Selasa, 05 September 2017

Duka Tak Bertepi 5

Sejak pagi buta Aisyah sudah sibuk di dapur. Bau masakan sangat harum, menggugah Gatot untuk bangun meski kantuk masih terasa. Bukan tanpa alasan Aisyah memasak di pagi buta. Ini hari yang dijanjikan Gatot. Suaminya berjanji akan mengajak ke penjara. Ia akan membesuk dan akan bertemu secara langsung dengan mertua untuk pertama kalinya.
“Mas Gatot masih ngantuk ya?” tanya Aisyah.
“Iya. Tapi bau masakanmu memaksaku bangun, Gatot menguap.
“Masakan ini untuk ayahmu, Mas. terang Aisyah.
“Astaga, Aisyah, aku sampai lupa. Kamu benar-benar ingin bertemu ayahku?” Gatot bertanya heran.
“Tentu saja, Mas. Aku kan istrimu. Artinya aku juga anak dari ayahmu, Aisyah tersenyum manis.
“Tapi ayahku lebih buruk dari yang kamu bayangkan, Aisyah. desah Gatot.
“Seburuk-buruknya manusia pasti masih punya sisi baik. Ingatlah pada diri Mas Gatot sendiri. Aisyah mengingatkan.

“Kamu ini, pagi-pagi sudah mengungkit-ungkit masa laluku, Gatot pura-pura tersinggung.
Aisyah tertawa kecil, ia tahu suaminya sama sekali tidak marah. Mana bisa Gatot marah terhadap wanita yang sejatinya lebih pantas digugu dan ditiru. Aisyah pasti tidak asal mengungkit masa lalu. Selalu ada sisi positif dari setiap perkataannya. Gatot adalah gambaran seburuk-buruknya manusia di masa lalu. Hampir semua kejahatan ia jalani. Hampir semua tempat maksiat ia kunjungi. Hampir semua preman dan penjahat ia hadapi. Tetapi ada musuh abadi yang belum pernah ia temui sejak kematian ibunya. Hari ini Gatot akan menemui musuh itu. Ayah kandungnya sendiri.
“Bawa juga anak-anak ya, Mas. Biar mereka tahu kakeknya. ucap Aisyah.
“Jangan, Aisyah. Tidak baik mengajak anak kecil ke penjara. Gatot nampak keberatan.
“Baiklah. Biar anak-anak di rumah bersama Minah, Aisyah membenahi jilbabnya yang agak tersingkap.
“Bagaimana menurutmu tentang, Minah?” tanya Gatot.
“Tidak ada masalah. Cuma agak ngeri juga melihat penampilannya, Mas. Aisyah menggeleng.
“Kamu ngeri membayangkan suamimu ini jatuh ke pelukan janda?” goda Gatot.
“Aah, Mas Gatot bisa saja. Biar saja Mas jatuh ke pelukan janda, cetus Aisyah.
“Beneran? Serius?” Gatot melongok.
Aisyah cemberut seperti marmut. Di mata Gatot Aisyah adalah marmut yang paling imut-imut. Hari mulai terang benderang. Dari ruang tengah terdengar celoteh Galang dan Gilang yang berebut mainan. Aisyah benar-benar menghentikan ASI untuk kedua balitanya. Dua botol susu menjadi pengganti ASI. Yang melegakan adalah Galang dan Gilang tidak butuh proses penyesuaian. Justru lebih lahap meminum susu botol. Beruntung kini ada Minah yang membantu mengurus.
“Mbak Aisyah, Galang dan Gilang kuajak belanja ya?” sapa Minah dari ruang tengah.
“Boleh. Tapi jangan beli jajan sembarangan ya, pesan Aisyah.
“Baik, Mbak. Saya berangkat. Minah menuntun Gilang di satu tangan dan Galang di tangan yang lain, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah.
Sepeninggal Minah, giliran Aisyah yang geleng-geleng kepala. Baru dua hari bekerja, tapi Minah sudah seperti bebas merajalela. Pakaiannya dari hari ke hari semakin pendek. Seperti hari ini, Minah mengenakan kaos berkerah rendah dan rok lima senti di atas lutut.
“Jangan mengambil keuntungan dari Minah ya, Mas, dia mendesah sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Gatot.
“Tidak akan, Aisyah. Kamu yang paling sempurna di mataku. Gatot mengecup pipi perempuan cantik itu.
“Aku percaya, Mas. Jadi kapan SK mutasi itu keluar?”
“Kepala Diknas bilang paling lama tiga hari lagi SK pemindahanmu terbit. Jadi sabar-sabar saja menghadapi mantan pacarmu itu, Gatot tersenyum kecut.
“Memangnya Mas Gatot tidak takut istrimu ini terjangkit penyakit CLBK?” Aisyah duduk tegak.
“Kalau kamu sampai CLBK, aku juga akan CLBK, Gatot tersenyum menantang.
“Memang Mas Gatot mau CLBK sama siapa? Lha wong Bu Murti sudah melupakan Mas,” Aisyah terkikik pelan.
Pagi diwarnai tawa berderai. Kecantikan Aisyah yang begitu menggoda membuat Gatot segera membopong tubuh istrinya itu ke kamar mandi. Di sana dia menelanjanginya dan langsung menindih Aisyah di lantai kamar mandi yang dingin.
Sementara itu di warung Mak Odah, Minah belanja bersama ibu-ibu kompleks yang lain. Warung adalah tempat segala gosip bertemu. Juga tempat ibu-ibu saling menggunjing. Termasuk Minah yang larut dalam obrolan. Galang dan Gilang malah dibiarkan bermain dengan bocah-bocah lain.
“Minah, kamu kerja di rumah Gatot ya?”
“Iya, Bu Hasnah. Baru dua hari kok,
“Kamu beruntung, Minah. Pasti Gatot memberimu gaji besar,
“Kata siapa, Bu? Mas Gatot sih maunya begitu. Tapi Mbak Aisyah tidak setuju. Jadi ya gajiku pas pasan, celetuk Minah.
“Ooo... Aisyah tidak mau buang uang buat kamu, Minah. Aisyah takut suaminya tergoda.
“Ah, Bu Sri bisa saja. Mas Gatot sudah berubah, Bu. Kalaupun Mas Gatot tergoda ya mau bilang apa?
Kalimat Minah disambut tawa riuh kaum hawa yang berbelanja. Gara-gara suara gaduh dari warung Mak Odah, membuat tidur Dewi terganggu. Warung Mak Odah memang berada persis di samping rumah Dewi. Sebab itu tiap kali belanja, Dewi tidak perlu ikut berkerumun seperti ibu-ibu lainnya. Dewi hanya perlu menjulurkan tangan memberikan secarik kertas kepada Mak Odah yang berisi daftar belanjaan. Mak Odah juga hanya perlu mengulurkan tangan meletakkan belanjaan di teras rumah Dewi.
“Dasar Ibu-Ibu doyan ngerumpi,” gumamnya kesal lalu melempar selimut dan mengintai dari jendela kamar. “Hmm, rupanya si janda ganjen itu yang bikin heboh,” akhirnya Dewi tahu penyebab kegaduhan. “Huh, mau-maunya Gatot dan Aisyah mempekerjakan parasit itu,” ketusnya membatin.
Bukan tanpa alasan Dewi menyebut Minah janda ganjen. Juga bukan tanpa sebab ia mengatai Minah sebagai parasit. Dewi berkaca pada pengalaman pribadi. Dulu Minah pernah setahun menjadi pembantunya. Waktu itu rumah tangganya dengan Haris masih harmonis. Tapi semenjak kehadiran Minah, keharmonisan itu perlahan terkikis. Haris mulai bertingkah aneh. Pernah sekali dua kali ia memergoki Haris dan Minah duduk berdekatan. Terakhir ia melihat Minah keluar dari gudang hanya memakai daleman. Sehari kemudian Haris yang nyaris telanjang keluar dari gudang. Alasannya bermacam-macam.
Akhirnya ia memberhentikan Minah dan mencari pembantu baru. Ternyata pembantu baru lebih gila dan lebih seronok dari Minah. Puncaknya ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri Haris suaminya bergumul dengan si pembantu di gudang. Usut punya usut, di gudang ada pintu rahasia yang selama ini digunakan Minah dan pembantu baru untuk bersembunyi. Pembantu rumah tangga yang menghancurkan perkawinannya.
Maka itu, ketika Gatot memutuskan mengambil Minah sebagai pembantu, ia langsung cemas. Andai saja Gatot dan Aisyah tahu kelakuan Minah, mereka pasti juga akan meninjau ulang keberadaan Minah. Sayangnya mereka tidak tahu kalau tiap kali belanja, Minah selalu membahas rumah tangga majikannya. Minah selalu mengutil sisa uang belanja dan menilep uang jajan si kembar. Sekali lagi Gatot dan Aisyah tidak tahu. Keduanya merasa aman meninggalkan si kembar bersama Minah. Pikir mereka Minah benar-benar bekerja mencari uang.
Jam delapan pagi, Gatot dan Aisyah meninggalkan rumah dengan diiringi lambaian tangan Galang dan Gilang yang akur di gendongan Minah. Tujuan mereka jelas. Arah perjalanan mereka sudah pasti. Hanya keraguan yang masih terbit di hati. Gatot tidak yakin bisa mengalahkan amarahnya saat berhadapan dengan sang ayah nanti.
Di dalam hati Aisyah sebenarnya juga ada sedikit ragu. Namun keraguannya lebih disebabkan oleh berita-berita yang beredar bahwa di masa lalu, ayahnya dan ayah Gatot adalah teman dekat. Jika itu benar, maka besar kemungkinan ayah kandungnya dulu juga adalah seorang penjahat. Jika dugaannya benar maka bisa dipastikan kematian ayahnya yang mengenaskan itu juga akibat dari perbuatan di masa lalu.
“Apa yang kamu pikirkan, Aisyah?” tanya Gatot sambil memegang bahu istrinya.
“Aku teringat almarhum Abah. Aku teringat saat-saat terakhir bersama Abah. jawab Aisyah sendu, dibiarkannya tangan Gatot turun ke arah bongkahan payudaranya.
“Sudahlah, Aisyah, kita sama-sama mendoakan Abahmu supaya mendapat ketenangan di alam sana,” ujar Gatot sambil menekan dalam-dalam perasaan bersalah yang bergejolak, bersamaan dia juga menekan kuat-kuat buah dada Aisyah yang terasa begitu lembut dalam genggamannya.
“Iya, Mas. Setidaknya aku masih punya ayah lain. Ayahmu, Mas. ucap Aisyah penuh desah. Payudaranya terasa geli saat terus dipijit dan diremas-remas oleh Gatot.
“Jangan terlalu berharap, Aisyah. Kamu belum tahu siapa ayahku sesungguhnya. Gatot memasukkan tangannya ke balik baju, diraihnya puting Aisyah yang mulai menegang dan perlahan dipilinnya lembut.
“Anak adalah cerminan dari orangtua, Mas. Dengan mengetahui kisah hidup Mas Gatot, sama saja aku mengetahui sejarah hidup seluruh keluarga Mas. Aisyah menggelinjang. Kalau saja tidak di dalam mobil, ingin ia menjatuhkan diri ke pelukan Gatot saat ini juga.
“Aisyah, bagaimana kabar ibumu? Lain kali kita ke Cemorosewu ya, tanya Gatot mengalihkan pembicaraan, bersamaan dengan tangannya yang beralih ke gundukan yang satunya.
“Bagaimana kalau hari ini saja, Mas? Jadi sekalian biar tidak mengganggu kesibukan kita. Aisyah mengusulkan. Matanya terpejam menikmati belaian lembut Gatot di kedua payudaranya.
“Boleh. Rapikan jilbabmu. Kita akan segera sampai di rutan, kata Gatot mengangguk, dan cepat-cepat menarik tangannya.
Aisyah merapikan jilbab dan gaun yang sempat diacak-acak Gatot. Laju mobil melambat saat memasuki gerbang rumah tahanan negara. Sesaat kemudian berhenti. Gatot yang pertama kali keluar, disusul Aisyah, lalu mereka berjalan beriringan. Para sipir penjara tergopoh-gopoh seperti kedatangan tamu besar. Bahkan tak terkecuali Kepala Rutan ikut menyambut. Gatot jadi kurang nyaman. Aisyah juga merasa sambutan terlalu berlebihan.
“Akhirnya kamu datang juga, Tot. kata Kepala Rutan.
“Iya, Pak. Saya mengantar istri saya ini. Gatot menyambut uluran tangan laki-laki itu.
“Ayahmu pasti senang. Mau langsung menemui beliau?” tanyanya.
“Benar, Pak.” Gatot mengangguk. “tapi tidak perlulah diantar. Cukup berikan saja di sel berapa Ayah ditahan.
“Lurus saja, Tot. Di ujung lorong itu Ayahmu.
Gatot menggamit Aisyah kuat-kuat saat berjalan menyusuri lorong panjang. Para tahanan di sisi kiri kanan dari depan sampai belakang semua tak luput bahkan beberapa memanggil namanya. Gatot tak peduli. Aisyah juga tak ambil pusing. Tentu saja para penghuni sel tahanan itu rata-rata mengenal atau minimal tahu sepak terjang Gatot. Salah satu alasan yang membuat Gatot sebenarnya alergi mendatangi penjara. Kalau bukan demi memenuhi keinginan Aisyah, tidak akan sudi dirinya menginjakkan kaki di tempat yang dulu juga pernah ia huni. Dan ketika tiba di ujung lorong, tak ada siapapun yang ia lihat. Sel yang ditunjukkan sipir sebagai sel Ayahnya tampak kosong melompong.
“Di mana Ayahku?” gumam Gatot.
“Maaf, Mas Gatot. Pak Karso masih membersihkan musholla. Sebentar lagi juga kembali ke sel. kata seseorang bertubuh besar penuh tato, sepertinya teman sel ayahnya.
“Biar kami susul ke sana, Gatot mengangguk mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya hari ini bukan jadwal besuk. Gatot tahu para keluarga tahanan diberi jadwal tiap hari jum’at. Tetapi Kepala dan Sipir penjara tahu siapa dirinya dan memberinya kesempatan untuk menjenguk ayah yang selama ini belum pernah ia temui. Bahkan seperti apa wajah dan perawakan ayahnya, ia juga tidak tahu pasti.
“Di depan itu mushollanya ya, Mas?” ucap Aisyah.
“Benar, Aisyah. Yang di sebelah kanan musholla itu ruang isolasi. terang Gatot.
“Mas Gatot baik-baik saja?” tanya Aisyah mendengar suara Gatot sedikit bergetar.
“Aku tidak pernah merasa baik tiap kali mendatangi tempat ini, Aisyah. ucap Gatot getir.
Aisyah memeluk erat pinggang suaminya. Semakin dekat semakin hebat tekanan yang dirasakan Gatot. Ketika benar-benar berada di lantai musholla, Gatot berhenti melangkah, namun Aisyah tetap menariknya dengan lembut dan halus. Setapak demi setapak serasa berat. Hingga di hadapan mereka tampak sosok lelaki tua yang duduk bersimpuh. Gatot terhenyak sekaligus tertegun. Benarkah lelaki tua yang bersimpuh menadahkan tangan khusyuk berdoa itu adalah ayahnya?
Sampai lelaki tua itu selesai berdoa dan mengusapkan kedua telapak tangannya yang keriput, Gatot masih terpaku. Ketika lelaki tua itu berbalik, barulah Gatot yakin lelaki tua berwajah cerah di hadapannya benar-benar…
“Bapak!” lirih Gatot dengan mata berkaca-kaca.
“Allah Maha Besar, Tot. Tiap ada kesempatan Bapakmu ini selalu berdoa kamu datang meski sekali saja. ucap ayahnya tersengal.
“Bapak! Maafkan Gatot, Pak! Ampuni Gatot!” Hilang kegarangan Gatot. Lenyap amarah yang sempat bergejolak. Gatot luruh, jatuh bersimpuh di pangkuan lelaki tua yang tak lain adalah ayah kandungnya.
Aisyah ikut menangis menitikkan airmata. Suasana haru bercampur bahagia. Untuk pertama kalinya Aisyah bertemu Karso, mertuanya. Tidak seperti yang digembar-gemborkan orang selama ini. Tanpa ragu Aisyah ikut bersimpuh, meraih telapak tangan Karso dan mencium punggung telapak tangan laki-laki tua itu. Gatot masih sungkem tunduk dalam-dalam di pangkuan Ayahnya. Sampai Karso menegakkan tubuhnya.
“Inikah istrimu, Tot?” tanya Karso sambil memandang Aisyah, seperti menilainya.
“Iya, Pak. Saya Aisyah, istri Mas Gatot.” jawab Aisyah takzim. Ini saya bawakan sekedar masakan buat Bapak. Aisyah menyerahkan bungkusan yang tadi ia bawa.
“Bersyukurlah kamu, Tot.” Karso mendesah. Aisyah, terima kasih kamu mampu merubah putraku. dia berpaling pada Aisyah dan tersenyum bangga.
“Mas Gatot sendiri yang bertekad berubah, Pak. Saya cuma memberi dorongan. Aisyah menjawab malu.
Ada kelegaan tersendiri yang merayap di hati Gatot. Ayahnya seratus persen, bahkan seribu persen berubah. Tidak ada wajah garang dan sangar. Tidak ada otot-otot kuat dan kekar. Tidak ada tatapan mencorong gahar. Dan tidak ada hawa jahat. Ayah yang sedang berbincang-bincang dengan Aisyah kini adalah sosok lemah tak berdaya, manusia berwajah cerah. Manusia yang memancarkan rasa penyesalan sesungguhnya.
Gatot melihat lingkaran agak kehitaman di dahi ayahnya. Lingkaran yang tercipta karena begitu sering bersujud. Pandangan mata ayahnya juga redup. Tetapi Gatot tetap melihat perawakan ayahnya yang kokoh. Itu saja yang tersisa sebagai tanda di masa lalu lelaki tua bersahaja ini adalah manusia tak kenal dosa. Tampaknya penjara telah merubah Karso secara total. Gatot bahagia. Aisyah turut gembira, ia bercakap-cakap dengan ayah Gatot seperti bercakap-cakap dengan almarhum ayahnya sendiri.
“Inilah hidup. Bagi Bapak lebih baik menghabiskan sisa hidup di penjara ini daripada hidup bebas di dunia luar, Karso berucap.
“Gatot ingin Bapak bersumpah tidak akan kembali ke jalan itu, Gatot memegang lembut tangan ayahnya.
“Gatot, sudah sejak lama Bapak mengangkat sumpah di hadapan Yang Maha Kuasa. Harusnya kamu juga berhenti total, Tot. Istri dan anak-anakmu, keluargamu adalah harta paling berharga dan paling mulia. jelas Karso.
“Aku sudah berhenti total, Pak. Aku tidak ingin kehilangan kebahagiaan bersama keluargaku. kata Gatot.
“Kita makan sama-sama masakan istrimu ini, Karso membuka bungkusan dan menaruhnya di hadapan mereka.
“Maaf, Pak, boleh Aisyah bertanya?” seru Aisyah tiba-tiba.
“Silahkan, Nak. Tanyakan apa saja yang bisa Bapak jawab, Karso memandang wajah menantunya yang cantik jelita tersebut.
“Apakah Bapak mengenal Asnawi?” tanya Aisyah ragu.
“Iya, Nduk. Tapi Asnawi lebih dulu menemukan pencerahan hidup ketimbang Bapak. Di saat Bapak masih hitam, Asnawi sudah bisa memutihkan hidupnya. Terakhir Bapak dengar, dia jadi Kepala Desa Cemorosewu. jelas Karso.
“Saya Putri kandung Asnawi, Pak.
Pengakuan Aisyah seketika membuat air muka Karso berubah. Wajahnya agak menegang dan bibirnya bergetar-getar seakan hendak mengatakan sesuatu, tetapi tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Gatot memahami perubahan ayahnya. Gatot tahu ayahnya terkejut punya menantu yang tak lain adalah putri dari Asnawi, salah satu dari empat pria yang menghancurkan keluarga mereka. Cukup lama Karso menatap Aisyah sebelum kemudian menghela napas dan kembali bersikap seperti sedia kala.
“Bagaimana kabar Ayahmu, Nduk? Bagaimana kabar Ratmi, ibumu?” tanya Karso.
“Abah sudah meninggal, Pak. Ibu menikah lagi. jelas Aisyah.
“Ya Allah, secepat itu Asnawi mendahului kami, Karso seperti menggumam.
“Abah meninggal dibunuh orang, Pak. Abah terbunuh oleh masa lalunya. Aisyah berkata sendu.
Ganti Karso yang menatap tajam ke arah Gatot. Matanya seperti sebilah pisau belati yang menembus dan mengoyak-ngoyak, membuat Gatot meringis menggigit bibir. Gatot tahu ayahnya pasti langsung bisa menerka siapa pembunuh ayah kandung Aisyah. Tatapan mata elang ayahnya sudah membuktikan dirinyalah tertuduh di mata elang itu.
“Gatot, Aisyah, dendam bisa menghancurkan banyak hal. Jangan biarkan dendam meracuni kehidupan kalian. ucap Karso tegas.
“Aisyah sudah ikhlas lahir batin, Pak. Aisyah hanya mendoakan semoga pembunuh Abah diberi jalan terang oleh Allah. Siapapun dia, Aisyah tidak akan menaruh dendam. kata Aisyah.
“Begitu juga kamu, Tot. Singkirkan dendam yang meracuni hati dan pikiranmu. Bapak sudah menyelesaikan semua urusan masa lalu kita. Janganlah kamu mencari-cari lagi orang-orang itu. pesan Karso pada anaknya..
“Gatot sudah benar-benar kapok, Pak. Gatot tobat, ucap Gatot sungguh-sungguh.
“Tobatlah yang sesungguhnya. Ayo kita makan bertiga, ajak Karso kemudian.
Masih ada setitik sinar angkara di balik tatap sayu ayahnya. Gatot bisa menangkap angkara murka itu. Mati dibalas mati. Siksa dibalas siksa. Darah dibalas darah. Gatot yakin ayahnya sudah membalaskan semua itu kepada orang-orang yang dulu menghancurkan kehidupan mereka. Gatot cuma merasa heran kenapa ayahnya tidak membalaskan dendam kepada Asnawi. Kenapa ayahnya tetap membiarkan Asnawi hidup hingga ia sendiri yang terpaksa membalaskan dendam itu. Keterpaksaan yang berujung penyesalan mendalam saat tahu Asnawi, pria tua yang ia bunuh di malam jahanam itu adalah ayah kandung Aisyah, wanita berhati mulia yang kini menjadi istrinya, wanita cantik jelita yang sudah memberinya dua anak kembar.
Banyak hal yang dibicarakan ketiga insan itu. Setelah hampir dua jam barulah Gatot dan Aisyah sungkem mohon diri. Karso ikut mengantar kepergian putra dan menantunya sampai halaman rutan. Ada setitik airmata haru dan bahagia mengalir di pipi Karso yang mulai keriput dimakan usia. Bahagia karena Gatot sudah mau menemuinya. Bahagia karena Gatot sudah berjalan di jalur yang terang benderang. Bahagia karena Tuhan memberikan jodoh yang tepat untuk Gatot. Di tangan Karso masih tergenggam bungkusan cokelat yang tadi diberikan Gatot. Setelah mobil Gatot hilang dari pandangan barulah Karso kembali ke dalam penjara dikawal oleh dua orang sipir.
“Mbah Karso, Mas Gatot sekarang sudah kaya raya, ucap salah satu sipir.
“Biarlah. Mbah tidak akan mengganggu kehidupan Gatot, sahut Karso ringan.
“Bungkusan itu pasti isinya uang, Mbah. Kami cuma minta uang rokok, Mbah. sipir yang satu menjelaskan maksud sebenarnya.
“Kalian ini aparat keparat. Kapan kalian mau tobat?” bentak Karso murka.
Dua sipir cuma cengar-cengir di cap sebagai aparat keparat. Tapi tetap saja Karso mengeluarkan tiga lembar uang dari dalam bungkusan cokelat itu. Dua sipir langsung angkat kaki. Karso juga melangkahkan kaki diiringi tatapan mata napi-napi lain. Penjara telah benar-benar memutarbalik kehidupan dan sifat tabiat Karso. Dia dipanggil Mbah oleh para penghuni penjara yang lain karena memang yang paling tua. Selain itu juga paling dihormati dan disegani. Para napi dan sipir sadar, di balik tubuh tua Karso masih tersimpan kekuatan besar.

***

Sebuah mobil baru saja meninggalkan pusat kota. Gatot dan Aisyah meneruskan perjalanan menuju Cemorosewu. Gatot lebih banyak diam, membuat Aisyah jadi ikut-ikutan diam. Tapi bukan Aisyah kalau membiarkan suasana tidak menyenangkan itu berlarut-larut. Dengan lembut jemari lentiknya satu kali mencubit perut Gatot. Disusul kepalanya yang bersandar di bahu sang suami. Gatot menghela napas dan memperbaiki posisi agar lebih nyaman mengemudi tanpa terganggu oleh Aisyah yang mulai jinak-jinak merpati, mulai raba sana-sini.
“Mas Gatot sudah lega kan? Aku juga lega bisa bertemu Bapak, kata Aisyah sambil tangannya melucuti ikat pinggang Gatot.
“Aku senang Bapak berubah total Aisyah. Beliau jadi alim. Mmpph! desah Gatot begitu Aisyah merogoh ke balik celana dan memegangi batang penisnya yang sudah keras seperti baja.
“Pada dasarnya manusia itu alim semua, Mas. Hanya faktor lingkungan yang mempengaruhi. Aisyah melirik ke bawah, melihat batang Gatot yang nampak mengacung tegang sekali. Segera ia mengocoknya perlahan dengan menggunakan jari-jari tangannya yang lentik.
“Aku memang lahir dan besar di lingkungan kotor, Aisyah. Kompleks yang dulu sangat jauh berbeda dengan kompleks sekarang. sela Gatot sambil mendesah keenakan, matanya melirik bukit kembar montok yang menggantung di dada sang istri.
“Bu Murti sudah banyak cerita, Mas. Yang penting sekarang kompleks sudah jadi kawasan aman dan nyaman. Aku betah, Aisyah tersenyum senang sambil menaruh tangan Gatot ke atas gundukan buah dadanya.
“I-iya,” Gatot menyeringai gembira, dan langsung meremas-remas kedua bukit kembar milik Aisyah dengan bebas dan sepuas-puasnya.
“Gimana, Mas. Enak nggak?” tanya Aisyah sambil melirik wajah sang suami. Dia penasaran, ingin tahu bagaimana rasanya bercinta di dalam mobil yang sedang berjalan. Mengingat hal ini, Aisyah jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakin menggebu-gebu.
Dibiarkannya Gatot terus meremas-remas buah dadanya sesuka hati sambil tetap menyetir. Malah Aisyah sengaja membusungkan dadanya agar Gatot dapat melihat dengan jelas keindahan benda bulat yang paling ia banggakan itu. Gatot sekarang mencoba memilin-milin putingnya sambil melirik ke wajah Aisyah yang nampak meringis seperti menahan sesuatu.
“Sakit, Aisyah?” tanya Gatot.
“Nggak, Mas. Terus saja. Jangan berhenti. Ya begitu... terus remas-remas sambil nyetir. Uuugghh...”
Gatot mengikuti semua perintah Aisyah. Ia menikmati sekali remasannya pada sang istri yang begitu kenyal, montok dan ohh... asyik sekali! pikir Gatot dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin menciumi buah dada itu dan mengemuti putingnya seperti yang sering dilakukan oleh Galang dan Gilang.
Maka Gatot segera meminggirkan mobilnya dan memarkirnya di tepi jalan dengan kondisi mesin tetap menyala. Aisyah terperanjat akan perubahan ini, namun dia sekaligus juga senang karena sedotan-sedotan pada putingnya terbukti semakin membuatnya terangsang. Apalagi tangan Gatot yang satunya sudah mulai berani mengelus-elus paha serta merambat naik ke balik baju kurung yang Aisyah kenakan.
Perasaan Aisyah serasa melayang dengan cumbuan itu. Ia sudah tak sabar menunggu gerayangan tangan Gatot di balik roknya segera sampai ke pangkal pahanya. Tapi nampaknya tidak sampai-sampai. Akhirnya Aisyah pun mendorong tangan itu menyusup lebih dalam dan langsung menyentuh daerah paling sensitif miliknya yang masih terbalut pakaian dalam.
“Yah, yang itu, Mas,” desahnya lirih.
Gatot terperanjat begitu jemarinya menyentuh daerah yang terasa begitu hangat dan lembab. Hampir saja ia menarik lagi tangannya kalau tidak ditahan oleh Aisyah. “Kamu sudah basah?”
“Habis, Mas Gatot pegang-pegang melulu dari tadi. Ahh... aku kan jadi... pelan-pelan, Mas... yah terus... begitu... ughh... teruusshh... enak, Mas!”
Gatot jadi semangat mendengar erangan Aisyah yang begitu merangsang pikirannya. Sambil terus mengemot puting susu perempuan itu, jemarinya mulai berani mempermainkan bibir kemaluan Aisyah. Terasa hangat dan sedikit basah. Dicoba-cobanya menusuk celah di antara bibir itu. Terdengar Aisyah melenguh nikmat. Gatot meneruskan tusukannya. Cairan yang mulai merembes di daerah itu membuat jemarinya melesak dengan mudah ke dalam dan terus meluncur semakin dalam.
“Ahh... masukin terus, Mas... ya begitu... ohh!!” desah Aisyah mulai meracau, ucapannya sudah tersendat-sendat akibat saking hebatnya rangsangan Gatot ke sekujur tubuhnya.
Sambil terus menyuruh Gatot berbuat ini-itu, tangan Aisyah mulai menggerayang ke tubuh sang suami. Pertama-tama ia lucuti kemeja Gatot, kemudian ia lepaskan juga ikat pinggang serta resleting celana Gatot dan langsung Aisyah merogoh ke balik celana dalam itu.
“Mmmpphh...” desah Aisyah begitu merasakan batang penis Gatot sudah keras seperti baja.
Ia melirik ke bawah dan melihat batang Gatot mengacung tegak sekali. Besar dan panjang. Dengan gemas Aisyah segera mengocoknya perlahan. Dan Gatot pun melenguh keenakan.
“Oouhh... Aisyah... e-enaak!!” pekiknya perlahan.
Aisyah tersenyum senang mendengarnya. Kejujuran Gatot semakin membuatnya terangsang, dan ia juga tak tahan menghadapi emotan bibir sang suami di puting susunya, serta gerakan jemari Gatot di dalam liang vagiananya. Rasanya Aisyah tak kuat lagi menahan desakan hebat dari dalam dirinya.
Tubuhnya bergetar... lalu, Aisyah pun merasakan semburan hangat dari arah dalam berkali-kali. Ia sudah orgasme. Heran juga. Tak seperti biasanya ia secepat itu mencapai puncak kenikmatannya. Entah kenapa. Mungkin karena dari tadi ia sudah terlanjur bernafsu, ditambah pengalaman baru bercinta di dalam mobil, jadi membuatnya cepat sekali orgasme.
Gatot terperangah menyaksikan ekspresi wajah Aisyah yang nampak begitu puas. Guncangan tubuh perempuan itu membuat Gatot menghentikan sejenak gerakannya. Ia takut malah membuat Aisyah kesakitan kalau memaksa meneruskan.
“Kamu nggak apa-apa kan, Aisyah?” tanya Gatot.
“Nggak apa-apa, Mas. Justru aku sedang menikmati perbuatan Mas Gatot,” demikian kata Aisyah seraya menciumi wajah sang suami. Dengan penuh nafsu bibir Gatot dikulumnya, lalu dijilatinya sementara kedua tangannya menggerayang ke sekujur tubuh lelaki itu.
Gatot senang melihat kegarangan Aisyah. Ia balas menyerang dengan meremas-remas gemas kedua payudara sang istri, lalu mempermainkan putingnya yang telah menegang tegak.
“Aduh, Mas... enak sekali. Mas Gatot pinter... ughh!” erang Aisyah penuh kenikmatan.
Aisyah benar-benar mencintai Gatot. Ia ingin memberikan yang terbaik buat sang suami, memberikan sebuah kenikmatan yang tak akan pernah dilupakan oleh Gatot. Maka segera Aisyah mendorong tubuh Gatot hingga telentang lurus di kursi depan dan mulai menciuminya dari atas hingga bawah. Lidahnya menyapu-nyapu di sekitar kemaluan Gatot, melumat batang yang sudah tegak bagai besi tiang pancang itu dan megulumnya rakus dengan penuh nafsu.
Tubuh Gatot berguncang keras merasakan nikmatnya cumbuan Aisyah yang begitu lihai. Apalagi saat lidah basah Aisyah mulai mempermainkan biji pelernya, kemudian melata-lata ke sekujur batang kemaluannya. Gatot merasakan bagian bawah perutnya berkedut-kedut akibat jilatan itu. Bahkan saking enaknya, Gatot merasa tak sanggup lagi menahan desakan yang akan menyembur dari ujung moncong kemaluannya.
Aisyah rupanya merasakan hal itu. Ia tak menginginkannya. Maka dengan cepat ia melepaskan kulumannya dan langsung memencet pangkal batang kemaluan Gatot sehingga tidak jadi menyembur.
“Ah, Aisyah... kenapa?” tanya Gatot bingung karena barusan ia merasakan air maninya sudah akan muncrat tapi tiba-tiba saja urung.
“Nggak apa-apa, Mas. Tahan dulu, biar tambah enak,” jawab Aisyah seraya naik ke atas tubuh Gatot.
Dengan posisi jongkok dan kedua kaki mengangkang, Aisyah mengarahkan batang penis Gatot persis ke arah liang vaginanya. Perlahan-lahan tubuh Aisyah turun sambil memegang penis Gatot yang sudah mulai masuk.
“Ughh.. enak nggak, Mas?” desah Aisyah menggoda.
“Aduhh... Aisyah!! Sedap!!” pekik gatot tak tahan.
Gatot merasakan batang penisnya seperti disedot-sedot oleh  liang vagina Aisyah. Terasa sekali kedutan-kedutannya, apalagi saat ia mulai menggerakkan pantatnya naik turun, menusuk cepat keluar masuk di liang kenikmatan sang istri. Aisyah yang tak mau kalah, ikut menggoyangkan pantatnya ke kanan dan ke kiri mengimbangi tusukan batang penis Gatot.
“Aughh... Mas, enakk! ” jerit Aisyah seperti kesetanan. “Terus, Mas... jangan berhenti... yah, tusuk di situ... aughh.... aahh..”
Gatot mempercepat gerakannya karena mulai merasakan air maninya akan segera muncrat. “Aisyah, a-aku mau keluaarr...” jeritnya.
“Iya, Mas... ayo, keluarin saja. Aku juga mau keluar... yah teruss... oohh... terus!!” kata Aisyah tersengal-sengal.
Gatot mencoba bertahan sekuat mungkin dan terus menggenjot liang vagina Aisyah dengan tusukan bertubi-tubi sampai akhirnya ia kewalahan menghadapi goyangan pinggul wanita cantik ini. Dengan badan terangkat ke atas dan sambil memeluk tubuh Aisyah erat-erat, Gatot pun menyemburkan cairan kentalnya berkali-kali.
“Crot.. croott.. crott..!!”
“Aaakkhh..” Aisyah juga mengalami orgasme. Sekujur tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan erat Gatot. “Ooohh.. Mas, enak sekali.”
Kedua insan yang tengah lupa daratan ini bergulingan di atas jok mobil merasakan sisa-sisa akhir dari kenikmatan itu. Napas mereka tersengal-sengal. Peluh membasahi seluruh tubuh keduanya meski udara di luar cukup dingin. Nampak senyum Aisyah mengembang di bibirnya yang tipis, penuh dengan kepuasan. Ia melirik gemas kepada Gatot.
“Gimana, Mas. Enak kan?”
“Iya, Aisyah. Enak sekali,” jawab Gatot seraya memeluk perempuan itu. Tangannya mencolek nakal ke buah dada Aisyah yang menggelantung persis di depan mukanya.
“Ih, Mas nakal deh,” sahut Aisyah genit. Tangannya kembali merayap ke arah batang penis Gatot yang sudah lemas. Ia elus-elus perlahan benda panjang itu hingga perlahan mulai memperlihatkan kembali kehidupannya.
“Aku bersihkan ya, Mas?” tawar Aisyah.
Gatot hanya bisa mengangguk dan kembali merasakan hangatnya mulut sang istri ketika mengulum batang penisnya. “Aisyah, tidakkah kamu mengkhawatirkan anak-anak?” tanyanya di sela-sela hisapan.
“Minah bisa kita percaya, Mas. Kita lihat saja dalam sebulan ini, kalau bagus ya kita pakai terus. Aisyah menyerahkan kembali penis Gatot yang sudah bebas dari ceceran sperma. Selanjutnya mereka segera membenahi pakaian dan kembali melaju karena gerbang desa Cemorosewu sudah nampak di depan mata.
Jalan setapak mulai berbatu. Gatot heran sudah tiga tahun lamanya tapi jalan desa ini tidak ada perubahan sama sekali. Masih berupa jalan tanah dan makadam. Truk-truk pengangkut pasir juga masih lalu lalang membuat debu beterbangan. Yang berubah adalah rumah orangtua Aisyah. Rumah yang dulu sudah dijual. Sekarang Ibu Aisyah tinggal agak jauh dari balai desa. Perlu dua kali belok kanan dan sekali belok kiri sebelum mobil memasuki halaman luas. Gatot menghentikan mobil dan memandang sekeliling lalu keluar dan melangkah menuju rumah berlantai dua. Seorang wanita paruh baya menyambut dengan ditemani seorang lelaki yang tidak begitu tua.
“Gatot. Aisyah. Kok tidak memberitahu kalau mau berkunjung?” tanya wanita itu dengan tersenyum lebar.
“Iya, Ummi. Tadinya sih cuma mau jalan-jalan. Lalu Mas Gatot mengajak kemari. jawab Aisyah.
“Masuklah. Mana Galang dan Gilang?” perempuan itu menoleh ke arah mobil.
“Mereka ada di rumah. Kami menyewa pembantu, Bu. sahut Gatot.
“Hati-hatilah, Tot. Jangan terlalu percaya pada pembantu. Aisyah, kamu juga harus hati-hati, pesan perempuan itu, tapi dengan maksud lain.
“Ummi, aku dan Mas Gatot sudah saling percaya kok, Aisyah menjawab enteng.
“Bukannya Ummi curiga. Aisyah. Ummi cuma mengingatkan kalian berdua. dia kembali tersenyum.
“Kami mau ziarah ke makam Abah. Ummi mau ikut?” tawar Aisyah.
“Tidak. Ummi siapkan makan siang saja. Oh ya, Tot, bisa pinjam mobilmu? Bapak mau ke jalan raya sebentar, tanya sang ibu mertua.
“Pakai saja, Bu. Kami juga nanti sore baru pulang. sahut Gatot.
Dia segera menyerahkan kunci mobil kepada pria yang merupakan ayah tiri Aisyah. Kemudian berdua dengan Aisyah, ia berjalan kaki melewati hamparan sawah. Udara segar. Sesekali angin nakal mengacaukan gaun panjang Aisyah. Mereka juga harus menyeberangi sungai kecil untuk mengambil jalan pintas sebab jika melalui jalan desa bisa memutar dan itu akan lama.
“Almarhum Abah sangat menyayangimu ya, Aisyah. Beliau pasti benar-benar menjaga dan merawatmu. ucap Gatot.
“Iya, Mas. Jujur aku sangat terpukul saat Beliau meninggal. Tapi siapa yang mampu melawan takdir?” Aisyah mengangkat bahu.
“Tidak ada, Aisyah. Takdir juga yang menjodohkan kita berdua kan?” Gatot tersenyum memandangi wajah cantik sang istri.
Benar, Mas. Padahal bisa saja aku mencari lelaki yang lebih tampan dari Mas Gatot. goda Aisyah.
“Memangnya ada yang lebih tampan dariku? Atau jangan-jangan kamu masih ngiler dengan si Reihan itu?” sahut Gatot.
“Aaahh, Mas Gatot kumat. Reihan hanyalah masa laluku, Mas. Untuk saat ini dan di saat-saat selanjutnya cuma Mas Gatot yang akan kujadikan pegangan. Aisyah berkata yakin.
“Bagaimana jika suatu hari nanti peganganmu rapuh, masihkah kamu akan tetap memegangnya, Aisyah?” tanya Gatot.
“Tidak akan ada yang rapuh selama kita saling percaya, Mas. ucap Aisyah.
Gatot memeluk Aisyah dan mereka terus berjalan hingga tiba di pemakaman desa. Aisyah benar. Tidak akan pernah ada yang rapuh selama rasa saling percaya masih mewarnai perjalanan rumah tangga. Jika pun akhir-akhir ini ada sedikit bumbu kehadiran masa lalu, tetapi Gatot tetap menaruh kepercayaan kepada Aisyah.
Di sisi makam Asnawi, sepasang suami istri itu memanjatkan untaian doa kepada Yang Maha Segalanya. Tak peduli matahari terus merayap naik, mereka tetap bersimpuh bersisian mengheningkan segenap panca indra. Terutama Gatot yang dalam hati mengucap beribu ribu doa penyesalan dan doa pengampunan.

1 komentar: