Jumat, 03 November 2017

Balada Janda Kembang 1



Sejak awal 2014 Miranda menantikan berita tentang nasib Azzam bin Datuk Burhan, suaminya. Tepat pada tanggal 8 Maret 2014 sang suami yang biasa dipanggil dengan sebutan Azzam itu naik pesawat terbang Malaysia Airlines menuju Peking untuk urusan dagang. Azzam adalah pengusaha dalam bidang industri karet yang cukup besar. Ia mempunyai perkebunan karet cukup luas di Bojongkalong, di luar kota Sukabumi—dan di situ Azzam telah membangun kompleks perumahan untuk para pegawainya.
Di pinggir kompleks perumahan itu Azzam juga membangun rumah megahnya yang lebih tepat disebut villa, dengan segala macam fasilitas dan interior modern, termasuk kolam renang dilengkapi air panas.

Kedua orang tua Azzam yang telah meninggal dunia berasal dari Kelantan, Malaysia, namun telah lama bermukim di Indonesia. Sehingga anak satu-satunya : Azzam pun lahir dan dibesarkan di Indonesia, meneruskan usaha orang tuanya itu sehingga mereka meninggal. Ketika memasuki awal usia tiga puluh tahun, Azzam menikah dengan seorang gadis teman sekolahnya, yang berasal dari keluarga berada : Miranda, dengan panggilan sehari-hari Mira.
Gadis pilihan Azzam itu memang sangat cantik jelita, amat seksi menggairahkan melebihi pelbagai selebriti di pelbagai kehidupan show di Indonesia. Konon kecantikan Mira adalah hasil campuran dari darah Sunda, Menado dan juga Bangka, sehingga tidak mengherankan kalau kulitnya putih kuning langsat, wajah oriental menggairahkan setiap lelaki disitu.
Karena asal usulnya dari Malaysia, maka Azzam banyak berhubungan dengan pelbagai tokoh industri karet Malaysia, sering meninggalkan perkebunan karetnya di Jabar, menyerahkannya kepada beberapa orang kepercayaannya di situ, dalam soal administrasi dan upah buruh diserahkannya kepada sang istri.
Sayang sekali Mira mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu tidak begitu ramah terhadap bawahan dan kuli perkebunan suaminya, mungkin merasa 'lebih tinggi', juga terasa angkuh menjauh. Apalagi jika hasil panen dan produksi karet tidak memuaskan akibat serangan hama, maka Mira sering ketus, judes, dan tak jarang pula membentak bawahan suaminya, terutama saat mereka menagih upah harian atau mingguan. Hal ini berlangsung cukup lama, dan peringatan dari pelbagai mandor kepada Azzam, dan teguran Azzam kepada istrinya mungkin terlalu lunak, sehingga tak diacuhkan oleh Mira.        
Mungkin semua akan tetap berjalan seperti biasa, jika tidak ada campur tangan takdir yang tak terduga; terjadi musibah dengan menghilangnya pesawat udara maskapai Malaysia Airlines, MH 370, tanggal 8 Maret 2014. Azzam kebetulan mempunyai urusan business dan pergi ke ibukota negara jiran, setelah itu akan melanjutkan penerbangan untuk urusan sama ke negara besar lain di Asia. Pesawat udara itu lenyap tanpa dapat ditemukan sampai saat ini, apapun dan pelbagai pihak manapun telah mencari bersama.  Pelbagai teori dikemukakan dengan segala macam alat canggih, namun semuanya sia-sia : sampai saat ini lenyapnya pesawat udara itu merupakan misteri penerbangn sipil yang belum terpecahkan.
Hanya ada satu harapan tipis dari Mira, yaitu ketika semua daftar penumpang di pesawat yang hilang itu di-check, ternyata nama suaminya : Azzam bin Datuk Burhan tidak ada di situ. Dari semua foto-foto kamera pengawas di bandara, terutama di bagian security dan check-in, juga tak terlihat Azzam ada di situ! Hanya ada seorang penumpang lain yang postur badan, wajah dan tubuhnya mirip-mirip Azzam, hanya lebih tinggi, lebih tambun, dan berkumis sangat tebal. Juga orang itu memakai nama sangat lain, mempunyai kewarganegaraan berbeda : dari Bangladesh.
Dengan kata lain : tetap diragukan apakah memang Azzam ada di pesawat yang hilang itu? Apakah ia mempunyai agenda lain, ingin menghilang begitu saja karena misalnya menggelapkan uang, atau dia mempunyai kekasih asing, atau ada alasan kuat lain yang wallahu allam tak satu orang pun mengetahui.
Sejak saat itu Mira hidup sendiri, semua usaha perkebunan untuk sementara terpaksa ditanganinya sendiri.
Waktu berjalan terus—semua usaha pencaharian telah berjalan sangat intensif—namun tak ada hasil, semakin lama harapan Mira semakin pudar. Tanpa dikehendakinya maka ia memiliki panggilan baru yaitu 'janda kembang', tentu saja hal ini memberikan kesempatan orang di sekitarnya untuk menjadikannya bahan gunjingan.
Sikap Mira terhadap orang bawahan sekitarnya mau tak mau lambat laun berubah; dari sikap dingin dan cuek terhadap bawahan, maka kini Mira mulai agak ramah dan terbuka.
Orang-orang di sekitarnya mulai menyenangi si janda kembang, bahkan ada yang mulai jatuh hati dan juga mulai menaruh harapan terhadap Mira si cantik seksi ini, apalagi si janda ini berharta pula.
Dari pelbagai kumbang yang ingin mendekati si janda kembang, agaknya ada beberapa yang nekad dan mulai merancang muslihat bersama... dan disinilah cerita ini bermula.

***

Nopember 2014

Mira baru kembali dari kantor administrasi perusahaan suaminya, dan kini ia berdiri di depan kaca besar di kamar tidurnya. Wajahnya cantik manis dengan mata bulat indah, hidung mancung dan bibir sensual dan terlihat selalu basah seolah mengundang lelaki manapun untuk melumatnya. Tubuhnya tinggi semampai seperti model dengan lekuk-lekuk indah, kulit putih mulus dan buah dada tampak ranum menggiurkan, sedikit lebih besar dan padat daripada ukuran rata-rata wanita Indonesia.
Mira yang masih muda dan jelita adalah wanita impian para lelaki. Sejak pindah ke kompleks ini, mereka tak pernah melewatkan mengamati janda muda yang segar itu. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang seksi, baunya yang harum, kakinya yang jenjang, kulit  putih mulus, rambutnya dicat agak kepirangan panjang sebahu, susu montok membusung, pantat yang bulat, semuanya menjadi impian basah mereka.
Pendek kata semua pria yang normal pasti melamun dan membayangkan menggelutinya di ranjang. Janda kembang ini memiliki tubuh yang seksi bagai celebriti dan memiliki kecantikan luar dalam. Ditambah perilaku yang kini telah berubah menjadi lebih lembut dan ramah tamah, maka semakin lengkaplah kewanitaan Mira. Ya, semakin banyak pria yang mempunyai piktor pada janda muda itu.
Tanpa disadarinya sendiri, selusur naluriah mulai mengganggu, bagaimanapun membutuhkan saluran. Si janda kembang yang berbulan-bulan ditinggal oleh suami yang menghilang dengan pesawat terbang, merasakan ada sesuatu yang hilang dan kurang. Tak ada suami yang memberikan pujian, tak ada yang memberikannya rangkulan, belaian mesra, kehangatan di saat malam hari cuaca mendingin. Tanpa berdaya, terkadang Mira terbangun di tengah malam dan jari-jari lentiknya menjalar ke daerah bagian-bagian tubuhnya yang dirasakan membutuhkan, terutama puncak gunung di dada dan celah kecil di selangkangannya.  
Para lelaki di kompleks itu seperti Ketua RT Yunus, Mandor Sentot, Ustadz Rhoji, dan bahkan satpam Andang mempunyai nafsu yang sama pada Mira. Mereka selalu bersikap baik dan mencari muka saat bertemu atau pun berpapasan dengan Mira. Maklum sebagai janda kembang apalagi cantik dan seksi, Mira bagaikan kembang yang menarik kumbang di sekitarnya. Para lelaki yang kebanyakan telah beristri itu berlomba-lomba mencari alasan dan menawarkan jasa pada Mira seperti membawakan belanjaan, membantu membereskan halaman, ganti ban mobil dan lain-lain, sekedar hanya untuk berlama-lama bersama wanita cantik itu. Pada kesempatan mana mereka dapat memuaskan dahaga nafsunya dengan mencuri-curi pandang ke arah semua titik lekuk keindahan tubuh Mira.
Mira bukannya tidak sadar akan hal itu. Apalagi dengan statusnya sebagai janda kembang, Mira tahu para lelaki itu hanya ingin mendapat perhatiannya atau malah hanya ingin mencuri-curi lihat bagian tersembunyi  tubuhnya yang memang padat dan sekal.
Mira sendiri bangga akan penampilannya dan amat sadar akan daya tarik tubuhnya. Sering dipakainya baju dengan belahan dada rendah memperlihatkan pangkal buah dadanya yang penuh dan rok mini yang menampakkan betis dan paha mulusnya. Mira terkadang pura-pura mengambil barang sambil membungkuk, di saat ada lelaki sedang memperhatikannya, di dalam posisi membungkuk itu maka dadanya menonjol seolah akan melesat keluar dari bajunya. Rok mini yang dipakai pun menjadi makin ketat, pantatnya menungging indah, membuat kemaluan setiap laki-laki mengeras dan memberontak ingin keluar dari dalam celana mereka.
Pak RT Yunus lebih gila lagi. Dengan bermodalkan kedudukannya ia sering ke rumah Mira dengan pelbagai alasan mengurus surat ini itu sehubungan perkebunan karet sambil cuci mata. Tak jarang ia menwarkan bantuan reparasi segalanya, entah atap bocor, kawat listrik, kapur dinding dan lain lain.
Padahal istri Yunus terkenal galak dan bila ia tahu kelakuan suaminya pasti dilabrak habis-habisan. Mira ‘senang’ saja karena ia justru menjadi lebih mudah mengurus segalanya berkat bantuan Yunus itu.
Hari ini si ketua RT lebih beruntung lagi, karena tadi pagi setelah membetulkan bak mandi yang retak serta juga kayu tempat jemuran, dan Mira telah pergi ke kantornya, makaYunus sempat mencuri celana dalam Mira yang belum dicuci. Dia sempat mencium bau harum belahan selangkangan Mira dari celana dalam bekas pakai itu. Setelah istrinya tidur, malamnya Yunus beringsut ke kamar mandi dengan sembunyi-sembunyi sambil membawa celana dalam Mira. Untuk apa lagi jika bukan coli? Yunus bermasturbasi dengan membayangkan wajah Mira dan mimpi bercinta dengan janda muda itu dalam segala macam posisi. Pak RT Yunus merem melek dan mendengus-dengus penuh nafsu.
Setelah orgasme melepaskan air mani di lantai kamar mandi, Yunus kembali ke teras sambil menghisap rokok kreteknya dan memutar otak mencari akal. Dia masih mengatur strategi untuk melaksanakan pikiran kotornya. Pak RT lantas membuka folder gambar di dalam hape. Di dalamnya terdapat tiga foto aduhai yang sangat disukainya. Semuanya seronok dan diambil tanpa sepengetahuan sang target.
Gambar Mira saat mengenakan kaos ketat memperlihatkan kemolekan buah dadanya, gambar belahan dada pujaan Yunus itu menonjol dan gambar betis paha mulus Mira sangat mengundang belaian. Sambil menikmati ketiga gambar Mira yang seksi itu, Yunus terus melamun hingga larut malam sambil menggaruk-garuk selangkangannya yang makin gatal. Bahkan di dalam mimpinya malam itu pun kembali Yunus dilanda oleh mimpi menggeluti Mira yang menggeliat meronta telanjang bulat. Tanpa disadarinya bahkan Yunus kembali ejakulasi di ranjang sehingga membasahi sprei putih di situ.
‘Wah,’ pikirnya. ‘Kalau sering basah begini, bisa ketahuan ama bini gue yang mulai uzur. Gimana yah caranya bisa ngejarah si Mira yang semlohay itu? Gue musti cari cara buat bisa masukin senjata daging ini ke memeknya, dalam keadaan sebenarnya, bukan hanya di dalam mimpi tengah malam!’

***

Tiga hari kemudian, petang hari di beranda pos ronda siskamling tak jauh dari villa Mira...

Para lelaki di desa situ sering duduk ngobrol di pos ronda sambil membicarakan berbagi hal, termasuk tentang perempuan desa yang cantik dan seksi, dan tentu saja yang tak pernah lolos adalah soal Mira.
“Si Mira makin cantik aja yah…” Yunus memulai pembicaraan tentang Mira.
“Iyo, Mira makin mantap dan mateng… sayang enggak ada yang petik!” ustadz Rhoji menambahkan.
“Lihat aja bibir yang begitu mungil, setengah terbuka basah terus, uuahahhh... makyuuuss! Kalo dipake buat nyepong, baru nempel aja gue bisa keluar!” Sentot menambahkan.
“Badan Mira memang yahud, pengen rasanya ngerasain!” kata Andang menambahkan blak-blakan,
Para lelaki yang lain kaget juga mendengar ucapan Andang yang blak-blakan dan membayangkan apa yang diucapkannya mau tak mau mereka mulai terangsang, si ‘otong’ di celana mereka mulai berdenyut.
Tepat pada saat itu Mira lewat pulang dari kerja. Karena jalan yang dilewatinya melewati pos ronda itu, mau tak mau Mira harus menyapa para lelaki itu, yang semuanya menatap Mira tanpa berkedip sedikit pun.
“Selamat malam, bapak-bapak… jangan kelamaan ngobrol ya, pasti nyonya kalian udah pada nunggu tuh!” demikian Mira menegur sambil tersenyum, menyebabkan semua lelaki di situ semakin blingsatan.
“Selamat malam, bu Mira…” demikian sahut para lelaki itu hampir bersamaan, bagaikan paduan suara. 
Mira tersenyum malu mendengar betapa antusiasnya para lelaki itu membalas sapaannya. Setelah berbasa-basi sedikit, Mira lalu menyudahi pembicaraaan, dan melangkah lebih lanjut menuju villa-nya.
“Sudah ya bapak-bapak, saya pulang dulu, capek sekali rasanya… permisi,” Mira beranjak. "Oh ya pak Sentot dan pak Andang, nanti Senin saya bayar lunas biaya mengapur dan mencat baru rumah saya!” lanjutnya sebelum pergi.
“Ooh iya, bu. Enggak usah buru-buru, hari Senin juga boleh, mungkin cat dan kapurnya aja belom kering semuanya”, jawab Andang yang disetujui oleh Sentot dengan anggukan.
“Iya, nanti bapak-bapak hari Senin datang ke kantor saya, sudah disediakan dananya. Udah ya, pak,” ujar Mira.
“Silahkan, bu... selamat istirahat,” sekali lagi para lelaki itu berlomba-lomba membalas salam Mira.
Mereka semua menelan ludah merasakan tenggorokan mereka kering menyaksikan goyangan pantat Mira yang sedang berjalan menuju pintu pagar rumahnya, lalu menghilang di balik pintu villa itu.
Selain Yunus yang membantu urusan administrasi Mira di kelurahan, juga Sentot dan Andang sering membantu : mandor Sentot membersihkan kebun serta kolam renang, sedangkan Andang menjadi supir truk sewaan jika Mira membeli banyak bahan baku perkebunan, atau juga menyupiri mobil Mira kalau ia harus ke tempat jauh, misalnya ke Jakarta karena urusan pajak.  

***

Setelah beristirahat beberapa saat sambil menghilangkan rasa penat akibat panasnya hari itu, Mira berniat mandi untuk menyegarkan tubuh. Ia masuk ke dalam kamar tidurnya untuk mengambil baju dalam yang bersih dari lemari, dan tanpa sengaja pandangannya mengarah ke sudut atas, dimana masih terletak tumpukan baju tidur piyama suaminya. Mira merenung dan merasakan hatinya terenyuh mengingat kemesraan yang sering dialaminya dengan Azzam, suaminya yang entah menghilang dimana dengan pesawat terbang yang lenyap itu.
Tanpa disadarinya Mira merasa sangat rindu, ia mengingat sentuhan dan permainan lembut mesra jari-jari mantan suaminya, Mira mendadak merasakan hangat dan kelembaban di tengah selangkangannya. Mau tidak mau sensasi itu tetap terbayang oleh janda muda ini : bagaimana kemaluan keras mantan suaminya membelah dan mengaduk-aduk vaginanya, tubuh mantan suaminya menindih menggumuli tubuh telanjangnya. Tubuh mereka mandi keringat, desahan dan erangan nikmat disertai nafas memburu sering memenuhi kamar itu, suara becek dari vaginanya disodok-sodok kemaluan mantan suaminya, suara tumbukan tubuh telanjang mereka... ahhhh!
Mira sadar dari khayalan, merasa tubuhnya basah berkeringat dan merasa ingin mandi air dingin, membersihkan tubuh dan pikirannya. Kamar tidur di bawah memiliki kamar mandi sendiri, dan sebagaimana biasa tanpa ragu Mira mulai melepas baju, ia merasa aman karena berada di kamarnya sendiri. Hari Jum’at ini Mira kebetulan sendirian di rumah, karena pembantu setianya pamitan pulang menghadiri khitanan cucu keponakannya.
Kemarin dulu semua urusan mengapur dan men-cat rumah telah selesai dikerjakan Yunus dan Andang dengan rapih, dan Mira sangat puas melihat hasil pekerjaan mereka sehingga berniat untuk memberikan extra bonus upah. Mira tidak menyadari bahwa kedua lelaki itu merencanakan lebih dahulu bonus yang mereka kehendaki, yang mana mereka tiga hari lalu diam-diam mengambil kunci pintu belakang dan membuat duplikatnya. Semua itu tak disadari oleh Mira : empat predator buas telah mengincar untuk menguasai mangsanya tak lama lagi...  
Sambil bernyanyi-nyanyi, Mira berdiri di depan kaca lemari baju besar di kamar tidurnya, Mira memang yakin bahwa ia hanya sendirian di rumah. Mira melamun ketika suaminya dulu selalu terangsang jika dapat bebas menikmati keindahan tubuhnya yang masih berkeringat namun masih terbungkus blouse dengan leher decolette yang rendah sehingga buah dadanya menonjol indah.
Mira kemudian melepaskan semua bajunya satu per satu; blouse, mini rok yang ketat, kemudian BH-nya yang berukuran 36B, dan terakhir bagaikan ragu sebentar ia menurunkan celana dalam string mini.
Semua baju itu dibiarkannya menggunduk di depan lemari pakaian dan ranjangnya, lalu Mira mulai berjalan ke dalam kamar mandi. Dengan pintu kamar mandi yang tak dikunci, Mira masuk ke shower-cel yang berukuran cukup lebar, ya cukup lebar untuk dua orang. Tak jarang memang Azzam dan Mira mandi berduaan di ruangan shower, menikmati dan memulai foreplay mereka sebelum ML
Di bawah suara bising pancuran air sedikit hangat yang cukup deras itu, apalagi Mira pejamkan mata di bawah douche, maka tak disadari bahwa pintu rumah belakang telah lama terbuka. Empat lelaki yang telah penuh dengan harapan dapat menikmati makanan empuk telah masuk ke rumah. Mereka telah mengendap-endap masuk ke kamar tidur, kini berada di depan douche cel, yang meski terbuat dari kaca bermotif, namun cukup tranparan memperlihatkan siluet tubuh yang berada di bawah pancuran air. Kini ke-empat pejantan itu dapat menikmati adegan bidadari mandi.     
Mira sama sekali tak curiga, tak sadar bahwa tak lama lagi kehidupannya akan mengalami perubahan...

***

Mandor Sentot benar-benar tidak kuat lagi menahan birahi. Dia mengambil beha warna ungu muda yang tadi dijatuhkan Mira di kamar tidur, dan mulailah dia coli dengan menggesekkan beha itu di batangnya yang sudah membesar. Ternyata Yunus juga mulai menciumi celana string Mira berwarna ungu muda pula yang terserak di depan kamar mandi. Aroma memek wanita yang sudah matang dan bercampur wangi keringat tubuh Mira menyengat hidung Yunus semakin meningkatkan gairahnya.
Para lelaki itu merasa lemas, mereka menelan ludah berkali-kali melihat keindahan tubuh Mira yang telanjang di balik penutup douche-cel, membuat mereka tidak sabar lagi ingin menjamah tubuh itu, gundukan pantat, buah dada, paha dan betis mulus yang berkilauan bermandikan keringat. Bahkan telapak kaki Mira yang bersih itu pun menimbulkan sensasi dalam diri mereka. Bau aroma keringat Mira dari beha serta celdam string tercampur parfum mahal yang kini diciumi rakus oleh Yunus dan Sentot telah menyeruak di dalam ruang tertutup itu, semakin merangsang birahi mereka.
Mira menyabuni lembah diantara kedua payudaranya dan berhuni sejenak di situ, terutama di putingnya. Kemudian ia mengangkat tangannya bergantian dan mulai menyabuni ketiaknya yang licin, hanya diliputi bulu amat halus. Gayanya saat itu benar-benar menggairahkan untuk dilihat karena buah dadanya ikut terangkat dan tampak semakin kencang, putingnya semakin mengacung seolah menantang gigitan. Setelah itu jari-jari Mira yang lentik turun ke bagian perutnya yang rata, bermain-main di sekitar pusar, memenuhi cekungan menggemaskan itu dengan busah sabun.
Detak jantung Yunus semakin cepat menatap si janda muda sedang mandi dan ia semakin bergairah menciumi celana dalam yang bekas dipakai Mira. Gerakan tangannya semakin meningkat cepat karena saat coli Yunus membayangkan tubuh Mira di ranjangnya sendiri dan betapa rasanya memeluk janda muda yang cantik itu, membayangkan tubuh molek Mira terhentak-hentak didera sodokan penisnya.
Mandor Sentot juga semakin konak dan melotot matanya ketika melihat Mira menyabuni buah dadanya yang besar dan kenyal, dan memijit-mijit serta memilin-milin putingnya yang menegang.
”Woow, benar-benar indah dan seksi tuh badan janda muda, udah berapa bulan engga dipake, pasti udah ngarepin banget dikerjain,” batin Sentot. "Seandainya saatnya datang , gue pengen ngegali sumur yang pasti udah kekeringan itu, kasihan banget tuh janda muda yang pasti kesepian.”
Yunus yang masih meneruskan coli di celdam Mira, semakin cepat menggerakkan tangannya saat si janda muda itu membungkuk untuk mulai menyabuni kakinya yang jenjang dan pahanya yang mulus. Tak lama kemudian, Mira bersandar pada dinding sementara air shower membilas tubuhnya yang mulus. Tangan kiri Mira menangkup buah dadanya yang indah. Jari jemarinya mulai mengelus dan menowel-nowel pentilnya. Mereka terpana melihat wanita seksi itu memainkan payudaranya. Tangan kanan Mira menuruni perutnya yang langsing dan perlahan-lahan menyelip ke tengah selangkangan.
“Aaahhhh, sssshhhhh...” Mira mendesah kecil, terdengar hembusan nafasnya mulai menderu, tak lama kemudian : “Oooooh, ssshhh...“ kaki Mira melengkung saat si janda jelita itu mengalami mini orgasmus.
Tangan kiri Mira yang penuh gelembung sabun kini memilin dan meremas-remas pentil payudaranya hingga mengeras, meremas buah dadanya bergantian. Tangan kanan Mira berkelana meraba-raba selangkangan. Dengan mencondongkan tubuhnya agak ke belakang, Mira membentangkan kakinya sedikit.
Para lelaki yang mengintip bisa melihat jari jemari lentik tangan wanita molek itu keluar masuk di memeknya sendiri. Mereka terpesona melihat si cantik Mira kini mulai menggunakan jempolnya untuk menyentuh dan mengusap-usap daging menonjol yang ada di ujung atas bibir vagina. Akhirnya tangan kiri Mira melemas ke samping badan, sementara jari-jari tangan kanannya berhenti bergerak, namun masih tetap berada di dalam liang vaginanya. Perlahan Mira menarik jari jemarinya lalu pelan dimasukkan ke dalam mulutnya bagai mengulum, kemudian si cantik itu melanjutkan mandinya.
Lima menit kemudian terdengar suara air mancur dimatikan dan Mira agaknya akan segera keluar dari ruangan shower. Segera para pengintip mengundurkan diri dari tempat pengintipan, keluar perlahan-lahan dan mereka berempat berdiri mengintai melalui jendela kamar tidur Mira. Jendela kamar tidur itu memang sebagian terbuat dari kaca besar, terlindung gorden tipis, dan kebetulan sinar matahari terik menyorot ke dalam, sehingga akan terlihat jelas apa yang dilakukan Mira setelah keluar dari kamar mandi.
Terlihat Mira keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk biru melilit tubuhnya yang indah. Apalagi handuk milik Mira berukuran medium, hanya bisa menutup sebagian buah dada dan juga hanya setengah paha, maka pada saat dia menunduk sedikit, selangkangannya terlihat jelas dari belakang.
Tanpa sengaja, Mira menjatuhkan handuknya ke lantai. Tanpa sepengetahuan wanita ayu itu, para pejantan dengan nafsu birahinya yang telah memuncak mengawasi tiap gerak-gerik tubuh yang molek itu dari balik tempat persembunyian mereka. Karena memunggungi jendela kamar yang lebar, mereka bisa menyaksikan pantat montok Mira yang bulat bahenol.
Perlahan-lahan Mira berbalik dan para lelaki itu hampir tak kuat menahan nafsu. Kali ini mereka menyaksikan keindahan tubuh Mira secara langsung tanpa sehelai benang pun. Rambut di atas kemaluan Mira terlihat terawat dicukur rapi dan halus lembut, sementara payudara Mira yang montok, ranum padat dengan puting merah tegak menantang ke atas.
Si molek itu mengambil handuk lalu mengeringkan rambutnya yang dikeramas. Karena bergerak cepat, buah dada Mira bergoyang-goyang lembut erotis. Ustadz Rhoji yang memiliki iman paling tebal, sampai dibikin tak tahan dan mulai mengocok-ngocok penisnya sendiri.
Saat Mira usai mengeringkan rambut, janda muda itu mengambil celana dalamnya dengan tubuh sedikit membungkuk. Tentu saja para pengintip makin puas karena kini bisa melihat lebih jelas ke arah lubang anus sang janda muda. Warnanya merah muda agak kecoklatan, sangat mengundang selera. Saat mengenakan celana dalamnya, payudara si cantik itu bergoyang-goyang.
Kemudian Mira mencoba mengenakan kaus tanktop putih yang baru dibelinya, yang begitu ketat dan bahannya jatuh pas di badan sehingga bentuk tubuhnya yang bahenol begitu tercetak jelas. Tanpa beha, payudaranya tampak begitu membusung dan putingnya tercetak jelas. Pemandangan erotis ini makin lama makin menggairahkan.
Setelah puas menikmati sendiri keseksiannya, Mira membuka kembali tanktop itu dan memakai beha, setelah itu baru ia memakai cd string dan daster tipis.
Keempat pejantan tak tahan lagi menahan godaan hawa nafsu iblis mereka, dan memutuskan untuk menggarap Mira sore ini juga. Setelah berunding sebentar maka diputuskan Yunus yang akan mengambil inisiatif, karena Yunus kenal Mira dan Azzam cukup lama, juga memang paling sering ke rumah Mira.
Yunus memutuskan akan masuk 'resmi' melalui pintu depan dengan alasan tertentu, sementara ketiga lelaki yang lain mencari jalan dari pintu belakang atau lewat jendela kamar. Setelah menyisir rambutnya sedikit, merapihkan letak kemejanya, Pak RT Yunus lalu mengetuk pintu rumah Mira.
Semenit kemudian pintu dibuka oleh Mira yang terlihat segar karena habis mandi.
“Ohh, pak Yunus ya, kirain siapa datang sore-sore begini. Ada urusan apa, pak?”
"Ooh begini, ibu Mira, saya ingin membicarakan tentang sumbangan kebersihan di daerah sini, bu.”
"Oh itu ya, ayo masuk dulu pak saya ambilkan minum dulu ya”, demikian sahut Mira tanpa curiga.
Ketika kembali dengan segelas air putih, Yunus telah duduk di ruang tengah. Saat Mira membungkuk memberikan minum, Yunus sekilas dapat melihat belahan pangkal payudara Mira yang putih mulus dari balik leher daster yang dipakai oleh janda cantik itu. Yunus tak dapat menahan gairah nafsu birahinya, pada saat Mira telah meletakkan gelas di meja, langsung tangan Mira ditarik oleh Yunus sehingga si janda cantik berhadapan langsung dengannya.
“Eeeh... apaan nih, Pak Yunus? J angan main kurang ajar ya, nanti saya teriak, bapak akan malu…!”
Tubuh Mira tertarik ke depan ke arah pelukan Yunus. Mira meronta melepaskan diri dan berusaha memutar tubuh sehingga Yunus kini berada di belakangnya dan mencoba melarikan diri ke arah pintu.
Namun pak RT Yunus masih berhasil meraih dan menarik tangan Mira, sehingga tubuh Mira jatuh ke dalam pelukannya. Saat mereka bergumul, gelas yang baru diletakkan Mira tersenggol terlempar hingga pecah berkeping-keping. Tanpa membuang waktu, tangan Yunus mulai nakal meraba-raba dada kenyal Mira dan meremasnya dengan sangat keras hingga terasa ngilu.
Mira membungkukkan badan ke depan, mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Pak RT. Semua usaha Mira sia-sia. Untuk dapat mempertahankan keseimbangan diri, Mira harus mundur ke belakang. Tanpa dikomando, Pak RT segera beraksi. Pria tua itu menyelipkan selangkangannya yang sudah membusung besar ke lipatan pantat Mira. Tangannya semakin keras meremas memijit buah dada Mira dengan sangat kasar sehingga si janda muda ini mengernyit kesakitan.
“Nggak usah berontak deh, nyonya manis. Ibu kan udah lama kesepian, ntar saya berikan kepuasan!"
”Ya Tuhan, jangan biarkan ini terjadi...” demikian doa Mira ketika mendengar niat jahil Yunus, mukanya memerah karena merasa malu, walaupun dalam hati kecilnya Mira mengakui kesepiannya.
Belum pernah seorang laki-laki asing mengatakan dengan begitu terus terang bahwa dia ingin bermain cinta dengan dirinya. Entah ia harus merasa terhina atau tersanjung, karena ternyata bahkan setelah ia menjanda, tubuhnya masih tetap memiliki keindahan dan lekuk liku sintal yang dapat merangsang setiap pria. Mira memang rajin merawat tubuhnya dengan senam. Bahkan ia suka memakai baju ketat untuk menunjukkan tubuh indahnya dan memang laki-laki manapun pasti menoleh saat ia lewat dan memandangnya dengan penuh nafsu birahi.
Ia tahu pandangan para laki-laki normal manapun di sekitarnya yang mengagumi kemontokan dan kemolekan tubuhnya pasti ingin menelanjangi pakaiannya dan menyetubuhinya bila mereka memperoleh kesempatan—kini semuanya terjadi, namun naluri kewanitaannya masih refleks menolak, karena memang selama ini Mira masih mengharapkan bahwa suaminya tak tewas, dan akan kembali kepadanya, walaupun harapan itu semakin menipis.
“He-hentikan, pak!! A-atau saya akan teriak minta tolong!” kata Mira terbata-bata sambil meronta. Dia merasa ngeri dan ketakutan. Mira belum pernah membayangkan dirinya akan diperkosa. Ia memang senang bergaya dan anggun, namun tak pernah merasakan pelukan orang lain selain suaminya.
“Aku tahu Mbak Mira tidak akan melakukan itu. Yang dibutuhkan Mbak adalah tidur dengan laki-laki sejati. Setelah kita bersetubuh nanti, Mbak pasti akan menjadi seorang wanita gatel yang mendambakan kontol ini setiap hari,” kata Pak RT Yunus mendengus dan terengah-engah penuh nafsu birahi, sambil memaksakan satu tangan Mira untuk menjamah penisnya yang telah membesar di balik celana.
Sambil berusaha mengatasi kepanikannya, Mira mencoba melawan. Dengan satu tangan dia meraih rambut Yunus, memaksa pria tua itu menunduk dan dengan sekuat tenaga Mira menyepak ke arah kemaluan Yunus, namun meleset dan hanya mengenai lutut, beruntung itu pun cukup menyakitkan.
“Aduh! Sialan! Dibujuk enggak mau, sekarang mesti dipaksa biar loe ngarti kalo enggak ada pilihan lain!”
Pria tua mesum itu masih menunduk dan mengusap tulang keringnya yang ditendang oleh Mira. Dengan nekad Mira mencoba lagi lari ke arah pintu depan melewati Yunus yang sedang kesakitan. Salah besar! Yunus berhasil menarik rambut Mira dan membanting tubuh si janda cantik itu ke lantai. Tubuh Mira yang jauh lebih kecil langsing dan ringan terbanting agak keras ke permadani Persia cukup tebal.
Pak RT Yunus tak melepaskan rambut Mira yang panjang melebihi bahu begitu saja. Mira mencoba berdiri dengan sempoyongan, ia berusaha mempertahankan keseimbangannya. Dengan satu tarikan keras tubuh Mira terhempas lagi ke lantai. Air mata mulai menetes di pipi mulus Mira ketika Yunus berhasil mengunci tubuhnya, sehingga walaupun Mira masih berusaha melawan, semua tidak ada gunanya.
Tak perlu waktu lama sebelum akhirnya perlawanan Mira mengendur dan tubuhnya mulai lemas. Yunus merenggut daster Mira sehingga buah dadanya langsung terlihat menonjol, yang langsung dicaplok oleh Yunus. Dengan penuh rakus dan nafsu tak tertahan lagi Yunus menggigit puting Mira!
“Paaak!! Jangaaan!! Hentikan! Hentikan! Oooooh udaaaah, sakiiit!!” ratap Mira sambil menangis.
Akhirnya Yunus berhenti menggigit puting Mira yang kini terasa amat ngilu dan membesar. Mira mulai terisak-isak dan menangis sejadi-jadinya. Yunus tak perduli, nafsunya telah naik ke ubun-ubun dan tanpa memperdulikan protes, ia berusaha menarik daster mangsanya. Mira berusaha melindungi kedua gundukan dada dan juga selangkangannya yang diawasi oleh Yunus dengan mata melotot.
“Nggak apa-apa, mbak, ntar begitu ilang ngilunya tuh pentil jadi makin siiiip!” ujar Yunus menyeringai.
Tangan Yunus mulai bekerja dengan cepat melucuti pakaian yang dikenakan Mira. Pak RT cabul itu merobek sisa daster yang telah cobak-cabik. Akhirnya Mira merasakan tangan kuat pria tua itu merobek BH serta celana dalamnya. Pak RT cabul Yunus terbelalak menatap kemolekan tubuh Mira. Kaki betis belalang nan jenjang, paha putih mulus, rambut kemaluan halus tipis tercukur rapi menghiasi bukit kemaluan yang memancing mata. Keindahan yang tidak ada duanya, keindahan tubuh janda kembang Mira persis seperti apa yang selalu diidam-idamkan oleh Yunus saat masturbasi sendirian di kamar mandi. Tubuh yang indah itu kini tergolek pasrah di atas lantai, bagaikan kelinci akan disantap oleh singa.
Mira menggigil dan tersedu-sedu, tidak percaya ini semua terjadi kepadanya. “Ini pasti mimpi buruk”, tapi jari-jari kasar Yunus yang kini menggerayangi tubuh telanjangnya adalah kenyataan, bukan mimpi.
Yunus menginginkan agar mangsanya itu menyerah mutlak, bahkan merengek-rengek untuk segera digarap. Untuk itu Yunus akan merangsang dulu janda cantik ini habis-habisan, ia akan menikmati tubuh sintal montok bukan hanya malam ini, tapi juga di masa depan. Yunus telah merencanakan menggilir Mira bersama konco-konconya, tekadnya bulat ingin membuat si janda muda ini gatal ketagihan haus lelaki.
Yunus tak membuang waktu untuk mulai menjarah tubuh mangsanya. Kembali ia menundukkan kepala dan mulai bergantian menyedot, menghisap dan menggigit puting Mira yang menggemaskan mencuat ke atas. Tak diperdulikannya protes dan geliat Mira karena merasa sangat ngilu kesakitan.
Tangannya pun menjalar kemana-mana, meraba dan mengusap serta menjamah semua liku-liku badan korbannya, mulai dari ketiak sampai ke perut datar, pinggul padat, ke paha mulus halus, dan menyusup ke tengah selangkangan yang berusaha dirapatkan oleh Mira.
Tak ada gunanya janda kembang itu melawan, tenaganya bukan tandingan pria yang kemasukan setan. Ketika kedua pahanya tetap dirapatkan, maka Yunus dengan sadis mencubit lipatan paha Mira. Akibatnya Mira menjerit kesakitan dan terpaksa mau tak mau merenggangkan paha putihnya, dan jari-jari Yunus kembali mengembara di situ, menyelundup masuk diantara bibir kemaluan, menusuk ke dalam menyentuh lubang kandung kencing Mira. Digelitik dan ditusuk-tusuknya lubang itu secara ahli, menyebabkan Mira memekik karena geli tercampur rasa lain yang tak pernah dialaminta dengan sang suami selama ini. Tanpa disadari memeknya mulai lembab!
Yunus merasakan bahwa dinding memek Mira semakin basah, karena itu Yunus jadi tambah semangat. Kini tak hanya satu, namun dua jarinya masuk ke celah surgawi korbannya. Jari tengah dan telunjuknya keluar masuk lembah sempit, sementara jempolnya menyentuh dan mengusap daging kecil diantara bibir kemaluan Mira. Mulut Yunus pun bergonta-ganti menghisap dan menggigiti puting Mira. Ketika lenguhan dan jeritan kecil Mira mulai terdengar lagi, dengan rakus mulutnya yang setengah terbuka dibungkam oleh bibir Yunus, bahkan lidahnya menerobos masuk menyebabkan Mira gelagapan. Tanpa memperdulikan keadaan Mira yang tak berdaya itu, Yunus meningkatkan gerakan jari tangannya, dan tubuh Mira yang telah lama tak disentuh lelaki itu akhirnya mengakui kekalahannya.
“Ngggghhh, uummmhhh, sssshhhhhh... ngggrrgggh, aaaaah, ooooooh... iiiiyyyyyyhhh, aaaoooooh, baang!” Mira mendengus melenguh tak berdaya disertai tubuhnya mulai mengejang merasakan orgasmus yang telah lama didambakan tubuhnya yang memang masih sangat muda dan penuh hormon kewanitaan itu.
Yunus tersenyum lebar merasakan kemenangan, dan dibiarkannya tubuh molek telanjang bugil itu menggeliat di pelukannya, kini ia ingin melanjutkan rangsangan terhadap Mira yang telah tak berdaya. 
Dengan sigap ia mengubah posisi tubuhnya, dan kini Yunus turun ke bawah, kedua kaki jenjang Mira diletakkannya di atas bahu, lalu ia membenamkan kepalanya diantara paha janda cantik itu. Langsung terhirup aroma wangi liang kewanitaan yang begitu dia idam-idamkan saat dia mulai menciumi bukit kemaluan Mira.
“Ooooh, paak... jangaan lakukaaan itu, paak... ooooh!”  Mira menggigil tak berdaya sambil mencengkeram kepala Yunus dengan kedua tangannya dan mencoba mendorongnya menjauh. Bahkan Azzam suaminya tak pernah melakukan hal itu padanya.
Namun lidah Yunus makin lama makin meningkat intensitas iramanya dan Mira makin kehilangan kendali pada tubuhnya. Dengan rasa penuh malu Mira mulai menyadari kalau tubuhnya perlahan menikmati apa yang dilakukan oleh lelaki asing yang sedang memperkosanya itu, sementara batinnya mencoba mengingkari dan melawan mati-matian nafsu sendiri.
“Aaah, udaaaah, paaak... lepasiiiiin!!” lenguh Mira keras sambil mencoba mendorong kepala Yunus.
Lenguhan Mira makin lama makin keras dan tubuhnya merinding, menggigil penuh nafsu birahi di bawah rangsangan luar biasa dari Yunus. Mira sudah tidak ingat lagi akan semua hal yang selama ini dijunjungnya tinggi-tinggi : pekerjaan, pendidikan, latar belakang… semua hilang ditelan nafsu. Tidak ada jalan keluar. Dia akan ditiduri oleh lelaki jauh lebih tua yang ternyata memiliki stamina luar biasa. 
Dengan ketrampilan tinggi, Yunus meloloskan baju dan celana yang dipakainya. Saking nafsunya, ia bahkan merobek kaos oblongnya yang dekil dan penuh keringat. Berbaring di lantai, Mira sempat sekilas melihat batang zakar Yunus sebelum dia kembali memeluk dirinya.
'Kontol Yunus sangat besar, jauh lebih besar dari milik suamiku dulu,' batin Mira dalam hati.
Kaki Mira nan jenjang diangkat ke atas oleh pria tua yang sudah nafsu itu, keduanya ditautkan di pundak Yunus dan dengan ketangkasan tak kalah anak muda dua puluhan tahun, kemaluan Yunus telah menyentuh bagian tengah selangkangan Mira.
“Ya Allah! Oooooh, paak... pelaan-pelaaaan, oooh... tolooong!” lenguh Mira ketika penis Yunus menyelinap ke dalam liang kemaluannya. Si cantik itu bahkan harus menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak kesakitan saat kontol Yunus membelah celah sempit yang telah berbulan-bulan kehausan itu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Mira merasakan kejantanan pak RT cabul sudah berkedut-kedut di dalam lorong memeknya, dan si janda muda ini ngeri kalau nanti Yunus ejakulasi, ia tak rela dihamili olehnya.
Dugaan Mira memang benar : Yunus telah ejakulasi pertama di dalam vagina korbannya, membasahi rahim Mira dengan cairan pejuh kental. Namun penis kebanggaannya itu masih dalam keadaan setengah tegang, dan dalam beberapa menit ia kembali siap untuk menggarap si janda cantik Mira untuk kedua kalinya. Mira menatap wajah Yunus dengan perasaan campur aduk, rasa benci, ngeri akan hamil, sekaligus tak percaya bahwa pria ini baru saja membangunkan naluri kewanitaannya yang terpendam selama ini.
“Sudah kubilang kan kalau mbak akan menikmati semua ini, hehehe... Lenguhanmu terdengar sangat keras dan merangsang!” ujar Yunus sambil menyeringai cengengesan penuh kemenangan.
Mira yang merasa malu segera memalingkan wajahnya yang merona merah. Saat Mira berusaha bangun, Yunus menarik tubuh si janda molek bahenol dan memeluknya, pantat Mira kembali dicekal diremas-remas.
“Mau kemana, sayang? Kita kan baru mulai, belum selesai. Kamu nggak pengen dikerjain lagi?”
“Mau ke kamar mandi dulu, pak!” jawab Mira ketus, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Pak RT.
“Ya udah, mau pipis dulu ngkali ya, tapi cepetan balik lagi!“ sambung Yunus terkekeh mesum sambil menampar kecil pantat Mira yang bulat dan mulus.
Sembari menahan air mata, Mira pun pergi ke kamar mandi. Saat ia kembali ke kamar tengah, dilihatnya Pak RT sedang menonton acara TV, dalam keadaan bugil dan… oooh, itu tak mungkin, pikir Mira; kejantanan Yunus telah mengacung menegang lagi.
“Duduk sini, di pangkuanku!” perintah Yunus sambil menunjuk ke arah penis kebanggaannya.
Mira sempat ragu-ragu untuk sesaat, dia sangat sadar bahwa dirinya saat ini sedang telanjang tanpa sehelai benang pun di depan seorang pria yang bukan suaminya sendiri. Orang itu kini menghendaki ia duduk di pangkuannya, dan pasti memeknya yang masih ngilu akan ditancap oleh rudal daging Yunus.
Mira hanya bisa mendesah penuh kepasrahan. Ketika ia berada di atas pangkuan si RT cabul, dengan agak kasar Yunus mencekal pinggang ramping Mira, lalu tubuh mungil itu dihempaskan ke bawah, dan dengan pekik kecil kengiluan si janda merasakan vaginanya disodok oleh penis besar dari bawah.
“Iiyyyyaaa begituuu, hehehe... sekarang bapak bantuin main enjot-enjotan naik turun, oooooh nikmaaat!” Yunus mulai menurun-naikkan tubuh Mira, yang hanya dapat pasrah dijadikan permainan bagaikan boneka.  
Tak berapa lama setelah ditancap di pangkuan Pak RT, tangan jahil pria tua itu melepaskan pinggang Mira dan kini mulai meraba-raba tubuh indahnya, beralih kembali ke gundukan kembar di dada Mira, dan meremas mencubit kedua puting sambil memilin-milin dengan sadis. Lama kelamaan, api birahi Mira yang telah mereda dan hampir padam kini menyala lagi. Kali ini Yunus ingin mengeluarkan pejuh di mulut si janda muda, sebagaimana telah sering pula dibayangkannya ketika masturbasi di kamar mandi.
Selama ini Mira selalu menganggap hal itu kotor dan menjijikkan, bahkan suaminya pun tak pernah meminta apalagi memaksa. Hanya pemain film porno yang melakukan hal itu, demikian pendapat Mira.
Yunus melepaskan tubuh Mira dari tancapan pentungan dagingnya, dibaliknya sehingga berhadapan, lalu ditekannya pundak Mira ke bawah sehingga si janda terpaksa berlutut di hadapannya sambil terisak-isak.
“Aku tidak mau melakukannya, mual, itu kotor menjijikkan!” Mira masih berusaha bersikukuh. Dengan sisa kekuatannya ia menolehkan wajah ke samping sehingga penis Yunus menyentuh pipinya.
Tanpa banyak bicara Yunus meraih kepala Mira, menjambak rambut tergerai dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memijit pundak Mira demikian keras, menyebabkan si janda cantik jelita itu menggeliat kesakitan. Berusaha menghindar, namun tenaga Yunus ternyata masih terlalu kuat, sehingga akhirnya wanita cantik itu menyerah, perlahan membuka bibirnya dan menjulurkan lidah. 
Mira dengan rasa mual jijik kini mulai mengoral batang Yunus. Remasan tangan Pak RT cabul di kepalanya tetap ketat mengeras. Kemaluannya sangat besar dan keras di dalam mulut Mira sehingga dia mulai terbatuk-batuk dan kehabisan nafas, tapi Yunus tidak peduli. Mira berusaha mundur untuk menarik nafas, tapi tangan Yunus meraih rambut belakang Mira dan mendorongnya ke depan sehingga batang kemaluan sang pria tua hampir memasuki memenuhi rongga mulutnya. Yunus tak perdulikan keadaan Mira yang menggelepar-gelepar karena tercekik kehabisan nafas, lubang hidungnya kembang kempis mendengus mencari oksigen.
Pria tua itu berhenti sesaat, memberikan kesempatan bagi Mira untuk bernafas sejenak. Namun hanya sebentar saja, karena tiba-tiba saja kepala Mira kembali didorong maju dan kini dipaksa merangkuh seluruh batang penisnya. Di saat ujung kepala penis berbentuk jamur itu menyentuh tenggorokan Mira, air mani pun meledak menyembur berlimpah-limpah. Tidak ada jalan lain bagi Mira kecuali menelan seluruh pejuh yang dikeluarkan oleh Pak RT untuk mencegah agar tidak tersedak tercekik.
Tiga menit kemudian, semburan yang menjijikkan itu berakhir dan barulah kepala Mira dilepaskan. Mira rubuh ke belakang dan menarik nafas lega. Seluruh pipi dan dagunya belepotan air mani Yunus, sebagian kecil keluar meleleh dari sudut bibirnya yang merah.
Sadar apa yang baru saja diminumnya, langsung saja Mira merasa mual. Janda cantik itu segera lari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana. Setelah muntah, Mira merasa agak lebih baik dan berkurang rasa mualnya, meskipun hidungnya masih mencium aroma pejuh yang tak pernah dikenal sebelumnya. Sesaat setelah muntah, barulah Mira sadar kalau Pak RT Yunus sudah berdiri di sampingnya. Mira tak melakukan perlawanan apapun saat pria yang lebih pantas menjadi ayahnya itu memeluk tubuh indahnya yang telanjang dan mengelus rambutnya yang indah untuk menenangkan.
“Apa Mbak sudah mendingan sekarang?” bisik Yunus.
Mau tak mau Mira mengangguk pasrah.
Pak RT membantu Mira membersihkan wajah dan sudut bibirnya, menciumnya dengan mesra sambil berbisik, “Hehehe, mulut mbak sekarang wangi pejuh, ini obat awet muda dan bikin jadi janda gatel.”
Mira merasakan wajahnya merah padam dan sangat terhina, namun tak berdaya sama sekali saat itu.
Sebelum membawa si janda cantik kembali ke ruang keluarga, pak RT menyuruh Mira duduk di salah satu sofa sementara ia sendiri duduk tepat di hadapan Mira, menatap wajahnya yang ayu cantik.
“Santai saja, nyonya manis, semua yang terjadi janganlah dianggap masalah berat.” memulai Yunus berusaha menghibur sambil mengeluarkan sebungkus rokok dan mulai menghisapnya.  “Pindah channel TV-nya, cari acara lain dengan penyiar secantik nyonya!” perintah Yunus semakin kurang ajar.
Ketika Mira meraih remote TV untuk menukar acara seperti perintah Yunus, di saat itu tiga pejantan lain muncul dengan seringai mesum dari ruangan belakang : Ustadz Rhoji, satpam Andang, dan mandor Sentot. Dengan hanya memakai kolor, mereka masing-masing menciumi celana dalam Mira yang mereka ambil dari lemari. Mereka mendekati dari kiri kanan, sedangkan Ustadz Rhoji yang tambun berbadan penuh bulu lebat langsung berdiri di depan Mira.

1 komentar: