Kamis, 07 September 2017

Mertua Nakal



Istriku hamil. Kami sekeluarga sangat senang mendengarnya. Bahkan ibu mertua sangat mewanti-wanti agar Nur jangan melakukan banyak pekerjaan yang melelahkan. Aku sendiri jadi makin sayang dengannya. Kuusahakan tidak mengganggu kehamilan Nur, bisa fatal akibatnya kalau misalnya kehamilannya sampai terganggu. Aku jadi jarang menyentuhnya, karena itu aku jadi kentang sekali selama dua bulan ini. Bingung melakukan pelampiasan.
Di dalam kamar, berbaring di atas ranjang, nampak Nur sudah pulas tertidur. Wajahnya makin cantik saaat hamil. Aku cium perutnya, lalu keningnya, setelah itu aku masuk bersamanya ke dalam selimut. Kupeluk dia.
Nur terbangun. "Mas? Hmm,"
Kami berciuman, lalu tertidur. Aku memeluknya.

***

Esoknya aku bangun lebih dulu. Setelah mandi, kubantu Nur yang sedang sibuk memasak di dapur.
"Bunda mana, sayang?” tanyaku sambil mengelus-elus perut Nur.
"Belum bangun kayaknya," jawabnya. "Coba Mas lihat. Nggak biasanya bunda bangun terlambat."
Aku pun beranjak. Kuketuk pelan pintu kamar ibu mertua, tak ada jawaban. Mungkin ia masih tidur. Kupanggil-panggil, "Bun? Bunda?!" tak ada jawaban. Iseng, kucoba membuka pintu kamar ibu. Ternyata tidak terkunci. Kubuka sedikit.
Saat itulah aku terkejut. Pemandangan ini tak pernah aku sangka sebelumnya. Di hadapanku nampak ibu yang berbaring telentang dengan memek terbuka lebar. Ia merentangkan pahanya lebar-lebar, sambil tangan kirinya menyentuh lubang vagina.
Apa dia baru saja mastrubasi? Pikirku dalam hati.
Kontolku langsung tegang. Siapa yang tak tegang menyaksikan pemandangan indah seperti ini? Meski ibu sudah berumur, tapi tubuhnya masih kelihatan kencang. Kulitnya juga putih. Tanpa sadar, entah mendapat dorongan dari mana, aku melangkah masuk dan menutup pintu, menguncinya dari dalam.
Aku tak menduga kalau tubuh Ibu bakal seindah ini. Kancing baju tidurnya sudah terlepas, menampakkan gundukan buah dada yang... buseet, lumayan besar juga. Kulepaskan kaitan bra-nya, kuhisap pelan putingnya, dan—karena sudah tak tahan—langsung kumasukkan penisku ke dalam jepitan memeknya. Pelan-pelan kudorong dan bless, licin sekali. Mungkin karena mastrubasinya tadi.
Kugoyang pinggangku. Memeknya masih terasa sempit dan seret, enak sekali.  Bulunya lebat jarang dicukur, geli saat menggesek di pangkal batangku yang gundul. Kupeluk tubuh telanjang ibu, kuhisap bibirnya.
Ibu hanya menggeliat pelan. Dia memang seperti itu, kalau sudah tidur susah bangunnya. Dengan bebas aku bisa menggerayangi seluruh tubuhnya. Kucium leher jenjang ibu, juga pundaknya yang putih, sambil pantatku maju mundur menusuk-nusuk memeknya dalam-dalam. Suara tumbukan alat kelamin kami membuat suara kecipak aneh di dalam kamar ini.
Ibu masih tetap tidur. Sedangkan aku sudah tak kuat lagi, mungkin karena efek lama nggak main. Sebelum terlambat, segera aku mencabutnya. Kuatur nafas sejenak sampai nafsuku kembali mereda. Kemudian kumasukkan lagi. Kugoyang hingga terasa mau meledak, lalu kucabut lagi.
Begitu terus hingga aku benar-benar tak tahan.
Di tusukan yang terakhir, kutekan penisku dalam-dalam, hingga mentok. Sperma kentalku meluncur deras membasahi dinding rahim ibu. Menyembur kencang. Luar biasa, nikmat sekali. Aku cium lagi kedua puting ibu yang masih tertidur pulas.  Setelah itu aku terkulai di sebelahnya.

***

Aku terbangun ketika ibu menggeliat, dan ia terkejut melihatku yang berbaring di sebelahnya—sama-sama telanjang.
"Don? Apa yang..." Ibu terpekik merasakan cairan pejuh membanjir di lorong memeknya.
Tak ingin dia menjerit, aku langsung mendekap mulutnya. "Ssshhh... saya bisa jelaskan, Bun, tapi bunda jangan berteriak!” kataku.
Matanya tampak berkaca-kaca. Ia mengangguk. Pelan Kulepaskan bekapan tanganku yang menutupi mulutnya.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanyanya serak.
"Maafkan saya, Bun. Saya khilaf. Tadi pas membangun Bunda, saya nggak sengaja melihat bunda telanjang. Saya jadi tergoda dan melakukannya,"
Ibu terdiam. Dia menghapus air matanya lalu menghempaskan diri ke atas ranjang, mendesah panjang. "Memang bunda yang salah, Don. Harusnya aku nggak lupa mengunci pintu.”
Aku menggeleng. “Kita sama.sama salah, Bun. Ini semua karena saya sudah lama sekali nggak dapet jatah, sejak Nur hamil. Saya jadi sange melihat bunda. Maafin saya, Bun!”
“Ah, Bunda jadi malu, ketahuan suka masturbasi di umur setua ini.”
“Santai aja, Bun. Saya bisa memaklumi kok. Lagian punya Bunda masih sempit dan seret, masih enak," kataku.
"Jangan menghiburku, Don!" Dia merunduk, mukanya bersemu merah.
"Beneran! Bahkan kalau bunda mau, saya bersedia melakukannya lagi sama Bunda.”
Dia menoleh, yang kusambut dengan mencium bibirnya sekejap. Ibu nampak terkejut, tapi tak menolak. Bibirnya terbuka, membiarkanku memagut pelan. Matanya terpejam saat lidahku menari-nari di mulutnya; menghisap, mencampurkan ludah, lalu saling menghisap.
Aku menjengit saat merasakan tangannya yang tiba-tiba menyentuh penisku. Ciuman kami berhenti. Kutatap wajahnya yang cantik untuk memastikan. Ibu tersenyum.
"Gede banget, Don!" pujinya, lalu mengocoknya pelan.
"Emang dulu punya ayah nggak sebesar ini?" tanyaku penasaran.
"Hanya separuhnya," jawabnya jujur.
Sebelum aku sempat membantah, ibu buru-buru naik ke atas tubuhku. Ia posisikan penisku tepat di depan mulut vaginanya. Lalu menekan hingga penisku meluncur masuk ke dalam. Lancar dan tanpa hambatan, terasa vaginanya dengan erat mencengkram batang penisku.
"Ohhh... Bunda!" desisku keenakan.
"Hmmm... punyaku penuh rasanya!" ia mengeluh.
“Cepat aja, Bun. Nanti keburu Nur curiga!”
Ibu pun menggoyangkan pinggulnya maju-mundur, sambil sesekali mengangkat-angkat pantat. "Doon... enak, ssshhh..." desisnya pelan.
Posisi ini sangat menggairahkan. Selama ibu menggoyang, kupegangi toketnya yang menggantung indah itu. Kuremas-remas pelan, kupilin-pilin kedua putingnya yang mungil menggemaskan. Pantatku pun ikut kutekan agar menambah rasa nikmat. Bunda sampai meliuk-liukkan kepala, terlihat sangat menikmati gesekan alat kelamin kami.
Kami melakukannya dengan tenang, tak berisik. Kulihat ibu mulai kehabisan nafas, ia makin mempercepat goyangannya.
"Don, kamu masih lama?" bisiknya parau.
"Sebentar lagi, Bun. Memangnya kenapa, Bunda sudah capek?” tanyaku.
"Nggak sih, cuma takut ketahuan aja sama Nur.” Dia ambruk menindih tubuhku, pantatnya menekan penisku. Kupeluk dia dan kubiarkan meringkuk seperti bayi. Kami berpagutan. Kemudian ia berguling dan merebahkan diri.
"Tuntasin, Don! Cepat aja, jangan lama-lama!" bisiknya.
Aku tersenyum. Berada di atas, kuposisikan penisku ke mulut vaginanya. Kemudian kutekan. Ketika urat-urat penisku menggesek rongga vaginanya, mulut ibu membentuk huruf O sambil menatap mataku. Kedua pahanya mengapit erat pinggangku.
"Enak, Bun?" tanyaku.
"Enak, Don! Enak banget!" sahutnya.
Kugoyang pinggulku. Langsung kusetel kencang agar spermaku bisa segera membasahi rahim ibu. Aku terus berusaha. Di bawah, Ibu nampak pasrah. Kurasakan dia sudah dua kali ngecret, memeknya jadi terasa basah sekali. Kepalanya menggeleng-geleng, ia mengulurkan kedua tangannya melingkar di leherku untuk berpegangan.
"Cepetan, Don! Oohh... aahh... kamu nunggu apa lagi?” rintihnya kaku.
“I-iya, Bun. Sebentar lagi. Hampir!”
Kupejamkan mata, dan sambil menusuk dalam-dalam, kusemburkan spermaku ke liang memek ibu. Ibu memejamkan mata, nampak sangat menikmatinya. Penuh kepuasan, aku terkulai di atas tubuh montok ibu. Wajahku kudekatkan ke puting susunya dan kuhisap perlahan-lahan. Ibu memelukku.
"Gara-gara ibu, ini semua terjadi." bisiknya.
"Tapi saya nggak menyesal, Bun!"
Dia tersenyum. Kami berciuman.
"Ijinkan saya terus menikmati tubuh Bunda selama Nur berhalangan. Kumohon!”
Ibu tersenyum. “Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Ngomong-ngomong, sebaiknya kamu segera pergi, daripada Nur curiga,"
"I-iya, Bun."
Kami pun bangun. Aku segera berpakaian dan melihat keadaan, kuintip sebentar ruangan kalau-kalau ada Nur di luar. Setelah aman, aku pun berjingkat pergi ke ruang makan. Nampak Nur masih sibuk memasak di dapur.
“Gimana bunda, Mas?” tanyanya.
“Em... i-iya. Dia masih tidur. Kucoba bangunkan tapi nggak bisa.”
“Kok lama? Hampir sejam lho!”
Aku kesulitan menelan ludah. "Oh i-iya, m-maaf. Tadi aku langsung keluar beli rokok, maaf nggak bilang."
"Ya udah, makan sini!" katanya lembut.
Aku lega, sepertinya dia tidak curiga.

***

Hubunganku dengan ibu makin mesra setelah itu. Ketika Nur tidak melihat, kami saling melirik penuh arti. Dan setiap mata kami bertemu, kami tersenyum. Di belakang istriku, kupeluk erat tubuh ibu dan kulumat habis bibirnya yang tipis. Ibu menanggapinya dengan penuh nafsu.
Aku tahu kalau ibu kembali menginginkan kontolku, dan aku juga rindu dengan jepitan memeknya, namun kami tidak memiliki kesempatan. Nur selalu saja berada di dekatku.
“S-sudah, Don. Ntar ketahuan,” dia melepaskan pelukan.
“Ada Nur, bahaya!"
“Biarin aja," kataku, sudah terlanjur gelap mata.
"Jangan!" dia tetap bersikukuh.
"Lalu gimana, Bun?" tanyaku sambil menunjukkan penisku yang sudah tegang.
Ibu nampak berpikir sejenak. "Sini deh!" Ia menarikku ke meja makan.
Sesampainya di sana, aku didorong hingga jatuh terduduk di kursi. Ibu kemudian merangkak ke bawah meja, sambil tersenyum kepadaku. Kemudian dia membuka resleting celanaku. Diusap-usapnya penisku yang sudah tegang.
"Ini ya yang sudah nggak tahan?" tanyanya pada penisku.
Aku mengangguk, senang dengan kelakuannya.
Tersenyum, ibu menekan kepala penisku dengan jari telunjuknya. Dia nampak penasaran dengan lubang kencingku.
"Geli, Bun!" desahku.
"Biarin, kamu nakal sih," Ibu mengendus ujung penisku dengan hidungnya, menghirup aromanya yang memabukkan.
“Oooh..." Aku menggeliat.
"Mau dijilat?" tanyanya.
"I-iya," Aku mengangguk.
Lidahnya kini terjulur, menyapu penisku; mulai dari buah zakar sampai ke ujungnya yang tumpul. Aku menahan napas. Perlakuannya ini membuatku makin terangsang. Kontolku jadi lebih mengeras dari sebelumnya.
"Oww... enak ya? Sampai tegang gini!" kata Ibu sambil tertawa.
Aku hanya bisa mengangguk.
Ibu menciumi kepala penisku, menjilatinya, kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya. Dihisapnya sekuat tenaga, sambil sesekali dikocok dengan mulutnya. Ohhh... nikmat sekali. Lidahnya menari-nari memberikan stimulus yang membuatku lemas.
Keringat dingin mengucur dari dahiku. Di bawah meja, ibu nampak senang—bahkan tertawa menyaksikan aku yang tersiksa. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Saking gemasnya, aku pun mengulurkan tangan untuk meremas-remas buah dadanya. Tanganku masuk ke dalam baju yang ia kenakan, lalu ke dalam branya untuk mencari puting. Kupencet dan kupilin-pilin benda mungil itu.
“Hmmh... hmhhh...” Ibu makin semangat saja mengoral. Penisku ia masukkan jauh ke dalam mulutnya.
“Ouughhh!” aku melenguh keenakan. Apalagi saat ibu memainkan kepala penisku dengan lidahnya, makin membuatku tak bisa menahan diri, rasanya ingin muncrat saat ini juga.
“Kamu bikin Bunda horny, Don!” bisiknya menanggapi perilakuku yang asyik merangsang puting susunya.
Sama-sama tak tahan, aku pun berdiri. Kutarik tubuh ibu agar berdiri juga, kemudian kuangkat dan kududukkan di meja. Kusingkap rok panjang yang ia kenakan, kuturunkan celana dalamnya. Celanaku juga kuturunkan. Ibu mengangkangkan kaki lebar-lebar saat penisku kuposisikan di depan mulut vaginanya yang merekah indah.
"Nanti dilihat sama Nur," bisiknya takut-takut.
"Aku tak peduli, biar saja!" Kubuka baju ibu, kunaikkan branya hingga buah dadanya terekspos jelas. Aku pun menyusu sebentar, sebelum pinggulku mulai menekan.
SLEEBBB....!!!
"Ohh... Doon!" Ibu menjerit tertahan.
Kugoyang pinggulku menyodok kemaluannya. Ibu memelukku, kedua kakinya mengunci pinggangku.
"Bun, enak banget!" bisikku di telinganya.
"Ohh... kontol kamu gede banget! Penuh di memek bunda... hhmm!" racaunya.
Kami berciuman, berpagutan mesra, dengan aku tetap menggoyang. Lembut pada awalnya, namun semakin lama menjadi semakin kencang. Ada rasa takut ketahuan, tapi dengan cepat tertutupi oleh rasa ingin memuaskan diri. Benar-benar aku ingin melampiaskan birahi yang sudah tertahan sejak kemarin.
"Don, agak cepet! Bunda mau nyampe!" bisiknya.
Aku menurut, kupercepat goyanganku. Kaki ibu makin erat mengunci pinggangku, ia juga menaikkan pantatnya sehingga aku seperti menggendongnya. Penisku kutekan kuat dan ia memelukku dengan erat.
“Oughhh... ohhhh... hhhmhhh...” Ibu menggelinjang. Selama sepuluh detik kami berpelukan. Penisku masih menancap di lorong memeknya yang berkedut-kedut kencang. Terasa kontolku basah oleh lendir.
“Ohh... sodok lagi, Don! Sodok... terus! J-jangan berhenti, biar cepet tuntas!" rintihnya.
Kembali kugoyangkan pinggulku. Mata ibu terpejam menikmatinya, sesekali ia menggigit bibir bawahnya sambil mendesis lirih. Kupegang bulatan payudaranya dan kuremas-remas gemas.
"Doon... ohh... enak! Terus.... terusss!"
Aku mendorong lebih kuat lagi, sampai buah dada ibu melekat di tubuhku. Aku terus menyodok karena sepertinya klimaksku sudah mendekat.
"Ayo, Don! Keluarkan pejuhmu! AAHHH... AHHHH... kontol kamu gede banget... keras lagi! A-aduhhh... enakkkk!"
"I-iya, Bun! Ini, terima pejuhku!"
CREETTT CREETTT CRREEETT CREEETT!!
Spermaku memancar deras, menghujani lorong memek ibu dalam beberapa kali tembakan. Aku terus menekan kuat, tidak ingin ada yang meleleh keluar. Ibu memejamkan mata, tubuhnya nampak lemas. Kudiamkan sejenak hunjamanku hingga seluruh spermaku terkuras habis, baru setelah itu perlahan-lahan kucabut.
Terengah-engah, ibu bangkit dari meja. Ia berusaha untuk tersenyum. Kami tutup percintaan singkat itu dengan berciuman lembut, setelah itu kami beraktivitas lagi seperti biasa.

***

Satu minggu lagi berlalu. Nur masih belum mencurigai hubungan kami meski beberapa kali aku hampir ketahuan saat mencolek tubuh montok ibunya. Ibu hanya tersenyum.
Sering saat duduk bertiga, Ibu mengambil tempat di sebelahku. Diam-diam tangannya menelusup ke dalam celana kolorku dan memainkan isinya. Diurut-urutnya penisku hingga menegang. Kalau aku sudah mendongak untuk menatap wajahnya, dia akan cepat-cepat pergi. Sepertinya dia sengaja ingin menggodaku.
Di kesempatan lain, ibu tak menolak saat kucium bibirnya. Kami berpagutan sambil tangan kiriku memainkan putingnya yang berwarna pink. Walaupun sudah parobaya, tapi buah dada ibu sama sekali tak kendor, malah terlihat sangat menantang.
Kalau ada kesempatan, ibu akan membaringkan tubuhnya telentang. Siap untuk kusetubuhi. Dengan cepat kuciumi lehernya, kuhisap, kujilati. Permainan kami selalu cepat, namun tetap panas dan menggairahkan.
Kuciumi buah dadanya, kupijat, kuremas-remas, dan bergantian kucupangi kiri dan kanan, kemudian kuhisap putingnya secara bergantian. Aku juga menggigit-gigit kecil gemas. Hal itu memberikan rangsangan yang membuat ibu mengangkat punggungnya.
"Ohh... Don! Enak, Don!" rintihnya.
Tangan kiriku beralih ke vaginanya. Dengan telunjuk, kucari-cari klitorisnya dan kugesek-gesek lembut. Ibu makin bergairah, ia memelukku, tangan kanannya meremas-remas penisku. Kubalas dengan menciumi ketiaknya, kujilati, dan itu membuatnya makin menggelinjang lagi. Kutelusuri seluruh tubuh ibu dengan bibirku, kemudian ke pahanya, hingga bibirku dan bibir kemaluannya bertemu.
"Ohhh... Don! Terus! Teruskan... yaa... enaaakk!" dia menggelinjang.
Aku jilati bibir kemaluannya, kuciumi, lalu tepat di klitorisnya, kusapukan lidahku di sana. Ibu mengangkat pantatnya sambil memekik tertahan. Ia meremas-remas rambutku, bahkan terkadang menjambaknya saat aku terus menjilat rakus.
"S-sudah, Don! Masukin! Bunda udah nggak tahan!" jeritnya.
Sebagai anak, aku harus patuh. Segera kusiapkan diriku di atas tubuhnya. Satu hentakan, dan penisku pun masuk.
"Ooohh... enak, Don!"
Kugoyang pinggangku. Ibu memejamkan mata, merasakan kenikmatannya. Ia mengusap-usap dadaku untuk memberikan kenikmatan juga. Kuresapi setiap rangsangan pada urat-urat penisku yang diremas oleh otot-otot vaginanya. Rongga kemaluan ibu benar-benar membuatku terbuai. Kupeluk dirinya, dengan pinggangku tetap bergoyang, bahkan kali ini lebih cepat. Kedua bibir kami bertemu, saling pagut dan saling hisap. Cukup lama aku bertahan dalam posisi itu, hingga ibu orgasme.
“Oughhhh!” dia menjerit keras. Aku bahkan sampai takut Nur yang sedang  tidur jadi terbangun.
Kutunggu hingga orgasme ibu mereda, lalu kubalikkan tubuhnya. Ibu yang  mengerti, segera menungging. Kusodok dia dari belakang. Ibu yang tahu kalau aku suka dengan buah dadanya, membiarkan saja saat tanganku meremas-remas dan mempermainkan kedua putingnya.
Kupeluk tubuh montok ibu dan kugoyang pantatku cepat-cepat. "Bun... a-aku mau... keluu....aaarrrhh!"
"Iya, Bunda juga udah mau keluar lagi," balasnya.
Mata ibu memutih saat ia merasakan sperma hangatku membasahi lorong rahimnya. Penisku ngilu sekali. Aku mendiamkannya sejenak, sampai batangku mengecil dan lepas dengan sendirinya.
Ibu memelukku erat, dan membisikkan sesuatu yang membuatku terkejut. “Sudah dua minggu ini bunda telat, Don.”
“Hah?” dan aku hanya bisa melongo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar