Kamis, 23 November 2017

Induk Semang 2

“Ahh... Mar! Kok jadi nafsu banget gini...ah...Agh!” Ami bertanya di sela-sela genjotan kencang Muamar, lalu omongannya terhenti oleh jerit keenakan karena orgasme.
Sudah yang ketiga, tapi Muamar belum juga orgasme. Bukannya dia tak terangsang oleh Ami, melainkan simpanan benihnya tadi sudah habis di dalam Ci Luci. Ketika itu hanya beberapa jam sesudah Muamar bersetubuh dengan Ci Luci, dan Ami datang.
Atau apakah Ami tidak cukup menarik lagi bagi dia? Apakah dia mulai lebih suka perempuan berumur 40 tahun dibanding 18 tahun? Apakah dia lebih suka wajah Ci Luci yang keriputnya disamarkan bedak tebal dibanding wajah Ami yang masih mulus? Payudara Ci Luci yang kalah kencang dengan payudara Ami? Mestinya mustahil.

Ami masih muda, mulus, dan tidak macam-macam. Muamar terus menggenjot kencang pacarnya, seolah mau membuktikan dia masih lebih suka gadis muda daripada perempuan setengah tua. Dibuatnya Ami orgasme sekali lagi, dan kemudian dia juga orgasme, menyemprotkan hanya sedikit ke dalam kondom.
Dan ketika Ami menciumnya lalu meninggalkan pintu kamarnya, Muamar kembali melihat Ci Luci di kejauhan. Menatapnya.

***

Esok paginya semua berjalan seperti biasa. Seolah adegan intim sebelumnya tak pernah terjadi. Muamar membantu Ci Luci di toko. Namun ada satu hal yang menonjol.
Di toko, Ci Luci didatangi beberapa penagih utang. Ci Luci berargumen keras dengan mereka. Muamar berusaha tidak menghalangi, karena dilarang ikut campur oleh Ci Luci. Tapi dari apa yang dia dengar, sepertinya Ci Luci memang terlilit utang cukup besar.
Dua miliar. Dan cicilannya sudah tertunggak beberapa bulan. Penagih utang mengancam akan menyita tanah tempat toko berdiri, yang menjadi jaminan. Lalu mereka pergi, meninggalkan Ci Luci yang membisu.
Ketika Muamar mendekat untuk mencoba menghibur, Ci Luci memeluknya dan menyandarkan kepala ke dadanya. Tanpa bersuara.

***

Yang sempat Muamar pikirkan sepertinya mulai terjadi.
Sorenya, Muamar kembali ke kamar dengan kepala penuh pikiran. Dia kasihan ke Ci Luci yang stres menghadapi utang. Tapi ternyata Ami menunggu, ingin “minta jatah”.
Maka keduanya pun bersetubuh; sementara Ami berteriak dan menggelinjang keenakan menikmati orgasme, Muamar malah sibuk mencoba mengkhayalkan sesuatu agar bisa ejakulasi.
Ami puas dibikin klimaks berkali-kali oleh dia, tanpa menyadari bahwa sedikit demi sedikit minat Muamar terhadap perempuan bergeser. Dan Muamar mengakhiri persetubuhan itu tanpa mengalami orgasme.

***

Jantung Muamar berdebar ketika dia mengetok pintu rumah Ci Luci tak lama sesudah Ami pergi. Ci Luci memanggilnya. Dan kemaluan Muamar yang belum puas pun ikut bereaksi menegang.
Ci Luci tak berkata apa-apa ketika membukakan pintu untuk Muamar, hanya memeluknya erat seperti ketika pagi sebelumnya di toko. Tangan Ci Luci membelai dan meremas pantat Muamar, merapatkan bagian itu ke tubuhnya. Ketika menyadari ada yang kaku dan membesar di balik celana Muamar, perempuan setengah baya itu tersipu.
Muamar memandangi wajah Ci Luci yang dirias tebal seperti mau kencan, meski dia tahu Ci Luci tak berniat pergi keluar. Ekspresinya datar namun Muamar sudah tahu seperti itulah wajah yang dipakai Ci Luci untuk menutupi nafsu yang menggebu. Dan Muamar juga begitu.
Muamar meraih pinggang Ci Luci, memeluk sambil mengangkat tubuh induk semangnya. Lidah dan bibir keduanya bertemu dan bergulat; tubuh Ci Luci terasa hangat, wanginya begitu memikat. Ci Luci menoleh ke arah kamar tidurnya dan Muamar tahu apa yang perempuan itu inginkan. Dia berinisiatif menggandeng tangan Ci Luci, berjalan ke sana.
Keduanya selalu tak banyak saling bicara namun tahu apa yang diinginkan. Ci Luci berbaring telentang pasrah, membiarkan Muamar melepas celana dalamnya dan menaikkan gaunnya, lalu membuka lebar kedua pahanya. Kali itu Muamar mau melakukan foreplay lebih lama. Dia menjilati dulu belahan kewanitaan Ci Luci, membuat perempuan Tionghoa itu menggelinjang keenakan. Tak lama kemudian Muamar menelanjangi lalu mempenetrasi Ci Luci dalam posisi misionaris. Mata Ci Luci membelalak ketika kejantanan Muamar masuk.
“Ah... iya gitu.... masukin pelan-pelan... Aduh gede banget...” kata-kata Ci Luci berhenti ketika Muamar menciumi bibirnya, begitu gencar sampai-sampai lipstik tebal Ci Luci mencoreng wajah Muamar.
Muamar menggenjot pelan, tanpa terburu-buru. Tak butuh waktu lama bagi dia untuk memberi orgasme pertama kepada Ci Luci.
Ci Luci menatap pasrah sesudah dipuaskan. Dia terlihat rapuh. Dan Muamar bertanya kepada diri sendiri, mengapa rasanya sekarang dia lebih suka dengan tubuh perempuan lebih tua itu? Mengapa lebih enak dibandingkan Ami?
Tapi kemudian telepon Ci Luci berbunyi. Muamar memandangi Ci Luci, mau bertanya apakah telepon itu mau diterima dulu. Sambil bergerak pelan seolah mau mencabut ereksinya dari dalam Ci Luci. Ci Luci menahan geraknya dengan merangkulkan kaki ke pinggang Muamar, sambil menyambar telepon genggamnya yang berbunyi. Muamar diam saja selagi Ci Luci memutuskan untuk menjawab telepon itu.
“Halo? ... Oh, kamu. Mau apa lagi telepon-telepon?” kata Ci Luci. Muamar tak diberitahu siapa itu, tapi dia bisa menebak. Ci Luci biasa menggunakan “gua-lu” kalau berbicara ke semua orang, dan setahu Muamar hanya memakai “aku-kamu” ke satu orang. Suaminya. Dan nada bicara Ci Luci berubah sengit seperti ketika pertemuan mereka di toko kemarin dulu.
“Sudah kubilang aku bisa bayar sendiri utangnya! Nggak usah ikut campur,” kata Ci Luci. “Apa? Kamu nggak usah nawar-nawarin orang beli tanah toko! Nggak bakal kujual!” Muamar terus diam. “Bisa nggak sih kamu berhenti gangguin hidupku? Apa belum puas nyakitin aku hah?”
“Aku lagi sibuk,” kata Ci Luci sambil bangkit dari tempat tidur dan mendorong keluar Muamar dari tubuhnya. Tapi Ci Luci malah menggenggam kejantanan Muamar yang masih keras, berbalik, berposisi menungging di depan tempat tidur. Tangannya menarik Muamar, memberi isyarat untuk masuk lagi... Muamar penasaran apa yang mau dilakukan Ci Luci.
“Sibuk apa? Terserah aku mau sibuk apa!” Lalu sesudah berteriak seperti itu ke suaminya, Ci Luci menggerakkan pinggulnya, menancapkan diri ke penis Muamar. Sengaja dia mendesah di telepon. “Aahh!!”
“Sibuk... cari gantinya kamu!... Aahn...” Dalam posisi itu, Ci Luci terus berbicara ke suaminya. Muamar merasa Ci Luci melebih-lebihkan desahannya. “Hngh... ugh!”
“Memangnya kamu aja yang bisa main cewek...? Ahh... Mereka juga cuma mau duit, paling! Hngh! Nggak apa-apa!... Ambil aja buat kamu!”
“Iya, ini aku lagi sama cowok!...” Ci Luci terdiam sebentar lalu menyambung dengan kasar, “Lagi NGENTOT!” Dia memberi kode ke Muamar untuk mulai bergerak, dan Muamar pun mulai menggenjot. “Aah.... aahh!!”
Ci Luci mendeskripsikan apa yang sedang dialami ke suaminya lewat telepon. Lengkap dengan semua efek suaranya. “Aah! Aku lagi disodok kontol! Dalem banget... Gede keras... Enak!!”
“Ah! Anh! Ngg!” Erangan Ci Luci sudah tak palsu lagi, namun dia sengaja melakukannya di telepon. Jelas dia sedang berusaha memukul balik suaminya. “Ah! Enak! Gedean dia daripada kamu! Dia sampai mentokh... uunghh! Ah! Lagi sayang! Entot aku! Keluarin di dalam akuu.... AAA!!” Ci Luci menjerit keras, menyampaikan suara orgasme ke suaminya.
Muamar terangsang berat dengan seluruh adegan itu. Dan dia juga merasa tak tahan lagi. Sambil menggerung Muamar berejakulasi di dalam rahim Ci Luci. Dan Ci Luci juga mengungkapkan itu ke suaminya. “Aahh!! Ahh dia crot di dalammm...!” Suaranya bergetar penuh nafsu. “Ah! Pejunya kental.... hangat...!! Enak banget di memekku! Haah.... haaahh...”
“Aah... Enakan dia daripada kamu... Lagian siapa tau dia bisa hamilin aku....” di tengah redanya gelombang nafsu, Ci Luci menyempatkan mengejek suaminya. Sepertinya dia berhasil membuat suaminya jengkel. Terdengar nada telepon diputus.
Untuk pertama kalinya, Muamar melihat Ci Luci tersenyum lebar. Lalu tertawa lepas. “Hm, hm, hihihi... he he... hahaha... HUAHAHAHA!!” Muamar bingung, tapi entah kenapa, dia senang melihat Ci Luci tertawa seperti itu. Seolah akhirnya Ci Luci bisa lega sesudah selama ini tegang karena berbagai hal.

***

Ci Luci berbaring di sebelah Muamar di ranjang. Makeup tebalnya berantakan sesudah persetubuhan yang seru tadi, tapi Muamar menganggap Ci Luci terlihat tetap cantik. Pelan-pelan keduanya akhirnya mulai saling bicara. Memang aneh rasanya, karena mereka sudah berhubungan seks dua kali, namun baru kali itu terlibat percakapan intim.
Ci Luci menceritakan suaminya. Suaminya sebenarnya kurang jago di ranjang, cepat keluar. Ukuran kejantanannya juga tak sebesar Muamar. Ci Luci menganggap kekurangan itu berpengaruh ke sikap suaminya yang jadi frustrasi sendiri, lalu melampiaskan dengan mengumbar nafsu ke mana-mana.
“Tapi cewek-cewek lain paling juga nggak puas sama dia, hahaha!” kata Ci Luci sambil tertawa dan bergelayutan manja. Muamar tersipu. “Punya dia kalau tegang cuma segenggamanku! Kalau punya kamu... kan... mesti gini pegangnya?” Ci Luci menggenggamkan dua tangan. Lalu melirik menggoda, tertawa, mencium dada Muamar.
“Ya ampun,” Ci Luci tertegun ketika dia tanpa sengaja melirik cermin rias di kamarnya. Dia bangkit lalu duduk di depan cermin. Muamar mengikuti. Ci Luci memandangi wajahnya yang acak-acakan lalu mengeluh. “Aduhh... jadi berantakan begini.” Lalu dia menoleh dan menatap sendu ke Muamar yang sudah berdiri di belakangnya.
“Aku kelihatan tua ya?” tanya Ci Luci. “Pasti lah... tahun ini aku sudah empat puluh. Pacar kamu itu masih cantik, masih mulus. Bikin iri saja...”
Muamar menyadari: Ci Luci mulai menggunakan “aku-kamu” ketika bicara dengan dia. Dia juga melihat wajah Ci Luci berubah sedih. Jadi dia rangkul si induk semangnya. “Nggak kok. Ci Luci juga cantik, nggak kalah dari Ami. Asal...”
“Asal apa?” tanya Ci Luci.
“Asal Ci Luci mau senyum seperti tadi,” jawab Muamar dengan nada nakal. “Gimana ya, tadi itu Ci Luci kelihatan cantik banget.”
“Kamu tahu kan aku mesti kamu apain biar bisa senyum kayak tadi,” kata Ci Luci sambil menyandarkan kepala ke perut Muamar yang berdiri di sebelahnya. Lalu sambil tersenyum jahil dia berkata, “Eh... masih ingat hinaan suamiku dulu di toko?”
“Yang mana?”
“Yang aku disuruh jual diri, tapi dibilang nggak bakal laku.”
“Iya. Kenapa emangnya?”
“Menurut kamu itu benar nggak?”
Muamar tak tahu bagaimana harus menjawab. Rasanya kurang sopan... Tapi Ci Luci menanyakan itu sambil membelai-belai kemaluannya, yang mulai ereksi lagi.
“Tuh, malah dia yang jawab, hihihi...” kata Ci Luci sambil tertawa. “Tapi... makasih ya.”
“Kok bilang terima kasih ke saya, Ci?”
“Seenggaknya...” ujar Ci Luci dengan suara sendu, “kamu bikin aku ngerasa masih laku.” Lalu Ci Luci mencium kemaluan Muamar.
“Eh... ini suka diisepin sama pacarmu itu ya?” sambung Ci Luci. Muamar lagi-lagi tak mau menjawab. Tapi Ci Luci melanjutkan, “Kamu nggak bilang juga aku tahu... Maaf ya kadang aku ngintip. Nakal kamu, dikasih kebebasan di kamar kontrakan, malah dipakai berbuat asusila.” Si induk semang tersenyum jahat.
“Aku mau coba juga...”
Dan untuk pertama kalinya, Ci Luci memberi seks oral kepada Muamar. Sebenarnya Ci Luci tidak seahli Ami melakukannya; meski lebih tua, agaknya kalah pengalaman atau tidak terbiasa. Tapi tetap saja itu membuat Muamar terpana.
Ci Luci tadinya asing baginya, tak bersahabat, makhluk menyebalkan yang sukanya marah-marah dan menagih uang sewa. Namun sekarang begitu berbeda, begitu akrab. Muamar sudah menjadi penyewa, lalu pembantu, lalu sekarang... apanya induk semangnya itu? Sekarang Ci Luci mengisap penisnya. Mata sipit Ci Luci yang dibingkai celak hitam itu seolah mau bercerita banyak mengenai mengapa semuanya terjadi. Kenapa...?
Dan ketika dia akhirnya tak tahan untuk mencurahkan (agak lama, karena Ci Luci belum sepiawai itu), Ci Luci menelan semuanya.
Malam itu Muamar merasa tak ingin pergi dari sana, tak ingin meninggalkan Ci Luci. Setelah keduanya kembali berbaring di tempat tidur, mengobrol lagi, tak lama kemudian Ci Luci ketiduran, dalam pelukan Muamar.

***

Hari-hari berikutnya mereka makin sering berduaan. Muamar datang pagi-pagi ke rumah Ci Luci, kadang tanpa diminta. Kadang hanya untuk melakukan pekerjaan ringan seperti membersihkan rumah, mencuci piring, menata stok barang dagangan di rumah. Kadang juga menjaga toko bersama (walaupun toko itu tetap sepi). Kadang memijati Ci Luci kalau dia pegal, yang biasanya berujung seks. Tidak setiap hari mereka berhubungan seks, tapi lumayan sering. Bahkan Muamar jadi lebih sering bersetubuh dengan Ci Luci daripada dengan Ami.
Namun semua itu ternyata hanya sementara.

***

“Ada surat buat kamu. Ini dari PT...” kata Ci Luci suatu siang ketika dia mendatangi kamar Muamar. Muamar mengenali nama PT itu, satu perusahaan perkebunan yang pernah dia kirimi surat lamaran. Di depan Ci Luci, Muamar merobek amplop surat dan membaca isinya.
“...dengan ini kami beritahukan bahwa Saudara kami anggap cocok untuk pekerjaan yang dilamar, dan kami harap Saudara dapat segera bergabung dengan kami di..."
“Ci! Aku diterima kerja! Aku dapat kerjaan!” Muamar berseru kegirangan, spontan memeluk Ci Luci di depannya.
Ci Luci ikut terbawa kebahagiaan Muamar. “Ah, selamat! Akhirnya kamu dapat kerja juga!” Keduanya berciuman mesra, dan berpelukan erat.
Lalu Muamar sadar sesuatu. Perusahaan perkebunan itu terletak di pedalaman, dan dia melamar sebagai staf lapangan—artinya kalau diterima kerja di sana, dia harus pergi ke pedalaman. Pergi dari rumah Ci Luci. Maka itu wajahnya yang girang berubah lagi ekspresinya. Dan Ci Luci melihat.
“Kenapa malah murung begitu?” tanya Ci Luci.
“Ini... di pedalaman, Ci. Kalau aku kerja di sana, aku mesti... pindah,” jawab Muamar terbata-bata. Tapi Ci Luci malah pasang tampang tegas.
“Jangan buang kesempatan. Kamu tahu kan sekarang susah cari kerja? Apa kamu suka nganggur terus?” katanya menasihati.
“...Ci Luci nggak apa-apa?” tanya Muamar ragu.
“Kamu ini gimana. Jangan pikirin aku! Kamu harus pikirin masa depan kamu dulu. Kamu masih muda, Mar. Apalagi kamu laki-laki. Kamu mesti bisa berdiri sendiri! “ dia berhenti sejenak, lalu, “...jangan kayak suamiku, laki-laki yang cuma bisa ngandalin istrinya, sudah begitu sia-siakan aku juga. Terima saja tawarannya!”
Muamar melihat dua ekspresi sekaligus di wajah Ci Luci. Bibirnya terkatup tegas; tanda dia berkeras dengan pendapatnya. Matanya berkaca-kaca; tanda sedih. Tapi nasihat Ci Luci benar. Ini kesempatan dia untuk mengubah hidup.
“Baik, Ci. Saya bakal kerja di sana. Dan pasti bayar tunggakan uang sewa kontrakan,” kata Muamar sambil balas menatap mata Ci Luci.
Keduanya segera membahas rencana selanjutnya. Muamar harus segera datang ke lokasi lahan perusahaan itu, yang berada di ujung provinsi, 100 km lebih dari kota tempat mereka berada. Lima jam naik mobil atau bus menempuh jalan daerah yang kondisinya kurang bagus. Dia diberi waktu sampai seminggu ke depan. Muamar berkata ke Ci Luci bahwa dia hanya perlu waktu sehari untuk beberes, jadi sebenarnya mau berangkat besok juga bisa.
“Tapi saya minta bantuan Ci Luci untuk pilihkan tanggal saya pergi,” kata Muamar. Ci Luci bertanya apakah dia perlu pamitan ke siapa-siapa. Tidak perlu, kata Muamar. Orangtua dan keluarga? Di provinsi lain, dan Muamar berencana baru mau menemui mereka kalau sudah cukup mapan. Ami? Muamar bilang, gampang. Siapa lagi?
“Paling-paling, Ci Luci,” kata Muamar. Jawaban yang membuat Ci Luci tersipu.
“Nanti kukasih tahu kapan kamu bisa pergi,” kata Ci Luci sambil meninggalkan kamar Muamar.

***

Tiga hari lagi, kata Ci Luci. Dan Muamar pun mempersiapkan kepergiannya. Dia mengemas semua barang—tidak banyak, satu koper besar sudah cukup.
Ami berkunjung sehari sesudah pengumuman itu datang, dan Muamar juga memberitahu dia. Ami mengucapkan selamat, lalu bertanya apa rencana Muamar selanjutnya. Muamar bilang dia akan pindah dalam beberapa hari. Ami tak bertanya apa-apa soal hubungan mereka. Seolah dia menganggap hubungan mereka sekadar akan berubah jadi LDR. Ya, mereka sempat bersetubuh juga hari itu. Tapi Muamar melakukannya setengah hati. Dia menyadari perasaannya ke Ami mulai terkikis. Muamar tak lagi membayangkan Ami ada pada masa depannya.
Hari pertama itu juga, Muamar tak dipanggil Ci Luci. Yang ada, dia malah melihat Ci Luci pergi keluar sendirian.
Hari kedua, Ci Luci juga pergi seharian. Namun sebelum pergi, Ci Luci mengetok pintu kamar Muamar dan mengatakan agar dia datang ke rumah sorenya. Muamar akan pergi pada hari ketiga, pagi, jadi dia pun tahu, itulah kesempatan dia mengucapkan selamat tinggal yang pantas kepada Ci Luci.

***

Sore itu Muamar sengaja berpakaian dan berpenampilan rapi. Dia mengetok pintu rumah Ci Luci dan induk semangnya itu membukakan pintu.
Dan saat itu Muamar terpukau. Ci Luci sepertinya benar-benar menganggap acara malam itu istimewa, berdasarkan usaha yang telah dia lakukan untuk mempercantik penampilannya. Dia mengenakan kimono sutra merah dengan sabuk yang membelit pinggang rampingnya. Tata rambutnya sempurna, rias wajahnya seolah mengurangi umurnya 10 atau 20 tahun. Jelas hasil kerja profesional—Muamar menebak Ci Luci didandani salon. Tubuh kecil Ci Luci tampak lebih tinggi; dia memakai sepatu hak tinggi, yang berbunyi ketuk ketuk menggoda selagi Ci Luci menggandengnya ke dalam rumah.
Tak seperti biasa, Ci Luci mengajak Muamar ke meja makan. Ternyata sudah ada hidangan tersedia di sana.
“Aku pikir kamu nggak merayakan ini sama siapa-siapa, jadi aku siapin aja buat kita rayakan sama-sama di sini. Belum makan kan? Ayo,” kata Ci Luci.
Belum pernah sekalipun Muamar diajak makan bersama oleh Ci Luci—walaupun Muamar sering kebagian cuci piring dan peralatan masaknya. Muamar duduk, dan Ci Luci langsung menimpali, “Tenang saja, ini semua kamu bisa makan kok, aku nggak masak yang kamu nggak boleh makan.”
Keduanya makan malam bersama sambil mengobrol. Muamar sempat mengungkit tunggakannya. “Ci, saya masih ngutang berapa bulan, ya? Mau saya lunasi sebelum pergi.”
“Tiga bulan,” kata Ci Luci. “Tapi... nggak usahlah. Anggap lunas.”
“Nggak, Ci,” balas Muamar. “Saya tahu ini sumber penghasilan Ci Luci, jadi saya tetap akan bayar.”
“Kamu sekarang perlu bekal buat di sana, hari-hari pertama pasti kamu belum digaji kan? Kalau kamu punya uang, pakai buat di sana saja,” tolak Ci Luci. Tapi Muamar bersikeras tetap ingin membayar. Akhirnya Ci Luci menawarkan, “Begini. Kamu bayar kalau sudah gajian. Tapi nggak usah buru-buru, yang penting uangmu cukup dulu. Sebulan, tiga bulan lagi, setahun lagi, nggak apa-apa.” Muamar mengangguk setuju.
Selesai makan, Ci Luci meminta Muamar menunggu di sofa di ruang tengah. Dia pergi ke dalam kamarnya.
Cukup lama, Ci Luci baru muncul kembali, membawa kado. “Ini hadiah buat kamu,” katanya. Tapi Muamar kurang memperhatikan itu. Dia lebih memperhatikan penampilan Ci Luci. Rias wajahnya berbeda sedikit—bibirnya diwarnai lipstik merah berkilau. Kimononya pun telah dilepas, berganti lingerie tipis, macam yang biasa dilihat di majalah laki-laki dewasa atau film biru. Cukup untuk membuat kejantanan Muamar berontak dalam celana. Ci Luci terlihat seksi!
“Buka kadonya,” perintah Ci Luci. Muamar membukanya: Ci Luci menghadiahi kemeja dan celana panjang.
“Dicoba ya... aku pengen tahu ukurannya pas atau tidak,” kata Ci Luci.
“Sekarang?” tanya Muamar. “Di sini?”
“Iya,” kata Ci Luci. Muamar melihat induk semangnya tersenyum nakal. Dan dia menanggapi dengan mulai membuka bajunya. Lalu celananya. Lalu dia memakai kemeja dan celana panjang hadiah Ci Luci.
“Pas, Ci. Terima kasih...!” kata Muamar. “Tapi ini aku lepas lagi ya...”
Dan Muamar pun melepas kembali pakaian barunya, sehingga dia akhirnya berdiri hanya bercelana dalam di depan si induk semang.
Ci Luci menyuruh Muamar duduk di sebelahnya di sofa, dan setelah duduk, Ci Luci mencium bibir Muamar. Sambil merebahkan diri Ci Luci menarik Muamar sehingga tubuh Muamar berada di atas tubuhnya, lidah keduanya bergulat dalam nafsu. Nafas Ci Luci memburu dan dia menekan bahu Muamar, memberi tanda supaya Muamar bergeser ke arah bawah tubuhnya. Muamar mencium leher Ci Luci, lalu dada, perut, turun terus sampai gundukan selangkangan di balik celana dalam. Kedua paha Ci Luci merenggang; dia memerintahkan, “Jilat.”
Muamar membuka celana dalam Ci Luci dan mengungkap kewanitaannya. Satu lagi persiapan Ci Luci: vaginanya telah bersih dari rambut dan berbau wangi. Seolah menunggu mulut Muamar.
Ketika Muamar menjilati kemaluan Ci Luci, perempuan itu tak bisa diam; dia mencengkeram rambut Muamar dan pinggulnya bergerak-gerak tak terkendali selagi lidah Muamar menyerang celah lembabnya. Bunyi nafas Ci Luci makin keras, dan makin dekat ke orgasme. Muamar makin giat mendengar itu. Dan orgasme pertama malam itu dialami Ci Luci.
Sesudah orgasmenya reda, Ci Luci kembali berdiri lalu menggandeng Muamar. Dia membawa Muamar ke kamar mandi. Di sana dia melepas celana dalam Muamar, lalu seluruh bajunya sendiri, menyalakan shower, dan menyuruh Muamar diam saja sementara dia memandikan Muamar. Tidak benar-benar memandikan seluruh tubuh; Ci Luci fokus membersihkan dan menyabuni tubuh Muamar dari perut ke bawah, depan belakang. Dan tentu saja reaksi Muamar seperti biasa: kejantanannya mengeras ketika disentuh dan dirangsang seperti itu. Melihat Ci Luci telanjang bersamanya di kamar mandi... dan harus diakui, nafsunya sekarang mengarah ke sosok perempuan setengah baya itu. Adegannya seperti adegan film porno. Ci Luci telanjang namun sengaja tidak membasahi diri, apalagi muka, sehingga riasannya tetap sempurna. Namun seluruh tubuhnya yang putih terpampang jelas bagi Muamar.
Dan bukan hanya selangkangan bagian depan yang Ci Luci bersihkan, melainkan sampai kedua paha Muamar, juga pinggul dan pantatnya sampai belahan. Sesudahnya Ci Luci menghanduki tubuh Muamar sampai kering dan menggandengnya keluar dari kamar mandi. Pindah ke kamar tidur Ci Luci, dan Ci Luci menunjuk ranjang. Disuruhnya Muamar berbaring di sana.
Ci Luci melirik ke penis Muamar yang sudah berdiri dengan setetes cairan bening meleleh dari ujungnya. Segera dia berlutut dan membungkuk untuk melahap batang Muamar. Kepalanya mengangguk naik turun dan tangannya mengocok pangkal. Dari sudut pandangnya, Muamar melihat kedua pahanya membingkai wajah cantik Ci Luci. Lalu Ci Luci berbuat sesuatu yang belum pernah dia lakukan. Dia melepas kulumannya lalu beralih mengemut-emut biji Muamar, bibir merahnya menyedot kantong kulit itu. Ci Luci tersenyum nakal, kemudian menurunkan wajahnya sehingga Muamar tinggal melihat dahi putih dan alis hitam di balik ereksinya—dan merasakan lidah Ci Luci menggelitik lubang anusnya.
“Ohh?!” Muamar kaget dengan aksi Ci Luci, namun ternyata itu enak bagi dia. Tusukan dan sapuan lidah Ci Luci di duburnya sungguh menggoda dan merangsang. Apalagi dengan tangannya yang bebas Ci Luci juga mengocoki kemaluannya. Benar-benar nikmat tak terduga bagi Muamar, dia tak menyangka Ci Luci mau melakukan rimming yang biasanya dianggap banyak perempuan menjijikkan. Satu menit dibegitukan, penis Muamar sudah sangat keras dan siap meledak. Ci Luci naik kembali dan menciumi batang Muamar.
Lalu Ci Luci naik ke atas tubuh Muamar, mengangkangi selangkangannya. Tangannya menggenggam kejantanan muda Muamar lalu mengarahkannya masuk. “Aku pengen dimasukin kamu... siapa tahu ini terakhir kali,” kata Ci Luci. “Dan aku mau kamu penuhin rahimku pakai crotnya kamu...”
Kemudian tampilan luar Ci Luci yang tegas dan keras itu terkelupas. Ketika keduanya bersatu, bersetubuh, Ci Luci seperti beralih ke kondisi purba, penuh nafsu. Dia meringis dan mencengkeram Muamar sekuat tenaga.
“Ahh--... Aaahhh!!!” Orgasme. Saking terangsangnya Ci Luci, dia langsung klimaks ketika tusukan Muamar mentok memenuhi kewanitaannya.
“Apa... Ci Luci dapat lagi?” tanya Muamar.
“Urh... haahhh... kontol kamu gede dan enak banget! Jangan buru-buru keluar ya... Aku pengen dibikin enak lagi!” Ci Luci mulai menggerakkan pinggulnya, memompakan vaginanya sepanjang batang Muamar, menyetubuhi dengan gencar. Kuku-kukunya yang dicat merah mencengkeram dada Muamar selagi keringat menetes dari mukanya. Ci Luci bergerak liar menunggangi Muamar. Muamar belum pernah melihat Ci Luci menggila seperti itu. Kemesumannya membuat Muamar tak tahan.
Muamar berteriak, “Ohh... Ci! Aku keluar!!”
“Aah... Iya! Keluarin di dalam aku! Agh banyak banget!” seru Ci Luci.
“Ahh ngilu Ciii...” kata Muamar karena Ci Luci terus menggoyang.
“Lagi... lagi! Crotin yang banyak dalam memekku!” pinta Ci Luci.
“Argh... ahh...” Muamar hanya bisa mengerang.
Orgasme Muamar mereda. Ci Luci berbaring di atas tubuhnya. Wajah keduanya berdekatan, Muamar sampai bisa melihat lapisan tebal bedak yang membuat wajah Ci Luci tampak jauh lebih mulus malam itu.
“Aku nggak mau cuma sekali...” kata Ci Luci manja. “Puasin aku terus semalam ini...”
Sesudah beristirahat sebentar, Ci Luci kembali berusaha menggoda kejantanan Muamar. Keduanya berbaring miring berhadapan. Muamar memandangi Ci Luci. Rambut pendek Ci Luci yang mulai berantakan, senyum lebarnya yang kini sering Muamar lihat, mata sipitnya yang membalas tatapan Muamar.
“Eh kamu nungging deh,” usul Ci Luci. “Tenang... nggak bakal aneh-aneh.” Muamar berposisi seperti yang diusulkan. Ternyata itu karena Ci Luci tadi sudah menemukan titik sensitif Muamar di pantatnya dan Ci Luci ingin merangsangnya lagi. Lidah Ci Luci kembali bermain-main, melakukan rimming sambil mengocok kejantanan Muamar, merangsang Muamar dengan cara yang berani. Ci Luci tahu Muamar menyukainya karena kemaluan Muamar keras lagi.
Akhirnya Muamar tak tahan dan berubah posisi. Dia berdiri di belakang Ci Luci, merangkul dan meremas payudara si induk semang. Ereksinya digesek-gesekkan di pangkal paha Ci Luci, menggoda klitoris. Ci Luci mendesah-desah.
“Ahhn jangan godain aku Mar...” tolaknya, tapi Muamar tahu itu setengah hati. “Kontol kamu... ah enak di itilku... jangan digesekk... Ah ga tahan... jangan godain aku... cepetan masukin... cepetan entot... perkosa aku Mar... entot aku pakai kontol gede kamu...”
Muamar mengarahkan kepala penisnya ke rekahan kewanitaan Ci Luci dan mendorong masuk. Batang tebal itu terus menekan dinding-dinding yang menjepitnya, sampai akhirnya masuk semua. “Aaa... aaa....” Ci Luci mengerang, matanya membelalak. Muamar menarik ke belakang pelan-pelan, lalu mendorong pelan-pelan juga. Dalam satu kesempatan sebelumnya Ci Luci pernah bilang dia lebih suka Muamar pelan-pelan, karena ukurannya besar. Namun yang jelas punya Muamar lebih terasa daripada punya suaminya.
Digenjot pelan begitu pun luar biasa rasanya bagi Ci Luci, yang terengah-engah keenakan. Muamar memeluknya dari belakang lalu menegakkan tubuhnya—dan berusaha menggeser posisi mereka berdua, tanpa mencabut kejantanannya dari dalam Ci Luci. Mereka bergeser sampai berada menghadap cermin rias besar Ci Luci.
Di cermin besar itu, tampak bayangan sepasang manusia yang kontras. Yang laki-laki masih muda, bertubuh besar, berkulit gelap. Yang perempuan sudah setengah baya, bertubuh kecil, berkulit putih. Ci Luci merangkul ke belakang, menarik kepala Muamar agar menciumi lehernya. Dia melihat wajahnya sendiri yang penuh nafsu, kerut-kerut di tubuhnya, kontras dengan kulit Muamar yang masih kencang. Ci Luci melihat sendiri semua ekspresinya, senang, sakit, enak, ketika Muamar mengaduk-aduk tubuhnya luar dalam dengan batang di kemaluannya.
Rasa gairah yang kuat kembali melanda Ci Luci. Dia tahu Muamar juga mulai tak tahan—dia bisa lihat ekspresi Muamar di cermin—dan berharap Muamar segera klimaks di dalam seperti tadi. Batang keras besar itu terasa hangat...
Tapi Muamar menahan, dan malah mencabut penisnya!
“Aaa~!” Ci Luci merajuk kesal, dia nyaris orgasme namun gagal. Namun sebelum dia protes lebih lanjut, dia digiring Muamar kembali ke ranjang lalu direbahkan telentang. Rupanya Muamar ingin ganti posisi, kali ini dia buat Ci Luci telentang dan mengangkang. Muamar mempenetrasi Ci Luci sekali lagi, memanfaatkan posisi di atas untuk menyodok sangat dalam, menusukkan seluruh panjang kejantanannya sampai Ci Luci terbelalak.
Muamar melakukan itu karena dia suka melihat ekspresi Ci Luci ketika disetubuhi, melihat si induk semang menggeliat dan meracau ketika digenjot lebih keras.
“AH.... AHN... AMPUN... ENAK... MAR... KENCENG... GEDE... AMPUN! MAAR!!” Ci Luci berteriak-teriak ketika Muamar menggenjot sekencang-kencangnya. “AGH... ENAK... GAK KUAT... AAA!!” jeritnya ketika tak kuasa menahan orgasme, kesekian kalinya malam itu.
Lalu Ci Luci tahu Muamar akan klimaks juga. Ci Luci merasa kejantanan Muamar memanas dan mengeras dalam vaginanya. Muamar mendelik dan mengerang. Ci Luci menjepit erat-erat. Muamar menusuk dalam-dalam, akan mengeluarkan benihnya. Ci Luci menyemangatinya, “Ayo... keluarin semua di dalam... keluarin yang banyak biar enak... penuhin memekku sama peju... hamilin aku... aku nggak peduli!”
CROTT! Penis Muamar muncrat di dalam. Begitu keras semburannya, terasa oleh Ci Luci. Selagi Muamar mengeluarkan sambil menggenjot, Ci Luci merasakan ruang kemaluannya penuh dan basah, dan sebagian sampai meleleh keluar. Muamar sampai merasa seisi bijinya terkuras di dalam sana. Ci Luci menahannya di dalam. Muamar tidak mencabut sampai beberapa lama, sampai kemaluannya yang melemas keluar sendiri.
Muamar menikmati setiap saat mereka bersama, setiap tatapan mata sipit Ci Luci, setiap sentuhan, setiap semerbak wangi tubuhnya, setiap perintah dari induk semangnya.
Keduanya saling peluk di atas ranjang, beristirahat. Seperti biasa, Ci Luci selalu ketiduran duluan, fisiknya memang lebih lemah apalagi sesudah persetubuhan yang intens dengan Muamar.
Hanya satu yang mengganggu kebahagiaan Muamar dan Ci Luci, yaitu hari esok.

***

Esoknya Muamar berangkat sendirian, dilepas Ci Luci dengan ekspresi tegar. Tak banyak kata terucap.
Muamar langsung sibuk dengan pekerjaan barunya. Lokasi yang terpencil membuat sinyal telepon seluler sulit di sana, sehingga Muamar pun jarang berkomunikasi ke luar. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan barunya, mengurusi perkebunan. Membangun masa depan.

***

Enam bulan kemudian...

Akhirnya Muamar mendapat cuti seminggu, sesudah bekerja cukup lama. Dia bisa menabung gajinya, karena sebagian besar kebutuhan di perkebunan sudah tersedia seperti pondokan dan makanan, biarpun sederhana. Selain mengirim ke orangtuanya, ada satu lagi kewajiban yang dia ingin penuhi: utang uang sewa kamarnya tiga bulan ke Ci Luci. Yang satu itu, dia ingin berikan sendiri.
Maka itu Muamar pun pulang membawa uang untuk membayar tiga bulan sewa, menempuh seratus kilometer lebih. Jalan kembali membawanya melewati toko loak Ci Luci lebih dulu. Toko itu tutup namun di luar bangunannya ada segel bertuliskan “Disita oleh bank”...
Muamar menahan nafas ketika mengetok pintu rumah Ci Luci. Dia tidak bilang-bilang dulu akan datang.
Ci Luci membuka pintu. Dan Muamar terkesiap.
Ci Luci berdiri di depannya, tersenyum, mengelus perut yang besar karena hamil.


TAMAT
Author : Ninja Gaijin

2 komentar: