Jumat, 28 Juli 2017

Pulau Dosa 2



CHAPTER 04 : WELCOME TO PULAU DOSA

Edi adalah orang terakhir yang memasuki ruang tengah kapal Noda Dosa pagi itu. Pemuda beramut ombak itu menggosok-gosok matanya sebelum mengambil piring yang telah disediakan di sudut ruangan.
“Jadi kalian sudah melihat rekamannya?” Aryosh yang baru saja menyelesaikan sarapannya bertanya kepada Enyas.
“Kita sedang makan, Yosh,” Asri memandang kesal ke arah Aryosh. Gadis itu merasa sedikit mual saat Aryosh menyebut tentang rekaman yang mereka terima di kamar masing-masing.
“Ada gambaran, Nyas?” Aryosh bertanya lagi, mengabaikan Asri yang melotot ke arahnya.
“Masih samar,” jawab Enyas sambil meletakkan sendok dan garpunya. “Kita masih butuh banyak sekali petunjuk.”

“Setidaknya ada satu tugas yang mudah, kan?” Nurul yang berada di meja lain ikut menanggapi pembicaraan. “Yah, setidaknya aku sudah menyelesaikan tugas pertamaku,” gadis itu terlihat bersemangat.
Dalam sekejap, seluruh mata yang ada dalam ruangan memandang ke arah Nurul, tak terkecuali Rio yang baru saja hendak membakar rokok di tangannya.
“Lho? Kenapa?” Nurul tampak bingung dengan sikap ketujuh rekannya.
“Kau menyelesaikan tugas pertamamu?” Enyas berpaling menghadap ke arah Nurul. “Bagaimana bisa?” tanyanya kemudian.
“Lho? Tugas pertama kan sangat mudah?” Nurul mengernyitkan alisnya, berusaha memahami keheranan yang muncul di wajah rekan-rekannya. “Tugas pertama kan hanya menulis nama rekan-rekan sesama detektif? Tinggal menuliskan nama kalian semua, kan?”.
Enyas tertawa mendengar jawaban Nurul yang tampak benar-benar polos. Aryosh menggeleng-gelengkan kepalanya, Asri, Via, Devisha dan Edi ikut menertawakan Nurul. Rio hanya tersenyum sinis sambil membakar rokoknya.
“Kenapa tertawa?” wajah cantik Nurul terlihat cemberut. Gadis itu tampaknya belum mengerti apa yang menyebabkan rekan-rekannya menertawakannya.
“Ada berapa jumlah kita, Rul?” kali ini Devisha yang bicara. Nurul melihat ke sekitarnya dan mulai menghitung satu-persatu.
“Delapan termasuk aku,” jawab Nurul kemudian.
“Dan kau ingat apa yang diucapkan Kapolri Komang Mahendra di awal rekaman?” Devisha bertanya sekali lagi. Nurul menggeleng.
“Dan kami mengumpulkan kalian semua pada pelatihan ini, tujuh detektif muda kepolisian,” Devisha mengulangi ucapan Komang Mahendra di awal rekaman.
“Tujuh? Artinya?” Nurul baru menyadari apa yang ia lewatkan.
“Ya,” ujar Enyas. “Jumlah kita delapan orang, dan hanya ada tujuh diantara kita yang benar-benar Detektif. Artinya ada satu nama yang harusnya tidak kita tulis dalam tugas pertama kita.”
“Kita semua mengikuti uji seleksi bersama kan? Kecuali satu... Rio,” Nurul memandang ke arah Rio yang tampaknya sudah menduga percakapan ini akan terjadi. “Rio yang bukan detektif.”
“Belum tentu juga,” Asri menanggapi, gadis itu tampak tidak setuju dengan hipotesa yang diambil oleh nurul. “Dari kita bertujuh yang ikut dalam seleksi, hanya Enyas yang hasilnya jelas-jelas diumumkan bahwa ia lulus. Selebihnya, termasuk aku sendiri, menerima pemberitahuan itu lewat surat ke alamat masing-masing.”
“Berarti yang tidak memiliki surat adalah satu orang yang dimaksud,” Nurul kembali melontarkan sebuah hipotesa.
Asri mengangkat kedua telapak tangannya, “harusnya begitu, tapi jujur saja, aku tidak membawa suratku.”
“Aku juga,” jawab Aryosh kemudian. “Siapa yang sangka kita butuh surat itu,”
“Apa kalian pikir aku membawanya?” Enyas menyatakan bahwa ia juga tidak membawa surat yang dimaksud. “Devisha, Nurul, Via, Edi, apa kalian berempat membawa surat kalian?”
Edi dan Via menggeleng, sedang Devisha dan Nurul mengangguk.
“Jadi hanya kalian berdua yang membawanya.” ujar Enyas kemudian.
“Tapi.... menurutku bagaimanapun Rio lah yang paling mencurigakan,” Nurul terus berusaha memojokkan Rio.
Senyum sinis kembali muncul di sudut bibir Rio yang kini lebih memilih untuk menikmati rokoknya ketimbang menanggapi ucapan Nurul.
“Oh, aku tidak akan mengambil kesimpulan secepat itu,” Via menimpali. “Aku sih akan melihat petunjuk yang akan diberikan dulu sebelum mengambil kesimpulan.”
“Petunjuk apa?” Aryosh bertanya pada Via. “Bagaimana kau bisa tahu kita akan dapat petunjuk?”
“Semalam aku bicara dengan Pak Agil, bukankah sebagai detektif kita harus pandai mencari informasi?” jawab Via sebelum menenggak habis segelas air putih di hadapannya. Sesaat setelah Via menyelesaikan ucapannya, Rio dan Edi beradu pandang, saat ini hanya merekalah yang tahu apa yang dimaksud ‘bicara’ oleh Via. Rupanya Via sempat mengambil keuntungan dari apa yang ia lakukan semalam.
Pembicaraan mereka terhenti saat Pak Agil dan istrinya, Mila, memasuki ruang tengah. Mereka berdua membawa sebuah kotak kardus berukuran sedang dengan logo Tri Brata di keempat sisi kardus tersebut.
“Oke, aku minta perhatiannya,” ucap Pak Agil sambil menepukkan kedua tangannya. Perhatian kedelapan peserta pelatihan secara otomatis tertuju pada pria tua itu.
Pak Agil mengeluarkan sebuah VCD Player Portable seperti yang diterima para peserta di kamar mereka masing-masing. Setelah meletakkannya sedemikian rupa, Pak Agil menyalakan player tersebut. Kembali, logo Tri Brata muncul di layar, diikuti tampilnya Kapolri Komang Mahendra.
“Selamat pagi, Detektif,” sapa Kapolri Komang Mahendra sambil tersenyum. “Aku rasa kalian semua sudah menangkap kesulitan yang aku berikan dalam tugas pertama kalian. Ya, satu dari kalian tidak termasuk detektif kepolisian. Menyenangkan bukan? Saat insting detektif kalian diminta untuk menerka-nerka siapa sebenarnya satu dari kalian yang bukan detektif?”
Seisi ruangan tampak serius memperhatikan apa yang diucapkan oleh Komang Mahendra, kecuali satu orang, Rio tampak lebih memilih untuk menikmati rokoknya yang kini mengepulkan asap putih.
“Tiga hari yang lalu aku beserta tim pergi ke Pulau Dosa untuk mempersiapkan semuanya. Memastikan bahwa unsur-unsur utama penunjang kehidupan seperti air dan listrik di pulau itu dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dan pada kesempatan itu, kami menyebar petunjuk-petunjuk yang bisa kalian gunakan untuk menyelesaikan tugas pertama kalian, menemukan siapa diantara kalian yang bukan bagian dari kepolisian,” Kapolri melanjutkan lagi ucapannya.
Rio mematikan rokoknya dan bergabung bersama yang lain, mencoba menangkap petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Kapolri yang tak lain adalah ayah angkatnya sendiri.
“Kami menyiapkan tujuh petunjuk yang ditulis di atas kertas berlogo Tri Brata seperti ini,” Komang Mahendra menunjukkan sebuah kertas berukuran A4 dengan logo Tri Brata tercetak di atasnya. “Masing-masing kertas mewakili satu huruf. Petunjuk pertama akan diberikan begitu saja kepada orang yang pertama kali naik ke atas kapal Noda Dosa, dan enam lainnya telah disebar ke seisi pulau. Kalian boleh bekerja sama, saling bertukar informasi, atau menyimpan sendiri petunjuk yang kalian temukan, itu semua terserah pada diri kalian masing-masing.”
Kapolri Komang Mahendra menghentikan ucapannya untuk sejenak, sebelum menunjukkan sebuah kertas dengan gambar di atasnya, gambar itu terlihat semacam sebuah peta.
“Masing-masing dari kalian akan menerima sebuah peta seperti ini,” ucap Kapolri. “Ini adalah peta Pulau Dosa. Kalian punya tiga hari sebelum kapal Noda Dosa kembali menjemput kalian. Manfaatkanlah waktu kalian sebaik-baiknya, kalian tidak boleh bertukar kamar. Dan sebagai catatan, kami tidak menempatkan petugas atau orang lain di pulau tersebut, kalian harus berusaha sendiri. Semoga sukses, Detektif.”
Layar kembali menunjukkan lambang Tri Brata, sebelum benar-benar padam. Pak Agil membagikan lembaran kertas yang merupakan peta dari Pulau Dosa. Selesai membagikan peta tersebut, Pak Tua itu memanggil Rio dan menyerahkan secarik kertas berlambang Tri Brata dengan nomor ‘1’ tertera di punggung kertas tersebut.
Rio membuka lipatan kertas tersebut dan memperhatikan isinya, ada tujuh lingkaran tergambar berjajar di kertas tersebut, enam dari lingkaran itu berwarna merah, satu di antaranya berwarna biru. Dua lingkaran pertama dari kiri adalah lingkaran berwarna merah yang terisi penuh, lingkaran ketiga dan ketujuh masih berwarna merah namun hanya terisi setengah penuh. Lingkaran keempat dan kelima adalah lingkaran merah yang penuh, sama seperti lingkaran pertama dan kedua. Sedang lingkaran keenam adalah lingkaran penuh berwarna biru, satu-satunya lingkaran yang berwarna biru.
Rio memperhatikan gambar di bawah tujuh lingkaran tersebut. Tepat di bawah ketujuh lingkaran tersebut tergambar angka dua, diikuti gambar pangkat melati satu yang biasa digunakan oleh kepolisian. Rio mengenali lambang tersebut sebagai lambang yang digunakan untuk menandai pangkat Komisaris Polisi.
Semua mata saat ini memandang ke arah Rio yang sedang membaca apa yang tertulis di dalamnya. Seisi ruangan saat itu tampak sangat penasaran dengan petunjuk yang didapatkan oleh Rio. Seolah sadar dengan hal itu, Rio beranjak dari kursinya dan melangkah ke luar ruangan, setelah meletakkan kertas berisi petunjuk begitu saja. Senyum terkembang di wajah pemuda itu, senyum yang menunjukkan bahwa ia telah berhasil memecahkan sandi yang tertulis dalam petunjuk pertama.
Tepat setelah Rio meninggalkan kertasnya, Tujuh orang yang tersisa mendekat ke arah kertas tersebut untuk melihat apa isi dari petunjuk pertama. Beberapa menit kemudian, mereka tampak bingung, Enyas mengambil buku catatannya dan meggambar ulang gambar yang ada di petunjuk pertama. Detektif yang mendapat nilai tertinggi dalam uji seleksi itu lalu kembali ke bangkunya, mencoba memecahkan apa yang tertulis pada petunjuk pertama. Senyum yang hampir mirip dengan yang muncul di raut wajah Rio, tergambar di wajah Enyas beberapa menit kemudian.
“Kau bisa? Enyas?” tanya Edi yang jelas-jelas terlihat kesulitan memecahkan sandi tersebut.
“Petunjuk itu masih belum menunjukkan apa-apa,” jawab Enyas kemudian. “Tapi setidaknya aku tahu apa yang ada di dalam petunjuk tersebut.”
“Beri aku petunjuk,” Edi mendekat ke arah Enyas dan berbisik meminta bantuan.
“Kau meminta petunjuk untuk memecahkan sebuah petunjuk?” Enyas menyindirnya. “Sekali-sekali tunjukkan kalau kau memang detektif, Detektif Edi.”
Edi mendengus kesal, “kau jadi semakin sombong,” keluhnya. “Sebentar lagi mungkin kau jadi sama sombongnya seperti anak emas itu.”
Enyas hanya tersenyum menanggapi ucapan Edi.

***

Cuaca cukup cerah saat kapal Noda Dosa merapat di dermaga Pulau Dosa. Via sibuk memperhatikan petanya, memperhatikan keterangan-keterangan tempat yang tertulis di atas peta tersebut.
“Jadi kita harus jalan kaki ke penginapan?” wajah Nurul tampak cemberut saat mengetahui jarak antara penginapan dengan dermaga yang terlihat cukup jauh.
“Tidak sampai satu kilometer kok,” jawab Pak Agil yang sedang sibuk menurunkan beberapa kotak kayu. Ganjar, putra Pak Agil mendorong sebuah trolli dan membantu Ayahnya mengangkat kotak-kotak kayu tersebut ke atas trolli. “Nah, yang ada di dalam kotak ini adalah bahan makanan dan minuman untuk bekal kalian selama tiga hari di pulau ini. Sampai jumpa tiga hari lagi.”
Rio menyapukan pandangannya ke sekitar, tampak seolah mencari sesuatu.
“Ada apa?” tanya Ganjar pada Rio.
“Eh, aku mencari Nenekmu, katanya beliau akan tinggal di pulau ini juga bersama kami?” Rio menjelaskan sosok Nenek yang ia cari.
“Oh, Nenek sudah turun lebih dulu,” jawab Ganjar. “Jadi kakak yang semalam bertemu dengan Nenek? Nenek cerita tentang Kakak, kata beliau kakak orangnya sopan sekali.”
Rio tersenyum mendengar apa yang diceritakan oleh Ganjar. “Nenekmu orang yang ramah.”
“Ayo cowok-cowok yang membawa barang-barang ini,” Asri berkata setengah berteriak, mencoba mengalahkan angin laut yang berhembus cukup kencang di dermaga.
“Kenapa harus cowok?” Edi protes. “Bukankah sekarang jamannya emansipasi? Dimana kaum feminis yang mati-matian mengatakan cowok dan cewek itu sama saja?”
“Yee, itu kan dalam artian yang berbeda,” Nurul mendukung Asri.
“Dasar cewek, maunya yang enak-enak saja, giliran yang berat dikembalikan ke cowok,” Edi meneruskan protesnya.
“Heh, kalau kamu laki-laki, kamu akan lebih sedikit bicara, seperti Aryosh tuh,” Via menunjuk ke arah Aryosh yang kini tengah mendorong trolli berisi kotak-kotak perbekalan mereka. “Cowok kok banyak omong,” Via sempat menyindir Edi sekali lagi.
“Apa kamu bilang? Dasar pela...”
“Sudah, simpan saja tenagamu, detektif,” Enyas menepuk pundak Edi. “Bagaimana kalau membantu membawakan karung beras di belakang? Aku dan Rio membawa masing-masing satu, kalau kau membawa satu juga maka kita tidak perlu kembali ke dermaga sesampainya kita di penginapan.”
Edi menoleh ke arah Rio yang kini memanggul sekarung beras dan berjalan mengikuti jalan setapak tanpa banyak bicara. Enyas juga saat ini tengah memanggul sekarung beras. Akhirnya Edi memutuskan untuk mengangkat sebuah karung yang tersisa.
Mereka berjalan beriringan mengikuti jalan setapak yang merupakan satu-satunya jalan menuju penginapan, mereka melewati pohon-pohon yang cukup rimbun dan asri, pemandangan di sepanjang perjalanan terlihat hijau dengan udara yang terasa cukup menyegarkan.
“Hei, lihat itu,” Asri yang berada paling depan menunjuk ke sebuah papan petunjuk yang ada di persimpangan jalan setapak. Sebuah kertas berlambang Tri Brata terpaku di papan petunjuk tersebut. Asri setengah berlari ke arah kertas tersebut dan dengan hati-hati menarik kertas itu lepas dari paku yang menancapnya.
“Petunjuk lagi?” tanya Devisha dan Nurul yang berlari menyusul Asri. “Apa isinya?”
“Hmm...” Asri membolak-balikkan kertas di tangannya, kertas itu hanya berlambang Tri Brata, tanpa ada sesuatu yang tertulis di dalamnya.
“Kosong...” ujar Asri bingung.
“Apa yang kalian dapat?” Aryosh menghentikan trollinya.
Asri memberikan kertas itu pada Devisha dan Nurul yang kini membolak-balikkan kertas tersebut, sesekali mengarahkan kertas itu ke langit, seolah berharap ada sesuatu yang muncul jika mereka mengarahkan kertas tersebut ke matahari.
“Benar-benar kosong,” gumam Devisha sambil menyodorkan kertas itu ke arah Enyas yang tampak berkeringat.
“Simpan saja dulu, kita pecahkan di penginapan nanti,” jawab Enyas.

***

CHAPTER 05 : THE MANSION

“Masih jauh ya?” keluh Nurul sambil menyeka bulir-bulir keringat di dahinya. Gadis cantik itu tampak kelelahan. Kendati begitu, kecantikan Nurul tetap terlihat.
“Sabar,” ujar Devisha yang berjalan tepat di sebelah Nurul. “Kalau melihat peta ini, kita sudah dekat kok.”
Empat pemuda dan empat pemudi itu melanjutkan langkahnya melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon-pohon rimbun. Para pria yang tengah membawa bekal perlengkapan mereka berjalan dalam diam, tampaknya mereka lebih memilih untuk tidak bicara demi menyimpan tenaga.
“Lihat!!” Via bersorak seraya menunjuk sesuatu di depan mereka. Ujung atap dari sebuah bangunan terlihat diantara rimbunnya pepohonan. “Itu pasti penginapan yang dimaksud!” ujar gadis berambut sebahu itu riang.
Aryosh menegakkan pandangannya ke arah ujung bangunan sebelum mulai mempercepat langkahnya.
“Woow...” Asri tampak kagum akan apa yang dilihatnya sekarang. Mereka sampai ke sebuah taman rumput hijau dengan patung berbentuk kuda jingkrak yang mengeluarkan air. Gemericik air yang keluar membuat suasana terasa hidup, ditambah bunga-bunga yang tumbuh di sekitar kaki patung tersebut.
Bukan taman itu yang membuat Asri berdecak kagum, melainkan apa yang ada setelah taman tersebut. Sebuah bangunan megah bergaya Eropa, dengan empat pilar besar di depan bangunan. Dinding-dinding putihnya tampak sedikit kusam, beberapa tanaman merambat liar di dinding dan pilar-pilar bangunan tersebut. Di lantai dua terlihat jendela-jendela besar berbentuk persegi yang biasa digunakan pada bangunan-bangunan lama. Jendela tersebut berjajar rapi.
“Ini sih bukan penginapan,” Enyas menurunkan karung berisi bahan makanan yang dipanggulnya. “Ini sebuah mansion,” tambahnya seraya menyeka keringat di keningnya.
“Mewah juga ya?” Rio ikut berkomentar.
“Tapi sepertinya menyeramkan,” Via yang saat itu ada di dekat Rio menyahut. “Seperti bangunan mewah yang terabaikan di film-film horror.”
“Kau bisa tidur bersamaku jika merasa takut, Via,” ujar Edi, mencoba meluncurkan Speak Speak Iblis ke gadis tersebut. Via hanya mencibir lalu menjauh.
“Seharusnya kau lihat ronde kedua dari permainan Via semalam, Rio,” Edi menyenggol bahu Rio dengan sikunya. “Luar biasa HOT,” tambahnya.
“Aku pikir lebih baik aku tidak meracuni pikiranku dengan hal semacam itu agar bisa fokus ke pelatihan kali ini,” jawab Rio dingin.
“Oh, ternyata...” sebuah senyum aneh tersungging di bibir Edi sebelum pria itu melangkah menjauh. Entah apa maksud dari senyum Edi.
Rio mengangkat kembali karung yang dibawanya sebelum menyusul ke arah rekan-rekannya yang telah memasuki halaman mansion tersebut.
Kraaak....
Nurul dan Devisha mendorong double door yang merupakan pintu depan mansion. Pintu berukuran besar yang cukup berat itu menimbulkan suara derak ketika dibuka. Sedikit ragu-ragu, Devisha melangkahkan kakinya di atas lantai mansion yang dilapisi marmer berwarna terang.
“Besar sekali...” gumam Devisha melihat sebuah ruangan yang besar dan gelap.
“Kita harus menemukan saklar lampu,” Asri dengan sigap membuka tas ranselnya dan mengambil sebuah senter kecil. Senter itu cukup berguna untuk mencari sesuatu di ruangan yang gelap.
Asri mengarahkan senternya menyapu seisi ruangan, cahaya bulat yang diciptakan senter tersebut bergerak membelah kegelapan ruangan, menyorot dua buah tangga berukuran besar yang ada di sisi kanan dan kiri ruangan, sebuah karpet merah di tengah ruangan dan sebuah piano merah yang terlihat klasik di tengah ruangan. Sepertinya saat ini mereka berada di ruang lobby dari mansion yang dulunya dipergunakan sebagai penginapan ini.
Cahaya senter Asri terus menyapu hingga menemukan panel tombol berwarna putih yang menempel pada dinding di bawah tangga sebelah kanan. Asri menyorot panel tersebut untuk beberapa saat.
“Sepertinya itu tombol lampunya,” ujar Asri seraya melangkah mendekat ke tombol tersebut.
“Hati-hati,” Enyas mengingatkan. Pria itu meletakkan karung yang tadi dipanggulnya lalu bergegas melangkah ke samping Asri. “Biar aku saja,” ujar Enyas dengan sikap yang gentleman.
“Oh, terima kasih,” Asri menyerahkan senternya pada Enyas dan mundur kembali ke arah pintu.
Enyas melangkahkan kakinya ke arah panel tersebut dengan hati-hati, lampu senternya menyorot beberapa pecahan keramik yang berserakan di lantai, beberapa tampak seperti puing-puing pot yang terpecah. Saat Enyas telah berada di depan panel tersebut, ia terdiam sejenak, membaca tulisan yang tercetak di bagian atas tombol-tombol tersebut.
Sebuah senyum muncul di raut wajah Enyas saat menyadari bahwa tombol-tombol di hadapannya memang tombol yang digunakan untuk menyalakan lampu penerangan mansion. Enyas menjulurkan jarinya, menekan sebuah tombol.
‘CTEK!’
Tidak ada yang terjadi. Enyas menekannya sekali lagi.
‘CTEK! CTEK!’
Masih tidak ada yang terjadi.
“Sepertinya mereka tidak berfung...”
‘KLOTAK-KLOTAK-KLOTAK!’
Suara gaduh muncul dari dalam kegelapan ruangan, Enyas mengarahkan senternya ke arah suara dan sempat melihat sekelebat bayangan melompati piano. Rio yang melihat tersebut membuka ranselnya dan mengambil senter miliknya. Rio bergerak maju ke arah piano dengan senter menyala di tangannya, pemuda itu tampak maju tanpa rasa takut sedikit pun.
“Hey! Rio!” Enyas memanggil Rio yang kini berhenti di depan piano, menggerakkan senternya ke arah kaki-kaki piano dan terus ke lantai di bawah piano tersebut. Cahaya senter milik Rio menangkap sebuah gerakan, tidak lama kemudian sekelebat sosok melesat dari kaki piano tersebut berlari dengan empat kakinya ke arah ruangan lain. Rio tersenyum menyadari sosok sebenarnya dari bayangan itu.
“Apa itu, Rio?” Enyas bertanya dari kejauhan.
“Seekor kucing,” jawab Rio sambil tetap memunggungi rekan-rekannya. “Cobalah tombol yang lain, Nyas,” saran Rio kepada Enyas.
‘CTEK!’ terdengar suara Enyas menekan tombol yang lain.
Sudut mata Rio menangkap sesuatu pada kaki piano di hadapannya, Rio berjongkok dan menyorot kaki piano tersebut dengan senternya, sebuah goresan terlihat di kaki piano tersebut, tampak seperti bekas cakaran. Rio meraba kaki piano itu dengan dua jarinya untuk memastikan goresan tersebut.
‘CTEK! CTEK!’ Enyas masih mencoba tombol yang lain.
Rio mendekatkan kepalanya ke arah goresan pada kaki piano, mengamatinya lebih dekat. Dan seketika itulah Rio merasakan sesuatu yang aneh, sebuah hawa dingin yang entah dari mana seolah menyergap tengkuknya, bulu kuduknya terasa merinding. Rio mencoba mengabaikan perasaan aneh yang muncul tiba-tiba itu, sebuah perasaan yang sangat tidak biasa. Rio mengatur nafasnya dan memejamkan matanya.
Saat itulah Rio merasakan hawa dingin yang merindingkan bulu kuduk itu semakin kuat, diikuti dengan perasaan aneh yang menjalari punggungnya. Perasaan di punggungnya itu, sama dengan perasaan yang terasa kala seseorang menatapmu dalam waktu yang cukup lama.
Rio membuka matanya, dia dapat merasakan sesuatu sedang menatapnya dari belakang, dari balkon di lantai dua yang gelap. Perasaan itu terasa semakin kuat, perlahan namun pasti, Rio menoleh ke belakang dalam posisi masih tetap berjongkok.
Rio memandang ke lantai dua di belakangnya, gelap, dan dalam keadaan gelap tersebut, ia melihat sesuatu yang samar, seolah siluet seseorang mengenakan pakaian putih panjang tengah berdiri dan menatap ke arahnya, semakin lama sosok itu tampak semakin jelas, seorang wanita berambut panjang, dengan kulit pucatnya, dengan wajah yang tersamarkan kegelapan mengangkat tangan kirinya perlahan, seolah menunjuk ke arah Rio.
KLAP!!
Tiba-tiba lampu menyala terang, secara reflek, mata Rio berkedip, Rio mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan dengan kondisi terang yang muncul tanpa aba-aba. Setelah beradaptasi, Rio memandang kembali ke arah sosok samar seorang wanita yang tadi menatapnya dari lantai dua. Sosok itu kini tak lagi ada, seolah tak pernah ada di sana.
“Yes! Berhasil!” ujar Enyas yang akhirnya berhasil menyalakan lampu. Rio menatap ke arah Enyas yang kini mendekat ke arahnya.
“Ada apa, Rio?” tanya Enyas. “Kau seperti habis melihat hantu.”
“Hey, lihat, petunjuk ketiga,” Nurul menunjuk secarik kertas dengan logo Tri Brata yang ada di atas piano merah di tengah ruangan. Gadis itu lantas bergegas untuk mengambil kertas tersebut, melewati Rio yang masih tampak bingung.
“Kosong lagi?” tanya Devisha.
“Tidak, yang ini ada isinya. Lihat,” Nurul menunjukkan kertas tersebut pada Devisha.
Devisha mengernyitkan alisnya melihat isi kertas tersebut. Sebuah pesan singkat yang ditulis dalam bahasa inggris ;
IN 4 OUT 4
“Apa maksudnya itu?” tanya Nurul pada Devisha.
“Biar kulihat,” Asri meminta Devisha agar menyerahkan kertas berisi petunjuk tersebut. Devisha menyerahkan kertas tersebut pada Asri. Asri membaca sekilas, membolak-balik kertas tersebut sebelum mnyerahkannya pada para pria.
“Empat di dalam empat di luar,” gumam Devisha setengah berbisik pada Nurul. “Ada empat lelaki di sini dan empat wanita. Kurasa itu ada hubungannya dengan petunjuk kali ini.”
“Jangan bilang kalau kita harus berhubungan badan dengan para lelaki itu,” timpal Nurul.
Devisha memandang heran ke arah Nurul. “Apa hubungannya dengan berhubungan badan?” tanya Devisha heran.
“Ya... kan bisa dikeluarkan di dalam atau di luar?” ujar Nurul dengan wajah tak bersalahnya.
Devisha menepuk keningnya sendiri.
“Sebaiknya kita letakkan barang di kamar masing-masing, sesuai dengan pembagian kamar yang diberikan,” Asri memberi ide.
“Semua kamar ada di lantai dua ya?, kita harus menaiki tangga setelah perjalanan dari dermaga yang cukup melelahkan itu. Bagus sekali,” Via berjalan malas menuju tangga.
“Letakkan saja karung-karung kalian di atas troli, biar kuantarkan ke dapur,” ujar Aryosh pada Enyas, Edi dan Rio.
“Kau tahu dimana dapurnya?” Edi bertanya pada Aryosh, kecurigaan tentang bagaimana Aryosh bisa mengetahui posisi dapur di mansion ini pada kunjungan pertamanya ke tempat ini.
“Tidak,” jawab Aryosh. “Tapi aku rasa tidak sulit mencarinya,” tambahnya sambil menunjuk ke sebuah pintu berwarna putih dengan tulisan ‘KITCHEN’ pada daun pintunya.
“Aku duluan,” Rio melangkah menuju tangga meninggalkan ruang lobby dan nyaris menabrak Aryosh yang tengah mendorong trolinya ke arah dapur. Enyas menatap gerak-gerik Rio yang terlihat aneh baginya.
“Ada apa dengannya?” gumam Enyas sambil berbalik menatap piano merah di dekatnya, mencoba mencari sesuatu yang janggal dari piano tersebut.
“Aku tidak akan dekat-dekat dengan Rio jika aku jadi kau, Enyas,” ujar Edi tiba-tiba.
“Kenapa?” Enyas bertanya.
“Rio itu homo, aku punya dasar mengatakan hal tersebut,” jawab Edi meyakinkan.
“Tidak... aku tidak percaya,” jawab Enyas sambil tersenyum mengejek.
“Oke, aku tanya padamu, apa menurutmu Via adalah gadis yang jelek?” Edi melontarkan sebuah pertanyaan.
“Tidak, Via.. cantik menurutku.”
“Seksi?”
Enyas tidak segera menjawab, ia mencoba menerka-nerka arah pertanyaan yang disampaikan oleh Edi. “Ya... dia seksi.”
“Kalau di depan matamu, Via sedang bersetubuh dengan seorang pria, keduanya sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, dan sangat menggairahkan. Apa kau akan memalingkan wajahmu dan menolak melihatnya?”
“Tidak, tentu saja tidak. Aku akan menikmati apa yang kulihat.”
See?” Edi tersenyum. “Semalam aku dan Rio melihat Via bersetubuh dengan Pak tua pemilik kapal, dan Rio malah memilih pergi.”
“Kau? Apa? Via dengan Pak Agil?” Enyas mengernyitkan alisnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh Edi.
Edi tersenyum dan mengeluarkan ponsel berkameranya. “Aku sempat mengambil beberapa foto,” ujarnya sambil menunjukkan foto-foto yang menunjukkan Via sedang berhubungan badan dengan Pak Agil.
“Oh shit...” gumam Enyas melihat foto-foto di layar ponsel Edi, tampak jelas di sana seorang pria berbadan tegap yang posturnya tampak seperti Pak tua Agil sedang menindih seorang gadis yang tak lain adalah Via. Wajah Via terlihat jelas di foto tersebut, bibir gadis itu setengah terbuka, matanya terpejam. Via terlihat sangat menikmati perlakuan Pak Agil atas tubuh telanjangnya.
“Aku tidak berbohong, Rio malah memilih pergi. Bukankah itu berarti dia seorang homosexual?” Edi menekankan hipotesanya kembali.
Enyas menggeleng dan tersenyum. “Kau tidak bisa menyimpulkan semudah itu, Detektif Edi,” timpal Enyas dengan nada yang sangat tenang. “Kita tidak tahu bagaimana Rio dibesarkan, bagaimana ia menerima ajaran atau pendidikan tentang moral. Dan lagi, dia adalah putra angkat Kapolri, bisa saja ia memutuskan pergi karena ia tidak ingin citranya jadi buruk atau tersangkut masalah nantinya.”
“Aryosh tidak setuju denganmu,” Edi balas menimpali. “Dia sependapat denganku.”
“Terserahlah, aku tidak ingin terlibat dengan hipotesamu itu,” Enyas menolak untuk berdebat. “Yang aku inginkan sekarang adalah kita bertiga, aku, kau dan Rio bekerja sama dalam menyelesaikan tugas ini.”
“Aku tidak akan bekerja sama dengan seorang homosexual,” Edi menolak permintaan Enyas mentah-mentah. “Lagipula bisa saja Rio bukan detektif!”
“Oh, itu tidak mungkin,” ujar Enyas sambil tersenyum. “Aku, Rio dan dirimu sudah pasti detektif. Begitu juga dengan Nurul.”
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” Edi tampak meragukan kebenaran dari apa yang baru saja diucapkan Enyas.
“Satu petunjuk mewakili satu huruf, ingat?” Enyas mendekat ke arah piano merah di tengah ruangan dan membuka penutup tuts piano yang berdebu. “Dan petunjuk pertama menunjukkan bahwa aku, kamu, Rio dan Nurul adalah detektif.”
“Berhenti berbelit-belit, Nyas. Katakan apa yang dimaksud dengan petunjuk pertama.” Edi mulai kehilangan kesabaran.
“Angka dua dan lambang komisaris polisi itu kuncinya,” Enyas meminta Edi mendekat dengan isyarat tangan. Edi bergerak mendekat.
“Apa sebutan lain bagi Kompol? Komisaris Polisi?” tanya Enyas.
“Hmm... sebutan lainnya... Mayor,” jawab Edi.
“Tepat!” Enyas membenarkan jawaban Edi. “Angka dua itu merujuk ke kata ‘Di’. Sama seperti yang digunakan pada istilah dikotil-monokotil.”
“Di dengan mayor... artinya?”
Diatonis Mayor. Apa itu berarti sesuatu bagimu?” senyum di wajah Enyas semakin mengembang.
“Diatonis mayor, diatonis minor, itu semacam ada hubungannya dengan musik?” Edi tampak ragu dengan jawabannya.
“Nada dasar dalam sebuah titinada,” Enyas menyempurnakan jawaban Edi. “Tujuh lingkaran, sebagian terisi penuh dan dua diantaranya terisi setengah, persis dengan jumlah ketukan dalam sebuah titinada. Satu-satu-setengah-satu-satu-satu-setengah. Mengerti?” Enyas menunjuk ke arah tuts piano di hadapannya. “Tuts berwarna putih ini bernilai satu, dan tuts berwarna hitam di antaranya bernilai setengah. Nada dasar yang digunakan dalan diatonis mayor adalah C.”
“Dan satu lingkaran berwarna biru itu adalah yang huruf yang dimaksud, lingkaran keenam berwarna biru dan terisi penuh...” Edi mulai mencoba menganalisa. “C-D-E-F-G-A-B, petunjuk itu berarti huruf A!”
“Kau benar, detektif. Namamu, Rio dan Nurul tidak memiliki unsur A di dalamnya. Sudah jelas kalian adalah detektif kepolisian.”
“Cerdas sekali!” Edi tersenyum. “Tapi bagaimana denganmu? Namamu memiliki huruf A di dalamnya.”
Enyas tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. “Kalau itu terserah kalian apakah kalian mau mempercayaiku atau tidak,” ujar Enyas.
“Bagaimana dengan petunjuk kedua dan ketiga? Kau sudah memecahkannya?” Edi menanyakan perihal petunjuk kedua yang berupa kertas kosong dan petunjuk ketiga yang bertuliskan ‘IN 4 OUT 4’.
“Aku belum tahu soal petunjuk kedua,” jawab Enyas. “Tapi kalau petunjuk ketiga, itu jauh lebih mudah dari petunjuk pertama. Masalahnya adalah...”
“Masalahnya adalah?” Edi mengulang ucapan Enyas.
“Petunjuk ketiga itu memiliki dua jawaban, dan aku tidak tahu yang mana jawaban yang benar,” jawab Enyas kemudian.

***

CHAPTER 06 : WET AT WATERFALL

Rio membiarkan barang-barang bawaannya berserakan begitu saja di atas ranjang kamar mansion. Sebagian tubuhnya masih gemetar, ia masih dapat merasakan hawa dingin yang menjalar seketika di tengkuknya. Sosok yang tadi menatapnya tanpa ekspresi dari kegelapan di lantai dua jelas bukan manusia. Sosok seorang wanita berambut panjang, mengenakan gaun putih yang terlihat berbaur samar dengan kegelapan di sekitarnya.
Cermin besar yang merupakan bagian dari lemari pakaian di kamar itu memantulkan bayangan Rio. Wajahnya terlihat sedikit pucat, Rio berusaha mengatur nafasnya sedemikian rupa, dalam benaknya, pria itu berusaha untuk mengalihkan pikirannya. Mencoba membangkitkan logika-logikanya agar dapat mengalahkan ketakutannya akan sosok hantu wanita tersebut.
‘Tok tok tok’
Ketukan di pintu kamar sedikit mengejutkan Rio. Tapi hal itu membuatnya merasa lega. Setidaknya, sebuah ketukan yang mengejutkan dapat mengalihkannya dari rasa takut yang hampir menguasainya.
“Rio? Kau di dalam?” terdengar suara Enyas memanggil.
Rio beranjak dari duduknya dan melangkah untuk membuka pintu. Ia menemukan Enyas dan Edi di depan pintunya. Sepertinya kedua rekannya sudah siap untuk menjelajahi pulau.
“Ada apa?” tanya Rio.
“Kau mau ikut bersama kami? Kita akan mencari petunjuk ke seisi pulau,” Enyas mengajak Rio mencari petunjuk bersamanya.
“Dimana yang lain?” Rio bertanya sekali lagi.
“Nurul dan Devisha sudah pergi lebih dulu, Asri memilih bersantai di pantai bersama Via, sedang Aryosh… sepertinya ia masih ada di kamarnya,” jawab Enyas.
“Apa kita harus mengajaknya? Enyas?” Edi tampaknya kurang suka dengan ide mengajak Rio di perburuan petunjuk ke seisi pulau.
“Ya,” Rio menimpali sebelum Enyas sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Edi. “Kenapa aku harus ikut dengan kalian?”
“Oh ayolah, Rio,” Enyas menanggapi. “Kau tahu lebih baik bekerja sama dengan kami ketimbang dengan yang lain kan? Setidaknya tidak satupun dari kita akan mencoba mengaburkan petunjuk.”
“Kenapa aku harus berasumsi kalian tidak akan mengaburkan petunjuk yang didapat?” Rio menunjukkan ketidakpercayaannya pada apa yang baru disampaikan oleh Enyas.
“Karena petunjuk pertama menunjukkan bahwa kita adalah detektif,” Edi menyahut. “Kau tahu kan? Petunjuk pertama itu adalah diato…”
“Aku adalah orang pertama diantara kalian yang membaca petunjuk pertama,” Rio memotong kalimat Edi. “Jelas aku tahu kalau petunjuk itu berarti huruf A.”
“Oh, aku tidak akan bekerja sama dengan seorang homosexual!” Nada bicara Edi meninggi. “Kau boleh bekerja sama dengan sang anak emas kalau kau mau, Enyas. Tapi jangan harap aku akan bekerja sama dengan seorang homo!”
“Jangan kuatir, aku juga tidak berminat untuk bekerja sama dengan seorang amatir macam dirimu, detektif Edi,” Rio membalas ucapan Edi dengan sinis.
Edi bergegas pergi ke arah tangga, meninggalkan Enyas dan Rio yang kini berhadap-hadapan.
“Kau yakin tidak ingin bekerja sama?” Enyas menawarkan sekali lagi.
“Aku rasa Aryosh lebih bisa diandalkan dibanding partner barumu itu, Enyas,” Rio menjawab, sebuah jawaban yang menyiratkan penolakan atas tawaran yang diberikan oleh Enyas.
“Baiklah,” Enyas mengangkat bahunya dan bergegas menyusul Edi, meninggalkan Rio yang memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

***

“Kau percaya hantu?” Rio bertanya pada Aryosh di tengah-tengah perjalanan mereka menuju Solar Power Plant yang terletak di bagian lain pulau.
“Hantu?” Aryosh mengernyitkan alisnya. “Kau takut hantu?”
“Tidak,” jawab Rio tanpa ekspresi. “Aku hanya bertanya apa kau percaya akan adanya hantu.”
“Oh, aku percaya pada keberadaan makhluk lain selain manusia, terlepas dari bagaimana kamu mendefinisikan hantu,” jawab Aryosh. “Aku merasakan keberadaan makhluk halus begitu memasuki mansion.”
“Kau dapat merasakan keberadaan mereka?” Rio memandang ke arah Aryosh.
“Hanya merasakan saja, aku rasa semua orang punya potensi untuk merasakan keberadaan makhluk-makhluk itu.”
“Dimana kau merasakannya? Maksudku bagian mansion yang mana? Ruang tengah? Dapur?” Rio makin mempertajam pertanyannya.
Aryosh menghentikan langkahnya, untuk sesaat ia memandang ke atas, ke arah beberapa burung yang bertengger di dahan pohon.
“Lantai dua, di koridor lantai dua, koridor yang menghadap ke arah piano,” jawab Aryosh kemudian.
Rio memandang ke arah Aryosh, ia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan Aryosh. Posisi yang dimaksud Aryosh hampir sama dengan tempat dimana sosok hantu wanita itu muncul.
“Seperti apa sosoknya?” Rio bertanya sekali lagi.
“Entahlah, aku kan tidak melihatnya? Hanya merasakan keberadaannya saja,” jawab Aryosh sambil melanjutkan langkahnya. “Aku rasa kita hampir sampai,” ujar Aryosh sembari menunjuk ke ujung sebuah menara tinggi yang menjulang diantara pepohonan. Menara itu dapat dilihat dari lantai dua mansion tempat mereka menginap.
Rio mempercepat langkahnya, beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di tepi hutan. Di atas dataran rendah, beberapa puluh meter di depan Rio dan Aryosh, terlihat panel-panel solar power plant yang berjajar rapi, mengelilingi sebuah menara tinggi yang merupakan menara kendali dari power plant tersebut.
“Ternyata mereka sudah disini lebih dulu,” gumam Rio saat melihat Enyas dan Edi sedang berbincang-bincang di depan menara kendali. Enyas tampak melihat ke arah Rio dan Aryosh, detektif muda itu melambai ke arah mereka. Aryosh dan Edi melanjutkan langkah mereka memasuki kawasan Solar Power Plant tersebut.
“Apa yang kau temukan?” tanya Aryosh pada Enyas dan Edi.
“Maaf aku tidak akan bicara padamu selama kau bersama si homo itu,” jawab Edi sinis sambil menunjuk ke arah Rio. Ia tampak masih kesal dengan Rio yang menyebutnya sebagai amatir.
“Tidak ada apa-apa disini selain tuas dan panel,” Enyas menjawab pertanyaan Aryosh, mencoba untuk tidak ikut ambil bagian dalam konflik antara Edi dan Rio.
“Tidak ada petunjuk?” Aryosh kembali bertanya, mencoba mencari tahu apakah Enyas dan Edi menemukan kertas berlambang Tri Brata yang merupakan bagian dari tujuh petunjuk yang tersebar.
“Nihil,” Enyas menggeleng. “Jujur, tadinya aku berharap ada petunjuk di tempat ini. Tapi hasilnya nihil. Kecuali petunjuk tersebut ada di ruang bawah tanah yang terkunci.”
“Terkunci?” kali ini Rio angkat bicara. “Ada ruangan yang tidak bisa dimasuki?”
“Ada ruang bawah tanah yang terkunci rapat,” Enyas menjelaskan. “Kita bisa mengintip ke dalam lewat jendela yang ada di pintu ruangan tersebut, ruangan kecil, mungkin sekitar satu meter persegi, isinya cuma alat pembersih lantai. Sepertinya itu hanya tempat penyimpanan alat-alat pembersih.”
“Sebaiknya kita ke dalam, Yosh,” Rio mengajak Aryosh untuk masuk ke dalam menara kendali.
“Dan sebaiknya kita pergi dari sini, Nyas,” Edi menimpali. “Aku sudah cukup muak berada di dekat homosexual.”
Rio berjalan masuk ke dalam menara kendali, mengabaikan kata-kata Edi yang bersifat provokatif. Aryosh terlihat bingung dengan apa yang terjadi, dia menatap Edi dan Rio bergantian.
“Lebih baik kita tidak bersikap kekanakan,” ujar Enyas sambil bergegas meninggalkan tempat itu. Edi mengikuti tepat di belakangnya.
Aryosh memandang Edi dan Enyas yang berjalan meninggalkan area Solar Power Plant, matanya menangkap ke arah Edi yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Satu hal yang tidak diketahui oleh Aryosh, Rio ataupun Enyas, tangan kanan Edi menggenggam secarik kertas berlambang Tri Brata di dalam saku kanan celananya.

***

“Waah sejuk sekali,” Nurul tampak senang melihat air terjun di hadapannya. Rimbunan pohon di sekitar mereka tampak berpadu selaras dengan air terjun dan sungai dangkal yang penuh bebatuan. Air sungai itu terlihat jernih.
“Ayo kita istirahat dulu di sana,” Devisha menunjuk pondok kecil berbahan kayu yang terbangun di tepi sungai.
Nurul berjalan dengan lincah ke tepi sungai, berjongkok dan memasukkan tangannya ke dalam air sungai yang mengalir. Air sungai itu tampak bening dan menyegarkan.
“Airnya jernih,” Nurul mengomentari air sungai di hadapannya. “Sepertinya segar sekali, rasanya aku ingin mandi di sungai ini.”
Devisha duduk di pondok kecil tidak jauh dari tempat Nurul berada, gadis itu memandang ke sekitarnya, rimbunan pohon yang mengelilingi mereka, air terjun yang cukup tinggi, sungai kecil yang tampak jernih, sebuah pemandangan yang sangat sulit ditemui di Jakarta, tempat kelahirannya.
“Lepas saja,” ujar Devisha saat ia melihat Nurul mulai menggulung ujung celana jeans. “Kau tidak ingin kembali ke mansion dengan celana yang basah, kan?”
Nurul menoleh ke arah Devisha yang memandangnya sambil tersenyum. Nurul memandang sekitarnya, memastikan bahwa tidak ada orang lain di dekat sana selain mereka berdua.
“Aku hanya ingin mencoba kedalaman sungainya kok,” Nurul berkata menanggapi saran dari Devisha.
“Oh, aku tahu kau ingin mencoba kesegaran airnya,” Devisha tersenyum sambil beranjak dari duduknya. Gadis itu tidak melepaskan pandangannya dari Nurul saat tangannya menyentuh kancing celana jeansnya sendiri, melepas, dan menurunkannya sambil sedikit menggoyang tubuhnya.
Devisha tidak berhenti disitu, gadis itu memegang ujung kaos yang dikenakannya lalu menarik kaos tersebut ke atas, serta merta kaos tersebut lepas melalui kepala gadis manis tersebut. Dengan santainya, Devisha menurunkan celana dalamnya, membuat kewanitaannya yang hanya tampak seperti garis vertikal tipis terpampang bebas.
“Aku butuh bantuan disini,” ujar Devisha sambil berbalik badan memunggungi Nurul, meminta Nurul membantunya melepaskan kait bra yang dikenakannya.
Nurul tersenyum melihat kelakuan Devisha yang sudah dikenalnya sejak masih duduk di bangku SLTP. “Dasar…” timpal Nurul sambil mendekati Devisha.

***

Rio memandangi panel-panel di depannya dengan seksama, dua lampu indikator berwarna hijau di depannya menyala. Tepat di bawah lampu-lampu yang menyala tersebut terdapat tulisan ‘POWER’ yang menurutnya pertanda bahwa listrik di pulau telah dialirkan.
“Ada yang kau temukan?” Aryosh bertanya.
“Aku bahkan tidak paham dengan apa yang ada di sini,” jawab Rio sekenanya. “lihat panel-panel ini, benar-benar membingungkan.”
“Jangan tanya padaku, aku sama butanya tentang kelistrikan,” Aryosh menimpali. “Kita tidak bisa naik ke ujung menara karena lift itu tidak berfungsi,” Aryosh menunjuk ke arah elevator yang tak bergerak meski Aryosh telah berkali-kali mencoba mengoperasikannya.
“Dan tidak ada tangga menuju kesana,” Rio melengkapi ucapan Aryosh. “Tidak ada petunjuk disini, sebaiknya kita ke tempat lain.”
Rio dan Aryosh keluar dari menara kendali, berjalan meninggalkan area Solar Power Plant.
“Kemana kita pergi?” tanya Aryosh sambil membuka peta yang dibawanya.
“Aku rasa sebaiknya kita selidiki sekitar mansion, seharusnya ada satu atau dua petunjuk di sana,” Rio menjawab pertanyaan Aryosh.
“Ide yang bagus Rio,” Aryosh memandang Rio untuk sesaat. “Apa ada yang ingin kau bicarakan, Rio?” tiba-tiba saja Aryosh bertanya.
“Tentang apa? Power Plant ini? Ya, aku hanya merasa aneh untuk apa membangun Solar Power Plant sebesar ini jika hanya untuk mengalirkan listrik ke dermaga dan mansion. Menurutku itu sebuah pemborosan.”
“Pemilik pulau ini pasti seorang milyader yang bingung menghabiskan uangnya,” komentar Aryosh.
“Namanya Billy, Pak Agil sempat menyebut namanya. Mungkin ia ingin mendirikan sebuah resort besar yang lengkap dengan taman bermain atau mungkin dia ingin mendirikan kotanya sendiri di pulau ini.”
“Ya, bisa jadi,” Aryosh menimpali.
Keadaan hening untuk sesaat, Aryosh dan Rio berjalan melewati jalan setapak dan mulai memasuki hutan.
“Ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Aryosh bertanya sekali lagi.
“Hah?” Rio memandang Aryosh dengan wajah bingung, tidak paham dengan arah pertanyaan Aryosh. “Maksudmu? Kau ingin tahu soal petunjuk pertama? Soal tujuh lingkaran itu? atau soal petunjuk ketiga? IN 4 OUT 4?”
Aryosh menggeleng, “Aku bisa memecahkan semua petunjuk itu sendiri,” ucapnya kemudian.
“Lalu? Apa maksud dari pertanyaanmu itu?”
“Tentang Edi,” Aryosh menjawab.
“Oh, detektif amatir yang malas berpikir itu. Ada apa dengannya?”
“Dia menyebutmu seorang homosexual,” wajah Aryosh tampak serius saat mengucapkan kalimat homosexual.
“Oh, aku tidak mau memikirkan hal tidak penting seperti itu,” Rio sedikit tertawa menanggapi ucapan Aryosh. “Tidak perlu diperhatikan, terserah apa yang ingin dikatakan detektif amatir itu.”
“Aku pernah berada di posisimu,” sahut Aryosh, masih dengan nada yang serius. “Kau tidak perlu menutupi apapun di depanku. Tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang bukan dirimu.”
Tawa kecil Rio terhenti seketika, Rio memandang ke wajah Aryosh yang tampak serius dengan apa yang saat ini mereka bahas.
“Apa maksudmu dengan berpura-pura menjadi orang yang bukan diriku?” Rio mengernyitkan alisnya.
“Kau boleh terbuka padaku, aku sama sepertimu, kita memang kaum minoritas, banyak orang yang menganggap kita sebagai manusia rendah, gila, bahkan hina,” Aryosh meletakkan tangan kanannya ke pundak Rio. “Hanya kita yang bisa mengerti kaum kita,” ucap Aryosh seraya menatap mata Rio dalam-dalam.
“Brengsek!” Rio mengibaskan pundaknya dan melompat mundur. Untuk sejenak Rio mengamati Aryosh dari ujung kaki hingga kepala, seolah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Aryosh. “Kau benar-benar berpikir aku homosexual?? Dan kau… kau seorang homosexual?” ujar Rio dengan nada yang cukup tinggi.
“Ya, sama sepertimu? Kenapa kau harus berpura-pura? Kita ini sama,” Aryosh tampak heran dengan sikap Rio.
Rio mengarahkan telunjuknya ke arah Aryosh. “Tidak, Aryosh!” ujar Rio sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku bukan homo! Maaf, tapi aku normal, aku tertarik dengan lawan jenisku, dan aku tidak tertarik dengan hubungan sejenis!” Rio berkata sambil menuding-nudingkan jarinya ke arah Aryosh.
Aryosh diam untuk sesaat, entah apa yang saat itu dipikirkan oleh Aryosh, tapi akhirnya ia menyadari bahwa Rio bukanlah seorang homosexual, tidak seperti dirinya.
“Aku rasa kita berpisah disini, Aryosh, maaf, tapi lebih baik begitu,” Rio berpaling dan melangkah menjauh dari Aryosh yang masih diam. Tiga langkah kemudian, Rio berbalik menatap Aryosh. “Tidak perlu khawatir, Aryosh…” ujar Rio kemudian. “Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang hal ini,” ucapnya sebelum meninggalkan Aryosh. Sepanjang perjalanan Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, ia masih tidak percaya akan fakta bahwa seorang pria berbadan besar, tinggi dan kekar, dengan nada suara yang berat layaknya pria jantan seperti Aryosh, ternyata seorang homosexual.

***

Gemericik air terjun terdengar berbaur dengan canda tawa dua gadis yang sedang bertelanjang ria di bawahnya. Tubuh padat berisi milik Devisha terlihat begitu menggairahkan dalam keadaan basah, rambut panjang hitamnya tampak menempel di sebagian buah dadanya yang membusung indah. Gadis itu menjerit kecil saat Nurul memberi cubitan kecil pada payudaranya yang berareola kecoklatan dengan puting yang tidak begitu menonjol.
Pemandangan di samping Devisha tidak kalah menggairahkan, seorang gadis berparas cantik dengan tubuh ramping namun terlihat padat dan berlekuk juga telanjang tanpa sehelai benangpun. Nurul, gadis berkulit cerah yang sering mempermainkan banyak pria sekaligus tampak usil mencolek-colek payudara Devisha. Jika ada laki-laki yang melihat keduanya dan diharuskan memilih salah seorang diantara Nurul dan Devisha, pastilah sebagian besar laki-laki akan memilih untuk menikmati Nurul yang berparas lebih cantik, sebagian yang lain mungkin memilih Devisha karena tubuhnya dapat dikatakan lebih montok, payudara Devisha memang lebih besar dan lebih membusung kencang dibandingkan Nurul.
“Aw!” Devisha memekik lagi saat Nurul dengan isengnya mencolek bagian kewanitaannya. Nurul tertawa cekikikan melihat reaksi Devisha.
“Sekali lagi kau lakukan itu, akan kubuat kau lemas di bawah air terjun ini,” ancam Devisha.
“Siapa takut?” Nurul malah menantang Devisha.
Tanpa banyak bicara, tangan kanan Devisha merengkuh tengkuk Nurul, yang lebih pendek beberapa sentimeter dari dirinya dan menarik kepala Nurul hingga bibir mereka bertemu. Devisha melumat dan menghisap bibir Nurul dengan ganas dan Nurul membalas ciuman tersebut dengan tidak kalah ganasnya.
Dua orang gadis yang sama-sama telanjang bulat saling melumat, Keduanya mendekatkan tubuh mereka, Devisha menempatkan tangan kirinya melingkar dari pinggul ke punggung Nurul, membuat tubuh telanjang keduanya kini bergesekan di bawah percikan air terjun. Buah dada kedua gadis itu saling bersinggungan, bergesekan seolah tak ingin kalah dengan gesekan bibir keduanya. Kedua tangan Nurul kini melingkar di pinggang Devisha, gadis cantik itu membelitkan kaki kanannya ke kaki kiri Devisha, membuat paha mereka merapat, membuat liang kenikmatan mereka sesekali saling menggesek.
“Ah…” Nurul melepaskan ciumannya saat dengan sengaja Devisha mengangkat lutut kanannya hingga menekan liang kewanitaan Nurul.
Sambil menjaga keseimbangan, dengan lihai Devisha menggesek-gesekkan pahanya ke vagina Nurul, memberikan rangsangan yang samar-samar terasa nikmat bagi Nurul. Mata indah Nurul semakin terpejam saat Devisha mendaratkan bibirnya menyusuri leher putih Nurul, Devisa memainkan lidahnya di sekujur leher gadis cantik itu sambil sesekali memberikan hisapan yang makin merangsang.
Seolah ingin mengejar kenikmatan yang lebih, kedua tangan Nurul kini berada di bongkahan pantat montok Devisha, meremas dan menarik-narik bongkahan indah itu sehingga gesekan paha Devisha di liang kewanitaannya semakin terasa. Nurul dapat merasakan vaginanya mulai basah, bukan hanya basah karena guyuran air terjun, namun juga karena cairan lain yang keluar dari dalam liang kenikmatannya sendiri.
Ciuman dan hisapan Devisha kembali naik ke bibir Nurul, keduanya kembali terlibat dalam ciuman yang semakin panas, lidah keduanya bertemu, saling menyapu dan saling membelit saat tubuh keduanya menempel erat. Setelah itu, dengan lembut Devisha menghentikan ciumannya, keduanya bertemu pandang dan saling tersenyum. Detik berikutnya, Devisha bergerak turun, berjongkok hingga liang kewanitaan Nurul berada tepat di hadapan wajahnya.
“Ouhh… yesshh…” Nurul melenguh saat merasakan sesuatu yang hangat dan bertekstur menyapu kewanitaannya, menghantarkan sebuah kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Nurul kembali melenguh saat Devisha mulai menusukkan lidahnya dengan lembut, membelah bibir kewanitaan Nurul yang terlihat bersih terawat. Dengan gerakan yang teratur lidah itu menyapu lipatan bagian dalam bibir kewanitaan Nurul, hal itu dilakukan berkali-kali sebelum lidah itu bergerak naik, menyentil bagian sensitif dari liang kewanitaan itu sendiri.
“Ohh… Beib…” Nurul meracau saat Devisha memainkan klitorisnya dengan lidah. Dengan mahir Devisha memainkan lidahnya, bergerak melingkari klitoris Nurul, menyentil-nyentilnya dengan gerakan yang makin lama makin cepat. Tanpa sadar Nurul menjepit kepala Devisha dengan kedua pahanya. Nurul kini tidak lagi malu untuk mengeluarkan suara desahan yang lebih kencang dari sebelumnya. Gadis itu mendesah, menggelinjang, kedua tangannya bermain di payudaranya sendiri, memutar dan memilin puting payudaranya yang mengeras.
“Ahhhh!!!” Akhirnya Nurul menjerit, tubuhnya tampak tegang, dengan sigap Devisha menahan pinggang Nurul agar tidak ambruk, Devisha memejamkan matanya saat merasa cairan orgasme Nurul yang menyembur, semburannya tidak kencang, namun cukup banyak mengalir di lidah Devisha.
Nurul masih sedikit kesulitan menjaga keseimbangan saat Devisha kembali berdiri dan melumat bibirnya. Mereka berdua kembali larut dalam percumbuan sejenis hingga tidak menyadari keberadaan orang lain yang kini berjalan mendekat ke arah pondok kayu.
“Ah!” Nurul sedikit memekik dan mendorong tubuh telanjang Devisha menjauh saat ia menyadari kehadiran orang lain. Devisha menoleh dan menemukan Rio sedang berjalan ke arah pondok, berusaha untuk tidak memandang kedua gadis tersebut.
“Lanjutkan saja permainan kalian, jangan khawatirkan aku,” ujar Rio tanpa memandang ke arah Nurul dan Devisha. “Aku hanya tertarik pada apa yang tertempel di tiang pondok itu,” Rio mencabut secarik kertas berlambang Tri Brata yang tertempel di salah satu tiang pondok kecil tersebut. Rupanya kertas tersebut luput dari pengamatan Nurul dan Devisha.
“Oh, tentu kami tidak khawatir kepadamu, Rio,” Devisha menyahut menanggapi kalimat Rio.
Rio berhenti dan berbalik memandang ke arah Nurul dan Devisha. Kali ini Rio memandangi tubuh telanjang Devisha dan Nurul dengan seksama, dari ujung kaki hingga kepala, sempat berhenti cukup lama saat memandang buah dada Devisha yang membusung kencang. Devisha dan Nurul seketika merasa risih, pandangan Rio barusan adalah pandangan penuh nafsu.
“Kalian cantik dan menarik sekali, tubuh kalian bagus dan Nurul, kau benar-benar cantik. Sayang kalian sepasang lesbi.” ucap Rio dengan nada yang melecehkan.
Nurul yang terlihat risih menutupi kewanitaannya yang basah dengan tangan kanan sedang tangan kirinya berusaha menutupi kedua buah dadanya.
“Apa bedanya dengan seorang homosexual sepertimu? Kami sudah mendengarnya dari Edi, bahwa kau seorang gay,” Devisha membalas ucapan Rio dengan ketus.
“Oh, kau ingin bukti bahwa aku bukan gay?” Rio merentangkan kedua tangannya. “Kemarilah dan hisap penisku!” Tanpa basa-basi Rio menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang tampak menegang. “Pertunjukan kalian tadi sangat membuatku terangsang,” ujar Rio setengah geram.
Pandangan Devisha dan Nurul kini tertuju pada batang kejantanan sepanjang kurang lebih 15-16 sentimeter milik Rio, batang itu bengkok ke arah kiri namun tampak keras dan tegak. Wajah Nurul terlihat memerah, liang kewanitaannya yang baru saja mendapatkan orgasme terasa berdesir gatal, gadis itu menatap ke arah batang kejantanan Rio lekat-lekat, seolah membayangkan kenikmatan yang dirasakannya saat batang itu memasuki tubuhnya.
“Siapa yang sudi melakukan itu!” Berbeda dengan Nurul, Devisha tidak menatap batang kejantanan Rio lekat-lekat. Gadis itu justru membalas apa yang dilakukan Rio dengan mengacungkan jari tengahnya ke arah Rio.
“Oh, jadi begitu…” Rio tersenyum dan kembali memasukkan penisnya ke dalam celana. “Rupanya, satu dari kalian adalah biseks?” ucap Rio setelah menaikkan kembali resletingnya.
“Apa pedulimu?!” Devisha membalas ucapan Rio dengan nada yang semakin ketus.
“Oh, aku tidak peduli,” Rio membaca apa yang tertulis di kertas petunjuk yang baru ia ambil dari kolom pondok kayu kecil di dekat mereka. Rio diam untuk beberapa saat, seolah mencoba merekam apa yang tertulis di atas kertas tersebut.
OUT 4 IN 4
Rio tersenyum penuh makna, ia berhasil mengerti apa yang dimaksud dalam petunjuk kali ini. Rio meletakkan kertas berisi petunjuk tersebut itu di atas dipan pondok lalu memandang sekali lagi ke arah Devisha, kemudian Nurul.
“Kau bisa merasakannya jika kau berminat, Nurul,” Rio mengedipkan matanya sebelum pergi meninggalkan Devisha dan Nurul yang masih dalam keadaan tanpa busana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar