Sabtu, 23 September 2017

Sengsara Membawa Nikmat 15

Maman telah menanggalkan semua pakaian yang dikenakannya. Pria bertubuh kerempeng dengan posturnya yang jangkung itu bersiap akan melakukan penetrasi ke dalam liang kenikmatan milik Alya sambil mengocok batang kontolnya yang sudah menegang keras. Maman mengangkat kedua kaki Alya  yang jenjang ke atas dan disangkutkan di kedua pundaknya. Sebelum itu, Maman menggesek-gesekkan batang kontolnya di bibir vagina Alya yang tembem dan nampak bersih.
Seketika itu juga ibu muda yang cantik itu merasakan geli di selangkangannya. Gairah Alya kembali mendera. Wajahnya terlihat bersemu merah pertanda dirinya sedang terangsang berat. Liang vagina Alya nampak sudah basah, saat yang tepat bagi Maman untuk memasukkan rudalnya ke dalam memek tersebut.
”Bleessss...” kontol Maman menyeruak masuk ke dalam vagina Alya.

“Aaaaakhhhhhh.... heggh!!” jerit Alya saat kontol hitam Maman yang panjang dan besar membelah vaginanya.
Kedua bola matanya membeliak ke atas dan mulutnya menganga saat merasakan sebuah benda tumpul masuk menerobos, terasa besar dan sesak sekali, seperti memenuhi seluruh rongga kemaluannya. Alya belum sempat melihat ke bawah, hanya rasa ngilu yang ia rasakan di selangkangannya.
Sementara Maman hanya mendengus merasakan jepitan memek Alya yang begitu erat mencengkram batang kontolnya, “Heeeenngggghhhhh!”
Maman mendiamkan sebentar batang kontolnya bersarang di dalam memek Alya, merasakan otot-otot dinding memek Alya yang menjepit erat urat-urat kontolnya, begitu hangat dan lembab ia rasakan. Matanya merem melek sambil kepalanya mendongak ke atas merasakan sensasi liang surgawi seorang wanita bertubuh molek. Kedua tangannya berpegangan erat pada pinggang Alya.
Setelah selesai mengatur nafas, Maman menarik mundur batang kontolnya sampai bibir kemaluan Alya ikut tertarik, dan kemudian menekannya lagi masuk ke dalam, membuat Alya meringis karena menahan ngilu. Penasaran, Alya pun melihat ke bawah.
Alangkah takjubnya ia saat melihat batang kontol yang gedenya hampir menyamai lengan masuk membelah liang vaginanya, pantas saja ia meraskan kesakitan yang teramat sangat. Meski bukan yang pertama bagi Alya vaginanya dimasuki batang kontol, akan tetapi yang sekarang sakitnya sungguh luar biasa. Alya tidak menyangka, Maman yang dilihatnya kerempeng itu ternyata punya kontol yang gedenya melebihi kontol milik Paidi dan Bejo.
Maman menyeringai mesum saat melihat Alya yang terperangah, “Kaget ya? Kamu pasti tak menyangka kalau aku punya kontol gede. Setelah ini aku jamin kamu bakalan ketagihan, hehehe.” gelak Maman.
 Muka Alya bersemu merah karena malu, ia jadi seperti orang bego karena takjubnya melihat kontol Maman.
Sementara itu Maman mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, gerakannya tidak menemui kesulitan yang berarti karena cairan yang berasal dari vagina Alya ikut memperlancar gerakannya. Meski tak mengatakan dan hanya mengeluarkan desahan yang terdengar merdu, Alya sendiri mulai merasakan nikmat di dalam lorong memeknya. Rasa nyeri bercampur nikmat melebur menjadi satu, menjalari sekujur badannya yang kelojotan menerima gempuran kontol Maman.
Sedikit demi sedikit tempo genjotan Maman menjadi semakin cepat. Harus ia akui betapa nikmat batang kontolnya setiap kali menyodok memek Alya, apalagi melihat pemandangan tubuh bahenol Alya yang terhentak-hentak mengkilat karena keringat, membuat Maman semakin buas menyetubuhinya. Cairan cinta yang keluar dari liang senggama Alya membuat kocokan Maman menjadi lembab berkecipak.
 “Akh, akh, akh... akh, akh, akh... akhhh, akhhhh...” erangan dan rintihan penuh nafsu keluar dari mulut Alya yang terkadang menganga dan terkadang pula menggigit bibir bawahnya.
Memang tak dapat dipungkiri, sodokan demi sodokan dari kontol Maman membuat Alya merasa seperti dibawa ke surga yang di dalamnya penuh kenikmatan. Begitu juga dengan Maman, pria kerempeng itu terlihat sangat bernafsu sekali menyetubuhi wanita cantik seperti Alya yang bertubuh molek serta bahenol. Tangannya meremas payudara montok Alya yang berguncang seiring dengan sodokan kontolnya.
Alya sendiri mulai kehilangan kendali, terlihat dari kepalanya yang menggeleng ke kiri dan ke kanan bagai orang kesurupan. Sedetik kemudian Alya merasakan lagi sekujur tubuhnya menegang. Bagai tersengat aliran listrik tegangan tinggi, tubuhnya bergetar hebat, membuat darahnya naik ke ubun-ubun.
“Aaaaaaaaaarrrrrrrrgggghhhhhhhhhhh... aku keluaaaaaarrrr...” teriak Alya saat meraih orgasmenya yang begitu hebat.
Maman sejenak menghentikan sodokan. Sambil menikmati sisa-sisa denyutan memek Alya, ia membiar wanita cantik semlohay itu menghabiskan kedutan di pinggulnya.
“Gimana, cantik, enak nggak?” goda Maman.
“Hhhh... hhhhhh...” tak menjawab, Alya berusaha mengatur nafasnya yang masih terengah engah.
“Ini belum selesai, aku masih ingin memberimu kepuasan yang lebih dari ini. Kita coba gaya yang lain!”
Selesai berkata, Maman mengeluarkan batang kontolnya dari memek Alya. Tak berapa lama kemudian ia memberi isyarat pada Alya untuk bangkit berdiri, lalu Maman mendekatkan bibir tebalnya ke bibir Alya yang ranum, dan kemudian melumat bibir wanita cantik itu.
Alya yang sudah diberi kepuasan oleh Maman membalas pagutan itu tak kalah liarnya. Sambil berdiri keduanya bercumbu dengan panas. Lidah mereka saling membelit, sangat liar. Tangan Maman bergerilya meremas dan memilin payudara montok Alya. Ciuman Maman bergeser menurun ke payudara montok ibu muda cantik itu. Maman mengenyoti dan terkadang menggigit kecil puting payudara Alya, membuat wanita itu menggelinjang karena nikmat.
“Aaaaaakkkkhhhh...”
Adegan percumbuan itu hanya berlangsung sebentar karena tak lama setelah itu Maman meminta pada Alya agar membalikkan badan. Rupanya Maman ingin menyetubuhi Alya dari belakang dan dalam posisi berdiri.
Alya melakukannya, ia membalik badannya dan kini membelakangi pria kerempeng itu.
Maman kembali bersiap untuk menyetubuhi Alya. Sebelum memasukkan kontolnya iIa gesekkan dulu batang kontol itu di belahan pantat Alya yang semok. Maman menampar kedua pipi pantat Alya karena saking gemasnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tak selang berapa lama Maman menusukkan batang kontolnya ke dalam memek Alya.
Kembali kedua bola mata Alya terbeliak karena dimasuki kontol gede Maman. “Auuww...” jerit Alya sedikit tertahan. Ia masih merasa sakit saat kontol gede itu memasuki liang vaginanya.    
Maman menelikung kedua lengan Alya menggunakan kedua lengannya dan mencondongkan badan Alya agak ke depan, barulah ia mulai melakukan penetrasi ke liang vagina Alya. Perlahan namun pasti Maman memompa memek Alya; gerakan awalnya pelan, lalu semakin lama semakin cepat. Tak hanya itu saja, Maman juga memalingkan wajah wanita cantik itu ke belakang, lalu bibir tebalnya kembali melumat bibir Alya.
Maman mencumbui Alya dengan penuh nafsu; terkadang pria kerempeng berkulit hitam itu mencupangi leher Alya, kumisnya yang tebal bersentuhan dengan kulit Alya yang lembut. Ibu muda yang cantik itu merasakan geli saat Maman mencupangi tubuhnya, dan Alya pun kembali merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa. Erangan dan desahan keluar dari mulutnya.
“Akh, ukh, akh... ukh, akh... iyaaaaaa...” racau Alya saat itu.
Terlihat panas sekali persetubuhan mereka. Siapa pun yang melihat adegan itu pasti akan ikut terangsang karena keduanya terlihat begitu liar. Alya mendongakkan kepala, sementara kedua tangannya ditelikung ke belakang oleh Maman. Gaya yang dilakukan Maman seperti orang yang sedang mengekang tali kuda dan memacu kudanya dengan cepat, dan kuda betina itu adalah Alya.
Payudara montok Alya yang bergelantungan ikut berguncang seiring dengan gerakan Maman yang terus menghujani tusukan kontolnya ke dalam vagina Alya. Maman menangkup payudara montok itu dari belakang dan meremasinya dengan gemas sambil menghunjamkan kontolnya.
Selang berapa menit kemudian Maman mendorong tubuh Alya ke depan, sampai posisi setengah badan bagian atas Alya menelungkup di atas meja. Maman masih memompa vagina Alya dari belakang, kedua tangannya berpegangan pada pinggul Alya, sesekali tangannya menampari pipi pantat semok ibu muda itu.
“Aaahh... aaahhh... aaahhhh... ehhhh... ehhhhh... iyaaaaaaaahhhhhhh...” desah Alya saat orgasme kembali menjemput. Tubuhnya terlihat menegang.
Pelan-pelan Maman menghentikan sodokannya di vagina Alya, memberi kesempatan pada wanita molek itu untuk mengatur nafas.
Alya masih nampak  terengah engah dengan sekujur badannya telah bersimbah peluh. Orgasmenya kali ini begitu hebat melanda dirinya, namun ini belum usai. Alya salut dengan keperkasaan Maman; ternyata di balik tubuh kerempengnya, Maman adalah seorang pejantan tangguh.
Setelah melihat Alya mulai pulih, Maman mencabut batang kontolnya dari vagina Alya, lalu mengajak Alya pindah ke sofa yang ada di ruang tengah. Maman memapah Alya menuju sofa, di mata Alya ternyata pria ini juga bisa berlaku lembut. Di sofa itu Maman duduk, lalu meminta Alya agar duduk di pangkuannya. Rupanya Maman menginginkan posisi woman on top. Alya mengerti apa yang menjadi kemauan Maman, jadi meski tubuhnya masih sedikit gemetaran karena sisa-sisa orgasme, dia melakukannya.
Tangan kiri Alya memegangi kontol Maman yang masih menegang keras dan menuntunnya masuk ke dalam liang vagina. Setelah dirasa pas, perlahan wanita itu menurunkan pantat semoknya. Ada dua hal yang membuat Alya melakukannya dengan sukarela; yang pertama karena dorongan birahinya sendiri, dan yang kedua setelah melihat perlakuan lembut Maman kepadanya, apalagi Maman sudah memberinya kepuasan yang sungguh luar biasa.
Alya menekan pantatnya ke bawah dengan pelan. Memang awalnya terasa ngilu saat vaginanya baru dimasuki batang kontol Maman yang besar dan panjang. “Iiiisssshhhh...” desis Alya saat itu.
Dia meringis menahan sakit tapi nikmat ketika vaginanya disumpal kontol jumbo milik Maman. Otot-otot vaginanya mulai berkontraksi, memijit-mijit batang kontol Maman. Pelan pelan Alya mulai menggerakkan pantatnya naik turun, vaginanya yang telah basah memperlancar gerakan itu dan membantu mengurangi rasa sakitnya. Terkadang Alya melakukan gerakan variasi dengan memutar pinggulnya, membuat Maman merem melek karena keenakan.
“Uuughh... jago ngentot juga kamu, cantik!” racau Maman sambil meremas pantat Alya.
Dengan Maman kali ini, Alya terlihat lebih bersemangat dalam bercinta. Tak ada tanda-tanda bahwa ia melakukannya dengan terpaksa. Kelembutan sikap Maman lah yang membuatnya seperti sekarang, ditambah lagi Alya sudah mulai terbuka dengan para pria di rumah itu, karena tak ada gunanya juga ia menutup diri toh ia sudah ternoda sejak masih di kampung.
Hal yang membuktikan bahwa Alya melakukannya dengan tanpa terpaksa adalah dari gerakannya yang menghentak bertambah semakin keras diiringi rintihan suara seraknya, meski lebih bisa dibilang jeritan, karena Alya mengerang dengan lantang. Membuatnya seperti kuda betina binal yang sedang mencari puncak kenikmatan.
“Aaaghh, aahh, aahhh... ahhh, ahhh, uhhhh... uhhh, uhhh, uhhh...”
Dan masih di sofa panjang itu, juga terlihat Maya yang tengah melonjak lonjakkan tubuhnya di atas selangkangan Ucil. Dalam posisi woman on top, Maya terlihat begitu liar. Sesekali wanita itu menggoyangkan pinggulnya, sengaja dilakukannya untuk mengerjai Ucil yang menceracau tidak karuan.
“Heemmmnngghh... rasain, bocah! Berani sekali nantangin orang dewasa!” batin Maya dalam hati.
Dia semakin bersemangat menghentak-hentakkan pinggulnya. Di saat yang hampir bersamaan, Maya merasakan kedutan dari kontol bocah itu. Ia tahu sebentar lagi Ucil akan meraih orgasmenya. Maya pun juga merasa dirinya hampir mencapai puncak, dan akhirnya...
“Aaaaaaaarrrrrrrggghhhhh... nyonyaaaahhhh! A-aku keluaaaaaarrrr...” suara Ucil saat meraih orgasme.
Begitupun dengan Maya, “Ouuuuuuhggghhhhh... aku juga keluarrrrr... bocahhhhhh!”
Tubuh Maya ambruk mendekap tubuh Ucil, keringatnya bercucuran membasahi tubuh bocah itu. Nafas keduanya terengah-engah. Maya kagum dengan bocah itu, usianya masih remaja tapi sudah membuat dirinya kuwalahan. Maya melirik adegan persetubuhan antara Maman dan Alya yang masih berlangsung dengan panas, kemudian ia beranjak dari pangkuan Ucil. Wanita itu memunguti pakaiannya dan dalam keadaan telanjang bulat ia pergi menuju kamarnya untuk beristirahat, meninggalkan Ucil yang terlihat kelelahan.
Batang kontol Ucil yang tak disunat sudah mulai layu, bocah itu masih duduk menyandar di sofa. Saat itulah terdengar suara pintu depan dibuka, rupanya Sabeni dan Anna yang baru pulang dari klinik kandungan.
“Oh... rupanya disini abis ada pesta. Boleh nih ikut gabung?” kata Sabeni.
Seketika itu juga gerakan Alya terhenti, ia masih rikuh melihat Sabeni yang baru dilihatnya, sementara Anna tersenyum ke arahnya, dan ia pun membalas senyuman itu. Walaupun Alya memiliki wajah yang cantik mirip seperti artis Donna Agnesia, namun saat melihat Anna, Alya sangat mengagumi kecantikan wanita itu yang lebih mirip seperti bintang film dewasa Sunny Leone yang seorang keturunan India berkebangsaan Kanada.
 “Kalau abah mau ikut, masih ada lagi lubang satunya.” kata Maman pada Abahnya.
“Hmmm, boleh juga. Non Anna kalau mau ikut, sama bocah itu dulu. Kasihan dia. Siapa dia, Man?” kata Sabeni menanyakan siapa bocah remaja yang dibawa Maman.
“Dialah teman baikku selama ini. Biarlah dia tinggal disini, menggantikan pekerjaan Abah. Namanya Ucil.” kata Maman.
Ucil mengangguk ke arah Sabeni dan Anna sebagi tanda perkenalan.
“Hmmm, baiklah. Tak usah berlama-lama lagi, aku sudah tak tahan lagi pengin nyoblos bool wanita ini.” kata Sabeni.
Usai berkata demikian, Sabeni melepaskan semua pakaiannya, dan ia pun sudah telanjang bulat sambil mengocok batang kontolnya. “Non Anna, tolong bantu bikin gede dulu kontol saya. Hehe...” kata Sabeni pada Anna yang dibalas dengan anggukan.
Anna segera berlutut di depan orang tua itu dan mulai mengulum batang kontol Sabeni. Anna sudah terbiasa  mengulum kontol Sabeni, jadi tak heran jika ia melakukannya tanpa rasa risih sedikit pun.
“Hmmppttthhhhh...” desis Sabeni keenakan. Dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur, kontolnya yang panjang dan besar itu sampai mentok di tenggorokan Anna, membuat Anna tersedak.
“Uhuuuk...!!”
“Oh maaf, Non. Saya terlalu bersemangat.”
“Gak papa, Pak.” Anna kembali mengocok kontol Sabeni. Tak hanya itu, ia juga menjilati batang Sabeni mulai dari pangkal hingga ke ujungnya yang gundul, membuat orang tua itu merem melek karena keenakan.
“Cukup, Non.. Cukup! Sekarang Non temani itu bocah, kasihan dia!”
Sabeni mendekati Alya, lalu meremas-remas pantat Alya sambil sesekali memukul-mukulkan batang kontolnya ke pantat perempuan itu. Kemudian Sabeni menyibak lubang anus Alya dan meludahinya, setelah itu ia mulai melesakkan batang kontolnya ke dalam anus Alya yang sempit, membuat wanita itu meringis menahan sakit.
“Ouuwwhh... pelan-pelan, Pak! S-sakiiitt...” jerit Alya lirih.
“Huffttt... peret juga bo’ol mu ini, cantik, kontolku sampe ngilu kek gini. Enak gak memeknya, Man?” tanya Sabeni.
“Mantap, Bah! Hufffttttt...” jawab Maman sambil mendengus menahan nikmat.
Bapak dan anak itu mulai menggenjot vagina dan anus Alya. Awalnya Alya menjerit kesakitan, terutama di bagian lubang pembuangannya yang tengah disumpal oleh kontol Sabeni. Baru pertama kali ini Alya disetubuhi dua orang pria dalam waktu yang bersamaan dan keduanya mempunyai kontol yang sama-sama besar. Namun lambat laun Alya merasakan rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang dan berganti dengan sensasi nikmat yang benar-benar luar biasa baginya, dan ini rasanya nikmat sekali.
Pemandangan yang terlihat begitu kontras; Alya yang cantik dan berkulit putih mulus diapit oleh dua orang pria yang wajah keduanya jauh dari kata ganteng alias buruk rupa. Namun nampaknya Alya menikmati sekali persetubuhan itu.
 Sementara itu Anna dan Ucil tengah beradu pandang ,bocah itu nampak terpesona dengan kecantikan Anna walaupun saat itu Anna tengah mengandung tujuh bulan. Di mata Ucil, Anna terlihat seksi sekali; perutnya yang buncit serta kedua payudaranya yang membesar dan di bagian pinggulnya juga terlihat membesar.
Melihat kemolekan tubuh Anna, kontol Ucil kembali menegang. Begitu juga dengan Anna yang terpukau saat melihat kontol Ucil. Bocah yang masih bau kencur itu ternyata memiliki batang yang bisa membuat wanita berteriak keenakan karena bentuknya yang panjang dan melengkung ke atas dengan diameter cukup besar, tak lazim untuk bocah seumurannya. Anna rasanya tak percaya melihat semua itu, untuk beberapa saat ia terdiam mematung.
“Nyonya? Nyonya baik-baik saja?” tanya Ucil.
“Oh iya.... hmm, siapa namamu?”
“Ucil, Nyonya.”
“Hmm, nama yang lucu. Berapa usiamu?”
“15 tahun, Nyonya.” jawab Ucil.
“Masih sekolah?”
“Udah nggak, Nyonya.”
“Sayang sekali, harusnya bocah seusiamu masih sekolah.”
Keduanya pun terdiam untuk beberapa waktu. Ucil masih takjub melihat kecantikan wanita di depannya, ia tak menyangka akan bertemu bidadari secantik Anna.
“Nyonya sungguh cantik sekali. Bolehkah saya mencium bibir Nyonya?”
Butuh beberapa waktu bagi Anna untuk merespon pertanyaan itu, tapi pada akhirnya ia pun mengangguk. namun masih tetap berdiam diri saat Ucil mendekatkan bibir ke wajah cantiknya dan mulai mencium lembut bibir Anna yang tipis. Ucil menghujani bibir Anna dengan ciuman dan kecupan.
Anna yang pada awalnya diam saja, lama kelamaan karena terbawa suasana horny, akhirnya membalas ciuman dan kecupan itu. Selama beberapa menit mereka terlibat percumbuan bak sepasang kekasih yang tengah memadu kasih, terlihat sangat panas sekali. Lidah keduaya saling membelit, saling mengulum, dan saling menjilat.
Melihat balasan positif dari Anna, Ucil sangat senang sekali. Ia pun melancarkan rayuan rayuannya, “Hmm... Nyonya cantik sekali. Tubuh Nyonya juga wangi. Suami Nyonya beruntung sekali memiliki istri secantik Nyonya.”
Mendengar pujian dan rayuan Ucil, Anna terlihat semakin bernafsu. Terlebih lagi di usia kehamilannya yang semakin mendekati lahirnya jabang bayi, ia merasakan hasrat birahinya gampang sekali muncul. Berulang kali jemari lentik Anna membelai rambut, wajah, dan lengan Ucil, menandakan bahwa ia memang sedang terangsang.
“Bajunya dilepas saja, Nyonya.” Ucil berkata.
“He’eh,”
Ucil segera melepas baju yang dikenakan Anna, lalu ia juga melepas celana leging yang dipakai Anna saat itu. Mata Ucil tak berkedip melihat pemandangan indah di depannya; seorang wanita cantik telanjang bulat dalam keadaan hamil. Kulit tubuh Anna yang putih mulus terlihat licin. Begitu juga dengan kedua payudaranya yang membengkak dengan puting berwarna coklat kemerahan.
“Nyonya, aku jilatin teteknya ya?”
Anna mengangguk saja,
Ucil pun buru-buru menangkup kedua payudara Anna yang bulat dan montok itu, lalu menjilati dan menghisap putingnya dengan kuat hingga payudara itu mengeluarkan air susu.
Anna melenguh panjang, “Aaaaahhhhh...”
“Nyonya, air susunya sudah keluar! Gurih sekali!” kata Ucil yang terlihat senang  karena baru kali ini ia bercinta dengan seorang wanita yang tengah hamil dan dari payudaranya bisa mengeluarkan air susu.
Tak henti-hentinya Ucil menghisapi payudara Anna secara bergantian. Kadangkala bocah itu juga memainkan hidungnya di puting payudara Anna, membuat nafas Anna semakin memburu. Saat sudah puas bermain dengan payudara, Ucil menghentikan aksinya.
“Oh, enak sekali, Nyonya. Saya puas sekali.” kata Ucil yang nampaknya sudah kenyang oleh ASI dari Anna. “Sekarang Nyonya diam aja, saya akan jilatin memek Nyonya. Saya akan membuat Nyonya merasakan kenikmatan tertinggi bersama saya.” ujar bocah itu.
Ucil membuka kedua kaki Anna, lalu mendekatkan wajahnya ke selangkangan wanita cantik itu. Sebentar kemudian ia memasukkan jari tengahnya ke dalam vagina Anna. Aksi Ucil yang begitu tenang dan terlihat sudah berpengalaman membuat Anna heran, bagaimana bocah itu bisa berbuat seperti layaknya orang dewasa yang sudah banyak pengalamannya dalam urusan bercinta? Anna semakin dilanda birahi, kocokan jari Ucil di vaginanya dan terkadang jilatan lidah Ucil yang menjilati klitorisnya membuatnya seperti sedang melayang-layang di atas awan, rasanya nikmat sekali.
“Ahhhh... Ucil... ka...mu na...kal. Kamu pi-pintar sekali membuatku... bergairah!” kata Anna terdengar terputus-putus, nafasnya semakin memburu. Tangan Anna menjambak rambut Ucil begitu kuat, rangsangan yang diberikan Ucil membuatnya menjadi seperti orang kesurupan; apa saja diraihnya, termasuk rambut Ucil.
Melihat Anna sudah terbuai oleh hasrat birahi, Ucil pun tersenyum. Bocah itu terus melanjutkan aksinya mengocok dan menjilati vagina Anna, hingga suatu ketika Anna sudah merasa tidak tahan lagi.
“Udah... udah, Cil... aku udah nggak tahan... entotin aku, Cil...” pinta Anna kepada Ucil.
Ucil pun menghentikan aksinya saat melihat Anna beranjak. Wanita cantik itu meminta Ucil agar duduk menyandar di sofa, “Aku pengin menaiki kontolmu, Cil.” kata Anna pelan.
Anna sudah tidak mempedulikan semua tentang statusnya sebagai wanita terhormat. Memang semenjak mengenal Sabeni dan Maman, Anna tak menghiraukan lagi statusnya. Ia hanya butuh melampiaskan hasrat birahinya saat ini. Segera Anna menduduki selangkangan Ucil, perlahan-lahan ia menurunkan pinggulnya.
“Ouuggghhhh...” desis Anna saat kontol Ucil membelah lorong vaginanya.
Anna merasakan liang vaginanya begitu penuh, batang kontol bocah itu dirasakannya begitu besar dan rasanya sesak. Anna memejamkan mata saat pinggulnya mulai bergerak naik turun secara perlahan, sementara itu Ucil membenamkan wajahnya diantara kedua payudara montok wanita cantik itu, sambil sesekali menjilati putingnya dan terkadang menggigitinya ringan.
“Aaaakhhhh... Cil... enaaakk...” Anna melenguh panjang.
Ucil merasa gemas dengan payudara montok milik Anna, dengan rakusnya ia menjilati payudara itu. Anna menghentikan gerakan, nafasnya terdengar memburu, tubuhnya terlihat mengkilat karena keringat. Kini ganti Ucil yang mengambil alih kendali, ia memompa liang vagina Anna dari bawah, membuat tubuh Anna melonjak-lonjak ke atas.
Anna melingkarkan kedua lengannya di leher bocah itu. Saat hampir mendekati puncak, ia semakin erat mendekap. Tubuhnya terasa menggigil, dan akhirnya ia pun mencapai puncak. Desahan panjang keluar dari mulutnya.
“ Aaaaaakkkhhhhhhh... aku keluaaaarrrr, Cill...”
Ucil memperlambat gerakan dan kemudian berhenti untuk memberi kesempatan pada Anna bernafas dengan lega. Setelah agak lama beristirahat, dia meminta pada Anna untuk berganti gaya.
“Nyonya, saya pengin ngentotin Nyonya dari belakang.” bisik bocah itu di telinga Anna.
Mengerti apa yang dimaksud bocah itu, Anna pun beranjak naik ke atas sofa dan kemudian berbaring menelungkup, pantatnya yang semok ditunggingkan ke atas. Pemandangan indah terpampang di depan mata Ucil; dalam keadaan menungging itu, Anna terlihat lebih aduhai. Bongkahan pantatnya yang putih dan mulus membuat para lelaki pasti akan menelan ludah.
Semakin bernafsu, Ucil segera mengarahkan batang kontolnya ke liang vagina Anna. Setelah dirasa pas, ia mulai menekan masuk. Vagina Anna yang sudah basah oleh cairan cinta mempermudah gerakan penetrasi Ucil. Sambil menggenjot, tangan Ucil juga meremasi pipi pantat Anna. Tak hanya itu, ia juga menarik rambut Anna hingga membuat kepala wanita itu terdongak ke atas.
Sudah hampir tiga puluh menit Ucil menggenjot Anna. Saat dirasa ada sesuatu yang akan meledak dari dalam dirinya, ia pun mendekap tubuh molek Anna lalu membisikkan kata-kata ke telinga wanita itu.
“Saya ikut nyumbang benih ya, Nyonyah... aaaaaarrrrrrrrrrgghhhhhhh!!” Ucil menggeram saat orgasmenya datang, disusul Anna kemudian juga mencapai klimaks.
“Hoooooooohhhhhhh... Cilll...”
Ucil masih mendekap tubuh Anna. Beberapa saat kemudian ia pun melepaskan kontolnya dari vagina Anna dan kemudian duduk menyandar di sofa. Anna duduk menyandar di sampingnya.
Sementara persetubuhan antara Alya yang tegah digangbang oleh bapak dan anak nampak juga akan segera berakhir. Sabeni mencabut kontolnya dari anus Alya dan menumpahkan pejuhnya di pipi pantat Alya, disusul kemudian Maman juga menyemburkan pejuhnya ke dalam rahim Alya. Sementara Alya sudah merasakan multi orgasme sebelum kedua orang itu mencapai klimaks.
Sabeni mengambil tempat duduk di sebelah Anna, orang tua itu nampak puas setelah menyodomi pantat Alya yang semok. Alya masih duduk di pangkuan Maman. Suasana ruangan menjadi hening kembali.
Tak berapa lama kemudian Alya berpindah ke samping Maman dengan duduk menyandar sama seperti yang lainnya. Di saat itulah pintu depan terbuka, rupanya Hendra baru pulang kerja.
“Oh, rupanya habis ada pesta di sini.” Hendra berkata.
“Iya, Den. Ini juga saya telat tadi,” ujar Sabeni.
“Tumben pulangnya malam, Say?” kata Anna pada suaminya.
“Iya nih, di kantor lagi banyak kerjaan. Maaf ya, say, nggak ngasih tahu sebelumnya.” kata Hendra.
“Iya, Say, nggak apa apa. Aku ngerti kok.” ujar Anna.
“Hmm, sepertinya ada yang baru nih.” kata Hendra melirik Alya.
“Iya, Den. Kenalin ini Alya namanya, dan ini Ucil.” Sabeni mengenalkan keduanya kepada Hendra.
“Hmm... ya udah kalau gitu, saya istirahat dulu. Maaf ya, say, aku ke kamar dulu.” kata Hendra sambil meninggalkan ruangan tengah dan melangkah menuju kamar.
Tak selang berapa lama, Anna juga menyusul Hendra pergi ke kamarnya, termasuk Alya juga meninggalkan para pria itu di ruang tengah. Suasana rumah pun menjadi hening, para penghuninya sudah tidur karena kelelahan.
Begitulah kehidupan di rumah Anna dan Hendra, setiap waktu selalu ada pesta seks antar penghuninya. Alya mesti terbiasa dengan keadaan itu.
Waktu terus berjalan, tak terasa Anna sudah melahirkan anaknya melalui operasi cesar karena keinginan suaminya sendiri, agarnya lorong memeknya tetap utuh dan sempit. Hubungan para penghuni di rumah itu juga semakin erat.
Di sisi lain, geng Maman beserta Bejo juga mengalami perkembangan yang pesat. Banyak wilayah di hampir sebagian kota Jakarta jatuh di bawah kekuasaan mereka. Kedua orang itu menjadi kepala keamanan. Aparat kepolisian dan bahkan TNI pun segan kepada Maman dan Bejo karena mengetahui kedua orang itu mempunyai pengaruh luas. Maka tak heran kalau kasus pembunuhan dan bahkan perkosaan yang melibatkan geng Maman dan Bejo tidak pernah ditindak lanjuti oleh pihak kepolisian.
Para pengusaha pertokoan yang sering dipalak oleh geng Maman juga enggan untuk melaporkannya ke polisi, karena mereka tahu geng Maman bisa berbuat nekad jika mereka melapor ke polisi.
Walaupun Maman seorang kepala preman yang ditakuti, namun ia juga tidak tega kalau memalak para pedagang kecil. Maka dari itu ia hanya perintahkan ke anak buahnya untuk menarik pajak preman hanya kepada para pedagang besar. Tak hanya itu saja, terkadang para pengusaha properti yang sedang mengalami masalah sengketa lahan juga sering menyewa geng Maman ini untuk mengamankan tanah mereka.   
Perusahaan showroom Hendra juga semakin besar karena mendapat dukungan dari Maman. Dan orang-orang di rumah itu saling mendukung, termasuk keinginan Hendra yang ingin menyekolahkan kembali Ucil ke bangku SMA setelah melihat kecerdasan yang dimiliki bocah itu. Maman tentu menyetujui keinginan Hendra.
Ucil senang karena akhirnya ia bisa melanjutkan kembali pendidikannya. Kini Ucil satu sekolah dengan Cindy, anak Maya dari suaminya yang terdahulu. Cindy memang tidak tinggal di rumah Hendra, dia menetap di asrama putri milik yayasan dimana ia bersekolah.
Namun semenjak Ucil satu sekolah dengannya, ia jarang tinggal di asrama. Cindy lebih memilih pulang naik bis bersama Ucil, dengan begitu ia bisa lebih dekat dengan mamanya.
Bagaimanakah selanjutnya kehidupan mereka? Tunggu di episode berikutnya.

6 komentar:

  1. Hoottt min....
    Buatin cerita2 lain juga min yg hot..msh ada pendekar tnpa tanding ma duka tak bertepi..
    Tambain bumbu2 sex affair min

    BalasHapus
  2. Mantap min,
    Usul..
    Aisyah dalam Duka tak bertepi sepertinya perlu di explore lebih liar min sama mertua tau sama reihan

    BalasHapus
  3. mantab hu...
    yg ditunggu2 akhirnya kelar juga
    makasih hu

    BalasHapus
  4. tq dah lanjutin critany, btw polwanny ga ad kabarny y

    BalasHapus
  5. lanjutkaaaaaaaan

    BalasHapus
  6. Request return nightmare campus dong...pak imron

    BalasHapus