Selasa, 04 Juli 2017

Serial Petualangan Evan 12



Evan tidak tahu berapa lama ia tertidur. Ia merasa dingin dan barangnya seperti sedang digarap. Evan melirik ke bawah, ternyata Franda sedang mengoral batangnya yang sudah mengeras dengan sempurna. Evan tidak sadar sejak kapan dia mulai bangun, mungkin batangnya lebih dulu bangun dari majikannya. Kelihatannya Franda ketagihan dengan pengalaman mereka ngentot kemarin. Evan sanggup membawa gadis itu terbang ke langit ke tujuh.
Evan tetap pura-pura tidur untuk melihat apalagi yang akan dilakukan Franda terhadap dirinya. Karena sudah keluar berkali-kali, maka pertahanannya sekarang cukup tangguh. Evan bisa menahan selama mungkin agar tidak muncrat ketika dioral.

Evan merasa Franda lama sekali mengoral dirinya, mungkin mulut gadis itu mulai pegal menyosori penisnya yang mengeras. Franda lalu bangkit dan dia berlutut mengangkangki tubuh Evan. Dipegangnya penis Evan lalu dibawanya ke gerbang vagina. Pelan-pelan Franda merendahkan badan sampai batang penis Evan masuk ke dalam celah vaginanya. Franda kelihatan agak mengernyit. Mungkin masih ada rasa perih ketika penis Evan menerobos masuk. Tapi dia tetap memaksakan agar seluruh penis itu ditelan oleh lorong vaginanya.
Setelah masuk sempurna, Franda mulai menaik turunkan badannya. Mungkin kontrol terhadap keluar masuknya barang Evan kurang bagus, sehingga sering terlepas. Franda buru-buru menjebloskan kembali kontol Evan ke lubang vaginanya, dan dia tidak lagi bergerak naik turun, tetapi bergerak maju mundur.
Akhirnya Franda menemukan posisi yang tepat dimana kemaluan Evan bisa menyentuh klitoris dan menekan G-spotnya. Dia tidak bergerak terlalu jauh kecuali menekan-nekan badannya ke badan Evan dan maju mundur sedikit saja. Gerakan ini dengan cepat menstimulan area sensitif Franda, ditandai dengan gerakannya yang semakin gencar.
Tak lama gadis itu ambruk di atas badan Evan dan seluruh berat tubuhnya ditumpukan ke badan Evan. Evan merasa berat, tetapi ia tahan sebentar sampai Franda menuntaskan orgasmenya. Badan gadis itu berkeringat meski ruangan cukup dingin.
Setelah Franda menyelesaikan orgasmenya, Evan membalikkan badan dan posisi mereka pun berganti. Sekarang Evan yang berada di atas. Dia tidak memberi Franda waktu istirahat, langsung ia genjot dan mencari posisi yang paling enak. Berkali-kali ngentot membuat cengkeraman memek Franda jadi kurang kuat. Mungkin karena terlalu basah atau mungkin juga karena dinding vaginanya penuh dengan lemak yang lembut.
Namun sensasi melihat cewek cantik telentang di bawah badannya memberikan pemandangan yang asyik pada Evan. Ia menemukan posisi yang dirasa cukup maksimal merangsang penisnya. Evan bertahan pada posisi itu. Ternyata Franda juga merespon dan kelihatannya dia juga merasakan nikmat. Gadis itu mendesis-desis.
Evan terus memompa sampai dilihatnya Franda kembali mencapai orgasme, ditandai dengan tiba-tiba dia memeluk dan berusaha menghentikan gerakan Evan dengan menjepitkan kedua kakinya melingkari badan laki-laki itu. Kontol Evan yang terbenam dalam merasakan denyutan di seluruh liang vagina Franda. Evan memang berhenti sebentar. Namun begitu himpitan kaki Franda melonggar sedikit, dia kembali menggenjot.
Franda menjerit-jerit meminta ampun, “S-sudah, Van. Aku merasa lelah sekali dan kemaluanku agak ngilu.”
Evan mengerti bahwa memek yang baru saja orgasme pasti terasa sensitif sekali. Tapi dia juga tahu bahwa rasa ngilu itu akan segera hilang. Maka Evan tidak memperdulikan, dia terus menggenjot, malah dengan gerakan yang lebih kasar.
Gerakan buas itu rupanya memacu rangsangan bagi Franda, dia sudah tidak protes ngilu dan lelah lagi, malah mendesis dan mengerang penuh kenikmatan. Evan terus menusuk dengan ganas untuk segera mencapai orgasme. Namun rasa mendekati puncak belum juga terasa. Yang ada malah Franda yang mendahului mencapai klimaks. Kontol Evan dijepitnya lagi dan dia benar-benar minta ampun agar diberi waktu istirahat sebentar.
Evan menuruti karena badannya juga lelah akibat melakukan gerakan-gerakan kasar tadi. Badannya penuh dengan keringat. Di samping itu, ia merasa haus.
Sementara Franda tertidur, Evan pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Ia teguk sebotol air dingin yang diambilnya dari kulkas dengan puas. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci batangnya sebentar. Selesai, dilanjutkan lagi menonton TV. Tak sadar, kontolnya mulai ngaceng kembali, ingin masuk ke sarangnya.
Tapi Evan tak tega buat membangunkan Franda. Dia pasti sudah tertidur pulas, apalagi kalau habis disodok seperti barusan. Tak ingin kentang, kepikiran buat pergi ke rumah Hesti Purwadinata. Yah, kenapa tidak. Toh Hesti juga mempersilakannya bila ingin datang sewaktu-waktu. Dan ngomong-ngomong, Evan kangen sama dia.
Berbicara soal Hesti, untuk memperlancar hubungan mereka, Hesti sepakat bikin kode. Kalau dia kirim sms yang isinya angka 1, berarti lagi ada suaminya di rumah. Evan tak boleh pergi ke sana. Tapi kalau sms dari dia isinya angka 0, itu artinya rumahnya lagi kosong. Evan bebas untuk datang dan berbuat apa saja.
Dan tadi pagi, bertepatan dengan Evan yang lagi asyik ngentot bareng Franda, dia menerima sms dari Hesti yang tulisannya 0. Berarti Evan bisa merasakan empotannya yang aduhai. Tapi sayang Evan sudah kadung main dengan Franda, jadi terpaksa dia mesti menundanya.
Nah, mumpung sekarang lagi nganggur, kenapa tidak pergi ke sana? Ibarat pepatah: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Membayangkan hal tersebut, kontol Evan dengan spontan dan jujur langsung mengeras. Oke, waktu istirahat sudah cukup. Dia pergi lagi ke kulkas untuk mengambil minuman energi. Habis satu botol, Evan merasa siap tempur lagi. Dibukanya pintu kamar, nampak Franda masih tertidur pulas. Tubuhnya masih telanjang, tidak memakai baju. Sepertinya dia tak mau capek-capek, buat apa pakai baju kalau nanti juga ditelanjangi lagi.
Dengan langkah ringan Evan mulai mengendap. Hes, ini aku datang! serunya dalam hati.
Evan membuka pintu rumah, melihat sekeliling. Sepi dan aman. Bak maling jemuran, dia mulai berjinjit ke samping rumah Hesti. Tepat di bawah lubang angin kamar wanita cantik itu, ia lihat lampunya masih menyala. Evan mulai memanggil, tapi tidak ada reaksi. Dia memanggil lagi agak keras, masih sama. Padahal seharusnya Hesti langsung merespon dengan membukakan pintu belakang. Kesal juga melihat situasi aman, tapi Hesti tak menghiraukan.
Ada apa ini?
Evan memutuskan untuk memanggil nama wanita itu dengan lebih keras. “Hes! Hesti?”
Masih sunyi.
Apa sudah tidur, ya? batin Evan dalam hati. Dia mulai bete. Namun tetap dicobanya sekali lagi. “Hes! Hesti!”
“Yah,” mulai terdengar suara sahutan.
Namun bukannya senang, Evan malah kaget. Suaranya memang suara cewek, tapi itu bukan suara Hesti.
”Siapa?” tanya suara itu.
Aduh! Gimana ini? Kalau tidak dijawab pasti curiga. Apa aku kabur saja ya? Tapi, ah kepalang tanggung. Tinggal cari alasan yang masuk akal. Apalagi Evan mulai ngeh. Itu suara Maya Septha, teman Hesti yang sering menginap di situ. Kenapa dia yang menyahut ya? Kemana Hesti?
Maka dari bawah lubang angin, Evan mulai menjawab pelan namun jelas. “Ini aku, Evan.”
”Evan? Yang tinggal sama Tya, ya?”
“Iya,”
“Kamu ngapain tengah malam buta begini?”
”Anu... a-aku... ada perlu sama Hesti!”
”Tunggu sebentar, aku bukakan pintu.”
”Ngg... May, buka pintu belakang aja ya, nggak enak kalau lewat depan.”
“Wah, kayaknya ada yang nggak beres nih. Kamu harus menjelaskan semuanya  sama aku!”
Tak menjawab, Evan melangkah dengan gontai ke arah pintu belakang, sambil mencari alasan yang masuk akal, juga menyesali diri kenapa tadi tidak kabur saja. Tapi, ya sudahlah. Hadapi saja, sudah terlanjur. Lagian Hesti gimana sih, tadi sore SMS bisa, kok sekarang malah tidak ada di rumah.
Evan menunggu dengan rada senewen di depan pintu belakang, dingin dan mencekam. Dari dalam rumah terdengar suara kaki melangkah, lalu pintu dibuka. Nampak Maya menatapnya aneh dengan pandangan heran dan bertanya. Evan juga melirik sekilas ke arahnya, Maya hanya memakai kaos dan rok kain saja. Bodinya seperti Hesti, cuma dia sedikit lebih kurus. Payudaranya lumayan, terlihat agak turun meski tetap enak untuk dipandang dan juga bikin nafsu. Kulitnya mulus, jembutnya mungkin lebat. Kalau memeknya? Mana Evan tahu, kan belum pernah mencoba.
”Ada perlu apa kamu tengah malam begini?” tanya Maya begitu melihat Evan.
“A-anu, May... a-aku... ma-ma-mau...”
”Ah, mending kamu masuk aja deh. Aku jadi curiga nih!”
Maya pun menepi mempersilahkan Evan masuk, dengan berat hati Evan melangkahkan kaki. Maya lalu mengunci pintu. Evan berjalan mengikutinya ke ruang tengah, keberaniannya mulai sedikit pulih. Dia mengambil napas sedikit saat Maya menyuruhnya untuk duduk. Sebelum wanita itu mulai berbicara, Evan mendahului.
”Ke mana Hesti?”
”Kamu belum menjawab pertanyaanku, malah ganti nanya! Kenapa memangnya, kok kamu seperti kaget begitu saat tahu aku yang ada di sini, bukannya si Hesti?”
”Tidak. Cuma nggak biasanya aja kamu di rumah ini sendirian, biasanya kan ada Hesti juga.” Suasana masih agak canggung, namun Evan mesti bisa bohong duluan. Maya hanya memandangnya dengan ekspresi curiga, juga sedikit penasaran.
”Aku akan jawab pertanyaanmu, tapi kamu juga mesti jawab pertanyaanku. Bagaimana?”
”Oke, setuju!”
”Tadi Hesti pergi sama suaminya sekitar jam tujuh lewat. Ada salah satu saudaranya yang opname di rumah sakit, katanya besok baru pulang.”
”Oh, begitu ya,” mulut Evan hanya bisa mengucapkan itu.
“Mereka perginya buru-buru, itu hapenya si Hesti aja ketinggalan.”
Hmm, jadi begitu rupanya. Pantas Hesti tidak memberi kabar lagi, lha hapenya ketinggalan. Hati Evan geram, tapi suara lembut Maya membawanya kembali ke dunia nyata.
”Nah, sekarang giliran kamu. Aku tanya sekali lagi, ngapain kamu tengah malam  begini ke rumah Hesti? Ayo ngaku yang jujur, jangan sampai besok aku laporkan ke suami Hesti ya!”
Waduh! Pakai ngancam segala. Evan berpikir keras, matanya jelajatan melihat keadaan sekitar. Ada TV yang lagi menyala. Nah, itu bisa jadi alasan. ”A-anu, aku mau numpang nonton siaran bola, kebetulan di rumah Tya antenanya lagi rusak.”
”Van, Van! Memang kamu pikir aku ini anak SD, mau percaya alasan seperti itu. Ini tuh malam selasa, mana ada siaran bola hari ini? Lagian kalau cuma mau nonton bola, kan bisa streaming lewat youtube. Ngapain pakai malam-malam datang ke sini segala?”
Dug! Serasa hantaman telak menghajar perut Evan. Pintar juga analisis Maya, dia susah dibohongi. Evan garuk-garuk kepala, tak tahu mau ngomong apa lagi. Maya menatapnya dengan sinis dan tambah curiga. Evan diam membisu, suasana hening, sampai suara detak jarum jam terdengar jelas. Benar-benar kacau. Mau alasan apa lagi nih si Evan?
Lalu suara Maya terdengar, ”Sebenarnya aku curiga, Van. Dari dulu, si Hesti tuh memang genit kalau lihat laki-laki seperti kamu. Tidak bisa disalahkan sih, penampilan kamu memang keren, bahkan aku juga suka sejak pertama kali melihatmu. Nah, malam ini sepertinya kecurigaanku terbukti.”
”Cu-cu-curiga apa?”
”Van, sudah ah. Nggak usah sok lugu begitu. Kamu datang ke sini sebenarnya mau gituan kan sama Hesti?”
“Ah, enggak kok! Kamu jangan nuduh sembarangan ya!” Evan masih saja ngeles.
“Terlihat jelas kok. Kamu salah tingkah begitu tahu yang ada di sini ternyata aku, bukannya Hesti.”
Evan kembali diam membisu, mau menjawab apa pun rasanya percuma saja. Dia hanya diam, pasrah. Benar-benar malu dan rikuh. Kalau misal ini jam delapan malam, gampang cari alasan. Lha ini dia datang ke rumah tetangga hampir jam satu dini hari.
”I-iya deh, May. Aku ngaku... yang kamu tuduhkan itu mungkin memang benar. Tapi tolong ya, rahasiakan hal ini dari suami Hesti.”
“Kamu itu mau enaknya saja. Kasihan si Edo, punya tetangga buaya seperti kamu!”
“Terserah kamu mau ngomong apa, yang penting tolong rahasiakan hal ini. Aku mohon, May!”
Evan diam menunggu jawaban. Sementara Maya yang menyadari dirinya berada di atas angin, mulai bergaya agak sedikit sengak. Mukanya diekspresikan sepuas dan sesinis mungkin, pokoknya nyebelin habis—padahal aslinya cantik. Untung saja Evan dalam posisi kepepet. Kalau tidak, pengen ia pencet aja tuh… hidungnya yang bangir!
“Baiklah, Van. Aku akan diam, tapi ini harus menjadi pelajaran buat kamu. Hati-hati kalau mau berbuat. Untung saja aku yang tahu, coba kalau orang lain, bisa fatal kan?”
“I-iya, May. Terima kasih atas pengertiannya. Sekarang aku mau permisi dulu.” Fiuhhh! Lega rasanya, akhirnya bisa lolos dengan selamat. Evan percaya sama Maya, hal ini akan tetap aman. Dia sedikit nyengir semanis mungkin, sambil mengangkat pantat dari sofa, bersiap untuk pergi.
”Nanti dulu, Van. Siapa bilang kamu boleh pulang?”
”Lha, memang ada apa lagi, May?”
”Urusan kamu ketahuan suka begituan sama Hesti memang sudah beres. Tapi, urusan sama aku belum.”
”Ma-maksud kamu?”
Maya tidak menjawab, cuma tersenyum sadis.
“A-aku minta maaf deh, May!”
”Maaf darimu sama sekali tidak penting,”
Duh, mau apa lagi nih cewek? Jujur, Evan tak mengerti Maya menuntutnya untuk berbuat apa lagi. Dalam posisi berdiri dia menunggu.
”Kamu datang kemari kan tadinya mau ngentot sama Hesti. Sayang dia mendadak pergi.” Maya berkata.
”I-iya, betul. Tapi, aku kan sudah mengaku jujur dan juga sudah minta maaf sama kamu. Kurang apa lagi, coba?”
”Begini, kalau Hesti nggak ada... kan masih ada aku, Van. Daripada kamu nggak ngapa-ngapain. Lagian, aku juga penasaran seperti apa sih kehebatan kamu, sampai Hesti jadi doyan. Ditambah lagi, sudah lama nih memekku nggak disodok. Sudah dua bulan ini suamiku dinas keluar kota!”
Hah? Beneran nih? Evan melongo.
“Kenapa? Apa aku terlalu kurus dan nggak semenarik Hesti?” tanya Maya saat melihat Evan terdiam.
Tidak menjawab, Evan kembali dengan cepat duduk di sofa. Apa dia nggak salah dengar? Mana mungkin dia menolak kalau Maya minta untuk dientot. Wanita itu cantik, bodinya semok bin bohai, bikin ngaceng yang melihat. Tapi Evan perlu jaga image sedikit dong.
”May, yang benar nih? Kamu serius?”
Maya mengangguk. “Kamu mau kan?”
“Bodoh kalau aku sampai menolak, May. Kamu tuh cakep dan montok, nggak beda jauh sama Hesti.”
”Bener nih? Kamu ngomong begitu bukan buat bikin hatiku senang saja, kan?”
”Aku serius, May.”
Seakan senang sekali dengan pujian Evan, Maya pun mendekat. Digamitnya tangan Evan, lalu digiringnya masuk ke dalam kamar. Ah, gila! Siapa sangka setelah dalam posisi terjepit, ternyata bisa ber-ending hepi seperti ini. Sepertinya cuma Evan yang bisa begini.
Tiba di kamar yang biasa dipakai Maya buat menginap, perempuan itu berbisik, ”Van, sekarang terserah padamu mau kamu apakan saja, aku menurut. Pokoknya bikin memekku puas. Kasihan memekku, Van, sudah lama nggak disambangi sama kontol. Kamu bebas melakukan apa saja: mau gaya apa pun, terserah!”
“O-oke, May!”
”Kamu buka baju, Van, terus telentang di kasur. Aku mau merasakan dan mengamati barang kamu dulu.”
Evan segera membuka kaos dan celananya, sebentar saja dia sudah polos telanjang. Maya nampak terkesan melihat batang Evan yang menggantung dalam posisi malas dan tertidur. Mukanya nampak berseri dan bersemangat melihatnya. Masih tertidur saja sudah bisa bikin terkesan, apalagi kalau sudah bangun dan mengacak-ngacak memek.
Evan langsung rebahan mengikuti perintah wanita cantik itu, kepalanya bersandar pada bantal. Sementara posisi pantatnya ada di ujung ranjang, kedua kakinya menjuntai ke lantai. Maya masih berdiri, masih memandangi kontol Evan dengan penuh minat.
Puas mengamati, dia berdiri di depan si pemuda. Gayanya mengundang sekali saat mulai membuka baju, nampak keteknya yang tercukur mulus saat ia mengangkat tangannya ke atas. Dan saat kaos itu tersingkap, nampak Maya tak memakai beha, kedua payudaranya yang bulat dan montok seakan melejit keluar.
Boing..!!
Sungguh sangat menarik. Mulus sekali, meski agak turun namun sangat enak dan serasi saat dilihat. Begitu mengundang. Putingnya besar dan mancung. Maya meremas payudaranya dengan dua tangan, sengaja memainkannya di depan Evan. Didekatkannya satu payudara itu ke mulutnya, dan... ooowww! Dia menghisap dan menjilati sendiri putingnya. Kontol Evan mulai mengeras begitu melihatnya.
Puas menggoda dengan kemontokan payudara, Maya menanggalkan rok kainnya. Ooohhh... tak ber-cd juga ternyata. Nampak memek tembem yang ditumbuhi jembut sangat lebat. Dengan jarinya Maya mengelus dan memainkan lubang memek itu, sesekali dilebarkan ke samping guna mempertontonkan lubang nikmat miliknya ke hadapan Evan.
Sesekali ia membalikkan tubuh, agak membungkuk, lalu melebarkan kakinya mempertontonkan belahan memeknya dari arah belakang. Lalu kembali menghadap Evan, tangannya ia lipat di belakang kepala, memperlihatkan keindahan keteknya sambil membusungkan payudara. Makin gemas Evan jadinya, kontolnya kini berkibar dengan sangat sempurna.
Gila benar deh si Maya, kalau pakai musik sudah jadi seperti striptease. Goblok sekali itu suaminya, punya istri binal begini malah ditinggal pergi, bukannya dikeloni yang bener. Kan jadi Evan yang beruntung.
Maya tersenyum lebar melihat kontol Evan yang sudah berdiri dengan garang. Ia lalu mendekat, berjongkok di pinggir ranjang. Tangannya mulai dengan cekatan meremas dan mengocok lembut kontol itu, sesekali dipijatnya dengan ringan biji peler Evan. Walau hanya dikocok, tapi rasa yang ditimbulkannya sangatlah nikmat. Sepertinya Maya ingin menanamkan kesan pertama yang begitu kuat pada hubungan awal mereka ini.
Sesekali ujung jempolnya memainkan lubang pipis Evan, kocokannya lembut dan sangat sensual. Tak lama berselang lidahnya mulai beraksi menjilati biji Evan, sementara tangannya terus asyik mengocok di batang. Diemutnya dengan lembut biji zakar Evan bergantian.
“Uuffff... mantaaaap!” Tanpa sadar Evan melebarkan kaki.
Puas dengan biji, kini mulut Maya yang panas itu mulai menjelajahi kepala penis Evan. Dijilatinya dengan gerakan melingkari seluruh kepala kontol, sesekali lidahnya menusuk di lubang kencing. Dan kemudian dengan antusias dia mulai menjilati batang kontol Evan, seperti menjilati es mambo saja gayanya. Lidahnya atraktif sekali membelai urat-urat yang menonjol di sekujur batang kontol Evan.
Lalu, Hup!
Mulut Maya mulai memompa, enak sekali saat bibirnya menyapu batang kontol Evan. Apalagi sambil memompa, lidahnya tetap menjilati dengan lembut. Mata Maya memandang ke arah mata Evan. Senang sekali Evan melihatnya, ekspresi Maya saat menghisap benar-benar bikin nafsunya bangkit. Kontolnya benar-benar ngaceng dan berdenyut keras. Matanya merem melek merasakan nikmat hisapan lembut itu.
Dan seakan belum cukup, selagi Evan masih merasakan nikmat, kontolnya kini dengan pasrah sudah berada dalam jepitan payudara Maya yang lumayan besar. Posisi payudaranya yang agak turun makin menambah enak rasa jepitan itu. Kedua belah tangan Maya mengapit kedua sisi payudara itu, lalu bergantian ia menaik-turunkan payudaranya, membuat kontol Evan yang berada di tengah-tengah terpompa dengan nyaman.
Gila! Harus diakui, untuk urusan jepit kontol memakai payudara, Maya jagonya. Benar-benar muaaantaaapp rasanya.
”Ssshh... May! Enaaak bangeeett, May...”
”Nikmati saja, Van!”
”Kamu benar-benar top dah.”
Mungkin karena senang dengan pujian itu, makin hebat saja servis si Maya. Sambil tetap memijat kontol Evan dengan payudara, mulut Maya ikut menghisap di kepala kontol sekali-sekali. Belahan payudaranya kini mulai basah oleh keringat, makin melicinkan gerakan kontol Evan. Wow, kacau nih. Bise berabe urusannya. Evan bisa ngecrot duluan. Padahal prinsipnya; kalau pertama kali main sama perempuan yang baru, mesti dapat kehormatan keluar di dalam. Maka dia segera meminta Maya untuk berhenti.
”Kenapa, Van. Memang nggak enak ya?”
”Nggak, May. Enak banget malah. Cuma, gantian dong. Aku juga nggak tahan pengen menjamah tubuhmu yang aduhai.”
”Oh gitu... kukira kamu minta berhenti karena merasa nggak enak.”
”Nggak, May. Eh iya, nanti aku boleh ngecrot di dalam kan?”
“Konyol amat pertanyaan kamu, Van. Sama Hesti, kamu keluar di dalam nggak?”
Evan mengangguk.
“Lalu, aku apa bedanya? Lagian aku juga paham, laki-laki itu enaknya kalau merasakan keluar di dalam. Kan kasihan lagi enak-enaknya, malah dicabut terus ngecrot di luar.”
”Hehehe, tahu aja kamu.”
Evan segera bangkit, Maya mulai naik ke atas ranjang. Belum juga dia berbaring sempurna, tangan Evan mulai meremas-remas bulatan payudaranya yang menggoda. Maya terkikik kegelian. Remasan Evan dari lembut, perlahan berubah menjadi kuat. Payudara Maya terasa enak, nyaman sekali di tangan. Terasa kenyal tapi juga keras.
“Ihhh, Van!” Maya menggelinjang begitu telapak tangan Evan mulai menggelitiki kedua putingnya, membuat puting yang mungil kecoklatan itu makin mencuat tajam.
Dengan gemas Evan melumatnya. Keduanya ia jilat habis, dihisap-hisap, diemut-emut, membuat Maya kelojotan keenakan. Sementara tangannya sibuk membelai dan menggosok belahan memek Maya yang terasa basah.
Puas bermain dengan payudara, Evan bergerak ke arah selangkangan. Secara otomatis Maya mengangkangkan kaki. Evan memuas-muaskan diri mengagumi keindahan lahan yang akan segera ia garap ini. Jembut Maya lebat dan hitam, sementara dari belahan memeknya terlihat celah berwarna coklat kehitaman. Mungkin terangsang karena Evan menatap memeknya dengan penuh minat, memek Maya mulai berair. Hmm, sepertinya dia sudah kepengen disodok nih.
”Buruan, Van. Jangan dipandangi aja, nanti keburu berlumut!”
”Sabar sedikit, May. Aku mau puas dulu melihatnya, biarkan aku mengenal memekmu lebih jauh.”
”Lebih enak dipakai daripada cuma dilihat, Van!”
”Kamu nafsu amat.”
”Kan sudah aku bilang, memekku sudah lama nggak disodok sama kontol. Di dekat rumahku juga nggak ada anak muda yang sesuai sama seleraku. Buruan ah, nanti keburu kering!”
Hmm, Maya sudah gatel berat rupanya.
Segera saja Evan menggarap memek itu memakai lidah. Itil Maya sudah nongol minta untuk dijilat, langsung diseruput dan dihisap-hisap Evan hingga membuat Maya kelojotan dan mendesah tak karuan. Mulutnya sudah seperti orang makan sambel, mendesah terus. Sementara tangannya menarik rambut Evan. Terangsang mendengar desahannya, Evan makin agresif saja. Jari tengahnya ikut bermain, menusuk-nusuk lubang memek Maya yang sudah basah.
”Oooowww... manteeep, Vann! Sssshhh... yaaaaa... yaaangggg... ituuuuu... ennaaakkkkk... aahhhh... gilaaaa... ughhhh...”
Diiringi gerakan mengejang yang kuat dan liar, Maya dengan nikmatnya mendesah dan mengeluarkan orgasmenya. Raut wajahnya lemas namun penuh dengan kenikmatan. Evan segera bersiap, badannya kini berada di atas tubuh bugil Maya. Kontolnya siap untuk diluncurkan. Maya dengan penuh kesadaran mengangkat dan mengangkangkan kedua kakinya.
Blessss... mudah saja kontol Evan menghujam ke dalam lubang memek perempuan cantik itu. Evan diam sesaat merasakan momen pertama menerobos memek Maya. Namun Maya sudah tidak sabar, segera dia menggoyangkan pinggulnya.
Oke deh, May. Kalau itu yang kamu mau, rasakan dan nikmati sendiri seranganku! tekad Evan dalam hati.
Dia segera memompa kontol dengan ganas, secepat dan sekuat mungkin. Memek Maya enak juga, masih menggigit dan mencengkeram erat. Sengaja ia tarik kontolnya keluar sampai sebatas kepala, jadi pas masuk kembali akan menggelitik bibir memek wanita cantik itu.
Maya cuma bisa mendesah sambil merem-melek keenakan. Mukanya benar-benar bikin nafsu. Segera saja Evan menyosor bibir tipisnya, dipagut dan dilumatnya rakus. Mereka berciuman dengan sangat seru. Pompaannya juga semakin laju seiring memek Maya yang kian basah.
Puas menciumi bibir, Evan menyosor ketek. Aromanya enak, harum dan menggoda. Maya memang yahud; goyangan pinggulnya asik, bisa mengimbangi dengan pas setiap sodokan Evan, bikin Evan jadi makin asoy. Dengan semangat tinggi dia terus memainkan kontol semaksimal mungkin, hingga Maya kian mendesah tak karuan.
”Enaaakkk, Van... terruusss... pantesssaaannn si Hestiii doyaaaannnnn maiiinn saamaa kamuuuh... ahhhhh...” Dia orgasme lagi.
Evan masih mau lanjut, tapi ganti gaya dulu ah. Segera ia cabut batang kontolnya, lalu mengambil bantal. Evan bersandar di kepala ranjang. Maya yang mengerti, segera memposisikan tubuhnya di atas perut pemuda itu dengan posisi membelakangi. Dia sedikit berjongkok, dan...
Blesss... amblas lagi batang kontol Evan ke dalam lorong memeknya. Kini Maya yang bergoyang, badannya bersandar di badan Evan. Tangan Evan asyik memeluk, meremas-remas bulatan payudara mulus Maya yang bergoyang-goyang heboh mengikuti hentakan pinggul. Jarinya memilin dan memainkan puting, sementara kedua tangan Maya naik ke atas merangkul kepala Evan. Posisi yang sungguh sangat erotis.
 Maya makin heboh dalam menggoyangkan pinggulnya, bikin kontol Evan bekerja cukup keras. Tidak mau ketinggalan, jari Evan segera berpartisipasi memainkan dan mengelus-elus itilnya, bikin wanita itu makin semangat keenakan. Sementara satu tangan Evan terus asyik memainkan payudaranya. Maya mendekatkan bibir dan... ya sudah, Evan menyosor lagi. Sesekali ia jilati leher sama bagian belakang kuping Maya. Pokoknya dia gerayangi wanita itu semaksimal mungkin.
Akhirnya setelah cukup lama bergumul, kontol Evan terasa mau meledak. Maka sambil meremas payudara Maya kuat-kuat, ia semburkan semua pejuh ke dalam lubang memek wanita cantik itu.
Ah, nikmatnya. Benar-benar mantap. Evan musti mengacungkan jempol buat Maya, pintar juga dia mengimbangi permainannya.
Mereka diam sebentar. Akhirnya Maya mencabut jepitannya, dia berdiri lalu berbaring di depan Evan. Kakinya mengangkang, pantatnya agak diangkat, membuat Evan bisa melihat secara close-up belahan memeknya. Nampak peju Evan mengalir keluar dari lubang sempit itu, seperti lava pijar yang baru meleleh dari celah kawah gunung berapi.
Gila, Maya bisa saja. Dia kemudian mengambil kaos Evan, menyeka memek itu, lalu menjilati kontol Evan untuk membersihkan sisa-sisa pejuh yang masih menempel.
”Hmm, kontol kamu panjang dan enak, Van.”
”Memek kamu juga legit, May.”
Keduanya tertawa bersama. Mimpi apa Evan semalam hingga bisa merasakan tubuh montok seperti milik Maya ini. Tapi dia penasaran juga, Maya kok pintar amat goyangnya. Maka dia pun bertanya, ”Kamu tadi pas buka baju, gayamu sungguh bikin nafsu. Mainmu juga asyik, pinter amat, May!”
”Ya iyalah, aku gitu lho.”
”Belajar di mana?”
”Tuh di rumah, film bokep suamiku sekotak kardus. Kalau pas lagi sendiri dan kepingin, aku setel film-film itu sambil memainkan memekku sendiri. Mau nggak mau aku jadi hafal gaya-gaya di film.”
”Oh, begitu ya.”
“Kamu suka, Van?”
“Tentu saja, suka banget malah. Maaf ya, May. Bego tuh suami kamu, kalau aku pasti betah punya istri seperti kamu.”
”Ya gitu deh, Van. Suamiku doyannya kerja, nggak pernah ngurusi istri.” Roman muka Maya sedikit marah bercampur sedih, Evan jadi tak enak hati jadinya.  Ia lirik jam di dinding, masih jam dua lewat. Maya nampak sudah bisa menguasai dirinya lagi.
”Tidak usah dipikirkan, Van. Kalau dia nggak pedulikan aku, kenapa aku nggak bersenang-senang aja? Untung aku sudah ketemu barang enak seperti milikmu. Mantep bener! Nggak kayak punya suamiku, sekuat-kuatnya belum tiga menit sudah klepek-klepek. Memekku jadi berasa seperti digaruk saja.”
”Kamu bisa aja, May.”
“Eh, Van. Hesti jangan sampai tahu ya, nggak enak karena aku sudah mengambil jatahnya dia. Kita rahasiakan saja, yang penting kalau kamu lagi pengen, kamu bilang saja. Nanti kita ngentot di rumahku juga bisa, di sana sering kosong!”
”Beres, May.”
”Lagi yuk? Tuh kontol kamu sudah ngaceng lagi.”
Akhirnya malam itu Evan menggarap Maya dua ronde lagi. Pas keluar dari rumah Hesti sudah hampir jam empat subuh. Dengkul rasanya lemas sekali. Sampai rumah, Evan cuma mencuci kaki ke kamar mandi. Lalu minum air dan langsung tidur. Capek. Di sampingnya, Franda juga masih pulas.

1 komentar:

  1. Sengsara membawa nikmat kapan realise suhu??

    BalasHapus