Rabu, 08 November 2017

Induk Semang 1



Muamar, 19, terbangun dengan malas-malasan ketika mendengar pintu kamar kontrakannya diketok.
“Kapan mau bayar sewa?” Seorang perempuan Tionghoa bertampang tegas langsung bertanya seperti itu ketika dia buka pintu.
“Aduh, Ci...” kata Muamar memelas, “aku belum dapat kerja juga nih. Masih boleh ditunda seminggu dua minggu? Minggu ini masukin lamaran ke empat tempat, siapa tau ada yang tembus.”
“Lu udah dua bulan nggak bayar. Sampai kapan gua mesti nunggu?”
“Seminggu dua minggu lagi boleh, Ci? Siapa tau aku sudah dapat kerja...”
“Terus lu mau bayar tiga bulan kontrakan langsung?” kata perempuan itu sambil menatap tajam.

“Yaa, sebulan sebulan dulu?”
“Lu dulu janji bayar tanggal satu saban bulan,” kata si induk semang dengan kesal.
“Tolongin deh, Ci... Janji, pasti kubayar.”
Perempuan Tionghoa itu menatap tajam beberapa lama, lalu, “Oke, lu keluar dari kontrakan gua sekarang juga.”
“Waduh!? Jangan dong Ci, plis. Aku janji deh pasti bayar. Tapi jangan diusir. Gini...” Muamar menawarkan. “Aku jadi pembantunya Ci Luci aja deh sampai aku bisa bayar, asal jangan diusir... Ci Luci boleh suruh apa saja, potong rumput, ngecat...”
Ci Luci, si induk semang, berpikir sebentar. Lalu: “Yaudah. Kalau gitu sekarang lu ikut ke tempat gua. Lu cuci piring. Sekarang.”
“Cuci piring? Gampang!! Makasih Ci!” Muamar nyengir, tak menyangka usulnya diterima.
“Ayoh ikut,” Ci Luci berbalik dan berjalan beberapa langkah, lalu menoleh. “Ayo!!”
Muamar mengunci pintu kontrakannya dan mengikuti Ci Luci ke rumahnya. Rumah besar Ci Luci terdiri atas rumah utama dan empat kamar kontrakan, yang hanya terisi tiga (termasuk oleh Muamar). Penghuni dua kamar lain sedang tidak di tempat karena bekerja. Hanya Muamar, yang menganggur sejak lulus sekolah (dan tak kuliah) yang sering nongkrong di kontrakannya.

***

Muamar masuk ke rumah utama, dan kesan pertama yang dia dapat adalah betapa sepi rumah itu. Ci Luci memang tinggal sendirian. Muamar baru sekali masuk ke sana, ketika pertama kali mencari kontrakan, itu pun hanya di ruang tamu. Rumahnya tidak kecil, tapi juga terasa sempit karena ada banyak sekali barang di dalamnya. Ci Luci mengarahkan dia ke dapur.
Lucia Mahardika, yang biasa dipanggil “Ci Luci” oleh para pengontrak, ialah seorang perempuan keturunan Tionghoa yang Muamar tebak berumur setidaknya 40 tahun. Rambutnya hitam sebahu dengan highlight merah. Tubuhnya ramping. Dan wajahnya jarang terlihat tersenyum di depan para pengontraknya; mereka lebih sering melihat ekspresi datar tegas.
Ci Luci menunjuk wastafel dapur berisi setumpuk peralatan makan dan masak kotor. Tanpa banyak bicara Muamar langsung mencuci. Setidaknya itu bisa membuat dia tidak ditagih.
Selagi dia bekerja, Muamar merasa diawasi. Memang, Ci Luci duduk di kursi dekat sana, memperhatikan. Aneh rasanya bagi Muamar. Selesai Muamar cuci piring, Ci Luci menyuruhnya kembali ke kamar. “Besok balik lagi ke sini, nyuci lagi.” Dia menggiring Muamar ke pintu.

***

Hari kedua, hari ketiga, Muamar mulai menjalani hidup sebagai pembantu Ci Luci. Bukan hanya cuci piring, dia juga kerjakan tugas lain seperti membersihkan rumah dan menata begitu banyak barang yang ada di dalamnya. Ci Luci seorang pemilik toko barang antik, yang menyimpan sebagian dagangannya di rumah. Muamar menyadari itu ketika pada hari ketiga dia kurang hati-hati membersihkan satu piring antik dan hampir menjatuhkannya.
“Heh! Awas jatuh! Lu tau itu harganya bisa sepuluh juta?” bentak Ci Luci galak, dari kursinya.
Muamar cuma melongo. Dilihatnya wajah putih Ci Luci memerah tanda marah. Tapi tanpa sengaja Muamar juga melihat posisi duduk Ci Luci yang tak biasa. Satu tangannya dikepit di antara kedua pahanya... yang langsung ditarik sesudah dia melihat Muamar memandangi balik. Muamar tak berani komentar dan kembali membersihkan piring itu dan barang-barang antik lain dengan lebih hati-hati.
Sesudahnya Muamar bertanya-tanya apa sebenarnya yang dilakukan Ci Luci. Dia sadar dia tak tahu apa-apa tentang induk semangnya itu, selain bahwa Ci Luci keturunan Tionghoa, dan hidup sendirian. Apakah Ci Luci janda? Atau tidak menikah?
Keesokan harinya, Muamar tidak disuruh bersih-bersih di rumah. Ci Luci muncul di depan pintunya dengan penampilan berbeda: mengenakan makeup, kukunya dicat, dan beraroma parfum.
“Hari ini lu bantu gua bawa barang-barang ke toko ya,” kata Ci Luci. Toko? Muamar bertanya-tanya sambil mengangkuti setumpuk piring antik ke mobil Ci Luci. Dia menaruh barang-barang itu di bagasi, sambil diawasi Ci Luci.
“Bisa nyetir?” tanya Ci Luci.
Muamar menggeleng, dia belum bisa menyetir. Ci Luci melengos, lalu menyuruh Muamar duduk di kursi penumpang depan. Ci Luci lalu mengemudikan mobil menuju ke tempat usahanya, toko loak dan barang antik. Sesampainya di sana dia menyuruh Muamar menurunkan barang-barang yang tadi dibawa.
“Lu ga ada acara kan seharian?” tanya Ci Luci. “Lu di sini aja, temanin gua jaga toko hari ini. Ada yang mau datang beli guci itu,” katanya sambil menunjuk guci antik besar, tingginya hampir sedada orang. Muamar melongo membayangkan harus mengangkut guci sebesar itu.
Seharian itu Muamar menjadi pembantu Ci Luci di tokonya. Dia melihat sisi induk semangnya yang berbeda: ternyata ketika berada di toko, Ci Luci jauh lebih ramah dan murah senyum. Jauh sekali dibanding wajah serius yang selalu dipasangnya di depan para pengontrak. Dan, dalam hati Muamar, sebenarnya wajah Ci Luci lebih menarik kalau dia dandan seperti itu...
Pembeli guci besar itu datang; seorang laki-laki paro baya yang membawa mobil boks. Sebelumnya Ci Luci sudah menyuruh Muamar mengemas guci itu dengan bubble wrap, kardus, dan terakhir batang-batang kayu. Si pembeli membereskan urusan jual-beli dengan Ci Luci, lalu Ci Luci menyuruh Muamar menaikkan guci yang sudah dikemas kayu ke mobil boks.
“Angkat gucinya, taruh ke mobil Pak Ahmad ya,” perintah Ci Luci. Pak Ahmad, si pembeli, menawarkan bantuan. “Perlu saya bantu?” Tapi Muamar menolak karena merasa mampu mengangkatnya sendirian.
“Hufft!” Muamar ngos-ngosan mengangkat guci berat yang tambah berat itu karena sudah dibungkus dan dipasangi kayu. Dia gengsi untuk mengakui bahwa dia nyaris tidak kuat mengangkatnya. Ketika mau menaikkan ke atas mobil boks dia bahkan hampir jatuh! Ci Luci sampai berteriak “Awas!” karena takut gucinya pecah. Tapi Muamar berhasil. Ketika guci itu sudah ditaruhnya dengan selamat, Muamar terduduk lelah di sampingnya dalam boks, nyengir sambil mengacungkan jempol ke Ci Luci dan Pak Ahmad.
“Sukses!” seru Muamar.
“Mar! Itu lihat celana lu!” Ci Luci berteriak.
“Celana?” Muamar menoleh ke bawah dan ternyata celananya robek cukup lebar di bagian paha kanan. Rupanya karena kerjanya memasang kayu kurang rapi, ada paku mencuat yang kemudian merobek celana Muamar ketika dia mengangkut guci dan menggeser-gesernya. Dan bukan cuma celana. Ada luka gores cukup panjang yang baru terasa sakit ketika Muamar menyadarinya.
Pak Ahmad pergi tak lama kemudian, meninggalkan Muamar dan Ci Luci berdua di toko. “Ci... punya obat merah atau plester ga...” kata Muamar sambil mengamati lukanya. Cukup panjang, sekitar sejengkal, melintang dari bagian depan paha kanan sampai ke samping.
“Duduk situh,” perintah Ci Luci sambil membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa barang. “Buka celananya, mau gua beresin”
“B-buka celana?” Tapi Muamar menurut saja. Dia memelorotkan celana di depan Ci Luci yang sudah menyiapkan kapas dan obat antiseptik.
Ci Luci menyeka luka di paha Muamar dengan kapas yang sudah dibasahi obat, membuat Muamar meringis perih. Namun Muamar juga menyadari satu bagian bawah tubuhnya yang hanya terbungkus celana dalam dan menghadap Ci Luci bereaksi tidak semestinya... celana dalam Muamar menggembung menunjukkan bentuk silinder di balik bahan. Muamar melihat Ci Luci menoleh ke arah situ. Dia tak bisa menebak reaksi Ci Luci, karena perhatiannya tersita rasa perih luka kena obat. Satu tangan Ci Luci mengusap dengan kapas sementara tangan lain memegangi paha Muamar. Tangannya terasa lembut.
“Sudah. Makanya kalau kerja hati-hati,” kata Ci Luci sesudah selesai. Lalu, seolah baru teringat, beberapa saat kemudian, “...pakai lagi celananya.”
“M-makasih Ci,” kata Muamar grogi sambil memasang lagi celananya. Mereka berdua melanjutkan bekerja di toko sampai akhirnya Ci Luci memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan singkat di mobil keduanya tak saling bicara. Sampai Ci Luci masuk ke rumahnya pun dia tetap tak bicara ke Muamar.
Dan malam itu Muamar memikirkan mengapa reaksi tubuhnya seperti itu. Hari itu dia harus buka celana di depan Ci Luci, yang kebetulan sedang berdandan cantik, dan tanpa dia duga dia terangsang...
Muamar tidur dengan pikiran bingung dan kemaluan kembali bangun.

***

Muamar sebenarnya sedang punya pacar dan tidak kepikiran apa-apa terhadap induk semangnya. Tapi kejadian di toko itu terus mengganggunya.
Keesokan harinya, Ci Luci tidak nongkrong di dapur menunggui Muamar yang sedang mencuci piring. Entah dia sedang apa. Tapi tak lama kemudian Muamar mendengar Ci Luci berteriak-teriak di telepon, seperti sedang bertengkar.
Esoknya lagi, Muamar kembali menemani Ci Luci menjaga toko. Ci Luci sepertinya memang selalu berdandan ketika ada di toko: dia memakai makeup, kukunya dicat, dan tubuhnya beraroma parfum seperti ketika Muamar pertama kali diajak ke sana. Muamar pura-pura tak memperhatikan Ci Luci, namun karena tokonya kecil, dia tidak bisa terus melakukan itu. Tiap menoleh, mudah sekali pandangannya kembali bertemu Ci Luci.
Hari itu datanglah seorang laki-laki 40-an tahun yang ditemani perempuan cantik berumur separonya ke toko.
“Eeh... Masih buka aja ini toko rongsokan?” kata laki-laki itu mengejek sewaktu dia masuk. “Eh Luci... Kapan mau kamu tutup ini toko? Tanahnya mau kujual!”
Muamar melihat wajah putih Ci Luci berubah merah padam, alisnya berkerut, bibirnya merengut. “He! Ngapain kamu masih balik lagi ke sini?” Ci Luci menghardik si laki-laki. “Dari dulu udah kubilang! Ini warisan orangtua, nggak bakal dijual! Minggat sana! Apa belum puas ganggu kehidupanku?”
“Aah, sayang aja sertifikatnya masih ada nama kamu! Bikin repot aja,” si laki-laki membalas dengan berteriak-teriak. “Tapi apa kamu masih kuat terus-terusan didatangin tukang tagih utang, Luci? Emangnya kamu masih punya duit buat bayar cicilan? Udah jual aja toko rongsokan ini!”
Muamar tidak tahu urusannya, tapi melihat Ci Luci terdesak dan terlihat seperti mau menangis, dia maju dan mendekati laki-laki itu. “Pak, tolong jangan teriak-teriak, ini tempat ramai...”
Malah hardikan kasar yang dia dapat. “Eh tiko jongos, jangan ikut campur lu! Ini urusan suami istri! Lu nggak tau apa-apa, lu diam aja ngerti!”
Emosi Muamar terpancing, dan tanpa sempat pikir panjang dia mendorong laki-laki itu sampai hampir jatuh, kalau saja tidak ditahan perempuan yang bersamanya.
“Anjing!” makinya. Dia berdiri lagi lalu menunjuk-nunjuk Ci Luci. “Eh Luci! Ajarin sopan santun sama kacung ini! Oh ya. Aku tunggu sampai bulan depan. Pasti kamu udah nggak kuat bayar cicilan kan? Silakan pilih aja, kita jual toko ini, atau kamu jual rumah. Atau kamu jual diri sana! Tapi udah setua itu apa laku? Hahaha!!”
Sesudah tertawa keras begitu, si laki-laki sengaja menyenggol satu barang dagangan Ci Luci—guci kecil di atas meja—sampai jatuh dan pecah. Dia lalu berbalik dan pergi didampingi perempuan separo umurnya itu.
Muamar mau mengejar dan memukulnya, tapi dia merasa lengannya dipegangi. Ci Luci merangkul lengan Muamar, antara menahan Muamar untuk tidak pergi, atau seolah butuh berpegangan ke sesuatu karena terguncang. Ci Luci berkata, putus-putus, “Tutup... toko... kita... pulang...”
Dengan hati-hati Muamar memapah Ci Luci sampai ke kursinya, lalu membereskan toko untuk ditutup. Mereka berdua lalu meninggalkan toko, Ci Luci merangkul erat lengan Muamar. Muamar melihat wajah induk semangnya itu basah karena air mata, rias wajahnya acak-acakan, karena menangis tanpa suara.
“Ci, saya yang nyetir ya. Ci Luci tenang aja,” Muamar menawarkan.
Ci Luci yang terguncang tidak berkata apa-apa. Muamar langsung mengambil kunci mobil, menggandeng Ci Luci ke kursi penumpang depan, lalu masuk ke sisi sopir dan menyalakan mobil. Meskipun tidak punya SIM, Muamar nekad saja, dan untungnya selama perjalanan pendek dari toko ke rumah, tidak terjadi apa-apa. Hanya air mata Ci Luci saja yang mengalir deras terus.
Sesampainya di rumah, Muamar membuka pintu garasi, memarkirkan mobil, lalu mendampingi Ci Luci sampai masuk. Perempuan Tionghoa itu dia ajak duduk di sofa. Muamar tahu dia tidak bisa meninggalkan Ci Luci begitu saja. Jadi dia duduk di sebelah Ci Luci, membiarkan Ci Luci menggenggam lengannya sambil sesenggukan. Setelah beberapa lama barulah Muamar memberanikan diri bertanya.
“Ada apa, Ci...? Cerita saja sama saya...”
“Uhukh.... Itu tadi suami gua,” kata Ci Luci sambil terisak, “Dia udah lama pergi dari sini gara-gara cewek yang tadi dia bawa, selingkuhannya. Tapi dia masih ngincar harta gua. Lu denger kan tadi apa kata dia...?”
“Iya, soal jual toko...” jawab Muamar.
“Dia sebenarnya nikah sama gua nggak bawa apa-apa. Waktu nikah dulu, kami dikasih tanah warisan orangtua gua, tempatnya toko, yang terus dibalik nama atas nama gua dan dia. Ternyata dia malah incar tanah itu buat dijual...”
Ci Luci berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Dia suami brengsek. Kerja ga becus, main cewek melulu. Lama-lama ada cewek yang ngeracunin pikiran dia sampai dia ninggalin gua. Tapi kami ga bisa cerai. Lu ngerti lah. Kepercayaan. Tadinya gua pikir hidup gua bakal damai kalau dia udah nggak ada. Tapi nggak, dia terus aja recokin gua, bolak-balik ngincar harta gua, tanah toko itu.”
Sambil mengatakan itu, entah sengaja atau tidak, Ci Luci merapatkan tubuhnya ke tubuh Muamar, menyandarkan kepalanya ke bahu Muamar dan terus menangis. Secara refleks Muamar merangkulkan lengannya ke tubuh Ci Luci, menariknya lebih dekat.
Namun ada reaksi tak terduga. Ketika Muamar merasa penisnya mengeras, dia cepat-cepat melepas rangkulannya, sebelum Ci Luci sadar apa yang terjadi.
“Tadi dia bilang tukang tagih utang... Emang benar, gua lagi sulit bayar cicilan, tapi bukan berarti gua mau jual tanah itu! Gua masih bisa usaha... Lu dengar kan tadi dia bilang apa! Enak aja dia bilang gua suruh jual tanah, jual diri! Tuh, cewek yang dia gandeng itu tuh yang jual diri! Huuhuu...”
Ci Luci terisak lagi dan kali ini dia yang memeluk Muamar. Dan Muamar tidak bisa berbuat apa-apa.
“Padahal dulu gua cinta banget sama dia... Kenapa akhirnya jadi begini? Kita malah saling nyakitin,” kata Ci Luci sambil menangis. “Sampai sekarang gua nggak ngerti kenapa dia jadi begitu... apa kurangnya gua?”
“Emm ya nggak tahu ya, Ci,” kata Muamar sambil berusaha menahan rangsangan. Kepala Ci Luci bersandar di dadanya sementara lengan Ci Luci memeluk perutnya. Hidung Muamar bisa mencium wangi rambut Ci Luci, badannya merasakan hangat tubuh perempuan itu.
“...Apa gua kurang cantik, kurang baik?” sekonyong-konyong Ci Luci bertanya.
“Eee... enggak kok, Ci...” jawab Muamar sekenanya. Muamar berubah posisi duduk menjadi lebih tegak, tapi tak disangka itu malah membuat lengan Ci Luci bergeser dari perut Muamar ke bawah, sehingga tangan Ci Luci menyentuh selangkangan Muamar. Sentuhan tangan itu membuat kemaluan Muamar yang sudah tegak tersentak.
“Ah...” Ci Luci kaget sejenak, dan menarik tangannya. Tapi dia menarik tangannya pelan-pelan, seolah mengelus kejantanan Muamar...
Keadaan jadi kikuk sesudahnya, Ci Luci bergeser menjauh dan berhenti bicara. Muamar juga.
“M... maaf, Ci...” Permintaan maaf Muamar tidak jelas dan Ci Luci juga tidak mempedulikannya.
Setelah keduanya diam-diaman selama sepuluh menit, Muamar berusaha berinisiatif. “Ci, saya bikinin teh ya...” yang dibalas anggukan lemah Ci Luci. Muamar langsung pergi ke dapur, membuatkan teh untuk Ci Luci, dan menyuguhkannya.
“Sudah... makasih ya,” kata Ci Luci lesu. “Kerjaan lu sudah selesai hari ini...”
Muamar menganggap itu izin untuk pergi, dan dia pun keluar dari rumah Ci Luci tanpa banyak bicara.

***

Keesokan harinya, Muamar didatangi pacarnya di kontrakan. Ami namanya; umur 18 tahun, tak jauh dari Muamar. Dengan rambut pendek dan wajah lumayan. Muamar sudah berpacaran dengan Ami selama setahun. Hubungan mereka sudah cukup jauh, tapi sepertinya masih tidak mengarah ke sesuatu yang serius, karena Muamar masih tak jelas masa depannya.
Tapi ketika Muamar bercumbu dengan Ami dan Ami mengisap penisnya, Muamar malah membayangkan wajah perempuan Tionghoa 40 tahun, mata sipitnya menatap tajam, ketika dia memandang wajah Ami...
Ami masih muda, belum sematang Ci Luci, pikirnya.
Dan ketika Ami pergi, Muamar sempat memperhatikan bahwa Ci Luci sedang ada di luar rumah dan melihat gadis itu pergi.

***

Sore menjelang malam, Muamar mengetok pintu rumah Ci Luci. Dia dipanggil.
Ternyata Ci Luci mengenakan gaun hitam tanpa lengan yang anggun. Dia memakai eyeliner dan lipstik, juga sepatu hak tinggi. Muamar juga memperhatikan, Ci Luci sepertinya habis potong rambut. Gaya rambutnya sekarang pendek bob rapi. Tidak jauh dengan Ami...
“Mau pergi keluar, Ci?” tanya Muamar.
Ci Luci tidak menjawab, dan balas memerintah. “Bersihin rumah.”
Muamar menurut, dia pergi ke belakang mengambil sapu dan tongkat pel lalu mulai menyapu dan mengepel. Ci Luci duduk di kursi dan mengawasi semua pekerjaan Muamar.
Ketika mengepel, Muamar mendengar bunyi nafas Ci Luci di belakangnya. Lalu terasa ada tangan menyentuh pinggulnya. Ci Luci merangkulnya dari belakang.
Tangan Ci Luci menyelip ke balik kaos Muamar dan mengelus perut Muamar. Muamar berusaha terus mengepel tapi Ci Luci merangkul erat, mencegahnya bergerak lebih jauh.
Ci Luci membuka kancing dan resleting celana Muamar. Lalu merogoh ke dalam celana dalam. Muamar tak berbuat apa-apa, berdiri di tempat, berpegangan ke tongkat pel. Tangan halus Ci Luci merangsang kejantanannya. Muamar merinding keenakan.
“Ummhhh... segini ternyata ya...” gumam Ci Luci ketika akhirnya dia berhasil membuat batang Muamar setegak-tegaknya.
Lalu tiba-tiba Ci Luci melepas pegangannya dan pergi masuk kamar.
Muamar bingung, tapi lantas meneruskan pekerjaan. Tapi pintu kamar Ci Luci terbuka sedikit dan Muamar bisa mendengar suara desahan perempuan di dalamnya.
“Ah... ngh... aanggg... ng!”
Muamar bisa menebak apa yang sedang dilakukan induk semangnya itu, dan timbul pikiran isengnya untuk memergoki.
Seolah mau membereskan kamar kosong, Muamar membuka begitu saja pintu kamar Ci Luci. Dan didapatinya Ci Luci sedang masturbasi, merangsang kemaluan dan klitorisnya dengan jari sendiri.
Anehnya, Ci Luci tidak protes atau marah. Dia sepertinya sudah terlalu keenakan dengan perbuatannya. Dia menatap Muamar, pertama di mata, lalu turun. Ke selangkangan. Muamar masih tegang karena dikocok Ci Luci tadi. Tanpa suara Ci Luci mengucap sesuatu.
Muamar bisa membacanya. “Buka”.
Maka Muamar pun membuka celana dan memamerkan ereksinya di depan Ci Luci. Si induk semang memandangi kejantanan Muamar sambil dia membuat dirinya sendiri orgasme.
“HAA.... ANGHHH!!” rintih Ci Luci keenakan.
Ci Luci telentang keenakan di tempat tidur sesudah kenikmatan melanda. Muamar tak berani berbuat lebih; dia kembali memakai celananya dan keluar. Tanpa bicara.

***

Besoknya, Muamar kembali dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ci Luci menyambutnya di depan pintu. Dekat sekali. Ci Luci memandangi ke atas, tubuhnya memang lebih pendek sekepala dibanding Muamar.
Muamar tersenyum. Ci Luci kelihatan cantik karena habis berdandan. Muamar tak mengatakan itu, tapi memandangi sekujur tubuh si perempuan Tionghoa. Keduanya saling pandang. Dan untuk pertama kali, Ci Luci tersenyum balik ke Muamar.
Gaun yang Ci Luci pakai ketat dan pendek, menunjukkan jelas ke Muamar bahwa tubuhnya kecil, payudaranya tak seberapa besar, pinggulnya ramping, dan pantatnya kencang. Tulang pipinya menonjol, dan kulit wajahnya tak seberapa mulus, sehingga dia coba tutupi dengan bedak tebal. Entah, apa dia berusaha agar tak kalah dengan perempuan lain yang lebih muda?
Ci Luci menyuruh Muamar ke dapur untuk cuci piring. Sudah hari kesekian sejak pertama kali Muamar “dipekerjakan” seperti itu. “Sana... cuci piring,” perintah Ci Luci. Muamar langsung menghadap bak cuci dan mulai bekerja.
Dan Ci Luci makin agresif kali ini. Baru sebentar Muamar membelakanginya untuk cuci piring, Ci Luci sudah memeluk pinggangnya dari belakang lalu memerosotkan celana Muamar. Lalu celana dalam Muamar dia turunkan.
Ci Luci mengelus-elus pinggul, batang, dan kantong biji Muamar selagi Muamar mencuci. Perempuan itu juga menaikkan kaos Muamar, mencium-cium punggung Muamar, mengelus perut dan dada Muamar.
Tak tahan digoda seperti itu, Muamar berbalik sehingga menghadap Ci Luci. Ci Luci membelalak selagi Muamar balas merangkul; si induk semang melongo, dan tanpa minta izin dulu, Muamar mencium bibir Ci Luci.
“Awh...” desah Ci Luci.
“Ada apa, Ci...” tanya Muamar. Sedekat itu, Muamar makin bisa melihat detil wajah perempuan yang jauh lebih tua daripada dia itu. Muamar sengaja merapatkan seluruh tubuhnya ke tubuh Ci Luci, sehingga kemaluannya yang sudah keras mendesak perut Ci Luci. Tangan si pemuda mencengkeram erat pantat kencang Ci Luci.
Ci Luci tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan, tapi jelas ada sesuatu yang tak lagi dia mampu pendam. Ci Luci membuka gaunnya sehingga tinggal memakai pakaian dalam di hadapan Muamar. Lalu dia melepas BH. Payudaranya masih kencang; masih indah untuk perempuan seumur dia. Lengannya merangkul leher Muamar lalu dia mengangkat tubuhnya untuk mencium Muamar.
Perempuan itu lalu menarik Muamar ke arah tempat tidurnya. Sejak tadi keduanya tak saling bicara. Namun keduanya seolah sudah saling mengetahui apa yang diinginkan. Ketika Ci Luci duduk di ranjang dan Muamar berdiri di depannya, Muamar bisa melihat nafas Ci Luci memburu, wajah perempuan itu memerah selagi matanya menatap penuh harap. Ci Luci kembali merangkul leher Muamar, kali ini untuk menarik Muamar sehingga membungkuk lalu menindih tubuhnya yang rebah di ranjang. Kedua kaki Ci Luci ikut merangkul pinggang Muamar. Muamar mencium leher Ci Luci. Satu tangan Ci Luci mengarahkan tangan Muamar agar mengelus-elus selangkangannya yang masih tertutup celana dalam.
Muamar memandangi wajah Ci Luci yang matanya terpejam, terlihat menunggu-nunggu.
“Ohhh,” desah Ci Luci karena merasakan ciuman Muamar mulai mendarat di leher dan dadanya. Terus turun sampai mencapai selangkangan. Ci Luci mengangguk, memperbolehkan Muamar melepas celana dalamnya. Untuk pertama kali Muamar melihat tubuh telanjang induk semangnya. Putih bersih bersemu merah.
Ci Luci bangkit lagi dan ganti dia yang menggerayangi Muamar. Kini posisi Muamar berdiri tegak sementara Ci Luci duduk telanjang di ranjang. Perempuan itu menciumi perut Muamar, sambil menggenggam kejantanan Muamar yang tegak. Muamar melepas bajunya; celananya sudah melorot dari tadi.
“Lu udah keras kayak begini...” akhirnya Ci Luci berkata. “Gua masih bisa bikin orang kepengen kan...?”
Muamar tak bisa menyangkal. Faktanya Ci Luci telah berhasil membuat dia ereksi. Tubuh tak bisa bohong.
“Makasih...” gumam Ci Luci.
“B-buat apa, Ci?” tanya Muamar gugup.
“Lu kemarin mau ngebelain gua...” ujar Ci Luci sambil menggenggam dan mengelus batang Muamar. “Ngehibur gua sesudahnya... dan...”
“Emm...” Muamar tak kepikiran bicara apa-apa karena keenakan.
“...dan... nunjukin bahwa gua masih bisa bikin laki begini...” Ci Luci merapatkan ereksi Muamar ke pipinya yang berbedak tebal. Dia mendongak menghadap Muamar dan Muamar melihat ada sedikit kesedihan di tatapan Ci Luci. “Tapi... mungkin lu lebih suka cewek yang masih muda... seperti pacar lu yang suka datang itu kan...”
“Ah... enggak kok...” Muamar bingung. “C... Ci Luci juga cakep kok, nggak kalah dengan pacarku...” Tapi nafsunya dibikin memuncak oleh godaan dan elusan Ci Luci.
“Gua tau kalian biasa ngapain aja...” Ci Luci menyatakan itu sambil menggenggam kencang kemaluan Muamar. “Bikin ngiri aja...”
“Hah?” Muamar kaget. Ternyata selama ini mungkin Ci Luci mengawasi atau malah mengintip kegiatannya bersama Ami?
“Tapi... cakepan dia daripada gua kan?” Ci Luci melepas genggamannya dan menundukkan kepala. “Gua udah tua... mana mau lu sama gua...”
“B... bukan begitu, Ci...” sanggah Muamar.
“...kok kemarin lu diam aja pas gua bikin ngaceng...?” tanya Ci Luci, mengingatkan kejadian hari sebelumnya ketika dia merangsang Muamar sampai tegang lalu pergi masuk kamar.
“Ng... soalnya kan kita...” Muamar bingung menjawabnya.
“Lu takut ya sama gua...?” tantang Ci Luci.
Muamar memegangi kedua pergelangan Ci Luci lalu mendorong perempuan itu sampai rebah dan tubuhnya sendiri berada di atas Ci Luci.
“Mau Ci Luci sebenarnya apa sih?” tanya Muamar dengan nada lebih keras.
Perempuan itu sepertinya kaget dibegitukan, dia terpejam dan buang muka, lalu meraih ereksi Muamar dan menariknya... ke pintu masuk kewanitaannya.
Ci Luci menatap Muamar dengan ekspresi memohon, mengangguk. Muamar tahu apa yang induk semangnya inginkan. Posisi Ci Luci sudah pas, telentang, paha merenggang, menunggu untuk dijamah si pemuda. Muamar mendorong anggota tubuhnya yang keras tebal itu masuk. Vagina Ci Luci terasa lembut dan basah. Dia berhenti sebentar melihat wajah Ci Luci berkerut tak nyaman namun ketika ekspresinya berubah santai, Muamar kembali memajukan pinggulnya dan seluruh panjang batangnya memaksa masuk ke dalam tubuh Ci Luci.
Muamar tak percaya dia sedang menyetubuhi induk semangnya. Dia tak pernah terpikir itu. Ataukah pernah? Bukankah kejadian kemarin-kemarin membuat Ci Luci masuk ke khayalan seksnya?
“Ohhhh...” Ci Luci mengerang. “Ahn... masuk sampai situuu...”
“Kenapa, Ci... Sakit?” tanya Muamar.
“...mentok...” gumam Ci Luci sambil memejamkan mata. “...r-rasanya belum pernah dimasukin sejauh itu...”
Untuk beberapa lama Muamar tak bergerak, hanya menusuk sedalam-dalamnya, melihat reaksi Ci Luci. Belum digoyang pun sudah terlihat bahwa perempuan Tionghoa itu keenakan. Muamar jadi bertanya-tanya sebenarnya seberapa banyak pengalaman seks Ci Luci, terutama dengan beragam pasangan. Beragam ukuran laki-laki...
Ketika Muamar mulai menggenjot, ekspresi Ci Luci pun makin keenakan. Muamar juga merasakan betapa sempit dan basah kewanitaan Ci Luci.
“Ahh,” kata Muamar, “Punya Ci Luci enak jugahh... Gimana, Ci, enak gak...?”
“Ahn enak... k-kontol lu enak, gede...” Ci Luci mulai meracau dan bicara jorok. “Terserah lu mau apain aja gua... ahh!”
Pelan-pelan Muamar bergerak maju mundur, meningkatkan kecepatan dan kekuatan. Terdengar bunyi kulit bertemu kulit, dan Ci Luci mengerang keenakan tiap kali disodok.
“Iyahh... terus! Genjoth... yang keras! Hnngh!”
Muamar makin semangat dan gencar menggenjot, menyeruduki keras-keras liang kenikmatan induk semangnya. Terasa bahwa Ci Luci mendekati klimaks, nafasnya menjadi pendek-pendek dan nada suaranya meninggi.
“Aah...!! ♥ Enak dientott... Ooohhh!” ucap Ci Luci karena enak, selagi batang panjang si pemuda keluar masuk kewanitaannya. Begitu keras sampai tubuh perempuan itu terguncang-guncang digoyang.
“Ci Luci doyan kontolku ya...?” goda Muamar. Rupanya ucapan jorok itu mendorong Ci Luci ke puncak dan si perempuan menjerit selagi orgasme melanda.
“Oooaaahhh! Urhhh!”
Orgasmenya mereda, Ci Luci merangkul tubuh dan menciumi bibir Muamar.
“Ngh... lu belum puas ya...” kata Ci Luci memandangi Muamar. Sebenarnya Muamar mau mencabut batangnya dari dalam, tapi pinggulnya ditahan Ci Luci. “Jangan dicabut...!”
“Tapi nanti keluar... di dalam...?” tanya Muamar canggung.
“Sebodo amat...” desah Ci Luci, “Entot gua lagi... yang keras...!”
Mendengar itu Muamar bersemangat lagi, ereksinya terasa lebih kencang. Dia meminta ganti posisi. Dengan enggan Ci Luci membiarkan Muamar mencabut batangnya, lalu dia berbalik badan, berposisi merangkak dengan bertumpu ke tangan dan lutut di atas ranjang. Muamar berlutut di belakang Ci Luci, meregangkan bibir kemaluan perempuan itu.
“Aku masukin lagi ya, Ci...”
“Entot gua dari belakang...!” perintah Ci Luci dengan suara penuh nafsu. “Sodok memek gua yang kenceng...”
Muamar mencengkeram pinggul Ci Luci dan mendorong penisnya masuk lagi. Batangnya masih basah karena bekas orgasme tadi, sehingga bisa masuk semua dengan mudah. Tapi kemaluan Ci Luci masih cukup menggigit.
“Ahhn, enak kontol lu...” rintih Ci Luci, kepalanya tertunduk dan mukanya tertutup rambut. “Gedean punya lu daripada dia...”
“Enak kan, Ci, dientot kayak gini?” Muamar makin berani. Mendengar perbandingan barusan, nafsunya memuncak. “Awas, Ci, aku bisa ga tahan nih!!”
“Iyah... crot aja di dalam gua...!” seru Ci Luci, tak tahan disodok-sodok kencang Muamar. “Buang aja di dalam!”
“Ahh... Ci, memeknya enak banget! Suka ya diewe dari belakang gini?”
“Sukaa.... apalagi sama yang gede kayak lu!”
Muamar menggenjot sekeras-kerasnya, sampai ranjang Ci Luci berguncang selagi kejantanannya mengebor perempuan berumur dua kali lipat dirinya itu. Keduanya sudah mandi keringat, lalu Ci Luci menjerit lagi karena kembali dapat kepuasan, memejamkan mata dan membenamkan wajah ke kasur.
“Ci! Ohh!! Aahhh!!! Aku mau keluar, Ci!!” Muamar juga tak tahan.
“Ahn, di dalam ajaaa!” pinta Ci Luci, tak peduli lagi dengan segalanya.
“Urghh!” Muamar menggerung selagi akhirnya dia ejakulasi di dalam kemaluan Ci Luci.
“Ahh!! ♥ Kerasa crotnya...!!” seru Ci Luci. “Anget... enak kan...?”
Muamar tak menjawab dan mengeluarkan semua yang tersimpan sambil mengerang keenakan. Dia lalu mencabut batangnya.
“Keluar banyak ya...” kata Ci Luci, merasakan cairan kental memenuhi celah kewanitaannya. “Apa... memek gua masih kerasa enak...?”
“Iya... enak...” jawab Muamar lemas. Dia berbaring di sebelah Ci Luci. Dia belum pernah melakukannya dengan perempuan setua itu. Atau yang bereaksi seperti Ci Luci. Ami pacarnya cenderung diam dan pasif di ranjang.
Mereka berdua berbaring bersebelahan dalam diam untuk beberapa lama. Ekspresi Ci Luci tak bisa dibaca oleh Muamar. Apakah si induk semang merasa bersalah? Muamar tak tahu. Ci Luci pasti sudah lebih banyak pengalaman hidup daripada Muamar, dan Muamar belum mengenal Ci Luci cukup jauh untuk paham bagaimana perasaannya.
Muamar akhirnya memutuskan sendiri untuk bangkit. Ci Luci hanya memandang kosong selagi Muamar mengenakan kembali pakaiannya. Muamar lalu pergi. Tapi sebelum meninggalkan kamar, dia menyempatkan diri mengecup bibir Ci Luci dan tersenyum.

Author : Ninja Gaijin

1 komentar: