Selasa, 23 Mei 2017

Serial Petualangan Evan 11



Evan masih tidur ketika Franda melangkah pelan ke kamar mandi. Di ruang tengah dia tertegun, matanya menatap sekilas sofa ruang tamu dimana Evan dan Hesty bersetubuh tadi malam. Bayangan kontol besar Evan yang menghentak-hentak di memek basah Hesty kembali menyeruak dalam pikirannya, membuat celana dalamnya dengan cepat melembab hangat.
“Enggak,” Franda mencoba mengusir bayangan itu. Namun tubuhnya gemetar ketika masuk ke kamar mandi, lututnya terasa lemah dan dengan cepat dia menutup pintu.
Meski baru saja orgasme dua kali berturut-turut di tempat tidur, Franda tidak dapat menghindar ketika tanpa sadar ia melepas baju dan mulai mencolokkan jadi ke celah liang kemaluannya yang sudah menganga lengket. Membayangkan batang kontol Evan yang besar lagi panjang, dia sadar bahwa sebagian dari dirinya ingin bercinta dengan laki-laki itu. Dan dia yakin Evan juga pasti mau. Tidak ada satu lelaki pun yang sanggup menolak tubuh seorang Franda.
Maka setelah mandi, sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, Franda berdiri di kamar tidurnya untuk memutuskan apa yang akan ia kenakan pagi itu. Diputuskannya untuk memilih rok pendek, yang apabila dia membungkuk, pasti pantat serta belahan vaginanya akan kelihatan. Untuk atasan, Franda memilih kaos tipis berbelahan dada lebar tanpa bra, yang memungkinkan bagi tonjolan buah dadanya untuk mengintip keluar.

Dia memandang diri lagi di cermin, mengagumi kedua putingnya yang tercetak samar di depan dada. Franda mencoba menggoda dengan menggelitiknya ringan, dan puting itu pun tumbuh lebih besar hingga mencuat hampir satu centi. Tersenyum puas, dia pun melangkah ke dapur untuk mulai menyiapkan sarapan. Kalau sampai Evan tidak tergoda dengan penampilannya yang seperti, sungguh celaka laki-laki itu.
Di saat Franda mulai menjerang air, terdengar pintu kamar Evan terbuka. Hanya mengenakan celana pendek, Evan terpana saat melihat Franda yang mondar-mandir di dapur dengan pakaian seadanya. Kalau saja tidak teringat pesan Tya, ingin dia menubruk gadis itu saat ini juga.
“Hhh,” Evan menghela napas untuk menetralkan pikiran.
“Hei, kamu sudah bangun,” sapa Franda, senyumnya manis sekali. “Mau membantu menyiapkan sarapan?” pancingnya.
“Emm.. tentu saja," Dengan mata menerawang, Evan melangkah mendekat. Pandangannya tertuju pada bulatan pantat Franda yang bergoyang-goyang indah, juga paha gadis itu yang begitu mulus sempurna.
"Tolong nyalakan kompornya,” kata Franda.
Tanpa membantah, Evan melakukannya. Diperhatikannya Franda yang sedang mengambil sayuran di dalam kulkas, posisinya yang membungkuk membuat dia jadi dapat melihat celana dalam gadis itu dengan begitu jelas. Evan menggeleng, berusaha mengenyahkan bayangan yang begitu indah itu. Namun Franda terus memprovokasi dengan berlama-lama memilih sayuran, membuat Evan semakin kesulitan mengalihkan pandangan.
Mengetahui Evan tak berkedip menatap bulatan pantatnya, Franda tersenyum dalam hati dan hampir secara bersamaan vaginanya mulai berdeguk basah. Diam-diam dia melirik ke belakang, mengintip celana pendek Evan yang berubah jadi sedikit menonjol. Ah, sepertinya rayuannya mengenai sasaran.
Berpura-pura sudah menemukan sayuran yang ia cari, Franda pun berdiri dan melangkah mundur ke belakang. Evan yang masih terpana tidak sempat menghindar, dan tonjolan di celana pendeknya pun menekan pantat Franda dengan begitu nikmat. Dia bisa merasakan keempukannya, juga kehangatan serta kelembutannya yang sanggup membuat tubuhnya menggigil.
Hal yang sama dialami oleh Franda. Melalui rok pendek serta celana dalamnya, ia bisa merasakan gemetar kemaluan Evan yang sedikit membuatnya tersentak. Putingnya yang dari tadi sudah berdiri kini makin berdenyut-denyut dan menonjol keluar akibat dari gesekan itu. Mereka terdiam untuk sejenak dengan kontol Evan masih tetap menempel di belahan bokong Franda, sampai akhirnya Franda berdehem ringan.
"Maafkan aku,” gadis itu berkata, pura-pura malu. “aku nggak tahu kalau kamu ada di situ," tambahnya dengan tawa ringan. 
"Ah, nggak apa-apa kok,” Evan menyahut gugup.
"Tolong ambilkan pisau, wortel ini harus dipotong-potong." kata Franda.
Evan meraih pisau hampir tanpa melihat, pandangannya masih tetap terarah ke tubuh mulus Franda yang pagi ini terlihat begitu menggoda. Gadis itu kini duduk di meja; kalau tadi pantatnya yang dipamerkan, kini Franda ganti menunjukkan belahan dadanya yang sangat lebar. Akibatnya, Evan jadi  dapat
menatap bongkahan payudaranya yang tak berkutang dengan begitu jelas. Meski tidak begitu besar, tapi karena menggantung bebas seperti itu, mau tak mau Evan jadi gelagapan juga dibuatnya.
"Enaknya ini dikukus apa direbus?" Franda bertanya setelah wortel di tangannya berubah jadi irisan kecil. Dalam hati ia tersenyum melihat Evan yang sedikit salah tingkah.
"Emm... terserah,” Evan menjawab dengan suara gemetar.
“Rasakan kau!” seru Franda dalam hati, merasa gembira karena rayuannya terbukti berhasil.
Dia membungkuk sedikit lebih jauh untuk mengekspos payudaranya lebih banyak lagi, dan Evan yang dari tadi terus menatap kini jadi makin melongo kagum. Wajahnya begitu dekat hingga bisa saja Franda menciumnya kalau dia ingin. Napas panas Evan terasa bergetar di rambutnya yang panjang. 
"Oh iya, bisa nggak bantu aku sebentar?" Franda meningkatkan rayuan.
"Tentu saja, apa yang bisa kulakukan?" tanya Evan masih tak berkedip.
"Lampu kamarku mati, bisa tolong kamu ganti?" Franda sudah merencanakan skenario ini sejak semalam, dan dia yakin Evan bakalan takluk.
Evan yang sudah benar-benar tak tahan dengan semua provokasi Franda, segera mengikuti tanpa bertanya-tanya lagi. Dia sudah curiga ini hanya akal-akalan saja, tapi sama sekali tak punya niat untuk membantah. Biarlah Franda yang memegang kendali permainan, dia akan mengikuti saja. Kalau misalnya nanti Tya memergoki, Evan bisa berkelit dengan mengatakan Franda yang mengajak duluan.
Di dalam kamar, Franda menyerahkan bohlam lampu. “Ini, tolong ya,”
Evan memandangi kursi berkaki empat tempatnya nanti berpijak. “Kecil banget? Bisa-bisa patah saat kuinjak,”
“Lha, habis gimana donk?” Franda pura-pura bingung, lalu sejurus kemudian dia tersenyum. “Gini aja... aku yang naik, kamu yang pegangi. Kursi itu pasti kuat menahan bobot tubuhku yang kurus.”
Evan mengangguk mengiyakan, dia sudah menebak inilah yang pasti akan terjadi. Mantap tangannya memegangi kursi sementara Franda mulai mengangkat satu kaki untuk menaikinya. Posisi ini memungkinkan bagi Evan yang berdiri di bawah untuk menatap kedua paha Franda dengan lebih jelas sekaligus juga celana dalam Franda yang berenda-renda karena rok gadis itu tertarik lebar ke atas.
Hanya berjarak beberapa centi, Franda tersenyum saat melihat Evan menatap terpesona pada kedua kaki jenjangnya, juga ke belahan celana dalamnya yang berada tepat di depan hidung. Evan pasti dapat mengendus aroma memeknya sekarang dan dia pasti juga dapat melihat bagaimana memek Franda sudah mulai basah. Pikiran itu membuat Franda jadi tambah bergairah dan membikin memeknya jadi lebih basah lagi.
“Tahan ya, sudah hampir selesai,” Franda bisa melihat kalau Evan kini berdiri mematung dengan mata sepenuhnya terarah ke bagian bawah tubuhnya yang terbuka lebar. Hanya dengan memajukan kepala, Evan sudah dapat menyentuh celah memeknya secara langsung kalau dia mau.
Tapi ternyata Evan terus diam sampai bohlam selesai diganti. Sedikit mendesah kecewa, Franda turun dari tangga dan mencoba untuk tersenyum. Saatnya untuk menjalankan rencana berikutnya.
“Terima kasih ya,” Dia berkata sambil melingkarkan lengan ke sekeliling tubuh pemuda itu, mesra Franda merangkul Evan yang masih berdiam kaku.
 “Iya, nggak masalah,” Evan merinding merasakan payudara Franda yang menghimpit di lengannya, benda itu terasa sangat lembut dan empuk sekali.
Merangkul lebih erat, Franda meraih ke bawah punggung Evan dan kemudian menarik pantat pemuda itu lebih erat hingga tonjolan kontol Evan yang masih mengacung keras bisa ia rasakan terhimpit di antara paha atas.
 “Egh,” Evan melenguh dan sebelum sempat memprotes, Franda sudah
mendaratkan ciuman ke bibirnya.
Awalnya hanya berupa sentuhan ringan, namun begitu Franda membuka mulutnya, pagutan itu pun berubah menjadi lumatan panas yang penuh gairah. Franda menyodorkan lidahnya dan Evan menerimanya dengan senang hati.  Ini sudah lebih dari yang ia bayangkan, dan Evan menikmatinya. Kalau memang Franda yang mengajak kenapa dia harus menolak?
. “Vann,” Franda mendesah merasakan desakan kontol Evan di depan perutnya. Dia sangat tergoda untuk meraih benda itu dan mempermainkannya. Tapi semua ada waktunya. 
“Iya, ada apa?” sahut Evan sambil membelai lembut pipi Franda, sementara mulut gadis itu terus ia ciumi bertubi-tubi.
“Nggak apa-apa, teruskan saja." Franda merintih pelan dengan wajah berubah merah, tanda kalau sudah mulai bernafsu. “kamu juga boleh memegangi dadaku kalau kamu mau,”
Evan terkesiap, tak tahu harus berkata apa. Namun tangannya tetap terjulur untuk meraih bulatan payudara Franda dan perlahan mulai meremasnya lembut hingga wajah Franda bersinar penuh kegembiraan.
“Jangan sungkan-sungkan, Van,” bisik Franda dengan suara gemetar. “Belai semua tubuhku, sesukamu.”
"I-iya," Dengan ganas Evan langsung mengacak-acak dada gadis itu. Tangannya dimasukkan ke balik baju agar dapat memegangi payudara Franda secara langsung. "Susumu lembut, aku suka." bisiknya.
“Remas, Van. Pijit yang keras!” Franda menggelinjang geli dan matanya melirik celana pendek Evan sejenak. Bisa ia lihat kalau kontol laki-laki itu sudah benar-benar keras sekarang, tercetak jelas di balik kain dengan posisi agak miring ke kiri. Franda menyentaknya dengan paha kanan agar benda itu dapat menampakkan diri sedikit demi sedikit.
“Hisap putingnya, Van,” Dia menggelinjang saat Evan memijit tonjolan buah dadanya kuat-kuat.
“Begini?” Tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, Evan lekas menyingkap baju tipis Franda untuk mengekspos bulatan payudaranya yang mulus sempurna. Ukurannya memang tidak begitu besar, tapi terlihat sangat menarik sekali. Terutama keduanya putingnya yang nampak lezat, yang mencuat hampir satu centi. Kesanalah mulut Evan terarah dan tanpa basa-basi langsung mencucupnya satu per satu.
“Hsss... iya! Terus, Van!” rintih Franda saat Evan melahap rakus salah satu putingnya, penuh nikmat ia menyusui pemuda tinggi itu. Putingnya terus digelitik, sementara bulatannya tetap aktif diremas-remas.
Mendesah gembira, Franda membelai kepala Evan dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain ditempatkan di tonjolan celana pendeknya. Selama Evan menghisap, Franda ikut bermain dengan mengusap-usap tonjolan keras di dalam celana pendek pemuda tampan itu.
“Kamu menyukai tubuhku, Van?” tanya Franda saat kemaluannya kian terasa membanjir.
“Tentu saja. Tubuhmu indah!" Evan menyeringai, mulutnya tetap berada di depan payudara Franda yang kini sudah nampak memerah.
“Bagus mana dengan tubuh Tya?” Franda memberinya ciuman di dahi. 
"Itu pertanyaan sulit,” Evan menjulurkan lidah untuk melahap satu puting.
Franda menggelinjang geli dan kembali berbisik, “Sudah, Van. Aah.. aku nggak tahan.
Sambil tetap memegangi bongkahan Franda yang membusung indah, Evan balas berbisik. “Aku juga dari kemarin ngaceng terus, nggak tahan pengen dijepit sama memekmu ini!” godanya dengan tangan beralih membelai selangkangan Franda yang masih tertutup rapat.
Gadis itu tersenyum. “Duuuh.. gila! Gede bener kontolmu, Van. Pantas aja Tya jadi suka. Coba sini, aku mau lihat.Gemas dia menunduk lalu berjongkok, kemudian membuka celana pendek Evan dengan memelorotkannya ke bawah pelan-pelan.
“Wow! Benar-benar kontol yang bikin kangen!” kata Franda sambil mempermainkan batang kontol Evan yang meloncat keluar. Dengan jari-jarinya yang lentik ia mengelus-elus batang panjang itu sambil tersenyum manis.
“Kamu juga buka donk... aku pengen lihat kamu telanjang bulat.“ Evan menarik tangan Franda dan kemudian melumat bibirnya sekali lagi. Mereka berdua kembali terlibat dalam ciuman rakus yang penuh gairah, sambil tangan Franda mengocok-ngocok penis Evan, sementara Evan balas meremas-remas buah dadanya.
 Sehabis saling melumat, Franda mendorong Evan mundur hingga jatuh terjengkang di tempat tidur. “Ini kan yang kamu inginkan?” tanyanya sambil melucuti rok juga  sekaligus celana dalamnya hingga dalam waktu singkat tubuhnya sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
“Indah kan tubuhku?” Franda bergerak memutar, memamerkan tubuhnya yang polos sempurna pada Evan. Wow, pinggulnya sungguh besar dan montok, dambaan setiap lelaki. Kesanalah pandangan Evan terarah ketika Franda memberinya senyuman nakal.
“Indah. Sangat indah!” desah Evan dengan mata tak berkedip. “Lebih indah dari milik Tya.”
“Terima kasih, Van. Kamu boleh menikmatinya. Tubuhku milikmu seutuhnya.” Franda berkata.
“Pasti. Tentu saja,” Evan menyahut tanpa berpikir.
“Berikan aku kepuasan birahi, kamu nggak boleh pergi sebelum memuaskanku.” Franda berjalan mendekat.
“Kujamin kamu nggak akan kecewa,” Disambutnya uluran tangan Franda yang mulai menindih tubuhnya.
“Buat aku merintih-rintih, bahkan sampai kelojotan kalau perlu.” Franda menempatkan salah satu putingnya di mulut Evan dan membiarkan laki-laki itu kembali menyusu kepadanya.
Evan menjilat dengan lebih rakus dan kemudian membalik tubuhnya agar kini dia yang menindih, Franda disuruhnya agar berbaring pasrah di bawah. Gadis itu kembali melenguh ketika dia mempermainkan kedua putingnya. Gemas Evan memutar-mutar benda mungil itu di dalam mulut sambil tiada henti meremas-remas bongkahannya yang mulus sempurna hingga membuat Franda semakin mendengus tak karuan. Gadis itu memeluknya erat dan tangannya tak henti-henti meremas batang kontol Evan, meremasnya dengan sekuat tenaga.
“Aauw! Nda... aah! Pelan ngeremesnya. Bisa patah kontolku!“ sergah Evan menahan lumatan.
“Gemes aku sama kontolmu, Van.. gede banget! Bikin aku nggak tahan!”
“Pasti memek kamu dah gatel ya bayangin kontolku?“ ledek Evan.
“Enak saja,“ Franda tertawa manja saat Evan menggigiti puting susunya.
“Jujur saja deh,“ desak Evan dengan mulut penuh, terus dijilatnya puting mungil Franda hingga jadi tambah memerah.
“Iya sih.. aku memang suka membayangkan kontolmu, terutama sejak...”
“Sejak kapan?” kejar Evan.
“Ughhh.. sejak kamu ngentotin Hesty di ruang tamu.” terang Franda.
Evan terdiam sejenak. “Jangan bilang-bilang Tya, nanti dia marah.”
“Beres, asal kamu juga mau membagi kontolmu kepadaku,” sergah Franda cepat.
“Kenapa sih kamu suka sama kontolku?” Kembali Evan menciumi bongkahan payudara Franda, sementara tangannya mengarah ke bawah untuk mulai meremas-remas bokong Franda yang membulat indah.
“Besarnya itu lho.. ughh, bikin aku nggak tahan pengin cepet menikmatinya! Pas nyodok Hesty kemarin kayaknya mantab banget gitu,“ jelas Franda sambil tersenyum.
“Memang mantab,” sahut Evan bangga. “Nah sekarang.. emut dulu kontolku, biar tambah mantab.“
“Oke.. sini! Aku juga sudah nggak tahan pengin menjilati dan mengulum kontolmu.“ Franda bergegas bangkit menyusul Evan yang kini duduk di ranjang.
Setelah mengocok batang kontol Evan barang sejenak, kepalanya kemudian mulai turun dan pelan mulai melahap benda panjang itu. Dengan mulut terbuka lebar, kepala Franda pun bergerak maju mundur sambil lidahnya menjulur menjilati batang kontol Evan.
“Terus, Nda! Telan air maniku sekalian,“ dengus Evan merasakan jilatan Franda yang sedikit rakus. Mulut gadis itu turun bahkan sampai ke buah pelirnya, kemudian naik lagi ke ujung dan mulai menjilat lagi. Kulumannya makin terasa cepat ketika kontol Evan sudah berubah cukup basah, Franda nampak tak tahan untuk mempermainkan daging panjang yang ngaceng itu.
“Uuugh… enaak, Nda! Terus! Duh, kamu pinter banget mainin kontol,” puji Evan sambil mengelus-elus kepala gadis itu dan merapikan rambutnya yang panjang. Franda terus memasukkan penis Evan ke dalam mulutnya dan disedot dengan begitu gemas.
“Aduh, Nda! Kamu nakal.. aah!!Evan melenguh merasakan hisapannya.
“Kamu suka?” Franda memandangnya sebentar, hanya memasukkan separoh batang Evan ke dalam mulutnya. Namun lidahnya tetap bermain dengan membasahi ujung kontol Evan menggunakan ludahnya
“Enak sekali, Nda! Aaaaaah.“ sambut Evan gemas, merasa senang sekaligus juga puas mendapatkan blowjob darinya.
Franda kembali memasukkan kontol Evan ke dalam mulutnya dan menghisapnya berulang-ulang sambil tangannya memegangi buah pelir Evan dengan lembut. Hampir dua puluh kali batang itu keluar masuk di dalam mulutnya, dan Evan terlihat semakin tak tahan. Sambil melenguh, Evan memegangi buah dada Franda dan meremasnya kuat hingga membuat gadis itu sedikit menggeliat kesakitan. Dengan satu tangan dia menahan Evan agar tidak meremas lebih keras, namun di satu sisi Franda makin mempercepat hisapannya hingga membikin Evan jadi menggelinjang tak karuan.
“Terus, Nda! Terus!!“ rintih Evan saat Franda mengocok batangnya berulang-ulang di dalam mulut, cepat namun juga cukup kuat. Dia menghentikan remasan dan ganti menyapu bagian dahi sampai bagian ubun-ubun gadis itu, ingin menonton Franda ketika memuaskan batang penisnya.
“Kamu cantik, Nda…” pujinya. “Habis ini aku pasti nggak tahan pengin selalu bercinta denganmu,“
Franda menyambutnya dengan sebuah senyuman. Bibirnya penuh oleh batang kontol Evan yang terus bergerak keluar masuk. Berulang-ulang dia melakukan kuluman, hampir sepuluh kali batang Evan disedotnya dengan kuat.
“Ndda... aaaaah!!“ Evan mengerang sambil mengangkat kaki.
Franda masih tetap lahap mempermainkan batang kontolnya; lidahnya menyapu melingkar-lingkar sebelum kemudian turun sampai ke buah pelir. Gemas Franda bermain-main dengan telur Evan yang sebelah kiri, kemudian pindah ke sebelah kanan.
“Kontolmu enak, Van.. aku suka sekali sama kontolmu! Hhmm… hhhs..“ Franda mendesis.
“Terus, Nda! Bikin aku muncrat.. telan spermaku!“ balas Evan.
“Iya, Van. Pasti kutelan air manimu… rasanya pasti gurih dan nikmat,“ Franda mengedipkan mata sebelah kirinya.
“Kamu sungguh menggoda, Nda! Nggak rugi rasanya menggenjotkan kontolku ini ke memekmu nanti.“ kata Evan gemas, yang disambut tawa oleh Franda.
“Tentu donk.. kamu harus bisa bikin aku puas.” kata Franda sambil menjilat lagi lebih cepat. “tapi tunggu ya, aku puaskan kamu dulu...“
“Aauw, Nda! Kamu memang nakal… aaah,“ erang Evan tak karuan sambil punggungnya bersandar ke tembok belakang.
“Masih lama nggak keluarnya?” tanya Franda.
“Terus! Hisap lebih cepat!” tukas Evan gemetaran.
“As you wish.. yang penting kamu merasa nikmat,” Setelah meludahi batang kontol Evan, Franda kembali menjulurkan lidahnya untuk sekali lagi menjilati benda panjang itu.
“Agh... enak, Nda! Hisapan kamu enak banget!” Evan menyerah dengan kenakalan Franda
Apalagi saat gadis itu menghisap semakin cepat di batang kontolnya, sambil jari-jari lentiknya mengocok lembut dan meremas-remas biji pelirnya berulang-ulang. Evan sampai terkejang-kejang dibuatnya. Dia kini sudah tidak duduk lagi, tapi menyorongkan pinggulnya ke depan agar Franda semakin bebas dalam melakukan blowjob. Mereka sama-sama gatal, sama-sama haus akan belaian birahi. Di saat Franda terus menghisap kontolnya, Evan dengan nakal mengulurkan tangan untuk meremas-remas pantat Franda yang membulat indah.
“Haah... iyah! Remes gitu, Van... enak!“ lenguh Franda di tengah-tengah jilatannya. Sudah hampir seperempat jam dia bermain dengan batang kontol Evan dan nampaknya laki-laki itu juga mulai tak tahan.
“Aku mau muncrat, Nda! Aduh... nggak tahan nih,“ lenguh Evan dengan badan menegak.
“Keluarin aja, jangan ditahan!” Franda semakin cepat lagi dalam menjilat, sesekali dia juga menyedot kuat-kuat
“Aduh, Nda.. aduuh! Hampir sampai.. ntar lagi... aaah!!“ Evan mengerang sambil tubuhnya menggelinjang tak karuan.
Di saat Franda terus melakukan kuluman, dia akhirnya ejakulasi dengan kenikmatan yang sungguh luar biasa. Spermanya muncrat kemana-mana, tapi semua ditadahi oleh Franda. Tubuh Evan masih menegang dan kemudian melengkung ke depan ketika spermanya terus mengalir, cairan itu tumpah ruah ke tenggorokan Franda.
“Van... aaaah!!“ lenguh gadis itu. Saking banyaknya air mani Evan bahkan beberapa sampai keluar dari bibirnya, menetes ke dagu dan buah dadanya. Sisanya langsung ia telan tanpa ragu, kemudian dengan gemas dia menjilati sisa-sisa sperma Evan yang masih menempel di ujung kontol. Benda yang tadi kaku dan sangat panjang itu kini terasa sedikit agak melunak.
“Gurih, Van! Makasih ya,” Franda tersenyum nakal.
“Sama-sama, Nda. Jilatan kamu nikmat banget!” Evan merangkul dan melumat mesra bibir gadis itu.
“Van, hhm… tunggu sebentar ya, aku mau ambil minuman dulu. Tenggorkan rasanya seret sehabis nelan air manimu,“ Franda bergegas turun dari ranjang dan pergi ke luar kamar.
Evan yang masih lemas hanya bisa menyaksikan bongkahan pantat Franda yang bergoyang indah ketika gadis itu menghilang di balik pintu, pantat itu terlihat sangat berisi sekali. “Sebentar lagi tiba giliranku untuk mempermainkan pantat itu, juga lubang memek Franda yang basah memerah.” tekadnya dalam hati.
Hanya berselang lima menit, Franda sudah kembali sambil membawa dua gelas minuman. Evan tak tahu apa itu, tapi yang jelas warnanya kuning.
“Ini minuman energi, biar menambah tenaga kita dalam bercinta…” kata Franda.
“Emang kamu mau kita bercinta berapa lama?” Evan menerimanya dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.
“Kamu nggak boleh pergi sebelum aku puas.” ancam Franda. “Aku ingin digeluti sampai lemas.“
Evan tertawa, “Siapa takut? Jangan panggil aku Evan kalau nggak mampu melakukannya.“
“Awas ya, jangan sampai enggak...” Franda duduk di samping Evan lalu mengocok batang pemuda itu agar kembali mengencang. Dia juga membungkuk memberikan buah dadanya agar Evan bisa puas menyusu di sana.
Mendapat rangsangan seperti itu, tak lama kontol Evan pun sudah kembali berdiri. “Nah, sip… kontolmu sudah siap! Ayo sekarang gantian aku yang dijilat, garap memekku sampai aku puas! Bikin aku kelojotan juga kayak kamu tadi.“
Evan hanya tersenyum saja lalu langsung menggelesot untuk memandangi vagina Franda, bentuknya sangat sempit sekali karena memang lama tak digunakan. “Rapat sekali, Nda! Sepertinya kontolku nggak cukup deh kalau disuruh masuk ke sana.“ katanya sambil memberikan elusan sayang di permukaannya yang mengkilat basah. Jembut Franda dipotong pendek, sementara itilnya nampak mengintip malu-malu di antara lipatannya yang berwarna merah.
“Emut dulu, Van. Nanti pasti terbuka,” Franda merintih.
“Terserah kamu, sayang.“ Evan langsung nyosor ke vagina sempit itu dan memberikan sedotan di lubangnya yang mungil, membuat Franda perlahan mengerang dan menggelinjang.
“Auw.. aaaaargggh.. terus, Van! Terus..“ erang Franda dengan gemas, tubuhnya menggelinjang ke ke kiri dan ke kanan, matanya merem-melek menikmati jilatan Evan di lorong vaginanya. “Terus, Van... aooooooh... aku nggak tahan... “ erang Franda dengan suara yang sedikit keras sehingga terdengar nyaring di kamar itu.
Evan terus mencucup dan menjilat, ia sangat senang sekali melakukannya karena bisa menikmati tubuh sintal artis cantik ini meski ukuran buah dadanya tidak begitu besar. Sambil mengoral, Evan mencoba mengerjai klitoris Franda. Tangannya juga meremas buah dada Franda sehingga gadis itu semakin menghebat dalam merintih dan menggelinjang. Tubuhnya sudah berkeringat deras dan sudah basah. Franda menggigit bibir lalu dilepaskan lagi, tangannya menggapai-gapai sprei saat Evan terus menyedot klitorisnya dan menyentil-nyentil dengan menggunakan lidah. Setiap kali disentil, Franda menaikan dadanya sehingga tangan Evan jadi semakin mantap dalam meremas.
“Oohh... sssh... enaak, Van! Terus!“ teriak Franda nyaring dan tak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Siang yang panas itu membuat tubuhnya semakin licin berkeringat.
Evan terus menyedot-nyedot dan Franda semakin tak karuan dalam menggoyangkan tubuhnya. Kakinya menjepit kepala Evan sehingga pemuda itu tak bisa bergerak. Dengan meremas-remas rambut Evan, Franda semakin keras dalam menggelinjang, nampak tak tahan dioral.
“Auwghh.... aaghhhhhh!!!” Akhirnya Franda menjerit saat menjemput orgasmenya. Tubuhnya menegang sangat kaku begitu cairannya menyembur deras.
Evan sampai harus menahan paha gadis itu agar tak menjepitnya lebih keras. Ketika melepaskan jilatan, dari memek Franda muncratlah cairan kewanitaannya yang begitu deras dan kencang, seperti air kecing lelaki dalam posisi ngaceng.
“Hmmm... lama tak disetubuhi ya?” tanya Evan sambil tiduran di samping gadis itu dan memberikan senyuman mesra.
Franda masih menikmati orgasmenya, tubuhnya melemas dengan cepat dan matanya merem keenakan. “Terima kasih, Van. Aku sudah lama nggak dijilat seperti tadi.” Franda pelan-pelan membuka mata, dan balas tersenyum.
 “Kamu akan aku puaskan, aku janji. Lihat, kontolku yang gede ini akan mengoyak memekmu!“ Evan menunjuk ke penisnya yang manggut-manggut nakal.
“Tunggu sebentar, Van.“ Franda menggeliat, berusaha untuk mengatur napas dan menata tenaganya kembali.
Evan hanya diam memandangi. Dia tersenyum kala tiba-tiba Franda menindih tubuhnya, memberikan ciuman di bibirnya dengan sangat rakus sekali, lalu menduduki pinggang Evan. Franda meludahi tangannya, kemudian mundur lagi dan memegang kontol Evan untuk diolesi dengan ludah itu, lalu dikocoknya cepat.
“Gedhe banget kontolmu, Van.“ Franda mengarahkan kontol Evan ke lubang kemaluannya yang telah menganga.
Evan hanya tiduran dan mengelus-elus buah dada gadis itu, mili demi mili penisnya mulai masuk.
“Auuuuuuuh... besar sekali!” erang Franda dengan suara mendesah. “Oooooh... enaknya kontolmu, Van!“
“Oh, betapa bahagianya aku bisa menikmati tubuhmu, Nda,“ kata Evan sambil terus meremas buah dada Franda yang semakin terlihat tak karuan. Penisnya sudah tenggelam dalam lubang Franda yang licin dan becek, penisnya serasa diurut-urut oleh lubang sempit itu. Bagian atas vagina Franda terlihat menggelembung seiring batang kontol Evan yang kian tenggelam, gadis itu meringis dan memandang dengan senyuman menggoda.
“Kamu mau tiap hari kuginikan, Nda?” tanya Evan nakal.
“Mau donk! Siapa juga yang bisa menolak?!“ Franda meracau. Kontol Evan tinggal beberapa centi saja yang masih berada di luar, dengan gemas Franda menyentaknya sehingga mereka memekik secara bersamaan.
“Addddduuuuh ... enaknya!“ jerit Franda sambil menarik tangan Evan agar bisa duduk di ranjang, posisi itu membuat kontol Evan serasa diperas dalam lorong vaginanya.
“Bisa muncrat nih aku,“ Evan melenguh keenakan.
“Awas kalau keluar duluan!“ Franda balik mengancam.
Dia lalu mulai bergerak naik turun, menggenjot tubuh sintalnya di dalam pangkuan Evan. Evan mengimbangi dengan menyatukan tangan mereka, gesekan buah dada Franda yang lembut di depan dadanya, membuatnya semakin suka dengan bukit kembar itu. Evan meremas-remasnya gemas, sesekali juga memilin-milin putingnya yang mungil kemerahan hingga Franda melenguh dengan keras.
“Oh enaknya... terus, Van! Ayo... ayo!“ kata Franda, mengajak mendayung lebih dalam.
“Iya, sayang. Oh, aku ingin terus bersamamu, Nda.“ Evan memberikan ciuman di bibir Franda yang tipis memerah.
Bibir mereka bertaut mesra. Tangan Evan yang masih meremas-remas di buah dada membuat Franda menggelinjang tak karuan, sementara kontol pemuda itu terus keluar masuk di lorong vaginanya yang sempit dan ketat. Gerakan Franda sangat bervariasi, tidak hanya naik turun, kadang dia juga memutar pinggul, membuat penis Evan serasa disedot dan dipilin-pilin dengan begitu hebat. Mereka saling memacu, bunyi keciplak alat kelamin membuat keduanya semakin terhanyut dalam nafsu birahi.
“Ohh... Van, enak sekali! Nikmat bangethh...“ kata Franda sambil kembali melumat bibir Evan, tangannya memegang telapak tangan pemuda itu agar terus meremas-remas tonjolan buah dadanya.
Gerakan Franda semakin liar di atas tubuh Evan, dia terlihat binal dan tak terkontrol. Siapa sangka, gadis yang sehari-hari terlihat kalem ini, ternyata bisa bercinta dengan begitu panas. Gara-gara lama tak disetubuhi membuat Franda jadi gila dan ketagihan akan batang kontol Evan. Memeknya menjepit dengan sangat keras, bagai ingin mematahkan kejantanan Evan menjadi dua bagian. Ngilu tapi juga sangat nikmat.
“Kamu nakal juga, Van... pantas Tya nggak kawin-kawin, rupanya gara-gara kamu.“ ujar Franda di tengah nafasnya yang kacau.
“Oh, jangan kau katakan soal hubungan seks ini kepadanya. Nanti dia marah,“ Evan terus berusaha melawan nafsu Franda yang begitu liar. Dia tidak ingin kalah.
“Iya, aku janji.“ Di sisi lain, Franda terus menggenjotkan tubuhnya naik turun di atas tubuh bugil Evan. Gerakannya menjadi semakin cepat seolah akan merasakan orgasme. “Van, aku mau... mau sampai!“ bisik Franda terengah.
“Iya, keluarkan saja.“ Evan mengangguk, ia mengimbangi gerakan gadis itu dengan semakin keras meremas-remas buah dada Franda yang terasa padat dan empuk.
Vagina Franda menjepit dua kali lebih kuat, Evan sampai harus menahan diri agar tidak ikut muncrat. Tubuh Franda menengang sangat kaku, menelikung ke belakang seperti busur panah, lalu...
“A-akuuu... oooooh... s-sampaiiiiiii...“ teriak Franda dengan dada membusung.
Evan meremasnya kuat-kuat untuk memaksimalkan orgasme gadis keturunan china itu. Terasa Franda mengejan berkali-kali saat cairan kenikmatannya menyembur deras, tubuhnya menegang kaku lalu kemudian lemas dalam pelukan Evan. Evan memberikan pelukan mesra dan mengelus punggung gadis itu. Tubuh seksi Franda yang berkeringat diam dalam pelukannya. Evan membiarkan sejenak, terus memeluk mesra sebelum Franda mulai bersuara.
“Terima kasih, Van, sudah memuaskan aku. Kamu memang hebat!” puji Franda sambil memberikan kecupan di bibir.
“Iya, sama-sama, Nda.“
“Kontolmu hebat, Van. Aku suka! Nanti aku putus saja sama pacarku biar bisa bebas ngentot sama kamu.“
“Terserah, Nda. Aku juga senang kalau bisa kembali main sama kamu.”
“Tya pasti bahagia memiliki kamu... kamu ganteng, kuat, dan nakal, Van!“ Franda mengelus-elus kepala Evan.
“Ah, aku juga akan berlaku sama kepadamu, Nda.“ Evan memberikan senyuman mesra. “Aku tahu kok kalau kamu suka seks, tadi mancing-mancing aku pakai pakaian minim yang mengundang nafsu.”
“Tapi kamu suka kan?” Franda mengerling. “Kalau nggak digituin, kamu nggak bakalan berani megang tubuhku.“
“Yah habisnya Tya yang melarang aku.”
“Sekarang aku yang minta, kamu jangan pikirin Tya lagi. Kalau ada apa-apa, nanti aku yang tanggung jawab.” Franda memandang mesra.
Evan hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Dia memeluk lebih erat, lalu berkata. “Terima kasih, Nda. Mumpung Tya belum pulang...”
“Ayo kita lanjutkan lagi, Van!” potong Franda cepat. “Semprot memekku dengan air manimu. Hamili aku, Van!”
“Dengan senang hati. Nda!” Evan memajukan pinggulnya, dan meneruskan persetubuhan mereka yang tadi sempat terputus.
Evan sudah mabuk oleh birahi sehingga nafsunya menjadi liar. Ia jilati seluruh wajah Franda mulai dari kepala sampai ke dagu. Bahkan lubang hidung Franda beberapa saat ia rogoh dengan lidahnya. Evan ingin merasakan seluruh jengkal wajah cantik gadis ini. Dia sungguh merasa beruntung karena gadis model ini mau disetubuhinya.
Mulutnya mulai bergerak menjelajahi leher jenjang Franda. Tak lama leher Franda sudah penuh oleh ludah, cupangan Evan juga mendarat di berbagai tempat di leher itu dan meninggalkan bekas di sana-sini. Tubuh indah ini adalah miliknya dan cupangan Evan adalah tanda bahwa lahan ini sudah ia kuasai.
Lalu mulutnya mulai menggarap dada Franda. Lembah antara kedua bukit kembar itu begitu seksi karena terlihat sangat dalam disebabkan oleh payudara Franda yang begitu mancung dan agak berjauhan. Ada tahi lalat kecil di lembah payudaranya. Tak lama lembah itu pun penuh dengan liur dan bekas cupangan juga.
Franda mulai mengerang kecil sambil menyebut nama Evan. “Aaaaahhhh… Vaaaan… aaaaaahhhhhh...”
Kemudian mulut Evan mulai mengembara di payudara yang sebelah kanan. Berhubung toket kirinya sudah penuh cupangan, Evan menjilati gundukannya terlebih dahulu, karena inilah kesukaannya. Ia suka menjilati gundukan terlebih dahulu sebelum akhirnya bercokol di puting perempuan. Dikenyot-kenyotnya tetek kanan Franda dengan penuh nafsu sementara Franda memeluk erat kepalanya sambil meremas-remas rambut.
Setelah cukup mencupangi dada kanan, Evan mulai menyedoti puting Franda. Yang menggemaskan adalah karena puting itu masih kecil sehingga kini walaupun sudah disedot-sedot, puting itu hanya sedikit saja menonjol.
Cukup lama Evan mengenyoti payudara Franda yang imut itu, sebelum akhirnya ia mulai menjilati perut si gadis. Dia mengenyoti pusar Franda yang tampak menggairahkan. Pusar itu bagaikan celah yang sempurna. Evan menyodokinya dengan lidah, dikenyotinya perlahan, sementara bau tubuh Franda mulai memenuhi seluruh ruangan.
Evan menggerakkan mulutnya lebih ke bawah lagi, dan lidahnya mengenai bulu kemaluan Franda. Ia sedoti jembut Franda yang jarang dan keriting itu sementara Franda mulai bertambah keras erangannya. Atau bisa saja dibilang bahwa sekarang Franda mulai melenguh. Memek Franda kini mengeluarkan bau yang khas hingga hidung Evan seakan dipenuhi bau itu.
Evan beringsut duduk dan membuka paha Franda lebar-lebar. Bibir luar memeknya masih rapat sekali. Dengan kedua jempol ia membuka bibir luar itu dan melihat kemaluan Franda yang merah muda dan basah mengkilat. Evan  menerjunkan lidahnya ke sana, terasa sangat berlendir dan mengeluarkan bau menggiurkan.
Franda langsung melenguh keras, “Uuuuuuuhhhh… enak, Vaann!
Jeritan itu memberitahu Evan bahwa gadis ini sudah menjadi miliknya hari ini. Apalagi bila ia telah menyetubuhi Franda, tentu Evan yang akan menjadi satu-satunya lelaki di dalam hidup Franda.
Rakus Evan menikmati air kemaluan Franda. Lubang memeknya begitu lembek, hangat dan basah. Mulutnya kini sudah basah oleh cairan vagina Franda. Bau tubuh Franda begitu keras sehingga walaupun sudah bercampur dengan air liur, bau mulut Evan tidak tercium sama sekali di kemaluannya. Hanya bau tubuh Franda yang dapat tercium di hidungnya. Inilah mengapa Evan suka sekali menjilati kemaluan perempuan. Dia tidak harus terganggu dengan bau mulutnya sendiri.
Maka cukup lama Evan menjilati dan menyedoti memek sempit Franda hingga gadis itu mulai berteriak kecil dan pinggulnya mulai bergerak untuk menekan memeknya ke mulut Evan.
Evan berpikir sudah saatnya menuntaskan rasa hausnya akan tubuh molek ini. Maka segera ia mengarahkan kontolnya ke lubang memek Franda dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya digunakan untuk menopang. Evan memajukan pantat hingga terasa kepala kontolnya mulai melesak masuk.
Memek Franda sangat sempit. Dinding vaginanya menjepit kepala kontol Evan dengan begitu kuatnya sehingga ada rasa linu yang Evan rasakan. Namun di pihak lain, kemaluan Franda sedemikian hangat dan lembab sehingga menimbulkan sensasi yang begitu nikmat.
Franda menjerit kecil, lalu merangkul Evan erat-erat. “Sakiiiit, Vaaaan…”
Evan menindih gadis itu dengan kedua tangan berada di samping sehingga sedikit membagi beban agar Franda tidak menopang tubuhnya seratus persen. Ia cium bibirnya dengan rakus. Franda meremas-remas rambut Evan sambil membalas ciuman itu, juga dengan penuh nafsu. Evan menyodokkan lagi batang kontolnya.
Franda melepaskan ciumannya dan berteriak kecil, “Sakkiiiiiittttt…”
Dengan suara perlahan Evan membujuknya, “Tahan sebentar, nanti akan jadi enak. Oke?”
Dengan dahi berkerut menahan sakit dan mulut bawah yang digigit Franda mengangguk. Pelukannya begitu erat Evan rasakan. Evan segera menyusupkan tangan di kedua pantat gadis itu, lalu dengan sekuat tenaga ia menghantamkan pantatnya ke depan hingga seluruh batang kontolnya amblas masuk ke liang senggama Franda.
Franda berteriak sambil memeluk erat dengan kedua tangan dan kakinya. Kakinya merangkul paha belakang Evan. Terasa memek sempit Franda menggenggam kontol Evan erat sekali. Kontol Evan sedikit senat-senut jadinya.
“Kalau sudah reda sakitnya, kamu goyang pantatmu maju mundur, ya?”
Franda hanya mengangguk sambil tetap meringis dan memejamkan mata. Evan memeluk dan mencium bibirnya. Franda membalas pagutan itu, untuk beberapa lama mereka berciuman dengan perlahan. Makin lama, ciuman Franda menjadi semakin panas. Lidahnya mulai menyapu-nyapu dengan cepat. Dan napasnya mendengus-dengus di hidung Evan.
Akhirnya Evan merasakan pantat Franda mulai bergoyang. Pertama kalinya perlahan, dan makin lama menjadi semakin cepat. Memek Franda pun mulai mengeluarkan pelumas lagi sehingga kontol Evan jadi licin terkena cairan kemaluannya.
Maka Evan pun mulai membalas goyangan pantat itu dengan tusukan penisnya. Mula-mula agak susah juga untuk menyeragamkan gerakan mereka, namun lama kelamaan keduanya mulai menemukan irama ngentot yang tepat. Kontol Evan mengocoki memek Franda yang sempit dan hangat. Selangkangan mereka terus beradu mengeluarkan bunyi tamparan yang semakin lama semakin keras terdengar.
Franda mulai keenakan, bahkan kini mulutnya tak mau tinggal diam dan mengimbangi jilatan dan hisapan Evan. Kala Evan mengenyoti leher dan pundaknya, Franda menciumi dan menjilat pipi dan jidat pemuda itu. Franda mulai melepaskan nafsu binatang yang dimilikinya tanpa malu-malu lagi.
“Enak?” tanya Evan.
“He-eh…” jawab Franda.
“Memek kamu rapet sekali,
Ah, burung kamu aja yang kegedean,”
“Burung apaan? Kontol… bilang aja kontol,
“Ihhh, jorok!”
“Aku berhenti nih kalau kamu nggak mau,”
“Ah, kamu jahat, Van.
“Bilang dong, kontol.
“Kontoooolll…”
Nah, gitu baru pintar…”
Lalu Evan kembali mencium bibir Franda sembari terus mengentoti tubuhnya yang hangat dan sintal. Kedua tubuh mereka sudah mengeluarkan keringat walaupun di kamar yang ber AC. Keringat mereka bersatu padu, sementara di selangkangan, keringat mereka telah bercampur dengan cairan memek Franda yang kian mengalir deras.
Rupanya Franda sudah mencapai puncak kenikmatan. “Vaaaaaan… aku dapeett…”
Dia mencengkram tubuh Evan kuat-kuat, kemaluannya yang sempit bergetar hebat bagaikan orang yang sedang kedinginan. Dinding memek Franda seperti  bernapas cepat menyedot-nyedot kontol Evan.
Iya, aku jugaaa…” Evan jadi tak tahan, jebol sudah birahinya. Ia menyusul ejakulasi berkali-kali di dalam kemaluan Franda yang cantik itu.
Untuk beberapa saat mereka bertindihan lemas setelah masing-masing mencapai klimaksnya. Evan segera berbaring di sebelah tubuh telanjang Franda agar tidak menindihnya terlalu lama. Beberapa saat mereka terdiam hingga akhirnya Franda berkata.
“Kalau aku hamil, gimana?”
Evan hanya tersenyum dan berkata, “Ya kita kawin aja. Gitu aja kok repot…”
Franda menyergap tiba-tiba dan memeluk Evan. “Oh, kekasihkuuuu…”
Mereka asyik berpelukan dan bercanda sehingga tidak terasa sudah jam sebelas siang ketika Tya Ariestya menelepon Franda. Ternyata Tya masih ada syuting sehingga baru pulang besok.
Kebetulan sekali, pikir Evan.
Maka keduanya merayakan keberuntungan itu dengan melakukan hubungan seks lagi. Hari itu tiga kali mereka berhubungan badan. Mereka hanya break sebentar waktu maghrib untuk makan, lalu kembali bergumulan di ranjang Franda. Tidak hanya seks, tapi mereka juga bercanda dan membicarakan banyak hal layaknya orang pacaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar