Sabtu, 18 November 2017

Balada Janda Kembang 2



Mira langsung pucat melihat mereka. Ia tak menyangka para pejantan yang sering menyapanya di pos kamling kini berada di sini semua, dan dalam keadaan setengah telanjang. Berarti mereka sejak tadi ...
Berbagai pikiran berkecamuk dalam pikiran wanita muda cantik ini. Ia tak sanggup berkata apa-apa karena shock berat. Dirinya dalam keadaan telanjang karena baru saja diperkosa oleh Pak RT dan kini tiba-tiba muncul lagi beberapa tetangga lain yang dari sinar mata mereka nan berbinar itu jelas ingin menikmati tubuhnya.
Mira mengerti keadaan yang tak dapat dielakkan lagi. Jika hanya menghadapi satu pemerkosa ia tak sanggup melawan, apalagi dikerubuti tiga orang?

“Hehehe, nyonya cantik, semua adegan telah kami saksikan tadi, sekarang giliran nyonya layani kami. Jangan coba-coba melawan, kan nyonya tahu gimana hukuman wanita berzinah di desa sini.”
“Perempuan ketahuan berzinah akan dipamerkan di tengah desa dalam keadaan telanjang, ditertawakan dijadikan permainan oleh penduduk yang lewat, hehehe.” demikian ancam ustadz Rhoji cengengesan. “Kalau nyonya nurut dan ikutin kemauan kami, maka kita berempat akan menjadi pelindung nyonya, tak akan ada yang berani mengganggu nyonya dan usaha nyonya, upahnya tapi kita bergilir minta jatah tiap minggu, gantian gitu, mungkin juga barengan kalo rame-rame seperti saat ini.”
Semua lelaki kehausan itu mengangguk-angguk menyetujui usul sang ustadz.
Bagaikan kelinci yang terhipnotis oleh ular cobra yang akan menelannya bulat-bulat, Mira hanya menatap dengan wajah sepucat mayat, dan bahkan diam saja di saat ustadz Rhoji menariknya berdiri bagaikan robot. Mira patuh ditarik mendekati para tetangganya yang kini telah melepaskan kolor mereka sehingga bugil sepenuhnya. Mira kini berdiri di tengah-tengah Andang, Sentot, Rhoji dan Yunus . Tanpa banyak komentar mereka mulai menggerayangi tubuh sintal molek Mira.
Rhoji yang berhadapan dengan si janda muda, menciumi bibir seksi Mira sambil tangannya menangkup payudara Mira yang semlohay. Andang berjongkok di depan Mira dan menciumi kemaluannya, sementara Sentot berada di belakang tubuh Mira, mengelus-elus punggung mulus dan pantat bulat si janda muda yang baru diperkosa oleh Yunus.
Mira hanya bisa menengadah saat Rhoji menciumi bibirnya, menjulurkan lidah ke dalam rongga mulutnya. Leher jenjang Mira tak luput dijamah, Rhoji menciuminya lembut, kemudian menghembuskan nafas panasnya ke liang telinga, hingga membuat Mira tergetar dan menggelinjang. Kembali air mata mulai menetes di pipi mulus Mira. Rhoji rupanya pandai dalam membangkitkan gairah wanita termasuk istrinya, walau istrinya yang lebih memegang kendali di rumah.
Dari leher jenjang, Rhoji turun ke buah dada Mira yang bulat kencang dengan puting susu menegak menantang. Dengan gemas Rhoji mengelus meremas-remas buah dada yang menjadi idaman para lelaki di kompleks itu. Kini dengan lembut Rhoji memilin puting buah dada yang sekal itu sehingga Mira tergetar, terbuai rasa geli dan nikmat. Rasa sakit di putingnya karena digigiti Yunus kini terganti oleh rasa hangat dan gatal.
”Aaauw… geliiii, paak!” Mira mengeluh saat Rhoji menarik, mencubit memilin puting buah dadanya. Jari-jari Rhoji meninggalkan bercak merah di pangkal buah dadanya bagaikan menandai kekuasaan.
“Jangaannn… uudddahh.. ngggh…, geliiiiii, nggiiiluuu!” desah Mira penuh kegelisahan.
Rhoji lalu mengecup dan menghisapi puting payudara Mira bergantian kiri dan kanan, menarik-nariknya hingga agak memanjang, menggigiti puting itu dan menggesek-gesek dengan giginya, melebihi apa yang dilakukan Yunus tadi, membuat Mira menggelinjang-gelinjang liar karena geli dan juga nikmat. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia dikepung tiga lelaki, Rhoji di depan, Andang di bawah dan Sentot di belakang. Ketiganya aktif menjelajahi tubuh telanjangnya. Sementara Yunus telah duduk kembali.
Andang tampak sibuk sendiri dengan kemaluan Mira. Kemaluan itu begitu mengundang dihiasi bulu-bulu halus. Mira tersentak saat jari-jari gemuk Andang menarik kedua sisi bibir vagina dan menguaknya sehingga isi vaginanya terlihat jelas. Andang mengendus-endus liang kewanitaan Mira hingga wanita cantik itu merasa geli karena hembusan nafasnya. Jari-jemari gemuknya juga beraksi dengan cepat, mencubit, menusuk dan mengelus bagian dalam memek Mira. Jempol Andang digunakan untuk mengelus-elus klitoris Mira sementara jari tengahnya masuk ke liang cinta janda muda yang cantik itu, menyebabkan dinding nan halus merah muda itu kembali mulai basah lembab.
Di lain pihak, Sentot telah memulai aksinya dengan mengendusi bagian belakang leher Mira, membuat wanita cantik itu semakin merinding kegelian. Sentot dapat menciumi bau harum rambut panjang Mira. Ia lalu mengangkat lengan Mira dan mulai menjilati ketiak Mira yang selalu dicukur licin. Mira tak berdaya apapun, diantara kaget dan geli merasakan lidah Sentot yang kasar, menjilati ketiaknya yang mulus. Kedua tangan Sentot sendiri lalu turun ke bawah dan meremasi belahan pantat Mira yang montok dan membulat indah. Pantat wanita cantik itu jelas jauh lebih menggairahkan daripada pantat istrinya yang kurus kerempeng, bahkan keseluruhan tubuh indah Mira jelas lebih montok dan lebih merangsang daripada tubuh istrinya. Diraihnya tangan halus Mira dan diletakkan di kontolnya yang sudah menegang sejak tadi, dituntunnya jari-jari Mira agar mencakup merangkuh dan mengocok-ngocok.
Mira sangat terkejut kali ini. Ia tidak berani berteriak, hanya sinar matanya memelas, seolah memohon agar Sentot menghentikan ini semua. Tentu saja Sentot hanya tersenyum nakal dan menggerakkan tangan Mira agar mengelus-elus mengocok kontolnya. Oooh, enak sekali rasanya kemaluannya dielus-elus oleh tangan halus janda kembang kompleks ini. Sentot memperkeras genggaman hingga kini tangan Mira bagaikan melakukan masturbasi di kemaluannya.
Muka Mira berubah-ubah antara pucat dan merah karena malu tak terhingga, bibir bawah digigitnya agar tidak mengeluarkan jeritan dan desahan. Mira takut kejadian ini akan ketahuan orang lain tapi tanpa dikehendaki, ia pun bergairah karena baru pertama ini memegang batang kemaluan seorang laki-laki yang begitu keras, panas, hitam dan panjang. Mira memejamkan matanya lagi. Betapa rendah dirinya saat ini, beberapa bulan lalu Miranda adalah seorang wanita anggun, bahkan cenderung sombong yang tidak sudi melayani pria asing lain. Kini, empat laki-laki tidak saja menyaksikannya bugil, tapi juga mempermainkannya seperti seorang pelacur. Mira merasa lebih rendah dari seorang pelacur, dia adalah seorang janda muda yang berzinah.
Gerakan mulut dan jari jemari Andang tiada hentinya menghujani bukit venus Mira dengan rangsangan. Sebagai perempuan normal, rangsangan lelaki mesum itu lama kelamaan berpengaruh juga pada tubuh Mira. Tanpa sadar dia membuka kakinya yang jenjang semakin melebar. Bau cairan cinta Mira yang kian membanjir memenuhi rongga hidung Andang, begitu pula bunyi becek Mira yang terus disodok-sodok jari jemari yang keluar masuk dengan cepat. Kali ini tidak perlu waktu lama sebelum Mira akhirnya menyerah pada nafsu birahinya sendiri. Janda cantik itu meraih kepala Rhoji dan ditekan ke arah buah dadanya, sementara pinggul Mira bergerak seiring sodokan jemari Andang di memeknya. Tangan Mira yang lain terus mengocok penis Sentot dengan gerakan yang makin lama semakin cepat.
“Aaaahhh, ooohhhh!” Mira menjerit lirih karena rangsangan hebat yang dilakukan para lelaki itu.
Rhoji terus menyerang payudara dan Andang menjilati memek si janda muda cantik. Bagaikan seorang pekerja seks komersial yang binal, Mira menggerakkan pinggangnya agar tusukan jemari Andang masuk lebih dalam, Mira sudah lupa pada statusnya sebagai seorang wanita yang anggun dan terhormat.
Saat membuka matanya yang terpejam sejak tadi, Mira menyadari tubuhnya sudah hampir jatuh dari pinggiran sofa. Kakinya terbentang lebar dan memeknya dapat diakses dengan mudah oleh Andang. Bibir vagina Mira terlihat lebih merah dari biasanya dan rambut-rambut di sekitar lubang cintanya itu basah oleh cairan pekat, cairan dari dinding memeknya tercampur dengan ludah sang satpam yang konak.
Rhoji tak mau kalah, dia meraih kepala Mira dan menekan ke arah selangkangannya, sangat jelas apa maunya. Sebelum Mira sempat protes terhadap kelakuan yang tak senonoh itu, penis Rhoji  telah menekan di tengah bibir Mira dan berusaha menerobos masuk. Mira menyadari bahwa tak ada gunanya melawan, dengan disertai linangan air mata dibukanya mulut mungil yang tadi telah dipaksa pula menyepong oleh Yunus.  Walaupun tidak terlalu besar, tapi dibandingkan ukuran rongga mulut sekecil itu, tetap saja penis Rhoji masih membuat Mira tersedak saat pria cabul itu memaksa kepala Mira mundur maju dengan cepat.
Tangan Mira menggapai-gapai lengan Rhoji dan berusaha meronta lemah. Tapi walaupun begitu, pria tua bejat itu ternyata masih tetap perkasa dan tentu saja tidak bersedia untuk menghentikan aksinya. Tiba-tiba tangan kiri kanan Mira yang menggapai-gapai itu dicengkeram oleh Andang dan Sentot yang berdiri di kiri kanan, dan memaksanya mengocok batang kemaluan mereka.
Tak ada lagi yang dapat dilakukan Mira selain menuruti dan mematuhi keinginan ketiga pria bejat itu.
Tiap kali kepala Mira dipaksa mendekati selangkangan Rhoji, penisnya yang besar tak sedap itu masuk ke tenggorokan. Mira tersedak dan makin lama semakin merasakan melayang kekurangan oksigen karena sukar sekali untuk bernafas. Pria itu mencekik Mira dengan kontolnya sehingga janda seksi itu semakin kewalahan dalam melayani. Untunglah sebelum Mira betul-betul kehilangan kesadaran, Rhoji mengakhiri aksinya dan menarik kontolnya dari mulut si janda kembang. Wanita cantik itu segera jatuh ke lantai dengan terbatuk-batuk. Mira berusaha menarik nafas dalam-dalam dan menghirup udara bagaikan ikan yang terhempas di darat, dan kini dilemparkan kembali ke air, terengah-engah mencari oksigen.
Pada saat itu dengan tak terduga sama sekali Rhoji mengarahkan batang kemaluannya yang tegang mengangguk-angguk itu ke wajah Mira dan menyemprotkan air kejantanannya tepat ke arah hidung serta mulut sang korban. Hanya dalam waktu beberapa detik terlihat wajah ayu cantik itu berlumuran cairan pejuh putih, di atas alis, ujung hidung bangir, serta bibirnya. Bahkan karena Mira menolehkan wajahnya ke bawah, maka rambut Mira pun menjadi sasaran, di sana-sini terlihat cairan putih kental. Mira hanya mampu terisak-isak. 
Namun kini pejantan lain menyambung aksiya, tanpa memperdulikan keadaan Mira yang masih lemas dilecehkan oleh Rhoji.
Selama Rhoji memaksa Mira menyepongnya, Sentot dan Andang tetap dapat mempertahankan ereksi mereka akibat kocokan lembut jari-jari tangan Mira yang langsing. Kini Rhoji telah menghentikan aksinya sementara, maka Andang maju lagi dan dalam posisi berhadapan, ia berusaha mengangkat pinggul indah Mira ke arahnya. Andang berusaha mengarahkan dan menyelipkan kemaluannya yang mengeras ke dalam lubang vagina janda muda yang cantik itu.
Andang bisa merasakan gerakan spontan Mira yang mencoba melawan dengan beringsut menjauh, tapi itu malah membuat satpam kasmaran itu mendesah keenakan karena tubuh mereka saling bersinggungan dengan lembut. Dengan pandai, Andang yang telah banyak pengalaman dengan wanita itu mengelus-elus paha Mira yang terkuak lebar. Dengan sekali hentak agak kasar masuklah penisnya ke celah senggama hangat dan lembab, disertai pekik kaget Mira, namun pekikan itu terganti dengus dan lenguhan ketika Andang mulai bergerak maju mundur, sementara lubang rahim Mira mulai menerima penis Andang dengan nyaman.
Gerakan penis lelaki itu makin lama makin dalam betapa pun erat rapatnya pertahanan vagina Mira. Walaupun mendesak ke dalam terus menerus, tapi Andang belum ingin menusukkan penisnya sampai ke ujung, dia ingin merasakan pelan-pelan katupan bibir memek Mira yang menjepit kontolnya bagaikan penghisap debu. Liang cinta janda muda yang hangat dan basah ia rasakan dengan nikmat dan perlahan. Mira akan dibuat kegatalan dan ketagihan untuk dijadikan kekasih gelapnya di masa depan.
Tiap sentakan, tiap putaran dan tiap kali kontol Andang mendesak di dalam lubang vagina membuat Mira tidak bisa menahan gairah sensual yang makin lama makin menimpa dirinya. Mira tidak mampu menahan hausnya diri sendiri akan kenikmatan bercinta, dia ingin penis Andang menusuk lebih dalam dan lebih dalam lagi. Dia ingin menurunkan vaginanya sampai mentok ke paha Andang agar batang penisnya bisa masuk semua ke dalam vaginanya. Tapi Andang menahan diri dengan menikmati tubuh Mira selama mungkin dan itu membuat janda seksi itu melenguh tak berdaya. 
Saat akhirnya penis itu menusuk lebih jauh ke dalam dan membelah vaginanya yang masih cukup rapat, Mira seakan hampir mati oleh gelombang kenikmatan yang melanda dirinya. Namun sekali lagi Andang menahan diri dan tidak memasukkan seluruh kontolnya masuk ke dalam memek sang janda yang cantik. Mira menggeleng-geleng frustasi, walaupun dia malu mengakui kalau dia menginginkan penis Andang lebih dalam lagi, tapi gairah sensual yang makin dirasakan membuatnya lupa diri. Dengan penuh keputus-asaan, wanita cantik itu hanya bisa melenguh panjang dan meminta dengan dengan manja.
“Mas… maas, iyyaaa... teruuuuus, masukkan… masukkan!”
Mira merasakan jemari lelaki itu yang dengan nakal meremas, meraba dan memijat pipi bokongnya yang bulat putih mulus, mata Mira memejam dan seluruh tubuhnya bagaikan disetrum llistrik ketika tangan Andang menyibakkan pantat Mira dan jari tengahnya itu masuk ke dalam lubang anusnya.
“Hngghh, aauuuuuw, aaaah!!” Mira mengernyit menahan rasa sakit bercampur nikmat yang disebabkan oleh jari sang satpam yang nakal.
“Masukkan apaan sih, mbak Mira?” tanya Andang yang menyadari janda seksi itu sudah di ambang batas penyerahan diri yang total, kehilangan rasa malu dan bahkan memohon dijarah lebih jauh.
“I-itu… dimasukkan… ituuuunya masukkan! Teruussiiin dooong, oooooh!”
“Apanya?”
“I-itunya…”
“Itunya apa?”
“Penisnya… masukkan… masukkan lebih dalam!!”
Sentot mengerling penuh arti kepada konconya, Andang ingin Mira lebih responsif, dia ingin Mira lebih binal lagi, dia ingin janda muda yang cantik itu melupakan eksistensinya sebagai seorang wanita anggun, berubah menjadi budak seks yang haus disetubuhi diperkosa habis-habisan saat itu juga.
Dengan penuh keputusasaan, Mira merapatkan paha; bibir vaginanya mengatup rapat seolah-olah haus kemaluan lelaki dan merangkuh penis lelaki yang berukuran besar dan memenuhi seluruh liangnya dengan sempurna, dinding vagina Mira yang semula seakan tidak rela diserang dan liang rahimnya itu kini mengeluarkan cairan cinta berlimpah dan menjadi pelumas. Mira sudah pasrah, dia sudah siap dihina sampai serendah-rendahnya, dia hanyalah seorang wanita biasa yang ingin merasakan disetubuhi saat ini juga. Ia telah melupakan dan tak perduli suaminya yang hilang, tak perduli masih hidup atau mati.
Jepitan dan pijitan dinding memek Mira menyebabkan Andang tak tahan lagi. Dengan sebuah geraman keras, lelaki itu menghunjamkan seluruh kontolnya yang mengejang keras ke dalam liang senggama Mira dengan kekuatan penuh, dia tidak main-main lagi sekarang, seluruh batang kemaluannya melesak ke dalam sampai paha mereka saling tampar. Andang membiarkan kontolnya berada di dalam untuk sesaat sambil mendengarkan desahan kekalahan yang keluar dari mulut Mira. Dengan kekuatan penuh, lelaki yang perkasa itu mulai menggiling memek sang janda muda yang cantik dan menusukkan kemaluannya dalam-dalam sampai seluruh batangnya terbenam seluruhnya di bukit kemaluan Mira.
Sentot menyaksikan getaran dan terhempasnya tubuh Mira karena tusukan dan hentakan Andang yang kasar, dan  ia memutuskan untuk ikut menikmati mulut Mira yang setengah terbuka. Mulut begitu mungil dengan bibir merah yang baru saja menyepong kelamin Rhoji, dan kini Sentot berniat untuk merasakan jilatan dan kuluman yang sama. Sentot ingin menyaksikan bagaimana wajah manis cantik itu di saat terpaksa minum cairan kelaki-lakiannya. Sentot ingin melihat kepasrahan yang tentunya menguasai diri Mira tak hanya karena disetubuhi Andang, namun juga karena sekaligus harus minum pejuh yang dirasakannya telah mulai bergolak di dalam biji pelir.
Sentot bergerak mendekati Mira, tubuh wanita cantik yang terlentang tersengal-sengal masih dientoti Andang itu terkulai pasrah di atas lantai. Dengan gerakan ringan, Sentot mengangkangi dada Mira dan setengah duduk di atas buah dadanya. Satu tangan Sentot meraih rambut Mira, menjambaknya dan menarik kepalanya ke arah depan.
Tangan Sentot yang lain menggiring penisnya yang sudah tegang ke bibir mungil Mira. Mata Mira terbelalak karena terkejut dan dia memalingkan wajah dengan marah. Walaupun sedang dilanda gairah birahi yang sangat tinggi tapi Mira masih menolak, ia tak mau melayani dua orang pria sekaligus!
Mira merintih, “Jangan! Aku mohon… aku tidak bisa melayani kalian berdua bersamaan!”
“Kenapa tidak? Sekarang saat yang tepat, Mbak Mira… ayo kulum penis saya!” kata Sentot tenang.
“Tidak! Jangan… aku tidak mau!!” Mira menolak. “Aku bukan pelacur kampungan! Aku tidak mau… dua orang… aku… tidaaak, jangaaaan! Ooooooh... kasihani saya,  enggak maauu!”
Pada saat bersamaan Andang menusuk kontolnya lebih jauh lagi ke dalam liang rahim Mira, entah sudah berapa jauh ia menguasai memek Mira. Yang jelas, ia sudah lebih jauh dari apa yang pernah dicapai oleh Azzam, mantan suami Mira. Wanita cantik itu melenguh nikmat dan hal itu memberikan kesempatan untuk Sentot menyerang Mira. Dengan sedikit kasar Sentot menyodokkan penisnya ke dalam mulut Mira, tak perduli si janda muda membeliak dan liang hidung bangirnya kembang kempis karena berusaha mengatur nafasnya yang sesak akibat penjarahan rongga mulutnya itu. 
“Nah gitu dong, kan kelihatan bisa, atas kena bawah bisa, mbak Mira cantik!” bisik Sentot menggoda.
Rongga mulut Mira langsung sesak begitu penis Sentot masuk ke dalam dengan paksaan, janda muda yang cantik itu hampir saja tersedak dan merasakan daging berotot milik Sentot melindas lidahnya sampai ke dalam. Tubuh Mira tersentak-sentak dan menggelinjang tak berdaya. Di bawah, Andang masih membenamkan penis perkasanya ke dalam memeknya sementara di atas Sentot menghunjamkan penis ke dalam rongga mulutnya. Air mata Mira meleleh saat dia menyadari betapa rendah dirinya saat ini. Penghinaan dan rasa malu apalagi yang masih akan dihadapi saat ini? Dia disetubuhi oleh dua orang sekaligus. Jari jemari Andang yang sesekali masuk ke dalam lubang anus membuat Mira menyadari bahwa seluruh lubang di tubuhnya sudah mereka kuasai, seluruh tubuhnya sudah menjadi milik tiga laki-laki biadab ini. Dia sudah tidak berharga lagi. Dia sudah tidak punya harga diri lagi.
Sementara Mira menghisap-hisap penis Sentot, Andang kian liar mengendarai memek sang ibu muda yang cantik itu. Dengan sisa tenaga yang entah didapat dari mana, lelaki itu terus menggerakkan kontolnya keluar masuk, Mira juga menggerakkan pinggulnya seiring gerakan penis Andang dan melayani permainan tetangganya itu. Andang dengan pandangan mata bahagia menyaksikan batang kemaluannya yang masih tetap keras keluar masuk dari memek Mira dengan perkasa, dengan sengaja lelaki itu menarik penisnya hingga ujung kepala jamurnya yang gundul tersisa di dalam celah Mira. Kemudian dengan kekuatan penuh, Andang kembali melesakkan kontolnya masuk ke memek Mira.
Disepong oleh wanita secantik Mira sungguh nikmat rasanya, karena istrinya yang sebenarnya juga cantik itu tidak pernah mau melakukannya karena merasa jijik. Sentot menekan penisnya jauh lebih dalam ke mulut Mira, memasuki rongga tenggorokannya sehingga perempuan cantik itu sesak dan hampir tersedak-sedak hampir muntah. Gerakan tubuh Mira yang didorong oleh Andang juga membuat sensasi tersendiri bagi Sentot, seakan-akan janda seksi yang cantik itulah yang bergerak maju mundur, mengocok penisnya dengan mulut mungilnya,  padahal dorongan itu datang dari bawah.
Dalam keadaan tidak berdaya, tubuh Mira menjadi bulan-bulanan kedua laki-laki yang kini menguasai dirinya itu. Berkali-kali Andang membolak-balik tubuh Mira agar bisa mendapatkan posisi yang enak dan kini janda muda yang cantik itu turun ke lantai dan menelungkup ke bawah. Wajahnya berada tepat di bawah perut Sentot yang terlentang untuk melanjutkan sepongannya, sementara di belakang, Andang mengendarai Mira secara ‘doggie-style’.
Wajah Mira semakin pucat, kuyu dan sayu, dengan memelas dia memohon pada Andang agar mengasihaninya dan segera mengakhiri semua ini. Sayangnya tidak ada harapan bagi Mira. Dengan satu tusukan penuh tenaga, Andang melesakkan penisnya kembali ke dalam liang cinta Mira.
“Hnnghh, aaauuuuuwww, aduuuuuh!” Mira menggeram dan memejamkan mata menahan sakit.
Tubuh pendek Andang berada di belakang tubuh Mira. Tangannya memeluk pinggang Mira menjaga keseimbangan sendiri sementara dia melesakkan penisnya ke dalam rahim Mira. Tidak ada kelembutan saat lelaki mesum itu menyetubuhi Mira, Andang kini bergerak dengan cepat dan kasar. Agar tidak bergoyang terlalu hebat, Mira mencengkeram lutut Sentot yang kini pindah tempat dan duduk di sofa. Mira menengadah penuh sayu namun Sentot hanya menyeringai dan kembali menyodorkan kontolnya. Lagi-lagi Mira harus menyepong Sentot. Mira segera menjilati batang kemaluan Sentot sementara Andang mengentoti vaginanya dengan kecepatan tinggi.
Hampir sepuluh menit posisi ini tidak berubah, sehingga di suatu saat Sentot menjambak rambut Mira dengan gemas dan menekan penisnya sedalam mungkin ke langit-langit rongga mulut si janda kembang. Mira kelabakan dan gelagapan ketika merasakan semprotan air mani membanjiri mulutnya. Agar tidak tersedak, Mira menelan seluruh sperma yang disemprotkan oleh lelaki itu. Walaupun sudah mencapai klimaks, Sentot tidak segera menarik kontolnya yang masih berdenyut-denyut di mulut Mira.
Pada saat bersamaan, Andang yang masih terus menggerakkan pinggulnya menyetubuhi Mira dari belakang juga telah mendekati puncak. Gerakan Andang semakin cepat dan penuh nafsu birahi, sehingga mau tak mau Mira pun yang diperkosa takjub pada kekuatan dan kecepatan Andang. Belum pernah seumur hidupnya Mira merasakan dientoti oleh suaminya sendiri sedemikian bernafsu dan lama. Makin lama makin cepatlah sodokan kontol Andang di dalam memek Mira sampai di suatu saat satpam tangguh itu melenguh keras dan menyemprotkan pejuhnya membanjiri vagina Mira.
Kedua lelaki busuk itu mencapai klimaks hampir bersamaan, dua laki-laki buas yang mencengkeram erat tubuh telanjang Mira berebut ingin memeluknya, masing-masing ingin melesakkan penisnya jauh lebih dalam ke dalam mulut dan vagina wanita cantik itu dan menembakkan air mani mereka dalam-dalam. Sentot beralih ke sisi kiri Mira, dia menarik kontolnya yang mulai lemas meskipun si cantik itu masih saja menyedot air mani yang terus keluar dari ujung kemaluannya. Andang mundur ke belakang dan menarik keluar kontolnya dari dalam memek Mira, terdengar suara letupan kecil dan desahan nikmat dari lelaki yang mesum itu. Andang kini berbaring di sisi kanan Mira.
Mereka bertiga kelelahan… puas dengan puncak birahi yang telah berhasil diraih. Mira memejamkan mata kecapekan, dia tidak mengira bahwa sekali ini dia benar-benar sudah mengkhianati nuraninya dengan cara yang paling menjijikkan, tidak saja dia berselingkuh dengan beberapa tetangganya, tapi dia juga melayani lelaki lain secara bersamaan. Bagaimana mungkin wanita seperti dia bisa melayani dua orang sekaligus? Bersetubuh dengan mantan suaminya pertama kali di malam pengantin dirasakannya hanya sebagai kewajiban, kehilangan kegadisannya bagaikan seperti kiamat, rasa malu dan jijik yang hinggap tidak bisa hilang oleh apapun.
Tapi kini? Ia disetubuhi oleh dua orang lelaki sekaligus. Rasa malu pada diri sendiri kian membuncah karena Mira merasa mendapatkan kenikmatan yang luar biasa disetubuhi oleh mereka berdua.  Janda seksi yang baru saja dinikmati dua pria itu ambruk ke lantai ruang tamunya sendiri. Nafasnya terasa berat hingga Mira pun terengah-engah.
Belum sampai lima menit beristirahat, rambut Mira kembali dijambak oleh Andang. Pria itu menarik kepala Mira dan menyorongkan kontolnya yang basah oleh air mani dan lendir vagina ke dalam mulut. Mira dengan patuh segera menjilati kontol Andang dan membersihkan semua pejuh yang ada di batang kemaluan itu. Setelah Mira selesai membersihkan penis Andang dengan mulutnya, satpam mesum itu mendorong kepala Mira menjauh. Sekali lagi Mira duduk dengan lemas di lantai sementara dua pria yang baru saja menyetubuhinya duduk di sofa dan berolok-olok, bersantai tanpa mempedulikannya.
“Bagaimana rasanya, Dang?” tanya Sentot berpura-pura sopan sambil merapikan celananya kembali.
“Luar biasa, memeknya kok masih sempit ya, padahal udah bersuami? Enak sekali, kaya perawanin gadis belasan tahun. Untung aja tadi gue sempat minum obat kuat dulu.“
Melihat kedua pemerkosanya sudah terpuaskan, Mira kembali mempunyai pikiran untuk melarikan diri. Ia melihat pintu tidak dijaga dan Yunus masih rebah di sofa, sedang Rhoji saat itu tidak kelihatan.
Biarlah ia menanggung malu harus bertelanjang bulat keluar dari rumahnya asal ia bisa bebas dari siksaan para tetangganya ini. Ia dapat melapor pada istri-istri tetangganya yang galak-galak.  Cepat ia bangkit dan sebelum para pemerkosanya sadar ia sudah berlari ke arah pintu. Tubuhnya telanjang dan putih berkilau karena keringat, paha mulusnya yang walaupun sudah lemas mencoba untuk menopang tubuhnya berlari ke arah kebebasan. Buah dadanya yang montok padat terayun-ayun sangat indah.
Saat tangan Mira hampir mencapai grendel pintu, sebuah lengan kekar menghalangi larinya hingga buah dadanya yang membusung itu menabrak lengan itu. Janda muda yang montok seksi itu kaget dan cepat melangkah mundur lagi sambil sebelah tangannya menutupi bagian tonjolan buah dadanya.
”Hey, mau kemana, nyonya manis?!” bentak pemilik lengan kekar berbulu lebat itu,  ”Aku belum puas, dah konak lagi nih!” Sentot membentak sambil mengusap meremas kelembutan dan kekenyalan buah dada sang janda muda tadi sambil tersenyum mesum.
“Masih bandel nih nyonya cantik, sekarang perlu diajarin beneran supaya ngarti ngelayanin kita. Betul enggak, pak ustadz?” tanya Sentot memeluk Mira sekuatnya yang masih berusaha berontak.
“Hehehe... udah jadi janda, masih bahenol montok begini, pasti bisa ngelayanin kita berempat, gantian maenan lain daripada di rumah, hehehe!” sambut ustadz Rhoji yang cabul itu, karena situasi sekarang berlawanan di rumahnya : ia mempunyai empat istri, sedangkan sekarang Mira sebagai wanita sendirian dipaksa untuk melayani empat lelaki.
“Pokoknya nih nyonya bahenol mesti dikerjain lagi, tapi kali ini harus tuntas, biar dia rasain dan takluk beneran, ‘tul enggak?” tanya Sentot yang kini telah berhasil menyeret si janda kembang ke arah ranjang dan menghempaskannya ke situ.
Ranjang besar ukuran king-size itu biasa dipakai oleh Mira dan Azzam, suaminya, terbuat dari kayu jati mahagony yang mahal, dengan di ke-empat ujungnya dihiasi semacam pilar berukiran naga melilit. Mira berusaha langsung bangun namun diterkam oleh ke-empat lelaki cabul itu, mereka menarik kaki tangan Mira ke arah sudut ranjang, lalu mengikatnya dengan cabikan pakaian dari lemari pakaian besar.
“Sekarang kita gunyeng nih badan semlohay, sampai si nyonya ketagihan dan meratap minta kita semua ngelayanin dia tiap hari. Gimana, setuju enggak?” tanya Andang yang rupanya masih penasaran.
“Iya, itu usul bagus. Ayoooh semuanya kerja bakti lagi, jangan ada bagian yang kelupaan!” sahut Yunus.
“Jangaaaaaan, udaaaah doooong... saya enggak kuat lagi... toloooong, ampuuuun, nyeraaaah... mau diapain lagi? Ooooooh lepasiiiiiin...” Mira menggeliat dan meronta penuh kengerian karena tubuhnya terpentang bagaikan huruf X besar, dan semua mata liar ke-empat lelaki yang bugil itu jelalatan bagaikan menelan setiap sentimeter tubuh telanjangnya yang putih mulus.
Ke-empat lelaki itu kini telah naik ke ranjang, bagaikan serigala lapar mereka rebutan meraba, mengelus dan meremas tubuh Mira. Bergantian mereka menciumi mulut, leher jenjang, ketiak, buah dada serta putingnya, pinggang, pusar dan pinggulnya. Mereka bahkan bergantian menjilati mengulum jari kaki, serta lipatan paha, selangkangan, mengelus bukit Venusnya, menarik-narik rambut kemaluan nan halus.
Mira tak sanggup melayani serangan bertubi-tubi dari empat pria yang haus sex itu; kedua ketiak serta kedua bukit payudaranya dijadikan sasaran Andang dan Sentot, mereka mencaplok sebanyak mungkin gundukan daging itu ke mulut mereka, putingnya dikenyot-dihisap, dipilin dipelintir serta digigiti sadis, sementara jari tangan mereka memijit dan menggelitiki ketiak yang sangat peka itu.
Di bagian bawah, Yunus dan Rhoji bagaikan anjing kelaparan menciumi telapak kaki, jari dan celah jari kaki Mira, mengulum jari kaki satu per satu, naik ke betis, ke paha, lipatan paha, ke arah selangkangan.
Sementara ciuman dan jilatan Yunus turun kembali dan memusatkan ke lipatan betis serta menggelitik telapak kaki, maka bibir Rhoji justru mengembara di lembah kemaluan Mira, menguakkan bibir vagina yang merah muda, menyeruak ke bagian atas, dan mengecup kelentit yang tersembunyi.  
“Aaaaaaahhhh, oooooooh, jangaaaaaan... sialaaaaaan semua, pengecuut, kerubutin perempuan... ooooooh, udaaaaahhh!!” 
Mira berteriak dan meronta sekuatnya walaupun sia-sia karena kali ini semua rasa menimpanya : ngilu geli nikmat di puting dan itilnya, sekaligus geli tak tertahan di ketiak dan celah jari kakinya. Mata Mira terbelalak dan mulutnya terbuka menahan segala sensasi erotis yang dirasakan. Setelah beberapa jam diperkosa para tetangganya, kini mereka mengulangi penjarahan mereka, bahkan di tubuhnya yang sama sekali tak mampu melawan karena terikat erat di ujung ranjang.
“Aaaaah! Ooooooooh! Auuuhhh!! Ssssshhhhh, auuuuuuw!” Mira tak sanggup lagi menahan semua nafsu yang sudah siap meledak di selangkangannya, digigitnya bibir bawah untuk membantu menahan semua getaran nafsu, tubuhnya terlihat mengkilat karena keringat bercucuran menahan rangsangan.
“Iyaaaaaaagghhhh!! Aaahhh! Aahhh! Jangaaaaan!” Mira tersentak dan tubuhnya melengkung ke atas mengalami kenikmatan yang luar biasa ketika jemari Rhoji bermain di sekitar daerah lubang kencingnya, sedangkan kelentitnya dikecup disedot.
Ustadz ini tak perduli, ia selalu membayangkan apa yang dapat dilakukan dengan ke-empat istrinya, namun semuanya wanita alim shalihah yang menolak permainan sex liar seperti ini. Kini ia dapat memuaskan semua hasrat dan fantasinya di janda muda ini.
Sentot melumat bibir mungil Mira dengan penuh nafsu. Bibir merah basah yang mendesah menjerit berulang-ulang itu kini terdiam dalam ciuman ganas sang lelaki. Mira kini terbuai sepenuhnya, menyerahkan dirinya penuh kepada para lelaki itu. Ia pasrah ketika Sentot melumat bibirnya, bahkan Mira membalas ciuman sang tetangga dengan permainan lidah yang saling memilin. Tak perduli dengan bau tak sedap dari ludah Sentot yang selalu merokok kretek.
Sementara Sentot menciumi Mira dengan buas, Rhoji menggerakkan jemarinya di selangkangan sang janda dengan lincah. Digesek-gesekkan jari tengah dan telunjuknya daerah peka Mira sementara ibu jarinya memainkan klitoris yang menonjol. Berulang-ulang dijilatinya tonjolan daging bagai penis kecil itu, digosok-gosok dengan jenggotnya.
Mira telah lupa diri, semua syarafnya digugah dibangunkan, si cantik itu memaju mundurkan pinggul karena tak tahan, ia ingin memeknya segera ditembus sesuatu yang keras dan panjang. Lidah Sentot beraksi sepuasnya di mulut Mira, menjelajah masuk dan menjilati seluruh liang mulut si cantik. Bibir Mira juga tak tinggal diam, ia mengulum dan melumat bibir Sentot yang besar, lidah si cantik itu juga masuk ke mulut Sentot. Bau rokok murahan yang tersebar dari kerongkongan lelaki itu tidak menyebabkan Mira berhenti, ia terus menerjang, menjilat dan melumat.
Tak ada dua puluh menit Mira mengalami siksaan itu, orgasmusnya melanda bagaikan badai, dan karena Rhoji terus tanpa ampun meng-oralnya, maka semenit kemudian Mira kembali dua kali orgasmus, dan akhirnya pingsan!
Ke-empat lelaki itu menatap korban mereka yang pingsan, mereka lepaskan ikatan kaki tangan Mira dari ujung-ujung pilar ranjang. Namun mereka masih menginginkan babak berikutnya, mereka ingin sekali mendengar permohonan ampun Mira, menginginkan Mira memohon agar boleh menjadi budak sex mereka seterusnya. Oleh karena itu mereka berunding untuk menggarap si janda muda yang malang itu.
Dengan sadis Yunus menyentil kedua puting Mira, dijepit diantara telunjuk dan ibu jarinya, dipelintir, dipilin, ditarik, dicubit-cubit, bahkan dicengkeram antara kuku yang cukup tajam. Perlakuan sadis ini ternyata berhasil : tak ada semenit kemudian Mira melenguh mendesah dan mulai sadar kembali, semua tubuhnya terasa pegal linu dan kejang akibat paksaan orgasmus berkali-kali.
Namun babak berikutnya telah menunggu.
Sentot naik ke atas ranjang dan bersiap untuk melesakkan penisnya ke dalam memek sang janda muda, penisnya yang sudah keras bagai kayu ditempelkan dan dimainkan di luar bibir vagina Mira, tapi belum mau dimasukkan, ia ingin menggoda si cantik itu. Andang yang menduga niat konconya sudah siap melakukan penetrasi, bergeser ke samping, memberi tempat pada Sentot untuk beraksi.
Mira mengerang dan mendesah-desah, ia telah sadar sepenuhnya dan kembali menikmati gesekan kepala jamur di luar bibir memeknya. Ia lupa pada statusnya sebagai seorang wanita terhormat, ia lupa semuanya; yang diingat hanya ia sedang bermain cinta dengan para lelaki perkasa yang memberinya kenikmatan tiada tara.
Sentot bersiap, diangkatnya kontol yang kini bagaikan pukulan kasti dan dengan tusukan lembut, masuklah kemaluannya ke liang kewanitaan Mira yang basah licin. Wanita jelita yang tak berdaya itu menggelinjang dan merintih sejenak, dia menjerit lirih di bawah serangan Sentot yang tiada henti menciumi bibir dan meremas-remas payudaranya.
“Iiiiihhh... sssshhh… aaaahhh, auuuuuw!” desis Mira berulang kala Sentot melepaskan pagutannya.
Sentot menarik Mira dan mengaitkan kakinya yang jenjang di pinggang. Tubuh seksi Mira yang putih mulus kini penuh dengan cupangan merah dan masih basah kuyup keringat, juga kakinya yang mengait pinggang sang tetangga. Sentot akhirnya mulai menggerakkan pinggul untuk menyetubuhi sang janda cantik, ia bergerak maju mundur dengan pelan.  Hal ini sangat dinikmati Sentot, memek Mira masih tetap terasa sempit rapat bagaikan seorang perawan. Entah karena jarang bermain cinta dengan mantan suaminya ataukah karena kontol mantan suaminya hanya sebesar kelingking sehingga tidak mampu merenggangkan dinding dalam kemaluan si cantik itu. Kini dinding itu dipaksa dikuakkan penis Sentot.
“Heeeeennghhhgghhh, uuuuuh, sempiiiiit, angeeet, becek mijit-mijit lagi...” Sentot mendengus gemas pada saat ia mulai meningkatkan kecepatan tumbukannya.
Tubuh Mira yang bergerak naik turun sesuai sodokan Sentot dimanfaatkan oleh Dadang yang agaknya kini merasa telah saatnya untuk ikut dalam kemelut orgi gangbang itu. Satpam kurang ajar itu langsung menyodorkan kemaluannya ke wajah Mira. Si cantik itu awalnya jijik dengan kemaluan Dadang yang bentuknya tidak karuan; hitam, keras dan panjang. Dari segi ukuran, mungkin Sentot lebih unggul. Tapi Mira sudah tenggelam dalam nafsu birahi, ia tahu apa maksud Dadang menghunjukkan kontolnya. Segera saja Mira meraih penis hitam itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Ughhhhhoooooohhh… syeeeet, enaaak!” sekarang giliran Andang yang mendengus menggeram merem melek keenakan. Siapa yang tidak mau kontolnya disepong seorang dewi bermulut indah seperti Mira?
Sentot makin getol memaju mundurkan pinggul, enak sekali rasanya memompa vagina tetangganya yang masih sangat rapat ini. Tangan kirinya meremas-remas buah dada kiri Mira sementara payudara yang kanan menjadi santapan tangan Andang. Sentot terus menggenjot vagina Mira dengan beringas, nafas pria yang sangat bernafsu itu tersengal-sengal karena ingin segera mencapai kenikmatan maksimal. Desah nafas tiga orang yang tengah bercinta itu bagaikan musik indah pencapaian kenikmatan seksual. Andang yang keenakan dioral oleh Mira merem melek, ia makin tak tahan sepongan si cantik, apalagi melihat wajah Mira mempesona menelan bulat-bulat kontolnya yang hitam dan panjang.
Sentot mengubah letak badannya dan merebahkan diri sehingga terlihat penisnya mengacung tegak , ia menginginkan agar Mira menancapkan tubuhnya di rudal daging dalam posisi woman on top.  Agaknya Mira mengerti kemauan Sentot, dan tanpa banyak kata ia menempatkan celah kewanitaannya yang telah basah, dan bleeezz, bleeezz, tubuhnya melesak tertusuk lembing daging.  
“Huuuungghhhh!!!” akhirnya diiringi lenguhan panjang, Sentot merasakan betapa hangat vagina Mira menjepit penisnya. Hampir-hampir ia tak kuat lagi bertahan dan nyaris ejakulasi langsung
Andang tak mau kenikmatannya dioral oleh Mira diputuskan begitu saja, kembali ia menyodorkan penisnya ke mulut Mira yang kini tanpa protes langsung menjilat mengulum. Mira tersengal-sengal berusaha mengatur nafas, baru kali ini dia bermain cinta dengan dua orang pria yang sama-sama mahir bersenggama, bahkan dua laki-laki ini bukanlah suaminya. Tubuh si cantik itu mengejang, dan pantatnya turun naik menghempas kuat-kuat. Bola mata Mira berputar ke belakang, sampai hanya bagian putihnya saja yang terlihat, rupanya si cantik itu juga hampir mencapai tingkat kepuasan maksimal. Lubang hidungnya yang mungil bangir kembang kempis sangat menggairahkan.
Ustadz Rhoji agaknya pulih dan telah berhasil mengumpulkan tenaga kembali, rupanya tak tahan sekedar melihat passif adegan indah itu. Dengan langkah hati-hati agar tak mengganggu Sentot, Rhoji mula-mula duduk di pinggir ranjang, kemudian menempatkan dirinya diantara kaki Sentot yang terlentang. Tangan Rhoji bergerak maju menyelip di antara paha Mira, dengan lihai ia mengusap-usap punggung dan pinggul si janda cantik. Mira tetap konsentrasi terhadap tusukan Sentot di vaginanya dan kuluman sepongannya di kemaluan Andang, sehingga usapan Rhoji itu hampir tak diperdulikannya sama sekali.
Yunus ikut mendekati Mira dari samping, ia ikut mengusap dan meremas-remas kedua buah dada Mira yang bergantung ke bawah bagaikan jeruk ranum, lalu kedua tangannya menjalar merangkuh bulatan pantat Mira, perlahan-lahan ditariknya menyamping. Yunus memberikan tanda lirikan mata kepada Rhoji yang telah menempatkan dirinya di belakang, di tengah kaki Sentot yang melebar ke samping, begitu pula paha Mira yang terkuak. Rhoji telah sempurna berada di belakang bongkahan pantat nan semlohay, diletakkannya kepala penisnya yang disunat di tengah anus Mira yang dibasahi oleh ludahnya.
Mira baru sadar apa niat kedua pria setengah lansia itu, ia berusaha melepaskan diri dari posisi woman on top, namun Sentot memeluknya dengan lengannya yang berotot, menariknya ke bawah, sehingga bulatan pantatnya semakin menungging ke atas, memudahkan Rhoji memperoleh akses yang lama diimpikan. Pertama gagal, kedua meleset, pada usaha ketiga barulah kepala rudal Rhoji terjepit oleh tengah bunga kemerahan yang masih terlindung oleh otot lingkar sangat kuat, namun… 
“Aaaaaaaah, jangaaaaaan, lepaaaasiiin! Auuuuuuwww, sakiiiiiiiiit! Eenggggak mau disitu, ooooh... boleh yang lain, jangan masuk di situ! Aauuuuuuuuw, pak Ustadz, itu haraaam, jangaaaannn!!” Mira terlonjak dari kenikmatannya karena episode bercinta ini belum pernah dialami dan sangat menyakitkan.
Mira pernah mendengar dari beberapa teman sekolahnya dulu yang telah menikah mengenai permainan lewat belakang. Mereka menceritakan pengalaman mereka ketika suami mereka mencari variasi ML ini. Namun suami Mira sendiri tidak pernah memaksa melakukan hal itu, walaupun pernah menyinggung, lagi pula selalu Mira menolaknya mentah-mentah, baginya bermain ML di anus adalah tabu, terlarang, pemali.
Namun kini semuanya terlambat : lelaki asing yang lebih pantas menjadi ayahnya itu tengah merenggut mahkota keperawanannya yang kedua. Jeritan sakit Mira langsung hilang diredam penis besar Andang.
Rasa sakit perih luar biasa menyebabkan Mira menggelepar melonjak mencari kebebasan yang tentu saja tak akan diperoleh karena tenaganya telah habis terkuras, desah memilukan hati pun langsung dilenyapkan oleh Andang yang menghunjamkan penis besarnya hingga ke langit-langit. Kini tubuh Mira lengkap dijadikan permainan oleh tiga lelaki, ketiga lubang di tubuhnya diisi penuh oleh para pejantan desa. Dalam penderitaan tak terkira itu, Yunus mendekati telinganya, membisikkan dengan lembut :
“Kamu mengerti sekarang gimana kedudukan nyonya di sini kan? Nyonya bersedia melayani setiap saat kemauan dan hasrat kami berempat kan? Jika nyonya sudah paham dan menyerah pasrah, barulah kami hentikan permainan ini, dijamin serpis kelas satu dan nyonya pasti ketagihan, hehehe...”
Mira hanya mampu menangis tersedu terisak-isak, martabatnya telah hancur, apa yang diinginkannya saat ini hanyalah permainan tak senonoh ini berakhir. Ia telah memutuskan untuk meninggalkan daerah ini, pergi sejauh mungkin, melupakan semuanya, akan dijualnya tanah perkebunan dan semua milik dari sang suami. Tak ada guna menunggu kedatangan suaminya yang menghilang itu.
Oleh karena itu Mira hanya mengangguk lemah, dan ketika Andang diberikan tanda oleh Yunus untuk menarik keluar dulu penisnya dari mulut Mira, Yunus memberikan kesempatan Mira bicara.
“Iya, saya menurut, saya takluk, saya menyerah, saya pasrah apa saja kemauan bapak semua, hiks hiks!” demikian Mira hanya dapat mengucapkan kalimat itu di tengah tangisnya.
Ke-empat lelaki jahanam itu puas mendengar janji si janda cantik. Mereka mempercepat gerakan maju mundur pinggul mereka, terlihat betapa sesaknya daerah selangkangan Mira diisi oleh dua kemaluan yang keluar masuk vagina dan anusnya. Di saat Rhoji menarik keluar pentungannya sehingga hanya sang kepala jamur yang masih terjepit otot lingkar dubur Mira, maka Sentot justru menghunjamkan rudal kebanggaannya semaksimal mungkin dan menghantam rahim Mira. Sesaat kemudian sebaliknya Sentot menarik kontolnya sehingga hampir seluruhnya keluar dari vagina Mira, maka Rhoji membenamkan penisnya sedalam-dalamnya di-anus Mira, menyebabkan si janda ayu merasakan seolah bagian bawah tubuhnya dibelah dua.
Menit menit berlalu, dan bagaimanapun secara alamiah lubang lubang yang dijarah itu menyesuaikan keadaan : liang senggama dan anus Mira semakin melebar serta licin. Selain itu rasa perih, ngilu dan sakit kini tercampur pula rasa panas, gatal dan nikmat. Mira terbuai semakin larut dalam permainan terlarang, jika dari suaminya ia selama ini hanya mengalami ML penuh kegairahan cinta, maka kini ia dipaksa menikmati gejolak hawa nafsu, birahi terlarang.
Mira tak mengerti mengapa tubuhnya semakin lama semakin memainkan peranan penting : mengalahkan segala pertahanan dirinya sebagai wanita sopan santun. Tanpa diinginkan, kulumannya semakin memanjakan penis di mulutnya, sedangkan otot-otot vagina serta duburnya memijit meremas-remas daging pentungan yang seolah tak pernah letih menyodoknya. 
Hal ini pun dirasakan oleh ketiga lelaki pemerkosanya, dan mereka pun tak mampu lagi menahan gelora air kejantanan mereka yang semakin bergelora mencari jalan keluar dari biji pelir. Beberapa menit kemudian ketiganya menyemburkan lahar panas mereka di dalam ketiga lubang Mira. Sedangkan Yunus membanjiri punggung dan pinggul Mira dengan pejuhnya.
Pada saat itu batang kejantanan mereka mencapai panjang dan besar maksimal, menyebabkan sensasi sakit dan sekaligus nikmat pada Mira. Rasa sangat malu dan sekaligus puas tak terhingga menerpa benak Mira, perlahan-lahan janda cantik kelelahan itu lemas lunglai, pasrah, menyerah dan tenggelam dalam kegelapan.
Mira kembali jatuh pingsan.
Namun kemenangan ke-empat lelaki jahanam itu hanya sebentar, karena sebulan kemudian si janda cantik Mira telah menghilang, bagaikan ditelan oleh bumi. Ia lenyap begitu saja, tanpa ada laporan ke RT/RW maupun kelurahan.  Ternyata semuanya : tanah perkebunan, rumah dan segala milik Mira serta Azzam telah dibeli oleh pengusaha pendatang baru. Semua itu tentu saja menggegerkan di daerah pertanian perkebunan, namun hal ini tidak mustahil : selama uang berkuasa, maka segalanya di tanah berantah ini dapat diatur.
Kisah Mira dan suaminya masih digunjingkan oleh penduduk di situ beberapa tahun kemudian, sebelum semuanya dilupakan, karena waktu berjalan terus. Ke-empat lelaki itu mau tak mau harus kembali ke istri masing-masing. Mereka sering melamunkan dan membayangkan masih menggeluti tubuh sang bidadari, si janda muda seksi, di saat mereka mau tak mau terpaksa memenuhi kewajiban terhadap istri sah mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar