Selasa, 28 November 2017

Misteri Ratu Mantera 5



Langit sore cukup cerah. Tanggal muda merupakan hari cukup cerah buat kebanyakan orang. Mall dipenuhi pengunjung. Dua di antara pengunjung mall itu adalah si cantik Quida dan si tampan Fran. Cukup banyak barang belanjaan mereka berdua, karena Fran sengaja menyiapkan anggaran untuk beberapa kebutuhan Quida. Termasuk beberapa potong pakaian dan peralatan make-up.
Wajah cantik Quida sudah tidak cemberut lagi. Tadi malam wajah itu murung dan cemberut. Hampir saja Fran gagal menahan kesewotan Quida, ia bahkan tak menyangka gadis itu semalam ingin kabur dari rumahnya. Kalau saja waktu itu Febbi tidak memergoki di depan teras, mungkin Quida sudah pergi dan Fran akan kehilangan gadis itu.

Febbi pulang dari rumah Salza sekitar pukul sembilan malam. Ia berusaha tetap menjalin persahabatan dengan Salza, walaupun sejak peristiwa ular bayangan itu Salza sudah tidak mau lagi datang ke rumah Febbi. Bahkan tak ingin bertemu dengan Fran lagi. Simpatinya terhadap Fran terkikis habis lantaran kebenciannya kepada Quida. Tapi Febbi berusaha untuk tetap menjalin persahabatan dengan Salza meski tidak seindah dulu lagi.
Ketika pulang dari rumah Salza, Febbi terkejut melihat Quida tampak bergegas keluar dari rumah. Gadis itu mengenakan gaun lamanya, yaitu gaun putih yang sudah robek sebagian, yang dulu dikenakan saat ia ditemukan Fran pertama kalinya. Melihat keadaan itu, Febbi mencoba menegur Quida dengan hati-hati.
“Kau mau ke mana?”
Tetapi Quida hanya menjawab dengan sepatah kata, “Pergi.”  Sambil wajahnya cemberut seperti menahan kemarahan.
“Eh, jangan pergi sekarang. Tunggu kak Fran pulang.”
“Nggak usah.”
“Memangnya kamu sudah bilang sama kak Fran kalau mau pergi?”
“Nggak perlu,”
“Idiih, kok gitu sih? Nanti aku yang kena marah lho. Memang mau pergi ke mana sih?”
“Pergi aja, kemana saja.”
Dengan penuh hati-hati sekali Febbi membujuk, akhirnya berhasil membuat Quida kembali duduk di sofa tamu. Fran belum pulang dari kantor. Tadi ia berpesan kepada adiknya dan mak Jumi untuk menjaga serta menemani Quida agar jangan sampai gadis itu merasa kesepian.
Di hati kecil Febbi memang ada rasa bersalah, meskipun ia juga punya pembelaan pribadi. Ia punya alasan sendiri mengapa ia tinggalkan Quida untuk pergi ke rumah Salza. Tetapi karena ia tahu persis tabiat kakaknya yang tidak bisa menerima alasan yang dimilikinya saat itu, maka Febbi harus berusaha semaksimal mungkin untuk menahan kepergian Quida. Ia coba mengajaknya bicara, memancing memecahkan persoalan yang ada di benak Quida.
“Aku kesal!”
“Kesal sama siapa?” tanya Febbi. “Sama diriku?”
“Bukan,” Quida menggeleng.
“Sama kak Fran?”
“Bukan!”
Febbi menarik napas menahan kesabarannya. Ia tahu, ada sesuatu yang tak ingin dikatakan Quida di depannya. Ia harus menghubungi Fran secepatnya sebelum Quida lebih ngotot lagi ingin kabur dari rumah. Hanya saja, sewaktu Febbi mengambil hapenya, tahu-tahu mobil Fran sudah muncul. Membunyikan klakson, minta dibukakan pintu pagar oleh mak Jumi. Hati Febbi merasa lega melihat kedatangan kakaknya. Quida tetap duduk di tempat, sementara Febbi segera menyambut kedatangan kakaknya di serambi samping.
“Quida mau kabur!” katanya langsung tanpa menunda-nunda.
“Hah, mau kabur? Memangnya kenapa?”
“Nggak tau tuh,” Kini ganti Febbi yang cemberut. Biasa, dia selalu pasang muka asam lebih dulu sebelum nantinya kena marah kakaknya. Tapi agaknya Fran menyikapi hal itu dengan tenang. Ia hampiri Quida di ruang tamu, ia tampakkan kelembutan dan perhatiannya dengan kesabaran yang dalam.
“Kenapa, Qui?”
“Aku mau pergi!”
“Pergi ke mana?”
“Ke mana saja,”
Fran mengajaknya tertawa walau sedikit sumbang. Quida tak mau ikut tertawa, dia malah menatap Fran dengan cukup tajam. Fran sempat salah tingkah sesaat, namun berhasil membujuk Quida agar balik ke kamarnya. Di dalam, Quida langsung menghempaskan badan duduk di salah satu kursi sudut. Masih cemberut dan bersungut-sungut.
“Kamu ini kenapa sih sebenarnya, Qui? Apa yang membuatmu marah dan ingin pergi? Katakan saja, apa penyebabnya?”
“Ada pihak yang nggak suka dengan kebersamaan kita. Daripada aku selalu diganggunya, lebih baik aku pergi darimu.”
“Siapa?” tanya Fran heran. “Siapa yang nggak suka dengan kebersamaan kita? Bukankah masalah Salza sudah klir dari kemarin-kemarin,”
“Bukan Salza.”
“Lalu siapa?”
“Teman dekatmu.”
Fran diam berkerut dahi, akhirnya mengerti maksud Quida. “Handre, maksudmu?”
“Ya. Dia nggak suka kalau aku dekat dengan kamu.”
Fran mencoba untuk tertawa, mengalihkan prasangka tersebut. Tapi agaknya Quida tak suka mendapat tanggapan seperti itu, sehingga ia bicara lebih ketus lagi.
“Aku serius, Fran! Dia nggak suka padaku. Dia ingin kau menjauhiku! Sebelum kau menjauhiku, lebih baik aku dulu yang menjauhimu.”
“Sudah, sudah... itu cuma perasaanmu saja, Qui. Handre nggak begitu kok. Aku tahu persis tentang dia.”
“Tapi buktinya dia minta bantuan iblis untuk menyelidiki diriku dan kalau bisa juga ingin mengusirku dari dirimu.”
Fran menatap tajam. “Dia minta bantuan iblis? Ah, yang benar saja kau! Apa maksudmu meminta bantuan iblis itu?”
“Dia mengirim kekuatan iblis kemari.”
“Kapan?”
“Tadi. Belum lama ini.”
Fran tertegun menyangsikan kata-kata Quida.
“Seorang wanita yang menggunakan kekuatan iblis berusaha memasuki relung pribadiku. Tapi untung aku berhasil menangkalnya. Aku bahkan berhasil memberi pelajaran kepada iblis pecundang itu.”
“Benarkah?”
“Teleponlah dia sekarang juga. Tanyakan di mana dia saat ini.”
Quida menatap tajam, membuat Fran akhirnya menuruti perintah itu. Ia menelepon Handre. Akhirnya diketahui bahwa Handre berada di rumah paranormal seksi, Nyi Danti. Handre dalam keadaan tegang dan secara tak sadar telah nyerocos sendiri, menceritakan kejadian ngeri yang dialami Nyi Danti. Kondisi tubuh perempuan itu yang memar membiru serta nyaris lumpuh total juga ikut diceritakan.
“Tapi aku tadi diminta menelepon seorang rekannya. Sekarang dia sedang ditangani oleh dua orang rekannya yang... yang... agak aneh juga, Fran. Mereka berdua mengenakan kacamata hitam walau berada di dalam rumah dan di tempat yang remang-remang. Mereka nggak mau melepas kacamatanya. Bicara pun hanya sepatah dua patah kata saja, nggak mau banyak bicara. Kelihatannya dua lelaki berpakaian serba hitam itu punya ilmu juga yang lebih tinggi dari ilmunya Nyi.”
“Hentikan tindakanmu!” tegas Fran sambil menahan kemarahan dalam hatinya. “Pergilah dari situ, Han! Pulanglah. Lekas!”
Sebelum mendapat jawaban, telepon dimatikan. Fran menghembuskan napas panjang-panjang, membuang kedongkolan dalam hatinya. Ia tak dapat berkutik, karena apa yang dikatan Quida memang benar adanya. Ia merasa perlu bersikap sportif di depan Quida.
“Benar apa katamu. Handre meminta bantuan pada paranormal kenalannya yang bernama Nyi Danti.”
“Sekarang kau percaya, bukan?”
“Ya, aku percaya padamu. Tapi, darimana kau tahu kalau dia melakukan hal itu, Qui?”
Quida tidak menjawab langsung. Tapi raut wajahnya sudah tidak semurung tadi, kecemberutannya sudah sangat menipis. Tampaknya ia lega dan merasa senang karena kebenaran kata-katanya diakui oleh Fran. Kini ia melepas perhiasannya. Perhiasan itu adalah yang dikenakan sewaktu ia ditemukan oleh Fran. Rupanya Quida bermaksud membawa barang miliknya sendiri apabila harus berpisah dari Fran. Selama ia masih berada di rumah ini, ia tidak mengenakannya.
Diam-diam Fran pun merasa lega melihat Quida melepas perhiasannya, itu berarti Quida tak jadi pergi. Dihampirinya si cantik bermata indah ini, yang kini duduk di bangku rias, menghadap ke cermin bundar besar. Fran sengaja memegang pundak Quida dari belakang, dan menatap lewat pantulan cermin.
“Aku ingin tahu, darimana kau bisa mengetahui kalau Handre meminta bantuan Nyi Danti untuk menyelidiki dirimu? Bolehkah aku tahu hal itu, Qui?”
“Aku menerima sinyal gaib darinya.”
“Sinyal gaib?”
“Gelombang energi, kalau menurut bahasamu.”
Agak aneh bagi Fran mendengar kata-kata itu. Mengapa Quida harus menggunakan istilah ‘menurut bahasamu’? Apakah ia punya bahasa sendiri yang berbeda dengan bahasa lainnya?
“Gelombang energi itu adalah sinyal gaib yang dapat kurasakan dari seluruh auraku.”
“Aura?” gumam Fran lirih.
“Dengan sebuah mantera aku mengejar sinyal gaib itu, lalu dengan sebaris mantera lain aku menghajarnya.”
Fran semakin tertegun. Quida berdiri, kini berbalik menatap Fran. Jaraknya sangat dekat. Tangan Fran masih memegangi lengannya. Masih seperti orang terbengong akibat mendengar kata-kata mantera tadi.
“Fran,” suara Quida sangat merdu dan pelan sekali. “Benarkah kau tak ingin aku pergi darimu?”
“Ya, aku tak ingin.” Fran membalas dengan suara lirih. Kedua matanya beradu pandang dengan lembut dan penuh arti.
“Kenapa kamu tak ingin aku pergi darimu?”
“Entahlah,” jawab Fran setelah diam selama lima detik.
Lalu keduanya saling bungkam lagi, cukup lama kebisuan mereka tercipta. Bagi Fran, tatapan mata lembut Quida telah menyandera seluruh keinginannya untuk bicara lewat mulut. Kini yang bicara adalah hati kecil Fran. Dia mengagumi, menyanjung, dan mengakui semua keindahan yang dimiliki Quida secara fisik. Fran tak tahan melihat keranuman bibir sensual Quida yang amat menggoda itu. Gemetar hati kecilnya. Gemetar pula tangannya, sehingga tak mampu menggenggam erat lengan Quida. Tatapan mata Quida bagaikan magnit yang memiliki daya tarik sangat besar.
Itulah sebabnya tanpa sadar Fran mendekatkan wajahnya perlahan-lahan. Quida membiarkan napas Fran semakin menghangat di sekitar hidungnya. Quida justru memejamkan mata perlahan-lahan. Dan saat itu Fran bagaikan terbang melayang-layang dalam keindahan jiwa. Bibirnya telah menempel di bibir Quida, kemudian lidahnya menerobos barisan gigi indah gadis itu.
Quida balas memagutnya. Fran menjadi semakin berkobar dalam hati, sehingga bibir itu dilumatnya dengan lembut. Quida membalas lumatan itu dengan tarian lidah yang luar biasa nikmatnya, sehingga Fran sulit untuk menyudahi kemesraan itu. Penisnya langsung menegang. Dan setan pun masuk ke otaknya, dia melihat Quida bagai seorang bidadari. Segera ia memeluknya.
"Maafkan aku, Qui. Tapi aku tidak tahan lagi!" kata Fran, tangannya mulai meremas-remas bongkahan payudara Quida dengan begitu lembut.
"Fran... ooghhh, Fran!" Tubuh Quida gemetar ketika Fran menciumi lehernya dan menghisapnya dalam-dalam. Tanpa sadar tangannya menyentuh kepala penis pemuda itu. Penis yang sudah tegang itu dipegangnya, lalu diusap-usap hingga jadi semakin tegang lagi, lebih keras dari sebelumnya. Kemudian Quida mengocoknya lembut.
"Kamu ingin ini kan?" dia bertanya.
Fran mengangguk.
"Lepaskan aku sebentar." Quida meminta.
Fran melakukannya, dia melonggarkan pelukan. Quida berbalik, tinggi mereka hampir sama, tapi Fran lebih tinggi sedikit. Mata Quida menatapnya lekat-lekat.
"Fran, aku mengakui juga memiliki hasrat kepadamu. Aku tidak akan bohong, aku merasa nyaman bersamamu. Tapi, aku takut untuk menjalin hubungan dengan lelaki," kata Quida sambil terus mengocok lembut penis Fran yang sudah menegang maksimal.
Fran semakin keenakan, tak hirau dengan apa yang diucapkan oleh Quida. Tapi ketika ia melihat gadis itu berlutut di hadapannya dan mulai menciumi kepala penisnya, Fran baru yakin kalau ini bukanlah mimpi. Quida mengoral penisnya.
"Oh, Qui," rintihnya.
"Aku akan memberikan sesuatu yang sudah engkau nantikan sedari dulu," kata Quida, mulai menjilati kepala penis Fran. Lubang kencing Fran dijilatinya pelan. Kedua tangannya juga aktif, yang satu meremas-remas telur, yang
satunya lagi mengocok-ngocok batang. Penis Fran yang sudah tegang jadi semakin kaku saja.
"Qui... enak sekali," Fran merintih.
Lidah Quida menjelajahi seluruh permukaan penisnya. Gadis itu menjilati bagian pinggir, lalu mencucup keras kepala penis, sebelum kemudian seluruh
batang Fran dijilatinya rakus. Kepala Quida mulai bergerak maju mundur. Penis Fran yang besar dan panjang terasa semakin masuk ke tenggorokan. Quida menghisap dengan kuat, membikin Fran jadi lemas. Lemas karena keenakan.
Quida juga mengusap-usap perut, sesekali meremas-remas pantat. Tangan Fran pun secara otomatis meremas rambutnya, dia tak tahan menghadapi lidah Quida yang menari-nari mengitari kepala penisnya. Fran benar-benar keenakan.
"Qui... ohh... enak sekali! Sudah! A-aku... mau... keluaaaaarrrr... AAAAHHHH!" Spermanya tak bisa ditahan lagi. Quida semakin cepat memaju-mundurkan kepalanya, penis Fran seperti ingin meledak dan SRETTT... CROOOTTT... CROOOOTTT... entah berapa kali Fran menekan penisnya ke kerongkongan Quida, bahkan sampai gadis itu agak sedikit tersedak. Sperma Fran banyak sekali muncrat di dalam mulutnya.
Quida mendiamkan sebentar. Ia lalu menyedot lagi hingga sperma Fran tidak ada yang keluar. Quida menengadahkan kepala, dan tersenyum manis saat menelannya.
"Enak, Fran. Aku suka rasa spermamu." Quida lalu berdiri, menyadari kalau penis Fran masih tegang, tidak mengendur sedikit pun. "Ih... masih ingin lagi?" katanya sambil menyentil penis itu.
"Habis, kamu cantik dan montok sekali, Qui," kata Fran tersenyum. Dibelainya tubuh mulus Quida, dadanya ia pijat-pijat halus, putingnya ia pelintir-pelintir gemas.
Quida mencubitnya. "Kamu nakal, Fran! Aku jadi terangsang. Sebentar, sabar dulu," katanya.
Tapi Fran tak peduli. Dipagutnya bibir Quida lembut, kemudian ia menetek kepada gadis itu. Rakus Fran menghisapi kedua puting Quida yang mungil kemerahan secara bergantian.
"Ughhh, Fran!" Quida menggelinjang. Sekarang ciuman Fran turun ke perut, lalu ke tempat pribadinya. Tapi saat akan dipegang...
Tok, tok, tok!
“Kak Fran...”
Suara ketukan pintu berbarengan dengan suara Febbi memanggil nama kakaknya. Suara tersebut membuat keromantisan yang sedang berlangsung menjadi buyar seketika. Keduanya saling melepaskan diri. Fran buru-buru mengenakan pakaian dan membuka pintu agar tak dicurigai macam-macam. Begitu pula dengan Quida. Begitu kepala Febbi muncul, mereka sudah rapi kembali.
“Ada apa?” tanya Fran pada adiknya.
“Voucher titipanku tadi mana, Kak? Udah dibeliin apa belum?”
“Hmm...” Fran nampak berpikir. “Oh, ketinggalan di dashboard mobil. Ambil sendiri sana!”
Febbi pergi. Meski hanya sebentar, tapi kehadiran gadis itu telah menetralkan suasana romantis tadi. Untuk membangun lagi membutuhkan waktu dan mood yang berbeda. Akhirnya mereka putuskan untuk berhenti sampai di situ dulu.
“Besok kita belanja ke mall. Kamu butuh beberapa pakaian dan barang-barang lainnya untuk kepentingan pribadimu.”
“Benarkah?” Quida tersenyum.
“Besok aku hanya ngantor setengah hari. Aku akan langsung pulang.”
“Sungguh? Kau janji akan membawaku jalan-jalan?”
“Aku janji!” Fran menganggukkan kepala, dan Quida seperti ingin bersorak girang, namun sengaja tak diumbar seluruhnya. Ia hanya memeluk Fran, dan memberi ciuman di pipi pria tampan itu.

***

Keluar dari mall, hari sudah redup menjelang petang. Fran belum ingin membawa Quida pulang. Quida setuju ketika Fran mengusulkan untuk singgah di sebuah restoran yang menjadi langganan makan siangnya.
“Mau pesan apa?” Fran bertanya sambil membuka-buka menu hidangan yang tersedia di setiap meja.
“Apa di sini ada hidangan flifion?”
Dahi Fran berkerut, matanya menatap heran kepada Quida. “Flifion? Hidangan apa itu?”
“Hmm, oh... bukan, bukan. Maksudku... nggak usah. Nggak jadi.” Quida sedikit menggeragap, senyumnya terkesan salah tingkah.
“Baru sekarang kudengar hidangan bernama Flifion. Masakan ala mana tuh? Perancis? Italia? Atau...”
“Mesir kuno,” jawab Quida, lalu disusul dengan suara tawa yang renyah dan berkepanjangan. Akhirnya Fran pun tertawa mendengar kelakar Quida yang cukup unik, menurutnya.
“Apa yang kamu suka, aku akan suka.” kata Quida kemudian.
“Aku mau makan steak.”
“Aku juga mau steak.”
“Kok ikut-ikutan sih?”
“Karena aku selalu ingin ikut kamu.” jawab Quida, membuat hati Fran berdesir indah walau ia berlagak hanya tersenyum kecil setengah mencibir.
Baru saja pelayan selesai mencatat pesanan Fran, raut wajah Quida tiba-tiba mengalami perubahan. Keceriaannya bagaikan surut mendadak. Fran belum mencurigai hal itu, ia masih ingin mengajak Quida bicara sesuatu yang dapat membuat hatinya berbunga-bunga. Namun agaknya Quida sudah lebih dulu berhasil merubah suasana menjadi kaku.
“Makan di tempat lain aja, yuk?” ajaknya.
“Kenapa?” Fran memandang bingung.
“Nggak apa-apa. Pindah saja dari sini.”
Fran heran melihat Quida tampak ingin berkemas. “Hei, kenapa kau ini? Restoran ini punya hidangan yang cukup enak. Banyak yang menyukai masakan di sini. Kamu belum mencicipi sudah mau pindah tempat, bagaimana sih? Cicipi dulu dong!”
Quida menarik napas dalam-dalam, tak jadi berkemas. Tapi tampak menahan kedongkolan dalam hatinya, membuat Fran semakin heran. Apalagi Quida kini melirik ke sana-sini dengan kesan curiga.
“Ada apa sebenarnya?” Fran berbisik.
“Kamu benar-benar sering makan di sini?”
“Hampir dua tahun aku selalu makan siang di sini, kecuali hari libur atau ada tugas ke luar kota. Memangnya kenapa?”
“Pemuda yang jadi pelayan tadi... apakah kau kenali dia?”
“Hmm, sepertinya dia pelayan baru. Memang sejak kemarin-kemarin aku belum pernah melihat dia melayani tamu di sini. Mungkin dia memang pelayan baru.” Fran berbisik menambahkan, “Memangnya kenapa?”
“Kita terjebak di sini.” terang Quida.
“Terjebak bagaimana?” Fran bertanya tak mengerti.
“Aku yakin dia bukan pelayan di restoran ini.”
“Ah, pikiranmu yang bukan-bukan saja, Qui. Darimana kamu bisa tahu kalau dia bukan pelayan di sini? Seragamnya saja sama dengan pelayan lainnya.”
“Buktikan saja nanti.” Quida tersenyum misterius.
Sambil menunggu pesanan datang, Fran mencoba mengarahkan jalan pikiran Quida agar tidak terlalu berburuk sangka terhadap orang yang belum pernah dikenalnya. Fran mengharapkan Quida berpikiran jernih. Jangan banyak berkhayal tentang sesuatu yang bersifat mistik.
Dan, sikap Quida saat itu diam saja. Tak mau banyak komentar. Tapi juga terkesan meremehkan saran dan pandangan pribadi Fran. Sampai akhirnya pesanan mereka siap dihidangkan. Pelayan muda berkulit bersih yang diperkirakan berusia 24 tahun itu datang menghidangkan berbagai macam pesanan mereka tadi.
Quida memandangi terus si pelayan. Tampaknya pemuda itu menjadi serba salah dipandangi dengan tatapan mata kurang bersahabat dari Quida. Sampai pelayan itu selesai dengan tugasnya dan pergi meninggalkan meja mereka, lirikan mata Quida masih mengikutinya.
“Ssst...” tegur Fran. “Sudahlah, jangan bersikap begitu. Nggak enak sama pengunjung yang lain. Ayo, kita mulai makan.”
“Tunggu!” dengan cepat tangan Quida mencekal lengan Fran. Akibatnya Fran tak jadi mengawali menyantap hidangan itu.
“Apa maksudmu sih, Qui?”
“Jangan sentuh sedikit pun makanan dan minuman kita ini.” kata Quida.
“Memangnya kenapa?” Fran sudah mulai tak sabar dan memendam rasa kesal dalam hatinya. Quida tidak menjelaskan alasannya, melainkan justru bicara dengan kata-kata yang tak mudah dimengerti. Bahasa yang digunakan pun sangat asing bagi Fran.
“Hudhaza reqiza, hudhaza malufta... hudhaza reqiza, hudhaza asywalufta...”
Semakin tajam kening Fran mengernyit, tajam pula matanya memandang Quida. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, tiba-tiba matanya menjadi terbelalak kaget dan sangat terheran-heran. Hidangan yang tampaknya nikmat dan lezat di mejanya mengalami perubahan secara serentak. Steak berubah menjadi jamur belatung, minuman jus alpukat juga berubah menjadi air comberan yang bau.
“Astaga!” sentak Fran. “Kenapa dengan makanan kita ini, Qui?”
“Semuanya mengandung racun berbahaya, sangat mematikan.” jelas Quida.
“Ah, masa begitu? Dan... tapi... hmm,” Fran sulit menyangkal, karena sekarang yang ada di depan matanya memang sejumlah hidangan berbau busuk. Menjijikkan sekali.
“Mantera tadi untuk menyingkapkan kepalsuan yang ada. Kita hampir terjebak oleh siasatnya.”
“Siasat siapa maksudmu, Qui?”
“Panggil pelayan tadi,” tegas Quida dengan wajah tampak memendam kemarahan, namun kharisma dan wibawa menjadi terpancar kuat dari wajah cantiknya itu.
Beberapa pengunjung yang berada tak jauh dari meja mereka langsung menutup hidung, menyeringai terganggu oleh bau busuk dari masakan. Mereka memperhatikan hidangan di atas meja Fran dan mengernyit heran, mengapa ada hidangan sebegitu menjijikkan di atas meja tersebut. Kebanyakan dari mereka langsung tidak berselera makan.
Fran berseru dengan berang kepada pihak restoran. “Mana pelayan yang menghidangkan makanan kami tadi? Panggil dia kemari!” Ia menghampiri kasir. “Mbak, lihat... pelayan tadi mau meracuni kami dengan hidangan seperti itu.”
“Pelayan yang mana, Tuan? Dari tadi anda berdua duduk di situ, belum ada pelayan yang menghampiri atau memesan pesanan anda berdua. Justru kami bingung, mengapa Tuan tadi tampak bicara sendiri. Kami kira...”
“Ah, jangan pura-pura bego, ya! Saya masih ingat wajah pelayan yang menghidangkan makanan di meja saya tadi.” Kemudian Fran mencari pelayan tersebut di antara karyawan restoran, bahkan sampai masuk ke dapur dengan tetap uring-uringan. Namun akhirnya keluar lagi tanpa membawa hasil apa-apa.
“Fran,” Quida menyambutnya. “Kita pulang saja. Percuma kamu cari pelayan itu, dia bukan manusia biasa.”
“Aku masih ingat wajahnya dan...”
“Dia bukan manusia biasa, Fran!” tegas Quida agak keras, membuat semua pengunjung memandang ke arah mereka dengan wajah cemas dan mulai bersuara gemuruh, seperti suara lebah.
Quida menarik tangan Fran, setengah menyeretnya keluar dari restoran. Mereka bergegas menghampiri mobil. Saat itu petang sudah datang.
Tiba-tiba muncul dua orang lelaki berpakaian serba hitam. Kaus lengan panjang dan berleher tegak, serta celana ketat yang kesemuanya berwarna hitam. Kedua lelaki itu juga mengenakan kacamata hitam. Mereka muncul dari balik mobil Fran, langsung melangkah menghampiri Fran dan Quida.
“Mau apa dua orang itu?” geram Fran seperti bicara sendiri.
Melihat gelagat tak beres, dia berjalan lebih cepat. Quida sengaja dibentengi dengan dirinya. Tapi kedua lelaki yang menghampiri justru bergerak maju lebih cepat pula. Fran tak mau banyak tanya, ia yakin dalam bahaya ancaman kedua orang itu. Maka secepatnya ia melayangkan kakinya untuk menendang salah seorang.
Wuuut...!! Tendangan kaki itu mengenai udara kosong. 
Fran segera melayangkan tinjunya ke muka salah seorang dari keduanya. Teebb! Namun tangannya berhasil ditangkap.
“Aoow!” ia memekik karena pergelangan tangan yang digenggam orang itu terasa seperti dijepit dengan besi. Kuat sekali. Tulangnya serasa remuk.
Orang yang satunya segera menghantam wajah Fran dengan gerakan sangat cepat. Ceproot...!!
“Auuff!” Mulut Fran berdarah, bibirnya pecah. Hujan pukulan menimpa sekujur tubuhnya, terutama bagian wajah.
Fran melakukan perlawanan sebisanya, namun ia justru terbanting dan tersungkur beberapa kali. Sementara itu, matanya sempat melihat Quida sedang ditarik oleh dua orang lagi yang berpakaian serba hitam juga dan berkacamata hitam pula. Quida berhasil diangkat dan ingin dibawa kabur.
“Hoy, lepaskan dia atau... ooughhk!!” Fran tak bisa berteriak lagi. Lambungnya ditendang dengan sangat kuat, hingga ia terbungkuk dan menyeringai kesakitan.
“Fran, jauhi mereka!” seru Quida sambil meronta dari genggaman kedua orang itu. Ia yakin akan dimasukkan ke dalam sebuah mobil yang mesinnya masih hidup dan diparkir di pinggir jalan.
Meskipun sudah babak belur dan tak berdaya lagi, Fran masih tetap berusaha untuk bangkit dan menolong Quida. Tetapi lagi-lagi ia dibuat terjungkir balik oleh kedua lawan yang menghajarnya dengan tenaga seperti bukan manusia biasa.
“Quida!” Fran berseru dengan suara berat. Pelan sekali. Tapi ia sempat mendengar Quida berseru pula, melontarkan kata-kata yang tak jelas artinya.
“Dzaaaunamahayyyyaaaa...!!”
Seketika itu pula terdengar halilintar seperti menyambar permukaan bumi. Jlegaaaaarrrr...! Lalu, angin kencang datang. Hujan turun dalam waktu singkat menjadi deras sekali. Pada saat itu terdengar suara halilintar menyambar bumi, terdengar pula pekikan dari empat orang berpakaian hitam tadi. Mereka tiba-tiba terpental ke berbagai arah, dan lenyap menjadi cairan hitam yang segera larut dengan air hujan. Mobil yang diparkir di pinggir jalan juga ikut lenyap, berubah menjadi rongsokan yang tak berbentuk lagi.
“Fran!” Quida berhasil bangkit lebih dulu setelah tadi terjatuh ketika kedua lelaki yang menculiknya terpental. Kini ia berlari menghampiri Fran yang terkapar di tempat basah. Hujan menggenangi area parkir beraspal. Fran nampak berlumuran darah dari luka di kepalanya.
“Fran, kau... kau masih kuat kan?” Quida segera merengkuh Fran dari genangan air.
Fran terengah-engah tak dapat bicara, sekujur wajahnya penuh luka. Tulang rusuknya terasa ada yang patah. Anehnya, meski banyak yang melihat adegan itu tadi, tapi tak satu pun orang yang berani datang melerai. Baru sekarang, ketika keempat orang misterius itu telah lenyap, beberapa orang mulai berani menghampiri Quida. Bahkan ada seorang tukang parkir yang berbadan kekar dengan kesadarannya sendiri mengangkat tubuh Fran.
“Cepat larikan ke rumah sakit!”
“Tidak,” sahut Quida dalam air hujan. “Masukkan saja ke dalam mobil, saya akan membawanya pulang!”
Keputusan itu tak ada yang berani melarang. Perintah tersebut menggema di telinga mereka, bahkan si tukang parkir pun patuh. Ia membawa Fran masuk ke mobil. Setelah itu Quida segera masuk pula, ia duduk di tempat sopir.
“Terima kasih, Pak. Tinggalkan kami.”
“Baik, mbak.” si tukang parkir segera pergi, memandangi mobil itu dari kejauhan.
Hujan belum berhenti. Semua orang yang ada di sekitar situ tiba-tiba terkejut melihat Blazer hitam itu lenyap secara gaib. Hilangnya begitu saja, tanpa dinyalakan lebih dulu mesinnya. Lenyapnya mobil Fran disusul pula oleh berhentinya hujan seperti kran air yang dimatikan secara tiba-tiba, juga hilangnya ingatan orang-orang tentang peristiwa barusan.
Mereka saling bertanya-tanya, kenapa berdiri bergerombol di luar sambil hujan-hujanan?

2 komentar:

  1. Cerita petualangan evan sama muslihat kakek dewo dilanjut dong Om.. penasaran ini :D

    BalasHapus