Kamis, 17 Agustus 2017

Melepas Keperjakaan



Kalau saja tidak mengalaminya sendiri, aku pasti tidak akan percaya. Semua berawal dari ejekan temanku.
"Dasar cupu! Kamu mau perjaka sampai mati ya?!" kata Dendi. Dia adalah teman terdekatku di kantor.
"Bukan urusanmu." aku berkilah.
Dendi hanya tertawa. Selanjutnya kami meneruskan pekerjaan sambil diselingi guyonannya yang menyindirku sebagai lelaki penakut karena belum pernah berpacaran, apalagi merasakan tubuh wanita.
"Bisa-bisa pejuhmu berubah jadi batu kalau nggak pernah kamu keluarkan!" dia kembali berkata.
"Kan bisa lewat mimpi," sahutku.
"Beda, bro. Moncrot di dalam memek berkali-kali lipat nikmatnya."
"Ah, benarkah?"

Dia tertawa melihatku mulai tertarik. "Makanya kamu coba. Tuh si Eveline, dia pasti mau kalau kamu ajak."
"Gila kamu, dia kan sudah menikah."
"Lho, justru yang udah married gitu yang sering kegatelan kalau lihat kontol."
"Memang kamu yakin?"
"Percaya deh sama aku," Dendi memberiku senyuman misterius.
"Jangan-jangan, kamu sudah pernah..."
Dia tertawa, sedikit berlebihan. "Mana berani aku promosiin dia kalau belum pernah kucicipi."
"Gila kamu!" Aku geleng-geleng kepala menyadari kenekatan temanku yang satu ini. "Kok bisa? Gimana caranya?"
Dendi mengangkat bahunya. "Dengan sedikit usaha dan doa, juga keberuntungan." sahutnya sok bijak.
"Pelit ah." Aku melengos.
Dendi hanya tertawa. "Kamu nggak mungkin bisa mendekati dia!" Dendi kemudian mulai bercerita awal mula ia bisa ngentot dengan Eveline. "Dia kuperkosa ketika kami dinas luar berdua, sebulan yang lalu."
"Dia nggak marah?" tanyaku heran.
"Marah ya pasti. Dia bahkan mengancam akan melaporkanku ke polisi. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku perkosa aja lagi, berkali-kali." Dendi tersenyum sadis. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. "Dan sesuai dengan perkiraanku, ancamannya ternyata tidak terbukti."
"Kok bisa?"
"Bisa saja, karena sekarang dia sudah ketagihan sama kontolku!"
"Ketagihan?" Aku melongo.
"Iya. Malam itu dia kubikin orgasme berkali-kali hingga tak bisa bangun dari tempat tidur. Dan esoknya, bukannya menangis menyesali, dia malah langsung mencaplok kontolku!"
"Gila!"
"Memang gila." Dendi tersenyum senang. "Kami mengulanginya lagi, kali ini dengan santai dan saling menikmati. Harusnya kami keluar dari hotel siang itu, tapi  Eveline meminta untuk tambah sehari lagi."
"Wah-wah, kalian jadi kaya bulan madu dong,"
"Pastinya."
"Istrimu nggak nyari? Kan ijin cuma sehari, ini nambah jadi dua hari."
"Itu gampang diatur. Tinggal telepon dan bilang kalau acara diundur karena masih ada yang belum selesai dibahas. Beres!"
"Nggak takut ketahuan suami Eveline?"
"Itu risiko, bro." Dendi menepuk bahuku. "Jangan takut terbakar kalau suka bermain api."
"Nah, itulah bedanya aku sama kamu. Aku nggak suka mengambil risiko, aku maunya yang safe-safe aja."
"Kalau begitu pacaran, cari cewek single yang mau ngentot sama kamu."
"Sulit, bro." Aku menggeleng. "Tahu sendiri kan bagaimana sikapku dalam ngadepin cewek. Jangankan merayu, ngomong biasa aja aku sudah grogi."
"Makanya banyak bergaul, jangan cuma diam di rumah mantengin buku!"
"Bergaul kemana?" aku bertanya. "Temanku nggak banyak, dan rata-rata juga cowok."
"Sulit kalau begitu." Dendi mendesah. "Pengen ngentot, tapi nggak punya kenalan cewek."
"Iya nih, makanya aku curhat sama kamu."
Dendi terdiam, berpikir sejenak. Kemudian dia tersenyum. "Sudah ketemu, bro. Sepertinya aku punya solusinya."
"Apaan?"
"Kamu tinggal ngentot. Nggak pake ngomong, nggak pake acara rayu-rayuan."
"Nah, cocok tuh." Aku berbinar. "Kenalin dong aku sama dia!"
"Nggak usah kenalan juga. Kucing di rumahku siap kok kamu entotin kapan aja!"
"Sialan kamu!" Mukaku langsung merah padam.
Dendi tertawa ngakak melihat jebakannya berhasil. Aku yang masih jengkel, berdiri meninggalkannya untuk mengambil minuman dingin.
Tak lama aku kembali. Dendi menerima botol pemberianku. Dia meminta maaf, lalu mengatakan solusi sebenarnya yang sudah ia temukan.
Kali ini aku mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Idenya sungguh cemerlang, bahkan cenderung tidak masuk akal. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, hanya itu satu-satunya cara. Tanpa perlu berpikir panjang, aku pun menerimanya.
"Kapan waktunya?" aku bertanya, sedikit tak sabar.
"Emm,seminggu lagi. Datanglah hari minggu sehabis maghrib."
"Bagaimana dengan istrimu?"
"Dia lagi ada acara keluarga, kita akan aman sampai pagi."
"Sip dah. Aku pasti datang!"
"Ok, deal kalau gitu."
Sebelum pulang, Dendi memaksa untuk memotret kontolku. "Buat apa?" tanyaku curiga. "Nggak mau ah, kayak homo aja minta foto burung."
"Buat bukti, bro. Biar dia percaya kalau kontol kamu juga gede!" jawab Dendi sambil cengengesan.
Tidak kupenuhi permintaannya karena aku sudah jijik duluan. "Aku janji nggak akan mengecewakan. Biarpun nggak pernah dipakai, tapi kontolku selalu kukondisikan selalu siap tempur."
Dendi mengangguk. Sambil tertawa-tawa, kami pun berpisah.

***

Hari minggu, seperti yang sudah dijanjikan, Dendi sudah menungguku di depan rumahnya. Aku kaget, ternyata Dendi lumayan tajir, padahal gaji kita sama. Rumahnya besar dan mewah. Agak ragu-ragu aku ikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Terlihat segala perabotan mewah menghiasi ruangan itu. Aku hanya mampu berdecak kagum.
Dendi mengajakku menuju kamar tidurnya yang berada di lantai dua. Terlihat dan terasa, kamar itu luas dan nyaman sekali. Aku diam tak banyak bicara. Sampai akhirnya Dendi mengajakku ke meja makan di lantai bawah untuk makan  malam.
Semua hidangan telah siap di meja, dimasak oleh istrinya sore tadi. Dendi mengajakku makan sambil menunggu gadis yang akan dikenalkannya kepadaku. Dia menunjukkan satu foto di hapenya.
"Ini orangnya, kamu cocok kan?" tanyanya berpromosi.
Kuperhatikan foto itu. Hm, lumayan cantik juga. Kutaksir umurnya antara 25-26 tahun. Bodinya yahud, sesuai dengan seleraku. Dadanya besar, meski posturnya agak gemuk.
"Namanya Metha, bro." kata Dendi seperti tahu isi pikiranku.
"Rumahnya di mana?"
"Kamu nggak perlu tahu. Yang penting dia mau kuajak main bertiga."
"Terserah kamu deh," aku meringis.
Selesai makan, Dendi tampak sibuk dengan hpnya. Sspertinya dia meminta Metha agar lekas datang. "Dia sudah di jalan, sedang menuju kemari." jelasnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Deg-degan.
Tak lama, sekitar 10 menit kemudian, terdengar ketukan di pintu depan. Dendi lekas membukanya, mempersilakan seorang gadis cantik untuk masuk.
"Kenalkan, bro. Ini Metha." Dendi berkata, berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku.
Kujabat tangan gadis itu yang terasa lembut. Metha tersenyum, parasnya sungguh cantik, beda dengan di foto tadi.
"Teman sekantornya mas Dendi ya?" Metha bertanya.
"Iya," aku mengangguk. "Namaku Apin."
"Lucu namanya," Metha mengikik. "Upin-Ipin-Apin."
"Hehe..." Sebelum aku sempat menimpali, Dendi sudah keburu menyuruh Metha pergi ke kamar untuk bersiap. Sungguh beruntung dia memiliki selingkuhan yang cantik, montok, berdada besar, pantatnya semok, kulitnya putih, dan rambut yang hitam berkilau dipotong pendek sebahu. Seksi sekali.
"Gimana, bro, cakep kan?" tanya Dendi seolah paham aku yang sedang terpana.
"Cantik banget! Lebih cakep daripada di foto tadi," jawabku jujur.
"Kita mulai sekarang?"
"Tunggu apa lagi?!"
Sambil tersenyum, Dendi segera mengajakku naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Di dalam, tampak Metha sedang membersihkan wajahnya di meja rias. Ia hanya mengenakan kaos ungu dan rok hitam selutut. Ia cuek saja ketika aku dan Dendi tiba-tiba masuk ke kamar.
"Gimana, Tha, bisa dimulai sekarang?" tanya Dendi santai. Sedangkan aku hanya diam sambil memperhatikan tubuh Metha dari belakang.
"Tunggu sebentar, aku cuci muka dulu!" Gadis itu bangkit dan beranjak dari meja rias, menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Aku dan Dendi duduk di sofa merah empuk yang berada di sisi tempat tidur. "Gimana, bro, kamu siap?" tanyanya kepadaku.
"Aku malu, Den. Nggak tahu mesti mulai dari mana. Kamu tahu sendiri kan ini pengalaman pertamaku. Lagian aku baru pertama kali bertemu dengan dia, belum akrab, dan yang pasti bakalan canggung." jawabku apa adanya.
"Gampang, nanti kita garap aja bareng-bareng! Metha juga pasti canggung, makanya sebisa mungkin kamu jangan sungkan-sungkan!" sarannya kepadaku.
Mendapat pernyataan dari Dendi tak membuatku menjadi tenang. Jantungku tetap berdebar kencang. Aku gelisah sekali antara malu, takut, canggung, dan khawatir. Pokoknya segala macam perasaan dan pikiran campur aduk sampai membuat badanku menjadi panas dingin.
Ketika pikiran dan perasaanku sedang tidak menentu, Dendi tiba-tiba beranjak dari sofa menuju kamar mandi. "Lama banget kamu di kamar mandi, Tha!" ucapnya sambil melangkah masuk.
Tak lama, dia keluar dari kamar mandi disertai Metha yang hanya mengenakan handuk berwarna putih. Aku terpana melihat kemolekan tubuhnya. Handuk yang ia kenakan hanya menutupi sebagian dada dan pahanya yang putih mulus. Sungguh menggairahkan sekali. Susunya yang besar terlihat menggelembung di balik handuk itu. Juga pantat dan pinggulnya.
Melihat pemandangan yang begitu indah, kontolku kontan langsung menegang dan mengeras. Aku agak meringis sebab kontolku yang mengarah ke bawah kini terjepit celana, lumayan agak sakit dan menyiksa.
Dendi tersenyum melihatku. Tak ingin membuatku menunggu, dia langsung membuka permainan. Lembut dilumatnya bibir tipis Metha sambil tangannya menggerayangi kedua dada montok gadis itu yang masih berbalut handuk.
Aku masih canggung sehingga tak bisa berbuat apa-apa selain menonton. Dengan perlahan aku membenahi posisi kontolku, kurubah mengarah ke atas supaya agak bebas dan tidak terlalu menyiksa sambil tetap tak beranjak dari tempat duduk.
Dendi sudah melepas handuk yang melilit tubuh Metha. Aku kembali tercengang, mataku tidak berkedip melihat betapa besar payudara gadis itu yang bergelantungan tanpa penutup.  Bentuknya bulat dan padat, dengan lingkaran merah segar di sekitar putingnya yang mungil. Tak kalah mencengangkan adalah memek Metha yang tercukur mulus, sama sekali tidak berbulu. Kemaluan itu begitu tebal dan tembem, persis kue apem. 
Aku pandangi tubuh Metha mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Benar-benar luar biasa; putih dan mulus, tanpa ada sedikit pun bekas luka atau apapun. Sungguh wanita yang sangat sempurna. Darimana Dendi bisa menemukannya?
Melihat Metha telanjang membuatku berkali-kali menelan ludah. Aku belum pernah melihat tubuh seindah dan seseksi ini secara nyata, kecuali dari film-film JAV yang sering kutonton. Sungguh tubuh yang tiada bandingannya.
"Sini, bro. Gabung sini!" Dendy memintaku untuk mendekat.
Dengan ragu aku melangkahkan kaki mendekati mereka. Dendi dan Metha tetap asyik berciuman dan saling remas. Tanganku kemudian dibimbing Dendi dan diletakkan pada susu Metha yang besar. Terasa kulit susunya begitu lembut seperti kulit bayi, dan tak kalah mencengangkan adalah payudara itu terasa begitu kenyal.
"Remas, bro. Nggak apa-apa." Dendi berkata.
Pelan aku meremasnya, dengan lembut dan mesra.
"Ya, begitu. Enak kan?"
Aku mengangguk. Sering aku membayangkan tekstur dan rasa payudara perempuan, namun tak pernah menyangka kalau akan senikmat ini. Metha tersenyum mengetahui aku begitu menyukai bulatan payudaranya.
"Remas terus, bro. Santai saja, nikmati sepuas kamu!" Dendi menghentikan ciumannya di bibir Metha, ia kemudian menyusuri leher gadis itu.
"Ehhmmm, ahhh...!" Metha menggelinjang.
Ciuman Dendi turun, tepat menuju dada besar Metha yang sebelah kiri. Yang kanan tetap menjadi milikku, terus kuremas dan kupijit-pijit lembut. Dengan rakus Dendi menjilat dan mengenyot-ngenyot bongkahan daging itu, terutama puting Metha yang terlihat lezat dan segar.
Melihatnya membuatku gemetar, dan dengan agak ragu akhirnya turut mengikutinya. Kumainkan susu Metha dengan mulut dan lidahku. Namun, aku tidak seperti Dendy yang begitu rakus dan lahap dalam menjilat. Aku melakukannya dengan lembut dan perlahan, takut membuat Metha kesakitan.
Kulurkan lidahku, menjilat mengikuti lingkaran merah susu gadis itu. Kukenyot pelan, kujilat perlahan sepenuh perasaan, kadang juga kuhisap lembut. Metha yang mendapat sensasi berbeda pada kedua susunya, kontan menggelinjang sambil mulutnya mendesis dan terkadang mendesah dengan suara yang begitu menggairahkan.
"Sssssshhhhh, ooouuuuuuhhhh... eeeemmhhhh, aaaaauuuuuhhh..." desah gadis itu sambil tangannya mengusap-usap kepalaku dan kepala Dendi.
Aku mulai mengkombinasikan mulut serta lidahku untuk menjilat lebih kuat lagi. Puting susu Metha yang merah segar terus kuhisap-hisap. Tanganku juga tak berhenti meremas. Di sebelahku, kulirik Dendi masih asyik menjilat. Air liurnya sampai menetes membasahi perut dan lantai kamar tidur.
Perlahan aku arahkan tangan kiriku menuju memek Metha yang tembem tanpa bulu. Terasa memek itu sudah hangat dan basah. Pelan aku mengusap-usapnya.
"Ooooouuuuuhhh, ssssshhhhh, aaaaaaooouuuuhhhh..." Metha mendesah sambil tubuhnya sedikit terguncang karena merasakan sensasi nikmat pada kedua susu dan memeknya.
Dendi menghentikan aksinya. Ia kemudian memintaku telanjang sambil ia pun membuka satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Dengan agak canggung aku menuruti perintah itu, pelan aku mulai menelanjangi diri. Satu per satu baju dan celanaku jatuh bertumpuk di lantai.
Kini aku, Dendi, dan Metha sudah sama-sama bugil tanpa sehelai benang pun. Wajah Metha nampak memerah ketika matanya lekat memandangi kontolku yang sudah tegang dan mengeras sejak awal permainan.
"Sini, say!" Dendy merebahkan tubuh Metha di atas tempat tidur. Kami mengapitnya di kiri dan kanan. Metha pasrah bagai hidangan yang siap kami nikmati.
"Kamu pernah jilat memek, bro?" tanya Dendi kepadaku.
Aku menggeleng.
"Kalau begitu lakukan, biar kamu punya pengalaman!" perintahnya.
Entah mengapa, walau aku sudah sangat bernafsu, rasa canggung dan malu masih saja ada. Dengan bercampur ragu, perlahan-lahan aku menuruti intruksi Dendi. Kujilati liang memek Metha, kugerakkan lidahku naik turun di bibir vagina tembem itu. Klitoris Metha yang mungil kucucup dengan lembut. Tercium aroma wangi dari lorong memeknya. Aku jadi menarik kesimpulan jika memek gadis cantik pasti harum dan legit.
Tubuh Metha terlihat mulai resah; pinggangnya sesekali terangkat naik sambil pahanya ia gunakan untuk menjepit kepalaku yang terbenam menikmati kelezatan memeknya.
"Oooooouuuuuhhhh, oooouuuuuhhh... aaaaaaaahhhh, ehhhhmmmmmm... aaaaahhh!" desah Metha sambil mulutnya menjilati batang kontol Dendi yang tersaji di depan wajahnya.
Kulirik mereka sejenak. Selanjutnya, tak peduli dengan kepalaku yang dijepit rapat, aku kembali menjilat. Kunikmati liang sempit memek Metha sepuas hati. Aku terus menghisap dan mengenyot-ngenyot rakus. Mulai dari kedalaman liangnya, juga bibir memeknya yang tembem, dan tak lupa klitorisnya yng terasa kian tegang dan kaku.
Sambil merasakan kontolnya dihisap, Dendi dengan penuh nafsu meremas-remas dan memilin puting susu Metha, sehingga gadis itu semakin terbakar api birahi.
Tak sampai sepuluh menit, karena dikerjai atas bawah, Metha akhirnya mencapai orgasme. Terasa cairan kental, hangat, dan lengket keluar dari dalam liang memeknya, tepat mengenai lidah serta daguku. Mendapat orgasmenya, paha Metha semakin kencang menghimpit kepalaku dan menekan-nekan memeknya pada mulutku.
"Ooooouuuuuuhhhh, aaaaaaaeeehhhh..." lenguhnya keras-keras.
Kami berhenti sejenak, membiarkan Metha menikmati puncaknya untuk sesaat.
Setelah gelombang orgasme itu surut, perlahan aku bangkit sambil mengelap cairan orgasme Metha pada daguku. Aku usapkan cairan itu pada kontolku yang masih tegang dan mengeras.
Metha bangkit, melepaskan kontol Dendi dari mulutnya. Dendy kemudian mempersilakan aku untuk menyetubuhi gadis itu terlebih dahulu.
"Kamu berbaring aja, bro. Biar Metha yang bekerja." kata Dendi begitu melihatku yang kebingungan ketika hendak melakukan penetrasi.
Aku pun segera menelentangkan tubuh di atas ranjang. Perasaanku campur aduk antara malu dan senang. Tanpa banyak bicara, Metha mulai menaiki tubuhku dan menduduki batang kontolku yang menjulang kaku. Ia kemudian bergerak maju mundur sehingga kontolku yang panjangnya sampai ke udel itu bergesekan dengan memeknya yang tembem.
"Hhmmmm agghhhhh..." Metha mendesah, berbarengan dengan aku yang merintih keenakan.
Terlihat memek gundulnya mengkilat karena cairan birahi yang membasahi. Perlahan Metha mulai mengarahkan batang kontolku yang panjang dan besar ke dalam liang memeknya. Ia tekan tubuhnya turun secara perlahan. Tampak Metha sedikit meringis.
"Kontol mas lumayan gede!" bisiknya kepadaku, sambil ia goyang-goyangkan pinggulnya. Pantatnya terus turun supaya kontolku bisa terbenam lebih dalam lagi di liang kemaluannya.
Sungguh nikmat sekali. Otot lubang memeknya begitu kuat mencengkeram batang kontolku. 
"Sssshhhh, ooogghhhhh, hhhmmmhhh..." sambil mulutnya tak berhenti mendesah, Metha terus menggoyang-goyang pinggulnya dan menekan supaya kontolku semakin terbenam. Sampai akhirnya, benda kebanggaanku itu amblas di dalam lubang memeknya yang lembab dan hangat.
Resmi sudah, aku kehilangan keperjakaanku!
"Oooouuuuhhhhh sssshhhhh... ooooouuuuhhhh sssshhhhh..." desah Metha sambil memutar-mutar pinggul. Perlahan ia mulai mengocok kontolku yang terbenam di lubang memeknya.
"Enak nggak, bro?" Dendi mendekat, mengarahkan kontolnya ke mulut Metha.
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Di depanku, Metha mulai mengulum kontol Dendi sambil tubuhnya terus bergerak naik turun. Sesekali ia kembali bergoyang memutar, membuatku merasakan nikmat cengkeraman otot memeknya yang begitu luar biasa.
"Oooouuuuhhhh ssssshhhh... oooooouuuuuhhhh sssssshhhhh..." desah Metha di sela-sela kesibukannya mengulum kontol.
Sampai akhirnya dia berhenti mengulum dan hanya mengocok-ngocok kontol Dendi dengan tangan kirinya. Sedangkan di bawah, dia terus menduduki kontolku. Pinggulnya bergoyang liar, naik-turun mengocok kontolku yang terbenam di lubang memeknya.
Karena tak lagi diemut, Dendi bangkit menuju belakang punggung Metha. Ia tekan tubuh gadis itu agar lebih menungging lagi. Metha menghentikan sejenak aksinya mengocok batang kontolku, dibiarkannya Dendi yang sepertinya ingin menusuk dari belakang.
"Tahan sebentar ya!" kata Dendi sambil perlahan-lahan mulai menusukkan batang kontolnya yang sudah dibasahi oleh ludah ke liang dubur Metha.
"Eegghhh... mmhhhhh! Aduh, pelan-pelan!" Metha meringis merasakan duburnya dimasuki oleh benda tumpul. Ia mendekap erat tubuhku, ditempelkan ke tubuh montoknya yang menindih hangat.
Perlahan-lahan Dendi terus menekan hingga batang kontolnya semakin masuk lebih dalam lagi.
"Oooooouuuuuu sssssss... oooooouuuuhhhhh ssssssshhhh... aaaaaaaauuuuuuu!" erang Metha sambil meringis ketika kontol Dendi terbenam utuh di lubang duburnya.
Perlahan-lahan Dendi mulai memaju-mundurkan tubuh, mengocok kontolnya yang berada di lubang dubur Metha. Di sisi lain, Metha juga kembali mengocok kontolku. Aku sendiri hanya diam sambil mendesah dan mengerang-erang keenakan. Terasa oleh kontolku yang terbenam di memek Metha sebuah sensasi sesak yang begitu nikmat.
"Aaaaaaooooouuuuu ssssshhhhh... aaaaaaaahhhhhh ssssssshhhh... oooooouuuuhhhh ssssshhhh... eeeehhhmmmm!" desah Metha menikmati tusukan di lubang memek dan duburnya.
Kuarahkan tanganku meremas-remas susu besar Metha yang menggantung indah. Terasa begitu kenyal dengan puting besar yang sudah sangat mengeras. Aku mainkan jari-jemariku memilin-milin puting susu itu sehingga tubuh Metha kembali ambruk menindih tubuhku sambil mencium dan menjilati wajahku. Nafasnya terasa hangat menyentuh kulit wajahku, dengan desah yang semakin seksi dan sarat akan suasana birahi.
"Oooooouuuuuuhhhhh sssshhhhhhh... aaaaaaaaahhhhh ssssshhhhhhh... a-akuuh keluaaaarr!" lenguh Metha dengan badan mengejang. Terasa memeknya berkedut-kedut kencang dan mencengkeram kuat sekali.
Dendi berhenti sejenak, ia berikan kesempatan kepada Metha untuk menikmati orgasmenya.
Setelah gelombang orgasme itu mereda, barulah Dendi bergerak kembali. Kuikuti gerakannya dengan menaik-turunkan kontolku di dalam lubang memek Metha.
Lebih dari lima menit kami melakukannya hingga akhirnya akh mempercepat gerakan. Kurasakan sesuatu mulai bergerak di sepanjang batang kontolku. Aku benar-benar tak tahan.
"Ooooooouuuuhhhhh sssssshhhhh..." erangku dengan tubuh licin berkeringat.
"Aaaaaaaahhhhh sssssshhhhh... oooooouuuhhhhh sssssshhhh..." balas Metha yang mendapat kocokan cepat di lubang duburnya.
Sampai akhirnya aku menggeram saat orgasmeku meledak. Cairan spermaku menyembur deras di dalam lorong memek Metha yang sempit. Di atas, Dendi melanjutkan menaik-turunkan kontolnya di dalam lubang dubur gadis itu.  Mata Metha terpejam, mulutnya sedikit menganga mengeluarkan desahan yang membakar birahi. Tampak gerakan pinggulnya mulai mengendur.
"Telentang sini, Say." Dendi meminta.
Tanpa banyak bicara, Metha melepas batang kontolku dari jepitan lubang memeknya, kemudian ia telentang di atas kasur. Dendi menarik tubuh gadis itu ke tepian, diangkatnys kedua kaki Metha ke atas. Tangan Metha kemudian menggenggam kontol Dendi yang licin penuh cairan untuk diarahkan ke dalam lubang memeknya. Sambil memegang kaki gadis itu, Dendi mulai menekan.
Terlihat memek Metha yang tembem semakin memerah. Tak hanya memeknya yang semakin memerah; susu, dada atas, leher, dan wajah gadis itu pun juga memerah.
Dendi mulai memaju-mundurkan kontolnya di dalam lubang memek Metha dengan cepat. Tubuh Metha sampai ikut terhentak-hentak akibat gerakan itu, sementara mulutnya terus menganga mengeluarkan desahan dan erangan penuh kenikmatan. Aku yang melihat hanya bisa membantu dengan meremasi kedua tonjolan buah dadanya secara bergantian.
"Ssssssshhhhh aaaaaaahhhh... ooooooouuuhhhh eeeeehmmmmm... ooouuuuuuhhhh sssshhhh... aaaaaahhhh!" desah Metha dengan mata terpejam.
Dendi terus mengocok dengan sangat cepat, sepertinya dia begitu berpengalaman. Beda denganku yang tak sampai lima menit sudah tak tahan. Tapi aku sekarang pengin lagi. Melihat Metha yang merintih-rintih dikerjai oleh Dendi membuat batang kontolku mengeras kembali.
Kembali Metha mendapatkan orgasmenya. Tangannya mencengkeram kuat badan Dendi yang sedang menindih tubuhnya.
"Oooooouuuuuuhhhh sssssshhhhhh... oooouuuuuuuuhhhhh ssssssshhhhh... oooooouuuuuhhhhhh!" lenguh Metha sambil tubuhnya mengejang-ngejang. Kedutan dan cengkeraman memeknya menguat.
Dendi terpaksa menghentikan gerakannya sejenak untuk menikmati sensasi nikmat pada kontolnya akibat orgasme gadis itu. Nafas Metha masih terengah-engah.
Sesudah Metha sudah menguasai dirinya kembali, Dendi menyuruhku agar bersiap. "Lanjutkan, bro!" dia berkata, mencabut kontolnya dari jepitan memek gadis itu.
"Lho, kamu kan belum?" aku bertanya, meski dalam hati tersenyum senang.
"Nggak apa-apa, bisa kusambung nanti." sahut Dendi. "Metha sengaja kusediakan untukmu, jadi kamu yang berhak menikmati."
"Makasih ya, bro." aku mengangguk senang.
"Ya sudah, buruan sana!"
Metha membalikkan tubuhnya, ia kini tengkurap menungging di kasur, siap untuk kutusuk dari belakang. Dengan posisi berdiri, aku mulai memasukkan kontolku perlahan, agak sulit karena posisinya terlalu rendah. Metha segera menaikkan sedikit pinggulnya ke atas sehingga antara kontolku dengan lubang memeknya jadi sejajar.
Perlahan aku menusuk kembali. Walaupun sudah dimasuki dua kali, dan sudah menyemprot berkali-kali, aku masih merasa kesulitan memasukkan kontolku ke dalam lubang memek Metha yang peret.
Dengan agak kuat aku dorong kontolku perlahan-lahan. Metha mengerang sambil tangannya mencengkeram kuat sprei tempat tidur. 
"Aaaaaaaaauuuuuhhhhhh ssssssshhhhh... oooooooouuuuuuwwww ssssssshhhhh..." erangannya sungguh seksi terdengar di telingaku.
Setelah kontolku terbenam seluruhnya di dalam lubang memek Metha, aku mulai memaju-mundurkan pinggul. Kukocok memeknya secara perlahan. Metha terus mengerang dan mendesah sambil tangannya tetap mencengkeram kuat sprei kasur.
"Ooooouuuuuhhhh ssssshhhhh... ooooouuuuuuhhhhh sssssshhhhhh..." desah Metha semakin sering dan cukup keras.
Dendi hanya duduk di sofa sambil melihatku ngentot. Senyum mengembang di wajahnya ketika matanya beradu pandang denganku.
"Lanjutkan, bro! Nikmati sepuasmu!" Dia memberiku acungan jempol.
Memek Metha sudah terasa licin sehingga aku leluasa mempercepat gerakan memaju-mundurkan kontolku. Sambil terus bergerak, aku remas-remas payudara montoknya yang menggemaskan.
Semakin cepat aku menusuk, semakin aku merasakan kenikmatan pada kontolku. Sampai akhirnya aku tak kuat lagi menahan gelombang yang membuat syaraf menegang. Aku hentak-hentakan tubuhku menghantam pantat montok Metha sambil menyemprotkan spermaku ke dalam lubang kemaluannya.
"Aaggghhhhh ehhmmmmhh..." aku menggeram keenakan.
Belum usai spermaku terkuras habis, tubuh Metha ikut mengejang. Pantatnya ia tekan-tekankan sambil kepalanya mendongak ke atas, sehingga kontolku kembali terbenam lebih dalam di dalam lorong memeknya.
"Oooooouuuuuuhhhh ssssssshhhhhh... aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh!" lenguh Metha saat mendapatkan orgasmenya lagi.
Dengan nafas ngos-ngosan, aku tahan tubuhku supaya tidak ambruk menindih tubuhnya. Setelah gelombang orgasme kami sama-sama usai, perlahan kucabut kontolku dari liang memek Metha.
Keringat membasahi sekujur tubuhku. Aku duduk di tepi ranjang. Melihat permainan telah usai, Dendi bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Metha duduk di sampingku sambil bertanya mengenai kegiatanku sehari-hari, dimana aku tinggal, sampai bertanya tentang kesan ngentot dengan dirinya. 
Kujawab semua pertanyaannya untuk lebih mengakrabkan diri.
"Nggak bosan kan tidur sama aku?" Metha bertanya.
"Mana bisa bosan. Malah, aku ketagihan." jawabku dengan malu-malu.
"Mau tambah lagi? Mumpung suamiku masih di kamar mandi." tawarnya, yang langsung membuatku kaget.
"S-suamimu?" tanyaku bingung. "Bukankah..." aku tercekat.
"Lho, memangnya mas Dendi nggak cerita ya?"
Sebelum aku sempat menjawab, terdengar sahutan dari kamar mandi. "O iya, bro. Maaf baru ngomong. Kenalkan, dia istriku!" kata Dendi santai.
Dan aku hanya bisa melongo.

1 komentar:

  1. Anjriiit. Ngakak pas adegan terakhir.
    Keep posting gan. Mantaps ceritanya !

    BalasHapus