Selasa, 09 Mei 2017

Rumah Kontrakan 12



Setelah hari itu, hubunganku dengan Mitha menjadi semakin akrab, kalau tidak mau dikatakan berpacaran. Memang tidak ada yang nembak duluan, namun setiap kali kami bertemu, pasti tidak luput spermaku mampir di memek, perut ataupun mulutnya. Lebih dari sekedar berpacaran bukan? Sementara dengan Siska dan Ece Geulis, aku juga masih tetap sama. Dengan adil aku berusaha memuaskan kedua wanita itu, meski sudah tidak bisa sesering dulu karena sekarang sudah ada Mitha.
Mitha sendiri tampak tidak keberatan, ia seperti berusaha menutup mata dengan segala tingkah lakuku. Yang penting aku tetap mencintainya, begitu dia berkata saat kutanya alasannya. Iya, Mith, kamulah satu-satunya cintaku. Siska dan Ece hanya tempat pelampiasan nafsuku. Kepada kamulah kutitipkan hatiku.
Dan hari ini aku ulang tahun. Sebagai pasangan baru, tentu aku ingin merayakannya bersama Mitha. Jauh-jauh hari kami sudah menyusun rencana, sehabis kerja akan kujemput Mitha di kampus. Kami akan nonton bareng, setelah itu dinner di tempat yang romantis. Rencana yang sangat sempurna bukan? Kita memang boleh berkehendak, namun tetap Tuhan yang menentukan.

Di hari H, tiba-tiba saja Mitha sakit. Ia mengirimiku SMS kalau hari ini tidak bisa pergi ke kampus. Dengan begitu, sepertinya acara kami juga akan batal. Dengan kecewa, sepulang kerja aku segera pergi ke rumahnya yang dempet dengan rumah Ece Geulis. Aku bawakan obat sekaligus makanan kalau misalnya dia tidak kuat masak. Kuketuk pintu rumahnya pelan.
Yang membukakan pintu ternyata Ece dengan hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek sejengkal. Pantatnya yang berisi tampak terburai keluar di sore yang terik itu, begitu juga dengan payudaranya yang menggantung bebas, menampakkan sisi bagian depannya yang bulat dan indah.
Aku segera mengalihkan pandangan, pura-pura tidak tertarik dengan hal itu. Bisa celaka kalau sampai tergoda. Namun Ece tanpa sungkan menarik tanganku dan menutup pintu dengan cepat. Dia lalu memelukku dan memberiku ciuman hangat di bibir sambil berkata, “Selamat ulang tahun. Ar!”
Dari tonjolan putingnya yang menekan dadaku, bisa kupastikan kalau saat itu Ece tidak mengenakan beha. Dan aku berani taruhan kalau ia juga tidak mengenakan celana dalam. “Iya, Ce. Terima kasih. Tapi, mana Mitha?” tanyaku.
Ece melepaskan pelukannya dan tersenyum, “Dia sedang tidur habis minum obat,” katanya sambil menyingkap kaos tipisnya ke atas, menampakkan kedua gundukan payudaranya yang besar kepadaku. Lengkap dengan putingnya yang menonjol mungil kemerahan.
“Eh, Ece mau apa?” tanyaku bingung. Takut tiba-tiba Mitha datang dan memergoki ulahnya.
“Mumpung Mitha lagi tidur,” katanya. “Sudah dua hari lho kamu nggak nyentuh aku!”
Mulutku ternganga dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku sebenarnya sudah ingin memprotes, namun Ece sudah keburu meraih tanganku dan menyeretku ke arah dapur. Disana, Ece langsung memelukku dan memberiku ciuman hangat di bibir. Ia melumat bibirku begitu rakus hingga aku jadi tidak bisa melawan. Bahkan saat ia mulai menelanjangi diri, aku juga diam saja.
“Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahun dariku.” kata Ece sambil memelorotkan celana dalamnya ke bawah. Ia sudah sepenuhnya telanjang sekarang. Nampak tubuhnya begitu putih dan mulus, sangat bisa memancing nafsuku.
Diberi suguhan seperti itu, aku yang pada dasarnya berdarah panas jadi tidak bisa menolak. Perasaan takut akan dipergoki oleh Mitha dikalahkan oleh nafsu yang menggebu-gebu. Apalagi saat melihat memek Ece yang berbulu lebat, yang labianya sudah terlihat membengkak dan memerah, semakin terpancinglah libidoku.
“Hmm... ngaceng gini pake nolak segala!” kata Ece saat tangannya masuk ke balik celanaku. Dipegangnya penisku yang sudah setengah menegang. Tanpa banyak kata, iapun menunduk untuk mengendurkan ikat pinggangku lalu melepas celana jinsku. Dia tersenyum saat melihatku tidak memakai celana dalam, kontolku yang sudah sedikit mengeras segera terlempar ke dalam genggamannya.
Dengan tangan kanannya Ece menangkup kedua bolaku, sementara dengan tangan yang lain ia memegangi penisku sambil mulai mengocoknya lembut. Penisku langsung tumbuh lebih besar dan lebih keras dari sebelumnya. Saat sudah menegang penuh, Ece menjilat bibirnya dan berkata, “Ini akan jadi hadiah ulang tahun yang tidak akan kamu lupakan.”
 Sehabis berkata begitu, iapun menunduk dan langsung menciumi ujung penisku. Lidahnya menjulur untuk menghisapi kepalanya yang gundul selama satu menit, Ece menjilati cairan precum yang kukeluarkan sebelum tiba-tiba ia membuka mulutnya dan mendesakkan batang penisku kesana.
 ”Ughh...” rasanya sungguh nikmat sekali diemut oleh Ece. Kepalanya bergerak bolak-balik mengulum batang coklatku. Selama beberapa menit ia melakukannya sebelum kemudian berdiri dan mengatakan kepadaku agar mengikutinya ke kamar mandi.
”Ayo. Ar. Memekku dah gatel banget ini.” kata Ece ketika kami pergi menuju halaman belakang. Selama berjalan, ia mengayunkan pantatnya di depan wajahku dan menunjukkan vaginanya yang sudah sangat basah kepadaku. Aku mencoleknya sedikit dan Ece menggelinjang geli karenanya.
Tiba di dalam,  ia langsung mengunci pintunya dan langsung memelukku. Tanpa menunda-nunda, Ece melumat dan menciumi bibirku. Kubalas dengan sama-sama rakus, namun Ece mendorong tubuhku dan kemudian berbaring di lantai kamar mandi yang dingin. Ia membuka kakinya lebar-lebar sambil menunjuk lubang kemaluannya yang sudah menganga sempurna.
“Jilat, Ar!” ia meminta.
Akupun berlutut di antara kedua kakinya dan mulai menjilat lembut disana. Kukulum dan kuhisap-hisap bagian dalam liang vaginanya hingga jadi semakin basah dan lengket. Aku terus melahap memek sempit Ece sampai ia mulai tegang dan melengkungkan punggungnya, tanda kalau sebentar lagi akan mencapai puncaknya.
“Ohh... aku keluar, Arr!!” Ece mengerang keras dengan tubuh bergetar. Dari liang vaginanya memancar cairan panas yang sangat banyak sekali, membasahi mulut dan wajahku.
Aku mengangkat kepala hingga sisa-sisa cairan Ece menetes-netes dari wajahku. Kami tertawa bersama. Kulihat nafas Ece masih tersengal-sengal, namun ia tersenyum begitu puas. Ece kemudian duduk dan meraih kepalaku. Dia mengusap-usao wajahku yang masih penuh dengan cairan, lalu menciumku dengan begitu lembut.
“Sekarang giliranmu!” bisiknya sambil mendorong punggungku hingga rebah ke lantai. Ubinnya yang basah terasa begitu dingin saat menyentuh kulitku, sangat kontras dengan badan Ece yang hangat, yang pelan-pelan mulai mengayunkan kaki di atasku, mengangkangi perutku.
“Aku selalu kangen kontolmu ini, Ar!” kata Ece sambil mengambil penisku dengan tangan kirinya dan menuntunnya ke arah liang vaginanya yang sudah basah kuyup. Dia memegangi penisku di pintu masuknya sebentar sebelum menurunkan dirinya pelan-pelan.
“Ough...” aku merintih saat kepala penisku mulai masuk menembus liang senggamanya. Ece terus menurunkan tubuhnya hingga penis panjangku semakin jauh memasuki tubuh sintalnya. Saat sudah terbenam sempurna, kami pun mengerang secara bersamaan. “Arghhh...”
Ece tetap dalam posisi seperti itu selama satu atau dua menit sebelum mulai menaikkan dan menurunkan vaginanya ke penisku dengan gerakan ke bawah yang sangat mantap. Saat aku menatapnya dan melihat payudaranya yang berayun bolak-balik, aku segera mengangkat tangan dan menangkup keduanya untuk meremas serta mencubiti putingnya yang menjulang indah, sampai Ece mendesah penuh nikmat karenanya.
 ”Hisap, Ar!” kata Ece sambil membungkuk ke depan, memberikan salah satu tonjolan putingnya kepadaku. Mulutku segera terbuka dan langsung mengisapnya dengan begitu rakus. “Auw! Pelan-pelan saja, Ar!” Ece menjerit, namun terlihat sangat menikmatinya. Bahkan ia kini menggerakkan pinggulnya semakin cepat hingga membuatku jadi merem melek keenakan.
Terus  menjilatinya, kunikmati kehalusan dan kekenyalan buah dada Ece, juga jepitan liang vaginanya yang begitu sempit dan menggigit. Tanpa perlu merubah-rubah posisi, kami sudah sama-sama puas. Tak lama kemudian Ece kembali orgasme, kedutan-kedutan liang vaginanya yang begitu melenakan membuatku menyusul tak lama kemudian. Tanpa perlu bertanya, kutembakkan semua spermaku ke lorong sempit organ kewanitaannya. Cairan kami bercampur menjadi satu, dan menetes keluar banyak sekali saat Ece mencabut penisku dan kemudian berbaring terengah-engah di belakang pintu.
Ece menatapku dan tersenyum, “Bisa-bisa aku hamil, Ar, kalau terus kamu isi kayak tadi.” katanya manja.
Aku tertawa, “Mungkin lain kali kita kudu pake kondom, Ce.”
“Nggak ah,” Ece menggeleng. “Gak enak pake karet, lebih baik aku hamil daripada pake kondom gitu.”
Kami sama-sama tersenyum, “Aku juga nggak suka pake karet. Ya buat jaga-jaga, kita sebaiknya lebih hati-hati aja.” kataku.
Ece tersenyum dan mengangguk setuju.
 Saat itulah kami mendengar suara batuk Mitha dari kamar depan. Rupanya gadis itu sudah bangun. Ece segera melompat berdiri dan menyambar handuk, sementara aku dengan cepat mengenakan pakaianku kembali dan berlari menuju ruang tamu, pura-pura baru saja datang.
 Semenit kemudian, pintu kamar Mitha terbuka. Gadis itu keluar tersaruk-saruk dengan badan lemas dan wajah pucat. Aku segera melangkah menghampirinya. ”Gimana keadaanmu, Mith?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang terasa panas.
”Eh, mas Ardi.” ia menumpangkan tangan ke bahuku, terlihat sangat senang dengan kedatanganku. ”Sudah agak mendingan, tapi masih lemas.” jawabnya.
 ”Kamu duduk aja, biar aku bikinkan minuman hangat.” kataku.
”Teteh kemana?” ia bertanya mencari keberadaan Ece Geulis.
Saat itulah, Ece keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya terbalut handuk. ”Ece lagi mandi,” jawabnya sambil tersenyum dan mengedipkan mata kepadaku. Ia berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian.
Setelah Ece menutup pintu, Mitha menatapku dan bertanya, rupanya ia sempat menangkap isyarat mata dari Ece. “Itu tadi maksudnya apa?”
“Ehm, aku juga nggak tahu,” sahutku sambil segera berlalu  meninggalkannya, tidak ingin lagi ditanyai yang macam-macam.
Sampai malam aku menemani Mitha. Ece juga bersama kami berdua, ia baru pulang setelah suaminya datang. ”Ar, titip Mitha ya,” kata Ece sebelum keluar, ia menggendong bayinya yang sudah tertidur dalam dekapan. ”Awas lho, jangan diapa-apakan!” tambahnya serius.
Aku cuma mengacungkan dua ibu jari sebagai jawaban, sementara Mitha  hanya tertawa saja. Sepeninggal Ece, Mitha segera menggeser duduknya mendekatiku. Ia merebahkan kepalanya di bahuku sementara tangannya seperti tidak sengaja namplok di selangkanganku. ”Eh, udah bangun!” bisiknya pelan sambil meremas penisku perlahan.
atapnya dan tersenyum. ”Terus kamu mau apa? Kamu kan lagi sakit!” kataku.
”Yang sakit kan badanku, Mas, yang ini enggak kok!” Mitha menunjuk selangkangannya. ”Lagian, mas Ardi lagi ulang tahun sekarang, sudah seharusnya kita rayakan secara spesial.”
Penisku langsung menegang keras begitu Mitha mengusap-usapnya secara begitu halus. Dia terus membelainya sambil mulai menciumi mulutku. Aku hanya tersenyum dan mengimbangi lumatannya. Dalam hati aku berpikir; dua kado ngentot kudapatkan di hari ulang tahunku dari dua wanita yang sangat spesial, namun masih ada sisa satu, apa kira-kira besok Siska juga akan memberikan kado yang sama ya? Ah, aku harap saja begitu.
Mitha menyadarkan lamunanku saat menarik tanganku untuk ditempatkan di atas gundukan celana dalamnya. Sudah terasa begitu basah disana. Seperti biasa, Mitha mengenakan celdam model g-string, jenis kesukaanku. Mudah saja tanganku menyelip di selanya yang mungil dan mulai memegangi liang kemaluannya. Kutusuk-tusukkan jariku disana sambil berusaha kuimbangi ciuman Mitha yang kini terasa semakin yahud.
”Buka, Mith.” aku berbisik pelan sambil mulai membuka kancing bajunya satu persatu, juga melepas bra-nya yang terasa menghalangi remasan tanganku.
Payudaranya yang bulat padat kini sudah terbuka lebar, menampakkan gundukannya yang begitu membukit sempurna. Benda itu terlihat mengkal, sama sekali tidak kendor ataupun lemas. Beda dengan milik Ece yang meski sangat besar namun sudah tidak ’utuh’ lagi. Punya Mitha masih sangat sempurna, itu yang kusukai dan yang kucari-cari dari dulu.
”Hah... hah...” Mitha menghela napas dan membaringkan tubuh montoknya di kursi, menghadap ke diriku. Ia membiarkan tanganku mulai bermain-main di atas gundukan payudaranya yang mulus dan indah. Terasa lembut sekali saat kutekan, juga begitu hangat dan kenyal. Putingnya yang mungil kemerahan nampak begitu menggemaskan, yang langsung kupijit dan kupilin-pilin lembut hingga membuat Mitha jadi merintih kegelian.
”Curang ah, ini juga dilepas donk!” desisnya sambil membuka kancing ikat pinggangku dan menurunkan ritsletingku dengan terburu-buru. Setelah terlepas, ia segera meraih batang penisku dan langsung mengocoknya dengan begitu lembut.
Dengan cepat tubuh kami sudah sama-sama telanjang. Kami terus saling berpelukan sambil membelai tubuh masing-masing. Mitha menyandarkan kepalanya ke bahuku sambil tangannya tetap memegangi penisku, mengocoknya cepat. Sementara aku mengusap seluruh tubuh mulusnya, mulai dari punggung hingga bokongnya yang bulat padat. Juga tak ketinggalan gundukan dada dan liang vaginanya yang bulat tembem.
”Mas diam ya, sekarang biarkan Mitha yang bekerja.” bisiknya serak sambil berlutut dan mulai menciumi penisku. Kurasakan panas di tubuhnya sudah sedikit menurun, digantikan oleh cucuran keringat yang amat banyak, membuat tubuhnya semakin mengkilat dan basah saja. Mungkin benar apa kata dokter; seks bisa menyembuhkan meriang! Kalau tidak percaya, coba saja di rumah.
Mitha menatap mataku sambil mencoba menempatkan batang penisku ke dalam mulutnya. Awalnya memang terlihat agak susah karena milikku memang besar sekali, namun aku yakin Mitha bisa melakukannya karena sudah sering ia memanjakanku dengan oralnya yang mantab. Dan benar saja, satu menit kemudian, kontolku sudah meluncur mulus keluar-masuk di dalam mulutnya.
Dengan lidahnya Mitha menjilati batangku, ia juga menangkup bolaku dengan kedua tangannya dan meremas-remasnya lembut sambil menyuruhku agar meremasi gundukan payudaranya. Mitha memang paling suka kalau dadanya kumainkan, itu adalah salah satu area sensitif di tubuhnya, dipegang sedikit saja sudah membuatnya merintih tak karuan. Apalagi kalau diremas-remas seperti sekarang, erangan dan desisannya langsung berpadu dengan geramanku, mengisi ruang tamu yang mungil itu.
Sadar kalau kami masih berada di ruang publik, yang bisa saja ada orang tiba-tiba masuk, Mitha segera mengajakku berpindah ke kamar. Dengan memegangi penisku yang sudah mengacung tegak, ia menyeret tubuhku. Aku menurut saja, persis seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Namun jangan salah, sebentar lagi kerbau yang ini akan mencucuk sawah si ibu petani. Hehehe...
Mitha segera mendorong tubuhku hingga terbaring pasrah di atas ranjang. Seperti janjinya tadi, dialah yang aktif mengendalikan permainan. Sambil tersenyum manis, Mitha naik mengangkangiku dengan kaki melangkah di setiap sisi tubuhku. Lalu pelan-pelan ia mulai menurunkan tubuhnya ke bawah sampai kepala penisku mendorong lembut bibir liang vaginanya yang sudah begitu basah.
 Mitha memegangi penisku sejenak untuk digosok-gosokkan di celah bibir liang kemaluannya, sekedar meyakinkan kalau alat kelamin jadi sama-sama basah. Sementara ia melakukan itu, aku mengulurkan tangan untuk menangkup gundukan payudaranya yang bergoyang-goyang indah. Kuremas-remas sebentar benda putih mulus itu sebelum akhirnya kutarik mendekat untuk kujilat dan kuhisap-hisap putingnya yang mungil.
”Sudah, Mith. Masukkan sekarang!” rintihku saat ia terus menggesek-gesekkan ujung penisku di bibir liang vaginanya, tanpa berniat untuk segera memasukkannya.
”Sabar, mas. Sebentar lagi,” ia tersenyum, seperti sengaja ingin menggodaku.
Tak tahan, akupun segera memegangi pinggulnya dan menekannya ke bawah. Tanpa bisa dicegah, penisku yang sudah berada di celah bibir kemaluannya langsung meluncur masuk. Sleepp! Jleebb!
”Auwghh...” Mitha mendesah kaget, namun segera tersenyum. Apalagi saat pinggulku mulai bergerak maju mundur menyetubuhinya, ia semakin lupa akan niatnya semula untuk memanjakanku.
”Ohh... enak, Mas, auhh...” Mitha merem melek keenakan.
Begitu juga denganku, ”Ohh... ohh... goyang terus, Mith!” pintaku sambil berpegangan pada pinggulnya yang bulat.
Kami terus saling menghentakkan pinggul, terutama saat penisku terasa ada yang menyedot-nyedot halus. Oh, rupanya Mitha sedang memberikan empot ayamnya. Ditambah desahan dan rintihannya yang nakal, jadilah urat syaraf birahiku semakin terangsang hebat. ”Ohh... Mit, nikmat banget memekmu!” desisku dengan pantat terus bergerak maju mundur mengoyak liang vaginanya.
”Ahh... ahh... Mas!” sementara Mitha dengan desahannya yang manja, menggerakkan pinggulnya memutar, berusaha mengimbangi segala tusukanku. Ia menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya yang seksi kepadaku, yang langsung kusambar dan kulumat dengan begitu liar. Tak lupa juga remasan tanganku di gundukan payudaranya yang kini terasa begitu keras, lengkap dengan puting mungil yang kini jadi begitu kaku dan tegang.
Tubuh polos kami saling menempel erat, dengan keringatku bercampur dengan keringatnya. Sprei sudah acak-acakan, begitu juga dengan bantal dan guling yang entah terlempar kemana. Kami sudah tak peduli lagi. Yang penting kami sama-sama nikmat.
”Mith, ganti posisi yuk!” ajakku.
“Terserah, asal jangan dilepas ya? Habis enak banget sih.” desisnya manja.
Dengan kontol masih menancap tegang di liang vaginanya, kuangkat tubuh bugil Mitha lalu merebahkannya di bawah, sekarang ganti aku yang berada di atas. Sambil menciumi bibirnya, kembali pinggulku bergerak cepat, seperti layaknya piston dengan rpm maksimum. Dan tak cuma menusuk, terkadang aku juga menggerakkannya memutar hingga membuat Mitha jadi merem melek menahan gairah yang mungkin sangat diharapkannya malam itu.
”Gila, Mith. Enak banget memekmu!” bisikku sambil kembali meremasi gundukan payudaranya yang sekarang terlihat lebih menantang.
”Ohh, mas... aku udah nggak kuat!” rintihnya dengan pinggul tersentak-sentak pelan.
”Tahan sebentar, Mith. Aku juga mau nyampai!” erangku dengan goyangan semakin liar. Beberapa detik kemudian, segera kucabut batang penisku dan kusodorkan ke arah wajahnya. ”Hisap, Mith!” pintaku sambil tanganku mengocok kencang batangku yang rasanya seperti sudah berada di ujung.
Dengan jilatan ganas, Mitha menghisapnya. Tanpa menunggu lama, spermaku yang kental langsung muncrat keluar, membasahi mulut dan bibirnya. Seperti mendapat minuman hangat, Mitha langsung menelan semuanya. Ia bahkan menjilati semua sisa-sisanya hingga tidak ada yang tertinggal. Batang kontolku jadi bersih kembali layaknya habis dicuci, sama sekali tidak terlihat kalau habis muntah-muntah beberapa detik yang lalu.
”Kamu luar biasa, Mith!” pujiku atas kehebatan Mitha melayaniku. Aku duduk di atas ranjang sementara penisku masih menegang tanggung.
”Syukurlah kalau mas suka.” katanya sambil mengusap dan mempermainkan penisku dengan penuh rasa sayang.
Setelah kami kembali bernafas normal, ganti aku yang menempatkan Mitha di atas ranjang dan membuka kakinya hingga terbuka lebar. ”Mas mau apa?” ia bertanya bingung.
”Kamu belum keluar kan?” tanyaku dengan tangan mulai bermain di atas liang vaginanya. Tanpa menunggu jawaban, kumasukkan tanganku untuk mengocoknya sambil mulutku ikut turun untuk menjilatinya.
”Auwh... ahh.. ahh... Mas!” Mitha menggelinjang, sama sekali tak sanggup untuk menolak. Dalam waktu singkat, ia meremas rambutku dan menjepit kepalaku di antara pahanya.
”Mas, aku keluaragghh...” jeritnya dengan tubuh bergetar pelan. Dari liang vaginanya menyembur cairan hangat yang banyak sekali, membasahi seluruh mukaku karena aku sama sekali tidak dapat menghindar.
Kubiarkan Mitha berbaring untuk sejenak, setelah nafasnya sedikit mulai tenang dan jepitan kakinya agak sedikit mengendur, aku membungkuk ke depan untuk memeluk dan menciumnya. Kami terus dalam posisi seperti itu selama beberapa menit sebelum akhirnya Mitha berkata lebih baik kami segera membersihkan diri karena hari sudah beranjak malam.
”Aku masakkan air ya?” tawarku. Mitha mengangguk mengiyakan.
Kamipun mandi bareng, air hangat. Di kamar mandi, sempat sekali lagi kami melakukannya. Aku jadi teringat kejadian tadi sore, saat tanpa kusangka bisa melayani Ece di tempat ini. Layaknya deja vu, sekarang aku melayani adiknya untuk hal yang sama. Bedanya yang ini lebih nikmat karena Mitha masih muda dan tubuhnya masih sangat kencang sekali. Ibarat mobil, baru keluar dari dealer. Masih mulus dan halus sekali saat dinaiki, hehe... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar