Selasa, 22 Agustus 2017

Misteri Ratu Mantera 3



“Tadi waktu kutelepon kakakku, dia malah berpesan agar aku menjaga Quida dan menemaninya selama kakakku belum pulang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada diri Quida, aku bisa kena marah habis-habisan, Za.” Febbi terlihat bimbang.
“Aku yang akan jamin keselamatanmu. Nggak bakalan kakakmu marah. Aku punya cara sendiri, konsepnya udah ada di otakku. Udahlah, kamu tenang aja. Nggak usah ikut campur kalau aku bicara sama Quida nanti.”
Saat itu Quida sedang berada di ruang tengah. Ia duduk di kursi baca. Di pangkuannya terdapat sebuah majalah. Tapi pesawat teve di depannya pun menyala. Tampaknya Quida siang itu sedang menikmati acara teve sambil sesekali membaca majalah wanita milik Febbi. Pada saat melihat kemunculan Salza, senyum lembut penuh kedamaian mekar di bibir ranum Quida. Salza sengaja berdiri di bawah tangga memandangi Quida dengan mata sinis. Ia mulai membuka celah untuk bikin persoalan dengan Quida.

“Temannya kak Fran, ya?” ketus Salza.
“Ya,” jawab Quida, menatapnya dengan tenang.
“Ceweknya? Apa teman biasa?”
“Teman biasa.” Quida masih tetap kalem.
“Kalau teman biasa, kok pakai nginap di sini? Kamu nggak punya rumah, apa?”
“Memangnya kenapa?” suara Quida masih lembut juga.
“Kayak cewek murahan aja, pakai nginap di rumah cowok segala. Malu-maluin, tau! Atau... kamu memang udah nggak punya malu. Urat malunya udah putus, ya?”
“Fran yang menghendaki.”
“Kamu ngerayu kak Fran sih. Kamu orang mana sih?”
“Memangnya kenapa?”
“Ditanya kok malah ganti nanya?! Bego apa kamu!”
Quida tertawa kecil, seolah-olah sikap ketus Salza menimbulkan kegelian belaka baginya. Salza jadi semakin sewot.
“Sinting kamu ya? eh, itu kan kaosnya Febbi... kenapa kamu pakai?”
“Fran yang menyuruh,”
“Kak Fran nggak tau kalau kamu punya penyakit kulit. Bisa nular ke Febbi kalau kaos itu dipakai sama Febbi lagi. memangnya kamu nggak punya pakaian apa?”
“Nggak punya,”
“Kasihan amat kamu, cantik-cantik nggak punya pakaian. Mendingan kamu telanjang aja deh.”
“Nggak boleh sama Fran.”
“Kalau nggak, kamu pulang aja deh. Ngapain lama-lama di sini? Ngerepotin keluarga kak Fran aja. Cepat pulang sana!”
“Kamu mau pulang juga?”
“Eh, aku kan teman dekatnya Febbi. Aku sudah sering nginap di sini. Lagian aku punya rumah sendiri, punya pakaian sendiri. Nggak kayak kamu, apa-apa numpang! Huhmm...”
“Za...!” panggil Febbi dari lantai atas. Tampak cemas sekali wajah Febbi mendengar suara ketus temannya di depan Quida. Ia khawatir akan kena marah kakaknya jika sampai terjadi keributan antara Salza dengan Quida.
“Usir aja orang macam dia, Feb! Ngapain takut sih?!” kata Salza sambil mulai melangkah menaiki tangga.
“Udahlah, Za... jangan kayak gitu ah, ntar kak Fran marahnya sama aku. Gimana sih kamu!”
“Bilang sama kak Fran, aku yang ngusir dia kalau kamu memang takut.”
“Udah, udah!”
“Hmmh...” Salza semakin sinis melemparkan pandangan kepada Quida. Sementara Quida hanya menatap dengan tenang. Senyum tipis tetap tersungging di bibirnya yang tipis, namun penuh misteri. 
“Salza! Naiklah, cepat!” panggil Febbi semakin cemas.
Salza sengaja berhenti di anak tangga yang ketiga. Mungkin kurang puas mencurahkan kecemburuannya, sehingga dengan lantang ia menuding Quida dan berserapah kembali.
“Hei, perempuan lacur! Cepat tinggalkan rumah ini! Jangan sampai saat aku turun nanti, tampangmu masih ada di situ. Ngerti?!”
“Udah, Salza! Udaah...!” Febbi berlari turun menghampiri.
Quida nampak diam, lalu berdiri. Entah apa yang diucapkannya saat itu, tak jelas suaranya. Hanya kelihatan bergerak-gerak bibirnya dengan tatapan mata tajam tanpa keramahan lagi.
“Dasar cewek kampungan!” geram Salza lalu melangkah kembali sebelum Febbi mendekatinya. “Hahh...?!” tiba-tiba saja Salza terkejut. Matanya dikedip-kedipkan beberapa kali. Ia tampak kebingungan dan tegang.
  “Di... dimana aku ini?!” ujarnya dengan suara gemetar. Ekspresi wajahnya tampak ketakutan.
Ia menyadari dirinya berada di tempat yang berbeda. Bukan tangga menuju kamar Febbi yang dipijaknya saat itu, melainkan ia sedang mendaki sebuah bukit. Tepatnya hutan bukit yang menyeramkan, dengan pepohonan serba besar, hitam dan kotor. Ia berhadapan dengan akar-akar pohon yang berserakan, malang melintang, dan berbau tanah lembab serta kebusukan yang menjijikkan.
“Febbiii...!” seru Salza dengan jantung tersentak-sentak kuat sekali.
Ketika ia akan berbalik arah, tiba-tiba seekor ular besar terjulur dari atas pohon. Kepala ular itu sebesar kepala kambing, mulutnya menganga dan langsung menyambar tangan Salza.
Wuuus. Crees...!
“Aaaaow!” Salza kontan menjerit kesakitan sambil menarik tangan kanannya dengan cepat. Ia berhasil lolos dari gigitan ular besar itu, tapi daging dan kulit lengannya koyak serta berdarah.
Dengan sangat ketakutan ia berlari menuruni bukit bertanah licin. Menurut pandangannya ular besar tadi masih memburunya dengan ekor tetap melilit di dahan, hanya bagian kepala yang mengayun cepat seakan ingin menerkam punggungnya.
“Toloooong!” Salza melompat, sampai akhirnya ia jatuh berguling-guling menuruni tanah licin itu. Ia jatuh terpuruk dengan mata kaki seperti terkilir. Namun ketika ia hendak bangkit kembali, tiba-tiba ia sadar dirinya sudah berada di antara kengerian yang sangat menakutkan. Ia berada di sarang ular!
“Aaaaa...!!” jeritan histeris Salza menggema ke mana-mana.
Ia berusaha keluar dari sarang ular, tetapi dua ekor ular sebesar lengan bayi segera menyambar betisnya. Menggigit tajam! Sementara itu puluhan ekor lainnya segera melilit tangan, kaki dan lehernya, seekor ular bahkan dengan lancang masuk ke dalam lubang kemaluannya dan bergerak-gerak di sana hingga ia sulit untuk bernapas dan tak bisa berteriak lagi.
“Salzaaa!” seru Febbi dengan tegang dan panik, ia melihat Salza kelojotan di bawah tangga. Gerakan yang timbul adalah gerakan meronta seseorang yang sedang sekarat. Tentu saja Febbi sangat kebingungan menghadapi rekannya itu.
“Tolooong! Tolooong!” Febbi berteriak-teriak dalam kepanikannya. Dilihatnya Quida sudah tidak ada di depan teve, tampak sekelebat bayangannya masuk ke kamar tidur. Sepertinya Quida tak menghiraukan keadaan Salza saat itu, sehingga Febbi merasa sia-sia meminta tolong kepadanya.
“Ya Tuhan... kenapa dia, Non?” Beruntung muncul seseorang.
“Mak Jum! Tolong Salza, Maak! Dia... dia... ohh, aku nggak tahu dia kenapa. Tapi cepat tolong dia, Mak!” hiba Febbi.
“Masya Allah... wajahnya biru sekali, Non. Bahaya ini. Kita bawa ke rumah sakit aja, Non!”
“Panggil taksi, Mak.” teriak Febbi. “Lekas, panggil taksi!”
“I-i-iya, Non.” Mak Jum ikut gugup juga.
Beruntung sekali begitu mak Jum keluar rumah, sebuah taksi kosong sedang melintas sehabis mengantarkan penumpang. Kendaraan itu segera dihentikan. Dengan bantuan si sopir taksi, Febbi mengangkat tubuh Salza yang masih kejang-kejang dan berwajah semakin biru itu. Dalam keadaan sangat mengkhawatirkan Salza pun dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Fran sangat kaget menerima telepon dari adiknya. Ia segera meninggalkan kantor, meluncur sendirian ke rumah sakit tempat di mana Salza dirawat. Pikirnya, kalau sampai Salza meninggal atau cedera berat, ia akan terlibat urusan yang memuakkan dengan pihak keluarga gadis itu. Ia dapat dituntut oleh keluarga Salza karena anak mereka mengalami kecelakaan akibat jatuh dari tangga di rumahnya. Itulah sebabnya Fran menjadi tegang sekali begitu mendengar penjelasan dari Febbi.
Namun ketika tiba di rumah sakit, hatinya merasa sedikit lega setelah mengetahui bahwa dokter berhasil menyelamatkan nyawa gadis itu. Salza sudah sadar dari keadaan kritisnya.
“Dokter sudah berhasil mengeluarkan racun dari tubuhnya, Kak.” terang Febbi.
“Racun?”
Febbi menghabiskan sisa tangis di depan kakaknya. “Menurut dokter, ada racun ular yang nyaris merenggut nyawa Salza. Bahkan luka di tangan kanannya itu adalah bekas gigitan ular yang sangat besar. Bisa ular masih tersisa di luka tersebut, tapi sekarang sudah berhasil dikeluarkan oleh tim dokter yang menanganinya, Kak.”
“Aneh,” gumam Fran. “Bukankah tadi kau bilang dia jatuh tergelincir dari tangga rumah kita?” Fran mengerutkan dahi.
“Mana kutahu, tapi kenyataannya begitu kok. Tanyakan saja pada mak Jum kalau nggak percaya.”
Fran penasaran sekali, ia segera menemui dokter yang merawat Salza saat itu. menurut keterangan dokter, bukan hanya luka gigitan ular berbisa di kaki Salza yang ia temukan, tapi juga memar di kulit leher Salza yang dicurigai sebagai memar akibat lilitan sesuatu yang sangat kuat. Besar kemungkinan leher Salza nyaris tercekik lantaran dililit badan ular. Tulang lehernya mengalami keretakan yang nyaris fatal.
“Ular?” gumam Fran terbengong-bengong di depan dokter yang memberikan keterangan kepadanya.
Sungguh tak habis pikir bagi Fran bahwa luka yang diderita Salza bukan saja luka akibat jatuh, tapi ada kaitannya pula dengan binatang melata. Ini jelas sangat tidak masuk akal baginya. Tapi menyangkal diagnosa itu pun tak mungkin dapat ia lakukan. bukti darah Salza yang bercampur dengan racun ular ada di tangan dokter. Bekas luka gigitan juga ada di lengan kanan Salza.
Ibu Salza datang tak lama kemudian bersama Rosa, kakak perempuan Salza yang paling sulung. Tentu saja mereka berdua menjadi sangat sedih dan cemas sekali melihat keadaan Salza. Fran kebingungan ketika dikecam oleh ibu Salza soal keteledorannya. Fran dituduh telah ceroboh memelihara ular di dalam rumah. Sementara itu, Fran mencoba mati-matian meyakinkan mereka berdua bahwa ia tidak beternak ular. Bahkan ia sendiri jijik terhadap binatang melata itu.
“Kalau sampai terjadi sesuatu yang lebih parah lagi pada diri adik saya, akan saya tuntut kamu!” kata Rosa emosi.
Fran ingin membalas dengan emosi serupa, tapi segera ia sadari hal itu hanya akan memperuncing keadaan saja. Maka, ia hadapi dengan penuh kesabaran segala tuduhan dan kecaman yang diarahkan kepadanya.
“Dokter bilang, jiwa Salza bisa diselamatkan. Dan saya sudah bilang pula pada dokter, bahwa seluruh biaya perawatan ini atas tanggungan saya pribadi. Tapi, semoga saja anda berdua dapat mempercayai penjelasan saya, bahwa saya tidak memelihara seekor ular pun. Anda berdua bisa cek sendiri nanti ke rumah.”
Repotnya lagi, mereka sempat mendengar pengakuan Salza yang diucapkan dengan suara lemah. Bahwa saat itu Salza merasa berhadapan dengan seekor ular yang segera menyambar tangan kanannya.
“Akulah yang memegang tangan kananmu, Za!” potong Febbi. “Aku bermaksud membawamu segera naik ke kamarku.”
“Bukan. Bukan kamu. Tapi... ular besar. Hitam warnanya. Mengerikan sekali, Feb!” keluh Salza dengan rona wajah penuh rasa takut.
Fran segera menarik adiknya, dibawanya gadis itu ke tempat sepi di pojokan lorong rumah sakit. Di sana dia mendesak Febbi dengan tatapan mata yang penuh permohonan. “Apa yang terjadi sebenarnya? Katakan!”
“Tanyakan pada mak Jumi. Dia juga melihat Salza terkapar di bawah tangga tanpa ada ular seekor pun. Sumpah, Kak!”
“Bagaimana mula pertamanya sampai ia bisa jatuh dari tangga?”
“D-dia cekcok dengan... dengan Quida, Kak.”
“Cekcok?” Dahi Fran makin berkerut tajam. “Bagaimana bisa dia sampai cekcok dengan Quida? Apa yang sebenarnya dia lakukan?”
Akhirnya Febbi menceritakan perasaan hati Salza terhadap kehadiran Quida di rumah mereka. Fran baru sadar bahwa selama ini Salza mengincarnya. Pantaslah kalau Salza mempunyai kecemburuan atas munculnya Quida, wajar saja kalau sampai terjadi cekcok. Walau menurut Febbi saat peristiwa itu terjadi, Quida sama sekali tak menunjukkan perlawanan.
“Salza mengecam Quida habis-habisan, tapi Quida tak membalas. Hanya menjawab sekedarnya setiap pertanyaan Salza.” Febbi berkata. “Lalu... lalu aku berusaha untuk melerainya. Ketika itu Salza mengusir Quida dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Namun kulihat Quida diam saja, dan dia juga tak peduli ketika Salza jatuh terguling-guling dari tangga. Quida masuk ke kamarnya, Kak, membiarkan aku dan mak Jumi mengatasi masalah ini.”
Dalam keadaan tertegun, Fran berkata seperti menggumam, “Apakah ada kaitannya dengan kemisteriusan Quida?”
Febbi masih sempat berkata pula. “Sepertinya memang ada keanehan yang nggak bisa kita pahami tentang dia, Kak. Lama-lama aku takut sama Quida,”
“Maksudmu, aku harus mengusir Quida dari rumah kita?”
Febbi menggelengkan kepala. “Aku nggak berani punya pikiran seperti itu. semua terserah sama kak Fran. Yang jelas, ada keanehan yang menakutkan pada dirinya. Pertama, kudengar dia bersuara aneh di malam hari. Kedua, keterangan Salza tadi sangat berbeda dengan kenyataan yang kulihat. Salza jelas-jelas jatuh dari tangga, tapi mengapa dia mengaku seperti terbuang ke hutan yang menyeramkan dan terperosok ke tumpukan ular-ular berbisa?”
Fran menarik napas dalam-dalam, merenungi kata-kata adiknya.
“Kak, setelah ini ada apa lagi di rumah kita? Aku nggak berani tinggal sendirian selama belum ada yang mampu meyakinkan, bahwa tidak akan terjadi apa-apa lagi setelah ini. Aku takut sekali. Takut sekali, kak!”
Fran memeluk adiknya, memberi ketenangan dengan usapan kecil di punggung. Menurutnya, ia harus segera meminta keterangan pada Quida. Ia harus ungkapkan kekhawatiran Febbi di depan Quida, agar suasana menjadi normal seperti sedia kala.
Langit terlihat gelap, kelihatannya akan turun hujan. Fran berharap bisa tiba di rumah sebelum hujan turun. Dia segera menyalakan mobilnya dan meluncur pulang. Mendung semakin tebal, bahkan hujan mulai turun rintik-rintik. Belum sampai setengah perjalanan, Fran baru sadar kalau ban belakang mobilnya ternyata kempes.
“Sialan!” pemuda itu mengumpat. Dan kesialannya semakin bertambah saat detik berikutnya hujan turun dengan begitu deras. Fran yang tidak sempat mencari tempat berteduh jadi basah kuyup karenanya.
"Ada apa, Fran?" tanya seseorang keheranan melihat Fran yang basah kuyup hujan-hujanan.
“Eh, Agnes!” Fran mengenali perempuan itu. Dia adalah Agnes, temannya satu kantor yang kini sudah resign sehabis menikah. “Ini, ban mobilku bocor.” Fran menjelaskan, mereka dulu memang lumayan akrab.
“Ooh,” Agnes memperhatikan, lalu tersenyum. “Mampir ke rumahku aja sambil menunggu hujan reda. Nanti kamu bisa pulang pakai mobilku.”
“Rumahmu di dekat sini?” tanya Fran tak menyangka. Di langit, kilat mulai menyambar sambung menyambung.
Agnes mengangguk. “Tuh, di depan.” Dia segera membagi payungnya dengan Fran.
"Boleh deh, kalau memang nggak ngerepotin.” Bersisian mereka melangkah pergi. “Kamu dari mana?” tanya Fran membuka obrolan.
“Habis belanja,” Agnes menunjukkan dua kantok kresek di tangannya.
“Sini, biar aku yang bawa.” Fran menawarkan saat melihat Agnes kesulitan membuka pintu pagar.
“Eh, iya. Ayo masuk.”
“Emm, makasih.”
Sambil berjalan, mata Fran tak berkedip memperhatikan tubuh montok Agnes yang melenggak-lenggok di depannya. Terutama bokong bulatnya yang padat dan sintal. Memperhatikannya membuat kemaluan Fran perlahan menggeliat.
"Masuklah, kubuatkan minuman hangat." Agnes berkata.
"Tidak usah. Nanti rumahmu malah basah semua." Fran menolak. “Aku di sini saja.” Fran memutuskan untuk duduk di teras depan.
"Ya udah, kalau gitu tunggu di sini." Agnes masuk ke dalam, meninggalkan Fran kedinginan sendirian. Tak lama, dia kembali sambil membawa setumpuk pakaian kering.
"Ah, kamu malah repot-repot." jawab Fran lalu bersin.
"Tuh kan, kelihatannya kamu mau flu tuh."
"Hanya sedikit bersin kok,"
Udah, ganti bajumu pakai ini!" Agnes mengulurkan baju kering yang sudah dipegangnya sejak tadi. "Baju basahnya taruh dalam keranjang ini." tambahnya.
Fran melepas baju dan memasukkannya ke dalam keranjang. Dia juga tak malu-malu membuka celananya di depan Agnes, tetapi dengan terlebih dahulu membungkus dirinya memakai handuk yang diberikan oleh wanita cantik itu. Setelah mengeluarkan dompetnya, Fran memasukkan celana itu ke keranjang, bercampur dengan kaosnya. Terakhir, dia melepas celana dalam dan menumpuknya juga ke dalam keranjang.
"Ayo masuk, pulang nanti saja kalau hujan sudah berhenti." sambung Agnes sambil membawa keranjang itu ke dalam. Mau tak mau Fran jadi mengikutinya.
"Duduklah di situ,” Agnes menyuruh Fran duduk di ruang tamu. ”Minumlah. Kubuatkan kopi untuk menghangatkan badan.”
Tak lama, Agnes kembali sambil membawa dua gelas kopi. Fran mengambil Nescafe itu dan menghirupnya. ”Kamu tinggal sendirian disini? Mana suamimu?” dia bertanya, memulai pembicaraan.
"Suamiku lagi dinas ke luar kota, biasanya pulang seminggu sekali."
"Oh begitu,"
”Aku ke belakang sebentar, kukeringkan baju ini dulu." Agnes berlalu ke dapur.
Hujan di luar masih turun dengan lebat dan diikuti dengan bunyi guruh yang memekakkan telinga. Fran mengedarkan pandangannya, memperhatikan perabotan dalam ruangan itu. Hmm, cukup mewah juga. Dia melihat-lihat kalau ada buku yang bisa dibaca dan ternyata ada. Fran mengambil sebuah novel dan mulai membacanya. Baru dua lembar, dia merasa ingin buang air kecil, maklum udara dingin.
Fran menunggu Agnes, apa saja yang dilakukan wanita cantik itu di belakang sampai lama tidak balik-balik? Dia sungkan kalau harus pergi mencari kamar mandi sendirian, ini kan bukan rumahnya. Tapi sampai sepuluh menit, Agnes masih belum kembali. Fran yang sudah tidak tahan, terpaksa meletakkan bukunya dan beranjak ke belakang.
Saat itulah, sekilas, dia melihat Agnes yang berjalan masuk ke sebuah kamar. Yang membuat Fran melongo adalah... wanita itu hanya menggunakan handuk saja untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sepertinya dia baru keluar dari kamar mandi. Meski cuma sekilas, tapi itu sudah cukup untuk membuat Fran kesulitan menelan ludah. Berjingkat, dia meneruskan langkahnya. Tepat di depan kamar, dia berhenti. Fran mendapati pintu kamar itu tidak tertutup rapat.
Dia memberanikan diri untuk mengintip. Dan oh ampun... serasa lepas jantung Fran saat melihat Agnes berdiri telanjang di dalam sana. Tanpa bisa dicegah, kemaluannya pun menegak. Fran hanya dapat melihat bagian belakang saja, dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya terlihat jelas. Saat itu Agnes sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang tadi dipakainya. Terpesona dengan pemandangan itu, Fran terpatung di depan pintu.
Agnes yang tidak tahu kalau sedang diintip, dengan santai menggosokkan handuk ke celah selangkangannya, dia seperti ingin mengeringkan vaginanya. Kemudian handuk itu dilemparkan begitu saja ke atas ranjang. Lalu tanpa curiga, wanita itu membalikkan badannya ke arah pintu dan berjongkok untuk membuka laci lemari.
Wow!  terlihatlah sekujur badannya yang telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh sintal itu. Buah dadanya yang menonjol terlihat segar kemerah-merahan. Begitu juga dengan kemaluannya yang sempit dan lembab, bulu-bulu halus yang tercukur rapi menghias di sekelilingnya. Fran menontonnya dengan mata melotot tak berkedip.
Saat itulah, Agnes menoleh ke arah pintu dan menjerit, "Hei..!" Dia segera berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang dengan kain yang sempat diambilnya dari dalam lemari. ”Fran!” tegurnya dengan nada tinggi.
Fran yang kepergok, berusaha menolehkan muka, tapi tidak bisa. Tubuh mulus Agnes terlalu indah menggoda. Masih terus menatap, Fran terdiam, menanti umpatan kemarahan yang akan keluar dari mulut tipis wanita cantik itu.
"Apa yang kau lakukan di situ?!” Agnes menghardik sambil berusaha melilitkan selendang batik pada tubuh sintalnya.
”A-aku...” Fran tidak bisa menjawab.
”Sejak kapan kamu berada di situ?” Selendang itu ternyata begitu kecil hingga cuma bisa menutupi setengah dari bulatan payudaranya dan sebagian kecil dari paha mulusnya.
Fran menelan ludah saat melihatnya, "A-aku minta maaf."
"Aku tanya...” Agnes melotot. ”Sudah lama kamu lihat aku?!”
"Ehm, c-cukup lama juga."
"Kamu melihat apa yang aku perbuat?"
Fran mengangguk lemah, "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tadi ingin ke kamar mandi dan melihat pintu kamarmu terbuka, jadi...”
"Sudahlah, tidak usah sampai takut begitu.” nada suara Agnes tiba-tiba berubah menjadi lembut.
"Aku tak sengaja, bukannya mau mengintip, tapi pintu kamarmu yang tidak tertutup rapat..."
"Memang salahku juga kenapa tidak menutup pintu tadi. Tapi, kenapa kamu pakai mengintip segala," sergah Agnes kalem, kelihatan tidak marah.
”Aku tidak bermaksud begitu,” Fran memandangi wanita cantik itu, terpancar sedikit gairah di wajahnya.
"Wajahmu pucat. Kamu takut?" tanya Agnes.
Fran mengangguk. "Aku takut kamu marah,”
Agnes tersenyum, "Sudahlah, aku tidak marah kok. Aku juga salah, bukan hanya kamu. Sebenarnya siapa pun yang punya kesempatan seperti ini pasti akan melakukan apa yang kamu lakukan tadi." jelasnya.
Fran menganggukkan kepala sambil tersenyum. Dia lega Agnes bisa menerima argumennya.
"Boleh aku tanya sesuatu?” bisik wanita cantik itu.
”Silahkan,”
”Menurutmu, tubuhku bagaimana? Apa masih bagus?” Agnes bertanya vulgar.
Fran melotot, tak menyangka akan diberi pertanyaan seperti itu. Membayangkan tubuh montok Agnes yang tadi telanjang bulat di depannya, perlahan-lahan membuat kemaluannya kembali menegang. Fran cepat-cepat berusaha menutupinya dengan menggunakan tangan.
"Wah, kamu ereksi ya?” Agnes terkikik, rupanya dia sempat melihat kemaluan itu. ”Pasti tubuhku begitu menarik ya sampai bikin kamu ngaceng?” tambahnya.
Fran tertunduk karena malu. Perlahan dia mengangguk. ”Hmm, tubuhmu..." Dia berbisik, "... s-sungguh luar biasa! Tubuh terindah yang pernah kulihat!"
"Ah, gombal!” Agnes tertawa.
"Benar, aku tidak bohong!" Fran membuka tangannya, memperlihatkan penisnya yang sedang menegak di balik handuk. ”Lihat saja ini, punyaku tidak mau turun lagi!”
Agnes bengong melihat tindakan Fran yang berani. Tidak bersuara, matanya menatap tajam tonjolan di selangkangan Fran yang terlihat semakin membesar dan menegak.
"Nes?" Fran memanggil. Suaranya sudah mulai parau.
Agnes terdiam, menantikan kata-kata pemuda itu selanjutnya. Sementara matanya, terus menatap ke bawah, ke arah kemaluan Fran yang terus mencuat tinggi.
"Kamu tahu... kamu lah wanita paling cantik yang pernah kutemui." bisik Fran.
"Mana mungkin,” balas Agnes malu-malu. ”Apa buktinya?"
"Lihat saja,” Fran mulai menjelaskan. ”Tubuhmu bagus dan molek. Kulitmu putih, dengan pinggang ramping dan payudara yang montok. Ditambah..."
"Ah, sudah, sudah." Agnes memotong cepat. Terlihat wajahnya menjadi merah karena malu, ”Ngomong mulu! Apa kamu tidak penasaran gimana rasanya?!”
“Hah?!” Fran kaget. “Apa maksudmu?”
“Daripada cuma diomongin, kenapa nggak dicoba saja sekalian?!” tantang Agnes.
“Jadi maksudmu…”
“Ayo cepatlah, sebelum aku berubah pikiran!” sahut Agnes.
Di luar, hujan turun semakin lebat. Tiba-tiba kilat menyambar disertai bunyi petir yang memekakkan telinga. Agnes yang terkejut, secara spontan menghambur ke dalam pelukan Fran. Fran yang sudah siap, segera menyambut tubuh montok itu dan merangkulnya dengan erat. Pelan, dia mengelus kepala Agnes yang bersandar di dadanya. Fran membelainya dengan sayang.
Petir menyambar lagi. Kali ini lebih dekat seakan di belakang rumah. Agnes yang ketakutan makin mendekatkan tubuhnya. Fran memanfaatkan peluang itu dengan melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Agnes yang ramping, sementara tangan kanannya tetap membelai rambut dan kepala wanita cantik itu. Dia juga lebih merapatkan badannya hingga terasa buah dada Agnes yang empuk menekan kuat di dadanya yang bidang.
Agnes mendongakkan kepala, menatap seolah-olah meminta lebih. Fran segera mendekatkan wajahnya, perlahan bibirnya maju menuju bibir Agnes yang mungil dan separuh terbuka itu.
”Fran, ahhhh...” belum sempat Agnes menghabiskan kata-katanya, bibir Fran sudah menempel pada bibirnya dan melumat rakus. Pemuda itu menciumnya kuat-kuat. Berkali-kali. Tanpa putus atau berhenti.
"Mmmpphh.. mmpphh.." Fran terus mencucup dan menghisapnya sambil tangan kirinya menggosok-gosok seluruh bagian belakang tubuh Agnes yang ramping. Sementara tangan kanannya memegang kepala Agnes agar kecupannya tetap kuat dan tidak terputus.
Agnes, dengan nafsu yang mulai terpancing, memeluk erat leher Fran. Dia membalas ciuman pemuda itu dengan penuh nafsu. Menjulurkan lidah, Agnes membelit dan menghisap lidah Fran yang basah. Bergantian mereka saling mencucup dan bertukar air liur. Bunyi kecipak ciuman mereka sanggup menandingi suara air hujan yang masih terus turun membasahi bumi.
Cukup lama mereka berciuman, bertautan bibir dan bertukar lidah, sambil tubuh tetap berpelukan mesra, saat Agnes menarik kepalanya diikuti dengusan birahi, "Mmm... agghhhhhh...!"
Mereka saling menatap. Tangan Fran masih melingkar di tubuh Agnes yang seksi. Badan mereka masih menempel rapat. Keduanya terdiam, hanya deru nafas mereka yang kencang terdengar. Seiring detik berlalu, nafsu Fran menjadi kian meningkat, ditunjukkan oleh penisnya yang semakin menegang kencang. Sementara Agnes, tatapan matanya sudah berubah redup, seperti meminta Fran untuk menuntaskan kebasahan di vaginanya.
”Hmmpphhhh..” sekali lagi, Fran menambatkan bibirnya. Dan sekali lagi pula, Agnes menyambutnya dengan mesra. Mereka saling melumat dengan penuh nafsu dan nikmat. Sesekali ciuman Fran juga turun menyambar leher Agnes yang jenjang dan putih mulus, membuat Agnes jadi merintih dan menggeliat  kegelian.
"Ooohh.. F-Frannn.." suaranya manja mengalun lembut.
Sambil terus berciuman, tangan kanan Fran perlahan bergeser ke depan, ke arah buah dada Agnes yang bulat dan membusung. Dengan lembut dia memegang dan meremas-remasnya. Terasa buah dada itu begitu lembut, halus dan empuk. Agnes hanya dapat mendesis menahan rasa nikmat saat ciuman Fran perlahan juga bergerak turun ke arah pangkal dadanya yang putih dan mulus itu. Fran menjilat dan mencucupinya dengan kuat sambil terus meremas-remas.
”Aaaahhhhh... mmpphhh...” Agnes merintih keenakan merasakan ciuman dan remasan pada buah dadanya.
Dan rintihannya menjadi semakin keras saat Fran memencet putingnya yang masih tertutup selendang batik tipis. Dengan gemas wanita itu merangkul erat dan meremas-remas rambut Fran hingga acak-acakan.
Sambil terus mencium dan meremas, Fran melingkarkan tangannya ke belakang dan mulai mencari ikatan selendang yang membalut tubuh sintal Agnes. Dia mengurainya hingga terlepas dan perlahan-lahan menarik turun kain itu hingga terjatuh di lantai. Tak berkedip, Fran menatap payudara Agnes yang putih kemerahan, yang tadi hanya dapat dilihatnya dari jauh. Dengan tak sabar, dia segera memijit dan memain-mainkan putingnya yang sebelah kiri sambil mulutnya mencium dan menjilat yang sebelahnya lagi.
”Aagghhhhsss... ougghhhhhhsss...” suara desisan Agnes terdengar semakin manja, membuat Fran yang mendengarnya jadi semakin bergairah.
Habis kedua belah payudara wanita itu dicium dan dihisapnya. Putingnya yang menggemaskan, yang terlihat mungil kemerahan, dia jilat dan digigitnya mesra. Agnes membalas dengan merangkul tubuh Fran semakin erat.
Sambil mengulum puting payudara, Fran membuka kain handuknya dan melemparkannya begitu saja ke lantai, bertumpuk dengan selendang Agnes yang bermotif batik. Dia sudah telanjang, sama dengan Agnes. Hujan di luar sudah mulai reda, tapi permainan mereka baru saja akan dimulai.
Kehangatan tubuh montok Agnes dengan cepat membakar nafsu birahi Fran yang sudah menggelegak. Dia terus memeluk wanita itu erat-erat sambil mengecup bibirnya berkali-kali. Buah dada Agnes yang empuk terasa hangat bergesekan dengan dadanya. Membimbingnya pelan, Fran membaringkan tubuh wanita cantik itu di atas ranjang. Dia menatapnya tanpa berkedip.
Di depannya, Agnes memandang sayu kemaluan Fran yang sudah menegang dahsyat, yang membutuhkan sebuah lubang sebagai pelampiasannya. Berbaring mesra di sisinya, Fran kembali mengusap dan membelai buah dadanya yang membulat. Pemuda itu kembali mengulum putingnya sambil tangan kanannya turun ke bawah, ke arah selangkangan, lalu meraba untuk mencari puncak kenikmatan yang selama ini selalu ia sembunyikan.
”Ouugghhhhhh...” Agnes merintih saat Fran mulai mengusap-usap dan menggosok bibir kemaluannya. Rasanya begitu nikmat hingga punggung Agnes sampai terangkat-angkat keenakan.
Vagina itu sudah terasa begitu basah dan lengket. Benda itu sudah begitu berair meski belum diapa-apakan. Bulu-bulu tipis yang tercukur rapi di sekelilingnya tampak menggumpal karena cairan.
Fran menjilat kemaluan itu hingga tubuh Agnes terangkat ke atas menahan nikmat. Dia menyentuh lagi dan menggesekkan jari-jarinya, tubuh Agnes kembali melenting dengan erangan nikmat keluar dari bibir tipisnya. Fran terus memainkan klitoris itu, menggesek dan memilinnya hingga  tubuh Agnes terangkat-angkat dan menggelinjang bagaikan kejang. Jerit kenikmatan wanita cantik itu juga semakin keras terdengar. Fran merasakan ada cairan yang menyemprot dari dalam kemaluan Agnes dan membasahi jari-jarinya.
”Ough, ahhh.. ahhh..” Agnes terengah-engah menikmati orgasme yang baru saja melanda.
Fran tidak jadi meneruskan jilatannya karena vagina Agnes sudah terlihat begitu basah dan berair. Menjilat sudah tidak ada gunanya lagi. Terus menghimpitkan tubuh sambil tak henti-hentinya menciumi bibir, Fran menggesekkan ujung kemaluannya. Terasa ujung penis itu bertemu dengan bulu dan bibir vagina Agnes yang sudah basah oleh air mani.
Setelah memastikan lubangnya, Fran memegangi kejantanannya dan mulai mendorong. Untuk mempermudah, Agnes membuka dan meluaskan kangkangannya sedikit. Setelah berada di ujung muara, Fran pun melabuhkan tongkat saktinya ke dalam lautan birahi yang hangat dan sedap yang disediakan oleh vagina sempit Agnes. Desisan dan raungan mengiringi  goyangan tubuh mereka.
"Aaarrghh.. mmhhhhh.." Fran menekan penisnya sampai ke pangkal batang dan membiarkannya sejenak karena terasa seperti terjepit.
Dia mencium leher dan mulut Agnes berulang kali sambil tak lupa meremas-remas dada besar milik wanita cantik itu. Saat keadaan sudah agak tenang, baru dia mendayung. Fran menggoyang pinggulnya atas-bawah, pelan namun teratur. Kenikmatannya begitu sempurna, sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Dia terus mendorong dan menarik kemaluannya dengan diiringi suara kecipak tiap kali pahanya menabrak bokong bulat Agnes. Wanita itu sendiri memeluk erat pinggang Fran dan menggoyangkan pinggulnya berputar-putar untuk mengimbangi. Sesekali punggung Agnes juga bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti arus irama tusukan Fran pada vaginanya yang semakin lama terasa semakin cepat. 
”Aaahhhhhh... arrgghhhhhh...” Agnes mengerang.
”Ugghhhhhh... ouugghhhhh...” Fran menyahut menggeram merasakan dorongan nafsu yang sudah hampir membuatnya meledak.
Ujung penisnya sudah memanas bagai gunung berapi yang hendak memuntahkan lavanya. Dia menggoyang semakin cepat dan dengan sekuat tenaga dia menusukkan batangnya dalam-dalam. Diiringi jeritan Agnes yang memekakkan telinga, menyemburlah sperma Fran jauh ke dasar lubang senggama wanita cantik itu.
Merem melek keenakan, Fran memandangi Agnes yang terpejam kelelahan dengan dadanya yang besar naik turun dengan cepat. Ada tetesan peluh di atas benda bulat itu. Begitu juga dengan Fran, terasa peluh meleleh di sekujur tubuhnya. Di bawah, kejantanannya perlahan mengecil setelah memuntahkan isinya. Benda itu akhirnya terlepas dengan sendirinya, meninggalkan vagina Agnes yang terasa semakin lembab dan basah.
Fran mengecup dahi Agnes sebagai rasa terima kasih. Wanita itu membuka mata dan memberi senyum manis sebagai balasan. Kelelahan, Fran merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kepala dia letakkan di atas payudara Agnes yang menggunung. Terdengar bunyi degup jantung yang kencang di dada wanita cantik itu, wanita bersuami yang dulu pernah satu kantor dengannya
Setelah beberapa menit, Fran bangun dan membersihkan penisnya dengan menggunakan tisu yang ada di meja. Agnes hanya memandang sambil melemparkan senyuman mesra ke arahnya. Duduk bersila di atas ranjang, Fran membiarkan kemaluannya yang masih sedikit basah kering dengan sendirinya. Tangannya terulur untuk meremas dan memilin puting payudara wanita cantik itu. Agnes membiarkannya sambil tangannya membelai paha dan perut Fran. Mereka tampak seperti sepasang suami isteri.
"Terima kasih, ya." Fran berkata.
"Terima kasih apa?" tanya Agnes
"Kamu sudah mau memberikan tubuhmu untuk kucicipi."
"Oh itu. Tidak usah dipikirkan."
"Kenapa kamu tidak marah?"
"Marah kenapa?"
"Karena aku sudah mengintipmu. Dan setelah itu..."
"Setelah itu aku biarkan kamu menyetubuhiku." sambungnya
."Iya, kenapa?" sahut Fran, "Apa sebabnya?"
"Kalau aku lawan pun, kamu pasti memaksa. Kamu sangat menginginkannya kan?"
"Belum tentu juga." Fran menjawab diplomatis.
"Pasti begitu.” yakin Agnes. ”Aku mana bisa melawan. Jadi lebih baik aku biarkan dan berbagi saja denganmu. Kan dua-duanya senang." jelasnya menutup percakapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar