Senin, 08 Mei 2017

Vanquish 13

Chapter 20
Pick Them Up!

“Mah, pagi ini papah nggak bisa nganterin mamah ya,” ujar Hendri pada istrinya.
“Lha, kenapa, pah?” tanya Nadya.
“Barusan si boss telepon, minta papah berangkat sekarang buat nyiapin materi meeting, ada kunjungan dari orang kantor pusat.”
“Lha kok mendadak, pah?”
“Nggak tahu juga, mah, orang kantor pusat nih rese banget deh. Harusnya sih jadwal meeting masih nanti siang, eh ini minta dimajuin jadi jam 8, mana materi belum beres lagi, hadeeh.”
“Ya udah, nggak papa kok, pah. Mungkin orang kantor pusatnya pengen cepet selesai, biar hari ini bisa pulang cepet, hehe.”
“Iya juga sih, mah.”
“Terus gimana ya, pah, mamah udah janji pula mau jemput Lia?” tanya Nadya.

“Hmm, papah coba minta tolong Mas Ramon aja gimana, mah?” tanya balik Hendri.
“Ya terserah sih, asal nggak ngerepotin dia aja, pah.”
Hendri kemudian mengambil ponselnya menghubungi Ramon, sementara Nadya masih bersiap-siap di kamarnya. Dan tak lama kemudian Hendri kembali ke dalam kamar untuk mengabarkan kepada Nadya.
“Mah, Mas Ramon bisa kok nganterin mamah hari ini, sekalian jemput Lia juga nggak papa katanya, soalnya hari ini dia agak longgar.”
“Oh ya, syukur deh kalau gitu, pah.”
“Kalau gitu papah berangkat dulu ya, mah,” Hendri mengecup bibir istrinya kemudian segera berangkat ke kantor.
Nadya masih melanjutkan dandan. Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2014, mungkin juga tak terlalu banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini. Pasti rekan-rekannya juga seperti itu. Di saat beberapa instansi lain sudah berlibur, dan beberapa temannya juga ada yang mengambil cuti, dia masih harus masuk kerja. Tapi kabarnya mereka hanya akan masuk setengah hari saja.
Sebenarnya dia pun setengah hati untuk masuk kerja hari ini, karena entah kenapa dia merasa sesuatu yang kurang mengenakkan, yang dia sendiri juga tak tahu apa itu, semacam firasat buruk. Ditambah lagi kejengkelannya karena sang suami tak bisa mengantarkan karena harus berangkat lebih awal, tapi masih untung ada Ramon yang bersedia menjemput dirinya dan Lia.
Sekitar 20 menit kemudian ponsel Nadya bergetar, ternyata Ramon sudah berada di depan rumahnya. Kebetulan juga Nadya sudah selesai dandan, lalu mengambil tas kerjanya dan segera memastikan ke pembantu untuk membereskan pekerjaannya hari ini, hingga berpesan agar tak lupa untuk mengunci pintu rumah.
Dia melihat mobil Ramon terparkir di depan rumahnya. Hubungan mereka setelah kejadian di penginapan milik mendiang paman Ramon memang sudah kembali membaik, meskipun baik Nadya maupun suaminya masih merasakan ada keanehan. Hendri yang saat itu sedang menyetubuhi Lia yang tak sadarkan diri, dan Nadya yang sedang panas-panasnya bersetubuh dengan Pak Yusri tiba-tiba tak sadarkan diri, dan begitu sadar sudah berada di rumah, beserta semua barang-barang mereka. Hal yang sama terjadi pada Ara dan Lia, yang pada saat sadar sudah berada di rumah mereka masing-masing.
“Pagi, Mas Ramon,” sapa Nadya.
“Pagi juga, cantik. Duh, ceria banget kayaknya?” balas Ramon.
“Hehe, Mas Ramon bisa aja deh. Maaf lho, mas, kepaksa ngerepotin lagi.”
“Halah udah santai, kayak sama siapa aja. Ayok masuk. Jadi jemput Lia?” tanya Ramon.
“Iya, mas, jadi. Nggak papa kan agak mutar, mas?”
“Nggak papa, cantik, baru jam segini juga. Tapi, eehhm..” ucap Ramon menggantung.
“Tapi apa, mas?” tanya Nadya.
“Kangen nih, Nad, sama kamu, hehe.”
“Haha, baru berapa hari nggak ketemu udah digombal aja.”
“Kok nggombal sih? Serius, sayang. Aku pengen lihat susumu dong, Nad, hehe.” pinta Ramon terkekeh.
“Ihh, mas, masak disini? Nggak ah,” tolak Nadya mendengar permintaan vulgar dari Ramon.
“Ayoo dong, aku nggak jalan nih kalau nggak dikasih liat susu,” Ramon justru mematikan mesin mobilnya.
“Aah, Mas Ramon, entar kalau ada yang liat gimana?”
“Kacanya gelap gini, Nad, nggak ada yang liat, percaya deh.”
Setelah melihat keadaan sekitar pun, akhirnya Nadya mengalah. Dia membuka beberapa kancing baju seragamnya, hingga terlihatlah bagian dada Nadya yang masih tertutup oleh bra warna hitam. Ramon melihatnya sambil tersenyum, sedangkan Nadya masih mengawasi kondisi sekitar.
“Udah nih, mas. Ayo jalan dong, keburu telat entar.”
“Hehe... kurang, Nad, coba kamu lepasin BH kamu deh,” pinta Ramon lagi.
“Hah, lepas gimana? Udah deh, mas, jangan aneh-aneh ah,” tolak Nadya.
“Ya kamu lepas, nggak usah pake BH ke kantornya. Cobain deh, pasti asyik. Kalau nggak, aku nggak mau jalan pokoknya,” paksa Ramon.
“Iiih, Mas Ramon jangan gitu dong, masak lepas disini? Gimana caranya coba?”
“Yaa terserah kamu kalau itu, Nad,” jawab Ramon cuek.
Nadya terdiam sejenak. Melepas bra dan ke kantor tanpa bra? Dia belum pernah kepikiran itu sama sekali sebelumnya. Dia ingin menolak, tapi dirinya belakangan ini sudah dirasuki berbagai macam fantasi oleh Ramon maupun suaminya sendiri hingga akhirnya dengan sukarela menyerahkan tubuhnya pada Ramon dan pamannya, membuat dadanya berdesir memikirkan dirinya pergi ke kantor tanpa pakaian dalam.
Kembali Ramon memaksa dan akhirnya Nadya pun kembali mengalah. Dengan susah payah karena sedang berada di mobil, dia pun akhirnya berhasil melepaskan branya tanpa harus menanggalkan baju. Namun ketika hendak dia masukkan ke tas, Ramon melarang dan malah memintanya, kemudian dimasukkan ke tas Ramon, Nadya pun pasrah saja.
Kini Nadya duduk di samping Ramon dalam keadaan beberapa kancing bajunya terbuka, memperlihatkan keindahan buah dadanya yang sekarang tanpa ditutupi oleh bra. Ramon pun tersenyum dan menyalakan mesin mobilnya, tapi tak kunjung menjalankan mobilnya itu.
“Lho, mas, kok nggak jalan sih? Kan udah Nadya turutin permintaan Mas Ramon?” protes Nadya.
Ramon tak menjawab, justru membuka resleting celana panjangnya, kemudian mengeluarkan penisnya yang sudah setengah ereksi. Nadya terkesiap melihatnya. Dia sudah bisa menebak apa yang dimaui oleh Ramon. Dia memang merindukan penis yang lebih perkasa dibanding milik suaminya itu. Namun mengulumnya di dalam mobil yang berjalan, ini gila, pikir Nadya.
“Sepongin dong, Nad, sampai nanti di rumah Lia.”
Nadya menatap Ramon. Dia tahu kalau dia tak menuruti, Ramon tak akan menjalankan mobilnya. Akhirnya dia pun menundukkan kepala, meraih penis Ramon lalu mengocok perlahan sebelum kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Ya, dia merindukan penis Ramon yang bisa membuatnya orgasme berkali-kali itu.
Mendapati keinginannya terpenuhi, Ramon pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Lia. Sambil menikmati hisapan mulut Nadya pada penisnya, sesekali Ramon membelai kepala Nadya yang terbungkus kerudung. Sekitar 20 menit perjalanan hingga mereka tiba di rumah Lia, tepat saat Ramon menyemburkan cairan spermanya memenuhi mulut Nadya, yang langsung ditelan begitu saja olehnya.
Lia rupanya sudah menunggu di depan rumah. Suaminya sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu. Melihat mobil yang dia kenali, Lia tahu bahwa Ramon lah yang mengantar mereka hari ini. Jendela mobil terbuka dan Nadya menyapa Lia. Dia pun segera menuju pintu belakang dan membukanya.
“Pagi, Mas Ramon,” sapa Lia.
“Pagi juga, cantik. Yuk naik,” balas Ramon.
Lia sudah berada di dalam mobil kini, duduk di bangku tengah. Mobil Ramon kemudian berjalan kembali menuju ke arah kantor Lia dan Nadya. Masih ada sedikit kecanggungan yang dirasakan oleh Lia mengingat kejadian misterius yang menimpa dirinya dan teman-temannya. Ingin sebenarnya dia menanyakan itu kepada Lia maupun Ramon yang kebetulan hari ini menjemputnya, tapi dia masih bingung bagaimana harus memulai.
Saat mobil itu melewati jalanan yang cukup sepi, tiba-tiba saja sebuah sedan bergerak cepat mendahului dan berhenti tepat di depan mobil Ramon untuk menghadang, membuat Ramon terkejut dan seketika menginjak rem. Tak lama berselang terlihat tiga orang bertopeng keluar dari mobil sedan itu dan menuju ke arah mobil Ramon. Ketiganya terlihat membawa senjata api, membuat wajah Ramon, Nadya dan Lia menjadi tegang.
“Buka pintunya!”
Ketiga orang itu menggedor pintu mobil sambil menodongkan senjata mereka, memaksa Ramon untuk membuka pintunya. Begitu terbuka, ketiga pria bertopeng ini langsung merangsek menodongkan senjatanya ke Ramon, Nadya dan Lia.
“Hei, apa-apaan ini? Siapa kalian?” teriak Ramon.
“Diam!” bentak salah seorang yang memakai topeng itu sambil menempelkan ujung pistol ke kepala Ramon.
Nadya dan Lia melihat kejadian itu menjadi sangat ketakutan hingga tak memperhatikan dua pria lain yang juga menodongkan pistol ke arah mereka. Saking ketakutannya hingga mereka tak menyadari kedua pria itu mengeluarkan sapu tangan dan langsung membekap wajah mereka, yang tak lama kemudian membuat keduanya tak sadarkan diri setelah sempat meronta.
“Gimana nih, boss? Langsung dibawa ke TKP?”
“Ya, langsung bawa saja kesana, aku urus dulu yang lain. Dan ingat, jangan diapa-apain dulu, nanti jatah kalian ada sendiri,” jawab Ramon sambil mengambil ponsel kedua wanita itu.
Tubuh Nadya dan Lia yang tak sadarkan diri kemudian diangkat oleh anak buah Ramon dan dimasukkan ke mobil mereka, lalu berlalu menuju ke tempat yang telah diperintahkan Ramon setelah sebelumnya Ramon meminta dua orang anak buahnya untuk berpindah ke mobilnya. Ramon sendiri melanjutkan perjalanan, bukan menuju kantornya, tetapi menuju rumah Wijaya.

***

“Pak Sarbini ijin lagi ya, yah?”
“Iya, buk, istrinya sakit lagi katanya.”
“Kasihan yah bu Sarbini, kayaknya sekarang lebih sering kumat sakitnya.”
“Iya, buk, apa coba kita periksain aja ya?”
“Iya, yah, ibuk setuju. Siapa tahu ada komplikasi lain. Kan udah lama dari dulu waktu kita periksain itu.”
“Kalau gitu biar nanti ayah ngomong sama Sarbini.”
Wijaya dan istrina sedang sarapan pagi itu. Lagi-lagi hari ini Sarbini ijin untuk tidak bekerja karena istrinya sedang sakit. Hari ini memang tidak ada agenda khusus bagi Wijaya. Dia hanya akan pergi ke kantor, memeriksa pengamanan untuk malam pergantian tahun nanti, setelah itu mungkin langsung pulang. Jadi absennya Sarbini tak begitu menjadi masalah baginya.
Absennya Sarbini sebenarnya bukan karena istrinya yang sedang sakit. Memang akhir-akhir ini istri Sarbini lebih sering kambuh penyakitnya, tetapi hari ini sebenarnya dia baik-baik saja. Sarbini nyatanya saat ini sedang berada di sebuah kamar hotel bersama Tata, setelah semalaman mengayuh birahi bersama. Hal ini tentu saja merupakan rencana dari Ramon dan Tata agar upaya mereka untuk bisa menculik Wijaya dan istrinya tidak ada gangguan.
Rumah Wijaya kini memang lebih sepi sejak Ara menikah dan tinggal bersama suaminya. Kini hanya tinggal Wijaya dan Aini ditemani oleh seorang pembantu yang sudah lebih dari sepuluh tahun ikut dengan mereka. Sarbini sendiri sebagai supir tidak selalu menginap di rumah ini, bahkan lebih sering pulang ke rumahnya sendiri. Dia baru akan menginap kalau Wijaya ada agenda sampai larut, atau agenda yang harus dimulai pagi-pagi sekali.
Dengan Wijaya yang masih bekerja hingga sekarang, praktis hanya tinggal Aini dan pembantunya yang ada di rumah. Untuk itulah sudah sejak beberapa tahun lalu Wijaya membuatkan sebuah butik yang dikelola oleh Aini supaya istrinya itu ada kegiatan dan tidak kesepian. Terlebih di saat seperti ini, ketika sang anak sudah pergi ikut suaminya.
Meskipun begitu tak jarang Ara dan suaminya mengunjungi rumah ini. Kadang Ara datang sendirian bila sang suami sedang ada tugas keluar kota. Aini juga sudah mulai sering mengajak Ara ke butiknya, karena suatu saat nanti butik itu akan diserahkan kepada anak semata wayangnya.
Sebelum sarapan tadi Ara sudah sempat mengabarkan kepada Aini untuk malam ini bisa datang ke rumahnya karena mereka akan mengadakan acara kecil-kecilan untuk menyambut malam pergantian tahun. Terlebih ada sahabat Budi yang akan datang kesana. Wijaya pun menyanggupinya saat diberi tahu oleh Aini.
Mereka sudah selesai sarapan, dan kini bersiap untuk pergi ke tujuan masing-masing. Karena Sarbini tidak masuk, jadi Aini akan berangkat bersama dengan Wijaya. Tak sampai setengah jam mereka sudah sampai di butik, dan kondisinya masih sangat sepi karena memang butik baru akan buka jam 9. Namun terlihat sudah ada dua orang karyawati Aini yang datang untuk membersihkan butik.
Selepas kepergian Wijaya, Aini melihat ada dua orang pria sedang berada di ruko sebelah butiknya. Butik ini memang berada persis di samping deretan ruko yang beberapa di antaranya masih kosong, dan sepertinya kedua pria ini sedang melihat ruko tersebut, mungkin akan membelinya, pikir Aini. Kedua pria itupun menghampiri Aini.
“Selamat pagi, bu,” sapa seorang diantaranya.
“Selamat pagi juga, pak. Lagi lihat ruko ya?” tanya Aini.
“Iya, bu. Yang ini kayaknya masih kosong ya, bu?” tanya pria itu.
“Iya, pak, kalau yang sebelah ini memang masih kosong. Mau ngambil, pak?”
“Iya, tapi mungkin kita mau nyewa dulu aja, bu, mau bikin kedai kopi. Ibu yang punya butik sebelah?”
“Iya, pak, saya yang punya butik. Ya udah kalau gitu saya masuk dulu, pak.”
“Oh iya, silahkan, bu.”
Tanpa kecurigaan Aini pun masuk ke dalam butiknya, menyapa kedua karyawatinya yang sedang bersih-bersih. Setelah sekitar 15 menit pekerjaan kedua karyawatinya ini pun selesai, dan mereka masuk ke ruang loker untuk berganti pakaian dengan seragam kerjanya. Masih cukup waktu sampai nanti jam buka butik.
Setelah berganti pakaian, kedua karyawati yang usianya masih cukup muda ini pun menghampiri Aini yang sedang berada di meja kasir, sedang memeriksa kembali daftar stok barang. Beberapa hari terakhir memang butik yang menyediakan kebaya dan gamis itu cukup banyak pembeli, hingga membuat Aini harus segera mengisi gudang lagi karena stok barang sudah mulai menipis.
Aini sedang asyik memeriksa daftar stok bersama kedua karyawatinya, saat kemudian masuklah dua pria yang tadi ditemui oleh Aini di depan butiknya. Baru saja Aini hendak mengatakan kalau mereka belum buka, salah seorang pria itu sudah angkat bicara terlebih dahulu.
“Permisi, bu. Maaf, boleh saya numpang kamar kecil?”
“Oh, boleh, pak. Indah, tolong tunjukkan kamar kecilnya ya,” ujar Aini pada salah seorang pegawainya.
“Baik, bu. Mari, pak, silahkan,” jawab gadis itu.
Selagi temannya pergi ke kamar kecil, pria yang satunya melihat-lihat kondisi di dalam butik ini. Namun dia tidak sedang mengamati pakaian yang terpajang, jelas saja tidak mungkin dia yang bertampang sangar itu tertarik dengan kebaya dan baju gamis. Tapi pria ini sedang mencoba mengamati apakah di dalam butik ini terpasang kamera CCTV atau tidak. Setelah dia pastikan tidak ada kamera yang terpasang, dia pun melangkah mendekati Aini.
“Disini khusus jual kebaya dan baju muslim ya, bu?” tanyanya berbasa-basi.
“Iya, pak, khusus perempuan. Mungkin mau beliin buat istrinya, pak?” tanya Aini.
“Boleh juga sih, bagus bagus koleksinya, hehe.”
Sreeet... tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaketnya dan langsung menodongkan ke pegawai Aini yang berada di dekatnya. Melihat itu tentu saja membuat Aini terkejut setengah mati. Dia berpikir bahwa kedua pria itu adalah perampok, dan akan segera menguras uang di butiknya ini.
“Aa-ada apa ini, pak?”
“Diam! Atau perempuan ini mati!” gertak pria itu.
“Buuu,” gadis itu ketakutan menyadari sebuah pistol menempel di kepalanya yang masih terbungkus kerudung.
“Tenang, Ri, tenang. Tolong jangan sakiti kami, pak. Kalau bapak mau silahkan ambil uang kami, pak,” ujar Aini mencoba tenang sambil membuka laci tempatnya menyimpan uang.
Dari wajahnya terlihat begitu ketakutan, namun dia mencoba tenang. Apalagi dilihatnya gadis yang sedang ditodong pistol itu begitu ketakutan hingga tubuhnya gemetaran. Pria itu tak berkata apa-apa namun menatap Aini dengan tajam, membuat nyali Aini semakin menciut, hingga tiba-tiba seseorang membekap Aini dengan sebuah kain, dan tak lama kemudian dia kehilangan kesadarannya.
“Beres. Terus gimana?” tanya pria yang membekap Aini, yang tadi beralasan ke kamar kecil.
“Mana cewek yang tadi? Bawa kesini aja,” ujar pria yang sedang menodongkan pistolnya.
Pria itu pun kembali ke belakang, dan tak lama kemudian kembali dengan membopong tubuh gadis yang mengantarnya ke kamar mandi yang kini dalam keadaan terikat tangannya ke belakang dan mulut tersumpal kain.
“Terus diapain nih?” ujar pria itu setelah meletakkan tubuh sang gadis di lantai.
“Inget pesen si boss kan? Silent and clean,” jawab pria yang membawa pistol.
“Sekarang?”
“Entar dulu, nunggu temennya yang lain. Iket juga cewek ini biar nggak macem-macem.”
Rupanya kedua pria ini telah beberapa hari mengamati butik ini sehingga hafal kebiasaan karyawan disini yang kesemuanya adalah gadis muda, karena tak lama berselang datanglah dua orang lagi pegawai butik ini. Ketika masuk mereka sangat terkejut melihat kedua temannya dalam keadaan terikat kedua tangannya dan mulut tersumpal oleh kain.
Melihat itupun kedua pegawai ini segera menghampiri temannya berniat untuk membantunya meskipun kedua teman mereka yang terikat itu memberikan kode dengan menggelengkan kepala. Namun kedua pegawai tak memahami isyarat dari temannya yang terikat itu, dan tanpa mereka sadari dua orang pria yang memegang pistol yang sudah dilengkapi peredam suara telah berada di belakang mereka.

***

Selepas mengantar Aini ke butik, Wijaya melajukan kendaraannya menuju ke kantornya yang terletak di kawasan ring road utara Yogyakarta. Dari awal berangkat tadi dia sudah merasa tidak enak. Entah kenapa tapi dia seperti memiliki firasat bahwa sesuatu yang buruk sedang, atau akan terjadi. Namun karena tidak ingin membuat istrinya cemas, dia diam saja.
Dan kini perasaan cemas Wijaya itu semakin kuat. Selama ini jika dia merasakan sebuah firasat buruk, biasanya memang akan benar-benar terjadi, tapi kali ini dia mencoba untuk lebih mendinginkan kepalanya. Dia menduga-duga tentang Marto, meskipun pria itu sudah sebulan ini sama sekali tidak ada kabarnya. Meskipun secara diam-diam dia mengerahkan beberapa anggotanya untuk mencari Marto, namun hingga saat ini masih saja belum ada kabar sama sekali.
Saat sedang melamun itulah tiba-tiba dia terkejut saat dia merasakan mobilnya tertabrak oleh mobil di belakangnya. Sontak dia melihat ke kaca spion tengah, dan terlihat dua orang pria yang sedang cekcok. Lebih tepatnya pria yang berada di belakang kemudi seperti sedang dimarahi oleh pria di sampingnya.
Melihat itu pun Wijaya turun dari mobilnya untuk melihat keadaan. Dan dia dapat melihat ekspresi keterkejutan dari kedua pria yang masih di dalam mobil yang menabraknya. Dengan tersenyum Wijaya memberikan kode kepada dua pria itu untuk keluar dari mobilnya, dan kedua pria itu pun menurut.
Pria yang tadi mengemudikan mobil nampak menunduk, seperti takut melihat Wijaya. Sedangkan pria satunya, yang sepertinya lebih tua juga diam saja, seperti bingung harus mengucapkan apa kepada Wijaya.
“Ma-maaf, pak, kami udah nabrak mobil bapak,” ucap si pria yang tadi memarahi si pengemudi dengan nada sedikit gugup.
“Iya, mas, nggak papa. Apa lagi buru-buru ya kok sampai nabrak? Saya bisa lihat surat-suratnya?” tanya Wijaya.
Si pengemudi tadi diam saja lalu menoleh ke temannya. Dari situ Wijaya berkesimpulan bahwa si pengemudi ini kemungkinan belum memiliki SIM.
“Maaf, pak, jadi begini... adek saya ini belum punya SIM, ini aja masih belajar. Dia masih belum lancar nyetirnya, pak, makanya sampai nabrak mobil bapak. Tapi kalau STNKnya ini ada, pak,” ujar pria itu sambil menyerahkan STNK mobil kepada Wijaya untuk diperiksa.
“Benedictus Ramona, itu anda?” tanya Wijaya.
“Benar, pak, panggil saja Ramon,” jawab Ramon.
“Jadi ini mobil Mas Ramon? Dan mas yang ini, adek anda?” tanya Wijaya lagi.
“Iya, pak. Hari ini saya ngajak adek saya untuk belajar nyetir mobil, mumpung saya lagi libur.”
“Oke, jadi gini ya, Mas Ramon. Kalau memang adeknya belum bisa dan belum memiliki SIM, lebih baik berlatihnya di tempat yang memang untuk latihan, bukan di jalan umum seperti ini, karena bisa membahayakan pengguna jalan yang lain. Kalau di tempat latihan kan juga ada instrukturnya, dan jalurnya pun memang khusus untuk latihan, lebih aman karena tidak ada kendaraan lalu lalang,” ujar Wijaya menjelaskan.
“Iya, pak. Kami tadi sebenarnya dari mini market. Dan waktu pulang saya pikir sekalian saja mengajari adek saya supaya bisa nyetir mobil. Eh, tahunya malah nabrak mobil bapak. Yaa, kami mohon kebijaksanaannya, pak,” sahut Ramon.
“Ya sudah, kali ini bisa saya tolelir. Tapi setelah ini tolong adeknya diajari di tempat latihan saja ya, jangan sampai kejadian seperti ini lagi. Ini masih mending kalian nabrak mobil saya, kalau yang ditabrak pengendara motor atau sepeda, kan bisa repot urusannya.”
“Baik, pak, terima kasih. Kami minta maaf, ini yang terakhir,” ujar Ramon.
“Kalau gitu saya permisi dulu, mas, mau lanjut ke kantor,” pamit Wijaya.
“Mari, pak, silahkan,” jawab Ramon.
Wijaya kemudian berbalik hendak melangkah pergi. Namun baru saja dia berbalik dan memunggungi Ramon, sebuah benda kecil dan tajam terasa menusuk ke tengkuknya. Kemudian sesuatu yang dingin menjalar dengan cepat dari tempat itu menuju ke otaknya. Tak perlu waktu lama untuk menunggu obat yang disuntikkan itu menjalar menuju kepalanya. Sama, terasa dingin, dan beraaat.
Wijaya yang tidak siap menerima hal itu dengan cepat kehilangan kesadarannya, dan ditangkap oleh Ramon dan rekannya ketika hendak terjatuh. Ramon pun memberikan kode kepada seorang anak buahnya lagi yang sedari tadi bersembunyi di dalam mobilnya untuk keluar. Mereka lalu mengikat Wijaya dan kemudian dimasukkan ke dalam mobilnya sendiri. Anak buah Ramon yang tadinya bersembunyi itu pun mengemudikan mobil Wijaya menuju ke tempat yang telah ditentukan.
“Oke, bapaknya udah beres, ayok kita cek ibunya gimana.”
Ramon dan rekannya yang pura-pura belum lancar mengemudikan mobil tadi kemudian berputar balik, menuju ke arah butik Aini untuk melihat perkembangan. Ramon tiba di depan butik milik Aini ini sekitar 15 menit kemudian. Dia melihat kedua anak buahnya baru saja keluar dari butik itu. Saat mereka melihat Ramon, mereka memberikan isyarat bahwa semuanya sudah beres, dan menunjuk ke arah mobil menunjukkan bahwa Aini sudah berada di dalamnya. Ramon menanyakan kondisi di dalam butik, dan dibalas dengan mengacungkan jempol oleh kedua anak buahnya itu.
Ramon tersenyum puas. Wijaya dan istrinya sudah berhasil mereka dapatkan. Kini mereka beralih ke target selanjutnya, anak Wijaya. Ramon pun meninggalkan tempat itu, kemudian disusul tak lama kemudian oleh mobil anak buahnya yang membawa Aini. Mobil itu meninggalkan butik dalam keadaan tertutup tanpa siapapun tahu di dalamnya ada empat orang gadis muda yang sudah tak bernyawa dengan bagian kepala tertembus timah panas.

***

“Ara, Wulan, itu si Nadya sama Aliya belum datang juga ya?”
“Eh, bapak. Belum, pak, belum datang.”
“Udah coba dihubungi?”
“Udah, pak, tadi udah coba saya hubungi, tapi dua-duanya nggak diangkat.”
“Hmm, udah jam segini, bolos berarti mereka ya?”
“Hehe, kurang tahu juga ya, pak.”
“Hadeeh dasar, mentang-mentang besok libur udah curi start aja mereka.”
Ara dan Wulan pun sempat terdiam melihat Pak Hamid kembali ke ruangannya. Keduanya menarik nafas lega. Beruntung pimpinannya itu tidak marah, mungkin suasana hatinya sedang bagus, atau karena memang hari ini banyak meja yang sudah kosong sehingga dia memaklumi saja, meskipun Nadya dan Lia tidak sedang cuti hari ini.
“Kemana ya mereka, Ra?” tanya Wulan sambil mengelus-elus perutnya yang kian membesar.
“Nggak tahu deh, Wul. Tadi ditelepon nggak ada yang ngangkat. Malah Nadya wassap aku nih nanti jam 12 suruh ke rumah Lia,” jawab Ara.
“Lah, ngapain?” tanya Wulan lagi.
“Ya nggak tahu. Mau ikut nggak nanti?”
“Aduh, nggak bisa deh, Ra. Aku habis ini dijemput suamiku terus kita mau ke dokter, biasa ngecek si dedek, hehe,” jawab Wulan.
“Waah, si dedek udah mau nongol ya, Wul?”
“Hehe, iya nih, Ra. Kira-kira bulan depan. Kamu sendiri udah kontrol belum?” tanya Wulan.
“Belum, Wul, aku ke dokter ya baru sekali aja pas mastiin aku hamil itu. Entar deh kalau suamiku udah longgar,” jawab Ara.
“Oh, oke deh, kalau gitu salam aja deh ya buat Lia sama Nadya. Tapi kira-kira mereka kenapa ya?” tanya Wulan kebingungan.
Ara mengangkat kedua bahunya. Dia sendiri pun bertanya-tanya kemana dan kenapa kedua sahabatnya ini. Tak biasanya mereka bolos kerja seperti ini meskipun besoknya adalah hari libur. Apalagi beberapa kali dihubungi tak ada dari keduanya yang mengangkat telepon. Tapi Ara tak mau terlalu ambil pusing. Mungkin nanti sepulangnya dari kantor dia akan ke rumah Lia, seperti ajakan dari Nadya tadi.
Hari ini memang Pak Hamid memutuskan untuk bekerja setengah hari saja karena dia ada acara dengan keluarganya. Para karyawan tentu saja menyambutnya dengan senang. Apalagi pekerjaan di hari ini cukup sedikit dan itupun sudah mereka selesaikan, sehingga sebelum jam 12 pun bisa langsung pergi, kalau pimpinannya juga sudah meninggalkan kantor tentunya.
Jam baru menunjukkan pukul 11 lewat sedikit ketika Pak Hamid keluar dari ruangannya membawa tas kerja. Dia hanya tersenyum saja ketika para karyawan melihatnya, seolah mengatakan, ‘saya pulang dulu ya, kalian terserah kalau mau pulang sekarang.’ Dan karyawannya pun tersenyum seolah mengatakan, ‘oke boss.’
Dan benar saja, ketika melihat mobil Pak Hamid keluar dari gerbang kantor, para karyawan pun bersorak dan bergegas untuk meninggalkan kantor, tak terkecuali Ara. Dia menghubungi suaminya terlebih dahulu, mengabarkan kalau dia sudah akan pulang tapi akan mampir dulu ke rumah Lia. Budi mengiyakan, dan mengatakan nanti akan makan siang dulu bersama dengan Sakti dan beberapa rekan kantornya. Dia tetap akan pulang sore hari sesuai dengan jadwalnya.
Setelah itu Ara pun meninggalkan kantor dan mengemudikan mobilnya ke arah rumah Lia. Sepanjang perjalanan dia masih bertanya-tanya kenapa Nadya menyuruhnya ke rumah Lia, apakah Lia sedang sakit? Tapi kalau memang sakit kenapa tidak memberi kabar dan malah bolos dari kantor?
Ara sudah berada di sebuah jalan yang cukup sepi ketika dia rasakan mobilnya sedikit oleng. Beruntung dia mengemudikan dengan kecepatan rendah sehingga bisa mengendalikan laju mobilnya. Dia pun meminggirkan mobilnya dan keluar untuk memeriksa. Ara menepuk dahinya ketika dilihatnya ban depan mobilnya kempes, sepertinya bocor.
“Haduuh, kok pakai bocor segala sih. Mana bocornya disini lagi.”
Ara melihat keadaan sekitar, sepi. Dia sendiri jelas tak bisa mengganti ban mobilnya, tapi disini juga tidak ada yang bisa dimintai bantuan. Ketika mengambil ponselnya hendak mencari bantuan, dilihatnya dari arah yang berlawanan sebuah mobil sedang menuju ke arahnya. Ara berharap dia bisa mendapat bantuan dari mobil itu.
Ketika mobil itu mendekat, Ara memberikan isyarat agar mobil itu mau berhenti dan bisa membantunya. Mobil itu berhenti dan kemudian keluar seorang pria dari dalamnya.
“Loh, Ara? Kamu ngapain disini?”
“Eh, Mas Ramon tho? Dari mana, mas?”
“Biasalah tukang kredit, keliling nyari mangsa, hehe. Kamu ngapain disini?” Ramon mengulang pertanyaannya.
“Eh, ini, mas... anu, ban mobil Ara bocor,” jawabnya sambil menunjuk bannya yang sudah kehabisan angin.
“Oalah, bawa serep?”
“Ada, mas.”
“Alat-alatnya ada juga nggak?”
“Nggak tahu sih, mas, Ara nggak pernah ngecek, biasanya Mas Budi yang ngecek.”
“Hmm, kang, bisa bantu nggak? Bannya bocor nih,” ujar Ramon pada seseorang di dalam mobil.
“Bisa, boss, ada alat-alatnya nggak?” tanya orang itu, kemudian keluar dari mobil Ramon.
“Coba kamu cek dulu, kang,” perintah Ramon.
Orang itu pun meminta Ara untuk membuka bagasi mobilnya. Dan setelah beberapa saat orang itu mengambil peralatan yang ternyata ada di mobil Ara, beserta ban serepnya untuk segera mengganti bannya yang bocor, sedangkan Ramon menemani Ara mengajaknya ngobrol.
“Itu kok mobilnya penyok gitu, mas, depannya?” tanya Ara.
“Iya, tadi pas lagi di jalan tiba-tiba mobil di depanku ngerem mendadak, akunya nggak sempat ngerem jadi deh ketabrak. Mau dimarahin ternyata bapak-bapak udah tua, ya udah deh,” jawab Ramon.
“Ooh,” jawab Ara singkat, tak tahu yang dimaksud Ramon adalah ayahnya sendiri.
“Jam segini kok kamu udah nggak di kantor, Ra?” tanya Ramon sambil melihat arlojinya.
“Hehe... iya, mas, udah pada pulang semua kok tadi temen-temen,” jawab Ara polos.
“Setengah hari doang ya? Haduh, dasar pegawai negeri santai.”
“Hehe, ya gitu deh, mas, kan ngikutin bossnya aja.”
“Lha, terus kok lewat sini? Mau kemana emang?”
“Ooh, mau ke rumah Lia, mas, dia nggak masuk hari ini.”
“Lho, kenapa emangnya? Sakit?”
“Belum tahu, mas, makanya ini Ara mau kesana.”
Selama ngobrol dengan Ara, mata Ramon jelalatan memandangi tubuh Ara. Bagaimanapun juga Ramon pernah melihat bagaimana tubuh wanita cantik ini tanpa sehelai benang pun. Terbayang-bayang kembali dalam benak Ramon bagaimana tubuh indah Ara. Dia bertekad malam ini harus bisa menikmatinya, meskipun itu sisa dari bossnya. Hitung-hitung untuk menuntaskan permainan mereka tempo hari, dan juga untuk membalas dendam atas kematian pamannya.
Ara sendiri tak sadar sedang dipandangi oleh Ramon karena sudah memperhatikan teman Ramon yang sedang mengganti ban mobilnya. Dia pun menjawab pertanyaan Ramon sekerdarnya. Lagipula entah kenapa Ara merasa sangat tidak nyaman berdekatan dengan teman suaminya itu. Terlebih masih tersimpan berbagai macam pertanyaan mengenai kejadian tempo hari di pantai itu, yang menurut Ara Ramon tahu sesuatu.
Karena terlalu memperhatikan orang yang sedang mengganti bannya, Ara tidak menyadari kalau Ramon sedang mempersiapkan sesuatu. Tak lama kemudian urusan mengganti ban sudah selesai. Ara bersyukur karena bisa melanjutkan perjalanannya ke rumah Lia sehingga tak harus berlama-lama dengan Ramon.
“Oke, mbak, udah beres ini.”
“Oke, mas, makasih ya banmmmmmppphhhh...”
Belum selesai Ara berbicara, Ramon sudah membekap wajah Ara dengan sebuah sapu tangan. Dia sempat meronta saat kemudian tercium bau menyengat dari sapu tangan itu, yang membuat Ara merasa sesuatu yang dingin menjalar dari hidung menuju ke otaknya, membuat rontaannya semakin melemah, dan semuanya menjadi gelap.
“Oke, beres. Sekarang kamu bawa gadis ini ke TKP pakai mobil dia. Aku akan urus sisanya.”
“Oke siap, boss.”
“Ingat ya, gadis ini milik boss besar. Jangan ada yang berani menyentuhnya kalau masih ingin hidup!”
“Beres, boss, saya udah paham.”
Tubuh Ara kemudian dimasukkan ke mobilnya, lalu orang yang tadi mengganti ban itu mengemudikan ke arah lokasi acara untuk malam ini. Wijaya sudah dibawa menuju lokasi, begitu pula istrinya. Sedangkan Tito juga mengabari bahwa sekarang dia sudah berjalan menuju lokasi membawa Filli dan Renata yang saat ini dalam keadaan kaki dan tangan terikat, serta mulut dan mata tertutup.
Hmm, tinggal dua orang lagi yang harus dia jemput, Budi dan Sakti, dan nampaknya yang ini akan lebih sulit, pikir Ramon. Dia segera menghubungi anak buahnya yang sedang mengawasi Budi dan Sakti, serta memanggil beberapa orang lagi sebagai cadangan, persiapan kalau saja Budi dan Sakti harus dilumpuhkan dengan sedikit kasar.

***

Hallo, Cing, ada apaan?”
“Hoy, salam dulu kek.”
Ahaha... Assalamualaikum, pak haji, ada apa ya?”
“Waalaikumsalamh. Haha, dasar kamu, Sak. Masih di hotel? Aku jemput sekarang ya?”
Iya nih, nungguin lu lama amat. Buruan, laper gua.”
“Oke, boss, udah meluncur ini, tunggu aja di lobby.”
Oke sip, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Budi sedang mengendarai mobilnya untuk menjemput Sakti di sebuah hotel di kawasan jalan Gejayan. Karena hotel yang tak terlalu jauh dari kantornya, dengan bergerak ke arah utara, kemudian di perempatan dia belok ke kanan melewati kawasan kampus yang siang ini cukup rame, lalu sampai di jalan Gejayan belok kiri, tak lama kemudian sampailah Budi di hotel tersebut, dan ternyata Sakti sudah menunggunya dengan sebatang rokok yang tinggal setengah.
“Woy, ayo naik,” ujar Budi.
“Oke, boss. Wah, rame nih?” tanya Sakti saat melihat ke dalam mobil sudah ada dua orang rekan kerja Budi.
“Iya, temen kantorku nih, Candra sama Dipta,” jawab Budi.
“Hallo, salam kenal, gua Sakti,” Sakti pun memperkenalkan diri kepada kedua teman Budi.
“Makan dimana kita, Cing?” tanya Sakti.
“Lha, kamu mau makan apa?” Budi bertanya balik.
“Pengen bebek goreng nih, yang di depan situ aja gimana?”
“Wah, kalau yang disitu rame banget, jalanan macet pula, ke yang di ring road aja ya? Deket flyover?
“Oke deh, ngikut aja gua, Cing.”
Mobil pun beranjak meninggalkan hotel menuju ke tempat makan yang dimaksud. Jalanan siang ini memang lumayan macet, mungkin karena memang nanti malam adalah malam pergantian tahun, banyak orang yang sudah berada di Jogja untuk ikut merayakannya. Beberapa saat kemudian mereka terbebas dari macet hingga melenggang mulus di jalan lingkar utara.
Keempat pria itu saling bercanda di dalam mobil saat ada dua buah mobil SUV berwarna hitam sedang mengikuti mereka. Tak ada yang menyadari itu kecuali Budi, karena itulah dia memilih untuk lewat ring road dengan harapan tidak akan terlalu memancing perhatian dan memakan banyak korban.
Setelah melewati perempatan Monjali, kondisi jalanan lebih lengang, hal ini membuat Budi semakin tegang karena mengetahui apa yang akan terjadi. Dan benar saja, tak lama kemudian salah satu SUV yang membuntuti mereka tiba-tiba menyalip dan langsung menghadang mobil Budi. Dengan sigap Budi menginjak rem yang mengagetkan ketiga orang lainnya. Belum hilang kekagetan mereka, mobil Budi ditabrak oleh mobil SUV hitam lainnya.
“Anjriiit, apaan nih?” teriak Sakti yang langsung tersulut emosinya dan keluar dari mobil, diikuti Budi dan kedua temannya.
“Woy njing, keluar lu!” bentak Sakti sambil memukul kaca samping mobil SUV yang menghadangnya.
Namun sambutan yang tak kalah kasarnya diterima oleh Sakti. Pintu mobil itu terbuka dengan keras, cukup mengagetkan Sakti. Belum berhenti disitu, orang yang keluar dari mobil itu langsung menghantam wajah Sakti dengan pukulanya. Sakti yang tak siap menerima bogem mentah-mentah langsung terjatuh di jalan.
“Wanjing lu!” maki Sakti lalu berdiri dan menyerang pria yang memukulnya tadi.
Serangan sporadis dari Sakti cukup membuat pria itu kewalahan hingga wajah dan dadanya terkena pukulan Sakti. Namun sesaat sebelum Sakti melancarkan pukulan pamungkasnya, tiba-tiba seorang pria lainnya menghujami kepala Sakti tanpa mampu dia mengelak. Sakti pun kembali limbung meskipun tak sampai terjatuh.
Melihat Sakti sedang dikeroyok membuat ketiga temannya berniat membantu. Namun tiba-tiba saja Candra mengaduh saat punggungnya ditendang oleh seseorang. Rupanya dari SUV yang menabrak mobil dari belakang sudah keluar empat orang. Dua orang menuju ke arah Candra dan dua orang ke arah Dipta.
Sedangkan Budi berlari ke arah Sakti untuk menolongnya sebelum dihadang oleh seorang pria yang keluar dari SUV yang menghadang mobilnya tadi. Perkelahian yang tak seimbang pun tak terhindarkan, dan orang-orang yang lewat disitu tak berani untuk ikut campur, terutama saat melihat orang-orang yang menyerang Budi dan teman-temannya memakai stelan jas serba hitam mirip mafia.
Candra dan Dipta yang cukup menguasai beladiri silat terlihat cukup mampu mengatasi lawan-lawan mereka. Meskipun dikeroyok namun mereka terlihat lebih tenang dan bisa menghindar dari serangan para penyerangnya ini, dan sesekali balas menyerang yang masuk dengan telak di badan maupun wajah para penyerangnya.
Mengetahui Candra dan Dipta tak bisa dianggap remeh, para penyerang yang pada dasarnya juga bukan orang sembarangan ini pun mulai serius. Masing-masing memasang kuda-kuda dan sikap waspada terhadap lawannya, lalu satu persatu menyerang Candra dan Dipta. Candra cukup terkejut mendapatkan serangan ini, karena dia salah menduga level kemampuan lawannya, yang ternyata setara dengan dirinya maupun Dipta, ditambah lagi jumlah mereka lebih banyak, dia harus berpikir cepat untuk mengatasi ini semua.
Namun serangan demi serangan yang dia terima tak memberikan waktu padanya untuk berpikir, hingga dia bergerak berdasarkan instingnya saja. Sebuah pukulan menyasar ke wajahnya berhasil dia tangkis ke samping, namun ketika hendak melancarkan pukulan balasan, sebuah sepakan mengarah ke bagian samping badannya, dan berhasil dia tangkis.
Tak berhenti sampai disitu, sebuah jab kembali mengarah ke wajahnya, dan masih berhasil dia tangkis. Bersamaan dengan itu sebuah kaki berusaha menendang dadanya. Candra hanya bisa berusaha untuk menangkis serangan-serangan dari lawannya tanpa diberi kesempatan untuk membalas, hingga akhirnya membuatnya lengah saat pahanya ditendang oleh salah seorang lawannya, membuat keseimbangannya goyah.
Saat itulah sebuah jab berhasil masuk menembus pertahanannya dan mendarat mulus di wajahnya, membuat Candra sedikit terpental, lalu disusul dengan sebuah tendangan yang tepat mengarah di dadanya, yang membuat dia benar-benar terpental. Darah segar keluar dari hidung dan bibirnya.
Kondisi Dipta tak jauh berbeda dengan Candra, yang hanya bisa menangkis semua serangan yang mengarah kepadanya tanpa bisa sekalipun membalas. Terlebih lawan yang dihadapi Dipta ini lebih tangguh daripada lawan Candra, gerakan mereka cepat sekali, membuat Dipta cukup kerepotan menahan serangan. Akibatnya beberapa pukulan dan tendangan sempat mengenainya meskipun tak terlalu telak.
Dipta berfikir bagaimana agar dia bisa membalas serangan lawannya ini. Sebuah kesalahan karena hal itu menyebabkan Dipta menjadi sedikit lengah hingga pertahanannya terbuka dan itu terlihat oleh lawannya. Sepersekian detik kemudian sebuah uppercut masuk dengan telak di rahangnya, membuat pandangannya menjadi sedikit kabur, kemudian disusul sebuah tendangan di perutnya yang membuatnya terbungkuk, dan diakhiri oleh sebuah sikutan yang menghantam telak di tengkuknya.
Dipta roboh seketika, dia masih sempat melihat Candra yang juga sudah roboh menerima tendangan di wajahnya membuatnya kehilangan kesadaran. Dan sesaat kemudian dia pun menerima tendangan yang sama, dan semua menjadi gelap.
Tak jauh dari situ, Sakti mati-matian menahan serangan dari dua orang yang mengeroyoknya. Sakti yang memang tak memiliki pengalaman maupun kemampuan beladiri yang mumpuni tentu saja bukan menjadi lawan yang seimbang bagi lawan-lawannya itu, hingga sebuah jab telak mengenai wajahnya disusul dengan sebuah hook yang mengakhiri perlawanannya. Sakti roboh namun belum kehilangan kesadaran sehingga dia masih bisa melihat bagaimana Budi sekarang dikeroyok oleh tiga orang.
Budi ternyata cukup memiliki teknik beladiri yang mumpuni sehingga masih mampu melayani ketiga lawannya. Dia bahkan sempat beberapa kali mendaratkan pukulan dan tendangan yang membuat lawannya menjadi goyah. Namun jumlah lawan yang tak seimbang tentu saja menjadi kesulitan sendiri bagi Budi. Terlebih konsentrasinya terpecah saat dia mengetahui ketiga temannya telah roboh, bahkan Candra dan Dipta mendapat serangan yang cukup parah.
Budi hanya berharap kedua teman kerjanya itu tak sampai harus kehilangan nyawa. Kalau untuk Sakti, dia yakin mereka tak akan melakukan sesuatu yang fatal karena bagaimanapun Sakti adalah anak dari Baktiawan, orang yang diketahui Budi merencanakan semua ini.
Kembali Budi dihujani oleh serangan-serangan yang membuatnya mulai kewalahan. Apalagi kondisi fisiknya sudah mulai terkuras dikarenakan dia sendiri sudah jarang berlatih. Serangan demi serangan itu akhirnya membuat pertahanan Budi sedikit goyah sehingga dia tidak menyadari saat dari sudut matinya sebuah tendangan mendarat disana, membuatnya limbung.
Limbungnya Budi dimanfaatkan oleh pria di depannya. Budi menyadari itu dan masih bisa menangkisnya, namun tak dapat berbuat apa-apa saat sebuah bogem mentah dari sisi lain menghujam ke pipinya, disusul oleh sebuah pukulan dari arah sebaliknya. Belum berhenti disitu, saat sebuah hook tepat mengenai pelipisnya membuat dia roboh. Budi tak bangkit lagi. Dia pura-pura pingsan. Namun kemudian terdengar suara orang yang cukup familiar baginya.
“Pakai ini buat mereka berdua.”
Ramon. Itu suara Ramon. Dia sudah sudah sampai disini, berarti semua korban sudah dia dapatkan, termasuk istriku, batin Budi.
“Itu dua orang lainnya gimana, boss?”
“Udah biarin aja, nggak ada urusan. Paling bentar lagi juga mampus. Ayo cepat.”
Budi tak tahu apa yang diperintahkan Ramon kepada anak buahnya karena dia masih menutup mata. Namun tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menusuk tengkuknya.
“Sial!” pekik Budi dalam hati. Ini obat bius. Mereka benar-benar tidak ingin diketahui tempat pestanya rupanya. Sisanya kuserahkan padamu Mas Jaka, batin Budi, dan tak lama kemudian dia benar-benar tak sadarkan diri.
Budi memang sudah mengetahui rencana penculikan ini, karena itulah dia berpura-pura pingsan agar bisa mengetahui kemana dia akan dibawa. Karena sebab itulah sebenarnya mengapa Budi mengajak Candra dan Dipta yang cukup ahli dalam beladiri silat untuk ikut bersama mereka, yaitu untuk melindungi Sakti.
Namun rupanya dia salah perhitungan. Jumlah lawannya lebih banyak daripada yang dia perkirakan. Dan lagipula ternyata Sakti juga akan dibawa serta oleh Ramon dan para anak buahnya ini. Kini tubuh mereka dibawa oleh kedua mobil SUV warna hitam itu, lalu pergi meninggalkan mobil Budi dan kedua temannya begitu saja, yang tak lama mendapat bantuan orang-orang yang sedari tadi hanya diam menonton kejadian itu, kejadian yang berlangsung cepat, tak sampai 15 menit.
Hallo, Mon, gimana?”
“Hallo, boss. Udah beres. Semua paket menuju TKP.”
Ada masalah nggak?”
“Aman, boss. Seperti biasanya, silent and clean, ya kecuali si Budi sama anak boss sih, kita bikin keramaian dikit.”
Haha, great job. Lumayan buat pengalih perhatian polisi. Oke, sampai ketemu nanti malam, kami masih sibuk bikin dua cewek ini jadi wanita dewasa, haha.”
“Oke siap, boss.”
Ramon tersenyum mengetahui maksud bossnya, Baktiawan, apalagi kalau bukan mengerjai kedua wanita yang dari semalam menjadi mainan kedua bossnya itu. Kini dia sudah dalam perjalanan menuju ke lokasi akan diadakannya pesta malam ini. Dia akan memeriksa semua telah siap. Tapi yang lebih penting, tentu saja menjaga agar para wanita yang mereka bawa tidak disentuh oleh preman-preman itu, sebelum mendapatkan ijin dari bossnya nanti malam.

***

Chapter 21
It’s Time To Party

Hari sudah beranjak petang ketika terlihat tiga orang pria dengan pakaian serba hitam bergerak dengan sangat cepat dan lincah menyusuri semak belukar. Bukan sepenuhnya belukar yang rimbun karena sebagian sudah ada yang rebah, seperti pernah dilewati sebelumnya. Tujuan mereka adalah menghampiri seseorang yang sudah dari pagi tadi berada di rumah pohon itu.
Ruman pohon? Yah, sebuah rumah-rumahan alakadarnya yang dibuat di atas sebuah pohon.
Rumah pohon itu cukup tersembunyi karena dedaunan yang cukup rimbun dari pohon itu sendiri sehingga tidak akan diketahui oleh orang jika tidak benar-benar memperhatikannya. Rumah pohon itulah yang saat ini digunakan oleh Marto untuk beristirahat sejenak sebelum memulai pertempuran malam ini. Namun meskipun cukup tersembunyi, tempat ini memiliki sudut pandang yang sangat bagus ke arah gudang tempat pelaksanaan rencana Baktiawan cs. Saat pintu gudang itu terbuka, Marto bisa melihat ke dalam gudang meskipun tidak secara keseluruhan.
Marto sendiri heran, bagaimana bisa Rio mempersiapkan tempat seperti ini. Dan jika mengingat lagi kapan Rio menyampaikan padanya bahwa dia sudah mengetahui lokasi ini, rasanya tidak mungkin dia mempersiapkan semuanya dalam waktu secepat ini. Apalagi jarak tempat ini ke gudang itu tak sampai 500 meter. Jika memang gudang itu sudah cukup lama dipersiapkan oleh Ramon dan anak buahnya, yang artinya mereka akan sering hilir mudik di sekitar sini, kenapa sampai tak ada satupun dari mereka yang memperhatikannya.
Tapi untuk saat ini Marto tak ingin terlalu larut dalam pemikirannya itu meskipun diakui atau tidak pemikirannya itu memunculkan sebuah kecurigaan tersendiri. Marto sudah sempat mengamati keadaan dari teropong di senapan SPR-3 miliknya. Ternyata cukup banyak orang yang berjaga disana, dan sepertinya mereka semua membawa senjata api. Namun jumlah mereka sepertinya masih tak jauh dari prediksi Rio, yaitu di bawah 100 orang, meskipun yang Marto lihat dan dia kenali, bahwa mereka yang berjaga-jaga ternyata bukanlah preman-preman kelas teri, tapi dengan kemampuan rekan-rekannya dia yakin semua itu bisa teratasi.
Sesaat Marto terkesiap, instingnya mengatakan ada seseorang yang sedang mendekat, sehingga dia bersikap waspada dengan mengeluarkan pistolnya, bersiap untuk kemungkinan-kemungkinan yang tidak dia inginkan. Namun wajahnya berubah lega setelah tahu siapa yang datang.
“Wow wow, udah nodongin pistol aja, bang?” ujar Rio terkejut melihat posisi siaga Marto.
“Haha, kalian rupanya,” jawab Marto menurunkan senjatanya.
“Ya emang siapa lagi yang tahu tempat ini, bang, haha,” kilah Rio.
“Wah, bang Marto, udah lama nggak ketemu. Gimana kabarnya, bang?” sapa Doni.
“Hai, Don, Rim, gimana kabar kalian?” tanya Marto.
“Baik nih, bang. Kaki gimana, udah sembuh itu?” tanya Karim.
“Yaa lumayan lah, tapi jalan masih pakai tongkat,” jawab Marto.
Doni, Karim dan tentu saja Rio sudah sampai di tempat ini. Mereka bertiga memakai seragam sama seperti yang dipakai oleh Marto. Keempatnya kini melepas kangen, bersenda gurau sebelum nantinya akan bertempur mati-matian dengan taruhan nyawa mereka. Semua itu tentu saja selain membantu keluarga Wijaya, juga untuk mengungkap dan menumpas kejahatan lainnya.
Mereka masih bercanda sambil merokok dan menikmati cemilan yang dibawa oleh Doni, saat Rio mengambil sebuah peti dan membukanya, lalu mengeluarkan isinya. Beberapa alat radio komunikasi, rompi anti peluru, senapan serbu, pistol dan ratusan amunisi berbagai kaliber. Pembicaraan pun menjadi lebih serius.
“Jadi rencana kita nanti seperti apa, Yo?” tanya Marto.
“Nggak ada rencana khusus, bang. Kami bertiga menyerang mereka, abang lindungi kami dari sini,” jawab Rio sekenanya.
“Hey, ayolah yang serius,” desak Marto, diiringi senyum Doni dan Karim.
“Oke gini, bang. Kami nanti akan menyerang bersamaan, nggak terpisah, supaya memudahkan abang melindungi kami. Kalau pada akhirnya sampai kepisah-pisah ya lihat perkembangan di lapangan aja. Nah kami akan menyerang dari sisi belakang gudang, disana aku lihat penjagaan nggak seketat di sisi yang lain, mungkin mereka berfikir kalaupun ada serangan pasti dari depan,” Rio mulai menjelaskan rencananya.
“Nah, serangan kami nanti pasti akan menarik perhatian yang lainnya, dari situ abang tembakin satu-satu deh tuh bandit, tapi dari depan, biar mereka kira musuh datang dari dua arah. Nah saat mereka kebingungan, itu bakal memudahkan kami untuk melumpuhkan mereka. Doni dan Karim bawa amunisi yang banyak ya, kita hindari pertarungan jarak dekat tangan kosong seperti kebiasaan kalian, karena jumlah lawan kita cukup banyak hari ini,” ujar Rio kepada Doni dan Karim dan mereka manggut-manggut saja.
“Bang Marto nanti nyerangnya dari sisi depan ke sisi utara, kami dari belakang ke sisi selatan, kita sapu bersih mereka, baru kita masuk dari pintu depan dan membereskan sisanya yang ada di dalam.”
“Sapu bersih? Maksudnya dibunuh?”
“Iya lah, bang, masak dikerokin sih,” jawab Rio.
“Semua?”
“Iya semua, matiin semua, kecuali dedengkotnya yang di dalam, si Fuadi,” jawab Rio.
“Kok dimatiin semua? Dan kenapa menyisakan Fuadi?” tanya Marto lagi.
“Mereka ini bandit-bandit yang udah sangat meresahkan di Jogja ini, bang. Lagian yang ada disini bukan bandit kelas coro, semuanya hebat dan terlatih. Dengan kita habisi mereka semua, yaa anggap aja kita membuat kedamaian di bumi Jogja lah. Kalau masalah Fuadi, dia harus diambil dulu keterangannya, bang, untuk membersihkan kepolisian dari orang-orang macam dia, karena aku yakin anak buahnya yang menyimpang kayak dia pasti banyak,” terang Rio.
“Hah, menyimpang? Suka cowok gitu? Atau suka anak kecil?” tanya Karim.
“Asuu... serius, cuk. Maksudnya oknum polisi yang nggak bener, yang kerja sama dengan bandit-bandit itu,” jawab Rio kesal, namun mengundang tawa geli Marto dan Doni.
“Lalu Baktiawan gimana?” tanya Marto.
“Lha katanya abang yang pengen bunuh dia? Sekalian si Ramon kan? Sisanya yang ada di dalam nanti kami bereskan, khusus untuk dua orang itu silahkan abang yang habisi. Dari jarak segini bisa kan?” tanya Rio.
“Jaraknya masih ideal sih, tapi kalau mereka ada di dalam gudang gimana aku bisa nembaknya, Yo?”
“Abang udah coba tes belum senapannya? Untuk melihat kesana maksudku.”
“Udah sih, tapi kan nggak bisa tembus pandang,” jawab Marto.
“Kalau itu tenang aja, nanti kita robohin itu pintunya yang segede gaban biar abang bisa melihat ke dalam.”
“Hmm, gitu yaa... oke deh kalau gitu,” ujar Marto, karena memang dia tadi sempat mencoba dan ternyata bisa melihat sampai ke dalam gudang ketika pintu itu terbuka.
“Oh iya, bang, itu korban-korban udah dibawa kesini kan?” tanya Rio.
“Udah dari tadi lah, Ramon juga udah kesini. Ada beberapa mobil yang bawa orang-orang yang aku tahu pimpinan preman dan mafia disini, si empat mata angin udah datang, tinggal nunggu big boss mereka aja kayaknya,” jawab Marto.
Rio kemudian menjelaskan secara detail rencana mereka malam ini, dan ketiga temannya itu mendengarkan dengan seksama. Mereka pun menyiapkan perlengkapan masing-masing setelah Rio selesai dengan penjelasannya. Terlihat oleh Marto, wajah teman-temannya ini begitu bersemangat. Yah karena akhirna mereka menghadapi pertempuran yang sesungguhnya lagi.
Marto tidak tahu apakah setelah dia keluar dari Vanquish, mereka pernah ditugaskan untuk misi berbahaya seperti ini lagi atau tidak, namun baginya ini adalah pertempuran pertamanya setelah lebih dari 10 tahun. Meskipun perannya hari ini adalah sebagai sniper yang tidak harus berhadapan langsung dengan musuh, tapi tak bisa dipungkiri ada rasa gugup melanda dirinya.
“Oke, semua perlengkapan udah siap?” tanya Rio.
“Sip,” jawab ketiga temannya bersamaan.
“Bagus. Kita tunggu sampai kedua big boss datang, dan itu tak akan lama lagi. Kita bergerak setengah atau satu jam setelah sang boss masuk arena. Kita lakuin sesuai rencana. Semoga hari ini kita diberkahi,” ujar Rio.
“Ya, aku semangat banget ini, udah lama nggak perang,” ujar Karim.
“Yoi, udah lama nggak menumpahkan darah. Iya nggak, bro?” ujar Doni.
“Iya, udah lama nggak ngerasain adrenalin ini, adrenalin ngebunuh orang, haha,” sahut Marto.
“Haha... tenang, kawan-kawan. Malam ini kalian boleh membunuh sepuasnya kok, asal sesuai rencana aja. Ini bakal menyenangkan, it’s time to party, bro,” ujar Rio.

***

“Wah wah wah, rupanya kalian mempersiapkan ini dengan sangat baik yaa.”
“Eh, bang Toro. Baru datang, bang?” sambut Ramon.
“Iya, Mon, lagipula pesta kan belum dimulai, jadi aku belum terlambat kan, haha,” jawab Toro.
“Haha... iya, bang, masih nunggu si boss, tapi yang lain udah datang kok,” ujar Ramon.
“Siapa aja emang yang mau ikut pesta kita?” tanya Toro.
“Tamu VIP sih cuma 4 orang aja termasuk abang, yang lain Markus, Ali dan Joni,” jawab Ramon.
“Haha, dari 4 penjuru rupanya?”
“Iya, bang, 4 mata angin kita undang semua. Lagipula cewek kita kan cuma 4.”
“Lalu, bagaimana yang kamu janjikan tempo hari?”
“Santai aja, bang, beres itu. Setelah semua ini beres, abang bisa dapatin itu polwan,” ujar Ramon.
“Haha... bagus, bagus. Udah lama nggak ngerasain jepitan polwan, sejak anak buah si Marto itu pindah. Ya sudah, ayo kita masuk,” ujar Toro.
Toro pun mengedarkan pandangannya, mengamati gudang bekas penggilingan padi itu kini telah diubah bagian dalamnya. Gudang ini cukup luas, seukuran dua kali lapangan voli. Dibagi menjadi tiga bagian dengan dipisahkan oleh dinding kaca. Bagian pertama tidak terlalu besar, dan hanya berupa ruang kosong tanpa diisi apapun.
Bagian kedua, di sebelah kiri dari pintu masuk gudang, terlihat sebuah ruangan yang terdapat 4 buah kasur, dimana di masing-masing kasur itu tergeletak seorang wanita. Siapa lagi mereka kalau bukan Filli, Renata, Nadya dan Lia. Keempat wanita itu terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri serta terikat kaki dan tangannya.
Sedangkan bagian ketiga yang terletak di sebelah kanan pintu masuk, sebuah ruangan yang lebih luas. Disana terdapat sebuah kasur, dimana Ara sedang terbaring tak sadarkan diri juga dengan tangan dan kaki yang terikat. Sedangkan di kira-kira 2 meter dari kasur itu, ada empat buah kursi yang disusun berjejer dengan jarak antar kursi sekitar 1,5 meter. Masing-masing kursi terisi oleh Wijaya, Aini, Budi dan Sakti.
Keempat orang yang berada di kursi itu semua tak sadarkan diri. Kaki mereka diikat dengan kaki kursi, sedangkan tangannya juga diikat pada pegangan kursi. Kaki kursi itu sendiri terlihat tertanam di lantai beton sehingga tak akan bisa digerakkan kemana-mana jika orang-orang yang diikat disana berontak.
“Hey, Mon, siapa wanita cantik itu?” tanya Toro.
“Oh, ya itu targetnya boss Fuad yang bikin kita sampai repot-repot ngurusin acara beginian, bang,” jawab Ramon.
“Oh, anak si Wijaya itu? Cantik banget, Mon, dikasih sisa juga mau aku, haha,” ujar Toro.
“Haha, iya kalau nggak dihabisin, bang.”
“Aku yakin dia nggak akan dihabisin. Terlalu sayang lah, mending buat kita-kita aja dijadiin gundik, haha.”
Toro dan Ramon pun menuju ke ruangan dimana empat orang wanita cantik berada disana. Juga sudah ada 3 orang pria berperawakan tak kalah sangar dengan Toro disana, menunggu aba-aba dari sang boss untuk bisa menikmati keempatnya. Mereka sudah punya incaran masing-masing, tapi akan mengalah jika Toro juga mengincarnya.
Meskipun sama-sama berstatus kepala wilayah, namun mereka sangat segan dan hormat kepada Toro, karena dulunya mereka anak buah Toro, dan sampai sekarang pun masih memanggilnya boss. Karena itulah apapun yang diminta dan diperintahkan oleh Toro, tak pernah sekalipun mereka bantah.
“Wah kalian ini, mendahului yang tua ya, dasar anak muda, haha,” ujar Toro mengagetkan ketiganya.
“Loh, boss, baru datang?” sapa Ali.
“Iya nih. Jadi gimana? Kalian udah punya incaran kan?” tanya Toro.
“Udah sih, boss, tapi kan kami tetep nunggu perintah dan pilihannya boss Toro,” jawab Joni.
“Haha... bagus, bagus. Hmm, yang mana yaa,” Toro nampak mengamati keempat wanita ini.
Semuanya cantik dan menarik. Badannya pun juga sepertinya cukup mengundang gairah. Toro terlihat kebingungan memilih satu dari keempat wanita yang akan dia gauli untuk yang pertama malam ini, sehingga dia pun meminta saran dari Ramon.
“Mon, aku bingung nih, menarik semua. Kamu ada saran?” tanya Toro.
“Kalau yang ini namanya Lia, udah punya dua anak dia, saya juga belum pernah ngerasain, bang. Kalau yang kerudungan itu namanya Nadya, anaknya satu, masih lumayan rapet, boss. Lia dan Nadya ini belum pernah dipakai sama boss Fuad ataupun boss Bakti, jadi boolnya masih kesegel. Kalau yang dua itu, Renata dan Filli, mereka kakak iparnya Ara, udah pernah dipakai boss, jadi yaa pantatnya udah bobol,” terang Ramon.
“Hmm, oke, aku pilih yang kerudungan aja kalau gitu, kayaknya mantap ini,” ujar Toro.
Markus yang sedari tadi diam mencelos karena dari awal dia sudah mengincar Nadya. Sedangkan Ali yang sudah memilih Lia tak terpengaruh, begitu juga dengan Joni yang memilih Filli. Tinggal tersisa Renata yang akan menjadi mainan Markus, dan sepertinya Renata akan menjalani malam yang berat sebagai pelampiasan Markus yang gagal mendapat Nadya. Meskipun malam ini mereka bebas untuk bertukar mangsa, namun jika bisa mendapat giliran pertama pasti lebih memuaskan bukan jika harus menerima sisa dari orang lain?
“Lho, lha jatahmu mana, Mon?” tanya Toro.
“Ah, saya gampang, bang, yang penting pengamanan dulu, haha,” jawab Ramon.
“Hmm, jangan-jangan kamu mau minta sisanya si boss ya? Atau kamu mau main-main sama polwan itu aja?” tanya Toro.
“Wah, ada polwan juga, bang? Mana orangnya?” ketiga rekan Toro ini nampak antusias.
“Heh, ikut-ikutan aja kalian, yang itu jatahku,” sahut Toro.
“Wah, kok gitu, bang? Tapi nanti kita dapat juga kan, bang?” tanya Ali.
“Haha, kalian tenang aja, kayak nggak kenal aku aja,” jawab Toro dibarengi dengan senyum ketiga rekannya, namun senyum kecut dari Ramon. Ramon sebenarnya tidak ingin memberikan Safitri kepada mereka, tapi dia sudah terlanjur berjanji.
Tak lama kemudian terdengar dering ponsel Ramon, sang boss meneleponnya. “Hallo, boss.”
Hallo, gimana disana?”
“Udah siap boss, 4 mata angin udah kumpul, tinggal nunggu boss berdua.”
Oh baguslah. Pengamanan gimana?”
“Orang kita udah stand by semua, boss, on position.”
Hmm, baiklah. Pastikan semuanya ya, Mon, ditambah orangku pasti aman.”
“Oke, boss.”
Ya sudah, sejam lagi kami berangkat. Tapi kalau 4 mata angin mau mulai duluan, silahkan aja.”
“Oke, boss, disampaikan.”
Hubungan telepon pun tertutup. Tapi masih ada yang mengganjal di pikiran Ramon, siapa sebenarnya bantuan yang disiapkan oleh Fuadi. Dan kenapa sampai jam segini belum juga ada tanda-tanda kehadirannya, padahal ini sudah hampir jam 8 malam.
“Ada apa, Mon?”
“Eh, nggak, bang. Ini, hmm... saya masih penasaran dengan orang bantuan yang dibilang sama boss Fuad. Dia bilang bakal ada bantuan lagi, tapi kok sampai sekarang belum ada kelihatan ya?”
“Lho, kan udah pada stand by mereka, emang kamu nggak tahu? Nggak dikasih tahu Fuadi?” tanya Toro.
“Eh, masak sih? Saya nggak dikasih tahu, emang siapa sih, bang?” jawab Ramon.
“Haha, gimana sih kamu, kepala keamanan kok nggak tahu siapa aja anggotanya? Bossmu itu nyiapin 2 orang sniper, mereka masing-masing ada di sebelah utara dan selatan gudang ini,” terang Toro.
“Ooh gitu, kok boss nggak ngomong-ngomong ya,” ujar Ramon.
“Yaa nggak tahu. Terus apalagi dia bilang?” tanya Toro seperti mengharapkan sesuatu.
“Oh iya, lupa. Kata boss, kalau kalian mau mulai duluan silahkan aja.”
“Nah, gitu dong. Ayo kita mulai, haha,” ujar Toro pada ketiga rekannya itu.
Keempat orang pimpinan wilayah bandit di Jogja ini pun mendekati calon mangsa mereka masing-masing. Dengan senyum tersungging di bibir mereka, mata mereka jelalatan menatap tubuh para wanita yang masih tergolek tak berdaya itu. Ramon yang melihat itu hanya tersenyum kemudian meninggalkan mereka yang sudah mulai menelanjangi dirinya masing-masing.
Ramon menuju ke ruangan yang satunya, mendekati Ara yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ramon mengelus-elus wajah Ara yang halus. Dia tersenyum, dalam hatinya bertekad bahwa malam ini dia harus bisa meniduri wanita cantik yang sempat hampir saja dia setubuhi tempo hari.
Tunggu saja Ara, nggak lama lagi kontolku bakal bersarang di memek kamu, batin Ramon.

***

Beberapa jam sebelumnya

Suasana di kantor kepolisian daerah Yogyakarta yang awalnya tenang siang itu berubah menjadi heboh ketika ada laporan perkelahian di jalan lingkar utara sebelah selatan perempatan Monjali yang menyebabkan kemacetan yang luar biasa panjang. Laporan itu didapatkan oleh seorang polantas ketika dia mendapat pengaduan tentang kemacetan itu.
Jika hanya sebuah perkelahian biasa tentu saja tidak akan seheboh ini, tetapi polantas itu mengenali salah seorang diantaranya yaitu Budi, menantu dari Wijaya, salah satu petinggi di kepolisian daerah. Dan lagi, Wijaya sedari pagi sampai saat ini belum terlihat sama sekali, bahkan dihubungi pun tidak aktif ponselnya. Menindak lanjuti laporan ini Kompol Arjuna memimpin langsung tim untuk menuju ke TKP, karena dia memiliki firasat buruk tentang perkelahian ini.
Tiga buah buah mobil patroli berisi masing-masing 6 anggota bersenjata lengkap langsung mengarah ke TKP. Namun sayang kemacetan yang sangat parah membuat laju mereka melambat, dan ketika sampai disana perkelahian sudah berhenti, dan menyisakan mobil Budi serta dua orang berseragam sebuah bank tempat Budi bekerja sedang terkapar tak sadarkan diri, namun keduanya masih hidup.
Kompol Arjuna segera memerintahkan anggotanya untuk memanggil ambulance dan membawa kedua korban ini, yang dari kartu identitasnya bernama Candra dan Dipta. Saksi mata yang ditemui di tempat kejadian memberikan keterangan langsung kepada Kompol Arjuna bahwa dia melihat orang-orang berpakaian serba hitam mengeroyok pengemudi dan penumpang mobil dan membawa dua diantaranya, yang diyakini salah satunya adalah Budi.
Para saksi mengatakan kedua orang itu dibawa menggunakan dua buah mobil SUV warna hitam tanpa plat nomor, dan melaju ke arah selatan dengan kecepatan sangat tinggi. Kompol Arjuna memerintahkan beberapa anggotanya untuk mencari jejak kedua mobil itu, sedangkan dia beserta sisa anggotanya kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor baru dia menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan ini semua. Wijaya tak ada di tempat dan tak bisa dihubungi, menantunya terlibat perkelahian, atau lebih tepatnya dikeroyok dan diculik. Dia pun memanggil dua anggotanya yaitu Fadli dan Safitri, memerintahkan mereka untuk pergi ke rumah Wijaya memeriksa apakah Wijaya sedang berada di rumah atau tidak. Atau untuk mencari informasi dimana Wijaya dari orang-orang di rumahnya.
Tak berlama-lama Fadli dan Safitri pun bergegas menuju rumah Wijaya. Namun dalam perjalanan terlihat Safitri seperti mengkhawatirkan sesuatu, dia pun memiliki firasat yang buruk tentang ini, meski begitu berharap tidak terjadi apa-apa dengan orang yang dulu pernah memiliki affair dengannya itu. Rupanya kekhawatirannya itu ditangkap oleh Fadli yang sedang mengemudi.
“Fit, kamu kenapa? Kok kayak cemas gitu?”
“Nggak, mas, kok kayaknya aku punya firasat yang kurang enak ya.”
“Firasat kurang enak gimana, Fit?”
“Entahlah, mas, kita ke rumah Pak Wijaya dulu aja. Moga-moga nggak ada apa-apa.”
Mereka pun sampai di rumah Wijaya. Setelah menunggu beberapa saat nampak pintu gerbang dibuka oleh pembantu Wijaya. Pembantu itu heran melihat ada dua orang polisi yang datang ke rumah.
“Selamat siang, bu,” sapa Safitri.
“Selamat siang, bu polwan. Ada apa ya, bu?” tanya si pembantu.
“Maaf, Pak Wijayanya ada?”
“Wah, belum pulang bu kalau jam segini.”
“Hmm, kira-kira tadi pergi kemana ya? Ibu tahu nggak?”
“Lha, ya ke kantor tho, bu. Tapi pagi tadi bareng nyonya berangkatnya, mungkin ke butik dulu ngantar nyonya.”
“Oh ya sudah. Makasih kalau gitu, bu, kami permisi dulu.”
“Iya, bu, silahkan.”
Safitri dan Fadli pun kembali masuk ke dalam mobil. “Gimana, Fit? Pak Wijayanya nggak ada nih.”
“Hmm, tadi pembantunya bilang nganter Bu Wijaya ke butik, apa kita kesana aja ya, mas?”
“Iya kayaknya, mending kita kesana aja, nanya sama Bu Wijaya aja.”
Keduanya pun kini menuju butik Aini. Safitri memang pernah beberapa kali datang ke butik itu untuk membeli pakaian sehingga mengetahui dimana lokasinya, yang kebetulan tak begitu jauh dari rumah Wijaya. Akhirnya tak lama berselang mereka pun sudah sampai di depan butik itu, namun suasana sepi. Butik itu seperti tak ada penghuninya di dalam.
“Kayaknya tutup, Fit, butiknya. Kita balik aja ya?” tanya Fadli.
“Eh, tunggu dulu, mas. Fitri kok punya firasat buruk, kita coba cek dulu aja gimana, mas?” ujar Safitri.
“Cek gimana? Mau masuk kesana?” tanya Fadli lagi. Dalam hati sebenarnya Fadli memiliki kecemasan yang sama dengan Safitri. Instingnya sebagai seorang polisi mengatakan ada sesuatu di dalam butik itu.
“Ya kita lihat dulu aja, kalau emang terkunci ya udah kita balik ke kantor,” jawab Safitri.
“Ya udah deh kalau gitu.”
Akhirnya Fadli menuruti Safitri untuk memeriksa butik itu terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke kantor. Safitri dan Fadli mendekati butik itu, namun sepertinya memang tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, sepi sekali. Mencoba melihat dari jendela kaca pun tidak bisa karena tertutup oleh korden yang cukup tebal. Namun rasa penasaran Safitri belum hilang, dengan berhati-hati dia mencoba untuk membuka handle pintu, siapa tahu tak terkunci, dan klek, pintu terbuka.
Safitri cukup terkejut karena pintunya tidak terkunci. Perlahan dia membuka pintu itu, namun bersama itu dibarengi dengan detak jantungnya yang kian cepat. Dia tak tahu kenapa, namun perasaannya benar-benar tidak enak. Dan setelah pintu itu terbuka, terjawablah mengapa saat membuka pintu jatungnya begitu terpacu.
“Astagfirullah. Mas Fadli, itu..” Safitri tak mampu melanjutkan ucapannya, hanya menunjuk ke dalam butik, membuat Fadli melongok ke dalam.
“Astaga. Fit, cepat hubungi markas minta bantuan,” ujarnya pada Safitri.
Safitri sempat mematung tak bergerak. Dia dan Fadli tak mempercayai apa yang mereka lihat di dalam butik. Rupanya benar, ada empat orang gadis tergeletak tak bernyawa, dengan luka tempat tepat di dahi mereka. Dua orang dalam keadaan terikat, sedangkan yang dua lagi tidak terikat. Melihat Safitri yang begitu syok membuat Fadli mengambil tidakan cepat dengan menghubungi markas untuk meminta bantuan anggota dan juga mobil jenazah.
Fadli kemudian menarik Safitri untuk mendudukkannya di sebuah kursi yang terdapat di depan butik. Safitri memang belum pernah mengurusi hal-hal seperti ini. Ini adalah untuk pertama kalinya dia melihat langsung korban pembunuhan yang darahnya saja masih mengalir dari lubang di kepala mereka dan menggenang di lantai, sedangkan untuk Fadli memang bukan hal yang baru melihat pemandangan seperti ini, dia sudah sering, bahkan pernah beberapa kali melumpuhkan pelaku kejahatan yang berusaha untuk melawan ketika akan ditangkap.
Setelah bantuan datang, mereka mereka pun mengevakuasi korban dan memeriksa setiap bagian di butik itu. Namun tidak ada hal lain yang mencurigakan. Tidak ada uang yang hilang ataupun barang yang hilang, namun yang pasti mereka tidak bisa menemukan si pemilik butik, yang tak lain adalah istri dari atasan mereka.
Tiba-tiba Safitri terhenyak seperti tersadar akan sesuatu. Ara. Satu nama yang terpikirkan olehnya. Suaminya baru saja dikeroyok dan dibawa orang. Ayahnya hilang entah kemana, dan kini ibunya juga tidak diketahui keberadaannya sementara di butik sang ibu ditemukan mayat keempat karyawannya. Buru-buru Safitri menghubungi ponsel Ara, namun tidak aktif. Safitri pun segera menarik Fadli ingin mengajaknya mencari Ara.
“Eh, eh... ada apa, Fit, kok narik-narik gini?”
“Mas, kita cari Ara, mas. Suami, ayah dan ibunya menghilang, jangan-jangan terjadi sesuatu juga sama dia.”
“Oh iya, ayo kalau gitu.”
Namun sebelum beranjak, Fadli meminta salah seorang rekannya untuk memeriksa kantor Ara, siapa tahu dia masih ada disana, sedangkan dia bersama Safitri bergegas ke rumah Ara. Sesampainya di rumah Ara, mereka berdua pun mendapatkan jawaban yang sama seperti yang mereka dapat di rumah Wijaya, Ara belum kembali. Sedangkan rekannya yang mencari ke kantor Ara mengabarkan bahwa kantor sudah sepi dan semua pegawainya sudah pulang. Dia juga mendapat keterangan dari satpam kantor itu bahwa semua sudah meninggalkan kantor sebelum jam 12, itu artinya sudah lebih dari dua jam.
Keduanya termenung, larut dalam prasangka mereka masing-masing. Ada apa ini? Kenapa satu keluarga tiba-tiba menghilang dengan cara yang seperti ini? Karena masih bingung dengan semua ini, mereka pun kembali ke kantor dan segera menemui Kompol Arjuna untuk melaporkan semuanya, termasuk kasus pembunuhan di butik Aini.
“Aneh, kenapa satu keluarga bisa menghilang semua ya?” Kompol Arjuna bertanya-tanya.
“Kalau menurut saya, mereka bukan sekedar diculik, ndan. Entah untuk motif seperti apa sampai-sampai menghilangkan nyawa orang yang sebenarnya tidak ada hubungan langsung dengan keluarga ini,” ujar Safitri.
“Ya, saya juga berfikir seperti itu. Besar kemungkinannya adalah motif dendam. Tapi siapa dendam kepada siapa, itu yang masih membingungkan, setahuku Pak Wijaya nggak punya musuh yang berpotensi memiliki dendam luar biasa hingga melakukan hal sekejam itu,” terang Kompol Arjuna.
“Oh iya, saya juga mendapat laporan bahwa anggota yang melakukan pelacakan menemukan dua mobil SUV warna hitam tanpa plat nomor terparkir di sebuah SPBU, tapi tidak ditemukan petunjuk lain selain bercak darah disana, mungkin bercak darah Budi,” lanjut Kompol Arjuna.
“Nggak ada sidik jari, ndan?” tanya Fadli.
“Nggak ada, tadi udah diperiksa dan nggak ada petunjuk apa-apa lagi,” jawab Kompol Arjuna.
“Ponselnya gimana, ndan? Nggak bisa dilacak?” tanya Safitri.
“Udah dicoba juga, tapi masih belum ketemu,” jawab Kompol Arjuna.
Ketiga orang itu pun terdiam, larut dalam pikiran dan hipotesa mereka masing-masing. Dan ketiga orang ini memiliki pemikiran yang sama bahwa ini bukan kasus penculikan biasa, karena bisa sampai menghilangkan nyawa empat orang yang tak memiliki hubungan langsung dengan keluarga Wijaya. Jika ini memang murni balas dendam, siapa orang yang mendendam kepada keluarga ini?
“Oh iya, ndan, tadi kan katanya selain Budi ada satu orang lagi yang dibawa. Sudah diketahui siapa orangnya, ndan?” tanya Safitri.
“Belum, Fit. Tapi menurut keterangan teman kerja Budi, mereka pergi dari kantor hanya bertiga, bersama Candra dan Dipta. Sedangkan Candra dan Dipta sekarang posisinya lagi kritis di rumah sakit. Entah siapa yang seorang lagi, mungkin kalau kita bisa tahu siapa dia, kita bisa mendapatkan sedikit petunjuk,” jawab Kompol Arjuna.
“Kalau gitu saya ijin dulu, ndan, mau ke rumah sakit. Siapa tahu kedua orang itu segera sadar dan bisa memberikan informasi,” ujar Fadli, yang dijawab dengan anggukan oleh Kompol Arjuna.
Fadli meninggalkan ruangan terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Safitri. Namun sesaat sebelum keluar dari pintu ruangan Kompol Arjuna, mendadak Safitri menghentikan langkahnya. Dia terdiam sejenak, memikirkan sebuah kemungkinan yang bisa saja menjadi petunjuk untuk kasus ini, dan menurut keyakinannya kemungkinan itu sangat besar.
“Ada apa, Fit?” tanya Kompol Arjuna yang heran melihat sikap Safitri.
“Hmm... saya rasa, saya tahu seseorang yang bisa jadi petunjuk kasus ini, ndan,” jawab Saftiri.
“Siapa?”
“Seseorang bernama Ramon. Saya tidak bisa memastikan, tapi feeling saya mengatakan dia terlibat kasus ini,” jawab Safitri.
“Ramon? Siapa dia? Coba duduk dulu dan kamu ceritakan apa yang kamu tahu.”
Safitri pun kembali duduk. Dia terlihat ragu-ragu, bingung harus memulai darimana untuk menceritakannya, karena jika bercerita tentang Ramon maka dia harus bercerita apa yang terjadi padanya. Safitri masih terdiam menunduk, membuat Kompol Arjuna terheran. Tapi dia yakin ada sesuatu yang tidak beres dari sikap Safitri ini. Dia yang sudah sangat berpengalaman tahu bahwa ada sesuatu yang mungkin sulit untuk diceritakan oleh Safitri, mungkin sebuah rahasia, atau mungkin sebuah, aib.
“Kalau kamu merasa yakin orang itu terlibat dengan kasus ini, maka serahasia apapun itu tolong kamu ceritakan ke saya. Pilih saja mana yang menurut kamu bisa diceritakan dan mana yang tidak. Kalau itu menjadi sebuah rahasia bagi kamu, saya akan sebisa mungkin untuk menutupinya. Dan bila memang terbukti orang itu terlibat, saya akan benar-benar menjaga rahasia kamu, bahkan bila itu membahayakan jiwa kamu ataupun keluarga kamu, saya janji akan memberi perlindungan semaksimal mungkin.”
Safitri terhenyak mendengar kata-kata Kompol Arjuna barusan. Dia menatap atasannya itu, mencoba mencari keyakinan bahwa apa yang dikatakan oleh Kompol Arjuna bisa dia percayai. Safitri berpikir dia harus cepat mengambil keputusan, karena bisa saja terlambat bila dia ragu-ragu seperti ini. Akhirnya setelah mempertimbangkan baik buruknya, Safitri mulai bercerita kepada Kompol Arjuna.
Kompol Arjuna mendengarkan dengan seksama cerita Safitri. Beberapa kali dia terhenyak ketika Safitri bercerita tentang Ramon yang memperdayai bahkan mengancamnya, lalu Safitri yang pernah mendengar Ramon membicarakan keluarga Wijaya saat dia sedang menghubungi seseorang. Yang lebih mengagetkan lagi adalah ketika Kompol Arjuna mendengarkan Safitri menyebutkan nama Toro, orang yang sudah menjadi target nomor satunya.
Safitri mengakhiri ceritanya dengan linangan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Berat memang untuknya menceritakan aibnya sendiri, namun jika itu bisa menyingkirkan Ramon dari hidupnya, rasanya akan lebih baik. Terlebih dia cukup mengenal Kompol Arjuna sehingga bisa menceritakannya. Jika toh ke depannya Kompol Arjuna akan memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan dari Safitri, itu bisa dipikir belakangan, karena jika Wijaya selamat, mungkin dia bisa meminta perlindungan kepada Wijaya, batin Safitri.
“Lalu, kamu tahu siapa Ramon itu yang sebenarnya?” tanya Kompol Arjuna.
“Terus terang saya tidak tahu, ndan. Saya tidak tahu dia tinggal dimana, kerja dimana, bahkan saya tidak tahu nama lengkapnya,” jawab Safitri menggelengkan kepala.
“Hmm... agak susah juga kalau gitu, Fit, bisa makan waktu lumayan lama ini. Dan saya takutnya itu akan terlambat nanti untuk kita bisa menyelamatkan Pak Wijaya dan keluarganya,” ujar Kompol Arjuna menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, mendapati satu lagi petunjuk yang buntu.
“Eh, ndan, saya ada nomor telepon Ramon, kalau kita lacak mungkin kita bisa tahu keberadaannya,” ujar Safitri.
“Nah itu. Cepat kamu ke bagian cyber crime, temui Gavin, minta bantuan sama dia. Hasilnya secepat mungkin kamu lapor ke saya!” perintah Kompol Arjuna.
“Siap, ndan!”
Safitri segera keluar dari ruangan Kompol Arjuna setelah sebelumnya menyeka air mata, dan memastikan tidak ada bekas yang terlihat kalau dia baru saja menangis. Tingkahnya jelas saja membuat Kompol Arjuna tersenyum geli.
‘Hmm, Safitri, boleh juga kelihatannya,’ batin Kompol Arjuna melihat pinggul Safitri bergoyang saat berjalan meninggalkan ruangannya.

***

± 2 jam kemudian

Tok.. Tok.. Tok..
“Ya masuk.”
“Sore, ndan.”
“Oh, Fitri. Gimana, udah ketemu lokasinya si Ramon itu?” tanya Kompol Arjuna.
“Sudah, ndan. Lokasinya menunjukkan di sekitar Kulonprogo, dari citra satelit kita simpulkan itu sebuah bangunan, semacam gudang ndan, agak jauh dari jalan raya,” jawab Safitri.
“Hmm, gudang? Bisa diketahui berapa jumlah orang disana?”
“Kalau dilacak titik-titik sinyal seluler tidak terlalu banyak, tapi kemungkinan jumlah yang sebenarnya lebih dari itu, ndan.”
“Oke kalau gitu, kita kirim intel dulu kesana untuk memantau situasi. Dan disini kita siapkan pasukan, begitu dapat info dari intel, kita langsung bergerak.”
“Siap, ndan, saya siap-siap dulu.”
“Loh, kamu disini aja nggak usah ikut, saya nggak mau ambil resiko.”
“Tapi, ndan,”
“Udah, nggak ada tapi-tapian. Kamu stand by saja, nanti kan juga bisa dapat info dari anggota yang kesana, biar tim dari Densus 88 aja yang berangkat.”
“Densus 88?”
“Iya, setelah saya dengar nama Toro, saya jadi memiliki dugaan kalau kita membutuhkan tim khusus. Kalau udah urusannya sama kepala mafia, dan yang menjadi incaran itu petinggi kepolisian, pasti yang bersama mereka bukan orang-orang sembarangan.”
“Baik kalau gitu, ndan. Hmm, dan untuk... hmm,” ucapan Safitri menggantung.
“Kenapa? Masalah yang kamu ceritakan tadi?” tanya Kompol Arjuna.
“I-iya, ndan,” jawab Safitri terbata.
“Udah, kamu tenang aja, nggak usah dipikirin, yang penting kita selamatkan Pak Wijaya dulu. Saya kan udah janji tadi, kamu bisa pegang kata-kata saya, Fit.”
“Terima kasih, ndan. Kalau begitu saya permisi dulu,” ujar Safitri yang mendapat anggukan dari atasannya itu.
Safitri cukup lega sekarang. Dia yakin Ramon benar-benar terlibat kasus ini. Dan dia juga telah berhasil membantu kepolisian menemukan lokasi Ramon. Safitri berharap Ramon bisa tertangkap, atau bahkan terbunuh dalam operasi ini, sehingga dirinya akan bisa terlepas dari cengkramannya dan bisa lebih menikmati hidup. Dia juga percayakan rahasianya kepada Kompol Arjuna yang akan menjaga tak sampai ketahuan orang lain. Namun Safitri tak tahu bagaimana pandangan mata atasannya itu ketika dia meninggalkan ruangan. Dia juga tak tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh atasannya itu sekarang.

***

Present, di markas Marto

Dengan penerangan seadanya karena memang untuk menghindari tempat ini diketahui oleh musuh, Marto dan ketiga rekannya sedang mempersiapkan diri mereka masing-masing. Waktu sudah menunjukkan jam 19.40, sebentar lagi kedua orang yang mereka tunggu-tunggu akan datang ke gudang yang telah mereka persiapkan.
Marto yang tidak akan kemana-mana hanya memeriksa kembali senapan SPR-3 yang sudah menemaninya selama beberapa minggu ini. Dengan senapan yang cukup ringan ini tentunya akan memudahkan dia dalam bergerak membidik targetnya. Senapan ini dilengkapi dengan night vision pada teropongnya sehingga akan memudahkannya mencari dan menembak targetnya. Tak lupa dia memasang peredam suara untuk menghindari musuh menemukan lokasinya. Marto juga mempersiapkan amunisi yang juga telah disiapkan oleh Rio. Semua sudah siap untuk Marto.
Berbeda dengan Marto, ketiga rekannya sedikit lebih repot untuk mempersiapkan diri. Masing-masing dari mereka membawa sebuah senapan serbu SS2-V5 Kal 5,56 mm beserta beberapa buah magazine. Senapan ini dipilih salah satu alasannya adalah karena cukup ringan, tak sampai 4 kg, sehingga akan memudahkan dalam bergerak.
Selain itu mereka juga menyiapkan masing-masing dua buah pistol G2 Combat Kal 9 mm lengkap dengan beberapa magazine. Melihat jumlah musuh, mereka beranggapan bahwa senjata yang mereka bawa ini sudah cukup, karena juga akan mendapatkan bantuan dari Marto. Doni dan Karim memiliki kemampuan tempur jarak dekan yang sedikit lebih baik ketimbang Rio, namun menurut Marto, ketiganya tetap lebih baik ketimbang para musuh-musuh mereka.
Tak lupa pula ketiga rekan Marto ini membungkus badannya dengan rompi anti peluru untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka juga menggunakan penutup kepala, dan night vision goggle karena meskipun di dalam gudang terang benderang, namun di luar sama sekali tidak ada penerangan, hanya beberapa cahaya saja yang keluar menembus celah-celah di dinding gudang.
Tak lupa mereka memasang alat komunikasi di telinga mereka untuk saling berkomunikasi, terutama dengan Marto yang bisa melihat secara lebih luas di medan pertempuran nanti. Kini mereka sudah siap bertempur, saat tak lama kemudian Marto melihat sebuah mobil sedan pabrikan Inggris masuk ke area gudang. Sang boss telah datang, itu artinya waktu mereka untuk bergerak sudah dekat.
“Yo, boss mereka udah datang tuh, kalian udah siap?” tanya Marto.
“Oke, semua sudah siap. Kita tunggu dulu beberapa menit, baru bergerak,” ujar Rio.
“Oke, boss,” jawab Karim.
Roger that,” jawab Doni.
Marto masih mengamati pergerakan musuhnya melalui teropong yang ada di senapan runduknya. Terlihat olehnya kini Fuadi dan Baktiawan keluar dari mobil, disambut oleh Ramon. Ingin sebenarnya Marto segera menarik pelatuknya untuk menghabisi Baktiawan dan Ramon, namun dia harus menahan diri atau rencana yang sudah mereka buat dengan matang jadi berantakan. Sekitar 15 menit kemudian Rio memberikan aba-aba kepada Doni dan Karim untuk bersiap.
“Oke, sepertinya cukup, kita bisa bergerak sekarang,” ujar Rio.
“Lha, katanya nunggu setengah sampai sejam?” tanya Karim.
“Ya kan kita harus bergerak memutar ke belakang gudang, mas, entar juga jadinya setengah jam akhirnya,” jawab Rio.
“Haha... iya, iya, boss. Gitu aja sewot. Yuk ah bergerak, udah gatal ini tanganku,” ujar Karim.
“Sip. Sebelum berangkat kita berdoa dulu, semoga misi kita kali ini sukses. Dan ingat, mereka aja yang mati, kita jangan ya.”
Mereka pun hening sejenak, berdoa menurut keyakinan mereka masing-masing, meminta kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan dan keselamatan, dan juga kemudahan dalam menjalankan misi ini. Setelah selesai, mereka memandang satu sama lain sambil tersenyum. Tak terasa adrenalin mereka mulai terpacu, sudah sangat lama mereka tak merasakan hal seperti ini.
“Wah, semangatku jadi berlipat-lipat ini, udah nggak sabar pengen ledakin kepala mereka,” ucap Doni.
“Iya nih, udah lama nggak numpahin darah para bandit,” sambung Karim.
“Baiklah teman-teman, let’s get the party started," ujar Rio.
Mereka pun menyatukan tangannya di tengah. Saling melihat satu sama lain, saling tersenyum, saling meyakinkan, saling memberi dorongan dan semangat, saling menguatkan. Dan dalam hitungan ketiga, empat pria itu mengangkat tangannya dan serentak berteriak, “Vanquish!”

***

“Malam, boss,” sapa Ramon.
“Malam. Wah, gelap sekali, Mon?” tanya Fuadi.
“Ya biar nggak terlalu mencolok dari jauh, boss, kalau di dalam terang kok itu. Mari, boss, masuk,” ajak Ramon.
Bagi Baktiawan tempat ini memang sudah tidak asing lagi, meskipun sekarang memang sudah dirubah bagian dalamnya untuk keperluan acara mereka malam ini, namun paling tidak gudang ini pernah menjadi saksi dia memulai bisnis haramnya. Dikamuflasekan sebagai tempat penggilingan pagi, namun selain itu ada aktivitas lain, yang perputaran uangnya tentu saja jauh lebih besar, karena itulah bangunan ini bertahan cukup lama.
Begitu Ramon membukakan pintu untuk kedua bossnya itu, langsung saja terdengar desahan dan teriakan wanita, yang mau tidak mau turut mengundang perhatian para anak buah mereka yang berjaga-jaga di luar gudang. Beberapa sempat mengintip sebelum Ramon kembali menutup pintu gudang, sebagian lagi lebih beruntung karena bisa benar-benar melihat adegan yang terjadi di dalam meskipun hanya sesaat.
Namun begitu pintu ditutup, para penjaga itu mulai berusaha untuk fokus kembali kepada pekerjaannya. Memang tak bisa dipungkiri apa yang baru saja mereka dengar, dan bagi sebagian yang lain sempat melihat apa yang terjadi di dalam, tentu saja terngiang di benak mereka bagaimana jika mereka sendiri yang mengalaminya, pasti menyenangkan. Namun mereka harus bersabar, menunggu selesainya urusan kedua boss besar mereka, karena Toro dan Ramon sudah menjanjikan bonus kepada mereka semua.
Bonus itu tentu saja bukan nominal uang, tapi berupa barang haram yang sudah menjadi bagian dalam keseharian mereka, dan tentu saja, wanita. Ada beberapa wanita yang dijanjikan kepada para penjaga itu, dan yang paling mereka tunggu-tunggu tentu saja seorang polwan yang akan diberikan kepada Toro, yang nantinya akan jatuh ke mereka juga.
Sementara itu di dalam, begitu masuk ke dalam gudang, Fuadi dan Baktiawan tersenyum puas dengan hasil kerja Ramon dan para anak buahnya. Tempat ini sudah dibuat persis seperti permintaan mereka. Saat ini mereka disuguhi dengan pemandangan erotis dimana keempat dedengkot preman anak buah mereka sedang menggumuli empat orang wanita cantik dengan kasarnya, hingga membuat keempat wanita yang sudah tersadar dari pingsannya itu berteriak kesakitan.
Ali saat ini sedang menancapkan penis besarnya di lubang anus Lia yang sebelumnya masih perawan. Lia dalam posisi menungging, rambutnya dijambak oleh tangan kanan Ali, sedang payudaranya diremas dengan kasar oleh tangan kiri pria itu. Lia yang sebelumnya tak pernah diperlakukan sekasar ini berteriak histeris merasakan liang anusnya terasa begitu perih, juga buah dadanya terasa begitu sakit. Air matanya mengalir tak tertahankan, sakit di sekujur tubuh dan juga sakit hatinya akibat pelecehan ini.
Nasib Nadya juga tak jauh berbeda, berteriak kesakitan setiap dirasakan penis besar Toro menerobos merobek lubang anusnya. Berbeda dengan Lia yang sudah telanjang bulat, Nadya masih memakai pakaiannya, meskipun sudah terbuka disana sini. Kerudung masih membalut kepalanya karena memang Toro sangat menyukai menyetubuhi seorang wanita yang memakai kerudung. Perlakuan yang diterima Nadya dari Toro tak kalah kasarnya dengan apa yang diterima Lia, apalagi penis Toro lebih besar daripada punya Ali.
Sedangkan Filli dan Renata, yang lubang anusnya sudah beberapa kali dimasuki penis, tak terlihat sesakit Nadya dan Lia. Namun tetap saja dengan perlakuan kasar dari Joni dan Markus menjadikan persetubuhan ini terasa menyakitkan bagi kedua wanita kakak beradik yang kini juga tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh indahnya.
Keempat pimpinan bandit ini sempat melihat kedatangan Baktiawan dan Fuadi, dan mereka hanya menyapa dengan senyuman saja karena memang Fuadi memberikan isyarat untuk melanjutkan permainan mereka saja. Kini Fuadi dan Baktiawan menuju ke ruangan satunya dimana keempat orang yang terikat di kursi dan seorang wanita muda cantik jelita tergolek di kasur, masih tak sadarkan diri.
Fuadi yang dari awal memang sudah mengincar Ara, langsung mendekati wanita itu. Sedangkan Baktiawan lebih memilih untuk sedikit bersantai sambil menyalakan rokoknya. Fuadi sebenarnya sudah tak tahan ingin segera menikmati tubuh Ara, namun dia tahan dulu karena ingin melakukannya di depan kedua orang tua dan suaminya dalam keadaan mereka sadar.
“Ramon, coba bangunkan mereka,” perintah Baktiawan.
“Oke, boss,” jawab Ramon.
Segera Ramon menuju ke kursi mereka satu persatu. Di masing-masing kursi itu telah disiapkan sebuah ember berisi penuh air untuk membangunkan mereka. Ramon memulainya dengan membangunkan Budi, kemudian Wijaya, lalu Aini dan Sakti. Ketika disiram air, mereka masih mengerjapkan mata, mencoba beradaptasi dengan cahaya lampu yang cukup terang setelah hampir seharian mata mereka tertutup.
Budi yang pertama kali mendapatkan kesadarannya, mengedarkan pandangannya ke penjuru gudang ini, lalu terhenti pada kedua orang perencana acara malam ini. Namun tak terlihat reaksi terkejut darinya, karena dia sudah tahu bahwa kejadiannya akan seperti ini. Namun pemandangan yang membuatnya emosi tentu saja saat melihat kedua kakak kandungnya disetubuhi dengan brutal oleh Joni dan Markus.
Wijaya yang kemudian tersadar, dan disusul Aini tak lama berselang, begitu terkejut dengan situasi ini. Tangan dan kaki mereka terikat erat di kursi sedangkan mulut mereka dibekap dengan lakban. Melihat adegan panas yang tersaji di ruang sebelah membuat hati mereka bergolak, terutama Wijaya, yang mengenali dua wanita diantaranya adalah kakak kandung dari menantunya. Aini pun tak kalah syok, bahkan langsung menangis tersedu menyadari apa yang sedang terjadi.
“Hallo, Wijaya. Gimana kabarmu, sobat?” ledek Baktiawan.
“Mmmmppphhh, mmmppphhh,” hanya itu suara yang didengar Baktiawan karena mulut Wijaya yang masih tertutup.
“Mon, buka itu mulut mereka sekalian,” perintah Baktiawan kepada Ramon.
Tanpa menjawab Ramon pun membuka penutup mulut mereka, dimulai dari Wijaya dan Aini, yang langsung mendapat makian dan cacian dari mereka berdua.
“Bakti, Fuad, apa-apaan ini? Bangsat kalian! Lepaskan kami!” hardik Wijaya.
“Haha, lepaskan? Nanti, Wijaya, setelah nyawa dan tubuh kalian berpisah, haha,” jawab Baktiawan.
“Huks... Bakti, apa yang kamu lakukan, huks... Lepaskan kami, huks,” pinta Aini dalam tangisnya.
“Sabar dulu, sayang, nanti ada pertunjukan dulu sebelum kalian kami lepaskan, haha,” ujar Baktiawan.
Saat kedua suami istri ini masih terus memaki dan menangis, Ramon melihat Budi yang mulutnya masih tertutup, tatapannya tajam sekali, namun sikapnya sangat tenang, seperti tidak sedang dalam emosi ataupun tertekan. Agak curiga sebenarnya Ramon dengan Budi, apakah selama ini kecurigaannya benar bahwa Budi selama ini yang membantu, atau setidaknya meminta bantuan seseorang untuk mengawasi dan melindungi istrinya sehingga terlampau sulit untuk ditaklukkan.
Sementara itu terlihat tubuh Ara mulai menggeliat, pengaruh dari obat biusnya mulai menghilang. Melihat itu perlahan Fuadi mendekatinya, kemudian duduk di samping tubuh Ara. Tangannya mengelusi kepala Ara yang masih terbungkus kerudung dengan rapi, sambil sesekali mengusap wajah Ara dengan tangan gemuknya.
“Hei, bajingan, jangan sentuh putriku!” bentak Wijaya, yang hanya ditanggapi dengan senyuman sinis oleh Fuadi.
Pada saat tubuh Ara makin menggeliat, terdengar rintihan halus dari bibir mungilnya, tangan Fuadi bahkan semakin kurang ajar. Kini tangan itu turun dan hinggap tepat di payudara Ara yang masih terbungkus bra dan pakaian kerjanya.
“Anjing... hentikan, Fuad! Biadab kau!” makian Wijaya semakin keras beriring emosinya yang semakin meninggi.
Saat itu kembali Ramon memperhatikan bagaimana reaksi Budi, dan masih sama seperti tadi, seperti tidak ada pergolakan emosi disana. Atau apakah Budi memang pandai menyembunyikan rasa emosinya itu? Meskipun tatapannya masih tetap tajam, namun nafasnya terlihat masih normal, benar-benar tenang.
Bersamaan dengan itu terbangunlah Sakti dari pingsannya. Dia melenguh seperti merasakan kembali sakit akibat perkelahiannya tadi siang. Wajahnya masih penuh dengan luka lebam, sama seperti Budi. Saat kesadaran Sakti pulih, dia benar-benar terkejut melihat apa yang terjadi. Dia terikat, tangan dan kakinya, begitu juga Budi di sampingnya, juga ada Wijaya dan istrinya, kondisi mereka sama persis terikatnya.
Lalu di kasur tak jauh dari kursi mereka, terlihat Fuadi sedang mengelusi dan sesekali meremas dada Ara yang masih belum pulih benar dari pingsannya. Terlebih lagi dia mendengar teriakan wanita dari ruangan sebelah, dan matanya terbelalak melihat empat orang wanita yang pernah dikenalnya dulu saat pernikahan Budi, sedang dalam keadaan telanjang bulat kecuali Nadya. Keempat wanita itu nampak begitu menderita dan kesakitan karena hujaman penis besar di lubang anus mereka masing-masing.
Melihat papanya dan juga Fuadi justru tersenyum puas dalam situasi seperti ini membuat emosinya membuncah. Dia yang sudah mengetahui rencana papanya bersama dengan Fuadi itu memang sudah beberapa kali memperingatkan Budi melalui pesan wassap yang dia kirimkan dengan berbagai nomor seluler yang selalu berganti, namun tak pernah terpikir akan seperti ini, separah ini kejadiannya. Dia pun mencoba untuk meronta namun ikatan di kedua kaki dan tangannya begitu erat, hingga hanya biasa mengeluarkan suara tertahan saja.
“Mmmpppphhh, mmmppphhh,” suara teriakan tertahan Sakti terdengar sambil dirinya mencoba untuk meronta.
“Haha, sudah bangun kau, nak? Mon, buka sekalian mulut anak itu,” ujar Baktiawan melihat Sakti.
Saat itu lah Ara pun terbangun dari pingsannya, merasakan payudaranya diremas lembut oleh seseorang. Matanya terbelalak saat melihat wajah yang pernah dilihatnya saat pernikahannya dulu, kini berada tak jauh dari dirinya, dengan senyum yang terasa begitu menjijikkan bagi Ara, dan tangan pria itu sedang meremasi payudaranya. Ara mencoba meronta namun tangan dan kakinya terikat, tak bisa digerakkan.
“Oom, apa-apaan ini? Lepasin Ara! Ara nggak mauuu!” teriak Ara.
“Hehe, nikmati aja, sayang. Jangan berontak gitu ah, nggak enak dilihat sama ayah, ibu dan suamimu,” ucap Fuadi yang membuat Ara tersentak, lalu melihat ke sekitar.
“Bajingan kau, Fuad, jauhkan tanganmu dari putriku, cepat! Kubunuh kau, Fuad!” ancam Wijaya yang belum sempat dijawab oleh Fuadi saat terdengar Sakti berteriak.
“Papa, apa yang papa lakukan?! Hentikan semua ini!” bentak Sakti dengan emosi.
“Diam saja kamu, Sak, dan nikmatilah bagaimana adikmu itu akan diajari oleh Om Fuadi menjadi wanita dewasa, haha,” ujar Baktiawan.
“A-apa? Adik?” tanya Sakti tak mengerti.
“Ya, kamu harus melihat apa yang akan kami lakukan terhadap adikmu, Ara, Saktiawan Wijaya.”

Author : Alan Smith


Tidak ada komentar:

Posting Komentar