Kamis, 11 Mei 2017

Putri Ular Putih 12



Di bawah langit berbintang, Bai Su-zhen dan Xiao Qing tampak sibuk membicarakan kejadian yang baru mereka alami dan menyusun rencana selanjutnya.
“Kejadian sore tadi sungguh memalukan. Sebaiknya besok kita memanggil Manusia Air untuk menghabisi nyawa semua pendeta di biara itu. Kita baru akan berhenti kalau Xu Xian telah berhasil ditemukan,” kata Xiao Qing.
Bai Su-zhen tidak segera memberikan jawaban. Beberapa saat kemudian barulah ia berkata, “Panggil Ma Zi-hou dan Li Ben-liang ke sini. Aku ingin bicara dengan mereka.”
Xiao Qing segera keluar melaksanakan perintah kakaknya. Begitu berhadapan dengan Bai Su-zhen, keduanya membungkuk hormat dan menanyakan apa yang harus mereka lakukan.
Bai Su-zhen berdiri, dan dengan nada bersungguh-sungguh ia berkata, “Besok, pagi-pagi sekali, tutuplah toko untuk sementara waktu. Cepatlah pergi ke mulut sungai Chang Jiang dan kumpulkan seluruh kekuatan yang telah berlatih selama enam ratus tahun terakhir. Lalu kembalilah ke sini untuk menerima perintahku. Xiao Qing tentu sudah bercerita tentang perlakuan Fa Hai kepadaku. Jelaskan kejadian ini kepada Manusia Air.”

5 Manusia Air adalah makhluk halus yang tinggal di dalam air dan bertugas menjaga bumi.
“Kami telah mendengar tentang keangkuhan Fa Hai,” kata Ma Zi-hou. “Satu-satunya cara untuk menghadapi orang seperti dia ialah dengan menghancurkan biaranya, dan membuatnya memohon ampun kepada kita.”
Li Ben-liang menambahkan, “Bila seluruh tentara telah dikerahkan, saya yakin kita dapat mengalahkan musuh-musuh kita agar mereka dapat merasakan pembalasan kita.”
“Engkau sangat berani, dan terima kasih atas bantuanmu,” kata Bai Su-zhen hangat. “Namun, sebaiknya kalian jangan bertindak kejam, dan jangan lupa untuk senantiasa menaati perintahku. Tetapi kalian juga harus segera beristirahat. Karena pada waktu matahari terbit esok pagi, kalian sudah harus berada di sungai Chang Jiang. Temui aku tengah hari.”
Bai Su-zhen dan Xiao Qing kemudian berganti baju dengan warna putih dan hijau. Dengan menyandang dua bilah pedang, mereka mulai menyelidiki sungai Chang Jiang. Di bagian timur, mereka melihat secercah cahaya putih yang berkilauan. Bai Su-zhen mengucapkan mantra-mantra untuk mencari tempat Roh Bumi. Tiba-tiba muncul sekitar tiga puluh orang tua. Bai Su-zhen segera menyambutnya.
“Besok sore, sungai Chang Jiang akan membanjiri biara Gunung Emas. Namun, rakyat di sini tidak bersalah. Karena itu, kumpulkan makhluk-makhluk halus untuk membuat dua jalan agar penduduk yang tinggal di dekat sungai dapat menyelamatkan diri.”
Para makhluk halus itu mengetahui besarnya kekuatan sihir Bai Su-zhen. Mereka tidak berani membantah ataupun bertanya. Semuanya menyetujui siasat yang diambil oleh Bai Su-zhen.
“Sebelum banjir datang, aku akan berteriak ‘Bangun’ dari bawah biara. Begitu mendengar aba-abaku, Kalian harus bekerja. Jangan ceritakan rencana ini kepada siapa pun. Sekarang kalian boleh pergi.”
Esoknya, tepat pada tengah hari, Bai Su-zhen dan Xiao Qing tiba di gerbang Biara Gunung Emas, untuk mendengar jawaban Fa Hai. Mereka melihat pintu biara sudah rusak. Tidak ada seorang pun di sana. Halaman biara benar-benar kosong. Patung tanah liat yang terletak di pintu gerbang seakan-akan meringis mengejek mereka, sementara empat serdadu Budha di sekitar gerbang memandang mereka dengan bengis.
“Di mana Fa Hai?” tanya Bai Su-zhen.
Seorang pendeta berlari menghampiri mereka dan berkata, “Telah kami katakan bahwa Xu Xian tak akan pernah kami serahkan kembali kepadamu. Tak ada gunanya kalian datang dan menanyakannya lagi.”
“Siapa pun boleh masuk ke dalam biara. Jadi mengapa kau melarangku?” tanya Bai Su-zhen sambil melangkah ke dalam biara.
Saat itu Fa Hai berada di dalam biara bersama empat pendeta pengawalnya, masing-masing dua orang di sisi kiri dan kanannya. Tangannya menunjuk kepada Bai Su-zhen dan Xiao Qing, ketika dilihatnya kedua wanita itu terus saja berjalan. Maksudnya ialah agar keduanya tidak dapat maju lebih jauh.
“Tuan,” kata Bai Su-zhen sambil mengangguk memberi hormat kepada Fa Hai. “Waktunya telah tiba. Apakah engkau akan membebaskan Xu Xian atau tidak?”
“Seperti kukatakan kemarin, Xu Xian akan menjadi pendeta. Jadi ia tidak boleh meninggalkan tempat ini. Pergilah,” jawab Fa Hai dengan tegas.
“Ini akan berakibat buruk bagimu,” kata Bai Suzhen memperingatkan.
Fa Hai menyeringai. “Kau sudah selesai berbicara? Tinggalkan tempat ini. Aku sudah tidak sabar lagi.”
Bai Su-zhen tertawa menghina sambil menghunus pedangnya. Xiao Qing berdiri memandang Fa Hai yang sedang bersiap-siap melemparkan tongkatnya ke tanah. Dalam sekejap, tongkat itu menggeliat dan berubah menjadi seekor naga emas. Melihat Bai Su-zhen dan Xiao Qing menghunus pedang, naga itu segera menyerang. Cakar, sisik, rambut, dan giginya yang berwarna keperakan bersinar menyilaukan. Dengan lincahnya, naga itu menggeliat mengurung Bai Su-zhen.
Tetapi dengan tegar Bai Su-zhen menghadangnya dengan acungan pedang sambil berteriak, “Kembali ke bentuk aslimu!” Seketika itu juga, lenyaplah sang naga emas dan menjelma kembali menjadi sebatang tongkat, yang menggeletak di tanah.
“Apa lagi yang akan kau pamerkan?” tantang Bai Su-zhen dengan nada angkuh.
“Ini! Mana angin dan api?” teriak Fa Hai. Kemudian, tampak sebuah kasur terbang dari bawah kakinya. Dalam sekejap, angin kencang berhembus dan dari dalamnya ke luar lidah-lidah api yang panjangnya lima atau enam sentimeter.
Angin dan api segera menyerang Xiao Qing. Namun Xiao Qing secepat kilat mengacungkan pedangnya untuk menangkis serangan. Gabungan serangan angin dan api membuat Xiao Qing kalang-kabut.
Bai Su-zhen segera melompat ke depan dengan pedang teracung sambil mengucapkan mantranya. Tiba-tiba angin dan api buatan menghilang dan kasur yang semula terbang melayang-layang jatuh kembali ke kaki Fa Hai. Bai Su-zhen menyilangkan pedang di dadanya.
“Kutunggu yang lain, Fa Hai!” tantangnya.
“Ini!” raung Fa Hai sambil menggumamkan sebuah mantra. “Mana Jia Lian? Kerahkan Serdadu Surga dan kalahkan kedua ular ini.”
Bai Su-zhen dan Xiao Qing menyadari bahwa serangan yang berikut akan mendatangkan kesulitan bagi mereka. Dengan segera keduanya terbang ke Sungai Chang jiang.
“Bila Fa Hai tetap bersikeras, sebaiknya kita segera mengirimkan Manusia Air untuk membanjiri Gunung Emas,” kata Xiao Qing.
“Mana Manusia Air?” teriak Bai Su-zhen seketika itu juga. Maka terdengarlah bunyi gelembung-gelembung air, dan langit pun menjadi gelap. Angin yang bertiup kencang menyebabkan timbulnya ombak besar di sungai-sungai. Permukaan air semakin lama semakin tinggi.
Bai Su-zhen dan Xiao Qing melompat ke sebuah perahu. Dengan suatu teriakan dari Xiao Qing, perahu melesat ke tengah sungai. Di sana Bai Suzhen melihat ribuan manusia berbentuk gelembung muncul dari balik ombak.
“Kami menunggu perintahmu, Putri!”
Bai Su-zhen berkata, “Kuharap kalian segera membanjiri Gunung Emas sekarang dengan ombak dan gelombang. Berhentilah setelah kuberi tanda.”
Manusia Air serempak menyambut kata-kata Bai Su-zhen. Mereka melompat kembali ke dalam air. Sesaat kemudian terdengar teriakan, “Peri-peri Sungai, mulailah bekerja.”
Maka langit pun bertambah kelam dan angin tenggara mulai menyapu sungai Chang Jiang. Sedemikian kuatnya tiupan angin sehingga tak seorang pun bisa bertahan. Tetesan air hujan sebesar biji kacang pun berjatuhan menghantam tanah dan menggenangi daratan. Tebalnya kabut yang menyelimuti tepi sungai, menghalangi pemandangan. Tetapi dengan tiba-tiba muncullah sebentuk jalan di dekat sungai.
Sementara itu, dari biara Gunung Emas, Fa Hai melihat langit semakin gelap. Tiupan angin dan hujan pun semakin menggila. “Angin dan hujan ini pastilah hasil perbuatan kedua ular itu. Pergi dan selidikilah keadaan badai di atas sungai!”
Dua pendeta bergegas turun ke tepi sungai. Sebentar kemudian mereka kembali ke kuil. “Permukaan air semakin tinggi dan tampaknya akan segera menggenangi biara.”
Fa Hai menggelengkan kepalanya. “Jangan takut. Ambilkan jubahku yang bertambal seribu, dan letakkan separuhnya di tepi sungai dan separuh lagi di atas air. Berapa pun tingginya air, ia tidak akan dapat mencapai biara ini.”
Kedua pendeta itu segera menjalankan perintah Fa Hai. Air pun mulai mereda, walaupun hujan belum juga berhenti. Dengan hati gembira kedua pendeta itu bergegas menghadap Fa Hai.
“Aku yakin Ular Putih pasti akan putus asa. Duduklah kalian semua di sini, dan tunggulah apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Fa Hai.
Para pendeta menaati perintahnya. Beberapa di antara mereka segera duduk, sementara yang lain berdiri atau berjalan ke sana-kemari. Jia Lian menunggu perintah dari Fa Hai untuk menyerang musuhnya bersama lima ratus prajuritnya. Mereka menunggu di balik awan.
Rupanya Bai Su-zhen tidak menyadari keadaan ini. Ketika waktu menunjukkan pukul tiga, air masih bertahan di lereng gunung. Bersama Xiao Qing, ia menaiki sebuah perahu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Karena putus asa, ia segera mendayung perahunya ke samping gunung. Di sana ia berteriak, “Bebaskan Xu Xian dan semua ini akan kuhentikan. Kalau kalian menolak, akan kuperintahkan Manusia Air untuk membunuh semua penghuni biara.” Tetapi berapa pun kerasnya ia berteriak, Fa Hai tak juga menjawab.
“Rupanya mereka belum juga menyadari akibat banjir ini bagi mereka?” kata Xiao Qing. “Kita dibantu oleh ribuan Manusia Air. Tidakkah lebih baik sekarang kita suruh mereka membanjiri biara itu? Lihat saja apakah Fa Hai masih akan sanggup bertahan.”
Bai Su-zhen segera berdiri di atas perahu. “Baiklah,” katanya. “Kalau aku tidak membunuhnya sekarang juga, aku yang akan menjadi korban tongkat ajaibnya.”
“Tidak!” teriak Xiao Qing dengan berapi-api. “Nenek moyang kita berkata bahwa kemenangan selalu berada di pihak yang benar. Dan kita berada di pihak yang benar.”
“Aku akan segera memberi aba-aba. Bersiap-siaplah!” seru Bai Su-zhen. Kemudian mereka meneriakkan aba-aba dan ribuan Manusia Air keluar dari luapan air sungai menunggu perintah Bai Su-zhen.
“Manusia Fa Hai adalah orang yang menjijikkan. Betapa pun alasan yang kita ajukan, ia tidak akan mau mendengarkan. Apakah kalian siap menyerang? Selamatkan Xu Xian bila di antara kalian ada yang melihatnya. Tetapi ingat, kalian hanya boleh menyerang Fa Hai. Karena pendeta yang tidak bersalah tidak boleh disakiti, kecuali jika mereka mendahului menyerang.”
Pada saat itulah semua Manusia Air berubah bentuk menjadi manusia, masing-masing membawa pedang. Dengan jeritan yang memekakkan telinga, mereka mulai menyerang biara. Bai Su-zhen dan Xiao Qing berjalan di depan, memimpin pasukan.
Rupanya Fa Hai telah menunggu kedatangan mereka. Ketika mendengar Bai Su-zhen memberi aba-aba, ia pun segera berteriak. “Jia Lian, siapkan prajuritmu dan bersiagalah!”
Pasukan Fa Hai segera berdiri di tepi jalan yang menuju ke gunung, dipimpin oleh Jia Lian yang berbaju besi berwarna emas. Di antara para prajurit, Bangau Putih melangkah dengan gagahnya. Kehadirannya di dalam barisan, pasti akan mendatangkan kesulitan bagi Bai Su-zhen.
Saat itu Bai Su-zhen mengangkat tombaknya dua kali. Ia memberi tanda kepada pasukannya untuk berhenti. Begitu berhadapan dengan musuh, Bai Suzhen memberi salam.
“Kalau ada yang hendak kau katakan, cepat ucapkan sekarang juga,” kata Jia Lian.
“Aku hanya menginginkan pembebasan Xu Xian. Tak ada gunanya memanggil semua pasukan,” kata Bai Su-zhen.
“Lalu apa artinya awan hitam serta ombak yang setinggi langit itu? Bukankah itu pasukanmu?” jawab Jia Lian. “Sebaiknya kau mundur saja. kalau tidak, kau sendirilah yang akan menderita.”
Dewa-dewa Angin, Hujan, Awan, dan Petir menyaksikan semua kejadian ini dari langit. Ketika Jia Lian berbicara, petir berkelebat. Bai Su-zhen tidak merasa gentar.
“Jika Xu Xian tidak segera dibebaskan, aku terpaksa mengambil alih biara ini.”
Jia Lian segera memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerang. Hujan pun berhenti dan mereka bertempur di bawah sinar bulan yang tertutup kabut. Angin berubah arah dan bertiup dengan kencang menyerang Manusia Air, sehingga mereka tidak dapat bergerak maju. Namun tampaknya mereka juga pantang mundur. Sambil bertahan di tempat, mereka berteriak, “Bunuh! Serang!”
Bai Su-zhen dan Xiao Qing yang berada di barisan terdepan, serempak mengacungkan pedang. “Pasukan, jangan gentar.”
Terpesona oleh semangat Bai Su-zhen, pasukan Manusia Air menyambut dengan teriakan perang mereka. Mereka terus mencoba maju melawan tiupan angin.
Jia Lian mengacungkan tombaknya untuk menghalangi jalan musuh. Pada saat itu, keempat Dewa Angin, Hujan, Awan, dan Petir bergabung dengan pasukan Jia Lian. Semuanya melengkapi diri dengan senjata sakti yang melekat di pinggang.
Bai Su-zhen dan Xiao Qing tetap bertempur dengan penuh semangat. Dengan dibantu oleh Manusia Air, mereka tak berhenti menghentak mengibaskan pedang. Dewa Angin, Hujan, Awan, dan Petir pun mundur, diikuti oleh Jia Lian. Ketika dilihatnya mereka bersiap-siap menggunakan senjata sakti, Bai Su-zhen berteriak, “Biarkan saja. Berikan kesempatan kepada Bangau Putih untuk menyerang!”
Bangau Putih menjawab, “Aku di sini. Menyingkirlah!”
Sesungguhnya dari semua peri yang ada, yang paling membuat gentar Bai Su-zhen dan Xiao Qing adalah Bangau Putih. Dengan mengenakan busana berbulu burung, Bangau Putih sekarang memimpin pasukan. Bai Su-zhen sadar bahwa Fa Hai telah mempersiapkan segalanya. Tetapi semangat pasukannya pun sangat tinggi. Namun begitu melihat Bangau Putih, keberanian yang semula menyala-nyala seketika lenyap. Mereka tidak berani maju tanpa perintah dari Bai Su-zhen.
Bai Su-zhen segera berteriak lantang. “Bangau Putih, aku telah mengampunimu ketika kita terakhir kali bertemu di gunung tempat tinggal Peri Tua di Kutub Selatan. Ia memberikan kebebasan dan Rumput Abadi kepadaku. Tidakkah kau sadari betapa jahatnya Fa Hai? Ia telah menculik Xu Xian dan merusak kebahagiaan rumah tangga kami. Seharusnya kau tidak bertempur di pihaknya. Cepatlah menyingkir.”
Bangau Putih menunjuk ke sungai dan berkata. “Banjir ini akan menggenangi biara. Apakah itu bukan kejahatan? Dengarkan aku! Tarik mundur pasukanmu sebelum aku terbang ke angkasa dan membunuhmu.”
Bai Su-zhen menjawab dengan marah. “Banjir ini hanya akan menggenangi biara. Kami telah membuat jalan khusus untuk menyelamatkan rakyat dari banjir. Tak akan ada yang menderita!”
“Aku tidak punya waktu untuk berdebat. Bersiap-siaplah!” Bangau Putih segera terbang ke udara dan menjelma menjadi bangau raksasa. Paruhnya memanjang hingga satu setengah depa. Dengan membabi buta ia menyerang Bai Su-zhen dan Xiao Qing.
Kedua wanita itu langsung menghunus pedang dan bersiap-siap untuk menyerang kembali. Pada saat itu tiba-tiba terdengar seorang berteriak, “Jangan bunuh mereka, Peri Tua datang.”
Mereka memandang ke atas dan melihat Peri Tua dari Kutub Selatan berdiri di awan. Rambutnya yang putih panjang diikat dengan dua pita kuning. Ia mengenakan jubah kuning dan menggenggam sebuah tongkat berbentuk kepala naga pada pegangannya. Bangau Putih menghentikan serangannya.
“Bai Su-zhen mencari suaminya. Salahkah itu? Seharusnya kau tidak melibatkan diri dalam pertempuran ini,” kata Peri Tua.
Bangau Putih yang saat itu telah kembali pada ukurannya semula, berlutut di hadapan Peri Tua.
“Dewa Angin, Hujan, Awan, dan Petir, tuntutan Bai Su-zhen sama sekali bukan urusan kalian. Mengapa kalian melibatkan diri?”
Karena malu, mereka pun mundur setelah membungkuk memberikan hormat. Bai Su-zhen dan Xiao Qing berlutut di hadapan Peri Tua. Mereka memohon kepada Peri Tua untuk menyelamatkan Xu Xian. Bila permohonan itu dikabulkan, mereka berjanji untuk segera menarik mundur seluruh pasukan.
Melihat yang sedang terjadi, hati Fa Hai khawatir, takut biaranya digenangi banjir. Ia segera berlari ke pintu gerbang sambil membungkuk dengan takzim.
Peri Tua berkata, “Aku datang untuk menengahi pertempuran, bukan untuk berkelahi. Bai Su-zhen, jangan menyerang lagi. Panggil pasukanmu. Dan kau Fa Hai, jangan khawatir, biaramu tak akan tergenang banjir.”
Bai Su-zhen dan Xiao Qing pun segera naik ke pintu masuk biara yang dijaga ketat oleh tiga lapis pasukan. Fa Hai berdiri di balik pintu. Bai Su-zhen berteriak. “Jia Lian, lihatlah! Anak buahku sudah mundur. Apakah engkau masih berkeras kepala menolak pembebasan Xu Xian? Pintu masuk akan segera kami hancurkan.”
Manusia Air tertawa terkekeh-kekeh mendengar kata-kata Bai Su-zhen. Suaranya menggema, menggetarkan hati. Jia Lian melihat Manusia Air mulai bergerak turun dari gunung dan membentuk barisan lima lapis di depan pintu masuk. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah air yang menghampar. Semua manusia air menyandang senjata. Setiap gerakan yang mereka lakukan mendatangkan tiupan angin dingin. Ombak sungai yang semakin tinggi tampak mendekati Gunung Emas. Kemudian langit menjadi gelap lagi dan petir pun menyambar. Bunyinya benar-benar memekakkan telinga.
Dengan lantang Bai Su-zhen berteriak kepada pasukannya. “Yang Abadi sendiri telah menyatakan bahwa kami berada di pihak yang benar. Sekarang pergi dan usirlah Fa Hai!”
Perintahnya disambut dengan gegap gempita. Pasukan Manusia Air pun segera mendesak maju, walaupun lima ratus Pasukan Surga menghadang.
Saat itulah, tiba-tiba Bai Su-zhen mengeluh kesakitan. Ia tak mampu mengangkat pedang dan terpaksa mundur beberapa langkah. Xiao Qing terkejut dan menghampiri kakaknya. “Kakak sakit?” tanyanya dengan khawatir.
Bai Su-zhen membungkuk menahan sakit. “Rasanya saat melahirkan telah dekat. Pasukan kita tak akan mampu mendesak maju terus tanpa komandan. Perintahkan mereka agar segera mundur.”
Karena melihat pasukan sudah tiba di pintu masuk dan hampir meraih kemenangan, Xiao Qing tidak segera melaksanakan perintah kakaknya. Maka Bai Su-zhen yang saat itu hampir tak mampu lagi berdiri, segera mengangkat pedangnya dan berseru, “Saudara-saudara, jangan menyerang. Mundur! Aku tak sanggup lagi memimpin kalian.”
Pasukan Surga menduga bahwa mundurnya lawan hanya siasat Bai Su-zhen. Mereka tidak berusaha mengejar, hanya memandang dari kejauhan pasukan musuh yang mundur dan kembali ke dalam air.
“Mari kita pergi,” erang Bai Su-zhen. “Sakitnya semakin tak tertahankan. Aku tak ingin melahirkan di sini.”
Lalu keduanya naik ke angkasa dan menunggang awan menuju ke suatu tempat yang lebih tenang. Bai Su-zhen bersandar pada Xiao Qing. “Di mana kita sekarang?” tanyanya berbisik.
Xiao Qing menunjuk ke bawah dan menjawab, “Itu jalan menuju Hangzhou. Mari kita beristirahat sebentar.”
Mereka duduk di bawah sebuah pohon. Bai Su-zhen terus mengurut perutnya, sementara Xiao Qing memperhatikan keadaan sekitar, berjaga-jaga. Saat itulah, tiba-tiba muncul sesosok tubuh yang sangat dikenali oleh mereka berdua.
”Yang Mulia,” kata Bai Su-zhen dan Xiao Qing secara berbarengan sambil menunduk begitu melihat kemunculan Peri Tua.
Peri Tua tersenyum dan mengurut jenggot panjangnya. ”Sepertinya kau kesakitan,” katanya kepada Bai Su-zhen.
Bai Su-zhen mengangguk. ”Sepertinya saya akan segera melahirkan.” katanya.
Peri Tua mengangguk dan beralih pandang kepada Xiao Qing, ”Aku punya obat untuk meringankan dan menunda kelahiran, tapi sedikit rumit untuk mengambilnya. Kau mau membantu?”
Xiao Qing mengangguk mengiyakan, ”Demi kakak, saya rela melakukan apa saja.” ia menunduk takzim.
Peri Tua segera memanggil Xiao Qing untuk maju selangkah ke arahnya, dan diperintahkan untuk memasukkan tangan ke dalam mangkuk yang berisi air suci. Sementara Xiao Qing melakukannya, Peri Tua melanjutkan ritual dengan membakar dupa dan membaca mantranya.
”Sekarang berbaringlah,” kata Peri Tua menunjuk hamparan rumput yang ada di sebelah mereka. Makhluk Abadi itu menghamparkan jubahnya agar Xiao Qing bisa telentang dengan bebas.
Dari tempatnya duduk, Bai Su-zhen bisa melihat Peri Tua yang perlahan mulai membuka seluruh pakaian yang dikenakan oleh Xiao Qing. Xiao Qing diam saja, tak berani membantah demi kesembuhan Bai Su-zhen. Setelah ia telanjang, Peri Tua pun mulai melakukan ritualnya. Dimulai dengan mengoleskan air suci ke seluruh tubuh mulus Xiao Qing.
Tiba di dada, terlihat kalau perbuatan Peri Tua itu telah memancing birahi Xiao Qing. Karena sambil mengoles, tak henti tangan Peri Tua meremas dan memijit-mijit tonjolan buah dada Xiao Qing yang bulat besar, juga  memilin dan memilintir-lintir putingnya yang mungil indah. Disentuh seperti itu membuat naluri seks Xiao Qing terbangkitkan dengan cepat. Bukan saja ia membiarkan tindakan sang Peri yang sudah kelewatan, malah sekarang Xiao Qing mulai mendesis dan merintih-rintih menikmatinya.
”Ehss... s-sudah, Yang Mulia... ahhh... geli...” gelinjang Xiao Qing dengan dada putih mulus kemerahan karena gairah.
Di sekitar buah dada yang montok itu, Peri Tua terus mengoleskan air sucinya secara berulang-ulang, sebelum akhirnya tangannya turun ke perut dan selangkangan Xiao Qing yang sudah memerah basah. Di situ tangan sang Peri memasuki selangkangan Xiao Qing, dan membelainya mesra. Tindakan ini membuat Xiao Qing ingin memprotes, namun mengingat Bai Su-zhen yang masih merintih-rintih di sebelahnya, ia pun mengurungkan niat.
”Saya mau diapakan, Yang Mulia?” Xiao Qing hanya berani bertanya.
”Ini bagian dari ritual. Dengan bantuanmu, Bai Su-zhen akan mendapatkan obatnya.” jawab Peri Tua sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak akibat menahan gejolak gairah. Di lubang kemaluan Xiao Qing, jari tangannya terus bergerak mengorek-ngorek, membuat kewanitaan Xiao Qing jadi bertambah lembab dan becek.
Lama Perit Tua melakukannya hingga tak terasa, Xiao Qing sudah menumpahkan air surgawinya. Peri Tua yang mengetahui hal itu segera berkata, ”Tibalah saat untuk mengambil obat itu.”
Sambil berkata, ia pun lekas menindih tubuh mulus Xiao Qing yang masih lemas. Dan tanpa perlu meminta ijin, segera memasukkan batang kemaluannya yang cukup besar ke dalam lubang kemaluan Xiao Qing yang masih sempit. Xiao Qing menerimanya tanpa membantah, bahkan ia mulai melakukan gerakan maju-mundur saat batang penis Peri Tua sudah masuk seluruhnya ke dalam lubang kemaluannya. Peri Tua juga ikut menggoyangkan tubuh, sambil menyetubuhi Xiao Qing, ia tak henti-hentinya memilin dan menekan-nekan payudara padat Xiao Qing yang terbentuk indah di depan matanya.
Lebih kurang 5 menit mereka bersenggama seperti itu sampai akhirnya Peri Tua merasa akan menumpahkan air maninya. Buru-buru ia mencabut batang penisnya dan memberikannya kepada Bai Su-zhen.
”Hisap! Telan semua cairanku!” kata Peri Tua.
Dengan keadaan tubuh yang semakin lemah, Bai Su-zhen pun melakukannya. Dukulumnya penis yang basah oleh cairan kewanitaan itu, dihisapnya dengan senikmat mungkin hingga benda itu meledak di dalam mulutnya tak lama kemudian.
”Ahh... ahh...” Peri Tua mengejang-ngejang keenakan. Diremasnya buah dada Bai Su-zhen sebagai pelampiasan rasa nikmatnya.
Tak ingin tersedak, Bai Su-zhen segera menelan semua cairan sperma yang memenuhi rongga mulutnya. Rasanya manis, sangat berbeda dengan kebanyakan sperma lain. Mungkin memang benar, Peri Tua sedang memberinya obat. Di sebelahnya, Xiao Qing melihat dengan penuh harap. Mudah-mudahan pengorbanannya tidak sia-sia, Peri Tua benar-benar bisa menolong meringankan sakit Bai Su-zhen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar