Kamis, 10 Agustus 2017

Duka Tak Bertepi 4



Nun jauh dari kompleks, berjarak ratusan kilometer, di dalam kamar sebuah apartemen, Miranda duduk merenung dengan wajah murung. Gurat kelelahan tampak jelas terlihat dari balik bola mata hitam yang menatap sayu ke arah jalanan.
Miranda tak pernah berhenti menghitung hari sejak dirinya pergi meninggalkan kota kelahiran. Genap tigapuluh enam bulan dalam perhitungannya. Berarti sudah tiga tahun ia mengasingkan diri.
Apakah benar aku sedang mengasingkan diri? Ia bertanya-tanya dalam hati.
Perlahan ia berdiri dan melangkah tanpa arah pasti. Berjalan mondar-mandir seperti orang kehilangan sesuatu. Ia memang menyadari ada satu hal yang kini telah hilang dari kehidupannya. Dan ia sengaja menghilangkan semua jejak masa lalu demi menjalani masa yang baru di kehidupannya yang juga baru. Semua telah diawali di kota ini.

Genangan air sisa hujan semalam masih membekas di sudut-sudut jalan. Mentari juga masih enggan memberikan kehangatan. Pagi yang tidak bersahabat bagi sebagian besar orang. Suasana yang hanya memancing rasa malas untuk beraktivitas. Tetapi ini bukan hari libur. Rutinitas harus tetap dijalankan dan roda kehidupan mesti terus berputar. Alasan itu pula yang membuatnya segera meninggalkan rumah. Ada banyak jadwal kegiatan. Ada banyak orang yang menanti kehadirannya. Toh hanya ada satu orang yang bercokol di pikirannya.
Apakah Ivan sudah membuat keputusan? Pertanyaan itu menyelinap di sela-sela lamunan Miranda.
Sayang sekali ia harus kembali memfokuskan diri ke jalanan yang mulai macet. Ciri khas metropolitan. Alunan lagu Spending My Time bersaing dengan suara bising lalu lintas. Hingga mobil melintasi pintu gerbang Xtra Studio kemudian berhenti di areal parkir. Sejenak Miranda memastikan kerapian sebelum keluar mobil dan berjalan cepat memasuki studio.
“Kamu terlambat sepuluh menit, Nda.
“Alasan klasik, Mbak Fira. Macet di jalanan.
“Okelah, kita mulai saja sesi pemotretan.
Miranda mengikuti Sefira menuju bagian belakang studio yang berupa halaman cukup luas. Tempat yang biasa dijadikan lokasi pemotretan. Di sana sudah tampak kesibukan kecil dari beberapa orang. Sefira memberi kode dan Miranda paham. Inilah pekerjaannya. Inilah dunia yang sudah memberinya masa depan. Sekaligus dunia yang mempertemukannya dengan Ivan.
Ah, kenapa di saat sibuk begini aku masih saja memikirkan Ivan? gumamnya dalam hati. Harus ada batasan antara profesionalitas dan personalitas. Ivan adalah masalah personal, sementara kini ia berada di lingkup dunia yang membutuhkan sikap profesional.
“Sudah siap, Nda?”
“Oke, Ready.
“Posisikan dirimu di sana.
Miranda menempatkan diri di lokasi yang diinginkan Sefira. Ia punya kontrak menjadi model di perusahaan periklanan milik Sefira. Dan iklan sabun mandi ini adalah salah satu dari limabelas produk yang punya hak atas dirinya. Kerap ada perasaan berdosa tiap kali tampil menggoda. Dirinya adalah wanita muslim yang tidak diperbolehkan membuka banyak aurat. Sedangkan dunia yang ia geluti menuntut totalitas yang mengorbankan nilai-nilai keyakinan. Selalu ada pertentangan yang berkobar di nurani.
Seperti iklan kali ini, ia diharuskan mempertontonkan kemulusan dan kehalusan kulitnya dan itu mengharuskan pula melepas pakaian pelindung. Memang orang-orang di balik kamera itu adalah para pekerja profesional. Tetapi ia tetap merasa pekerja yang sebagian besar pria itu adalah ancaman. Keterpaksaan yang membuatnya tetap bertahan di dunia hiburan. Ia terpaksa menjadi artis demi kehidupan yang lebih baik.
Kini siapapun pasti mengenal Miranda, yang wajah dan tubuhnya tiap menit berkeliaran di acara-acara televisi, terpampang di billboard raksasa, tercetak di ratusan majalah, dan di berbagai media selalu ada gambar dirinya. Ia tak pernah bermimpi menjadi selebriti. Semua berawal dari sekedar ingin mencoba. Segalanya bersumber dari rasa putus asa. Mustahil bisa hidup di kota ini tanpa pekerjaan.
“Oke, cukup untuk hari ini. Miranda, ikut ke ruanganku.
“Mbak Fira, aku butuh waktu rehat. Bisakah aku minta pengosongan jadwal untuk besok dan lusa?”
“Aku bukan pihak yang berwenang menentukan. Aku hanyalah pihak yang melaksanakan.
“Tetapi Mbak Fira istri pemilik perusahaan ini,
“Aku memang istri Angga. Tapi urusan bisnis tidak masuk dalam ranah rumah tangga kami.
“Aku mengerti. Jadi apa yang ingin Mbak Fira bicarakan denganku?”
“Bukan aku yang ingin bicara denganmu. Ada seseorang yang menunggu di ruanganku. Temuilah dia,
“Siapa?”
Tidak ada jawaban. Sefira hanya mengangkat bahu sebelum pergi berlalu. Kecurigaan menyeruak dibarengi keingintahuan yang membuat Miranda perlahan membuka pintu ruangan. Rasa penasaran dalam sekejap berubah menjadi keterkejutan kala pintu terbuka lebar dan sesosok manusia berdiri di dekat jendela.
“Untuk apa kamu menemuiku?”
“Untuk memastikan berita itu.
“Farhan, apapun kehidupan yang kujalani saat ini tidak ada hubungannya lagi denganmu.
“Aku tidak mau memasuki kehidupanmu, Nda. Tapi kenapa harus dengannya?”
“Karena dia yang pantas menggantikanmu. Dia tahu diriku seperti kamu tahu diriku.
“Miranda, mampukah kamu menyatukan perbedaan itu?”
Miranda terdiam. Perbedaan itulah yang masih menghalangi hubungannya dengan Ivan. Mungkin keraguan Farhan benar. Ia mengenal Farhan bukan sebulan atau dua bulan. Farhan adalah pria yang pertama kali datang memberikan bantuan yang kemudian menawarkan cinta. Dua setengah tahun perjalanan kisah asmara terjalin sebelum ikatannya terlepas dan kisah itu tuntas. Ia tidak mampu menyatukan perbedaan antara dirinya dengan Farhan. Dan kisah itu terulang saat ini. Ia juga tidak yakin mampu menyatukan perbedaan antara dirinya dengan Ivan.
“Kamu akan menikah dengan Ivan adalah bencana buatku, Nda. Dan bisa jadi bencana buat dirimu sendiri.
“Ivan sudah sepakat untuk membuat keputusan secepatnya,
“Tidak akan secepat itu. Aku mengenal Ivan jauh sebelum kamu mengenal dia. Aku tahu siapa dia, Nda.
“Setidaknya Ivan lebih berani berkomitmen daripada kamu yang memilih menyerah.
“Aku menyerah bukan karena kalah. Aku menyerah demi kebaikanmu. Tapi kamu malah jatuh ke lubang yang sama.
“Farhan, pria yang kukenal selain dirimu adalah Ivan. Tidak ada lagi pria yang lebih dekat denganku selain kalian berdua.
“Itu karena kamu memang tidak berniat mengenal pria lain. Ada banyak yang lebih baik dari kami berdua, Nda. Bahkan mereka punya lebih banyak persamaan denganmu.
“Sudahlah, Farhan, kita bicara hal lain saja ya,
Tapi tampaknya Farhan memang datang cuma untuk membicarakan hal itu. Miranda tidak bisa memancing topik lain, justru mulai termakan kata-kata Farhan. Ia tidak membenarkan sepenuhnya penilaian Farhan dan tidak menyalahkan. Saat ini batas antara kebenaran dan kesalahan sangat abstrak. Sesuatu yang benar bisa dianggap salah dan yang salah bisa jadi benar. Seperti itulah dimensi dimensi permasalahan yang ia hadapi. Beginilah jika dalam satu hati dihuni oleh dua pria yang sama-sama ia cintai.
Meskipun sudah lama berakhir, Miranda  tidak memungkiri jika Farhan masih menanamkan cinta yang kuat di ruang hati. Sementara di ruangan hati itu juga ada cinta Ivan yang semakin tumbuh subur. Farhan adalah masa lalu. Ivan adalah masa kini. Tetapi ia belum tahu siapa pria yang akan menemaninya di masa depan. Dirinya dan Ivan sudah merencanakan pernikahan. Namun dulu ia dan Farhan juga pernah membuat rencana yang sama.
Rencana pertama itu gagal karena ada perbedaan mendasar. Rencana kedua belum bisa dipastikan apakah akan berhasil atau gagal. Namun kedua rencana itu punya masalah yang sama. Tentang perbedaan. Jika Farhan menuduh dirinya telah jatuh ke lubang yang sama, itu tak bisa disalahkan karena sesuai dengan kenyataan.
“Entahlah, Farhan, tetapi kali ini aku punya keyakinan tidak akan gagal seperti yang dulu kita hadapi.
“Andai tidak ada Ramona, aku pasti akan berjuang mendapatkanmu lagi, Nda.
“Cintailah Ramona karena dia adalah istrimu. Dan doakan aku agar bisa menjadi istri Ivan.
“Apa jadwalmu setelah dari sini?”
“Tidak ada. Aku punya janji bertemu Ivan. Sore sampai malam barulah aku ada acara tampil menyanyi di tiga stasiun TV.
“Kurasa cukup pertemuan kita, Nda. Ingat, jangan memaksakan apa yang tidak kamu inginkan.
“Terima kasih, Farhan. Perhatianmu membuktikan jika masih ada cinta antara kita.
Jika cinta masih tersisa maka segalanya bisa terjadi di luar rencana. Miranda tahu-tahu sudah berada dalam pelukan Farhan ketika laki-laki itu berbisik pamit. Tidak ada yang berubah dari cara Farhan memeluk serta mengecup bibirnya. Dia mencium Miranda dengan penuh nafsu, dan Miranda memberikan reaksi yang sama, hingga tanpa sadar Farhan sudah mendorong tubuh molek Miranda ke tepian sofa.
"I-istrimu... bagaimana?" tanya Miranda gugup.
"Sst, jangan berkata yang tidak ada. Sekarang, ini adalah waktu untuk kita.”
Miranda terdiam sejenak dan kemudian berkata, "Kalau begitu, lakukan dengan sepelan mungkin,”
Wow, sebuah kalimat yang membuat Farhan serasa melayang. Dia segera menyuruh Miranda agar tiduran, dan dia mulai melepas baju kaos dan rok pendek perempuan itu. Miranda mencoba untuk ikut membuka baju kaos Farhan, tapi laki-laki itu hanya bersedia melepas celananya.
"Biar cepat," bisik Farhan. Mulutnya kembali menciumi bibir Miranda dengan penuh nafsu, dan tangannya dimasukkan ke balik celana dalam perempuan cantik itu. Pelan Farhan mulai mempermainkan kemaluan Miranda.
Miranda yang sudah sangat terangsang, hanya bisa telentang dengan tubuh terlihat begitu menantang. Bulu-bulu kemaluannya yang lebat terlihat cukup jelas di balik celana dalam. Buah dadanya sangat indah, bulat dan besar, dengan puting yang berwarna coklat kemerahan, sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih mulus. Farhan segera menjilatinya dan Miranda terlihat begitu menikmati.
"Aku kangen sama ini-mu, Han!" kata Miranda sambil memandangi kemaluan Farhan yang sudah sangat tegang terangsang. Dia meminta laki-laki itu agar tiduran dan kemudian mulai menjilati tubuh Farhan dari atas sampai bawah. Termasuk juga batang kemaluannya.
Sungguh luar biasa, dan Miranda ternyata cukup ahli dalam melakukan oral seks. Farhan kelojotan, sementara Miranda terus menggerakkan mulutnya mengulum serta menjilati kejantanan Farhan yang dulu sering memasuki liang vaginanya. Dan tampaknya, sekarang kejadian itu akan terulang kembali.
“Sini, Mir.” Farhan meminta untuk merubah posisi, ia putar tubuh molek Miranda sehingga kemaluan wanita itu sekarang berada persis di atas kepalanya.
Farhan sengaja tidak melepas celana dalam Miranda karena ingin menikmati keindahannya secara perlahan-lahan. Lembut mulai ia jilati selangkangan Miranda sambil sesekali menyibak kain celana dalam itu, sehingga kemaluan Miranda yang ditumbuhi bulu-bulu lebat jadi terlihat jelas. Kemaluan Miranda sangat harum karena memang selalu terawat, dan kelihatannya Miranda orangnya sangat bersih.
Dijilat beberapa kali membuat Miranda tak tahan, maka beberapa menit kemudian dia berdiri dan melepaskan celana dalamnya. Di depan Farhan kini terpampang pemandangan yang sangat indah, belum pernah ia melihat wanita secantik dan sesempurna Miranda, yang berdiri tanpa busana di hadapannya.
"Oh, Farhan... kamu bikin aku merinding." Miranda kemudian merebahkan diri dan membuka kedua pahanya lebar-lebar.
Farhan segera menyusupkan kepala ke sana untuk menjilati serta mengulumnya rakus. Selangkangan dan kemaluan Miranda memang sangat nikmat untuk diciumi. Bentuknya yang kecil terasa pas menjepit di lidah, sementara klitorisnya yang mungil paling enak kalau digigit-gigit gemas.
"Ah.. ah.. s-sudah.. lakukan sekarang! Aku nggak tahan lagi!" rintih Miranda.
Namun Farhan sama sekali tidak menghiraukan, malah dia menyibak rambut kemaluan Miranda dan mulai menjilat semakin cepat, terutama di klitorisnya.
"Ah.. s-sudah! Geli.. aku nggak tahan, Farhan!" jerit Miranda semakin keras.
Farhan terus menjilat, dan suara erangan Miranda pun semakin menjadi, tanda kalau perempuan itu sudah sangat terangsang. Namun tepat sebelum Miranda mencapai puncaknya, keadaan ternyata tak berpihak kepada mereka. Terdengar ketukan keras di balik dan suara Fira yang bertanya dengan nada khawatir.
“Miranda, kamu tidak apa-apa?”
“Eh, ya, Mbak Fira. Ada apa?” jawab Miranda tergagap. Rupanya jeritannya tadi begitu keras hingga mengundang kecurigaan. Buru-buru ia membenahi pakaiannya, begitu juga dengan Farhan. Mereka terpaksa melepaskan pelukan dan pertemuan itu pun berakhir.
“Isilah formulir ini. Harus sesuai dengan data dirimu, Nda. Fira menyodorkan sebuah kertas. Sementara Farhan langsung pamit pergi.
“Formulir apa ini, Mbak?”
“Jangan banyak tanya. Kamu cuma perlu mengisi dan menandatangani. Percayalah ini demi kebaikanmu,
“Aku percaya, Mbak Fira.
Miranda menghela napas. Ada satu kebohongan yang ia sembunyikan. Kebohongan yang hanya dirinya saja yang berhak tahu. Tidak boleh ada orang lain yang tahu kehidupannya di masa lalu. Cukuplah orang-orang di kejauhan sana, teman-teman setia di kampung sana, warga kota tempat kelahirannya yang tahu betul siapa dirinya. Sementara di kota ini cerita suram itu harus dirahasiakan rapat-rapat. Termasuk kepada Farhan dan Ivan.
Jemari Miranda gemetar saat menuliskan perihal tentang dirinya di formulir itu. Dirinya adalah orang dengan identitas ganda. Hanya Miranda saja yang tertera di formulir. Lahir di Bandung duapuluh delapan tahun lalu. Itulah identitasnya kini, menghapus jati diri di masa yang dulu.
“Ini, Mbak. Maaf, aku harus pergi. Ivan sudah menungguku.
“Pergilah. Makin cepat makin baik, Nda. Jangan biarkan gosip-gosip itu bergentayangan di berita TV.
“Mbak Fira bisa saja. Biarkan saja gosip itu. Toh menguntungkan diriku juga,
“Ingatlah, Miranda. Di balik keuntungan selalu mengintai kerugian. Artis baru sepertimu sangat rentan cobaan.
“Terima kasih. Nasehat Mbak Fira selalu kudengar. Selamat siang, Mbak.
Saatnya menemui Ivan. Miranda meninggalkan Xtra Studio. Mendung sudah menyingkir dari langit dan matahari semakin berani menyombongkan diri membakar bumi. Samar-samar ia coba mengingat-ingat sosok yang baru saja menawarkan minuman ringan. Ada banyak orang-orang jalanan yang berkeliaran. Dan salah satunya serasa tak asing. Harusnya pedagang asongan tadi bisa mengenali dirinya. Manusia hanya menjalani nasib yang telah digariskan. Manusia bisa di atas dan bisa di bawah, tergantung kehendak Tuhan yang memutar takdir tiap-tiap umatNya. Tiba-tiba terbersit sebuah keinginan. Buru-buru ia memanggil kembali lelaki itu. Kebetulan lampu masih menyala merah dan kemacetan semakin menggila.
Lelaki itu berpaling dan berjalan mendekat. “Mbak memanggil saya?”
“Iya. Kamu bisa mengemudikan mobil?”
“Bisa, Mbak. Kenapa?”
“Jika kamu butuh pekerjaan, datangilah alamat di kartu nama ini.” Miranda mengulurkan kartu namanya. “Kamu jauh-jauh meninggalkan kampung dan datang ke sini bukan untuk menjadi pedagang asongan kan?”
“Mbak tahu siapa saya?”
“Tidak. Aku hanya menduga-duga. Baiklah. Datang saja ke alamat itu besok atau lusa.
Lelaki itu masih bimbang menimang-nimang secarik kartu nama. Miranda ingin menangis tetapi tak boleh ada airmata keluar gara-gara kesedihan. Ia memang prihatin atas nasib lelaki yang sejatinya pernah lekat di sejarah kehidupan masa silam. Semudah itu orang-orang kampung melupakan dirinya sementara ia sendiri masih sulit mengenyahkan segala kisah dan cerita yang tertinggal di sana. Begitu banyak cerita manis sekaligus kisah tragis.
“Tidak! Aku tidak boleh mengingat semua itu! Aku sudah mati di mata mereka!” gumamnya berbisik dalam hati.
“Kamu wanita keji! Kamu pelacur! Kamu wanita jalang!”
Miranda terhenyak. Caci maki itu seperti berkumandang sangat dekat di gendang telinga. Suara yang berasal dari kedalaman palung jiwa. Miranda menelan ludah dan menarik napas panjang untuk meredakan ketegangan. Terlalu sering jiwanya mengalami pemberontakan. Seperti yang baru saja terjadi. Di saat hati membangkitkan semangat, namun di saat yang sama jiwa selalu meruntuhkan kembali semangat itu. Hati dan jiwa seringkali tak sejalan.
Beruntung perjalanan telah tiba di tujuan. Untuk sementara dirinya bisa menghentikan pertempuran antara hati dan jiwa. Sekarang waktunya membahas masa depan bersama pria yang ia yakini bisa memberikan kebahagiaan.
Saatnya menemui Ivan. Ia harus tahu apa keputusan yang akan diambil Ivan. Dan berharap keputusan itu berpihak padanya. Ia sadar mencintai Ivan berarti siap menempuh jalan terjal. Jika berhasil maka kebahagiaan sudah pasti bisa didapatkan. Jika gagal ia tak tahu harus berbuat apa. Hanya dua pria yang selama tiga tahun terakhir ini ada dalam kehidupannya. Farhan dan Ivan. Farhan ibarat tangan kanan dan Ivan bagaikan tangan kiri dan keduanya sama-sama memberi daya guna, memberi keseimbangan gerak langkah. Semoga Ivan tidak sekeras Farhan dalam mempertahankan keegoan.
“Selamat siang, Ivan.
“Kupikir kamu tidak datang, Nda. Sudah selesai pemotretan iklan itu?”
“Sudah. Aku sengaja minta ijin Mbak Fira untuk menemuimu,
“Kamu tak harus memaksakan diri, Miranda. Kita punya banyak waktu untuk saling bertemu.
Miranda terdiam. Ivan memandang wanita yang selama lima bulan ini menjadi kekasihnya. Ia tahu kedatangan Miranda bukan tanpa alasan. Miranda datang untuk meminta sebuah keputusan. Miranda datang demi membicarakan penyatuan.
“Sempat aku berpikir mencintaimu sudah cukup bagiku untuk meyakinkanmu, Miranda.
“Aku yakin dengan cintamu, Van. Tapi penyatuan tidak akan terjadi selama aku dan kamu dibayangi perbedaan.
“Banyak yang harus kupertimbangkan, Nda. Kuharap kamu memberiku kesempatan.
“Entahlah, Van. Aku mulai tidak yakin dengan masa depan kita.
“Farhan menemuimu? Dia mempengaruhi jalan pikiranmu?”
“Tadi Farhan memang menemuiku. Dia hanya tidak ingin aku jatuh ke lubang yang sama. Farhan tidak ingin kegagalan kami dulu terulang dengan kegagalan kita.
“Kita tidak akan pernah gagal, Nda. Tak ada seorangpun atau apapun yang kubiarkan menghalangi cinta kita.
“Tapi kamu menghalangi dirimu sendiri, Van. Aku tidak bisa lama-lama. Sore ini aku ada jadwal sampai malam.
“Seakan-akan kamu memaksaku, Nda.
“Aku memang memaksa demi diriku. Kurasa kamu sudah tahu itu,
“Andai aku bisa memaksakan keinginanku padamu, Miranda.
“Coba saja,” Miranda menantang, dan Ivan langsung menyambar kesempatan itu.
Tangannya cepat terulur ke arah dua payudara Miranda yang besar, padat, dan bulat. Juga kulit Miranda yang putih bersih. Pemandangan itu kontan membuat penis Ivan menjadi tegang. Apalagi saat tangan kanan Miranda meraih jemarinya dan mengusapkannya halus ke tonjolan buah dadanya yang indah itu seraya berkata, "Ooh, Van. Rasakanlah payudaraku ini, dan rasakan pula detak jantungku yang berdebar kencang."
"Ah, Mir. Kamu memang selalu menggairahkan. Kita main yuk?!" Sebagai cowok normal, Ivan tentu tak tahan disuguhi pemandangan seperti itu. Dengan kejantanan ereksi berat, pelan ia meremas-remas payudara Miranda yang sebelah kanan.
"Yaa, di situ, Van. Nikmat sekali. Teruskan, Van!" balas Miranda sambil dengan ringan membuka kancing-kancing baju Ivan. Setelah terlepas semua, bibirnya yang ranum dan merah merekah pelan-pelan mulai mencium serta menjilati dada laki-laki itu. Lidah Miranda yang panjang terasa nikmat sekali di dada Ivan.
Ivan membalas dengan mengarahkan tangan kanannya ke pantat Miranda yang besar dan bulat, sambil tangan kirinya terus meremas-remas dada. Miranda mengerang menikmatinya, tangannya ikut beraksi membuka resleting celana Ivan dan kemudian memelorotkannya.
Begitu celana dalamnya terbuka, penis Ivan yang sudah ngaceng sedari tadi, langsung meloncat keluar. Melihat penis yang sudah membesar dan memanjang itu, buru-buru Miranda membungkukkan badannya dan pelan mengulum penis itu ke dalam mulutnya. Terasa nikmat sekali.
"Aah... Mir, enak... teruskan!" Ivan merintih suka.
Lidah Miranda dengan leluasa terus menjilati permukaan penis laki-laki itu, juga ke puncaknya yang gundul memerah sambil sesekali menggigit serta mengocoknya ringan. Ivan yang masih belum puas, dan pengin lebih hot lagi, dengan perlahan menggiring tubuh telanjang Miranda ke pinggiran tempat tidur. Pelan-pelan ia dorong badan perempuan itu ke sana.
Kini ganti Ivan yang berkerja. Dalam keadaan membungkuk, ia mencium serta mengulum bibir ranum Miranda, tak lupa juga ia jilati payudara Miranda yang nampak semakin membesar sempurna.
"Oo yaa... terusin, Van. Terusin!" desah Miranda.
Mendengar rintihan itu, Ivan jadi semakin buas. Ganas ia nikmati susu Miranda yang membuncah-buncah bagai bukit kecil yang menjulang tinggi. Payudara itu terus diserbu dan diserangnya dengan jilatan serta gigitan, sebelum kemudian mulutnya mulai terarah ke arah selangkangan Miranda. Kalo tadi gunung yang ia daki, sekarang Ivan bisa melihat celah jurang yang sangat curam, yang sepertinya bakal enak kalau dimasuki.
Terlihat bulu kemaluan Miranda yang lebat bak hutan perawan, seperti jarang terjamah. Dengan asyik, tangan Ivan langsung mengobrak-abrik tempat itu. ia singkap bulu-bulu keriting itu hingga terlihatlah dinding daging tipis yang berwarna merah menyala. Langsung Ivan menjilatinya dengan buas, bahkan sampai Miranda menjerit penuh kenikmatan.
"Terusin, Van, terusin! Masukkan semua lidahmu ke dalam milikku."
Dengan bau vagina Miranda yang harum dan nikmat, membuat Ivan jadi semakin terangsang lagi untuk lebih lama menikmatinya. Sambil terus mencium, kedua tangan Ivan juga tak henti-henti meraba serta meremas-remas kedua belah payudara Miranda yang kini bergoyang-goyang indah. Ivan memilin-milin putingnya, terus menjepit serta memencet-mencetnya, sampai membuat Miranda semakin mengerang sambil memegangi kedua tangannya erat-erat.
“Ahh... s-sudah, Van.” Miranda meminta untuk berganti posisi. Sekarang dia yang berada di atas. Ivan menurutinya, masa dia terus yang gerilya, sesekali kan ia juga pingin dimanja.
Sebelum memulai aksinya, Miranda pertama-tama meremas sendiri kedua payudaranya dengan mimik wajah menggoda yang membuat Ivan jadi tambah bernafsu. Sehabis itu, barulah ia mencium serta menjilati bibir Ivan seraya tangannya meremas-remas dada bidang laki-laki itu dan meraba-raba puting susunya. Pagutan Miranda benar-benar fantastik, terasa begitu nikmat, hingga tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.
Puas dengan mencium dan menjilati bibir, perhatian Miranda pelan-pelan mengarah ke bawah. Kini ia menjilati leher Ivan, bahkan kadang-kadang menggigitnya gemas. Sambil menikmati leher, tangan kanannya berpindah posisi ke penis Ivan yang panjang dan terasa sangat keras. Dengan enaknya Miranda mengocoknya ke atas dan ke bawah. Terus, hingga kocokan itu benar-benar membuat mata Ivan merem melek karena tak tahan.
Semakin ke bawah, ciuman Miranda kini tertuju ke dada Ivan. Namun cuma sebentar ia menjilati puting susu laki-laki itu, sebelum kemudian perhatiannya teralih ke penis Ivan yang sudah membesar dan memanjang sedari tadi. Miranda langsung menjilatinya, lidahnya yang memutar-mutar membuat Ivan merintih puas sekali. Apalagi sambil menjilat, Miranda juga terus mengocoknya dengan menggunakan jari-jarinya yang lentik mungil.
"Aah, Mir... awas, tahan dulu kocokanmu. Aku mau keluar!” rintih Ivan saat merasakan sesuatu yang hangat mulai mengalir lembut dari batang penisnya. Dia masih belum ingin meletus karena belum merasakan tubuh sintal Miranda.
Namun dengan cuek Miranda malah bertambah giat dan keras dalam mengocok, sambil lidahnya terus menjilati pucuk penis Ivan yang kini sudah berubah warna jadi keunguan. Akibat perbuatan itu, tanpa bisa dicegah, menyemburlah cairan kenikmatan berwarna putih yang mengenai mulut dan hidung Miranda, bahkan sebagian ada yang menempel di kelopak mata perempuan cantik itu.
“Ughh... Mir!” Ivan melenguh keenakan, sementara Miranda segera menjilat serta menelan semua cairan yang bisa ia dapat. Sisanya ia oleskan ke puncak payudaranya yang terlihat sudah tegang sempurna. Puting mungil itu kini jadi kemerahan karena basah oleh cairan sperma Ivan.
Miranda terus menjilati sisa-sisanya, sedangkan Ivan beristirahat sejenak dalam kenikmatan yang tiada taranya.
“Terima kasih, Mir. Habis ini, giliranmu ya.” Ivan tersenyum.
Tapi Miranda menggeleng, “Tidak. Aku harus pergi. Mulai detik ini, mungkin hanya ini yang bisa kuberikan kepadamu. Yang ini bisa kau nikmati jika sudah membuat keputusan.” kata Miranda sambil menunjuk ke arah selangkangannya.
“Tapi, Mir...” Ivan terlihat kecewa.
“Maka itu, cepatlah ambil keputusan,” Miranda bersikeras.
Siapapun tahu siapa Miranda. Tak seorangpun mampu meruntuhkan sifat keras kepala dan keras hati yang sudah mendarah daging. Ivan memahami karakter Miranda tak akan pernah berubah. Jadi ia hanya bisa memeluk dan mencium sebentar sebelum Miranda melangkahkan kaki pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Di salah satu sudut kota, di pemukiman padat penduduk, seorang lelaki berjalan kaki sambil sesekali menendang kerikil-kerikil yang berserakan di gang sempit. Pakaiannya lusuh. Wajahnya dibanjiri peluh. Tapi matanya berbinar penuh harapan. Langkahnya berhenti di sebuah rumah petak. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya. Jari-jemarinya menggenggam sebuah kartu nama. Bibirnya bergerak-gerak membaca setiap huruf yang tercetak di kartu nama berwarna hijau itu.
“Apa yang kamu baca, Bim?”
“Ibu, tadi ada wanita cantik memberiku kartu nama ini,
“Coba ibu lihat,” si wanita tua yang dipanggil ibu itu mengambil alih kartu nama dari tangan putranya lalu mengamati. Sejurus kemudian wajah keriput itu berseri-seri. “Wanita tadi itu artis. Yang memberimu kartu nama ini namanya Miranda. Model iklan.
“Darimana Ibu tahu? Bisa saja Miranda yang lain.
“Bimo, lihat fotonya baik baik. Ibu sering liat wajah ini di TV. Tiap hari kan si Sarah, anak majikan Ibu itu nonton gosip. Jadi Ibu yakin, Le.
“Itulah, Bu. Wanita tadi menawariku pekerjaan menjadi sopir,
“Terima saja, Bim. Daripada kamu hidup menggelandang. Siapa tahu Miranda ini bisa merubah hidupmu.
Marina memandangi putranya dengan tatapan iba sekaligus tatapan penuh harapan. Bimo bukan anak kandungnya. Bimo adalah anak orang lain. Bimo ia beli dari seorang lelaki yang membutuhkan uang. Lelaki yang menjual Bimo juga sempat menawarkan bayi lain yang diakui sebagai kembaran Bimo. Tapi ketika itu ia hanya membeli satu bayi saja sementara bayi yang satunya lagi tetap berada di tangan lelaki itu. Kini puluhan tahun berlalu dan Bimo telah tahu bahwa ibu yang selama ini mengasuh bukanlah ibu kandungnya.
“Ibu, benarkah aku ini kembar?”.
“Benar, Le. Tapi Ibu sama sekali tidak tahu di mana kembaranmu itu berada. Juga tidak tahu di mana orangtua kandungmu.
“Bimo akan mencari mereka, Bu. Mencari orang-orang jahat yang tega menjual Bimo.
“Sudahlah, Le. Lupakan mereka. Ibu sangat sayang padamu.
“Nanti malam aku mau bertamu ke alamat itu, Bu. Semoga dia benar-benar mempekerjakanku.
“Ibu ikut mendoakan kamu, Bim. Juga mendoakan semoga hidup kita bisa kembali kaya.
Marina terkenang masa lalunya. Dulu ketika Bimo masih kecil mereka sempat merasakan nikmatnya menjadi orang kaya. Tinggal di rumah mewah kompleks perumahan elit. Mempunyai mobil dan segalanya. Tetapi kekayaan itu lenyap seketika ketika suaminya meninggal. Satu persatu harta diambil paksa oleh pihak-pihak yang memang punya hak atas segala warisan almarhum sang suami. Marina tidak mampu berbuat banyak. Dalam sekejap ia dan Bimo hidup serba kekurangan. Dulu Bimo tak pernah berkeliaran di jalanan. Dulu Bimo justru sering memberi makan orang-orang jalanan. Tetapi sekarang Bimo harus bertaruh hidup di kerasnya jalan raya.
Apapun yang terjadi, ia tetap menyayangi Bimo sebagaimana layaknya anak kandung. Ia bukannya tidak tahu siapa orangtua kandung Bimo. Ia tahu di mana orangtua kandung Bimo tinggal. Dirinya tahu nama Ibu yang melahirkan Bimo. Dirinya tahu nama Ayah yang menjual Bimo. Namun Bimo belum saatnya tahu siapa orangtua kandungnya.
“Sarah sering menanyakanmu, Bim. Cobalah sesekali main ke rumah Pak Wisnu.
“Aku malu, Bu. Kalau memang Sarah ingin bertemu denganku, biar dia yang datang ke sini.
“Mereka orang-orang baik, Bim. Pak Wisnu telah menyelamatkan keluarga kita.
“Ibu senang jadi pembantu di rumah Pak Wisnu?”
“Senang atau tidak senang semua harus dijalani, Bim. Sudahlah, Ibu mau kembali ke rumah Pak Wisnu.

***

Waktu merambat lambat. Setidaknya itu yang dirasakan Miranda. Pertemuannya dengan Ivan masih jalan di tempat. Ivan terkesan mempertahankan ego. Mulai ada pembenaran atas pernyataan Farhan yang mengatakan bahwa Ivan tidak akan membuat keputusan secepat membalik telapak tangan. Terbukti sudah Farhan memang benar. Tapi tidak sepenuhnya ia memberi pembenaran karena apapun yang disampaikan Farhan sama sekali tidak ada yang perlu dianggap serius. Farhan dan Ivan sama saja.
Atau aku harus mulai memikirkan pria selain mereka berdua?, Miranda bertanya pada diri sendiri. Sudah begitu lama dirinya tidak pernah mencari sosok-sosok lain di luar dua nama itu. Farhan lebih dari dua tahun menghuni hatinya. Setelah Farhan ganti Ivan yang mengisi ruang kosong. Dua pria itulah yang silih berganti meramaikan nurani. Ah, andai saja aku punya keberanian untuk kembali ke masa lalu, gumamnya sesaat sebelum menghapus ide tersebut. Kembali berenang di kubangan masa suram adalah hal terburuk yang tak boleh dijalani.

3 komentar:

  1. sengsara membawa nikmat bagian 15 kapan rilisnya gan??
    udah gak sabar nie gan,, nunggu rilisannya..

    BalasHapus
  2. Lanjutkan bang is..pert aisyah selingkuh dong

    BalasHapus