Selasa, 11 Juli 2017

Lacur



Aku masih duduk sendiri. Menunggu. Memandang tanah-tanah kering.
Di taman ini, aku adalah tak lebih dari seekor cacing. Menggeliat ke sana ke mari mencari celah basah. Sebab cacing tak suka cahaya berlebih, menusuk pori-pori. Sebab cacing juga tak perlu mencari pasangan untuk kawin. Tidak seperti manusia.
Di taman ini, aku adalah seorang sepi. Tak menanggapi lalu lalang yang tak berarti.
Pukul tiga sore. Hari sudah tua, namun bayang-bayang masih bertenaga. Sebab setiap hari matahari tampak kian berapi. Pohon-pohon ditebangi, polusi menjadi-jadi. Manusia semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Hingga lalu lalang tak pernah berhenti. Tak pernah cahaya padam. Tak pernah musik berhenti berdentang. Sementara makhluk-makhluk lain mulai mengungsi, mencari sepi.

Seorang pengemis datang meminta sedekah. Aku tidak tahu siapa dia, darimana asalnya, berapa umurnya. Yang aku tahu, pakaiannya kumuh selusuh jiwanya yang tak punya malu. Yang aku tahu, manusia harus berusaha dengan cara terhormat untuk mempertahankan kehidupannya. Seperti aku.
Sebab aku sedang menunggu seseorang di tempat ini. Di tempat dimana pengemis itu masih memandangiku. Aku benci tatapannya. Seperti ingin kawin, menelanjangiku bulat-bulat. Sebab aku tahu tatapan lelaki yang ingin kawin, tidak ubahnya monyet yang ingin kawin. Liar. Buas. Atau pura-pura malu-malu. Menunggu hingga mangsanya lengah.
Mas Danu, lelaki yang aku tunggu. Sudah paruh baya. Sebab katanya dia mau menghidupiku. Menjadikanku simpanannya. Pelayan birahinya. Aku tidak menolak. Sebab aku tidak suka hidup miskin. Aku tidak suka menjadi pengemis yang meminta-minta mengorbankan rasa malu. Kamu bertanya apa aku tidak malu menjadi simpanan orang lain? Tidak. Siapa yang tahu, Tidak ada kamu. Tidak ada orangtua. Tidak ada saudara. Tidak juga ada istri pertamanya.
Sebab aku juga sudah terlanjur mencintai bau keringatnya. Kamu tidak tahu, keringat lelaki itu mendamaikan. Tidak bisa dibandingkan dengan wewangian manapun. Sebab aku juga sudah terlanjur mencintai kenakalan lidahnya yang bergerilya di langit-langit mulutku. Pun lembut tangannya yang menggerayangi tiap jengkal tubuhku, membuka kancingku satu per satu. Hingga kami telanjang bulat. Tak ditutupi dosa. Bercinta dengan sebuas-buasnya. Berjam-jam. Berhari-hari.
Mas Danu datang kemudian. Kusambut dia dengan senyum bahagia. Kupeluk dia. Kucium dia. Dia juga memperlakukanku sama. Tak lama kami pun berpagut. Tak peduli dengan pengemis tadi yang mungkin memandangi kami iri, sambil ingin ikut juga menikmati tubuhku. Sebab katanya bentuk tubuhku sangat indah, kulit putih bersih, dan bibirku seksi. Mengundang birahi lelaki manapun yang memandangnya.
“Ikut aku.” Mas Danu menggamit lenganku menuju ke arah mobilnya yang tengah di parkir tak jauh.
“Kemana, Mas?” tanyaku.
Mas Danu tidak menjawab. Sebab katanya aku akan diberi kejutan. Aku mulai mengira-ngira apa. Cincin sudah. Perhiasan apa saja sudah. Tidak mungkin aku akan diberi kejutan ‘perlakuan istimewa’. Sebab hari masih sore. Tidak ada tempat terbuka untuk kami bercinta. Tidak mungkin di dalam mobil tempat parkir. Kami memang pernah melakukannya, meski hanya Mas Danu yang puas.
Hari itu, pulang berbelanja di sebuah areal parkir tempat berbelanjaan. Aku merebahkan kepala ke pundaknya, kurasakan kelembutan rambutnya yang terpangkas rapi. Ia memiliki paduan badan yang seimbang, dengan tinggi 175 cm dan berat 60 kg, sungguh ideal. Bibirnya agak tebal dan bentuknya melengkung ke bawah. Kurasakan aroma keharuman tubuhnya.
Entah darimana mulanya, tiba-tiba tangan kirinya telah merengkuh pundakku. Ia membelai pipiku yang halus, sementara tangan kanannya tetap memegangi setir. Aku tersenyum, dalam keremangan nampak begitu indah tatapan sendu matanya. Membuatku semakin dalam membenamkan kepala ke pundaknya.
Tanpa kuduga, dia tiba-tiba mengecup pipiku, ”Aku mengagumimu sejak pertama ketemu.” katanya lirih, amat dekat di telingaku, sehingga dengus nafasnya begitu dekat di pipiku. Batinku jadi semakin tak menentu.
Kembali aku dikejutkan oleh gesekan lembut tangannya tepat di permukaan kewanitaanku yang terbungkus rapat. Yang segera kubalas dengan mengelus-elus alat vitalnya yang kian mengeras. ”Pengen ya?” aku bertanya, dan ia mengangguk sambil tangan kirinya tiba-tiba punya keberanian untuk menyentuh tonjolan di dada kiriku.
”Kalau begitu lakukan, Mas.” aku berkata.
Mendengar ini, tanpa menunggu lama, ia segera  merengkuh pundakku dan tangannya lekas menyelusup ke balik gaun unguku. Hatiku bergetar saat ia menyentuh tonjolan daging empuk di depan dadaku. Mas Danu meremas-remasnya pelan sambil sesekali memelintir putingnya yang kecil dengan begitu lembut.
Ia terlihat terkaget-kaget saat tiba-tiba aku melepaskan ikat pinggangnya, melemparnya ke jok belakang, menyingkap kemejanya dan kemudian membuka resliting celananya. Kurasakan jantungnya semakin berdegup kencang. Apalagi saat tanganku dengan lembut mulai menyerobot batang vitalnya dan mengeluarkannya. Dengan segala ketrampilan, kukocok benda itu.
”Ahh...” aku menggelinjang kegelian saat tangan Mas Danu beralih turun ke bawah. Kini jemarinya menyentuh bulu-bulu lebat di balik celana dalamku, mengelusnya pelan hingga membuatku menahan nafas. Sementara aku, terus meremas halus batang vitalnya.
Sesaat kami terus dalam posisi seperti itu sampai mendadak sebuah gerakan tidak terduga kulakukan. Aku menunduk, mengarahkan kepalaku menuju batang kemaluannya. Mas Danu terlihat kaget, namun sama sekali tidak menolak. Yang ada ia malah menggeser tempat duduk dan menyetelnya agak sedikit ke belakang agak aku bisa lebih leluasa melakukan aksiku. Dengan pintar ia mengatur kepalaku di atas pangkuannya. Mas Danu tidak ingin aku yang mau menjilati batang kemaluannya jadi tersenggol setir.
Maka jadilah, pelan-pelan aku mulai mengecup, melumat dan menghisap-hisap batang vitalnya. Sambil mengawasi keadaan sekitar, pantat Mas Danu bergerak seirama sedotan mulutku. Sementara tangan kirinya terus berpindah-pindah antara meremasi payudaraku dengan lembut dan menyelipkannya di kedua pahaku yang kini mulai basah.
Makin lama sedotanku menjadi semakin liar, bajuku berantakan, gaun yang kukenakan sudah tersingkap tidak karuan. Namun aku terus melumat, menjilat dan menyedot batang penis Mas Danu yang kian mengeras. Desahan nafasnya dan degup jantungku berpacu bak kuda liar. Aku terus menghisap sementara jemari kiri Mas Danu menari-nari di selangkanganku.
”Auw!” aku mendesah seiring semakin basahnya lubang kemaluanku. Ia terus memelintir klitorisku, jemarinya menyusup semakin dalam. Dengan merapatkan kedua kaki, mulutku terus mengulum dan menyedot batang kemaluannya.
Pinggang Mas Danu bergerak turun naik mengikuti arah hisapanku. Terus aku menyerangnya hingga tak lama kemudian aku merasakan desakan hebat di batang vitalnya. Segera kutarik kepalaku, dan kugantikan dengan jemari tangan. Kukocok batangnya yang kini telah licin. Pantat Mas Danu langsung naik karena desakan dari dalam, isyarat ini kutangkap dengan mengocok semakin cepat, namun tetap berirama.
Tak lama kemudian menyemburlah cairan putih dari batang kemaluannya. Kugenggam erat-erat agar tidak bertaburan kemana-mana, dan ia pun lunglai. Aku tersenyum, memandanginya. Kusambar tissue dan mulai mengelap batang vitalnya yang basah, juga mulut dan tanganku.
”Terima kasih, Sayang.” desahnya sambil mengecup keningku.
Aku tersenyum, mengecup batang kemaluannya sekali lagi dan membenahi gaunku yang berantakan. Lalu kembali kurebahkan kepala ke pundaknya. Sejak itu, kami sering melakukan petualangan kenikmatan sepanjang jalan di atas Toyota Fortunernya. Indah sekali.
Namun yang paling tidak terlupakan adalah saat kami menonton bioskop.
Malam itu begitu sepi. Tampak hanya beberapa pasang muda-mudi yang sedang asik menonton (juga membuat tontonan). Mas Danu tidak mau kalah. Setelah tangan dan bibirnya puas menggerayangiku, dia berbisik lembut, “Biarkan aku yang melayanimu malam ini.”
Aku tidak berhenti mendesah, menggigit bibirku, menahan jeritan kenikmatan yang Mas Danu berikan saat ia menunduk untuk mulai menjilati kemaluanku. Lidahnya berputar pelan melingkari kelentitku, menggodanya, hingga membuat  pinggulku dengan reflek bergerak memutar merespon tarian lidahnya.
Dia juga mengeksplorasi lubang hangatku dengan jari-jarinya, membuat lenguhanku semakin sering terdengar dalam kedapnya ruangan bioskop. Aku tak lagi memikirkan apa yang kami perbuat, aku hanya mengikuti naluriku. Ada sesuatu yang terasa hilang saat ia menarik pulang lidahnya. Namun itu hanya sensasi sesaat saja, karena selanjutnya Mas Danu meraih tepian celana dalamku dan melepasnya. Nafasku tercekat saat melihatnya masih berlutut di lantai sambil menatap takjub pada segitiga menawan dari rambut kemaluanku yang kini sudah tidak tertutup lagi.
Dia menyentuh vaginaku dengan tangan kirinya, menjalankan jari tengahnya pada kelentitku sambil tangan yang satunya meraba tonjolan buah dadaku. Membuatku mendesah pelan dengan pinggul bergetar. Mataku terpejam rapat, aku sangat meresapi apa yang dia berikan pada selangkanganku.
Kini jarinya semakin melesak ke dalam lorong vaginaku, membuatku memejamkan mata kembali, dan tak lupa mengerang. Vaginaku terasa sangat basah! Sementara jarinya terus bergerak di seluruh rongganya yang sempit, bergerak keluar masuk sambil sesekali ibu jarinya mengerjai kelentitku yang kini terasa semakin menegang.
Mas Danu menunduk, tangannya bergerak ke bawah bongkahan pantatku, mengangkatnya dari atas kursi agar bagian bawah tubuhku lebih terekspose ke atas. Lalu kembali kepalanya mendekat pada daging nikmatku. Masih tetap menahan pantatku ke atas, mulutnya sekali lagi menciumi bibir vaginaku, mencicipi rasanya yang begitu nikmat.  Lidahnya dengan lincah melata pada dinding bagian dalam dari vaginaku, menjilati sari buah gairah yang kukeluarkan.
Aku merasa bibir Mas Danu menjepit tombol sensitifku dan lidahnya bergerak pelan pada sasarannya. Erangan semakin tak terkendali lepas dari mulutku akibat perlakuannya kali ini. Ia juga semakin menaikkan pantatku, menekan vaginaku pada wajahnya dan lidahnya semakin bergerak menggila di dalam sana.
Jantungku serasa mau meledak, nafasku terasa berat. Sangat dekat. Hingga jantungku seperti berhenti berdenyut saat orgasmeku datang. Pinggulku mengejang-ngejang di wajahnya dengan liar. Begitu nikmatnya, bagai jiwaku serasa melayang entah kemana! Mas Danu memberiku sebuah oral seks terhebat yang pernah kudapatkan dalam seumur hidup!

***

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Melewati jalan tol. Tiba-tiba Mas Danu memberhentikan mobilnya. “Rin, tolong pake ini.” katanya sambil memberikan sebuah kain berwarna hitam.
“Untuk apa, Mas?” aku bertanya tak mengerti.
“Tutup matamu…” katanya sambil tersenyum.
Aku menurut. Ia membantuku mengikatkan kain itu untuk menutupi penglihatanku. Aku sudah pasrah. Aku sudah percaya padanya. Entah apa yang Mas Danu ingin perlihatkan kepadaku nanti.
Beberapa lama kemudian mobil tampak berhenti. Mas Danu membuka penutup mataku. Aku tidak tahu berada di mana. Tampak sebuah rumah minimalis yang sangat indah dengan hehijauan tamannya.
“Ini untukmu.” katanya.
Aku mengernyitkan dahi.
“Mulai sekarang, ini rumahmu.” kata Mas Danu lagi.
Aku memeluknya bahagia. Dan kami mulai berpagut. Terus berpagut, meski kemudian Mas Danu membopongku masuk ke rumah baruku. Dan kami, lagi-lagi bercinta sampai pagi hari di rumah baru itu.

***

Aku masih terus menunggu. Tapi aku tidak lagi duduk sendiri memandang tanah-tanah kering. Tidak ada lagi pengemis yang meminta-minta, memandangku dengan tatapan birahi.
Mas Danu semakin sering ke sini. Awalnya satu kali seminggu. Lalu dua kali. Tiga kali. Dan kini, sudah lima kali dalam minggu ini.
“Istri Mas nggak curiga?” tanyaku manja sambil mengupas buah mangga yang dia bawa.
“Dia tidak akan tahu, sayang.” jawabnya sambil bersandar di pangkuanku. “Mas tadi bilang, mas mau rapat ke luar kota.”
“Kenapa tidak Mas ceraikan saja?”
“Itu tidak mungkin. Semua harta masih atas namanya.”
Mas Danu memang seorang Direktur perusahaan besar. Tetapi perusahaan itu bukan miliknya. Dulu dia hanyalah seorang karyawan biasa. Dari keluarga biasa. Atasannya, yang kemudian jadi mertuanya, sangat perhatian dan puas dengan kinerja Mas Danu. Karena itulah, Mas Danu dijodohkan dengan anak atasannya itu.
“Rin, Mas sayang kamu…” Mas Danu kemudian memeluk dan menciumku. Aku tahu dia akan meminta 'jatahnya' malam ini. Terlihat dari belaian dan sentuhannya yang begitu lembut.
Pelan-pelan ia mulai melepaskan daster putih yang kukenakan, setelah mencumbuiku sebentar. Ia juga mulai membuka bra tipis yang kukenakan dan melepaskan celana dalamku. Setelah itu Mas Danu sedikit demi sedikit mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian tubuhku, tidak ada yang terlewati.
Aku sendiri membantu Mas Danu untuk melapaskan seluruh pakaian yang dikenakannya, sampai akhirnya aku bisa melihat penis Mas Danu yang sudah mulai agak menegang, tetapi belum sempurna tegangnya. Dengan penuh kasih sayang kuraih batang kenikmatan itu dan kumain-mainkan sebentar dengan kedua belah tanganku, sebelum kemudian aku mulai mengulumnya dengan begitu lembut. Terasa di dalam mulutku batang penis Mas Danu, terutama kepala penisnya, mulai hangat dan mengeras.
Aku menyedot batang Mas Danu dengan semampuku. Kulihat ia begitu bergairah, sesekali matanya terpejam menahan nikmat yang kuberikan kepadanya. Mas Danu kemudian membalas dengan meremas-remas kedua payudaraku yang cukup menantang, 36B. Hingga aku mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan bergerak dari puting payudaraku dan menjalar ke seluruh bagian tubuhku lainnya, terutama ke vagina. Aku merasakan liang vaginaku mulai terasa basah dan sedikit gatal, sehingga aku mulai merapatkan kedua belah pahaku dan menggesek-gesekkan keduanya dengan rapat agar aku dapat mengurangi rasa gatal yang kurasakan.
Mas Danu rupanya tanggap melihat perubahanku, dengan lidahnya ia mulai turun untuk mengulum daging kecil klitorisku. Ia begitu bernafsu hingga membuatku sedikit kewalahan menerima serangannya kali ini. Badanku terasa bergetar menahan nikmat, peluh di tubuhku mulai mengucur dengan deras diiringi erangan-erangan kecil dan nafas tertahan ketika kurasakan aku hampir tak mampu menahan kenikmatan yang kuterima.
Akhirnya seluruh rasa itu semakin memuncak, gatal yang kurasakan sejak tadi berubah menjadi nikmat saat lidahnya terus bergerak-gerak maju mundur seakan menggaruk lubang senggamaku. Tidak lebih dari lima menit aku berteriak kecil saat aku sudah tidak mampu lagi menahan kenikmatan yang kurasakan. Tubuhku meregang selama sekian detik sebelum akhirnya rubuh di ranjang. Puncak kenikmatan telah kuraih. Mataku terpejam sambil menggigit kecil bibirku saat kurasakan vaginaku mengeluarkan denyut-denyut kenikmatannya.
Dan tidak lama kemudian Mas Danu mencapai puncaknya juga, dia dengan cepatnya menarik penisnya dan beberapa detik kemudian, air maninya menyembur dengan derasnya ke arah tubuh dan wajahku. Aku membantu dengan terus mengocok penisnya sampai air maninya habis, dan kemudian aku mengulum kembali penis itu selama sekian lama, sampai akhirnya perlahan-lahan mulai berkurang tekanannya dan mulai melunglai lemas.
“Aku benar-benar puas, Rin, kamu memang hebat!” pujinya.
Aku masih bergelayut manja di dekapan tubuhnya saat terdengar pintu digedor berkali-kali.
Praaang!! Terdengar suara kaca depan dipecahkan.
“Keluar kalian!” terdengar suara seorang wanita berteriak. Sementara wajah Mas Danu tampak pucat pasi. Ia langsung tergesa. Panik. Kemudian membuka pintu.
“Jadi di sini rapatnya?!” wanita itu berteriak dengan nada tinggi.
“Maaf, Ma. Maaf!” Mas Danu tampak merengek, seperti anak kecil.
Wanita itu mendekatiku. “Kamu rupanya?!” teriaknya. Plaak! Ia menamparku. Berkali-kali. Aku coba untuk menghindar. Mencoba berlari. Sementara Mas Danu hanya diam saja menyaksikan kami berkelahi.
“Sundal Wanita perusak rumah tangga!!” bermacam-macam cacian dialamatkan kepadaku. Aku hanya bisa menangis. Dan ia mulai menendangi tubuhku.
Aku mulai tidak terima. Aku mulai melawan. Tapi tenagaku kalah dengannya. Kemudian… aku melihat pisau! Ya, pisau yang tadi kugunakan untuk mengiris buah. Tanpa berpikir aku ambil pisau itu. Lalu aku tusukkan ke perut sebelah kirinya. Darah wanita itu langsung terasa di tanganku. Dia melototiku setengah tidak percaya aku telah menusuknya.
Aku cabut pisauku. Lalu aku tusukkan lagi. Kali ini di dada sebelah kirinya. Di jantungnya. Mas Danu ternganga melihat adegan ini. Aku sendiri juga tidak percaya. Aku (mungkin) sudah menjadi seorang pembunuh. Mas Danu mendekat. Menamparku.
“Apa yang sudah kamu lakukan?!” teriaknya.
Aku hanya bisa terus menangis. Menangis dan menangis. Mas Danu tampak membopong istrinya yang sudah tidak berdaya. Aku tahu, begitu Mas Danu keluar dari rumah ini, ia takkan pernah lagi kembali. Aku jadi takut. Aku benar-benar takut. Maka aku ambil tindakan nekad. Kutusukkan pisau tadi ke punggungnya. Lalu aku cabut.
”Auw!” mengerang, Mas Danu memegangi bekas tusukanku yang sudah penuh darah. Menatapku marah. Tapi aku tahu, dia tidak akan mati kalau hanya ditusuk di punggungnya. Maka belum sempat Mas Danu menghimpun tenaga, sudah aku tusukkan lagi pisau itu di dada sebelah kirinya. Dan beberapa detik kemudian, Mas Danu juga tergeletak tak berdaya.
Kini tinggal aku sendiri, masih menangis. Dan terus menangis. Sementara darah sudah membanjir kemana-mana. Pisau itu masih ada. Aku masih menggenggamnya, dan sadar kalau aku akan dipenjara setelah ini. Seumur hidupku. Tidak! Aku tidak mau mati di penjara. Aku tidak mau hidup sengsara. Maka kupandangi pisau itu beberapa lama. Dan...
Bless! Aku tusukkan juga pisau itu ke dada sebelah kiriku.
Sementara pandanganku mulai memudar, aku ingat, dulu aku adalah seorang wanita biasa yang mengharap hidup bahagia dengan orang yang aku cintai. Aku juga bernah berharap ciuman pertama dan kehormatan diriku, aku serahkan kepada seorang pendamping yang resmi. Yang ternyata tidak pernah bisa kulakukan. Maka beginilah jadinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar