Minggu, 20 Agustus 2017

Perjanjian Iblis



Gemuruh suara di langit sudah sejak tadi mencemaskan setiap orang. Malam semakin pekat saja rasanya. Banyak yang menduga akan turun hujan, tetapi nyatanya sampai pukul 9 malam ini hujan belum juga turun. Gerimis pun tidak. Hanya saja, angin berhembus cukup kencang.
Banyak pedagang kaki lima di kawasan Blok M sejak tadi mulai berkemas. Ada yang sudah meringkus barang dagangannya, ada yang hanya siap sedia menghadapi hujan yang akan turun. Menurut mereka, malam itu akan turun hujan dengan deras.
Toko telah tutup. Para pelayannya berkemas pulang melalui pintu belakang. Citra kebingungan mencari payung yang biasanya ia taruh di belakang almari perbekalan. Suara Inggi terdengar keras berseru, "Cepat, Tra. Ntar keburu hujan."
"Justru gue lagi cari payung nih... Brengsek. Siapa yang ngembat payung gue sih?"

Karena terlalu lama, akhirnya Citra ditinggal oleh teman-temannya. Ia keluar dari toko ketika plaza itu sudah sepi. Payungnya sendiri dicari cari tetap tidak ketemu. Seperti biasanya, di depan pusat perbelanjaan itu ada beberapa preman, anak-anak brandal yang nongkrong sambil menggoda cewek-cewek yang lewat di depan mereka. Dari situlah awal peristiwa mengerikan itu menimpa diri Citra, la diikuti oleh tiga pemuda brandal dalam perjalanan menuju halte bis.
Tahu-tahu sebuah taksi berhenti di depan Citra. Pintunya terbuka sendiri, ternyata ada dua orang yang duduk di jok belakang. Tiga pemuda yang mengikuti Citra itu segera mendorong tubuh Citra untuk masuk ke dalam taksi. Mulut Citra Ingin berteriak, tetapi disekap oleh tangan kekar, sehingga hanya bisa bersuara: ah, uh, ah, uh, saja.
"Lepaskan aku..." Citra meronta di dalam taksi. Tetapi mereka menahan setiap gerakan Citra. Lima orang pemuda brandal plus sopir taksi, membawa Citra ke suatu tempat yang sepi.
Citra tak tahu ke mana arah taksi itu, karena ia sibuk berteriak dan meronta-ronta. Tahu-tahu ia sudah berada di depan sebuah bangunan kuno yang telah rusak. Tempat itu menimbulkan suasana seram sehingga tak ada orang yang mendekat ke sana.
"Lepaskan aku! Lepaskan, Setan!" teriak Citra masih mencoba melawan.
Salah seorang berkata, "Yon, tutup mulutnya biar nggak nga-blak terusl"
Yang dipanggil Yon segera menyekap mulut Citra dengan telapak tangannya.
Di dalam rumah kuno yang telah rusak dan tak beratap sebagian itu, Citra ditelentangkan dengan paksa. la tetap meronta, menendang tak beraturan. Sampai akhirnya, salah seorang lagi berseru dalam bisik, "Ancam dia, Wan!"
Yang bernama Wan mengeluarkan pisau otomatisnya. Ia menekan sesuatu pada gagang pisau dan, mata pisau pun melesat keluar.
Trakkk... Ujung pisau ditempelkan di leher Citra. Cowok yang dipanggil Wan itu menggeram memberi ancaman, "Kalo lu banyak tingkah, gua habisin nyawa lu sekarang juga. Jadi diamlah!"
Citra merasa ngeri. Selain panik juga tak berdaya lagi. Dua orang memegangi tangannya dan menekan pundaknya. Sopir taksi gadungan itu melucuti pakaian Citra. Seragam pelayan tokonya koyak dan berantakan. Citra merasa sia-sia sekalipun ia menguras tenaganya. Lima pemuda dan satu lelaki yang berlagak menjadi sopir taksi itu mempunyai tenaga yang tak mungkin bisa dikalahkan Citra.
"Siapa dulu nih? Gue duluan, ya?"
"Gue dulu, Sam." sahut cowok yang berambut panjang.
Yang dipanggli Sam mundur, kemudian salah seorang yang dipanggil Yon tadi berkata, "Buruan, Tom. Gue udah lama ngincar cewek ini."
Tom segera melampiaskan nafsu setannya. Citra tak berani meronta, karena jika ia bergerak, maka ujung pisau akan menembus lehernya. Dengan tangis yang amat menyedihkan, ratap yang memilukan, Citra terpaksa menerima nasib yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Tom berdiri dan mengocok penisnya sebentar, sebelum kemudian mulai menggesek-gesekkan kepalanya pada bibir vagina Citra. Ia menatap Citra dengan pandangan yang sangat bernafsu.
“Terima ini!” Dengan satu hentakan cepat, Tom  melesakkan penisnya. Ia tampak agak kesulitan dalam melakukannya karena Citra memang masih perawan. Selaput dara menghalanginya.
Namun dengan usaha yang tak kenal lelah, perlahan ia berhasil membelah liang vagina Citra. Sorakan dan ejekan teman-teman Tom sudah tak terdengar lagi, semua memperhatikan prosesi menyatunya tubuh mereka berdua. Walaupun penis Tom tidak terlalu besar, tetap saja Citra berteriak kesakitan. Darah mulai menetes dari celah kewanitaannya begitu penis Tom sudah masuk seluruhnya.
“Mmmhh... Auw!” Citra melenguh pelan, air mata tampak semakin deras menetes dari sudut matanya.
“Enak, kan?” tanya Tom dengan nada melecehkan.
Citra hanya bisa menggeleng lemah dan memejamkan mata. Tom mengangkat dagu gadis itu, kemudian mencium bibir tipis Citra. Sama sekali tidak ada kemesraan dalam ciuman itu. Citra tidak mau melayani, ia tidak ingin membalas ciumannya. Merasa ditolak, Tom pun segera beralih ke hal lain. Ia mulai menggerakkan tubuhnya perlahan hingga penisnya mulai menggesek-gesek di liang vagina Citra.
“Ehhm...” Ia melenguh karena merasa nikmat, sedangkan Citra semakin menggelinjang oleh rajam kesakitan. “Memekmu seret banget!” erang Tom keenakan.
Citra cuma bisa merintih dan terus menangis lemah saat penis Tom semakin cepat mengaduk-aduk liang vaginanya. Didengarnya Tom sendiri terus mengerang, dan erangan itu semakin lama menjadi semakin keras. Tampaknya ia akan mencapai klimaks sebentar lagi. Benar saja, beberapa saat kemudian, penisnya berkedut dalam vagina Citra dan ia pun mengerang keras.
“Oooh... gue keluarin di dalem yah?” Baru selesai berkata begitu, ia menyodokkan penisnya dalam-dalam dan sekali lagi ia mengerang panjang, mengiringi semburan spermanya ke dalam vagina sempit Citra.
Tom yang sudah mendapat jatahnya menikmati tubuh mulus Citra, segera menarik lepas penisnya dari vagina gadis cantik itu. Citra masih terus merintih kesakitan, padahal tadi Tom menggenjotnya tak lebih dari lima menit. Darah perawannya tampak berceceran membasahi paha dan lantai, semakin menambah nafsu lima pemuda bejat yang masih mengelilingi Citra untuk menunggu giliran.
Yon dan Wan meletakkan tubuh Citra di atas selembar tikar butut, dan mereka bersama tiga rekannya itu berunding, pastinya menentukan siapa yang beruntung mendapat giliran selanjutnya untuk menikmati tubuh cewek ini.
Selagi mereka berunding, Tom mendekatkan penisnya ke mulut Citra. Dengan sedikit ancaman, ia meminta pada gadis itu agar mengulumnya. Tanpa daya Citra pun melakukannya. Rasanya sungguh sangat menjijikkan ketika ia mulai memainkan lidah di batang penis itu, menyapu seluruh lingkar penisnya yang nampak basah oleh cairan vagina dan darah perawannya. Citra terus mengulumnya sampai penis itu benar benar mengecil kembali.
Tom segera bergerak sedikit menjauh dan kini ia hanya diam saja, memandangi Citra dengan tatapan aneh. Dia sama sekali tak menyinggung tentang keperawanan Citra yang telah berhasil ia renggut. Citra balas menatap dengan tajam, terlihat jelas begitu marah dan terluka.
Tiba tiba terdengar suara, “Sekarang giliran gue buat nyobain memek lu!”
Citra menoleh dan melihat pemuda yang paling gendut di antara mereka–kalau tidak salah namanya Darso–sudah berancang-ancang menerjangkan penisnya ke dalam vagina sempit Citra. Citra sempat memperhatikan penis itu sejenak, ternyata nyaris serupa ukurannya dengan milik Tom.
“Auw!” Citra memekik ketika lagi-lagi liang vaginanya harus menelan batang penis yang tak pernah ia inginkan.
Perlahan Darso menggenjot, dan semakin lama menjadi semakin cepat. Citra pasrah saja, karena memang sama sekali tidak ada yang bisa ia lakukan. Diperhatikannya wajah pemuda itu, memang tak bopeng, tapi tetap saja jelek. Untungnya Darso melakukan perbuatannya dengan terburu-buru, ia tak mencumbu Citra sama sekali. Keliatannya ia hanya sekedar ingin memuaskan dirinya saja. 


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar