Sabtu, 13 Mei 2017

Paradiso 12



Fragmen 52
Just The Way You Are

Diam-diam Ava melirik wajah Sheena yang dipenuhi lebam biru bekas dipukuli tempo hari, miris. Wajah keras itu sungguh kalah jauh dibanding Indira. Namun, kini Ava membatin: sungguh tidak perlu wajah secantik bidadari, dan tidak perlu menjadi seorang puteri untuk bisa meraih akhir bahagia.
Sheena tidak perlu berdandan manis seperti Indira, Sheena tidak perlu memanjangkan rambut dan mewarnainya sedemikian rupa. Cukup begini saja...
Sheena mulai salah tingkah saat menyadari Ava diam-diam meliriknya. Perlahan tubuh Ava yang menempel di sampingnya terasa makin panas. Namun cewek tomboi itu hanya bisa bernyanyi, hingga lagu mereka mengalun sayup-sayup sampai kamar kerja Pak De....
Jangkrik berderik mengiringi, angin malam berhembus memayungi, dan sepasang jantung itu semakin berdegupan...


***

Lucille memandangi tubuh gemuk yang telanjang dan dipenuhi bulu dengan perasaan berdebar. Tubuh itu sungguh jauh berbeda dengan tubuh tegap-kekar yang dulu merenggut kegadisannya, namun senyum dan tatapan mata yang tersembunyi di balik kumis dan jambang yang memutih itu masih tetap seperti dahulu, hingga membuat dirinya yang masih remaja begitu tergila-gila pada pelukis urakan dari sebuah negara tropis.
Lucille membenamkan dirinya dalam pelukan Pak De, menciumi aroma keringat Pak De. Aroma feromon yang membiusnya, perlahan membuat Lucille kembali dijangkiti gairah, namun kali ini diwarnai dengan percik-percikan asmara.
"Kak..." Lucille mendesah manja, sebelum menciumi leher dan pipi Pak De.
"Mmh..." Pak De mendengus, menyambut ciuman Lucille dengan bibirnya. Dipagutnya bibir Lucille yang sensual dan lembut itu sambil mengusap wajah Lucille yang sayu.
Lucille membiarkan bibirnya dikecup dan lidahnya dihisap oleh Pak De. Dijulurkannya lidahnya, hingga saling membelit dan membeai di dalam sana, "Mmmh... mmmh... hhh... hh..." dan yang terdengar kemudian hanyalah suara lenguhan dan nafas yang memburu.
Tangan Pak De yang kini bergerak membelai sekujur tubuh Lucille, membuat suara desahan sensual terdengar dari sela-sela bibir yang saling melumat.
"Kak... oooh..." Lucille mengerang lemah. Pak De membelai payudaranya, memainkan puting-putingnya yang menegang, membuatnya semakin menggelinjang gelisah, dan kewanitaannya semakin basah.
“Hah... hh... hh...” Pak De dan Lucille saling tatap dengan nafas memburu, tak sampai berapa saat sebelum Pak De menyergap leher Lucille, membenamkan wajahnya yang dipenuhi brewok ke leher Lucille yang jenjang. Dihisapnya kulit halus itu, dan direngkuhnya tubuh molek indah ke dalam tubuhnya yang gemuk berisi, hingga sepasang tubuh telanjang yang berselemak keringat itu seperti menempel erat.
"Umh... ssshh..." Lucille menggesek-gesekkan selangkangannya yang gatal ke atas paha Pak De yang berbulu. Lucille membalas menciumi leher Pak De yang dibasahi keringat, dicecapnya rasa asin kulit Pak De yang tak lagi kencang, dan digigitnya pelan, hingga perlahan nafas Pak De semakin berat dan memburu.
Lucille menciumi sekujur tubuh Pak De, hidungnya yang mancung, serta bibirnya yang sensual bergerak lincah, melumat-menjilat setiap sudut tubuh Pak De. Setiap gigitan kecil yang didaratkan Lucille, membuat Pak De mengerang pelan, dan menjambak rambut Lucille yang diikat dan digulung.
“Gek... kamu... oooh...” Pak menggeliat kegelian, Lucille menggigiti perut bawahnya, dan terus turun kebawah, sampai... “Aaaaah....” Pak De menjerit tertahan, Lucille kini menciumi kejantanan Pak De yang layu. Segera ia melirik ke bawah, dan didapatinya Lucille sedang sibuk mengulum buah zakarnya.
Setiap kecupan, dan jilatan yang mendarat di kejantanan Pak De, seperti membuka simpul-simpul saraf yang mengendur. Perlahan batangan yang terkulai lemas itu mulai membesar, namun tak sampai berdiri tegak.
Dengan gemas Lucille menciumi kejantanan Pak De, menempelkannya di pipinya yang menyembul. Lucille menjilati sekujur batang Pak De, dari ujung hingga pangkal, naik-turun cepat dengan sepasang bibir hangat yang ikut memijat sekujur batangan yang masih melunak.
“Aaaah....” Pak De mengerang, matanya setengah terpejam. Lelaki itu kembali melirik ke bawah, dan mendapati wajah Lucille yang cantik tertutup rambut yang bergerai jatuh, maju-mundur, dengan mulut yang menelan habis kejantanannya.
“Gek... j-jangan...” Pak De megap-megap, berkelojotan liar. Kejantanannya seperti dibungkus rongga hangat yang bergerak menghisapnya. “Geeek...” Pak De mendorong kepala Lucille, karena sekujur tubuhnya serasa ngilu menerima perlakuan seperti itu.
Lucille tersenyum binal. Dibukanya ikatan di belakang kepalanya dalam gerakan yang sensual, menggoda, hingga sekarang rambutnya tergerai dan menutupi payudaranya yang menggantung indah.
Pak De mengerang lemah, namun yang dirasakannya hanya rasa geli, tak ada rasa nikmat sama sekali. Kejantanannya tetap tertidur lunglai. Lucille terus menjilati kejantanan Pak De, hingga akhirnya ia mendengus panjang, putus asa.
Pak De tersengal-sengal, iba pada Lucille yang menatap kosong, nanar. “Maaf... Gek...”
Lucille tak langsung menjawab, tubuhnya terasa panas oleh birahi, dan kewanitaannya sudah gatal ingin disetubuhi, namun Lucille terpaksa mencoba tersenyum.
Lucille menggigiti bibirnya, menghela nafas berkali-kali, lama sebelum berkata, “Ng-nggak apa-apa...” cepat-cepat wanita itu melebarkan senyumnya.
“Saya sudah nggak seperti dulu lagi... nggak kuat main banyak ronde kayak dulu...” bisik Pak De lirih, "maaf.." bisiknya berulang-ulang, "maaf..."
Dipandanginya Seorang Ksatria Tua yang tak lagi perkasa, menatap sendu seperti seorang prajurit kalah perang. Perlahan hatinya terenyuh. Lucille mengusap wajah Pak De, mencoba membesarkan hati Laki-laki tua itu, “Nggak apa-apa, kak... yang pertama tadi... puncak saya yang paling luar biasa...” bisik Lucille, dan senyumnya berubah tulus.
Pak De membelai rambut Lucille, “Makasih... Gek...”
Lucille tersenyum, perlahan puncak birahinya digantikan dengan puncak rasa kasih yang lebih nikmat dari segala orgasme di dunia.
I could not love you any better
I love you just the way you are...
I Love you just the way you are...” Lucille berucap pelan, namun penuh kepastian.

***

I love you... just... the way... you are...” Nada terakhir lagu itu terdengar mengambang, sumbang, karena dinyanyikan ragu-ragu, setengah berkumandang, setengahnya lagi tercekat di kerongkongan.
Dua orang itu mendadak saling tatap, dan kini ada jeda kosong yang dipenuhi suara jangkrik dan jantung yang berdebaran.
Ava memandang wajah Sheena lekat-lekat, sebelum bergerak mendekat, namun Sheena cepat-cepat beringsut menjauh dengan wajah merah padam dan senyum garing. Dirinya harus tahu diri, Ava bukanlah kepunyaannya, Ava adalah...
“Hujan, tunggu.” Ava berkata sambil menahan lengan Sheena.
Sheena terhenyak, perlu sedikit waktu bagi dirinya untuk memahami bahwa yang menatap matanya itu adalah Ava, bukan Awan.
“Hujan...”
“A-apa?”
Malam itu, Sheena tidak bisa melupakan senyum Ava yang serupa Awan, juga sepasang mata yang menatapnya teduh. Malam itu ruang dan waktu seperti diputar balik ke 10 tahun yang lalu. Cewek Tomboi bertato itu kembali menjadi gadis manis berkacamata yang menatap penuh harap ke arah pemuda remaja di caffe kecil di Jalan Legian.

***

kenangan Sheena

“Hujan.” Awan tiba-tiba berkata.
“Hah?”
“Hujan, nama belakangmu, artinya ‘Hujan’ kan?”
“I-ya.” Sheena mengangguk cepat.
“Cocok ya, Awan dan Hujan.” Awan berkata, agak bergetar.
Oh my God... Oh my God.... Sekarang nih... Awan mau nembak aku... aduuuh... aku jawab apa? Sheena mengerjap-ngerjap panik, “I-ya...”
“Hujan...”
“A-apa?”
Malam itu, Sheena tidak bisa melupakan senyum Awan, juga sepasang mata yang menatapnya teduh, seteduh kumpulan uap air di biru langit.
Awan menarik nafas panjang, “Hujan, Boleh saya....”

***

Ava menarik nafas panjang, “Mungkin sudah terlambat saya bilang ini sekarang, mungkin seharusnya dari dulu saya bilang ini.”
Intonasi Ava, nada suaranya, caranya berbicara, semua itu membuat dada Sheena dipenuhi tangis yang siap meledak.
"Ava... kenapa... sih... kamu... huk... huk..."
Ava tidak mengerti, kenapa Sheena mendadak menangis sesenggukan sambil meremas tangannya kuat-kuat.
“Lho, kok nangis? Aku kan belum ngomong apa-apa?” dengan bingung, Ava mengusap-usap rambut pendek Sheena yang sesengukan di bahunya.
Setelah tangisnya mereda, barulah Sheena bercerita tentang Awan, tentang Hujan, juga tentang cinta yang tak sempat diucapkan...

***

“Kak Gede, Kakak kenapa?” Lucille mengernyit bingung, melihat Pak De yang mengusap matanya berkali-kali.
Quote itu... Lagunya Billy Joel... dulu Julia nyanyi itu buat saya... hehe... uhuk... uhuk.... coba dipikir-pikir... gimana mungkin orang secantik Julia, bisa mau sama saya, pelukis urakan yang nggak jelas hehe... uhuk-uhuk...” Pak De terkekeh-kekeh sambil terbatuk-batuk, sebelum menyadari wajah Lucille yang cantik mendadak cemberut.
Pak De terkekeh jahil, “beh, jangan na’e cemburu...” Pak De mengekeh sambil mencubit pipi Lucille.
Lucille tetap manyun. Perkataan Pak De terakhir tadi, membuatnya kembali meragu.
Keraguan yang bertahun-tahun dipendam Lucille. Keraguan yang membuatnya meredam perasaan cinta kepada Kakak Iparnya itu, tanpa mampu mengucap.
“Kak... kalau boleh tahu... kenapa... Kak Gede cinta sama saya?” Lucille berkata pelan, suaranya sedikit bergetar.
Pak De terdiam lama, dan Lucille menggigit-gigit bibir bawahnya, berharap-harap cemas menanti jawaban yang akan diberikan Pak De.
Sang maestro menghela nafas sebelum berkata, “Saya pernah berpikir, saya nggak akan bisa mencintai seseorang lagi selain Julia... sampai kamu datang... dan... saya kira.... nggak ada lagi yang bisa jadi pengganti Julia buat Indira dan saya selain kamu, Gek...”
Lucille tidak menjawab lagi. Dunia seperti runtuh, begitu mendengar kata ‘pengganti’.
Lucille menunduk sambil menggigit-gigit bibir. Perlahan di matanya memelupuk air yang siap membanjir.

***

Dengan sabar, Ava mendengarkan setiap cerita Sheena, setiap kata, setiap perasaannya yang tidak sempat disampaikan kepada Awan. Tentang bagaimana Sheena melarikan diri dari masa lalunya, tentang bagaimana Sheena menggurati bekas luka di lengan kiri-nya dengan tatoo, menjadi pengukir perih, The Pain Carver.
Kini Ava mengerti semua...
“Maaf, jadi ngingetin kamu sama cerita yang sedih..." Ava menarik nafas berat, "M-memang... seberapa mirip... saya... sama...” Suaranya bergetar, pelan, lirih.
Sheena meremas tangan Ava, "A-aku yang minta maaf... tiba-tiba aja... aku..." Sheena mengusapi matanya yang membasah, "aku... juga nggak tahu... kenapa... kamu..." Mirip sekali dengan dia.

***

“Jadi cuma karena saya mirip dengan Kak Julia?” Lucille meringkuk, memunguti pakaiannya yang berserakan dengan tangan bergetar.
Pak De terdiam, lama. “M-maaf... bukan maksud, saya...” Ia berusaha memegang pundak Lucille, namun segera ditepisnya.
Lucille menggigit-gigit bibirnya, mengusapi matanya yang mulai berair.
“Saya sayang kamu, Gek... saya cinta kamu!”
“Yang Kak Gede cintai bukan saya, tapi bayangan Kak Julia.” suara Lucille bergetar, kerongkongannya sudah dipenuhi isak yang coba ditahannya dari tadi.
“Gek!” Pak De mencoba memeluk Lucille, namun wanita itu meronta kuat-kuat.
“Kak, lepas!”
Aku tidak mau jadi bayang-bayang...
Aku tidak mau Kak Gede mencintai bayang-bayang...
Cepat-cepat Lucille meninggalkan ruangan itu dengan tangis yang memecah pilu. Lucille tak ingin dicintai hanya karena mirip dengan seseorang, Lucille hanya ingin orang yang dicintainya mengatakan “i love you just the way you are...” cukup itu.

***

Sebuah lukisan terlipat di sudut terdalam buku sketsa Ava, tersimpan rapi di dalam hati, seperti juga tulisan yang tercetak buram di bawahnya: “aku akan menemukan langitku.
Aku pikir bisa menjadi Langit.
Namun, ternyata aku bukan Langit...
Aku hanyalah Bayang-bayang Awan...
Ava terbaring di bale-bale kayu, memandangi hiasan kupu-kupu yang bergoyang pelan. Hujan yang turun sepanjang malam masih menetes enggan, menitik satu-satu dari atap bambu. Ava menarik nafas, kemudian dihembuskannya malas, sementara Kanvas yang teronggok di dekat situ tidak disentuhnya sedari tadi, dibiarkan putih bersih, tak terisi.
Ada yang berbeda dari sesi latihan di hari minggu pagi ini, di mana mendung seperti ikut meliputi hati seisi penghuni Villa. Ava, Lucille, Sheena, dan Pak De, mendadak semua seperti dirudung mendung.
Terutama Sang Maestro, semangat Pak De yang biasanya berapi-api itu mendadak memadam, Lelaki tua itu hanya memberikan perintah ala kadar, memerintahkan Kadek, Ava, dan Sheena melukis ‘wajah sendiri’.
“Tadi pagi hujannya deras, ya...” Indira berkata, setengah menyindir, duduk di samping kepala Ava.
Ava tersenyum kecut, menyadari perkataan itu ditujukan untuk dirinya.
“Sebenarnya ada apa, sih?”
“Ng-nggak... nggak ada apa-apa...” cepat-cepat Ava tersenyum. Namun Indira tahu, senyum itu hampa, seperti langit yang kehilangan warna, mendung.
“Nggak cuma kamu. Ajik, Kak Na, Tante Lulu... ada apa, sih sebenarnya?”
Ava tidak menjawab, menghela nafas dan kembali memandangi kanvas kosong. “Enggak apa-apa kok... cuma... yah... ng-nggak dapet wangsit... hehehe...” Ava berkata, setengah berbohong.

***

Aku bukan bayang-bayang...
Lucille memandangi wajahnya yang memantul diatas permukaan teh. Uap panas mengepul, menerpa wajahnya yang sendu. Jemarinya yang lentik bergerak pelan mengaduk campuran teh chamomille dan madu, merenung lama di teras.
Aku tidak ingin dicintai hanya karena mirip seseorang...
Dada Lucille terasa panas mengingat kejadian malam tadi, bagaimana perasaannya diterbangkan ke awang-awang oleh Pak De, sebelum dijatuhkan dengan hina ke dasar bumi. Lucille mendengus, meremas-remas tangannya.
Pakaiannya sudah dikemas, dan seharusnya kapan saja ia bisa meninggalkan villa Pak De. Selain Indira, sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap tinggal di sini.
Lucille sungguh tidak ingin anak itu menangis lagi. Berkali-kali Lucille menarik nafas panjang, mencari penguatan, memandangi Indira dan Ava dari kejauhan, di mana gadis cantik itu dengan sabar membelai rambut Ava.

***

“Nggak apa, kalau belum mau cerita...” Indira berkata pelan, mengusap-usap rambut Ava. “tapi... Ava sayang, inget gak? Dulu, waktu aku dulu sedih, kamu selalu ada buat aku...”
Ava mencoba tersenyum, membiarkan rintik hujan mengisi keheningan di antaranya.
“Kamu yang selalu bilang semuanya akan jadi lebih baik... dan..." Indira menarik nafas, "nggak ada hujan yang nggak reda.” Indira membelai rambut Ava yang berbaring di pangkuannya.
Hati Ava mendadak perih, entah karena mendengar kata hujan, ataukah karena usapan lembut Indira yang membelai pelan, tulus.
Indira, maaf... maafin aku...
Tidak langit, tidak juga hujan yang perlahan mereda, yang bisa menahan Ava untuk tidak memeluk Indira. Gadis itu hanya tersenyum, mengusap-usap rambut Ava yang meringkuk seperti bayi raksasa.

***

Beh, kene be... seniman sing produktip... mecekle gen gaene...(1)” Kadek tahu-tahu muncul dari dalam Studio, menggeleng-geleng gemas melihat kanvas Ava yang masih kosong.
Kadek duduk di samping Ava, tangannya belepotan cat sengaja diusapnya ke baju Ava.
Ava nyengir kecut, “engkenang men... sing maan wangsit...(2)"

(1)  Gini dah, seniman nggak produktif... pacaran saja kerjaannya...
(2)  Gimana lagi, nggak dapat inspirasi...

Indira terkikik kecil, mendengar Ava berbicara dengan Bahasa Bali.
“Nah, daripada bengong lan galau... mai milu manjus ajak Luh Sari... suba mekelo raga sing ngenah, ne!(3)

(3) Ayo ikut mandi, sama Luh Sari juga... sudah lama saya nggak muncul, nih!

***

Fragmen 53
Over The Rainbow

Tak lama kemudian, yang terlihat hanyalah Sawah yang mulai bersemi nampak membentang sepanjang mata memandang, membentuk undak-undakan yang berkilau keemasan.
Dua sepeda kumbang itu bergerak terburu di antaranya, terhuyung di jalan tanah yang basah setelah hujan sepanjang hari. Gerimis masih berderai turun, menyisakan beberapa helai rintik tipis dari balik langit senja yang berwarna jingga. Beberapa kali mereka berpapasan dengan petani, juga turis yang asyik tracking di sore hari dengan sepeda.
Indira berpegang erat di pinggang Ava, yang tengah kesulitan mengendalikan sepeda tua milik Pak De. Sepeda kumbang itu berderak kencang dan berguncang-guncang, menuruni jalan menurun yang dipenuhi bebatuan.
“Kadek, tunggu!” Ava berseru pada Kadek dan Luh Sari yang berboncengan di depannya.
Kadek terbahak dan tak mau menunggu, sepedanya membelok tajam di jalan yang ditumbuhi semak perdu.
Ava terengah kelelahan saat mereka sampai di ujung jalan.
Beh, enduk gati...(4)” Ledek Kadek jahil, sambil memarkir sepedanya di bawah pohon pisang.

(4) Wah, Payah sekali...

Ava nyengir, terkekeh-kekeh pahit.
“Bli Kadek ni! Udah mending dia mau ikut... dari pada galau terus.” Indira berkata, menggamit lengan Ava, menuruni undakan batu di antara rerimbun daun pisang dan pepaya.
Indira lega, kekasihnya kembali tersenyum setelah seharian ini murung, seperti mendung yang memayungi langit Ubud semenjak pagi, tapi sore ini perlahan semua kembali cerah, seperti langit yang memancarkan rona jingga ke wajah Ava.

***

“Dira! Sini!” Luh Sari berucap riang, melambai ke arah Indira sambil berdiri di antara hamparan air yang merona jingga, memantulkan panorama langit senja.
Indira menyusul, membaur bersama kerumunan ibu-ibu yang mencuci dengan menggunakan kemben.
Ada sebuah bendungan kecil yang membendung aliran sungai, mengalirkannya menuju saluran irigasi yang mengairi persawahan di desa itu. Beberapa warga dengan berbagai bentuk dan ukuran tubuh nampak mandi dan mencuci di situ.
“Lama ndak manjus bareng..” Luh Sari berkata, sembari membuka kancing kemejanya, perlahan payudaranya yang berwarna sawo matang menyembul keluar dari atas cup BH. Indira menyusul, meloloskan daster longgarnya, hingga tubuhnya yang ranum dan tertutup pakaian dalam mini tersingkap.
Beberapa gadis desa terkesiap melihat warna kulit Indira yang demikian berbeda, terlebih lagi saat Indira melepas penutup dadanya. Sepasang payudaranya yang ranum ditutupinya dengan tangan, namun saat melepas celana dalam g-string-nya, puting Indira yang berwarna merah hati itu mengintip juga.
Sedikit terpana, wajah Luh Sari perlahan memerah melihat sepasang puting Indira yang mungil dan berwarna merah hati.
Indira sedikit rikuh diperhatikan seperti itu, ia duduk di samping Luh Sari, bersimpuh, dan melipat tangan di depan dadanya.
Tempat mandi laki-laki dan perempuan terpisah jauh. Indira melirik Ava dan Kadek yang membasuh tubuh di bawah guyuran air bendungan yang bergemericik turun. Bulir-bulir air mengalir menuruni punggung Ava yang bidang, juga pantat Kadek yang kekar.
“Bli Ava kenapa... kok nggak seperti biasanya... lagi berantem, ya?“
Indira nyengir, menggeleng sambil membasuh tubuhnya. Indira mengalirkan air ke atas pundak Luh sari, hingga butir-butir bening tersebut mengalir di atas payudara Luh Sari yang menggantung indah.
“Jangan kebanyakan berantem, biar cepet menyusul.”
“Menyusul apa?”
“Lho. Bli Kadek belum ngasih tahu?” Luh Sari berkata, sambil mengusap-usap pundak Indira dengan sabun.
Indira menggeleng.
“Saya kemaren malam diminta sama keluarganya Bli Kadek.” Luh Sari berkata malu-malu.
Indira terhenyak, setengah tidak percaya, “seken to, Mbok? (5)

(5) Beneran itu, Kak?
catatan: "Mbok" dalam Bahasa Bali berarti "Kak" atau "Mbak" untuk menyebut perempuan yang lebih tua, seperti halnya "Bli" untuk menyebut lelaki yang lebih Tua. Mbok di sini berbeda dengan "Mbok" pada bahasa Jawa yang berarti "Ibu"

Luh Sari mengangguk, sedikit tersipu. “Tapi upacara resmi-nya bulan depan.”

***

“Hah, katanya masih bulan depan?” Ava membelalak, ketika kadek mengatakan hal yang sama.
“Upacara resminya memang... Nggak tahu, memang sedikit mendadak.” Kadek terkekeh-kekeh, “kamu kapan menyusul, Va”
Ava menelan ludah, “Jangan bilang Luh Sari hamil.”
Kadek tergelak menjitak Ava. “Terus kamu...”
“Aku masih belum siap, Dek...”

***

“Kamu gimana, Gek?” Luh Sari berkata, lagi.
“Eng-enggak tahu...” Indira menelan ludah. “Saya cuma bisa menunggu, Mbok...”
Indira tidak tahu, tapi dirinya hanya bisa menunggu dan berharap. Mungkin di atas langit sana ada dunia dimana semua mimpi-mimpinya bisa menjadi nyata.

***

Bendungan semakin sepi, hingga tinggal mereka berempat, perlahan mereka pun semakin mendekat, merapat. Indira mendekatkan duduknya ke arah Ava, memandangi Luh Sari dan Kadek yang bercanda di kejauhan sambil mengeringkan rambut.
Gerimis masih berderai turun, menyisakan beberapa helai rintik tipis dari balik langit senja yang berwarna jingga, dan lengkungan raksasa yang membentang berwarna-warni.
“Cantik, ya...” Indira bergumam, menatap takjub ke arah lengkungan warna-warni di langit senja. Ava tak lagi bisa berkata-kata, senyuman manis Indira di bawah sinar jingga matahari, dan pelangi yang melengkung di atas kepalanya lebih indah dari segala lukisan di dunia.
“Kayak kamu.”
“Gombal!” Indira terkikik, menyemprot wajah Ava dengan air.
“... tapi ironis...” Ava berucap.
Indira mengusap wajah Ava yang basah kuyup, “kenapa?”
“Pelangi itu aslinya sinar matahari yang tadinya putih, memendar jadi 7 warna dasar... mereka jadi berbeda-beda... dan nggak bisa lagi bersatu...” Seperti kita.
Indira berusaha mencerna maksud Ava, memaknai setiap kata di dalamnya. Lama ia memandangi lengkungan warna-warni yang melengkung indah. “tapi karena berbeda, mereka jadi lebih indah, kan?” Seperti kita.
Ava tersenyum kecil, merangkul Indira yang membenamkan tubuh dalam pelukannya.
Di langit spektrum cahaya membentuk garis melengkung dalam gradasi yang menakjubkan, disusul sekawanan burung gereja yang terbang rendah di atas keduanya, seolah melintas di atas pelangi.
“Aku ingin jadi Pelangi.” Tiba-tiba Indira berkata, dan tak sempat Ava menyahut, gadis itu keburu mengecup pipinya.

***

Sementara itu...

"Lho, kamu nggak ikut Kadek dan yang lainnya ke sungai?"
Lucille yang tiba-tiba muncul di studio, mengejutkan Sheena yang memojok sendirian, menyelesaikan lukisannya.
Sheena tersenyum kecil, menggeleng kalem, sebelum kembali menggoreskan kuas ke atas kanvas.
Lucille melangkah mendekat, hanya untuk terpana melihat lukisan Sheena. "I-ini lukisan a-apa?"
"Diri saya... "
Redemption...
"Kamu... berbakat... seperti... Ava..." sekali lagi, Lucille terpana.
Gerakan kuas Sheena mendadak berhenti ketika nama itu disebut. Sekilas, Lucille memperhatikan perubahan raut Sheena yang berubah mendung ketika mendengar nama Ava.
“Kalau melihat kamu dan Ava... saya seperti sedang berkaca...” Lucille berkata, duduk di sebelah Sheena.
Sheena tidak menjawab, dan kembali melukis. Ada hening yang seketika menyergap, sebelum akhirnya dua perempuan itu mulai membuka diri.
Tanpa disadari, keduanya saling bertutur, bercerita...
Tentang orang-orang yang tersisih.
Tentang mereka yang tak dipilih.
Tentang mencintai bayang-bayang...
Lucille memperhatikan lukisan gadis kecil yang sedang menatap langit mendung. Sementara tangan si pelukis bergerak lincah, memberi sentuhan akhir: sapuan warna kelabu pada awan yang menggelap.
Homunculus.” Lucille tiba-tiba berceletuk.
“Maksud Tante?” Sheena menyahut tanpa menoleh, sibuk menyapukan kuas ke atas kanvas.
“Kak Gede menyuruh kalian melukis diri kalian, kan?” Lucille berkata, sambil berdiri di samping lukisan yang digambar Kadek -lukisan cat minyak bergambar Kadek sedang mengenakan busana adat.
Sheena mengangguk.
“Beda dengan yang dilukis Kadek, yang kamu lukis itu Homunculus-mu. Manusia kecil dalam otak yang menjadi determinasi sikap kita...”
"H-homunculus?"
"Ya, kasarnya: ada sosok 'manusia lain' di dalam otak, di alam bawah sadar kita, yang bisa melihat apa yang kita lihat, dan menentukan apa yang akan kita perbuat... dan... nggak banyak... orang yang bisa melukis seperti itu..." Lucille terdiam.
Ada jeda yang tak biasa saat wanita itu tertegun memandangi lukisan Sheena, dan perlahan tengkuknya mulai dirambati perasaan merinding yang tidak bisa dijelaskan. “... biasanya, cuma orang yang pernah mengalami N.D.E.... yang bisa..."
Gerakan kuas Sheena mendadak terhenti, ia menoleh ke arah Lucille yang menatapnya tajam. "S-saya.. ng-nggak paham..."
Lucille mendekat, mengusap bahu dan lengan Sheena yang dipenuhi tatoo.
"Near Death Experience..." bisik Lucille tertahan, "Ketakutan, harapan yang tidak terkabulkan... mimpi yang pernah hancur, rasa bersalah yang mendalam...“
Sheena menunduk, tak mampu menatap Lucille yang seperti mampu menembus ke dalam batinnya.
“Kita mungkin bisa melupakan... namun rasa takut itu akan senantiasa hidup, jauh di dalam hati kita... semua itu mendekam di bawah sadar kita dan mempengaruhi tindakan nyata kita tanpa disadari...”
Kembali ada jeda kosong yang tak wajar di antara keduanya.
“Kita semua pernah kehilangan...” desis Sheena.
“Berkali-kali kehilangan...” tambah Lucille, pedih.

***

Fragmen 54
Only Love Can Break Your Heart

Ava memandangi kanvas kosong di depannya. Lama, pemuda itu memandangi hamparan putih yang belum terisi. Haruskah aku melukis wajahnya? Haruskah aku melukis bayang-bayang?
Malam sudah semakin larut, namun pemuda itu terus saja termanggu, duduk di sofa panjang di Studio Lukis.
”Ih, nyebelin... lama-lama kamu mirip kayak Ajik, terus aja lukisan yang dipikirin.” Indira melengos, menggembungkan kedua pipinya.
“Oh- eh.. a-apa?”
Indira memberengut, “Tuh, kan! Orang ngomong nggak didengerin!”
Ava mencubit pipi Indira, “Iya... iya... maap Indira jegeeeg...”
Indira kembali manyun, namun anak itu merebahkan kepalanya di pangkuan Ava, membiarkan pemuda itu mengusap-usap poni-nya, lama hingga akhirnya Indira berkata, “Ava... Mbok Sari dan Bli Kadek beruntung, ya...”
Lama tak terdengar jawaban, “Ava... iih!” rengek Indira lagi.
“Iya... beruntung...” desis Ava.
“Aku kapan dilamar? Hehe...”
Ava nyengir kecut, menghirup secangkir kopi, sebelum kembali memandangi hamparan kanvas kosong dengan hampa.
“Ih, ditanya gitu aja langsung bingung, santai aja, kali... aku juga belum lulus SMA.”
Lagi-lagi Ava tidak menjawab, lidahnya terasa pahit, sangat pahit.
“Ava... atau... jangan-jangan... kamu mulai ragu, ya...” Indira merunduk, meremas-remas kaus Tie Dye warna-warni-nya.
Ava tak langsung menjawab. Pemuda itu menarik nafas panjang sambil melirik lukisan Kadek di pojokan, lukisan pemuda gagah yang mengenakan pakaian adat Bali dengan beras putih menempel di dahi, dan kali ini Ava mencoba membayangkan dirinya berada dalam busana yang sama.
Siapakah aku? Siapakah Tuhanku?
“Nggak... aku... nggak...” Kepalanya makin penat, Ava merebahkan diri di sofa panjang, Indira beringsut ke sebelahnya.
"Nggak apa... bilang aja... kalau kamu masih ragu... daripada...." aku berharap terlalu banyak.
"Aku... nggak ragu..." Ava tersenyum, mengusap-usap wajah Indira yang menempel di dadanya.
Indira membenamkan tubuhnya semakin dalam ke tubuh Ava, menghirupi aroma tubuh kekasihnya, memeluk Ava erat-erat. “Ava... Jangan tinggalin aku, ya...“
“K-kenapa ngomong gitu?” Ava tersentak, cepat-cepat tersenyum kaku.
“Aku merasa... kamu.. Ajik... orang-orang... bakal pergi jauh...” Seperti Dewa dulu, seperti Mama, seperti Kak Raka...
“S-siapa b-bilang? Aku nggak...” aku nggak tahu... “A-aku ng-nggak bakal pergi, kok!” Ava berkata, tanpa melepas dekapannya dari tubuh Indira.
"Bener?"
"Iya..."
“Janji?” Indira menatap, penuh harap.
“Hu-uh.” Ava mengangguk, mencoba berkata mantap.
“Buktinya?”
Ava mengecup kening Indira, mengusap-usap poninya.
“Hehehe...” Indira mengekeh lucu, mempererat pelukannya ke tubuh Ava. “Ava...”
“Apa?”
“Enak ya, dipeluk Ava...”
Ava mengecup kening Indira, gadis itu terkikik. “Lagi.”
Ava mengecup kelopak mata Indira yang menutup, gadis itu tersenyum lucu dan melingkarkan lengannya di leher Ava. “Lagiii...”
Ava mencium pipi Indira yang menyembul menggemaskan, hingga gadis itu terkikik-kikik lucu.
“Ava...” bisik Indira.
“Ya?”
“Aku sayang kamu.” Indira berucap, dan Ava hanya menatap sepasang mata yang berbinar-binar."Aku nggak tahu... tahu-tahu aja aku cintaaa sekali sama kamu, nggak tahu kenapa... hehe..." Indira mengekeh jenaka, "aku suka Ava yang brewok, berbulu lebat kaya beruang, Ava yang aneh... Ava yang lucu... aku nyaman sama Ava yang ini.... aku-"
Indira tak menyelesaikan kalimatnya, karena tahu-tahu saja bibir Ava sudah menempel di bibirnya. Indira membeliak, sedikit terkejut, sebelum akhirnya gadis itu memejam, menyambut ciuman Ava yang memagut lembut... pelan... menghanyutkan...

***

Lampu Studio mendadak padam, dan Sheena bisa melihatnya dari kejauhan. Tanpa perlu mendekat ia sudah tahu siapa yang ada di situ, yang berduaan semenjak petang tadi -tanpa mampu ia dekati.
Cewek berambut pendek itu mengambil sebatang rokok, menyulut api sambil tersenyum getir, teringat percakapannya tadi sore dengan Lucille.
“Besok saya pulang ke Denpasar.”
“Lho, kok tiba-tiba balik? saya pikir Tante dan Ajik...”
Lucille menggeleng lemah, “Kalau saya masuk ke dalam hidupnya Kak Gede, saya cuma akan jadi bayang-bayangnya Kak Julia. Yang dia cintai bukan saya, tapi bayangan kak Julia. Saya nggak mau jadi bayang-bayang. Saya nggak mau Kak Gede mencintai bayang-bayang.”
Kata-kata itu membekas di dada Sheena. Mendadak hatinya terasa perih. Ia merasa bersalah kepada Ava.
“Jadi bayang-bayang itu… menyakitkan…” tambah Lucille.
Sheena nyengir pahit, memandangi redup bara rokoknya, sebelum menoleh ke arah kegelapan malam, berbicara “Aku... jahat, ya... aku..."
Ava, mungkin Indira bisa mencintaimu lebih baik...
Bukan sekedar bayang-bayang...

***

Dalam kehelapan ruang studio yang remang, sepasang tubuh itu saling belai mesra, hingga perlahan ciuman itu berubah ganas, saat bibir mereka saling melumat, dan lidah mereka saling membelit, disusul suara berdecap dan sofa kayu yang berkeriut riuh saat mereka saling bergulingan.
“Ava... Ava... beraaat... hihihi...” Indira terkikik-kikik, memukul-mukul pundak Ava saat Ava berada di atas tubuhnya.
Ava nyengir bego, bertumpu pada kedua siku, memandangi Indira yang tersenyum dengan nafas tersengal.
“Ava...” Indira berbisik, “kamu ingat? Di sini kita pertama kali...(1)

(1)Ingat adegan saat Ava dan Indira dilukis di Fragmen 14: Angel and The Dream Painter

Ava terkekeh, “Teganya kau renggut perjakaku....”
“Bohong.” Indira tersenyum, melingkarkan tangannya di leher Ava, menatap dengan tatapan mengundang, sebelum menutup matanya.
Bibir merah-basah yang membuka setengah itu demikian menggoda, dan Ava tak bisa lagi menahan diri untuk tidak melumat sepasang bibir itu. “Mmmmmh...” terdengar suara lengguhan pelan, saat lidah mungil Ava menari-nari dalam rongga mulut Indira.
"Uhng.... Ava...." Indira mengerang tertahan, saat ciuman Ava mulai menuruni lehernya. Dijambaknya pelan rambut Ava, saat gigitan-hisapan kecil mendarat bertubi-tubi di kulit lehernya yang putih mulus. "Aaaaah... sssssh...." Indira mendesis, memejam keenakan mendapat perlakuan seperti itu, didorongnya kepala Ava terus turun ke bawah, ke arah belahan dadanya yang menyembul dari leher kaos Tie Dye yang kedodoran itu.
Ava meremas payudara Indira dengan gemas, hingga sepasang daging putih-kenyal itu nampak semakin meruah, seperti hendak tumpah keluar. Dibenamkannya wajahnya ke dada Indira, dan dihirupinya wangi segar gadis remaja yang masih ranum sambil digigitnya sesekali payudara itu.
"Ava... uuuh... umh..." Indira memejam, mendecap-decap keenakan, menikmati lumatan Ava di dadanya, juga belaian tangan Ava yang menjelajahi setiap lekuk tubuhnya. “Ava... aah.. nakal.... umh.... oh...” Indira merengeek manja, merasakan tangan Ava merayap naik di sepanjang tungkainya, membelai pahanya yang mulus.
“A-ava.. k-kamu... OH! Aaah... aaa....“ Indira membeliak, tangan Ava menyusup naik, masuk ke balik hont-pants Roxy-nya. Tangan Ava memijat pelan, berputar-putar di atas celana dalamnya. “Ava! Ava! Geli.... Oooh...” Indira tak sempat berkata, karena cup BH-nya keburu disingkap turun, dan putingnya dilumat Ava tanpa ampun.
“Uumm.... aaaah.... ssssh.... Ava... ah...” Indira mulai mengejang, pinggulnya naik turun seiring usapan tangan Ava yang membelai belahannya yang menapak jelas di atas celana dalam yang membasah itu.
“Mmmmmh.... sllllrpp.....”
“Sssssh......oooohhhh....”
Desahan dan lenguhan binal terdengar dari dalam Studio, mengiringi Ava dan Indira yang saling bergelut.
“Aaaah... hh... h.. h...” Indira mendorong tubuh Ava yang kini berada di bawahnya, gadis itu tersenyum binal, sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Dalam gerakan cepat, kaus Tie Dye-nya sudah tercampak ke lantai, dan dalam gerakan berikutnya menyusul bra hitam dengan renda merah muda, menyisakan sepasang payudara ranum yang membukit indah dengan puting merah hati yang mengacung tegak. Tatoo mawar mengintip malu-malu dari hotpants Roxy ketat yang membungkus pinggul yang nampak semakin menggairahkan.
"Kamu juga..." Bisik Indira di telinga Ava, sambil menguaskan lidah di sana.
Ava menelan ludah, cepat-cepat membuka kausnya, dan langsung menyergap tubuh ranum Indira. Indira terkikik, sambil mendesah... “Ava... nakal... ooohh..” Ucapnya, sambil tersenyum-tersenyum dengan wajah merona, menggoda.
Ava segera menyergap Indira, hingga dua orang itu kembali bergelut. Indira tak mau kalah, gadis itu meremasi kejantanan Ava dari luar celana.
"Oh.... mmmh....."
Ava menaikkan pinggulnya, hingga Indira leluasa menurunkan celana kolornya, hingga tinggal celana dalam yang menutupi tubuh Ava. Indira menelan ludah, melihat kejantanan yang menyembul dari balik celana dalam itu, dan tak perlu menunggu hingga kali ini Indira yang memangsa tubuh Ava.
Didorongnya tubuh pemuda itu ke atas sofa, sebelum mulai menggigiti leher Ava sambil meremas-remas kejantanan yang menyembul dari balik kolor.
Bibir Indira yang sensual, bergerak cepat, melumat, memijat setiap jengkal tubuh Ava yang dipenuhi bulu.
"Indira... mmhhh... aah...."
Indira terkikik pelan, melihat Ava yang menggeliat tidak karuan saat ia menggigiti perut Ava, lembut, sambil diselingi jilatan yang berputar di atas pusar Ava.
Ava mengekeh kegelian, menggeliat ke kesana kemari, sedang Indira hanya terkikik-kikik gemas, melihat ujung kejantanan Ava yang mencuat dari CD-nya.
Indira tersenyum, memainkan kejantanan Ava dari luar kain tipis itu, dengan gemas Indira menciumi kejantanan Ava, menempelkannya di pipinya yang menyembul lucu. Kemudian Indira menurunkan kolor CD Ava, hingga kejantanan Ava menyeruak tegak, dan berdenyut-denyut.
Jemari lentik Indira bergerak lincah, mengurut kejantanan Ava yang berurat, naik turun cepat. Sementara bibir mungilnya menciumi ujung kejantanan Ava yang disunat membulat.
"Aaaaah..." Ava mengerang lemah, saat Indira menjilat cairan pre-cumnya yang menetes, disusul dengan jilatan di sekujur batang kejantanannya yang semakin mengeras. "Indira..... iyah... di-git-tuin... ah.... aaaaaah!"
Indira tersenyum gemas, bahagia bisa membuat Ava berkelojotan nikmat, dijilatinya kejantanan Ava dari ujung hingga pangkal, sebelum naik dan turun lagi hingga mengulum buah zakar.
Ava mendekap erat kepala Indira yang berlutut di selangkangannya, pahanya yang berbulu semakin membuka, hingga Indira leluasa menjilati selangkangan Ava.
"Aaaaah.... In... Indiraaaaa....." Ava mengerang nikmat dengan mata terpejam, menggeliat kesana kemari, akibat permainan Indira, tahu-tahu saja pemuda itu merasakan kejantanannya tertelan rongga basah dan hangat.
Ava bernafas tersengal, melirik ke bawah, dan mendapatai Indira sedang kesulitan menelan kejantanannya.
"Heheh... hmmp... mmhhh...." Cewek blasteran itu masih sempat tersenyun jenaka, meski dengan mulut yang kepenuhan, disesaki kejantanan Ava.
"Indira... k-kamu.. ah... oomh..." Ava mengejang nikmat, dipeganginya kepala Indira yang mulai bergerak maju mundur. Geli, ngilu, bercampur jadi satu. Ava memejam, seluruh tubuhnya serasa ringan,ia hanya tahu kejantanannya dilumat habis dihisap oleh seorang biadadari canti.
"Mmmh... mhhhh..." Wajah Indira yang cantik berkeringat, merona. Pipinya nampak penuh oleh kejantanan Ava, wajahnya yang lucu semakin menggoda, ketika sedikit tersedak karena kejantanan Ava masuk hingga kerongkongannya.
"Aaaaaah....." dan Ava tak tahan lagi, beberapa saat kemudian, ia merasa ada yang hendak meledak "In-Indira.. a-aku... u-udah... mau... aah.. aah..." Dada Ava melengkung nikmat, dan cairannya siap memuncrat. Namun Indira segera menarik kepalanya, meremas erat kejantanan Ava yang berurat, dan di sumbatnya lubang kencing Ava dengan ibu jari.
"Ssssst..." bisik Indira di telinga Ava, "tunggu dulu... sayang..." ucapnya dengan nada menggoda, disusul ciuman yang mendarat di leher Ava.
Ava tergolek dengan nafas tersengal, dilihatnya Indira membersihkan cairan precum di ujung kejantannya dengan lidah.
Indira tersenyum, gemas melihat kejantanan Ava yang berurat. Gadis itu melepas hotpants sekaligus celana dalamnya, dan Ava hanya menelan ludah melihat Indira yang kini telanjang beranjak naik ke atas perutnya.
Indira mengecup kening Ava, sebelum mulai mengangkangi kejantanan Ava. Dalam satu gerakan cepat, diarahkannya batang yang sudah tegak itu ke arah kewanitaannya yang kembali merekah.
“Ummhhh...” Keduanya kembali melenguh bersamaan, saat kejantanan Ava melesak, memenuhi tubuh Indira.
Indira tersenyum sayu, penuh kenikmatan. Dibukanya ikatan di belakang kepalanya dalam gerakan yang sensual, menggoda, hingga sekarang rambutnya tergerai dan menutupi payudaranya yang menggantung indah.
Sinar lampu taman menyusup dari sela jendela ke dalam studio yang remang. Ava tak henti terpana memandangi bidadari yang merintih nikmat di atas tubuhnya.
Nafas Indira tersengal, dan wajahnya mulai menitik keringat yang menggairahkan. Indira meraih punggung Ava, hingga pemuda itu terduduk bersila. Indira menyilangkan kakinya, melingkarkan tungkai-tungkainya di punggung Ava, hingga tubuh keduanya saling menempel erat.
“Hah.. h... h...” Ava dan Indira saling tatap dengan nafas memburu, sebelum tubuh keduanya saling bergerak. Pinggul Indira memutar, menghentak-hentak, dan pantat Ava menandak-nandak menyambut kewanitaan Indira yang seperti menyedot dirinya dalam pusaran kenikmatan surgawi.
“Ssssshhh... oooooh...” Indira mendesis pelan, menikmati kejantanan Ava yang menyodok-nyodok pusat kenikmatannya. Dijambaknya rambut Ava pelan, saat pemuda itu menciumi lehernya. “Ava... nakal... aaah....” Indira mengerang manja, tersenyum nakal sambil menggerakkan pinggulnya dalam gerakan yang lebih menggila.
“Aaah... aaah....” Ava berteriak tertahan, menatap sayu ke arah Indira yang bersedekap di pangkuannya.
“Avaa.... ummh...” Indira melenguh manja, Bibirnya yang sensual nampak membasah dan sedikit membuka – dan segera disergap Ava, dilahap dan dilumat habis tanpa ampun.
“Mmmmh....”
“Mmmmmh....”
Kudua insan itu saling melumat dan memompa dalam posisi bersila. Sofa kulit itu berkeriut riuh, berderit gaduh seiring persetubuhan yang semakin seru saja.
Kejantanan Ava menghantam tanpa ampun, kewanitaan Indira yang basah dan licin hingga menimbulkan suara becek yang berpadu dengan desahan dan lenguhan erotis yang keluar dari bibir keduanya.
“Sssssh.... aaah....”
“Ooooh.... oooh....”
“Ssssh.... umh... Avaa....”
“Aaaaah... Indira..” Ava mengerang, merengkuh punggung telanjang Indira yang kembali berkeringat. Indira mengkontraksikan otot-otot kegel sedemikian rupa, sehingga kewanitaannya serasa hidup, melumat dan mengunyah-nguyah kejantanan Ava.
“Enak...? hah... h...” Indira tersenyum, menunduk dengan wajah yang memerah muda dan dipenuhi bulir keringat.
“J-jangan a-aneh.. aneh... nanti aku... keluar... di dalam...” Ava mengerang pelan.
Indira tersenyum nakal, kembali memompa, lebih menggila.
“Indira.. jangan... aah... aah....” Ava memejam, menggeleng-geleng panik.
Indira menyadari kejantanan Ava berkedut-kedut di dalam sama, disambutnya puncak Ava dengan gerakan memutar, disusul pinggul yang menandak-nandak sambil mendekap erat punggung Ava yang penuh keringat.
“Indira.. aaah... aaah... aaaaaah....” Ava mengap-mengap. Matanya membeliak nanar saat tubuhnya bergetar hebat. Ava mengerang, saat benih cintanya memancar ke dalam tubuh Indira.
“Aaaaaah.... Avaaaa.... “ Indira mengerang nikmat, merasakan cairan hangat memenuhi tubuhnya.
“A-ava a-aku.. juga... hampir...” Indira yang puncaknya hampir tiba terus menggerakkan pinggulnya, berusaha menggapai puncak yang sama. “Aaah... Ava... aku.... mau.... aah.. aah... aah... aaaah...” sedetik kemudian tubuh Indira menggigil, sekujur otot-ototnya bergerak secara involunteer. Dicakarnya punggung Ava, dipeluknya tubuh Ava erat, hingga tubuh telanjang mereka seolah saling melekat.
“Akh... akh... aaah... “ Pinggul Indira berkedut-kedut, maju mundur, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih mengalir di selangkangannya
Sepasang tubuh telanjang itu masih saling peluk, menghirupi aroma tubuh yang menguap di udara, meresapi puncak kenikmatan yang masih terbayang-bayang. Indira tersenyum manis, dengan pipi merona merah muda, cantik sekali.
Ava menarik kejantanannya yang menancap di tubuh Indira.
“Umh...” Indira melenguh pelan, saat kejantanan Ava yang mulai melemas ditarik keluar. Cairan kenikmatan bercampur benih Ava nampak mengalir dari belahan kewanitaan Indira yang merekah.
Ava menelan ludah, shit, batinnya.
“Nggak apa-apa...” bisik Indira pelan, membenamkan wajahnya di leher Ava. “Nggak apa-apa... suamiku sayang." Ucap Indira sambil tersenyum, menciumi wajah Ava yang bersimbah keringat...
Keringat dingin...

***

Malam itu Indira tidur di dalam gazebo Ava. Pemuda itu menyelimuti Indira yang tertidur lelap. Ava menghela nafas, melihat Indira yang tidur sambil tersenyum.
Di dalam mimpinya, Indira bersanding dengan Ava yang mengenakan busana adat bali, diberkati oleh pendeta dengan denting lonceng dan mantra...
Di dalam mimpinya, Indira yang hamil tua diantar Ava ke dokter kandungan, digandeng mesra di bawah bunga-bunga...
Sebelum kemudian kerepotan mengurus sepasang anak lelaki kembar bandel, yang mengotori baju mereka dengan cat minyak saat belajar melukis bersama Ava...
Ava tak berani menatap Indira yang tersenyum-senyum sendiri di dalam tidurnya. Pemuda itu kemudian melangkah gontai, menuruni tangga kayu, duduk di bale-bale di bawah gazebonya.
Dalam dingin malam Ava menyalakan sebatang rokok, menghirup asapnya dalam-dalam.
“Hei.”
“Oh, h-hai.” Ava menoleh, menghembuskan asap ke dalam kegelapan malam.
“Galau amat...”
Ava nyengir pahit, memandangi redup bara rokoknya. “Aku... jahat, ya... aku..." Ava terdiam, menelan ludah yang terasa sangat pahit. "aku... sepertinya memberikan harapan palsu...”
“Tergantung, karena baik-jahat itu relatif, tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Einstein yang bilang.”
“Hidup suram....” Ava berkata lemas, menghembuskan asap dengan hampa ke udara. “Mungkin seharusnya aku nggak ke sini... mungkin seharusnya aku nggak jadi pelukis... mungkin sebaiknya aku meneruskan usaha cuci cetak foto punya Bapak di Kroya...”
C’mon, mana Ava yang optimis yang kukenal selama ini? Ava yang bermimpi jadi Affandi, Ava yang bercita-cita menjadi pelukis hebat!”
Ava nyengir kecut, “aku nggak se-optimis kamu, tahu! bahkan mengambil keputusan saja aku nggak punya nyali...”
“Hei.. Hey!” lawan bicaranya menepuk-nepuk pipi Ava. “Masalahnya apa, sih? Itu karena yang sekarang kamu lihat cuma satu sisi... sedang untuk memahami kebenaran sepenuhnya, kamu harus menyelami, melihat kedua sisi cermin kehidupan. Nggak cuma sebelah!”
Ava terhenyak karena tangannya mendadak diraih, dan ia ditarik memasuki kanvas yang tiba-tiba membentang membungkus dunianya.
Untuk sementara hanyalah pekat hitam sejauh mata memandang, sebelum perlahan garis-garis putih meluruh dari segala arah, membentuk garis dan kurva, kemudian kurva membentuk bidang, dan bidang membentuk ruang... Perlahan ruang berkomposisi menjadi semesta, langit, awan, hujan, dan bangunan-bangunan tua... lalu beragam titik-titik kecil menjelma menjadi manusia-manusia...
See? Seni itu nggak terbatas, no boundaries... Kalau kamu memandang dari sisi ‘sebelah’ kamu akan bisa memahami siapa dirimu... memahami ke mana kamu harus menuju...”
“Lho, eh? I-ini... mimpi... kan?” Ava mengerjap-ngerjap tidak percaya.
“Bukankah itu kamu? The Dream Painter, Pelukis Mimpi.”
“Lalu, kamu sendiri?”
Yang ditanya tidak menjawab, tersenyum misterius sebelum Ava terjaga.
“Siapa kamu?”
“Aku? aku sudah nggak penting lagi,kan? sekarang yang penting ‘siapa kamu’.”
“A-aku? Aku Ava.” Dan cepat-cepat Ava menambahkan, “Mustava Ibrahim.”
“Nah, apa kamu lupa? Bukannya dulu kamu yang cerita ke aku, siapa itu Ibrahim?”

***

Seperti nyata, sepanjang pagi itu mimpi Ava masih terngiang-ngiang di benaknya. Bahkan saat ia menutup mata, dunia dalam mimpinya kemarin masih bisa terlihat jelas, sangat jelas.
Tak ada yang bisa menghalangi lagi, pagi itu juga Ava bangkit menuju studio lukis, berjalan tergopoh dan menyiapkan kanvas dan kuas, mengejutkan Sheena yang sedang melakukan finishing lukisannya.
Ada perasaan canggung, perasaan segan yang tiba-tiba menyergap, ketika keduanya berpapasan di studio. Cewek tomboy itu tertegun ragu-ragu, antara hendak menyapa pemuda yang sedang sibuk menyiapkan alat lukis atau diam saja.
“H-hai...”
“U-uit.” Ava menyahut sekenanya, sibuk mengaduk cat air warna hitam.
“Av-“ Sheena terkaget, karena mendadak Ava menyiramkan cat air ke seantero kanvasnya, sehingga kanvasnya total hitam.
“Sheena, ambilin hair dryer di situ.” Ava berkata cuek, tanpa menoleh.
Sheena menurut, setengah bingung dengan apa yang dikerjakan Ava.
Dengan hair dryer, Ava mengeringkan kanvas yang dipenuhi warna hitam, hingga menimbulkan corak-corak seperti hujan. Kemudian diambilnya cat warna putih dan mulai dikuaskannya ke seantero kanvas hitam.
Sebuah lukisan Noir.
“Ava... “ yang kemaren, maaf, maafin aku.. "Bli Kadek ke sini, katanya..."
"Galeri libur!" Kadek datang tergopoh, dengan menenakan baju hitam, kamen -kain batik yang dililitkan di pinggang, dan udeng -ikat kepala khas Bali. “Nanti siang kita melayat ke pengabenan-nya(1) Pekak Parwa.”
"Ajik sudah bilang. Makanya aku santai-santai." Ava mengekeh pelan, tetap melukis.
Kadek berselonjor di kursi panjang, menyeruput kopi sambil mengamati lukisan Ava dan Sheena. Pemuda itu mencomot pisang goreng, mengunyah sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Cieee... cieeee... mesra banget, pagi-pagi sudah melukis berdua." Kadek nyengir jahil. "Kalau dipikir-pikir, kalian berdua ini cocok... kenapa nggak buka galeri bersama aja!”
“A-apa sih, K-kadek ngegosip aja...” Sheena melotot ke arah Kadek.
Sontak kopi menyembur dari mulut Kadek. “Maksudku lukisan kalian! Lah, Kamu pikir apa?”
Sheena tak menjawab, cepat-cepat menyulut rokok untuk menutupi wajahnya yang memerah.
“Kalian itu memang cocok, sama-sama seniman absurd, seniman gendeng! Ajik kan’ nyuruh kalian melukis diri sendiri. Nah, Sheena, kamu malah gambar anak kecil. Ava? Kamu melukis apa? Nggak jelas.”
“Belum selesai ini, Dek! Pokoknya ini bakal jadi masterpiece.” ucap Ava jumawa, tidak cukup sekali, diulanginya lagi, “masterpiece!”
Kadek tertawa terbahak, “Terserah deh, lama-lama kamu jadi makin mirip Ajik. Buruan, habis itu kita berangkat ke Setra(2) bareng Ajik.”
Ava mengekeh cuek, memberikan beberapa garis sebelum mengusap tangannya yang belepotan cat ke wajah Kadek.
Saat itu Sheena tidak berkata-kata, namun dirinya tahu: ada yang tak biasa dari lukisan Ava.

(1) Pengabenan: Upacara Kremasi Jenazah.
(2) Setra: Kuburan

***

Fragmen 56
Memento Mori

Irama tetabuhan itu masih saja terdengar asing dan merindingkan bulu roma, persis seperti saat pertama Ava tiba di tempat ini. Bedanya, kali ini Ava berada di antara mereka, mengenakan kamen dan udeng, ikut mengusung patung lembu hitam menuju pekuburan yang dirimbuni pohon beringin raksasa.
Beberapa jasad dibawa bersama-sama ke puncak bukit. Sinar matahari yang berada tepat di atas kepala, menyusup dari sela-sela daun, jatuh ke atas 5 buah Bade, semacam keranda atau sarkofagus yang dihias kertas warna-warni hingga nampak berkilauan.
Alunan musik pemakaman mengalun lamat-lamat, iramanya sedih dan memilukan. Juru Kidung menembang khusyuk, dan Pendeta memercikkan air suci sambil memanjatkan doa.
Sebuah tangga didirikan ke atas menara sarkofagus, kemudian dengan hati-hati Jenazah diturunkan diiringi hiruk pikuk peziarah, untuk diletakkan di dalam wadah di bawah patung lembu, kendaraan menuju Nirwana.
Dalam diri manusia mempunyai beberapa unsur, dan semua ini digerakan oleh nyawa/roh yang diberikan Sang Pencipta. Saat manusia meninggal, yang ditinggalkan hanya jasad kasarnya saja, sedangkan roh masih ada dan terus kekal sampai akhir jaman.
Ava mundur beberapa langkah, saat api mulai dinyalakan, dan perlahan mulai melahap peti dan kaki-kaki patung Lembu, menimbulkan suara bergemeretak yang bersahutan dan asap hitam yang mengepul.
Pak De menepuk pundak Ava, menjelaskan bahwa Upacara Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh agar bisa dapat kembali ke sang pencipta, membebaskan roh/arwah dari perbuatan perbuatan yang pernah dilakukan dunia dan menghantarkannya menuju surga abadi dan kembali bereinkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda.
“Saya nggak nyangka... Padahal Pekak Parwa itu salah satu seniman yang mengajari saya melukis.” ucap Pak De, bernostalgia melihat tubuh gurunya mulai terbakar di tengah api yang membara “Hidup ini ternyata ndak lama...” Pak De terbatuk, memandangi asap hitam yang mengepul kelam ke langit. “Cepat atau lambat... besok atau lusa... kita pasti akan menyusul ke sana.”
“Ah, A-ajik jangan ngomong yang aneh-aneh.”
“Saya serius.” Pak De menarik nafas, meremas pundak Ava “Ava, kalau misalkan terjadi apa-apa sama saya...”
“Eh, Ajik!” Ava melotot panik.
Pak De terkekeh-kekeh, sambil terbatuk. “Ava... kamu... sudah siap?”
Ava tak menjawab, memandangi Asap hitam yang semakin membumbung ke langit mendung.
“Ava... saya nggak bakal marah kalau kamu nggak bisa nyentana. Saya sayang sama kamu, kamu sudah saya anggap anak saya sendiri. Saya juga tahu, kamu tulus sayang sama Indira.” Pak De menepuk-nepuk pundak Ava, teringat Raka -mendiang anaknya. “Tapi tolong... kasih saya kepastian...”
“Saya, masih butuh waktu, Jik...”
Pak De terbatuk, kali ini lebih lama dari sebelumnya. “Saya... uhuk... huk.. Saya cuma khawatir, saya yang nggak punya banyak waktu...”
Terdengar suara letupan kecil dari dalam kobaran api, disusul patung lembu yang mulai terbakar habis, menghitam dan menampakkan rangka kayu yang terbakar. Kepala patung lembu yang tinggal rangka membara, nampak bergerak, mengangguk-angguk, dan mengeluarkan asap hitam dari mulutnya.
Pupil mata Ava membesar, melihat nyala api yang berkobar-kobar melebar dan semakin besar, juga asap tebal yang berpusar-pusar bersama serpihan debu hitam yang memenuhi langit. Gelap. Sesak. Takut.
Udara panas seperti memiliki nyawa, berhembus kencang, seperti bersuara...
Kamu lupa? Bukannya dulu kamu yang cerita ke aku, siapa itu Ibrahim.
Terdengar letupan dari dalam kobaran api, dan patung Lembu berderak runtuh ke dalam lautan api yang menggelegak, seolah hendak ikut menelan Ava ke dalamnya.
Ibrahim yang mencari Tuhan... Ibrahim yang rela dibakar hidup-hidup...
“Eh, Gus Ava! di Setra jangan bengong!” Pak De mengguncang pundak Ava, menepuk-nepuk pipinya.
Ava mengerjap-ngerjap kaget, gelagapan. “Oh-eh... a-apa... Jik...?”
“Jangan bengong di Kuburan!" Pak De menatap khawatir ke arah Ava yang berkeringat dingin. "Maafin saya... kalau sudah buat kamu bingung... Maklum, saya sudah tua, banyak pikiran...” Pak De menepuk-nepuk punggung Ava. “Santai saja... baru ditanya gitu sudah bingung..." Pak De terkekeh, "nanti kita bicarakan pelan-pelan... sambil pulang.”
“Eng-enggak apa-apa, Jik... saya... mungkin terlalu capek..." Cepat-cepat Ava tersenyum, mengusap keringat yang membasahi wajahnya.
Sepanjang perjalanan pulang itu, Pak De merangkul Ava, seperti seorang ayah merangkul anaknya. Dan sepanjang jalan itu juga Pak De memberitahukan segala rencananya. Tentang Indira, tentang nama baru yang bakal disandang Ava.
Ava menoleh ke belakang, memandangi patung lembu yang tinggal rangka, tinggal abu.

***

Sepanjang sore, Ava melukis seperti kesurupan. Pemuda itu terus mengurung diri di dalam studio. Setiap goresan kuas-nya, setiap sapuan warna putih di atas hitam, seperti berusaha mencari jawaban, mencari katarsis atas seribu pertanyaan yang berkecamuk di batinnya.
“Istirahat dulu, Sayang.” Indira berucap lembut, setelah selesai menghaturkan sesaji dan dupa di Pelangkiran, altar kecil di sudut studio.
Ava mencoba tersenyum dari balik wajahnya yang kusut.
Indira berjalan mendekat, memijat pelan pundak Ava.
"Makasih." Ava mengecup punggung tangan Indira.
Indira tersenyum manis di bawah sinar senja yang menyeruak masuk dari balik jendela. "Saya sembahyang dulu ya, Bli..."

***

Dari kejauhan, Ava melihat Indira sedang bersembahyang, menangkupkan tangan di Pura Kecil di pojok rumah. Burung gereja terbang rendah di atas sawah, menimbulkan suara berdengung indah, dan angin sore menghamburkan asap dupa memenuhi paru-paru Ava. Langit senja yang berwarna oranye membuat siluet pohon kamboja menjelma seperti tangan-tangan yang menebarkan taksu, sebuah latar sempurna bagi seorang bidadari yang mengenakan kain dan memuja khusyuk.
Pemuda itu menoleh ke arah lain dan mendapati Sheena sedang berjongkok sambil merokok di bawah pohon durian. Lengannya yang dipenuhi tatoo sibuk menggores buku sketsa. Ada beberapa milisekon, saat pandangan keduanya beradu. Beberapa detik sebelum semua berlalu.
Ava memejam, dirinya terlalu lelah, sudah terlalu...

***

Malam semakin kelam, dan dua orang itu hanya saling mendiamkan, tanpa berbicara. Sheena mematikan rokoknya yang tinggal puntung dengan diinjak. Cewek tomboy itu menyelipkan batang rokok terakhirnya di bibir, menyulutnya perlahan.
“Jangan kebanyakan merokok, nanti sakit kayak Ajik. Beliau sakit lagi, kamu sudah tahu?”
 “I-iya.” Sheena cepat-cepat mematikan rokoknya, tak menyangka Ava menyapanya lebih dulu.
“Serius, barusan sekali aku antar Ajik ke dokter, sekalian cek LAB.”
Sheena tersenyum garing. “Nah, itu baru calon menantu yang baik hehehe..” Shit, aku ngomong apa? Tolol.
Ava menghela nafas, melirik wajah Sheena. “Ajik juga tadi bilang, beliau mau buka galeri di Jogja..."
Mendadak hening.
"....aku yang disuruh ngurus, sekalian nemenin Indira kuliah.”
Hening lagi. Lebih lama dari sebelumnya.
“Oh, wah... selamaaat...”
Ava nyengir pahit, “Makasih...”
“Semangat!” Sheena mengacungkan genggaman tangannya.
Ava, mungkin cerita ini memang bukan buat kita.
Ava mengepalkan tangan, –sebuah brofist. Tersenyum pahit, tanpa bersuara.

***

Telepon tua itu berdering, berkali-kali berdering. Hingga membuat Pak De yang sedang asyik menyendiri, berjalan tergopoh menghampiri. Langkah-langkah lebar terdengar berderak di lantai kayu, menyusuri koridor villa yang penuh dengan lukisan dan ukiran.
“Uhuk... halo.. uhuk...”
Kak?
Suara di seberang sana membuat raut wajah Pak De mendadak cerah, “Gek? Lucille?”
Lucille menukas ketus. “Indira ada?
Pak De menghela nafas lemas, “Indira... sedang keluar... jalan-jalan sama Ava....”
Hening.
Kak Gede sudah ke dokter?
Senyum kecil kembali terbit di sudut bibir Pak De. “Sudah. Kemarin diantar Ava.”
Apa kata dokter?
Pak De terdiam agak lama, “M-masih menunggu hasil lab.... B-besok... baru jadi.”
Awas, jangan ngerokok lagi.
“... makasih, Gek.”
J-jangan s-salah sangka. Saya bukannya peduli sama Kak Gede! Saya cuma kasihan sama Indira kalau misalkan Kak Gede....” Ada jeda panjang dan kalimat yang tak selesai di seberang sana. “Take care.” Telepon ditutup.
Piringan hitam berputar mendayu, dan tidak ada yang tahu kenapa senyum di bibir Pak De melebar, dan semakin melebar.

***

Fragmen 56
Resonance, Reminisce

Kadek, Sheena, dan Luh Sari yang sibuk bermain catur di malam itu heran karena melihat Sang Maestro melangkah mantap ke arah studio.
Sebuah lukisan mungkin bisa menghilangkan galau, batin Pak De ketika melangkah ke dalam studio lukis, menyalakan saklar. Sesaat kemudian, lampu sorot halogen yang dipasang berjajar di dinding memendarkan cahaya ke seantero ruangan, dan seketika itu juga mata Pak De mendadak memelotot.
Kadek! Sheena!!! Ke sini kalian!
Sontak papan catur buru-buru dilipat, dan dua orang itu berlari tergopoh ke arah Pak De, disusul Luh Sari yang melangkah takut-takut.
Sang Maestro menunjuk-nunjuk lukisan milik Sheena, menggeleng-geleng gusar.
“Kamu dan Ava itu orang-orang yang nggak bersyukur! Suka menyia-nyiakan bakat!”
“M-maaf... um.. m-maksud A-ajik...?” Sheena menelan ludah, wajahnya menekuk ke bawah seperti ketika berhadapan dengan guru matematika-nya dulu.
“Kamu dulu kuliah di IKJ, kan? Kenapa nggak kamu tekuni? Nggak kamu selesaikan? Saya punya banyak teman yang jadi dosen di sana, kamu pasti jadi seniman yang hebat! Paling nggak jadi ilustrator kaliber internasional.” Pak De tersenyum lebar, menepuk-nepuk pundak Sheena.
Sheena nyengir, entah takut ataukah bangga.
Pak De mengekeh sambil menunjuk lukisan Ava. “Yang ini pasti Ava yang buat. Duh Dewa Ratu, akhirnya saya bisa pensiun dengan tenang.”
Kadek nampak tidak terima, “T-tapi Ava curang, Jik. D-dia sengaja mengurangi detail, karena orangnya nggak rapi. Lagian, kenapa Ava melukis bayang-bayang?”
Kadek menunjuk lukisan Ava, di mana seorang pemuda berdiri di sebuah kota tua, di bawahnya jalan yang digenangi air memantulkan bayangannya.
“Ini Rectoverso!” Pak De terbahak, hingga perutnya yang buncit bergetar-getar. “Brilian!”
Kadek dan Sheena saling berpandangan. Luh Sari mendengar dari luar, teringat itu adalah judul buku yang dihadiahkan Kadek untuknya.
Muncul tawa berderai dari bibir Pak De, “Yang kalian lihat itu cuma satu sisi.”
Penuh semangat, Pak De membalik lukisan Ava, hingga atas jadi bawah, dan bawah jadi atas, hingga sekarang Sheena dan Kadek yang terlongo-longo karena sekarang si bayangan yang menjadi objek nyata.
“Jadi lukisannya bisa dilihat dari dua arah?” Kadek terlonjak, membelalak tak percaya. Gawat, lama-lama aku bisa turun jabatan...
Senyum Pak De melebar. “Untuk memahami kebenaran yang sejati, kalian harus melihat dari kedua sisi, nggak cuma sebelah!” Lagi, Pak De mengekeh sambil terbatuk-batuk, “karena sesungguhnya, ...uhuk-uhuk... keduanya terletak pada dua sisi koin yang sama.”
Sheena mendadak tercekat mendengar kalimat Pak De, bersamaan dengan perasaan ganjil yang perlahan merambati.
Keterpisahan adalah ilusi...

Author : Jaya S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar