Selasa, 21 November 2017

Duka Tak Bertepi 6



Miranda masih terkapar di pembaringan. Sepanjang malam ia bekerja banting tulang menyelesaikan semua jadwal. Baru jam tiga dinihari segalanya beres. Wajar jika sesiang ini dirinya masih tergeletak tak berdaya. Andai saja tidak ada suara berisik dari nada dering handphone pasti ia masih tidur. Tetapi suara handphone itu yang memaksanya membuka setengah mata.
“Hallo, selamat siang?” ucapnya lirih.
“Selamat siang, Bu. Apakah ini Bu Miranda?” tanya suara lelaki di seberang sana.
“Ya benar. Anda siapa?” tanya Miranda merasa tak kenal.
“Nama saya Bimo. Dua hari yang lalu Ibu memberikan kartu nama kepada saya. jelas lelaki itu.

“Oh, kamu pedagang asongan itu?” Miranda teringat. Bagaimana, mau menjadi sopirku?”
“Iya, Bu. Saya mau bekerja pada Ibu. Sekarang saya ada di depan Swaboedhi Tower.
“Mas Bimo langsung naik saja ke lantai lima. Saya tunggu di atas ya, Mas. jawab Miranda.
“Baik, Bu. Terima kasih sebelumnya. Setelah mengucap salam, telepon pun dimatikan.
Miranda tak lagi meneruskan tidurnya. Ia segera mengenakan baju dan celana, menyisir rambut, dan make up ala kadarnya lalu keluar kamar. Swaboedhi Tower memiliki delapan lantai. Tiap lantai berisi dua belas kamar apartemen. Ia menempati apartemen nomor 9 di lantai 5. Tiga tahun ia berjuang mengumpulkan uang untuk sekedar membeli apartemen yang sekaligus menjadi huniannya.
Semenit dua menit menunggu sampai lima menit barulah dilihatnya sesosok lelaki berjalan mendekat. Miranda menahan napas. Ada bayangan yang sekilas melintas di angan. Namun bayangan itu sirna saat ia berhadapan dengan lelaki yang mengaku bernama Bimo.
“Selamat siang, Bu. sapa lelaki muda itu.
“Siang juga. Ayo masuk. Kita bicara di dalam. Miranda mengangguk.
Dia masuk lebih dulu diikuti Bimo yang melangkah ragu. Namun sikap dan gaya Miranda membuat keraguannya sedikit berkurang. Apartemen yang terbilang luas dengan ruang tamu, ruang tengah, dan dua kamar tidur, serta dapur yang menyatu dengan toilet. Kira-kira seukuran rumah tipe 24.
“Kapan Mas Bimo bisa mulai bekerja?” tanya Miranda.
“Saya bisa memulai hari ini juga, Bu. jawab Bimo mantab.
“Kamu hafal semua jalan di kota ini?” tanya Miranda lagi.
“Saya besar di kota ini, Bu. Saya menghabiskan hidup di jalanan kota ini.” Bimo berterus terang.
“Begini Mas Bimo, saya bekerja tidak punya waktu yang pasti. Kadang pagi, siang, malam, bahkan sering bekerja nonstop. Mas Bimo sanggup bekerja 24 jam?” tawar Miranda.
“Saya sanggup, Bu. Bimo mengangguk.
“Baiklah. Kamu mulai bekerja hari ini. Ada mobil Mercy di areal parkir. Kamu siapkan ya, kata Miranda.
“Baik, Bu.
Miranda menyerahkan kunci mobil berikut STNK dan memandang kepergian Bimo dengan mata nanar. Satu kerinduan bersenandung menggetarkan dawai-dawai nurani. Satu kenangan menyeruak menyibak ruang-ruang kosong perasaan. Cukup lama ia tercenung sebelum sadar dan segera menutup pintu. Tak mungkin dia datang ke kota ini, gumamnya gundah. Dia pasti sudah punya kehidupan bahagia di sana, bisik hatinya.
Dengan lesu Miranda menanggalkan pakaian lalu berdiri di depan cermin toilet. Dari atas sampai bawah tak luput ia perhatikan. Tubuh yang terkadang ia benci sendiri untuk melihat. Raga yang seringkali ia merasa tak pantas lagi bercokol di dunia. Wujud yang sebenarnya tak lebih dari seonggok sampah. Miranda meringis menggigit bibir menahan tangis. Ia mandi dengan airmata setitik demi setitik luruh. Ia membersihkan diri dengan sabut-sabut benci yang menggerayangi sanubari.
“Andai Ivan dan semua orang tahu siapa diriku ini sebenarnya, gumamnya lirih.
Hanya sekejap kesedihan itu hinggap. Di saat berikutnya ia sudah menjadi Miranda yang sering muncul di TV. Berwajah jelita dan bergaya seksi luar biasa. Setelah memastikan penampilan, ia melangkah cepat meninggalkan apartemen, turun ke lantai dasar melalui lift, dan menuju basement gedung. Selanjutnya sebuah mobil sedan hitam melesat meninggalkan Swaboedhi Tower.
“Jangan panggil aku Ibu ya, Mas. Panggil saja Miranda.
“Ibu adalah majikan yang harus saya hormati. sahut Bimo dengan tatapan terhujam ke jalanan.
“Aku lebih suka dianggap teman. Miranda memandang pemuda itu.
“Saya sering lihat Ibu di televisi, Bimo mengakui.
“Sekarang kamu bisa melihatku secara langsung.” Miranda melirihkan suaranya. Berapa umur Mas Bimo?”
“Tiga puluh lima tahun, jawab pemuda itu.
“Belum berkeluarga?” tanya Miranda seperti menyelidik.
“Belum. Saya hanya tinggal berdua dengan Ibu, Bimo menyahut jujur.
“Maaf, benarkah kamu asli penduduk sini?” Miranda benar-benar tak dapat menahan rasa penasarannya.
“Mungkin saya tidak lahir di kota ini, Bu. Tapi kota ini satu-satunya yang saya tahu sejak bayi. ucap Bimo.
“Kok bisa begitu, Mas?” tanya Miranda tak mengerti.
Bimo tidak menjawab. Miranda tanggap. Tidak seharusnya ia bertanya terlalu jauh. Bimo punya rahasia yang tersembunyi di mata kelamnya. Miranda semakin tak berdaya terseret pada sosok lain di masa lalu. Begitu banyak kemiripan antara Bimo dengan sosok lain itu. Pertama kali bertemu ia sempat yakin Bimo adalah pria yang sama dengan pria teman kecilnya dulu. Pria yang memberinya banyak sekali pelajaran dalam kehidupan. Tapi Bimo bukan pria itu.
“Saya hanyalah anak angkat, Bu. lirih Bimo kemudian.
“Tak perlu kamu ceritakan jika itu rahasiamu, Mas. sahut Miranda maklum.
“Tidak apa. Biar Bu Miranda sekalian tahu siapa diri saya, Bimo nampak tidak keberatan.
“Aku hanya berharap Mas Bimo bisa bekerja dengan baik padaku. kata Miranda.
Jelas bukan lelaki sembarangan. Nyata terlihat Bimo tidak seperti orang-orang jalanan lainnya. Wajah Bimo sangat bersih. Kulitnya putih kecoklatan. Apalagi kini dalam balutan pakaian rapi semakin tampak sosok Bimo sebenarnya. Miranda berani memastikan bahwa di kehidupannya yang dulu Bimo adalah anak orang kaya. Bahkan jika dipoles sedikit saja maka Bimo tak akan kalah dengan aktor aktor televisi. Bimo punya modal untuk tenar.
“Maaf Bu, ke mana tujuan Ibu?” tanya Bimo setelah mereka melaju cukup jauh.
“Tidak ke mana-mana. Aku cuma ingin mengenal lebih dekat sopir baruku, Miranda tersenyum.
“Maksud saya, Ibu minta diantar ke mana?” Bimo berkata kikuk.
“Telingaku mulai panas dipanggil Ibu, Mas, Miranda berkata.
Bimo jadi serba salah. Bagaimana bisa mengemudi tanpa arah dan tujuan pasti. Dalam hati Bimo berkata; boleh juga artis yang satu ini. Sama sekali tidak ada potongan menjadi selebriti. Gayanya terlalu santai untuk ukuran pesohor. Bicaranya terlalu gamblang tanpa ada tekanan. Padahal Miranda sengaja bersikap dan bergaya seperti itu agar Bimo cepat akrab dengannya. Peduli setan dengan Ivan, pikirnya sengit. Teringat Ivan, akhirnya ia punya tujuan.
“Ke Hotel Royal ya, Mas. kata Miranda.
“Baik, Bu. jawab Bimo.
“Sekali lagi kamu panggil aku Ibu, kupotong gajimu bulan ini. ancam Miranda.
“Baik, Miranda.. eh, Mbak, Bimo bingung.
“Panggil Miranda lebih baik, Mas. tegur Miranda.
Mobil merayap menuju hotel Royal. Hotel bintang lima itu simbol kerajaan bisnis keluarga Ivan. Hotel Royal hanyalah salah satu dari belasan bisnis keluarga besar Ivan yang bergerak di segala bidang. Ivan mewarisi Hotel Royal dan tiga SPBU. Di luar itu Ivan masih punya sumber pemasukan dari bisnis pertambangan batubara. Semua hal itu yang membuat Miranda sempat menaruh harapan bahwa hidup dan masa depannya akan terjamin bila menikah dengan Ivan. Tapi kini ia mulai dicekam ragu.
“Sudah sampai, ucap Bimo lirih, tak berani mengucapkan nama Miranda.
“Mas ikut masuk. Nanti kukenalkan dengan seseorang. Miranda merapikan bajunya dan membuka pintu.
Dia melangkah terlebih dulu sementara Bimo masih memarkir mobil sebelum menyusul dan berjalan di belakang majikannya. Miranda memperlambat langkah hingga sejajar dan beriringan dengan sopirnya memasuki lift yang membawa keduanya ke lantai sembilan. Lantai tertinggi Hotel Royal. Sampai juga Miranda di ruang kerja Ivan tepat di saat wajah Ivan begitu dekat dengan wajah seorang wanita.
“Ivan!” pekik Miranda tanpa sadar.
“Eh... ya, Miranda, kenapa kamu datang tiba-tiba?” muka Ivan langsung pucat pasi.
“Kenapa, kedatanganku mengganggu kencan gelapmu?” sembur Miranda.
“Jangan salah paham, Nda. Wanita tadi sepupuku. Ivan berusaha menenangkan.
“Aku masih percaya, Van. Miranda mengangguk. Kenalkan, ini sopir baruku.
“Bang Bimo?” tanpa tedeng aling-aling, Ivan menyebut nama itu.
“Rivano!” juga tanpa ada kesalahan, Bimo menyebut nama lengkap Ivan.
Giliran Miranda yang tak percaya jika Ivan dan Bimo ternyata sudah saling kenal. Bahkan jika melihat tawa dan obrolan dua pria itu, Miranda yakin bahwa Ivan dan Bimo bukan hanya sekedar kenal, tetapi sudah sangat akrab.
“Ketahuilah, Nda, almarhum ayah Bang Bimo adalah kolega bisnis Papa. jelas Ivan.
“Jadi begitu ya? Syukur deh, jadi aku tidak perlu khawatir kamu curiga, Van. Miranda tersenyum lega.
“Aku dan Bang Bimo sudah seperti saudara, Nda. Tapi begitulah hidup. Tidak selamanya baik.
Miranda ingin menampar mulut Ivan yang jelas bernada melecehkan. Pantas Bimo langsung minta ijin meninggalkan mereka berdua. Sekarang hanya ada dirinya dan Ivan. Sudah saatnya menyampaikan maksud tujuan. Miranda menarik kursi dan duduk di dekat jendela, memandang ke arah jalanan yang berada di bawah, memandang areal parkir yang baru saja ada sesosok manusia tampak kecil memasuki sebuah mobil warna hitam. Ada rasa iba bercampur penasaran dalam diri Miranda. Ia mulai memikirkan Bimo.
“Sejak kapan Bang Bimo menjadi sopirmu, Nda?” tanya Ivan.
“Mulai hari ini. Dan aku ingin dia bisa bertahan lama menjadi sopirku, ketus Miranda.
“Tapi bukan semata itu kan tujuanmu menemuiku?” Ivan ternyata sudah bisa menebak.
“Aku mulai berpikir kamu sama saja dengan Farhan, Van. Haruskah aku menunggu bertahun-tahun hanya untuk satu keputusan?” kata Miranda getir.
“Kita sama-sama jenuh dan bosan, Nda. Mungkin kita butuh suasana baru, ucap Ivan mengagetkan.
“Ivan, kamu selalu mencoba lari dariku. Aku yakin wanita tadi bukanlah sepupumu, tuduh Miranda tanpa sungkan.
“Kamu curiga?” Ivan bertanya menantang.
“Aku selalu curiga pada siapapun pria yang ada di kehidupanku. Termasuk kamu, sindir Miranda.
“Buang jauh-jauh sifat keras kepalamu, Nda. Kapan kamu mau mengerti diriku?” dengus Ivan.
“Harusnya aku yang bertanya apakah kamu sudah mengerti benar siapa diriku, Van? Miranda bertanya sewot.
“Aku cuma tahu kamu Miranda, calon istriku. Aku cuma tahu cintaku padamu, Nda. Ivan membujuk.
“Cinta butuh keseimbangan, Van. Harus kita akui perjalanan cinta kita saat ini mulai goyah? Miranda tidak ingin memandang laki-laki itu.
“Semakin kamu memaksa, aku bisa semakin gila, Nda. Hentikan semua omong kosong ini. Ivan berseru hampa.
“Siapa yang bicara kosong? Siapa, Van?!” Miranda berdiri dan matanya berkilat-kilat dengan napas tersendat. Suara teriakannya menggema di sepenjuru ruangan.
“Maafkan aku, Miranda. Aku…” Ivan kontan tergagap
“Selamat siang, Van. Miranda berbalik dan melangkah pergi.
“Miranda, tunggu! Miranda!”
Sia-sia Ivan berteriak. Percuma dia mencekal lengan sang kekasih. Miranda tak bisa dicegah. Miranda tak mampu ditahan. Dalam keadaan emosi Miranda adalah api yang sanggup menghanguskan. Dalam situasi marah Miranda tak ubahnya serigala haus darah. Wajahnya merah padam. Matanya mencorong tajam. Lantai demi lantai yang dipijaknya seperti dihantam palu godam. Detak sepatunya bagaikan lonceng peperangan.
Ivan terduduk sambil mengurut-urut kepalanya. Jelas ia pusing menghadapi tekanan. Sudah pasti Ivan kewalahan melawan kemauan Miranda. Dan pertengkaran semacam ini semakin sering saja terjadi. Ivan menghitung dalam seminggu ini sudah tiga kali Miranda menggila. Tapi itulah Miranda. Semakin ia menggila semakin tampak kesempurnaannya sebagai wanita.
Tapi perempuan berikutnya yang masuk ke ruangan Ivan juga tak kalah sempurna. Dialah Anita, teman bisnis sekaligus juga pacar gelap Ivan. Perempuan yang sebenarnya sudah bersuami itu segera mendekat begitu melihat Ivan terduduk lemas tanpa semangat.
“Mau ditemani?” tawarnya sambil tersenyum. “atau, malah mau dihibur mungkin?”
Ivan menoleh. Ditatapnya wajah cantik Anita yang berambut sebahu, lalu menariknya ke dalam pelukan. “Temani dan hibur aku, Nit!” bisiknya lirih di telinga.
Tersenyum mengiyakan, Anita memberikan respon ketika Ivan mulai melumat bibirnya dengan ganas. Mereka saling berpagut sambil sesekali mempermainkan lidah, dengan tangan Ivan menggerayangi tubuh mulus Anita, mengusap-usap bulatan payudaranya yang masih cukup ranum untuk wanita seusianya, sedangkan Anita membalas dengan meremas-remas batang Ivan yang sudah menggembung besar.
“Ahh, Nit,” Ivan merintih manakala Anita mengajaknya saling membuka baju. Mereka bercumbu di atas meja kerja. Hanya tinggal mengenakan celana dalam saja, keduanya bergelut di atas permukaan kayu yang berpelitur halus.
Rakus Ivan menjilati puting susu Anita sampai perempuan beranak satu itu mendesah-desah, sementara tangan Anita menggengam kemaluan Ivan yang dengan lembut dikocoknya perlahan.
“Nit... buka celanamu!” bisik Ivan yang disambut dengan anggukan oleh Anita.
Setelah secarik kain tipis itu terlepas dari pinggulnya, Anita mengangkangkan kedua pahanya. Tampak vaginanya yang kecokelatan tertutup lebat oleh rambut hitam. Saat menyibak rerimbunan itu, Ivan menemukan gundukan daging mungil yang berwarna kemerahan dan berdenyut panas.
“Hssh... Van!” Anita mendesah perlahan saat vaginanya mulai dijilati. Ditekannya kepala Ivan untuk menunjukkan kalau dia sangat menikmati permainan ini. Tak lama, vaginanya sudah mulai basah oleh lendir kenikmatan.
“Ayo, Van!” Dengan nafas terengah-engah, Anita menarik kemaluan Ivan agar segera dimasukkan ke dalam sana.
Tapi Ivan bertahan dengan memegang tangan perempuan itu dan ganti mempermainkan vagina Anita dengan ujung penis. Dia memasukkan kemaluannya sedikit, sampai sebatas leher, lalu ditarik keluar kembali. Begitu berulang-ulang hingga membuat Anita menggelinjang tak sabar karenanya.
“Ayo, Van! Jangan buat aku semakin…” bisikan itu putus manakala Ivan menusukkan penisnya dengan tiba-tiba. “Auwghhh..!! Aghhh..!!” Anita menjerit kaget, senang sekaligus juga sedikit kesakitan.
Tapi saat melihat Ivan mulai menggoyangkan pinggul, ia pun mengangguk sebagai tanda persetujuan. “Terus, Van! Goyang yang keras! Lebih keras, Van! Biarkan aku menjadi pelipur hatimu.”
Anita berbaring telentang di pinggiran meja dengan kaki mengangkang lebar, sementara Ivan berdiri di depannya dengan kemaluan terus bergerak keluar masuk mengobok-obok liang senggamanya. Penuh nafsu Ivan membenamkan seluruh batang kemaluannya ke dalam liang vagina Anita yang terasa begitu sempit dan menggigit kuat.
Sebuah sensasi kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa ia dapatkan, serasa menyelubungi penisnya mulai dari ujung hingga ke pangkalnya. Sejenak Ivan meresapi kenikmatan ini sebelum Anita mengalungkan paha ke pinggulnya dan meminta untuk disetubuhi lebih keras lagi.
“Terus, Van! Mana tusukan-tusukanmu itu? Tidak biasanya kamu kalem begini!” rintih Anita, menggoda.
Tidak menyahut, Ivan terus mengggerakkan pinggulnya maju mundur. Sesekali ia menuruti permintaan Anita dengan menghunjam kuat-kuat, tapi selebihnya lebih banyak santai dengan menggoyangkan pinggulnya perlahan.
“Terus, Van! Goyangnya yang cepat.. Ohh,” desah Anita tak sabar. Suhu ruangan yang dingin seolah tidak terasa lagi, dia terus mendesah mengiringi suara kecipak beradunya alat kelamin mereka berdua, yang bercampur dengan hawa dan bau khas orang bersetubuh.
 Ivan hanya menggeram dan terus menggerakkan pinggulnya. Tangannya memegangi susu Anita sementara ia terus menggoyang.
“Remes yang kuat, Van! Ayo, sayang.. sshh,” desah Anita. “Ouuhh… lebih cepat lagi, ahh!”
Ivan memilin-milin putingnya yang terasa menegang, sesekali juga mencubitnya gemas kala merasa geli pada batang penisnya. Vagina Anita sudah mulai berkedut-kedut pelan sekarang.
“Ohh.. enak, Van! Kamu juga, kan?” tanya perempuan itu.
“Iya, sama!” Ivan hanya mengangguk pendek.
Entah sudah berapa lama mereka saling bergelut mencari kenikmatan. Lambat laun kemaluan Ivan yang terus menembus liang vagina Anita, akhirnya berhasil membuat perempuan itu mendesah panjang sebelum pelukannya terasa melemah.
“Ahh... a-aku… nyampe…Van… Aaahh!” desah Anita.
Ivan merasakan momen ini adalah yang ternikmat dari bagian-bagian persetubuhan mereka sebelumnya. Maka sebelum remasan-remasan itu mengendur, cepat ia tambahi tempo gerakannya hingga tak lama dia sudah berdesir saat merasakan sesuatu yang kental berebut mau keluar lewat kemaluannya.
 “Ohhh.. ohh…!” desah Ivan dan segera memeluk tubuh bugil Anita erat-erat. Dia menyusu di kedua puting perempuan itu sambil membiarkan penisnya menyembur-nyembur.
Selanjutnya, setelah semua persediaan spermanya terkuras dan batang penisnya melemas, ia menarik pinggul dan bergulir di samping Anita yang masih mencoba mengatur nafas. Ivan terpejam dengan ritme nafas yang tak beraturan juga. Kemaluannya terlihat berkilat-kilat diselimuti cairan licin, sama seperti milik Anita.
Setelah beberapa saat, begitu nafas mereka pulih kembali, Anita membelai rambut Ivan sambil tersenyum kepadanya. “Enak sekali tadi. Kapan-kapan lagi, ya?”
“Entahlah, mungkin ini adalah yang terakhir kali!” jawab Ivan.
Anita langsung duduk tegak begitu mendengarnya, tidak ia pedulikan sperma Ivan yang mengalir keluar dari lorong vaginanya. “Apa maksudmu, Van? Apa kau mau mengakhiri hubungan kita.” tanyanya sengit.
“Emm.. aku tak tahu, Nit! Hanya saja...”
“Apa, sayang?” kejar Anita.
Tapi Ivan tidak menjawab. Dia malah berpakaian dan meminta Anita agar segera pergi.
“Bajingan kamu, Van!” sentak perempuan itu. “setelah menikmati tubuhku, kau mau mengusirku begitu saja?”
Ivan menggeleng, lalu dengan kasar dia mendorong tubuh Anita keluar.

***

“Jalan, Mas. ketus Miranda kaku begitu sudah tiba di parkiran.
“Baik. Maaf, handphonenya jatuh itu, Bimo menunjuk ponsel Miranda yang tergeletak di lantai.
Bukannya mengambil, Miranda malah menginjak HP itu dengan ujung sepatunya yang lancip. Kontan saja HP itu penyok tak karuan bentuknya. Bimo tidak berani bicara lagi dan langsung menjalankan mobil. Beginikah kalau selebriti marah? pikir Bimo dalam hati sambil menaksir harga I-phone yang baru disiksa kaki majikannya. Ia tahu I-phone itu harganya dua kali lipat dari gajinya. Tapi Bimo tak ambil peduli. Ia juga tidak berniat mencari gara-gara. Biar saja si majikan ngomel-ngomel. Barulah ketika tiba di lampu merah, Miranda untuk terakhir kalinya melontarkan sumpah serapah. Selanjutnya ia mulai tenang. Sebotol air mineral habis dalam sekali tenggak.
“Berapa lama Mas Bimo kenal Ivan?” tanya Miranda kemudian.
“Kami dulu bertetangga. Ivan teman kecilku, jelas Bimo.
“Mas Bimo kenal wanita yang hampir berciuman dengan Ivan?” selidik Miranda.
“Tidak, Bimo menggeleng.
“Tapi Mas tahu semua keluarga besar Ivan kan?” tanya Miranda lagi.
“Saya tahu semua keluarga Ivan. Kebetulan dulu aku sempat dekat kakak perempuannya, Miranda mengangguk.
“Berarti wanita tadi bukan sepupu Ivan? Miranda kian meradang.
“Maaf, berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Ivan?” Bimo bertanya, tapi kemudian kaget sendiri. Nasi sudah jadi bubur. Toh Miranda tidak tampak keberatan dipanggil kamu.
“Baru tujuh bulan, Mas. lirih Miranda.
Bimo diam. Ia heran karena belum genap sehari bersama Miranda tapi seakan-akan sudah kenal lama. Pembicaraan mengalir begitu saja. Ada nuansa tersendiri karena baru kali ini ia berada dekat dengan seorang wanita. Tak tanggung-tanggung artis pula. Meskipun ada batas antara majikan dan sopir, namun ia tak melihat batas itu sengaja diciptakan.
Pun demikian dengan Miranda yang merasakan bersama Bimo jauh lebih baik ketimbang bersama Ivan. “Pasti keterpaksaan yang membuat Mas hidup di jalanan, ucap Miranda.
“Seperti yang dikatakan Ivan tadi. Kehidupan tidak selamanya baik, Bimo berkata bijak.
Miranda tercenung. Ia sudah banyak makan asam garam kehidupan melebihi dari yang disangka orang. Kehidupan baik-baik pernah ia jalani. Kehidupan paling buruk pernah pula ia alami. Orang-orang hanya tahu Miranda artis muda berumur dua puluh delapan tahun. Masyarakat cuma tahu Miranda anak yatim piatu yang dipungut dari salah satu panti asuhan di Bandung.
Padahal itu semua hanyalah kamuflase, topeng palsu untuk menutupi kehidupannya terdahulu. Bahkan ketika Ivan masih ingusan, ia sudah bisa berlari kesana kemari. Tak ada seorang pun yang tahu sejarah hidupnya kecuali satu atau dua orang saja. Sejarah yang halamannya sudah tertutup rapat. Miranda menghela napas dan menatap Bimo sekilas, lalu kembali menerawang.
“Iring-iringan apa itu, Mas? Bikin macet jalanan saja, ucap Miranda tak sabar.
“Tidak tahu. Sepertinya ambulans. Mungkin ada keluarga kaya yang meninggal. jelas Bimo.
“Lho, bukannya itu mobil Papanya Ivan? Dan di belakangnya mobil kakak perempuannya Ivan?” Miranda kaget.
“Pasti salah satu anggota keluarga mereka yang meninggal, sahut Bimo.
“Cobalah cari informasi, Mas. Tanya ke orang-orang itu, pinta Miranda.
Bimo menuruti perintah. Ia keluar mobil meninggalkan Miranda dan bergabung dengan sekelompok orang. Ia bertanya kepada satu demi satu orang untuk mencari tahu. Wajahnya berubah pias dan tegang. Buru-buru ia kembali ke mobil dan menatap Miranda yang jadi kebingungan melihat kelakuan sopirnya.
“Ada apa, Mas? Siapa iring-iringan itu?” desak Miranda penasaran.
“Anu… anu…” Bimo tak kuasa untuk berbicara.
“Bicara yang jelas, Mas. Ada apa?” teriak Miranda.
“Ivan! Ivan bunuh diri di kantornya!
Seperti ada petir maha dahsyat yang menyambar Miranda. Tubuhnya menegang. Matanya mencorong garang. Seluruh raganya gemetar mendengar berita yang baru saja disampaikan Bimo.
“Tidak mungkin! Itu tidak mungkin, Mas. Miranda berkata menerawang.
“Apa kita perlu mengikuti iring-iringan itu?” tanya Bimo.
“Ya. Ikuti kemana iring-iringan itu, kata Miranda kemudian.
Bimo segera menjalankan mobil dan mengejar iring-iringan yang memang semakin diikuti semakin jelas arah dan tujuannya. Bimo was-was. Miranda apalagi. Ia berharap berita itu tidak benar. Baru beberapa menit yang lalu ia masih berbicara dengan Ivan. Rasanya semua baik-baik saja meski diwarnai pertengkaran. Tetapi harapannya tidak terkabul dan berita itu kemungkinan besar benar saat belasan mobil berhenti di rumah yang sangat ia kenal. Rumah keluarga Ivan.
“Mas Bimo, lirih Miranda.
“Iya. Itu rumah Ivan kan? Di sampingnya itu dulu rumahku, jelas Bimo.
“Mungkinkah…” Miranda tergagap.
“Kita harus ke sana untuk memastikan. kata Bimo.
Tak ada yang perlu dipastikan. Dari dalam mobil saja Miranda sudah bisa melihat dan membaca berbagai karangan bunga yang mulai berdatangan dan dijajar di sepanjang jalan depan rumah Ivan. Pandangannya kabur. Dunianya menghitam. Tidak ada lagi yang bisa ia saksikan selain kegelapan. Untuk beberapa saat ia hanya sanggup memejamkan mata dan di saat berikutnya ketika mata terbuka ia sudah berada di tengah orang-orang yang sebagian besar dikenalnya. Wajah-wajah yang tak asing baginya. Tapi satu wajah tidak ada lagi bersama mereka. Miranda limbung, andai Bimo tidak menahan tubuhnya pasti ia terjerembab jatuh.
“Om Rahmat. Tante Laras. Benarkah itu Ivan?” tanyanya lirih.
“Benar, Miranda. Ivan pergi meninggalkan kita. Kenapa kamu tega membunuhnya, Miranda? Kenapa?! tangis tante Laras.
“Aku tidak membunuh siapapun. Aku bukan pembunuh, pekik Miranda.
“Tapi kamu penyebab Ivan bunuh diri. Kamu tak termaafkan, Miranda. Jangan datangi rumah ini. Pergi! Pergiiiii!!!” usir ibunda Ivan.
“Tante, aku…” Miranda masih memohon.
“Pergiiiiii…!!” teriak perempuan itu.
Angkara murka dalam duka adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Miranda terhantam. Dirinya bagai terpidana yang sudah divonis bersalah. Dirinya tertuduh yang membunuh Ivan. Padahal ia tak melakukan apapun. Pengusiran dari rumah Ivan disaksikan banyak mata. Tante Laras, Ibunda Ivan, kehilangan penyeimbang jiwa. Miranda hanya sempat mendengar ayah Ivan meminta maaf. Ia hanya mampu mengiyakan bisikan-bisikan Ramona, kakak perempuan Ivan. Tapi ia tidak mampu membendung amukan Ibunda Ivan yang semakin membabi buta. Pergi adalah pilihan terbaik.
“Bim, bawa Miranda pulang ya, kata Ramona.
“Baiklah, Ramona. Aku turut berduka cita. Bagaimanapun kita pernah saling bertetangga. Bimo berucap lirih.
“Kami berterima kasih, Bim. Sampaikan salam kami pada Tante Marina. kata gadis cantik itu.
“Pasti kusampaikan berita ini pada Ibu. Kami pergi. Selamat siang, Ramona. Bimo pamit.
“Bim, masih ada kesempatan kedua jika kamu mau meraihnya, Ramona memberi sebuah senyum tulus.
“Akan kupikirkan, Ramona. Selamat siang, Bimo mengangguk dan melangkah pergi.
Awan mendung benar-benar menggelapkan suasana siang. Bimo terpaksa memapah Miranda yang berkali-kali hampir terjatuh. Tubuh Miranda lunglai. Air matanya berderai. Untuk kedua kalinya ia harus menyaksikan seorang pria bunuh diri. Bertahun-tahun lalu seorang pria juga bunuh diri setelah bertengkar dan bertikai hebat dengannya. Kali ini satu lagi pria bunuh diri akibat pertengkaran dengan dirinya. Miranda terkapar dalam duka yang seakan-akan tiada henti merongrong kepercayaan dirinya.
“Mas Bimo, tinggallah di apartemenku semalam saja, pinta Miranda.
“Apakah tidak akan memperburuk suasana?” Bimo berkata takut.
“Tidak, Mas. Sejak awal suasananya memang sudah buruk, Miranda menggeleng.
“Mungkin kita bisa benar-benar berteman, Miranda. Bimo mengakui dengan berat hati.
Miranda mengangguk lemas. Matahari membias menembus segala batas mengiringi siang penuh peristiwa memilukan. Miranda tak habis pikir setan apa yang merongrong pikiran Ivan sampai nekat bunuh diri. Jika hanya soal pertengkaran sepele yang tadi terjadi sungguh sangat menyedihkan. Tuduhan ibunda Ivan bahwa dirinya adalah pembunuh Ivan ada benarnya jika dilihat dari sudut itu. Tapi segalanya sudah terjadi. Biarpun menangis seribu hari, Ivan takkan hidup kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar