Selasa, 29 Agustus 2017

Rumah Kontrakan 14



Sudah hampir pukul sebelas ketika aku pulang malam itu. Badanku capek sehabis kerja seharian, jadi aku tidak berniat untuk mengunjungi salah satu dari Ece, Siska, maupun Mitha. Aku ingin langsung tidur malam ini. Besok aja kembali kugumuli mereka satu per satu.
Aku melangkah pelan menuju kontrakan. Sebagian besar rumah sudah terlihat gelap, semua penghuninya sudah pada tidur, bahkan termasuk juga rumah Siska.  Hanya ada satu cahaya yang memancar menerangi jalan, dari rumah Ece. Lagi apa dia malam-malam begini?
Tapi aku tak berniat untuk mencari tahu. Maka sambil berjalan mengendap-ngendap, diam-diam aku melangkah mendekati pintu rumah dan berusaha memasukkan kunci tanpa suara. Namun sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tak bisa langsung istirahat malam ini karena belum sampai pintuku terbuka, seseorang menyapaku ramah.
“Baru pulang, Ar?” tanya suara lembut yang bernada menggemaskan.

Lemas aku pun berpaling dan mendapati sepasang kaki jenjang bersinar di bawah cahaya lampu. Ece berdiri di sana, tersenyum saat melihatku.
“Eh, i-iya, Ce. Kok belum tidur?” Aku tak jadi masuk. Kembali kututup pintu rumah dan sekarang sepenuhnya berpaling kepadanya.
“Iya, aku lagi nunggu kamu,” Ece berkata genit sambil perlahan-lahan melangkah ke arahku. Dalam kegelapan, aku bisa melihat kalau dia hanya mengenakan baju tidur tipis dan celana dalam sangat kecil. Seksi sekali.
“Ece ada perlu ya sama aku?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Kamu tahu nggak, suamiku lagi nggak ada sekarang.” bisiknya pelan saat sudah berdiri di depanku. Lembut tangannya membelai pipiku yang kiri sambil matanya melihat langsung ke mataku.
Sentuhan itu terasa bagai kilat, begitu tajam dan membangkitkan gairah. Apalagi Ece juga menekan payudaranya yang super besar ke arah dadaku, hingga dalam sekejap saja kontolku yang pada dasarnya gampang tergoda jadi menegang keras seperti batu. Ece tertawa saat mengetahuinya dan semakin memepetkan tubuhnya, hingga tak dapat dihindarkan lagi penisku langsung bergesekan dengan gundukan selangkangannya.
“Kenapa, Ar? Kepengen ya?” tanya setengah memeluk.
Seperti memiliki pikiran sendiri meski aku sudah berusaha keras menolaknya, tangan kananku tanpa sadar terangkat dan menjalar untuk menjamah gundukan payudaranya. Ece tersenyum saat aku mulai meremas-remas lembut, bahkan dia semakin mendekatkan tubuhnya dan perlahan mulai menciumku ringan.
“Ahh, Ce..” aku mengerang ke dalam mulutnya, “K-kita masih di luar,” bisikku gelagapan dengan penis semakin menekan daerah selangkangannya.
Ece menghentikan ciumannya dan menatap mataku. “Kalau begitu ayo masuk. Rumahku apa rumahmu?” tanyanya menggoda.
Kubuka pintu rumahku dengan menendangnya menggunakan kaki belakang, lalu kutarik tubuh hangat Ece agar lekas masuk. Kami masih perpelukan erat dengan penisku terus menempel di selangkangannya. Tanganku meraba-raba dari satu payudara ke payudara lain, meremas-remasnya lembut, mencoba mencari-cari putingnya yang mungil indah.
“Aghhh...” mengerang, Ece mendorongku hingga jatuh telentang di atas sofa, lalu dia meloncat menindih tubuhku. “Ini yang aku kangenin,” geramnya sambil meraba-raba di sekitar paha, kemudian mencengkeram kuat penisku yang sudah mengacung keras. Lembut Ece membelainya ke atas dan ke bawah menggunakan tangan kirinya.
“Baru juga kemarin kita main,” sahutku suka.
Kunikmati belaian tangannya yang terasa nikmat sambil kami berciuman dengan lebih bersemangat. Kulumat rakus bibir tipis Ece, dan dia membalas ganas bagai ingin menghancurkan bibirku. Deru napasnya terdengar mengamuk di telinga tanda kalau dia sudah begitu bernafsu, yang kubalas dengan mulai mempreteli bajunya satu per satu.
“Kontolmu, Ar... aku pengen kontolmu!” desisnya lapar. Entah kenapa malam itu dia begitu bernafsu.
Aku yang tadinya sudah kelelahan, demi digoda seperti itu, tentu jadi berpikiran lain. Apalagi pada dasarnya aku memang gampang tersulut, dan sungguh badan Ece bagai obor yang sanggup menyalakan gairah dalam diriku. maka sambil terus hanya mengisi tanganku dengan keempukan bulatan payudaranya yang kini sudah terburai keluar dua-duanya, kurebahkan tubuh sintal Ece di sofa. Kini aku yang menindih, dan Ece hanya merintih saja saat mulai kukulum puting susunya satu per satu.
“Aghhh... terus, Ar! Terus! Jilat yang keras!” rintihnya. “Jangan lupa memekku kamu mainin juga,” desisnya ketika kuputar dan kupijit-pijit ringan putingnya sambil terus kujilat-jilat.
Tangan Ece turun ke bawah untuk ikut mempreteli celanaku, dan dalam sekejap saja dia sudah berhasil. Kontolku yang sudah ereksi berat langsung dipegangnya, dia meremas-remasnya kuat sebagai pelampiasan rasa nikmat sambil sesekali dokocoknya lembut ke atas dan ke bawah.
Kami sama-sama merintih dan mengerang, saling mengusapkan tangan ke alat kelamin masing-masing dengan bibirku terus bermain di kedua puting susunya. Ece menggelinjang keras karena itulah salah satu kelemahan di tubuhnya, semakin kujilat rakus putingnya, semakin dia menjerit dan memekik senang.
“Ardi... Ar... aghhh!!” pekiknya sambil mengusap penisku kian kuat.
Aku tidak berbicara apa-apa karena aku juga menikmatinya. Entah bagaimana kami berhasil sampai ke kamar dan jatuh di atas tempat tidur masih dengan tetap berpelukan. Ece menciumku tambah gairah sambil tangannya menjelajahi seluruh selangkanganku. Biji pelirku dipijit-pijitnya lembut, bahkan lubang pantatku pun juga ia gelitik-gelitik halus sambil tak henti-hentinya mengocok batangku.
“Ahh... Ece,” aku mengerang, dan kubalas dengan membelai kulit mulusnya, terasa begitu mulus dan halus.
Dari payudara, tanganku turun ke perutnya yang sudah tidak langsing lagi karena sudah pernah hamil. Namun aku tidak mempermasalahkan karena bagian bawah perut itulah yang kusukai. Lembut kuurut-urut lubang vaginanya yang masih terbalut celana dalam, sudah terasa basah di sana. Kudorong jari-jariku untuk menyelinap hingga bisa kuraba rambut kemaluannya yang tumbuh subur, juga sebentuk biji mungil yang tumbuh di sekitar belahannya.
“Terus, Ar... yah, disitu! Tekan di situ!” rintih Ece begitu tanganku menangkup lubang vaginanya. Dia membuka kaki lebar sekali hingga dengan mudah aku bekerja. 
Menggelitik gemas, kurasakan celah mungil di tanganku itu berubah dari lembab dingin menjadi basah hangat. Bahkan dalam waktu singkat sanggup kubuat membanjir deras begitu kutusukkan satu jari ke dalam sambil terus kupijit-pijit klitorisnya.
“Ahh... nikmat, Ar! Enak! Terus! Terus!” rintih Ece bertubi-tubi. Tubuhnya kian menggelinjang dan dia memagut bibirku semakin kuat.
Satu tanganku yang menganggur kugunakan untuk meraba gundukan dadanya, juga membelai perut serta pahanya, dan tak lupa meremas-remas kedua pantatnya yang terus menggeliat seiring tusukan jariku yang kian dalam. Vagina Ece sudah berkedut-kedut pelan, memohon dalam diam agar aku terus mempermainkannya. Kudorong jariku semakin jauh hingga kutemukan mulut rahimnya, dan Ece langsung menjerit begitu aku menekannya lembut.
“Ssshh... Ar!” Dengan tangannya yang halus, Ece meliliti batang penisku dan  membelainya kasar. Dia membetot-betotnya seperti ingin menarik lepas penisku, hingga aku jadi merasa sedikit kesakitan.
“Pelan-pelan, Ce. Nanti patah,” bisikku sambil menarik diri. Aku berdiri dan melepas pakaianku secepat aku bisa, sementara Ece menarik celana dalamnya turun dan melemparkannya kepadaku sambil tertawa cekikikan.
Dengan perasaan gemas, ingin segera kucabuli wanita istri tetanggaku ini dengan setiap gairah yang bisa kuberikan. Ece sekarang telentang di atas tempat tidur sambil membuka kakinya lebar-lebar, tangannya berada di antara kedua paha dan bermain dengan lubang vaginanya saat berbicara kepadaku dengan suara berbisik nan nakal. 
"Cepat, Ar.. masukkan kontolmu ke sini. Memekku sudah dari tadi nagih minta digaruk." 
“I-iya, Ce.” Aku melangkah ke tepi tempat tidur dan mengangguk. Kontolku yang berdiri menantang langsung disambarnya dan diarahkan ke lubang memeknya, aku sampai harus merangkak karena mau jatuh.
Dengan pandangan nakal, Ece menungguku yang berusaha mengatur posisi di antara kedua kakinya. Mulai kugesek-gesekkan ujung penisku sambil kuciumi perut serta gundukan payudaranya ketika Ece menarik pinggulku mendekat. Karena letaknya sudah pas, selain itu memek Ece sudah sangat basah, maka dengan mudah saja kontolku menembus lubang memeknya. Dengan sekali tusuk, sudah bisa kubuat dia menjerit sambil menutup mata erat-erat.
“Enak, Ar! Enak! Cepetan goyang! Ughhh... goyang! Memekku enak!” sambil mengerang, Ece mendorong pinggulnya ke arah depan agar penisku semakin dalam menghujam di liang senggamanya.
“Begini, Ce?” kataku menggoda sambil berpegangan di dua gundukan payudaranya.
Ece hanya merintih-rintih saat aku mulai menarik pinggul, lalu menurunkannya lagi. Tarik lagi, turun lagi, sambil kujaga agar penisku tak sampai terlepas dari jepitan memeknya. Gerakan naik turun itu membuat alat kelamin kami saling bergesekan nikmat. Memek Ece megap-megap menerima tusukanku, dan aku menggelinjang merasakan pijatan dinding-dinding liang vaginanya yang sudah begitu basah oleh jus kental. Semakin kudorong, cairan yang keluar menjadi semakin banyak.
"Ohh... terus, Ar! Kontolmu enak! Tusuk lagi yang keras! Terus! Enak! Kontolmu enak!” erangnya parau.
Kulakukan apa yang dia minta, kian kuhujamkan pinggulku sampai dia menggeliat-liat tak tentu arah. Dari hangat, vaginanya kini berubah menjadi panas, dan berikutnya langsung membanjir deras. Hanya butuh waktu sejenak untuk membuatnya mencapai orgasme yang pertama, nampaknya Ece memang sangat bergairah sekali malam ini.
Dia tersenyum kepadaku. “Terima kasih, Ar. Enak sekali,” bisiknya lembut.
“Tumben Ece kayak gini?” tanyaku sambil kembali memompa ke dalam dirinya dengan ayunan lembut namun sangat dalam.
“Kenapa, kamu nggak suka?” tanyanya dengan napas masih berat.
“Justru ini yang aku cari, Ce.” Dari lambat, genjotannya perlahan meningkat kian cepat dengan dibarengi kekuatan solid yang sanggup mendorong cairan Ece keluar dari sarangnya.
Ketika memeknya kembali kesat, Ece mendengus-dengus kepadaku dan menyodorkan vaginanya ke depan agar aku jadi tambah kuat dalam menusuk. Dia memutar-mutar pinggulnya, terlihat suka dengan sensasi penisku yang terus melaju di kedalaman lorong memeknya. Setiap hujaman membuatnya menjerit,  mendengus dan mengerang lebih dalam lagi karena aku juga mendorong lebih keras dan lebih cepat dari yang tadi.
Itu kulakukan karena aku juga merasa tidak akan bertahan lebih lama lagi. “Memekmu enak, Ce. Basah dan hangat." bisikku kepadanya.
Ece tidak berkata-kata, dia hanya bisa mengerang sambil menutup mata menikmati belaian kontolku. Aku bisa merasakan vaginanya berdenyut kencang dan kemudian tiba-tiba mencengkeram penisku dalam sekali sentakan, seperti ada tangan gaib di dalam sana. Vagina itu mencekik sekaligus juga kembali mengguyur penisku dengan cairannya yang menyembur deras. Ece kembali orgasme lagi, sementara aku masih terus hampir dari tadi.
Merasakan memeknya kembali basah, aku berhenti menghujam untuk sejenak. Dengan penis masih tertancap kuat, kupeluk tubuh montok Ece yang sudah keringatan dan kuhujami mukanya yang cantik menggemaskan dengan ciuman-ciumanku. Tangannku juga menggerayangi bulatan dadanya, terutama kedua putingnya yang terasa mengganjal kaku di atas perut.
“Teruskan, Ar! Lanjutkan! Entoti aku lagi!” Ece meminta sambil matanya lekat menatap mataku, padahal napasnya masih naik-turun saat aku mulai kembali menghentakkan pinggul.
Dia melingkarkan kaki di sekitar pinggangku sambil tangannya meremas-remas bokongku lembut. Sepertinya dia berusaha untuk memberi rangsangan kepadaku agar aku juga ikutan puas. Harus kuakui bahwa bercinta dengan Ece tidak pernah membuatku bosan, bahkan cenderung memabukkan. Aku tidak pernah sanggup menolak rayuannya, sama seperti sekarang ini.
Terus kuhujamkan penisku ke dalam dirinya sebelum aku mulai meningkatkan tenaga serta kecepatan. Ece ikut berpacu dengan menyodorkan pinggulnya ke atas dan mendengus keras di setiap doronganku. Tak lama aku sudah gemetar dan sebelum Ece sempat meminta, sudah kuberi dia satu tusukan terakhir yang tak sempat dibalasnya kembali.
"Keluarin, Ar. Biarkan pejuhmu muncrat di memekku!” rintih Ece.
Aku merasakan aliran sperma mengalir deras melalui batangku, lalu seperti disemburkan, sperma itu meledak berhamburan di rongga vagina Ece. Secara hampir bersamaan, memek Ece juga mencengkeram kuat seperti ingin memerah pejuhku hingga tetasnya yang terakhir. Cairan kami saling bertemu dan bercampur menjadi satu, dan saat aku bergerak menimbulkan suara basah yang sangat merdu.
Ada perasaan kosong saat kenikmatan itu berlalu. Batangku perlahan-lahan melemas kehilangan tenaga dan aku merasa energi meninggalkan tubuhku begitu spermaku terkuras. Perlahan-lahan aku turun dari atas tubuh Ece dan memeluknya. Dia mencium pipiku sementara aku membelai lembut bulatan payudaranya.
“Terima kasih, Ar.” dia berkata.
“Sama-sama, Ce,” sahutku.
Kami menghabiskan waktu yang tersisa dengan bernapas dalam diam dan saling menikmati orgasme masing-masing. Aku berbaring di sebelahnya, menyadari kalau tubuh kami sama-sama berkeringat. Ece memegangi kontolku yang masih basah dan mengurut-ngurutnya lembut, berharap benda itu dapat bangkit kembali.
“Masih pengen ya, Ce?” aku bertanya dengan mulut berada di salah satu puting susunya.
“Pengen banget,” dia menjawab santai.
“Kok tumben sih Ece nagih terus?” Aku berguling dan kembali menindihnya. Kugesek-gesekkan penisku yang masih melembek di kehangatan liang vaginanya.
“Itu karena kontol Mas Ardi memang benar-benar mantab.” kata seseorang dari balik pintu.
Dengan terkesiap aku dan Ece langsung menoleh dan menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di pintu kamar tidurku yang kini terbuka, orang itu tersenyum menonton kami. Aku hampir pingsan saat melihat siapa yang berdiri di sana.
“Mitha?” aku mendesis.
Tapi Ece tidak menunjukkan keterkejutan seperti yang kualami. Dia malah tersenyum dan melambai. “Maaf ya, Mit, aku pinjam pacarmu sebentar.”
Mitha mengedikkan bahu, “Tapi nanti kembalikan lho, Kak. Aku kan juga pengen.”
“Kenapa nggak langsung gabung aja?” tanya Ece.
“Males ah, mau mandi dulu.” Mitha lalu melihat padaku dan berkata, “Santai aja, Mas. Kutunggu di kamar ya,” katanya sambil berlalu.
Apa-apaan ini?! Begitu kagetnya hingga aku tak bisa berkata-kata selama mereka mengobrol. Aku hanya diam melihat Mitha yang menghilang keluar dari rumahku, meninggalkan aku dan Ece kembali berdua.
“Kamu belum ngerti juga, Ar?” tanya Ece centil.
“Ngerti apaan?” aku menggeleng.
“Haduh, kamu ini...” Ece menatapku sebal. “Mitha sudah tahu dengan hubungan kita, dan dia tidak marah. Malahan, dia juga tahu kalau kamu sering tidur dengan Siska.”
“Begitukah?” aku bingung untuk sesaat, namun kemudian tersenyum. “dan dia juga nggak marah?” tebakku.
Ece mengangguk. “Mitha sudah ikhlas membagi tubuhmu, Ar.  Asal kamu tetap mencintainya, dia rela kamu tidur denganku maupun Siska.”
“Ada syaratnya, nggak? Kok kayaknya enak banget,” tanyaku curiga.
“Tanyakan aja sendiri,” Ece tertawa. Dia kembali memeluk tubuhku dan menyandarkan bulatan payudaranya di bahuku. “Lagi ya, Ar? Masih pengen nih,” bisiknya lembut.
Aku hanya bisa mengangguk. Apa yang terjadi barusan begitu mengguncangkan jiwa. Mitha membolehkan tidur dengan wanita lain asalkan aku tetap mencintainya... oh, sungguh hal yang sangat tak disangka-sangka. Hanya bisa kubayangkan dalam mimpi, namun ternyata kini terjadi.
Kembali kugeluti tubuh bugil Ece dua kali lagi sebelum kemudian aku beranjak menuju rumah Mitha. Dia sudah menungguku di ruang tamu dengan senyumnya yang manis.
“Maafkan aku, Mit. Sejak kapan kamu...” aku tak sanggup bertanya.
Dia menyuruhku agar duduk dulu. “Sejak pertama aku mau jadi pacar, Mas.” jawabnya santai, lalu melanjutkan, “Ece sudah bercerita semuanya. Awalnya aku memang kecewa dan sakit hati, tapi setelah kupikir-pikir, buat apa juga... sejak awal mas Ardi sudah melakukannya, sungguh egois kalau aku sampai melarang hanya karena kita pacaran.”
“Baik sekali kamu, Mit.” Aku bersimpuh di kakinya, “Tapi aku tetap harus meminta maaf. Kamulah yang selalu kucintai. Dengan mereka... aku hanya mengandalkan nafsu saja.”
“Aku mengerti, Mas. Karena itulah aku nggak marah. Tapi, aku meminta satu hal...”
“Apa, Mit. Katakan saja, pasti akan kupenuhi.” seruku cepat.
 Mitha memandang mataku dan berkata, “Seandainya kita nanti menikah, saat itulah mas Ardi harus berhenti. Mas harus jadi milikku satu-satunya,”
“Tentu, Mit. Bahkan seandainya kamu suruh sekarang, aku pasti juga akan mengabulkannya.”
Mitha tersenyum, lalu menggeleng. “Enggak, Mas. Untuk saat ini, Mas Ardi adalah milik bersama. Kita bebas untuk bersenang-senang,”
“Ah, Mitha..”  Aku hanya bisa mendesis karena detik berikutnya, Mitha sudah merangkul tubuhku dan memagutku mesra. Dia juga menarik celana kolorku ke bawah dan langsung meraih batang kontolku yang masih lemas.
“Masih ada isinya nggak ini?” dia berkata sambil memijitnya kuat, hingga membuat aku terlonjak.
“Terima kasih, Mit. Terima kasih atas pengertianmu,” kataku gemetar.
“Sama-sama, Mas. Sebaiknya kita cepat, Mas besok harus kerja ‘kan?” tanyanya sambil menatap kontolku penuh nafsu.
Malam itu kami bercinta sepuasnya. Entah berapa kali aku lemas di atas tubuh bugil Mitha, aku tak sempat menghitung lagi. Yang jelas, kontolku jadi sangat lemas dan spermaku berubah encer karena terus dikuras.
Sejak saat itu, atas kesepakatan bersama, aku diwajibkan memuaskan keinginan Siska, Ece dan Mitha secara bergiliran. Aku tentu saja senang. Tapi kalau memikirkan resiko yang harus kutanggung jika suatu saat Anton atau Kang Pardi tahu kalau istrinya kuselingkuhi, pasti aku akan dihajar habis-habisan. Akhirnya dengan berat hati aku keluar dari rumah kontrakan itu. Aku pamit pada Anton ingin kerja di kotaku saja. Siska melepasku dengan berlinang air mata, begitu juga dengan Ece. Hanya Mitha yang nampak ikhlas, karena kujanjikan kepadanya kalau nanti aku sukses, aku akan kembali dan menikahinya.
Nah sekian dulu kisahku. Sampai saat ini aku masih mencari pekerjaan. Bila ada pengusaha yang butuh karyawan, aku sangat bersedia membantu. Terima kasih sudah mau membaca coretanku, sampai jumpa di kisah-kisah selanjutnya.

E N D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar