Senin, 31 Juli 2017

Misteri Ratu Mantera 2



Malam dibiarkan berlalu. Keletihan menjalar di sekujur tubuh Fran. Anehnya, ia menjadi sulit tidur. Padahal biasanya jika sekujur tubuh merasa letih, ia cepat tidur. Bahkan nyenyak sekali. Namun malam ini suasanya berbeda. Fran tidur di kamarnya, di lantai bawah. Quida diberi kamar di lantai bawah juga, berseberangan dengan kamar tidurnya.
Apakah gadis itu juga tak dapat tidur? Entahlah. Yang jelas, di kamar lantai atas, Febbi juga tak bisa tidur. Febbi sibuk ngerumpi bersama Salza melalui sambungan telepon.
“Apakah dia teman sekantor kakakmu, Feb?”
“Nggak ngerti gue, Za. Tapi kayaknya sih bukan, ah!”
“Pacarnya ya?”
“Soal itu aku belum tau. Cuma, kayaknya kakakku menaruh perhatian banget sama tuh cewek.”

“Yaah, abis deh harapanku!” keluh nada suara Salza. “Kalau kamu nggak bisa singkirin tuh cewek, berarti aku nggak punya harapan lagi buat deketin kak Fran, Feb. Dan, kamu nggak cs lagi ama aku kalau begitu keadaannya.”
“Yaaa, kamu jangan langsung vonis gitu dong, Za. Urusan hati dan cinta itu kan urusan pribadi kakakku.”
“Kamu sebagai adiknya dan sekaligus temen deket aku, mestinya bisa dong bantuin buat dapetin abang kamu itu.”
“Wah, kalau buat begituan aku nggak bisa janji apa-papa deh, Za. Aku minta kamu juga mesti bijak dan nggak picik kayak gitu dong.”
Lelah didesak Salza buat mempengaruhi abangnya, Febbi bergegas turun ke ruang makan. Ia butuh air dingin dari kulkas untuk melonggarkan kerongkongannya. Ia bawa sebotol air dingin dari kulkas dan naik ke lantai atas kembali. Malam yang sepi dengan irama detak jam dinding telah membuat Febbi berperasaan aneh. Ada sesuatu yang tak menetramkan batinnya saat itu. bukan tentang omongan Salza tadi, tapi tentang masalah lain.
Suara.
Ada suara aneh yang didengarnya, samar-samar sekali. Ketika langkah kakinya dihentikan di ruang tengah, barulah suara aneh itu terdengar agak jelas. Bulu kuduk Febbi kontan bergidik merinding. Suara itu seperti orang menggumam. Semakin mendekati kamar tidur Quida, semakin jelas telinganya menangkap suara tersebut.
“Apa yang dilakukan Quida? Mengapa dia seperti bicara, tapi juga seperti menggumam? Apakah dia sedang bersenandung? Oh, bukan. Bukan bersenandung. Tapi... bahasa apa yang ia pakai itu? kayaknya sih... Quida lagi menggerutu, tapi kenapa panjang dan nggak putus-putus ya?”
Febbi penasaran. Telinganya makin didekatkan ke pintu kamar.
Drrrrrrkkk...!! Pintu bergetar. Lampu kristal gemerincing karena getaran. Meja, mebel, lukisan di dinding, semuanya bergetar. Tapi hanya sedetik. Getaran itu cepat hilang. Namun akibat getaran itu, lampu kristal yang tergantung masih bergerak-gerak hingga beberapa saat lamanya. Guncangan itu membuat Fran terlonjak bangun dari pembaringan. Ia bergegas keluar kamar, tegang. Tahu-tahu dilihatnya Febbi sedang tersentak kaget dan tegang pula di depan kamar tidur Quida. Ia segera berlari menghampiri kakaknya.
“Feebb?”
“Kak! A-a-aku...”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Febbi menarik lengan Fran. Keduanya masuk ke kamar, Febbi buru-buru menutup pintu kamar itu.
“Aku mendengar suara itu! Aku mendengarnya, Kak!”
“Suara apa?”
“Cewekmu bersuara aneh. Aneh sekali!”
“Quida? Maksudmu dia...”
Tok, tok, tok! Pintu kamar diketuk dari luar. Keduanya diam serentak. Ketuka itu terdengar lagi. Mau tak mau Fran harus membukakan pintu. Febbi mundur beberapa langkah, takut. Ketika pintu dibuka, seraut wajah cantik Quida tampak jelas di sana. Ada rona kecemasan di wajah itu, tipis.
“Maaf, Fran...”
“Hmm, ahh... ya, ada apa, Qui?” Fran kikuk. Febbi pun sama, salah tingkah sendiri.
“Kudengar suara di kamar ini. Aku cuma ingin memastikan kau baik-baik saja, Fran.”
“Hmm, i-iya... aku baik-baik saja. Febbi... Febbi takut tidur sendirian, dia minta ditemani.”
“Kalau begitu, biar aku yang menemani Febbi.”
“Hmm, nggak usah deh. Nggak apa-apa kok,” Febbi buru-buru menyahut. “Sekarang aku berani tidur sendiri kok.”
“Ayo balik ke kamarmu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa teriak dan aku akan datang secepatnya.” kata Fran.
“Yee... mentang-mentang datang yang lebih cantik, jadi aku diusir ya?”
“Sudah, diam. Cepat pergi sana.”
Febbi menghembuskan napas panjang setelah mengangguk. Kemudian ia segera pergi karena cukup paham dengan maksud isyarat mata kakaknya tadi. Fran tak ingin Quida semakin menaruh kecurigaan atas sikap mereka yang tadi kedengaran sedikit gaduh.
“Aku juga akan kembali ke kamarku,” kata Quida.
“Silakan. Semua baik-baik saja kok,” jawab Fran.
Sebelum masuk ke kamarnya, Quida berhenti sebentar. Fran masih memandangi dari depan pintu kamarnya sendiri, terlihat sangat mengagumi kecantikan gadis itu.
“O ya... boleh aku minta tambah persediaan air minum di kamarku? Malam ini aku sering haus, sepertinya.”
“Akan kuambilkan.”
“Biar kuambil sendiri. Jangan merepotkan kamu.” Quida bergegas menuju ruang makan, tapi langkahnya tertahan suara Fran.
“Di kamarku ada persediaan air juga, Qui. Ini sajalah,”
Memang, di kamar Fran terdapat kulkas kecil. Di dalamnya ada persediaan air minum. Baik air tawar maupun minuman kaleng, serta beberapa makanan kecil. Fran mengambilkannya untuk Quida yang kala itu sedikit malu-malu berdiri di ambang pintu, tak berani masuk ke kamar, seakan ia sangat menjaga etika sopan santun. Tetapi melihat sikap yang demikian, Fran justru kurang menyukai.
“Masuklah. Mau minuman kaleng apa air putih biasa?”
“Hmm...”
“Ayo, masuklah. Jangan diam di pintu begitu, aku nggak ngegigit kok.“
Quida tertawa kecil. Pelan, merdu sekali suara tawanya. Ia melangkah masuk begitu Fran menyalakan lampu utama. Suasana kamar jadi terang. Ada meja kecil dekat ranjang, ada kursi disana. Quida duduk seraya mengatakan apa yang diinginkannya.
“Aku ingin air putih biasa aja. Nggak perlu repot-repot, Fran.”
Fran membawakannya lengkap dengan dua gelas kosong. Rupanya ia pun butuh minum sehingga menuang air putih dingin di dua gelas.
“Kamu nggak bisa tidur, ya? kamarmu nggak nyaman?” tanya Fran.
“Siapa bilang?” jawab Quida seraya meletakkan gelas yang habis diminum isinya di meja. “Aku tadi sudah hampir tertidur. Tiba-tiba terdengar suara dari kamar ini. Kupikir terjadi sesuatu padamu, makanya aku bangun. Dan... ternyata ada Febbi di sini.”
Kata-kata itu menyiratkan tuduhan, tapi Fran mencoba mengalihkan. “Sudah mau tidur lagi?”
“Maksudmu?”  
“Aku sulit tidur sejak tadi.” Fran mendesah. Duduk di kursi yang satunya lagi. jaraknya hanya beberapa jengkal dari Quida. Ia tampak mendesah dalam gairah, menunjukkan kedaan dirinya yang birahi tinggi.
“Biasanya aku nggak begini.” lanjut Fran. “Kalau badan sudah capek semua, biasanya aku langsung tertidur nyenyak. Tapi entah kenapa malam ini nggak begitu. Udara pun terasa agak gerah, padahal AC sudah kusetel dingin.”
“Kamu butuh teman untuk menunggu kantuk tiba?” tanya Quida tersenyum.
Fran menatapnya dengan berseri-seri. “Aku tidak memaksamu untuk menemaniku. Kau boleh segera balik ke kamar kalau kau merasa lelah.”
“Kurasa masih bisa nanti-nanti saja. Aku nggak terlalu letih.”
“Bukankah kau melakukan perjalanan yang melelahkan? Pelarian?”
“Hmm,” Quida tertawa pendek dan kecil. “Kau belum tahu jenis pelarianku, tentunya.”
“Mungkin sekarang kau mau menjelaskan semuanya?”
“Darimana aku harus mengawali?”
“Tempat tinggalmu, misalnya. Atau asalmu dari mana?”
“Aku dari...” Quida berkerut dahi. Sepertinya sangat sulit untuk menjelaskan asal-usulnya. Ia mencoba mengingat-ingat sampai kerutan dahinya menjadi semakin tajam. Ternyata daya ingatnya masih kurang kuat, sehingga belum juga menjelaskan apa yang diinginkan oleh Fran.
“Kau lahir di mana?” Fran membantu.
“Aku... lahir... di... di... diii...” suara Quida lirih memanjang. Matanya memejam, mencoba mengingat-ingat. Namun sampai beberapa saat lamanya ia belum melanjutkan kata-kata.
“Mengapa sulit sekali kau menyebutkannya, Qui?”
“Aku harus mengingat-ingatnya dulu. Hmm-mmmmm...”
Quida semakin memejamkan mata dengan dahi tetap berkerut. Kedua alisnya yang lebat tapi tertata indah itu seperti ingin bertemu di atas hidungnya. Semakin kuat ia mengingat, semakin sesak napasnya. Helaan napas itu tampak begitu berat. Bahkan kini ia tersengal-sengal. Bongkahan payudaranya yang besar terlihat naik turun menggiurkan. Mulutnya mencoba mencari kelonggaran dalam bernapas. Menyiksa sekali nampaknya. Fran jadi sangat suka sekaligus sangat kasihan, sehingga bermaksud membatalkan pertanyaan tadi.
“Begini saja...”
Belum sempat Fran menyelesaikan kata-kata, tiba-tiba Quida terbatuk dalam satu sentakan kuat. Tubuhnya terguncang cukup hebat, bahkan sempat terhuyung-huyung. Akhirnya ia bangkit dan limbung, untung segera berpegangan pada almari yang ada tak jauh darinya.
“Huuhkk... uhuuukh!”
“Hahh? Quida!” Fran setengah terpekik, sangat kaget melihat mulut Quida menyemburkan darah kental. Cukup banyak darah yang dimuntahkan, bahkan hingga menggenang di lantai di mana Quida berdiri.
“Qui...!! Oh, kenapa kau?!” 
“Uhughk...” Darah menyembur lagi dari mulut Quida. Gadis itu berada dalam dekapan Fran. Separuh kaki Fran ikut basah oleh darah. Kali ini yang disemburkan Quida adalag darah segar, tak sekental darah pertama tadi.
“Berbaringlah. Berbaringlah dulu di sini, Qui.” Fran membawanya ke ranjang, ia sangat panik melihat keanehan itu. Keadaan Quida seperti mau pingsan, wajahnya pucat pasi mirip selembar kertas. Tentu saja Fran semakin ketakutan. Badan gadis itu sangat dingin, Fran seperti memeluk sebongkah balok es.
“Qui, Quida! Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi begini?!”
Quida masih bernapas. Napasnya sangat cepat, seperti orang habis berlari jauh. Ia berusaha bicara dengan keadaan sebisanya. “Mungkin... mungkin belum waktunya... aku mengingat darimana... usulku... Aku belum sanggup.... menjelaskannya... Uhuukgh!”
“Oke, oke. Lupakan saja, Qui. Lupakan pertanyaanku tadi kalau memang itu penyebabnya. Tenanglah, jangan berpikir apa-apa lagi, Qui.”
Dalam kepanikan itu Fran masih sempat bertanya dalam hati: ‘Mengapa Quida harus memuntahkan darah sebanyak itu, sementara sebelumnya tampak sehat-sehat saja?’ Jika benar gara-gara mengingat tentang asal-usulnya, sungguh aneh dan misterius sekali. Baru sekarang Fran melihat seseorang yang harus menderita seperti itu hanya karena mencoba mengingat-ingat jati dirinya.
“Rasa-rasanya itu tak mungkin,” pikir Fran. “Pasti ada sesuatu yang dirahasiakan olehnya. Penyakit, misalnya. Punya penyakit apa gadis secantik dia kok sampai begitu parah tiba-tiba sih?”
Fran menjadi semakin penasaran, namun ia juga merasa harus hati-hati sekali dalam memburu rasa ingin tahunya itu.
  
***

Makan pagi pukul delapan, itu sudah menjadi kebiasaan rutin Fran. Hanya apabila ia harus lebih awal datang ke kantor atau ke persidangan, maka kadang ia tidak sempat menikmati sarapan. Kadang pula makan pagi itu dilakukan sendirian, tanpa Febbi yang sudah harus pergi ke kampus sebelum pukul delapan. Tapi lebih sering dinikmati berdua dengan adik tercintanya. Hanya saja kali ini Fran justru tidak menikmati makan pagi bersama Febbi. Sebagai penggantinya adalah Quida, yang pagi ini sudah tampak sehat dan segar seperti sebelum mengalami muntah darah tadi malam.
“Kemana adikmu? Mengapa tidak ikut makan bersama kita?” tanya Quida.
“Motornya sudah nggak ada.” Fran menjawab.
“Maksudmu, motor adikmu dicuri orang?”
Fran tertawa pendek. “Bukan. Maksudku, kalau motornya sudah nggak ada, berarti Febbi sudah berangkat ke kampus atau entah ke mana. Mungkin sebelum aku bangun tadi dia sudah pergi.”
Sambil menikmati hidangan pagi, Quida sempat berkata kepada Fran mengenai sesuatu yang sebenarnya membuat Fran menjadi cemas, tapi juga menjadi sedikit kesal. Quida bicara tentang sesuatu yang bersifat gaib, sementara Fran kurang berminat dengan topik seperti itu. namun sebagai sahabat baru dan demi menjaga etika, mau tak mau Fran berlagak menanggapi pula.
“Sebenarnya yang tinggal di sini bukan hanya kalian bertiga.” kata Quida.
“Maksudmu, berempat dengan dirimu?” Fran melirik gadis itu, tapi Quida menggeleng samar.
“Tidak termasuk diriku. Kalian di sini tinggal berlima.”
“Berlima?” Fran tertawa kalem. “Berlima bagaimana? Kan jelas; Febbi, mak Jumi, dan aku. Cuma tiga orang.”
“Lalu, siapa perempuan yang sering keluar masuk di kamarku itu?” tanya Quida.
“Ah, ada-ada saja kau ini,”
“Badannya agak gemuk. Rambutnya sudah beruban. Kusangka di bibimu. Setelah kutanya, ternyata bukan.” Quida menjelaskan.
Fran menanggapi dengan senyum geli. Ia menganggap kata-kata Quida sebagai sebuah lelucon biasa.
“Kutanya berkali-kali tapi dia tak mau mengaku siapa dirinya dan kaitannya dengan pihak keluargamu.” tambah Quida lagi.
“Kau serius?” Fran melirik agak curiga.
“Tentu saja aku serius. Aku juga melihat seorang lelaki jangkung berbadan kurus dengan mata yang dingin, naik turun tangga. Semalam aku melihatnya, kutegur dia, tapi diam saja. Ia berpakaian seperti pelayan kaum bangsawan.”
Kali ini Fran sengaja memandangi Quida saat gadis itu bicara. Tampak serius sekali sikap Quida dalam bicara, membuat Fran semakin curiga dan was-was. Ia mencoba untuk tidak mempercayai kata-kata itu, tapi hati kecilnya sulit diajak untuk bekerjasama. Fran justru berdebar-debar walau terasa sama-samar, namun itu cukup membuatnya menjadi serius menanggapi apapun yang dikatakan Quida.
“Menurutmu, mereka berdua itu siapa?” Fran bertanya.
“Kalau memang bukan sanak saudaramu, maka jelaslah mereka itu bukan berasal dari alam ini.” Quida menjawab kalem.
“A-apa?!” Fran tercekat.
Quida menatap dengan lembut dan teduh. “Mereka dari dimensi lain. Sepertinya mereka sudah lebih dulu tinggal di sini ketimbang kalian bertiga.”
“M-maksudmu... m-mereka itu... hantu?”
Quida sentakkan kedua pundaknya. “Mungkin. Tapi yang jelas mereka bukan roh jahat. Mereka ingin tinggal bersama kalian. Mereka tidak keberatan kalian ada di sini. Tapi mereka juga jelas tak mau diganggu oleh kalian, apalagi diusir. Mereka akan melawan!”
Cukup sulit bagi Fran untuk menerima kenyataan itu. Tapi agaknya tatapan mata Quida mengandung sesuatu yang membuat Fran sulit menyangkal keterangan tersebut. Tatapan mata lembut itu seolah-olah mempunyai pengaruh kuat dalam merubah pendirian hati Fran. Maka tak heran jika saat itu Fran merasa merinding walau hanya di  bagian kedua lengannya saja.
“Apa benar rumahku ini dihuni oleh makhluk lain?” pikirnya dengan sedih. “Kusangka rumah ini penuh kedamaian dan bebas dari pengaruh gaib. Tapi ternyata justru sebaliknya. Hmm, apa benar Quida bisa melihat dunia lain? Aku masih sangsi dengan kemampuan supranaturalnya itu. Tapi kenapa hati kecilku seolah-olah didesak untuk mempercayai kemampuannya? Aneh sekali perasaanku pagi ini.”
Quida melirik sambil tersenyum kecil. Senyum itu sangat misterius bagi Fran. Sepertinya Quida bisa membaca pikiran Fran saat ini. Maka buru-buru Fran tidak melanjutkan kecamuk dalam benaknya. Ia mencoba untuk berpikir tentang kecantikan Quida.
Misteri itu ingin dipendamnya dalam hati, tetapi mulut Fran sulit mengunci pernyataan Quida. Di kantor, dia bicara kepada Handre tentang apa yang dilihat Quida soal dua roh di rumahnya. Bahkan kejadian di kamarnya pun diceritakan di depan rekan dekatnya itu, sehingga Handre semakin tampak tegang membayangkan darah yang dimuntahkan dari mulut Quida.
“Aku yakin, itu bukan penyakit sembarangan, Fran. Quida memiliki sesuatu yang sangat misterius. Dan kayaknya... sesuatu yang misterius itulah yang membuatnya muntah darah apabila ia mengerahkan energi secara berlebihan. Misalnya, mengingat sesuatu yang sulit diingatnya. Apakah ia jelaskan hal seperti itu saat kau berhasil memulihkan kondisinya?”
“Nggak. Cuma, ada kata-katanya yang mengarah ke analisamu itu. Dia bilang, mungkin belum waktunya dia mengingat asal-usulnya. Dia juga bilang, bahwa dia belum sanggup mengingat hal itu.”
“Nah, benar kan?! Tapi masalahnya sekarang, mengapa dia harus mengalami kejadian seperti itu kalau cuman untuk mengingat sesuatu? Pendarahan otak? Nggak mungkin deh kayaknya. Aku yakin, pasti sesuatu yang bersifat magis yang telah membuatnya menderita begitu.”
“Apa kamu nggak punya pendapat yang lebih logis lagi selain hal-hal yang berkaitan dengan magik?”
Handre jelas-jelas menggeleng. “Dia bukan gadis biasa. Dari pertama sudah kubilang, dia bukan gadis sembarangan. Kamu harus hati-hati. Dan, kalau perlu... jauhi dia.”
“Jauhi?”
“Dia dapat mengancam keselamatanmu, Fran.”
“Aku nggak sependapat denganmu.”
“Bukankah kamu sendiri sudah melihat beberapa keganjilannya?”
“Memang. Tapi... kurasa itu bukan keganjilan tanpa alasan ilmiah. Pasti ada analisa yang belum kudapatkan dari keganjilan itu.”
“Kau sendiri bilang, beberapa jam yang lalu adikmu menelepon dan mengatakan tentang suara aneh yang didengarnya dari kamar Quida. Suara aneh itu juga merupakan bagian dari misteri keganjilannya kan? Bisa-bisa dia menjadi biang bencana bagi dirimu dan adik perempuanmu, Fran.”
Napas panjang ditariknya, Fran bimbang terhadap pendapat rekannya itu. terbayang jelas di benaknya seraut wajah cantik yang sangat ia kagumi. Alangkah sayangnya jika harus ditinggalkan atau dijauhi. Bahkan untuk mengusir Quida pun hati kecil Fran bilang, tak sanggup!
“Dia bisa melihat roh yang tinggal di rumahmu. Itu bukan pekerjaan manusia biasa, Fran!” tambah Handre. “Sekarang begini saja, kalau kamu mau lebih jelas lagi mengetahui tentang dirinya, pergilah ke seorang paranormal. Bagaimana? Aku bisa mengantarmu ke seorang kenalanku.”
Fran diam, mempertimbangkan saran Handre. Sementara itu, Handre tampak penasaran sekali. Ia ingin agar Fran setuju dengan usulnya tadi. Ia menunggu dengan gelisah.
Ternyata bukan hanya Handre yang gelisah dan penasaran kepada Quida. Ada pihak lain yang serupa dengan Handre. Dialah Salza.
Rupanya hari itu Febbi tidak pergi ke kampus, ia sengaja pergi ke rumah kontrakan Salza. Semalam ia tak dapat tidur lantaran kejadian aneh yang dialaminya. Ia ingin segera mengungkapkan keanehan tersebut kepada Salza, sehingga pagi-pagi sekali ia sudah sampai di kediaman Salza.
Sesampainya di depan pintu, Febbi segera meraih telepon selulernya. “Za, aku ada di depan nih, ada perlu sama kamu.” dia berkata.
“Eh, a-apa... ah, i-iya. Tunggu sebentar...”
Telepon pun terputus, dan tak lama pintu rumah terbuka. Tapi bukan Salza yang keluar, melainkan seorang pria gendut yang tak dikenal oleh Febbi. “M-maaf, Oom. Saya mencari Salza.”
“Oh, dia ada di dalam. Masuk aja,” Pria itu menyingkir, memberi jalan bagi Febbi untuk melangkahkan kaki.
Dalam hati Febbi bertanya-tanya, siapa pria itu?
“Dia Oom-ku, adik Papa yang kebetulan singgah ke kota ini,” jawab Salza menjelaskan begitu mereka duduk berdua.
Si Oom menjabat tangan Febbi, “Heryadi,” Laki-laki itu tersenyum dan kemudian Andre menghilang bersamaan dengan pintu kamar yang ditutup.
“Mau ngobrol di sini apa di dalam?” tanya Salza.
“Di dalam aja ah, sekalian rebahan. Badanku capek akibat semalam nggak bisa tidur.”
“Jadi, ada kabar apa nih?” tanya Salza begitu mereka sudah berada di kamar.
Febbi diam sesaat. Suasana hening saat itu, kemudian ia mulai menceritakan apa yang terjadi di rumahnya. Mendengar penjelasan Febbi, Salza menjadi semakin geram terhadap keberadaan Quida di rumah Fran. Rasa penasarannya membuat ia harus memaksa Febbi untuk segera menemui Quida.
“Aku nggak takut buat ngomong apa saja kepada dia, Feb! Udahlah, ntar biar aku aja yang ngomong sama dia. Aku yakin, dia cewek yang nggak beres. Menyesatkan abang kamu!”
“Tapi dia bersikap baik sama aku, Za.”
“Kamu kan belum bisa membedakan mana yang pura-pura dan mana yang nggak. Dia bisa saja berlagak baik sama kamu, tapi sebenarnya dia punya rencana busuk buat kamu dan kak Fran.”
Faktor cemburu lebih dominan menguasai hati Salza, karena itu ia sangat tak sabar ingin segera menemui Quida. Ia akhirnya berhasil memaksa Febbi untuk segera menemui gadis itu sebelum Fran pulang kantor.
“Kamu pulang dulu, nanti aku menyusul. Ada yang harus kukerjakan sebentar.”
Sepeninggal Febbi, Salza segera pergi ke kamar belakang. Tanpa mengetuk pintu, dia nyelonong masuk dan dengan penuh percaya diri berjalan mendekati Heryadi, pria gendut yang menunggunya sambil merokok.
“Hmm, kukira kamu bakal membiarkanku terus sendirian,” Heryadi berkata.
“Aku mana tega? Oom sudah membayar, maka sudah jadi kewajibanku buat menyenangkan Oom.” Sambil berkata, Salza mulai mencopoti ikatan rok pendeknya. “Oom sudah nggak sabar ya?” tanyanya genit.
“Berduaan dengan gadis secantik dirimu, siapapun pasti tak tahan.” jawab laki-laki itu sambil ikut mengendurkan ikat pinggang.
Salza tertawa dan menanggalkan kain hitam semi transparan yang ia pakai, dibiarkannya kain itu jatuh terlepas ke bawah. Jantung Heryadi bagai terhenti seketika saat melihat bagian tubuh si gadis yang teramat sempurna. Rupanya, di balik baju itu, Salza sudah tidak mengenakan apa-apa lagi hingga payudaranya yang besar dan putih mulus terpampang dengan jelas di matanya.
“Ohh,” Dia terbelalak dengan mulut menganga lebar.
Belum reda kekagetannya, Salza sudah memberinya kejutan lain. Sambil berjalan mendekati dirinya, gadis itu mencopot celana dalamnya dan berdiri tepat di depan Heryadi. Salza seperti ingin memamerkan vaginanya yang indah, yang terpampang dengan jelas, dengan sejumput bulu-bulu halus menghias di bagian atas.
Salza mengamati dengan puas ekspresi kagum Heryadi yang terduduk melongo di depannya. Dengan tetap tersenyum manis, gadis itu menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.
Kembali Heryadi mendapat pemandangan baru saat dua payudara Salza turun secara perlahan, dua buah dada putih mulus yang begitu besar dengan puting mungil yang tegak menantang. Sungguh benda yang teramat menggiurkan, membuat dia harus kuat menahan diri agar tidak langsung menyambar dan melumatnya.
Sambil tersenyum manis, Salza duduk di pangkuan si lelaki. Tangannya melingkar ke leher Heryadi, sementara mata mereka saling bertatapan. Perlahan, gadis itu mendekatkan mukanya dan menempelkan bibirnya yang tipis ke telinga Heryadi.
“Nikmati tubuhku, Oom. Aku yakin Oom nggak akan kecewa,” bisik Salza lirih.
Dua buah dada gadis itu menempel ketat ke dada si lelaki. Lidahnya yang basah kini menyapu telinga pria itu. Ciumannya merambat, mulai dari telinga menuju leher, lalu terus turun hingga ke dada Heryadi. Dengan lincahnya, lidah Salza menari di atas puting susu laki-laki itu.
”Oughhh,” Heryadi mendesis, tubuhnya bagai tersengat listrik ribuan volt.
Setelah puas bermain di dada, ciuman Salza merambat kembali ke atas. Dipagutnya bibir hitam si lelaki dengan buas. Heryadi menyambut ciuman itu dan segera membalasnya dengan tak kalah ganas. Salza mengulurkan tangannya ke bawah, digenggamnya batang penis Heryadi yang telah berdiri tegang. Ukurannya tidak mengecewakan. Tampaknya pagi ini dia akan terpuaskan.
Tangan Salza mulai bergerak lembut memberikan kocokan-kocokan pelan yang membangkitkan gairah, membuat si pria jadi semakin ganas membalas ciumannya. Mengangkangkan kakinya lebar-lebar, dia membimbing batang itu, mengarahkannya tepat ke bibir vagina. Memajukan sedikit pantatnya, kepala penis itu pun melesak masuk menusuk.
”Oougghhhhhhh...” keduanya sama-sama melenguh sambil terus berciuman.
Berpegangan pada pundak kekar Heryadi, Salza pun segera menggoyang pantatnya, dia naik turun dengan gerakan teratur. Awalnya pelan, tapi lama-lama menjadi semakin cepat. Kemudian lebih cepat lagi. Dan terus semakin kencang sambil tidak melepaskan pagutannya di bibir pria itu. Payudaranya yang besar terlontar-lontar ke sana-kemari. Heryadi segera menangkap dan meringkusnya dalam remasan-remasan kuat yang menyakitkan.
Gerakan Salza kini semakin tak beraturan. Kadang kencang, kadang juga pelan. Cengkeraman vaginanya terasa semakin ketat dan kuat. Benda itu juga terus berdenyut-denyut, membuat Heryadi jadi merem melek keenakan. Dia sudah akan menggeram saat gadis di depannya mendahului sambil menghempaskan pantatnya dengan kuat.
”Ouw!” pekik Heryadi saat merasakan penisnya tertanam dalam-dalam, bahkan sampai ke mentok ke pangkalnya.
Tubuh Salza melenting ke belakang dengan diiringi jeritan panjang yang memilukan, ”AARRGGGHHHHHHHHH...” dia pun orgasme.
Heryadi segera menangkap tubuh mulus itu dan memeluknya erat-erat. Mulutnya menuju payudara Salza yang membusung indah dan segera melumat kedua putingnya yang mungil kemerahan. Di bawah, tepat di ujung penis, ia masih merasakan sentakan-sentakan kecil sisa orgasme gadis itu.
Masih terus menyusu, didengarnya Salza berbisik. ”Oom hebat, bisa mengantarku  ke puncak kenikmatan hanya dalam satu kali serangan.”
Heryadi tersenyum, tanpa melepaskan penisnya dari vagina sang gadis, dia membaringkan tubuh mulus Salza di ranjang dan menindihnya. ”Sekarang giliranku!” seringainya sambil kembali menetek di kedua puting susu sang gadis. Sementara di bawah, penisnya juga kembali bergerak, memompa kemaluan Salza yang terasa sudah begitu basah dan panas.
“Ohhhhhh... memekku rasanya terbakar, Oom.” ceracau gadis itu sambil kedua tangannya menarik-narik pantat Heryadi, seakan membantu untuk mendorong lebih dalam lagi.
Dengan raut muka menahan nafsu, laki-laki itu terus menggerakkan pinggulnya maju mundur. Dia melakukannya dengan kuat dan cepat hingga penisnya menusuk sangat dalam. Bunyi plak-plok plak-plok terus terdengar di setiap hempasannya.
”Aahhhhhhhhhhhssss...” Heryadi mulai mendesis. Dia mulai mendekati puncak. Denyutan di pangkal penisnya terasa semakin kuat. Apalagi sekarang vagina Salza ikut mencengkeram dan meremas-remas dengan denyut rendah yang tak beraturan. Membuatnya jadi semakin tak tahan.
Dia mengangkat muka manis Salza dan melumat bibirnya dengan rakus. Sambil meremas-remas buah dada gadis itu, dia pun menggeram. ”Aarrgghhhhhhhhhh…!!!”
Laki-laki itu menghunjamkan penisnya sekuat tenaga dan  dengan mata terpejam rapat, dia meledak. Seiring tiap denyutan penisnya, spermanya menyembur memenuhi liang vagina Salza yang terasa sudah begitu penuh.
Di saat yang bersamaan, Salza juga kembali menggapai puncaknya. Meski tidak sedahsyat yang pertama, tapi cukup untuk membuat gadis cantik berdada besar itu merem melek keenakan.
Kelelahan, kedua orang itu berbaring bersisian sambil berpelukan. Mereka sama-sama puas. Ingin Salza melanjutkan persetubuhan itu agar mendapat imbalan lebih besar lagi dari Heryadi, pria kaya yang telah membeli tubuhnya, tapi ia teringat janji dengan Febbi. Maka lekas ia menyingkir dan menjanjikan janji temu dengan Heryadi di lain hari.
Sekarang Salza harus menemui Quida.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar