Minggu, 23 Juli 2017

Ternodanya Widyaningsih 1



Widyaningsih bekerja sebagai sekretaris pada suatu grup perusahaan  ICT besar di Hongkong. Karena pendidikannya sebagai sekretaris, dimulai dengan ASMI di Jakarta, kemudian dilanjutkan di Inggris karena kebetulan ayahnya sebagai pejabat tinggi dari Deplu ditugaskan di London, maka Widyaningsih yang biasa hanya dipanggil Widya, melanjutkan pendidikannya di Inggris. Setelah itu ia berhasil bekerja di kantor HSBC London, sebuah Bank Internasional, dan dengan modalnya itu maka tanpa terlalu sukar ia memperoleh kedudukannya sekarang di Hong Kong.
Kantornya terletak di bilangan daerah kelas satu, yaitu di jalan Kowloon Boulevard, di sebuah gedung bertingkat. Perusahaan tempat Widya bekerja, memakai 3 lantai penuh yaitu lantai 5, 6 dan 7 dari gedung tersebut. Ketiga lantai tersebut dihubungkan dengan tangga khusus yang sengaja dibuat di bagian dalam perkantoran, untuk memudahkan hubungan antar perusahaan di group tersebut, tanpa mempergunakan lift. Kantor Widya terletak di lantai 6, dan ruangan tempat Widya bekerja terletak agak berdekatan dengan tangga penghubung ke lantai 5 dan 7.

Di tempat perusahaan-perusahaan lain dalam satu group, terdapat beberapa orang asing yang bekerja sebagai tenaga ahli dan kebanyakan mereka berkantor di lantai 7. Mereka ada yang berasal dari Malaysia, Philipina, Indonesia, Bangladesh, dan ada juga dari India serta Pakistan.
Sudah menjadi kebiasaan di kantor Widya di lantai 6, apabila setiap jam istirahat, yaitu dari jam 12.00 sampai jam 14.00 siang, maka para karyawan termasuk para pimpinan perusahaan keluar makan siang sehingga suasana di lantai 6 sangat sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar dekat lift, sambil juga bertindak sebagai operator sementara setiap jam istirahat. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak Widya mulai bekerja di kantor tersebut 4 bulan lalu, Widya lebih sering istirahat sambil makan makanan yang dibawa dari rumahnya, di ruang kerjanya sendirian.
Hal ini rupanya sudah sejak lama diperhatikan oleh Mr. Moghul Singh, salah seorang tenaga ahli yang berasal dari India, yang bekerja di lantai 7. Mr. Moghul sering turun melalui tangga apabila dia pergi ke bagian pemasaran yang terletak di ruangan sebelah barat di lantai 5, sedangkan ruangan tempat Widya bekerja dan tangga penghubung terletak di ujung sebelah Timur lantai 6. Mr. Moghul sangat tertarik melihat Widya, karena Widya yang berumur 28 tahun adalah gadis campuran berdarah Jawa-Cina Menado yang sangat ayu dan cantik.
Dapat digambarkan sosok Widyaningsih adalah gadis bertampang oriental, yang sangat cantik dan manis, dengan kulit agak kuning langsat, tinggi badan sekitar 165 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan rambut hitam bergelombang terurai sampai bahu. Badannya tinggi semampai dapat dikatakan kurus dengan berat badan sekitar 49 kg, dadanya agak rata, hanya terlihat tonjolan buah dadanya yang kecil tapi padat, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya serasi dengan pantatnya yang kecil tapi padat. Tungkai pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya. Apabila berjalan badannya terlihat sangat gemulai dan pembawaan Widya terlihat sangat kalem, malah dapat dikatakan malu-malu.
Mr. Moghul sendiri adalah seorang pria berumur mendekati 40 tahun, berkulit gelap dengan badan tegap besar dan tinggi 180 cm, sedangkan kedua tangannya kekar terlihat berbulu lebat, apalagi pada bagian dada dan kaki. Kedua pahanya terlihat sangat gempal atletis, berbeda dengan kebanyakan pria Indonesia.
Widya memang agak risih juga terhadap Mr. Moghul, karena setiap kali Mr. Moghul lewat depan ruangannya, Mr. Moghul selalu melirik dan melempar senyum kepadanya dan kalau kebetulan Widya tidak melihat keluar, maka Mr. Moghul akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Widya akan terpancing untuk melihat keluar. Widya agak ngeri juga melihat tampang Mr. Moghul yang berewokan itu dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Widya telah mempunyai pacar yang berasal dari Jawa dan badan pacarnya kurang lebih sama tingginya dengan Widya, tidak sebesar atau sekekar tubuh Mr. Moghul.
Sampai pada suatu ketika, pada hari Jum’at, Widya ke kantor mengenakan baju terusan mini berwarna hijau muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut. Seperti biasa tepat jam 12.00 siang, para karyawan dan boss di lantai 6 telah keluar kantor, sehingga di lantai 6 hanya tinggal Widya sendiri yang sedang makan siang di ruangannya.
Tiba-tiba Mr. Moghul melintas di depan ruangan Widya dan terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Tapi seluruh lantai 6 ternyata kosong, semua karyawan telah keluar makan siang. Begitu melintas di pintu keluar satu-satunya yang menuju lift, Mr. Moghul memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Mr. Moghul kembali menuju ke ruangan Widya yang terletak di ujung Timur itu. Secara perlahan-lahan Mr. Moghul mendekati ruangan Widya dan mengintip ke dalam, disaat mana Widya sedang duduk membelakangi pintu menghadap ke jendela kaca sambil makan.
Secara perlahan-lahan Mr. Moghul masuk ke dalam ruangan kerja Widya dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Mendengar suara pintu terkunci, Widya menoleh ke belakang dan mukanya langsung menjadi pucat. Dia segera berdiri dari tempat duduknya sambil berkata dalam bahasa Inggris :
"Sir, apa-apaan ini? Kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci pintunya?"
Tapi Mr. Moghul hanya memandang Widya dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Widya semakin panik dan berkata, "Harap anda segera keluar atau saya akan berteriak!"
Namun dengan amat tenang Mr. Moghul menjawab dalam bahasa Indonesia berlogat sangat kaku : "Silakan saja, nona manis, apabila kamu mau menimbulkan skandal dan setiap orang di gedung ini akan mempergunjingkan kamu selama-lamanya." Ternyata Mr. Moghul pernah bekerja beberapa tahun di Jakarta sehingga lumayan fasih berbahasa Indonesia.
Mendengar itu, Widya yang pada dasarnya agak pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal, sedangkan pekerjaan dan kedudukannya saat ini cukup lumayan dengan penghasilan yang sangat baik dibandingkan kedudukan sebelumnya di Jakarta.
Sementara Widya berada dalam keadaan ragu-ragu, dengan cepat Mr. Moghul berjalan medekat ke arah Widya dan karena ruangan kerja Widya yang sempit itu, maka begitu Widya berusaha mundur untuk menghindar, dia langsung kepépét pada meja kerja yang berada di belakangnya. Dengan cepat kedua tangan Mr. Moghul yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan Widya yang ramping dan mendekap Widya ke tubuhnya. Karena badan Widya yang sangat langsing, lebih tepat dikatakan langsing semampai itu, lelaki tersebut merasakan seakan-akan memeluk kapas nan rapuh sehingga harus diperlakukan dengan sangat lembut dan hati-hati agar tak sampai remuk.
Mr. Moghul memegang kedua lengan bagian atas Widya dekat bahu, sambil mendorong badan Widya hingga tersandar pada meja kerja, kemudian Mr. Moghul mengangkat badan Widya dengan gampang dan sangat hati-hati dan mendudukkannya di atas meja kerja Widya, kemudian kedua tangan Widya diletakkan di belakang badan kemudian dipegang dengan tangan kirinya. Badan Mr. Moghul dirapatkan diantara kedua kaki Widya yang tergantung di tepi meja dan paha Mr. Moghul yang sebelah kiri menekan rapat pada tepi meja sehingga kedua paha Widya terbuka. Tangan kiri Mr. Moghul yang memegang kedua tangan Widya di belakang badan ditekan pada bagian pantat Widya ke depan, sehingga badan Widya yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan bukit kemaluan Widya melekat rapat pada paha sebelah kiri Mr. Moghul yang berdiri menyamping di depan Widya.
Tangan kanan Mr. Moghul yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju terusan yang dikenakan Widya. Badan Widya hanya bisa menggeliat-geliat dan memohon.  
"Jangaaan... jangaaan lakukan! S-stopppp... stoppp... toloong!!"
Akan tetapi Mr. Moghul tetap melanjutkan aksinya itu. Sebentar saja baju bagian depan Widya telah terbuka, sehingga kelihatan buah dadanya yang kecil mungil namun padat dan sekal itu ditutupi dengan BH ukuran 34 B yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat mulus dan merangsang. Tangan kanan Mr. Moghul bergerak ke belakang badan Widya dan membuka pengait BH Widya. Kemudian Mr. Moghul menarik ke atas BH Widya dan... sekarang terpampang kedua buah dada Widya yang kecil mungil sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda kemerahan agak tegang naik turun dengan cepat karena nafas Widya yang tidak teratur.
"Oooohh... ooohh... jaangaannn... jaangaan!"
Erangan Widya tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah mulut Mr. Moghul mulai mencium belakang telinga Widya dan lidahnya bermain-main di dalam kuping Widya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Widya menggeliat-geliat dan tak terasa Widya mulai terangsang juga oleh permainan Mr. Moghul ini.
Mulut Mr. Moghul berpindah dan melumat bibir Widya dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut Widya dan menggelitik-gelitik lidah Widya.
"Aaahh... hmm... hhmm..." terdengar suara menggumam dari mulut Widya yang tersumbat oleh bibir Mr. Moghul.
Badan Widya yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Mr. Moghul sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Widya turun ke leher, kepala Widya tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang telanjang melengkung ke depan, ke arah Mr. Moghul, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat sekal itu, terutama putingnya seakan-akan menantang ke arah lelaki India tersebut.
Mr. Moghul melanjutkan kegiatannya : tangan kanannya memegangi bagian bawah payudara Widya, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Widya yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Mr. Moghul. Buah dada Widya yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Mr. Moghul yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dada Widya yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Widya menerima permainan lidah Mr. Moghul yang sangat lihay itu. Badan Widya terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan.
"Sssshh... ssssshh... aahh... aahh... ssshh... sssshh... jangaann diteeruussiin!"
Namun mulut Mr. Moghul terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, lalu ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dada Widya secara bergantian dengan sangat asyiknya selama kurang lebih lima menit.
Badan Widya benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badan Widya tersentak, karena dia merasakan tangan Mr. Moghul mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju mininya telah terangkat sampai pangkal paha. Widya mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan untuk mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Mr. Moghul, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan oleh Widya adalah hanya mengerang.
"Jaangaaann... jaangaaaan diteeeruusiin!!" akan tetapi suaranya semakin lemah saja.
Melihat kondisi Widya seperti itu, Mr. Moghul yang telah berpengalaman, yakin bahwa gadis ayu ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Mr. Moghul makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha Widya yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan Widya.
Segera badan Widya tersentak dan, "Aaahh... jaannggaan!!"
Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Mr. Moghul yang nakal mengelus-elus bibir vagina Widya yang tertutup celana dalam string dengan renda yang sangat kecil berwarna ungu. Akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Mr. Moghul menarik celana dalam Widya dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Widya.
Widya tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Mr. Moghul ini. Sekarang Widya dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai celana dalam dan kedua buah dadanya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Wajah Widya yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.
Kelihatan perasaan putus asa dan pasrah sedang melanda Widya, disertai dorongan birahinya yang tak terbendung telah melanda. Melihat ekspresi muka Widya yang tak berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu birahi lelaki tersebut. Mr. Moghul melihat ke arah jam yang berada di dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul 12.30, berarti dia masih punya waktu kurang lebih satu setengah jam untuk menuntaskan nafsunya itu. Pada saat itu Mr. Moghul sudah yakin bahwa dia telah menguasai situasi, tinggal melakukan langkah terakhir saja untuk menaklukkan Widya.
Tampa menyia-nyiakan waktu lagi Mr. Moghul, dengan tetap mengunci kedua tangan Widya, tangan kanannya mulai membuka kancing dan retsliting celananya, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan celana dalam-nya. Pada saat celana dalam-nya terlepas, maka senjata Mr. Moghul yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan binatang buas terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa.
Mr. Moghul agak merenggangkan badannya, maka terlihatlah oleh Widya benda yang sedang mengangguk-angguk itu, badan Widya tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua paha lelaki India itu. Benda tersebut hitam besar kelihatan gemuk dengan urat-urat yang melingkar, sangat panjang, sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan panjang pasti lebih dari 20 cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti pohon jamur.
Tak terasa dari mulut Widya terdengar jeritan tertahan, "Idiiih...", disertai badannya yang merinding. Widya belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Widya merasa ngeri. "Bisa jebol milikku dimasuki benda itu!" gumamnya dalam hati.
Namun Widya tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu.
Mr. Moghul menatap muka Widya yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, "Kau cantik sekali, Widya." gumam Mr. Moghul mengagumi kecantikan Widya. "Jangan takut, kau pasti akan sanggup menerima kemaluanku dan menikmatinya."
Kemudian dengan lembut Mr. Moghul menarik tubuh Widya yang kurus itu sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Mr. Moghul berdiri menghadap langsung ke arah Widya, dan karena yakin bahwa Widya telah dapat ditaklukkannya, tangan kirinya yang memegang kedua tangan Widya dilepaskan dan langsung kedua tangannya memegang kedua kaki Widya, kemudian dengan gemas ia mementangkan kedua belah paha Widya lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Widya yang telah terbuka. Nafas laki-laki itu terdengar mendengus-dengus memburu.
Biarpun kedua tangannya telah bebas, tapi Widya tidak bisa berbuat apa-apa karena di samping badan Mr. Moghul yang besar, Widya sendiri merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang menggila, apalagi melihat tubuh Mr. Moghul yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha hitam gempal dan siap membantainya itu.
Sambil memegang kedua paha Widya dan merentangkannya lebar-lebar, Mr. Moghul membenamkan kepalanya di antara kedua paha Widya. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan Widya yang yang masih rapat, tertutup rapi oleh rambut halus itu.
Widya hanya bisa memejamkan mata, "Ooohh... nikmatnya... ooohh!" Widya menggumam dalam hati, mulai bisa menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. "Ooooohh... hhmm!" terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. "Paakkk... aku tak tahan lagi...!" suara Widya terdengar memelas sambil menggigit bibirnya.
Sungguh Widya tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan oleh orang India yang kasar itu dengan gampang dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Mr. Moghul yang telah bepengalaman itu.
Namun rupanya lelaki India itu tidak peduli, bahkan amat senang melihat Widya sudah mulai merespon cumbuannya. Tangannya yang melingkari kedua pantat Widya kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus serta meremas-remas kedua payudara Widya dengan sangat bernafsu.
Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Mr. Moghul ini, Widya benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya tanpa disadari mulai basah kuyup oleh limpahan air cintanya.
"Paakkk... aakkhh... aakkkhh!" Widya mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Mr. Moghul untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Mr. Moghul keras-keras.
Di saat ini Widya melupakan bayangan pacarnya dan kenyataan bahwa lelaki India itu sebenarnya sedang memperkosanya, perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu birahi yang menuntut untuk dituntaskan. Wanita ayu lemah lembut ini benar-benar telah dapat ditaklukkan oleh permainan laki-laki India kasar yang dapat membangkitkan gairahnya.
Tiba-tiba Mr. Moghul melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Widya yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya Widya dari atas meja dan kemudian Mr. Moghul gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Widya ke bawah, sehingga sekarang posisi Widya berjongkok di antara kedua kaki berbulu Mr. Moghul dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya.
Widya baru sadar apa yang diinginkan Mr. Moghul dan berusaha berontak melawan karena hal ini sama sekali tak diduga dan merasa sangat jijik. Belum pernah dibayangkannya untuk melakukan hal ini terhadap suaminya nanti, meskipun tunangannya pernah menyinggung hal itu ketika mereka sedang berduaan dan bercumbuan mesra. Kini ia menghadapi kenyataan bahwa lelaki asing India yang kasar dihadapannya memaksanya melakukan hal itu!
Namun Widya tak mampu berontak dan melawan lama karena keadaannya yang telah terdesak dan sebelum ia sempat protes atau menjerit, tangan Mr. Moghul telah meraih belakang kepalanya dengan cekalan keras lalu dibawa mendekati alat kejantanan yang begitu besar dan mengacung!
Mula-mula Widya masih berusaha merapatkan kedua bibirnya, namun alat kejantanan Mr. Moghul yang tegang keras bagaikan pukulan kasti itu tetap mendorong dan mendesak, sementara hidung Widya mencium aroma khas kemaluan si lelaki India yang membuatnya semakin lemah menyerah.
Akhirnya tanpa mendapat perlawanan berarti, kepala penis Mr. Moghul mulai terjepit di antara kedua bibir mungil Widya, yang dengan terpaksa mencoba membuka mulut selebar-lebarnya. Lalu Widya mulai mengulum alat vital Mr. Moghul ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki India itu merem melék keénakan. Benda itu hanya baru masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Widya yang mungil, itu pun sudah terasa sangat penuh .
Nafas Widya sangat sesak dibuatnya dan karena belum terbiasa terlihat beberapa kali tersendak ingin muntah. Kelihatan Widya bekerja keras untuk menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terlihat jelas kepala penis Mr. Moghul itu bergetar hebat setiap kali lidah Widya menyapu dan menjilat tepi topi bajanya, terutama celah lubang kencingnya yang amat peka.
Beberapa saat kemudian Mr. Moghul melepaskan diri, ia mengangkat badan Widya yang baginya terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas meja dengan pantat Widya terletak di tepi meja, kaki kiri Widya diangkatnya melebar dan menekuk ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Mr. Moghul mulai berusaha memasuki celah surgawi Widya yang masih murni belum pernah dijelajah oleh lelaki manapun sebelumnya.
Kini tangan kanan Mr. Moghul menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan Widya, hingga gadis ini tanpa sadar mulai mendesah-desah kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Meskipun beberapa kali melését, Mr. Moghul terus berusaha menekan senjatanya dan menebus kemaluan Widya yang memang sudah basah, namun ukurannya terlihat terlalu besar sangat tak sepadan dengan sempitnya celah vagina Widya sebagai gadis Indonesia.
Widya mulai merasakan kurang nyaman dan menggeserkan pantatnya ke kiri ke kanan seolah ingin menghindarkan tusukan yang kini disadari pasti akan sangat menyakitinya. Namun tentu saja Mr. Moghul tak bersedia melepaskan mangsa yang sudah berada sepenuhnya di dalam kekuasaannya dan dengan jari-jari tangan kiri dibelahnya bibir vagina Widya kekiri kekanan.
"Aduuuuh, paaaaak... aaaaaaahh, oooooh, ngiluuuu, paaak... udaaaaah, ooooh, sakiiiit, paak!!" Widya mengeluh dan menjerit namun suaranya segera teredam oleh ciuman ganas Mr. Moghul yang kini juga mulai kembali meremas buah dada Widya sekaligus mencubit memilin putingnya sehingga menambah sensasi ngilu dan sakit, berlomba bergantian dengan siksaan di daerah selangkangannya.
Pelahan-lahan kepala penis Mr. Moghul menerobos masuk membelah bibir kemaluan Widya. Ketika kepala penis lelaki India itu mulai menempel pada bibir kemaluannya, Widya merasa agak kagét dan baru menyadari betapa panas dan basah liang vaginanya. Sejenak ia berusaha memahami kondisi ketidak-berdayaannya itu, namun semua pikirannya lenyap, ketika lelaki India bertubuh besar kasar berbulu itu memainkan kepala penis diantara bibir kemaluannya, mendorong ke atas dan menyentuh kelentitnya, menimbulkan suatu perasaan sangat geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dalam keadaan Widya yang sedang gamang dan gelisah itu, Mr. Moghul berhasil menyelipkan kepala penisnya diantara lipatan bibir vagina Widya, hal mana disadari oleh si cantik, namun kini semuanya telah terlambat. Penolakan kedua lengan Widya mendorong dada Mr. Moghul yang penuh bulu itu tak di gubris, bahkan dengan sedikit memajukan pinggulnya, kini kepala jamur orang India ini telah menyentuh selaput dara Widya.
Rasa ngilu, perih dan sakit tak terkira menerpa selangkangan Widya, menyebabkannya menjerit merintih-rintih ketika dengan kasar Mr. Moghul menekan pantatnya kuat-kuat tanpa rasa kasihan lagi ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Widya. Pada saat itu selaput dara Widya yang tipis penuh pembuluh darah halus itu disobék dan dipecahkan dengan sadis, dikoyak tanpa rasa kasihan, teriakan dan rintihan Widya segera dibungkam ciuman kasar Mr. Moghul.
Rambut lebat pada pangkal penis lelaki tersebut mengesek-gesek kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Widya, membuatnya kegelian, di samping rasa nyeri dan sakit sedang dideritanya. Mr. Moghul menekan seluruh batang penisnya semakin amblas di tengah liang vagina Widya, semakin dalam, semakin membelah tanpa ampun lagi. Sehingga menggempur mulut rahim yang begitu peka, akhinya tanpa kuasa menahan diri terdengarlah rintihan Widya nan memilukan  :
"Aduuuh! Oooooooohh... aaaaaahh, paaaaak... saakiiiiit, paaak... ampuuun!" disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Widya mencengkeram sekuat-kuatnya lengan atas Mr. Moghul. P
erasaan sensasi perih, ngilu sakit namun juga perlahan-lahan bercampur nikmat  menerpa Widya hingga badannya mengejang beberapa detik dan tak sadar digigitnya lengan bawah Mr. Moghul.  Pria India ini cukup mengerti keadaan Widya, ketika akhirnya berhasil memasukkan seluruh batang penisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Widya untuk menyesuaikan dengan penisnya yang besar itu.
Perlahan-lahan Widya mulai bisa menguasai diri dan tubuhnya tak lagi mengejang. Beberapa saat kemudian Mr. Moghul mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki India itu bergerak maju mundur dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha putih halus gadis Indonesia yang ayu manis tersebut.
Widya berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut di kemaluannya, bibir basahnya setengah terbuka dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja, sehingga rambutnya tergerai.
Widya mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membuka sebentar dan melihat wajah gelap lelaki India menatapnya dengan takjub dengan sinar mata penuh nafsu birahi. Widya berusaha mengatur nafasnya yang semakin terengah-engah dan merintih-rintih memilukan.
"Paaaak... aaaahh... ooooohh... ssssshh sssshh, mmmpphh, geliiiii, periiiiiihh, sakiiiiit... udaaah!"
Sementara pria India tersebut menyetubuhinya dengan ganas tanpa menunjukkan rasa kasihan. Widya sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Mr. Moghul menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuat Widya melayang-layang dalam sensasi kesakitan dan kenikmatan yang belum pernah dialaminya.
Setiap kali Mr. Moghul menarik penisnya keluar, Widya merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada saatnya Mr. Moghul menekan masuk penisnya, maka Widya merasakan klitorisnya terjepit tertekan batang penis Mr. Moghul, ikut terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis raksasa dan berurat itu.
Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, mengakibatkan seluruh badan Widya menggeliat-geliat dan terlonjak, sehingga badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan ribuan kata-kata.
Lelaki India tersebut terus menyetubuhi Widya dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Widya dan meremas-remas kedua payudara Widya secara bergantian. Widya merasakan puting susunya sudah sangat mengeras, mencuat dan bahkan kaku. Widya melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki India itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit.
Widya selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam vaginanya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Mr. Moghul yang super besar. Widya menghitung-hitung menit-menit yang telah berlalu, ia berharap lelaki India itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggul, akan tetapi paha, bokong dan kakinya seolah mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Mr. Moghul terus menyetubuhinya bagai tak pernah berkurang staminanya dan tidak juga mencapai klimaks.
Lalu tiba-tiba Widya merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, seolah ada geloambang dahsyat pelan-pelan bangkit bergelora di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Widya merasa dirinya seolah-olah terseret tsunami, mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam vaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya.
Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukkan secara total oleh monster India itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil alih dan tidak membiarkan vaginanya pasrah dalam suatu penyerahan total.
Widya berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan tetapi... tidak bisa, ini terlalu nikmat... proses menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada Widya masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam vaginanya menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu, Widya merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.
Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri? Supaya membuat laki-laki ini tidak merasa puas atau merasa menang? Ah persetan semuanya, akhirnya Widya membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil.
"Ooooh... ooooh... aahhmm... ssstthh, paaakk... iyaaaaa, teruuuuss, nikmaaaat!"
Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan... akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melanda, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan.
Widya terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitam besar Mr. Moghul tetap terjepit dan keluar masuk di dalam liang vaginanya.
Selama proses orgasme yang dialami Widya ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Mr. Moghul, dimana penisnya masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina mangsanya dan pria India ini merasakan suatu sensasi luar biasa. Batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruh penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepala penisnya setiap terjadi kontraksi pada vagina Widya, yang diakhiri dengan siraman cairan panas yang mengalir dari kelenjar dinding mémék Widya.
Perasaan Mr. Moghul seakan-akan menggila melihat Widya yang begitu cantik dan ayu manis itu tergeletak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu.
Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Mr. Moghul membalik tubuh Widya yang telah lemas itu hingga sekarang Widya setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Mr. Moghul. Rupanya Mr. Moghul kini ingin melanjutkan persetubuhan dengan posisi doggy style. Tangan lelaki India itu kini semakin leluasa meremas-remas kedua buah payudara Widya yang kini menggantung ke bawah.
Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan lelaki tersebut menggosok-gosok kepala penisnya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina Widya pada permukaan lubang anus Widya seolah-olah menggoda. Hal ini menimbulkan hentakan kejutan pada seluruh badan Widya dan protesnya yang menunjukkan ketidak relaannya untuk disodomi.
Mr. Moghul faham dan menempatkan kepala penisnya yang besar dibibir vagina Widya dari belakang. Dengan sedikit dorongan, kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan Widya. Kedua tangan kekar berbulu Mr. Moghul memegang pinggul Widya dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Widya tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki Widya dikaitkan pada paha laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut menarik pinggul Widya ke arahnya, kemudian mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Widya,  "Ooooooohhh!"
Penis laki-laki India tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginanya dan Mr. Moghul terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Widya yang setengah terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Mr. Moghul memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vagina Widya yang ketat. Sebagai seorang wanita Jawa yang setiap hari minum jamu, Widya memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh, namun kini ia kewalahan menghadapi Mr. Moghul yang ganas dan kuat.
Laki-laki India itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu. Kemudian Mr. Moghul  merubah posisi permainannya, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan Widya ditariknya duduk menghadap sambil mengangkang dipangkuan Mr. Moghul.
Mr. Moghul menempatkan penisnya pada bibir kemaluan Widya dan mendorongnya sehingga kepala penisnya masuk terjepit dalam liang kewanitaan Widya, sedangkan tangan kiri Mr. Moghul memeluk pinggul Widya dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penis raksasa Mr. Moghul menerobos masuk ke dalam kemaluan Widya. Tangan kanan Mr. Moghul memeluk punggung Widya dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Widya melekat pada badan Mr. Moghul.
Kedua buah dada Widya terjepit pada dada Mr. Moghul yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan rambut dada Mr. Moghul. Kepala Widya tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya agak terkatup menahan kenikmatan yang melandanya dan bibir merekah sehingga dengan bebas mulut Mr. Moghul bisa melumat bibir Widya yang agak basah merah itu.
Melupakan rasa malunya, Widya mulai memacu menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar mengebor, sehingga penis yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam vaginanya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Widya merasakan sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus... terus... Widya tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu mulai datang lagi, Widya tak peduli lagi rasa malunya.
"Aaduuuh... eeeehm, oooooohh... iyaaaaahh, paaaak... teruuuuuuss, nikmaaaat!" Widya memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang itu.
Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Mr. Moghul. Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh ironi memang, gadis Indonesia berdarah Jawa campuran Cina Menado ayu cantik manis yang lemah gemulai itu mendapatkan kenikmatan dahsyat seperti ini tidak dengan kekasihnya, akan tapi dengan orang asing yang  memperkosanya habis-habisan.
Kemudian kembali laki-laki India itu menggendong dan meletakkan Widya di atas meja dengan pantat Widya terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Mr. Moghul mengambil posisi diantara kedua paha Widya yang ditariknya mengangkang ke samping, lalu dengan tangan kanannya ia menuntun penisnya ke dalam lubang vagina Widya yang tampak di hadapan matanya.
Laki-laki India itu mendorong penisnya masuk ke dalam dan menekan badannya setengah menindih tubuh Widya yang telah pasrah oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Mr. Moghul kini memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Widya yang terkapar lemas di atas meja.
Sementara lelaki India itu terus berpacu diantara kedua paha Widya, badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penis lelaki tersebut. Widya benar-benar telah KO dan dijadikan permainan sesukanya oleh si India yang perkasa itu. Widya benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangan.
Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 13.40, berarti telah 1 jam 40 menit dia menggarap gadis ayu tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang keras bergejolak di biji pelirnya sekaligus perasaan tegang dan geli pada ujung penisnya.
Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, "Agh... teruuus, sssshhhh... nikmaaaat!" dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirnya menempel ketat pada lubang anus Widya dan batang penisnya yang besar dan panjang itu terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Widya.
Dengan suatu lenguhan panjang, "Sssh... ooooh!" sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, lelaki India tersebut merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam vagina Widya.
Ada kurang lebih lima detik lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Widya yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke seluruh rongga vaginanya. Tubuh lelaki India itu bergetar hebat di atas tubuh gadis ayu itu.
Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi tersebut, secara perlahan-lahan Mr. Moghul bangun dari atas badan Widya, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan cécéran air maninya yang mengalir keluar dari bibir kemaluan Widya. Setelah bersih, Mr. Moghul menarik tubuh Widya yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka.
Setelah merapikan baju dan celananya, Mr. Moghul menarik badan Widya dengan lembut ke arahnya dan memeluk dengan mesra sambil berbisik ke telinga Widya, "Maafkan saya, manis... terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit paksaan!"
Kemudian dengan cepat Mr. Moghul Singh keluar dari ruangan kerja Widya dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat kembali ke lantai 16. Jam didinding telah menunjukan pukul 13.55
Sepeninggal Mr. Moghul, Widya terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, terbersit perasaan sangat malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan kenikmatan hebat yang belum pernah dibayangkan, apalagi dialaminya. Hal yang diimpikannya untuk dialami dengan suaminya kelak kini telah benar-benar menjadi kenyataan sebelumnya. Dalam pikirannya timbul pertanyaan apakah ia bisa sepuas tadi bila dia berhubungan dengan pacarnya, setelah mengalami perkosaan namun sekaligus persetubuhan yang sensasional itu ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar