Sabtu, 15 Juli 2017

The Death-Rider



Siang yang panas. Angin bertiup kencang dari pantai indah yang berpasir putih. Bersembunyi diantara tonjolan batu karang, jauh dari pandangan orang-orang yang berlalu-lalang dan perahu-perahu nelayan yang lagi mangkal, kucium sekali lagi Tanter manis Citra. Dengan disaksikan deburan ombak yang semakin menggila, kubuka baju lengan pendek yang membalut tubuh gadis itu. Lembut,  kuremas buah dadanya yang menggunung. Uh, meski sudah sering melakukannya, tapi tak urung kepadatannya tetap membuatku gemetar. Citra melenguh dan menjatuhkan kepalanya di pundakku, pasrah. Dengan penuh kasih sayang, kubelai rambut halus  cewek imut bak marmut yang sudah menjadi pacarku selama satu tahun ini.
Bukan tanpa alasan aku menyukai Citra. Wajah tirus dengan alis melengkung membuat parasnya begitu sempurna untuk dinikmati. Kulitnya putih keemasan, membuatnya selalu bersinar bila berada di dekatku. Juga bokong dan payudaranya yang besar, yang selalu bisa memancing gairahku, kapanpun dan dimanapun, termasuk juga saat ini.

“Say?” suaraku serak.
“Mm… “ gadis itu menyahut lemah.
“Kalo aku jadi lulus tes UMPTN, gimana?” aku bertanya sambil memasukkan jari-jari tanganku ke balik bh-nya. Kuremas gundukan buah dadanya yang besar itu dengan kedua tanganku.
”Ahh,” Citra menggelinjang. Matanya yang bulat menatapku sendu, seperti menyuruhku untuk berbuat lebih jauh. ”Kalau untuk kebaikan kita berdua, Citra ikhlas, Bang.” gadis itu berkata lirih.
”Oh, trims ya, Say.” kami saling bertatapan, dan tak tahan, kucium sekali lagi Bibirnya sebagai rasa terima kasih. ”Aku janji deh, Sayang. Aku bakal sering nelpon kamu, SMS kamu, dan kalo ada libur sedikit saja, aku langsung pulang.” yakinku.
”Beneran?” dia memelukku. ”Janji lo ya!”
”Iya, aku janji.” aku balas memeluknya.
“Tapi, Bang…” Citra memandangku.
“Iya, ada apa, Sayang?”  kutatap balik wajah cantik yang selalu membuatku kangen itu.
”Nanti siapa yang menemani Citra disini?”
”Lho, kan tadi aku sudah janji bakal SMS n telepon kamu tiap hari.”
”Iya, Bang. Tapi maksudku bukan itu.”
”Lha, terus?”
”Maksud aku, kalau Citra kedinginan, nanti siapa yang meluk n ngangetin aku, gitu.”
Aku tertawa.
”Lho, kok malah ketawa?” gadis itu bertanya heran.
”Kamu ketagihan ya?” aku menodongnya.
Gadis itu tersenyum, dan dengan anggukan samar dia menjawab pertanyaanku. ”Citra bakalan kangen ini, Bang.” gadis itu meremas kontolku yang sudah menegang kencang di balik celana.
”Suka ya sama kontolku?” aku bertanya sambil melepas celana.
”Ehm, suka banget, Bang.” dan gadis itu langsung menyambarnya begitu kontol hitamku lepas dari kungkungan celana dalam. ”Kontol Abang itu enak banget! Gede. Bisa muasin memek Citra yang gatel.” dia mengocoknya pelan.
”Tubuhmu juga enak. Aku suka.” aku berkata jujur. Tubuh Citra memang nikmat sekali, beda dengan tubuh cewek-cewek yang pernah aku tiduri sebelumnya. Selain berkulit halus dan mulus, tubuh Citra juga montok banget, satu hal yang selalu membuatku ketagihan untuk terus dan terus menumpahkan spermaku ke dalam rahimnya. Memeknya juga tetap rapet meski sudah sering kupakai, entah perawatan macam apa yang ia lakukan hingga membuat benda itu bisa menjadi seperti ini.
”Kita lakukan sekarang, Bang. Mumpung Abang belum berangkat.” Citra menggeser duduknya hingga dia sekarang berbaring di sebelahku.
Aku mengangguk mengiyakan, memang itulah tujuanku membawa gadis itu kemari. Aku ingin kembali merasakan kehangatan tubuhnya di tempat pertama kali kita bertemu.
”Cepat aja ya. Nggak usah dilepas semua.” aku menarik sedikit celana dalam Citra, sekedar agar memeknya kelihatan.
Gadis itu mengangguk. ”Iya, Bang. Kalau senja disini makin rame.”
Citra menjilati kontolku sebentar sebelum aku mulai menusuk dan menggoyang tubuhnya. Dengan kelamin yang sudah menempel erat, kami berciuman mesra. Kulumat Tanter tipis gadis itu dengan rakus. Sesekali lidah kami bertemu untuk saling menjilat dan menghisap. Wangi tubuh Citra membuat nafsuku meningkat dengan cepat. Payudaranya yang sejak tadi berada dalam genggamanku, kini sudah tidak tertutup lagi. Kusingkap BH tipisnya ke atas hingga membuat benda bulat padat itu menggantung bergoyang-goyang indah di depanku. Dengan gemas, kupijit dan kupilin-pilin putingnya yang mungil kemerahan.
”Auhhh!” Citra merintih lirih kegelian. ”Ah, enak banget, Bang. Terus. Ampun, nikmat banget!” dia menceracau.
”M-memek kamu... sempit banget.” bisikku di sela-sela desahannya.
Citra mengangguk, ”Abang suka?”
Aku menusukkan penisku dalam-dalam sebagai jawaban atas pertanyaannya.
”Ouw, aarghhh... aduh, ampun, Bang.” dia menjerit. ”Rasanya nembus sampai ke perut.”
Aku tertawa mendengarnya dan melanjutkan goyanganku. Kali ini dengan lebih pelan karena kudengar ada langkah kaki beberapa orang yang melintas di tebing tak jauh di atas kami.
”Ada orang, Bang.” Citra menahan batangku, memintaku berhenti.
”Iya, aku tahu.” kubekap mulut Citra dengan ciuman, sementara payudaranya yang besar kembali kujamah untuk kuremas-kuremas.
”Aarghhh... stop dulu, Bang.” Citra menahan perutku saat melihat aku yang terus menggoyang.
”Tanggung nih,” aku terus memaksa. ”Aku dah mau keluar.” dan terus kugoyangkan pinggulku untuk menyetubuhinya.
”Nanti ketahuan.” Citra masih tampak enggan, tapi sudah tidak menahan lagi.
”Tidak akan, tebing itu terlalu tinggi.” aku memberi alasan agar dia sedikit tenang. Alasan yang sangat ngawur tentu saja karena aku tahu, dari atas tebing sana, siapapun akan bisa melihat perbuatan kami dengan jelas. Tapi aku tidak peduli, biar saja mereka melihat perbuatan kami, toh pantai ini memang terkenal karena banyaknya pasangan mesum yang berbuat asusila disini. Aku masih mending melakukannya di balik karang, pasangan lain malah terang-terangan melakukannya di pantai atau gubuk-gubuk nelayan yang banyak tersebar di sekitar sini.
Dengan nafsu makin memuncak, aku kembali menusukkan penisku dalam-dalam. Sepertinya orang-orang itu sudah berlalu karena suasana kembali sunyi seperti sedia kala. Hanya hembusan angin dan kicau burung camar yang terdengar, dengan sesekali dicampuri oleh teriakan kami berdua yang semakin menggila.
”Ohh, enak banget, Bang.” Citra mendesis. ”Tusuk lebih keras. Lebih dalam!” dia menarik-narik pinggulku, berharap penis raksasaku terus mengaduk-aduk liang vaginanya yang sekarang terasa semakin basah.
Sambil berpegangan pada payudaranya yang besar, kupenuhi permintaan gadis cantik itu. Kutekan batangku keluar masuk dengan cepat, makin lama makin cepat, dan seiring semakin membanjirnya cairan kewanitaan Citra, gadis itupun akhirnya menjerit.
”Aarrgghhhh... aarrgghhhhh... arrgghhh...” tiga kali dia menjerit, tubuhnya menggelinjang, dan tiga kali pula kurasakan cairan dari vaginanya menyemprot membasahi penisku.
Aku berhenti menggoyang, aku ingin memberi kesempatan pada Citra untuk menikmati orgasmenya.
”Uh, gila! Nikmat banget, Bang!” bisiknya mesra di telingaku. Tubuhnya masih sedikit gemetar karena sisa-sisa orgasme masih melanda tubuh sintalnya. Cairan kental masih terus mengalir memenuhi rahimnya, membuat penisku seperti direndam dalam air gula hangat.


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar