Minggu, 03 September 2017

Saat Berdua 1



Derri tidak masuk kantor, badannya sedikit tidak enak hari ini. Seluruh tubuhnya pegal-pegal, mulai dari leher, punggung, sampai kedua kaki. Mungkin ini cuma flu atau masuk angin biasa, jadi Derri memutuskan tidak perlu ke dokter. Cukup istirahat di rumah saja. Tiduran sambil membaca berkas-berkas pekerjaannya.
”Oh, kukira kamu ke kantor.” seru Zita kaget. Dia masuk ke kamar Derri untuk membersihkan seperti biasanya. Zita langsung menutup pintu kembali dan keluar.
”Eh, tidak apa-apa, bersihkan saja.” Derri memanggil kakak iparnya itu.
”Kamu sakit?” tanya Zita saat masuk kembali ke dalam kamar.
”Emm, cuma pegal sedikit. Sepertinya masuk angin.” jawab Derri.
Zita mulai menyapu, kemudian mengepel. Ketika dia membungkuk-bungkuk mengepel itulah, Derri tanpa sengaja melihat belahan dadanya dari leher T-shirt Zita yang rendah. Kesan pertama : bulat dan putih. Wah, pemandangan yang sangat menarik, pikir Derri. Tak ada salahnya menikmati pemandangan indah ini mumpung Lia, istrinya, sedang tidak ada di rumah. Belahan dada itu terlihat bulat dan mantap. Dan lagi, putihnya minta ampun. Uh, sangat menggairahkan.

Derri yang mulai terangsang menikmati guncangan sepasang bola kembar besar itu, menggeleng dengan cepat. Tidak, dia tidak boleh tergoda. Ingat, Zita adalah istri Ihsan, kakaknya sendiri.
”Mau dikerokin?” tawar Zita saat melihat muka Derri yang pucat menatapnya.
Derri kaget mendengar tawaran itu. Dia yang sedang asyik memperhatikan belahan payudara Zita, menjawab gelagapan. ”Ehm, K-kerokan? Aku nggak biasa. Kalo pegal-pegal begini biasanya aku dipijat.”
Memang, Derri suka meminta Lia untuk memijatnya kalau dia sudah merasa kecapekan. Tapi karena sudah 3 hari ini Lia mengerjakan tugas khusus dari kementerian dan harus menginap di luar kota, jadilah Derri masuk angin dan flu. Baru nanti malam, istrinya yang cantik itu pulang.
”Oo begitu. Tak kukira Lia ternyata pintar mijat juga.” sahut Zita. ”Tapi kan dia baru pulang 2 hari lagi,” lanjutnya sambil kembali mengepel.
Derri tidak menjawab karena kini dia kembali asyik menikmati guncangan bukit kembar Zita. Dan bahkan masih ada lagi, meski Zita agak gemuk sehabis melahirkan, tapi badannya berbentuk sempurna. Dari atas lebar, turun ke pinggang menyempit, terus turun lagi ke pinggul melebar. Hmm, sungguh tubuh yang amat ideal.
”Nanti kalo kerjaanku sudah beres, kamu mau kupijitin?” tawar Zita. 
”Hah?” Derri tak habis mengerti. Berani benar dia, menawarinya untuk dipijit? Tapi melihat wajahnya yang serius, jelas tak ada maksud lain selain memang ingin membantu Derri.
”Apa kamu bisa?” tanya Derri.
”Aku sering memijat Ihsan yang kecapekan setelah bekerja.” Zita menjawab.
”Hmm, boleh juga kalo begitu.” Derri mengangguk. Sebenarnya dia ingin melihat tubuh Zita lebih lama lagi, tapi perempuan itu telah menyelesaikan pekerjaannya dan kini keluar dari kamar.
Derri tampak berpikir, menimbang-nimbang. Dia memang senang dipijit, tapi bagaimana kalau Lia sampai tahu jika dia dipijat oleh Zita, Derri tidak bisa membayangkan. Tapi dia sudah bertekad akan menerima tawaran itu, toh nanti dia bisa berpesan pada Zita untuk tidak bilang-bilang pada Lia.
OK, jalan keluar sudah ditemukan.

***

”Mau dipijat sekarang?” Zita bertanya saat ia membawa minuman ke kamar Derri. Jam di dinding menunjukkan pukul 12 siang.
”Kerjaan kamu sudah beres?” tanya Derri. Kembali matanya menjelajahi tubuh Zita yang aduhai.
”Belum sih,” Zita menggeleng. ”Mau seterika tapi jemuran belum kering.”
Derri sebenarnya sudah tak tahan untuk dipijat sekarang, tapi Ihsan sedang ada di rumah untuk makan siang. Derri takut Ihsan akan memergokinya saat sedang dipijat oleh Zita. Jadi ...
”Nanti saja. Sekitar jam dua.” sahutnya. Pada jam itu, Ihsan sudah kembali ke toko, dan masih cukup waktu sebelum penghuni rumah yang lain pulang pada pukul lima sore.

***

Sekitar pukul dua lewat seperempat, Zita mengetuk pintu kamar Derri.
”Masuk,” Derri mempersilakan.
Zita membuka pintu. ”Kamu punya lotion?” tanyanya sambil melangkah masuk.
”Ada di situ.” Derri menunjuk meja rias Lia yang ada di pojokan kamar. Saat Zita mengambilnya, dia membalikkan tubuh dan telungkup, siap untuk dipijat.
”Lepas bajumu biar tidak kotor.” Zita mendekatinya.
Derri segera mencopot bajunya. Dengan hanya berbalut selimut, dia kembali berbaring. Zita mulai mengurut punggungnya. Hmm, rasanya sungguh nikmat. Dia memang pintar memijat. Dengan lotion dia mengurut tubuh Derri mulai dari pinggang sampai punggung. Zita seperti tahu persis susunan otot-otot di tubuh Derri yang sakit. Sepertinya dia sudah pengalaman memijat.
”Ehmhhh... Kamu nggak capek?” Derri bertanya di sela-sela desahannya.
”Tidak, tubuhmu lebih kurus daripada Ihsan.” Zita menekan tulang belikat Derri. ”Sama sekali bukan masalah buatku.”
”Uh, pijatanmu enak. Boleh aku minta tiap hari?” Derri bertanya.
”Jangan. Tidak baik pijat setiap hari. Seminggu sekali saja... atau pas lagi capek.” Zita terus memijat.
Lalu hening lagi. Derri tampak asyik menikmati pijatan Zita pada punggungnya.
”Punggungmu sudah. Sekarang ganti kaki.” kata Zita.
”Hmm, boleh.” Derri mengangguk. ”Tapi jangan ke atas ya, aku suka nggak tahan. Geli.”
Tidak menjawab, Zita menyingkap selimut Derri sampai selutut, lalu mulai memencet-mencet telapak kakinya. ”Sebenarnya, pijat itu sebaiknya dimulai dari kaki dulu, baru ke atas.” terang Zita.
”Kenapa tadi nggak begitu?” tanya Derri.
”Kan tadi kamu mengeluh punggungmu yang sakit.” sahut Zita sambil tangannya naik ke betis Derri dan mengurutnya dari pergelangan kaki sampai lutut, selesai yang kiri, pindah yang kanan.
Derri yang menikmati pijitan Zita pun terdiam, tidak bertanya lagi.
Selesai dengan betis, Zita menyingkap selimut Derri lebih ke atas lagi dan mulai memijat paha belakang pemuda itu. Derri yang masih telungkup, mendesah kegelian. Burungnya yang berusaha ia sembunyikan dari tadi, perlahan mulai bereaksi. Benda itu membesar. Derri yakin, Zita sudah tahu bahwa dia tidak memakai celana dalam saat ini. Meskipun selimut masih menutupi pantatnya, tapi dalam posisi begini, terbuka sampai ke pangkal paha, paling tidak buah zakar Derri akan terlihat. Tapi Zita terlihat wajar-wajar saja, dia masih terus mengurut dan memijat, tak terlihat kaget sama sekali. Bahkan dia sekarang memencet-mencet pantat Derri yang terbuka.
”Ihsan pasti sangat menikmati pijatanmu, ya?” tanya Derri.
”Tidak cuma menikmati, dia bahkan sering minta lebih.” terang Zita.
”Minta lebih, maksudnya?” Derri tidak mengerti.
”Yah kalau dia sudah telanjur bernafsu, terpaksa kukocok.” kata Zita terus terang tanpa rasa malu sedikitpun.
Di bawahnya, Derri yang mendengar langsung bersemu merah. Membayangkan Zita mengocok penis Ihsan membuatnya jadi semakin bergairah.  
”Jangan dibayangkan ya, nanti kamu jadi kepingin.” celetuk Zita sambil  mengendurkan otot-otot pantat Derri dengan menekan dan mengguncangnya, membuat penis Derri jadi semakin terjepit.
”Uhh,” Derri melenguh keenakan.
”Sekali-sekali, minta juga Lia untuk mengurut penismu. Itu bisa memperlancar aliran darah biar kamu tidak cepat impoten.” Zita menyarankan. ”jangan cuma dimasukin vagina terus!” tambahnya.
Derri mengangguk. ”Nanti aku akan bilang padanya. Tapi sepertinya, dia tidak akan mau.”
”Kenapa begitu?” Zita heran. Tangannya masih terus memijat pantat Derri.
”Lia suka jijik, lihat burungku saja dia tidak mau.” Derri mengatakan rahasia istrinya.
Zita tertawa, ”Kasihan deh kamu.”
Derri ikut tertawa. ”Mau tolongin nggak?” dia bertanya.
”Tolong apa?” Zita menatapnya.
”K-kocokin... b-burungku.” Derri tergagap, takut Zita marah dan memukulnya.
Tapi di luar dugaan, wanita cantik itu cuma tersenyum. ”Kita lihat saja nanti.” ujarnya. ”Berbaliklah, kupijit bagian depanmu!”
Dengan malu-malu, Derri memutar tubuhnya. Penisnya yang sudah menegang dahsyat, terlihat menyundul tinggi dari balik selimutnya.  Zita meliriknya sekilas sebelum mulai mengurut kaki Derri. Ekspresinya tak berubah. Biasa saja. Sepertinya dia memang sudah biasa melihat ‘perangkat’ lelaki.
”Selain aku dan Ihsan, siapa lagi yang pernah merasakan pijitanmu?” tanya Derri sambil menahan geli.
Tangan Zita sudah sampai di pahanya. Kedua telapak tangan wanita itu membentuk lingkaran yang pas di pahanya, lalu digerakkan mulai dari atas lutut sampai ke pangkal paha, begitu berulang-ulang. Terasa jelas beberapa kali jari-jarinya menyentuh pelir Derri yang membuat penis pemuda itu jadi makin tegak mengencang. Apalagi gerakan mengurut paha itu membuat Zita harus membungkuk sehingga Derri bisa makin jelas melihat belahan dadanya dan sebagian payudaranya yang putih. Bahkan sampai guratan-guratan tipis kehijauan pembuluh darahnya pun nampak.
Derri harus berusaha keras menahan diri agar tak hilang kendali lalu menggumuli kakak iparnya yang cantik ini. Walaupun sudah ’tinggi’ begini, dia  tak akan sampai hati memperkosa Zita. Entah kalau wanita itu yang meminta, itu urusan lain, hehe... Derri terkekeh dalam hati.
”Tidak ada,” Zita menyahut. ”Aku tidak sembarangan mengobral pijatanku.” dia sudah selesai mengurut paha kanan, dan kini pindah ke paha kiri.
Mungkin karena posisi tubuhnya, sepertinya kali ini pelir Derri jadi lebih sering tersentuh dan terusap. Terasa sekali kalau lengan Zita ternyata banyak ditumbuhi bulu-bulu halus, membuat Derri jadi makin tegang saja. Penisnya sudah tegang maksimum, siap untuk digunakan. Tapi Derri tetap berusaha bertahan untuk tidak lepas kontrol.
Saat itulah...
Tiba-tiba muncul ide nakal di kepala Derri. Dengan menggerakkan pinggul dan kakinya, dia diam-diam menarik selimutnya seolah-olah tak sengaja hingga benda itu merosot ke samping. Kini Derri telanjang sepenuhnya. Batang kelaminnya yang sudah tegang tampak terbuka lebar. Pura-pura tidak tahu, Derri membiarkan benda itu mendongak dan mengacung menantang. Tapi dasar, reaksi Zita tidak seperti yang diharapkan. Wanita itu hanya melihat sekilas, lalu kembali asyik mengurut dan memijat. Dia membiarkan penis Derri terkatung-katung tanpa diapa-apain.
”Enak ya Ihsan, bisa  merasakan kocokanmu tiap hari.” Derri berusaha memancing.
”Sebenarnya bukan ngocok, tapi mengurut supaya aliran darahnya lancar, tapi kalau Ihsan sudah nggak tahan, ya sekalian aja dikocok.” sahut Zita seperti mengiming-imingi Derri.
‘Ah, pengin juga punyaku diurut, supaya lancar. Terus dikocok, supaya segar.’ batin Derri dalam hati.
“Kamu ngocoknya selalu sampai keluar?” dia bertanya lagi.
”Ya iya lah.” sahut Zita. “Lagian, cuma sebentar kok.”
“Oh iya?” Derri tertarik.
“Ehm, kadang juga lama sih, tapi biasanya 2- 3 menit sudah keluar. Malah pernah sudah keluar duluan sebelum kuurut, cuma kusentuh-sentuh aja.” terang Zita.
“Kok bisa?” Derri jadi makin penasaran.
“Itu waktu Ihsan lagi nafsu banget.” Zita mulai bercerita. ”Aku ngurut sambil telanjang, dan Ihsan kubiarkan megang-megang dada dan pantatku. Saat aku mengurut perutnya, nggak sengaja aku nyenggol-nyenggol burungnya yang udah tegang. Eh, tahu-tahu jariku kesiram spermanya.”
”Haha, bisa sampe gitu?” Derri tertawa. Tapi  Ihsan nggak salah juga sih, melihat Zita yang berpakaian lengkap begini saja, sudah membuat Derri pengen moncrot, apalagi kalau telanjang.
“Ada lagi yang lucu.” Zita tersenyum. ”Ihsan pernah keluar bahkan sebelum kusentuh,” celetuknya.
“Ah, benarkah?”
“Itu setelah Ihsan lama nggak dapat jatah karena aku mens. Jadi begitu kupijat, dia langsung moncrot dan membasahi sprei.” Zita terkikik. “Kamu ini termasuk kuat lho, lama nggak ketemu Lia tapi masih bisa tahan.” tambahnya.
Derri tersenyum bangga. Tapi senyumnya langsung berubah jadi dengus kekecewaan saat dengan dingin Zita menutup kembali kelaminnya dengan selimut dan berujar, “Ayo, sekarang atasnya,”
Dia lebih mendekat, berdiri di samping kiri perut Derri dan mulai memijat. Bulu-bulu di lengan Zita makin jelas kelihatan, lumayan panjang, halus, dan berbaris rapi, membuat Derri jadi makin terangsang. Kedua tangan Derri yang bebas mengambil kesempatan. Pura-pura tak sengaja, dia menyentuh pantat Zita yang terlihat begitu menonjol ke belakang. Dengan tangan kirinya, Derri mengelus benda itu.
’Uh, padat banget,” dia membatin dalam hati.
Zita masih tidak bereaksi. Derri jadi semakin berani. Tanganku kian nakal. Kali ini dia sudah tidak menyentuh lagi, tapi sudah meremas-remas kedua bulatan indah itu. Zita tidak protes, tapi dengan lihainya, dia menghindar dengan sedikit menjauhkan pantatnya. Derri segera tahu diri, Zita tidak mau disentuh.
”Sekarang tanganmu, mana?” Zita tetap tersenyum.
Derri cukup lega, berarti wanita itu tidak marah. Dia memberikan tangannya dan membiarkan Zita mengurutnya. Ketika memijit lengan atas, tanpa diduga, telapak tangan Derri tepat berada di wilayah dada Zita. Sambil menahan nafas, Derri sekali lagi memanfaatkannya. Pura-pura tak sengaja, dia menyentuh bukit indah itu. Derri mengelus yang sebelah kanan. Uh, bukan main padatnya. Payudaranya Lia saja tidak sampai seperti ini. Derri sampai bergetar dibuatnya.
Meski penasaran, Derri tidak berani melanjutkan aksinya. Ada rasa tidak enak, takut Zita akan menolaknya lagi. Biarlah seperti ini saja, cukup menggesek-gesek, tanpa memijit atau pun memegang, apalagi sampai meremas-remas.
Kedua tangan Derri selesai diurut. Zita menyibak selimut yang menutupi perut Derri, membuat penisnya yang tegang terbuka sekali lagi. Benda itu masih tetap membengkak dan menjulang, bahkan terlihat semakin besar. Tapi Zita seperti tidak tertarik. Dia melirik sekilas dan dengan perlahan mulai mengurut perut Derri.
”Kalau perut tidak boleh kuat-kuat.” terang Zita. Memang, dia lebih mirip mengusap daripada memijat. Hal ini makin menambah daya rangsang Derri. Apalagi saat melakukannya, beberapa kali jari Zita menyentuh penisnya meski secara tidak langsung, cuma menyenggol-nyenggol saja, tapi itu sudah cukup membuat cairan precum Derri mengalir keluar.
”Yak, selesai.” seru Zita begitu selesai mengurut perut.
”Ah,” Derri mendesah kecewa. Dia sudah begitu terangsang sekarang, tanggung kalau tidak diteruskan. Dia ingin Zita mengurut penisnya seperti yang biasa dia lakukan pada Ihsan.
”Ehm, soal yang tadi...” Derri berkata setengah ragu, suaranya agak serak.
”Ya, apa?” Zita bertanya, tampak tidak terpengaruh sama sekali meski di depannya ada Derri yang berbaring telanjang dengan penis tegak mendongak.
”Penisku... n-nggak diurut sekalian?” Derri terbata.
”Ah, nggak perlu. Punyamu masih bagus, masih sip.” sahut Zita.
”Tahu dari mana?” Derri bertanya.
”Itu, tegangnya masih bagus.” jawab Zita sambil menunjuk penis Derri yang sudah membengkak tak karuan. Ekspresi wajahnya biasa-biasa saja, tampak polos, wajar, padahal dia bicara tentang sesuatu yang amat sensitif dan rahasia.
Dan belum selesai Derri terkaget-kaget, dia makin terguncang sekaligus senang saat Zita meraih penisnya dan menggenggamnya!
”Lihat, begitu kaku dan keras.” bisik Zita.
”Ah, masa?” Derri mendesah.
”Benar. Lia pasti puas banget punya batang seperti ini.” tebak Zita. Dan itu memang benar, setahun menikah dengan Lia, penis Derri tidak pernah ngambek saat ingin digunakan.
”Apa penis Ihsan tidak seperti punyaku?” Derri bertanya dengan mata merem melek karena saat itu Zita tengah mengusap-usap ujung penisnya.
”Emm, punya Ihsan juga besar. Tapi karena badannya kekar, jadi tidak begitu kelihatan. Lha kamu, badanmu kurus tapi penismu begitu besar, kelihatannya jadi luar biasa.” jawab Zita.
”K-kamu mau kan... m-mengurut punyaku?” Derri bertanya lagi.
Zita tersenyum. ”Aku sih mau-mau saja, tapi aku tidak enak sama Lia. Biar nanti Lia aja kuajari caranya agar dia bisa mengurut penismu.” dia menolak dengan halus.
”Tidak,” Derri terus memaksa, ”Lia tidak perlu tahu hal ini. Aku ingin kamu yang mengurut penisku.”
”Emm, gimana ya?” Zita tampak berpikir. ”Aku tidak mau mengganggu milik Lia. Tidak enak rasanya, dia kan adikku sendiri.”
”Ah, siapa bilang mengganggu?” sahut Derri. ”Justru kamu malah membantunya. Ini kan untuk kepuasan Lia juga.” terangnya.
Zita terdiam, sepertinya mulai termakan oleh rayuan maut Derri.
”Ayolah, sebentar saja. Sampai aku keluar.” bisik Derri sekali lagi.
Zita akhirnya mengangguk. ”Janji ya, cuma sebentar.” dia menuangkan lotion ke telapak tangan dan mulai mengurut.
”Pasti.” Derri mengiyakan.
Zita menjamah paha Derri bagian dalam yang dekat-dekat kelamin dan mengurut disana. Secara perlahan, tangannya terus bergerak, merambat menuju kantung buah pelir dan menggenggam serta mengusap-usapnya lembut. Tentu saja itu membuat Derri merintih keenakan. Apalagi ketika tangan Zita bergerak ke atas, ke arah batangnya, dan dengan kedua tangan, mengocoknya bergantian.
”Ah, sedapnya!” Derri mendesis.
Dengan telunjuk dan ibu jari, Zita memencet batang penis Derri, mulai dari pangkal sampai ke ujungnya. Gerakannya bergantian antara mengurut dan memencet. Proses itu diulangnya lagi berulang-ulang, mulai dari mengurut paha, biji pelir, batang, dan seterusnya.
Begitu dirasa cukup, Zita melanjutkan dengan gerakan urut naik-turun. Kalo gerakan ini sih lebih mirip mengocok daripada mengurut. Tapi Derri tidak memprotes karena gerakan ini terasa begitu nikmat. Enak campur geli-geli sedikit. Zita memencet lagi dengan dua jari, lalu mengurut lagi, dilanjutkan dengan mengocok pelan, bahkan terkadang kocokannya menjadi begitu cepat hingga perlahan namun pasti, Derri mulai tersengal mendekati orgasmenya. Zita benar-benar lihai merangsang kelaminnya. Beberapa kocokan lagi, dia bisa sampai di puncak kenikmatannya.
Tapi...
”Sudah ah,” Zita menarik tangannya. ”Nanti keterusan.” dia mengelap tangannya yang basah dengan ujung roknya.
”Ah,” Derri mendesah kecewa. Mukanya sudah merah padam karena menahan gairah. ”Lanjutkan dong, aku sudah hampir…” dia menghiba.
Zita menggeleng. ”Simpan aja buat Lia kalo pulang.”
“Tapi itu masih lama?” Derri memprotes.
“Enak kan, biar makin banyak.” Zita tertawa.
”Tapi aku pengennya sekarang. Apa kamu tega meninggalkanku dalam kondisi seperti ini?” rayu Derri.
”Kenapa tidak?” Zita menarik selimut dan menutup penis Derri. ”Sudah ah, aku mau masak dulu.” dia berdiri dan beranjak meninggalkan kamar.
Dengan perasaan dongkol, Derri terpaksa merelakan kepergian Zita. ”Ehm, kalau begitu, makasih ya. Meski tidak sampai puas, tapi aku jadi segar.” ujarnya.
Zita menoleh dan tersenyum, ”Sama-sama.” balasnya. ”Lia beruntung memilikimu.”
Derri melihat jam dinding, pukul lima kurang seperempat. Terdengar suara Ihsan yang baru pulang di ruang depan. Tak terasa, Zita sudah memijatnya selama dua setengah jam. Sebentar lagi, Lia akan datang. Derri cepat-cepat mandi untuk menghilangkan bau lotion yang menempel di seluruh tubuhnya. Dia tidak mau Lia jadi curiga dan bertanya macam-macam.
Jam delapan, Lia sampai di rumah. Dia terheran-heran ketika sedang mengganti baju dan Derri menyerbunya dari belakang.
”Auw, tumben kamu seperti ini?” Lia melenguh saat Derri mengecup lehernya.
”Habis, sudah lama nggak ketemu, jadinya pengen banget.” sahut Derri sambil meremas-remas payudara Lia yang tidak begitu besar. Mau tidak mau, dia membandingkannya dengan punya Zita. Sangat jauh bedanya, tapi tidak apa, daripada tidak ada sama sekali. Yang penting Derri bisa melampiaskan nafsunya yang sedang menggebu-gebu.
Tahu kalo suaminya lagi pengen banget, Lia segera melepas celana dalamnya dan cepat berbaring di ranjang dengan posisi badan telentang, siap menerima serangan apapun dari Derri. Menindihnya dari atas, Derri pun masuk dan menggoyang. Dia memompa naik turun, atas bawah, putar-putar kiri kanan, melenguh dan melayang, kemudian menyemprot dan kejang-kejang, lalu ambruk dengan penis menetes-netes penuh sperma.
”Ah,” Derri melenguh. Puas rasanya meski tidak sepenuhnya. Selama menggoyang tadi, dia membayangkan sedang menyetubuhi Zita, bukan Lia. ’Maafkan aku, Lia.” Derri berucap dalam hati.

1 komentar:

  1. Cerita baru nih... Mantap!! Ditunggu kelanjutannya ya hu, tapi jangan sampai bulan depan Hahaha

    BalasHapus