadi posisi merangkak. Masih dalam keadaan setengah duduk dan penis tetap gagah mengacung, Arul menarik rambut Aida yang tergerai kusut ke bawah mendekati ujung kepala jamurnya. Dengan terpaksa disertai liangan air mata, Aida bertumpu pada kedua siku. Diraihnya batang kejantanan Arrul, dikocok dan diurut-urut dengan jari lentiknya. Lidahnya turun naik menjilati batang berwarna coklat hitam yang berhias dengan banyak pembuluh darah melingkar, sebelum kepala jamur daging itu dimasukkan ke dalam rongga mulutnya yang hangat.
Aaaaah, iyaaaah! Terus, bu, remes-remes biji pelir saya! Ooooooh... pijit-pijit, bu, kocok-kocok! Hmmm, nikmat! Ntar ibu saya kasih obat awet muda!“ Arrul telah melambung ke langit merasakan semua impiannya kini terkabul.
Sementara itu dari belakang, Fadillah telah mendekati Aida. Dilihatnya beberapa tetes air mazi keluar dari celah kewanitaan Aida, membasahi sprei putih di ranjang. Terlihat betapa mungil dan sempitnya memek Aida meskipun telah sedemikian sering dicolok dan ditembus kemaluan pak Sobri. Fadillah menyentuh dan membiarkan kepala penisnya yang bagaikan topi baja serdadu dijepit oleh bibir kemaluan Aida yang berkedut-kedut perlahan sebagai peninggalan orgasmus yang baru saja melanda. Beberapa kali tujuannya meleset, sampai akhirnya usahanya berhasil.
“Aghhhh... masuk juga nih cangkul pusaka ke dalam memek bidadari. Peret, sempit! Pantes pak Sobri betah banget nangkring di situ. Tahan dikit ya, neng, abang mau gali madu!“ demikian celoteh Fadillah sambil perlahan-lahan mendorong, menekan, memutar, menekan, mendorong masuk kemaluannya mili demi mili ke dalam gua gelap berlendir itu.
Kini sempurna sudah penderitaan Aida yang selalu ditakutinya : menjadi korban perkosaan oleh lebih dari satu lelaki; bukan suaminya sendiri ustadz Mamat yang sudah mengabaikannya, bukan kekasih gelapnya pak Sobri, melainkan pak Fadillah si tukang warung dan keponakan pak Sobri, mahasiswa kota yang tanpa disadari Aida pernah mengintip ketika dirinya digarap oleh pak Sobri.
Tersengguk-sengguk dan tersedak-sedak Aida kini digarap oleh dua lelaki, dorongan dan tekanan batang kemaluan Fadillah menyebabkan wajah Aida lebih masuk lagi ke dalam tongkol Arrul sehingga menyentuh langit-langit dan ujung kerongkongannya. Apalagi kini Arrul semakin bersemangat, dipegangnya kepala Aida yang dipaksanya turun naik keluar masuk menyepong batang penisnya.
Tak ada kekuatan dari Aida untuk melawan kedua lelaki yang telah dipenuhi kekuasaan iblis itu, hanya sekali-kali ia mencekal paha Arrul dengan keras karena berusaha memperoleh nafas. Tapi Arrul tak perduli, ia sudah kesetanan dan sangat terangsang melihat wanita idamannya, rambut tergerai tanpa kerudung, mata kuyu memelas berlinang, lubang hidung mungil kembang kempis menahan isak tangis, dan mulut yang kecil dipaksa membuka selebarnya untuk mengulum.
Dari belakang, Fadillah pun sangat puas mendengarkan desahan dan rintihan putus asa Aida setiap kali ia menghunjamkan rudalnya menikam rahim yang sangat peka, bermenit-menit, hingga...
Kita gantian lagi yuk, sekarang masuk babak penentuan, si Arrul pasti juga udah pengen ngejos. Iya kan, Rul?“ demikian tanya Fadillah memberikan kembali tanda mengubah posisi badan.
Oke aja, boss. Iya nih, burung saya udah pengen matok di dalam sumur, pengen dicelup ke madu, nyampur ama lahar bening! Hehehe...“ jawab Arrul yang kemudian merosot merebahkan diri terlentang.
Sini, neng, saya bantuin supaya gampang masuk. Pegangin batang kamu, Rul, biar ngacung ke atas kayak tugu Monas, ntar jadi lancar masuknya.“ demikian Fadillah mengangkat tubuh Aida yang lemas dan diarahkannya vagina korbannya ke penis Arrul yang tegang, sedangkan Arrul juga membantu dengan memegang lipatan paha dan pinggul Aida.
Sekali dua kali meleset, akhirnya ...Bleessz, bleeeeszz!”
Vagina Aida bagaikan duren dibelah dari bawah, celah yang telah basah itu kini tak terlalu sukar mencakup dan memeluk penis yang telah menunggu. Aida telah pasrah dan hanya merintih lemah ketika merasakan penis Arrul menyeruak dan memasuki liang surgawinya.
“Iya, gitu! Pinter banget ibu manis, ibu cantik, ibu semok! Sini saya pegangin, udah lama banget saya ngimpi tidur ama ibu, hehehe... akhirnya kesampean juga!“ Arrul dengan penuh nafsu menciumi Aida yang kini dalam posisi lemah tertelungkup di atas tubuhnya. Kedua tangan Arrul dengan mesra memeluk tubuh bugil Aida, sehingga Aida tak dapat berkutik lagi.
Menyaksikan adegan itu maka Fadillah menyeringai lebar, ia mendekati kedua insan itu. Dengan memperhatikan agar penis Arrul tetap terhunjam di vagina Aida, kini posisi pinggul dan paha Aida ditariknya agak ke atas, dengan demikian pantat bulat bahenol itu menungging sangat menggairahkan setiap mata lelaki.  Fadillah meludahi telapak tangan dan kepala penisnya.
Dalam keadaan sangat letih Aida sudah tak memperdulikan bagaimana keadaan tubuhnyaapalagi saat ini dipeluk erat oleh Arrul yang juga menciumi mulutnya lebih mesra dari tadi.
Aida hanya merasakan aneh bahwa Fadillah menghentikan genjotan, padahal ia belum lagi merasakan bahwa si pemilik warung itu telah orgasmus. Namun kini Aida merasakan bongkahan pantatnya diusap, diraba, diremas dan dibelah.
“Oooh, jangan-jangan... Fadillah ingin masuk ke situ... ooooh tidak! Cukuplah aku merasakan betapa derita dialami setiap kali pak Sobri menagih main ke portal paling kecil itu
Aida berusaha berontak dan berteriak, namun tetap tak berdaya dipeluk erat Arrul dari bawah, bahkan kedua kaki Arrul justru kini dikaitkan di pinggangnya yang ramping, sehingga Aida jadi tak berkutik sama sekali.
“Jangan, pak! Tolong kasihani saya! Saya nggak mau disodomi! Udah, lepasin, jangan masuk situ! Aaaaaah, aduh! Ampun, auuw! Sakit, sakiit...“ Aida menggelepar-gelepar bagaikan ikan yang dihempaskan keluar dari air sehingga tak ada oksigen.
Uuuuuuhh, bandel amat nih bini ustadz! Mungkin belum pernah dicoblos di situ, belom pernah dientot di situ ya, neng? Wah, sopan banget maennya pak Sobri kalau gitu! Sekarang saya ajarin ya,“ Fadillah rupanya sengaja memancing emosi mangsanya.
Aduh, tolong pak! Saya nggak tahan ditusuk di situ! Sakit! Udah, pak! Jangan diterusin, saya mohon! Ampun, saya mendingan mati aja! Auuuuuuuw...“ Aida memekik sekuatnya ketika dirasakan kepala penis Fadillah berhasil menjebol pertahanan otot lingkar anusnya, dan memang ini yang selalu dirasakan sebagai awal siksaan jika bersanggama di anus.
Kedua pejantan itu berdiam diri sejenak, rupanya memberikan kesempatan bagi Aida untuk beradaptasi. Setelah kurang lebih dua tiga menit, baru mulailah kedua lelaki pemerkosa itu bergantian menggerakkan badan mereka. Jika yang satu menekan masuk, maka satunya menarik rudalnya sedikit sehingga hanya kepala penisnya yang berada di dalam lubang jarahan. Demikian sebaliknya pada gerakan berikutnya.
Karena bagian intim Aida sedemikian kecil mungil, maka terlihat sangat menyesakkan sekaligus ketika diisi dengan rudal daging yang besar-besar itu. Terlihat betapa bibir memek Aida ikut tertarik keluar atau ikut terdesak ke dalam, demikian pula tepi anus berotot lingkar tertarik dan terdorong ke dalam. Arrul dan Fadillah tak perduli akan hal itu, tak perduli akan rasa nyeri, ngilu dan sakit yang dialami Aida. Mereka menikmati sepenuhnya penderitaan sang korban. Nafsu birahi mereka telah berkobar naik ke ubun-ubun dan semakin dipacu oleh wajah cantik manis Aida yang dilanda kesakitan maupun oleh keluh, desahan dan rintihan memilukan.
Gimana, bu, rasanya kali ini? Enakan mana ngelayanin satu orang apa dua sekaligus? Pasti lebih mantab maen bertiga ya? Ngaku aja deh, bu, nggak usah malu-malu!“ demikian Arrul berceloteh.
Pasti lah mantab, Rul. Udah ah, jangan ngoceh melulu, si neng pasti nggak puas kalau digunyeng tanggung. Ayo kita tambah lagi persneling biar si neng puas mesinnya diservis dua montir!“ Fadillah menganjurkan dan menegur Arrul yang cengengesan.
Tak ada lagi sisa pertahanan Aida saat ini, badannya seolah-olah boneka yang dipermainkan oleh dua orang anak nakal. Rasa perih, ngilu dan sakit tersayat-sayat di anus dan rahimnya berangsur-angsur menurun, berkurang. Dari dalam pusat keintimannya kini muncul reaksi normal wanita dewasa. Reaksi yang menutup dan mengimbangi rasa sakit. Setiap genjotan, pompaan dan gesekan semakin membuat rasa panas, gatal dantanpa dikehendaki oleh Aida—mulai muncul rasa nikmat.
Hal ini tak pernah dimengerti Aida : mengapa hal sama juga dialaminya ketika harus melayani Sobri yang sering kalap dan sadis dalam menggarap. Mengapa tubuhnya selalu mengkhianati. Kenapa tubuhnya bereaksi lain daripada apa yang terdapat di dalam benaknya.
“Aku tak mau, tak ingin dinodai, tak rela dijahanami, tak sudi diperkosa. Aku sudah bersuami meskipun dilalaikan.” Demikian hati kecil Aida berkata. Apalagi sebagai wanita alim shalihah, Aida sejak kecil selalu diajar, diberi pendidikan yang ketat mengenai agama, ini tak boleh, itu terlarang, ini haram, itu maksiat, apalagi mengenai seksualitas, tak pernah ada penerangan yang netral dan obyektif, semua tabu.
Aida tak menyadari bahwa apa yang dialaminya, apa yang dirasakannya adalah biasa dan normal untuk semua wanita dewasa di dunia : rangsangan dan kenikmatan seksual itu normal. 
Kedua pria pemerkosanya mempunyai stamina sangat bagus, terutama Fadillah yang jauh lebih tua, ternyata masih cukup kuat menandingi Arrul. Lebih dari tiga perempat jam mereka menggenjot serta menguasai tubuh Aida dengan segala macam posisi, termasuk sodomi dari Fadillah. Rintihan sakit memilukan dari mulut Aida perlahan-lahan namun pasti kini berubah menjadi desahan wanita dewasa yang telah bangkit nafsu birahinya. Semua itu didengar oleh kedua pejantan yang sangat puas, dan mereka pun merasakan bahwa lahar panas mereka telah mendidih, siap untuk keluar dari biji pelir mereka. Karena itu keduanya mempercepat ritme; keluar masuk, tarik dorong, putar ke kiri kanan, diserta dengusan bagai kuda pacuan.
Ooooohh, aaauuuuuuww, ngiluuuuu! Aaaaaah, paaaaak! Oooooooh...” Aida tak menyadari lagi apa yang dikatakan ketika tubuhnya dilanda orgasme, bersamaan dengan kedua pejantan pemerkosanya yang menyemburkan lahar kejantanan mereka di lubang sempit di tengah selangkangan dan diantara bongkahan pantat semok bahenol istri ustadz itu.
Ketiga insan itu masih dalam posisi sama selama beberapa menit, dan mereka kelihatan agak berat untuk langsung melepaskan mangsa mereka, sehingga keduanya pun berusaha menyemburkan air mani mereka sampai tetes terakhir. Aida merasakan hal sama, dan tanpa keinginan dan kesadaran, otot-otot polos bagian intimnya berkedut, berdenyut meremas-remas kedua rudal pejantang kampung itu.
Namun malam itu ternyata panjang... sangat panjang, karena kedua lelaki pejantan itu tak hanya satu dua kali menggarap Aida dengan segala macam cara, teknik dan posisi. Melewati tengah malam, akhirnya Aida tak perduli lagi. Ia telah benar-benar menjadi liar. Semua jenis persetubuhan yang dulunya sangat menjijikkan bagi Aida,  telah dialaminya, mengubahnya dari istri ustadz alim shalihah menjadi wanita dewasa yang mengerti betul bagaimana kenginan para pria, bagaimana membalas mereka.
Di tengah kegelapan malam, Arrul dan Fadillah meninggalkan rumah usradz Mamat dengan penuh kepuasan. Aida sendiri terlelap tidur di bawah selimut tanpa selembar benang pun, ia telah berubah menjadi bidadari jalang yang haus akan jamahan lelaki.
Masih ada seorang adik Aida yang sampai saat ini masih lolos dari semua jebakan dan kuasa iblis. Siapakah dia? Apakah kesuciannya akan berhasil dipertahankan  sampai di malam pengantin, atau...? Apakah kemelut kegilaan dari para pelaku di keluarga ustadz Mamat; Aida dan adik-adiknya, para murid madrasah, para pejantan yang haus seks di serial ini sudah berakhir?

Bila ingin memiliki cerita ini yang disertai dengan gambar, silahkan tulis e-mail kepada : elzhakhar@hotmail.com

6 komentar:

  1. Min tolong lanjutin wasiat harta warisan dong,,bikin ekse ratih ma centengx

    BalasHapus
  2. edan bagus pisan

    BalasHapus
  3. Bagian ekse nya kurang detail. Mulai dari paragraf "kini sempurna sudah..." kurang didesripsikan bagaimana adegannya. Yang bagian kedua dari seri ini, ekse Sobri x Aida padahal sudah detail. But nice update anyway, yang penting semoga tamat

    BalasHapus
  4. gak bosen ngecek apakah serial Ochi kakak ku yg sexy itu dilanjutin atau enggak? sejenis cerita yg menantang

    BalasHapus
  5. lanjut part 13 min
    tak tunggu

    BalasHapus