Jumat, 25 Agustus 2017

Putri Ular Putih 14



Semua tetangga berebut membantu persiapan pesta. Padahal saat itu Xu Xian sedang kebingungan karena hanya membawa beberapa keping uang logam di sakunya. Namun ia enggan meminta uang kepada istrinya. Sebagai pengusaha yang berhasil di Suzhou, orang tidak akan menyangka bahwa sesungguhnya ia tak mempunyai banyak uang. Hal itu akan memaksanya untuk bercerita tentang kejadian di Gunung Emas. Padahal ia telah berjanji kepada Bai Su-zhen dan Xiao Qing untuk tidak bercerita kepada siapa pun.
Semalam sebelum pesta dimulai, ketika Bai Su-zhen sedang menidurkan bayinya, Xu Xian bertanya kepada istrinya. “Bagaimana keadaanmu, Istriku?” tanya Xu Xian lembut.
“Cukup sehat, sekalipun masih terlalu lemah untuk berdiri. Tetapi jangan terlalu mencemaskan diriku.”
“Jeritanmu saat melahirkan benar-benar membuatku takut. Namun sekarang kau tampak jauh lebih sehat,” kata Xu Xian dengan wajah bahagia.

Bai Su-zhen tersenyum. “Anak ini benar-benar mirip ayahnya. Apakah kau ingin menggendongnya?” tanyanya.
Ketika Bai Su-zhen akan meraih bayinya, Xu Xian melarang. “Ia sedang tidur. Jangan diganggu. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Tidak ada orang lain di sini, ‘kan?” tanya Xu Xian kepada istrinya.
Bai Su-zhen duduk. “Tentang kejadian di biara itu?” tanyanya.
“Bukan. Aku sudah mengetahuinya,” jawab Xu Xian. “Yang hendak kutanyakan ialah tentang toko kita di Suzhou. Apakah toko itu masih ada?”
“Duduklah, akan kujelaskan,” jawab istrinya. “Kita sekarang tidak dapat kembali ke Suzhou. Kalau kita tetap membuka toko itu, berarti kita hanya mencari keuntungan. Bukan itu tujuan kita. Itu sebabnya, Ma Zi-hou dan Li Ben-liang telah kusuruh menutup toko. Tentu saja hal ini membutuhkan waktu.”
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Xu Xian dengan khawatir.
“Apa yang membuatmu khawatir? Masih ada uang di dalam lemari. Dengarkan aku. Walaupun mulanya uang kita berasal dari kekuatan sihirku, uang yang kita punyai sekarang benar-benar hasil keringat kita.”
“Menurut pendapatmu, kita dapat mengundang semua tetangga?” tanya Xu Xian.
“Tentu saja. Walaupun mereka tidak minta diundang, aku bermaksud mengundang mereka semua. Suamiku, keluarga Xu kini sudah mempunyai keturunan. Aku sangat bahagia. Beberapa orang masih berkata bahwa aku adalah makhluk halus. Mereka mengatakan bahwa bayi ini bukanlah milikku.”
Xu Xian menjawab dengan bersemangat, “Ya! Benar-benar tidak masuk akal. Sekarang, aku akan menghitung jumlah tamu yang akan kita undang.”
“Tenanglah! Kau dapat mengundang siapa saja. Aku akan bisa mengatasinya. Tetapi jangan kau katakan kepada kakakmu asal-usul uang itu.”
“Tentu saja tidak!”
Bai Su-zhen memasukkan tangannya ke bawah bantal, lalu mengambil sebuah kunci besar dan memberikannya kepada Xu Xian. “Ini adalah kunci peti kita. Semua isi peti itu berasal dari Suzhou. Bagaimana barang-barang itu sampai kemari...” Bai Su-zhen tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menoleh kepada Xu Xian.
“Aku tahu. Makhluk halus telah mengangkutnya kemari,” kata Xu Xian menyambung kata-kata istrinya.
“Jangan pernah mengatakan sesuatu tentang kunci ini, kepada siapa pun dan dengan alasan apa pun juga,” kata Bai Su-zhen. “Kunci ketiga adalah kunci untuk peti kedua. Bukalah peti itu.”
Xu Xian pergi ke ruang belakang dan membuka peti. Ia menemukan semua uangnya di bawah lapisan kain. “Banyak sekali!” serunya.
“Jangan bicara terlalu keras,” kata Bai Su-zhen.
Xu Xian mengunci peti, dan kembali ke kamar Bai Su-zhen.
“Menurut pendapatmu uang itu cukup untuk membiayai pesta kita?” tanya Bai Su-zhen.
“Lebih dari cukup,” jawab Xu Xian dengan wajah tak percaya.
“Aku tahu. Aku ingin kau melihat sendiri uang itu. Sekarang tak ada lagi yang perlu engkau khawatirkan!. Aturlah segalanya.”
Xu Xian memberikan kembali kunci itu kepada istrinya, “Engkau harus menjaga uang itu. Aku takut kuncinya hilang.”
Dengan penuh pengertian Bai Su-zhen berkata, “Aku juga akan membantumu mencari nafkah.”
Mendengar perkataan istrinya, hati Xu Xian sangat bahagia. Perlahan-lahan ia datang mendekat, lalu duduk di ujung tempat tidur. “Engkau telah melakukan terlalu banyak untukku. Terima kasih,” katanya tulus. Matanya menyiratkan cinta kasih. “Engkau telah memberikan kekayaan kepadaku selama ini, dan aku sangat berbahagia bila kau akan tetap bersedia membimbingku. Di mana kita akan bekerja nantinya?”
“Untuk menuju biara Gunung Emas, siapa pun akan melewati daerah sekitar Sungai Changjiang,” jawab Bai Su-zhen. “Dan kalau kita mampu melewatinya, demikian pula Fa Hai. Kalau kita ingin hidup tenang, sebaiknya kita tidak tinggal terlalu lama di Hangzhou.”
“Jadi, di mana kita akan tinggal?”
“Di mana saja,” kata Bai Su-zhen dengan penuh keyakinan. “Namun, untuk saat ini yang harus kita pikirkan adalah anak kita.”
Kata-kata Bai Su-zhen melegakan Xu Xian. Tinggal masalah pesta yang harus ia pikirkan.

***

Dua hari kemudian, tubuh Bai Su-zhen mulai pulih. Ia bangkit dari tempat tidur lalu duduk di tepi jendela. Kemudian ia menyusui Shi Lin. Xu Xian memandang sambil tertawa, dan juga tergoda karena payudara Bai Su-zhen tampak semakin besar saja.
Bai Su-zhen mengerlingkan matanya, “Tidakkah lebih baik bila kau cari tempat yang sejuk dan menyegarkan, daripada memandangiku saja tanpa henti. Panasnya sungguh tak tertahankan!”
“Aku sedang berpikir untuk menyewa seorang ibu susuan bagi anak kita untuk menggantikanmu. Pada cuaca sepanas ini, engkau perlu juga beristirahat.”
Bai Su-zhen menggeleng. “Bukankah semua ibu susuan juga mempunyai anak? Dan aku pun dapat melakukannya sendiri.”
Dengan hati terharu Xu Xian berkata, “Kau benar-benar istri yang berbakti. Karena biasanya orang kaya akan menyewa ibu susuan bagi putranya, apalagi dalam cuaca sepanas ini.”
“Mungkin,” kata Bai Su-zhen sungguh-sungguh. “Lebih baik mulai merencanakan pesta. Bagaimana persiapannya?”
“Aku telah membuat daftar undangan. Jumlahnya kira-kira dua puluh orang. Makanan pun sudah dipesan. Tetapi, masih ada satu hal lagi yang mengganggu pikiranku,” kata Xu Xian.
“Uang kita cukup banyak. Apa lagi yang engkau khawatirkan?”
“Ruangan manakah yang dapat kita gunakan untuk meletakkan meja makan?”
“Aku tahu,” jawab Bai Su-zhen dengan tenang. “Tanyakan kepada pemilik rumah makan di depan rumah ini, apakah kita boleh menyewa rumah makannya untuk berpesta. Aku yakin ia pasti bersedia meminjamkannya kepada kita.”
Xu Xian bertepuk tangan, “Ya! Ya! Kau benar!” teriaknya bersemangat. “Kami telah lama bertetangga. Aku yakin bila kita undang, pasti ia datang.”
“Bicarakan baik-baik masalah ini bersamanya,” kata Bai Su-zhen. “Bila ia setuju, kau dapat menulis undangannya. Dan buatlah undangan yang menarik agar semua tamu ingin datang. Sebutkan pula bahwa para tamu diharapkan untuk tidak membawa bingkisan. Kalau mereka berkeras membawanya, bingkisan itu akan kita kirimkan kembali.”
“Baiklah,” kata Xu Xian agak ragu-ragu. “Tetapi, apakah hal itu tidak akan terlalu merepotkan?”
Bai Su-zhen tertawa mendengar kata-kata Xu Xian. “Tentu saja itu semua hanya basa-basi. Harga barang-barang sangat mahal akhir-akhir ini. Mereka pasti akan merasa senang bila tidak harus membawa bingkisan. Tetapi kalau kakak iparmu ingin memberikan sesuatu, kita akan menerimanya dengan tangan terbuka. Betul, ‘kan?”

***

Ketika Shi Lin berumur satu bulan, matahari bersinar cerah. Bai Su-zhen mendandaninya dengan baju tunik merah dan celana panjang hijau. Pipinya pun kemerah-merahan.
Di ruang utama terdapat sebuah meja altar dan teko-teko baru. Lilin-lilin besar dinyalakan dalam tempat lilin yang terbuat dari kuningan. Wangi kayu cendana tercium di seluruh ruangan, seakan mengucapkan selamat datang kepada para tamu.
Bai Su-zhen menggendong bayinya dan menerima ucapan dari para tamu. Di hadapan para tamu, ia berkata, “Paman dan bibi anak ini telah berbaik hati meminjamkan rumahnya kepada saya, sehingga saya dapat melahirkan dengan selamat di sini. Kebaikan dan kemurahan hati mereka tak akan dapat saya lupakan. Kini di hadapan hadirin sekalian, saya akan memberi penghormatan kepada mereka sebagai ucapan terima kasih kami.”
Bai Su-zhen membungkuk memberi hormat. Mula-mula kepada Xu Xian, Fu Yun, dan kemudian kepada Li Ren. Setelah Bai Su-zhen selesai memberikan penghormatan, Xiao Qing maju ke depan. Ia juga ingin mengucapkan terima kasih. Ditariknya Nyonya Jiang ke dekatnya, lalu katanya, “Nyonya Jiang juga pantas mendapat penghormatan. Ia telah membantu kakak saya melahirkan dan mengurus segalanya.”
Bai Su-zhen membungkuk di depan Nyonya Jiang untuk memberikan penghormatan. Nyonya Jiang menarik seikat uang dari sakunya, dan berkata, “Aku telah menabung. Kuberikan uang ini kepada Shi Lin. Kalau ia menyimpannya, mudah-mudahan ia hidup lebih dari seratus tahun.”
Bai Su-zhen menerimanya dengan penuh sukacita. Ia mengangguk sekali lagi tanda terima kasih. Xiao Qing berseru, “Semoga bayi ini mewarisi sifat jujur ayahnya. Tetapi mudah-mudahan ia tidak pemalu dan pencemas seperti ayahnya.”
Semua tamu di ruangan itu tertawa keras dan acara dilanjutkan. Bai Su-zhen membawa bayinya berkeliling. Dihampirinya para tamu satu demi satu, sehingga mereka dapat melihatnya dari dekat dan mengucapkan selamat kepadanya.
Para tamu berseru, “Ia benar-benar mirip ayahnya. Setelah menikah Xu Xian berhasil. Kalau anak ini mau bekerja keras, ia akan mendapat kedudukan yang terhormat.”
Walaupun banyak tamu yang sekadar berbasa-basi, Bai Su-zhen dapat merasakan adanya ketulusan dan kejujuran. Bai Su-zhen tersenyum kepada tamu-tamunya dan berkata, “Terima kasih akan doa restu kalian pada kesempatan ini. Saya juga berdoa agar kesehatan dan keberhasilan selalu menyertai kalian semua.”
Kemudian Xu Xian dan Li Ren mengajak para tamu pergi ke rumah makan di depan rumah. Setelah semuanya berkumpul, Li Ren mengumumkan kedatangan Bai Su-zhen dan bayinya yang digendong oleh Xiao Qing. Bai Su-zhen kemudian berpidato untuk mengucapkan terima kasih kepada para tamu. Ia lalu menghampiri para tamu untuk bercakap-cakap, didampingi Xiao Qing yang menggendong Shi Lin.
Hadirin yang baru melihat Bai Su-zhen untuk pertama kali, sangat mengagumi kecantikan dan keanggunannya. Semua berkata bahwa Xu Xian sangat beruntung mempunyai istri secantik Bai Su-zhen.
Bai Su-zhen mempersilakan tamu-tamunya duduk. Sambil tersenyum sekilas, ia berkata, “Mudah-mudahan Anda menyukai makanan yang dihidangkan. Kami juga menghidangkan anggur. Silakan minum sepuasnya.”
Para tamu menyambut gembira. “Mari kita minum anggur.”
Bai Su-zhen tertawa dan berkata, “Bila hadirin tidak berkeberatan, saya ingin mengumumkan sesuatu. Sejak kami menikah, saya mendengar bahwa banyak orang merasa curiga dari mana kami mendapat uang. Usaha kami di Suzhou sangat berhasil. Namun masih saja ada orang yang merasa curiga: Mana mungkin kami mendapat banyak uang dari toko sekecil itu dan menduga bahwa kekayaan kami berasal dari sumber lain. Bahkan yang terakhir, saya mendengar ada yang mengatakan bahwa saya adalah makhluk halus.
”Dalam kesempatan ini, izinkan saya memberikan penjelasan. Pertama, ketika kami baru menikah, uang yang saya gunakan sebagai modal adalah uang peninggalan almarhum ayah saya. Kedua, uang dan segala harta benda yang kami peroleh di Suzhou adalah hasil dari kerja Xu Xian dan tabungan kami. Karena saya mempunyai sedikit pengetahuan tentang obat-obatan, saya pun bekerja sebagai tabib untuk membantu Xu Xian. Terakhir, mengenai ilmu silat. Sejak kecil almarhum ayah telah mengajari kami ilmu silat. Semua ini tidak ada hubungannya dengan makhluk halus. Namun, saya tak dapat memaksa Anda sekalian untuk mempercayai semua yang saya katakan. Lagi pula, tidak ada makhluk halus yang dapat memberikan keturunan bagi suaminya. Saya hanya berharap, mudah-mudahan segala keraguan terhadap diri saya dan Xiao Qing, adik saya, tidak ada lagi mulai hari ini.”
Rupanya di antara para tamu, memang pernah ada yang mendengar desas-desus tersebut. Setelah para tamu diberi keterangan oleh Bai Su-zhen, mereka semua percaya kepadanya. Mereka menganggap kelahiran Shi Lin sebagai bukti bahwa Bai Su-zhen tidak berdusta.
Bai Su-zhen kemudian menyerahkan Shi Lin kepada Xiao Qing. Ia mengisi gelasnya dengan anggur dan mengajak para tamu untuk minum bersama. Pesta berlanjut hingga larut malam.

***

Beberapa hari setelah pesta, Li Ren melihat Xu Xian menggendong anaknya. “Xu Xian, hari masih pagi. Kalau tak ada pekerjaan di rumah, mari kita berjalan-jalan sebentar ke danau.”
Dengan senang hati Xu Xian menuruti ajakan kakaknya. Sesampai di jalan Bai Ti, dalam perjalanan pulang dari danau, seseorang memanggil Xu Xian. “Xu Xian. Sudah lama kita tidak bertemu.”
Jantung Xu Xian serasa hendak berhenti berdetak. Fa Hai! Sekalipun merasa terperangkap, ia tetap menghampiri sang pendeta dan membungkuk memberi hormat kepadanya. “Memang. Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” jawabnya.
“Kau berhasil melarikan diri dari Zhenjiang. Tetapi aku selalu berhasil menemukanmu kembali,” kata Fa Hai.
“Sudah kukatakan berkali-kali, aku tidak ingin menjadi pendeta,” kata Xu Xian cepat-cepat.
Fa Hai memandangnya dan berkata. “Aku tak mau berbicara di sini. Terlalu banyak telinga yang ikut mendengarkan. Tetapi terlebih dahulu kau harus menyadari keadaanmu.”
Xu Xian merasa senang pendeta itu tidak mendesaknya. Lalu ia cepat-cepat pergi, setelah mengangguk kepada Fa Hai.
“Apa yang diinginkan pendeta itu?” tanya Li Ren. Rupanya ia tidak mendengar percakapan mereka.
“Oh, ia dulu pernah menolongku,” kata Xu Xian. Ia berusaha berbicara wajar. “Ia ingin minta sedekah.”
Li Ren tidak bertanya lagi. Tetapi hati Xu Xian diliputi kebimbangan, bagaimana ia harus bercerita kepada Bai Su-zhen mengenai pertemuannya dengan Fa Hai. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiam diri, takut membuat Bai Su-zhen khawatir, karena ia baru saja melahirkan.

***

Beberapa hari berlalu tanpa kejadian yang berarti. Hingga suatu hari, ketika Bai Su-zhen sedang menyisir rambut di depan meja rias, Xu Xian memandanginya tanpa berkedip.
“Apa ada sesuatu yang aneh pada diriku? Mengapa kau tak berhenti memandangku? Bukankah aku hanya menyisir rambut?” tanya Bai Su-zhen.
Xu Xian menepuk bahu istrinya sambil berkata. “Sementara engkau menyisir rambut, aku mencium bau yang sangat harum. Ini membuatku terkenang kembali pada hari-hari pertama pernikahan kita, saat kau suruh aku menyematkan bunga-bunga di rambutmu. Sekalipun kejadian itu sudah setahun berlalu, tetapi aku tidak pernah bosan mengingatnya dan memandangimu.”
”Kenapa cuma mengingat, bukankah kita bisa mengulanginya lagi.” tanya Bai Su-zhen.
Xu Xian tersenyum dengan mata melebar, ”Benarkah?”
”Kenapa tidak?” Bai Su-zhen mengerling manja dan membiarkan Xu Xian membimbing tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia langsung membuka bajunya.
Terlihatlah pemandangan yang sangat indah. Tubuh Bai Su-zhen tampak masih sempurna meski baru saja melahirkan. Kulitnya tetap putih mulus, dengan payudara berukuran cukup besar karena berisi air susu. Pantatnya yang bulat dan berisi benar-benar membuat penis Xu Xian langsung bangun dengan cepat.
"Ayo, suamiku. Jangan bengong saja!” kata Bai Su-zhen menggoda.
Tersadar, Xu Xian segera mendekat dan memeluk tubuh mulus Bai Su-zhen. Ia juga mulai menciumi leher dan pipi Bai Su-zhen sambil tangannya bergerak menggesek klitoris perempuan cantik itu. Merasakan klitoris Bai Su-zhen yang sudah semakin besar membuat birahi Xu Xian semakin terpancing tinggi. Ia semakin ganas menjilati leher dan payudara Bai Su-zhen yang bulat besar.
”Ahh... suamiku!” lirih Bai Su-zhen saat mulut nakal Xu Xian menghisapi  putingnya dengan rakus sambil lidahnya menggelitik-gelitik kecil. Ia berupaya membalas dengan menarik penis Xu Xian kuat-kuat, membuat suaminya itu sempat memekik kaget karena sakit, tetapi lama kelamaan berubah menjadi enak.
Setelah puas menghisap payudara Bai Su-zhen, Xu Xian lalu pindah menjilati perut sang istri, juga pusar Bai Su-zhen dan akhirnya tiba di bukit kecil yang lebat hutannya. Xu Xian mulai menjilati bukit itu dan menghisap klitoris Bai Su-zhen sambil sesekali digigit-gigit pelan.
"Aah... suamiku! Nikmat sekali, terus!" bisik Bai Su-zhen sambil tangannya menjambak rambut panjang Xu Xian. Ia terus mendesah-desah seiring Xu Xian yang terus menghisapi klitorisnya, sambil tangannya meremas-remas gemas payudaranya yang putih besar.
”Ahh... yah... terus, suamiku!” desah Bai Su-zhen saat Xu Xian memasukkan jari ke dalam liang vaginanya. "Ughh… sebentar lagi!” bisiknya.
Xu Xian semakin bersemangat memainkan lidahnya, sampai tidak lama kemudian terdengar erangan Bai Su-zhen yang panjang, "Ahh... suamiku! Aku keluar!"
Terasa di mulut Xu Xian sebentuk cairan yang rasanya asin. Ia langsung mencucup dan menjilatinya sampai habis. "Bagaimana, Sayang?" tanyanya saat vagina Bai Su-zhen sudah bersih kembali.
"Terima kasih, Suamiku. Rasanya sudah lama aku tidak merasakan kepuasan seperti barusan." kata Bai Su-zhen sambil berbaring sementara Xu Xian memeluk tubuhnya dengan erat. Mereka berciuman untuk sejenak, sebelum lama-lama ciuman mereka berubah menjadi penuh gairah seiring nafsu birahi yang mulai timbul kembali.
"Mana penismu, suamiku? Sekarang giliranku untuk melayanimu." kata Bai Su-zhen.
Tanpa menunggu lagi, Xu Xian segera menyodorkan adiknya yang dari tadi sudah menegang, menunggu untuk digarap. Dengan tangannya yang mungil, Bai Su-zhen meraih benda coklat panjang itu dan mulai mengocok pelan sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya tak lama kemudian.
"Uhh... enak sekali, istriku!" erang Xu Xian. Tangannya kembali menjamah bulatan payudar Bai Su-zhen yang menggantung indah dan meremas-remasnya pelan. Sambil mendesah, ia merasa ujung penisnya dimainkan oleh lidah Bai Su-zhen dengan sangat pintarnya. Wanita itu terus bergerak memutar dengan sesekali menghisap-hisap lembut.
"Istriku, sudah... nanti aku keluar!" rintih Xu Xian tak tahan.
Tanpa memperdulikan kata-kata itu, Bai Su-zhen terus mempermainkan penis dan biji pelir Xu Xian. Saat dirasanya Xu Xian benar-benar tak tahan, barulah Bai Su-zhen melepasnya dan ganti mengocoknya dengan kuat sambil mulutnya membuka.
"Craat! Craat! Craat!" tanpa bisa dicegah, keluarlah sperma Xu Xian yang langsung mengenai muka dan masuk ke dalam mulut Bai Su-zhen, yang langsung ditelan oleh siluman ular itu. Sambil membersihkan mukanya yang penuh oleh sperma, Bai Su-zhen kembali menghisap penis Xu Xian yang mulai mengecil, berusaha membersihkannya dari sisa-sisa sperma yang masih menetes keluar.
Terengah-engah berdua, mereka berpelukan dan beristirahat dalam keadaan bugil selama setengah jam. Sambil memandang ke cermin, Bai Su-zhen membuka pembicaraan. “Suamiku, karena sekarang cuaca mulai dingin, aku merencanakan untuk segera menyewa perahu. Kita pindah ke San Xiang.”
“Suatu tempat yang tenang,” kata Xu Xian sambil kembali meremas-remas bulatan payudara sang istri, “Maksudmu kita pindah ke sana, agar para pendeta tidak dapat menemukan kita?” tanyanya kemudian.
Dari luar, tiba-tiba Nyonya Jiang memanggil, “Tuan Xu, ada seorang pendeta yang ingin bertemu denganmu.”
Xu Xian tersedak. “Ia ingin menemuiku?” tanyanya lemas. Sebelum Bai Su-zhen ssempat bertanya, ia segera mengenakan pakaian dan berjalan keluar.
Di halama depan, dilihatnya Fa Hai berjalan ke arahnya sambil berteriak, “Xu Xian! Hari ini aku datang sendiri.”
Xu Xian berlari ke ruang utama dan mengangguk di depan pintu. Ia berkata, “Ah, Pendeta Fa Hai. Silakan masuk.”
Fa Hai tetap berjalan dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan angkuh. “Aku membawa senjata,” teriaknya. “Bawa Ular Putih ke hadapanku. Cepat!”
Xu Xian melihat Fa Hai mengeluarkan sebuah mangkok besar tempat menaruh uang sedekah dari dadanya, lalu diulurkannya kepada Xu Xian. Xu Xian tak berani memegang benda itu. Ia mundur beberapa langkah ke arah dinding.
“Jangan berbuat yang bukan-bukan,” perintah Fa Hai.
“Istriku, cepat lari,” teriak Xu Xian.
Bai Su-zhen tak sempat lagi melarikan diri. Ia hanya bisa mengenakan kembali pakaiannya, tidak ingin menemui Fa Hai dalam keadaan tubuh telanjang. Bai Su-zhen sibuk mencari senjatanya, tetapi ruangan itu sudah dikepung oleh Pasukan Surga. Jendela pun sudah ditutup rapat. Tak ada pilihan lain bagi Bai Su-zhen selain mendatangi Fa Hai.
“Ular Putih,” desis Fa Hai. “Telah kuperintahkan kepadamu untuk meninggalkan Xu Xian dan kembali ke gunung guna menyempurnakan ilmumu. Tetapi engkau tak juga mengindahkan nasihatku. Hari ini aku akan membalas dendam atas nama penghuni Biara Gunung Emas.” Sambil berbicara, Fa Hai mengangkat mangkok sedekah dan mengguncangkannya ke arah kepala Bai Su-zhen.
Dengan mata bersinar, Bai Su-zhen menjawab, “Ketika kami membanjiri Gunung Emas, kami telah membangun dua jalan kecil untuk mengungsi, agar penduduk yang tak berdosa tidak tenggelam.”
“Aku tidak ingin mendengar ceritamu,” kata Fa Hai. “Kini aku hanya ingin memperlihatkan bentuk aslimu kepada Xu Xian dan setelah itu mengurungmu di Pagoda Puncak Kilat untuk selamanya.”
Badan Xu Xian gemetar. Ia merasa takut, putus asa, dan dirundung rasa bersalah. Ketika dilihatnya Fa Hai menyodorkan mangkok sedekah itu kepada Bai Su-zhen, ia berseru dengan sedih, “Istriku, mengapa kau tidak lari ketika kuperingatkan?”
“Tak sempat lagi,” jawab Bai Su-zhen. “Pasukan Surga telah mengepung. Lagi pula, mangkok itu. Pedangku pun diambilnya, sehingga aku terpaksa keluar.”
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Xu Xian. “Apakah kita akan memohon kemurahan hatinya?” Xu Xian segera menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Fa Hai.
“Kuizinkan kau melihat anakmu untuk terakhir kalinya,” teriak Fa Hai dengan geram.
Dengan berurai air mata, Xu Xian berkata kepada istrinya, “Pak Pendeta mengizinkanmu melihat anak kita untuk yang terakhir kalinya!”
“Ya, tolong bawa ia ke sini,” jawab Bai Su-zhen sambil memandang ke sekelilingnya, mencari peluang untuk melarikan diri. Namun hal itu tak dapat ia lakukan, karena mangkok sedekah kembali diarahkan ke kepalanya.
Xu Xian menggendong Shi Lin dan memberikannya kepada Bai Su-zhen. Bai Su-zhen segera mencium Shi Lin dan berkata sambil menangis, “Anakku, Fa Hai akan membawaku. Aku terpaksa meninggalkanmu. Bayiku yang malang, kau tak akan beribu lagi meski dalam tahun pertama usiamu.”
Seakan-akan memahami perkataan ibunya, bayi itu mulai menangis.
“Tuan,” pinta Bai Su-zhen, “Lihatlah betapa sedihnya bayiku ini. Maukah Anda memaafkanku?”
“Engkau adalah roh ular,” jawab Fa Hai, tanpa menunjukkan belas kasihan. “Engkau dapat berbicara manis seperti ini karena nyawamu terancam. Tetapi jika kau kulepaskan, kau akan menimbulkan bencana. Letakkan anakmu sekarang, kalau tidak, anak itu akan mati bersamamu.”
Bai Su-zhen menyerahkan anaknya kepada Xu Xian dan berkata dengan berani, “Kau sudah menolak permohonanku. Kini aku hanya menunggu apa yang akan kau lakukan kepadaku.”
Perlahan-lahan Fa Hai melemparkan mangkoknya ke udara, dalam keadaan terbalik. Berjuta-juta sinar keemasan berpendar dari mangkok itu dan menutupi kepala Bai Su-zhen. Namun, Bai Su-zhen belum juga mau menyerah. Mangkok di atas kepala Bai Su-zhen itu laksana besi puluhan kilogram beratnya, sehingga membuat dirinya terdorong ke lantai. Tetapi Bai Suzhen tetap berusaha mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan tekanan dari mangkok Fa Hai.
“Kau masih belum juga menyerah?” ejek Fa Hai. “Aku hanya tinggal mengucapkan satu mantra khusus, dan kau akan segera mati. Tetapi, aku tidak berniat membunuhmu.”
Mangkok itu semakin menekan tubuh Bai Suzhen, dan Bai Su-zhen masih mampu bertahan. “Selama lebih dari seribu tahun aku menyempurnakan ilmuku. Aku datang ke dunia kehidupan manusia dan menikah dengan Xu Xian. Belum pernah aku mencelakakan siapa pun. Sebaliknya, aku telah menyelamatkan banyak orang ketika kami membuka toko obat di Sizhou. Kau tak takut, bukan, Suamiku?”
Xu Xian berdiri menggendong anaknya dan menangis. “Tidak! Aku hanya menginginkan istriku,” katanya.
Tiba-tiba seseorang berteriak dari ruangan lain. “Aku akan bertempur melawanmu, Fa Hai! Kakakku telah memohon belas kasihanmu, tetapi kau tak punya belas kasihan.” Xiao Qing datang menyerang Fa Hai sambil menghunus pedangnya.
Fa Hai berteriak, “Wei Tuo!” Dalam sekejap seorang ksatria yang mengenakan baju besi turun dari langit-langit dan menangkis serangan Xiao Qing.
“Xiao Qing,” panggil Bai Su-zhen dengan khawatir. “Kekuatanmu masih belum sebanding dengan kekuatanku. Jangan mempertaruhkan nyawamu. Wei Tuo telah datang, lari dan selamatkanlah dirimu.”
Kemudian Xiao Qing melihat mangkok sedekah yang menekan Bai Su-zhen. Ia segera menyadari bahwa keadaan sudah gawat. Maka ia berkata, “Kakak, jagalah dirimu. Aku akan membalas dendam untukmu.” Xiao Qing menyerang Wei Tuo, untuk kemudian menghilang dari pandangan. Namun Wei Tuo tidak begitu saja menyerah. Ia mengejar Xiao Qing dengan bersemangat.
Fa Hai berteriak, “Ular Putih, apakah engkau akan mengatakan sesuatu?”
Pada saat itu Fu Yun dan dua orang pelayan berada di luar kamar. Mereka tidak dapat masuk ke dalam ruangan, tertahan oleh sebentuk sinar ajaib. Mereka tak dapat bergerak. Tubuh Xu Xian bergetar keras dari kepala hingga ke kaki.
“Aku takkan mengatakan apa-apa lagi,” jawab Bai Su-zhen dengan tenang. “Aku hanya memohon belas kasihanmu.”
“Tiga kali sudah aku menyuruhmu agar kau kembali ke bentuk asalmu. Tetapi engkau selalu melawan. Sekarang, terimalah ini!” Fa Hai mengarahkan tongkat ajaibnya pada mangkok di atas kepala Bai Su-zhen dan berteriak, “Jadilah!”
Pada saat itulah mangkok itu semakin menekan Bai Su-zhen hingga kepalanya tertutup sama sekali. Kemudian mangkok itu berubah bentuk, dan semakin panjang. Bai Su-zhen tak mampu menahan serangan Fa Hai. Tubuhnya terdesak dan terlipat. Ia menjerit, “Suamiku! Anakku!”
“Kurung dia,” perintah Fa Hai. Sekali lagi ia mengarahkan tongkat ajaibnya kepada mangkok itu yang telah menjadi semakin besar dan menutup seluruh tubuh Bai Su-zhen.
Xu Xian menjerit sedih. “Kejahatan apa yang telah diperbuat istriku?” ratapnya. “Ia tak pantas menerima hukuman sekejam ini.”
Fa Hai tersenyum mencemooh. “Xu Xian,” katanya. “Kau sungguh bodoh! Tidakkah engkau tahu bahwa aku telah menyelamatkan dirimu. Sekarang angkat mangkok itu, dan lihatlah sendiri, apa yang telah terjadi.”
Xu Xian menjerit. “Istriku sayang. Sekalipun kau telah kembali ke bentuk aslimu, aku tidak takut lagi. Apalagi kau telah melahirkan Shi Lin. Aku tak berhenti memohon kepada pendeta ini agar ia segera mengangkat mangkok ini dan membebaskanmu.”
“Bodoh!” hina Fa Hai. “Rupanya kau belum sadar juga. Aku tahu Bai Su-zhen telah mendalami ilmu gaib selama ribuan tahun. Oleh karena itu, aku tak akan membunuhnya. Ada sebuah pagoda bernama Puncak Guntur. Ia akan kukurung di sana. Tempat itu dijaga oleh para makhluk halus dan tidak mempunyai jalan keluar. Dengan demikian, kau tak akan dapat melihatnya lagi.”
Xu Xian berlari ke ruangan sebelah untuk meletakkan Shi Lin, dan kembali menghampiri Fa Hai sambil berteriak. “Pendeta, aku tantang kau berkelahi!” Ia berlari menerjang Fa Hai.
Fa Hai tertawa terkekeh-kekeh dan menunjuk Xu Xian dengan tongkatnya. Tubuh Xu Xian menjadi kaku, tak mampu bergerak lagi. Ia terpaku di pintu, matanya membelalak hampa. “Xu Xian, jangan terlalu memaksakan dirimu,” kata Fa Hai menenangkan. “Dalam beberapa saat lagi, kau dapat bergerak seperti sedia kala. Ayo para peri! Bawa mangkok ini ke Pagoda Puncak Guntur.”
Pasukan Surga berkumpul. Mangkok itu pun terangkat ke atas dan melayang di udara. Walaupun tak dapat bergerak, indera pendengaran Xu Xian masih dapat bekerja. Ketika mendengar perintah Fa Hai, ia menangis tersedu-sedu.
Fa Hai mencoba menghiburnya. “Jangan khawatir. Kau boleh datang ke Pagoda Puncak Guntur, tetapi kau tak akan dapat melihat istrimu lagi. Selamat tinggal.”
Fa Hai kemudian terbang mengendarai awan menuju ke Pagoda Puncak Guntur. Pagoda ini dibangun oleh seorang raja pada periode Lima Dinasti. Semula bangunan itu direncanakan bertingkat tiga belas, tetapi karena persediaan kayu tidak mencukupi, hanya tujuh tingkat yang dapat diselesaikan. Fa Hai mendarat sambil mengacungkan tongkatnya ke arah pagoda yang kokoh itu. Dengan suara mendesir, pintu di lantai dasar membuka. Pasukan Surga membawa turun mangkok yang berisi Bai Su-zhen.
Fa Hai mengejek. “Kini engkau telah berada di Pagoda Puncak Guntur dan dikepung oleh Pasukan Surga. Kami akan mengurungmu di dalamnya, sehingga kau tak akan dapat melarikan diri.”
Fa Hai merentangkan tangannya. Mangkok itu melayang dan kembali dalam ukurannya semula. Bai Su-zhen sudah menjelma kembali menjadi manusia dan berdiri di atas mangkok itu. Seberkas sinar menyilaukan memancar dari matanya.
“Ular Putih. Pagoda ini adalah tempat pengasinganmu. Masuklah!” perintah Fa Hai.
Bai Su-zhen menegakkan kepala dan merapikan bajunya. Dengan perlahan-lahan ia melangkah ke dalam pagoda.
Fa Hai memberi perintah kepada anak buahnya. “Kalian harus membangun beberapa tingkat lebih tinggi. Setelah pekerjaan itu selesai, Raja Danau Barat akan mengawasinya. Jika Bai Su-zhen ingin melarikan diri, terlebih dahulu ia harus menghancurkan pagoda ini.” Setelah berkata, Fa Hai pun menghilang.
Awan  kelabu menyelimuti langit. Kabut tebal menghalangi pemandangan. Kilat sabung-menyabung. Namun keesokan harinya, cuaca sekali lagi menjadi cerah. Pagoda itu telah bertambah tinggi, kini sembilan lantainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar