Sabtu, 01 Juli 2017

Pulau Tabu



Untuk merayakan ulang tahun Daffa yang ke-14, Marini Zumarnis mengajak suaminya untuk berlibur sekeluarga ke sebuah pulau eksotis di samudra pasifik. Mereka berangkat bertiga dengan menaiki kapal pesiar besar. Sama sekali tidak mengetahui kalau ombak di bulan Desember sangatlah berbahaya. Terlebih di samudera Pasifik.
Awalnya semua berjalan lancar. The Gold Coast, kapal yang mereka tumpangi, dapat dengan mudah bisa mengarungi ombak yang menghantam. Semua orang tampak bersuka cita dan kelihatan sudah tidak sabar untuk sampai dan menghangatkan diri di pulau impian. Sampai keesokan harinya, ketika badai besar itu datang...
Kapal mereka meronta-ronta selama berjam-jam oleh gelombang ekstrim yang dibawa oleh topan mematikan. Tidak ada yang meramalkan badai sebelum kapal meninggalkan pelabuhan sepuluh hari sebelumnya. Begitu besar dan sengitnya badai itu hingga Goald Coast yang biasanya mengapung gagah, jadi seperti titik putih yang hilang kendali di tengah-tengah samudera. Kapten kapal tak tahu harus melakukan apa, ini semua di luar rencana, bahkan ketika kapal mulai mendekati tebing karang besar.

Meski kapal terus terombang-ambing, awalnya Marini merasa aman-aman saja. Ini bukan pengalaman pertamanya naik kapal pesiar, cuma baru sekarang ini terjebak dalam badai hebat. Ia sudah bersiap-siap untuk tidur ketika jeritan pertama mulai terdengar dari dek utama di luar kabin mereka. Danny Wardhana, suaminya, segera mengintip keluar ke malam hitam. Danny melihat kilatan petir yang menyoroti gelombang raksasa di geladak, menghempaskan kapal dengan dorongan keras ke depan. Dan sesaat kemudian, dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan tebing karang membelah lambung kapal menjadi dua.
Chaos, keadaan langsung memburuk dengan begitu cepat. Para penumpang yang selamat lari berhamburan menuju sekoci. Sementara yang tidak beruntung, langsung tercebur ke laut, ditelan oleh gelombang badai yang masih terus mengamuk. Danny yang berhasil berpegangan ke palang pintu, segera menyuruh anak dan istrinya untuk lari menyelamatkan diri. Tidak sempat ada barang yang dibawa, sekarang nyawa adalah taruhannya.
Ia menggiring Daffa dan Marini naik menuju dek, menuju tempat tertinggi saat kapal mulai terlihat tenggelam secara perlahan-lahan. Sekali lagi kilat menyambar disertai datangnya gelombang kedua. Di waktu yang begitu sempit, Danny segera menyuruh istri dan anaknya untuk berpegangan pada pagar pembatas, membuat mereka sekali lagi selamat. Tidak seperti enam orang tua yang ada di sebelah mereka, yang langsung hilang disapu ombak seperti air membasuh busa sabun.
”Tidak! Tidak!” Marini langsung menangis menjerit-jerit, menyadari keadaan genting yang menimpa keluarganya. Danny berusaha menenangkan dengan memeluknya, juga Daffa yang kelihatan sama-sama ketakutan. Di depan, sekoci tampak begitu penuh, dan masih banyak penumpang yang mengantri untuk diselamatkan. Mereka tidak bisa menunggu, ketinggian kapal sudah semakin cepat menurun, dan ombak besar juga bisa datang lagi sewaktu-waktu.
Dengan rasa air garam menyengat kulitnya, Danny memaksa otaknya untuk berpikir cepat. Kursi, bagian kapal, peralatan dek, dan apa pun yang tidak terikat, terlihat meronta-ronta oleh hantaman angin. Lalu ia melihat benda itu; sebuah tong air besar yang sepertinya sanggup untuk menahan berat tubuh mereka.
”Kesini!” Danny menjerit, meminta Daffa dan Marini untuk sekali lagi mengikutinya. Dengan tali yang ia temukan di dekat pagar, ia mengikat 1 tong untuk 1 orang, lalu menyatukan ketiganya dalam satu rangkaian agar mereka tidak sampai terlepas.
”Sekarang lompat!” teriaknya putus asa. Berpelukan, mereka terjun ke laut. Air berputar di bawah kaki mereka dan dengan cepat menenggelamkan ketiganya ke kegelapan. Namun mereka cepat timbul kembali ke permukaan oleh tarikan tong yang berfungsi sebagai pelampung besar. ketiganya selamat.
Beberapa detik kemudian, terdengar kapal pesiar mereka mengerang untuk yang terakhir kali seperti ikan paus besar yang tengah terdampar, sebelum kemudian menghilang di bawah ombak tak lama kemudian. Hanya dua sekoci yang berhasil diturunkan. Sisa penumpang yang tidak sempat ikut naik, langsung hilang ditelan oleh ombak yang masih mengancam.
Danny, Daffa dan Marini, saling menempel satu sama lain. Pusaran kapal memang sempat menarik mereka ke bawah, namun dengan adanya tong yang tersangkut di batu karang, mereka berhasil bertahan. Beberapa orang masih tampak meronta-ronta di permukaan, namun itu cuma sebentar saja. Begitu tubuh empuk mereka dimakan ombak, semuanya langsung terdiam. Hanya tersisa dua sekoci yang tampak mengarung menjauh. Danny berusaha untuk memanggil, namun mereka sama sekali tidak berbelok.
Putus asa namun juga bersyukur karena berhasil selamat, Danny merangkul erat istri dan putra tunggalnya. Seiring badai yang mulai mereda, mereka terseret semakin menjauh dari lokasi tenggelamnya kapal. Entah sekarang berada dimana, semuanya gelap. Hanya ada air dan air, juga sesekali tonjolan karang yang menunjukkan kalau mereka sebenarnya tidak begitu jauh dari pantai. Selain sebagai pelampung, tong juga mereka gunakan sebagai tameng sehingga tidak sampai lumat dihantam karang. Begitu terus selama berjam-jam.
Menjelang fajar, laut tiba-tiba kehilangan amarahnya. Secepatnya datangnya, hujan tiba-tiba berhenti dan angin mereda. Semuanya kembali seperti semula, tenang dan damai. Namun yang terpenting, keluarga Marini Zumarnis berhasil selamat semuanya. Matahari mulai menampakkan sinarnya dan angin sepoi-sepoi mendustakan apa yang telah terjadi beberapa jam sebelumnya. Di permukaan, potongan dari kapal, peralatan, dan sisa-sisa pribadi para penumpang, mengapung bertebaran. Tidak terlihat tanda-tanda adanya dua sekoci semalam, hanya ada Danny, Daffa dan Marini di lautan lepas dengan pakaian mereka yang sudah compang-camping.
Diapit oleh kedua orang tuanya, Daffa tampak terbelalak ketakutan. ”A-apa kita bisa pulang?” tanyanya sambil melihat sekeliling. Tidak tampak apa-apa kecuali laut yang membentang panjang.
Marini segera memeluk untuk menghiburnya. ”Semua akan baik-baik saja. Orang-orang akan mencari kita. Ada banyak kapal di daerah ini, dan kita akan segera diselamatkan.” katanya tak yakin.
Saat itulah, Danny tiba-tiba berdehem sehingga Marini segera menoleh ke arahnya. ”Ada apa?” tanyanya heran.
Dengan isyarat mata, Danny menunjuk ke dada Marini, menyuruh sang istri agar melihat ke bawah. Marini hampir tersentak ketika menyadari bahwa bajunya telah tercabik-cabik dan payudaranya yang bulat besar telah benar-benar terbuka. Dia mencoba menarik sisa-sisa kain untuk menutupinya, namun percuma, benda itu tetap saja meloncat keluar. Ukurannya yang begitu besar mustahil untuk disembunyikan.
”Ya, mau gimana lagi,” Marini menatap sang suami dan mengangkat bahu. Wajahnya berubah merah dan ia menutupi payudaranya yang terekspos dengan kedua lengannya.
Di sebelahnya, Daffa menonton semua itu dengan pandangan malu sekaligus  penasaran. Juga terbersit sedikit rasa ingin disana meski Marini tidak pernah mengetahuinya. Bertiga mereka melayang tanpa tujuan mengikuti arus laut selama berjam-jam, tanpa makanan, air, atau kemampuan untuk menangkap ikan.
Pada tengah hari, Danny mengguncang bahu Marini untuk memberitahunya. ”Lihat! Disana! Sepertinya ada pulau!” katanya penuh semangat, berharap itu bukan sekedar fatamorgana. Sudah dari tadi mereka seperti melihat pulau, namun ternyata cuma ilusi mata saja.
”Iya, sepertinya yang ini beneran,” jawab Marini, ”Tapi kita sudah berkali-kali salah sebelumnya.” ia mengingatkan agar sang suami tidak terlalu berharap.
”Tidak, tidak! Yang ini benar-benar sebuah pulau. Lihat!” Danny bersikeras.
Semakin dekat, sepertinya apa yang dikatakan suaminya itu memang benar adanya. Membuat Marini mulai merasakan segudang kegembiraan. Tanpa sadar dia memeluk Daffa, tak peduli meski payudara besarnya menekan dada bocah kurus itu. ”Kita selamat, Nak. Kita selamat!” katanya penuh suka cita.


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar