Jumat, 07 Juli 2017

Vanquish 15

Epilogue
Confession

Sebulan kemudian, terminal kedatangan internasioal SHIA

Seorang pria dengan tegap sedang berdiri di depan pintu keluar terminal kedatangan internasional Bandara Soekarno Hatta. Pria yang memakai kacamata hitam itu nampak memperhatikan satu persatu orang yang keluar. Beberapa saat kemudian dia tersenyum saat seorang pria berperawakan tinggi besar terlihat tersenyum dan menghampirinya, mereka pun bersalaman.
Welcome back to Indonesia, Sebastian Mahendra.”
Thanks for pick me up, Rio Argiantono.”
How’s your flight, Bas?” tanya Rio.
Well, it’s good,” jawab Bastian.
Alright, let’s go to your apartement,” ajak Rio.

Wait a second, I’m along with two other,” jawab Bastian.
“Siapa?” tanya Rio.
“Nah, tuh mereka,” jawab Bastian sambil menunjuk dua orang pria bule.
What? McArthur brothers?”
Hi, what’s up, Rio? Long time no see.”
Hi, guys, what’s up.”
“Udah, udah, ngobrolnya ntar aja di apartemen, yuk cabut,” ajak Bastian.

***

Satu jam kemudian di apartemen Bastian

“Jadi, gimana kemarin, Yo? Seru nih kayaknya?” tanya Bastian membuka obrolan.
“Haha... yaa seperti yang sudah lu rencanain, semuanya berjalan lancar. Awalnya Marto nggak mau membunuh bokap lu, jadi yaa terpaksa waktu di rumah sakit gw saja yang ngebunuh dia,” jawab Rio.
“Hey, jangan lagi sebut dia bokap gw. Ayah macam apa yang ngebuang anaknya ke luar negeri cuma buat balas dendam. Nggak tahu dia kalau gw jauh lebih pintar darinya, dan secara nggak sadar dia masuk ke rencana yang sudah kita buat, haha. Lalu gimana dengan Vanquish?” tanya Bastian.
“Yah seperti yang lu tahu, Karim dan Doni mati malam itu. Anggota yang lainnya yang gw kirim buat ngancurin pabrik shabu Baktiawan juga udah pada mati karena mereka nggak sadar disana udah penuh jebakan dan bom. Tapi si Marto masih hidup. Entah gimana dia bisa matiin sniper yang dikirim Fuadi, padahal kan harusnya Doni dan Marto juga mati di tangan mereka, sama seperti Karim.”
“Ah sudahlah, Yo, Marto udah nggak penting lagi. Toh dia tahunya si Bakti yang nyulik dan merkosa istrinya. Sekarang Bakti udah mati, jadi Marto nggak bakal gangguin kita lagi,” sahut Bastian.
“Terus, gimana dengan E-coli?” tanya Rio.
E-coli itu urusan gampang, makanya gw bawa McArthur bersaudara kesini,” jawab Bastian.
“Apa hubungannya sama mereka? Tapi gimana caranya Steve dan David yang anggota terbaik SAS bisa ikut sama lu, Bas?” tanya Rio heran.
“Haha... mantan, Rio, mantan anggota SAS. Ada lah pokoknya, ntar aja lu tanya sama mereka langsung. Yang jelas gw bawa mereka buat jaga-jaga. Bukan E-coli yang harus diwaspadai. Dia memang hampir mengganggu rencana kita, tapi asal lu tahu, E-coli digerakkan oleh seseorang dan sangat patuh dia. Orang ini memang hampir tidak pernah muncul di dunia hacker, tapi semua agen rahasia dunia sudah tahu ada seorang hacker yang jauh lebih hebat dari E-coli, bahkan menjadi gurunya. Dia disebut sebagai, Venom.”

***

POV Marto

“Jadi gitu rencananya, Yan. Gimana, kamu mau ikut kan?”
“Yaa kalau demi kebaikan Zainal, aku ikut aja deh, mas.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Yani. Aku baru saja menyampaikan maksudku untuk nantinya membawa Yani dan mengangkatnya menjadi asisten rumah tangga setelah aku menikah dengan Safitri, dan juga niatku untuk menyekolahkan Zainal. Sayang sekali rasanya kalau anak secerdas Zainal ini sama sekali tak mengeyam bangku pendidikan.
Aku memang belum memiliki pekerjaan dan penghasilan, karena itulah aku menyampaikan niatku ini kepada Safitri terlebih dahulu, dan ternyata responnya sangat positif, dia sangat mendukung dan mengatakan bersedia untuk membiayai sekolah Zainal. Hitung-hitung selain sebagai ungkapan terima kasih, kehadiran Zainal mungkin bisa menjadi teman sekaligus kakak bagi Andin.
Bahagia rasanya, setelah sekian lama berkubang di lumpur penuh dosa, kini aku mulai merintis jalanku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pak Wijaya yang dulunya begitu benci kini sikapnya sudah berubah ketika mengetahui aku turut berandil untuk menyelamatkannya, meskipun pada awalnya aku juga terlibat dalam rencana Baktiawan dan Fuadi. Pinanganku kepada Safitri diterima tanpa ada halangan sedikit pun ketika aku mendatanginya seminggu setelah peristiwa malam tahun baru itu.
Safitri yang dulu juga sangat membenciku kini memang sudah melihat perubahanku, dan dia ternyata juga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Aku memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Safitri, tentang masa laluku, kenapa aku berubah menjadi orang yang begitu jahat, juga tentang peristiwa yang menjadi titik balikku sehingga kembali ingin menjadi orang yang baik, yang salah satu sebabnya tentu saja karena ingin hidup bersama dengannya.
Dia juga menceritakan banyak hal kepadaku, yang memang sebenarnya aku sudah tahu, tentang perselingkuhannya dengan Pak Wijaya, lalu tentang dia yang diperdayai oleh Ramon, namun mendengarnya menceritakan dengan lugas dan jujur semakin membuat hatiku lega. Aku yakin dengan saling berterus terang seperti ini ke depannya kami bisa lebih baik lagi. Aku sudah bertekad dan berjanji dalam hati, apapun yang akan terjadi nanti akan aku beritahukan kepada Safitri tanpa ada yang ditutup-tutupi, sepahit apapun itu. Dan sepertinya kulihat dia juga memiliki niatan yang serupa.
Namun sebenarnya dalam hatiku tersimpan banyak sekali pertanyaan tentang peristiwa malam tahun baru berdarah itu yang belum aku ceritakan kepada Safitri karena pesan dari seseorang. Siapa yang sudah membantuku melumpuhkan sniper yang sempat mengancam nyawaku? Dan sebenarnya bukan aku yang menembak mati keempat bandit yang ada di dalam gudang itu, melainkan orang yang menolongku. Dan satu hal lagi yang masih terngiang di kepalaku adalah, saat aku melihat dari teleskop di senapanku bagaimana Doni tewas tertembak. Saat itu tiba-tiba saja suara orang misterius itu kembali kudengar.
“Jangan berbicara apapun, bersikaplah seolah kamu tidak tahu apa-apa tentang kematian Doni. Jangan beritahu siapapun, percayalah padaku, suatu saat nanti akan kita bongkar semuanya.”
Aku tercengang mendengar itu. Rupanya orang misterius itu juga melihat bagaimana Doni tewas. Aku tak habis pikir dengan yang terjadi. Doni memang beberapa kali terkena tembakan, tapi tembakan yang menghabisi nyawanya bukanlah datang dari para preman itu, melainkan dari belakang, dari Rio.

***

POV Safitri

Aku tak bisa menahan untuk tak tersenyum. Ya, ada rasa bahagia yang begitu besar sedang kurasakan kini. Akhirnya aku bisa melihatnya lagi, melihat pria yang dulu pernah sangat kubenci, tapi kini menjadi pria yang sangat kucintai.
Beberapa hari setelah peristiwa malam tahun baru berdarah itu, Marto datang ke rumahku. Dengan bantuan tongkat, dia berjalan tertatih-tatih. Dia menceritakan semua yang telah dia alami. Bukan hanya yang baru saja terjadi, tapi juga termasuk masa lalunya, yang telah merubahnya dari orang baik menjadi orang yang begitu jahat.
Seharian penuh dia bercerita tentang semuanya, bahkan sempat pula dia menangis saat menceritakan kisah tragis mendiang istrinya. Semua yang dia ceritakan tentu saja membuatku sangat terkejut. Aku benar-benar tak menyangka dia menjalani kehidupan yang begitu berat. Namun aku juga bangga, karena secara tidak langsung, aku menjadi penyemangat baginya untuk bisa terlahir kembali menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Dan yang lebih membahagiakan bagiku adalah, dia menyampaikan niatan baiknya untuk melamarku dan menjadikanku istrinya. Tentu saja aku mau, karena memang hal inilah yang aku tunggu-tunggu. Tapi jelas aku tidak langsung menunjukkan itu padanya, aku bilang padanya dia harus secara resmi memintaku kepada orang tuaku, dan pastinya kepada ibu mertuaku juga. Dan tak lupa dua harus bisa merebut hati Andin, anakku.
Akupun juga menceritakan kepada Marto tentang apa yang sudah aku alami. Bagaimana aku memiliki affair dengan Pak Wijaya, juga bagaimana Ramon menjebak dan menjadikanku mainannya. Aku juga bercerita bagaimana rencana Ramon yang akan memberikanku kepada Toro, seorang pentolan preman yang ditakuti disini untuk dijadikan budak nafsunya.
Namun aku beruntung, dengan tewasnya mereka, terutama Ramon yang aku tahu dibunuh oleh Marto, semua itu tak bakal terwujud. Selain ikut andil menyelamatkan keluarga Pak Wijaya, Marto juga telah menyelamatkan masa depan dan kehormatanku, karena aku tahu alasan utama dia membunuh Ramon adalah untuk balas dendam karena telah menjebakku.
Marto saat ini memang tak punya pekerjaan, tapi bukan masalah buatku. Karena aku yakin Tuhan telah menyiapkan pintu rejeki yang baik dan halal bagi hambaNya yang memang memiliki niat yang baik. Meskipun kami berdua sudah sangat kotor, tapi niat dan keinginan kami untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi, pasti akan menemukan jalannya sendiri.
Akhirnya kebahagiaanku bertambah lagi ketika aku melihat anakku, Andin, ternyata begitu mudahnya akrab dengan Marto. Bahkan ketika Marto bergurau dan meminta Andin untuk memanggilnya papa, dengan polosnya dia memanggil Marto dengan sebutan papa, hingga sekarang.
Marto juga mengatakan padaku tentang sepasang ibu dan anak, yaitu Yani dan Zainal, yang selama ini telah merawatnya. Dia bilang ingin membantu kedua orang itu, dan bertanya bagimana jika nanti kami sudah menikah, mengangkat Yani sebagai asisten rumah tangga, serta menyekolahkan anaknya, Zainal. Aku sama sekali tak keberatan dengan usulnya itu, hitung-hitung sebagai sebuah ucapan terima kasih. Namun aku tak tahu, jika ternyata keputusanku ini akan menyebabkan sesuatu ke depannya.
Selain itu aku juga masih mempunyai ganjalan dalam hatiku sebenarnya. Saat malam tahun baru berdarah itu, ketika semua tim sudah berangkat di bawah pimpinan rekanku Fadli, tiba-tiba saja Kompol Arjuna memanggilku ke ruangannya. Sesampainya disana dia kembali mengungkit tentang yang terjadi antara aku dan Ramon, dan dia memiliki satu permintaan untuk membuatnya tutup mulut menyimpan semua rahasia itu.
Aku semula sempat khawatir kalau saja dia meminta tubuhku untuk melayaninya sebagai jaminan tutup mulutnya, terlebih dia kemudian menutup dan mengunci pintu ruangannya. Namun ternyata kecurigaanku meleset, dia bukannya memintaku untuk menyerahkan tubuhku, tapi meminta sesuatu yang membuat tawaku hampir meledak. Yah, dia memintaku untuk memijat pundak dan punggungnya.
Aku benar-benar terkejut mendengar permintaannya itu. Di saat suasana sedang tegang karena peristiwa penculikan keluarga Pak Wijaya, bisa-bisanya dia meminta hal seperti itu. Tapi tetap saja aku lakukan, daripada dia berubah pikiran dan malah meminta aku untuk melayaninya.
Saat aku memijatnya, beberapa kali dia memegang dan mengelus-elus tanganku. Aku membiarkannya saja selama tidak berbuat lebih jauh dari itu. Dan setelah hampir satu jam, saat tanganku sudah benar-benar pegal urusan memijat pun selesai. Saat aku hendak minta ijin untuk keluar dari ruangannya, dia menahanku, kemudian memegang kedua tanganku. Tatapan matanya tajam sekali, membuatku tak bergeming.
“Fit, boleh aku meluk dan nyium kamu? Sekali ini aja?” tanyanya lirih membuatku kaget.
Padahal dengan memegang rahasiaku dia bisa memaksaku untuk berbuat lebih, namun ini hanya peluk dan cium. Apalagi dia memintanya dengan sopan, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya? Namun aku masih bimbang, jika aku menolak aku takut dia justru akan memaksaku dengan ancaman menyebarkan rahasiaku, tapi jika aku menerima aku takut dia juga akan meminta lebih lagi.
“Gimana? Boleh?” tanyanya lagi.
Tatapan matanya benar-benar tajam menusukku, namun tak terlihat tatapan nafsu disana. Entah apa aku tak tahu tapi yang jelas itu bukan nafsu. Aku seolah tak punya pilihan lain sehingga dengan sangat sadar aku menganggukkan kepala, dan diiringi oleh senyumnya yang terkembang.
Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga akhirnya bibir kami bersentuhan. Hanya bersentuhan pada awalnya, tak ada gerakan apapun dari kami berdua. Namun kemudian tangannya bergerak menarik tubuhku ke arahnya dan memelukku, reflek tanganku pun membalas pelukannya, kurasakan ada kehangatan disana, kehangatan yang sudah cukup lama tak aku rasakan.
Setelah beberapa saat bibir kami hanya menempel, perlahan dia mulai sedikit membuka bibirnya dan melumat bibirku. Ditariknya bibir bawahku perlahan, membuat bibirku pun ikut terbuka. Awalnya aku hanya pasif karena memang tidak ingin membalasnya, namun lama kelamaan permainan bibirnya benar-benar mengundangku untuk membalasnya.
Bibir kami pun akhirnya saling melumat dengan lembut. Aku yang sudah beberapa hari tidak disentuh oleh Ramon tiba-tiba menjadi naik birahi. Aku tahu ini salah, tapi atasanku ini benar-benar pandai memainkan bibirnya. Terasa begitu sabar menikmati bibirku. Aku benar-benar menahan diri untuk tidak mengeluarkan lidahku karena dia hanya melumati bibirku saja tanpa menggunakan lidahnya.
Badanku mulai bereaksi, tanganku semakin tak tenang sehingga bergerak-gerak mengelusi punggungnya, sementara dia benar-benar tenang, bahkan nafasnya pun masih begitu teratur sedangkan nafasku mulai memburu. Nafsuku yang semakin naik membuatku tak sadar menjulurkan lidahku masuk ke dalam mulutnya, mencari dan kemudian mengait lidahnya.
Akhirnya dia meladeni permainan lidahku. Ciuman kami semakin panas, nafasku semakin memburu dan kurasakan nafasnya perlahan juga mulai memburu. Badan kami semakin erat berpelukan hingga aku terkejut ketika kurasakan penis Pak Arjuna ternyata sudah tegang. Saat aku hendak menarik mundur tubuhku, dia justru semakin mempererat pelukannya, membuat dadaku menempel di dadanya.
Tangan kirinya tetap memeluk erat tubuhku, sedangkan tangan kanannya mulai mengelusi punggungku, lalu turun hingga ke pantatku, meremasnya pelan sambil menekan hingga perut bawahku, semakin menempel ke penisnya yang semakin keras. Tanpa aku sadari pinggulku bergerak-gerak sendiri merasakan penis itu, badanku juga bergerak menggesekkan dadaku ke dadanya.
Entah berapa lama kami dalam keadaan seperti itu hingga nafsuku benar-benar sudah tinggi, dan mungkin kalau dia meminta lebih malam itu aku tidak akan menolaknya. Namun tiba-tiba saja dia menghentikan semuanya, melepaskan ciuman dan pelukannya. Aku bingung, bengong melihatnya. Nafasku terengah-engah dan kuyakin mukaku pasti sudah memerah, namun dia hanya tersenyum saja melihatku.
“Terima kasih ya, Fit, silahkan kembali ke tempatmu,” ujarnya.
Aku pun keluar dari ruangannya dengan ribuan tanda tanya di kepalaku. Kenapa dia tidak meminta lebih? Padahal aku sudah benar-benar pasrah tadi, karena dia sama sekali tak memaksa, hanya meminta. Bahkan kemudian aku yang malah terkesan memintanya. Aku benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya dia berhenti di saat seperti itu, saat mungkin pria lain akan melanjutkan hingga hubungan badan.
Namun rasa simpatik kemudian muncul dari hatiku kepadanya. Dia berbeda, benar-benar memegang kata-katanya yang hanya meminta peluk dan ciumku saja. Meskipun kemudian dia ingkar tentang satu hal, karena setelah peristiwa malam itu sudah beberapa kali aku dipanggil ke ruangannya dan kami melakukan hal itu lagi. Namun sama sekali tidak ada penolakan dariku.
Bahkan setelah aku bertemu dan berbicara banyak hal dengan Marto pun aku masih tak bisa menolak ketika dia memanggilku ke ruangannya, tak bisa menolak ketika dia kembali memeluk erat tubuhku dan melumat bibirku lebih ganas lagi. Seminggu lalu, lagi-lagi aku tak bisa menolak ketika dia meminta ijin untuk mencumbui leher dan pundakku, yang berlanjut dua hari yang lalu dia berhasil membuatku tak bisa menolak ketika jari-jarinya melepas satu persatu kancing bajuku, melepas kaitan braku dan memilin serta menghisap lembut putingku hingga aku mendapat orgasme. Puncaknya semalam ketika aku membuatnya ejakulasi mengeluarkan spermanya di mulutku saat aku hanya tinggal memakai celana dalam saja.
Tiba-tiba muncul kekhawatiranku, nantinya dia akan bisa menikmati tubuhku seutuhnya, menancapkan kemaluannya di liang peranakanku. Entah kenapa aku sama sekali tak bisa menolaknya. Mungkin karena dia sama sekali tak memaksa, bahasanya selalu meminta ijin. Entah mengapa di dalam hatiku aku seperti menunggu saat-saat itu datang, saat-saat aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya. Dan entah kenapa, untuk yang satu ini aku sama sekali tak ingin menceritakannya kepada Marto, calon suamiku.

***

POV Sakti

“Nak, ayo bangun. Udah pagi, ibadah dulu,” suara lembut seorang wanita membangunkanku.
“Eehhm... iya, bu,” jawabku.
Aku membuka mata, kembali menyapukan pandangan ke sekitar. Sudah dua minggu aku tinggal disini, di rumah baruku, rumah orang tuaku maksudnya. Iya, orang tuaku, orang tua kandungku. Kulihat Ibu Aini tersenyum melihatku membuka mata, lalu hendak beranjak pergi dari kamarku, namun aku menahannya.
“Bu.”
“Iya. Kenapa, nak?”
“Makasih ya.”
“Lho, makasih apa?”
“Makasih udah mau nerima Sakti sebagai anak ibu.”
“Hush, ibu kan udah berkali-kali ngingetin kamu jangan ngomong kayak gitu lagi. Ibu senang kok, nak, ibu bahagia punya anak seperti kamu.”
Aku tersenyum. 28 tahun hidup akhirnya aku bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Selama 28 tahun aku menghabiskan hidupku sebagai seorang Saktiawan Mahendra, namun ternyata semua itu adalah permainan busuk Baktiawan. Ternyata aku adalah anak kandung dari ayahku, Raden Adiatma Wijaya. Dan setelah meyakinkan dengan melakukan serangkaian tes DNA, kini aku adalah seorang Saktiawan Wijaya.
Aku tahu Ibu Aini pasti sakit hati mendengar kenyataan bahwa ayahku dulu telah menodai dan menghamili sahabatnya, yaitu Ibu Marini hingga lahirlah aku. Mereka bahkan hampir seminggu tak bertegur sapa meskipun Ibu Aini selalu menjaga ayah di rumah sakit. Namun kini semua sudah mencair, semua sudah saling memaafkan, dan yang paling membuat aku bahagia adalah bahwa Ibu Aini dengan ikhlas dan senang menerimaku sebagai anaknya.
Sungguh aneh kehidupan yang aku jalani ini. Dibesarkan oleh seorang pengusaha sukses, baik bisnis legal maupun dunia hitamnya, yang ternyata bertujuan untuk menghancurkan hidup ayah kandungku, dan keluarganya. Tanpa kehangatan keluarga, aku menjalani hidup dengan jalan yang aku pilih sendiri, dunia hedonisme.
Aku memiliki segalanya, segala kebutuhanku dicukupi, kecuali arti cinta dan kasih sayang sebuah keluarga. Segala tipu daya Baktiawan telah meyakinkan aku bahwa dialah satu-satunya orang tuaku dan aku adalah satu-satunya anaknya. Aku benar-benar tak tahu kalau ternyata dia memiliki anak kandung yang selama ini tinggal di Inggris, pantas saja dia sering sekali pergi kesana dengan alasan bisnis.
Suatu kali saat aku bertanya siapa ibuku, dia mengajakku ke sebuah pemakaman dan menunjukkan nama seorang perempuan tertulis di batu nisan. Dia bilang ibuku, Marini, telah meninggal saat melahirkanku, tapi ternyata ibu kandungku baru meninggal beberapa tahun lalu di luar negeri.
Tanpa bimbingan dan kasih sayang orang tua, aku tumbuh menjadi anak yang liar. Pergaulan yang bebas, menjadi seorang playboy yang bergonta ganti pasangan hanya untuk menikmati tubuh mereka. Bahkan pacar sahabat-sahabatku sendiri pun menjadi korban kebiadabanku dulu, termasuk seorang yang sempat, dan saat ini mengisi hatiku, Kamila.
Aku telah mendengar semua dari adik iparku tentang Kamila. Adik iparku? Haha, geli sekali jika mendengar Cacing memanggilku kakak ipar. Bagiamana tidak? Dia adalah sahabatku selama kuliah. Dia tahu bagaimana bejatnya aku, dan sekarang kenyataannya dia adalah adik iparku? Meski begitu aku tetap memanggilnya Cacing sampai sekarang, haha.
Aku bahkan sempat memiliki sebuah rasa kepada Ara, istri Budi, adik kandungku. Tapi aku memang merasa itu bukan rasa cinta untuk memiliki, atau nafsu untuk menguasai, aku bingung waktu itu bagaimana menyebutnya. Dan kini setelah tahu ternyata kami bersaudara, baru aku paham jika rasa itu adalah rasa sayang kepada adikku sendiri. Entah kenapa, mungkin karena kami memang sedarah, jadi perasaan itu muncul begitu saja ketika kami bertemu.
Saat itu aku pernah mendengar Baktiawan berbicara dengan seseorang di ponselnya, mengatakan akan melakukan sesuatu kepada Ara. Aku belum tahu apa yang dimaksud olehnya waktu itu, tapi aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Tanpa sepengetahuan Cacing, aku pun datang ke Jogja untuk mengikuti Ara, disana aku melihat atasannya waktu itu, Pak Dede, sepertinya juga berniat buruk ke adikku itu.
Aku berasumsi Baktiawan merencanakan hal itu dengan Pak Dede. Aku pun berpikir bagaimana caranya memberi tahu Cacing. Aku kemudian teringat selama ini aku yang hobby traveling selalu membeli kartu sim perdana dari berbagai provider di daerah yang aku kunjungi, dan nampaknya itu merupakan solusi yang cukup bagus.
Aku tahu Cacing orang yang pandai di bidang IT, jadi melacak nomor telepon bukan hal yang sulit baginya, karena itulah aku selalu menggunakan nomor yang berbeda-beda saat menghubunginya. Tapi kemudian aku tahu bahwa ternyata Baktiawan tidak merencanakan ini bersama Pak Dede setelah mengetahui percakapannya dengan Marto, dan aku pun segera memberi tahu Cacing lagi.
Namun ternyata Baktiawan sudah tahu kalau aku mengetahui rencananya dan memberi tahu Cacing. Lebih tepatnya, Baktiawan sengaja membiarkan aku tahu dan memberi tahu Cacing. Bodohnya aku yang justru mengikuti permainannya. Tapi ya sudahlah, toh semua ini sudah berakhir. Aku pun sudah menceritakan semuanya kepada Cacing dan Ara.
Balik lagi ke Kamila. Wanita yang dulu aku perawani saat dia masih berstatus pacar dari sahabatku, Ihsan. Dan dari cerita Cacing, aku benar-benar terkejut ketika dia sempat menjadi wanita panggilan. Setelah pertemuanku malam itu dengan Cacing, aku meminta nomornya dan langsung menghubunginya.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku mengeluarkan air mataku untuk seorang wanita. Aku tulus meminta maaf padanya, dan berjanji akan meminangnya kelak. Dia sempat menolak dan menyebut dirinya sudah kotor. Hey, sekotor apa memang? Kalau dibandingkan dengan aku, jelas aku jauh lebih kotor darinya, dan aku tak peduli itu, aku tetap akan menikahinya karena memang aku mencintainya.
Aku sudah sampaikan ini ke keluarga baruku, Ayah Wijaya, Ibu Aini, adikku Ara, dan adik iparku Cacing, dan mereka menyetujuinya. Dalam beberapa hari ke depan aku dan kedua orang tuaku akan segera terbang ke Surabaya untuk secara resmi melamarnya, dan ingin secepatnya menikahinya.
Meskipun saat ini aku tak lagi punya pekerjaan sejak aku memutuskan untuk meninggalkan kerajaan bisnis Mahendra, tapi tak masalah, aku yakin nantinya aku akan mendapatkan pekerjaan yang layak untuk bisa menghidupi Kamila, karena ayah dan ibuku pun menjamin hal itu.
Kini aku bertekad menjadi orang yang baru, orang yang lebih baik dan bersih. Biarlah catatan masa laluku kelam dan penuh dengan kotoran. Aku berniat untuk menghentikan itu semua. Sudah cukup semua petualanganku selama ini, karena akhirnya aku menemukan terminal yang tepat untuk berhenti sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan hidup yang baru, yang lebih baik dan lebih indah bersamanya, bersama Kamila.

***

POV Ara

Sudah sebulan sejak peristiwa malam tahun baru berdarah yang mengerikan itu, kini semuanya tampak lebih baik. Banyak sekali hal-hal yang tak terduga terjadi. Termasuk betapa terkejutnya aku, bahkan kami semua mendapati bahwa ternyata Mas Sakti, sahabat dari suamiku, ternyata adalah kakak kandungku, meskipun dari ibu yang berbeda.
Semua telah dibuktikan dengan Mas Sakti melakukan tes DNA, dan hasilnya sangat cocok dengan ayah. Mulanya ibu terkejut, namun akhirnya bisa menerima kehadiran Mas Sakti. Ibu telah memaafkan dan melupakan tentang masa lalu ayah dan Mas Sakti. Ibu pun sudah menganggap Mas Sakti sebagai anak kandungnya sendiri.
Aku yang semula sempat merasakan sesuatu kepada Mas Sakti, sekarang baru sadar kalau ternyata itu adalah sebuah rasa sayang kepada kakakku. Hal yang sama ternyata juga dirasakan oleh Mas Sakti, dari pengakuannya beberapa waktu lalu di depanku dan suamiku.
Aku selalu bersyukur, bahwa ternyata aku dilindungi oleh orang-orang luar biasa yang menyayangiku, dan ternyata selama ini ada di lingkaran yang cukup dekat denganku. Aku teringat beberapa yang lalu saat ngobrol dengan suamiku, dimana aku membuka semua rahasiaku selama ini, dan sangat mengejutkan bagiku karena ternyata suamiku pun sudah mengetahui sebagian besar di antaranya.

***

Beberapa hari sebelumnya

“Alhamdulillah, masakan kamu emang paling uenak, dek, hehe,” puji Mas Budi setelah kami selesai makan malam.
“Alhamdulillah kalau mas suka, adek seneng deh, hehe,” jawabku tersipu.
“Iya dong, apa sih yang nggak mas suka dari kamu, dek,” ujarnya sambil tersenyum manis sekali kepadaku.
Tiba-tiba aku merasa tak enak. Dia bilang seperti itu, sementara masih banyak hal yang aku simpan dari suamiku. Ya Tuhan, sedih rasanya, dan sepertinya sekarang aku harus mengatakan semuanya kepada Mas Budi, semoga dia bisa mengerti.
“Adek, kok mukanya malah ditekuk gitu? Kenapa, sayang?” tanya suamiku, menyadari perubahan raut wajahku.
“Euhmm... mas, ada yang mau adek bicarain,” ujarku terbata-bata.
“Soal apa, dek?” tanyanya.
Aku masih bingung memulainya. Dari mana aku harus cerita semua ini? Aku takut nanti suamiku akan marah. Tapi aku juga nggak bisa menyimpan ini seterusnya, dia harus tahu.
“Ya udah yuk, kita pindah ke ruang TV aja, biar lebih rileks,” ajak suamiku.
Kami pun beranjak dari ruang makan menuju ruang keluarga yang sehari-harinya menjadi tempat kami menghabiskan hari menonton TV sambil ngobrol tentang apapun. Aku duduk di sebelah Mas Budi, dia menatap wajahku sementara aku belum bisa untuk memulai cerita.
“Nah, sekarang adek mau ngomong apa? Mas siap dengerin kok,” kata Mas Budi lembut sekali.
“Hmm, adek bingung harus mulai dari mana,” jawabku.
“Lha, kok bingung? Emang soal apa, dek?” tanyanya lagi.
“Ini soal peristiwa tahun baru kemarin itu, mas,” jawabku.
“Oh itu, ada apa? Ada yang masih mengganjal di pikiran adek?” aku pun mengangguk.
“Iya, mas, masih ada yang mengganjal, dan adek bakal utarain semuanya, tapi mas jangan marah ya?” ujarku sambil menatap dalam kedua matanya.
“Yaa, tergantung cerita kamu dong,” jawab Mas Budi.
“Kok gitu siiih?” ujarku sambil cemberut.
“Haha... iya, iya, mas nggak marah deh. Nah sekarang ayo ceritain,” ujar Mas Budi.
Akhirnya aku pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku, yang memang sedari tadi masih ada di ruangan ini. Sebuah ponsel, ponsel lamaku yang aku bilang sudah rusak dan hancur kepada suamiku, padahal masih aku simpan dengan baik. Tapi tak terlihat ekspresi terkejut dari wajah suamiku, yang membuatku heran, dia malah tersenyum. Ah sudahlah, aku mulai cerita saja.
“Mas, sebenarnya adek bohong sama mas soal ponsel ini. Ponsel ini sebenarnya nggak pernah rusak ataupun jatuh. Ponsel ini masih adek simpan dengan baik sampai sekarang,” ujarku memulai bercerita.
“Lha terus, buat apa, dek?” tanya suamiku.
“Hmm, mas inget nggak, waktu pertama kali adek dulu cerita soal Pak Dede yang genit sama adek?”
“Hmm... iya, terus?” jawab suamiku, terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Jadi waktu itu adek sempat lihat ekspresi mas kok jadi tegang setelah liat ponsel mas, meskipun cuma sebentar tapi adek jadi kepikiran. Nah besok paginya, waktu mas mandi, adek nggak sengaja lihat ponsel mas. Bukannya adek mau lancang buka-buka ponsel mas, tapi nggak tahu kenapa feeling adek bilang adek harus buka ponselnya mas,” ujarku.
“Pas waktu itu adek buka pesan wassap misterius yang ternyata dikirim sama Mas Sakti. Dari situ adek juga kepikiran, mas, sampai pas kerja juga adek nggak fokus gara-gara itu. Terus pas lagi mikirin itu tiba-tiba ada telepon dari Bang Rio, bilang kalau dia lagi di Jogja. Seingatku ayah pernah bilang kalau Bang Rio itu jadi anggota semacam pasukan elit gitu, makanya aku kepikiran buat cerita ke dia dan ternyata dia mau bantuin,” lanjutku memberikan penjelasan.
“Oh, jadi Mas Rio yang telepon adek? Terus gimana?” tanya suamiku antusias.
“Iya, mas. Terus siangnya kami ketemuan setelah adek survey villa di Kaliurang. Akhirnya atas saran dari Bang Rio lah adek bersandiwara seolah-olah ponsel adek rusak dan terpaksa harus beli lagi, padahal ponsel ini sebenernya dipakai buat, hmm... dijadiin alat sadap,” ujarku.
“Oh, kalau itu mas tahu kok, dek,” ujar suamiku.
“Hah, mas tahu?” tanyaku terkejut, bagaimana bisa?
“Iya, sehari setelah kamu bilang ponsel kamu itu rusak, mas udah tahu kok semuanya, hehe,” jawab suamiku, dia malah cengengesan.
“Kok? Kok bisa, mas? Maksud adek, gimana mas bisa tahu?” tanyaku penasaran.
“Oke. Sekarang ganti mas yang jelasin ya, dan adek jangan marah juga, hehe. Jadi waktu adek bilang kalau ponsel adek itu rusak, keesokan harinya mas nggak sengaja liat tas kerja adek sedikit kebuka, dan mas liat disitu, ternyata ada ponsel yang adek bilang rusak. Mas sempat curiga sebenarnya, mas pikir adek ngapa-ngapain di belakang mas, makanya mas terus minta bantuan sama temen mas,” ujar suamiku.
“Temen? Siapa, mas?” tanyaku. Kini malah aku yang jadi antusias.
“Dia seorang hacker, temen mas di komunitas hacker, nama sandinya E-coli,” jawab Mas Budi.
E-coli? Kok aneh sih, mas, kayak nama bakteri?” tanyaku.
“Haha.. emang iya, emang nama bakteri itu, tapi sebenarnya itu adalah inisial nama dia yang sebenarnya,” jawab suamiku.
“Emang namanya siapa, mas?” tanyaku, dan membuat suamiku tersenyum.
“Kamu kenal kok, dek. Itu temen kantor kamu.”
“Hah, temen kantor adek? E-coli? Eko ya? Tapi kan namanya Eko Indrawan, mas?” tanyaku kebingungan.
“Haha, kamu nggak tahu nama tengahnya ya?”
“Eh, emang ada?”
“Iya, jadi dia itu nama lengkapnya Eko Lutfi Indrawan, atau Eko L.I, kalau dibaca kan jadi Ekoli, karena itulah dia pakai kode sandi E-coli,” tutur suamiku.
“Jadi, Eko itu hacker? Kok mas bisa kenal?” tanyaku masih bingung dan tak percaya.
“Kan tadi mas udah bilang dia temen mas di komunitas. Adek jangan salah, suami adek ini juga seorang hacker lho, haha. Dan Eko itu bukan hacker biasa, dek, dia udah kelas dunia, makanya dari dia, mas bisa tahu kalau lewat ponsel kamu itu kamu nyadap ponselnya mas, bahkan nggak cuma ngebajak pesan maupun telepon, tapi bahkan menjadikan ponsel mas menjadi semacam speaker sehingga kamu bisa denger semua yang terjadi di sekitar mas selama ponsel mas nyala, iya kan?”
Aku terdiam. Benar sekali, sama sekali nggak ada yang salah dari penjelasan Mas Budi, hanya aku masih terkejut saja, ternyata semua yang aku lakukan ini udah sangat lama diketahui oleh suamiku.
“Karena itu pula kamu bisa denger percakapan mas dengan Kamila waktu mas di Surabaya kan? Hehe.”
“Iya, mas. Eh, berarti mas udah tahu dong kalau waktu itu adek bisa dengerin percakapan mas sama dia? Tahu nggak sih, mas, adek tu senyum-senyum sendiri lho, dengerin mas bisa nyadarin Mbak Mila, dan nggak sampai berbuat lebih jauh sama dia, hehe,” ujarku tersenyum.
“Iya dong. Gimana masmu ini, wise banget kan?” tanya suamiku menggoda.
“Iya deh iya, itu juga karena tahu lagi aku sadap kan? Atau jangan-jangan kalau nggak tahu atau nggak adek sadap, mas bakalan macem-macem ya? Hayoo ngaku?” desakku.
“Haha, mungkin kalau sebelum kenal dan nikah sama kamu iya, dek. Tapi setelah mas nikah sama adek, mas udah bertekad nggak mau macem-macem lagi, mas takut bakalan kena karmanya. Lagian ngapain macem-macem kalau udah punya istri sesempurna kamu, dek,” ujar suamiku, membuatku tersenyum tersipu.
“Hehe, mas pinter deh nggombalnya. Terus, mas, lanjutannya gimana?” tanyaku masih penasaran.
“Yaa, dari situ mas juga akhirnya sama kayak adek, beli ponsel baru lagi, tapi yang ini cuma buat komunikasi sama Eko aja, dan seorang temen lagi yang juga udah ngebantuin kita kemarin,” ujar suamiku sambil menunjukkan ponsel yang dia maksud.
“Temen lagi? Siapa, mas?” tanyaku.
“Kalau untuk yang satu ini mas bener-bener nggak bisa ngasih tahu, dek, itu atas permintaan dia juga. Yang jelas, saat ini dia salah satu anggota senior dari sebuah grup pasukan elite, yang kemampuannya jauh di atas Mas Rio. Sebagai anggota pasukan elite, dia benar-benar menjaga identitasnya. Saat ini selain atasan dan rekan-rekannya, cuma mas yang tahu siapa dia, karena itulah mas nggak bisa cerita, nggak papa ya?” tanya suamiku.
“Oh, kalau emang gitu juga nggak papa, mas, adek bisa ngerti kok,” jawabku. Ya, aku bisa memahami karena pada awalnya Bang Rio pun meminta hal yang sama ke aku.
“Jadi dengan bantuan kedua orang ini, mas bisa tahu apa yang adek lakukan selama ini. Mas tahu gimana selama ini adek dibantuin oleh Mas Rio. Mas juga tahu kalau Mas Rio pernah kesini buat ngasih ke adek alat pengacak sinyal kamera CCTV kan?” tanya suamiku.
Aku pun mengangguk. Hebat, bener-bener aku dibuat terkejut. Suamiku ternyata bisa tahu semuanya tanpa aku cerita sebelumnya. Itu artinya sudah dari lama Mas Budi melindungiku, dengan caranya sendiri.
“Mas hebat, bisa tahu semuanya. Bang Rio emang pernah datang kesini ngasih alat itu setelah adek nganterin mas ke bandara waktu itu. Dia lumayan lama mas disini, ngasih tahu adek tentang beberapa hasil pengawasan yang dia lakuin. Adek jadi lega dan puas dengan keputusan adek minta tolong ke Bang Rio,” ujarku tersenyum.
“Hehe, mas juga puas kok dengan hasil kerja dari Mas Rio, bisa bantuin mas ngelindungin adek,” ujarnya.
“Iya, mas. Adek tuh sebenarnya sempat khawatir waktu Bang Rio ngasih tahu kalau dia mendapat panggilan darurat ke Jakarta, beberapa hari sebelum peristiwa itu. Tapi untung aja, sehari sebelum peristiwa itu dia ngabarin lagi kalau udah di Jogja lagi.”
“Iya, mas tahu, makanya adek tidur sambil senyum-senyum itu kan?”
“Hehe, mas tahu aja deh. Terus gimana, mas?”
“Ya akhirnya dengan adanya Mas Rio, tugas kedua temen mas jadi lebih ringan. Termasuk nyelametin adek waktu diajak liburan ke pantai sama si Ramon itu,” ujar Mas Budi.
“Eh, jadi itu temen mas yang nyelametin adek dan yang lainnya?” tanyaku.
“Bukan sih, dek, kalau yang nyelametin adek dan yang lainnya itu Mas Rio. Yang dilakuin Eko adalah ngebajak ponselnya Ramon, dan ngehapus hampir semua data yang ada disitu, termasuk, hmm... foto-foto telanjangnya adek,” ujar Mas Budi, yang sangat mengagetkanku.
“Foto telanjang? Foto telanjang apa, mas?” tanyaku.
“Adek tahu nggak tujuan Ramon ngajakin kalian liburan? Ya untuk bisa ngejebak kalian semua, dek. Dia bahkan udah sampai nelanjangin adek, difoto, dan foto-fotonya dikirim ke Fuadi. Tapi adek tenang aja, semua foto-foto itu udah dihapus sama Eko,” tutur suamiku.
Tentu saja semua ini membuatku syok. Aku benar-benar nggak menyangka ternyata Mas Ramon sudah sampai sejauh itu. Ya Tuhan, ampunilah hambamu ini.
“Syukur deh kalau emang udah dihapus, mas. Orang-orang yang pernah ngelihat tubuh polos adek juga udah nggak ada kan, tinggal Pak Fuadi aja, yang kayaknya bakalan membusuk di penjara,” ujarku lega.
“Termasuk Pak Dede ya?”
“Eh, mas tahu?” tanyaku kaget, malu.
“Iya, tapi kan orangnya udah nggak ada sekarang, hehe,” jawab suamiku.
“Jangan-jangan, kematian Pak Dede?” tanyaku menggantung, curiga.
“Hehe, mas sebenarnya cuma nyuruh ngasih pelajaran dikit aja, eh nggak tahunya malah gitu jadinya. Tapi bener lho, dek, mas nggak nyuruh buat dibunuh,” kilah suamiku.
“Haduuuh, mas... jangan kayak gitu lagi yaa,” pintaku ke Mas Budi. Aku paham kini, ternyata Pak Dede tewas oleh teman suamiku ini.
“Iya, sayang, nggak akan ada kayak gitu lagi.”
“Kalau emang mas udah tahu dari awal, kenapa nggak dicegah, mas? Maksud adek, kan Mbak Filli sama Mbak Rena jadi...” aku tak melanjutkan ucapanku, takut menyinggung suamiku.
“Hmm, itu juga hal berat buat mas sebenarnya. Sedari awal mas emang udah tahu kalau Mbak Filli dan Mbak Rena masuk ke perangkap mereka. Tapi setelah diskusi sama teman mas, ada sesuatu yang lebih besar lagi yang harus dibongkar dan dihentikan, dan itu harus menunggu hari pelaksanaan rencana mereka, karena semua penjahat-penjahat itu bakal kumpul disitu,” jelas Mas Budi.
“Mas sebenarnya marah, nggak rela kalau mas harus mengorbankan kedua kakak mas. Tapi mau gimana lagi, mas udah sejauh ini. Kemarin mas juga udah minta maaf dan ngasih penjelasan ke mereka berdua, dan mereka bisa ngerti, mereka malah senang karena pengorbanan dan penderitaan mereka bisa menghabisi sepak terjang para penjahat itu,” lanjut suamiku, yang kulihat matanya nampak berkaca-kaca.
Aku paham benar apa yang dirasakan suamiku saat ini. Dia harus berada dalam situasi yang sangat sulit. Dia akan mengungkap sebuah kejahatan besar, bahkan bisa menghabisi sekian banyak penjahat, namun harus mengorbankan kehormatan dan martabat kedua kakak kandungnya sendiri. Melihat itu aku pun langsung mendekap suamiku, mencoba memberinya sedikit ketenangan dan kenyamanan.
“Eh tapi, ternyata meskipun udah lama nggak latihan silat, pukulan adek mantep juga ya kemarin?” tanya suamiku tiba-tiba.
“Loh, mas tahu adek pernah latihan silat? Tahu darimana?” tanyaku terkejut.
“Hehe, waktu di rumah ayah, mas pernah buka-buka album foto, ada foto adek pas lagi latihan,” jawab suamiku.
Aku tak menjawab. Aku masih terkagum-kagum dengan suamiku ini. Banyak hal nggak terduga dari Mas Budi, tapi aku justru senang dengan hal-hal itu. Aku merasa lebih aman sekarang, merasa lebih tenang karena tahu suamiku selalu melindungiku, dengan caranya sendiri.
“Ya udah lah, dek, semua udah berakhir kan. Sekarang semuanya udah jadi lebih tenang dan damai. Dan setelah ini, kita harus saling terbuka satu sama lain ya, nggak ada yang ditutup-tutupi lagi,” ujar suamiku sambil membalas pelukanku.
Aku tak menjawab, tapi semakin mengeratkan pelukan. Semakin besar dan membuncah rasa cintaku padanya. Senang, haru, bahagia dan bangga, memiliki seorang suami sepertinya. Suami yang tahu bagaimana melindungi istri yang dia cintai tanpa membuat sang istri khawatir. Aku mencintaimu, mas, selamanya. Dan aku nggak akan nyembunyiin apapun lagi dari kamu. Eh! Aku teringat sesuatu dan langsung terlonjak melepaskan dekapan.
“Kenapa, dek?” tanya suamiku.
“Ada satu hal lagi, mas,” jawabku.
Aku lalu menceritakan hari setelah liburan di pantai bersama Mas Ramon dan yang lainnya, dimana aku terbangun dari ketidak sadaranku dan mendapati ada cairan kental di wajahku, dan bekas merah di sekitar dadaku. Dan kali ini suamiku pun terkejut mendengarnya.
“Kira-kira siapa ya, mas, yang melakukan itu ke adek? Apa mungkin, Bang Rio?” tanyaku.
“Sepertinya bukan, dek, karena dari pengamatan Eko, Mas Rio nggak pernah berlama-lama dengan adek. Waktu nyelametin adek itu, dia hanya sebentar aja, mungkin makein bajunya adek, terus nggak sampai 5 menit di rumah ini, cuma nganter adek aja,” jawab suamiku.
“Jadi, ada orang lain lagi, mas? Tapi siapa?” tanyaku, mulai ketakutan.
“Mas belum tahu, dek, nanti akan mas cari tahu. Adek jangan takut ya, dan kalau ada apa-apa langsung kasih tahu mas,” ujarnya sambil memelukku.
Aku tentu saja takut. Berarti ada orang lain lagi yang sudah melihat tubuhku, bahkan berlaku tak senonoh padaku, tapi siapa? Semoga Mas Budi bisa cepat menemukan orang itu. Aku benar-benar takut.

***

POV Budi

Beberapa hari yang lalu aku dan istriku sama-sama membuat pengakuan. Istriku terlihat masih takut-takut untuk menceritakan semuanya, padahal sebenarnya aku sudah tahu. Aku bahkan menceritakan itu dan tentu saja membuat istriku terbengong-bengong, tak menyangka suaminya sudah berbuat sampai sejauh itu.
Aku pun pura-pura terkejut saat istriku mengatakan ada yang berbuat tak senonoh padanya, sampai-sampai membuat cupangan di dadanya dan mengeluarkan maninya di wajah istriku. Aku berpura-pura tak mengetahui siapa orang yang melakukannya. Tapi pada kenyataannya aku sudah tahu siapa yang melakukan itu.
Membuat perhitungan dengannya bukanlah hal yang sulit, namun aku masih belum mengetahui kenapa dia sampai berbuat seperti itu. Aku masih ingin menunggu apa yang akan dilakukan orang itu setelah mencabuli istriku dan bahkan mengambil fotonya dalam keadaan telanjang. Jika sampai dia berbuat macam-macam, baru aku akan bertindak.
Mengetahui siapa yang mencabuli istriku dan bahkan membereskannya bukanlah hal yang sulit buatku. Tak perlu meminta bantuan teman-temanku pun aku bisa membereskannya sendiri. Tapi itu akan riskan karena aku sudah memutuskan untuk berada di balik layar saja dari dulu, biarlah urusan seperti itu dibereskan oleh rekan-rekanku.
Drrrtttt.. Drrrtttt..
Tiba-tiba ponselku bergetar, ada panggilan masuk. Hmm, orang ini, selalu saja menghubungi tengah malam seperti ini. Aku yang memang sedari tadi ada di gazebo kecil di depan rumahku dengan secangkir kopi dan beberapa batang Sampoerna Mild ini pun dengan tenang mengangkat telepon ini tanpa perlu takut ketahuan istriku.
“Hallo... Assalamualaikum, Pak.”
Waalaikumsalam. Gimana kabarnya, Bud? Sehat kan?”
“Alhamdulillah sehat, pak, bapak sendiri gimana?”
Alhamdulillah sehat juga kok, Bud.”
“Ada apa nih, pak, malem-malem gini nelpon?”
Haha, biasanya kan telponnya juga jam segini.”
“Iya sih, tapi itu kan kemarin sebelum operasi pembersihan itu, lha ini kok telpon lagi, kan udah beres masalahnya?”
Haha... iya ya, jadi inget operasi pembersihan itu. Orang-orang ngasih namanya keren ya, malam tahun baru berdarah, haha.”
“Haha... iya, pak, biar lebih dramatis.”
Dramatis gimana? Orang pake ngorbanin mbak-mbakmu itu lho.”
“Yaa gimana lagi, pak, kan emang skenarionya kayak gitu.”
Haha, iya sih. Maaf ya, Bud.”
“Ya udah nggak papa kok, pak. Jadi kenapa nih bapak nelpon? Bukan buat bahas yang kemarin itu kan?”
Bukan, Bud. Ada informasi, anaknya Baktiawan sudah ada di Indonesia. Dia bawa dua orang mantan anggota terbaiknya SAS, McArthur bersaudara. Ditambah lagi sama Rio dan Bastian yang super licik, mereka bisa jadi empat sekawan yang berbahaya.”
“Oh gitu. Terus gimana, pak?”
Yaa yang jelas kalian harus waspada. Inget lho kalian cuma berdua, terlalu mencolok kalau melibatkan anggota yang lain, jadi jangan sampai kalah cerdik lah.”
“Apa kita mau bertindak duluan, pak? Atau harus nunggu kayak kemarin?”
Kita nunggu aja. Kita masih belum tahu tujuan mereka apa, meskipun kita udah bisa ngira-ngira. Yang jelas jangan gegabah, kamu tetap seperti ini aja, jangan muncul kalau nggak diperlukan. Harapan kami saat ini cuma kamu dan Jaka.”
“Baik, pak, saya nunggu instruksi aja kalau gitu. Ada yang lain lagi, pak?”
Udah segitu aja dulu. Yang penting tetap lindungi keluarga kamu disitu ya, yang disini biar diurus sama Jaka.”
“Siap, pak. Kalau gitu, Venom sign out.”
“Oke, Zeus sign out.”
Komunikasi kami pun terputus. Aku kembali teringat peristiwa kemarin. Peristiwa malam itu memang sangat menggemparkan, terutama di Jogja. Namun positifnya adalah, banyak penjahat yang berhasil kami habisi, sehingga keamanan di wilayah Jogja ini lebih kondusif sekarang dengan tewasnya para dedengkot preman dan mafia disini. Yang tersisa hanyalah preman-preman kelas teri yang sekarang ini lebih takut kepada polisi.
Ya, pemberitaan yang beredar memang mengatakan bahwa peristiwa itu berkat upaya dari pihak kepolisian, diperkuat dengan statement dari mertuaku. Yah, meskipun saat para polisi datang semuanya sudah selesai, tapi demi menjaga kerahasiaan dari para pasukan khusus yaitu Vanquish, hmm... Vanquish KW2 lah, maka memang lebih baik berita itu yang tersebar. Karena itulah kini polisi memiliki reputasi yang bagus di masyarakat, dan menakutkan bagi para penjahat.
Aku sih nggak terlalu memikirkan itu, karena sesuai perintah yang aku dapatkan barusan, aku harus lebih menjaga keluargaku disini, sisanya aku serahkan kepada Mas Jaka. Terlebih keluargaku akan bertambah nantinya. Istriku sedang hamil, dan aku sekarang mempunyai kakak ipar yang sebentar lagi akan menikah. Bergabungnya Sakti dan Kamila di keluarga kami nanti akan semakin menambah jumlah orang yang aku lindungi, namun tak masalah karena aku tak bekerja sendirian.
Setelah menghabiskan kopi, aku pun masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamar. Terlihat istriku sudah tertidur dengan lelapnya. Aku kembali tersenyum menatapnya, tak kusangka tugas ini benar-benar membuatku jatuh cinta kepadanya, betapa beruntungnya aku mendapatkan bidadari sesempurna ini. Maaf sayang, sampai saat ini aku belum bisa menceritakan semuanya ke kamu. Terlalu banyak rahasia yang masih tersimpan, tapi percayalah, semua ini demi kebaikan dan keselamatan kita semua. Dan yang jelas, rasa cintaku ke kamu saat ini tulus, apa adanya.

TAMAT
Author : Alan Smith

1 komentar:

  1. Siapa kira2 yg membuat cupangan dan numpahin mani diwajah ara..apa sarbini yaa ??
    Tolong dong suhu dibuatin pov tambahan ara vs sarbini yg lebih hot..beda dng versi alan smith pun ga pa2..suhu iisamu kualitasx lebih vulgar dan fresshhh

    BalasHapus