Minggu, 17 September 2017

Pendekar Tanpa Tanding 13



Hari itu, sepuluh hari setelah kematian Walang Wulan, seperti biasa Prawesti menyediakan makan siang untuk Wisang Geni. Selesai keduanya bersantap, Prawesti dengan manja merebahkan diri di pangkuan sang ketua. Hubungan dua insan itu makin intim seperti layaknya suami isteri.
"Prawesti, aku merasa tidak pantas menjadikan kamu sebagai pelampiasan nafsu birahi dan rasa rindu akan isteriku."
Gadis itu menyentuh bibir Geni dengan jari. "Kangmas, jangan sebut itu lagi. Sudah aku katakan, aku bersedia dan rela menjadi pelayanmu. Aku tahu, kau masih mencintai Sekar, masih merindukan dia, sering di malam hari kau memanggil namanya. Kau juga belum bisa melupakan bibi Wulan, dan mungkin dalam waktu dekat ini kamu sulit mencintai perempuan lain. Aku bisa mengerti, dan aku tak peduli."

Prawesti memegang tangan Geni, menciumi tangan itu. "Kangmas Geni, yang penting bagiku kau telah berjanji membolehkan aku tetap melayanimu sebagai pelayan. Itu saja aku sudah bahagia, karena sejak lama aku menyintaimu. Hanya waktu itu, kau masih suami bibi Wulan, kau juga seorang ketua, maka cintaku kusimpan dalam hatiku, hanya menjadi milikku sendiri. Sekarang ini aku bahagia, kau memeluk aku, kau lelaki pertama yang memiliki diriku, yang pertama dan terakhir."
Geni terharu. Dia memeluk dan mencium Prawesti. "Walang Wulan telah membawa mati cintaku, Sekar membawa lari cintaku, sementara ini aku memang tak mungkin mencintai perempuan lain. Aku minta maaf, Westi."
Tidak mungkin Geni bisa merahasiakan hubungannya dengan Prawesti karena sehari-hari gadis itu berada di dalam biliknya. Hanya berdua, terkadang sepanjang malam. Sebelum timbul gunjingan, maka Geni menceritakan hubungan itu kepada Padeksa dan Gajah Watu. Dua tokoh sepuh itu tersenyum gembira dan merestui. Begitu juga Jayasatru.
Tiga orang itu sadar sepenuhnya, bahwa kehadiran Prawesti pada saat di mana Geni memerlukan seorang perempuan telah banyak menolong lelaki itu. Padeksa menegaskan kepada Gajah Watu dan Jayasatru bahwa Prawesti telah menyelamatkan ketua Lemah Tulis dari kegoncangan batin. Gadis itu hadir dengan cintanya yang tulus dan hangat telah menarik Geni keluar dari lamunan yang berkepanjangan. Prawesti tak pernah memberi kesempatan Geni untuk menyendiri dan melamun.
Dari hari ke hari meskipun Prawesti setia melayaninya, namun Wisang Geni tidak bisa melupakan kematian isterinya. Dendamnya kepada Lembu Agra terasa seperti api yang membara di dada. Terkadang ia merasa hendak mengejar dan melumat habis pembunuh keji itu. Tetapi ia tahu tak mungkin bisa menemukan lelaki itu yang menghilang begitu saja, tak ada jejak.
Dia yakin Agra sedang memperdalam ilmu andalannya Pitu Sopakara. Dan pada saatnya nanti, suatu hari kapan dan di mana, pertarungan mati hidup dia dengan Lembu Agra pasti terjadi. Hutang nyawa Wulan harus ditagih sekaligus dengan bunganya.
Seringkali ia mengingat pengalamannya berdua dan bercinta dengan Wulan, pada saat dimana Prawesti tidak berada di sampingnya. Geni sering tersenyum mengingat perkenalan pertama dengan Wulan. Dia teringat air terjun di hutan dawuk di lereng gunung Arjuno. Di tempat itulah pertama kali dia jumpa Wulan. Waktu itu mereka berkenalan menggunakan nama samaran, Ambara, dan Sari. Itulah awal perjalanan cinta yang begitu indah.
Rindu kepada Wulan dan Sekar sering mengganggunya meskipun Prawesti berada di sampingnya. Malam itu, Geni merindukan Sekar dan Wulan. Ia memeluk, menciumi Prawesti. Bercinta dengan gadis muda itu, sambil membayangkan dua isterinya. Ia membayangkan Sekar yang begitu cantik. Ia seakan melihat Wulan dengan sentuhan keibuannya.
Tengah malam, Prawesti tidur lelap, saking letihnya. Gadis itu tak mengeluh kendati setiap hari harus melayani ketuanya. Dan selalu seusai bercinta, Prawesti akan tidur tak sadar diri. Selagi ia tidur, Wisang Geni mengendap-endap keluar kamar.
Wisang Geni menerobos kegelapan malam. Karena hebatnya ringan tubuh Waringin Sungsang, tak seorang pun murid Lemah Tulis yang melihat kepergian ketuanya. Penjaga gerbang pun tak bisa memergoki gerakan Geni di gelapnya malam. Wisang Geni memutuskan pergi ke air terjun yang penuh kenangan.
Esok paginya, Prawesti bangun dari tidur mendapatkan Geni tak ada lagi di kamar. Gadis itu panik. Dia mencari ke seluruh pelosok perdikan, Geni tak ada. Kabar merambah cepat. Semua murid ikut mencari tetapi Wisang Geni bagai lenyap ditelan bumi. Batin Prawesti terpukul. Dia menangis, mengira ada kesalahan tanpa sadar yang dia lakukan yang membuat lelaki itu marah.
Malam itu bulan tertutup awan tebal. Di hutan dawuk suasana sepi. Hujan deras bagai tercurah dari langit. Suara guruh dan petir menggelegar menambah seram suasana hutan. Suara air terjun pun tak kalah kerasnya. Malam itu air terjun sangat deras disebabkan meluapnya air kali Bango di bagian hilir.
Dalam kegelapan itu terlihat bayangan manusia bersilat di bawah air terjun. Gerakannya luar biasa. Cepat, hampir tak tertangkap oleh mata manusia biasa. Tenaganya besar, terlihat dari air terjun yang tersibak ke sana ke mari kena hantaman. Air yang tercurah dari atas terbelah ke sana sini, dihantam tenaga yang sangat besar.
Geni bukan berlatih silat, melainkan melampiaskan perasaan dendamnya. Dia memukul dan menendang seakan-akan Lembu Agra yang diserangnya. Sepanjang malam, Geni bersilat. Tidak pernah berhenti. Dia bergerak terus dari saat ke saat. Sejak sore hari sampai menjelang matahari terbit. Esok harinya dia beristirahat, mencari makan. Buah-buahan dan ikan. Kemudian melanjutkan latihannya.
Sudah tujuh hari dia berlatih di air terjun. Pada mulanya dia melampiaskan rasa dendamnya. Memukul air dengan sejadi-jadinya, membayangkan Lembu Agra di depannya.
Hari kedua ia mulai berpikir tentang ilmu silat. Ia teringat saat amarahnya meluap dan memuncak melihat Wulan dihantam Lembu Agra, tanpa dikendalikan mendadak tenaga Wiwaha tersalurkan sempurna ke seluruh tubuhnya. Senjata punggawa Sinelir tak mempan melukai kulitnya. Hanya dengan sekali serangan dia bisa mematikan tiga punggawa itu dan melukai Lembu Agra.
Dia mencoba mengulang, mengumpulkan tenaga Witvaha secara utuh dan sempurna namun sia-sia. Tenaga itu ada dan cukup besar tetapi ada sebagian tenaga yang bergerak liar. Tenaga liar itulah yang belum mampu dia kendalikan.
Geni merenung dan memikirkan misteri tenaga Wiwaha itu. Dia ingat ketika mengalahkan pendekar daratan Cina, Sam Hong dua tahun lalu, tenaga Wiwaha itu juga muncul dan terhimpun secara sempurna. Dalam pertarungan menghadapi Lembu Agra dan Lembu Ampai, tenaga itu juga muncul secara misterius.
Ada kesamaan dalam dua peristiwa itu. Tenaga itu muncul secara spontan pada saat dia menghadapi situasi kritis. Ketika itu pukulan Sam Hong jika mengena telak sudah pasti akan membunuhnya. Dia tak bisa menghindar lagi. Jika itu terjadi, dia pasti mati. Spontan saja dalam saat kritis antara mati dan hidup, tenaga Wiwaha itu muncul merambah langsung ke seluruh tubuh dan menghasilkan tenaga yang sangat besar dan dahsyat.
Tetapi dalam keadaan biasa, tenaga itu tidak bisa dihimpun. Geni tercenung, bagaimana nasibnya jika dalam situasi kritis, tenaga itu tidak muncul. Pertanyaan ini menantang Geni untuk menemukan cara menghimpun dan mengeluarkan tenaga Wiwaha yang dahsyat itu secara utuh.
Pada hari ketujuh mendadak dia teringat kepergiannya ke hutan ini tanpa memberitahu siapa pun, tidak juga kepada Prawesti. Ada perasaan aneh ketika teringat Prawesti. Ia membayangkan tubuh gadis itu yang montok dan segar. Geni merasa adanya keinginan keras memeluk tubuh perempuan itu. Hasrat yang cukup besar.
Tidak sabar lagi, siang itu juga Geni menggelar Waringin Sungsang berlari menuju Lemah Tulis. Esok hari saat matahari hampir terbenam, Geni sampai di perdikan Lemah Tulis. Murid-murid heboh melihat ketuanya tiba-tiba muncul. Geni menemui Padeksa dan Gajah Watu. Dia menceritakan kepergiannya ke air terjun. Pembicaraan menyinggung misteri tenaga Wiwaha. Dia menjelaskan semua proses munculnya tenaga Wiwaha secara utuh dan sempurna itu. Dia bertanya-tanya, kenapa hanya dalam keadaan kritis, tenaga itu muncul. Bagaimana jika dalam situasi kritis tetapi tenaga itu tidak muncul.
"Sebenarnya kamu tak perlu terlalu risau. Tenaga Wiwaha yang kau miliki, meski tidak keluar secara sempurna, tetapi itu sudah lebih dari cukup menjadikan kamu sulit dicari tandingannya."
Wisang Geni tidak setuju kesimpulan Gajah Watu. Dia meyakinkan guru dan paman gurunya itu, Lembu Agra dengan Pitu Sopakara bakal menjadi lawan yang sangat berbahaya bagi Lemah Tulis. Ilmu silatnya yang tinggi, kebencian dan dendamnya yang menggunung terhadap Lemah Tulis, membuat Lembu Agra akan membunuh siapa saja murid Lemah Tulis yang ditemuinya. Tidak menutup kemungkinan dia akan mempersiapkan siasat untuk menghancurkan perguruan Lemah Tulis.
"Guru dan paman perlu tahu, ketika aku melihat Wulan terkena pukulan Agra, saat itu spontan tenaga Wiwaha muncul secara sempurna dan utuh. Saat itulah aku memukul Agra, dia menangkis. Dia terlempar ke belakang atau melempar diri ke belakang, tetapi yang pasti tenaganya sangat besar. Setelah menangkis pukulanku ia muntah darah, tetapi ia masih punya tenaga. Jadi aku yakin ia tidak terluka parah. Jika aku menyerang terus, mungkin aku bisa membunuhnya atau paling sedikit membuat dia terluka parah, tetapi saat itu aku memilih menolong Wulan, sehingga pengkhianat itu lolos. Paman tahu, sebelum dia pergi, dia mengancam bahwa saat itu dia baru berada di tingkat lima Pitu Sopakara, dia berjanji akan menembus tingkat tujuh untuk adu jiwa denganku."
"Menurutmu, ilmu silat pengkhianat itu bakal semakin tangguh dan dahsyat, bahkan mungkin sulit bagimu untuk menandinginya. Nah, jika kau sendiri tidak bisa menandingi dia, apalagi dengan kita dan semua murid perdikan ini," kata Gajah Watu.
Kini ketiganya yakin Lembu Agra dengan ilmu Pilu Sopakara menjadi ancaman besar bagi Lemah Tulis. Geni tidak tahu ampuhnya jurus ganas peninggalan ketua partai Turangga itu. Ketika adu pukulan, Geni tidak merasakan kehebatan ilmu lawan, karena pada saat itu tenaga Wiwaha masih lebih unggul dari Pitu Sopakara tingkat lima. Geni memang belum merasakan akibat pukulan Pitu Sopakara, tetapi lewat penuturan Wulan bisa dibayangkan hebatnya ilmu itu. Wulan sendiri telah merasakan ampuhnya pukulan Pitu Sopakara, luka hebat yang dibawanya ke liang kubur.
Geni masih ingat kata-kata Wulan menjelang ajalnya. Pukulan Agra telah menghancurkan tubuh bagian dalam. Tak ada bekas di bagian luar tubuh, sebab yang rusak adalah tubuh bagian dalam. Rahimnya terluka, janin dalam rahim mati seketika. Ilmu yang ganas. Pukulan itu baru tingkat lima. Menurut Padeksa, jurus Pitu Sopakara tingkat tujuh jauh lebih ganas, tak cuma dahsyat tenaganya juga mengandung sihir dan racun.
Geni sadar jatuh bangun Lemah Tulis kini tergantung pada dirinya. Pada saatnya nanti akan terjadi pertarungan lawan Lembu Agra. Jika belum menemukan cara mengatasi jurus ganas Pitu Sopakara, sama artinya dengan kemenangan di pihak Lembu Agra. Dan itu berarti kematian bagi Wisang Geni.
Jika itu yang terjadi, maka tidak cuma hutang darah Wulan tidak terbayar melainkan juga kehancuran bagi Lemah Tulis. Jika Wisang Geni kalah dan mati, maka tak ada lagi orang Lemah Tulis yang mampu menandingi Lembu Agra. Itu alamat buruk. Karena tujuan utama partai Turangga berikut Lembu Agra sudah jelas, akan melenyapkan Lemah Tulis dari muka bumi
Hari sudah malam ketika Wisang Geni memasuki rumahnya. Ada cahaya di bilik dalam. Geni melihat Prawesti duduk bersimpuh di dekat tikar. Ada makanan tersaji. Prawesti duduk dengan kepala tunduk, rambutnya menutupi wajah. Geni duduk di samping perempuan itu. Dia mendengar isak perlahan. Dia memegang kepala Prawesti, menyentuh dengan lembut. Prawesti menoleh. Airmata membasahi pipinya. Sinar matanya sayu
Wisang Geni merasa heran. "Ada apa, Westi?"
Mendadak Prawesti membungkuk dan memegang kaki lelaki itu. "Ketua maafkan aku, ampuni salahku, aku memang tidak tahu diri. Tetapi mengapa ketua pergi secara diam-diam, aku mencari, semua orang ikut mencari. Ke mana ketua pergi?"
Lelaki itu tersenyum. "Aku pergi ke mana aku ingin pergi, aku tak perlu melapor kepada siapa pun juga."
Tidak menyangka akan memperoleh jawaban seperti itu, Prawesti bingung. Sebagai ketua memang benar Wisang Geni tak perlu memberitahu kepada siapa pun. Sadar kesalahannya, Prawesti minta maaf. Suasana yang kaku mencair saat makan malam. Wisang Geni menyantap dengan lahap. Dia bertanya siapa yang masak.
"Aku yang masak, ketua. Apakah tidak cocok?"
"Enak, enak."
Wisang Geni menanyakan kejadian di Lemah Tulis selama kepergiannya. Tidak ada kejadian penting. Selama beberapa hari, semua murid mencari ketuanya. Prawesti tidak menceritakan betapa dia tiap malam menangis merindukan Geni. Dia khawatir, mungkin ada kesalahan yang tidak dia sengaja yang membuat lelaki itu marah dan pergi. Dia khawatir Geni pergi untuk waktu yang lama. Selama delapan hari itu Prawesti gelisah dan berduka.
Tetapi Prawesti bahagia ketika malam tiba. Wisang Geni menumpahkan rasa rindu dengan cumbu rayu yang membuat Prawesti melupakan derita selama delapan hari.
Geni menceritakan apa yang dilakukannya di air terjun di kaki gunung Arjuno. Prawesti memberanikan diri meminta agar Geni mengajaknya berlatih di tempat itu. Mendengar permohonan Prawesti itu mendadak saja lelaki itu teringat sesuatu. Jika semua murid Lemah Tulis, khususnya murid utama berlatih di air terjun, akan cepat meningkatkan kedigjayaan mereka. Dalam menghadapi ancaman permusuhan dari Lembu Agra dan mungkin juga pihak keraton Kediri, Geni merasa Lemah Tulis harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Hari itu Geni sebagai ketua mengumumkan keadaan darurat. Semua murid Lemah Tulis harus mempersiapkan diri menghadapi serangan dari pihak luar. Juga waspada terhadap tamu yang datang berkunjung. Wisang Geni memanggil Jayasatru dan Prastawana. Dari silsilah perguruan, Prastawana lebih tinggi dari Jayasatru. Prastawana murid angkatan satu dari empat tokoh Lemah Tulis, sedang Jayasatru hanya murid dari Ranggaseta.
Pada kesempatan lain yang terpisah, Wisang Geni memanggil dua murid wanita, Raditin dan Kirana. Keduanya belum bersuami meski usia sudah tiga puluhan. Raditin murid tidak langsung Padeksa dan kakak perguruan Wisang Geni. Sedang Kirana, murid Branjangan yang kini menjadi murid kebanggaan Gajah Watu. Empat murid tersebut mendapat tugas khusus mengawasi semua murid. Peristiwa seperempat abad lalu ketika Lemah Tulis disusupi murid pengkhianat, tak boleh terjadi lagi. Keempatnya bertugas mengawasi dan menyelidik secara diam-diam seluruh kegiatan dan aktifitas murid Lemah Tulis.
Dia berlaku cerdik, merahasiakan tugas Raditin dan Kirana, begitu juga Jayasatru dan Prastawana. Kelompok Prastawana tidak mengetahui tugas kelompok Raditin, begitu sebaliknya. Dia menugaskan empat murid itu melapor kepada Padeksa dan Gajah Watu jika pada saat dibutuhkan Geni sedang tidak berada di tempat
Dua tahun belakangan, Wisang Geni bersama Padeksa dan Gajah Watu memberi latihan ilmu silat menggunakan senjata. Selama ini dalam tradisi Lemah Tulis, ilmu menggunakan senjata tidak dikenal. Jurus Garudamukha dan pada tingkatan Prasidha adalah jurus tangan kosong.
Sebagai ketua, dengan bantuan Padeksa dan Gajah Watu, Wisang Geni mencipta jurus senjata keris, tombak, golok, pedang dan pisau atau pedang pendek. Meskipun menggunakan senjata namun semua jurus dibedah dari ilmu Garudamukha dan Prasidha. Hasilnya memang nyata, hampir semua murid Lemah Tulis mengalami peningkatan ilmu silatnya.
Dua hari kemudian Geni bersama Prawesti dan tujuh belas murid utama berangkat ke hutan dawuk di kaki gunung Arjuno. Sebagian besar lainnya tetap berlatih di perdikan. Di hutan dawuk di air terjun itu selama hampir satu bulan Wisang Geni melatih langsung murid-murid Lemah Tulis.
Semuanya mengalami kemajuan pesat, tenaga dalam maupun penguasaan jurus tangan kosong dan jurus senjata. Tekanan air terjun yang besar dan berat, sangat membantu. Murid-murid Lemah Tulis semakin kagum akan kehebatan ketuanya. Geni tidak hanya melatih tetapi juga memberi contoh dengan gerak tubuh dan tenaga batin.
Pada waktu luang, Geni terus memikirkan misteri penyempurnaan tenaga Wiwaha. Di balik air terjun, terdapat goa yang tersembunyi. Di goa itulah Geni bersemedi, merenung dan mencari jawaban dari misteri itu.
Pada waktu tertentu Prawesti datang menjenguk. Karena tak mungkin membawa makanan menerobos air terjun tanpa makanan tersebut basah, maka Prawesti terkadang memasak di dalam goa. Prawesti juga tidak malu jika harus bermalam di dalam goa karena hubungannya dengan Geni sudah bukan rahasia lagi.
Geni berusaha menggali lagi alam bawah sadarnya, pengalaman saat mempelajari Wiwaha peninggalan pendekar Lalawa di gunung Lejar. Seingatnya dia sudah rampung menyelesaikan empat tahapan Wiwaha. Jurus satu Tepung Ropoh, Sambung Kalem, jurus dua Kitrang Raja Pati, jurus tiga Ngrupak Jajahaning Mungsuh dan jurus empat Pethuk Ali Golong Pikir.
Tidak ada yang tertinggal. Semua sudah dipelajari dan hasilnya sudah nyata, tenaga dalamnya sulit dicari tandingan. Dia bahkan sanggup mengubah tenaga panas dan dingin sesuka hati, bisa memukul dengan tenaga dingin, saat berikut menghantam dengan tenaga panas. Dia ingat dalam beberapa pertarungan tingkat tinggi, tenaga Wiwaha telah membuktikan keampuhannya.
Sejak memiliki tenaga Wiwaha itu, dia tak pernah bisa dikalahkan orang. Selama ini dia yakin akan kekuatan dirinya, tetapi sekarang ini menghadapi ancaman Lembu Agra, dia merasa ragu. Kalau Pitu Sopakara tingkat lima, hanya sedikit terguncang oleh pukulan tenaga Wiwaha yang sempurna. Bisa saja begitu menyelesaikan tingkat tujuh, kekuatan Lembu Agra akan lebih unggul. Pemikiran ini sering mengganggunya setiap malam.
Malam itu Geni duduk semedi melatih tenaga Wiwaha. Telinganya yang tajam mendengar sesuatu. Dia membuka mata, melihat sekeliling. Tak ada apa-apa. Prawesti tidur nyenyak. Suara itu datang dari Prawesti. Geni memerhatikan lebih cermat. Dia bergerak perlahan ke tempat gadis itu. Di bawah remang cahaya api unggun yang mulai redup, Geni memandang wajah Prawesti yang cantik. Pucat Bibirnya bergerak. Suara yang didengar Geni tadi rupanya gemeletuk gigi Prawesti yang kedinginan. Geni meraba dahi gadis itu. Panas. Gadis itu demam. Mata Prawesti terbuka, menatap Geni.
"Kamu tidak tidur?''
Gadis itu menggeleng kepala.
"Kamu sakit, Westi."
Gadis itu menggeleng kepala. Dia bangkit, duduk dengan lemas. Wisang Geni meraih tubuh Prawesti. Memeluk erat. Merapatkan dada perempuan itu ke dadanya. Geni merebahkan diri, tubuh Prawesti terkulai lemas di atas tubuhnya. Geni mengerahkan tenaga dalam. Hawa panas merasuk ke tubuh Prawesti.
Api unggun mati. Goa itu gelap gulita. Hanya terdengar suara air terjun. Geni mencium mulut Prawesti. Lama. Prawesti tak lagi kedinginan. Pengobatan dengan tenaga dalam itu telah menyembuhkan demam. Prawesti sembuh. Suhu tubuhnya kembali normal. Demamnya memang lenyap, tetapi demam birahinya muncul.
Dibiarkannya tangan Geni yang bergantian meremas buah dadanya. Kiri-kanan. Sedangkan tangan kiri laki-laki itu mengusap-usap pantat dengan memasukkan ke dalam baju yang Prawesti kenakan. Ruangan gua berubah menjadi panas. Prawesti terlena. Dia pasrah saat lidah Geni menari-nari di dalam mulutnya, menghisap lidahnya rakus, menyapu di langit-langit.
"Kangmas, aku mencintaimu!"
“Hhhhmmm," Geni menciumnya lagi. Lalu turun ke dada Prawesti yang bulat segar, menghisapi kedua putingnya. Dijilatinya rakus, kenyal sekali.
"Kangmass... ohh... hmm..."
Geni terus meremas, menciumi dan menyusu ke dada Prawesti yang sintal. Gadis itu semakin gelisah. Geni membaringkan dia di atas batu gua, kemudian segera beringsut turun ke arah bawah untuk mulai menghisap kemaluan.
"Kangmaass... aahh!" keluh Prawesti keenakan. Dia meronta-ronta, tapi tak ingin berhenti.
Geni menjilati memek yang bersih itu, tak ada bau kencing, bukti bahwa Prawesti sangat telaten menjaga lubang kemaluannya. Ia sapukan lidah di bibir kemaluan itu, lalu menjilat-jilat seperti kucing. Geni mencolok-colok lubang Prawesti dengan menggunakan lidahnya. Dan yang terakhir ia hisap kelentit gadis itu. kelentit Prawesti terasa lebih besar dari malam pertama mereka dulu. Geni menghisapnya hingga pinggul Prawesti terangkat-angkat.
"Kangmas... kok jadi enak begini? Ohh... aku enak!" katanya mengerang.
Geni mengulangi lagi memakan daging kenyal itu. Ia hisap dan
ditekan-tekannya lubang Prawesti dengan lidahnya. Biji kelentit ia mainkan, dihisap,
dijilat dan dipijat-pijatnya dengan menggunakan bibir. Prawesti menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak tahan.
"Kangmass... aku mau pipis... m-mau pipis... maaf, Kakangmass! Aghhhh..."
Benar saja, Prawesti membanjir. Ia orgasme. Geni terus mengisapnya. Beberapa lendir itu ia minum. Agak hangat dan asin. Geni membersihkan bibirnya. Prawesti lemas di atas batu gua. Geni tersenyum, ia posisikan kejantanannya tepat di depan lubang surga. Diangkatnya pantat Prawesti, lalu menusuk. Kejantanannya pun mulai masuk perlahan... pelan... tapi susah.
"Ahh... Kangmas!" Prawesti merintih. Tangannya meraba kemaluan dan
sedikit menahan gerakan Geni. Tapi tak begitu kuat. Maka Geni mendorong lagi. Jemari Prawesti terasa menyentuh kejantanannya, sementara kemaluan gadis itu berkedut-kedut seolah-olah menghisap rakus.
Geni menarik kembali, lalu kemudian mendorong lagi pelan-pelan. Tarik dorong-tarik dorong. Setiap Ia mendorong, tubuh Prawesti bergetar. Dorong, bergetar lagi. Dan... SREETTT... Geni seperti melayang ketika seluruh kejantanannya masuk semua.
"Kangmass... oooohhh!" Prawesti meraba kejantanan Geni yang sudah menghilang ke dalam miliknya.
Geni mulai menggoyang. Ia tindih tubuh montok Prawesti. Ruangan gua kian bertambah panas. Suara selangkangan mereka yang beradu terdengar merdu. Rasa dingin sudah tak ada artinya lagi. Yang ada adalah usaha untuk
meraih kenikmatan bersama.
Prawesti cuma bisa mengeluh nikmat. Suara ah dan uh keluar dari mulutnya. Di pikiran mereka cuma ada nafsu. Gua itu menjadi saksi bisu bagaimana kedua alat kelamin mereka bersatu. Geni menghisap puting Prawesti lagi. Puting itu sangat mengeras. Geni yakin Prawesti sangat menggairahkan kalau ia bisa melihatnya.
 "Kangmas, aku mau keluar lagi. Mau pipis!" Prawesti berkata.
"Aku juga sudah di ujung, Westi. Keluar bersama-sama ya," sahut Geni.
“Aduh, Kangmas... pejumu... pejumu... muncrat!"
“Ohh... punyamu enak, Westi. Seret, rapat, ketat. Oohh!"
Satu, dua, tiga, empat, lima... sepuluh kali semprotan. Sperma Geni banyak
sekali memancar di rahim Prawesti. Mereka berpelukan erat sekali. Dua insan itu terbenam dalam panasnya api nafsu.
Geni memandang wajah Prawesti. Goa itu gelap. Tetapi Geni bisa melihat butir-butir keringat di wajah cantik Prawesti. Keduanya mandi keringat, meski di dalam goa udara sangat dingin. Tiba-tiba ada sesuatu berkelebat di benak Wisang Geni. Semacam cahaya yang benderang sesaat.
Apa itu? Dia merasa menemukan sesuatu yang penting. Geni berpikir keras.
"Kamu berkeringat, ketua. Padahal udara sangat dingin."
"Kamu juga berkeringat. Tapi tunggu dulu, apa itu? Berkeringat itu artinya panas. Tubuh kita panas padahal udara sangat dingin. Panas tubuh muncul begitu saja, tanpa dikendalikan, tanpa diperintah."
Prawesti menatap kekasihnya, tidak mengerti apa yang dibicarakan lelaki itu. Dia memutuskan untuk diam saja. Dia yakin kekasihnya sedang memikirkan sesuatu yang penting.
Geni bangkit duduk semedi. Dia memikirkan sesuatu yang muncul tiba-tiba di benaknya. Sesuatu yang ada kaitan dengan misteri tenaga Wiwaha. Panas tubuh itu muncul begitu saja, tanpa diperintah, tanpa dipaksa. Tetapi panas itu bisa dikendalikan. Bisa diatur. Tenaga Wiwaha yang sempurna itu juga muncul secara mendadak, tanpa diperintah dan tanpa dipaksa.
Dia yakin panas itu harus ada sebabnya, harus ada asal-usulnya mengapa bisa muncul begitu saja. Panas tubuh itu muncul karena adanya gejolak birahi. Tubuh akan semakin panas dan akhirnya berkeringat, juga disebabkan asal-usulnya yaitu gerak. Makin banyak bergerak, makin panas dan makin berkeringat Tetapi pertanyaan tentang asal-usul tenaga Wiwaha yang sempurna itu, tetap tidak terjawab.
Mengapa dan bagaimana caranya tenaga itu bisa muncul dengan utuh dan sempurna?
Ketika melihat Wulan dilukai Lembu Agra, Wisang Geni marah. Kemarahan yang luar biasa. Ketika bertarung lawan Sam Hong, pada saat kritis, dia pasrah. Dia yakin bakal mati. Itu sebab dan asal-usul munculnya tenaga Wiwaha yang dahsyat. Pada situasi biasa, tenaga Wiwaha itu muncul dan tersalur dalam pukulan. Itu pun sudah sangat ampuh. Namun tenaga Wiwaha sempurna itu berlipat-ganda kekuatannya, jauh lebih dahsyat
Prawesti melihat Geni bersemedi. Merasa tak ada lagi yang perlu dikerjakan, dia melangkah keluar goa. Bergabung dengan murid lain, berlatih.
Wisang Geni mengingat-ingat pengalaman dua tahun silam di hutan dekat desa Wajak. Dia tidak bertemu langsung dengan Eyang Sepuh Suryajagad. Tetapi Eyang Sepuh telah memberi petunjuk melalui bisikan jarak jauh.
"Tidak sedih, tidak gembira, tidak berani, tidak kuasa, tidak birahi, tidak cinta, tidak selamat, tidak mati. Delapan jalan satu tujuan. Tidak sedih atau sedih, sama saja. Ada atau tidak ada, sama saja. Delapan dan satu, sama saja."
Ternyata petunjuk itu berhasil memecah kebuntuan pemahaman rahasia jurus Garudamukha Prasidha dan Jurus Penakluk Raja. Pemahaman itu membuat tenaga Wiwaha yang diperolehnya di lereng gunung Lejar, kekuatannya semakin besar. Dengan pemahaman itulah dia mengalahkan beberapa jago kelas utama daratan Cina. Namun pemahaman tersebut belum bisa menyempurnakan tenaga Wiwaha menjadi kekuatan yang utuh dan sempurna. Baru pada saat kritis ketika nyawanya di ujung tanduk, nyaris mati oleh pukulan Sam Hong, tenaga Wiwaha itu tersalur sempurna dan memukul balik Sim Hong.
Belakangan dia mencari tahu cara penyempurnaan itu tapi sampai hari ini tetap sia-sia. Geni sendirian di goa. Ia masih merenung. Ingatannya menerawang ke Eyang Sepuh. "Jika Eyang ada di sini sekarang, aku yakin beliau bisa menjawab rahasia ini."
Geni belum pernah bertatap muka dengan Eyang Sepuh. Dia pernah melihat Eyang dari jauh, itu pun hanya punggungnya. Ketika itu, usai dia mengalahkan dua pendekar India, Malini dan Kumara. Eyang berjalan menjauh. Eyang Sepuh berjalan seperti melenggang santai, tidak tampak menggerakkan kaki namun gerakannya sangat cepat. Dalam sekejap orangtua itu hilang dari pandangan mata. Hanya suara kidungnya yang masih terdengar, tanda tenaga dalam yang sempurna.
Dia masih ingat kilasan peristiwa itu. Kidung yang dinyanyikan Eyang Sepuh Suryajagad, kidung Penakluk Raja. Mendadak Wisang Geni ingat bahwa kidung itu merupakan ciptaan Eyang Sepuh sendiri. Itulah yang diceritakan para tetua Lemah Tulis. Itu ciptaan Eyang, pasti ada maknanya, ada rahasianya. Ia mengingat syair kidung, memahaminya kata demi kata.

Ilmu dari seberang,
tak boleh tepuk dada di tanah Jawa ini
Dari Gunung Lejar, jurus Penakluk Raja.
Ilmu dari segala Ilmu
Melenggang ke Barat, meluruk ke Timur
Merangsek ke Utara, merantau ke Selatan
Tak ada lawan, tak ada tandingan, ilmu dari segala ilmu

Tiba-tiba Wisang Geni berteriak girang. Tanpa sadar ia berkata kepada diri sendiri. "Bukankah Utara adalah kepala, Selatan itu kaki, Timur itu tangan kanan dan Barat tangan kiri. Lantas apa arti syair ilmu dari seberang, tak boleh tepuk dada di tanah Jawa? Apa artinya dari Gunung Lejar, Jurus Penakluk Raja, ilmu dari segala ilmu?"
"Ketua, ilmu dari seberang tak boleh tepuk dada di tanah Jawa mungkin artinya serangan lawan tidak boleh mengalahkan pusat kekuatan diri. Tanah Jawa itu kan pusat kejayaan dan harga diri kita semua."
Geni menoleh. Dia melihat Prawesti duduk bersila. Rupanya gadis itu masuk ke goa tanpa diketahui Geni yang sedang tersita seluruh perhatiannya pada rahasia kidung. Prawesti tersenyum, seperti baru saja memecahkan teka-teki mainan anak-anak.
Geni terkesiap. "Bagaimana kamu bisa mengerti itu? Apakah kamu tahu kidung itu?"
"Ketua, semua murid Lemah Tulis hafal dan bisa mendendangkan kidung Penakluk Raja, apanya yang aneh." Prawesti mengucapkan kata-kata itu seperti sesuatu yang tidak penting.
"Bagaimana kamu bisa memecahkan rahasia itu?"
"Rahasia apa? Aku tak mengerti maksudmu"
Sesaat Geni sadar dan mengerti. Dia tak bisa menebak arti syair karena dia berpikir dengan pemikiran yang njelimet. Prawesti tanpa sengaja bisa mengartikan kalimat itu karena dia berpikir secara sederhana. Maksudnya memang sederhana. Memang harus seperti itu, serangan lawan tak akan bisa menembus pusat kekuatan selama kita menerapkan penguasaan Jurus Penakluk Raja.
Dan kalimat "tak boleh tepuk dada"artinya tidak boleh membiarkan lawan menggoyahkan kepercayaan diri sendiri. "Tanah Jawa" artinya pusat kekuatan diri. Pusat itu ada di tengah, di dada. Jadi tenaga inti harus dihimpun dan dipusatkan di dada.
Mendadak Geni berlari memeluk Prawesti, menggendong dan melemparnya ke udara, menangkap kembali seperti mainan anak-anak. Gadis itu menjerit. Wisang Geni berteriak girang.
"Sempurna, sempurna, luar biasa, selama ini rahasia itu berada di ujung hidung dan aku buta tidak melihatnya, luar biasa. Terirnakasih kekasihku."
Syair "dari Gunung Lejar, Jurus Penakluk Raja, Ilmu dari segala Ilmu", terpecahkan. Geni tahu, di gunung Lejar itulah rahasia Garudamukha Prasidha tersimpan selama puluhan tahun. Di gunung Lejar juga asal muasal ilmu Garudamukha diciptakan Baginda Raja Erlangga dan Empu Barada. Dari Garudamukha sebagai cikal bakal ilmu Lemah Tulis lahirlah Prasidha dan juga Jurus Penakluk Raja.
Geni secara kebetulan menemukan rahasia Garudamukha Prasidha di gunung Lejar. Dia temukan rahasia itu sebelum dia menemukan tenaga Wiwaha, juga di gunung Lejar. Dan dua penemuan itulah yang mengubah dirinya dari seorang pesilat biasa yang sedang terluka parah menjadi jago nomor satu.
Dalam kidung ciptaannya, Eyang Sepuh Suryajagad memberitahu bahwa Garudamukha Prasidha hanya bisa sempurna menjadi Jurus Penakluk Raja jika berhasil melalui pengerahan seluruh tenaga dalam secara utuh. Tenaga itu dihimpun di pusat, di dada, kemudian disalurkan ke kepala dengan mulus sinambungan lalu menyalurkan ke bagian kaki dengan satu hentakan keras, begitu sebaliknya. Demikian juga penyaluran tenaga ke tangan kanan dan tangan kiri, mengalir perlahan mulus bersinambungan kemudian dihentakkan ke bagian tangan yang berlawanan.
Geni bangkit dari semedi, memainkan tujuh jurus Prasidha dengan pemahaman baru itu. Beberapa kali mengulang barulah dia berhasil menguasai dengan lancar. Dia mengerti kini hebatnya Garudamukka Prasidha. Tadinya jurus Prasidha yang dia gunakan dalam berbagai pertarungan, hanya jurus menghimpun tenaga serangan lawan kemudian mengembalikan tenaga itu ke lawan.
Sekarang ini Prasidha yang dia gunakan bisa jauh lebih hebat dari itu. Dia bisa menghisap dan menampung tenaga lawan, kemudian dengan tambahan tenaga sendiri, tenaga lawan itu dikembalikan menjadi serangan kepada lawan. Hebatnya lagi, serangan tidak terbatas pada lawan yang menyerang tadi, tetapi bisa juga kepada lawan lain. Artinya dalam situasi dikeroyok, Prasidha bisa menyedot tenaga lawan yang satu untuk dikembalikan dan dialihkan menjadi serangan kepada lawan yang lain.
Kini Geni sadar, jurus Garudamukha Prasidha pemahaman baru inilah yang oleh Eyang Sepuh Suryajagad disebut Jurus Penakluk Raja. Jika tadinya ia menggelar Penakluk Raja dengan tenaga tidak penuh, sekarang ia bisa memainkan jurus itu dengan tenaga Wiwaha yang penuh dan total.
Dia sadar untuk melancarkan dan menyatukan pemahaman tenaga inti Wiwaha ke dalam tujuh jurus Prasidha tidak bisa dengan sekejap atau sekali coba. Butuh waktu, tergantung sering tidaknya berlatih. Semakin sering dilatih memudahkan jurus ini menyatu dengan pikiran dan kemauan. Dia mengerti sekarang alasan Eyang Sepuh menamai kidungnya Jurus Penakluk Raja.
Pengertiannya sederhana saja, raja adalah penguasa tertinggi yang punya kekuasaan atas pasukan perang, punya kekayaan tak terbatas. Raja memiliki kekuasaan dan kekayaan, dua hal yang membuat dia sebagai penguasa di muka bumi. Maka hanya "ilmu dari segala ilmu" saja yang bisa mengalahkan kekuasaan dahsyat itu. Artinya jika ilmu itu bisa menaklukkan raja yang begitu besar kekuasaannya, maka bisa juga mengalahkan lawan yang dahsyat sekali pun.
Dengan penuh kegembiraan Geni memainkan tujuh jurus Prasidha dengan pengerahan tenaga Wiwaha. Dia bersilat dengan perasaan gembira (Harta) sesaat kemudian berganti suasana hati Glana (Sedih), Syura (Berani), Prahhawa (Kuasa), Raga (Nafsu), Kamuka (Cinta), Hayu (Selamat) dan Kapejah (Mati).
Delapan suasana hati ini sebagaimana petunjuk Eyang Sepuh Suryajagad merupakan kunci memainkan Jurus Penakluk Raja. Pada mulanya masih agak kaku, tetapi lambat laun semakin lancar. Sekilas Geni ingat cerita gurunya Manjangan Puguh bagaimana dalam perang Ganter, Eyang Sepuh dengan beberapa jurus sederhana berhasil melukai pendekar Lahagawe.
Tanpa sadar Geni berkata. "Mungkin saat itu Eyang menggunakan rasa Harsa kemudian Syura dan Prahhawa, dan setelah Lahagawe terluka, Eyang dengan rasa Glana (Sedih) mendorong pergi pendekar Himalaya itu. Pada tahapan usia dan ilmu seperti itu Eyang merasa sedih jika harus membunuh seorang manusia."
Penemuan itu merupakan titik pencapaian tertinggi bagi Wisang Geni. Diawali kejadian mengobati demam Prawesti, berlanjut pada hubungan intim, keringat dan panasnya birahi, Geni kemudian hanyut dalam misteri penyempurnaan Jurus Penakluk Raja sebagai kunci ilmu leluhur Lemah Tulis Garudamukha Prasidha.
Selama tujuh hari melatih Jurus Penakluk Raja, Geni tak pernah keluar goa. Dia makan dan minum dilayani Prawesti. Gadis ini tidak selalu berada di goa melayani ketuanya, ia sering berlatih bersama teman-temannya di air terjun.
Hari kedelapan setelah penemuan misteri Jurus Penakluk Raja atau hari keempatpuluh tiga keberadaan di air terjun, Geni akhirnya bisa memainkan tenaga Wiwaha secara utuh dan sempurna. Jurus yang digunakan bertambah matang dan berkekuatan dahsyat, tujuh jurus Garudamukha Prasidha, empat jurus Wiwaha dengan delapan sikap suasana hati. Sekarang ini Geni bisa mengatur sendiri kapan mau memainkan tenaga Wiwaha secara utuh dan sempurna.
Hari itu ketika dia keluar dari goa, berdiri di atas batu cadas agak jauh dari air terjun, terdengar tepuk tangan ramai. Geni melihat murid-murid Lemah Tulis yang tadinya sedang berlatih, berhenti semuanya dan bertepuk tangan menyambut ketuanya. Dia melihat Prawesti berada di antara para murid. Gadis ini tersenyum. Dia yang memberitahu bahwa sang ketua selama beberapa hari ini tidak bisa hadir dalam latihan bersama karena sedang memperdalam ilmu pusaka Lemah Tulis Prasidha.
Seorang diantara mereka, Prastawana, murid pertama Branjangan, bergerak maju. Dia lebih tua dari Geni baik usia maupun silsilah. Branjangan murid kedua Eyang Rama Balawan, sedang guru Geni yakni Padeksa murid ketiga Rama Balawan. Meskipun demikian, Prastawana sangat menghormati Geni. Tak cuma lantaran dialah ketua Lemah Tulis, juga ilmu silatnya yang begitu menakjubkan.
Prastawana memberi hormat. "Selamat ketua, semoga dengan ilmu itu kau bisa mengangkat nama Lemah Tulis lebih harum lagi. Maaf ketua, kami semua mohon kamu memperlihatkan ilmu pusaka dari leluhur kita itu."
Geni tertawa. "Kakang Prastawana, kau mau menjajal aku?"
Prastawana mundur dengan wajah pucat. "Jangan ketua, jangan, aku tak akan tahan. Dan kami semua tak akan bisa melihat kehebatannya karena pasti kau hanya mengerahkan sebagian tenaga, jika seluruh tenaga maka aku pasti binasa. Ada lawan yang lebih hebat untukmu."
"Kamu licik, mau mengadu aku dengan siapa?"
"Maaf Ketua, dia ada di belakangmu."
Geni melihat ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Geni membalik badan, tetapi Prastawana sudah berada di tepi sungai. Geni berseru, "Apa maksudmu, kakang?”
Semua murid tertawa, sambil menunjuk ke belakang Geni. Kini Geni mengerti. "Oh kalian semua sudah sekongkol, rupanya."
Geni menghela nafas panjang, memenuhi parunya dengan udara bersih pegunungan. "Baik, perhatikan, aku akan mainkan tujuh jurus Prasidha ilmu dari leluhur kita, yang tiap jurus bisa dimainkan dalam delapan suasana hati, maka seluruhnya ada limapuluh enam jurus Prasidha, inilah yang disebut Jurus Penakluk Raja. Jadi Jurus Penakluk Raja adalah jurus Prasidha yang dikembangkan. Ini kuperoleh dari wejangan Eyang Sepuh Suryajagad. Dan tenaga dalam yang kugunakan adalah tenaga Wiwaha warisan guruku pendekar Lalawa, ilmu ringan tubuh dari guru Manjangan Puguh dari perguruan Merapi. Perhatikan!"
Geni menggelar jurus lima Prasidha yakni Prasada Atishasba (Puncak menara tinggi) sambil melompat ke sungai dengan ilmu ringan tubuh Waringin Sungsang. Tampak Geni berjalan di permukaan air. Tiba di air terjun, Geni melompat menerobos curah air yang deras, menggunakan jurus Akwamatyana (Aku yang akan membunuh) dari Prasidha, air tersibak terbelah oleh tenaga dahsyat. Lalu jurus Kacakrawartyan (Penguasaan bumi). Dua tangan Geni menjura ke atas. Geni memainkan dalam suasana hati Harsa (Gembira) berubah ke Syura (Berani) dan Prahhawa (Kuasa). Air terjun tersibak ke sana sini, di seputar tubuh Wisang Geni.
Semua murid Lemah Tulis terkagum-kagum. Tak seorang pun bersuara. Rasanya tak mungkin ada manusia yang sanggup menahan bobot air terjun di atas kepala. Tetapi ketua mereka mampu melakukannya. Mungkin jika hanya mendengar cerita orang, mereka akan sulit percaya.
Setelah puas memperlihatkan jurus Garudamukha Prasidha, ketua Lemah Tulis itu melompat ke air dan berjalan santai ke tepi sungai. Berjalan santai di atas permukaan air, adalah jauh lebih sulit ketimbang berlari di atas air. Semua murid Lemah Tulis, berlutut memberi hormat. Terdengar isak tangis. Geni menoleh, dia mengenal dua murid ayahnya, Gajah Nila dan Gajah Lengan.
Sambil menahan isak, Gajah Nila berkata, "Hari ini aku bahagia, melihat ilmu silat ketua yang begitu dahsyat. Pasti guruku yang mulia akan bangga di alam baka menyaksikan kehebatan putranya. Maafkan aku, kalau mendadak saja aku jadi cengeng."
Latihan di air terjun berlanjut. Geni terkadang berlatih di dalam goa, terkadang melatih murid-muridnya. Setelah dua bulan bermukim dan berlatih di air terjun, rombongan kembali ke perdikan. Semua murid merasakan semangat yang bergelora dan rasa percaya diri serta kebanggaan sebagai murid Lemah Tulis.
Masih terngiang di telinga mereka kata-kata Geni. "Aku bisa sampai ke tingkat ini, karena aku terus berpikir dan berlatih. Aku merasa yakin ilmu silat ini begitu mulianya sehingga pantaslah jika harus menyita seluruh umur kita untuk belajar dan berlatih. Camkan itu, saudara-saudaraku!"
Suatu pagi, beberapa hari setelah kembali dari air terjun, Geni terjaga dari tidur karena ada tetesan air mengenai wajahnya. Dia membuka mata, melihat wajah Prawesti, sepasang mata gadis itu menatap nakal. Wajah dan rambut gadis itu masih basah. Prawesti baru selesai mandi. Dia cantik, kecantikan yang sangat menggoda.
"Ketua, sarapan pagi sudah siap, silahkan makan." Prawesti hendak beranjak tapi tangan Geni memegang lengannya.
"Jangan pergi dulu." Geni menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Tubuh Prawesti masih basah, ada sisa-sisa air bekas mandi. Dingin tetapi hangat. "Westi, kau membuat aku tergila-gila, kau cantik dan menarik, pagi ini aku seperti melihat seorang dewi."
Tubuh Prawesti menggelinjang ketika tangan Geni meraba dan mengelus pahanya. "Ketua, kau masih mau lagi, semalam kau hampir membunuhku."
Geni berbisik. "Kau capek?"
Prawesti menggeleng, rambutnya yang basah menyapu wajah lelaki itu. "Aku sudah janji akan selalu melayanimu."
Dan mereka pun bergumul mesra sampai pagi beranjak ke siang, matahari mulai menjadi terik. Geni bersemedi, Prawesti berbaring, kepalanya di pangkuan Geni. Gadis itu selalu tertidur setelah permainan nafsu selesai. Geni membuka mata, membangunkan gadis remaja itu.
"Adik Westi, ada tugas untukmu. Mulai hari ini kau melapor kepadaku apa saja yang dilakukan Raditin dan Kirana. Selain itu, kau juga melapor semua perkembangan di perdikan. Ini rahasia, kau sanggup?"
Mata gadis itu membelalak. "Ada apa dengan dua mbakyu itu, ketua. Apakah ada ancaman bahaya?"
Geni menggeleng. "Aku hanya ingin tahu apakah dua murid itu melakukan pekerjaan yang kutugaskan kepada mereka. Bahaya memang selalu akan mengancam kita, banyak musuh yang ingin melenyapkan Lemah Tulis. Jangan lupa, tugas ini rahasia!"
Prawesti bangkit, duduk berhadapan. "Ketua, aku ingin belajar dan melatih ilmu Wiwaha, boleh?"
Geni diam. Dia ingat bahwa selama dua bulan belakangan ini dia sudah menurunkan hampir semua ilmu silatnya kepada gadis itu. Meski Prawesti belum menguasai namun dia tetap menjejalinya dengan pelajaran lisan yang harus dihafal.
Menurut aturan hanya murid lapis pertama yang boleh mempelajari Prasidha. Prawesti beruntung, ia satu-satunya murid lapis dua yang boleh mempelajari Prasidha. Ia dibimbing langsung oleh ketua, bahkan juga Jurus Penakluk Raja. Hanya ilmu yang diperoleh Geni dari Manjangan Puguh yakni Bang Bang Alum Alum dan Waringin Sungsang yang tidak diajarkan karena harus mendapat ijin dari pemiliknya.
Hanya lantaran belum memiliki tenaga dalam setangguh Wiwaha maka gadis itu belum bisa memainkan Prasidha secara sempurna. Ia berlatih sampai batas tertentu, selebihnya ia dipaksa menghafal semua teori secara lisan. Saking heran pada suatu hari dia bertanya pada Geni.
Waktu itu Geni menjawab, "Westi, aku punya banyak musuh, tak ada jaminan aku bisa hidup terus. Jika aku mati, aku tidak ingin semua kepandaian ini ikut terkubur. Aku ingin ada yang meneruskan. Kamu kupilih, karena kau satu-satunya orang yang paling sering berada di dekatku sehingga kapan saja aku bisa mengajarimu Kau pun cerdas, bisa mengingat semua yang kuajarkan."
Geni masih diam. Prawesti menepuk pahanya. "Kamu belum menjawab permohonanku belajar Wiwaha."
"Sulit, adik. Sulit sekali. Mungkin bisa jika hanya berlatih tenaga panasnya saja. Sebenarnya tenaga dalammu sudah banyak maju sejak berlatih Prasidha, tapi kenapa kau ingin sekali melatih Wiwaha, kenapa Westi?"
Prawesti merunduk, wajahnya merah, malu. "Supaya sehat, katamu Wiwaha membuatmu jadi perkasa. Aku ingin bisa melayanimu selama-lamanya."
Geni terharu. Tak menyangka gadis ini sangat menyintainya. Geni memeluk dan mengelus-elus kepala Prawesti. "Akan kupikirkan caranya, sekarang kau pergi jalan-jalan mengawasi dua wanita itu, aku mau semedi."

3 komentar:

  1. 2 bulan menunggu cerita ini keluar akhirnya kesampaian juga.
    Makin mantap...!

    BalasHapus
  2. Entah sudah berapa kali saya membaca sejak dirilis,tapi rasanya tak pernah bosan.
    Setelah silent rose ini cerita terfavorit, cerita tidak selalu tentang sex juga tidak melulu tentang tokoh utama saja.
    Ada gabungan dari banyak figuran yang turut membantu proses pembentukan karakter utama sehingga membuat saya selalu menunggu-nunggu aksi ataupun narasi tokoh utama.
    Pokoknya ini is the best.

    BalasHapus
  3. Rasanya sangat lama sekali menunggu cerita berikutnya.
    Sudah gak sabar.

    BalasHapus