Selasa, 16 Mei 2017

Pencuri dan Cerita Hantu



Di sebuah asrama cewek...

Yuliana adalah seorang perempuan muda aneh yang sangat menyukai hal-hal yang berbau supranatural. Selera bacaannya adalah karya Abdullah Harahap. Hiburan kesukaannya adalah mengumpulkan beberapa teman yang penakut, mematikan lampu, dan bercerita tentang hantu. Ia memiliki daftar panjang peristiwa-peristiwa menakutkan yang dialami oleh orang-orang yang dikenalnya. Ia akan bercerita sampai hal-hal kecil dengan mata terbelalak dan suara pelan, sementara para pendengarnya akan saling berpegangan tangan dan gemetar.
 Di kamarnya yang gelap, kecuali pendar merah dari lilin yang dibakar dalam mangkok coklat, Yuliana mulai bercerita. Teman-temannya bersimpuh di atas bantalan sofa, jelas terlihat takut dalam cahaya yang redup. Kecuali Mae, yang duduk tenang di atas satu bantalan kosong dan memperhatikan baik-baik Yuliana yang saat itu sedang berbicara.

“Kalian tahu, aku pernah merasakan sendiri pengalaman yang luar biasa pada liburan semester tahun kemarin. Sewaktu berkunjung ke rumah paman, aku diajak menghadiri acara pemanggilan wujud arwah.” gadis itu memulai.
“Apa itu?” tanya Dita penasaran. “Kalau pemanggilan arwah aku sudah sering dengar, tapi kalau wujud arwah...”
“Memunculkan arwah dengan wujud fisik mereka semasa hidup,” jelas Yuliana dengan pongah.
“Oh,” Dita menyahut mengerti.
“Sebenarnya aku tak berharap terjadi sesuatu,” sambung Yuliana. “sebelumnya aku malah berpikir betapa tololnya aku karena membuang-buang waktu untuk hal seperti itu. Tapi semua berubah saat Dukun itu mulai membaca mantra dan memejamkan mata. Perlahan tubuhnya mulai gemetar. Dia bilang, dia melihat arwah seorang gadis muda cantik yang sudah meninggal lebih dari 5 tahun silam. Gadis itu berbaju putih dan pakaiannya basah kuyup. Dia memegang sendok.”
“Sendok?!” seru Mae heran. “Apa maksudmu...”
“Akupun tidak lebih tahu daripada kamu,” sahut Yuliana tak sabar. “Aku hanya menceritakan apa yang terjadi. Dukun itu kesulitan mendapatkan nama lengkapnya, tapi dia memberikan inisial ‘S’. Saat itulah terlintas di benakku bahwa Arwah itu adalah sepupuku Susan yang jatuh ke sungai dan tenggelam. Dukun itu membenarkan dan mengatakan bahwa Susan datang untuk memberiku peringatan.”
“Peringatan?” bisik Dita sambil bergidik, tak sanggup membayangkan kalau pengalaman serupa terjadi kepada dirinya.
“Iya,” Yuliana menjawab cepat. “Dia melarangku untuk memakan kue Donat.”
Mae langsung tersedak menahan tawa saat mendengarnya. Yuliana mendelik kepadanya tapi tetap meneruskan ceritanya.
“Dukun itu gemetar hebat sebelum tersadar dari kerasukan. Dia tak ingat satupun yang dia katakan! Ketika aku mengingatkan soal sendok dan donat, dia juga bingung seperti aku. Dia bilang bahwa pesan yang datang dari alam gaib seringkali sulit dimengerti. Mungkin terdengar seperti hal yang sepele, tapi pada kenyataanya tersirat makna yang dalam. Bisa jadi suatu hari aku akan menghadapi musuh yang berusaha meracuni aku dengan kue Donat atau berusaha menusukku dengan gagang sendok.”
“Menurutmu begitu?” tanya Mae.
“Mungkin saja, aku juga tidak tahu.” sahut Yuliana sedih.
“Menurutmu apakah Dukun itu berkata jujur?” selidik Mae berlagak jadi detektif.
“Aku tak punya alasan apapun untuk meragukannya.”
”Jadi, kau sungguh percaya dengan hantu?”
“Arwah.” Yuliana membetulkan dengan lembut. “Banyak hal aneh yang terjadi tanpa bisa dijelaskan dengan cara apapun.”
“Bagaimana kalau arwahnya muncul di depanmu, apakah kau akan takut?” Mae terus mengejar.
“Tentu tidak!” sergah Yuliana dengan gengsi. “Aku sangat menyukai Susan, dulu kami sering main bersama. Aku tak punya alasan untuk takut kepada arwahnya.”
Wangi aroma kopi menembus dari dapur. Semua ingin mencicipinya, tapi terlalu takut untuk pergi sendirian ke ruang kecil gelap yang ada di belakang itu. Mae yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan cerita Yuliana, segera beranjak untuk mengambilnya. “Biar aku saja.” dia menawarkan diri. Teman-temannya serempak mengangguk penuh rasa terima kasih.
Berjalan pelan sendirian, Mae samar-samar mendengar Yuliana yang kembali berbisik-bisik meneruskan ceritanya. Mae tersenyum. Baginya, cerita gadis itu terlihat sedikit mengada-ada dan sukar untuk dicerna. Entah kenapa, semua temannya malah takut dengan cerita seperti itu.
Sambil menuang kopi ke dalam gelas-gelas kecil, Mae memperhatikan deretan kue donat sisa camilan sore tadi yang disusun rapi di atas meja. Lapisan gula putihnya yang halus tercecer mengotori lantai dan taplak meja. Saat melihatnya, tiba-tiba terlintas di pikiran Mae godaan untuk berbuat jahat. Sejenak ia bergulat dengan akal sehatnya, tapi akhirnya ia kalah. Dengan cepat ia memindahkan sepiring donat ke dalam kantung plastik. Malam nanti, Yuliana akan mendapatkan kejutan!

***

Saat semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing dan tertidur lelap, Mae membuka selimutnya dan melangkah di lantai dengan hati-hati. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya, menyisakan BH dan CD mungil saja di atas tubuh sintalnya yang menggoda. Berpakaian lengkap terbukti menyulitkan saat dia ingin mengubah seprei menjadi baju putih Kuntilanak, dia sudah mencobanya tadi. Sarung bantal yang sudah dilubangi terpasang menutupi kepalanya, ini untuk berjaga-jaga kalau rencananya nanti gagal, Mae tidak mau identitasnya diketahui. Untuk meredam langkah, ia mengenakan selop tidur beralas lembut. Semua persiapan ini ternyata cukup menghabiskan waktu, jam sudah menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit.
“Aku akan menunggu sampai tepat tengah malam,” Mae memutuskan. “lalu aku akan melayang ke dalam kamar Yuliana, melambaikan bajuku dan berbisik: ‘Sini!’ Aku akan meninggalkan sendok dan donat di ujung ranjangnya agar dia tahu ini bukan sekedar mimpi.” Gadis itu tertawa membayangkan reaksi Yuliana nantinya.
Tapi menunggu sepuluh menit ternyata merupakan siksaan tersendiri baginya. Dia mulai kegerahan di balik seprei. Keringat panas membasahi tubuhnya yang sintal. BH-nya yang tipis dengan cepat menjadi basah. Dengan terpaksa, Mae melepasnya. Dia tidak sempat mencari ganti lagi karena jam di ruang tengah sudah mulai berdentang, menandakan inilah saatnya dia beraksi. Mengintip sedikit, dia memastikan ruang tengah aman tidak ada orang. Kamar Yuliana ada di deretan timur paling ujung, Mae harus berjalan kesana kira-kira lima puluh langkah. Sambil menahan nafas, gadis itupun mulai bergerak. Agak risih juga merasakan payudaranya yang besar bergoyang-goyang setiap kali dia melangkahkan kaki, putingnya juga geli saat bergesekan dengan kain seprei. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah tidak bisa mundur lagi. 
“Dua pintu lagi.” Mae bergumam menyemangati dirinya. Gadis itu berjalan berjinjit, sinar bulan yang menembus jendela ruang tengah memberinya penerangan yang suram. Jantungnya berdebar kencang, membayangkan seperti apa rasanya tiba-tiba terbangun dari tidur dan melihat hantu.
Penuh semangat, Mae terus melayang ke ujung koridor. Tiba di depan kamar Yuliana, dia berhenti. Tanpa suara, dia masuk ke dalam kamar Yuliana yang gelap dan tidak terkunci. Tampak si Tukang Dongeng itu meringkuk di atas ranjangnya dengan mencengkeram selimut erat-erat sampai ke batas lehernya. Tersenyum jahil, Mae segera mengambil posisi tepat di tengah seberkas sinar bulan dan mulai berbisik, “Sini!” sambil menggoyang-goyangkan baju spreinya membentuk gulungan ombak.
Tidak ada tanggapan.
Mae mencoba lagi. “Sini! Sini!” dia berteriak sedikit lebih keras.
Masih tidak ada tanggapan.
Mae mengguncang kaki ranjang Yuliana. Tukang tidur itu terbangun sedikit, tapi kemudian terlelap kembali. Mae jadi jengkel. Ini sama sekali tidak sesuai dengan bayangannya. Agak sedikit hilang kesabaran, Mae menggoyang lagi ranjang itu dengan getaran sehebat gempa. Kalau begini Yuliana tidak bangun, berarti gadis itu benar-benar tukang tidur.
“Uhh,” tersentak duduk, Yuliana menarik selimutnya dan melihat sekeliling. Belum sempat Mae berbisik ‘Sini!’, gadis itu sudah membuka mulutnya dan menjerit berulang-ulang, “Aaahhhh! Aaaahhhhh! Aarrgghhhh!!!” dengan suara kasar yang memekakkan telinga.
Mae jadi panik. Memang dia mengharapkan Yuliana akan ketakutan, tapi bukan jenis ketakutan seperti ini yang dia inginkan. Kalau begini, seisi asrama akan bangun dan menangkap basah dirinya. Dia tidak mau itu terjadi, ibu asrama pasti akan memberinya hukuman yang sangat berat karena sudah berkeliaran di jam tidur dan mengganggu orang lain. Jadi, setelah meninggalkan sendok dan donat di ujung ranjang, Mae segera berbalik dan lari untuk menyelamatkan diri.
Teriakan Yuliana dengan cepat membangunkan seisi asrama. Mae bisa melihat lampu-lampu mulai dinyalakan dan bisikan lirih penghuninya yang merasa terganggu, menuntut penjelasan dari kegemparan ini. Gadis itu berlari cepat ke arah kamarnya sendiri, yakin bahwa kekalutan dan kegelapan akan mendukung usaha pelariannya. Dia sudah hampir sampai saat di ruang tengah dilihatnya Ibu asrama berdiri dengan daster putih kembang-kembangnya yang khas. Di depannya, Cindy melapor sambil menangis.
“Tolong, Bu! Ada maling masuk ke kamarku!”
Mae menghentikan langkahnya dan mundur ke bawah tangga. Di belakangnya, Yuliana masih terus menjerit-jerit histeris, “Aku melihat hantu! Aku melihat hantu!” sementara di ruang tengah, teriakan “Ada maling! Ada maling!” terdengar semakin keras.
Mae terjepit, dia benar-benar kewalahan menghadapi pertunjukan ganda ini. Dia tak pernah menyangka kalau akan seperti ini jadinya. Berlindung di balik kegelapan malam, Mae melepas topengnya. Dia bersyukur kepada Tuhan, lampu di lorong ini masih belum diganti sejak dilaporkan mati 3 hari yang lalu, setidaknya itu memberinya waktu untuk berpikir lebih jernih. Melihat sekeliling, Mae menangkap sekilas cahaya lampu dari kamar-kamar yang mulai terbuka, pencarian semakin dekat, dia tidak boleh berada di situ lebih lama lagi.
“Hanya ini satu-satunya tempat.” Mae mempertimbangkan gudang kecil di bawah tangga yang ada di sebelahnya, meski tidak terlalu besar tapi tempat itu setidaknya bisa dipakai untuk menyembunyikan dirinya sementara waktu.
Mae meraba gagang pintunya, membukanya perlahan, dan menyelinap masuk. Dengan menahan nafas, dia menjatuhkan tubuhnya ke tumpukan kain-kain kotor yang ada di tempat tersebut. Selama dua detik, ia seperti terlempar ke dalam ruang hampa. Segalanya gelap baginya. Hampir saja ia kehilangan kesadaran kalau saja tidak ada yang berteriak kecil di bawah tubuhnya.
“Auh, tubuhku!” pekik suara itu, seorang laki-laki, dengan deru nafas tertahan.
Mae hampir saja berteriak saking kagetnya, tapi melihat keramaian yang ada di depannya sekarang, dia akhirnya mengurungkan niat. Dia malah membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Gadis itu tidak ingin tertangkap sekarang. Menakuti Yuliana saja sudah salah, sekarang ditambah dia berduaan dengan lelaki asing di bawah tangga. Benar-benar kesalahan yang amat fatal, hukumannya pasti akan berat. Memiringkan tubuhnya, Mae ingin melihat siapa yang telah ditindihnya.
“Ja-jangan bergerak,” laki-laki itu tersengal. “Nanti ketahuan.”
“Oh, maaf.” Mae terdiam, memposisikan tubuhnya tetap tengkurap di atas laki-laki itu. Terjebak di ruang sempit dengan tubuh berdempetan berhadapan dengan seorang lelaki membuat Mae risih bukan kepalang, apalagi si lelaki hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor. Tapi perasaan itu terkubur lantaran takut yang dirasakannya melihat hebohnya suasana di luar.
“Sial! Kenapa bisa begini?!” laki-laki itu mengumpat.
“Aku rasa,” Mae menebak. “Kau adalah maling yang diteriaki mereka?”.
Pria itu bersandar lemas dan melotot, “Dan kau adalah hantunya,” balasnya tanpa senyum.
“Jangan takut,” Mae menyahut dengan ramah. “Aku juga ingin cari selamat, sama sepertimu.” Dia mengangguk dan berharap upaya mereka ini berhasil. Pria itu bergumam sesuatu dengan perlahan, tapi Mae tak bisa mendengarnya, entah laki-laki itu mendesah atau mengumpat.
“Ssh, diamlah.” Mae membungkam mulut pria itu saat melihatnya akan bicara. “Mereka sedang kesini sekarang!” Mae makin merapat, menyatukan bagian pinggang, hingga perut mereka makin berdempetan erat.
Suara langkah kaki yang sangat banyak terdengar menderu dari lantai atas, sementara suara-suara rendah bercampur dengan soprano cempreng ibu asrama datang dari kamar sebelah. Si Pencuri Asing dan si Hantu Cantik saling memandang sambil menahan nafas sejenak. Ancaman bahaya sama-sama mendorong mereka untuk bersatu. Badan mereka menempel makin erat dan tanpa sadar, entah siapa yang memulai, mereka sudah saling berangkulan. Mae menatap wajah pria itu. Sorot matanya yang hitam dan tajam sepertinya tidak asing. Dia pernah melihat pria ini di suatu tempat, tapi dia lupa dimana.
“Ehm, anu...” Mae berbisik, lirih.
“Ya?” Pria itu menunggu sambil terus merengkuh tubuh sintal Mae ke dalam pelukannya.
“A-apakah kita harus seperti ini?” Mae menatap wajah pria itu, mukanya merona merah padam. Ia baru sadar kalau sejak tadi payudara 36D-nya terus menghimpit dada laki-laki itu, dan pelukan mereka yang ketat mulai mempengaruhi libidonya.
“Kenapa, kamu keberatan?” si pria tersenyum.
“Ah, enggak, cuma...” Mae mengalihkan pandangannya. Di bawah, karena tadi meloncat sembarangan, seprei yang membungkusnya tersingkap hingga memperlihatkan bongkahan pantatnya yang mulus dan  indah.
“Cuma apa?”  tanya si pria. Tangannya seperti tak sengaja memegang bokong itu.
“Ughhh,” Mae melenguh dan segera menepisnya. “Kita kenal saja tidak, tapi sudah intim seperti ini, ditambah ...” Mae menelan ludahnya, tidak sanggup meneruskan perkataannya.
“Apa?” pria itu masih tersenyum, tidak terlihat grogi sama sekali, malah sepertinya dia senang dengan arah pembicaraan ini.
“A-anumu,” Mae bergumam lirih. ”I-itu... kok terasa keras? Mengganjal di perutku. Tolong, kamu tidak boleh terangsang. Kita sedang dalam posisi yang tidak memungkinkan.” dia menghembuskan nafas lega saat kata-kata itu keluar.
“Anu apa?” si pria bertanya menggoda, senyumannya makin melebar.
“Ah, masa tidak tahu!” Mae terlalu malu untuk  menjawab pertanyaan itu. Dia merasakan suatu benda mulai mengeras di bawah pusarnya. Penis pria itu rupanya ereksi setelah beberapa lama merasakan gesekan tubuh montoknya.
“Lha kamu ngomongnya tidak jelas.” balas si pria.
Mae terdiam. Dia tidak mau menanggapi kenakalan pria itu. Melalui celah kecil di pintu, Mae memperhatikan seisi asrama yang sampai sekarang masih ribut mencari Hantu dan si Maling yang malam itu berkeliaran menebar ancaman.
“Kamu cantik!” bisik pria itu sambil mengendus pelan leher jenjang Mae.
“Jangan kurang ajar ya?” Mae langsung mendengus dengan mata melotot, dia marah, merasa harga dirinya dilecehkan.
“Kamu yang duluan kurang ajar, malam-malam cuma pake baju kaya gini, bikin aku tergoda saja.” pria itu terkekeh.
Mae merengut. Meski kesal luar biasa, dia tidak bisa marah karena memang benar apa yang dikatakan laki-laki itu. Sprei tipisnya memang tidak bisa dipakai untuk menutupi tubuh sintalnya. Di mata laki-laki itu, dirinya pasti kelihatan begitu menggoda, apalagi dalam posisi berpelukan seperti saat ini, dimana tangan laki-laki itu kini sudah hinggap di pantatnya dan perlahan mulai meremas-remasnya pelan.
HAH! Mae tersentak, tersadar dari lamunannya. “Lepaskan!” dia menarik tangan pria itu dengan kasar.
Si pria terkekeh. “Jangan keras-keras teriaknya, nanti kita ketahuan.” dia mengingatkan.
Mae tak jadi marah. Sekali lagi, dia harus menahan rasa kesal itu di hatinya. Dia mencoba untuk bangkit, memisahkan diri dari laki-laki itu, tapi baru naik sepuluh centi, kepalanya sudah terantuk pinggiran tangga. Begitu rendahnya ruangan itu, hingga kalau mau bersembunyi di dalamnya, hanya posisi berbaringlah yang paling mungkin.
“Huh!” Mae menghela nafasnya dan kembali membaringkan tubuhnya.
Si pria menyambut dengan senang hati dan segera merangkul tubuh montok Mae erat-erat. “Kalau begini, semalaman terjebak disini aku juga mau.” dia terkekeh.
Ingin Mae memukul mulut kurang ajar pria itu, tapi sayang situasi masih belum memungkinkan. Di luar masih ramai, kalau dia membuat keributan sekarang, dia takut nanti ketahuan. Mae cuma berusaha untuk menggeser sedikit pinggulnya karena dirasakannya penis si pria makin keras dan kaku mengganjal di depan perutnya. Rasanya sungguh sangat-sangat tak nyaman.
Tapi di luar dugaan,  itu malah membuat si pria mendesah dan merintih lirih. “Ah, nikmat sekali. Coba kau geser-geser terus seperti tadi, bisa-bisa aku moncrot saat ini juga!”
Mae langsung terdiam, dia tidak mau memberi kenikmatan pada pria itu. Laki-laki kurang ajar sepertinya lebih pantas dihajar dimasukin jurang daripada dimanja dan dipeluk seperti saat ini.
“Jangan kau kira aku rela ya melakukan ini.” hardik Mae keras. “Kalau bukan karena terjebak, aku tidak sudi berpelukan denganmu!”
Pria itu tertawa. “Ya sudah, keluar sana. Biar aku sendirian sembunyi disini.” Dia melepaskan pelukannya, memberi Mae kesempatan untuk pergi.
Mae mendengarkan suasana di luar yang masih ribut dan gaduh. Pasti akan terlihat aneh sekali kalau sampai ada yang memergokinya keluar dari gudang dengan pakaian seperti ini, bahkan otak jeniusnya pun tidak mampu untuk menemukan alasan yang tepat. Menghela nafas berat, dia akhirnya memutuskan untuk tetap berada di tempat itu, bersembunyi berdua dengan bajingan kurang ajar yang terus melecehkannya dengan resiko kehilangan kehormatannya. Tapi itu tampaknya masih lebih baik daripada dia tertangkap dan disidang dengan resiko beasiswa kedokterannya dicabut. Mae tidak sanggup untuk menghadapi murka ayahnya yang telah berusaha dengan sekuat tenaga menyekolahkannya disini. Dia tidak mau mengecewakan ayahnya.
Tahu kalau sudah menang, pria itu terkekeh dan kembali memeluk tubuh mulus Mae. “Aku yakin kamu akan bertindak bijaksana.” bisiknya tanpa bermaksud memuji.
Mae menggeliat risih saat merasakan tangan si pria yang dengan kurang ajar mulai mengusap-usap punggungnya. Dia diam saja, karena percuma saja protes, toh pria itu akan tetap melakukannya. Di bawahnya, pria itu mulai bergerak.
“Enghhh,” Mae melenguh kecil saat merasakan ujung penis si pria menyentuh permukaan CD yang dipakainya. Ada kenikmatan tersendiri menjalari tubuhnya setiap kali gerakan bergesek itu terjadi. Apalagi saat paha mereka saling bertemu dan menempel, pikiran Mae jadi terpecah antara menikmati gesekan itu atau marah karena sudah dilecehkan.
Penis si pria yang sudah sangat tegang sekarang terdorong keluar dari balik celana kolornya, gesekan demi gesekan telah membuat kolor itu melorot. Kini, setiap gerakan pria itu membuat ujung penisnya kian terasa mendorong-dorong CD Mae yang memang sangat tipis. Rasa nikmatnya sukar untuk dielakkan. Semakin sering bibir vaginanya disenggol, semakin Mae tak tahan. Meski dia terus berupaya memecah pikirannya agar tetap konsentrasi, tapi tanpa bisa dicegah,  lama-lama CD-nya membasah juga oleh cairan vaginanya. Apalagi, di bawah, pria itu terus bergerak berusaha merangsang dirinya, membuat Mae jadi makin birahi.
“Enghh.. Aahhss..” ia mendesah. Mae baru menyadari kalau posisinya sudah sangat gawat sekarang. Penis pria itu sudah terbuka, entah sejak kapan bajingan itu melepas celana dalamnya. Yang jelas, ujung tumpulnya sudah berada tepat di tengah bibir vagina Mae yang basah, yang sudah tidak terhalang CD karena kini benda itu sudah melenceng ke samping.
“Ehm, aahhhh...” pria itu melenguh merasakan penisnya sudah menyentuh kulit vagina Mae secara langsung.
”Sial... lepaskan!” Mae berusaha mengembalikan konsentrasinya, dan berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya naik dan vaginanya menjauh dari penis pria itu. Namun upayanya gagal, sempitnya ruangan membatasi geraknya, dia tidak mungkin naik.
Mae mulai putus asa. Ia harus cepat mencari cara membebaskan dirinya sebelum penis pria itu masuk lebih jauh ke lubang vaginanya. Pikiran sadarnya masih berjalan, menyadari sesaat lagi ia akan disetubuhi oleh laki-laki tidak dikenal itu, dalam keadaan terpaksa dan tiba-tiba.
Tapi konsentrasinya gagal. Gerakan pria itu yang kembali mendorong dari bawah membuat kepala penisnya kembali masuk membelah bibir vagina Mae.
”Auw!” Mae memekik tertahan, takut diketahui penghuni asrama yang masih berkeliaran di luar.
“Ough..” sementara si pria tak kuasa menahan desah kenikmatan merasakan kepala penisnya menguak bibir vagina Mae yang terasa masih sangat sempit. Meski agak kesulitan, ia terus bergerak menggoyang pinggulnya, berusaha membuat kepala penis itu bermain keluar masuk di bibir vagina sang gadis.
Hal itu memberi sensasi kenikmatan pada Mae, ia masih berusaha diam di atas tubuh si pria sampai ada kesempatan menjejakkan kaki agar vaginanya menjauh dari penis kurang ajar itu. Mae akhirnya berspekulasi. Sekali gerakan ke bawah, lalu sekuat tenaga menjejak kaki ke lantai tentu akan membantunya menjauhkan vaginanya dari penis pria itu.
“Enghhsshh.. Aaahhhh.. Ini salah, kita tidak boleh melakukannya.” kata Mae, wajah orientalnya yang mirip Sandra Dewi bersemu merah.
“Kenapa tidak?” pria itu berkata sambil memandangi tubuh montok Mae yang yang seperti Magdalena. ”Toh posisi kita sulit berubah selama kita masih di ruangan ini.” dalam hati ia bersyukur karena sudah memilih tempat ini sebagai persembunyian tadi.
“Iya, aahhhh... t-tapi tetap... tidak boleh.” Mae menggerakkan tubuhnya bergeser ke bawah. Gerakan itu membuat bibir vaginanya yang sudah menjepit ujung penis si pria menelan setengah penis itu. ”Kan bisa saja kita s-sembunyi... sambil berpelukan saja... t-tanpa harus melakukan ini.” Dia bisa merasakan penis pria itu lebih besar dan lebih padat daripada punya Aris, pacarnya, orang yang sudah mengambil keperawanannya. Mae merasakan sensasi nikmat saat kepala penis pria itu terbenam di liang vaginanya.
“Ughhhh... t-tapi kamu menikmatinya juga kan?” pria itu melenguh, menikmati penisnya yang sudah mulai menyeruak masuk.
“Eghhh.. I-iya! Hmmmpphh.. Aaaahhh...” Mae berusaha menjejakkan kaki ke lantai agar tubuhnya terdorong ke atas dan penis itu lepas dari vaginanya. Tapi keadaan tak berubah, sempitnya ruangan mengancing bagian pinggang mereka, membuat Mae tak mungkin menaikkan tubuhnya.
“Akhhss.. gimana ini? Ughhh..” Mae kembali diam tak bergerak, separuh penis si lelaki yang memasuki tubuhnya membuat nafasnya semakin berat.
“Sebaiknya kamu diam saja kalau tidak mau penisku semakin masuk. Sini, agak geser kesini,” pria itu mengangkat pinggul dan pantatnya menjauh dari lantai agar mereka bisa bergerak bebas, peluh sudah membasahi tubuh keduanya.
Dia melakukan itu beberapa kali, pinggul dan pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses penisnya masuk lebih dalam ke vagina sempit Mae. Mae sudah pecah konsentrasi, kini pikirannya hanya merasakan kenikmatan separuh penis si lelaki asing yang keluar masuk perlahan ke vaginanya, mengikuti gerakan pinggul sang pemilik.
“Ahhss... hentikan! Oouhh.. ahhh.. ahhh… enghhhm...” Mae semakin mendesah, kini pinggulnya melayani gerakan laki-laki itu. Ia sudah benar-benar tergoda, tak mungkin mundur lagi. Malah yang ada ia berusaha agar penis si lelaki menusuk lebih dalam di liang vaginanya.
Libido yang sudah meninggi membuat tangan si Maling yang bebas mulai menyingkap sprei putih milik Mae dan meremasi payudara gadis cantik itu.
“Emphh… emmphhhhsss...” Mae semakin hilang kendali diperlakukan demikian, kini bibirnya menyambut bibir si lelaki, mereka berkecupan sangat dalam dan cukup lama.
Pria itu meloloskan salah satu susu Mae yang bulat membukit dan mulai menghisapnya kuat-kuat. Di bawah, ia memelorotkan CD Mae agar penisnya yang sudah separuh tenggelam bisa mengakses lebih jauh lagi. Dengan satu dorongan pelan, batang coklat panjang itupun melesak telak, masuk utuh ke vagina sempit Mae. Mulai menggoyang, tangan si pria menekan dan meremasi pantat bulat Mae sambil mulutnya tak henti menghisap dan menjilati puting payudara Mae yang kini sudah terburai kedua-duanya. Diperlakukan demikian membuat Mae semakin mendesis keenakan. Hilang sudah akal sehatnya, yang tersisa cuma nafsu setan yang minta untuk dipuaskan saat ini juga
“Ouhgg... di-di luar sudah tenang. Kita keluar atau bagaimana? Oouhgg...” laki-laki itu bertanya sambil menahan kenikmatan jepitan vagina sempit Mae pada batang penisnya. Ya, pinggul Mae sudah cukup lama menjepit disana, membuat laki-laki itu bisa merasakan bagian dalam lorong vagina Mae yang hangat dan ketat.
“Akhh... hsshh... j-jangan dulu... ouhss...” Mae sudah sangat melayang merasakan kenikmatan itu, apalagi rangsangan si pria di bukit payudaranya kini juga semakin liar, membuatnya makin bertambah gila dan hilang kendali.
“Baiklah kalau begitu... kita tuntaskan dulu.. ouhsss!!” laki-laki itu menggenjot pinggulnya semakin cepat.
“Iya, teruskan dulu… ahhss... ouhh… s-sudah telanjur enak...” tangan Mae yang bebas langsung merangkul leher laki-laki itu dan keduanya kembali saling berpagutan, hangat dan mesra, sementara gerakan pinggul mereka semakin lama menjadi kian liar.
Masih disatukan oleh sempitnya ruangan, si pria menggenjot pantatnya kuat-kuat, membuat penisnya membobol vagina Mae semakin dalam. Cairan vagina Mae yang tergesek menimbulkan bunyi kecipakan setiap kali alat kelamin mereka saling mengisi dan bertatap muka.
Mae merasakan kenikmatan mulai memuncak di klitorisnya, seolah menggumpal panas dan membuatnya jadi tidak tahan lagi. Ia mengimbangi gerakan laki-laki itu dengan menggoyang pinggulnya memutar.
“Oughh... ahhsss... aku... ahhh... a-aku sampai… ougghhh!!” Mae merintih kala merasakan klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis si lelaki yang terus menerus menghujam kuat. Tubuhnya menegang merasakan kontraksi di otot vaginanya yang berkedutan intens mengantarnya menuju puncak kenikmatan.
“Aghh… ahhh… uhhh… mmpphh...” laki-laki itu membenamkan seluruh penisnya ke vagina Mae dan melepaskan spermanya, menyembur dinding rahim Mae sambil bibirnya melumat lembut bibir gadis cantik itu. Tubuh keduanya seakan menegang bersama mencapai klimaks seksual.
”Fiuh!” desis Mae dengan rasa lega.
“Jangan bergerak!” pria itu mengingatkan, ada suara langkah kaki berlari ke ruang cuci, melewati tempat persembunyian mereka.
“Aku benar-benar meleleh,” bisik Mae, mengomentari tubuhnya yang basah atas dan bawah.
“Hantu dan Pencuri.” ujar si lelaki menyindir halus. “kombinasi yang bagus, bukan?”
“Ya ampun, hal itu mungkin lucu bagimu. Tapi itu berarti penahanan bagiku.”
Laki-laki itu menghentikan tawanya dan menatap Mae dengan bingung. “Apa maksudmu.”
Mae tersenyum, “Ini, penismu menegang lagi di dalam punyaku!” ia menunjuk pertautan alat kelamin mereka yang kembali kaku dan saling mengisi.
Si lelaki tertawa, tapi segera disumpal oleh Mae dengan ciuman bibirnya. “Jangan keras-keras, mereka datang lagi.”
Di luar, suara langkah kaki kembali terdengar melintas.
“Itu artinya, kita masih punya waktu untuk melakukannya sekali lagi. Bukankah begitu?”
Mae mengangguk dan tersenyum, ”Kenapa tidak?” 
Dan merekapun kembali saling menggoyang bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar