Jumat, 15 September 2017

Hasrat Tak Tertahan

Udara dingin dalam cuaca mendung gelap yang menyesakkan. Sudah dua hari ini matahari enggan untuk menampakkan sinarnya. Angin kencang menggoyang daun-daun kering yang tampak ringkih bertahan di dahan. Hari-hari di bulan desember yang selalu basah dan gelap.
“Dek, abang berangkat dulu ya.”
“Hati-hati di jalan, Sayang. Jangan ngebut, ya?”
Lelaki yang dipanggil sayang itu tersenyum. Wajahnya sebenarnya cukup lumayan, agak ganteng kalo dilihat dari Monas pake sedotan. Tubuhnya kurus kering, dengan kulit coklat kehitaman terbakar matahari. Rambutnya yang kriwil makin menambah kesan tak terurus pada diri pria itu. Ia  mengecup kening dan pipi istrinya yang bulat dan menggelitik pinggang ramping milik wanita itu.
“Ih, abang nakal.” wanita itu menepis tangan suaminya yang mulai merambat menyusuri belahan buah dadanya yang besar. “Sudah ah, nanti Papa terlambat.” Dia mengingatkan.

“Adek cantik deh.” laki-laki itu kembali mengecup bibir sang istri. Wanita itu membalasnya singkat.
“Sudah siang, bang.” dia kembali mengingatkan.
“Nanti masakin yang enak ya, Sayang.” bisik laki-laki itu sebelum keluar pintu.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Dia merasa bersyukur punya suami seperti Tarno, meski jelek tapi cukup bertanggung jawab. Itulah yang membuat Sari perlahan mulai bisa menerima kehadirannya, dan tanpa sadar, mulai mencintainya.
“Hati-hati di rumah ya, Sayang.” teriak Tarno sebelum masuk ke dalam kendaraan.
Di belakangnya, Sari memandangi dengan mata berkerlip. Ada cinta disana, yang perlahan makin membesar dari hari ke hari. Suaminya memang tidak ganteng, dia tahu itu karena Tarno adalah mantan sopir pribadinya. Mereka menikah karena Sari sudah hamil duluan, dan ironisnya, bukan dengan Tarno. Sari dihamili oleh pacarnya, yang langsung kabur begitu tahu kalau gadis itu berbadan dua. Untuk menyelamatkan muka keluarga, ayahnya segera menikahkan gadis itu dengan siapa saja yang mau, dengan imbalan uang puluhan juta rupiah.
Tarno yang mendengar hal itu, tanpa perlu berpikir 2 kali, langsung menerimanya. Sebenarnya, tanpa imbalan uangpun, dia akan dengan senang hati melakukannya. Siapa sich yang tidak ingin menikahi gadis secantik Sari, yang kemolekan tubuhnya sanggup membuat Aura Kasih minder, biarpun gadis itu sedang hamil. Peduli setan, bagi orang jelek seperti Tarno, itu tidak masalah, yang penting bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh gadis itu. Apalagi ini ditambah iming-iming uang 50 juta rupiah, yang membuat penawaran itu makin mustahil untuk ditolak.
“Jangan malam-malam ya pulangnya.” wanita itu mengantar Tarno sampai ke halaman depan. Wajah cerah dan cantik yang setiap hari melepasnya pergi, dan selalu mengisi benaknya selama jam kerja. Selalu membuat Tarno tak sabar untuk pulang ke rumah.
Selalu?

***

“Ibunya ada, Dek?” Sari bertanya pada bocah kecil berumur 3 tahun yang sedang asyik mencoret-coret dinding rumah.
Bocah itu mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. “Di dalam.” sahutnya singkat.
Sari segera masuk ke dalam, meninggalkan bocah itu sendirian. Seperti biasa, dia menerobos rumah itu tanpa perlu merasa sungkan sedikitpun. Dia sudah mengenal baik pemilik rumah itu. Anita adalah tetangganya, sekaligus teman pertamanya saat awal dia pindah ke perumahan ini. Usia keduanya yang hampir sebaya membuat mereka cepat akrab. Hari ini, Sari berniat untuk belajar memasak. Kemarin Anita sudah janji untuk mengajarinya membuat nasi Rawon kesukaannya.
“Mbak, Mbak Nita?” Sari memanggil sambil terus melangkahkan kakinya. Ruang tamu dan ruang tengah sudah terlewati, tapi masih belum ada tanda-tanda keberadaan wanita berambut pendek itu.
“Mungkin di dapur, pagi-pagi gini kan biasa dia sibuk di dapur,” pikir wanita itu. Dengan riang, Sari terus menuju ke belakang. Saat melintasi kamar Anita, dia mengintip sebentar, tidak ada siapa-siapa disana. Samar-samar, telinganya menangkap suara gaduh dari arah dapur. Ah, memang benar, dia sedang berada di dapur sekarang.
“Mbak Nita?” sambil memanggil, Sari membelokkan kakinya menuju arah dapur.
Tapi langkah kaki wanita cantik itu langsung terhenti begitu melihat apa yang terjadi. Disana, berbaring di atas meja makan, tampak Anita tengah bergumul dengan seorang laki-laki. Pakaiannya acak-acakan. Payudaranya yang besar terlihat menonjol keluar karena kaosnya yang ketat tertarik ke atas, memperlihatkan sepasang buah dada yang putih mempesona dengan puting mungil mencuat indah ke atas. Rok pendeknya yang berwarna abu-abu melorot ke bawah, memperlihatkan kemaluan wanita itu yang basah, licin dan kemerah-merahan, membuat kontol besar milik si laki-laki bisa menusuk dan menembusnya dengan lancar.
“H-halo, Sar.” sapa Anita sambil merem melek saat melihat kedatangan sahabatnya. Mukanya licin penuh keringat, dengan bekas-bekas cupangan merata di seluruh pipi dan lehernya.
Sari terhenyak, sampai tak tahu harus berkata apa.
“S-sebentar ya, lagi tanggung nih.” tambah Anita sambil ikut menggoyangkan pinggulnya, mengimbangi tusukan laki-laki diatasnya yang sekarang tampak semakin cepat.
Dengan muka merona, Sari memalingkan mukanya. “Ah, aku tunggu di depan aja ya.” Dia merasa tidak enak memergoki Anita yang lagi berbuat mesum seperti itu.
“J-jangan,” Anita melarang. “T-tunggu disini aja. Enggak apa-apa kok.” Permintaan yang aneh, tapi entah kenapa Sari menurutinya.
Dia duduk di salah satu kursi dan menonton kelanjutan acara itu. Dia penasaran, sekaligus teransang juga, bagaimana Anita yang cantik bisa berbuat mesum seperti itu, dengan seorang laki-laki tua yang lebih pantas menjadi ayahnya daripada partner seksnya. Sari tidak mengenal laki-laki itu, tapi dari ukuran penisnya yang super besar, dia bisa menduga alasan Anita mau menyerahkan tubuhnya pada laki-laki tersebut.
“Ahhh... ahhh...” Anita merintih saat kontol besar si lelaki menusuk dan mengocok memeknya semakin cepat.
Dia menyambar bibir si lelaki dan melumatnya dengan rakus. Lidah mereka bertemu untuk saling menghisap dan mencampur air liur. Anita tampak sangat menikmati sekali meski bibir laki-laki itu begitu tebal. Di bawah, tangan si lelaki merambat untuk meremas-remas payudara Anita yang membusung indah. Kelembutan dan kehangatannya rupanya membuat laki-laki itu jadi ketagihan. Sepanjang sisa permainan, dia terus berpegangan pada benda bulat padat tersebut.
“M-mau ikut g-gabung sini, Sar?” tanya Anita saat melihat Sari mulai meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ah, tidak.” Sari cepat menarik tangannya dan merapikan bajunya yang mulai tersingkap. “Kamu teruskan aja.” dia masih malu untuk mengakui kalau sebenarnya dia juga teransang. 
Anita tersenyum penuh arti, “S-selalu ada tempat buatmu k-kalau kamu berubah pikiran.” katanya.
Dan sebelum Sari sempat menjawab, wanita itu sudah berpaling untuk kembali menghadapi serangan lelaki di atasnya yang sekarang mendesaknya dengan semakin gencar dan bertubi-tubi. Rupanya, permainan sudah mulai mendekati babak akhir. Tidak peduli dengan Anita yang menjerit dan merintih-rintih, laki-laki tua itu terus menusukkan penisnya dalam-dalam, dan menariknya lagi dengan cepat, untuk kemudian menusukkannya lagi lebih dalam, hingga membuat Anita memekik dan menjerit keenakan. Sari menonton semua adegan itu tanpa berkedip sedikitpun. Bahkan, dia juga sampai lupa untuk bernafas.


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar