Sabtu, 27 Mei 2017

Tutur Tinular 14



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Sementara itu, Wirot yang berada di bawah bersama Mpu Ranubhaya melihat tubuh Arya Kamandanu melayang ke bawah. Wirot cemas dan panik sekali, hingga ia berteriak histeris, "Ohh, Guru... lihat Angger Kamandanu!"
"Diamlah,Wirot! Jangan bersuara apa-apa."
"Tapi, Guru..."
"Diam kataku!" suara Mpu Ranubhaya berat dan sangat dalam tanpa memandang muridnya yang sangat cemas melihat Arya Kamandanu melayang, meluncur dari pucuk bambu petung. Meluncur makin lama makin deras dan membuat Wirot menutup kedua mata dengan kedua tangannya.

Suasana malam kian mencekam, suara jengkerik, kelelawar dan serangga malam terdengar merintih-rintih meningkahi lolongan anjing liar dan burung hantu yang terus bersahut-sahutan. Beberapa saat lamanya lelaki tua itu tetap berdiri pada tempatnya sambil memperhatikan Arya Kamandanu. Wirot ternganga keheranan ketika kedua tangannya dia buka dan melihat tubuh Arya Kamandanu melayang ringan ke bawah. Terasa lama tubuh itu mencapai tanah yang banyak ditumbuhi tanaman liar. Wirot tidak berani berbuat apa-apa karena gurunya masih berdiri tenang di sampingnya. Karena terlalu lama Mpu Ranubhaya membiarkan tubuh Arya Kamandanu akhirnya jejaka tua itu berpaling pada gurunya.
"Ohh, Guru! Angger Kamandanu tidak apa-apa. Ya, tidak apa-apa? Tubuhnya masih utuh."
"Tentu saja tidak apa-apa, Wirot. Kau tentu heran bukan? Mari kita tolong Kamandanu keluar dari semak belukar itu, dan nanti semuanya akan kujelaskan pada kalian."
Kemudian kedua lelaki itu menghampiri tubuh Arya Kamandanu yang tergeletak di semak-semak liar. Arya Kamandanu masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Wirot yang lebih muda memegang bagian dada dan leher, sedangkan Mpu Ranubhaya menopang kedua paha Arya Kamandanu. Mereka menggotong tubuh pemuda itu ke daam gua. Napas mereka terengah-engah mengangkat beban tubuh Arya Kamandanu yang cukup berat. Keringat bercucuran di pelipis kedua lelaki itu.
Setelah sampai di dalam gua, tubuh pemuda itu dibaringkan di atas lempengan batu yang senantiasa dipergunakan untuk semadi Mpu Ranubhaya.  Wirot mengusap keringat yang mengembun di hidung dan dahinya. Mpu Ranubhaya tersenyum memandang sekilas pada Wirot yang masih kelihatan heran. Sejenak mereka saling berpandangan di bawah penerangan pelita minyak jarak yang tergantung di sisi dinding gua. Cahaya itu sesekali berkedip-kedip ditiup angin yang masuk dari mulut gua.
Kelelawar-kelelawar juga saling menjerit setiap kali terbang berpasangan dengan sesamanya. Suaranya menggema di dalam gua meningkahi tetes-tetes air yang selalu jatuh dari langit-langit gua. Wirot melangkah mendekati Arya Kamandanu ketika ia melihat pemuda itu perlahan membuka matanya dan perlahan-lahan menggerakkan kedua tangannya, mengusap kedua matanya dengan punggung tangan kanannya seperti seorang yang baru saja bangun tidur.
Wirot berjongkok dan berbisik pada pemuda itu tanpa menghiraukan gurunya yang duduk bersila di samping kanan tempat Arya Kamandanu berbaring. "Jadi, Angger Kamandanu tidak sadar begitu melayang dari atas pucuk bambu?"
Arya Kamandanu tidak segera menjawab pertanyaan Wirot. Ia hanya tersenyum sambil membetulkan posisi duduknya, bertopang pada kedua tangannya dan condong ke belakang. Ia mendesah, mengembuskan napas dengan menggelembungkan pipinya. Matanya yang bersinar cemerlang itu mengerjap-ngerjap. Alisnya tebal menaungi bola matanya. Dalam sekali ia menghela napas serta menyimpannya di perut. Mendesah lirih sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Wirot.
"Boleh dikatakan setengah sadar, Paman Wirot. Antara sadar dan tidak. Saya sudah pasrah. Sudah masa bodoh," jawab pemuda itu tenang dan sangat dalam.
Hal itu membuat Mpu Ranubhaya yang duduk setengah tombak di samping kanan Arya Kamandanu harus menjelaskan tentang ajian Seipi Angin kepada mereka. Lelaki tua itu memperhatikan kedua muridnya sebelum akhirnya membuka bibirnya yang hitam dan mengeriput.
"Di situlah letak rahasianya. Antara sadar dan tidak, dalam bahasa orang-orang tua disebut lali eling pewatesane. Nah, dalam keadaan seperti itu tubuh manusia akan kehilangan bobotnya. Semakin orang itu menguasai ilmu Seipi Angin ini, semakin banyak kehilangan bobot tubuhnya. Maka tidak heran kalau ada orang berilmu tinggi mampu menyeberangi sungai atau pun masuk dalam kobaran api, tanpa sedikit pun mempengaruhi keadaan tubuhnya. Apa yang telah dialami Kamandanu merupakan bukti nyata dari apa yang telah kuajarkan ini. Nah, apakah sekarang kau masih meragukannya, Wirot?"
Wirot menjadi sedikit gugup dan menunduk ketika gurunya memandangnya sambil tersenyum dingin. "Ehh, tidak, Guru. Sekarang saya baru benar-benar meyakininya," jawabnya dengan nada diyakin-yakinkan hingga terdengar dibuat-buat.
Kembali Mpu Ranubhaya memandang kedua muridnya berganti-ganti. Lelaki tua itu selalu tersenyum dan sesekali mengangguk-angguk sebelum akhirnya melanjutkan kembali penjelasannya. "Di dalam dunia kependekaran, ilmu meringankan tubuh seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Setiap calon pendekar yang ingin menempuh pelajaran kanuragan tingkat tinggi, mau tidak mau harus melewati tahap ini."
"Apakah tidak ada cara lain selain tidur di atas pohon bambu, Paman?" tanya Arya Kamandanu lirih.
"Ada. Tapi cara ini membutuhkan waktu yang agak lama. Wirot bisa menggunakan cara ini, karena hati dan kepercayaannya masih setengah-setengah."
Lelaki tua itu kemudian bangkit, melangkah beberapa tindak ke sudut gua, meraih sebutir kelapa yang ada di dekatnya, kembali duduk di tempat semula, lalu menimang buah kelapa itu dan mengayun-ayunkan dengan tangan kanannya. "Lihat, apa yang ada di tanganku ini?" tanyanya pada kedua muridnya.
"Buah kelapa, Paman," jawab Arya Kamandanu mantap.
"Ya. Buah kelapa. Kau bisa mengganti alas tidurmu dengan buah kelapa, Wirot."
"Ehh, maksud Guru?"
"Begini, ambillah buah kelapa seperti ini tujuh biji. Kemudian letakkan berjajar di tanah dan pergunakanlah untuk alas tidurmu setiap malam."
"Setiap malam? Sampai kapan, Guru?" tanya Wirot.
"Sampai kau mengalami suatu keadaan seperti yang telah dialami Kamandanu baru saja tadi. Suatu keadaan antara sadar dan tidak."
"Hmm, baiklah. Saya akan mulai mencobanya, Guru," jawab Wirot dengan bersemangat. Kedua tangannya terjalin dan meremas-remas. Ia benar-benar tergugah untuk mengikuti petunjuk gurunya.
Sementara Arya Kamandanu turut senang mendengar pernyataan Wirot. Kemudian ia ingin mengerti apa yang harus dilakukannya setelah berhasil menjalani ujian tidur di pucuk bambu petung. Pemuda itu bersungguh-sungguh. "Lalu bagaimana dengan saya, Paman?"
"Kau boleh meneruskan berlatih tidur di atas pucuk bambu. Cara seperti ini cocok untukmu. Kau mempunyai keberanian dan tekad yang besar. Cara seperti yang dipakai Wirot boleh juga kau gunakan, sekedar untuk melatih pintu kesadaranmu."
"Baik, Paman. Saya akan mengerjakan semua petunjuk Paman Ranubhaya."
Sejak saat itu, setelah keduanya mendapat petunjuk Mpu Ranubhaya maka Wirot dan Arya Kamandanu semakin bersungguh-sungguh mempelajari olah kanuragan. Tak ada sedikit pun waktu dibiarkan percuma. Mereka berlatih sangat keras hingga jauh malam. Bahkan karena terlalu asyik dengan latihan-latihan itu keduanya semakin akrab dengan suasana malam di sekitar gua batu payung yang telah lama dipergunakan Mpu Ranubhaya sebagai sanggar pamujan pribadinya.
Memang benar apa yang dikatakan Mpu Ranubhaya. Arya Kamandanu diam-diam ternyata mempunyai bakat besar untuk mendalami ilmu kanuragan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, hanya empat belas hari dia sudah mengalami kemajuan yang amat pesat dibanding Wirot.
Suatu malam, ketika baru saja kembali dari gua di mana biasanya berlatih dengan Mpu Ranubhaya, Arya Kamandanu berjalan mengendap-endap mendekati jendela kamarnya. Selama ini memang dia selalu pergi diam-diam dari rumahnya, dan tak seorang pun mengetahuinya. Pada saat kakinya menapak di atas batu-batuan halaman rumahnya, mendadak telinganya mendengar suara ayahnya membentak dari arah serambi depan.
"Haaaaiii... siapa itu? Awas, jangan lariiii...!" Mpu Hanggareksa dengan cepat melompat dan berusaha mengejar bayangan seseorang yang melintas di pekarangan rumahnya. Setiap saat langkahnya terhenti. Pandangannya menyapu ke dalam kegelapan. Dahinya beranyam kerutan, matanya melotot dan lehernya terjulur seperti leher penyu yang mencari mangsa.
Sebaliknya, Arya Kamandanu masih berjingkat-jingkat dan merunduk di antara semak dan bunga ganyong di samping rumahnya. Sejenak lamanya ia merunduk dengan hati berdebar-debar. Denyut jantungnya semakin menggemuruh karena khawatir ayahnya mengetahuinya. Lehernya menjulur seperti leher seekor ular yang melongok di antara rumpun ganyong dan kelerut. Ketika ia melihat ayahnya semakin mendekati tempat persembunyiannya, ia semakin merunduk tanpa bergerak sambil menahan napas. Mengetahui Mpu Hanggareksa terus memburu bayangannya, Arya Kamandanu ingin menghilangkan jejak. Ia tak ingin ayahnya marah sekali jika mendapatkannya.
"Aku harus bersembunyi di atas pohon Itu. Huuupph..." pemuda itu sekarang bertengger di atas pohon sawo seperti seekor kera. Ia beruntung karena dengan ajian Seipi Angin dapat mencapai dahan pohon sawo tanpa menimbulkan suara berisik.
Mpu Hanggareksa masih celingukan, menoleh ke kanan dan ke kiri, berbalik ke belakang dan menyamping. Kemudian lelaki tua itu melangkah kembali dengan pandangan tajam. Beberapa kali ia mendengus dan menghempaskan napas kesal. Ia kehilangan jejak. Sementara Arya Kamandanu enak-enak duduk di dahan pohon sawo, tetapi pemuda itu kembali cemas dan berdebar-debar ketika ayahnya semakin mendekati pohon sawo tempat persembunyiannya. Arya Kamandanu menahan napas, menggigit bibir sambil memanjatkan doa agar ayahnya tidak menengok ke atas. Mpu Hanggareksa berhenti tepat di bawah pohon sawo cukup lama sambil mengawasi segala arah.
"Kurang ajar! Mau apa orang itu datang ke rumahku? Pasti pencuri barang-barang pusaka. Dan agaknya maling itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan. Kalau hanya orang biasa-biasa saja pasti sudah kuringkus batang hidungnya. Huuuhhh!" Kesal sekali lelaki tua itu karena benar-benar kehilangan jejak. Dengan menghentakkan kaki kanannya ia kembali ke halaman depan rumah. Sebilah pedang yang terselip di pinggangnya masih digenggam erat-erat gagangnya.
Melihat kesempatan bagus itu Arya kamandanu segera melesat dari atas pohon menuju samping rumah tepat di dekat kamarnya. Cepat sekali ia membuka jendela dan melompat ke kamarnya. Perlahan sekali daun jendela itu ditutup seperti semula tanpa menimbulkan suara. Dengan berjingkat ia menuju pembaringannya dan segera meringkuk di bawah selimut.
"Nah, aman sekarang. Untung aku bisa tiba lebih cepat di kamarku. Kalau tidak, pasti Ayah akan tahu apa yang kulakukan selama ini setiap malam. Dia pasti akan marah sekali. Apalagi kalau ayah tahu bahwa aku belajar kanuragan dari Paman Ranubhaya."
Begitu ia mendengar suara langkah menuju kamarnya, Arya Kamandanu berpura-pura tidur. Dengan menahan geli pemuda itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Bahkan napasnya diatur sehalus mungkin agar tidak mendengkur. Di luar kamarnya ia mendengarkan langkah-langkah semakin dekat. Bahkan pintu kamarnya diketuk-ketuk seseorang dari luar. Ketukan pintu menggema di seluruh kamarnya.
Pengetuk pintu kamarnya terdengar memanggil-manggil namanya, lirih dan hati-hati sekali. Suara itu berat dan dalam. "Kamandanu! Buka pintunya! Buka pintu, Kamandanu!"
Arya Kamandanu pura-pura menguap, bangkit perlahan sambil tetap berkerudung selimut yang semampir di pundaknya. Pemuda itu melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya perlahan. Kancing pintu yang terbuat dari dolog, yaitu kayu jati muda sebesar lengan sepanjang dua jengkal yang dihaluskan terlebih dahulu itu diangkat dan diletakkan di balik daun pintu. Arya Kamandanu mengerutkan dahinya setelah melihat ayahnya dengan pandangan serius.
"Kamandanu, kau tidak mendengar suara apa-apa?"
"Ehh, tidak, Ayah."
"Baru saja tadi ada suara ribut dan kau tidak mendengarnya?"
"Ehh, tidak, Ayah. Saya tidur pulas sekali."
"Huuhh! Kau sudah menjadi penidur sekarang. Kalau ada suara gempa bumi apa kau juga tidak mau bangun?"
"Saya, saya lelah, Ayah. Karena itu saya tidur pulas. Ehh, memang ada apa, Ayah?"
"Ada orang mengintip kamarmu. Mungkin dia pencuri!"
"Pencuri? Kalau begitu mari kita tangkap, Ayah."
"Jangan bodoh! Pencuri itu sudah tak ada di sini lagi. Dia sudah kabur."
"Kita bisa mengejarnya, Ayah. Mungkin dia belum lari jauh dari rumah kita ini."
"Sudahlah. Baru saja kau bangun tidur, bagaimana mau mengejar pencuri? Lagi pula pencuri itu bukan pencuri sembarangan. Dia agaknya menguasai ilmu meringankan tubuh yang cukup baik. Nah, sudahlah? Mulai sekarang kita harus hati-hati. Mungkin ada orang-orang yang mengincar benda-benda pusaka yang kita miliki. Kalau tidur jangan lupa menutup jendela dan mengunci pintu kamarmu."
"Baik, Ayah."
"Nah, teruskan tidurmu." Mpu Hanggareksa pun meninggalkan putra bungsunya dengan hati kesal. Ia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah menjadi ahli senjata Singasari. Dalam hati kecilnya berkecamuk perasaan curiga pada saudara seperguruannya yang selama ini menentang kehendaknya mengabdi pada pemerintahan Singasari.
Tak sabar dengan perasaan hatinya yang sangat kesal dan resah maka lelaki tua itu segera bersidekap, memejamkan mata. Semakin lama ia rasakan pusarnya dingin sekali. Rasa dingin itu segera menyebar ke seluruh jaringan darah. Kemudian ia rasakan tubuhnya menjadi ringan sekali. Itulah ajian Seipi Angin. Malam itu juga ia berangkat ke gua batu payung tempat saudara seperguruannya tinggal. Dengan ajian Seipi Angin itu, Mpu Hanggareksa segera melompat dan melesat lenyap ditelan kegelapan malam.
Lelaki tua itu akhirnya sampai di depan mulut gua batu payung yang tampak angker. Mulut gua itu menganga bagaikan mulut naga yang memamerkan taring-taringnya. Tanpa ragu-ragu Mpu Hanggareksa memasuki mulut gua yang berhias stalagtit dan stalagnit. Ia merunduk dan hati-hati melangkahkan kakinya pada dasar gua yang licin. Tetes-tetes air dari langit-langit gua semakin jelas menggema. Mata kelelawar yang bergelantungan di langit-langit gua tampak berpijar, menyala seperti batu permata.
Dalam gua yang sangat gelap itu hanya berpenerangan pelita yang tergantung di sisi dinding gua. Mpu Hanggareksa melihat saudara seperguruannya duduk bersila sambil menggores-goreskan patrem pada sebuah lempengan batu pipih. Lelaki tua berpakaian compang-camping itu seolah-olah tidak tahu kehadiran seseorang yang sudah berada di sampingnya. Bahkan berjalan dan melangkah di depannya. Mpu Hanggareksa bersabar menunggu kakak seperguruannya tetap sibuk. Namun setelah beberapa saat lamanya ia dibiarkan seperti itu maka pertentangan batinnya tak mampu dikendalikan lagi.
"Kakang Ranubhaya! Aku mengenal desa Kurawan ini seperti aku mengenal jari-jari tanganku sendiri. Aku tahu, tak seorang pun orang desa ini yang mempunyai ilmu meringankan tubuh kecuali kita berdua."
Mendengar kata-kata adik seperguruannya mau tidak mau membuat Mpu Ranubhaya menghentikan pekerjaannya. Ia pandang adik seperguruannya dengan mata berpijar. "Jadi, kau mencurigai aku, Hanggareksa?" suara itu terdengar parau, serak berat. Hati lelaki tua itu sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Adik seperguruannya datang dengan prasangka buruk.
"Aku hanya sekadar ingin tahu saja. Kalau memang Kakang Ranubhaya, aku ingin tahu apa maksudmu mengunjungi rumahku di tengah malam buta?"
"Aku memang tidak mempunyai alasan untuk berkunjung ke rumahmu. Aku sendiri sibuk. Banyak yang harus kukerjakan."
"Kalau begitu baiklah! Maafkan aku. Mungkin orang dari desa yang jauh."
"Hanggareksa! Sekarang ini kau sudah menjadi orang kaya dan ternama. Kukira wajar kalau ada satu dua orang bermaksud singgah di rumahmu tatkala kau sedang tidur. Ini yang perlu kau ingat."
"Terima kasih atas peringatanmu." Untuk kesekian kali Mpu Hanggareksa kecewa karena tidak tahu siapa yang datang ke rumahnya malam itu. Ia segera pamit pada Mpu Ranubhaya yang memandangnya dengan tatapan dingin.
Mpu Ranubhaya menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang punggung Mpu Hanggareksa yang semakin lenyap di dalam gelap lorong gua itu. "Alangkah piciknya seseorang yang telah mabuk harta benda, mabuk kehormatan dan mabuk keinginan inderawi," bisik hatinya menyesali sikap dan sifat adik seperguruannya yang kini benar-benar berubah.

***

Mpu Hanggareksa yang baru masuk ke dalam rumah, sempat kaget saat melihat Nari Ratih yang menyambut di ruang tengah. Gadis itu mengenakan kemben yang agak pendek, terlihat separuh payudaranya yang sangat montok seperti mau meloncat keluar. Sejak hamil, payudara Nari Ratih memang membesar sedikit, dan pantatnya juga lebih nungging. Arya Dwipangga tidak kelihatan, mungkin masih berkeliaran di luar seperti biasanya.
“Kamu tidak tidur, Ratih?” Mpu Hanggareksa tersenyum, tapi penisnya sudah berontak keras. Dipandanginya puting Nari Ratih yang samar-samar terlihat tercetak jelas di depan dada, juga samar-samar rambut hitam di bawah selangkangan gadis itu.
“Masih belum mengantuk, Ayah.” Nari Ratih segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman buat mereka berdua. Sejurus kemudian dia sudah balik kembali. “Mari, ayah, kata Nari Ratih sambil menaruh gelas di meja, sengaja ia sedikit menggoyangkan payudaranya yang besar agar terlihat oleh Mpu Hanggareksa.
“Kamu malam-malam pakai baju tipis begini, apa tidak dingin?” kata Mpu Hanggareksa.
Dingin sedikit,” Nari Ratih tersenyum. “Tapi baju ini enak, kainnya halus.”
“Tapi susumu jadi kelihatan begitu,” Mpu Hanggareksa menunjuk dengan pandangannya.
“Baju saya memang kekecilan.” Nari Ratih mengaku.
Atau mungkin, susumu yang terlalu besar,“ kata Mpu Hanggareksa. “Kamu cantik dan montok, Ratih.” rayunya yang mulai tidak tahan.
"Ah, ayah bisa saja," Nari Ratih tersenyum malu. “Ayah, boleh saya minta tolong?” tanyanya penuh nafsu.
"Ada apa, Ratih?" tanya Mpu Hanggareksa.
"Temani saya. Sudah dua hari ini kakang Dwipangga pulang larut malam terus, saya kesepian." kata Nari Ratih.
"Kesepian? Kamu minta ditemani apanya?" tanya Mpu Hanggareksa, mulai memancing.
Nari Ratih tidak menjawab, tetapi malah melangkahkan kakinya yang mulus hingga berdiri persis di depan Mpu Hanggareksa. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuan Mpu Hanggareksa .
"Ratih, apa-apaan kamu ini? Aku ini ayahmu." kata Mpu Hanggareksa, pura-pura tak mau .
Tanpa menunggu selesai bicara, Nari Ratih sudah menyambarkan bibirnya ke bibir Mpu Hanggareksa  dan menyedotnya kuat-kuat. Kulumannya penuh nafsu, dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulut Mpu Hanggareksa. Nari Ratih mencari lidah Mpu Hanggareksa dan menyedotnya kuat-kuat. Mpu Hanggareksa  yang tidak tahan langsung mengimbanginya karena nafsu sudah di atas ubun-ubun, tidak peduli itu adalah menantunya sendiri.
"Ratih, aku akui.. aku pun juga ingin. Tapi bagaimana?" kata Mpu Hanggareksa  berusaha berdiri.
"Jadikan saya seperti Kinasih, ayah. Ayo, perkosa aku!" kata Nari Ratih.
Dia memeluk Mpu Hanggareksa kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dada laki-laki tua itu. Terasa pula penis Mpu Hanggareksa yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Nari Ratih merapatkan pula perutnya ke arah kemaluan Mpu Hanggareksa  yang masih terbungkus celana. Dia kembali menyambar leher mertuanya dengan kuluman di bibir.
Mpu Hanggareksa  semula ragu menyambut keliaran Nari Ratih. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya, menjadi sangat sayang kalau sampai melepaskan kesempatan ini. "Kamu amat bergairah, Ratih." bisik Mpu Hanggareksa  lirih di telinga Nari Ratih.
"Hmm... iya, ayah. Aku kurang diperhatikan oleh kakang Dwipangga." balas Nari Ratih lirih sembari mendesah. "Ayo, ayah.. teruskan!! Ughh.." serunya tertahan menelan ludah.
"Ya, Ratih. Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Mpu Hanggareksa .
"Semuanya, ayah. Saya ingin seperti Kinasih tadi malam." kata Nari Ratih sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluan Mpu Hanggareksa .
Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Mpu Hanggareksa heran.
“Maaf, ayah. Kemarin saya tidak sengaja melihat. Saya jadi kepingin. Jadi saya mohon, mumpung kakang Dwipangga tidak ada, tolong puaskan aku malam ini.” pinta Nari Ratih pasrah.
Baiklah, kalau itu maumu. Kita memang harus berbagi, tapi ini hanya sekedar pelampiasan nafsu saja.” kata Mpu Hanggareksa  mengingatkan.
“Iya, ayah. Saya cuma ingin kepuasan.” kata Nari Ratih lugas.
“Kamu berani menanggung risikonya?” kata Mpu Hanggareksa .
“Apapun risikonya, saya sanggup, ayah.yakin Nari Ratih.
“Kalau kamu nanti ketagihan sama burungku, sanggup tidak?” canda Mpu Hanggareksa .
Nari Ratih tidak menjawab, tapi bibirnya terus menyapu permukaan kulit Mpu Hanggareksa; mulai dari leher, dada dan tengkuk. Perlahan Mpu Hanggareksa membalas dengan menyingkap kemben yang dikenakan Nari Ratih, dia menariknya ke bawah. Kedua jemari Mpu Hanggareksa  langsung memeluk Nari Ratih kuat-kuat hingga badan gadis cantik itu melekat di tubuhnya. Kedua bukit Nari Ratih menempel kembali, terasa hangat dan lembut di tubuh Mpu Hanggareksa. Tanpa membuang waktu, Mpu Hanggareksa segera menyerbu, mulai menjilatinya dengan penuh gairah. Permukaan dan tepi puting Nari Ratih terasa lebih besar dibanding milik Kinasih.
“Ahhh... ayah!” Tangan Nari Ratih mengusap-usap rambut Mpu Hanggareksa dan menggiring kepala laki-laki itu agar segera menyedot putingnya. "Hisap yang kuat, ayah. Telan semuanya..." bisik Nari Ratih.
 Mpu Hanggareksa  memenuhi permintaan itu. Ia hisap puting Nari Ratih penuh nafsu. Dijilatnya keras, diempotnya kuat-kuat kiri dan kanan, membuat Nari Ratih tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai merasakan serangan brutal itu.
 "Ayah, remas susuku... ughh, sodok kemaluanku!" kata Nari Ratih  sambil telentang di lantai. Dia meminta Mpu Hanggareksa  melepas pakaian. Nari Ratih melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu.
Segera Mpu Hanggareksa menyusul, ia ikut tiduran di lantai. Mpu Hanggareksa mendekap tubuh Nari Ratih dari arah samping sembari menggosokkan telapak tangannya ke arah puting menantunya itu. Nari Ratih melenguh sedikit sambil agak memiringkan tubuhnya ke arah badan Mpu Hanggareksa . Sengaja ia arahkan putingnya ke mulut Mpu Hanggareksa .
"Ayah, jilat... enak sekali, ayah... ough! Enak..." rintih Nari Ratih penuh nafsu.
Mpu Hanggareksa  memenuhi permintaan itu sembari tangannya memijat-pijat pantat Nari Ratih. Tangan Mpu Hanggareksa mulai nakal mencari selangkangan Nari Ratih. Terasa bulu jembut Nari Ratih tidak terlalu tebal namun tembemnya minta ampun. Mpu Hanggareksa memainkan jemarinya di sana, membuat Nari Ratih tampak sedikit tersentak dibuatnya.
"Ughh... mhm... hss... terus, ayah! Terus..." lenguhnya tak jelas.
 Sementara sedotan Mpu Hanggareksa di puting Nari Ratih semakin gencar saja. Jemari tangan Mpu Hanggareksa  bagaikan memetik bunga di pusat kenikmatan Nari Ratih. Terasa jemari tengah Mpu Hanggareksa  telah mencapai gumpalan daging kecil di dinding atas bagian depan. Mpu Hanggareksa meraba-raba lembut berirama. Lidahnya juga terus memainkan puting Nari Ratih sembari sesekali mencucup dan menghembusnya lembut.
Nari Ratih menggelinjang keenakan, ia melenguh-lenguh penuh kenikmatan. "Ayah... oughhh... ampun... uhhh... terus, ayah.. terus... uhh..." Sebentar kemudian Nari Ratih lemas, kelihatan sudah klimaks. Terasa tangan Mpu Hanggareksa  basah oleh cairan gadis cantik itu.
 Namun itu tidak berlangsung lama karena Nari Ratih dengan cepat bernafsu kembali dan berbalik mengambil inisitif serangan. Tangannya mencari-cari kejantanan Mpu Hanggareksa.
Mpu Hanggareksa segera mendekatkannya agar Nari Ratih gampang dalam menjangkau. Dengan serta merta Nari Ratih menarik celana dalam Mpu Hanggareksa. Bersamaan dengan itu, melesatlah pusaka kesayangan sang ayah, bahkan sampai memukul ke arah wajah Nari Ratih kuat-kuat.
 "Uh... ayah, apa ini?" seru Nari Ratih kaget.
Tanpa menunggu jawaban Mpu Hanggareksa, tangannya langsung meraih benda panjang itu. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penis Mpu Hanggareksa  penuh nafsu.
"Ayah, ini asli?" tanya Nari Ratih.
"Tentu saja, coba kamu rasakan," jawab Mpu Hanggareksa .
Nari Ratih geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penis Mpu Hanggareksa . "Ayah, saya belum pernah melihat burung sebesar dan sepanjang ini." katanya.
"Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya." sambung Mpu Hanggareksa. “Ayo, sekarang emut!”
Nari Ratih langsung melumat penis itu seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Mpu Hanggareksa memperhatikan sang menantu yang sedang mengoral burungnya, terlihat agak kaku, mungkin karena belum terbiasa. Sesekali Nari Ratih melihat muka Mpu Hanggareksa sambil tersenyum. Mpu Hanggareksa memegang rambut Nari Ratih sambil sesekali meremas bulatan payudaranya yang bulat besar. Setelah beberapa saat, Mpu Hanggareksa  menarik tubuh Nari Ratih.
“Sebentar, Ratih. Gantian aku menjilati punyamu.” kata Mpu Hanggareksa  sambil menyuruh Nari Ratih agar bersandar di kursi.
Iya, ayah. Silakan!” Nari Ratih menyorongkan selangkangannya.
Bodoh benar Dwipangga, barang sebagus ini dibiarkan menganggur. kata Mpu Hanggareksa dalam hati sambil mulai memainkan kemaluan Nari Ratih. Ia mulai dengan menjilati paha gadis itu, lalu terus ke sekitar selangkangan.
Ughhh...” Nari Ratih mendesah keenakan.
Melihat itu, Mpu Hanggareksa  langsung menjilat kelentit dan belahan Nari Ratih yang sempit. Nari Ratih hanya bisa menahan napas saat lubangnya disedot oleh Mpu Hanggareksa. Dia yang tidak kuat segera menjambak rambut Mpu Hanggareksa dan mengejang keras.
Ayah, aku keluar!” kata Nari Ratih ketika terasa air kenikmatannya membasahi bibir Mpu Hanggareksa .
Mpu Hanggareksa tersenyum membiarkan Nari Ratih menikmati klimaksnya dengan rasa penuh kemenangan. Setelah Nari Ratih mengatur napas, barulah Mpu Hanggareksa  berbicara, ”Gimana, Ratih, enak?” tanyanya.
Ayah hebat sekali!” kata Nari Ratih lirih.
Masih mau lagi?” tantang Mpu Hanggareksa .
Nari Ratih memang cepat nafsu lagi, ia langsung menarik penis Mpu Hanggareksa. "Ayah, saya ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan!"
Nari Ratih menelentangkan tubuhnya, pahanya dibuka lebar-lebar. Terlihat betapa mulus dan bersih kaki jenjang itu. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang memeknya yang tembem, lebih tembem dari punya Kinasih, dan juga lebih merah. Mpu Hanggareksa  telah berada di antara pahanya. Penis laki-laki itu telah siap dimasukkan. Nari Ratih memandanginya penuh harap.
"Cepat, ayah, cepat..." pintanya tak tahan.
"Sabar, Ratih. Kamu harus benar-benar terangsang dulu," kata Mpu Hanggareksa .
Namun tampaknya Nari Ratih sudah tidak sabar. "Cepat, Ayah! Nanti keburu kakang Dwipangga pulang." ajaknya lagi.
Mpu Hanggareksa  pun memenuhi permintaan itu, ia tempelkan ujung penisnya di permukaan lubang kemaluan Nari Ratih. Ia tekan perlahan-lahan, tapi sungguh amat sulit masuk. Mpu Hanggareksa  kembali mengangkat, namun Nari Ratih justru mendorong pantat Mpu Hanggareksa  dengan kedua tangan. Pantatnya sendiri didorongkan ke atas.
Tak terhindarkan, batang penis Mpu Hanggareksa langsung melesak memasuki rongga kewanitaan Nari Ratih dalam sekali tekan. Terasa begitu sesak, seret, panas, dan perih. Namun Nari Ratih tidak gentar, malah ia menyongsongnya dengan penuh gairah.
"Jangan paksakan, Ratih." bisik Mpu Hanggareksa .
"Tidak apa-apa, ayah. Tusuk terus. Tusuk yang keras!!" pinta Nari Ratih.
Dan Mpu Hanggareksa pun tak bisa menghindar, ia hujamkan penisnya keras-keras hingga Nari Ratih langsung terdiam. Napasnya terengah-engah. Matanya terpejam. Mpu Hanggareksa menahan penisnya tetap menancap, tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangan, dicarinya ujung puting Nari Ratih dan segera dikulum serta dihisapnya penuh nafsu. Masih belum ada air susu yang keluar.
“Ratih, punyamu peret seperti perawan.” puji Mpu Hanggareksa .
Ah, burung ayah yang terlalu besar. Punyaku jadi penuh.“ kata Nari Ratih.
Beberapa saat kemudian, ia meminta Mpu Hanggareksa agar memulai aktifitasnya. Mpu Hanggareksa  segera menggerakkan penisnya, turun naik di kewanitaan sempit Nari Ratih. Dan Nari Ratih tampak sangat menikmatinya. Ia resapi irama keluar masuk penis Mpu Hanggareksa di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Tanpa sungkan ia melenguh dan menggelinjang.
Pergerakan itu mereka pertahankan cukup lama. Makin lama tusukan Mpu Hanggareksa semakin dalam, juga terasa semakin cepat. Kelihatannya laki-laki itu sudah mau keluar sebentar lagi.
 "Uuuhh... ayah! Terus... aduh... ampun,enaknya." rintih Nari Ratih.
“Tahan, Ratih. Aku keluarkan di dalam apa di luar?” tanya Mpu Hanggareksa .
“Di dalam tidak apa-apa.” ujar Nari Ratih.
Gerakan Mpu Hanggareksa semakin cepat dan Nari Ratih mengimbanginya dengan baik. Akhirnya keluarlah sperma Mpu Hanggareksa  bersamaan dengan cairan bening Nari Ratih. Mereka membiarkannya di dalam dulu. Setelah beberapa saat, setelah penis Mpu Hanggareksa mulai mengendor, barulah mereka memisahkan alat kelamin masing-masing. Mpu Hanggareksa langsung berbaring di samping tubuh Nari Ratih yang masih lemas.
"Ayah sungguh amat perkasa." kata Nari Ratih.
"Kamu juga liar." sahut Mpu Hanggareksa .
Terima kasih, ayah. Kekhawatiran ayah mungkin menjadi kenyataan, saya akan ketagihan.” kata Nari Ratih.
“Aku juga akan ketagihan susu dan kemaluanmu. Terasa beda dengan milik Kinasih, punyamu lebih montok dan besar.” kata Mpu Hanggareksa .
Sama-sama, ayah. Ini akan jadi rahasia kita.” kata Nari Ratih.

***

Malam keesokan harinya, ketika Arya Kamandanu kembali belajar olah kanuragan pada Mpu Ranubhaya, ia menyampaikan apa yang dialaminya pada sang guru. Mpu Ranubhaya mendengarkan dengan saksama dan pura-pura belum mengerti, bahkan ia menyimpan rapi perihal Hanggareksa yang datang padanya dengan pikiran buruk.
"Wah! Kalau begitu Angger Kamandanu sudah maju dengan pesat, sampai ayahanda sendiri tidak mampu menangkap." Wirot yang ikut mendengarkan penuturan Kamandanu berkomentar kagum.
Arya Kamandanu menghela napas, memandang gurunya dan beralih pada Wirot yang mengangguk-angguk. "Kalau tidak hati-hati saya bisa tertangkap, Paman Wirot. Karena Ayah juga mempunyai ilmu meringankan tubuh."
"Memang, Aji Seipi Angin bukanlah sembarang ilmu, walaupun tidak jarang pendekar tingkat tinggi yang memilikinya. Jika seorang pendekar sudah menguasai Seipi Angin dengan sempurna, bulat tanpa cacat celanya, maka dia pun langsung menguasai aji Seipi Banyu dan Seipi Geni," jelas Mpu Ranubhaya.
"Seipi Banyu dan Seipi Geni?" tanya Wirot dan Kamandanu berbareng.
"Ya. Dengan Seipi Banyu seorang pendekar bisa berjalan di atas air, sedang Seipi Geni membuat si pendekar tidak mempan termakan kobaran api."
"Wah, luar biasa pendekar yang sudah menguasai ketiga macam ilmu itu," tukas Arya Kamandanu.
"Menurut sepengetahuanku hanya ada tiga orang manusia yang mempunyai ketiga ilmu itu sekaligus. Pertama adalah Mpu Sasi, guruku sendiri. Kedua adalah Prabu Seminingrat atau Ranggawuni, dan ketiga adalah Mpu Lunggah."
"Siapa Mpu Lunggah itu, Paman?" tanya Arya Kamandanu sambil membetulkan posisi duduknya.
"Kakak seperguruanku. Tapi sampai sekarang aku tidak pernah tahu tempat tinggalnya. Dia juga seorang pembuat senjata pusaka. Dia murid paling disayangi oleh guruku, Mpu Sasi. Dalam membuat senjata pusaka dia di bawahku, tapi dalam hal kanuragan dia jauh di atasku."
"Paman Ranubhaya! Ayah sering kali mengatakan bahwa Paman Ranubhaya adalah sahabatnya paling dekat, apakah Paman juga saudara seperguruan dengan Ayah?"
"Apakah ayahmu tidak pernah menceritakannya?"
"Tidak, Paman. Ayah tidak pernah menceritakannya," jawab Arya Kamandanu sambil memperhatikan Mpu Ranubhaya yang mengerutkan dahinya.
Lelaki tua berpakaian compang-camping itu menghela napas dan berkata lirih, "Memang tidak perlu hal itu diceritakan. Tak ada manfaatnya. Lebih baik kau sekarang menekuni ilmu yang kuajarkan berikut ini."
Selesai berkata demikian, Mpu Ranubhaya langsung bangkit. Ia melompat ke atas sebuah batu padas di sebelah selatan lempengan batu yang selama ini berfungsi sebagai tempat bersemadi. Wirot dan Arya Kamandanu pun mengikuti langkah gurunya. Mereka berdiri dengan sikap kuda-kuda. Kedua tangan mereka mengepal, dada mereka mengembang saat menghirup napas. Perut kencang membesar ketika menyimpan udara lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Pandangan dan perhatian keduanya tercurah pada gurunya yang bersidekap dengan kedua kaki seolah-olah terpancang di atas padas.
Beberapa gerakan lembut dipertontonkan pada kedua muridnya. Lelaki tua itu bergerak lincah sekali tanpa memperdengarkan suara. Benar-benar luar biasa. Setelah cukup ia pun melepas kedua tangannya ke depan seperti cakar naga dan kembali pada posisi semula. Kedua muridnya mengikutinya dengan saksama. Mpu Ranubhaya lalu mengadakan persiapan untuk memberikan pelajaran jurus Naga Puspa tahap kedua pada Arya Kamandanu sedangkan Wirot masih diharuskan belajar menguasai dasar-dasar aji Seipi Angin.
Arya Kamandanu duduk bersila mendengarkan dengan khidmat. Lelaki tua itu pun duduk di atas batu padas sambil memandang kedua muridnya. Beberapa saat suasana di dalam gua itu sepi sekali. Hening, hanya napas-napas malam dengan selimut pekatnya berbisik pada ketiga insan yang ingin mendapatkan jatining ngaurip. Kehidupan sejati yang tidak dinodai oleh hawa nafsu dan keinginan-keinginan duniawi.
"Tahap kedua jurus Naga Puspa ini terdiri dari sebelas jurus." Mpu Ranubhaya memulai ajarannya. Suaranya serak dan berat. "Tiap-tiap jurus mempunyai titik serangan yang berbeda. Jadi, seluruhnya ada sebelas titik serangan yang dijadikan sasaran. Dahi, pelipis kiri-kanan, mata kiri-kanan, tenggorokan atau pangkal leher, dada, ulu hati, pusar, alat kelamin dan terakhir tengkuk. Titik serangan yang paling berbahaya adalah dahi, pangkal leher, ulu hati, alat kemaluan dan tengkuk. Sebelas jurus itu merupakan serangan berantai, dan harus dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Jika gagal mencapai salah satu titik serangan, maka serangan berikutnya bisa memilih titik serangan yang lain. Dalam hal mempertahankan diri pun kau dapat menggunakan sebelas jurus itu untuk menangkis serangan lawan, sambil ganti menyerang dengan memilih titik sasaran yang paling mudah dicapai. Nah, sekarang berdirilah! Aku akan memberimu contoh."
"Baik, Paman." Arya Kamandanu bangkit mengikuti perintah gurunya.
"Buatlah kuda-kuda yang bagus untuk membuka serangan. Kau bisa menggunakan dua belas jurus tahap pertama untuk memukul aku. Siap?"
"Saya siap, Paman," jawab Arya Kamandanu mantap.
"Sekarang pukullah aku semaumu. Yahh, mulai!"
Kemudian Arya Kamandanu menerjang dan menjotos Mpu Ranubhaya dengan sasaran ulu hati. Tapi buru-buru Mpu Ranubhaya menghentikan tindakan pemuda itu. Lelaki itu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kamandanu! Jangan sungkan-sungkan memukulku! Ayo, mulai lagi."
"Ya, Paman. Tapi... tapi..."
"Tapi apa? Kau pikir karena aku sudah tua bangka begini, maka kau merasa mampu menandingi kelincahanku? Ayo pukullah aku! Lebih cepat lebih baik."
"Baik, Paman. Tapi sebelumnya saya minta maaf."
Kembali Arya Kamandanu menyerang Mpu Ranubhaya, kali ini ia lebih sungguh-sungguh. Kedua tangannya berganti-ganti menjotos, mencakar dan mencecar. Kakinya menyepak tinggi-tinggi, lalu dengan gerakan memutar ia berusaha menyarangkan pukulan-pukulannya. Pemuda itu heran sekali karena dengan gerakan-gerakan yang cukup gesit dan lincah gurunya menghindar, melompat, merunduk, bahkan tanpa disadarinya beberapa kali pukulannya bersarang pada tubuhnya.
Mpu Ranubhaya melompat mundur untuk memberikan isyarat berhenti. Arya Kamandanu merunduk memberi hormat dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya sebelum akhirnya berdiri tegak dengan kuda-kuda. Keringatnya berleleran hingga tubuhnya yang padat tampak berkilat-kilat ditimpa cahaya pelita di dinding gua. Mpu Ranubhaya tersenyum sambil mengatur napasnya yang terengah karena usianya.
"Bagus? Sekarang periksalah tubuhmu. Ada beberapa titik serangan yang telah kutandai dengan baik oleh jari-jari tanganku ini."
"Hhh! Dada saya terasa pegal, Paman," Arya Kamandanu meraba dadanya dengan telapak tangan kirinya.
"Satu. Dadamu sudah terkena serangan."
"Ehh, perutku terasa agak mual, Paman," dengan tangan kanannya Arya Kamandanu meraba perutnya.
"Itu berarti pusarmu sudah terkena. Dua!"
"Ahh, ahh..." Arya Kamandanu tiba-tiba jongkok dengan meringis menahan sakit.
Gurunya tertawa panjang melihatnya. "Mengapa kau tiba-tiba jongkok di depanku? Apanya yang terasa sakit, Kamandanu?"
"Ahh, maaf Paman. Anu... eh anu..."
"Nah, tiga. Alat kelaminmu pun menjadi korban jari-jari tanganku yang nakal ini. Masih ada lagi?"
"Ehh, sepertinya... sepertinya saya agak susah untuk bernapas dan berbicara, Paman. Ehh, ini ada yang menyekat di pangkal leher."
"Empat. Pangkal lehermu pun ternyata tidak bisa lolos dari gebrakan sebelas jurus ini tadi. Baiklah! Kau istirahat dulu sejenak, supaya sakitmu berkurang dan nanti kita teruskan lagi."
"Baik, Paman."
Begitulah setiap malam, di dalam gua itu Arya Kamandanu dan Wirot mendapat gemblengan dari Mpu Ranubhaya secara bergiliran. Bila Arya Kamandanu lelah, Wirot harus menghadapi gurunya untuk meningkatkan kemampuannya berolah kanuragan. Setiap selesai latihan, dapat dilihat betapa Arya Kamandanu menunjukkan kemajuan yang luar biasa dibandingkan dengan Wirot. Arya Kamandanu selalu mengulangi apa yang baru diajarkan gurunya sehingga jurus demi jurus tampak melekat di benaknya dan dalam waktu singkat ia lebih menguasai jurus Naga Puspa bagian dua.
Pada malam itu, ketika Arya Kamandanu kembali menghadap gurunya di gua batu payung ia benar-benar telah siap berlatih. Namun, Wirot belum tampak hingga Mpu Ranubhaya menanyakan hal itu pada Arya kamandanu, "Di mana pamanmu Wirot?"
"Sepertinya sudah tidur di bawah sana, Paman."
"Baiklah. Mari kita teruskan. Sekarang tiba giliranmu, Kamandanu. Berdirilah!"
"Baik, Paman."
"Pergunakanlah Seipi Anginmu untuk menangkis serangan-seranganku ini."
"Baik, Paman. Saya siap." Arya kamandanu segera melompat dan menyiapkan ajian Seipi Angin. Ia bersidekap sambil memejamkan matanya. Ia pusatkan segala hati dan pikirannya. Pusarnya mulai terasa dingin sekali, kemudian rasa dingin itu merayap ke seluruh jaringan nadi darahnya. Setelah itu, tubuhnya terasa ringan sekali.
Pada saat ia benar-benar siap maka ia pun melakukan langkah-langkah zik-zak mundur. Sebaliknya, Mpu Ranubhaya sudah menyiapkan serangan-serangan gencar. Menjotos, mencakar, menotok dan menendang Arya Kamandanu sambil memberi aba-aba.
"Baguuss! Awaaass, mata kirimu! Pusar! Baguuss! Dada! Tenggorokan. Alat kelamin! Dada! Pusar! Pelipis kiri! Dahi! Pelipis kanan! Yahh! Makin cepat! Huupph. Bagus! Terus! Bagus! Awas mata kanan! Tenggorokan, alat kelamin! Terus makin cepat lagi! Makin cepat lagi!"
Arya Kamandanu melompat-lompat seperti bajing, tupai pohon yang pandai menyusuri ranting-ranting. Kadang-kadang menunjukkan gerakan-gerakan yang luar biasa lincahnya. Ia berusaha keras menghindari, menangkis dan membalas serangan gencar gurunya.
Mpu Ranubhaya sangat puas melihat kemajuan Arya Kamandanu. Dalam ruangan gua yang tidak seberapa luasnya itu Mpu Ranubhaya terus melatih Arya Kamandanu sebelas jurus tahap kedua. Dengan tekun dan ulet Arya Kamandanu mengikuti latihan. Setelah tujuh hari lamanya berlatih, ia memiliki kemampuan di atas rata-rata sebagai calon pendekar. Arya Kamandanu benar-benar berbakat dalam olah kanuragan setelah mendapat latihan berat. Keuletannya sudah tak mampu dihadapi oleh Wirot yang lebih dahulu mempelajari ilmu Naga Puspa, bahkan Mpu Ranubhaya kini kelihatan belepotan dan repot menghadapi muridnya.
"Yah, berhenti! Berhenti dulu!" lelaki tua itu melompat mundur sambil mengangkat kedua tangannya. Napasnya terengah-engah, keringatnya membasahi tubuhnya yang kini menunjukkan garis-garis usianya.
Arya Kamandanu masih tenang saat gurunya menatapnya lekat-lekat dengan dada kembang kempis. "Mengapa berhenti, Paman?"
"Hoohh, jangan sombong! Kau masih muda, tentu saja tenagamu masih besar, cadangan napasmu masih panjang. Sekarang kau bersiap lagi, Kamandanu. Kita akan lanjutkan latihan ini sambil menguji kecepatan dan ketepatan gerakanmu. Kau pasti masih ingat benda ini, bukan?" dengan cepat Mpu Ranubhaya mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya. Ditimang-timangnya benda itu.
Arya Kamandanu mengerutkan dahinya sambil memelototkan matanya karena bayangan masa lalunya menyeruak di dalam angannya. "Ohh... itu batu nirmala. Paman telah mencuri batu itu dari tangan saya beberapa waktu yang lalu."
"Dulu aku pernah berkata, bahwa tak seorang pun memperoleh hasil memuaskan tanpa lebih dulu bermandikan keringat. Kau masih ingat?"
"Ingat, Paman."
"Nah, sekarang peraslah keringatmu, Kamandanu! Kuraslah peluh yang ada di tubuhmu untuk dapat merebut batu nirmala ini dari tanganku."
"Baik, Paman." Arya Kamandanu tidak segera menyerang, sebaliknya ia seolah-olah melihat wajah Nari Ratih dalam batu nirmala di tangan gurunya. Hal itu membuatnya kurang memusatkan seluruh gerakannya. Sehingga saat ia mulai bergerak dan berusaha merebut batu itu, buru-buru gurunya melompat menjauh dan membentak keras.
"Tunggu! Kalau kau merebut batu nirmala ini dengan gerakan seperti itu, sampai tengah hari besok dia akan tetap di tanganku."
"Ehh, maksud Paman?"
"Lebih gesit! Lebih sigap dan lebih bersemangat! Ayo mulai lagi!"
"Baik, Paman." Tidak ragu-ragu lagi, seperti tercambuk ingatan dan batinnya, Arya Kamandanu melesat bagaikan seekor burung srikatan mengejar serangga. Menukik, menyerang dengan gebrakan gencar sekali berusaha merebut batu nirmala di tangan gurunya. Hatinya benar-benar teguh dan tak akan menyia-nyiakan waktu yang ada.
Sesekali kedua tangannya terbuka, mencabik, mencakar, menyahut cekatan sekali. Sementara gurunya berusaha menghindari serangannya dengan gerakan-gerakan mundur tak kalah gesit. Lelaki tua itu masih memiliki kelebihan yang luar biasa. Tangguh dan ulet sekali. Arya Kamandanu berusaha menyerang lebih gencar dengan menggunakan aji Seipi Anginnya. Sementara Mpu Ranubhaya dengan pengalamannya berusaha mempertahankan benda tersebut.
Suasana dalam gua menjadi sangat gaduh, tapi apa yang terlihat tidak begitu jelas. Hanya sosok-sosok manusia yang bergerak dengan cepat sekali, seperti dua setan yang berebut makanan. Arya Kamandanu menyerang dengan gencar untuk merebut batu nirmala dari tangan Mpu Ranubhaya. Sudah beberapa kali dia hampir saja menyambar benda itu, tapi Mpu Ranubhaya dengan lincah selalu dapat menepiskannya. Arya Kamandanu tidak tahu mengapa gurunya begitu lincah dan gesit. Bahkan terasa sulit mengimbanginya.
Keringatnya kini bercucuran, tubuhnya telah bersimbah peluh, napasnya mulai terengah-engah. Di situlah ia mampu melihat keuletan dan ketangguhan gurunya di balik hidupnya yang rendah hati dan lembut. Jiwa yang penuh kasih lelaki tua itu semakin cemerlang dengan kesahajaannya. Bahkan dengan kelebihan dan kesaktiannya itulah benturan-benturan peperangan dalam batin muridnya kembali mencuat di benak. Akhirnya Arya kamandanu harus mengakui kelebihan dan keunggulan gurunya.
"Hehehe... bagaimana, Kamandanu? Mengapa berhenti?"
"Rasanya masih sulit untuk mengungguli gerakan paman Ranubhaya."
"Hehehe... tentu saja. Bagaimana kau bisa merebut batu nirmala ini kalau gerakanmu seperti babi hutan? Cepat tapi tidak terkendali. Seringkah kau mati langkah akibat kecepatanmu sendiri. Sekarang mulailah lagi! Cepat, tapi tetap tenang dan yakin bahwa kau akan berhasil. Bagaimana?"
"Baik, Paman." Dengan napas yang lebih teratur, Arya Kamandanu melirik gurunya yang berdiri di atas batu padas. Ia ingin mendekati gurunya tetapi ketika ia melompat ke sana, gurunya sudah melesat jauh di ujung gua sambil tersenyum menggoda.
Kembali ia menyerang Mpu Ranubhaya dengan berusaha tetap mengendalikan gerakannya yang cepat bagaikan kitiran. Ia merasa aneh karena kekuatannya seperti bertambah dan seperti memiliki tenaga cadangan sehingga tenaganya menjadi berlipat ganda. Lompatan-lompatannya menjadi ringan sekali. Tangan dan kakinya menjadi hidup seperti punya mata. Mpu Ranubhaya tampak kewalahan. Suatu ketika orang tua itu agak lengah, dan pada saat itu bagaikan seekor burung elang menyambar mangsanya, tangan kiri Arya Kamandanu menjulur ke depan bagaikan mematuk, dan...
"Kenaaaa! Aku berhasil, Paman!" teriak Arya Kamandanu setelah berhasil menyambar batu nirmala dari tangan gurunya. Ia girang sekali. Matanya sampai berkaca-kaca, "Saya berhasil, Paman. Saya berhasil! Lihat, batu nirmala ini sudah berada di tanganku."
"Yah, kau memang berhasil, Kamandanu. Kau sudah berhasil menyerap sebelas jurus tahap kedua ilmu Naga Puspa ini." Mpu Ranubhaya terengah-engah dan terbatuk.
Arya Kamandanu melompat mendekatinya, "Eh, ada apa, Paman?"
"Tidak apa-apa. Hanya agak lelah. Mari kita istirahat barang sejenak, Kamandanu."
Keduanya lalu melompat ke atas batu pipih dan beristirahat di sana sambil mengelap keringat yang membasahi sekujur tubuh mereka. Wirot mengangguk hormat dan menyongsong mereka dengan hati bergembira.
"Aku merasa puas karena kau sudah mampu menyerap apa yang kuajarkan, Kamandanu. Sebelas jurus tahap kedua ilmu pukulan Naga Puspa ini sebenarnya membutuhkan waktu paling sedikit seratus hari untuk menguasainya."
"Tapi Angger Kamandanu, kalau tidak salah hanya membutuhkan 35 hari, Guru. Berarti Angger kamandanu benar-benar berbakat besar dalam ilmu kanuragan," tukas Wirot.
"Ah, Paman Wirot jangan terlalu memuji. Aku takut nanti menjadi sombong." Arya Kamandanu masih sibuk mengelap keringatnya.
Mpu Ranubhaya memperhatikan pemuda itu dan memandangnya penuh saksama, tampak senang melihat sikap rendah hati pemuda itu. "Kesombongan akan membawa kemunduran. Bukan kemajuan. Kau harus hati-hati sekali agar jangan sampai jatuh ke dalam kesombongan, ketamakan, keangkuhan, karena semua itu merupakan penyakit berbahaya bagi para pendekar di segala jaman."
"Saya akan selalu ingat pesan Paman Ranubhaya."
"Apa yang sudah berhasil kau kuasai ini belum seberapa banyak, Kamandanu. Jumlahnya sudah cukup, tapi takaran yang kau miliki perlu terus-menerus ditambah dengan latihan-latihan keras. Pukulan dua belas jurus tahap pertama perlu kau matangkan lagi untuk memperkuat tubuhmu. Kemampuan meringankan tubuh dengan aji Seipi Angin juga perlu kau latih lagi dengan sungguh-sungguh. Yang terakhir, pukulan sebelas jurus tahap kedua tidak boleh kau telantarkan begitu saja. Tekunlah berlatih, setiap hari. Jangan sampai ada waktu yang terbuang percuma. Kalau kau menuruti kata-kataku ini, aku yakin dalam satu dua surya lagi kau akan menjadi pendekar yang diperhitungkan di Singasari. Sebab memang demikianlah hukumnya suatu ilmu. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Ilmu tanpa latihan betapa pun tingginya ilmu itu, akhirnya akan sia-sia."
Nasihat Mpu Ranubhaya tidak berlalu begitu saja di hati Arya Kamandanu. Diam-diam putra Hanggareksa itu merindukan kehidupan lain yang harus diciptakannya sendiri. Setiap malam Arya Kamandanu makin giat berlatih di gua batu payung bersama wirot. Di samping itu, dia juga dengan tekun berlatih sendiri di tempat lain, tempat yang sepi, atau kadangkala di halaman rumahnya sendiri. Tapi semua itu dia lakukan dengan diam-diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar