Senin, 15 Mei 2017

MILF di Sekolah

Pagi yang cerah. Mendung yang selama dua hari ini menggelayut di langit, hilang entah kemana. Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik pepohonan, membangunkan burung-burung dan manusia yang berniat untuk sekedar lari pagi atau jalan kaki.
Di pelataran, kutunggui cucuku yang sedang bermain bersama teman-temannya. Santai kunikmati kesegaran pagi ini sambil melirik ke kiri dan ke kanan, bahkan kadang-kadang melotot apabila melihat pemandangan yang sedikit agak menarik. Entah itu baju yang terlalu ketat, atau rok yang terlalu pendek. Yang jelas, dua-duanya membuat air liurku menetes deras.
Cantiknya!” batinku saat melihat seorang perempuan melintas menggandeng anaknya. Tanpa menoleh, perempuan itu terus berlalu. Cuma goyangan pinggulnya saja yang tertinggal, memanjakan mataku yang agak sedikit juling.

Hilang perempuan itu, datang segerombolan ibu-ibu muda yang berjalan beriringan sambil bersenda gurau. Goyangan dada mereka yang sentosa membuat mataku terpana. Tiba di sampingku, ibu-ibu muda itu tersenyum. Mereka heran melihat lelaki tua yang menunggui cucunya di TK.
“Ibunya kemana, Kek?” tanya salah satunya, yang berjilbab merah.
“Ibunya sibuk,” aku menjawab. “Lagian, cucu saya itu lebih dekat sama saya, dia malah nggak mau kalau diantar ibunya.”
“Ooo, begitu ya,” mereka menyahut serempak. Setelah basa-basi sejenak, mereka pun berlalu.
Semakin siang, suasana menjadi semakin ramai. Dan semakin banyak juga ibu-ibu cantik yang kutemui. Rata-rata masih muda dan berusia belasan, hanya sedikit yang umurnya lebih dari 30 tahun. Kutaksir mereka mengantar putra pertamanya ke sekolah ini, satu hal yang mestinya juga dilakukan Furi kalau saja dia tidak sibuk.
Aku sih tidak keberatan disuruh mengantar Rangga, karena selain aku memang sayang pada cucuku itu, aku juga bisa memanjakan mata di sini. Bayangkan, dua jam dikelilingi puluhan ibu-ibu cantik dan seksi, siapa yang tidak mau coba?
Apalagi banyak dari ibu-ibu itu yang ternyata ramah dan baik hati. Ramah karena mereka tak sungkan mengajakku ngobrol. Dan baik hati karena mereka tak risih mempertontonkan keindahan tubuhnya kepadaku. Sebagai lelaki normal, sering jantungku dibuat kebat-kebit oleh mereka. Yang ujung-ujungnya terpaksa kutuntaskan dengan onani di rumah karena istriku sudah meninggal dua tahun yang lalu.
Di antara beberapa ibu-ibu itu, aku paling suka dengan Riana. Dia yang menurutku paling cantik. Sehari-hari berjilbab, tapi tak sungkan memakai pakaian ketat yang sedikit mempertontonkan keindahan tubuh sintalnya. Suaminya kerja di luar kota, pulang seminggu sekali. Jadi tak heran kalau dia agak-agak gersang, satu hal yang nantinya akan bisa kumanfaatkan.
Selain Riana, juga ada Devita. Gadis berhidung mancung ini lebih pendiam, tapi tubuhnya lebih montok dibanding Riana. Kalau mengantar ke sekolah sering telat, hingga harus berlari-lari masuk ke kelas. Dari situlah puas kunikmati goyangan payudaranya yang memantul-mantul indah begitu dia berlari.
Devita ini memiliki sobat karib, namanya Cecil. Katanya sih teman sejak masih kuliah. Mereka kini tinggal bertetangga. Cecil berbodi bongsor—perabot atas bawahnya gede. Wajahnya lumayan cantik meski tidak mulus karena beberapa jerawat menjajah bagian kening dan pipinya yang cukup berisi. Ia bermata sipit, beralis tebal, dan berbibir sensual. Pipinya tembem. Cecil selalu mengikat rambutnya dengan gaya kucir kuda. Jika diurai, rambutnya hanya sebatas pundak.
Selain Cecil, juga ada Dearani yang melengkapi geng tiga sekawan ini. Dearani paling kalem di antara mereka bertiga. Juga paling pintar. Bercandanya selalu cerdas. Meski langsing, tapi badannya lumayan padat. Aku sering melirik ke arah bulatan pantatnya yang bulat dan tebal, bergerak-gerak indah kalau ia berjalan. Sama seperti Riana, sehari-hari dia berjilbab.
Empat sudah kusebutkan, masih ada beberapa lagi. Untuk sisanya kusimpan buat nanti saja, karena hari ini ada sebuah percakapan menarik yang cukup menyita perhatianku. Kejadian itu terjadi dua minggu sejak aku mengantar cucuku ke sekolah.
Dari puluhan ibu-ibu yang mengantar, hampir separoh masuk ke dalam kriteriaku. Cantik dan montok, itulah yang aku cari. Dan rata-rata mereka bisa memenuhinya. Hari ini, si montok Jelita yang membuatku menoleh. Nampak dia sedang berusaha menenangkan bayinya yang menangis. Tapi semakin berusaha untuk diredakan, semakin tangis anak itu pecah. Jelita mulai kewalahan untuk membujuknya.
”Cup-cup, Nak. Iya, sebentar lagi kita pulang. Nunggu kak Rani dulu.” rayu ibu muda itu sambil menimang-nimang si kecil dalam gendongannya. Rani adalah nama putri sulungnya, teman Rangga di TK A.
”Mungkin dia lapar, Mbak.” seru Riana.
Iya mungkin,” Jelita membenarkan.
”Kalau begitu cepat aja disusui.” usul Dearani.
”Dia nggak mau minum ASI saya.” jelas Jelita.
”Botol susunya mana?” tanya Cecil yang ikutan mendekat.
Emm,” Jelita nampak berpikir.
“Mbak lupa nggak bawa?” tebak Dearani.
“Lho, kan jadi kasihan si kecil. Dia lapar.” Devita berkata.
Jelita menggeleng, tak ingin disudutkan. “Bukannya aku lupa, tapi... jatah yang beli kemarin sudah habis tadi pagi.”
”Maksud, Mbak, sekarang sudah nggak ada susu lagi.” Dearani menebak lagi.
Jelita mengangguk sambil menelan ludah yang terasa kian hambar di lidahnya.
”Kasian Dodie, mbak.” Cecil mengusap kepala bayi itu. ”Kalau saja aku bawa uang, ingin aku meminjamkannya ke mbak buat beli susunya si Dodie.”
”Ini aku bawa, pakai ini saja dulu.” Devita membuka dompetnya. Tapi saat lembaran uang diulurkan, Jelita malah menolaknya.
“Jangan, nggak usah. Biar nanti aku beli setelah mas Irfan pulang,
“Kita lapar masih bisa nahan, Mbak. Tapi anak kecil kan nggak bisa.” Devita berkata, kembali mengangsurkan uangnya.
”Iya, aku juga tahu. Tapi...” Jelita masih nampak berat. Rupanya dia tipe orang yang tak ingin dikasihani.
Trus si Dodie mau dibiarkan kelaparan?” Devita terus mendesak.
”Ya enggak lah, biar kukasih air gula aja.”
Mana ada gizinya, mbak.” Dearani ikut mendukung. “Sudahlah, ini terima saja.”
Jelita terdiam, nampak berpikir keras. Riana memeluk pundak sahabatnya itu. ”Kami selalu disini kalau Mbak butuh sesuatu.”
Jelita mengangguk dan balik memeluk pinggul Riana. ”Iya, terima kasih ya.” Dan akhirnya, dengan terpaksa tangannya terulur, menerima uang dari Devita.
Semua orang tersenyum. Termasuk juga aku yang hanya melihat sedari tadi, sambil sebuah rencana mulai terbentuk di dalam otak mesumku.
Sepulang sekolah, sambil pikiranku mengembara membayangkan tubuh montok Jelita, aku terus melangkah menyusuri jalan. Rumahku sudah tidak jauh lagi, bahkan pagarnya pun sudah kelihatan. Terus melangkah menembus debu tipis yang melayang-layang di atas tanah, terasa angin yang berembus lirih menerbangkan dedaunan yang rontok di penghujung musim kemarau.
Rangga kusuruh pulang duluan, sementara aku berbelok, singgah ke sebuah rumah yang sudah sering kulewati, tapi luput kuperhatikan padahal penghuninya cantik sekali. Aku melirik ke dalam dan tersenyum begitu melihat pemiliknya berdiri dalam balutan baju kurung. Jelita sedang melepas baju anaknya ketika aku datang.
“Assalamualaikum.” Aku mengetuk pintu, perlahan.
Dia menoleh dan langsung kaget saat melihatku. “Eh, Pak Bakri. Kukira siapa.”
Aku tersenyum. Kupandangi ibu muda itu tanpa berkedip. Jelita nampak cantik di usianya yang menginjak tiga puluh tahun. Tapi bodinya masih seperti remaja. Sekal dan padat. Terutama tonjolan buah dadanya, yang seperti mau tumpah karena penuh berisi air susu.


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar