Kamis, 16 November 2017

Gadis Bermata Teduh



Ketika pintu rumah itu tertutup perlahan, Joki meremas pelan batang penisnya yang masih terasa sedikit ngilu. Helaan napasnya terasa tersendat. Dia mengawasi pintu tebal bercat coklat tua itu sesaat, sebelum kemudian membalik badan dan berjalan perlahan menjauhinya.
Inilah ganjaran buat keberanian. Inilah kenyataan yang harus diterima oleh seorang Don Juan: selembar pintu yang menyembunyikan kebusukannya, dan suara rintihan si pemilik yang lebih lembut dari suara seribu kepakan kupu-kupu.
Terseok-seok Joki berjalan di bawah kerindangan pepohonan. Semakin jauh dia melangkah, semakin reda tusukan rasa terkejut di dadanya. Cuma, berangsur lenyapnya rasa itu, tidaklah menghilangkan rtangsangan gairahnya yang masih datang melanda.

Hari ini ia terlalu berani. Datang di saat suami perempuan itu akan pulang ke rumah. Joki sama sekali tidak menduga, dan dia tidak siap untuk menghadapi kenyataan pahit itu. Tetapi untung semuanya berlalu dengan aman. Tidakkah itu lebih baik;  menelan empedu yang paling pahit sekarang, daripada kecewa belakangan?
Ah, sebaiknya ia lekas melupakan peristiwa barusan. Gagal dengan Narsih, toh masih ada Yanti dan Winda yang selalu siap menemaninya.
Pada usia dua puluh empat, Joki harus berbangga pada dirinya sendiri. Ia telah tumbuh menjadi manusia kreatif menurut versinya, menjadi manusia paling berani menurut gayanya, dan menjadi manusia paling tak berharga menurut hatinya. Memang ia tidak tampan. Tapi dengan modal rayuan dan kata-kata gombal yang selalu disenangi oleh sebagian wanita, maka dengan mudah ia menaklukkan salah satu makhluk ciptaan Tuhan itu.
Jangan salahkan dirinya, karena Joki tidak pernah berencana untuk memilih jalan seperti ini. Salahkan perempuan-perempuan itu, kenapa mau saja mendengarkan segala ocehannya yang kalau dipikir-pikir, sungguh sangat kampungan dan tidak masuk akal.
Narsih, si istri pengusaha, langsung takluk begitu di-apeli untuk yang kedua kalinya. Dengan mudah tubuh montoknya yang sehari-hari tertutup jilbab lebar, menggelepar di bawah tubuh kurus Joki yang malam itu hanya bersendal jepit saja. Begitu juga dengan Yuli dan Winda. Keduanya meringkuk begitu Joki selesai menyemprotkan sperma ke liang rahim mereka berdua yang sama-sama sempit dan ketat. Padahal mereka adalah gadis-gadis alim lulusan pondok pesantren di kota itu.
Hanya Aisyah yang sedikit agak sulit karena gadis itu memang istri seorang ustadz, mungkin dinding imannya lebih tebal dari yang lain. Tapi ujung-ujungnya tetap saja. Dengan bermodal bujuk rayu, Joki akhirnya bisa membawa perempuan itu ke atas kasur begitu suaminya pamit berangkat berdakwah.
Di belakang mereka, sudah mengantri beberapa gadis lain. Mulai dari Lastri, Mimin, Jaenab, Likha, Ida dan Maimunah. Juga Hesti dan Mirza, serta adik Mirza yang bernama... ah, entahlah. Joki sampai lupa karena saking banyaknya. Semuanya berjilbab, karena Joki memang suka yang berjilbab.
Entahlah, seperti ada kepuasan tersendiri bila sanggup menaklukkan gadis-gadis yang terlihat anggun itu. Dari luar, mereka memang terkesan sulit. Tapi nyatanya, setelah beberapa kali dibujuk, mereka mau juga menyerahkan mahkotanya. Dan memang itulah yang dicari oleh Joki, bukannya yang lain.
Klakson mobil mengejutkan lamunan Joki. Kembali dia sadar bahwa dirinya sedang berada di jalanan kota yang ramai. Gerimis bulan Maret mulai mengusap mukanya. Sendalnya yang sudah butut terseret-seret di trotoar. Langit terlihat murung disaput mendung. Sore ini tampaknya akan menjadi basah.
Joki menendang biji salak di trotoar yang tak sengaja dipijaknya. Gerimis telah berubah menjadi rintik-rintik yang semakin deras. Tetapi, Joki terlindung oleh pepohonan yang rindang. Cuma sesekali butiran mungil memukuli wajahnya. Angin sejuk menyusup ke balik kulit. Angin itu juga menggoyang daun-daun dan ranting-ranting pohon. Beberapa tetes tadahannya menimpa Joki ketika ia keluar dari kerindangan pohon dan melompat ke dalam bus kota.
Hangat. Tetapi, pakaiannya tetap basah. Bus begitu penuh sesak. Joki menatap sekeliling, tak ingin membasahi orang lain. Terutama gadis manis di depan sana. Gadis yang juga sama-sama berdiri. Sangat tidak sopan jika sampai dia tepercik. Sangat tidak layak berbuat tidak sopan di depan gadis yang punya mata seteduh itu. Seteduh air di saat lagi tak ada angin. Bening.
Ada titik di ujung hidung gadis itu. Barangkali keringat. Ah, ya, di dalam bus kota ini tentunya pengap. Jendela-jendela tertutup. Manusia berjubel.
Bus menyentak. Sopirnya kelewat kasar saat menginjak gas. Gadis itu bergoyang dan tubuhnya yang tertutup gamis panjang bersentuhan dengan lelaki di sampingnya. Bangsat! Beruntungnya lelaki tua itu. Dan, Joki hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Iri sekali.
Joki kembali mengawasi gadis bermata teduh itu, yang juga berhidung mancung, berbibir halus seperti kelopak bunga mawar, dan berwajah tirus nan indah mempesona. Persis seperti model di dalam majalah-majalah muslimah. Joki bagai berada dalam mimpi saat melihatnya.
Tiap kali bus tersentak, gadis itu hampir kehilangan keseimbangan. Tangannya memegang tiang penyangga atap bus. Sampai kemudian bus berhenti. Ada lagi penumpang yang naik.
“Maju sedikit. Maju sedikit,” kata kondektur.
Joki tersenyum. Kini ia punya alasan untuk semakin rapat pada gadis itu. Sekali lagi bus berguncang dan berjalan pelan. Kini Joki berada tepat di sebelahnya. Kulit lengannya bersentuhan langsung dengan bahu gadis itu. Bukan main hangatnya. Wah!
Di luar, hujan masih turun menyerpih-nyerpih. Gadis itu mengipas-ngipaskan saputangan ke lehernya yang tertutup jilbab. Dan, teruai keharuman yang menyejukkan dari sana.
Seorang laki-laki berdiri untuk bersiap-siap turun. Sambil tersenyum, Joki segera menyuruh gadis itu untuk mengambil kursi yang barusan lowong. “Silakan, Mbak,” katanya.
Gadis itu beringsut, tetapi dia tidak duduk. Dia berpaling ke arah  perempuan tua yang berdiri di belakangnya. “Silakan, Bu,” katanya.
Seraya mendesiskan terima kasih, perempuan tua itu menyelinapkan tubuhnya,  lalu duduk.
Joki menatapnya, dan tersenyum kecut. “Ke mana, Mbak?” tanyanya mulai membuka perbicaraan.
Gadis itu melirik. Sekejap. Terlihat tak sabar akan lambatnya laju bus. Dia ingin secepatnya tiba di tujuan. Tetapi, anehnya, ekspresi mukanya tetap seperti semula. Teduh.
“Mbak turun di mana?” tanya Joki, tak berputus asa.
Gadis itu mengalihkan tatapannya ke depan, ke arah sopir. Namun tiba-tiba berbisik, “Gang Kramat,” katanya kemudian.
Joki bersorak dalam hati. “Hujan begini, repot ya?” kejarnya lagi.
Gadis itu mengangguk.
Joki melirik tas gadis itu. “Pulang kerja?” tanyanya menebak.
Gadis itu mengangguk lagi.
“Di perusahaan apa?”
Gadis itu tak bereaksi. Dia kembali menatap ke depan lewat kisi-kisi kepala orang-orang. Pandangannya membentur kaca jendela bus yang diperciki air hujan. Mesin bus menderu menggetarkan kaki para penumpang.
“Kamu banyak bertanya, kayak wartawan aja,” kata gadis itu.
“Hehe,” senyum Joki. “Saya seneng bisa ketemu Mbak.”
“Oh, ya?” kata gadis itu datar.
“Kapan-kapan boleh saya main ke rumah mbak?” tanya Joki bergumam.
Bus terguncang. Gadis itu terseok. Tubuhnya menghimpit Joki. “Maaf,” desisnya. Dahi gadis itu berpeluh, tetapi dia tak berani mengusap sebab satu tangannya memegang tas dan satu lagi berpegangan pada besi. Bau gadis itu harum. Dan, Joki teringat pada Mirza. Boleh jadi parfum mereka serupa merknya. 

Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI
 

1 komentar:

  1. Bang lanjut duka tak bertepi yahh..penasaran kapan aisya nya di tidurin reihan

    BalasHapus