Minggu, 16 Juli 2017

Duka Tak Bertepi 3



Aisyah sedang mengoreksi tugas-tugas muridnya ketika ia merasakan ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Bayangan tubuh orang itu membuat pekerjaannya terganggu. Ia mengangkat kepala untuk mencari tahu. Begitu mata bertemu mata, Aisyah terperangah. Wajahnya berubah pucat pasi dan tatapannya segera tunduk kembali. Kedua tangannya sejenak menekan dada yang seketika serasa nyeri.
“Reihan, sapanya lirih.
“Selamat pagi, Aisyah. Senang melihatmu lagi. balas lelaki yang ternyata adalah Reihan.
“Apa yang kamu kerjakan di sini?”
“Sama sepertimu, Aisyah. Aku mengajar di sekolah ini.

Aisyah terduduk lemas. Wajah pucatnya semakin pias. Semalam ia memutuskan untuk menghindari lelaki ini. Tetapi hari ini ia tak mampu lagi menghindar. Reihan benar-benar datang menemuinya. Reihan sungguh nyata berdiri di hadapannya. Yang paling mengejutkan adalah Reihan juga mengajar di gedung sekolah ini. Menjadi guru. Sama seperti dirinya. Sejenak Aisyah tak tahu harus berbuat apa. Ia kembali fokus pada pekerjaan mengoreksi tugas.
“Aku tidak bermaksud mengganggumu, Aisyah. Aku pun paham ketidakhadiranmu tadi malam.
“Maafkan aku, Reihan. Aku harus kembali mengajar.
Aisyah mengemasi kertas-kertas yang berserakan di meja kerja lalu bergegas meninggalkan ruang guru menuju salah satu ruang kelas. Keberadaan Reihan mulai menjadi duri yang mengusik fokus pekerjaannya. Berada dalam satu lingkup pekerjaan dengan Reihan adalah sesuatu yang tak bisa diterima. Aisyah yakin dirinya tak akan selamanya mampu membendung arus masa lalu yang kini mulai kembali menerjang. Harus dihentikan sebelum ia tenggelam dalam kesengsaraan.
Hanya sebentar Aisyah mengajar karena di waktu berikutnya ia sudah meninggalkan sekolah naik becak. Dalam perjalanan pulang ia sempatkan menghubungi Gatot.
“Hallo, Mas Gatot,
“Ya, Aisyah, ada apa?”
“Bisakah Mas pulang? Aku tunggu di rumah ya, Mas.
“Aisyah, aku masih di tempat proyek. Secepatnya aku pulang. Ada apa sebenarnya, Aisyah?”
“Kita bicarakan di rumah saja, Mas. Assalamualaikum,
Telepon terputus. Gatot jadi gelisah. Tidak biasanya Aisyah pulang lebih awal. Padahal tadi pagi Aisyah baik-baik saja. Tetapi suara yang baru saja ia dengar di telepon jelas menyiratkan kegundahan.
“Kenapa, Tot? Ada apa dengan istrimu?”
“Aku tidak tahu, Mbak. Aisyah memintaku segera pulang.
“Pulanglah. Biar nanti aku minta dijemput sopir kantor.
“Bagaimana dengan proyek ini, Mbak?”
“Ingatlah, Tot. Urusan rumah tangga lebih penting dari urusan pekerjaan. Nanti malam aku ke rumahmu.
Gatot pasrah. Urusan rumah tangga memang di atas segalanya. Ia harus segera tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aisyah. Soal proyek biarlah. Toh nanti akan ada laporan dari mandor. Sesaat ia berbincang dengan Dewi sebelum kemudian meninggalkan proyek.
Merasa tidak ada urusan lagi, Dewi pun segera menelpon Mang Nurdin,sopir kecamatan. Ia harus menunggu sekitar 30 menit sebelum mobil hitam berpelat merah itu muncul dengan terseok-seok menaiki jalanan desa Jatisari yang menukik curam. Hujan rintik-rintik mulai turun, udara dingin sekali.
“Maaf, Bu. Jalannya jelek sekali,” kata Mang Nurdin menjelaskan alasan keterlambatannya. Ia menghentikan mobil tepat di sebelah Dewi yang sedang berdiri, lalu pintu sebelah kiri ia buka dari dalam
“Maka itu desa ini jadi prioritas utama, Pak.” jawab Dewi sambil dengan agak terburu-buru melemparkan tas kerjanya ke dalam, lalu duduk di samping Mang Nurdin. Memang inilah proyek yang akan digarap oleh Gatot: memperbaiki jalan desa.
Untuk sesaat mata Mang Nurdin melirik ke arah kaki indah Dewi, darahnya berdesir membayangkan peristiwa yang pernah ia alami bersama sekretaris camat itu minggu kemarin.
“Ayo, Pak. Nanti keburu hujan.” kata Dewi mengagetkan.
Mang Nurdin segera meluncur memutar balik. Selanjutnya mereka pun melaju, berkendara dalam diam. Sesaat mata Dewi beradu pandang dengan mata Mang Nurdin, ada secercah desiran menggelora dalam tatapan pria tua itu.
Dewi mencoba untuk mengalihkan pikirannya dengan menatap ke luar jendela. Jalan desa Jatisari memang rusak sekali, banyak lubang dimana-mana. Tidak ada pilihan lain kecuali mobil harus berjalan pelan-pelan. Di dalam mobil, Mang Nurdin mencoba membuka obrolan. Ia merasa beruntung bisa berduaan dengan seorang bidadari cantik macam Dewi meski harus melewati jalanan desa yang menjemukan ini.
AC terasa bertambah dingin, sementara minimnya sirkulasi udara membuat harum bau parfum tubuh Dewi semakin menggoda perasaan Mang Nurdin. Tanpa sadar, sambil terus menyetir, pria tua itu memegang jemari lentik Dewi dan diangkat ke arah hidungnya. Lembut Mang Nurdin mencium lembut jari-jari itu dan ia hisap-hisap ujungnya sehingga desiran-desiran hangat dalam darah Dewi jadi ikut tergoda.
“Pak, jangan nakal ah." begitu kata Dewi, manja. Seolah-olah tidak menginginkan rasa itu padahal dalam hati juga mengharapkannya.
"Tidak apa-apa, Bu. Daripada Bu Dewi bengong memandangi hutan", begitu jawab Mang Nurdin.
Duduk Dewi jadi gelisah. Apalagi kini mereka memang memasuki kawasan hutan dimana mobil jadi berjalan semakin lambat. Sengaja Mang Nurdin mengambil jalan yang tidak rata agar Dewi bisa semakin mepet ke tubuhnya kalau tidak ingin terbentur-bentur ke pintu. Dan keinginannya itu tercapai. Dengan perasaan gelisah, Dewi mendekatkan duduknya ke arah Mang Nurdin.
“Tidak usah takut, Bu. Ada saya yang siap menemani Ibu.” Mang Nurdin  mencoba menghibur dengan mengelus-elus pundak Dewi sambil tetap berkonsentrasi dalam menyetir mobil.
“Jangan kurang ajar ya, Pak. Nanti saya laporkan sama Pak Camat!” ancam Dewi, namun tetap membiarkan jemari Mang Nurdin membelai lengannya.
Tahulah Mang Nurdin kalau hardikan Dewi itu cuma pura-pura saja. Dengan didukung jalanan yang sepi dan kaca jendela yang dilapisi film cukup pekat, maka merasa amanlah Mang Nurdin untuk menyentuh tubuh montok Dewi. Orang luar tak akan bisa melihat.
Belaian jemari Mang Nurdin membuat Dewi semakin merapatkan duduknya. Dia yang memang rindu akan belaian laki-laki, membiarkan saja saat tangan nakal sopir tua itu berpindah dari lengan menuju ke paha kanannya. Disana, Mang Nurdin mengelus-elus dan membelainya penuh rasa sayang.
“Ehmm... Pak!” Dewi sudah tidak protes lagi. Bahkan ketika Mang Nurdin mengerem mobil dengan tiba-tiba, ia dengan senang hati mendesakkan payudara kanannya ke lengan laki-laki itu.
“Hehe,” Mang Nurdin tersenyum, dan menggesek-gesekkan lengannya untuk menggoda.
Tak disangka, godaan itu menimbulkan rasa hangat menggairahkan di dalam tubuh Dewi. Putingnya cepat sekali menegang, dan seluruh bulatan kenyal payudaranya cepat sekali terasa gatal-geli.
Mang Nurdin tahu, Dewi sudah mulai terangsang oleh kenakalannya. Peristiwa ini persis dengan kejadian seminggu yang lalu. Dimana Dewi meminta untuk diantar ke salah satu kantor surat kabar, namun nyatanya mereka malah balik pulang ke rumah kontrakan Dewi. Perempuan itu tak tahan menghadapi godaan Mang Nurdin yang terus menerus memamerkan tonjolan penisnya di sepanjang perjalanan. Dan tampaknya, kejadian yang sama akan terulang kembali hari ini.
Dengan tangan kanan mencoba tetap berkonsentrasi pada stir mobil, Mang Nurdin melirik sebentar ke wajah Dewi. janda cantik itu tampak tersipu-sipu. Mang Nurdin mengalihkan matanya sesaat ke kaki jenjang Dewi. Ahh... dia semakin tak tahan menahan gejolak batinnya yang semakin menggelora akibat menikmati pemandangan indah itu.
“Pak, kalau nyetir lihat ke jalan,” Dewi mengingatkan dengan desah napas memburu.
Mang Nurdin nyengir. Tapi dengan sedikit keberanian, ia singkapkan sedikit rok pendek yang dikenakan Dewi, sebuah rok span warna hitam dengan bunga-bunga kecil berwarna coklat. Karena memang tidak terlalu panjang, dengan mudah ia melakukannya.
“Kaki Bu Dewi indah.” bisik Mang Nurdin, yang alhasil membuat Dewi jadi makin tersipu. Jemari tangannya dengan nakal mulai membelai-belai dengan lembut kaki Dewi yang tersingkap.
Perempuan itu pun mendesis lirih, "Ahh... Pak!!”
Desisan itu malah membuat Mang Nurdin jadi semakin berani, kini ia merayapkan jemarinya menuju pangkal kaki Dewi. Tanpa perlu disuruh, Dewi segera membuka kedua kakinya, dan tangan kirinya dengan pasrah membimbing tangan Mang Nurdin menuju ke arah daerahnya yang sensitif.
“Ehmm...” Dewi merebahkan sedikit sandaran kursinya, memajukan tempat duduknya.
Kini dengan mudah tangan kiri Mang Nurdin bisa mengelus-elus daerah kewanitaannya, yang tentu saja masih terbungkus celana dalam satin putih halus. Dewi mendesah dan menggigit pundak Mang Nurdin ketika laki-laki itu mulai menggunakan jari tengahnya, menelusup di antara celah kewanitaan Dewi yang sudah mulai lembab.
Mang Nurdin tetap berkonsentrasi ke jalan, tetapi jemarinya juga tak pernah luput menemukan titik-titik rangsang di sela-sela paha mulus Dewi. Untuk hal yang satu ini, Mang Nurdin memang sudah sangat ahli. Jangankan sambil nyetir, sambil berlari pun rasanya ia bisa merangsang Dewi.
“Ahh... Pak!” Dewi merenggangkan kedua pahanya. Jemari Mang Nurdin membuatnya kegelian, sekaligus membuatnya ingin bertambah geli lagi, bertambah gatal lagi, bertambah basah lagi.
“Hss...” Dewi mengerang dalam bisikan, merasakan cairan hangat mulai muncul di bawah sana. Pelan-pelan cairan itu merayap turun, membasahi liang kewanitaannya, menimbulkan noda di celana dalam satin warna putih yang ia keenakan.
Posisi duduknya kini sudah terlalu maju ke depan sehingga hampir tak bertumpu di kursi. Hanya sepertiga dari buah pantatnya yang masih menyangga tubuh, selebihnya sudah hilang entah kemana. Sandaran kursi juga semakin diturunkan, sehingga Dewi kini setengah terlentang. Kedua lututnya terangkat dan semakin terpisah, memberikan lebih banyak keleluasaan kepada tangan Mang Nurdin yang cekatan.
Lelaki tua itu bisa merasakan lembutnya daerah pangkal paha Dewi, juga gelitikan bulu-bulu lembut yang menyeruak dari balik celana dalam satin berenda yang membalut erat liang kewanitaan, membuat Mang Nurdin jadi semakin tidak tahan. Maka, demi melihat kepasrahan Dewi, ia pun semakin berani. Kini jarinya  menyelip masuk, melintas melalui belahan samping celana dalam Dewi yang sedikit terkuak, merayap dan terus menjalar menuju bibir kewanitaan.
Dewi pun mendesis, "Ughh.." Sembari tangannya memegang erat jok mobil di sisi kanan kirinya.
Terasa oleh Mang Nurdin betapa lembut bibir kewanitaannya, juga lelehan air wangi yang mulai mengalir deras dari dalam lubang senggama Dewi. Mang Nurdin mengusap-usapnya, membelai lelehan air wangi itu dengan ujung jari, pelan... pelan sekali.
“Ahhhs...” Dewi tampak sangat menikmati permainan itu, dan mulai mendaki puncak orgasmenya..
Tiba-tiba di depan ada lubang besar! Mang Nurdin cepat-cepat menekan rem. Ban mobil berdenyit. Tak urung, mobil itupun tersuruk ke depan, hampir saja terperosok. Dewi kaget, tersentak dan meluncur ke depan. Tangan Mang Nurdin terlepas dari selangkangannya. Perempuan itu jatuh terduduk di kompartemen depan, lalu tawanya meledak!
"Maaf, Bu," ucap Mang Nurdin sambil ikut tertawa.
Dewi bangkit dan kembali ke posisi duduknya. "Ah... sialan tuh lubang," sergahnya masih tertawa. Buyar sudah pendakian orgasmenya yang sudah hampir meledak. Rasa nikmat segera diganti rasa lucu.
Mang Nurdin segera memutar setir, lubang dengan mudah dihindari. Kini ia kembali berkonsentrasi; satu tangan memegang setir, sedang tangan yang lain kembali menelusup ke dalam celana dalam Dewi. Sekretaris Pak Camat sama sekali tidak menolek, malah dia seperti sangat menginginkannya. Mang Nurdin nyengir merasakan tubuh Dewi yang hangat di bagian bawah, juga sudah basah pula di sana-sini. Jari tengahnya dengan mudah menemukan tonjolan kecil-kenyal di lepitan bagian atas, segera dielus-elusnya pelan.
“Auwhgh...” Dewi pun mengerang, menggeliat kecil, memejamkan matanya. Sentuhan pertama di bagian itu selalu menimbulkan rasa campuran antara enak dan mengejutkan. Seperti disengat lebah, tetapi tentu tidak sakit. Sengatan yang justru memberikan rasa nikmat. Apalagi saat kemudian Mang Nurdin memutar-mutar ujung jarinya di situ, perlahan-lahan, seperti seseorang yang sedang meraba-raba dalam gelap.
“Ahh..” Dewi semakin merasakan geliat nikmat merayapi tubuh sintalnya.
Namun Mang Nurdin tiba-tiba menarik kembali jari-jari tangannya dan mengendusnya. "Ahh.. memek Bu Dewi harum sekali." begitu ia berkata.
Dewi yang tak sabar, segera menarik kembali tangan itu dan lekas diarahkan ke daerah sensitifnya, sambil ia mencoba menurunkan celana dalamnya dengan sedikit susah payah. Mobil menggeram, terus bergerak walau mesinnya terdengar menggerendeng seperti memprotes. Untung saja sedan ini masih baru sehingga Mang Nurdin bisa mudah mengendalikannya dengan satu tangan; bagaimanapun tangan kirinya sedang sibuk sekarang.
Dengan celana dalam sudah turun sampai ke lutut, Mang Nurdin beraksi semakin dalam; ia obok-obok lubang kewanitaan Dewi yang kini telah terbebas. Pelan ia sentuh-sentuh lipatan hangat di bibir kewanitaan Dewi, sebelum kemudian jarinya menggelincir turun menusuk lubangnya yang mungil.
“Ehmm... Pak!” Dewi menggeliat, mengangkat pantatnya, bergeser ke kanan, membuat jari tengah Mang Nurdin semakin tenggelam, menyelinap ke liang kewanitaannya. Terasa licin sekali di bawah sana, hangat dan berdenyut cepat.
“Ohh,” Dewi menggeliat lagi manakala jari-jari nakal Mang Nurdin terus menggoda dengan gelitikan-gelitikannya yang menimbulkan serbuan geli-geli nikmat yang memenuhi sekujur tubuh.
Dewi segera tenggelam dalam lautan api birahinya, sejenak ia lupa bahwa dirinya masih berada di mobil yang sedang merayapi keheningan pedesaan. "Ahh.. enak sekali, Pak!!" dia menjerit pelan, sementara air wanginya semakin deras mengalir. Itu karena jari tengah Mang Nurdin kini telah terbenam sepenuhnya di dalam lorong kewanitaannya.
Dewi beringsut dari tempat duduknya, mencoba untuk memberi jalan masuk bagi jemari lelaki tua itu agar bisa menusuk lebih dalam lagi. "Terus, Pak... teruskan! J-jangan berhenti," dia mengerang penuh kenikmatan.
"Iya, Bu... pasti!" Mang Nurdin berbisik, dengan jemari mulai menarik dan menusuk pelan-pelan, lembut... lembut sekali. Dia memutar-mutar jari tengahnya perlahan-lahan, menyentuh dinding kewanitaan Dewi yang terasa bergetar halus; bukan saja oleh getaran mobil, tetapi juga oleh desakan birahi yang kini mulai mendekati puncak.
“Ahhs... Pak!” Dewi menggeliat, dan dengan tiba-tiba memeluk bahu Mang Nurdin. Ia cium leher laki-laki itu sedikit di bawah kuping sambil berbisik dengan nafasnya yang hangat, "Sekarang giliran Bapak, yaa.."
Tangan kecilnya yang semula mencengkeram erat sisi jok mobil, segera berpindah ke atas resliting celana Mang Nurdin. Cepat Dewi menurunkannya, sementara Mang Nurdin hanya diam saja, lebih berkonsentrasi ke jalanan yang mulai sedikit lancar. Lembut tetapi agak memaksa, Dewi mulai meremas-remas dengan lembut kejantanan Mang Nurdin yang sedari tadi telah menegang keras sekali. Jari-jemarinya yang lentik segera meraup kejantanan itu dari balik celana dalam dan lekas menggenggamnya seperti tak sabar.
“Ahh... Bu Dewi!” Dengan kejantanan mencuat ke atas, Mang Nurdin mendesah.
Tangan Dewi kini sudah bergerak naik turun di sepanjang batang panjang itu; jemarinya meremas pelan, mengelus dan menelusur ke atas serta ke bawah. Mang Nurdin menahan napas, seakan ingin memastikan bahwa ini adalah sebuah mimpi yang jadi nyata, sebuah kenyataan yang sering ia impikan. Tubuhnya meregang merasakan jemari Dewi yang kini tengah melakukan sesuatu yang menakjubkan, membuat seluruh daerah di bawah perut lelaki itu terasa tiga kali lebih besar dari biasanya.
"Ahh..." Mang Nurdin mendesis pelan, sembari tangan kirinya tetap menusuk-nusuk lorong kewanitaan Dewi dengan irama yang semakin cepat dan bertambah cepat, membuat perempuan cantik itu semakin mengelinjang dan menjerit puas karena merasakan kenikmatan yang sungguh luar biasa.
"Lebih dalam, Pak... tusuk makin cepat!!" Dewi berteriak lirih. Nafasnya sudah memburu kencang akibat dirinya yang kini tengah mendaki puncak birahi. Oh, mudah-mudahan tidak ada lubang lagi. Mudah-mudahan mobil lancar terus sampai tiba di jalan utama.
Tangannya yang terus mengocok-ngocok penis Mang Nurdin, menyebabkan badan sopir tua itu mulai bergetar hebat. Sebuah desakan gairah mulai terkumpul di bagian bawah tubuhnya, membuat kedua paha Mang Nurdin terasa berat untuk memainkan pedal gas dan kopling. Seluruh otot tubuhnya seperti sedang bersiap-siap untuk meledak, seperti seekor kuda yang berancang-ancang akan melompat.
“Ahh, Pak!” Dewi kembali mendesah, dan gerakan kocokannya terasa semakin cepat, begitu cepatnya hingga hanya tampak dalam bayang-bayang saja.
Lalu dengan tiba-tiba, perempuan itu merunduk. Dewi mengarahkan mulut kecilnya yang sensual menuju kejantanan Mang Nurdin yang sudah begitu menegang ke atas, lantas dengan rakus mulai menciumi serta menjilatinya. Tentu saja itu membikin darah Mang Nurdin semakin deras mengalir, terutama ketika lidah basah Dewi menyentuh lubang kecilnya yang lengket dan menghisapnya dengan begitu kuat.
"Ahh... geli, tapi enak sekali, Bu." Lelaki tua itu berkata lirih.
Dewi tidak menyahut karena ia lebih sibuk mengulum-ngulum kejantanan itu; baik batang maupun kepalanya yang gundul, sementara tangannya tetap bergerak ke atas dan ke bawah seirama dengan gerakan mulut. Dan jantung Mang Nurdin pun berdegup semakin keras, jari tangannya kini semakin cepat menusuk-nusuk lorong  kewanitaan Dewi.
"Ahh... iya, Pak. Bener, begitu!" desah Dewi sambil menggeliat.
Sambil menahan senyum, Mang Nurdin pun mempercepat gerakan jarinya. Keluar-masuk. Berputar-putar. Semakin lama, kian bertambah cepat. Hingga membuat Dewi menggeliat, mendesah dan mengerang, dengan disertai nafas yang semakin memburu. Kedua kakinya juga tambah mengangkang, sedang punggungnya melenting dengan kepala mendongak dan mulut setengah terbuka.
“Oh, sebentar lagi. Sebentar lagi... sedikit lagi. Oohh...!!" Dewi menjerit sambil menggigit kejantanan Mang Nurdin dengan lembut, sementara tangannya tetap mengocok-ngocok cepat.
“Ahh... s-saya juga, Bu!” Mang Nurdin ikut mengerang manakala ia tak bisa lagi menahan serbuan puncak birahi yang menerjang mencari jalan keluar. Dengan deras cairan kentalnya mengalir, menghambur keluar, meledak di dalam mulut Dewi.
"Ohh.." Sekretaris Pak Camat itu terkaget sejenak, tetapi tetap mengulum kejantanan sang sopir.
Dengan nafas masih terengah-engah, Mang Nurdin memiringkan sedikit pinggangnya.  Terasa geli tapi nikmat sekali ketika lava panasnya ditampung dan ditelan seluruhnya oleh Dewi. Sisanya yang menetes keluar, dibiarkan Dewi membasahi mulut dan hidungnya yang bangir. Perempuan itu nampak lebih suka menyapu-nyapu kejantanan Mang Nurdin yang kini berubah jadi licin dan mengkilap, daripada membersihkan lelehan sperma yang membasahi wajah cantiknya.
Sepi bagai turun dari langit. Mang Nurdin tergeletak lemas, jok mobil yang didudukinya terasa seperti awan yang membumbung tinggi, membawa tubuhnya  melayang. Dunia seakan meledak berkeping-keping, menghamburkan pijar-pijar pelangi yang sungguh menakjubkan!
Dengan napas masih memburu, Dewi mengelap mulutnya yang penuh dengan ceceran air mani. “Sudah lama ya, Pak, kok banyak sekali?” tanyanya sambil memandang tangannya yang lengket, kemudian pelan dijilatinya hingga bersih.
“Bu Dewi suka?” Mang Nurdin tersenyum.
Dewi hanya balas tersenyum dan pelan menutup kembali resliting celana laki-laki itu, berikutnya ia menaikkan juga celana dalamnya sendiri. Tak terasa mereka telah melaju di jalan utama, tak lama lagi akan sampai di Kecamatan. Tangan Mang Nurdin kembali terulur, bukan kewanitaan Dewi yang menjadi sasaran, namun ongkahan payudara yang sedari tadi luput ia jamah.
"Sudah ah, nanti ketahuan orang!" sergah Dewi ketika Mang Nurdin mulai membelainya pelan.
Lelaki itu tertawa dan menarik tangannya, "Bu Dewi, terima kasih ya..."
"Sama-sama, Pak. Udah lega kan?" ujarnya seraya menatap sayu.
"Tentu saja, Bu Dewi memang paling pinter membahagiakan lelaki," puji Mang Nurdin tulus.
"Ahh.. bapak bisa saja," Dewi menjawab sekenanya sambil tersenyum geli.
Mobil terus melaju, meluncur cepat ke arah selatan, meninggalkan bayangan kenikmatan yang baru saja mereka lakukan. Begitulah kehidupan Dewi sekarang, sejak menjanda ia menyandarkan geliat nafsu birahinya kepada Mang Nurdin, sopir pribadi Pak Camat.

***

Aisyah yang lebih dulu tiba di rumah langsung membuka seragam kerja dan mengganti dengan daster panjang. Ia duduk merenung. Pikirannya dipenuhi beragam pertanyaan dan praduga. Jelas bukan suatu kebetulan pertemuannya dengan Reihan. Pasti salah satu pihak ada yang sengaja merencanakan. Tidak mungkin Reihan bisa tiba-tiba menjadi guru di tempat yang sama. Ada proses panjang yang harus dilalui oleh seorang PNS. Besar kemungkinan sesungguhnya Reihan sudah lama kembali ke kota ini.
Gatot yang baru sampai agak heran melihat kelakuan istrinya. “Aisyah, ada apa sebenarnya?”
“Mas Gatot, aku mau berhenti jadi guru.
Gatot tersentak. Seperti tersambar petir di siang bolong mendengar pernyataan singkat Aisyah. “Apa yang terjadi, Aisyah? Ceritakan padaku. Ayo.
“Aku tidak mau sekantor dengan Reihan, Mas.
“Jadi dia juga bekerja di sekolahmu, begitu?”
“Iya, Mas. Tadi dia muncul. Aku kaget. Makanya aku langsung minta ijin pulang.
“Tidak harus berhenti kan? Kamu bisa mengajukan mutasi.
“Mas Gatot, aku takut rumah tangga kita di ambang masalah.
“Tidak ada masalah apapun, Aisyah. Nanti aku coba mencari jalan agar kamu bisa pindah ke kantor kecamatan.
Rupanya kehadiran Reihan mulai mengganggu keseimbangan jiwa Aisyah. Gatot memahami keinginan Aisyah semata-mata didorong oleh rasa tak ingin kehilangan. Sama seperti dirinya yang tak mau kehilangan setiap momen kehidupan bersama Aisyah.
“Kamu sudah menyuruh Minah mengantar anak anak?”
“Sudah, Mas. Tuh suara Galang dan Gilang.
Memang benar. Dari ruang depan, Galang dan Gilang berlari-lari berkejaran seakan berlomba ingin sampai lebih dulu. Aisyah menyambut kedua buah hatinya. Sementara Gatot menyambut Minah.
“Mas Gatot, tadi Mbak Aisyah nyuruh aku datang kemari.
“Benar, Minah. Mulai besok kamu bisa mulai kerja. Mau kan?”
“Iya, aku mau, Mas. Besok pagi-pagi sekali aku datang ke sini.
“Jangan terlalu pagi, Minah.” kata Aisyah. Kira-kira jam setengah tujuh. Aisyah tidak mau kedatangan Minah mengganggu ‘ritual pagi’nya bersama Gatot.
“Baik, Mbak Aisyah. Tapi saya mohon Mbak Aisyah dan Mas Gatot mau membayar separuh gaji saya di awal. Saya butuh uang, Mbak.
Gatot dan Aisyah beradu pandang. Lalu tersenyum. Aisyah mengeluarkan dompet dari saku dasternya dan mengulurkan lima lembar uang kepada Minah yang langsung sumringah. Sepeninggal Minah, Gatot menghela napas dan memandangi Aisyah yang mulai disibukkan menyusui Galang dan Gilang. Semakin dihisap, tampak payudara Aisyah malah semakin bertambah besar. Kini ukurannya sudah tiga kali lipat dari yang dulu. Besar sekali.
“Anak anak sudah berumur hampir dua tahun Aisyah. Sebaiknya kamu hentikan saja ASI.
“Menurutku begitu, Mas. Mulai besok aku ganti dengan susu kaleng.
“Tadi aku ke Jatisari bareng Mbak Dewi. Dia menanyakan Murti.
“Andai kita tahu keberadaan Bu Murti ya, Mas,” keluh Aisyah yang tak bisa menyembunyikan kerinduannya pada Murti. Berkat Murti lah dirinya bisa mengenal Gatot.

1 komentar:

  1. Kapan aisyah di entot ma reihan kang iisamu ???

    BalasHapus